0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
81 tayangan30 halaman

Pengaruh Kerapatan Fluida pada Kapal Selam

Dokumen tersebut membahas tentang fluida dan beberapa konsep terkaitnya seperti tekanan hidrostatis, massa jenis, dan hukum Pascal. Secara khusus membahas definisi fluida, contoh fluida cair dan gas, serta peran penting fluida dalam kehidupan sehari-hari.

Diunggah oleh

Joko Budiarto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
81 tayangan30 halaman

Pengaruh Kerapatan Fluida pada Kapal Selam

Dokumen tersebut membahas tentang fluida dan beberapa konsep terkaitnya seperti tekanan hidrostatis, massa jenis, dan hukum Pascal. Secara khusus membahas definisi fluida, contoh fluida cair dan gas, serta peran penting fluida dalam kehidupan sehari-hari.

Diunggah oleh

Joko Budiarto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Joko Budiarto

13644002

S1 Terapan 1B
FLUIDA
Fluida adalah zat yang dapat mengalir. Kata Fluida mencakup zat car, air dan gas karena
kedua zat ini dapat mengalir, sebaliknya batu dan benda-benda keras atau seluruh zat padat
tidak digolongkan kedalam fluida karena tidak bisa mengalir.

Susu, minyak pelumas, dan air merupakan contoh zat cair. dan Semua zat cair itu dapat
dikelompokan ke dalam fluida karena sifatnya yang dapat mengalir dari satu tempat ke
tempat yang lain. Selain zat cair, zat gas juga termasuk fluida. Zat gas juga dapat mengalir
dari satu satu tempat ke tempat lain. Hembusan angin merupakan contoh udara yang
berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Fluida merupakan salah satu aspek yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari
manusia menghirupnya, meminumnya, terapung atau tenggelam di dalamnya. Setiap hari
pesawat udara terbang melaluinya dan kapal laut mengapung di atasnya. Demikian juga
kapal selam dapat mengapung atau melayang di dalamnya. Air yang diminum dan udara
yang dihirup juga bersirkulasi di dalam tubuh manusia setiap saat meskipun sering tidak
disadari.

1. FLUIDA STATIS
Fluida Statis adalah fluida yang berada dalam fase tidak bergerak (diam) atau fluida dalam
keadaan bergerak tetapi tak ada perbedaan kecepatan antar partikel fluida tersebut atau
bisa dikatakan bahwa partikel-partikel fluida tersebut bergerak dengan kecepatan seragam
sehingga tidak memiliki gaya geser.

Contoh fenomena fluida statis dapat dibagi menjadi statis sederhana dan tidak sederhana.
Contoh fluida yang diam secara sederhana adalah air di bak yang tidak dikenai gaya oleh
gaya apapun, seperti gaya angin, panas, dan lain-lain yang mengakibatkan air tersebut
bergerak. Contoh fluida statis yang tidak sederhana adalah air sungai yang memiliki
kecepatan seragam pada tiap partikel di berbagai lapisan dari permukaan sampai dasar
sungai.

Cairan yang berada dalam bejana mengalami gaya-gaya yang seimbang sehingga cairan itu
tidak mengalir. Gaya dari sebelah kiri diimbangi dengan gaya dari sebelah kanan, gaya dari
atas ditahan dari bawah. Cairan yang massanya M menekan dasar bejana dengan gaya
sebesar Mg. Gaya ini tersebar merata pada seluruh permukaan dasar bejana. Selama cairan
itu tidak mengalir (dalam keadaan statis), pada cairan tidak ada gaya geseran sehingga
hanya melakukan gaya ke bawah oleh akibat berat cairan dalam kolom tersebut.
A. Massa Jenis
Dalam Fisika, ukuran kepadatan (densitas) benda homogen disebut massa jenis, yaitu massa
per satuan volume. Jadi massa jenis adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda.
Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya.
Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi dengan total volumenya.
Sebuah benda yang memiliki massa jenis lebih tinggi (misalnya besi) akan memiliki volume
yang lebih rendah daripada benda bermassa sama yang memiliki massa jenis lebih rendah
(misalnya air).

Satuan SI massa jenis adalah kilogram per meter kubik (kg·m-3)

Massa jenis berfungsi untuk menentukan zat. Setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda.
Dan satu zat berapapun massanya berapapun volumenya akan memiliki massa jenis yang
sama.

Secara matematis, massa jenis dituliskan sebagai berikut.

dengan: m = massa (kg atau g),

V = volume (m3 atau cm3), dan

ρ = massa jenis (kg/m3 atau g/cm3).

Jenis beberapa bahan dan massa jenisnya dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel Massa Jenis atau Kerapatan Massa (Density)

Bahan Massa Jenis (g/cm3) Nama Bahan Massa Jenis (g/cm3)

Air 1,00 Gliserin 1,26


Aluminium 2,7 Kuningan 8,6
Baja 7,8 Perak 10,5
Benzena 0,9 Platina 21,4
Besi 7,8 Raksa 13,6
Emas 19,3 Tembaga 8,9
Es 0,92 Timah Hitam 11,3
Etil Alkohol 0,81 Udara 0,0012
B. Tekanan Hidrostatis

Tekanan adalah gaya yang bekerja tegak lurus pada suatu permukaan bidang dan dibagi luas
permukaan bidang tersebut. Secara matematis, persamaan tekanan dituliskan sebagai
berikut.

p=F/A

dengan:

F = gaya (N),
A = luas permukaan (m2), dan
p = tekanan (N/m2 = Pascal).

Persamaan di atas menyatakan bahwa tekanan p berbanding terbalik dengan luas permukaan
bidang tempat gaya bekerja. Jadi, untuk besar gaya yang sama, luas bidang yang kecil akan
mendapatkan tekanan yang lebih besar daripada luas bidang yang besar

Tekanan hidrostatis disebabkan oleh fluida tak bergerak. Tekanan hidrostatis yang dialami
oleh suatu titik di dalam fluida diakibatkan oleh gaya berat fluida yang berada di atas titik
tersebut. Perhatikanlah Gambar 1.

Gambar 1. Dasar bejana yang terisi dengan fluida setinggi h akan mengalami tekanan
hidrostatis sebesar p.
Jika besarnya tekanan hidrostatis pada dasar tabung adalah p, menurut konsep tekanan,
besarnya p dapat dihitung dari perbandingan antara gaya berat fluida (F) dan luas permukaan
bejana (A).

p = F / A = gaya berat fluida / luas permukaan bejana

Gaya berat fluida merupakan perkalian antara massa fluida dengan p = (mfluida x g) / A. Oleh
karena m = ρV, persamaan tekanan oleh fluida dituliskan sebagai p = ρVg / A.
Volume fluida di dalam bejana merupakan hasil perkalian antara luas permukaan bejana (A)
dan tinggi fluida dalam bejana (h). Oleh karena itu, persamaan tekanan di dasar bejana akibat
fluida setinggi h dapat dituliskan menjadi :

p = ρ (Ah)g / A = ρhg

Jika tekanan hidrostatis dilambangkan dengan ph, persamaannya dituliskan sebagai berikut.

ph = ρ gh

dengan:

ph = tekanan hidrostatis (N/m2),


ρ = massa jenis fluida (kg/m3),
g = percepatan gravitasi (m/s2), dan
h = kedalaman titik dari permukaan fluida (m).

Semakin tinggi dari permukaan Bumi, tekanan udara akan semakin berkurang. Sebaliknya,
semakin dalam Anda menyelam dari permukaan laut atau danau, tekanan hidrostatis akan
semakin bertambah. Hal tersebut disebabkan oleh gaya berat yang dihasilkan oleh udara dan
zat cair. Anda telah mengetahui bahwa lapisan udara akan semakin tipis seiring
bertambahnya ketinggian dari permukaan Bumi sehingga tekanan udara akan berkurang jika
ketinggian bertambah. Adapun untuk zat cair, massanya akan semakin besar seiring dengan
bertambahnya kedalaman. Oleh karena itu, tekanan hidrostatis akan bertambah jika
kedalaman bertambah.

Perhatikan Gambar 2.

Gambar 2. Semakin dalam kedudukan sebuah titik dalam fluida, tekanan hidrostatis di titik
tersebut akan semakin besar.
Pada gambar tersebut, tekanan hidrostatis di titik A, B, dan C berbeda-beda. Tekanan
hidrostatis paling besar adalah di titik C. Dapatkah Anda menjelaskan alasannya?
Prinsip tekanan hidrostatis ini digunakan pada alat-alat pengukur tekanan. Alat-alat pengukur
tekanan yang digunakan untuk mengukur tekanan gas, di antaranya sebagai berikut.

a. Manometer Pipa Terbuka

Manometer pipa terbuka adalah alat pengukur tekanan gas yang paling sederhana. Alat ini
berupa pipa berbentuk U yang berisi zat cair. Perhatikan Gambar 3.

Gambar 3. Manometer pipa terbuka. [3]


Ujung yang satu mendapat tekanan sebesar p (dari gas yang hendak diukur tekanannya) dan
ujung lainnya berhubungan dengan tekanan atmosfir (p0).

Besarnya tekanan udara di titik y1 = p0, sedangkan tekanan udara di titik y2 = p. y1 memiliki
selisih ketinggian Δy1 = 0 dan y2 memiliki selisih ketinggian Δy2 = h. Besarnya tekanan udara
dalam tabung pada Gambar 3. dinyatakan dengan persamaan berikut ini.

pgas = p – p0 = ρ gh

dengan ρ = massa jenis zat cair dalam tabung.

b. Barometer

Barometer raksa ini ditemukan pada 1643 oleh Evangelista Torricelli, seorang ahli Fisika dan
Matematika dari Italia.
Gambar 4. Skema barometer raksa.
Ia mendefinisikan tekanan atmosfir dalam bukunya yang berjudul "A Unit of Measurement,
The Torr" Tekanan atmosfer (1 atm) sama dengan tekanan hidrostatis raksa (mercury) yang
tingginya 760 mm. Cara mengonversikan satuannya adalah sebagai berikut.

ρ raksa × percepatan gravitasi Bumi × panjang raksa dalam tabung

atau

(13.600 kg/cm3)(9,8 m/s2)(0,76 m) = 1,103 × 105 N/m2

Jadi,

1 atm = 76 cmHg = 1,013 × 105 N/m2

c. Pengukur Tekanan Ban

Alat ini digunakan untuk mengukur tekanan udara di dalam ban. Bentuknya berupa silinder
panjang yang di dalamnya terdapat pegas. Saat ujungnya ditekankan pada pentil ban, tekanan
udara dari dalam ban akan masuk ke dalam silinder dan menekan pegas. Besarnya tekanan
yang diterima oleh pegas akan diteruskan ke ujung lain dari silinder yang dihubungkan dengan
skala. Skala ini telah dikalibrasi sehingga dapat menunjukkan nilai selisih tekanan udara luar
(atmosfer) dengan tekanan udara dalam ban.
Gambar 5. Alat pengukur tekanan udara di dalam ban.

 Tekanan Total

Tinjaulah sebuah tabung yang diisi dengan fluida setinggi h, seperti tampak pada Gambar 6.

Gambar 6. Tekanan total atau tekanan mutlak yang dialami oleh titik A yang berada di
dalam suatu fluida adalah sebesar pA.
Pada permukaan fluida yang terkena udara luar, bekerja tekanan udara luar yang dinyatakan
dengan p. Jika tekanan udara luar ikut diperhitungkan, besarnya tekanan total atau tekanan
mutlak pada satu titik di dalam fluida adalah

pA = p0 + ρ gh

dengan:

p0 = tekanan udara luar = 1,013 × 105 N/m2, dan


pA = tekanan total di titik A (tekanan mutlak).

C. Hukum Pascal

Proses Fisika yang terjadi pada bejana U seperti itu diselidiki oleh Blaise Pascal. Melalui
penelitiannya, Pascal berkesimpulan bahwa apabila tekanan diberikan pada fluida yang
memenuhi sebuah ruangan tertutup, tekanan tersebut akan diteruskan oleh fluida tersebut
ke segala arah dengan besar yang sama tanpa mengalami pengurangan. Pernyataan ini
dikenal sebagai Hukum Pascal yang dikemukakan oleh Pascal pada 1653.

Secara analisis sederhana, Hukum Pascal dapat digambarkan seperti pada Gambar 9.

Gambar 9. Tekanan F1 di pipa satu sama besar dengan gaya angkat di pipa dua.
Tekanan oleh gaya sebesar F1 terhadap pipa 1 yang memiliki luas penampang pipa A1 , akan
diteruskan oleh fluida menjadi gaya angkat sebesar F2 pada pipa 2 yang memiliki luas
penampang pipa A2 dengan besar tekanan yang sama. Oleh karena itu, secara matematis
Hukum Pascal ditulis sebagai berikut.

p1 = p2

F1 / A 1 = F 2 / A2

dengan:

F1 = gaya pada pengisap pipa 1,


A1 = luas penampang pengisap pipa 1,
F2 = gaya pada pengisap pipa 2, dan
A2 = luas penampang pengisap pipa 2.
Hukum Pascal dimanfaatkan dalam peralatan teknik yang banyak membantu pekerjaan
manusia, antara lain dongkrak hidrolik, pompa hidrolik, mesin hidrolik pengangkat mobil,
mesin pres hidrolik, dan rem hidrolik. Berikut pembahasan mengenai cara kerja beberapa alat
yang menggunakan prinsip Hukum Pascal.

a. Dongkrak Hidrolik

Dongkrak hidrolik merupakan salah satu aplikasi sederhana dari Hukum Pascal. Berikut ini
prinsip kerja dongkrak hidrolik. Saat pengisap kecil diberi gaya tekan, gaya tersebut akan
diteruskan oleh fluida (minyak) yang terdapat di dalam pompa. Akibatnya, minyak dalam
dongkrak akan menghasilkan gaya angkat pada pengisap besar dan dapat mengangkat beban
di atasnya.

Gambar 10. Skema dongkrak hidrolik.

b. Mesin Hidrolik Pengangkat Mobil

Mesin hidrolik pengangkat mobil ini memiliki prinsip yang sama dengan dongkrak hidrolik.
Perbedaannya terletak pada perbandingan luas penampang pengisap yang digunakan. Pada
mesin pengangkat mobil, perbandingan antara luas penampang kedua pengisap sangat besar
sehingga gaya angkat yang dihasilkan pada pipa berpenampang besar dan dapat digunakan
untuk mengangkat mobil.

Gambar 11. Mesin hidrolik pengangkat mobil. [5]


c. Rem Hidrolik

Rem hidrolik digunakan pada mobil. Ketika Anda menekan pedal rem, gaya yang Anda berikan
pada pedal akan diteruskan ke silinder utama yang berisi minyak rem. Selanjutnya, minyak
rem tersebut akan menekan bantalan rem yang dihubungkan pada sebuah piringan logam
sehingga timbul gesekan antara bantalan rem dengan piringan logam. Gaya gesek ini akhirnya
akan menghentikan putaran roda.

Gambar 12. Prinsip kerja rem hidrolik. [5]

D. Hukum Archimedes

Konsep terapung, melayang, atau tenggelamnya suatu benda di dalam fluida, kali pertama
diteliti oleh Archimedes. Menurut Archimedes, benda yang dicelupkan sebagian atau
seluruhnya ke dalam fluida, akan mengalami gaya ke atas. Besar gaya ke atas tersebut
besarnya sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda. Secara matematis, Hukum
Archimedes dituliskan sebagai berikut.

FA = ρfVfg

dengan:

FA = gaya ke atas (N),


ρf = massa jenis fluida (kg/m3),
Vf = volume fluida yang dipindahkan (m3), dan
g = percepatan gravitasi (m/s3).

Berdasarkan Persamaan di atas dapat diketahui bahwa besarnya gaya ke atas yang dialami
benda di dalam fluida bergantung pada massa jenis fluida, volume fluida yang dipindahkan,
dan percepatan gravitasi Bumi.
Anda telah mengetahui bahwa suatu benda yang berada di dalam fluida dapat terapung,
melayang, atau tenggelam. Agar Anda dapat mengingat kembali konsep Fisika dan persamaan
yang digunakan untuk menyatakan ketiga perisiwa tersebut, pelajarilah uraian berikut.
a. Terapung

Benda yang dicelupkan ke dalam fluida akan terapung jika massa jenis benda lebih kecil
daripada massa jenis fluida (ρb < ρf). Massa jenis benda yang terapung dalam fluida memenuhi
persamaan berikut.

atau

dengan :

Vbf = volume benda yang tercelup dalam fluida (m3),


Vb = volume benda (m3),
hbf = tinggi benda yang tercelup dalam fluida (m),
hb = tinggi benda (m),
ρb = massa jenis benda (kg/m3), dan
ρf = massa jenis fluida (kg/m3).

Sebuah balok kayu (ρ = 0,6 kg/m3) bermassa 60 g dan volume 100 cm3 dimasukkan ke dalam
air. Ternyata, 60 cm3 kayu tenggelam sehingga volume air yang dipindahkan sebesar 60 cm3 (
0,6 N ).

Gambar 13. Balok kayu bervolume 100 cm3 dimasukkan ke dalam air. [7]
b. Melayang

Benda yang dicelupkan ke dalam fluida akan melayang jika massa jenis benda sama dengan
massa jenis fluida (ρb = ρf).

c. Tenggelam

Benda yang dicelupkan ke dalam fluida akan tenggelam jika massa jenis benda lebih besar
daripada massa jenis fluida (ρb > ρf). Jika benda yang dapat tenggelam dalam fluida ditimbang
di dalam fluida tersebut, berat benda akan menjadi

wbf = w – FA

atau

wbf = (ρb – ρf) Vbg

dengan:

wbf = berat benda dalam fluida (N), dan


w = berat benda di udara (N).

Perhatikanlah Gambar 14.

Gambar 14. (a) Balok aluminium dengan volume 100 cm3 di udara. (b) Balok aluminium
dengan volume 100 cm3 ditimbang di dalam air Apakah beratnya sama? [7]
Aluminium (ρ = 2,7 g/cm3) yang bermassa 270 g dan memiliki volume 100 cm3, ditimbang di
udara. Berat aluminium tersebut sebesar 2,7 N. Ketika penimbangan dilakukan di dalam air,
volume air yang dipindahkan adalah 100 cm3 dan menyebabkan berat air yang dipindahkan
sebesar 1 N (m = ρ V dan w = mg). Dengan demikian, gaya ke atas FA yang dialami aluminium
sama dengan berat air yang dipindahkan, yaitu sebesar 1 N. Berat aluminium di dalam air
menjadi

wbf = w – FA
wbf = 2,7 N – 1 N
wbf = 1,7 N
Catatan Fisika :

Penaik Air

Penaik air Archimedes. [6]


Penaik air ini adalah alat yang diciptakan oleh Archimedes untuk menaikkan air dari sungai
atau kanal. Prinsip dasar dari alat ini adalah bidang miring yang disusun menjadi pilinan
(heliks). Apabila pegangan di ujung tabung di putar, pilinan tersebut akan mengangkat air ke
atas.

 Aplikasi Hukum Archimedes

Hukum Archimedes banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya pada


hidrometer, kapal laut, kapal selam, balon udara, dan galangan kapal. Berikut ini prinsip kerja
alat-alat tersebut.

a. Hidrometer

Hidrometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur massa jenis zat cair. Proses
pengukuran massa jenis zat cair menggunakan hidrometer dilakukan dengan cara
memasukkan hidrometer ke dalam zat cair tersebut. Angka yang ditunjukkan oleh hidrometer
telah dikalibrasi sehingga akan menunjukkan nilai massa jenis zat cair yang diukur.
Hidrometer. [8]
Berikut ini prinsip kerja hidrometer.

Gaya ke atas = berat hidrometer


FA = whidrometer
ρ1 V1 g = mg

Oleh karena volume fluida yang dipindahkan oleh hidrometer sama dengan luas tangkai
hidrometer dikalikan dengan tinggi yang tercelup maka dapat dituliskan :

ρ1 (A h1) = m

h 1 = m / A ρ1

dengan :

m = massa hidrometer (kg),


A = luas tangkai (m2),
hf = tinggi hidrometer yang tercelup dalam zat cair (m), dan
ρf = massa jenis zat cair (kg/m3).

Hidrometer digunakan untuk memeriksa muatan akumulator mobil dengan cara


membenamkan hidrometer ke dalam larutan asam akumulator. Massa jenis asam untuk
muatan akumulator penuh kira-kira = 1,25 kg/m3 dan mendekati 1 kg/m3 untuk muatan
akumulator kosong.
b. Kapal Laut dan Kapal Selam

Gambar 16. Kapal yang sama pada saat kosong dan penuh muatan. Volume air yang di pindahkan oleh kapal
ditandai dengan tenggelamnya kapal hingga batas garis yang ditunjukkan oleh tanda panah. [9]

Balok besi yang dicelupkan ke dalam air akan tenggelam, sedangkan balok besi yang sama jika
dibentuk menyerupai perahu akan terapung. Hal ini disebabkan oleh jumlah fluida yang
dipindahkan besi yang berbentuk perahu lebih besar daripada jumlah fluida yang dipindahkan
balok besi. Besarnya gaya angkat yang dihasilkan perahu besi sebanding dengan volume
perahu yang tercelup dan volume fluida yang dipindahkannya. Apabila gaya angkat yang
dihasilkan sama besar dengan berat perahu maka perahu akan terapung. Oleh karena itu,
kapal baja didesain cukup lebar agar dapat memindahkan volume fluida yang sama besar
dengan berat kapal itu sendiri.

Gambar 17. Penampang kapal selam ketika (a) terapung, (b) melayang, dan (c) tenggelam.

Kapal selam memiliki tangki pemberat di dalam lambungnya yang berfungsi mengatur kapal
selam agar dapat terapung, melayang, atau tenggelam. Untuk menyelam, kapal selam
mengisi tangki pemberatnya dengan air sehingga berat kapal selam akan lebih besar daripada
volume air yang dipindahkannya. Akibatnya, kapal selam akan tenggelam. Sebaliknya, jika
tangki pemberat terisi penuh dengan udara (air laut dipompakan keluar dari tangki
pemberat), berat kapal selam akan lebih kecil daripada volume kecil yang dipindahkannya
sehingga kapal selam akan terapung. Agar dapat bergerak di bawah permukaan air laut dan
melayang, jumlah air laut yang dimasukkan ke dalam tangki pemberat disesuaikan dengan
jumlah air laut yang dipindahkannya pada kedalaman yang diinginkan.
c. Balon Udara

Balon berisi udara panas kali pertama diterbangkan pada tanggal 21 November 1783. Udara
panas dalam balon memberikan gaya angkat karena udara panas di dalam balon lebih ringan
daripada udara di luar balon. Balon udara bekerja berdasarkan prinsip Hukum Archimedes.
Menurut prinsip ini, dapat dinyatakan bahwa sebuah benda yang dikelilingi udara akan
mengalami gaya angkat yang besarnya sama dengan volume udara yang dipindahkan oleh
benda tersebut.

Gambar 18. Balon udara dapat mengambang di udara karena memanfaatkan prinsip Hukum Archimedes. [10]

E. Tegangan Permukaan

Contoh tegangan permukaan ialah memasukkan sebuah gelang kawat yang dipasang benang
ke dalam larutan sabun. Setelah dimasukkan ke dalam larutan sabun, pada gelang kawat akan
terdapat selaput tipis. Jika bagian tengah jerat benang ditusuk hingga pecah akan terlihat jerat
benang yang pada mulanya berbentuk tidak beraturan, berubah menjadi berbentuk
lingkaran.

Gelang kawat dan jerat benang yang dicelupkan ke dalam larutan sabun sebelum dan sesudah
selaput tipis bagian tengahnya ditusuk terlihat seperti pada Gambar 20 berikut.

Gambar 20. (a) Gelang kawat dengan bentangan benang di tengahnya ketika dimasukkan ke dalam larutan sabun. (b) Setelah gelang
kawat dicelupkan ke dalam larutan sabun, benang menjadi teregang dan membentuk lingkaran.
Gambar 20b menunjukkan bahwa permukaan zat cair dapat dianggap berada dalam keadaan tegang sehingga zat-zat pada kedua sisi garis
saling tarik-menarik.

Tegangan permukaan (γ) di dalam selaput didefinisikan sebagai perbandingan antara gaya
permukaan dan panjang permukaan yang tegak lurus gaya dan dipengaruhi oleh gaya
tersebut. Perhatikan Gambar 21.
Gambar 21. Rangkaian kawat untuk mengukur tegangan permukaan selaput tipis larutan sabun. Dalam keadaan
setimbang, gaya tegangan permukaan ke atas 2γ l sama dengan gaya tarik peluncur ke bawah w + T.

Gambar tersebut menunjukkan percobaan sederhana untuk melakukan pengukuran


kuantitatif tentang tegangan permukaan. Seutas kawat dilengkungkan membentuk huruf U
dan kawat kedua berperan sebagai peluncur yang diletakkan di ujung kawat berbentuk U.
Ketika rangkaian kedua kawat tersebut dimasukkan ke dalam larutan sabun, kemudian
dikeluarkan. Akibatnya, pada rangkaian kawat terbentuk selaput tipis cairan sabun. Selaput
tipis tersebut akan memberikan gaya tegangan permukaan yang menarik peluncur kawat ke
bagian atas kawat U (jika berat peluncur kawat sangat kecil). Ketika Anda menarik peluncur
kawat ke bawah, luas permukaan selaput tipis akan membesar dan molekul-molekulnya akan
bergerak dari bagian dalam cairan ke dalam lapisan permukaan.

Dalam keadaan setimbang, gaya tarik peluncur ke bawah sama dengan tegangan permukaan
yang diberikan selaput tipis larutan sabun pada peluncur. Berdasarkan Gambar 21, gaya tarik
peluncur ke bawah adalah

F=w+T

Jika l adalah panjang peluncur kawat maka gaya F bekerja pada panjang total 2l karena
selaput tipis air sabun memiliki dua sisi permukaan. Dengan demikian, tegangan permukaan
didefinisikan sebagai perbandingan antara gaya tegangan permukaan F dengan panjang d
tempat gaya tersebut bekerja yang secara matematis dinyatakan dengan persamaan

γ=Fd

Oleh karena d = 2l, tegangan permukaan dinyatakan dengan persamaan :

γ = F / 2l
Tegangan permukaan suatu zat cair yang bersentuhan dengan uapnya sendiri atau udara
hanya bergantung pada sifat-sifat dan suhu zat cair itu. Berikut harga tegangan permukaan
berdasarkan eksperimen. Berikut ini nilai tegangan permukaan beberapa zat cair berdasarkan
hasil eksperimen.

Tabel 2. Harga Tegangan Permukaan Berdasarkan Eksperimen

Zat Cair yang Berhubungan 1°C Tegangan


dengan Udara Permukaan
(dyne/cm)
Air 0 75,6
Air 20 72,8
Air 60 66,2
Air 100 58,9
Air sabun 20 25,0
Benzena 20 28,9
Etil Alkohol 20 22,3
Gliserin 20 63,1
Helium –269 0,12
Karbon Tertrakhlorida 20 26,8
Minyak Zaitun 20 32,0
Neon –247 5,15
Oksigen –193 15,7
Raksa 20 465

F. Kapilaritas

Kapilaritas adalah peristiwa naik atau turunnya permukaan zat cair pada pipa kapiler, seperti
yang diperlihatkan pada Gambar 22.

Gambar 22. Tabung pipa kapiler. [12]


Pada gambar tersebut, diameter dalam pipa kapiler dari kiri ke kanan semakin kecil. Semakin
kecil diameter dalam pipa kapiler, kenaikan permukaan air di dalam pipa kapiler akan semakin
tinggi.

Permukaan zat cair yang membasahi dinding, misalnya air, akan naik. Adapun yang tidak
membasahi dinding, seperti raksa, akan turun. Dalam kehidupan sehari-hari, contoh-contoh
gejala kapiler adalah sebagai berikut. Minyak tanah naik melalui sumbu lampu minyak tanah
atau sumbu kompor, dinding rumah basah pada musim hujan, air tanah naik melalui
pembuluh kayu.

Peristiwa air membasahi dinding, atau raksa tidak membasahi dinding dapat dijelaskan
dengan memperhatikan gaya tarik-menarik antarpartikel. Gaya tarik-menarik antarpartikel
sejenis disebut kohesi, sedangkan gaya tarikmenarik antarpartikel tidak sejenis disebut
adhesi. Air membasahi dinding kaca karena adanya gaya kohesi antarpartikel air yang lebih
kecil daripada gaya adhesi antara partikel air dan partikel dinding kaca. Sedangkan, raksa
memiliki gaya kohesi lebih besar daripada gaya adhesinya dengan dinding kaca sehingga tidak
membasahi dinding kaca. Gaya adhesi air yang lebih besar dari kohesinya menyebabkan
permukaan air berbentuk meniskus cekung, sedangkan gaya kohesi raksa lebih besar dari
gaya adhesinya sehingga menyebabkan permukaan raksa berbentuk meniskus cembung. Jika
zat cair dimasukkan ke dalam suatu pipa kapiler, permukaan zat cair tersebut akan
melengkung. Permukaan melengkung zat cair di dalam pipa disebut meniskus.

Gambar 23. Gaya tegangan permukaan pada fluida dalam tabung kapiler. Fluida naik jika θ < 90° dan turun jika θ > 90°.

Gambar 23 memperlihatkan gaya tegangan permukaan cairan di dalam pipa kapiler. Bentuk permukaan cairan di dalam pipa
kapiler bergantung pada sudut kontak (θ ) cairan tersebut. Permukaan cairan akan naik jika θ < 90° dan turun jika θ > 90°.

Naik atau turunnya permukaan zat cair dapat ditentukan dengan persamaan berikut.

mg = F cosθ
ρ Vg = γ l cosθ
ρ π r2hg = γ 2π r cosθ

dengan:

h = kenaikan atau penurunan zat cair (m),


γ = tegangan permukaan (N/m),
g = percepatan gravitasi (m/s2), dan
r = jari-jari alas tabung/pipa (m).

Jika suatu zat cair membasahi dinding pipa, sudut kontaknya kurang dari 90° dan zat cair itu
naik hingga mencapai tinggi kesetimbangan.

Gambar 24. Efek bertambah kecilnya sudut kontak yang ditimbulkan suatu zat pencemar.

Zat pencemar yang ditambahkan pada zat cair akan mengubah sudut kontak itu, misalnya
detergent mengubah sudut kontak yang besarnya lebih dari 90° menjadi lebih kecil dari 90°.
Sebaliknya, zat-zat yang membuat kain tahan air (waterproof) menyebabkan sudut kontak air
dengan kain menjadi lebih besar dari 90°. Berikut beberapa nilai sudut kontak antara zat cair
dan dinding pipa kapilernya.

Tabel 3. Sudut Kontak

Zat Cair Dinding Sudut Kontak


α - Bromnaftalen Gelas Biasa 5°
(C10H7Br) Gelas Timbel 6° 45'
Gelas Tahan Panas (Pyrex) 20°30'
Gelas Kuarsa 21°
Gelas Biasa 29°
Metilen Yodida Gelas Timbel 30°
(CH2l2) Gelas Tahan Panas (Pyrex) 29°
Gelas Kuarsa 33°
Air Parafin 107°
Raksa Gelas Biasa 140°
2. Fluida Dinamis
A. Persamaan Kontinuitas

Dalam mempelajari materi fluida dinamis, suatu fluida dianggap sebagai fluida ideal. Fluida
ideal adalah fluida yang memiliki ciri-ciri berikut ini.

a. Fluida tidak dapat dimampatkan (incompressible), yaitu volume dan massa jenis fluida
tidak berubah akibat tekanan yang diberikan kepadanya.
b. Fluida tidak mengalami gesekan dengan dinding tempat fluida tersebut mengalir.
c. Kecepatan aliran fluida bersifat laminer, yaitu kecepatan aliran fluida di sembarang titik
berubah terhadap waktu sehingga tidak ada fluida yang memotong atau mendahului titik
lainnya.

Jika lintasan sebuah titik dalam aliran fluida ideal dilukiskan, akan diperoleh suatu garis yang
disebut garis aliran (streamline atau laminer flow).
Perhatikanlah Gambar 25.

Gambar 25. Setiap partikel fluida ideal mengalir menurut garis alirannya masing-masing dan tidak pernah
memotong garis aliran partikel lain.
Suatu fluida ideal mengalir di dalam pipa. Setiap partikel fluida tersebut akan mengalir
mengikuti garis aliran laminernya dan tidak dapat berpindah atau berpotongan dengan garis
aliran yang lain.

Pada kenyataannya, Anda akan sulit menemukan fluida ideal. Sebagian besar aliran fluida di
alam bersifat turbulen (turbulent flow). Garis aliran turbulen memiliki kecepatan aliran yang
berbeda-beda di setiap titik. Debit aliran adalah besaran yang menunjukkan volume fluida
yang mengalir melalui suatu penampang setiap satuan waktu.
Gambar 26. Kecepatan aliran fluida di pipa berpenampang besar (v1) lebih kecil daripada kecepatan aliran fluida di pipa
berpenampang kecil (v2).Adapun, tekanan di pipa berpenampang besar (p1) lebih besar daripada tekanan di pipa
berpenampang kecil (p2).

Secara matematis, persamaannya dituliskan sebagai berikut.

Q = v / t = Av

dengan :

V = volume fluida yang mengalir (m3),


t = waktu (s),
A = luas penampang (m2),
v = kecepatan aliran (m/s), dan
Q = debit aliran fluida (m3/s).

Untuk fluida sempurna (ideal), yaitu zat alir yang tidak dapat dimampatkan dan tidak memiliki
kekentalan (viskositas), hasil kali laju aliran fluida dengan luas penampangnya selalu tetap.
Secara matematis, dituliskan sebagai berikut.

A1 v1 = A2 v2

B. Persamaan Bernoulli
Perhatikanlah Gambar 27.
Gambar 27. Fluida bergerak dalam pipa yang ketinggian dan luas penampangnya yang berbeda. Fluida naik dari
ketinggian h1 ke h2 dan kecepatannya berubah dari v1 ke v2.

Suatu fluida bergerak dari titik A yang ketinggiannya h1 dari permukaan tanah ke titik B yang
ketinggiannya h2 dari permukaan tanah. Pada pelajaran sebelumnya, Anda telah mempelajari
Hukum Kekekalan Energi Mekanik pada suatu benda. Misalnya, pada benda yang jatuh dari
ketinggian tertentu dan pada anak panah yang lepas dari busurnya. Hukum Kekekalan Energi
Mekanik juga berlaku pada fluida yang bergerak, seperti pada Gambar 27. Menurut penelitian
Bernoulli, suatu fluida yang bergerak mengubah energinya menjadi tekanan.

Secara lengkap, Hukum Bernoulli menyatakan bahwa jumlah tekanan, energi kinetik per
satuan volume, dan energi potensial per satuan volume memiliki nilai yang sama di setiap titik
sepanjang aliran fluida ideal.

Persamaan matematisnya, dituliskan sebagai berikut.

p + 1/2 ρv2 + ρgh =konstan

atau

p1 + 1/2 ρv12 + ρgh = p2 + 1/2 ρv22 + ρgh

dengan:

p = tekanan (N/m2),
v = kecepatan aliran fluida (m/s),
g = percepatan gravitasi (m/s2),
h = ketinggian pipa dari tanah (m), dan
ρ = massa jenis fluida.

 Penerapan Persamaan Bernoulli

Hukum Bernoulli diterapkan dalam berbagai peralatan yang digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Berikut uraian mengenai cara kerja beberapa alat yang menerapkan Hukum
Bernoulli.

a. Alat Ukur Venturi

Alat ukur venturi (venturimeter) dipasang dalam suatu pipa aliran untuk mengukur laju aliran
suatu zat cair. Suatu zat cair dengan massa jenis ρ mengalir melalui sebuah pipa dengan luas
penampang A1 pada daerah (1). Pada daerah (2), luas penampang mengecil menjadi A2.
Suatu tabung manometer (pipa U) berisi zat cair lain (raksa) dengan massa jenis ρ' dipasang
pada pipa. Perhatikan Gambar 28.

Gambar 28. Penampang pipa menyempit di A2 sehingga tekanan di bagian pipa sempit
lebih kecil dan fluida bergerak lebih lambat.
Kecepatan aliran zat cair di dalam pipa dapat diukur dengan persamaan.

b. Tabung Pitot (Pipa Prandtl)

Tabung pitot digunakan untuk mengukur kelajuan aliran suatu gas di dalam sebuah pipa.
Perhatikanlah Gambar 29.

Gambar 29. Prinsip kerja pipa Prandtl.


Misalnya udara, mengalir melalui tabung A dengan kecepatan v. Kelajuan udara v di dalam
pipa dapat ditentukan dengan persamaan :
c. Gaya Angkat pada Sayap Pesawat Terbang

Penampang sayap pesawat terbang memiliki bagian belakang yang lebih tajam dan sisi bagian
atasnya lebih melengkung daripada sisi bagian bawahnya. Bentuk sayap tersebut
menyebabkan kecepatan aliran udara bagian atas lebih besar daripada di bagian bawah
sehingga tekanan udara di bawah sayap lebih besar daripada di atas sayap. Hal ini
menyebabkan timbulnya daya angkat pada sayap pesawat. Agar daya angkat yang
ditimbulkan pada pesawat semakin besar, sayap pesawat dimiringkan sebesar sudut tertentu
terhadap arah aliran udara. Perhatikanlah Gambar 30.

Gambar 30. (a) Ketika sayap pesawat horizontal, sayap tidak mengalami gaya angkat. (b)
Ketika sayap pesawat dimiringkan, pesawat mendapat gaya angkat sebesar F1 - F2.
Gaya angkat pada sayap pesawat terbang dirumuskan sebagai berikut :

F1 – F2 = ½ ρ A (v22 - v11)

dengan :

F1 – F2 = gaya angkat pesawat terbang (N),


A = luas penampang sayap pesawat (m2),
v1 = kecepatan udara di bagian bawah sayap (m/s),
v2 = kecepatan udara di bagian atas sayap (m/s), dan
ρ = massa jenis fluida (udara).

d. Penyemprot Nyamuk
Alat penyemprot nyamuk juga bekerja berdasarkan Hukum Bernoulli. Tinjaulah alat
penyemprot nyamuk pada Gambar 31.

Gambar 31. pB < pA sehingga cairan obat nyamuk di B bisa memancar keluar.
Jika pengisap dari pompa ditekan maka udara yang melewati pipa sempit pada bagian A akan
memiliki kelajuan besar dan tekanan kecil. Hal tersebut menyebabkan cairan obat nyamuk
yang ada pada bagian B akan naik dan ikut terdorong keluar bersama udara yang tertekan
oleh pengisap pompa.

e. Kebocoran Pada Dinding Tangki

Jika air di dalam tangki mengalami kebocoran akibat adanya lubang di dinding tangki, seperti
terlihat pada Gambar 32, kelajuan air yang memancar keluar dari lubang tersebut dapat
dihitung berdasarkan Hukum Toricelli.

Gambar 32. Tangki dengan sebuah lubang kecil di dindingnya. Kecepatan aliran air yang
keluar dari tangki sama dengan kecepatan benda yang jatuh bebas.
Menurut Hukum Toricelli, jika diameter lubang kebocoran pada dinding tangki sangat kecil
dibandingkan diameter tangki, kelajuan air yang keluar dari lubang sama dengan kelajuan
yang diperoleh jika air tersebut jatuh bebas dari ketinggian h. Perhatikanlah kembali Gambar
32 dengan saksama. Jarak permukaan air yang berada di dalam tangki ke lubang kebocoran
dinyatakan sebagai h1, sedangkan jarak lubang kebocoran ke dasar tangki dinyatakan h2.
Kecepatan aliran air pada saat kali pertama keluar dari lubang adalah :

Jarak horizontal tibanya air di tanah adalah :

C. Viskositas

Viskositas (kekentalan) fluida menyatakan besarnya gesekan yang dialami oleh suatu fluida
saat mengalir. Pada pembahasan sebelumnya, Anda telah mengetahui bahwa fluida ideal
tidak memiliki viskositas. Dalam kenyataannya, fluida yang ada dalam kehidupan sehari-hari
adalah fluida sejati. Oleh karena itu, bahasan mengenai viskositas hanya akan Anda temukan
pada fluida sejati, yaitu fluida yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut.
a. Dapat dimampatkan (kompresibel);
b. Mengalami gesekan saat mengalir (memiliki viskositas);
c. Alirannya turbulen.

Zat cair dan gas memiliki viskositas, hanya saja zat cair lebih kental (viscous) daripada gas.
Dalam penggunaan sehari-hari, viskositas dikenal sebagai ukuran ketahanan oli untuk
mengalir dalam mesin kendaraan. Viskositas oli didefinisikan dengan nomor SAE’S (Society of
Automotive Engineer’s). Contoh pada sebuah pelumas tertulis

API SERVICE SJ
SAE 20W – 50

Klasifikasi service minyak pelumas ini dikembangkan oleh API (American Petroleum Institute)
yang menunjukkan karakteristik service minyak pelumas dari skala terendah (SA) sampai skala
tertinggi (SJ) untuk mesin-mesin berbahan bakar bensin.

Gambar 34. Aliran laminer cairan kental.


Koefisien viskositas fluida η, didefinisikan sebagai perbandingan antara tegangan luncur
(F/A) dengan kecepatan perubahan regangan luncur (v/l). Secara matematis, persamaannya
ditulis sebagai berikut.

atau :

Nilai viskositas setiap fluida berbeda menurut jenis material tempat fluida tersebut mengalir.
Nilai viskositas beberapa fluida tertentu dapat Anda pelajari pada Tabel 2.

Tabel 4. Harga Tegangan Permukaan Berdasarkan Eksperimen


Fluida Uap Air Viskositas Keterangan
100°C Air 99°C 0,125 cP Poiseuille dan Poise adalah
Light Machine Oil 20°C 0,2848 cP satuan viskositas dinamis, juga
Motor Oil SAE 10 102 cP disebut viskositas absolut. 1
Motor Oil SAE 20 50–100 cP, 65 cP Poiseulle (PI) = 10 Poise (P) =
Motor Oil SAE 30 125 cP 150–200 cP 1.000 cP
Sirop Cokelat pada 20°C 25.000 cP
Kecap pada 20°C 50.000 cP

Benda yang bergerak dalam fluida kental mengalami gaya gesek yang besarnya dinyatakan
dengan persamaan :

Untuk benda berbentuk bola, k = 6r (perhitungan laboratorium) sehingga, diperoleh :

Ff = 6πrηv

Persamaan ini dikenal sebagai Hukum Stokes.

Jika sebuah benda berbentuk bola (kelereng) jatuh bebas dalam suatu fluida kental,
kecepatannya akan bertambah karena pengaruh gravitasi Bumi hingga mencapai suatu
kecepatan terbesar yang tetap. Kecepatan terbesar yang tetap tersebut dinamakan
kecepatan terminal. Pada saat kecepatan terminal tercapai, berlaku keadaan

ΣF=0
Ff + FA= mg
Ff = mg – FA
6π rη vT = ρbvbg – ρfvbg
6π rη vT = (ρb – ρf) Vbg

Pada benda berbentuk bola, volumenya vb = 4/3 π r3 sehingga diperoleh persamaan :

dengan:

vt = kecepatan terminal (m/s),


Ff = gaya gesek (N),
FA = gaya ke atas (N),
ρb = massa jenis bola (kg/m2), dan
ρf = massa jenis fluida (kg/m3).

Gambar 34. Sebuah bola jatuh bebas ke dalam fluida yang memiliki viskositas tertentu.

Contoh Soal:
1. Sebuah balok es terapung di dalam bejana berisi air, jika diketahui massa jenis es dan
air masing-masing adalah 0,09 gram/cm3 dan 1 gram/cm3 maka bagian es yang
terendam dalam air adalah...
A. 90% D. 25%
B. 75% E. 10%
C. 60%

Kunci: A. 90%

Pembahasan:

𝐹𝐴𝑒𝑠 = 𝐹𝐴𝑎𝑖𝑟
𝜌𝑒𝑠 . 𝑔. 𝑉𝑒𝑠 = 𝜌𝑎𝑖𝑟 . 𝑔. 𝑉𝑎𝑖𝑟
𝑉𝑎𝑖𝑟 𝜌𝑒𝑠 0,9
= = = 0,9 = 90%
𝑉𝑒𝑠 𝜌𝑎𝑖𝑟 1

2. Kecepatan fluida ideal penampang A1 adalah 20m/s. Jika luas penampang A1 = 20 cm2
dan A2 = 5 cm2. Maka kecepatan fluida pada penampang A2 adalah...
A. 1m/s B. 5 m/s
C. 20 m/s E. 100 m/s
D. 80m/s

Kunci: D. 80 m/s
Pembahasan:
𝐴1 𝑉1 = 𝐴2 𝑉2
20𝑐𝑚 . 20𝑚𝑠 −1 = 5𝑐𝑚2 . 𝑉2
2

𝑉2 = 80𝑚𝑠 −1

3. Sepotong mata uang logam jika dicelupkan dalam fluida A dengan 𝜌𝐴 = 0,8 g/cm3
mengalami gaya ke atas sebesar FA dan jika decelupan dalam fluida B dengan 𝜌𝐵 = 0,7
g/cm3 mengalami gaya Archimedes sebesar FB. Perbandingan kedua gaya tersebut
FA/FB bernilai...
A. 8/14 D. 7/8
B. 4/7 E. 8/7
C. 7/6

Kunci: E
Pembahasan:
𝐹𝐴 𝜌𝐴 . 𝑔. 𝑉
=
𝐹𝐵 𝜌𝐵 . 𝑔. 𝑉
𝐹𝐴 𝜌𝐴 0,8 8
= = =
𝐹𝐵 𝜌𝐵 . 0,7 7

Anda mungkin juga menyukai