A.
Pendahuluan
Otomasi distribusi merupakan kemampuan untuk melakukan monitoring jarak jauh dan
mengendalikan jaringan distribusi, mengumpulkan informasi, dan menyediakan
informasi dengan penyajian yang berguna bagi pengguna. Otomasi distribusi
menyediakan building block untuk proteksi, metering, kendali, dan monitoring dari
sistem distribusi. Produk otomasi distribusi menyediakan Supervisory Control and Data
Aqcuisition System (SCADA) interface dan memungkinkan otomasi jaringan distribusi
dengan komunikasi, serta membantu untuk memperkuat sistem distribusi eksisting.
Otomasi jaringan distribusi merupakan alat untuk memperbaiki pelayanan pelanggan dan
dapat mengurangi biaya operasi.
Untuk mengimplementasikan kemampuan distribusi otomatis secara tepat, perlu untuk
mengintegrasikan jaringan komunikasi, sistem kontrol, dan perangkat lapangan. Selain
itu, pengujian dan evaluasi diperlukan untuk menentukan apakah performa peralatan
seperti yang diharapkan. Pelatihan operator dan kru lapangan juga diperlukan untuk
memastikan penggunaan yang aman dan efisien dari teknologi yang dipakai. Teknologi
seperti relai cerdas, automated feeder switch, dan sistem manajemen distribusi dapat
dikoordinasikan untuk mendapatkan letak gangguan, mengisolasi gangguan, dan
pemulihan layanan operasi. Dengan demikian, sebuah hal penting untuk memahami
bagaimana perangkat dan sistem bekerja sama.
Konsep awal otomasi distribusi dimulai pada tahun 1970-an dan sejak itu
perkambangannya menjadi lebih maju dalam hal monitoring teknologi kontrol dan
komunikasi, serta memperhatikan analisa ekonomi. Evolusi SCADA tidak hanya
digunakan untuk monitoring di jaringan transmisi dan membantu di monitoring di
jaringan distribusi. Otomasi distribusi mempunyai fungsi untuk monitoring dan
fungsikontrol. Monitring membutuhkan record data: pembacaan meter pada lokasi yang
berbeda, status sistem pada lokasi yang berbeda, dan kejadian abnomal yang terjadi pada
sistem. Data yang dmonitoring bukan hanya data harian tapi juga perencanaan sistem.
Sistem SCADA bisa digunakan untuk beberapa fungsi monitoring di atas. Fungsi kontrol
yang terkait dengan switching operation seperti switching capasitor, rekonfigurasi feeder.
Sebagai tambahan, proteksi sistem bisa ditambahkan pada skema otomasi distribusi.
Yang berhubungan dengan konsumen seperti load control, automated meter reading
(AMR) dan remote connect/disconnect bisa juga dimasukkan ke dalam otomasi
distribusi.
B. Keandalan Sistem Distribusi Tenaga Listrik
Keandalan sistem distribusi tenaga listrik sangat penting baik untuk perusahan listrik
maupun pelanggan. Keandalan listrik mempengaruhi kesehatan dan keselamatan publik,
pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, dan kesejahteraan sosial. Perusahan listrik
memperkirakan nilai pelayanan listrik kepada konsumen untuk menilai manfaat
investasinya.
Listrik padam disebabkan oleh berbagai hal antara lain kegagalan peralatan listrik, cuaca,
hewan, kesalahan manusia, dll. Padam listrik di sistem distribusi tenaga listrik
didokumentasikan dan diklasifikasikan dengan jumlah pelanggan yang terkena dampak
dan lamanya waktu padam listrik. Institute of Electrical and Electronic Engineers (IEEE)
menetapkan tiga jenis padam listrik:
- Kejadian utama (major events) adalah kejadian yang melebihi desain yang wajar
dan/atau batas operasional dari sistem tenaga listrik dan mempengaruhi sebagian
besar pelanggan dilayani oleh perusahaan listrik.
- Interupsi berkelanjutan (sustained interruptions) termasuk pemadaman yang tidak
diklasifikasikan sebagai kejadian sesaat dan yang berlangsung selama lebih dari
lima menit.
- Interupsi sesaat (momentary interruptions) melibatkan hilangnya daya listrik
secara singkat untuk satu atau lebih pelanggan yang disebabkan oleh pembukaan
dan penutupan perangkat interupsi.
C. Fungsi Otomasi Distribusi
Fungsi otomasi distribusi terdiri dari 2 kategori utama yaitu dari segi konsumen dan segi
sistem. Di segi konsumen, meliputi instalasi peralatan komunikasi sisi pelanggan yang
meliputi:
a. kontrol beban
b. remote meter reading
c. time of use rates
d. remote connect/disconnect.
Di segi sistem meliputi semua fungsi yang berhubungan dengan operasi sistem. Peralatan
kontrol dan komunikasi ditempatkan pada lokasi yang berbeda, seperti di gardu induk
dan feeder (penyulang). Yang di monitoring meliputi sistem deteksi kegagalan dan
restorsi pelayanan, rekonfigurasi feeder, kontrol tegangan/ VAR, dan lain-lain. Sebagai
tambahan adalah proteksi digital pada gardu induk dan feeder.
Ada juga yang membagi otomasi distribusi di sisi sistem menjadi dua kategori yaitu pada
gardu induk dan pada feeder. Monitoring pada gardu induk meliputi:
a. Lokasi gangguan dan pemulihan pelayanan
b. Rekonfigurasi jaringan dan penyeimbang trafo
c. Memperpanjang usia trafo
d. Monitoring dan kotrol recloser/breaker
e. Switching kapasitor untuk kontrol tegangan dan daya reaktif
f. Regulasi operasi untuk pengontrolan tegangan
g. Kontrol trafo LTC
h. Monitoring sistem distribusi.
a. Lokasi gangguan dan Pemulihan Pelayanan
Sebuah sistem distribusi rentan terhadap berbagai jenis ganguan. Bila ada gangguan
permanen, perangkat pelindung diharapkan untuk mengoperasikan dan mengisolasi
bagian gangguan Namun, jika gangguan adalah tipe impedansi tinggi, perangkat
proteksi tidak dapat beroperasi untuk mengisolasi bagian yang terganggu. Dalam
situasi seperti itu, menentukan lokasi gangguan menjadi lebih sulit. Dalam kasus
kedua , beberapa pelanggan mengalami gangguan daya karena tidak ada informasi
mengenai status perangkat dalam sistem distribusi maka sistem tidak ada cara
langsung untuk mengetahui tentang pemadaman, sehingga tergantung pada panggilan
telepon dari pelanggan atau perubahan mendadak dalam aliran daya di meteran hulu
untuk mengetahui pemadaman. Panggilan pelanggan hanya memberikan perkiraan
lokasi pemadaman. Selain itu, bila ada badai, pemadaman bisa meluas dan sulit
untuk ditentukan lokasinya. Setelah perkiraan lokasi yang padam diketahui, petugas
dikirim ke lokasi untuk melihat kerusakan. Setelah mengetahui penyebab
gangguan,daerah tersebut harus diisolasi agar gangguan tidak meluas. . Hal ini
dilakukan dengan terlebih dahulu membuka breaker pada gardu dan secara manual
mengoperasikan fuse. . Langkah berikutnya adalah untuk mengembalikan daya pada
sistem yg tidak terganggu tapi kehilangan daya karena gangguan di lokasi
[Link] lapangan mengoperasikan isolator. Sebagian besar isolator tidak dapat
dioperasikan di beban rendah , oleh karena itu, breaker dibuka sebelum
mengoperasikan isolator. Karena seluruh proses dilakukan secara manual, dibutuhkan
waktu yang lama.
Lokasi gangguan bisa ditentukan dengan data yang dikumpulkan dari pelanggan ke
gardu induk. Fungsi operator adalah untuk menentukan lokasi gangguan, menerima
panggilan dari pelanggan yang terpetakan secara otomatis. Bila lokasi gangguan
diketahui, bagian yag terganggu diisolasi dari keseluruhan sistem, kemudian petugas
dikirim ke lokasi gangguan dan ini bisa menghemat waktu dan lebih efisien.
b. Rekonfigurasi feeder dan penyeimbangan jaringan
Beban distribusi dibagi berdasarkan jam, hari dan musim. Pada setiap level beban,
sistem mempunyai konfigurasi jaringan yang optimal. Keandalan pelayanan terutaa di
industri sangat penting sebagai kriteria operasi. Total rugi-rugi trafo bisa
diminimalkan bila trafo di gardu induk dibebani secara proporsional. Pada sistem
manual, rekonfigurasi beradasarkan pada musim, mungkin ada beberapa kali dalam
setahun.
c. Memperpanjang usia trafo
Trafo di gardu umumnya dioperasikan pada level beban lebih rendah dari
kapasitasnya. Meskipun dalam kondisi darurat, seperti gangguan di trafo lain, bis
dioperasikan melebihi kapasitasnya. Tetapi pembebanan berlebih bisa dilakukan
hanya dalam waktu yang terbatas tanpa mengurangi lifetime trafo.
Otomasi pada monitoring trafo meliputi suhu minyak dan kumparan trafo. Peralatan
yang digunakan untuk monitoring adalah analisa gas terlarut pada trafo. Suhu minyak
dan kumparan trafo mengindikasikan level pembebanan berlebih. Pembebanan
berlebih trafo bisa dikontrol tanpa banyak opasi switching yang tidak diinginkan.
Stres pada trafo bisa dihindari dan life extention trafo bisa tercapai.
d. Monitoring dan kontrol recloser/breaker
Pada mode manual, tidak ada remote monitoring dan kontrol yang tersedia pada
beraker dan recloser. Seting relay dan timing recloser bisa diubah hanya dengan
mengubah seting peralatan. Karena tidak ada monitoring, recloser dan breaker
diperbahaurui secara konstan meskipun itu perlu atau tidak. Frekuensi maintenance
dilakukan berdasarkan duty level recloser dan breaker.
Kegunaan otomasi ini cukup banyak. Pertama dengan seting relay dan recloser,
diperlukan bila ada perubahan konfigurasi sitem. Kedua, monitoring energi yang
terganggu dari recloser dan breker bisa sebagai indikasi kondisi recloser dan breaker.
Sehingga servis yang terlalu cpat dan terlalu lambat bisa dihindari.
e. Switching Kapasitor Untuk Pengontrolan Tegangan dan Daya Reaktif
Kapasitor digunakan di sistem distribusi untuk tegangan dan daya reaktif. Kapasitor
ditempatkan pada lokasi yang strategis untuk mengingkatkan operasi sitem secara
keseluruhan, kapasitor ini bisa berupa jenis yang tetap atau jenis switch capacitor.
switch capacitor, swicth on atau switch off berdasarkan sinyal yang dikirim peralatan
kontrol. Peralatan kontrol ini bisa berupa timer, relay temperatur, relay tegangan,
relay arus, relay daya reaktif, atau kombinasi dari relay-relay diatas.
Konfigurasi kapasitor yang optimal bisa diimplementasikan pada level otomasi yang
lebih tinggi dimana sitching semua kapasitor dapat dikoordinasikan dibawah kondisi
beban yang berbeda. Meteran ditempatkan di beberapa lokasi yang berbeda untuk
mengukur daya nyata dan reaktif, tegangan dan arus. Data meteran dan status
kapasitor dikirim ke central computer melalui jaringan komunikasi. Komputer ini bisa
mengindikasi switching capacitor yang optimal untuk mengukur kondisi sistem.
Sistem konfigurasi juga bisa diubah secara berkala.
f. Regulasi Operasi Untuk Pengontrolan Tegangan
Voltage regulator digunakan di sitem distribusi sebagai kontrol tegangan yang halus,
terutama di sistem distribusi yang panjang dengan tegangan jatuh yang tinggi.
Regulator ini mengatur tegangan berdasarkan level yang telah ditentukan dan bila
tegangan lebih rendah daripada seting terendah, maka tap pada regulator akan
bergesar naik sesuai sisi output. Begitupun sebaliknya. Remote control pada regulator
bermanfaat selama kondisi darurat. Karena beban terkorelasi dengan tegangan, ini
bisa dikurangi dengan mengurangi tegangan selama kondisi darurat. Bebarapa kontrol
tidak bisa dilakukan tanpa otomasi.
g. Kontrol Trafo LCT
Trafo di gardu mempunyai kontrol LTC yang bisa mengubah posisi tap sebagai
respon terhadap beban. Beban yang tinggi mengasilkan tegangan jatuh yang tinggi,
tap akan bergeser ke poros yang lebih tinggi untuk mengatur tegangan pada level yang
diijinkan di jaringan. Begitupun bila beban dalam kondisi low, tap akan bergeser pada
seting terendah untuk mengkompensasi agar tegangan bisa naik. Bila di gardu ada dua
trafo, maka koordinasi antara LTC pada trafo juga dibutuhkan. Saat ini metode
kontrol pada trafo sudah digital, sehingga tidak banyak dibutuhkan maintenance dan
diagnosa terhadap peralatan yang tidak berfungsi dengan baik menjadi lebih mudah.
h. Monitoring Sistem distribusi
Tujuan monitoring sistem distribusi sangat mirip dengan SCADA. Monitoring
dibutuhkan untuk memperoleh data untuk fungsi distribusi yang banyak. Beberapa
fungsinya antara lain memperoleh data real-time dari sistem untuk membuat
keputusan kontrol. Real-time data bisa bermanfaat untuk menyediakan informasi
kepada operator sebagai bentuk peringatan bila kondisi sistem abnormal. Sebagai
tambahan, real-time data bisa dikumpulkan sebagai arsip untuk digunakan kemudian.
Bebarapa data bisa digunakan untuk forecasting dan perencanaan lebih lanjut.
Tujuan monitoring data ini adalah untuk mengatur database sistem sebagai
peringatan, user interface dan logging. Bila kondisi sistem abnormal, alarm bisa
menandakan adanya peringatan pada operator dan operator juga mempunyai data yang
relevan sehingga aksi korektif bisa dilakukan. Data logging diperlukan untuk
persiapan laporan tercetak maupun untuk kegunaan di masa depan.
D. Konfigurasi Jaringan Distribusi
Menurut SPLN 59:1985 Konfigurasi sistem dibagi menjadi:
a. Sistem Radial
b. Sistem Radial dengan Satu PSO atau PBO di Tengah
c. Sistem Loop (Variasi sistem a dan sistem b)
d. Tie Line (Variasi sistem a dan sistem b)
e. Sistem Spindel
f. Gugus (Variasi Sistem e)
g. Sistem Spindel dengan Pusat Pengatur Jaringan Distribusi
h. Sistem Kabel Sistem Spot Network
E. Indeks Keandalan
Indeks keandalan biasanya digunakan untuk menilai padam listrik dan mengevaluasi
kinerja sistem tenaga listrik. Beberapa indeks keandalan yang digunakan sebagai
parameter keandalan sistem tenaga listrik antara lain:
- System Average Interruption Frequency Index (SAIFI)
Jumlah pelanggan padam
SAIFI
Jumlah pelanggan keseluruha n
- Momentary Average Interruption Frequency Index (MAIFI)
Jumlah pelanggan padamsemen tara
MAIFI
Jumlah pelanggan keseluruha n
- System Average Interruption Duration Index (SAIDI)
Jumlah lama pelanggan padam
SAIDI
Jumlah pelanggan keseluruhan
- Customer Average Interruption Duration Index (CAIDI)
SAIDI
CAIDI
SAIFI
Menurut SPLN 59:1985, indeks keandalan adalah suatu besaran untuk membandingkan
penampilan sistem distribusi. Dua indeks keandalan yang paling sering digunakan dalam
sistem distribusi adalah indeks frekuensi pemadaman rata-rata (f) dan indeks lama
pemadaman rata-rata (d)
a. Indeks Frekuensi Pemadaman Rata-Rata:
Untuk menghitung indeks frekuensi pemadaman rata-rata (f) bisa didapat dengan
membagi jumlah konsumen yang mengalami pemadaman dalam satu tahun dengan
jumlah konsumen yang dilayani.
Dimana:
m: jumlah pemadaman dalam satu tahun
Ci: jumlah konsumen yang mengalami pemadaman
N: jumlah konsumen yang dilayani.
b. Indeks Lama Pemadaman Rata-Rata
Untuk menghitung indeks lama pemadaman rata-rata (f) bisa didapat dengan
membagi jumlah lama pemadaman yang dialami konsumen dalam satu tahun, dibagi
dengan jumlah konsumen yang dilayani.
Dimana:
m: jumllah pemadam
man dalam satu tahun
ti : lamaanya tiap-tiaap pemadamaan
Ci:jumllah konsumeen yang menngalami pemaadaman
N: jumllah konsumeen yang dilayyani
F. Stud
di Kasus Penerapan SCADA
S di Kota Padaang
Untuuk studi kasuus ini menggambil lokassi di Kota Paadang yang terdiri dari 4 unit Rayoon
Kotaa. Adapun kapasitas
k darri pembanguunan SCADA
A ini melipputi 3 GI dann 6 GH serrta
bebeerapa Key-pooint gardu. Berikut
B adallah cakupan dari rencanna pembangu
unan SCADA
di Kota Padang.
Gam
mbar-1 Cakupaan SCADA Kotta Padang
a. Latar Belakang
Gangguan pada Jaringan Distribusi Kota Padang dirasakan masih sangat tinggi, hal
tersebut menyebabkan PLN Kota Padang kehilangan kesempatan untuk menjual
energi listrik kepada pelanggan. Selain itu dilihat dari sisi pelayanan pelanggan,
image / citra PLN dimata pelanggan akan menurun (kurang baik).
Jaringan Sistem Distribusi Kota Padang mempunyai konfigurasi sistem loop dan
spindel yang di-supply dari 3 GI (GI Pauh Limo, Simpang Haru & PIP). Operasional
penyaluran energi listrik dari 3 GI tersebut dibantu dengan adanya 6 GH (Kandis,
Lubuk Buaya, TRB, Teluk Bayur, GOR dan Imam Bonjol). Total penyulang dari 3
GI dan 6 GH tersebut sebanyak 42 penyulang dengan total panjang jaringan 633,3
kms atau rata-rata sepanjang 15,5 kms/penyulang.
Gambar-2. Pola Operasi Existing Sistem 20 kV Kota Padang
Berdasarkan data gangguan tahun 2006, tingkat pemadaman di Kota Padang
mencapai 1.410 kali/tahun dengan total waktu padam selama 30.079 menit/tahun.
Dari jumlah gangguan tersebut, total energi listrik yang tidak tersalur adalah
sebanyak 1.447.731 kWh/tahun.
Sesuai dengan SPLN 59:1985 mengenai Keandalan Pada Sistem Distribusi 20 kV
dan 6 kV, disebutkan bahwa Indeks Keandalan dari beberapa sistem distribusi
adalah sebagai berikut:
Tabel-1 Indeks Keandalan beberapa sistem Distribusi
No Sistem Kali Padam Lama Padam
(kali/tahun) (Jam/tahun)
1 SUTM Sistem Radial 3.21 21.094
2 SUTM Sistem Radial dengan menggunakan 2.415 12.842
pemisah otomatis di tengah
3 Sistem Spindel 1.199 4.364
4 Sistem Spindel dengan pusat pengatur jaringan 1.199 3.3312
distribusi
5 Saluran Kabel sistem spot network 0.01 0.01
Catatan: Tabel di atas diperoleh dengan asumsi panjang SUTM/SKTM = 16 kms
Rata-rata pemadaman yang terjadi di Kota Padang sekitar 21.33 menit/tahun atau
0.36 Jam/tahun. Hal tersebut sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan SPLN
59:1985 yaitu sebesar 4.36 Jam/tahun. Namun masih terdapat beberapa penyulang
yang waktu rata-rata pemulihan pasca gangguannya mencapai 5-8 Jam/tahun.
Mengingat strategisnya Kota Padang sebagai Ibu Kota Propinsi Sumatera Barat,
keandalan sistem distribusi memerlukan perhatian lebih guna menunjang aktifitas
pemerintahan maupun ekonomi. Oleh karena itu diperlukan perbaikan keandalan,
khususnya bagi daerah yang waktu pemulihan pasca gangguannya masih di atas
standar, agar secara keseluruhan Kota padang mempunyai waktu rata-rata pemulihan
dibawah standar.
b. Dengan dibangunnya SCADA Kota Padang diharapkan akan:
Meminimalkan energi yang tidak tersalurkan dengan memperpendek waktu
padam dan mengurangi jumlah kali padam yang diakibatkan oleh gangguan
maupun pemeliharaan;
Mempercepat pemulihan (recovery) gangguan dan meningkatkan kualitas
pelayanan pendistribusian tenaga listrik;
Mengoptimalkan manajemen operasi jaringan (berupa DMS, EMS);
Mengantisipasi terjadinya gangguan sistem tenaga listrik yang meluas dengan
memanfaatkan analisa dari parameter operasi;
Mengoptimalkan biaya investasi untuk pengembangan jaringan;
Mengoptimalkan pemanfaatan jaringan;
Menurunkan biaya operasional dan pemeliharaan;
Mencegah biaya sosial akibat lama dan jumlah padam;
Mengurangi waktu pemulihan setelah gangguan (khusus jaringan distribusi
mengacu pada SPLN 59: 1985, dengan urutan mengatasi gangguan dengan
memanfaatkan indikator gangguan yang terpasang di setiap gardu atau di
percabangan SUTM);
Meningkatkan citra perusahaan;
Sebagai data center untuk data operasi dan kinerja jaringan.
c. Asumsi-Asumsi
Dasar analisa untuk kajian kelayakan operasi & finansial adalah sebagai berikut:
Jam Kerja/hari = 24 jam
Hari kerja/tahun = 365 hari
Masa manfaat aktiva = 15 tahun
Rata-rata harga jual energi listrik = Rp. 580 / kWh
Discount rate = 12 %
Asumsi pertumbuhan beban = 8-10% / tahun
Biaya O & M = 5% / tahun dari total investasi
Tingkat Keandalan MS,RTU,Jarkom = 100 %
Tidak ada upaya peningkatan pemeliharaan jaringan distribusi. Atau pola
pemeliharaan jaringan distribusi sama dengan tahun awal investasi.
Berdasarkan perbandingan operasi konvensional & otomatisasi, maka
perbaikan percepatan restorasi diasumsikan sebesar 50%.
Restorasi dibatasi hanya pemulihan jaringan pada proses informasi indikasi
gangguan, switching dan manuver jaringan.
d. Kajian Kelayakan Operasi
Pada tahun 2006, energi yang tidak tersalurkan akibat gangguan terjadi sebesar
1.447.731 kWh. Dengan operasional secara konvensional, rata-rata waktu pemulihan
paska gangguan di Kota Padang mencapai 0.36 Jam/tahun. Jika dibandingkan
dengan SPLN 59:1985, nilai tersebut sudah sangat baik, hal tersebut terjadi karena:
panjang jaringan di Kota Padang cukup ideal/tidak terlalu panjang, yaitu rata-
rata 15,4 kms.
Konfigurasi jaringan distribusinya adalah loop dan spindel.
Setiap penyulang telah dilengkap dengan PBO (Recloser) dan LBS.
Namun ternyata masih terdapat penyulang yang waktu rata-rata pemulihan
gangguannya mencapai 5-8 Jam/tahun. Oleh karena itu masih diperlukan perbaikan
keandalan untuk mengurangi waktu rata-rata pemulihan paska gangguan. Salah satu
solusi untuk mengurangi durasi pemulihan gangguan adalah dengan
mengaplikasikan otomatisasi distribusi.
Sebelum melihat manfaat pemasangan otomatisasi distribusi, dalam hal ini SCADA,
perlu diketahui terlebih dahulu asumsi Waktu Operasi Kerja & Pemulihan Pelayanan
sesuai SPLN 59:1985 sebagai berikut:
Tabel-2 Waktu Operasi Kerja dan Pemulihan Pelayanan Secara Konvensional
Waktu/
Operasi Kerja
Jam
A Menerima panggilan adanya pemadaman dan waktu yang dibutuhkan
0.5
untuk perjalanan ke GI
A Menerima panggilan adanya pemadaman dan waktu yang dibutuhkan
1
untuk perjalanan ke alat penutup Kembali
B Waktu yang dibutuhkan untuk sampai dari satu gardu ke gardu
0.16
berikutnya
B Waktu yang dibutuhkan untuk sampai dari satu gardu ke gardu
0.2
berikutnya untuk sistem spot network
C Waktu yang dibutuhkan untuk memeriksa indikator gangguan (hanya
0.083
untuk sistem spindel)
D Waktu yang dibutuhkan untuk membuka/menutup pemutus tenaga atau
0.25
penutup kembali
E Waktu yang dibutuhkan untuk membuka / menutup saklar beban /
0.15
saklar pisah
F Waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki kawat penghantar udara 3
G Waktu yang dibutuhkan untuk mencari lokasi gangguan pada kabel
5
bawah tanah
H Waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki kabel saluran bawah tanah 10
I Waktu yang dibutuhkan untuk mengganti/memperbaiki pemutus
10
tenaga, sakelar beban, penutup kembali atau sakelar pisah
J Waktu yang dibutuhkan untuk mengganti penyambung kabel (bulusan)
15
untuk kabel yang berisolasi kertas
K Waktu yang dibutuhkan untuk mengganti trafo distribusi 10
L Waktu yang dibutuhkan untuk mengganti pelindung jaringan 10
M Waktu yang dibutuhkan untuk mengganti/memperbaiki bus tegangan
10
rendah
Contoh perhitungan waktu penanganan gangguan berdasarakan tabel diatas:
Asumsi gangguan yang terjadi bersifat permanen dan memerlukan manuver jaringan
untuk pemulihan Jaringan. Pelanggan di titik gangguan tidak dihitung dalam waktu
pemulihan. Waktu yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
Memeriksa indikator gangguan, waktu yang dibutuhkan 0.083 Jam
Operator di lapangan menerima panggilan untuk mengecek dan membuka
pemutus tenaga (LBS) di lokasi gangguan, waktu yang dibutuhkan 0.5 Jam
Menutup kembali pemutus tenaga di GI dan GH, waktu yang dibutuhkan 0.25
Jam
Jadi total waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan (manuver beban/pelanggan yang
tidak terganggu) sekitar 0.833 Jam atau sekitar 50 menit. Waktu pemulihan dapat
bervariasi tergantung pada panjang jaringan, jenis gangguan, peralatan proteksi,
peralatan pemutus beban, geografis, dll.
Tabel-3 Waktu Operasi Kerja dan Pemulihan Pelayanan dengan Otomatisasi Distribusi
Waktu/
Operasi Kerja
Jam
A Waktu yang dibutuhkan oleh operator dari saat mengetahui adanya
gangguan sampai gangguan diisolir dan pemulihan pelayanan di daerah 0.1
depan/belakang gardu tengah
B Waktu yang dibutuhkan oleh petugas gangguan dari saat adanya
0.5
laporan gangguan dan perjalanan ke GI
B Waktu yang dibutuhkan oleh petugas gangguan dari saat adanya
1
laporan gangguan dan perjalanan ke gardu tengah
C Waktu yang dibutuhkan untuk sampai dari satu gardu ke gardu
0.05
berikutnya
D Waktu yang dibutuhkan untuk memeriksa indikator gangguan 0.083
E Waktu yang dibutuhkan untuk membuka/menutup sakelar beban (tidak
0.15
termasuk sakelar beban di gardu tengah
F Waktu yang dibutuhkan untuk mencari lokasi gangguan pada kabel
5
bawah tanah
G Waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki kabel saluran bawah tanah 15
H Waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki pemutus tenaga atau
10
sakelar beban
I Waktu yang dibutuhkan untuk mengganti penyambung kabel (bulusan)
15
untuk kabel yang berisolasi kertas
J Waktu yang dibutuhkan untuk mengganti trafo distribusi 10
Dengan asumsi yang sama untuk contoh perhitungan waktu penanganan gangguan
secara konvensional di atas, kita hitung waktu pemulihan dengan SCADA. Dengan
mengacu pada tabel-3 diatas, waktu yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
Waktu yang dibutuhkan oleh operator untuk mengetahui adanya gangguan dan
mengisolir gangguan, selama 0.1 Jam
Waktu yang dibutuhkan untuk membuka/menutup saklar beban (baik di Gardu
Tengah/ Key-point, selama 0.15 Jam
Waktu yang dibutuhkan untuk menutup saklar beban di GI, selama 0.1 Jam
Jadi total waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan sekitar 0.35 Jam atau sekitar 21
menit. Waktu pemulihan dapat bervariasi tergantung panjang jaringan, jenis
gangguan, peralatan proteksi, peralatan pemutus beban, geografis, dll.
Dari dua contoh perhitungan di atas, terlihat bahwa pola operasi yang menggunakan
SCADA lebih cepat sekitar 29 menit jika dibandingkan pemulihan gangguan secara
konvensional.
Dalam studi kasus Kota Padang, jaringan distribusi existing telah mempunyai PBO
di setiap penyulang, sehingga biaya investasi hanya ditekankan kepada peralatan
kontrol dan komunikasi serta instalasi untuk mengintegrasikan peralatan dilapangan
dengan Master Station. Berikut gambar dari rencana pola operasi 20 kV Kota
Padang dengan menggunakan SCADA.
Gambar-3. Lokasi Key-Point untuk titik manuver
Mengingat rata-rata panjang jaringan distribusi di Kota Padang relatif pendek (15,4
kms), telah tersedianya peralatan pemutus beban di setiap penyulang, konfigurasi
sistem distrbusinya adalah loop dan spindel serta secara geografis mudah dijangkau,
sehingga waktu rata-rata pemulihan gangguan (lokalisir & manuver) di Kota Padang
sudah relatif cepat. Masih adanya daerah yang waktu pemulihannya tinggi
dikarenakan daerah tersebut merupakan daerah yang padat/macet, sehingga untuk
proses lokalisir gangguan & manuver terkendala dengan padatnya lalu lintas.
Dengan diterapkannya sistem SCADA tentunya akan mempercepat proses
penerimaan indikasi gangguan dan proses switching pemutus beban di lapangan.
Dengan mempertimbangkan hal tersebut diatas, untuk analisa dalam studi kasus ini
diasumsikan bahwa dengan sistem SCADA, percepatan pemulihan gangguan rata-
rata terjadi sekitar 3 menit dari existing saat ini.
Untuk menjaga keandalan Master Station, control center di-desain dengan
menggunakan redundant system dengan konfigurasi seperti gambar dibawah ini.
OPERATOR ENGINEER ADMINISTRATOR Video
WORKSTATION WORKSTATION WORKSTATION GPS CLOCK
Projctor
(2set) (1set) (1set) SYSTEM
System
REDUNDANT LAN
HOT STANDBY
REDUNDANT ROUTER
SCADA SERVER
FRONT END SERVER
COLOR
HOT STANDBY PRINTER
FRONT REDUNDANT
COMMUNICATION END HISTORICAL SERVER
FIREWALL
PROTOCOL
SYSTEM B/W
IEC 60870-5-101
PRINTER
atau DNP3
FIBER OPTIC
COMMUNICATION
PRINTER
IEC 870-5-104 atau LOGGER
DNP3 OVER IP
Modbus, IEC, DNP3
Konfigurasi tipikal dalam IED IED IED
satu Gardu Induk (GI) atau
Gardu Hubung (GH)
MODEM
RTU MODEM
RTU
Gambar-4. Desain Master Station SCADA Kota Padang
Sedangkan untuk sistem komunikasi, di-desain sebagai berikut:
dari CC ke GI/GH menggunakan fiber optik,
dari CC/GI/GH ke key-point menggunakan Radio.
Gambar-5. Rencana Diagram Blok Komunikasi SCADA Kota Padang
Dengan asumsi-asumsi tersebut dan meihat rencana pola operasi dengan
menggunakan SCADA, diharapkan energi tidak tersalur yang sebelumnya sebesar
1.447.731 kWh akan berkurang menjadi 440.186 kWh, sehingga terjadi
penyelamatan energi tersalur sebesar 1.007.545 kWh (rincian perhitungan pada
lampiran-2).
Jika ditinjau dari rata-rata lama pemadaman dan nilai SAIDI, perbandingan antara
operasi secara konvensional dan SCADA adalah sebagai berikut:
Rata-rata lama pemadaman
Merupakan rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan suatu
gangguan, seperti melokalisir gangguan dan manuver beban yang tidak
terganggu atau pemulihan ke operasi normal. Rata-rata lama pemadaman
berpengaruh terhadap besarnya energi yang dapat diselamatkan.
Operasi Konvensional Operasi SCADA
21.33 menit/tahun atau 0.36 jam/tahun 10.67 menit/tahun atau 0.18 jam/tahun
SAIDI
Merupakan nilai indeks pelayanan untuk mengukur durasi padam per pelanggan
dalam satu periode. SAIDI dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut:
Dengan persamaan tersebut, berikut adalah perbandingan nilai SAIDI :
Operasi Konvensional Operasi SCADA
40.96 menit/pelanggan/tahun 18.33 menit/pelanggan/tahun
Rincian perhitungan di lampiran-7
e. Kajian Kelayakan Finansial
Kelayakan finansial disusun dengan membandingkan biaya investai dan nilai
manfaat yang diperoleh dari pembangunan SCADA Kota Padang. Secara garis besar
Kajian Kelayakan Finansial adalah sebagai berikut:
Biaya Investasi
Diperoleh dari pengadaan material dan jasa untuk mengintegrasikan 3 GI, 6 GH
& 9 Key point ke dalam sistem SCADA. Total Nilai investasi pembangunan
SCADA pada tahun pertama adalah Rp.[Link],- (rincian pada lampiran-
3). Untuk tahun selanjutnya komponen yang menjadi cost adalah biaya O&M
yaitu sebesar 5% dari nilai investasi.
Nilai Manfaat
Diperoleh dari adanya kesempatan untuk menyelamatkan energi listrik yang tidak
tersalur akibat perubahan pola operasi dari konvensional ke SCADA, pada tahun
pertama yaitu sebesar 1.007.545 kWh. Untuk tahun selanjutnya dipertimbangkan
juga adanya pertumbuhan beban. Selain itu dengan pembangunan SCADA akan
mengurangi jumlah tenaga operator yang berada di GH (rincian pada lampiran-4),
sehingga hal tersebut menjadi nilai manfaat lain dengan dibangunnya SCADA
Kota Padang.
Kesimpulan
Dari asumsi tersebut di atas didapatkan nilai manfaat selama 15 tahun sebesar
Rp.[Link],- (rincian pada lampiran-5).
Dengan membandingkan nilai Investasi terhadap nilai manfaat, maka didapatkan:
IRR = 15,19 %
NPV = Rp. [Link],- pada tahun ke-15.
ROI pada tahun ke-11 sudah menunjukkan angka positif yaitu sebesar Rp.
268.425.091,- (rincian pada Lampiran-6).
Dari hasil analisa finansial tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembangunan
SCADA di Kota Padang, secara finansial layak untuk dilaksanakan.
PT PLN (PERSERO)
WILAYAH SUMATERA BARAT
CABANG PADANG
REKAP LAPORAN PEMADAMAN / GANGGUAN PENYULANG
TAHUN 2006
BEBAN GANGGUAN / PEMELIHARAAN ENERGI TAK TERSALUR
PANJANG PUNCAK
NO. GI / GH / PLTD WILAYAH SUMBAR KITLUR WILAYAH SUMBAR
(kms) TERTINGGI
PENYULANG OCR GFR JML HAR UFR GGN HAR GGN + HAR
(A)
(kali) (kali) (kali) (kali) (kali) (kWh) (kWh) (kWh)
1 2 4 3 4 5=3+4 6 7 8 9 10
I. GI. PAUH LIMO
1 II KURANJI 22.0 90 11 25 36 1 12,910.12 3,018.00 15,928.12
2 III KOTO TINGGA 18.0 168 15 30 45 1 30,399.46 834.00 31,233.46
3 IV TELUK BAYUR II 40.7 132 2 18 20 1 13,754.23 4,299.98 18,054.21
4 V TELUK BAYUR I 18.0 8 8 16 0 20,164.15 - 20,164.15
5 VI BLKI 26.0 102 10 76 86 1 41,035.11 251.27 41,286.38
6 VII [Link] 14.6 0 0 0 0 - - -
7 VIII GH. KANDIS/UNAND 14.6 26 8 11 19 0 16,705.68 - 16,705.68
JUMLAH 54 168 222 4 0 134,968.76 8,403.25 143,372.00
II. GIS. SIMPANG HARU
1 GH. TELUK BAYUR I 14.4 0 0 0 0 - - -
2 GH. TELUK BAYUR II 14.4 204 12 21 33 0 129,426.66 - 129,426.66
3 ANDALAS 7.3 240 13 20 33 3 72,621.64 6,441.40 79,063.04
4 WAHIDIN 11.2 108 0 20 20 2 16,504.62 14,434.43 30,939.05
5 COKROAMINOTO 7.5 144 8 22 30 2 31,086.17 25,522.54 56,608.71
6 JATI 5.5 48 2 2 4 3 694.73 9,278.31 9,973.04
7 MATAHARI 3.5 18 1 2 3 0 1,267.12 - 1,267.12
8 RSUP 7.5 48 1 1 2 0 4,090.20 - 4,090.20
9 MARAPALAM 126 6 13 19 1 43,867.30 - 43,867.30
10 EXPRESS KANDIS I 12.0 240 2 12 14 0 14,562.13 - 14,562.13
11 EXPRESS KANDIS II 11.0 252 2 7 9 0 19,518.30 - 19,518.30
12 POLA MAS 11.2 131 9 26 35 9 68,720.17 15,587.40 84,307.57
13 III BRI 18.1 48 0 0 0 0 - - -
14 SUDIRMAN 8.0 150 1 10 11 1 21,515.07 4,805.59 26,320.66
15 M E T R O 5.7 0 2 2 0 5,293.80 - 5,293.80
16 SUTAN SYAHRIR 14.8 102 22 30 52 1 54,801.36 3,272.00 58,073.36
17 KOTO TINGGA (PL. I) 11.6 4 8 12 1 11,389.19 1,364.62 12,753.81
18 ANDURING (PL. II) 5.7 270 8 18 26 0 61,827.04 - 61,827.04
JUMLAH 91 214 305 23 0 557,185.50 80,706.29 637,891.79
III. GH. KANDIS
1 ULAK KARANG 1.0 94 2 6 8 5 13,291.80 18,115.07 31,406.87
2 CADNAS 22.0 151 7 28 35 14 44,641.13 17,660.42 62,301.55
3 KHATIB SULAIMAN 32.0 58 1 6 7 4 4,364.05 2,953.94 7,317.99
4 AIR TAWAR 9.5 74 1 2 3 0 1,919.80 - 1,919.80
5 BANDARA 15.5 77 3 4 7 0 8,719.40 - 8,719.40
6 DPR 5.0 31 1 1 2 0 3,429.20 2,311.00 5,740.20
JUMLAH 15 47 62 23 0 76,365.38 41,040.43 117,405.81
IV. GH. TELUK BAYUR
1 BUNGUS 32.3 186 11 192 203 67 221,268.66 506,700.18 727,968.84
2 GAMBIR 17.2 62 9 27 36 2 22,973.85 696.56 23,670.41
3 PT. BA. UPO 0.3 8 0 0 0 0 - - -
4 EXPRESS PAINAN 96.3 108 26 463 489 59 361,262.02 919,144.68 1,280,406.70
5 PTP VI 0.3 12 2 4 6 0 1,172.30 - 1,172.30
6 CPP 0.2 198 0 1 1 1 3.92 1,005.95 1,009.87
JUMLAH 48 687 735 129 0 606,680.76 1,427,547.37 2,034,228.13
V. GI. PIP
1 II AIR PACAH 16.5 118 18 14 32 1 25,542.46 942.93 26,485.39
2 III PADANG SARAI 15.0 119 13 11 24 2 41,006.68 14,501.87 55,508.55
3 IV BUMI KASAI 24.0 13 4 15 19 1 2,444.78 287.00 2,731.78
4 V KETAPING 7.0 11 0 1 1 0 92.50 - 92.50
5 VI INDUSTRI 16.0 152 0 10 10 0 3,444.61 - 3,444.61
JUMLAH 633.3 35 51 86 4 0 72,531.03 15,731.80 88,262.83
LAMPIRAN 2 Halaman 1 dari 1
ANALISA MANFAAT PENGGUNAAN SISTIM SCADA PLN CABANG PADANG TERHADAP GANGGUAN
TARIP PLN/kWh Rp. 580.00 KWH TIDAK KWH MANFAAT PEMASANGAN SCADA AKIBAT GANGGUAN (DALAM RUPIAH)
JUMLAH GANGGUAN TERSALUR TH 2006 TERSALUR
NILAI KERUGIAN 0% (DENGAN MEMPERTIMBANGKAN PERTUMBUHAN BEBAN MASING-MASING TAHUN)
TH 2006 KRN TOTAL MANFAAT
SCADA 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 (DALAM RUPIAH)
No. NAMA GI / NAMA FEEDER TOTAL LAMA PER
KALI TOTAL 3.00 10.37% 10.23% 10.04% 9.81% 9.54% 9.24% 8.91% 8.54% 8.54% 8.54% 8.54% 8.54% 8.54% 8.54% 8.54% 8.54%
MENIT (MENIT) MENIT
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
I GI. PAUH LIMO
1 II KURANJI 36 684 19 0.32 12,910 19 16 10,872 6,959,465 7,671,418 8,441,628 9,269,752 10,154,086 11,092,324 12,080,650 13,112,337 14,232,131 15,447,555 16,766,776 18,198,659 19,752,824 21,439,716 23,270,667 25,257,982 233,147,970
2 III KOTO TINGGA 45 495 11 0.18 30,399 61 8 22,109 14,152,796 15,600,627 17,166,930 18,851,005 20,649,391 22,557,395 24,567,259 26,665,303 28,942,520 31,414,211 34,096,984 37,008,867 40,169,424 43,599,893 47,323,324 51,364,736 474,130,664
3 IV TELUK BAYUR II 20 280 14 0.23 13,754 49 11 10,807 6,917,990 7,625,700 8,391,320 9,214,509 10,093,573 11,026,219 12,008,655 13,034,194 14,147,314 15,355,495 16,666,854 18,090,204 19,635,107 21,311,945 23,131,985 25,107,457 231,758,522
4 V TELUK BAYUR I 16 208 13 0.22 20,164 97 10 15,511 9,929,231 10,944,991 12,043,868 13,225,372 14,487,072 15,825,678 17,235,745 18,707,678 20,305,314 22,039,388 23,921,551 25,964,452 28,181,816 30,588,543 33,200,805 36,036,153 332,637,656
5 VI BLKI 86 258 3 0.05 41,035 159 3 - - - - - - - - - - - - - - - - - -
6 VII [Link] 0 0 0 0.00 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
7 VIII GH. KANDIS/UNAND 19 95 5 0.08 16,706 176 2 6,682 4,277,630 4,715,231 5,188,640 5,697,646 6,241,201 6,817,888 7,425,362 8,059,488 8,747,769 9,494,828 10,305,686 11,185,792 12,141,059 13,177,905 14,303,298 15,524,800 143,304,225
- -
II GIS. SIMPANG HARU - -
8 GH. TELUK BAYUR I - -
9 GH. TELUK BAYUR II 33 627 19 0.32 129,427 206 16 108,991 69,770,069 76,907,547 84,629,065 92,931,177 101,796,811 111,202,836 121,111,009 131,453,889 142,680,051 154,864,927 168,090,392 182,445,312 198,026,141 214,937,574 233,293,243 253,216,486 2,337,356,530
10 ANDALAS 33 5,676 172 2.87 72,622 13 169 71,355 45,677,608 50,350,427 55,405,610 60,840,900 66,645,122 72,803,132 79,289,891 86,061,247 93,410,878 101,388,167 110,046,716 119,444,706 129,645,284 140,716,991 152,734,222 165,777,724 1,530,238,625
11 WAHIDIN 20 1,180 59 0.98 16,505 14 56 15,665 10,028,144 11,054,024 12,163,848 13,357,121 14,631,390 15,983,331 17,407,446 18,894,042 20,507,593 22,258,941 24,159,855 26,223,106 28,462,559 30,893,262 33,531,547 36,395,141 335,951,349
12 COKROAMINOTO 30 1,110 37 0.62 31,086 28 34 28,566 18,286,199 20,156,877 22,180,628 24,356,547 26,680,162 29,145,409 31,742,265 34,453,054 37,395,345 40,588,908 44,055,201 47,817,515 51,901,130 56,333,487 61,144,367 66,366,096 612,603,191
13 JATI 4 1,396 349 5.82 695 0.50 346 689 440,906 486,010 534,806 587,270 643,296 702,736 765,350 830,711 901,654 978,655 1,062,232 1,152,947 1,251,409 1,358,279 1,474,276 1,600,179 14,770,717
14 MATAHARI 3 1,539 513 8.55 1,267 1 510 1,260 806,398 888,893 978,138 1,074,093 1,176,561 1,285,276 1,399,794 1,519,336 1,649,087 1,789,920 1,942,779 2,108,692 2,288,774 2,484,236 2,696,389 2,926,661 27,015,027
15 RSUP 2 172 86 1.43 4,090 24 83 3,948 2,526,988 2,785,499 3,065,163 3,365,856 3,686,958 4,027,633 4,386,496 4,761,102 5,167,700 5,609,022 6,088,032 6,607,950 7,172,269 7,784,781 8,449,601 9,171,197 84,656,251
16 MARAPALAM 19 2,090 110 1.83 43,867 21 107 42,671 27,315,618 30,110,006 33,133,051 36,383,403 39,854,379 43,536,924 47,416,064 51,465,396 55,860,541 60,631,031 65,808,921 71,429,003 77,529,040 84,150,019 91,336,431 99,136,562 915,096,388
17 EXPRESS KANDIS I 14 56 4 0.07 14,562 260 1 3,641 2,330,472 2,568,880 2,826,795 3,104,104 3,400,235 3,714,417 4,045,372 4,390,846 4,765,825 5,172,826 5,614,585 6,094,071 6,614,505 7,179,383 7,792,503 8,457,982 78,072,800
18 EXPRESS KANDIS II 9 54 6 0.10 19,518 361 3 9,759 6,247,281 6,886,378 7,577,770 8,321,149 9,114,987 9,957,212 10,844,399 11,770,511 12,775,713 13,866,758 15,050,980 16,336,333 17,731,456 19,245,722 20,889,307 22,673,254 209,289,209
19 POLA MAS 35 1,925 55 0.92 68,720 36 52 64,972 41,591,436 45,846,240 50,449,202 55,398,269 60,683,264 66,290,398 72,196,872 78,362,485 85,054,641 92,318,308 100,202,291 108,759,567 118,047,634 128,128,902 139,071,110 150,947,783 1,393,348,400
20 III BRI 0 0 0 0.00 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
21 SUDIRMAN 11 748 68 1.13 21,515 29 65 20,566 13,165,163 14,511,959 15,968,960 17,535,515 19,208,403 20,983,260 22,852,868 24,804,503 26,922,807 29,222,015 31,717,575 34,426,256 37,366,258 40,557,337 44,020,934 47,780,321 441,044,135
22 METRO 2 160 80 1.33 5,294 33 77 5,095 3,261,725 3,595,399 3,956,377 4,344,498 4,758,963 5,198,691 5,661,894 6,145,420 6,670,239 7,239,878 7,858,163 8,529,250 9,257,648 10,048,251 10,906,372 11,837,776 109,270,546
23 SUTAN SYAHRIR 52 1,924 37 0.62 54,801 28 34 50,358 32,236,478 35,534,269 39,101,910 42,937,807 47,034,074 51,380,023 55,957,983 60,736,794 65,923,716 71,553,602 77,664,279 84,296,809 91,495,756 99,309,494 107,790,525 116,995,836 1,079,949,354
24 KOTO TINGGA (PL. I) 12 60 5 0.08 11,389 190 2 4,556 2,916,298 3,214,635 3,537,384 3,884,402 4,254,974 4,648,133 5,062,282 5,494,601 5,963,840 6,473,152 7,025,959 7,625,976 8,277,234 8,984,110 9,751,353 10,584,118 97,698,450
25 ANDURING (PL. II) 26 1,040 40 0.67 61,827 59 37 57,190 36,609,957 40,355,156 44,406,814 48,763,122 53,415,124 58,350,681 63,549,727 68,976,874 74,867,499 81,261,183 88,200,888 95,733,244 103,908,863 112,782,680 122,414,321 132,868,504 1,226,464,640
- -
III GH. KANDIS - -
26 ULAK KARANG 8 80 10 0.17 13,292 166 7 9,304 5,956,085 6,565,392 7,224,558 7,933,287 8,690,122 9,493,090 10,338,924 11,221,868 12,180,216 13,220,406 14,349,429 15,574,870 16,904,964 18,348,648 19,915,622 21,616,416 199,533,896
27 CADNAS 35 350 10 0.17 44,641 128 7 31,249 20,003,789 22,050,176 24,264,014 26,644,314 29,186,181 31,882,984 34,723,758 37,689,167 40,907,822 44,401,350 48,193,225 52,308,927 56,776,109 61,624,789 66,887,546 72,599,742 670,143,892
28 KHATIB SULAIMAN 7 70 10 0.17 4,364 62 7 3,055 1,955,540 2,155,592 2,372,014 2,604,708 2,853,197 3,116,833 3,394,543 3,684,437 3,999,087 4,340,609 4,711,298 5,113,642 5,550,347 6,024,347 6,538,826 7,097,242 65,512,263
29 AIR TAWAR 3 30 10 0.17 1,920 64 7 1,344 860,267 948,272 1,043,478 1,145,844 1,255,157 1,371,134 1,493,302 1,620,830 1,759,248 1,909,488 2,072,559 2,249,555 2,441,667 2,650,185 2,876,511 3,122,165 28,819,661
30 BANDARA 7 70 10 0.17 8,719 125 7 6,104 3,907,182 4,306,887 4,739,299 5,204,224 5,700,707 6,227,452 6,782,318 7,361,528 7,990,202 8,672,566 9,413,203 10,217,090 11,089,630 12,036,684 13,064,617 14,180,335 130,893,923
31 DPR 2 20 10 0.17 3,429 171 7 2,400 1,536,632 1,693,830 1,863,890 2,046,738 2,241,996 2,449,157 2,667,377 2,895,171 3,142,418 3,410,781 3,702,061 4,018,218 4,361,373 4,733,835 5,138,104 5,576,898 51,478,478
- -
IV GH. TELUK BAYUR - -
32 BUNGUS 203 2,030 10 0.17 221,269 109 7 154,888 99,150,975 109,294,119 120,267,249 132,065,466 144,664,512 158,031,512 172,112,120 186,810,495 202,764,112 220,080,167 238,875,013 259,274,939 281,417,019 305,450,032 331,535,465 359,848,594 3,321,641,788
33 GAMBIR 36 360 10 0.17 22,974 64 7 16,082 10,294,634 11,347,775 12,487,092 13,712,075 15,020,207 16,408,075 17,870,034 19,396,135 21,052,565 22,850,454 24,801,883 26,919,964 29,218,928 31,714,225 34,422,620 37,362,311 344,878,977
34 PT. BA. UPO 0 0 0 0.00 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
35 EXPRESS PAINAN 489 4,890 10 0.17 361,262 74 7 252,883 161,882,306 178,442,866 196,358,530 215,621,301 236,191,573 258,015,675 281,004,871 305,002,688 331,049,917 359,321,580 390,007,643 423,314,296 459,465,336 498,703,676 541,292,970 587,519,390 5,423,194,618
36 PTP VI 6 60 10 0.17 1,172 20 7 821 525,310 579,049 637,186 699,694 766,445 837,264 911,864 989,738 1,074,261 1,166,003 1,265,580 1,373,660 1,490,971 1,618,300 1,756,503 1,906,508 17,598,338
37 CPP 1 10 10 0.17 4 0 7 3 1,757 1,936 2,131 2,340 2,563 2,800 3,049 3,310 3,592 3,899 4,232 4,593 4,986 5,411 5,873 6,375 58,846
- -
V GI. PIP - -
38 II AIR PACAH 32 64 2 0.03 25,542 399 2 - - - - - - - - - - - - - - - - - -
39 III PADANG SARAI 24 120 5 0.08 41,007 342 2 16,403 10,500,105 11,574,266 12,736,322 13,985,755 15,319,996 16,735,564 18,226,702 19,783,263 21,472,753 23,306,527 25,296,904 27,457,260 29,802,110 32,347,210 35,109,661 38,108,027 351,762,423
40 IV BUMI KASAI 19 38 2 0.03 2,445 64 2 - - - - - - - - - - - - - - - - - -
41 V KETAPING 1 10 10 0.17 93 9 7 65 41,449 45,690 50,277 55,209 60,476 66,064 71,950 78,095 84,764 92,003 99,860 108,388 117,645 127,692 138,596 150,432 1,388,592
42 VI INDUSTRI 10 100 10 0.17 3,445 34 7 2,411 1,543,537 1,701,441 1,872,266 2,055,935 2,252,071 2,460,163 2,679,363 2,908,181 3,156,540 3,426,108 3,718,698 4,036,274 4,380,972 4,755,107 5,161,193 5,601,959 51,709,810
TOTAL 1,410 30,079 21.33 1,447,731 3,697 1,739 1,052,272 673,607,419 742,517,458 817,066,211 897,220,406 982,815,233 1,073,627,361 1,169,287,559 1,269,144,716 1,377,529,675 1,495,170,709 1,622,858,288 1,761,450,385 1,911,878,248 2,075,152,651 2,252,370,687 2,444,723,144 22,566,420,152
PRAKIRAAN BIAYA PENGEMBANGAN SCADA PLN CABANG PADANG
GARDU INDUK Harga ( x Rp. 1.000,00 )
G G G G G G G G G K K
I I I H H H H H H E E
S Y Y
P P K I A T L T
M A S I A M G E U E P P J
a U I P N A U R B L O O U
s H M D M S M U U N I M
No. Deskripsi Peralatan P I I K K T N
t L
e L A S B S N T A Harga Satuan Total Harga
r I N O A A B B G H
M G N L L U A A T
O J I A Y R I
H O M Y U D A
A L A R U N
R G
U
A PERALATAN
I Pusat Kontrol
1 SCADA Server 2 2 87,124 174,247
2 Front End and Acquisition Computer System 0 0 87,124 -
3 Historical Server 0 0 87,124 -
4 Operator Workstation, 3 monitor 23 inci 2 2 70,979 141,957
5 Engineering Workstation, 2 monitor 23 inci 1 1 54,432 54,432
6 Administrator Workstation, 1 monitor 23 inci 1 1 34,144 34,144
7 UPS 10 KVA dengan backup 30 menit 1 1 200,000 200,000
8 B/W Laser Printer 1 1 12,467 12,467
9 Color Laser Printer 1 1 24,573 24,573
10 Furniture 1 1 43,486 43,486
11 Video Projection System 1 1 100,000 100,000
12 System LAN 1 1 32,057 32,057
13 Time and Frequency System 1 1 43,009 43,009
II Perangkat Komunikasi
1 Komunikasi Fiber Optik 1 1 - -
FO Kabel 50 20,000 1,000,000
STM-1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 62,500 625,000
2 Radio Modem 5 4 9 10,000 90,000
III Remote Terminal unit (RTU)
1 Basic RTU Gardu Induk 1 1 1 1 4 64,339 257,355
2 Basic RTU Gardu Hubung/Beton 1 1 1 1 1 1 5 11 64,339 707,726
3 Kabinet & Peralatan Pendukung 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 10 33,704 337,038
4 Peralatan Input/Output (I/O)
RCD 2 2 4 2 3 2 2 2 2 3 5 29 6,543 189,751
Digital Input 3 3 6 3 3 3 3 3 3 4 5 39 3,322 129,570
IED 2 12 29 14 9 8 6 7 5 12 0 104 7,513 781,306
IV Software SCADA
1 Operating System 1 1 155,397 155,397
2 Basic SCADA Software 1 1 1,290,817 1,290,817
3 Network Topologi/Coloring 1 1 284,894 284,894
4 Protocol 1 1 327,087 327,087
5 RTU Configurator 2 2 15,724 31,449
V Battery & Charger -
Battery + Charger Gardu Induk 1 1 1 3 85,060 255,179
Battery + Charger Gardu Hubung 1 1 1 1 1 1 6 85,060 510,358
Battery + Charger KP Beton 5 5 25,000 125,000
VI Pole Top RTU 4 4 25,000 100,000
Sub Total A 8,058,299
B ENGINEERING
I Design & Testing ( per M/M)
1 Screen Layout Design 2.0 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 0.2 4.2 25,000 105,000
2 Database Development 2.0 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 1.0 4 25,000 100,000
3 Graphical Design 1.0 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 1.0 3 25,000 75,000
4 Report Design 1.0 1 25,000 25,000
5 FAT 0.5 0.5 90,000 45,000
6 SAT 0.5 0.5 90,000 45,000
II Installation Services
1 Installation ( per M/D) 60 14 14 14 14 7 7 7 7 7 7 8 166 1,000 166,000
2 Transportasi 8 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 8 36 1,000 36,000
3 Akomodasi 60 14 14 14 14 7 7 7 7 7 7 8 166 1,500 249,000
III Training
1 Transportasi 5 5 1,500 7,500
2 Akomodasi 250 250 500 125,000
3 Dokumentasi Training 1 1 15,000 15,000
Sub Total B 993,500
Total A + B 9,051,799
Ppn 10% 905,180
TOTAL 9,956,978
PRAKIRAAN BIAYA OPERATOR PER BULAN
No. Keterangan Jumlah Rupiah
1 Gaji 1,500,000
2 Tunjangan Hari Raya 125,000
3 Biaya Pengobatan 75,000
4 Uang Hadir 300,000
Jumlah Total 2,000,000
ANALISA MANFAAT PEMAKAIAN SISTEM SCADA PLN CABANG PADANG
TAHUN
Data Tahun
2006
2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
1 Data Jaringan
Jumlah Gardu Hubung buah 4
Pertumbuhan Beban % 10.37% 10.23% 10.04% 9.81% 9.54% 9.24% 8.91% 8.54% 8.54% 8.54% 8.54% 8.54% 8.54% 8.54% 8.54%
2 Data Penjualan Energi Listrik
Harga Jual Energi Listrik Rp/kWh 580.00
Kenaikan Tarif Listrik % 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00% 0.00%
Rata-rata Harga Jual Energi Listrik Rp/kWh 580.00 580.00 580.00 580.00 580.00 580.00 580.00 580.00 580.00 580.00 580.00 580.00 580.00 580.00 580.00 580.00
3 Data Gangguan Tahun 2006
Jumlah Gangguan kali 1,410
Lama Gangguan menit 30,079
Rata-rata Lama tiap Gangguan mnt/gangguan 21.33
Energi tidak tersalur kWh 1,447,731.42
Energi tidak tersalur tiap gangguan kWh 1,026.76
Energi tidak tersalur tiap menit/gangguan kWh 48.13
4 Penghematan karena SCADA
Waktu manuver dengan SCADA menit 3.00
Jumlah kWh yang hilang kWh 395,460
Jumlah kWh yang dapat disalurkan kWh 1,052,272
Nilai Manfaat karena SCADA Rp./ tahun 673,607,419 742,517,458 817,066,211 897,220,406 982,815,233 1,073,627,361 1,169,287,559 1,269,144,716 1,377,529,675 1,495,170,709 1,622,858,288 1,761,450,385 1,911,878,248 2,075,152,651 2,252,370,687
5 Penghematan Biaya Operasi tanpa
Jumlah Operator Operator/GH 2
Jumlah Shift Shift 4
Jumlah Operator Operator 32
Biaya Operator Operator/bln 2,000,000
Biaya Operator Rp./tahun 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000
6 Nilai Manfaat
Nilai Manfaat karena SCADA Rp./tahun 673,607,419 742,517,458 817,066,211 897,220,406 982,815,233 1,073,627,361 1,169,287,559 1,269,144,716 1,377,529,675 1,495,170,709 1,622,858,288 1,761,450,385 1,911,878,248 2,075,152,651 2,252,370,687
Penghematan Biaya Operasi tanpa SCADA Rp./tahun 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000 768,000,000
Total Nilai Manfaat karena SCADA Rp./tahun 1,441,607,419 1,510,517,458 1,585,066,211 1,665,220,406 1,750,815,233 1,841,627,361 1,937,287,559 2,037,144,716 2,145,529,675 2,263,170,709 2,390,858,288 2,529,450,385 2,679,878,248 2,843,152,651 3,020,370,687
Halaman 1 dari 1
PERHITUNGAN NPV & ROI
PENGEMBANGAN SCADA PLN CABANG PADANG
Perhitungan ROI Investasi
Kesempatan Jual kWh Biaya Pemeliharaan (5% Nilai Manfaat Dikurangi Biaya Hasil Perhitungan NPV Perhitungan IRR (Internal
Pengembangan SCADA
per tahun) Pemeliharaan Rate of Return) Investasi
Pengembangan SCADA
Manfaat Discount Rate 12% (9,956,978,463.00)
Tahun
( Rp. ) ( Rp. ) ( Rp. ) ( Rp. ) ( Rp. )
Biaya Investasi Pengembangan SCADA PLN Cabang Padang (9,956,978,463.00)
2007 1,441,607,419 1,441,607,419 (7,740,918,733) (9,710,208,459)
2008 1,510,517,458 159,402,628 1,351,114,831 (6,779,221,884) (9,524,318,644)
2009 1,585,066,211 159,402,628 1,425,663,583 (5,873,186,903) (9,241,573,297)
2010 1,665,220,406 159,402,628 1,505,817,779 (5,018,745,456) (8,844,744,314)
2011 1,750,815,233 159,402,628 1,591,412,606 (4,212,486,303) (8,314,701,026)
2012 1,841,627,361 159,402,628 1,682,224,733 (3,451,533,265) (7,630,240,417)
2013 1,937,287,559 159,402,628 1,777,884,931 (2,733,475,360) (6,767,984,336)
2014 2,037,144,716 159,402,628 1,877,742,088 (2,056,342,739) (5,702,400,367)
2015 2,145,529,675 159,402,628 1,986,127,047 (1,416,862,985) (4,400,561,364)
2016 2,263,170,709 159,402,628 2,103,768,081 (812,079,933) (2,824,860,646)
2017 2,390,858,288 159,402,628 2,231,455,660 (239,320,844) (932,388,264)
2018 2,529,450,385 159,402,628 2,370,047,758 303,832,931 1,325,772,902
2019 2,679,878,248 159,402,628 2,520,475,621 819,572,180 4,005,341,271
2020 2,843,152,651 159,402,628 2,683,750,023 1,309,883,276 7,169,732,247
2021 3,020,370,687 159,402,628 2,860,968,060 1,776,569,140 10,891,068,176
2022 3,212,723,144 159,402,628 3,053,320,516 2,221,267,994 15,251,316,873 15.67%
TOTAL 34,854,420,152 2,391,039,415 32,463,380,737
Halaman 1 dari 1