BAB II
KAJIAN TEORI
A. Deskripsi Teori
a. Kemampuan Berpikir Kritis
1. Pengertian Kemampuan Berpikir Kritis
Menurut Sardiman (1996: 45), berpikir merupakan aktivitas
mental untuk dapat merumuskan pengertian, mensintesis, dan
menarik kesimpulan. Ngalim Purwanto (2007: 43) berpendapat
bahwa berpikir adalah satu keaktifan pribadi manusia yang
mengakibatkan penemuan terarah kepada suatu tujuan. Manusia
berpikir untuk menemukan pemahaman/pengertian yang
dikehendakinya. Santrock (2011: 357) juga mengemukakan
pendapatnya bahwa berpikir adalah memanipulasi atau mengelola
dan mentransformasi informasi dalam memori. Berpikir sering
dilakukan untuk membentuk konsep, bernalar dan bepikir secara
kritis, membuat keputusan, berpikir kreatif, dan memecahkan
masalah.
Menurut Santrock (2011: 359), pemikiran kritis adalah
pemikiran reflektif dan produktif, serta melibatkan evaluasi bukti.
Jensen (2011: 195) berpendapat bahwa berpikir kritis berarti proses
mental yang efektif dan handal, digunakan dalam mengejar
pengetahuan yang relevan dan benar tentang dunia. Cece Wijaya
(2010: 72) juga mengungkapkan gagasannya mengenai kemampuan
berpikir kritis, yaitu kegiatan menganalisis ide atau gagasan ke arah
yang lebih spesifik, membedakannya secara tajam, memilih,
mengidentifikasi, mengkaji dan mengembangkannya ke arah yang
lebih sempurna.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli tersebut, dapat diambil
kesimpulan mengenai pengertian kemampuan berpikir kritis yaitu
sebuah kemampuan yang dimiliki setiap orang untuk menganalisis
ide atau gagasan ke arah yang lebih spesifik untuk mengejar
pengetahuan yang relevan tentang dunia dengan melibatkan evaluasi
bukti. Kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan untuk
menganalisis suatu permasalahan hingga pada tahap pencarian
Berpikir kritis termasuk proses berpikir tingkat tinggi, karena
pada saat mengambil keputusan atau menarik kesimpulan
menggunakan kontrol aktif, yaitu reasonable, reflective,
responsible, dan skillful thinking. Tidak semua orang bisa berpikir
kritis karena dibutuhkan keyakinan yang kuat dan mendasar agar
tidak mudah dipengaruhi. Kemampuan berpikir kritis sangat
diperlukan untuk menganalisis suatu permasalahan hingga pada
tahap pencarian solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
2. Tujuan Berpikir Kritis
Menurut Sapriya (2011: 87), tujuan berpikir kritis ialah untuk
menguji suatu pendapat atau ide, termasuk di dalamnya melakukan
pertimbangan atau pemikiran yang didasarkan pada pendapat yang
diajukan. Pertimbangan-pertimbangan tersebut biasanya didukung
oleh kriteria yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kemampuan berpikir kritis dapat mendorong siswa
memunculkan ide-ide atau pemikiran baru mengenai permasalahan
tentang dunia. Siswa akan dilatih bagaimana menyeleksi berbagai
pendapat, sehingga dapat membedakan mana pendapat yang relevan
dan tidak relevan, mana pendapat yang benar dan tidak benar.
Mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa dapat membantu
siswa membuat kesimpulan dengan mempertimbangkan data dan
fakta yang terjadi di lapangan.
3. Karakterisitik Kemampuan Berpikir Kritis
Menurut Seifert dan Hoffnung (dalam Desmita, 2010:154), terdapat
empat komponen berpikir kritis, yaitu sebagai berikut:
a. Basic operations of reasoning. Untuk berpikir secara kritis,
seseorang memiliki kemampuan untuk menjelaskan,
menggeneralisasi, menarik kesimpulan deduktif dan merumuskan
langkah-langkah logis lainnya secara mental.
b. Domain-specific knowledge. Dalam menghadapi suatu problem,
seseorang harus mengetahui tentang topik atau kontennya. Untuk
memecahkan suatu konflik pribadi, seseorang harus memiliki
pengetahuan tentang person dan dengan siapa yang memiliki
konflik tersebut.
c. Metakognitive knowledge. Pemikiran kritis yang efektif
mengharuskan seseorang untuk memonitor ketika ia mencoba
untuk benar-benar memahami suatu ide, menyadari kapan ia
memerlukan informasi baru dan mereka-reka bagaimana ia dapat
dengan mudah mengumpulkan dan mempelajari informasi
tersebut.
d. Values, beliefs and dispositions. Berpikir secara kritis berarti
melakukan penilaian secara fair dan objektif. Ini berarti ada
semacam keyakinan diri bahwa pemikiran benar-benar mengarah
pada solusi. Ini juga berarti ada semacam disposisi yang persisten
dan reflektif ketika berpikir.
4. Manfaat Kemampuan Berpikir Kritis
Manfaat kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran sangat
besar peranannya dalam meningkatkan proses dan hasil belajar. Selain
manfaat kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran juga
mempunyai peranan sebagai bekal siswa untuk menghadapi masa
depan. Beberapa penelitian membuktikan manfaat kemampuan
berpikir kritis dalam pembelajaran maupun sebagai bekal masa depan
yaitu Lawson dalam Hadi (2007) menyatakan bahwa menurut teori
Piaget, perkembangan kemampuan penalaran formal sangat penting
bagi perolehan (penguasaan) konsep, karena pengetahuan konseptual
merupakan akibat atau hasil dari suatu proses konstruktif, dan
kemampuan penalaran tersebut adalah alat yang diperlukan pada
proses itu. Kemampuan penalaran formal merupakan kemampuan
berpikir kritis.
Setiawan (2005) menemukan bahwa pembelajaran kontekstual
dengan metode pembelajaran berdasarkan masalah maupun dengan
startegi inkuiri mampu membuat siswa berkemampuan akademik
rendah dan pada saat yang sama mampu membuat siswa
berkemampuan akademik rendah memiliki penguasaan konsep-konsep
biologi yang tidak berbeda dengan siswa berkemampuan akademik
tinggi. Dari penemuan-penemuan penelitian tersebut telah menjadi
bukti bahwa kemampuan berpikir kritis mempunyai manfaat yang
konkrit dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
5. Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis
Menurut Ennis dalam Hadi (2007) ciri-ciri penting siswa yang
telah memiliki watak untuk berpikir kritis adalah sebagai berikut.
Mencari pernyataan atau pertanyaan yang jelas artinya atau
maksudnya, mencari alasan atas suatu pernyataan, menggunakan dan
menyebutkan sumber yang dapat dipercaya, mempertimbangkan
situasi secara menyeluruh, berusaha relevan dengan pokok
pembicaraan, berusaha mengingat pertimbangan awal atau dasar,
mencari alternatif-alternatif, bersifat terbuka, mengambil posisi (atau
mengubah posisi) apabila bukti-bukti dan alasan-alasan sudah cukup
baginya untuk menentukan posisinya, mencari ketepatan seteliti-
telitinya, berurusan dengan bagian-bagian secara berurutan hingga
mencapai seluruh keseluruhan yang kompleks, menggunakan
kemampuan atau keterampilan kritisnya sendiri, peka terhadap
perasaan, tingkat pengetahuan dan tingkat kerumitan berpikir orang
lain, menggunakan kemampuan berpikir kritis orang lain.
Kemampuan berpikir kritis yang dikembangkan pada tulisan ini
mengacu pada kemampuan berpikir kritis yang dikembangkan oleh
Linn & Gronlund dalam Hadi (2007) yaitu membandingkan,
menghubungkan sebab-akibat, memberikan alasan, meringkas,
menyimpulkan, berpendapat, mengelompokkan, menciptakan,
menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi.
Keterampilan berpikir kritis tersebut dapat dikembangkan pada
pembelajaran biologi melalui model cooperative script. Karena pada
model cooperative script, siswa akan melakukan aktivitas-aktivitas
yang mengasah keterampilan berpikir kritis siswa.
b. Model Pembelajaran Problem Posing
1. Pengertian Model Problem Posing
Model pembelajaran problem posing mempunyai beberapa arti,
yaitu pertama perumusan soal dengan bahasa yang baku/standar atau
perumusan kembali soal yang ada dengan beberapa perubahan agar
sederhana dan dapat dikuasai, kedua, perumusan soal yang berkaitan
dengan syarat-syarat pada soal yang dipecahkan dalam rangka
mencari alternatif pemecahan atau alternatif soal yang masih relevan,
dan ketiga, perumusan soal dari suatu situasi yang tersedia baik yang
dilakukan sebelum, ketika, atau setelah mengerjakan soal. (Suryanto)
Problem Posing terdiri dari dua kata yaitu “problem” yang artinya
masalah dan “posing” berasal dari kata “pose” artinya mengajukan
atau membentuk Problem posing merupakan pembelajaran dimana
siswa diminta untuk mengajukan masalah (soal) berdasarkan situasi
tertentu.
Menurut Suharta (2001: 2) problem posing adalah perumusan
masalah oleh siswa dari situasi yang tersedia, baik dilakukan sebelum
pemecahan masalah atau setelah pemecahan masalah tersebut.
Suryosubroto (2009: 203) berpendapat penemuan pertanyaan serta
jawaban yang dihasilkan siswa dapat menyebabkan perubahan dan
ketergantungan pada penguatan luar pada rasa puas akibat keberhasilan
menemukan sendiri, baik berupa pertanyaan atau masalah maupun
jawaban atas permasalahan yang diajukan.
Bagi siswa, pembelajaran problem posing merupakan keterampilan
mental, siswa menghadapi suatu kondisi dimana diberikan suatu
permasalahan dan siswa memecahkan masalah tersebut.
2. Ciri-ciri Model Problem Posing
Thobroni dan Mustofa (2012: 350) menyatakan bahwa pembelajaran
problem posing memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Guru belajar dari murid dan murid belajar dari guru
2. Guru menjadi rekan murid yang melibatkan diri dan menstimulasi
daya pemikiran kritis murid-muridnya serta mereka saling
memanusiakan
3. Manusia dapat mengembangkan kemampuannya untuk mengerti
secara kritis dirinya dan dunia tempat ia berada
4. Pembelajaran problem posing senantiasa membuka rahasia realita
yang menantang manusia kemudian menuntut suatu tanggapan
terhadap tantangan tersebut.
3. Langkah-langkah Pembelajaran Problem Posing
Menurut Suyitno (2004) langkah-langkah dalam metode problem
posing adalah sebagai berikut.
1. Guru menjelaskan materi kepada peserta didik. Penggunaan alat
peraga dan sumber belajar untuk memperjelas konsep sangat
disarankan.
2. Guru memberikan latihan soal secukupnya.
3. Peserta didik diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal yang
menantang dan peserta didik yang bersangkutan harus mampu
menyelesaikannya.
4. Secara acak guru menyuruh peserta didik untuk menyajikan soal
temannya di depan kelas. Dalam hal ini, guru dapat menentukan
peserta didik secara selektif berdasarkan bobot soal yang
diajukan oleh peserta didik.
5. Guru memberikan evaluasi. Langkah ini digunakan untuk
membandingkan penguasaan materi sebelum peserta didik
membuat soal dan sesudah membuat soal.
6. Guru memberikan tugas rumah secara individual.
4. Kelebihan dan Kekurangan Problem Posing
Setiap model pembelajaran pasti ada kelebihan dan kekurangannya.
Thobroni dan Mustofa (2012: 349) mengemukakan bahwa kelebihan
dan kekurangan metode pembelajaran problem posing adalah
Kelebihan
1. Mendidik murid berfikir kritis
2. Siswa aktif dalam pembelajaran
3. Belajar menganalisis suatu masalah
4. Mendidik anak percaya pada diri sendiri.
Kekurangan
1. Memerlukan waktu yang cukup banyak
2. Tidak bisa digunakan di kelas rendah
3. Tidak semua murid terampil bertanya
B. Penelitian yang Relevan
1. Penelitian ini dilakukan oleh Revy Silfiana Pratiwi (2017). Program Studi
Pendidikan Matematika Universitas Lampung dengan judul Pengaruh
Metode Problem Posing Terhadap Pemahaman Konsep Matematis Siswa.
Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa Problem
Posing tidak berpengaruh ditinjau dari hasil belajar siswa.
2. Penelitian ini dilakukan oleh Neda Permana (2019). Program Studi
Pendidikan Matematika IKIP Siliwangi Cimahi dengan judul The
Implementation Of Problem Posing Approach To Improve The
Mathematical Creative Thinking Abilities Of Junior High School.
3. Penelitian ini dilakukan oleh Nursairah Pua (2017). Program studi
Pendidikan Matematika IKIP Mataram dengan judul Pengaruh Model
Pembelajaran Problem Posing Terhadap Motivasi Belajar Matematika
Siswa Kelas VII Mts N Kute Lombok Tengah. Dari hasil penelitian yang
dilakukan dapat disimpulkan tidak ada pengaruh model pembelajaran
problem posing terhadap motivasi belajar matematika siswa.
4. Penelitian ini dilakukan oleh Rifaatul Mahmuzah (2016). Program studi
Pendidikan Matematika Universitas Serambi Mekkah dengan judul
Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa SMP Melalui
Pendekatan Problem Posing. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat
disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis
siswa yang diajarkan dengan pendekatan problem posing lebih baik
daripada siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional.
C. Kerangka Berfikir
Prestasi belajar siswa ditentukan berbagai faktor, satu diantaranya
yang dominan ditentukan oleh pemilihan model pembelajaran oleh guru.
Pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi pelajaran sangat
mendukung dari keberhasilan proses kegiatan belajar. Dalam penelitian ini
dengan model pembelajaran problem posing yang menekankan siswa untuk
aktif dalam mencaritahu, merumuskan hingga memecahkan masalah secara
mandiri.
Salah satu aspek yang menjadi fokus pada pelajaran matematika
dalam pemberdayaan berpikir tingkat tinggi adalah aspek kemampuan
berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis diperlukan siswa agar siswa
terbiasa untuk berpikir secara beralasan dan reflektif. Kemampuan ini dapat
diasah oleh guru dengan memberikan soal yang memacu siswa untuk
berpikir kritis.
Siswa :
Guru :
1. Siswa cepat
1. Guru belum
bosan dan
menerapkan
kurang
model
memperhatikan
KONDISI pembelajaran
penjelasan guru
AWAL yang relevan
2. Kurang percaya
dengan
diri dan
materi
aktifnya siswa
pembelajaran
selama
2. Metode ajar
pembelajaran
yang kurang
variasi
Siswa :
PENDEKATAN Guru 1. Siswa lebih aktif
PROBLEM menerapkan dalam
POSING penedekatan pembelajaran
problem 2. Siswa lebih
posing percaya diri
dalam
mengerjakan
soal
3. Siswa terlatih
bekerjasama
KONDISI Kemampuan
AKHIR berpikir kritis
siswa meningkat
D. Hipotesis Penelitian
Sesuai dengan permasalahan dalam penelitian ini, maka hipotesis
penelitian ini adalah :
H0 : Tidak terdapat pengaruh signifikan model pembelajaran Problem Posing
terhadap hasil belajar siswa.
H1 : Terdapat pengaruh signifikan model pembelajaran Problem Posing
terhadap hasil belajar siswa.
Suwarma, Dina Mayadiana. 2009. Kemampuan Berpikir Kritis
Matematika. Jakarta: Cakrawala Maha Karya.
Rahmawati, Farida. 2011. Skripsi: Menigkatkan Keterampilan Berpikir
Kritis Tentang Sifat-Sifat Bangun Ruang dengan Menerapkan Tipe
Numbered Together Pada Siswa Kelas V SD Negeri Balerejo 01 Kebon
sari Madiun Tahun Pelajaran 2010/2011. Surakarta: Universitas Sebelas
Maret.
Maftukhin, M. 2013. Skripsi: Keefektifan model pembelajaran CPS
berbantuan CD pembelajaran terhadap kemampuan berpikir kritis
materi pokok geometri kelas X. Semarang: Universitas Negeri Semarang.