100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
53 tayangan134 halaman

Penerapan K3 di Fasyankes untuk Akreditasi

Penerapan standar K3 di fasyankes penting untuk menjamin keselamatan pasien, tenaga medis, dan pengunjung. Dokumen ini membahas cara mengidentifikasi bahaya potensial, menilai risiko, dan mengendalikan risiko di fasyankes untuk mendukung mutu dan akreditasi.

Diunggah oleh

Yuni Ambarwati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
53 tayangan134 halaman

Penerapan K3 di Fasyankes untuk Akreditasi

Penerapan standar K3 di fasyankes penting untuk menjamin keselamatan pasien, tenaga medis, dan pengunjung. Dokumen ini membahas cara mengidentifikasi bahaya potensial, menilai risiko, dan mengendalikan risiko di fasyankes untuk mendukung mutu dan akreditasi.

Diunggah oleh

Yuni Ambarwati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENERAPAN STANDAR K3 FASYANKES DALAM

MENDUKUNG MUTU DAN AKREDITASI

Hotel Aria Centra Surabaya, 29 Juli 2019

Suhariono, ST., MM., [Link]


BIODATA NARASUMBER

Suhariono, ST., MM., [Link]


TUJUAN UMUM
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta memiliki kemampuan dalam
menerapkan standard K3 di Fasyankes dalam mendukung mutu dan
akreditasi

TUJUAN KHUSUS
1. Peserta mampu menjelaskan pengertian K3 Fasyankes
2. Peserta mampu melakukan identifikasi dan penilaian risiko dalam
proses manajemen risiko di fasyankes
3. Peserta mampu menerapkan standar K3 yang ada di fasyankes dalam
rangka mendukung mutu dan akreditasi

Suhariono, ST., MM., [Link]


Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
(K3 di Fasyankes) adalah segala kegiatan untuk menjamin dan
melindungi sumber daya manusia, fasilitas pelayanan kesehatan,
pasien, pendamping pasien, pengunjung, maupun masyarakat di sekitar
lingkungan Fasilitas Pelayanan Kesehatan agar sehat, selamat, dan
bebas dari gangguan kesehatan dan pengaruh buruk yang diakibatkan
dari pekerjaan, lingkungan, dan aktivitas kerja

Sumber : Permenkes RI No. 52 Tahun 2018


Workshop Pengel. Limbah Medis 23 RS Kab/Kota

Pengecualian
Pasal 3
(1) Setiap Fasyankes wajib menyelenggarakan K3 di
Fasyankes.
(2) Jenis Fasyankes sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tidak termasuk rumah sakit (Permenkes No. 66 Thn
2016).
(3) Penyelenggaraan keselamatan dan kesehatan kerja di
rumah sakit dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

5
Mengapa
K3 Fasyankes Penting?
Mengapa di butuhkan K3....?

Fasyankes merupakan tempat kerja yang memiliki risiko terhadap

Karena terkait dengan keselamatan dan kesehatan pada sumber


daya manusia, fasilitas pelayanan kesehatan, pasien,
pendamping pasien, pengunjung, maupun masyarakat yang
berada di sekitar lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan

Dibutuhkan pengelolaan dan pengendalian risiko yang


berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja untuk
menciptakan kondisi fasilitas pelayanan kesehatan yang sehat,
aman, selamat, dan nyaman

Perlu diselenggarakan keselamatan dan kesehatan kerja di


fasilitas pelayanan kesehatan
• WHO pada tahun 2000 mencatat kasus infeksi akibat tertusuk jarum suntik
yang terkontaminasi virus diperkirakan mengakibatkan Hepatitis B sebesar 32%,
Hepatitis C sebesar 40%, dan HIV sebesar 5% dari seluruh infeksi baru.
• Panamerican Health Organization tahun 2017 memperkirakan 8-12% SDM
Fasyankes sensitif terhadap sarung tangan latex.
• Data Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung
Kementerian Kesehatan tahun 1987-2016 terdapat 178 petugas medis yang
terkena HIV AIDS
• Hasil penelitian di Jakarta Timur (2004): tingkat kepatuhan petugas menerapkan
setiap prosedur tahapan kewaspadaan standar dengan benar hanya 18.3%, dengan
status vaksinasi Hepatitis B pada petugas Puskesmas masih rendah yaitu 12,5%, dan
riwayat pernah tertusuk jarum bekas yaitu 84,2%.
• Selain itu dari hasil penelitian Start dengan Quick Investigation of Quality yang
melibatkan 136 Fasyankes dan 108 diantaranya adalah Pusat Kesehatan Masyarakat
(Puskesmas), menunjukkan bahwa hampir semua petugas Puskesmas belum memahami
dan mengetahui tentang kewaspadaan standar.
Bagaimana Cara
Penyelenggaraan
K3 Fasyankes ?
Penerapan SMK3 di Fasyankes

Peningkatan Penetapan
Berkelanjutan
Kebijakan
Peninjauan K3 Fasyankes
Peninjauan
& Peningkatan
Ulang&
Kinerja K3 Faskes
Peningkatan
oleh manajemen
Perencanaan
K3 Fasyankes
Pemantauan
dan
Evaluasi Pelaksanaan
Kinerja K3
Rencana
K3 Fasyankes

Sumber : PP No. 50 Tahun 2012


STANDAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN
(11 STANDARD)

Sumber : Pasal 7 Ayat 1, Permenkes RI No. 52 Tahun 2018


identifikasi
potensi
bahaya

Pengenalan
potensi
bahaya dan
pengendalian
risiko K3 di
unit kerja
pengendalian penilaian
risiko risiko
IDENTIFIKASI BAHAYA POTENSIAL K3

PENINJAUAN
ULANG

INSPEKSI
UNIT
KERJA

KONSULTASI &
DISKUSI
DENGAN
PEKERJA

Walk Trough Survey


SURVEY JALAN SEPINTAS (walk through survey)
yang terdiri dari 3 aktivitas utama yaitu:
1) Lihat (see), yaitu melakukan identifikasi atau rekognisi
bahaya di lingkungan kerja
2) Pikirkan (think), yaitu melakukan evaluasi terhadap
potensi bahaya yang ditemukan (kondisi lingkungan,
prilaku , alat/mesin, bahan)
3) Kendalikan (Do), yaitu merumuskan upaya pengendalian
terhadap bahaya yang ada.
Potensi Bahaya di Lingkungan Kerja

Kimia

Biologi Fisik

Kecelakaan Psikososial
Ergonomi Kerja
Identifikasi
Potensi
Bahaya
Penilaian
Risiko K3
Penilaian
Risiko K3

Sumber : Permenkes RI No. 52 Tahun 2018


Penilaian
Risiko K3 Skala Tingkat Risiko K3 Fasyankes
Pengendalian
Risiko
RISK REGISTER
• Fasyankes harus mempunyai Program
Risk Assessment tahunan  Risk
Register
• Risk Register :
[Link] sebuah tempat
penyimpanan untuk semua informasi
resiko
[Link] yg teridentifikasi dlm 1 thn
[Link] Insiden keselamatan
pasien, dan Akreditasi Fasyankes
[Link] potensial risiko maupun
risiko aktual (menggunakan RCA &
FMEA)
CONTOH MAPPING RISIKO DI AREA FASYANKES
CONTOH SOSIALISASI MANAJEMEN RISIKO DI RUANGAN
b. Penerapan Kewaspadaan Standar

a. cuci tangan untuk mencegah infeksi silang;

b. penggunaan alat pelindung diri;

c. pengelolaan jarum dan alat tajam untuk


mencegah perlukaan;

d. penatalaksanaan peralatan;

e. pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan


Mengurangi Risiko Tertusuk Jarum

 Jangan menekuk atau mematahkan benda


tajam
 Jangan meletakkan limbah benda tajam
sembarang tempat
 Segera buang limbah benda tajam ke wadah
yang tersedia, tahan tusuk dan tahan air serta
tidak dibuka lagi
 Selalu dibuang sendiri oleh si pemakai
 Tidak menyarungkan kembali jarum suntik
habis pakai (recapping)
 Wadah benda tajam diletakkan dekat lokasi
tindakan
RAJAL/RANAP

IGD/OK

LABORATORIUM PENGURANGAN PEMILAHAN PEWADAHAN


FARMASI

LAUNDRY DLL
Residu Insinerasi PENGUMPULAN
(OPTION)

PENGOLAHAN
(INSINERASI/NON
INSINERASI) - ONSITE PENYIMPANAN PENGANG
(SEMENTARA) KUTAN
PENGOLAHAN PIHAK III
- ONSITE

Cara menetukan risiko :


Diidentifikasi berdasarkan tahapan penanganan limbah medis ......
30
Identifikasi Risiko/ Dampak
Pengelolaan Limbah Padat Medis Fasyankes
1. Tertusuk Jarum pada petugas
2. Tumbahan/spill limbah medis
3. Pencemaran air permukaan akibat bekas cucian di TPS Limbah Medis (B3)
4. Cakupan pengolahan limbah medis < 100%
5. Gangguan estetika/ Bau
6. Pencemaran udara oleh emisi insinerator
7. Pencemaran tanah oleh residu insinerator dan Bahan bakar insinerator
8. Gangguan operasional insinerator (Rusak)
9. Kasus kecelakaan kerja/ K3
10. Peningkatan Vektor Penyakit di TPS limbah medis (B3)
11. Penumpukkan akibat keterlambatan pengangkutan limbah medis oleh pihak III
12. Kegagalan pentaatan ketentuan/persyaratan teknis TPS / Insinerator
13. Kegagalan pengurusan/perpanjangan izin TPS Limbah B3 dan Insinerator
14. Ketidaktaatan legalitas pihak III
15. Konflik sosial dengan masyarakat sekitar

Transpor
Pengang Insinerat ter/
Ruangan Ruangan
kutan Ke or Pengola
Sumber TPS
TPS h

31
No Tahapan Penanganan Jenis Risiko / Dampak Kegagalan Pengelolaan Limbah Medis
1 a.
b. .... Dst
2 a.
b. .... Dst
3 a.
b. .... Dst

Transpor
Pengang Insinerat ter/
Ruangan Ruangan
kutan Ke or Pengola
Sumber TPS
TPS h

Tahapan Penanganan Limbah Medis Fasyankes


32
c. Penerapan Prinsip Ergonomi

a. penanganan beban manual;

b. postur kerja;

c. cara kerja dengan gerakan berulang;

d. shift kerja;

e. durasi kerja;

f. tata letak ruang kerja.


Penanganan beban manual;

Standar berat obyek yang boleh diangkat secara manual tergantung dari
letak obyek berada, dengan rincian sebagai berikut :
Faktor yang mempengaruhi :
 Beban, jarak angkut, intensitas pembebanan

 Kondisi lingkungan

 Ketrampilan

 Peralatan kerja dan keamanannya

Prinsip kinetik
 Beban diusahakan menekan pada otot tungkai yang kuat, otot tulang

belakang dibebaskan dari beban


 Momentum gerak badan dimanfaatkan untuk mengawali gerakan
MENGANGKAT DAN MENGANGKUT
CEDERA PUNGGUNG

Preventif
PREVENTIF


Posisi Pergelangan Tangan
 Sikap pergelangan
yang baik dalam
menggunakan
mouse, trackball dan
touchpad

 Paralatan input
harus dilokasikan
diselah kanan atau
kiri keyboard, pada
ketinggian yang
sama dan masih
dalam jangkauan
yang dekat
Monitor
 Posisi layar monitor harus meminimalkan
pantulan cahaya dari lampu, jendela atau sumber
cahaya yang lain. Atau memasang filter.

 Atur monitor sehingga mata sama tingginya


dengan tepi atas layar, sekitar 5-6 cm dibawah
bagian atas casing monitor

 Jarak operator dengan monitor berkisar 50-60


cm.

 Posisi monitor tepat lurus didepan.


d. Pemeriksaan Kesehatan Berkala

• Minimal dilakukan setahun sekali


• Penentuan parameter jenis pemeriksaan kesehatan
berkala disesuaikan dengan jenis pekerjaan, proses
kerja, potensi risiko gangguan kesehatan akibat
pekerjaan dan lingkungan kerja.
e. Pemberian imunisasi
• diprioritaskan bagi SDM Fasyankes yang berisiko tinggi.
• Pemberian imunisasi diprioritaskan untuk imunisasi
Hepatitis B, karena tingginya risiko penularan Hepatitis
B pada SDM Fasyankes.
f. Pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di Fasyankes

a. Menerapkan peraturan dan prosedur operasi kerja


b. Menggunakan Alat Pelindung Diri sesuai pekerjaannya
c. Tidak merokok di tempat kerja
d. Melakukan aktivitas fisik dan olahraga secara teratur
e. Mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat
f. Menggunakan air bersih
g. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
h. Membuang sampah pada tempatnya
i. Menggunakan jamban saat buang air besar dan buang air kecil
j. Tidak mengkonsumsi NAPZA
k. Tidak meludah sembarang tempat
l. Memberantas jentik nyamuk
1. Memastikan kemampuan bangunan gedung untuk mendukung beban
muatan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
2. Memastikan kemampuan bangunan gedung dalam mencegah dan
menanggulangi bahaya kebakaran dan bahaya petir.
3. Memastikan memantau berfungsinya prasarana yang meliputi instalasi
listrik, sistem pencahayaan dan sistem grounding (sistem pembumian),
dan APAR.
4. Memastikan penghawaan/kebutuhan sirkulasi dan pertukaran udara
tersedia dengan baik, melalui bukaan dan/atau ventilasi alami dan/atau
ventilasi buatan.
5. Memastikan pencahayaan memenuhi persyaratan yang berlaku
6. Memastikan sistem sanitasi yang memenuhi persyaratan yang berlaku, meliputi :
ketersediaan air bersih, pembuangan air kotor dan/atau air limbah, tempat penampungan
sementara kotoran dan sampah, serta penyaluran air hujan. Memastikan juga tersedianya
perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja seperti APD untuk pekerjaan sanitasi.
7. Memastikan penggunaan bahan bangunan gedung harus aman bagi kesehatan pengguna
bangunan gedung dan tidak menimbulkan dampak negatif terhsdsp lingkungsn seperti
zero timbal, asbes, merkuri dll.
8. Memastikan kelengkapan sarana pada bangunan gedung untuk kepentingan umum
meliputi penyediaan fasilitas yg cukup untuk ruang ibadah, ruang ASI , toilet, tempat
parkir.
9. Memastikan kondisi kualitas bangunan pada fasyankes seperti atap, langit-langit,
dinding, lantai, jendela dll
10. Memastikan ketersediaan toilet cukup dan hygienis
Memastikan kemampuan bangunan gedung dalam mencegah dan
menanggulangi bahaya kebakaran

Mudah dilihat dan


diambil tidak
terhalang benda lain
Persyaratan penempatan APAR
1. Tangga darurat dan bordes harus 1. Pintu pada tangga darurat harus
memiliki lebar minimal 1.2 m dilengkapi petunjuk “EXIT”
2. Dilengkapi dengan pegangan 2. Setiap bangunan bertingkat
tangan setinggi 1,1 m , memiliki lebih dari 2 lantai harus
lebar injakan anak tangga dilengkapi dengan pintu darurat
minimal 28 cm dan tinggi 3. Lebar pintu darurat minimal 100
maksimal anak tangga 15 – 17 cm, membuka ke arah tangga
cm penyelamatan, kecuali lantai
dasar membuka ke arah luar
Memastikan sistem sanitasi yang
memenuhi persyaratan yang berlaku

Flow Meter

Outlet IPAL
Persyaratan Instalasi
Pengolahan Air Limbah
• Persyaratan Instalasi air kotor/limbah terdiri atas:
a. Sistem Instalasi air kotor/limbah harus
direncanakan dan dipasang dengan
mempertimbangkan jenis dan tingkat
bahayanya;
b. Pertimbangan jenis air kotor/limbah diwujudkan
dalam bentuk pemilihan sistem
pengaliran/pembuangan dan penggunaan
peralatan yang dibutuhkan;
c. Pertimbangan tingkat bahaya air kotor/limbah
diwujudkan dalam bentuk sistem pengolahan
dan pembuangannya;
d. Air kotor/limbah yang mengandung bahan
beracun dan berbahaya tidak boleh digabung
dengan air kotor/limbah domestik;
e. Air kotor/limbah yang berisi bahan beracun dan
berbahaya (B3) harus diproses sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
f. Air kotor/limbah domestik sebelum dibuang ke
saluran terbuka harus diproses sesuai dengan
pedoman dan standar teknis yang berlaku.
Memastikan penyediaan air bersih memenuhi syarat dengan
sampling dan pemeriksaan kualitas air bersih secara berkala
Pengukuran Pencahayaan Pemeriksaan Angka Kuman
Di Ruangan Udara Ruangan

50
a. Memastikan tersedianya daftar inventaris seluruh peralatan medis.

[Link] penandaan pada peralatan medis yang digunakan dan yang


tidak digunakan.

c. Memastikan dilakukan uji fungsi dan uji coba peralatan.

d. Memastikan dilaksanakanya kalibrasi secara berkala.

e. Memastikan dilakukan pemeliharaan pada peralatan medis.

f. Memastikan penyimpanan peralatan medis dan penggunanya sesuai standar


prosedur operasional.
PERIODE KOMPONEN TINDAKAN PELAKSANAAN KETERANGAN
Kebersihan pre /post User Pada saat bekerja
Indikator2 panel User Pada saat bekerja
Pilet Lamp User Pada saat bekerja
Fisik Unit User Pada saat bekerja
Harian Main unit
User Pada saat bekerja
Monitor
mekanik
- pergerakan lengan C
User Pada saat bekerja
- pergerakan up /down
- pergerakan roda
Mekanik
- Kolimator Teknisi Jam Kerja
- Motor motor

Terjadwal Kabel Catu Daya Diperiksa Teknisi Jam Kerja


Colimator Teknisi Jam Kerja
Pelumasan Teknisi Jam Kerja
Instalasi kelistrikan Teknisi Jam Kerja
Kalibrasi, tabung
Tahunan Pengecekan BPFK, Teknisi terjadwal
Simbol
Simbol layak tetapi Simbol Tidak
layak pakai asesorisnya layak pakai
tdk lengkap
stiker
IPS RS
JL ........................... SURABAYA

ID/NO. DOK : _________/____________


TGL VERIFIKASI : ______________________
BERLAKU S/D :______________________

AMAN UNTUK PELAYANAN


IPS RS
JL ................................. SURABAYA
Inspection Wkt : __1____ kali/hr/bln/th
Testing Wkt : __1____kali/hr/bln/th
Calibration Wkt : __1____ kali/hr/bln/th
Maintenance Wkt : __2____kali/hr/bln/th

1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12
Stiker
DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH
ID______TGL______ ID______TGL______ ID______TGL______ ID______TGL______ ID______TGL______ ID______TGL______
IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR
SOETOMO SOETOMO SOETOMO SOETOMO SOETOMO SOETOMO
DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH
ID______TGL______ ID______TGL______ ID______TGL______ ID______TGL______ ID______TGL______ ID______TGL______
IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR
SOETOMO SOETOMO SOETOMO SOETOMO SOETOMO SOETOMO

DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH
ID______TGL______ ID______TGL______ ID______TGL______ ID______TGL______ ID______TGL______ ID______TGL______
IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR
SOETOMO SOETOMO SOETOMO SOETOMO SOETOMO SOETOMO
DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH DIPERIKSA OLEH
ID______TGL______ ID______TGL______ ID______TGL______ ID______TGL______ ID______TGL______ ID______TGL______
IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR IPSM RSUD DR
SOETOMO SOETOMO SOETOMO SOETOMO SOETOMO SOETOMO
JANGAN DIPAKAI ALAT RUSAK

ALAT RUSAK
(BERSIHKAN ALAT SEBELUM DIKIRIM)

Will Not Turn On Broken Power Cord Wet / Fluids


Check Calibration Incorrect Output Incorrect Display
Lain – lain Hubungi IPSRS 550-1552, 550-1555

JANGAN DIPAKAI ALAT RUSAK


(BERSIHKAN ALAT SEBELUM DIKIRIM)
Departement / Location
_______________________________
Name Date
Phone
_______________ _________ _________________
Coments : ___________________________________________
_________________________________________________
_________________________________________________
Kartu Catatan Pemeliharaan
d. pengendalian kondisi darurat atau bencana
c. pemetaan risiko kondisi darurat atau bencana;

b. analisis risiko kerentanan bencana;

a. identifikasi risiko kondisi darurat atau bencana;


HVA / Analisis Kerentanan Bahaya
Suatu proses untuk melakukan identifikasi, menilai dan
mengevaluasi potensi emergency dan dampak langsung atau
tidak langsung akibat keadaan emergensi baik yang terjadi di
rumah sakit maupun upaya layanannya, yang akan memberikan
dampak terhadap fasilitas RS dan masyarakat sekitarnya serta
dilakukan peninjauan setiap tahun sekali.
Identifikasi HVA berfokus kepada :
1. Peristiwa atau kejadian alam,
2. Teknologi yang digunakan
3. Peristiwa yang berhubungan dengan manusia dan
4. Penggunaan bahan berbahaya
Kategoti penilaian HVA berdasarkan pada :
1. Kategori penentuan Probabilitas

2. Kategori penentuan Dampak / Impact :


a. Pada Manusia / Human impact
b. Pada Properti / Property Impact
c. Pada Bisnis /Business Impact

3. Kategori penentuan kesiapan/Preparedness

4. Kategori Penentuan Respon


a. Kategori Respon Internal
b. Kategori Respon Eksternal
Risk = Probability X Severity (Magnitude, Mitigation)

Severity meliputi :
a. Magnitude :
• Dampak pada Manusia (Human Impact),
• Dampak pada Properti (Property Impact)
• Dampak pada Bisnis (Business Impact)

b. Mitigation :
• kesiapsiagaan (preparedness)
• respon internal
• respon eksternal
 Kode Merah : Pemberitahuan darurat kebakaran
 Kode Biru : Pemberitahuann telah terjadi kedaruratan medik
 Kode hijau : Pemberitahuan segera melakukan evakuasi baik
manusia maupun barang
 Kode Coklat : Pemberitahuan telah terjadi pencurian
 Kode Ungu : Pemberitahuan telah terjadi keributan
 Kode pink : Pemberitahuan telah terjadi penculikan bayi
 Kode kuning : Pemberitahuan adanya ancaman bom
 Kode orange : Pemberitahuan adanya tumpahan/kebocoran
limbah b3
 Kode Putih : Pemberitahuan bencana endemik seperti wabah
penyakit menular
 Kode Hitam : Pemberitahuan bahwa UGD menerima pasien
berlebih baik dari segi fasilitas maupun dari segi
ketenagaan
Contoh Kode Darurat
yang berlaku di RSUD
Dr Soetomo Surabaya :
Koordinator: Gedung/Lantai Tindakan jika terjadi kebakaran :
1. Memimpin operasi penanggulangan  Menilai kondisi kebakaran guna
keadaan darurat keputusan evakuasi parsial/total
2. Melakukan koordinasi dengan organisasi lantai atau sebagaian/seluruh lantai
tanggap darurat rumah sakit
 Menginstruksikan evakuasi
3. Memastikan prosedur penanggulangan
keadaan darurat ini dipatuhi dan horizontal atau vertical (sesuai
dilaksanakan oleh setiap personil termasuk dengan kondisi kebakaran,
penghuni gedung penyebaran asap dan panas)
4. Memberikan instruksi dan dalam setiap  Memastikan semua pasien,
tindakan darurat evakuasi penghuni keluarga dan pegawai telah
(pegawai, pasien, keluarga/tamu pasien) terevakuasi
5. Melakukan komunikasi efektif dengan
 Menilai kondisi bangunan, apakah
instansi terkait seperti Dinas Kebakaran,
PLN, Polisi, BMKG, gedung pelayanan layak untuk digunakan rawat inap
medis lain di lingkungan rumah sakit atau pasien setelah terjadi kebakaran
rumah sakit lain untuk pemindahan pasien pada ruangan/lantai yang terbakar
6. Melaporkan status keadaan darurat  Mengintruksikan untuk
kepada Wakil Direktur Pelayanan Medik memindahkan pasien ke gedung
lain atau rumah sakit lain, jika
kondisi bangunan tidak layak
1. Petugas yang berperan sebagai koordinator pemadaman
kebakaran, memastikan ruangan aman dari kebakaran dengan cara
mengecek kondisi lingkungan yang dapat menjadi potensial
penyebab kebakaran.
2. Petugas mencatat hasil pemantauan dalam format yang telah
ditentukan.
3. Jika terjadi kebakaran, mengkoordinasikan petugas lain dalam
menggunakan APAR.
4. Petugas berkoordinasi dengan petugas lain untuk melapor ke posko
code red RSUD Dr Soetomo Telp. 1113.
5. Petugas mengamankan lokasi kejadian.
1. Petugas dengan helm warna biru bertugas sebagai koordinator
evakuasi/penyelamatan pasien, pengunjung dan staf jika terjadi
keadaan darurat kebakaran.
2. Petugas yang berperan sebagai koordinator evakuasi pasien,
mengecek jalur evakuasi agar aman dilalui apabila terjadi kondisi
darurat.
3. Petugas memberikan informasi dan edukasi tentang cara
melakukan evakuasi pasien (mis : Code purple/Perintah
evakuasi).
4. Menyampaian kepada pasien dan keluarganya tentang status
pasien sesuai dengan kode evakuasi yang diberikan, memberitahu
arah evakuasi dan cara yang akan dilakukan apabila pasien
tersebut akan dievakuasi.
1. Petugas yang berperan sebagai koordinator
penyelamatan dokumen, melakukan
pengecekan dokumen penting/file berharga.
2. Petugas menginventarisir dokumen berharga
yang ada di ruangan.
3. Bila terjadi kebakaran yang mengancam
dokumen, petugas dengan helm putih
bertugas sebagai pengendali/coordinator
dalam melakukan evakuasi dokumen.
1. Petugas yang berperan sebagai koordinator alat
medis/non medis setelah melakukan pengecekan
alat medis/non medis yang portable di ruangan.
2. Petugas membuat daftar alat medis yang
diselamatkan dari ruangan.
3. Bila terjadi situasi yang mengancam alat medis
vital, petugas helm kuning bertugas
mengendalikan atau berkoordinasi dalam
melakukan evakuasi peralatan medis.
a) Penempatan bahan mudah terbakar aman dari api dan panas.
b) Pengaturan konstruksi gedung mengikuti prinsip keselamatan dan
kesehatan kerja sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c) Penyimpanan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang mudah
terbakar dan gas medis di tempat yang aman.
d) Larangan merokok.
e) Inspeksi fasilitas/area berisiko kebakaran secara berkala.
f) Simulasi kebakaran minimal dilakukan 1 tahun sekali untuk setiap
gedung.
g) Pemantauan bahaya kebakaran terkait proses pembangunan di
dalam/berdekatan dengan bangunan yang dihuni pasien.
1. Membatasi bahan-bahan mudah terbakar
2. Struktur tahan api & kompartemenisasi.
3. Penyediaan sarana evakuasi untuk penghuni.
4. Penyediaan kelengkapan penunjang evakuasi.
5. Kondisi halaman bangunan & akses
pemadaman
 Sistem deteksi & alarm kebakaran
 Sistem pipa tegak & slang
kebakaran
 Sistem sprinkler otomatis
 Sistem pemadam api ringan
 Sistem pemadam khusus
 Sarana bantu operasi sistem aktif
(sumber air untuk pemadaman,
pompa kebakaran dan sumber daya
listrik darurat / genset
ALAT PEMADAM API RINGAN

• DAPAT DIOPERASIKAN SATU


ORANG
• UNTUK PEMADAMAN AWAL
KEBAKARAN
• SEBATAS VOLUME API KECIL

Terlihat dan mudah diambil tidak


terhalang benda lain
T A T S

T Arik kunci pengaman

A Arahkan ke dasar api

T Ekan gagang

S Apukan dari sisi ke


sisi
a. Indentifikas dan inventarisasi bahan dan limbah B3
b. Memastikan adanya penyimpanan, pewadahan, dan perawatan bahan sesuai dengan
karekteristik, sifat, dan jumlah.
c. Tersediannya lembar data keselamatan sesuai dengan karakteristik dan sifat bahan dan limbah B3.
d. Tersedianya sistem kedaruratan tumpahan/bocor bahan dan limbah B3.
e. Tersedianya sarana keselamatan bahan dan limbah B3 seperti spill kit, rambu dan simbol B3, dan
lain lain.
f. Mamastikan ketersediaan dan penggunaan alat pelindung diri sesuai karekteristik dan sifat bahan dan
limbah B3.
g. Tersedianya standar prosedur operasional yang menjamin keamanan kerja pada proses kegiatan
pengelolaan bahan dan limbah B3
h. Jika dilakukan oleh pihak ke tiga wajib membuat kesepakatan jaminan keamanan kerja untuk
pengelola dan Fasyankes akibat kegagalan kegiatan pengelolaan bahan dan limbah B3 yang dilakukan
PENGERTIAN B3 DAN LB3

Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya


disingkat dengan B3 adalah
Bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik
secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak
lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan,
kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.
(PERATURANPEMERINTAH RI NOMOR74 TAHUN 2001)

Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disebut Limbah B3


adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3 .

(PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 101 TAHUN 2014)

95

10/16/2018 Suhariono, ST., MM., [Link]


WHO telah mengidentifikasi bahan berbahaya dan beracun
dan limbahnya dengan kategori sebagai berikut :

a. Infeksius
b. Patologi anatomi
c. Farmasi
d. Bahan kimia
e. Logam berat
f. Kontainer bertekanan
g. Benda tajam
h. Genotoksik / sitotoksik
i. Radioaktif
Jenis-Jenis Bahan B3

Bahan kimia pembersih dan


desinfektan 5 Tabung Bertekanan
Pestisidan, pewangi, gas elpiji, dll •

2
1
Pembersih
tangan :
hand soap, hand rub
Pembersih
permukaan : 3 Pembersih
peralatan
medis
4 Pembersih
linen :
floor cleaner, glass cleaner, deterjen, desinfektan,
maupun non pemutih, softener, dll
stainer removal, wax, wooden polish,
desinfektan, dll medis •
Jenis-Jenis Bahan B3

Bahan Kimia Laboratorium


Alkohol Etanol Formalin
H2SO4 H2O2,
Xylol
Jenis-Jenis Bahan B3

Bahan Kimia di Pelayanan


Alkohol Glutaraldehyde Liquid
nitrogen Dimethyl sulfoxide
Oksigen
Jenis-Jenis Bahan B3 di RS

Bahan Kimia di Perkantoran

1 2
Catridge/tinta printer

4
Tabung
pestisida/pewangi
Baterei bertekanan
dll

3 Tinta mesin fotocopy

13
Jenis-Jenis Bahan B3

Bahan kimia di utilitas/Sarpras

Bahan Bakar Olie


Cat
Lampu penerangan
Tabung las
Aki (Accu) Tabung las
Mother board dll
10/16/2018 Suhariono, ST., MM., [Link]
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 03 Tahun 2008 tentang Tata
Cara pemberian Simbol dan Label Bahan Berbahaya & Beracun

10/16/2018 Suhariono, ST., MM., [Link]


SIMBOL LIMBAH B3 SESUAI PERMEN LH 14/2013 TENTANG
SIMBOL DAN LABEL LIMBAH B3
KELOLA & GUNAKAN MSDS

PENERAPAN MSDS PENEMPATAN MSDS


MSDS FORMAT OSHA
ISI Occupational Safety and Health Administration (OSHA)
Chemical identity :
• Nama pabrik
• Informasi yang bisa dihubungi
• Berisikan tentang kandungan bahaya / identity
information
• Karakteristik fisik / kimia
• Data – data tentang bahaya kebakaran dan bahaya
mudah meledak
• Data – data reaktifitas
• Data – data bahaya kesehatan
• Penanganan dan pemakaiannya untuk keselamatan
• Ukuran – ukuran pengawasan
CARA MENYIMPAN B3

1. Dalam Lemari B3,


2. Lemari Ada Simbol B3,
3. Ada Kunci,
4. Wadah ada Simbol B3,
5. Ada Daftar B3,
6. MSDS,
7. Termometer
Kompatibilitas Penyimpanan B3

10/16/2018 Suhariono, ST., MM., [Link]


CARA MENYIMPAN B3

1. Dalam Lemari B3,


2. Susun Terkelompokkan,
3. Wadah berdiri,
4. Ada Simbol B3,
5. Ada Kunci
BOTOL B3

1. Ada Identitas B3,


2. Ada Simbol B3,
3. Ada Label Pemakaian
a. Tanggal Buka,
b. Tanggal Daluarsa (Beyond
Used)
PENYIMPANAN GAS MEDIS
Peralatan yang
digunakan untuk
menangani
tumpahan B3 atau
limbah B3 kimia

Suhariono, ST., MM., [Link]


Alat untuk penangan tumpahan B3 / ceceran darah /
muntahan

SPO penggunaannya Di singkat


“SILOSEBEM “ :

SI- apkan APD


LO- alisir tumpahan/muntahan
SE –rap tumpahan dengan kain
BE –ri desinfektan
M – asukkan ke kantong plastik medis/LB3

Code Orange

10/16/218 Suhariono, ST., MM., [Link]


Contoh Spill Kit Penanganan Tumpahan Infeksius

Suhariono, ST., MM., [Link]


CONTOH SPILL KIT PENANGANAN
TUMPAHAN BAHAN KIMIA

10/16/2018 Suhariono, ST., MM., [Link]


PERAGAAN SPILL KIT

10/16/2018 Suhariono, ST., MM., [Link]


Formulir Pelaporan Tumpahan B3 di Unit Kerja

FORMULIR PELAPORAN TUMPAHAN B3 :


[Link]

10/16/2018 Suhariono, ST., MM., [Link]


10/16/2018 Suhariono, ST., MM., [Link]
10/16/2018 Suhariono, ST., MM., [Link]
10/16/2018 Suhariono, ST., MM., [Link]
Penyimpanan Accu Bekas
Lokasi TPS B3
Limbah domestik merupakan limbah yang berasal dari
kegiatan non-medis, seperti kegiatan dapur, sampah
dari pengunjung, sampah pepohonan, dan sampah lain
yang tidak mengandung kuman infeksius, termasuk pula
di dalamnya kerdus obat, plastik Pembungkus syringE
dan benda lainnya yang tidak mengandung dan tidak
terkontaminasi kuman pathogen atau bahan infeksius
a.
Limbah Domestik

Kantong Plastik Hitam


Kontainer Sampah Domestik

Kontainer Trolly Pengumpul

Trolly Besar

TPS Limbah Domestik/DEPO


TPA Bank Sampah KOMPOS
Pencatatan dan pelaporan secara semester
meliputi kasus yang berhubungan dengan
kejadian keselamatan dan kesehatan kerja.

Pencatatan dan pelaporan secara tahunan


meliputi seluruh pelaksanaan kegiatan K3 di
Fasyankes selama 1 (satu) tahun.
 Mekanisme pelaporan penyelenggaraan K3 di Fasyankes dilakukan
secara berjenjang dari Fasyankes, dinas kesehatan pemerintah daerah
kabupaten/kota, dinas kesehatan pemerintah daerah provinsi, dan
Kementerian Kesehatan

 Mekanisme pelaporan Fasyankes selain Puskesmas disampaikan


kepada Puskesmas yang menjadi pembina wilayahnya untuk
selanjutnya disampaikan kepada dinas kesehatan pemerintah daerah
kabupaten/kota, dinas kesehatan pemerintah daerah provinsi, dan
Kementerian Kesehatan
 Penilaian internal K3 di Fasyankes dilakukan oleh
penanggung jawab Fasyankes paling sedikit setiap 6
(enam) bulan sekali.

 Penilaian eksternal K3 di Fasyankes dilaksanakan melalui


akreditasi Fasyankes sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan
Terima Kasih ….

134

Anda mungkin juga menyukai