0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
340 tayangan34 halaman

Proses Perpindahan Panas: Konduksi dan Konveksi

Perpindahan panas dapat terjadi melalui konduksi, konveksi, dan radiasi. Konduksi terjadi karena gerak molekul, konveksi karena aliran fluida, dan radiasi melalui gelombang elektromagnetik tanpa media. Perpindahan panas dipengaruhi oleh konduktivitas, luas permukaan, dan perbedaan suhu. Berbagai mekanisme perpindahan panas dapat digabungkan untuk menghitung laju perpindahan panas keseluruhan.

Diunggah oleh

Dewi Lestari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
340 tayangan34 halaman

Proses Perpindahan Panas: Konduksi dan Konveksi

Perpindahan panas dapat terjadi melalui konduksi, konveksi, dan radiasi. Konduksi terjadi karena gerak molekul, konveksi karena aliran fluida, dan radiasi melalui gelombang elektromagnetik tanpa media. Perpindahan panas dipengaruhi oleh konduktivitas, luas permukaan, dan perbedaan suhu. Berbagai mekanisme perpindahan panas dapat digabungkan untuk menghitung laju perpindahan panas keseluruhan.

Diunggah oleh

Dewi Lestari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pendahuluan

Perubahan energi dalam bentuk panas banyak terjadi ada proses kimia
maupun tipe proses lain.
Contoh pemakaian
Heat transfer pada drying, evaporasi, pembakaran, dan lain-lain
sebagainya.
Perpindahan panas dapat terjadi dengan 3 cara :
1. Konduksi
2. Konveksi
3. Radiasi
a.d. 1) Secara konduksi perpindahan panas terjadi karena adanya gerak
kolekuler.
2) Secara konveksi perpindahan panas terjadi karena adanya aliran.
3) Secara radiasi perpindahan panas terjadi karena gerak gelombang
elektromagnetik dengan syarat tanpa media pengantar.
(Rate of heat m) + (Rate of generations of heat) = (Rate of heat out) + (Rate of
Acc)
In Pressure out

Zat padatan hanya terjadi konduksi


Dalam fluida terutama terjadi konveksi tetapi ada juga terjadi konduksi.
Radiasi biasanya terjadi pada gas yang tembus cahaya sedangkan padatan dan
cairan sebagai penghambat radiasi.
Laju alir panas dapat terjadi karena adanya gaya pedorong (driving force) yang
disebabkan oleh adanya perbedaan temperatur.

Catatan :
Driving force untuk :
- Perpindahan panas diebabkan perbedaan temperatur.
- Absorpsi disebabkan oleh tekanan parsial.
- Difusi disebabkan oleh perbedaan konsentrasi.
Hukum Fourier :

// Q = -k A //

Q = laju perpindahan panas (watt)


k = konduktivitas panas (watt/mK)
A = luas permukaan (m2)
T = temperature (K)
X = jarak (m)
k merupakan sifat fisik dan merupakan fungsi temperature

Contoh Soal :
Tentukan panas yang hilang (heat lose) per m2 dari suatu dinding isolasi dengan
tebal 25,4 mm yang isolasinya terbuat dari fiber, dimana temperature masuk
adalah 325 K dan temperature luar 297,1 K dan k = 0,048 W/mK.
Jawab :

Q = -k A

= (0,048)

103,75 W/m2

Perpindahan panas diantara permukaan dengan cairan dimana berlangsung


secara konveksi (Hukum Pendingina Newton).
// g = h A (Tp – Tf)) // atau // g = //

Dimana :
g = laju perpindahan panas (watt)
h = koefisien perpindahan panas (watt/m2K)
Tp = temperature perpindahan panas (K)
Tf = temperature pada fluida (K)

Apabila konduksi dan konveksi panas terjadi secara berurutan, maka berbagai
tahanan panas yang di alami dapat dijumlahkan untuk memperoleh koefisien
pindah panas keseluruhan U.
Persamaannya :
Q = Ud Ad (T1 – T2)
Dimana :
Ud = koefisien perpindahan panas keseluruhan (total) berdasarkan Ad.
Ad = luas permukaan dalam pipa
(T1 – T2) = bedatemperature

Untuk pipa yang tidak diinsulasi :

Dimana :
hd = koefisien panas pada Ad (dari fluida kedinding dalam)
h1 = koefisien pindah panas pada A1
A1 = luas permukaan luar pipa
Am = luas permukaan rata-rata
= tebal dinding pipa
Contoh Soal :
Suatu dinding selender yang berbentuk pipa terbuat dari karet keras dengan jari-
jari bagian dalam 5 mm dan jari-jari luar 20 mm, digunakan sebagai coil
pendingin didalam suatu bak. Temperatur didalam dinding yaitu 274,9 K dan
dipermukaan luar 2,97 K.

Konveksi Alamiah

Pada perbatasan suatu permukaan dan suatu fluida akan terjadi


perpindahan panas secara konduksi dan konveksi. Biasanya temperature
permukaan cukup tinggi dan menimbulkan radiasi.
Konveksi alamiah dapat terjadi karena adanya gerakan fluida itu sendiri.
Perbedaan temperatur antara bagian-bagian fluida menyebabkan perbedaan
density. Jadi proses perpindahan semacam ini disebut proses “ konveksi
alamiah” (konveksi bebas).
Secara keseluruhan perpindahan panas meliputi konduksi, konveksi, dan radiasi,
ini dapat dihitung dengan persamaan tersebut :

hc As (Ts – Ta) + hr As (Ts – Tc)

Dimana :

hc = Koefisien conveksi
Ts = Temperatur permukaan
Ta = Temperatur udara
Tc = Temperatur dinding yang mengelilingi As
As = luas permukaan

Jika Ta = Tc persamaan menjadi :

(hc + hr ) As (Ts - Ta )

Ketebalan Tioritis dan Suatu Isolasi Selender

Seperti terlihat pada gambar bahwa isolasi mengelilingi dinding luar suatu selender
yang mempunyai jari-jari r1 dimana dianggap panjangnya L.
Konduktivitas daripada selender dalam hal ini besar pada T1 dan jari-jarinya r1.

Selender tersebut didalamnya terdapat suatu steam jenuh. Pada permukaan isolasi
temperaturnya T2 mendekati temperatur udara luar To dimana dalam hal ini terjadi
perpindahan panas secara konveksi, apabila isolasinya ditambah lagi dimana K dari isolasi
tersebut kecil maka akan menurunkan laju aliran dari pada perpindahan tersebut.

Contoh :
Suatu dinding panas yang tingginya 0,305 m, di mana temperatur permukaannya 505,4 K
dikontakkan dengan udara yang mempunyai temperature 311 K, dinding diletakkan tegak
lurus, dimana lebarnya = 0,305 m. Tentukan koefisien perpindahan panasnya dan laju
perpindahan panasnya, jika diketahui :
Npr = 0,690 dan k = 0,0343 W/mK

Penyelesaian :
Tf = 408,2 K

Dari data sifat fisis udara (408,2 K)

udara = 0,867 kg/m3

udara = 2,32 10-5 kg/m

= 2,45 10-3 K-1

T = Tw – Tb = 505,4 – 311 = 194,4 K

NGr = = 1,84 108

NGr Npr = ( 1,84 108 ) (0,690) = 1,27 108

104< NGr Npr< 109 alirannya laminar sehingga panasnya adalah :

N m = 0,59 (WGr . Npr )1/4

= 0,59 (1,27 108 )1/4

h =

h = 7,03 W/m2K
q = h A (Tw – Tb)

A = (0,305 0,305) m2

q = 7,03 (0,305 0,305) 194,4

= 127,1 W

Pada keadaan steady state laju pindah panas q melalui selender yang diisolasi akan seimbang
dengan laju konveksi dipermukaan yaitu :
q = ho A (T2 – To)

Jika isolasinya ditambah maka luas permukaan :

A=2 rL

akan menjadi besar, tetapi sebaliknya T2 akan turun. Dalam hal ini kita melihat apakah itu q
naik atau turun seperti didalam mnentukan q untuk konduksi pada selender akan mempunyai
dua tahanan yaitu :

q= ; =0

Sehingga didapat (r2)cr =

Dimana r2 adalah jari-jari, karena v dimana laju pindah panas pada keadaan maksimum r2<
(r2)cr. Jika ditambah juga isolasinya akan menurunkan q.

Catatan :
1. Jika r2<rc maka laju pindah panasnya makin besar, jadi perlu ditambah isolasi
minimum = rc.
2. Jika r2>rc maka laju pindah panasnya makin kecil, dan bila diisolasi pindah panasnya
bertambah kecil lagi.

Untuk Selender
q=

AmA =

q1 =

Contoh Soal :
Suatu pipa stainless steel (A) mempunyai k = 21,63 W/mK dan mempunyai diameter dalam =
0,0254 m dan diameter luar = 0,0508 m, dimana pipa tersebut dibungkus (diisolasi) dengan
asbes (B) setebal 0,0254 m dengan harga k nya = 0,2423 W/mK. Temperature dinding
sebelah dalam pipa = 811,0 K, sedang temperature diluar isolasi = 310,8 K, panjang pipa =
0,205 m.
Hitung (heat loss) = rugi panas ?
Dan hitung temperatur permukaan antara netral dan isolasi.

Penyelesaian :

r1 = ( 0,0254) = 0,0127 m
r2 =

= 0,0254 m

r3 = 0,0254 + r2
= 0,0254 + 0,0254
= 0,0508 m

A1 =2 r1 L = 2 (0,0127) (0,305) = 0,0243 m2

A2 = 2 r2 L = 2 (0,0254) (0,305) = 0,0487 m2

A3 = 2 r3 L = 2 (0,0508) (0,305) = 0,0973 m2

AmA = = = 0,0351 m2

AmA =

a) q’ = =

b) q’ = atau q’ =

Konduksi Melalui Material Secara Paralel

Jika dua bidang A dan B diletakkan secara parallel dimana laju panas tegak lurus
dengan bidang yang mempunyai permukaannya terbuka. Dimana tebal panas merupakan
jumlah dari pada panas yang melalui A di tambah yang melalui B, sehingga persamaan
Fourier, untuk setiap bidang tersebut dapat ditulis :
qt = qA + qB = (T1 – T2) + (T3 – T4)

jika diasumsi T1 = T3, karena temperatur tersebut merupakan temperatur depan antara A dan
B dan T2 = T4, sehingga :

qtotal = (T1 – T4)

Konveksi Paksa
Perpindahan panas secara konveksi paksa didalam suatu alat disebabkan karena adanya suatu
alat pembantu yang dapat mengalirkan suatu fluida tersebut.
Jika didalam suatu alat dikehendaki pertukaran panas, maka perpindahan panas terjadi secara
konveksi paksa sekaligus tejadi panas secara konduksi dan radiasi. Oleh hal ini radiasi
biasanya terjadi pada permukaan luar yang berhubungan dengan lingkungan yang
temperaturnya tetap.

T1 = Temperatur fluida panas


T2 = Temperatur dinding pipa sebelah dalam
T3 = Temperatur dinding pipa sebelah luar
T4 = Temperatur fluida dingin

Menurut tiori dua lapisan menyatakan bahwa permukaan yang berhubungan dengan fluida
terhadap suatu lapisan tipis yang disebut “film”.
Yang keadaan alirannya berlapis, tetapi agak jarak dari permukaan akan menjadi aliran
turbulent dengan sendirinya tahanan terhadap perpindahan panas di lapisan tipis tersebut
lebih besar daripada didaerah terbulen selisih tenperaturnya besar.
Seperti dalam pembahasan yang lalu tetap berlaku hokum Newton pendinginan.
q’ = h A (Tw – Tb)
Biasanya perpindahan panas seara konveksi paksa digunakan alat yang berbentuk selender,
misalnya pipa, dimana suatu fluida yang mengalir didalamnya dan diisolasi agar tidak banyak
kehilangan panas.
Sesuai dengan persamaan tahanan pindah panas keseluruhan adalah :
Dari rumus yang digunakan :
q= UA T
tahanan :

U = koefisien perpindahan panas secara keseluruhan

Sehingga :

q=

untuk menentukan harga koefisien perpindahan panas h yaitu telah banyak diperoleh melalui
percobaan-percobaan, data tersebut dapat disajikan dalam bentuk grafik maupun persamaan
tperatur dimensi.

1. Koefisien perpindahan panas untuk aliran Laminer pada pipa (NRe< 2100) baik untuk
pipa tegak maupun mendatar, maka persamaannya adalah :

NNU = 1,86 ( NRe . Npr )1/3 ( )0,14

Dimana : NRe =

G’ = fluksi massa = (laju alir massa persatuan luas)

q’/A (fluksi panas)

G’ = satuannya kg/dt m2
G = laju alir massa, kg/det
D = diameter pipa dalam, m
V = koefisien fluida, m/det
L = panjang pipa dimana terjadi perpindahan panas
= viscositas fluida didekat dinding

= viscositas fluida

Faktor digunakan sebagai koreksi jika dan sangat berbeda.

2. Aliran Terbulent

Untuk NRe> 106 dan Npr antara 0,7 – 95 maka persamaan menjadi :

NNU = 0,023 (NRe)0,8 (Npr)0,4

Oleh hal ini u untuk persamaan diatas karena NRe sangat besar konveksi bebas dapat
diabaikan. Untuk udara pada tahanan total 1 atm, dan aliran terbulen koefisien perpindahan
panasnya adalah :

h= (SI)

untuk air yang sering digunakan dalam alat perpindahan panas (H.E), maka :
h = 1429 { 1 + 0,0146 T( ) } (SI)

3. Aliran Transisi (2100 < NRe< 104 )

Persamaan empiririsnya tidak dapat didefinisikan dengan sendirinya maka harga h


terpaksa dilakukan dengan grafis.

{( )( )0,14 ( )-0,33 } =

Contoh Soal :
Suatu aliran udara sebanyak 7,62 m/det dipanaskan dalam suatu pipa dengan diameter
dalamnya = 25,4 mm, udara tersebut mempunyai tekanan 206,8 kPa, temperaturnya 477,6 K.
Medium pemanasnya adalah steam condersing yang mengalir di luar pipa dengan
temperaturnya 488,7 K. Hitung fluksi panas.

Penyelesaian :

Pada temperatur 477,6 K dari tabel didapat = 2,6 10-5 kg/m det

1 porse = 1 gr/cm dt
1 Cp = 10-2 gr/cm det
k = 0,03894 W/m K
Npr = 0,686
1 kmol udara = 22,4 m3

udara = BM udara

udara = 28,95

NRe =
Temperatur Rata-Rata Dengan Menggunakan “ Log Mean Temperature “ = (LMTD)

q = hA T T = Tb – Ta

Persamaan ini apabila digunakan akan perhitungan untuk alat penukar panas.
Misal suatu aliran panas ingin didinginkan maka fluida tersebut dikontakkan dengan fluida
dingin yang ingin dipanaskan.

Dengan demikian efisiensi penggunaan dinaikkan.


Untuk lebih lanjut akan diterangkan di HE.

q = U A ( T )m

kalau kedua aliran masuk pada ujung yang sama maka aliran tersebut disebut “ sejajar atau
searah “ dan kalau kedua aliran masuk sebaliknya maka disebut “aliran berlawanan”.
Untuk luas dA, maka energy balance :

dq = m’Cp’dT’ = m Cp dT

akan hal ini : m’, Cp’, Cp, dan U tidak banyak brubah antara kedua ujung.

dq = U (T’ – T) dA …………………. (*)


dT’ = dq/m’Cp’ dan dT = dq/mCp

dT’ – dT = d (T’ – T) = - dq ( ) ………… (**)

(*) & (**), maka :

=-U( ) dA

Integrasi :

Ln = - UA ( ) ………. (***)

Energy balance yang masuk dan keluar :


q = m’ Cp’ (T1’ – T2’) = m Cp (T2 – T1) ……… (****)

(***) & (****) maka :

q = UA Tm = UA

( Tm) =

// q = UA ( Tm) //

KONVEKSI

Dalam konveksi panas berpindah karena terbawa massa fluida yang bergerak sebagai
aliran. Jadi konveksi hanya dapat terjadi dalam suatu fluida. Konveksi panas dalam fluida
dapat dihitung dengan persamaan pendinginan Newton (Hukum Pendinginan Newton) :
q = h A ( Tpadatan – Tfluida )
atau :

q=

tahanan terhadap perpindahan panas secara konveksi berpusat ditempat pertemuan fluida
dengan permukaan padat.

Dalam persamaan diatas h disebut koefisien perpindahan panas untuk permukaan itu
dan mempunyai dalam system SI. W/m 2 K dan system teknik Kall/ (m 2) (jm) ( ) dari
persamaan diatas terlihat bahwa h bukanlah suatu sifta fisis karena h selalu menyangkut 2 zat,
yaitu permukaan padat dan permukaan fluida, yang menyatakan besarnya laju pindah panas
pada permukaan itu.
Jika terjadi konduksi dan konveksi panas secara berurutan, berbagai tahanan panas
yang tersangkut dapat dijumlahkan untuk memperoleh koefisisen pindah panas keseluruhan
U. Persamaan perpindahan panas menjadi :

q = Ud Ad (T1 – T2)

Dalam mana untuk sebuah pipa yang tidak diinsulasi berlaku :

Dimana :
Ad = luas permukaan dalam pipa
Al = luas permukaan luar pipa

Am = luas permukaan rata-rata =

hd = koefisien pindah panas pada Ad


hl = koefisien pindah panas pada al
k = konduktivitas panas rata-rata
Ud = koefisien pindah panas keseluruhan berdasarkan Ad
r = tebal dinding pipa

Koefisien pindah panas permukaan dapat diperkirakan dari fungsi-fungsi empiris, yang
tersusun dari bilangan-bilangan tanpa dimensi, dengan bentuk umum :

Nu = K Rea Prb Grc ( )d

Dimana : K = bilangan tetap

Berdasarkan gerak fluida ada dua cara konveksi, yaitu konveksi alamiah dan konveksi paksa.
- Dalam Konveksi Alamiah gerak fluida disebabkan oleh beda densitas antara beberapa
tempat, karena adanya selisih temperatur antara tempat-tempat itu.
- Dalam Konveksi Paksa Fluida mengalir karena adanya usaha dari luar terhadap fluida,
umpamanya oeleh sebuah pompa atau kompresor

Pertimbangan Pertimbangan Umum Mengenai Koefisien Permukaan

Kondisi aliran dalam masalah ini yang perlu diperhitungkan adalah diameter pipa,
kecepatan fluida, densitas fluida, viscositas, konduktivitas termal, panas spesifik pada
tekanan konstan, dan lain-lain. Masalah heat transfer (erpindahan panas) sangat kompleks,
dalam suatu percobaan menggunakan persamaan-persamaan yang sangat rumit. Dalam
menentukan sifat-sifat ini ke dalam persamaan digunakan metoda analisa dimensi, yang
menunjukkan hubungan antara variable-variabel yang di atas dan hasilnya akan bervariasi
dalam suatu kelompok tanpa dimensi, seperti suatu kelompok untuk jarak dimana bilangan
Reynold dihubungkan dengan friksi dari fluida. Bilangan tapa dimensi yang sangat penting
terdiri dari grop-grop seperti di bawah ini :

Nama Formula Simb bol


Nusselt hD / k Nu
Reynolds DV / Re
Prandtl Pr
Grashof C /k Gr
- -
g D3 T 2
/
L/D

Dimana :

h = koefisien perpindahan panas


D = diameter pipa
V = kecepatan linier
= densitas

= viskositas
C = panas spesifik pada P tetap
g = percepatan grafitasi
= koefisien ekspansi panas

T = temperatur drop
L = panjang dari bagian aliran

Persamaan untukkoefisien permukaan dari heat transfer atau dari gerak fluida tanpa
perubahan yang kemungkinan dapat berbentuk :

Nu = f ( Re, Pr, Gr, L/D )


Bentuk dari persamaan ini tidak pasti dapat berupa bentuk penjumlahan, eksponensial, deret
invinitif atau sembarang model dari fungsi yang diketahui secara matematik. SAnggapan
yang utama dalam persamaan ini merupakan suatu eksperimen tetapi sukar dilakukan.
Keempat-empat group ini dimasukkan ke dalam satu persamaan yang hasilnya berupa suatu
fungsi pangkat, yaitu :

Nu = K Rea Prb Grc ( d

Dimana : k, a, b, c dan d merupakan konstanta

NGr terdiri dari koefisien termal ekspansi dan tepatnya apabila bilangan ini bertambah, maka
derajat koreksi akan bertambah. Dalam konveksi alamiah pengarh dari turbulent sangat kecil
dan kecepatan sangat rendah.

Contoh :

Bilangan NPr hanya bergantung dari sifat fluida, karenanya perubahan bentuk dari fluida yang
melewati metal terhadap gas dengan suatu molekul yang sederhana kemudian ke molekul
lainnya dengan molekul yang lebih kompleks. Ternyata jumlah deduksi dapat dibuat dari
mekanisme heat transfer dalam suatu fluida yang mengalir terbuka, dimana factor yang
penting dalam menentukan frieton loss dalam pipa N Re. Interprestasi dalam hal ini pada
Gb . . ., hasil dari penambahan N Re menyebabkan penambahan pada terbulensi yaitu
menipiskan film, viskos dan untuk menyamakan temperatur ta, tb. Sebagai hasil dari gradient
temperature tb, tc akan menjadi lebih besar dan fase bertambah besar dan factor-faktor lain
akan sama. Penambahan gradient ini akan menambahkan laju alir panas melalui lapisan
fluida ke kiri dari F1F1. Dan menghasilkan suatu rate yang tinggi perpindahan panas dari
fluida ke luar aliran. Apabila tahanan dalam rangkaian seri diturunkan, rate aliran panas pada
benda diam akan bertambah. Dan diharapkan koefisien “h” akan bertambah dengan
bertambahnya NRe. Bilangan Reynolds bergantung pada linear viscosity. Untuk memberikan
harga h yang besar, ketentuan ini tidak digunakan bagi diameter karena diameter sudah
dimasukkan dalam Nusselt (Nu).

Satuan-Satuan yang Tetap ( Consistent Units )

Bila satuan dari kevantitas sesuai untuk salah satu grop yang diberikan di atas ditulis
untuk factor dalam grop ini, di dapat bilangan yang tak berdimensi.
Sebagai contoh :
Dalam bilangan Reynoolds, NRe dimensi, D panjang
U panjang / waktu
massa / panjang

massa / panjang, waktu

Substitusi dimensi-dimensi ini dalam Rumus Reynolds didapat N Re tanpa dimensi. Analog
terhadap grop yang lain, akan dihasilkan juga Bilangan (Angka) tanpa dimensi. Bila kita
menurunkan NRe dengan satuan panjang, te : waktu, second dan massa lb, akan diperoleh hasil
yang sama dengan NRe yang dengan satuan-satuan lain, misal : cm, gr, dan detik.

Koefisien Perpindahan Kalor Menyeluruh

Perhatikan dinding datar seperti pada Gambar . . . (a) dibawah, dimana pada satu
sisinya terdapat fluida panas A, dan pada sisi lainnya fluida B yang lebih dingin. Perpindahan
panas (kalor) dinyatakan oleh :

q = h1 A (TA – T1) = (T1 – T2) = h2 A (T2 – TB)

Gambar. Perpindahan Kalor Menyeluruh Melalui Dinding Datar

Proses perpindahan panas dapat digambarkan dengan jarinya tahanan seperti pada gambar . . .
(b) diatas. Perpindahan panas menyeluruh dihitung dengan membagi suhu menyeluruh
dengan jumlah tahanan termal.
q=

perhatikan bahwa nilai digunakan disini untuk menunjukkan tahanan konveksi. Aliran

panas menyeluruh sebagai hasil gabungan proses konduksi dan konveksibisa dinyatakan
dengan koefisien perpindahan kalor/panas menyeluruh U, yang dirumuskan dalam
hubungan :

q = U A Tmenyeluruh
dimana : A = luas bidang aliran kalor
jadi koefisien perpindahan kalor menyeluruh ialah :

U=

Untuk silinder bolong yang terkena lingkungan konveksi dipermukaan bagian dan
luarnya, analogi tahanan listriknya ialah seperti pada Gambar . . ., dimana disini pun T A dan
TB ialah suhu kedua fluida. Perhatikanlah bahwa dalam hal ini luas bidang konveksi tidak
sama untuk ke dua fluida. Luas bidang ini bergantung kepada diameter dalam dan tebal
dinding. Dalam hal ini perpindahan panas menyeluruh dinyatakan dengan persamaan :

q=

Sesuai jaringan termal yang ditunjukkan Gambar . . . .

Koefisien perpindahan kalor menyeluruh dapat didasarkan atas bidang dalam atau luar
tabung.
Jadi :

Ui =
Ui =

Perhitungan koefisien perpindahan panas konveksi yang akan digunakan dalam koefisien
perpindahan kalor menyeluruh dilakukan dengan metoda yang lebih lengkap dalam Bab. Alat
Penukar Panas.

Contoh 2-1 :
Metal alcohol mengalir dalam pipa bagian dalam dari alat penukar panas double pipe (pipa
ganda) didinginkan dengan air yang mengalir dalam Jacket. Pipa bagian dalam dibuat dari
pipa Schedule 40 (in). Konduktivitas termal pipa (besi) adalah 26 BTU/ft h (45 W/m ).
Koefisien-koefsien individu dan factor-faktor fouling diberikan pada tabel 2-1. Berapakah
koefisien menyeluruh, yang disasarkan atau luas bagian luar dari pipa bagian dalam ??

Penyelesaian :
Diameter dan tebal dinding dari pipa ini Schdule 40, dan efendik 6 adalah :

Di = = 0,0874 ft, Do = = 0,1096 ft, Xw = = 0,0111 ft

Dimana rata-rata logaritma dihitung seperti pada persamaan (Tb – 15), gunakan diameter
sebagai pengganti :

= = =0,0983 ft

Koefisien menyeluruh diperoleh dari persamaan (2-32)

Uo =

= 71,3 BTU/ ft2 h (405 W/m2

KONVEKSI ALAMIAH

Asas konveksi alamiah disekitar pipa panas horizontal jauh lebih rumit dibandingkan
dengan asas disekitar plat panas vertical, tetapi mekanisme prose situ sama saja. Lampiran-
lampiran yang langsung berdampingan dengan bagian bawah dan bagian sisi pipa itu akan
menjadi panas dan naik ke atas. Lapisan-lapisan udara panas yang naik itu, satu lapisan pada
masing-masing sisi pipa lalu memisah dari pada titik tertentu menjelang puncak pipa dan
membentuk dua asas naik terkena pemanasan diantara diantara ke dua asas itu.
Konveksi alamiah pada zat cair juga mengikuti pola seperti itu, karena zat cair panas
tidak serapat zat cair dingin. Gaya apung dari zat cair yang panas didekat dipermukaan panas
itu membangkitkan asas konveksi sebagai mana pada gas.
Berdasarkan pengandaian bahwa h bergantung pada diameter pipa, kalor spesifik,
konduktivitas termal, viscositas, koefisien ekspansi termal, percepatan grafitasi, dan beda
suhu, maka dari analisa dimensi didapatkan :

( , , T)

Oleh karena pengaruh berlangsung melalui gaya apung dalam medan grafitasi, hasil kali g

T bekerja sebagai satu factor tunggal, dan gugus terakhir memadu menjadi gugus tanpa
dimensi yang dinamakan angka Grashof, NGr.
Untuk silinder horizontal, koefisien horizontal dapat dikolerasikan dengan persamaan
yang mengandung gugus tanpa dimensi, yaitu angka Nusselt, angka Prantl, dan angka
Grashof, atau :

( , )

= koefisien ekspansi termal

Sifat-sifat fluida f , f , dan kf dievaluasi pada suhu film pukul rata.


Koefisien ekspansi termal merupakan sifat fluida didefinisikan sebagai fraksi peningkatan
volume fluida pada tekanan konstan per derajat perubahan suhu, atau secara sistematik :

V = volume spesifik fluida

p = laju perubahan volume spesifik dengan suhu pada tekanan tetap

Untuk zat cair, dapat dianggap konstan pada jangkauan suhu tertentu, dan persamaannya :
= volume spesifik rata-rata
dan dapat juga :

a =( )/2

= densitas fluida pada suhu T1

= densitas fluida pada suhu T2

Untuk gas ideal, karena v = , maka :

( )p=
Jadi :

Koefisien ekspansi termal gas ideal sama dengan kebalikan dari suhu absolut.
Perpindahan kalor vertical dan bidang horizontal.
Persamaan perpindahan kalor dalam konveksi alamiah antara fluida dan benda padat yang
mempunyai bentuk geometri terbentuk mempunyai bagian :

b[ k]4
Dimana : b dan h = konstanta
L = tinggi permukaan vertikal atau panjang permukaan
horizontal, ft.

Sifat-sifat diambil pada suhu film pukul rata.


Persamaan di atas dapat juga ditulis :

NNu, f = b [ NGr NPr]nf


Nilai-nilai konstanta b dan n untuk berbagai kondisi diberikan dalam Tabel.

Tabel Nilai Konstanta b dan n


Sistem Jangkauan NGr. Npr B n
Plat vertikal, silinder vertikal 104 - 109 0,59 0,25
109 - 1012 0,13 0,373
Plat horizontal : 0,54
Dipanaskan menghadap ke atas atau 105 - 107 0,14 0,25
didinginkan menghadap ke bawah. 2 107 - 1010 0,27 0,333
Didinginkan menghadap ke atas atau 0,25
dipanaskan menghadap ke bawah. 3 105 - 3 1010
Pengaruh konveksi alamiah terhadap perpindahan kalor kepada fluida dalam aliran laminar
melalui tabung horizontal dapat diperhitungkan dengan mengalikan koefisien hi yang
dihitung dari persamaan :

Atau dari Gambar 12-3 dengan faktor :

n =

Konveksi alamiah dapat juga terjadi dalam tabung vertikal, dan menyebabkan laju
perpindahan kalor meningkat, bila fluida mengalir ke atas sehingga nilai kalornya lebih tinggi
dari yang didapat pada aliran laminar saja. Pengaruh ini lebih nyata lagi pada nilai N Gr antara
10 dan 10.000 dan juga bergantung pada nilai besaran NGr Npr D/L.

1. Sebuahdindingtungkupemanasterdiridaribajatahanapisetebal 250 mm
danbajapenyekatsetebal 125 mm danbatadindingsetebal 250 mm. dindingdalambertemperatur

600 , udara 20 . Hitungpanas yang hilang per m2dan temperature

dindingluardaritungkupemanaskoefisien per panaspenrmukaanluar = 10 W/m2 K.


Konduktivitastermalbatubatatahanapi = 0,1 W/mK. Bata dinding 0,7 W/m K.
radiasidiabaikan, batubatapenyeka t = 0,2 W/m K.

Penyelesaian :
(a) Panas yang hi-lang
RT = + +

RT = ( + + )

RT =( 1,261 m2K/W)

Q = =

= 460 Watt/m2

= 0,46kWatt/m2

(b) Temperaturdindingluartungku

= h ( T4– Tudara )

460 W/m2 = 10 W/m2K


T4 – 293 = 46
T4 = 339 oK = 66
Kesimpulan :

 Panas yang menghilang = = 66

 Temperature dingin = 66

2. Sebuah plat listrikpanasdipertahankanpanasnyapada temperature 550 , dengan

maksuduntukmendidihkansuatu larutan pipa 95 . Larutanituberadadalamsebuah

bejanabesituangberlapis email dengantebaldindingnya 25 mm danteballapisan


email ialah 0,8 mm. Koefisienperpindahanpanasuntuklapisan yang mendidih 5,5
kW/mKdankonduktivitastermalbesituangdanlapisan email masing-masing 50 dan
1,05 W/[Link], dan
perpindahanpanas per m2 per detik.

Penyelesaian :
(a) TahananPerpindahanpanas

Q =

RT =

RT = ( )

RT = 1,444 m2K/kWatt
(b) PerpindahanPanas per m2 per detik

= 177 kWatt = 177 kJoule

Kesimpulan :
 Besarnyatahananperpindahanpanas (RTA) = 1,44 m2K

 Besarnyaperindahanpanas ( ) = 177 kJoule

3. Hitungkembalisoal No. 2 perpindahanpanas per m2perdetikjikadasardari


padabejanabesituangtidakdatarsempurna, dantahananpaduanselaput udaraialah 35
K/kWatt.
Penyelesaian :
RT1 = R1 + Rpaduan
= (1,44 + 35) K/kWatt
RT = 36,22 K/kWatt

= = 6,999 kJoule = 7 kJoule

4. Dinding sebuah rumahterdiri dari 2 lapis batu bata berongga dengan tebal 125 mm.
Dinding dalam diplester setebal 10 mm,dan direkat oleh semen dengan dinding luar
setebal 5 [Link] satu kamar rumah tersebut dinding luarnya dengan ukuran
:panjang 4 meter dan tingginya 2,5 meter. Pada dinding tersebut terdapat sebuah
jendela kaca dengan ukuran panjang 1,8 meter dan lebarnya 1,2 meter dengan tebal
kacanya 1,5 mm. Koefisien perpindahan panas untuk permukaan dalam dan luar
dinding dan jendela ialah masing-masing adalah 8,5dan 31 W/m2 K. Konduktivitas
thermal untuk batu bata, plester dan semen dan kaca 0,43; 0,14; 0,86; 0,76 W/m K.
Hitunglah perbandingan perpindahan panas total yang berkenaan denganpanas yang
hilang lewat jendela. Misalnya tahanan udara dalam rongga ialah 0,16 m2 K/W.
Abaikan segala effek akhir dan effek radiasi.

Penyelesaian:
Ajendela = 1,8 m 1,2 m = 2,16 m2

ADinding = (4 2,5) m2 – 2,16 m2 = 3,84 m2

 DINDING :

Q =

RT =

=( 0,16)

= 0,7235oK/W

= 8,095 W/oK

 JENDELA :
RT =

=( )

RT = 0,0703

= 14,225

Jumlah total dari = 14,225 + 8,095 = 22,32

PERBANDINGAN JENDELA DENGAN TOTALNYA ADALAH

100 % = 63,73 %

5. Air yang panasnya 80 mengalir melalui sebuah pipa baja berlubang dengan tebal 6

mm dan temperature udara ialah 15 . Hitunglahpanas yang hilang per meter

sepanjangpipa. Konduktivitas thermal daripipabajatersebutadalah 48 W/m K dan


koefisienperpindahanpanas di dalamdan di luarmasing-masingadalah 2800 dan 17
W/m2 K. Radiasidiabaikan.

Penyelesaian :
Dari bahankuliah :CiptoUtomoLampiran II Halaman 145
Untukpipa schedule 80 diperoleh( untuktebal 6 mm)
Di = 52,34 mm Do = 64,27 mm
ri = 26,17 mm ro = 32,135 mm

Q=

RT =

= 0,294

= 220,84 Watt
= 0,221 kWatt 0,213

Kesimpulan :
Panas yang hilangsebesar = 0,221 kWatt

6. Sebuahpipaledenguap air dengangaristengah (sampaidindingluarpipamengandunguap


air jenuhdengantekanan 28 atmosfirdengansekatdalam suatu lapisantanah di
atomeasetebal 48 mm danlapisanluar 85% magnesia setebal 25 mm.
Hitunglahpanas yang hilang per meter
sepanjangpipatersebutdantemperaturpermukaanluardaripadakelambatan, jika

temperature kamaradalah 20 . Tahanan thermal pipa diabaikan.

Misalnyapermukaandalampipasamadengan temperature uap air tersebut,


danambillahkoefisienperpindahanpanasbagipermukaanluardaripembungkuspipasebesar
17 W/m2 K. Konduktivitas thermal daritanahdiatomeadan 85 % magnesia masing-
masingadalah 0,9 dan 0,06 W/m K. Radiasidiabaikan.

Penyelesaian:
 Diasumsi : D1 = 0,0207 meter
 Dari lampiran 8 McCabediperolehTuapjenuh= 230,73
( pada P =411,6 psia)
 Tudara = 10
 kdialog = 0,9 W/mK x = 4,8 mm
 k = 0,06 W/mK x = 25 mm
(A) Panas yang hilang
D1 = 0,0207 m
D2 = (0,0207 + 3 (0,048) = 0,1167 m
D3 = (0,1167 + 2 (0,025) = 0,1667 m

Q =

Q =

RT =

RT = 1,365

Q =

Q = 154,4 Watt
Q = 0,154 kWatt
(B) TemperaturPermukaan
Q = 154,4 Watt

Q =

(Tperp– 20) = (0,112) (154,4)


Tperp = 17,35 + 20
Temp = 37,35

Kesimpulan:
 Panas yang hilangsebesar = 0,154 kWatt
 Temperaturpermukaan = 37,35

7. Sebuahbejana bola dengangaristengahdalam 1 meter dibuatdari plat baja dengan


tebal 20 mm. Bejanaitudibungkusdengan vermiculate setebal 2,5 mm di tahanoleh
asbestos setebel 10 mm. Hitunglahpanas yang hilangdari bola tersebutjikapanas

permukaandalamnyaadalah 500 dan temperaturnya adalah 20 W/m 2 K dan

konduktivitas thermal baja, vermiculate asbestos masing-masingadalah 48; 0,047 dan


0,21 W/m K. Radiasidiabaikan.

Penyelesaian:

D1 = 1 meter
D2 = ( 1 + 2(0,02) = 0,04 meter
D3 = ( 1,04 + 2 (0,025)) = 1,09 meter
D4 = 91,09 + 2( 0,01 ) = 1,11 meter
Untuk Bola

Q=

Dimana : R =
RT =

RT = 0,55 K/Watt

Q= =

Q = 2740 Watt
Q = 2,74kWatt
Kesimpulan :
Panas yang hilangsebesar = 2,74 kWatt

M SOAL-SOAL HEAT TRANSFER

1. Sebuah dinding tungku pemanas terdiri dari bata tahan api setebal 250 mm dan bata
penyekat setebal 125 mm dan bata dinding setebal 250 mm. Dinding dalam bertemperatur

600 dan temperature udara adalah 20 . Hitunglah panas yang hilang per m2 luas

dinding dan temperature dinding luar daripada tungku pemanas tersebut. Koefisien
perpindahan panas untuk permukaan luar adalah 10 W/m 2 K. Konduktivitas thermal batu
bata tahan api itu ialah 1,4 W/m K. Konduktivitas thermal batu bata dinding ialah 0,7

W/m K. Radiasi diabaikan. (Jawab : 0,46 k W/m2. 66 ).\

2. Sebuah plat listrik panas dipertahankan panasnya pada temperature 550 , dengan

maksud untuk mendidihkan suatu larutan pipa 95 . Larutan itu berada dalam sebuah

bejana besi tuang berlapis email dengan tebal dindingnya 25 mm dan tebal lapisan email
ialah 0,8 mm. Koefisien perpindahan panas untuk lapisan yang mendidih 5,5 kW/m K dan
konduktivitas termal besi tuang dan lapisan email masing-masing 50 dan 1,05 W/m K.
Hitunglah tahanan terhadap perpindahan panas untuk satuan luas, dan perpindahan panas
per m2 per detik. (jawab : 1,44 W/m2 K; 175,5 kJ).

3. Hitung kembali soal No. 2 perpindahan panas per m2 perdetik jika dasar dari pada
bejana besi tuang tidak datar sempurna, dan tahanan paduan selaput udara ialah 35
K/kWatt. (jawab: 7 kJ).
4. Dinding sebuah rumah terdiri dari 2 lapis batu bata berongga dengan tebal 125 mm.
Dinding dalam diplester setebal 10 mm, dan direkat oleh semen dengan dinding luar
setebal 5 mm. Salah satu kamar rumah tersebut dinding luarnya dengan ukuran: panjang 4
meter dan tingginya 2,5 meter. Pada dinding tersebut terdapat sebuah jendela kaca dengan
ukuran panjang 1,8 meter dan lebarnya 1,2 meter dengan tebal kacanya 1,5 mm.
Koefisien perpindahan panas untuk permukaan dalam dan luar dinding dan jendela ialah
masing-masing adalah 8,5 dan 31 W/m2 K. Konduktivitas thermal untuk batu bata, plester
dan semen dan kaca 0,43; 0,14; 0,86; 0,76 W/m K. Hitunglah perbandingan perpindahan
panas total yang berkenaan dengan panas yang hilang lewat jendela. Misalnya tahanan
udara dalam rongga ialah 0,16 m2 K/W. Abaikan segala effek akhir dan effek radiasi.
(jawab : 63,8 %).

5. Air yang panasnya 80 mengalir melalui sebuah pipa baja berlubang dengan tebal 6

mm dan temperature udara ialah 15 . Hitunglah panas yang hilang per meter sepanjang

pipa. Konduktivitas thermal dari pipa baja tersebut adalah 48 W/m K dan koefisien
perpindahan panas di dalam dan di luar masing-masing adalah 2800 dan 17 W/m 2 K.
Radiasi diabaikan. (Jawab : 0,213 kW)

6. Hitunglah presentase reduksi yang hilang dari pipa dalm soal no. 5 jika suatu lapisan
rambut tebal setebal 12 mm, dan konduktivitas thermal 0,03 W/m K, membungkus
permukaan luarnya. Misalnya koefisien perpindahan panas untuk permukaan luar tetap
tidak berubah. (Jawab : 86,2 %)

7. Sebuah pipa ledeng uap air dengan garis tengah (sampai dinding luar pipa mengandung
uap air jenuh dengan tekanan 28 atmosfir dengan sekat dalam suatu lapisan tanah di
atomea setebal 48 mm dan lapisan luar 85% magnesia setebal 25 mm. Hitunglah panas
yang hilang per meter sepanjang pipa tersebut dan temperatur permukaan luar daripada

kelambatan, jika temperature kamar adalah 20 . Tahanan thermal pipa diabaikan.

Misalnya permukaan dalam pipa sama dengan temperature uap air tersebut, dan
ambillah koefisien perpindahan panas bagi permukaan luar dari pembungkus pipa
sebesar 17 W/m2 K. Konduktivitas thermal dari tanah diatomea dan 85 % magnesia
masing-masing adalah 0,9 dan 0,06 W/m K. Radiasi diabaikan. (Jawab : 0,157 kW; 30,5

8. Sebuah bejana bola dengan garis tengah dalam 1 meter dibuat dari plat baja dengan
tebal 20 mm. Bejana itu dibungkus dengan vermiculate setebal 2,5 mm di tahan oleh
asbestos setebel 10 mm. Hitunglah panas yang hilang dari bola tersebut jika panas

permukaan dalamnya adalah 500 dan temperaturnya adalah 20 W/m2 K dan

konduktivitas thermal baja, vermiculate asbestos masing-masing adalah 48; 0,047 dan 0,21
W/m K. Radiasi diabaikan. (Jawab : 2,74 kW)

9. Sebuah pipa pembuangan gas dengan garis tengah luar didinginkan dalam sebuah
ruangan yang berisi air. Gas pembuangan tersebut memasuki pipa pembuangan dengan

temperature 350 , dan air yang masuk dari pipa ledeng bertemperatur 10 . Koefisien

perpindahan panas gas dan air yang diambil masing-masing adalah o.3 dan 1,5 kW/m 2 K.

Sedang tebal pipa diabaikan. Gas itu diharapkan mendingin pada temperatur 100 dan

panas jenis rata-rata pada tekanan konstan adalah 1,13 k J/ kg K. aliran gas adalah
200 kg/h dan laju air yang mengalir adalah 1400 kg/h. Hitunglah panjang pipa yang
dibutuhkan:
a. Untuk aliran paralel.
b. Untuk aliran yang berlawanan,
Panas jenis air adalah 4,19 kJ/kg K. (Jawab : 1,485 m; 1438 m).

10. Dalam sebuah pabrik kimia suatu larutan dengan kecepatan 1100kg/m3 dan panas jenis

4,6 kJ/kg K. Akan dipanaskan dari 65 menjadi 100 . Aliran larutan yang dimaksudkan

ialah 11,8 kg/s. Dibutuhkan untuk mempergunakan sebuah pipa pengubah panas, larutan
itu mengalir pada kira-kira 1,2 m/s dalam 25 mm pipa besi dan dipanaskan dengan uap

air jenuh pada temperatur 115 , panjang pipa tidak boleh melebihi 3,5 m. Perkirakanlah

bilangan pipa-pipa yang diinginkan dan bilangan pipa-pipa yang lewat yang dikehendaki.
Diketahui koefisien perpindahan panas dalam dan luar masing-masing ialah 5 dan 10
kW/m2 K. Tahanan thermal pipa diabaikan. (Jawab : 18; 4)
11. Sebuah mesin minyak menghasilkan 300 kW, dan pemakaian bahan bakar spesifik 0, 21
kg/k W h. Gas buang dari mesin tersebut dipergunakan untuk pemanas air, mengalir
melalui sebuah pipa dengan garis tengah 25mm, masuk dengan kecepatan 12 m/s pada

temperature 340o dan pada saat keluar temperaturnya 90 . Air yang masuk pemanas itu

bertemperatur 10 dan saat keluarnya bertemperatur 90 , mengalir dalam aliran yang

berlawanan ke arah gas yang panas.

Anda mungkin juga menyukai