MAKALAH
BANGUNAN PERSUNGAIAN UTAMA
(BENDUNG)
OLEH KELOMPOK 2 :
Ramdhani Rahman
0723 1611 011
Sumaya Hamdan
0723 1611 009
Rialdi Mutalib
0723 1611 008
Krisna A Umasangadji
0723 1611 007
Julham Adingku
0723 1711 138
PROGRAM STDUI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya
sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Dalam makalah ini saya membahas tentang
Bendung.
Makalah ini dibuat untuk memperdalam pengetahuan tentang bangunan utama
sungai, khususnya Bendung dan sekaligus sebagai tugas yang harus dipenuhi oleh
mahasiswa dalam mata kuliah Perancangan Bangunan Air.
Kami menyadari sungguh bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
sebab itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna
penyempurnaan makalah ini.
Demikian makalah ini dibuat, semoga bermanfaat.
Ternate, Mei 2019
Kelompok 2
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................ii
BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................................1
1.1. Latar Belakang ..................................................................................................1
1.2. Tujuan Penulisan...............................................................................................1
1.3. Permasalahan ...................................................................................................2
1.4. Manfaat Penulisan.............................................................................................2
BAB II. PEMBAHASAN...................................................................................................3
2.1. Pengertian Bendung..........................................................................................3
2.2. Jenis-Jenis Bendung .........................................................................................3
2.3. Pemilihan Lokasi Bendung ................................................................................4
2.4. Bagian-Bagian Bendung....................................................................................5
2.5. Tipe-Tipe Mercu Bendung .................................................................................11
2.6. Pemilihan Bendung ...........................................................................................12
2.7. Perencanaan Tubuh Bendung...........................................................................12
2.8. Stabilitas Bendung.............................................................................................17
BAB III. PENUTUP .........................................................................................................18
3.1. Kesimpulan........................................................................................................18
3.2. Saran.................................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hampir di setiap wilayah Indonesia terdapat banyak sungai besar maupun kecil yang
menguasai hampir 80% hajat hidup masyarakat Indonesia, terutama petani sebagai basis
dasar negara Agraris. Kebutuhan akan ketersediaan air pada suatu daerah sangatlah perlu
diperhatikan dikarenakan air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang tidak
bisa dipisahkan dari kehidupannya. Indonesia merupakan daerah yang memiliki dua
musim yakni musim kemarau dan musim penghujan. Sehingga perlu dikembangkan
potensi - potensi sungai tersebut guna meningkatkan hasil produksi pertanian, salah
satunya dengan membangun bendung.
Bendung adalah suatu bangunan yang dibuat dari pasangan batu kali, bronjong atau
beton, yang terletak melintang pada sebuah sungai yang tentu saja bangunan ini dapat
digunakan pula untuk kepentingan lain selain irigasi, seperti untuk keperluan air minum,
pembangkit listrik atau untuk penggelontoran suatu kota. Menurut macamnya bendung
dibagi dua, yaitu bendung tetap dan bendung sementara, bendung tetap adalah bangunan
yang sebagian besar konstruksi terdiri dari pintu yang dapat digerakkan untuk mengatur
ketinggian muka air sungai sedangkan bendung tidak tetap adalah bangunan yang
dipergunakan untuk meninggikan muka air di sungai, sampai pada ketinggian yang
diperlukan agar air dapat dialirkan ke saluran irigasi dan petak tersier.
Bendung sebagai salah satu contoh bangunan air mencakup hampir keseluruhan
aspek bidang ketekniksipilan, yaitu struktur, air, tanah, geoteknik, dan manajemen
konstruksi didalam perencanaan teknis strukturnya. Untuk mendapatkan struktur bendung
yang tepat perlu dilakukan analisis dan perhitungan yang detail dan menyeluruh, hal ini
dikarenakan adanya hubungan saling ketergantungan dari banyak aspek dalam
pelaksanaannya.
1.2. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberi gambaran tentang bendung serta
bagian-bagiannya dan fungsinya di dalam kehidupan manusia.
1
2
1.3. Permasalahan
Adapun permasalahan yang diangkat pada makalah ini yaitu apa itu bendung, bagian-
bagiannya serta fungsinya dalam kehidupan manusia?
1.4. Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kalangan akademik (teoritis)
untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai bendung serta syarat-syarat
perencanaannya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Bendung
Bendung adalah bangunan melintang sungai yang berfungsi untuk meninggikan muka
air sungai agar bisa disadap. Bendung merupakan salah satu bagian dari bangunan
utama.
Bangunan Utama adalah bangunan air (hydraulic structure) yang terdiri dari bagian-
bagian: bendung (weir structure), bangunan pengelak (diversion structure), bangunan
pengambilan (intake structure), bangunan pembilas (flushing structure) dan bangunan
kantong lumpur (sediment trap structure).
Fungsi utama dari bangunan utama/bendung adalah untuk meninggikan elevasi muka
air dari sungai yang dibendung sehingga air bisa disadap dan dialirkan ke saluran lewat
bangunan pengambilan (intake structure).
2.2. Jenis-Jenis Bendung
2.1. Bendung tetap (fixed weir, uncontrolled weir)
Bendung tetap adalah jenis bendung yang tinggi pembendungannya tidak dapat
diubah, sehingga muka air di hulu bendung tidak dapat diatur sesuai yang dikehendaki.
Pada bendung tetap, elevasi muka air di hulu bendung berubah sesuai dengan debit
sungai yang sedang melimpas (muka air tidak bisa diatur naik ataupun turun). Bendung
tetap biasanya dibangun pada daerah hulu sungai. Pada daerah hulu sungai kebanyakan
tebing-tebing sungai relative lebih curam dari pada di daerah hilir. Pada saat kondisi
banjir, maka elevasi muka air di bendung tetap (fixed weir) yang dibangun di daerah hulu
tidak meluber kemana-mana (tidak membanjiri daerah yang luas) karena terkurung oleh
tebing-tebingya yang curam.
2.2. Bendung gerak/bendung berpintu (gated weir, barrage)
Bendung gerak adalah jenis bendung yang tinggi pembendungannya dapat diubah
sesuai dengan yang dikehendaki.
3
4
Pada bendung gerak, elevasi muka air di hulu bendung dapat dikendalikan naik atau
turun sesuai yang dikehendaki dengan membuka atau menutup pintu air (gate). Bendung
gerak biasanya dibangun pada daerah hilir sungai atau muara. Pada daerah hilir sungai
atau muara sungai kebanyakan tebing-tebing sungai relative lebih landai atau datar dari
pada di daerah hulu. Pada saat kondisi banjir, maka elevasi muka air sisi hulu bendung
gerak yang dibangun di daerah hilir bisa diturunkan dengan membuka pintu-pintu air
(gate) sehingga air tidak meluber kemana-mana (tidak membanjiri daerah yang luas)
karena air akan mengalir lewat pintu yang telah terbuka kea rah hilir (downstream).
2.3. Pemilihan Lokasi Bendung
Dalam pemilihan lokasi bendung hendaknya dipilih lokasi yang paling menguntungkan
dari beberapa segi. Misalnya dilihat dari segi perencanaan, pengamanan bendung,
pelksanaan, pengoperasian, dampak pembangunan dan sebagainya. Dari beberapa
pengalaman dalam memilih lokasi bendung, tidak semua persyaratan yang dibutuhkan
dapat terpenuhi. Sehingga lokasi bendung ditetapkan pada persyaratan yang dominan.
Pemilihan lokasi bendung didasarkan pada beberapa faktor, yaitu :
a) Keadaan Topografi Pertanian
Dalam hal ini semua rencana daerah irigasi dapat terairi, sehingga harus dilihat
elevasi sawah tertinggi yang akan diari;
Bila elevasi sawah tertinggi yang akan diairi telah diketahui maka elevasi mercu
bendung dapat ditetapkan;
Dari kedua hal di atas, lokasi bendung dilihat dari segi topografi dapat diseleksi.
b) Keadaan Hidrologi
Dalam pembuatan bendung, yang patut diperhitungkan juga adalah faktor –
faktor hidrologinya, karena menentukan lebar dan panjang bendung serta tinggi
bendung tergantung pada debit rencana. Faktor – faktor yang diperhitungkan,
yaitu masalah banjir rencana, perhitungan debit rencana, curah hujan efektif,
distribusi curah hujan, unit hidrograf, dan banjir di site atau bendung.
c) Kondisi Topografi
Dilihat dari lokasi, bendung harus memperhatikan beberapa aspek, yaitu :
5
Ketinggian bendung tidak terlalu tinggi; bila bendung dibangun di palung
sungai, maka sebaiknya ketinggian bendung dari dasar sungai tidak lebih dari
tujuh meter, sehingga tidak menyulitkan pelaksanaannya.
Trase saluran induk terletak di tempat yang baik; misalnya penggaliannya tidak
terlalu dalam dan tanggul tidak terlalu tinggi – untuk tidak menyulitkan
pelaksanaan, penggalian saluran induk dibatasi sampai dengan kedalaman
delapan meter.
Penempatan lokasi intake yang tepat dilihat dari segi hidraulik dan angkutan
sedimen; sehingga aliran ke intake tidak mengalami gangguan dan angkutan
sedimen yang akan masuk ke intake juga dapat dihindari.
d) Kondisi Hidraulik dan Morfologi
Pola aliran sungai meliputi kecepatan dan arahnya pada waktu debit banjir,
sedang dan kecil;
Kedalaman dan lebar muka air pada waktu debit banjir, sedang dan kecil;
Tinggi muka air pada debit banjir rencana;
Potensi dan distribusi angkutan sedimen.
e) Kondisi Tanah Pondasi
Bendung harus ditempatkan di lokasi dimana tanah pondasinya cukup baik
sehingga bangunan akan stabil. Faktor lain yang harus dipertimbangkan pula
yaitu potensi kegempaan dan potensi gerusan karena arus dan sebagainya.
f) Biaya Pelaksanaan
Biaya pelaksanaan pembangunan bendung juga menjadi salah satu faktor
penentu pemilihan lokasi pembangunan bendung. Dari beberapa alternatif
lokasi ditinjau pula dari segi biaya yang paling murah dan pelaksanaan yang
tidak terlalu sulit.
2.4. Bagian-Bagian Bendung
A. Tubuh Bendung (Weir)
Tubuh bendung merupakan struktur utama yang berfungsi untuk membendung laju
aliran sungai dan menaikkan tinggi muka air sungai dari elevasi awal. Bagian ini
biasanya terbuat dari urugan tanah, pasangan batu kali, dan bronjong atau beton. Tubuh
6
bendung umumnya dibuat melintang pada aliran sungai. Tubuh bendung merupakan
bagian yang selalu atau boleh dilewati air baik dalam keadaan normal maupun air banjir.
Tubuh bendung harus aman terhadap tekanan air, tekanan akibat perubahan debit yang
mendadak, tekanan gempa,dan akibat berat sendiri.
Gambar 1. Tubuh Bendung (Weir)
B. Pintu Air (Gates)
Pintu air merupakan struktur dari bendung yang berfungsi untuk mengatur, membuka,
dan menutup aliran air di saluran baik yang terbuka maupun tertutup. Bagian yang
penting dari pintu air, yaitu:
Daun Pintu (Gate Leaf)
Adalah bagian dari pintu air yang menahan tekanan air dan dapat digerakkan
untuk membuka, mengatur, dan menutup aliran air.
Rangka pengatur arah gerakan (guide frame)
Adalah alur dari baja atau besi yang dipasang masuk ke dalam beton yang
digunakan untuk menjaga agar gerakan dari daun pintu sesuai dengan yang
direncanakan.
Angker (anchorage)
Adalah baja atau besi yang ditanam di dalam beton dan digunakan untuk
menahan rangka pengatur arah gerakan agar dapat memindahkan muatan dari
pintu air ke dalam konstruksi beton.
7
Hoist
Adalah alat untuk menggerakkan daun pintu air agar dapat dibuka dan ditutup
dengan mudah.
C. Pintu Pengambilan (Intake)
Pintu pengambilan berfungsi mengatur banyaknya air yang masuk saluran dan
mencegah masuknya benda-benda padat dan kasar ke dalam saluran. Pada bendung,
tempat pengambilan bisa terdiri dari dua buah, yaitu kanan dan kiri, dan bisa juga hanya
sebuah, tergantung dari letak daerah yang akan diairi. Bila tempat pengambilan dua
buah, menuntut adanya bangunan penguras dua buah pula. Kadang-kadang bila salah
satu pintu pengambilam debitnya kecil, maka pengambilannya lewat gorong-gorong yang
di buat pada tubuh bendung. Hal ini akan menyebabkan tidak perlu membuat dua
bangunan penguras dan cukup satu saja.
D. Pintu Penguras
Penguras ini bisanya berada pada sebelah kiri atau sebelah kanan bendung dan
kadang-kadang ada pada kiri dan kanan bendung. Hal ini disebabkan letak daripada
pintu pengambilan. Bila pintu pengambilan terletak pada sebelah kiri bendung, maka
penguras pun terletak pada sebelah kiri pula. Bila pintu pengambilan terletak pada
sebelah kanan bendung, maka penguras pun terletak pada sebelah kanan pula.
Sekalipun kadang-kadang pintu pengambilan ada dua buah, mungkin saja bangunan
penguras cukup satu hal ini terjadi bila salah satu pintu pengambilan lewat tubuh
bendung. Pintu penguras ini terletak antara dinding tegak sebelah kiri atau kanan
bendung dengan pilar, atau antara pilar dengan pilar. Lebar pilar antara 1,00 sampai 2,50
meter tergantung konstruksi apa yang dipakai. Pintu penguras ini berfungsi untuk
menguras bahan-bahan endapan yang ada pada sebelah udik pintu tersebut. Untuk
membilas kandungan sedimen dan agar pintu tidak tersumbat, pintu tersebut akan
dibuka setiap harinya selama kurang lebih 60 menit. Bila ada benda-benda hanyut
mengganggu eksploitasi pintu penguras, sebaiknya dipertimbangkan untuk membuat
pintu menjadi dua bagian, sehingga bagian atas dapat diturunkan dan benda-benda
hanyut dapat lewat diatasnya.
8
Gambar 2. Pintu Penguras
Gambar 3. Pintu Penguras 2
E. Kolam Peredam Energi
Bila sebuah konstruksi bendung dibangun pada aliran sungai baik pada palung
maupun pada sodetan, maka pada sebelah hilir bendung akan terjadi loncatan air.
Kecepatan pada daerah itu masih tinggi, hal ini akan menimbulkan gerusan setempat
(local scauring). Untuk meredam kecepatan yang tinggi itu, dibuat suatu konstruksi
peredam energi. Bentuk hidrolisnya adalah merupakan suatu bentuk pertemuan antara
penampang miring, penampang lengkung, dan penampang lurus. Secara garis besar
konstruksi peredam energi dibagi menjadi 4 (empat) tipe, yaitu :
9
Ruang Olak Tipe Vlughter
Ruang olak ini dipakai pada tanah aluvial dengan aliran sungai tidak membawa
batuan besar. Bentuk hidrolis kolam ini akan dipengaruhi oleh tinggi energi di hulu
di atas mercu dan perbedaan energi di hulu dengan muka air banjir hilir.
Ruang Olak Tipe Schoklitsch
Peredam tipe ini mempunyai bentuk hidrolis yang sama sifatnya dengan peredam
energi tipe Vlughter. Berdasarkan percobaan, bentuk hidrolis kolam peredam
energi ini dipengaruhi oleh faktor-faktor, yaitu tinggi energi di atas mercu dan
perbedaan tinggi energi di hulu dengan muka air banjir di hilir.
Ruang Olak Tipe Bucket
Kolam peredam energi ini terdiri dari tiga tipe, yaitu solid bucket, slotted rooler
bucket atau dentated roller bucket, dan sky jump. Ketiga tipe ini mempunyai
bentuk hampir sama dengan tipe Vlughter, namun perbedaanya sedikit pada ujung
ruang olakan. Umumnya peredam ini digunakan bilamana sungai membawa
batuan sebesar kelapa (boulder). Untuk menghindarkan kerusakan lantai belakang
maka dibuat lantai yang melengkung sehingga bilamana ada batuan yang terbawa
akan melanting ke arah hilirnya.
Ruang Olak Tipe USBR
Tipe ini biasanya dipakai untuk head drop yang lebih tinggi dari 10 meter. Ruang
olakan ini memiliki berbagai variasi dan yang terpenting ada empat tipe yang
dibedakan oleh rezim hidraulik aliran dan konstruksinya. Tipe-tipe tersebut, yaitu
ruang olakan tipe USBR I merupakan ruang olakan datar dimana peredaman
terjadi akibat benturan langsung dari aliran dengan permukaan dasar kolam, ruang
olakan tipe USBR II merupakan ruang olakan yang memiliki blok-blok saluran
tajam (gigi pemencar) di ujung hulu dan di dekat ujung hilir (end sill) dan tipe ini
cocok untuk aliran dengan tekanan hidrostatis lebih besar dari 60 m, ruang olakan
tipe USBR III merupakan ruang olakan yang memiliki gigi pemencar di ujung hulu,
pada dasar ruang olak dibuat gigi penghadang aliran, di ujung hilir dibuat perata
aliran, dan tipe ini cocok untuk mengalirkan air dengan tekanan hidrostatis rendah,
dan ruang olakan tipe USBR VI merupakan ruang olakan yang dipasang gigi
pemencar di ujung hulu, di ujung hilir dibuat perata aliran, cocok untuk
10
mengalirkan air dengan tekanan hidrostatis rendah, dan Bilangan Froud antara 2,5
- 4,5.
Ruang Olak Tipe The SAF Stilling Basin (SAF = Saint Anthony Falls)
Ruang olakan tipe ini memiliki bentuk trapesium yang berbeda dengan bentuk
ruang olakan lain dimana ruang olakan lain berbentuk melebar. Bentuk hidrolis tipe
ini mensyaratkan Fr (Bilangan Froude) berkisar antara 1,7 sampai dengan 17.
Pada pembuatan kolam ini dapat diperhatikan bahwa panjang kolam dan tinggi
loncatan dapat di reduksi sekitar 80% dari seluruh perlengkapan. Kolam ini akan
lebih pendek dan lebih ekonomis akan tetapi mempunyai beberapa kelemahan,
yaitu faktor keselamatan rendah (Open Channel Hidraulics, [Link] : 417-420)
F. Kantong Lumpur
Kantong lumpur berfungsi untuk mengendapkan fraksi-fraksi sedimen yang lebih
besar dari fraksi pasir halus ( 0,06 s/d 0,07mm ) dan biasanya ditempatkan persis
disebelah hilir bangunan pengambilan. Bahan-bahan yang telah mengendap dalam
kantung lumpur kemudian dibersihkan secara berkala melalui saluran pembilas kantong
lumpur dengan aliran yang deras untuk menghanyutkan endapan-endapan itu ke sungai
sebelah hilir.
G. Bangunan Pelengkap
Terdiri dari bangunan-bangunan atau pelengkap yang akan ditambahkan ke
bangunan utama untuk keperluan :
Pengukuran debit dan muka air di sungai maupun di saluran sungai.
Pengoperasian pintu.
Peralatan komunikasi, tempat berteduh serta perumahan untuk tenaga eksploitasi
dan pemeliharaan.
Jembatan diatas bendung agar seluruh bagian bangunan utama mudah dijangkau
atau agar bagian-bagian itu terbuka untuk umum.
11
Gambar 4. Jembatan di atas Bendung
2.5. Tipe-Tipe Mercu Bendung
A. Tipe Mercu Bulat
Untuk bendung dengan mercu bulat memiliki harga koefisien debit yang jauh lebih
tinggi (44%) dibandingkan koefisien bendung ambang lebar. Pada sungai – sungai, type
ini banyak memberikan keuntungan karena akan mengurangi tinggi muka air hulu selama
banjir. Harga koefisien debit menjadi lebih tinggi karena lengkung stream line dan
tekanan negatif pada mercu. Untuk bendung dengan 2 jari – jari hilir akan digunakan
untuk menemukan harga koefisien debit.
B. Tipe Mercu Ogee
Bentuk mercu type Ogee ini adalah tirai luapan bawah dari bendung ambang tajam
aerasi. Sehingga mercu ini tidak akan memberikan tekanan sub atmosfer pada
permukaan mercu sewaktu bendung mengalirkan air pada debit rencananya. Untuk
bagian hulu mercu bervariasi sesuai dengan kemiringan permukaan hilir. Salah satu
alasan dalam perencanaan digunakan Tipe Ogee adalah karena tanah disepanjang
kolam olak, tanah berada dalam keadaan baik, maka tipe mercu yang cocok adalah tipe
mercu ogee karena memerlukan lantai muka untuk menahan penggerusan, digunakan
tumpukan batu sepanjang kolam olak sehingga dapat lebih hemat.
12
C. Tipe Mercu Vlughter
Tipe ini digunakan pada tanah dasar aluvial dengan kondisi sungai tidak membawa
batuan-batuan besar. Tipe ini banyak dipakai di Indonesia.
D. Tipe Mercu Schoklitsch
Tipe ini merupakan modifikasi dari tipe Vlughter terlalu besar yang mengakibatkan
galian atau koperan yang sangat besar.
2.6. Pemilihan Tipe Bendung
Pemilihan tipe bendung ( bendung tetap ataupun bendung gerak) didasarkan pada
pengaruh air balik akibat pembendungan (back water). Jika pengaruh air balik akibat
pembendungan tersebut berdampak pada daerah yang luas maka bendung gerak
(bendung berpintu) merupakan pilihan yang tepat.
Jika pengaruh air balik akibat pembendungan tersebut berdampak pada daerah yang
tidak terlalu luas (misal di daerah hulu ) maka bendung tetap merupakan pilihan yang
tepat.
Jika sungai mengangkut batu-batuan bongkahan pada saat banjir, maka peredam
energi yang sesuai adalah tipe bak tenggelam. Bagian hulu muka pelimpah direncanakan
mempunyai kemiringan untuk mengantisipasi agar batu-batu bongkah dapat terangkut
lewat di atas pelimpah. Jika sungai tidak mengangkut batu-batuan bongkahan pada saat
banjir, maka peredam energi yang sesuai adalah tipe kolam olakan (stilling basin).
2.7. Perencanaan Tubuh Bendung
Bangunan tubuh bendung (weir) terdiri dari: pelimpah (spilway), peredam energi
(energy dissipator), pondasi bendung dan lantai hulu bendung.
a. Pelimpah (spilway).
Pelimpah berfungsi untuk menaikkan elevasi muka air. Elevasi puncak pelimpah
direncanakan berdasarkan banyak hal antara lain : elevasi muka air rencana di
bangunan bagi paling hulu, kehilangan tinggi energi pada alat ukur, kehilangan tinggi
energi pada pengambilan saluran primer, kehilangan tinggi energi pada pengambilan,
13
faktor keamanan dan kemiringan saluran antara bangunan intake dengan bangunan bagi
paling hulu.
Ada beberapa macam profil pelimpah antara lain : pelimpah profil bulat, pelimpah
profil Bazin, pelimpah profil Modified Creager, pelimpah menurut standard WES
(Waterways Experiment Station) serta banyak lagi bentuk profil lainnya.
b. Menentukan Tinggi Muka Air Maksimum Pada Sungai
Dalam menentukan tinggi muka air maksimum pada sungai dipengaruhi oleh:
Kemiringan dasar sungai ( I );
Lebar dasar sungai (b);
Debit maksimum (Qd).
c. Menentukan Tinggi Mercu Bendung
Tinggi mercu bendung dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu
Elevasi sawah bagian hilir tertinggi dan terjauh;
Elevasi kedalaman air di sawah;
Kehilangan tekanan dari saluran tersier ke sawah;
Kehilangan tekanan dari saluran sekunder ke saluran tersier;
Kehilangan tekanan dari saluran primer ke saluran sekunder;
Kehilangan tekanan karena kemiringan saluran;
Kehilangan tekanan di alat – alat ukur;
Kehilangan tekanan dari sungai ke saluran primer;
Persediaan tekanan untuk eksploitasi;
Persediaan untuk bangunan lain.
Tinggi mercu bendung, p, yaitu ketinggian antara elevasi lantai udik atau dasar sungai
di udik bendung dan elevasi mercu. Dalam menentukan tinggi mercu bendung maka
harus dipertimbangkan terhadap :
Kebutuhan penyadapan untuk memperoleh debit dan tinggi tekan;
Kebutuhan tinggi energi untuk pembilasan;
Tinggi muka air genangan yang akan terjadi;
14
Kesempurnaan aliran pada bendung;
Kebutuhan pengendalian angkutan sedimen yang terjadi di bendung;
Tinggi mercu bendung, dianjurkan tidak lebih dari 4,00 meter dan minimum 0,5 H
(H = tinggi energi di atas mercu).
Tinggi mercu bendung (p) dianjurkan tidak lebih dari 4.00 meter dan minimum 0.5 H.
d. Menentukan Tinggi Muka Air di Atas Mercu Bendung
Tinggi muka air di atas mercu bendung dapat dihitung dengan persamaan tinggi
energy – debit, yaitu :
Qd = Cd ⅔ ⅔ g b H3/2
Dimana :
Qd = debit desain, m3/det
Cd = koefisien debit = Cd = C0 . C1. C2
g = percepatan gravitasi
b = lebar mercu efektif
H = tinggi energy di atas mercu
e. Panjang atau Lebar Mercu Bendung
Dalam penentuan panjang mercu bendung, maka harus diperhitungkan terhadap :
Kemampuan melewatkan debit desain dengan tinggi jagaan yang cukup;
Batasan tinggi muka air genangan maksimum yang diijinkan pada debit desain.
Berkaitan dengan itu panjang mercu dapat diperkirakan, yaitu
Sama lebar dengan lebar rata-rata sungai stabil atau pada debit penuh alur (bank
full discharge);
Umunya diambil sebesar 1,2 kali lebar sungai rata-rata, pada ruas sungai yang
telah stabil.
Pengambilan lebar mercu tidak boleh terlalu pendek dan tidak pula terlalu lebar. Bila
desain panjang mercu bendung terlalu pendek, akan memberikan tinggi muka air di atas
mercu lebih tinggi. Akibatnya tanggul banjir di udik akan bertambah tinggi pula. Demikian
pula genangan banjir akan bertambah luas. Sebaliknya bila terlalu lebar dapat
mengakibatkan profil sungai bertambah lebar pula sehingga akan terjadi pengendapan
15
sedimen di udik bendung yang dapat menimbulkan gangguan penyadapan aliran ke
intake.
f. Lebar Efektif Mercu Bendung
Lebar mercu bendung efektif , Be, yaitu panjang mercu bendung bruto, Bb, dikurangi
dengan lebar pilar dan pintu pembilas. Artinya panjang mercu bendung yang efektif
melewatkan debit banjir desain.
Lebar mercu bendung efektif dapat dihitung dengan cara yaitu :
Be = Bb – 20% Σb – Σt
Be = Bb – 2 (n . kp + ka)H
Dimana :
Be = lebar mercu efektif (meter)
Bb = lebar mercu bruto (meter)
Σb = jumlah lebar pembilas
Σt = jumlah pilar-pilar pembilas
n = jumlah pilar pembilas dan pilar jembatan
kp = koefisien kontraksi pilar
ka = koefisien kontraksi pangkal bendung
H = tinggi energy, yaitu h + k; h = tinggi air; k = v 2/2g
Harga koefisien kontraksi pilar dapat dilihat pada Standar Perencanaan Irigasi, KP-02.
g. Menentukan Panjang dan Dalam Kolam Olak
Kolam olak adalah suatu konstruksi yang berfungsi sebagai peredam energi yang
terkandung dalam aliran dengan memanfaatkan loncatan hidraulis dari suatu aliran yang
berkecepatan tinggi. Kolam olak sangat ditentukan oleh tinggi loncatan hidraulis, yang
terjadi di dalam aliran.
h. Menentukan Panjang Lantai Muka
Akibat dari pembendungan sungai akan menimbulkan pebedaan tekanan, selanjutnya
akan terjadi pengaliran di bawah bendung. Karena sifat air mencari jalan dengan
hambatan yang paling kecil yang disebut “Creep Line”, maka untuk memperbesar
16
hambatan, Creep Line harus diperpanjang dengan memberi lantai muka atau suatu
dinding vertical. Untuk menentukan Creep Line, maka dapat dicari dengan rumus atau
teori :
Teori Bligh
Menyatakan bahwa besarnya perbedaan tekanan di jalur pengaliran adalah
sebanding dengan panjang jalan Creep Line.
Teori Lane
Teori Lane ini memberikan koreksi terhadap teori Bligh, bahwa energi yang
diperlukan oleh air untuk mengalir ke arah vertical lebih besar daripada arah
horizontal dengan perbandingan 3:1.
i. Menentukan Stabilitas Bendung
Untuk mengetahui kekuatan bendung, sehingga konstruksi bendung sesuai dengan
yang direncanakan dan memenuhi syarat yang telah ditentukan. Stabilitas bendung
ditentukan oleh gaya – gaya yang bekerja pada bendung, seperti:
Gaya berat
Gaya gempa
Tekanan Lumpur
Gaya hidrostatis
Gaya Uplift Pressure (Gaya Angkat).
j. Perencanaan Pintu
Perencanaan pintu berfungsi mengatur banyaknya air yang masuk ke saluran dan
mencegah masuknya benda-benda padat dan kasar ke dalam saluran (pintu
pengambilan atau intake gate). Pada bendung tempat pengambilan bisa terdiri dari 2
pintu yaitu kanan dan kiri, bisa juga hanya satu tergantung letak daerah yang akan dialiri.
Tinggi ambang tergantung pada material yang terbawa oleh sungai. Ambang makin tinggi
makin baik, untuk mencegah masuknya benda padat dan kasar ke saluran, tapi tinggi ini
ditentukan atau dibatasi oleh ukuran pintu. Pada waktu banjir, pintu pengambilan cukup
ditutup untuk mencegah masuknya benda kasar ke saluran. Penutupan pintu tidak
berakibat apa apa karena saat banjir di sungai biaanya tidak lama. Maka yang dianggap
17
air normal pada sungai adalah setinggi mercu. Ukuran pintu ditentukan dari segi praktis
dan estetika. Lebar pintu biasanya maksimal 2 m untuk pintu dari kayu. Jika terdapat
ukuran yang lebih besar dari 2 m, harus dibuat lebih dari satu pintu dengan pilar-pilar
diantaranya.
k. Pintu Penguras
Lebar pintu penguras biasanya diambil dari 1/10 lebar bendung (B), sedangkan pada
saat banjir pintu penguras ditutup. Bila banjir lewat di atas pintu, maka tinggi pintu
penguras harus setinggi mercu bendung. Oleh karena itu, tebal pintu juga harus
diperhitungkan untuk tinggi air setinggi air banjir
2.8. Stabilitas Bendung
Stabilitas suatu bendung harus memenuhi syarat – syarat konstruksi dari bendung,
antara lain:
Bendung harus stabil dan mampu menahan tekanan air pada waktu banjir
Bendung harus dapat menahan bocoran yang disebabkan oleh aliran sungai dan
aliran air yang meresap di dalam tanah
Bendung harus diperhitungkan terhadap daya dukung tanah di bawahnya
Tinggi ambang bendung atau crest level harus dapat memenuhi tinggi muka air
minimum yang diperlukan untuk seluruh daerah irigasi
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Bendung adalah bangunan melintang sungai yang berfungsi untuk meninggikan muka
air sungai agar bisa disadap. Bendung merupakan salah satu bagian dari bangunan
utama. Fungsi utama dari bangunan utama/bendung adalah untuk meninggikan elevasi
muka air dari sungai yang dibendung sehingga air bisa disadap dan dialirkan ke saluran
lewat bangunan pengambilan (intake structure). Bendung terdiri atas dua jenis yaitu,
bendung tetap dan bendung gerak. Dalam penentuan suatu bendung perlu dilihat
pemilihan lokasi bendung yang tepat.
3.2. Saran
Dalam perencanaan suatu bangunan air seperti bendung, perlu memperhatikan
pemilihan lokasi yang tepat berdasarkan faktor-faktor, seperti keadaan topografi, keadaan
hidrologi, kondisi topografi, kondisi hidraulik dan morfologi, kondisi tanah serta biaya
perencanaan. Selain itu, pemilihan tipe bendung yang tepat dan perlu memperhatikan
stabilitas bendung tersebut.
18
DAFTAR PUSTAKA
Erman Mawardi, Drs. Dipl. AIT. dan Moch. Memed, Ir. Dipl. HE. APU. 2010. Desain
Hidraulik Bendung Tetap. Bandung: CV. Alfabeta.
http//:[Link]
http//:[Link]