0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
251 tayangan60 halaman

Evaluasi SIMRS dengan Metode HOT-Fit

Proposal penelitian ini membahas evaluasi sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) dengan metode HOT-Fit di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Undata Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara manusia, organisasi dan teknologi dalam penerapan SIMRS serta manfaat yang diperoleh pengguna. Hasil evaluasi diharapkan dapat meningkatkan kualitas penerapan SIMRS di

Diunggah oleh

zila
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
251 tayangan60 halaman

Evaluasi SIMRS dengan Metode HOT-Fit

Proposal penelitian ini membahas evaluasi sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) dengan metode HOT-Fit di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Undata Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara manusia, organisasi dan teknologi dalam penerapan SIMRS serta manfaat yang diperoleh pengguna. Hasil evaluasi diharapkan dapat meningkatkan kualitas penerapan SIMRS di

Diunggah oleh

zila
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

EVALUASI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH

SAKIT (SIMRS) DENGAN METODE HOT-FIT DI RUMAH


SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) UNDATA PROVINSI
SULAWESI TENGAH

PROPOSAL PENELITIAN

FITRIANI RATNASARI
N 201 14 034

PEMINATAN ADMINISTRASI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN


PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS TADULAKO
2018
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

DAFTAR ISI .................................................................................................. i

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1

1.1. Latar Belakang ........................................................................ 1

1.2. Rumusan Masalah .................................................................... 7

1.3. Tujuan ...................................................................................... 7

1.4. Manfaat .................................................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 9

2.1 Rumah Sakit ............................................................................. 9

2.2 Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit............................. 11

2.3 Evaluasi .................................................................................... 16

2.4 Kerangka Teori......................................................................... 29

2.5 Sintesa Penelitian ..................................................................... 30

BAB III DEFINISI KONSEP........................................................................ 36

3.1 Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti ................................... 36

3.2 Alur Kerangka Konsep ............................................................. 37

3.3 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif .............................. 37

BAB IV METODE PENELITIAN ............................................................... 42

4.1 Jenis Penelitian ......................................................................... 42

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................... 42

4.3 Populasi dan Sampel ................................................................ 42

ii
4.4 Pengumpulan Data ................................................................... 44

4.5 Analisis dan Penyajian Data .................................................... 44

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di era globalisasi, sistem informasi dengan dukungan teknologi

merupakan salah satu sistem yang berperan penting dalam kesuksesan

organisasi. Dengan adanya sistem teknologi informasi yang baik, berbagai

pekerjaan organisasi dapat berjalan secara efektif dan efisien. Begitu juga

dengan sebuah rumah sakit memerlukan sistem informasi untuk mendukung

kegiatan operasionalnya, karena dapat membantu segala jenis kegiatan yaitu

meningkatkan efisiensi dan efektivitas, komunikasi, kolaborasi di dalam

proses organisasi serta untuk meningkatkan daya saing. Rumah sakit sebagai

badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha penyedia jasa pelayanan

kesehatan masyarakat, harus pula dilengkapi dengan sebuah sarana dan

prasarana yang dapat dimanfaatkan oleh manajemen rumah sakit tersebut

untuk menjalankan operasionalnya (Supriyono, 2016).

Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) merupakan suatu

usaha untuk menyajikan informasi yang akurat, tepat waktu dan sesuai

kebutuhan guna menunjang proses fungsi-fungsi manajemen dan

pengambilan keputusan dalam memberikan pelayanan kesehatan di rumah

sakit (Saputra dan Misfariyan, 2014).

Surat Keputusan Menkes RI No 228/2002 tentang Pedoman

1
Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit menyatakan bahwa

rumah sakit memerlukan dukungan SIMRS yang handal untuk memberikan

pelayanan kesehatan yang standar kepada masyarakat (Supriyanti dan Cholil,

2016).

Tujuan dari SIMRS ini dapat meringankan beban administratif di

Rumah Sakit, baik dari proses pelayanan pasien direkam medis, keuangan,

Sumber Daya Manusia (SDM), aset dan lain sebagainya yang berhubungan

dengan proses di rumah sakit. Karena selama ini sering dirasakan proses

administrasi pasien memakan waktu yang lama jika dalam pelaksanaannya

masih menggunakan pola manual. Dengan Sistem Informasi Manajemen

Rumah Sakit dapat mengefisiensi proses pelaksanaan pencatatan,

perhitungan dan pelaporan. Sistem akan semakin dibutuhkan bila rumah

sakit makin besar, makin banyak pasien dan makin banyak proses

administrasi yang diperlukan (Supriyono, 2016).

Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit harus direncanakan dan

diimplementasikan sesuai dengan kebutuhan rumah sakit sehingga visi dan misi

organisasi dapat tercapai. Hakekatnya sistem informasi merupakan suatu

tatanan yang berkaitan dengan pengumpulan data, penyajian informasi,

analisis data, pengumpulan informasi serta penyampaian informasi yang

dibutuhkan. Keberhasilan penerapan sistem informasi rumah sakit bergantung

pada pengguna akhir, dukungan organisasi dan kemampuan teknologi sistem

informasi Rumah Sakit itu sendiri (Yusof et al., 2008).

2
Evaluasi suatu sistem informasi adalah suatu usaha nyata untuk

mengetahui kondisi sebenarnya suatu penyelenggaraan sistem informasi.

Dengan evaluasi tersebut, capaian kegiatan penyelenggaraan suatu sistem

informasi dapat diketahui dan tindakan lebih lanjut dapat direncanakan

untuk memperbaiki kinerja penerapannya. Metode evaluasi sistem informasi

yang dapat digunakan adalah Metode Technology Acceptance Model (TAM),

Metode HOT-Fit, Metode Delone dan McLean, dan Metode PIECES. Salah

satu metode evaluasi menurut Yusof et al., (2008) adalah metode HOT-Fit,

dengan melihat secara keseluruhan sistem dengan menempatkan 3 komponen

penting dalam sistem informasi yakni manusia (human), organisasi

(organization) dan teknologi (technology) dan kesesuaian hubungan

diantaranya sebagai faktor-faktor penentu terhadap keberhasilan penerapan

suatu sistem informasi.

Jika dibandingkan, metode HOT-Fit lebih baik daripada metode Delone

dan McLean karena model ini tidak mampu untuk menganalisa kasus dalam

konteks sistem informasi klinis rumah sakit. Metode ini hanya mendeskripsikan

hubungan antara variabel input, proses, dan output, tetapi tidak menjelaskan

bagaimana fenomena tersebut terjadi satu sama lain. Sedangkan metode HOT-

Fit menjelaskan secara komprehensif berupa interpretasi kompleksitas,

hubungan timbal balik antara orang, organisasi, proses, dan teknologi. Metode

evaluasi ini memperjelas semua komponen yang terdapat dalam sistem

informasi itu sendiri, yang pertama yaitu manusia (human) yang menilai

3
sistem informasi dari sisi penggunaan (system use), kedua yaitu organisasi

(organization) yang menilai sebuah sistem dari struktur organisasi dan

lingkungan organisasi dan ketiga adalah teknologi (technology) yang

menilai dari sisi kualitas sistem, kualitas informasi dan kualitas layanan

(Hariningsih, 2014).

Menurut penelitian Sari, Sanjaya dan Meliala (2016) tentang “Evaluasi

Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dengan Kerangka Hot–

Fit” didapatkan hasil bahwa adanya ketidaksesuaian (mis-fit) antara teknologi

dan manusia yang berdampak pada persepsi manfaat yang kurang bagi

pengguna. Faktor penghambat tersebut antara lain SIMRS tidak sesuai dengan

kebutuhan, persepsi bahwa menggunakan pencatatan manual lebih mudah

dan cepat, persepsi bahwa penggunaan SIMRS menambah beban kerja, dan

output SIMRS dianggap belum relevan dengan kebutuhan user. Namun

demikian, faktor organisasi yang kuat, mendorong penggunaan SIMRS

secara berkesinambungan seperti budaya kerja dan kepemimpinan.

Pengembangan SIMRS dapat diarahkan untuk mendukung manajemen

organisasi dan mutu pelayanan medis.

SIMRS telah banyak dikembangkan untuk berbagai fungsi klinis seperti

rekam medis elektronik (EHR), computerized physician order entry (CPOE)

dan clinical decision support systems (CDSS) guna mendukung kualitas

pelayanan medis dan meningkatkan keamanan pasien. Survei 2008

menunjukkan hanya kurang lebih 10% rumah sakit umum di AS sudah

4
menggunakan sistem EHR (Electronic Health Record) baik yang

komprehensif maupun EHR dasar. Angka adopsi ini kurang lebih sama di

negara-negara Eropa. Survei tahun 2007 hanya sekitar 11,9% rumah sakit

umum di Austria dan 7,0% di rumah sakit Jerman menggunakan EHR yang

komprehensif. Pada tahun yang sama, baru sekitar 10,1% rumah sakit di

Jepang telah mengadopsi EHR. Di Korea, hanya 9% yang menggunakan

EHR secara komprehensif (Hariana, dkk., 2013).

Data yang dikumpulkan oleh Kemenkes RI melalui SIRS (Sistem

Informasi Rumah Sakit), pedoman bagi rumah sakit untuk melakukan

pencatatan dan pelaporan rutin, sampai dengan akhir November 2016

melaporkan bahwa 1257 dari 2588 (atau sekitar 48%) rumah sakit di Indonesia

telah memiliki SIMRS yang fungsional. Ada 128 rumah sakit (5%) yang

melaporkan sudah memiliki SIMRS namun tidak berjalan secara fungsional,

dan masih terdapat 425 rumah sakit (16%) yang belum memiliki SIMRS, serta

745 rumah sakit (28%) yang tidak melaporkan apakah sudah memiliki SIMRS

atau belum (SIRS, 2016). Jumlah rumah sakit di Provinsi Sulawesi Tengah

sebanyak 32 rumah sakit (Dinkes Provinsi Sulteng, 2018).

Salah satu rumah sakit di Provinsi Sulawesi Tengah adalah RSUD

Undata yang merupakan rumah sakit terbesar milik Pemerintah Provinsi

Sulawesi Tengah sekaligus sebagai rumah sakit rujukan dari rumah sakit

kabupaten/kota, berperan melayani rujukan dari berbagai rumah sakit dan

puskesmas yang ada di sekitarnya. Dalam memberikan pelayanan kepada

5
pasien, RSUD Undata telah menggunakan Sistem Informasi Manajemen Rumah

Sakit sejak tahun 2003 sampai sekarang yang telah mengalami dua kali

perubahan, yaitu dari SIRUS (Sistem Informasi Rumah Sakit) menjadi

SIMUDA (Sistem Informasi Manajemen Undata) pada tahun 2016. Seiring

telah diterapkannya SIMUDA di RSUD Undata, maka salah satu faktor yang

saat ini memegang peranan penting dalam keberhasilan penerapan dan

penggunaan teknologi informasi adalah faktor pengguna. Tingkat kesiapan

pengguna untuk menerima teknologi informasi memiliki pengaruh besar

dalam menentukan sukses atau tidaknya penerapan teknologi tersebut.

Berdasarkan studi pendahuluan, hasil wawancara yang dilakukan kepada

3 orang pengguna SIMUDA di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah

didapatkan kesimpulan bahwa penerapan SIMUDA terkendala karena terdapat

beberapa orang pengguna yang sudah berumur (tua) sehingga mereka susah

untuk menerima dan menjalankan aplikasi SIMUDA tersebut, petugas sistem

informasi atau pihak IT yang terkadang tidak bisa dihubungi karena mereka

tidak selalu ada di tempat bila terjadi masalah dengan sistem informasi dalam

proses penginputan, dan aplikasi SIMUDA yang rentan akan virus sehingga

menyebabkan aplikasi tersebut error serta jaringan internet down juga menjadi

penghambat penerapan SIMUDA yang berdampak dalam proses pengambilan

keputusan manajemen.

Hal inilah yang melatar belakangi penelitian dengan judul “Evaluasi

Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dengan Metode HOT-Fit

6
di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Undata Provinsi Sulawesi Tengah”.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari penelitian ini yaitu bagaimanakah sistem

informasi rumah sakit (SIRS) di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengevaluasi sistem informasi rumah sakit (SIRS) dengan

metode HOT-Fit di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui faktor human (manusia) dalam SIRS di RSUD

Undata Provinsi Sulawesi Tengah.

b. Untuk mengetahui faktor organization (organisasi) dalam SIRS di

RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah.

c. Untuk mengetahui faktor technology (teknologi) dalam SIRS di RSUD

Undata Provinsi Sulawesi Tengah.

d. Untuk mengetahui net benefit (manfaat) dalam SIRS di RSUD Undata

Provinsi Sulawesi Tengah.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Sebagai alat untuk mempraktekkan teori-teori yang telah diperoleh

7
selama perkuliahan sehingga penulis dapat menambah pengetahuan secara

praktis mengenai masalah-masalah yang dihadapi oleh organisasi atau

perusahaan, seperti faktor yang mempengaruhi penerapan SIRS di RSUD

Undata Provinsi Sulawesi Tengah.

1.4.2 Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu proses

pembelajaran dan dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan khususnya

terhadap ilmu sistem informasi kesehatan dalam rumpun keilmuan

administrasi dan kebijakan kesehatan serta dapat menjadi referensi bagi

penelitian selanjutnya.

8
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rumah Sakit

Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan

pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan

rawat inap, rawat jalan, dan gawat [Link] sakit diselenggarakan

berasaskan Pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan, etika dan

profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti diskriminasi,

pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi sosial

(UU No. 44, 2009).

Rumah sakit merupakan penyedia layanan kesehatan yang padat

modal, padat teknologi, padat karya, dan berperan strategis dalam

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. Keberadaan Rumah

Sakit Umum akhir-akhir ini menjadi sorotan, karena fungsi rumah sakit umum

sebagai sarana pelayanan kesehatan sudah menjadi kebutuhan bagi semua

lapisan masyarakat. Sebagaimana yang tertuang dalam tujuan JKN (Jaminan

9
Kesehatan Nasional) yakni memberikan kepastian jaminan kesehatan yang

menyeluruh bagi seluruh rakyat Indonesia untuk dapat hidup secara sehat

dan alami, produktif dan sejahtera. Bentuk komitmen pemerintah terhadap

pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia semua program jaminan

kesehatan yang telah dilaksanakan pemerintah sebelumnya seperti (Askes

PNS, JPK Jamsostek, TNI, Polri, dan Jamkesmas), diintegrasikan ke dalam

satu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) tak

heran dengan adanya program tersebut kondisi semua rumah sakit sudah mulai

kewalahan dalam menerima dan melayani pasien (Rif’adarajad, 2016).

Rumah Sakit Umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan

kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit. Rumah Sakit Khusus adalah

rumah sakit yang memberikanpelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis

penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit

atau kekhususan lainnya (Permenkes No. 56, 2014).

Menurut Azwar (2010), rumah sakit mengalami berbagai perkembangan

sesuai perkembangan zaman. Perkembangan yang dimaksud paling tidak dapat

dibedakan atas empat macam, yaitu:

a. Perkembangan pada fungsi yang dimilikinya. Jika dahulu fungsi rumah sakit

hanya untuk menyembuhkan orang sakit (nasocomium/hospital), maka saat

ini telah berkembang menjadi pusat kesehatan (health center). Dengan

munculnya kebutuhan akan kesinambungan pelayanan serta perkembangan

10
ilmu dan teknologi kedokteran, maka fungsi rumah sakit saat ini telah

mencakup pula pendidikan dan penelitian.

b. Perkembangan pada ruang lingkup kegiatan yang dilakukannya. Jika dahulu

ruang lingkup kegiatannya hanya merupakan tempat beristrahat para musafir

(xenodochium), tempat mangasuh anak yatim (phanotrophium) serta tempat

tinggal orang jompo (gerontoconium), maka pada saat ini telah berkembang

menjadi suatu institusi kesehatan (health institution). Dengan munculnya

verifikasi dalam kehidupan masyarakat maka ruang lingkup kegiatan rumah

sakit yang semula mencakup berbagai aspek sosial, pada saat ini telah

membatasi diri hanya pada aspek kesehatan saja.

c. Perkembangan pada masing-masing fungsi yang dimiliki oleh rumah sakit.

Dengan kemujuan ilmu dan teknologi kedokteran, maka fungsi pelayanan,

pendidikan dan penelitian yang diselenggarakan oleh rumah sakit tidak lagi

pada hal-hal yang sederhana saja, tetapi telah mencakup pula hal-hal yang

spesialistik dan bahkan sub-spesialistik.

d. Perkembangan pada pemilikan rumah sakit. Jika dahulu rumah sakit hanya

didirikan oleh badan-badan keagamaan, badan-badan social (charitable

hospital) dan ataupun pemerintah (public hospital), maka pada saat ini telah

didirikan pula oleh berbagai badan-badan swasta (private hospital). Rumah

sakit yang dahulu tidak pernah memikirkan untung rugi karena semata-mata

didirikan untuk kepentingan social dan kemanusiaan (non-profit), pada saat

ini telah berubah menjadi salah satu kegiatan ekonomi. Malah untuk yang

11
dikelola badan-badan swasta, kegiatan rumah sakit telah dijadikan sebagai

salah satu badan usaha yang mencari keuntungan (profit making).

2.2 Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit

Sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang

mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung

fungsi operasi organisasi yang bersifat manajerial dengan kegiatan strategi dari

suatu organisasi untuk dapat menyediakan kepada pihak luar tertentu dengan

laporan-laporan yang diperlukan (Saputra dan Misfariyan, 2014).

Sistem informasi dalam suatu instansi, berfungsi sebagai alat bantu

pencapaian tujuan melalui penyediaan informasi. Keberhasilan sistem informasi

sebagai pencapaian alat bantu pencapaian tujuan melalui penyediaan informasi.

Keberhasilan sistem informasi tidak hanya ditentukan oleh bagaimana sistem

tersebut dapat memproses masukan dan menghasilkan informasi dengan baik,

tetapi ditentukan juga oleh kesesuaiannya dengan lingkungan pekerjaan

karena walaupun sistem informasi tersebut menggunakan teknologi canggih,

sistem belum bisa dikatakan berhasil bila pemakai sistem informasi tidak dapat

menerimanya atau bahkan enggan menggunakannya. Kesuksesan sistem

informasi dapat diukur dengan empat jenis ukuran, yaitu kepuasan pemakai,

penggunaan sistem, kinerja keputusan, dan kinerja organisasi. Dalam

penelitian ini kepuasan pemakai dan penggunaan sistem informasi digunakan

untuk mengukur kesuksesan sistem informasi, seperti yang dilakukan oleh

Hartwick (1994). Pemanfaatan teknologi atau sistem informasi menunjukkan

12
keputusan individu untuk menggunakan atau tidak menggunakan teknologi

atau sistem informasi dalam menyelesaikan serangkaian tugas (Sayekti dan

Putarta, 2016).

Sistem informasi manajemen adalah sistem informasi yang banyak

menghasilkan berbagai informasi atau laporan untuk keperluan pengambilan

keputusan oleh manajer (Supriyanti dan Cholil, 2016).

Sistem Informasi Manajemen (SIM) merupakan jaringan informasi

yang dibutuhkan pimpinan dalam menjalankan tugasnya, terutama dalam

mengambil keputusan (Saputra dan Misfariyan, 2014). Sistem informasi

manajemen adalah sistem informasi yang digunakan untuk mendukung

operasional, manajemen, dan pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi.

Biasanya SIM menghasilkan informasi untuk memantau kerja, memelihara

koordinasi, dan menyediakan informasi untuk operasional organisasi yang

dilakukan secara periodik misalnya perminggu, perbulan dan pertahun, tidak

secara aktivitas perhari (Sarif, Akbar, dan Inayatullah).

Menurut Abdul Kadir (2003), Karakteristik Sistem Informasi Manajemen:

1. Beroperasi pada tugas-tugas yang terstruktur, yakni pada lingkungan yang

telah mendefinisikan hal-hal berikut secara tegas dan jelas: prosedur

operasional, aturan pengambilan keputusan, dan arus informasi.

2. Meningkatkan efisiensi dengan mengurangi biaya.

3. Menyediakan laporan dan kemudahan akses yang berguna untuk

13
pengambilan keputusan tetapi tidak secara langsung (manajer

menggunakan laporan dan informasi dan membuat kesimpulan-kesimpulan

tersendiri untuk mengambil keputusan).

SIMRS merupakan himpunan atau kegiatan dan prosedur yang

terorganisasi dan saling berkaitan serta saling ketergantungan dan dirancang

sesuai dengan rencana dalam usaha menyajikan informasi yang akurat, tepat

waktu dan sesuai kebutuhan guna menunjang proses fungsi-fungsi

manajemen dan pengambilan keputusan dalam memberikan pelayanan

kesehatan di Rumah Sakit (Saputra dan Misfariyan, 2014).

Sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) dapat dicirikan

dengan fungsinya melalui informasi dan jenis layanan yang ditawarkan.

Untuk mendukung perawatan pasien dan administrasinya, SIMRS mendukung

penyediaan informasi, terutama tentang pasien, dalam cara yang benar,

relevan dan terbarukan, mudah diakses oleh orang yang tepat pada tempat/lokasi

yang berbeda dan dalam format yang dapat digunakan. Transaksi data

pelayanan dikumpulkan, disimpan, diproses, dan didokumentasikan untuk

menghasilkan informasi tentang kualitas perawatan pasien dan tentang

kinerja rumah sakit serta biaya. Ini mengisyaratkan bahwa sistem informasi

rumah sakit harus mampu mengkomunikasikan data berkualitas tinggi antara

berbagai unit di rumah sakit (Hariana, dkk., 2013).

Sistem informasi manajemen adalah perangkat prosedur yang

terorganisasi, apabila dijalankan akan memberikan umpan balik dan

14
informasi kepada manajemen tentang masukan, proses, dan keluaran dari

suatu siklus manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan

pengendalian. SIMRS saat ini berfungsi sebagai sarana penunjang operasional

layanan medis yang terdiri dari instalasi-instalasi sebagai front office yang

langsung melayani para pelanggan (pasien) rumah sakit baik administrasi,

catatan medik, dan farmasi. SIMRS digunakan pada back office sebagai

sarana penunjang kegiatan administrasi secara struktural rumah sakit (Bayu dan

Muhimmah, 2013).

Menurut Bayu dan Muhimmah (2013), pihak yang berperan dalam

pengelolaan dan penggunaan SIMRS adalah sebagai berikut:

1. End User

Pengguna akhir SIMRS dibedakan menjadi dua yaitu:

a. Operator, sebagai pengguna langsung SIMRS yang bertugas untuk

memasukkan data ke sistem yaitu seluruh karyawan disetiap unit.

b. Pengguna Informasi yang dihasilkan oleh SIMRS, sebagai pengguna

tidak langsung SIMRS seperti Pimpinan Instalasi, Asisten Manajer dan

Manajer Unit Instalasi.

2. Vendor, sebagai penyedia SIMRS baik secara perangkat lunak, perangkat

keras dan jaringan komputer, memberikan dukungan teknis jika diperlukan.

3. Penanggung Jawab, penanggung jawab SIMRS adalah Unit Teknologi

Informasi Rumah Sakit yang merupakan sub bagian dari Bagian

Manajemen Kepegawaian dan Admin, unit TI bertugas untuk

15
menjembatani antara pengguna akhir dengan pihak penyedia SIMRS.

SIMRS saat ini ditujukan untuk menunjang fungsi perencanaan dan

evaluasi dari penampilan kerja RS, antara lain adalah jaminan mutu pelayanan

rumah sakit yang bersangkutan, pengendalian keuangan dan perbaikan hasil kerja

RS tersebut, kajian dalam penggunaan dan penaksiran permintaan pelayanan

kesehatan RS oleh masyarakat, perencanaan dan evaluasi program RS,

penyempurnaan laporan RS serta untuk kepentingan pendidikan dan penelitian

(Riana, 2006).

2.3 Evaluasi

Evaluasi secara etimologi berasal dari bahasa inggris yakni evaluation

yang berarti value, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai penilaian.

Namun, dari sisi terminologis dimaknai sebagai suatu proses sistematik untuk

mengetahui tingkat keberhasilan suatu kegiatan untuk menilai sesuatu secara

terencana, sistematik dan terarah berdasarkan atas tujuan yang jelas (Harahab,

2013).

Menurut Harahab (2013), evaluasi adalah cara yang sistematis untuk

belajar dari pengalaman dan menggunakan pelajaran-pelajaran yang

diperoleh untuk memperbaiki kegiatan- kegiatan yang sedang dilakukan dan

untuk meningkatkan perencanaan yang lebih baik dengan menyeleksi secara

cermat alternatif- alternatif tindakan yang diambil. Ruang lingkup secara

sederhana dapat dibedakan atas tiga kelompok yaitu :

a. Input (masukan) adalah yang menyangkut pemanfaatan berbagai sumber

16
daya, baik sumber dana, tenaga dan sumber sarana.

b. Procces (proses) adalah penilaian terhadap proses lebih dititik beratkan pada

pelaksanaan program, apakah sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan

atau tidak, proses yang dimaksud disini mencangkup semua tahap

administrasi, mulai dari tahap administasi, tahap perencanaan,

pengoorganisasian dan pelaksanaan program.

c. Output (keluaran) adalah evaluasi terhadap hasil yang dicapai dari

dilaksanakannya suatu program.

Evaluasi memiliki tujuan yakni membantu perencanaan dimasa

mendatang, mengetahui apakah sarana yang tersedia dimanfaatkan dengan

sebaik- baiknya, menentukan kelemahan dan kekuatan daripada program, baik

dari segi teknis maupun administrasi yang selanjutnya diadakan perbaikan,

membantu menentukan strategi serta mendapatkan dukungan moral dan

material dari pemerintah atau swasta (Suhadi, 2012).

Evaluasi suatu sistem informasi adalah suatu usaha nyata untuk

mengetahui kondisi sebenarnya suatu penyelenggaraan sistem informasi.

Dengan evaluasi tersebut, capaian kegiatan penyelenggaraan suatu sistem

informasi dapat diketahui dan tindakan lebih lanjut dapat direncanakan untuk

memperbaiki kinerja penerapannya (Yusof et al., 2008).

2.3.1 Metode HOT-Fit

HOT-FIT adalah salah satu kerangka teori yang dipakai untuk

mengevaluasi sistem informasi dalam bidang pelayanan kesehatan. Metode

17
evaluasi ini memperjelas semua komponen yang terdapat dalam sistem

informasi itu sendiri, yang pertama yaitu manusia (human) yang menilai

sistem informasi dari sisi penggunaan (system use) yang berhubungan

dengan siapa yang menggunakan, pelatihan, pengalaman, pengetahuan,

harapan, dan sikap menerima atau menolak sistem. Kedua yaitu organisasi

(organization) yang menilai sebuah sistem dari struktur organisasi dan

lingkungan organisasi yang berhubungan dengan perencanaan,

manajemen, pengendalian sistem, dukungan manajemen, dan

pembiayaan dan ketiga adalah teknologi (technology) yang menilai dari

sisi kualitas sistem, kualitas informasi dan kualitas layanan (Bayu dan

Muhimmah, 2013).

HOT FIT adalah salah satu kerangka teori yang dipakai untuk

mengevaluasi sistem informasi. Model ini merupakan kombinasi dari

Model Kesuksesan sistem informasi dari Delone dan Mclean dan IT

Organization Fit Model dari Morton. Model HOT-Fit menjelaskan

secara komprehensif berupa interpretasi komleksitas, hubungan timbal balik

antara orang, organisasi, proses, dan teknologi. Metode evaluasi ini

memperjelas semua komponen yang terdapat dalam sistem informasi itu

sendiri. Hasil dari evaluasi dalam penelitian ini disusun berdasarkan

kerangka kerja evaluasi HOT FIT, mulai dari Human, Organization dan

Technology (Rozanda dan Masriana, 2017).

Menurut Poluan (2014), model ini dikemukakan oleh Yusof M.M.,

18
Paul RJ dan Stregioulas, L. K (2008), Dasar pemikiran model ini berasal

dari model evaluasi sistem informasi DeLone McLean (2003). Model

evaluasi ini memperjelas semua komponen yang terdapat dalam sistem

informasi itu sendiri, yaitu manusia (human) yang menilai sistem informasi

dari sisi penggunaan (system use) yang berhubungan dengan siapa

yang menggunakan, pelatihan, pengalaman, pengetahuan, harapan, sikap

menerima dan menolak sistem. Organisasi (organization) yang menilai

sebuah sistem dari struktur organisasi dan lingkungan organisasi

berhubungan dengan perencanan, manajemen, pengendalian sistem,

dukungan manajemen, pembiayaan. Teknologi (technology) yang menilai

dari sisi kualitas sistem, kualitas informasi dan kualitas layanan. Kerangka

kerja HOT-Fit mencakup :

1. Faktor Organisasi.

2. Faktor kesesuaian antara manusia, organisasi, dan teknologi.

3. Hubungan 2 arah antara dimensi berikut ini: kualitas informasi dan

penggunaan sistem, kualitas informasi dan kepuasan pengguna.

Kerangka baru yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi

sistem informasi yang disebut Human-Organization-Technology (HOT)

Fit Model. Model ini menempatkan komponen penting dalam sistem

informasi yakni Manusia (Human), Organisasi (Organization) dan

Teknologi (Technology). Dan kesesuaian hubungan di antaranya. HOT-Fit

merupakan salah satu kerangka teori yang dipakai untuk mengevaluasi

19
sistem informasi khusus dalam bidang pelayanan kesehatan (Larinse,

2015).

a. Human (Manusia)

Komponen Manusia (Human) menilai sistem informasi dari

sisi penggunaan sistem (system use) pada frekwensi dan luasnya

fungsi dan penyelidikan sistem informasi. System use juga

berhubungan dengan siapa yang menggunakan (who use it), tingkat

penggunanya (level of user), pelatihan, pengetahuan, harapan dan

sikap menerima (acceptance) atau menolak (resistance) sistem.

Komponen ini juga menilai sistem dari aspek kepuasan pengguna

(user satisfaction). User satisfaction dapat dihubungkan dengan

persepsi manfaat (usefulness) dan sikap pengguna terhadap sistem

informasi yang dipengaruhi oleh karakteristik personal (Larinse,

2015).

Ada dua hal berikut menjadi komponen penting dalam human,

yaitu: (a) System use; mengacu pada keseringan dan cakupan

penggunaan fungsi-fungsi sistem, pelatihan, pengetahuan,

pengharapan, dan penerimaan atau penolakan. (b) User Satisfaction;

merupakan evaluasi secara keseluruhan dari pengalaman pengguna

dalam menggunakan sistem informasi dan potensi pengaruh sistem

informasi. User satisfaction berhubungan dengan pengetahuan

kedayagunaan sistem dan sikap pengguna tentang sistem informasi

20
yang dipengaruhi karakteristik pengguna (Saputra, 2016).

Adapun faktor pendorong dalam aspek human (manusia) yaitu

kebutuhan & budaya kerja, puas dengan informasi yang tersedia dan

memudahkan komunikasi. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu

persepsi bahwa input manual lebih cepat dan dapat dipercaya serta

hambatan komunikasi (Sari, Sanjaya dan Meliala, 2016).

Menurut Simarmata (2006), manusia merupakan salah satu

komponen TI, namun manusia mempunyai peranan yang sangat

penting dalam TI :

a. Perkembangan TI tergantung pada kemampuan manusia yang

terlibat secara langsung ataupun tidak langsung (misalnya yang

bertindak sebagai pengambil keputusan).

b. Produk TI hanya suatu media. Penggunaan dan bagaimana

penggunaanya tergantung sekali pada manusia pemakainya.

c. Dibutuhkan iklim dan regulasi kebijakan yang mendukung

mekanisme TI. Ini terutama dibutuhkan di negara berkembang,

misalnya Indonesia.

d. Kualitas, kemampuan dan kompetensi yang tinggi dari

penggunanya diperlukan baik bagi pengguna yang berlatar

belakang pendidikan yang sesuai maupun yang tambahan

pengetahuan yang bersifat praktis melalui pelatihan.

e. Dibutuhkan kebijakan dan strategi yang berkaitan dengan

21
pengembangan SDM bidang TI untuk mengantisipasi

perkembangan TI yang sangat pesat.

f. Dibutuhkan manajemen yang baik untuk mengelolah

implementasi TI.

g. Kelancaran implementasi TI, selain tergantung pada strata

pendidikan dan practical training yang bersifat pengetahuan teknis,

juga bergantung pada pengetahuan mengenai privacy, ethics,

computer crime, dan sebagainya.

Variabel human terbagi menjadi 2, yaitu system use dan user

satisfaction. Adapun indikator dari system use yaitu (a) Selalu

menggunakan SIMRS, (b) SIMRS mudah digunakan, (c) Pengguna

mengikuti pelatihan dalam menggunakan SIMRS, (d) Pengguna

memiliki keterampilan dalam menggunakan SIMRS, (e) SIMRS

menyelesaikan pekerjaan pengguna dengan cepat. Sedangkan indikator

user satisfaction yaitu (a) SIMRS membantu dalam mengelolah

informasi, (b) SIMRS mempermudah pengguna dalam melakukan

tugasnya, (c) SIMRS meningkatkan kompetensi dan kinerja saya, (d)

SIMRS memiliki tampilan interface yang menarik (Larinse, 2015).

b. Organization (Organisasi)

Komponen Organisasi (Organization) menilai sistem dari

aspek struktur organisasi dan lingkungan organisasi. Struktur

organisasi terdiri dari tipe, kultur, politik, hierarki, perencanaan dan

22
pengendalian sistem, strategi , manajemen dan komunikasi. Sedangkan

lingkungan organisasi terdiri dari sumber pembiayaan, pemerintahan,

politik, kompetisi, hubungan interorganisasional dan komunikasi

(Larinse, 2015).

Dua hal berikut menjadi komponen penting dalam organization,

yaitu: (a) Structure; struktur organisasi mencerminkan keadaan

instansi, budaya, politik, hirarki, autonomi, perencanaan dan sistem

kontrol, strategi, manajemen, kepemimpinan dan komunikasi. (b)

Environment; lingkungan ini adalah lingkungan diluar dari organisasi

seperti, politik, kebijakan pemerintah, sumber keuangan (pemilik

modal), lokasi, kompetisi, hubungan antar instansi, populasi yang

dilayani dan komunikasi (Saputra, 2016).

Adapun faktor pendorong dalam aspek organization (organisasi)

yaitu kepemimpinan dan pengawasan, patuh pada peraturan dan

dukungan rekan kerja. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu

kurangnya kepemimpinan di tingkat satuan kerja (Sari, Sanjaya dan

Meliala, 2016).

Organisasi merupakan entitas resmi formal yang memiliki

aturan-aturan dan prosedur internal yang harus diakui secara hukum.

Organisasi juga merupakan struktur sosial karena terdiri dari

sekumpulan unsur sosial, seperti halnya mesin memiliki sebuah

struktur ,yaitu pengaturan bagian-bagian atau komponen-komponen

23
pendukung (Salvia, 2014).

Sistem informasi harus disesuaikan dengan organisasi agar

member informasi yang dibutuhkan pada suatu bagian tertentu yang

penting dalam organisasi. Pada saat yang sama, organisasi harus

waspada dan terbuka terhadap pengaruh sistem informasi supaya

mendapat keuntungan dari teknologi baru. Interaksi antara teknologi

informasi dan organisasi sangat kompleks dan dipengaruhi oleh

banyak faktor mediasi yang besar yaitu: struktur organisasi,

prosedur standar organisasi, politik, kultur, lingkungan sekitar, dan

keputusan manajemen (Salvia, 2014).

Variabel organization terbagi menjadi 2, yaitu structure dan

environtment. Adapun indikator dari structure organization yaitu (a)

Menyediakan bantuan fasilitas dalam mendukung pengguna dalam

menggunakan SIMRS, (b) Mempertimbangkan latar belakang

pendidikan calon pengguna akhir SIMRS, (c) Menyediakan pelatihan,

(d) Memiliki komunikasi yang baik dengan pengguna akhir SIMRS, (e)

Memiliki fasilitas jaringan yang memadai. Sedangkan indikator

environtment organization yaitu (a) Dorongan pihak manajemen, (b)

Dorongan teman sekerja, (c) Meningkatkan komunikasi data, (d)

Menghemat waktu dalam menyajikan informasi (Larinse, 2015).

c. Technology (Teknologi)

Komponen teknologi (Technology), komponen teknologi

24
terdiri dari kualitas sistem (system quality), kualitas informasi

(information quality) dan kualitas layanan (service quality). Kualitas

sistem dalam sistem informasi di institusi pelayanan kesehatan

menyangkut performa sistem dan user interface. Kemudahan

penggunaan (ease of use), kemudahan untuk dipelajari (ease of

learning), response time, usefulness, ketersediaan, fleksibilitas

merupakan variabel atau faktor yang dapat dinilai dari kualitas

sistem. Kriteria yang dapat digunakan untuk menilai kualitas

informasi antara lain adalah kelengkapan, keakuratan, ketepatan

waktu, ketersediaan, relevansi, konsistensi, dan data entry. Sedangkan

Service quality dapat dinilai dengan kecepatan respon, jaminan, empati

dan tindak lanjut layanan (Larinse, 2015).

Ada tiga komponen dalam teknologi, yaitu: (a) System Quality;

pengukuran fitur-fitur yang terdapat pada sistem informasi terutama

kemampuan sistem dan tampilan antar muka. Contoh: kemudahan

penggunaan, kemudahan pembelajaran, waktu tanggapan,

kedayagunaan, ketersediaan, tahan uji, penyesuaian, keamanan dan

ketersediaan dukungan teknis. (b) Information Quality; berkaitan

dengan proses informasi dan informasi yang dihasilkan oleh sistem.

Kriteria dari kualitas informasi adalah kelengkapan, ketepatan,

kemudahan pembacaan, tepat waktu, ketersediaan, relevansi,

konsistensi, tahan uji, metode input data, dan kualitas. (c) Service

25
Quality; pengukuran secara keseluruhan dari dukungan penyedia

jasa sistem atau teknologi. Kriteria yang diukur adalah kecepatan

respons, jaminann layanan, empati dan penanganan layanan (Saputra,

2016).

Adapun faktor pendorong dalam aspek technology (teknologi)

yaitu informasi akurat dan tersedia, serta persepsi positif terhadap

pemanfaatan teknologi. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu

gangguan teknis, informasi belum terintegrasi, modul yang tersedia tidak

sesuai dengan kebutuhan user, dan informasi yang dihasilkan belum

sesuai kebutuhan user (Sari, Sanjaya dan Meliala, 2016).

Variabel technology terbagi menjadi 3, yaitu system quality,

information quality dan service quality. Adapun indikator system

quality yaitu (a) Mempercepat penyajian informasi, (b) Mudah

digunakan, (c) Mudah dipelajari, (d) Handal dan jarang eror, (e)

Memiliki fasilitas petunjuk penggunaan. Indikator information quality

yaitu (a) Menyediakan informasi yang relevan, (b) Bermanfaat bagi

pengguna, (c) Menyediakan informasi yang lengkap dan akurat, (d)

Menyediakan informasi yang mudah dipahami, (e) Isi informasi yang

disajikan. Sedangkan indikator service quality yaitu (a) Menyediakan

helpdesk support, (b) Menyediakan jaminan kualitas layanan terhadap

pengguna sistem, (c) Divisi SIMRS memiliki sikap peduli (empati)

ketika membantu pengguan sistem, (d) Divisi SIMRS menyelesaikan

26
masalah yang dihadapi pengguna sistem sampai selesai (Larinse, 2015).

d. Net Benefit (Manfaat)

Net Benefit, merupakan keseimbangan antara dampak positif

dan negatif dari pengguna sistem informasi. Net Benefit dapat diakses

menggunakan benefit langsung, efek pekerjaan, efisien dan efektifitas,

menurunkan tingkat kesalahan, mengendalikan pengeluaran dan

biaya. Semakin tinggi dampak positif yang dihasilkan semakin berhasil

penerapan sistem informasi (Larinse, 2015).

Net Benefit adalah keseimbangan antara dampak positif dan

negatif dari pengguna (para pekerja medis, manajer, pegawai non

medis, developer sistem dan semua bagian yang terkait). Net Benefit

dapat diakses menggunakan benefit langsung, efek pekerjaan, efisiensi

dan efektivitas, menurunkan tingkat kesalahan, komunikasi,

mengendalikan pengeluaran dan biaya. Semakin tinggi dampak

positif yang dihasilkan semakin berhasil implementasi sistem

informasi. Fit dapat diukur dan dianalisis menggunakan jumlah

definisi yang diberikan dari ketiga faktor tersebut. Ketiga faktor

tersebut berhubungan dalam delapan dimensi relasi atas kesuksesan

SIMRS, yaitu System Quality, Information Quality, Service Quality,

System Use, User Satisfaction, Organizational Structure, Organizational

Environment dan Net Benefits.

Hubungan kedelapan dimensi ini adalah sebagai berikut: (a)

27
Saling mempengaruhi baik secara sementara dan sebab akibat antara

System Quality, Information Quality, Service Quality secara tunggal

maupun bersama-sama mempengaruhi System Use dan User

Satisfaction. (b) System Use dan User Satisfaction memiliki

hubungan timbal balik dengan Information Quality. Sistem akan

menghasilkan keluaran informasi yang baik jika pengguna mahir dan

puas menggunakan sistem informasi. Kemahiran pengguna tergantung

pada pengetahuan pengguna dan pelatihan terhadap penggunaan

sistem informasi. (c) System Use juga memiliki hubungan timbal

balik dengan User satisfaction. Pengguna akan semakin puas dalam

menggunakan sistem informasi jika pengguna mahir dan memahami

sistem informasi. (d) Faktor Environtment seperti aturan pemerintah

dan politik dapat mempengaruhi Structure (struktur organisasi),

Structure juga akan mempengaruhi Environtment, yaitu populasi yang

akan dilayani. (e) System use dan User Satisfaction akan

memberikan informasi langsung kepada Net Benefit. Net Benefit

akan memberikan timbal balik juga kepada System Use dan User

Satisfaction. (f) Structure dan Environtment organisasi akan

memberikan informasi langsung kepada Net Benefit. Net Benefit akan

memberikan timbal balik juga kepada Structure dan Environtment

organisasi (Saputra, 2016).

Adapun faktor pendorong dalam aspek net benefit yaitu dapat

28
dirasakan dampaknya terhadap kinerja dan dapat dirasakan dampaknya

pada pelayanan pasien. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu tidak

relevan dengan pekerjaan dan persepsi adanya penambahan beban kerja

(Sari, Sanjaya dan Meliala, 2016).

Indikator net benefit terdiri dari (a) Sistem informasi membantu

SIMRS menjadi lebih efektif dan efisien, (b) Sistem informasi dapat

menurunkan tingkat kesalahan, (c) Sistem informasi meningkatkan

komunikasi antar seluruh divisi RSUD, (d) Sistem informasi menjadikan

kinerja rumah sakit menjadi lebih baik, (e) Sistem informasi dapat

meningkatkan kinerja pengguna SIMRS, (f) Sistem informasi dapat

meningkatkan kinerja rumah sakit dalam menghadapi persaingan yang

ada saat ini, (g) Sistem informasi dapat mendukung visi dan misi dari

rumah sakit (Larinse, 2015).

2.4 Kerangka Teori

Human
System Use

User Satisfaction

Organization
Structure
Environtment
Evaluasi SIMRS
HOT- Fit
Technology
29
Sistem Quality

Information
Quality

Service Quality

Net Benefit

Sumber : Yusof, Paul dan Stergioulas, 2006, dimodifikasi oleh penulis.

2.6 Sintesa Penelitian

Tabel 2.1 Sintesa Penelitian

No. Judul Nama Peneliti Tahun Metode Hasil Penelitian


Penelitian Penelitian Penelitian
1. Evaluasi Faktor- Andika Bayu S 2013 Metode Variabel yang
Faktor dan Izzati Kuantitatif mempengaruhi
Kesuksesan Muhimmah keberhasilan
Implementasi penerapan SIMRS
Sistem adalah dari sisi
Informasi variabel tehnology
manajemen (teknologi) yaitu
Rumah Sakit di kualitas sistem,
PKU kualitas informasi
Muhammadiyah dan kualitas layanan,
Sruweng dengan sedangkan dari sisi
Menggunakan variabel human
Metode (manusia) yaitu
Hot-Fit kepuasan pengguna
mempengaruhi
penggunaan sistem,
dari sisi variabel
organization
(organisasi) yaitu
struktur sangat

30
mempengaruhi
lingkungan
organisasi yang ada.
Keberhasilan
penerapan SIMRS di
RS PKU
Muhammadiyah
Sruweng
dipengaruhi oleh
adanya dukungan
dan dorongan dari
pihak manajerial
kepada para
pengguna SIMRS
serta tersedianya
kondisi fasilitas yang
memadai di
lingkungan rumah
sakit untuk
menggunakan
SIMRS.
2. Perbandingan Nesdi Evrilyan 2017 Metode konstruk dalam
Metode Hot Fit Rozanda dan Kuantitatif metode HOT FIT
dan Tam dalam Arita Masriana yang memiliki nilai
Mengevaluasi t statistik tertinggi
Penerapan yaitu konstruk
Sistem struktur organisasi
Informasi atau SO berpengaruh
Manajemen positif terhadap net
Kepegawaian benefit atau NB
(SIMPEG) dengan nilai t
(Studi Kasus : statistik 8,53.
Pengadilan Tata Konstruk dalam
Usaha Negara metode TAM yang
Pekanbaru) memiliki nilai t
statistik tertinggi
yaitu konstruk
kemudahan atau
PEOU berpengaruh
positif terhadap
konstruk
kebermanfaatan

31
atau PU dengan
nilai t statistik
34,8. R-square
tertinggi dalam
metode HOT FIT
yaitu r-square
konstruk NB
sebesar 62%, R-
square tertinggi
dalam metode TAM
yaitu r-square
konstruk PU sebesar
69% Berdasarkan
nilai t statistik dan
nilai R-square
tertinggi metode
TAM adalah metode
terbaik dalam
mengevaluasi
SIMPEG di PTUN
Pekanbaru.
3. Identifikasi Andika Bayu 2016 Metode Variabel yang
Faktor-Faktor Saputra Kuantitatif mempengaruhi
Keberhasilan keberhasilan
Implementasi penerapan SIMRS
Sistem adalah dari sisi
Informasi variabel teknologi
Manajemen yaitu kualitas sistem,
Rumah Sakit kualitas informasi
dan kualitas layanan,
sedangkan dari sisi
variable manusia
yaitu kepuasan
pengguna
mempengaruhi
penggunaan sistem,
dari sisi variabel
organisasi yaitu
struktur sangat
mempengaruhi
lingkungan
organisasi yang ada.

32
Keberhasilan
penerapan SIMRS di
RS PKU
Muhammadiyah
Temanggung
dipengaruhi oleh
adanya dukungan
dan dorongan dari
pihak manajerial
kepada para
pengguna SIMRS
serta tersedianya
kondisi fasilitas
yang memadai di
lingkungan rumah
sakit untuk
menggunakan
SIMRS.
4. Evaluasi Sistem Manik 2016 Metode Adanya
Informasi Mahendra Sari, Kuantitatif ketidaksesuaian
Manajemen Guardian Yoki (mis-fit) antara
Rumah Sakit Sanjaya, dan teknologi dan
(Simrs) Dengan Andreasta manusia yang
Kerangka Hot – Meliala berdampak pada
Fit persepsi manfaat
yang kurang bagi
pengguna. Faktor
penghambat tersebut
antara lain SIMRS
tidak sesuai dengan
kebutuhan, persepsi
bahwa menggunakan
pencatatan manual
lebih mudah dan
cepat, persepsi
bahwa penggunaan
SIMRS menambah
beban kerja, dan
output SIMRS
dianggap belum
relevan dengan
kebutuhan user.

33
Namun demikian,
faktor organisasi
yang kuat,
mendorong
penggunaan SIMRS
secara
berkesinambungan
seperti budaya kerja
dan kepemimpinan.
Pengembangan
SIMRS dapat
diarahkan untuk
mendukung
manajemen
organisasi dan mutu
pelayanan medis.
5. Evaluasi Sistem Dewi Satria 2015 Metode 1). Kesuksesan
Informasi Larinse Kuantitatif penerapan
Manajemen SIMRS
Rumah Sakit dipengaruhi oleh
(SIMRS) faktor System
Menggunakan Quality, System
Metode HOT- Use dan Net
Fit Pada Benefit.
Pengguna 2). System Quality
Akhir SIMRS di yang diterapkan
RSUD-Talaud di RSUD-Talaud
memiliki
hubungan yang
searah (positif)
terhadap System
Use. Hal ini
berarti System
Quality memberi
pengaruh
terhadap System
Use untuk
menggunakan
sistem SIMRS
yang telah
diterapkan di
RSUD-Talaud.

34
3). Net Benefit
dipengaruh
secara langsung
oleh System Use.
Hal ini berarti
semakin tinggi
manfaat yang
dirasakan
pengguna dalam
menggunakan
SIMRS maka
semakin tinggi
juga niat
pengguna dalam
menggunakan
SIMRS.
4). Adanya faktor-
faktor yang
belum saling
berpengaruh
seperti
information
Quality, Servise
Quality, User
Satisfaction,
Structure
Organization
dan Organiation
Environment.
6. Kerangka Yusof MM, 2008 Metode Temuan utama
evaluasi untuk Kuljis J, Kuantitatif menunjukkan bahwa
Sistem Papazafeiropo memiliki sikap
Informasi ulou A, pengguna yang
Kesehatan: Stergioulas benar dan basis
faktor manusia, LK. keterampilan
organisasi dan bersama dengan
teknologi-fit kepemimpinan yang
(HOT-fit). baik, lingkungan IT
yang ramah dan
komunikasi yang
baik dapat
memberikan

35
pengaruh positif
pada sistem yang
adopsi .

7. Peringkat Farahnaz 2016 Metode Temuan ini menilai


evaluasi faktor- Sadoughi, Kuantitatif faktor manusia
faktor dalam Aida sebesar 0,55 dan
sistem Sarsarshahi, paling penting,
informasi rumah Ieila Eerfannia, diikuti oleh
sakit S.M. Ali organisasi (0,25),
Khatami dan teknologi (0,19).
Firouzabad Dari subfaktor,
keamanan
mendapatkan poin
terbanyak (0.617)
dan alur kerja,
sebesar 0,827 adalah
yang paling penting
di antara sub-
subfaktor

BAB III

DEFINISI KONSEP

3.1 Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti

SIMRS adalah suatu sistem terkomputerisasi yang mampu

melakukan pengolahan data secara cepat, akurat, dan menghasilkan

36
sekumpulan informasi yang saling berinteraksi untuk diberikan kepada

semua tingkatan manajemen di rumah sakit (Supriyono, 2016).

Evaluasi suatu sistem informasi adalah suatu usaha nyata untuk

mengetahui kondisi sebenarnya suatu penyelenggaraan sistem informasi.

Dengan evaluasi tersebut, capaian kegiatan penyelenggaraan suatu sistem

informasi dapat diketahui dan tindakan lebih lanjut dapat direncanakan

untuk memperbaiki kinerja penerapannya. Salah satu metode evaluasi

menurut Yusof et al., (2008) adalah HOT-Fit Model, dengan melihat secara

keseluruhan sistem dengan menempatkan 3 komponen penting dalam sistem

informasi yakni manusia (human), organisasi (organization) dan teknologi

(technology) dan kesesuaian hubungan di antaranya sebagai faktor-faktor

penentu terhadap keberhasilan penerapan suatu sistem informasi.

Komponen Manusia (Human) menilai sistem informasi dari sisi

penggunaan sistem (system use) dan dari aspek kepuasan pengguna (user

satisfaction). Komponen Organisasi (Organization) menilai sistem dari

aspek struktur organisasi dan lingkungan organisasi. Komponen Teknologi

(Technology) menilai sistem dari kualitas sistem (system quality), kualitas

informasi (information quality) dan kualitas layanan (service quality).

Sedangkan Net Benefit, merupakan keseimbangan antara dampak positif dan

negatif dari pengguna sistem informasi. Net Benefit dapat diakses menggunakan

benefit langsung, efek pekerjaan, efisien dan efektivitas, menurunkan tingkat

kesalahan, mengendalikan pengeluaran dan biaya. Semakin tinggi dampak

37
positif yang dihasilkan semakin berhasil penerapan sistem informasi (Larinse,

2015).

3.2 Alur Kerangka Konsep

Human (Manusia)

Organization (Organisasi) Evaluasi SIMRS


dengan Metode
HOT-Fit
Technology (Teknologi)

Net Benefit (Manfaat)

3.3 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

1. Human (Manusia)

Human (manusia) menilai sistem informasi dari sisi penggunaan

(system use) yaitu selalu menggunakan SIMRS, SIMRS mudah digunakan,

pengguna mengikuti pelatihan dalam menggunakan SIMRS, pengguna

memiliki keterampilan dalam menggunakan SIMRS, SIMRS menyelesaikan

pekerjaan pengguna dengan cepat. Serta dari sisi kepuasan pengguna (user

satisfaction) yaitu SIMRS membantu dalam mengelolah informasi, SIMRS

mempermudah pengguna dalam melakukan tugasnya, SIMRS meningkatkan

kompetensi dan kinerja, SIMRS memiliki tampilan interface yang menarik.

Human diukur berdasarkan 9 pertanyaan dari kuesioner dengan jawaban

tertinggi berbobot 1 dan terendah berbobot 0 dengan menggunakan skala

38
guttman, yaitu :

Skor tertinggi = jumlah pernyataan x bobot tertinggi

=9x1

= 9 (100%)

Skor terendah = jumlah pernyataan x bobot terendah

=9x0

= 0 (0%)

Skor antara = skor tertinggi - skor terendah

= 100% - 0%

= 100%

Interval = skor antara / kategori

= 100% / 2

= 50%

Skor standar = 100% - 50%

= 50%

Berdasarkan perhitungan di atas maka kriteria objektif dari human

yaitu:

Kurang baik : Jika skor total jawaban dari responden < 50%

Baik : Jika skor total jawaban dari responden ≥ 50%

2. Organization (Organisasi)

Organization (organisasi) menilai sistem informasi dari struktur

39
organisasi yaitu menyediakan bantuan fasilitas dalam mendukung pengguna

dalam menggunakan SIMRS, mempertimbangkan latar belakang pendidikan

calon pengguna akhir SIMRS, menyediakan pelatihan, memiliki komunikasi

yang baik dengan pengguna akhir SIMRS, memiliki fasilitas jaringan yang

memadai. Serta dari lingkungan organisasi yaitu dorongan pihak manajemen,

dorongan teman sekerja, meningkatkan komunikasi data, menghemat waktu

dalam menyajikan informasi. Organization diukur berdasarkan 9 pertanyaan

dari kuesioner dengan jawaban tertinggi berbobot 1 dan terendah berbobot 0

dengan menggunakan skala guttman, yaitu :

Skor tertinggi = jumlah pernyataan x bobot tertinggi

=9x1

= 9 (100%)

Skor terendah = jumlah pernyataan x bobot terendah

=9x0

= 0 (0%)

Skor antara = skor tertinggi - skor terendah

= 100% - 0%

= 100%

Interval = skor antara / kategori

= 100% / 2

= 50%

Skor standar = 100% - 50%

40
= 50%

Berdasarkan perhitungan di atas maka kriteria objektif dari

organization yaitu:

Kurang baik : Jika skor total jawaban dari responden < 50%

Baik : Jika skor total jawaban dari responden ≥ 50%

3. Technology (Teknologi)

Technology (teknologi) yang menilai dari sisi kualitas sistem yaitu

mempercepat penyajian informasi, mudah digunakan, mudah dipelajari,

handal dan jarang eror, memiliki fasilitas petunjuk penggunaan. Dari kualitas

informasi yaitu menyediakan informasi yang relevan, bermanfaat bagi

pengguna, menyediakan informasi yang lengkap dan akurat, menyediakan

informasi yang mudah dipahami, isi informasi yang disajikan. Serta kualitas

layanan yaitu menyediakan helpdesk support, menyediakan jaminan kualitas

layanan terhadap pengguna sistem, divisi SIMRS memiliki sikap peduli

(empati) ketika membantu pengguan sistem, divisi SIMRS menyelesaikan

masalah yang dihadapi pengguna sistem sampai selesai. Technology diukur

berdasarkan 13 pertanyaan dari kuesioner dengan jawaban tertinggi berbobot

1 dan terendah berbobot 0 dengan menggunakan skala guttman, yaitu :

Skor tertinggi = jumlah pernyataan x bobot tertinggi

= 13 x 1

= 13 (100%)

Skor terendah = jumlah pernyataan x bobot terendah

41
= 13 x 0

= 0 (0%)

Skor antara = skor tertinggi - skor terendah

= 100% - 0%

= 100%

Interval = skor antara / kategori

= 100% / 2

= 50%

Skor standar = 100% - 50%

= 50%

Berdasarkan perhitungan di atas maka kriteria objektif dari

Technology yaitu:

Kurang baik : Jika skor total jawaban dari responden < 50%

Baik : Jika skor total jawaban dari responden ≥ 50%

4. Net Benefit

Net Benefit, merupakan keseimbangan antara dampak positif dan

negatif dari pengguna sistem informasi. Net benefit terdiri dari sistem

informasi membantu SIMRS menjadi lebih efektif dan efisien, sistem

informasi dapat menurunkan tingkat kesalahan, sistem informasi

meningkatkan komunikasi antar seluruh divisi RSUD, sistem informasi

menjadikan kinerja rumah sakit menjadi lebih baik, sistem informasi dapat

meningkatkan kinerja pengguna SIMRS, sistem informasi dapat

42
meningkatkan kinerja rumah sakit dalam menghadapi persaingan yang ada

saat ini, sistem informasi dapat mendukung visi dan misi dari rumah sakit. Net

benefit diukur berdasarkan 7 pertanyaan dari kuesioner dengan jawaban

tertinggi berbobot 1 dan terendah berbobot 0 dengan menggunakan skala

guttman, yaitu :

Skor tertinggi = jumlah pernyataan x bobot tertinggi

=7x1

= 7 (100%)

Skor terendah = jumlah pernyataan x bobot terendah

=7x0

= 0 (0%)

Skor antara = skor tertinggi - skor terendah

= 100% - 0%

= 100%

Interval = skor antara / kategori

= 100% / 2

= 50%

Skor standar = 100% - 50%

= 50%

Berdasarkan perhitungan di atas maka kriteria objektif dari net benefit

yaitu:

Kurang bermanfaat : Jika skor total jawaban dari responden < 50%

43
Bermanfaat : Jika skor total jawaban dari responden ≥ 50%

44
BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan

deskriptif. Pendekatan deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran

secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta

hubungan antara fenomena yang diselidiki.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di RSUD Undata Provinsi Sulawesi

Tengah pada bulan Juni-Juli 2018.

4.3 Populasi dan Sampel

4.3.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas

obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu

yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya (Maulana, 2009).

Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah

seluruh petugas yang menggunakan SIMUDA di RSUD Undata Provinsi

Sulawesi Tengah yang berjumlah 171 orang.

45
4.3.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karekteristik yang

dimiliki oleh populasi tersebut (Maulana, 2009).

Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh petugas yang

menggunakan SIMRS di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah yang

berjumlah 171 orang, dengan menggunakan teknik pengambilan sampel

yaitu total sampling.

4.4 Pengumpulan Data

4.4.1 Data Primer

Data primer adalah data yang pengumpulan datanya langsung

dilakukan oleh peneliti terhadap sasaran. Pengumpulan data primer dalam

penelitian ini diperoleh dengan cara mengisi kuesioner yang sudah

disediakan oleh peneliti terkait dengan pertanyaan-pertanyaan yang

dicantumkan dalam kuesioner mengenai variabel tentang human,

organization, technology dan net benefit terhadap SIMRS di RSUD

Undata Provinsi Sulawesi Tengah.

4.4.2 Data Sekunder

Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah data

yang diterima di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah berupa daftar

petugas pengguna SIMRS di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah.

46
4.5 Analisis dan Penyajian Data

Data yang diperoleh akan diolah dengan komputer, sedangkan analisis

data yang akan digunakan adalah analisis univariat yaitu analisis distribusi

frekuensi dan persentase tunggal pada karakteristik umum responden (umur,

masa kerja dan pendidikan), serta distribusi frekuensi dan persentase pada

faktor human dalam SIMRS, faktor organization dalam SIMRS, faktor

technology dalam SIMRS dan net benefit dalam SIMRS.

Penyajian data secara deskriptif akan ditampilkan dalam bentuk narasi

dan beberapa tabel distribusi.

47
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, A. (2010). Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta: Binarupa aksara.

Bayu S Andika dan Muhimmah Izzati. (2013). Evaluasi Faktor-Faktor Kesuksesan


Implementasi Sistem Informasi manajemen Rumah Sakit di PKU
Muhammadiyah Sruweng dengan Menggunakan Metode Hot-Fit. Fakultas
Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Indonesia.

Hariana, dkk. (2013). Penggunaan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit


(SIMRS) di DIY. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Indonesia.
Hariningsih, Endang. (2014). Kajian Teori Model Penelitian Untuk Menilai
Kesuksesan Dan Evaluasi Sistem Informasi Rumah Sakit. Akademi
Manajemen Administrasi YPK Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia. 2252-
5483.
Kadir Abdul. (2003). Pengenalan sistem informasi. Yogyakarta: Andi Offset
Larinse Dewi Satria, Papilaya Samuel, dan Fibriani Charitas. (2015). Evaluasi Sistem
Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) Menggunakan Metode HOT-Fit
Pada Pengguna Akhir SIMRS di RSUD-Talaud. Fakultas Teknologi Informasi
Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Indonesia.
Maulana, H. D. J. (2009). Promosi Kesehatan. Jakarta: penerbit buku kedokteran
EGC.
Notoatmodjo, P. D. S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: rineka
cipta.
Permenkes No. 56. (2014). Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit. Jakarta.
Poluan Frincy, Lumenta Arie, dan Sinsuw Alicie. (2014). Evaluasi Implementasi
Sistem E-Learning Menggunakan Model Evaluasi Hot Fit Studi Kasus
Universitas Sam Ratulangi. Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi,
Manado, Indonesia. 4(2) 2301-8364.

Riana Apit. (2006). Evaluasi Kinerja Sistem Informasi Manajemen Ditinjau Dari
Aspek Persepsi Pengguna Dalam Mendukung Proses Manajemen di Rumah
Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia.
Rozanda Nesdi Evrilyan dan Masriana Arita. (2017). Perbandingan Metode Hot Fit
dan Tam dalam Mengevaluasi Penerapan Sistem Informasi Manajemen
Kepegawaian (SIMPEG) (Studi Kasus : Pengadilan Tata Usaha Negara
Pekanbaru). Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan
Syarif Kasim Riau, Pekanbaru Riau, Indonesia. 2579-5406.

Salvia, Elefna. (2014). Evaluasi penerapan teknologi informasi menggunakan


Human Organization Technology (HOT – FIT) Model di PUSKOM
Universitas Riau. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Riau,
Indonesia.
Saputra Andika Bayu. (2016). Identifikasi Faktor-Faktor Keberhasilan Implementasi
Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit. Universitas Islam Indonesia.
Yogyakarta. Indonesia.
Sari Manik Mahendra, Sanjaya Guardian Yoki dan Meliala Andreasta. (2016).
Evaluasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) Dengan
Kerangka Hot – Fit. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Indonesia.
Supriyanti dan Cholil Muhammad. (2016). Aplikasi Technology Acceptance Model
pada Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit Di Rumah Sakit Ortopedi
Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta. Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Surakarta. Indonesia.
Supriyono. (2016). Evaluasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit Dengan
Metode Hot Fit Di Rumah Sakit Umum Daerah Raden Mattaher Jambi.
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia.
UU No. 44, tentang R. S. (2009). UU no. 44 Tentang Rumah Sakit.
[Link]
Yusof, M. M., Kuljis, J., Papazafeiropoulou, A., & Stergioulas, L. K. (2008). An
evaluation framework for Health Information Systems: human, organization
and technology-fit faktors (HOT-fit). International journal of medical
informatics, 77(6), 386-398.
PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama :

Alamat :

Umur :

Dengan ini menyatakan kesediaan untuk menjadi responden dan bersedia mengisi kuesioner

penelitian yang berjudul EVALUASI SISTEM INFORMASI RUMAH SAKIT (SIRS)

DENGAN METODE HOT-FIT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) UNDATA

PROVINSI SULAWESI TENGAH.

Yang dibuat oleh:

Nama : Fitriani Ratna Sari

NIM : N 201 14 034

Demikian pernyataan ini dibuat dengan penuh kesadaran tanpa ada paksaan dari pihak

manapun.

Palu, 2018

Yang membuat pernyataan


PERMOHONAN PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth:

User Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah.

Assalamu’alaikumWr. Wb.

Dalam rangka memenuhi Tugas Akhir Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako, bersama ini saya mohon kesediaan
Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk menjadi responden penelitian saya yang berjudul “Evaluasi
Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) dengan Metode HOT-Fit di Rumah Sakit Umum
Daerah (RSUD) Undata Provinsi Sulawesi Tengah”.

Untuk itu mohon bantuan Bapak/Ibu/Saudara/Saudari mengisi kuesioner ini


berdasarkan kondisi Bapak/Ibu/Saudara/Saudari masing-masing saat ini, apa adanya. Semua
informasi yang didapatkan ini akan menjadi bahan penelitian secara akademis dan semua
jawaban akan dirahasiakan. Keberhasilan penelitian ini sangat tergantung pada partisipasi
Bapak/Ibu/Saudara/Saudari.

Atas dukungan dan partisipasinya saya mengucapkan banyak terimakasih. Jika


Bapak/Ibu/Saudara/Saudari memiliki pertanyaan lebih lanjut, silahkan menghubungi:

Email: Fitriani14kesmas@[Link] HP: 085241003239

Wassalamu’alaikumWr. Wb.

Hormat saya,

FITRIANI RATNA SARI


N 201 14 034
Hari/Tanggal:

KUESIONER PENELITIAN

EVALUASI SISTEM INFORMASI RUMAH SAKIT (SIRS) DENGAN METODE

HOT-FIT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) UNDATA PROVINSI

SULAWESI TENGAH

Identitas Responden

Nama (Inisial) :

Usia :

Jenis Kelamin :

Pendidikan Terakhir :

Lama Bekerja :

Petunjuk Pengisian

Mohon bapak/ibu, memilih jawaban yang benar dengan memberi tanda silang (×) pada kolom

yang telah disediakan. Apabila bapak/ibu ragu memberikan atas suatu jenis pertanyaan

tertentu kurang dipahami, maka hal itu dapat ditanyakan langsung kepada peneliti atau

petugas yang ikut membantu peneliti dalam penyebaran kuesioner ini.


1. Human (Manusia)

a. System Use

1. Apakah anda menggunakan SIMUDA ?

a. Ya b. Tidak

2. Apakah anda kesusahan dalam menggunakan SIMUDA ?

a. Ya b. Tidak

3. Apakah anda mengikuti pelatihan dalam menggunakan SIMUDA ?

a. Ya b. Tidak

4. Apakah anda memiliki keterampilan dalam menggunakan SIMUDA ?

a. Ya b. Tidak

5. Apakah SIMUDA menyelesaikan pekerjaan anda dengan cepat?

a. Ya b. Tidak

b. User Satisfaction

6. Apakah SIMUDA membantu anda dalam mengelolah informasi ?

a. Ya b. Tidak

7. Apakah SIMUDA mempermudah anda dalam melakukan tugas ?

a. Ya b. Tidak

8. Apakah SIMUDA meningkatkan kompetensi dan kinerja anda ?

a. Ya b. Tidak

9. Apakah SIMUDA memiliki tampilan interface yang tidak menarik ?

a. Ya b. Tidak
2. Organization (Organisasi)

a. Structure Organization

1. Apakah pihak manajemen menyediakan bantuan fasilitas dalam

mendukung anda dalam menggunakan SIMUDA ?

a. Ya b. Tidak

2. Apakah pihak manajemen mempertimbangkan latar belakang pendidikan

calon pengguna SIMUDA ?

a. Ya b. Tidak

3. Apakah pihak manajemen menyediakan pelatihan SIMUDA ?

a. Ya b. Tidak

4. Apakah pihak manajemen memiliki komunikasi yang kurang baik dengan

pengguna SIMUDA ?

a. Ya b. Tidak

5. Apakah RSUD Undata memiliki fasilitas jaringan yang memadai ?

a. Ya b. Tidak

b. Environtment Organization

6. Apakah ada dukungan dari pihak manajemen untuk menggunakan

SIMUDA ?

a. Ya b. Tidak

7. Apakah ada dukungan dari teman kerja untuk menggunakan SIMUDA ?

a. Ya b. Tidak
8. Apakah SIMUDA meningkatkan komunikasi data ?

a. Ya b. Tidak

9. Apakah SIMUDA menghemat waktu dalam menyajikan informasi ?

a. Ya b. Tidak

3. Technology (Teknologi)

a. System Quality

1. Apakah SIMUDA mempercepat penyajian data ?

a. Ya b. Tidak

2. Apakah SIMUDA mudah untuk digunakan ?

a. Ya b. Tidak

3. Apakah SIMUDA mudah untuk dipelajari ?

a. Ya b. Tidak

4. Apakah SIMUDA kurang handal dan sering error ?

a. Ya b. Tidak

5. Apakah SIMUDA dilengkapi dengan petunjuk penggunaan ?

a. Ya b. Tidak

b. Information Quality

6. Apakah SIMUDA menyediakan informasi yang relevan ?

a. Ya b. Tidak

7. Apakah SIMUDA bermanfaat bagi pengguna ?

a. Ya b. Tidak
8. Apakah SIMUDA menyediakan informasi yang kurang lengkap dan kurang

akurat ?

a. Ya b. Tidak

9. Apakah SIMUDA menyediakan informasi yang mudah dipahami ?

a. Ya b. Tidak

b. Service Quality

10. Apakah divisi SIMRS menyediakan helpdesk support ?

a. Ya b. Tidak

11. Apakah divisi SIMRS menyediakan jaminan kualitas layanan terhadap

pengguna SIMUDA ?

a. Ya b. Tidak

12. Apakah divisi SIMRS memiliki sikap peduli (empati) ketika membantu

pengguna SIMUDA ?

a. Ya b. Tidak

13. Apakah divisi SIMRS menyelesaikan masalah yang dihadapi pengguna

SIMUDA sampai selesai ?

a. Ya b. Tidak

4. Net Benefit

1. Apakah SIMUDA membantu SIMRS menjadi lebih efektif dan efisien ?


a. Ya b. Tidak

2. Apakah SIMUDA dapat menurunkan tingkat kesalahan ?

a. Ya b. Tidak

3. Apakah SIMUDA menurunkan komunikasi antar seluruh divisi RSUD ?

a. Ya b. Tidak

4. Apakah SIMUDA menjadikan kinerja rumah sakit menjadi lebih baik ?

a. Ya b. Tidak

5. Apakah SIMUDA dapat meningkatkan kinerja penggunanya ?

a. Ya b. Tidak

6. Apakah SIMUDA dapat meningkatkan kinerja rumah sakit dalam menghadapi

persaingan yang ada saat ini ?

a. Ya b. Tidak

7. Apakah SIMUDA dapat mendukung visi dan misi dari rumah sakit ?

a. Ya b. Tidak

Anda mungkin juga menyukai