BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Bayi
Bayi baru lahir adalah bayi yang dilahirkan baik adalam kondisi cukup
bulan atau hampir cukup bulan. Bayi adalah anak usia 0 -12 bulan (Saifuddin,
2002)
B. Makanan Pendamping ASI (MPASI)
1. Definisi
Makanan pendamping ASI (MPASI) merupakan proses transisi dari
asupan yang semata berbasis susu menuju ke makanan yang semi padat.
Pengenalan dan pemberian MPASI harus dilakukan secara bertahap baik
bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan
bayi/anak. ASI hanya memenuhi kebutuhan gizi bayi sebanyak 60% pada
bayi usia 6-12 bulan. Sisanya harus dipenuhi dengan makanan lain yang
cukup jumlahnya dan baik gizinya. Oleh sebab itu pada usia 6 bulan ke
atas bayi membutuhkan tambahan gizi lain yang berasal dari MPASI
(Mufida, 2015).
Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) adalah makanan dan
minuman yang mengandung zat gizi, diberikan kepada bayi atau anak usia
6-24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI. MPASI
merupakan makanan padat atau cair yang diberikan secara bertahap sesuai
dengan usia dan kemampuan pencernaan bayi/anak (Kemenkes RI, 2015).
Makanan pelengkap tidak menggantikan ASI, tetapi memberikan
nutrient tambahan. ASI harus menjadi makanan pertama yang diberikan
kepada bayi dan makanan padat baru diberikan setelah selesai memberikan
ASI sebelum makanan lain (Coutsoudis&Bentley, 2009).
Menurut Kemenkes RI (2009) agar pertumbuhan bayi sesuai dengan
umur, WHO/UNICEF merekomendasikan empat hal yang penting yang
harus dilakukan yaitu pertama memberikan air susu ibu kepada bayi segera
7
8
setelah lahir, kedua memberikan ASI saja (ASI Eksklusif) sejak lahir bayi
sampai 6 bulan, ketiga memberikan makanan pendamping ASI (MPASI)
sejak usia 6 bulan sampai 24 bulan, keempat meneruskan memberikan ASI
sampai usia 24 bulan atau lebih. Rekomendasi tersebut menekankan,
secara sosial budaya MPASI hendaknya dibuat dari bahan pangan yang
murah dan mudah diperleh didaerah setempat (indigenous food).
Pada usia 6-12 bulan, ASI hanya menyediakan setengah atau lebih
kebutuhan gizi bayi, dan bayi usia 12-24 bulan ASI menyediakan 1/3 dari
kebutuhan gizinya sehingga MP-ASI harus segera diberikan mulai bayi
berumur 6 bulan. MPASI harus mengandung zat gizi mikro yang cukup
untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dipenuhi oleh ASI saja. Pada usia
6-24 bulan, kebutuhan berbagai zat gizi semakin meningkat dan tidak lagi
dapat dipenuhi hanya dari ASI saja. Pada tahap ini anak berada pada
periode pertumbuhan dan perkembangan cepat, mulai terpapar terhadap
infeksi dan secara fisik mulai aktif, sehingga kebutuhan terhadap zat gizi
harus terpenuhi dengan memperhitungkanaktivitas bayi/anak dan keadaan
infeksi. Agar mencapai gizi seimbang maka perlu ditambah dengan
MPASI, sementara ASI tetap diberikan sampai bayi berusia 2 tahun
(Kemenkes RI, 2015).
2. Tujuan Pemberian MPASI
Tujuan pemberian makanan pendamping ASI adalah untuk menambah
energi dan zat-zat gizi yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat
memenuhi kebutuhan bayi secara terus - menerus. Dengan demikian
makanan tambahan diberikan untuk mengisi kesenjangan antara kebutuhan
nutrisi total pada anak dengan jumlah yang didapatkan dari ASI. Adapun
waktu yang baik dalam memulai pemberian MPASI pada bayi adalah
umur 6 bulan. (Kemenkes, 2015).
Menurut Soenardi (2006) tujuan dari MPASI adalah sebagai berikut:
a. Melengkapi zat-zat gizi yang kurang dalam ASI atau PASI
9
b. Mengembangkan kemampuan bayi untuk menerima bermacam-macam
makanan dan berbagai rasa dan tekstur
c. Mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan
d. Melakukan adaptasi terhadap makanan yang mengandung kadar energi
yang tinggi
3. Syarat-syarat MPASI
Agar pemberian MPASI dapat terpenuhi dengan sempurna maka perlu
diperhatikan sifat-sifat bahan makanan yang akan digunakan. Makanan
tambahan untuk bayi harus mempunyai sifat fisik yang baik, yaitu rupa
dan aroma yang layak. Selain itu dilihat dari segi kepraktisannya, makanan
tambahan bayi sebaiknya sudah disiapkan dengan waktu pengolahan
waktu yang singkat. Makanan pendamping ASI harus memenuhi
persyaratan khusus tentang jumlah zat-zat gizi yang diperlukan bayi,
seperti protein, energi, lemak, vitamin, mineral, dan zat-zat tambahan
lainnya (Marimbi, 2010).
a. Makanan yang dianjurkan:
1) Bubur tepung beras atau beras merah yang dimasak dengan
menggunakan cairan atau kaldu daging dan sayuran, susu formula
(ASI) atau air.
2) Buah-buahan yang dihaluskan atau menggunakan blender seperti
pepaya, pisang, apel, melon dan alpukat.
3) Sayur-sayuran dan kacang-kacangan yang direbus kemudian
dihaluskan menggunakan blender.
4) Daging pilihan yang tidak berlemak kemudian diblender.
5) Ikan yang diblender sebaiknya ikan yang digunakan adalah ikan
yang tidak berduri.
b. Makanan yang tidak dianjurkan
1) Makanan yang mengandung protein gluten yaitu tepung terigu
barley, biji gandum dan kue yang terbuat dari tepung terigu.
Makanan tersebut dapat membuat perut bayi kembung, mual dan
diare pada bayi.
10
2) Hindari pemberian garam,gula, bumbu masak atau penyedap rasa.
3) Makanan terlalu berlemak
4) Buah-buahan yang terlalu asam seperti jeruk dan sirsak.
5) Makanan terlalu pedas atau bumbu terlalu tajam.
6) Buah-buahan yang mengandung gas seperti durian, cempedak.
Sayuran yang mengandung gas seperti kol, kembang kol, lobak.
Kedua makanan tersebut dapat membuat perut bayi kembung.
7) Kacang tanah pada bayi dapat menyebabkan alergi atau
pembengkakan pada tenggorokan sehingga bayi sulit bernapas.
8) Kadangkala telur dapat memacu alergi, berikan secara bertahap dan
dengan porsi kecil. Jika bayi alergi segera hentikan.
9) Madu dapat mengandung spora yang sangat membahayakan bayi
(Lituhayu R, 2008).
4. Mutu MPASI
Mengingat MPASI sangat dibutuhkan untuk dapat memenuhi asupan
zat gizi pada bayi usia 6-12 bulan yang sering disebut usia kritis, maka
MPASI diharuskan memenuhi minimal empat kriteria atau indikator
mutu yakni :
a. Mutu fisik, meliputi anatara lain aroma, konsistensi kelenturan,
penampilan dan rasa
b. Mutu kimiawi yaitu berupa komposisi zat gizi dan jumlah masing-
masing zat gizi yang terkandung dalam status tertentu
c. Kepadatan energi atau energi density (ED) yaitu jumlah energi yang
dihasilkan dalam satu gram produk siap makan menghasilkan 120-140
kalori
d. Mutu biologi, meliputi mutu protein seperti nilai Protein Efficiency
Ratio (PER) atau protein skor atau komposisi asam amino, dan
ketersediaan hayati, vitamin dan mineral (Depkes, 2008).
11
5. Waktu Pemberian MPASI
Menurut Lituhayu R (2008) MPASI sebaiknya diberikan setelah
anak berusia 6 bulan. Hal ini dikarenakan :
a. Pemberian makan setelah bayi berumur 6 bulan memberikan
perlindungan besar dari berbagai macam penyakit. Hal ini disebabkan
sistem imun bayi berusia kurang dari 6 bulan belum sempurna,
sehingga pemberian makan yang terlalu dini sama saja dengan
membuka pintu gerbang masuknya berbagai jenis kuman.
b. Sistem pencernaan bayi berumur 6 bulan sudah relatif sempurna dan
siap menerima MPASI.
c. Mengurangi resiko terkena alergi akibat makanan. Saat bayi berumur
kurang dari 6 bulan, sel-sel di sekitar usus belum siap mengolah
kandungan dari makanan.
d. Menunda pemberian MPASI hingga 6 bulan melindungi bayi dari
obesitas di kemudian hari
6. Resiko Pemberian Makanan Pendamping ASI Terlalu Dini
Menurut Krisnatuti Yenrina (2008), bayi belum siap menerima
makanan semi padat sebelum berusia 6 bulan, selain itu makanan tersebut
belum diperlukan sepanjang bayi tetap mendapatkan ASI, kecuali pada
keadaan tertentu. Banyak resiko yang ditemukan pada jangka pendek
maupun panjang jika bayi diberikan makanan pendamping terlalu dini
antara lain :
a. Resiko Jangka Pendek
Salah satu resiko jangka pendek dari pemberian MPASI terlalu dini
adalah penyakit diare, defisiensi besi dan [Link] diperhatikan
bahwa apabila makanan pendamping ASI sudah diberikan kepada bayi
sejak dini (dibawah usia 6 bulan) maka asupan gizi yang diperoleh
bayi tidak sesuai dengan kebutuhan. Selain itu system pencernaan bayi
akan mengalami gangguan seperti sakit perut, sembelit (susah buang
air besar) dan alergi (Arisman, 2009)
12
b. Resiko Jangka Panjang
Adalah obesitas (kegemukan) dan penyakit kronis. Kelebihan dalam
memberikan makanan adalah salah satu faktor resiko utama dari
pemberian susu formula dan MPASI yang terlalu dini pada bayi. Sama
seperti orang dewasa kelebihan berat badan anak terjadi akibat
ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan keluar. Karena
sistem pencernaan belum siap menerima makanan yang diberikan
selain ASI, maka berdampak menimbulkan penyakit kronis dan dapat
mengganggu pertumbuhan karena hilangnya nafsu makan
7. Jadwal Pemberian MPASI
Bayi sebelumnya tidak merasakan makanan lain selain ASI, maka
harus secara bertahap memperkenalkannya. Bayi yang menolak makanan
yang diberikan, belum tentu tidak mau, oleh sebab itu bayi harus
diperkenalkan makanan tambahan secara bertahap dalam hal: bentuk,
volume/jumlah, frekuensi dan jenisnya (Soetjiningsih, 2002)
Hasil penelitian Rosidah (2003) menunjukkan bahwa pengetahuan
dan sikap ibu dalam pemberian MP-ASI dengan baik berhubungan secara
signifikan dengan perkembangan bayi. Penelitian juga menunjukkan
adanya pengaruh pemberian MP-ASI terhadap peningkatan berat badan
bayi. Semakin baik cara pemberian MP-ASI maka semakin meningkat
berat badannya dan berat badan bayi yang normal juga sangat berpengaruh
terhadap perkembangan bayi. Cara pemberian makanan tambahan yang
dipraktekkan oleh ibu-ibu pada umumnya sudah memenuhi syarat
pertumbuhan dan perkembangan bayinya. Sangat banyak alasan yang
menyebabkan seseorang mengkonsumsi makanan tambahan (MP-ASI),
selain agar kebutuhan gizinya terpenuhi, yang paling penting adalah agar
pertumbuhan dan perkembangan anak bisa tumbuh dengan baik Hal-hal
yang perlu diketahui mengenai cara pemberian makanan tambahan dapat
dilihat pada Tabel dibawah ini :
13
Tabel 2.1
Jadwal Pemberian MP-ASI, Menurut Umur Bayi, Jenis, Makanan dan Frekuensi
Pemberian Umur Bayi Jenis Makanan Frekuensi Pemberian
Umur Bayi Jenis Makanan Frekuensi Pemberian per hari
6. bulan - ASI Kapan diminta
- Buah lunak/sari buah 1 -2 kali sehari
- Bubur tepung atau atau
bubur beras merah
7 bulan - ASI Kapan diminta
- Buah-buahan 2 – 3 kali sehari
- Hati ayam atau kacang
kacangan
- Beras merah atau ubi
- Sayuran (wortel, bayam)
- Minyak/santan/alpukat
- Air tajin
9 bulan - ASI Kapan diminta
- Buah-buahan 3-4 kali sehari
- Daging/kacang-kacangan/
ayam/ikan
- Beras merah, kentang/
labu/ jagung
- Kacang tanah
- Minyak/santan/alpukat
- Sari buah tanpa gula
12 bulan atau - ASI Kapan diminta
lebih - Makanan pada umumnya, 4-6 kali sehari
termasuk telur dan jeruk
Sumber: Krisnatuti (2008)
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian Makanan Pendamping
ASI (MPASI)
1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil dari
“tahu” seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya dengan
sendirinya pada waktu penginderaan sehingga menghasilkan pengetahuan
tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap
objek. Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang tidak
didasari pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2010).
14
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting
untuk terbentuknya tindakan seseorang. Dari beberapa penelitian ternyata
perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari perilaku
yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Pengetahuan merupakan bagian dari “cognitive domain” yang
mempunyai 6 tingkatan yaitu (Notoatmodjo, 2010) :
1) Tahu (know)
Tahu di artikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh
bahan yang dipelajari.
2) Memahami (Comprehension)
Memahami di artikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara
benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan
materi tersebut secara benar.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi di artikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah di pelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
Aplikasi disini di artikan sebagai aplikasi atau pengunaan hukum-
hukum, rumus-rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks
dan situasi yang lain.
4) Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atas
suatu obyek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam
suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama
lain.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk melakukan atau
menhubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru, dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk
menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
15
6) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-
penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang di tentukan sendiri atau
menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting
untuk terbentuknya tindakan seseorang. Dari beberapa penelitian
mengatakan bahwa ternyata perilaku tidak terlepas dari pengetahuan, sikap
dan tindakan.
Menurut Notoatmodjo (2010) bahwa pengetahuan merupakan hasil
dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap
suatu objek tertentu. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa
pengetahuan suatu bentuk tahu dari manusia yang diperolehnya dari
pengalaman, perasaan, akal, pikiran, dan institusinya adalah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan yang
dimaksud disini adalah pengetahuan terhadap pentingya pemberian
makanan pembantu ASI (MPASI) pada bayi. Pengetahuan seseorang
didapatkan dari pengalaman dan informasi yang didapatkan, baik melalui
pelatihan, bimbingan, pembinaan maupun melalui pengamatan , sehingga
dapat memberikan tanggapan atau respons terhadap apa yang diamatinya,
sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga,
dengan kata lain manusia merupakan domain yang sangat penting dalam
terbentuknya tindakan seseorang, semakin tinggi pengetahuan seseorang
maka semakin baik pula seseorang ibu dalam melakukan tindakan atau
kesadaran untuk memberikan makanan pembantu ASI pada bayinya
Pengetahuan MPASI adalah pengetahuan tentang makanan
tambahan yang diberikan pada bayi berusia 6 bulan sampai bayi berusia 24
bulan. (Yenrina, 2008). Peranan MPASI sama sekali bukan untuk
menggantikam ASI, melainkan hanya untuk melengkapi ASI (Krisnatuti,
2008). Pengetahuan yang rendah juga berdampak terhadap praktek
pemberian makanan tambahan. Secara umum makanan dan minuman yang
16
diberikan kepada bayi umur 0 –6 bulan adalah susu formula, air putih, dan
madu. Pemberian ASI yang tidak sampai umur 6 bulan karena ASInya
sedikit disebabkan karena ibu bekerja dan kurangnya keyakinan terhadap
kemampuan memproduksi ASI untuk memuaskan bayinya sehingga
mendorong ibu untuk memberikan susu formula.
Pemberian makanan tambahan seperti susu formula menjadi salah
satu penyebab ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya (Nana,
2013).
Penelitian yang dilakukan oleh Devi C.D. Simbolon (2015) bahwa
ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan ketepatan pemberian MP-
ASI pada bayi di Kelurahan Tiga Balata Kec. Jorlang Hataran Kab.
Simalungun. Dimana kurangnya pengetahuan yang dimiliki maka kurang
perilaku yang dilakukan dalam pemberian MP-ASI yang tepat dengan nilai
p = 0,002
Menurut Nursalam, pengetahuan dibagi menjadi 3 kategori yaitu :
a. Baik : 76 - 100 %
b. Cukup : 56 - 75 %
c. Kurang : < 56 %
2. Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari
seseorang terhadap stimulus atau objek. Sikap itu tidak dapat langsung
dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan dahulu dari perilaku yang tertutup.
Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi
terhadap stimulus tertentu. Kondisi kehidupan sehari-hari adalah
merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap
juga merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan
pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau
aktivitas akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. Sikap
itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau
tingkah laku yang terbuka. Lebih dapat dijelaskan lagi bahwa sikap
17
merupakan reaksi terhadap objek di lingkungan tertentusebagai suatu
penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo, 2010).
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup
terhadap suatu stimulus atau objek. Newcomb, salah seorang ahli
psikologi sosial menyatakan bahwa sikap adalah merupakan kesiapan atau
kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif
tertentu. Dalam kata lain fungsi sikap belum merupakan tindakan (reaksi
terbuka) atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu
perilaku (Notoatmodjo, 2010).
Menurut Notoatmodjo (2010) menyatakan bahwa sikap adalah
suatu kecenderungan untuk mengadakan tingkatan terhadap suatu objek,
dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda – tanda untuk
menyenangi atau tidak menyenangi objek tersebut. Sikap itu mempunyai
komponen pokok yaitu:
1) Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek.
2) Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek
3) Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave)
Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan menggunakan skala
likert, beberapa bentuk pertanyaan-pertanyaan yang masuk dalam
kategori skala likert adalah sebagai berikut (Notoatmojo, 2010).
Pernyataan positif
Sangat setuju (SS) :4
Setuju (S) :3
Tidak setuju (TS) :2
Sangat tidak setuju (STS) :1
Pernyataan negatif
Sangat setuju (SS) :1
Setuju (S) :2
Tidak setuju (TS) :3
Sangat tidak setuju (STS) :4
18
Menurut Nasir (2011), sikap seseorang dapat diketahui dan
diinterprestasikan berdasarkan hasil ukur berikut ini:
1. Sikap Positif : Bila nilai ≥ mean/median
2. Sikap Negatif : Bila nilai < mean/median
Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di
lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Contohnya
adalah sikap setuju atau tidaknya terhadap informasi makanan pembantu
ASI, manfaat MPASI, dan jadwal pemberian MPASI. Sikap merupakan
reaksi tertutup dan belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas akan
tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Peranan MPASI
sama sekali bukan untuk menggantikan ASI, melainkan hanya untuk
melengkapi ASI. Kemudian masih ada ibu yang setuju pada bayi berusia
7-9 bulan diberikan lebih dari 6 kali makanan tambahan setiap hari,
padahal bayi di usia tersebut kebutuhan akan asupan zat gizi sebaiknya
diberi makanan tambahan pendamping air susu ibu 2-4 kali sehari
Penelitian yang dilakukan oleh Devi C.D. Simbolon (2015) bahwa
adanya hubungan antara sikap ibu dengan ketepatan pemberian MP-ASI
pada bayi di Kelurahan Tiga Balata Kec. Jorlang Hataran Kab.
Simalungun. Dimana dengan sikap yang tidak baik maka responden dalam
pemberian MP- ASI juga tidak tepat dengan nilai p= 0,029.
19
D. KERANGKA TEORI
Faktor Predisposisi
- Pengetahuan
- Sikap
- Kepercayaan
- Keyakinan
- Persepsi
- Motivasi
Faktor Pemungkin
- Lingkungan Fisik Pemberian
- Fasilitas (Sarana) Makanan
- Prasarana Pendamping ASI
Kesehatan (MPASI)
Faktor Penguat
- Sikap tokoh
masyarakat,
orang tua
- Perilaku petugas
kesehatan
- Sikap Petugas
kesehatan
Gambar 2.1. Kerangka Teoritis
Sumber : Notoatmodjo (2010)
20
E. KERANGKA KONSEP
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan
antara konsep-konsep yang ingin diamati atau di ukur melalui penelitian yang
akan dilakukan. Perilaku terdiri dari pengetahuan dan sikap. Untuk
meningkatkan pengetahuan dapat memberi perubahan persepsi dan kebiasaan
seseorang, pengetahuan juga membentuk kepercayaan seseorang serta sikap
terhadap suatu hal (Notoatmodjo, 2010).
Untuk lebih jelas dapat digambarkan dalam skema kerangka konsep
penelitian sebagai berikut:
Variabel Independen Variabel Dependen
Pengetahuan Ibu
Pemberian Makanan Pendamping
Sikap Ibu ASI (MPASI)
Gambar 2.2
Kerangka Konsep Penelitian