Sejarah dan Konsep Linear Programming
Sejarah dan Konsep Linear Programming
Model LP dikembangkan dalam tiga tahap, antara lain pada tahun 1939-
tahun 1965 dan the Order of Lenin pada tahun 1967; kedua, oleh Tjalling
Simpleks.
baru yang nantinya akan dinamakan LP. Kemudian pada tahun 1939,
1
Makalah-makalah yang dipublikasikan Koopmans selama tahun 1960-an
alokasi sumber dan memperoleh hadiah Nobel di bidang ekonomi pada tahun
1975. Namun demikian, juga ada nama-nama lain yang berperan di dalam
oleh Koopmans. Pada saat itu, teknik yang mereka kembangkan dikenal dengan
Corporation pafa tahun 1948. Dan istilah ini menjadi populer dan digunakan
hingga sekarang.
untuk mengalokasikan sumber daya. Jay Heizer dan Barry Render (2006, p.588)
2
1. Persoalan LP bertujuan untuk memaksimalkan atau meminimalkan
kuantitas (pada umumnya berupa laba atau biaya). Sifat umum ini
disebut fungsi tujuan dari suatu persoalan LP. Tujuan utama suatu
berapa banyak unit dari tiap produk dalam satu lini produk perusahaan,
dibatasi oleh tenaga kerja dan permesinan tersedia. Oleh karena itu,
(batasan).
permesinan, dan seterusnya). Jika tidak ada alternatif yang dapat diambil
3
penyelesaian optimal diturunkan melalui teknik optimisasi linear. Karena
konsekuensinya seluruh asumsi dan dalil matematika yang berlaku bagi teknik
penyelesaian tersebut juga berlaku bagi model LP. Sebagai contoh, perhatikan
parameter yang terjadi, maka ruas kiri (a1, a2, a3) harus diimbangi oleh
perubahan parameter pada ruas kanan (b1). Bila seluruh parameter ruas kiri
dikalikan dengan dua, maka “b1” juga harus dikalikan dengan dua sehingga
Peranan dalil semacam ini di dalam model menjadi sangat penting mengingat
fungsi matematika bisa mewakili aneka realitas. Sebagai contoh, bila “b1”
mewakili kapasitas mesin dalam satuan ton sedang Xi mewakili produk yang
harus diproduksi di mesin itu dan parameter “ai” menunjukkan satuan waktu
proses yang diperlukan oleh setiap unit Xi, maka kita tidak mungkin
jam, maka “b1” harus dinyatakan dalam satuan yang setara, misal bisa dalam
hari, jam, menit atau bahkan detik. Yang terpenting adalah kesetaraan itu harus
tetap dijaga.
4
Dengan demikian, kini bisa disimpulkan dua hal. Pertama, seluruh dalil
penyelesaian optimisasi linear berlaku untuk model LP. Kedua, suatu kasus di
1. variabel keputusan
2. fungsi tujuan
3. fungsi kendala
nilai tujuan yang hendak dicapai menurut Siswanto (2006, p.25). Dalam proses
5
Fungsi tujuan. Dalam LP, tujuan yang hendak dicapai harus diwujudkan ke
dalam fungsi matematika linear. Dalam hal ini, sesuai dengan dalil-dalil
Ketiga macam kendala akan ditemui pada setiap susunan kendala kasus LP,
6
sebuah metode matematis yang berkarakteristik linear untuk menemukan suatu
bersifat baku agar realitas dijelaskan dengan baik oleh model atau agar realitas
model.
Struktur model matematis teknik LP diawali oleh fungsi tujuan yaitu sebuah
fungsi matematika yang mencerminkan tujuan model. Fungsi tujuan itu harus
di dalam fungsi tujuan harus muncul pernyataan mengenai arah tersebut. Oleh
1. Maksimumkan Z = f(x1,x2,…,xn)
2. Minimumkan Z = f(x1,x2,…,xn)
Dalam hal ini notasi Z digunakan untuk menandai nilai fungsi tujuan, di
mana nilai Z tergantung pada nilai x1,x2,…,xn yang berfungsi sebagai variabel
xj yang memenuhi seluruh fungsi matematika kendala dan membuat nilai fungsi
7
1.2 Studi Kasus (1)
1.2.1 Identifikasi kasus
8
1.2.3 Penyelesaian Dengan Software
9
3. Isikan Problem title misalnya soal 1
Isikan Number Of Variables = 2
Isikan Number Of Contraints = 4
Object Criterion pilih Maximization
Maka, akan muncul gambar sebagai berikut :
4. Jika pengisian telah selesai, lalu pilih Solve and Analyze kemudian
pilih Solve and Display Steps
10
5. Setelah di klik maka akan muncul tampilan seperti dibawah :
11
7. Jika setelah di klik Next Iteration masih muncul tampilan seperti
diatas maka klik terus Next Iteration hingga tampilan sebagai
berikut :
12
Kendala :
x1 + x2 + 2x3 ≤ 5
2x1 + 8x2 + 4x3 ≤ 3
9x1 + 6x2 + 2x3 ≤ 9
x1 , x2 , x3 ≥ 0
1.4.2 Algoritma Solusi
13
Gambar 1.10 Soal no 3
14
2. Pilih File kemudian New Problem
15
4. Jika pengisian telah selesai, lalu pilih Solve and Analyze kemudian
pilih Solve and Display Steps
16
6. Setelah itu klik Simplex Iteration dan klik Next Iteration
17
1.5 Studi kasus (4)
1.5.1 Identifikasi kasus
18
Gambar 1.18 Soal no 6
19
1.7.3 Penyelesaian dengan software
1. Buka menu START kemudian pilih ALL PROGRAM kemudian
pilih winQSB lalu pilih Linear and Integer Programing
20
3. Isikan Problem title misalnya soal 1
Isikan Number Of Variables = 3
Isikan Number Of Contraints = 3
Object Criterion pilih Maximization
Maka, akan muncul gambar sebagai berikut :
4. Jika pengisian telah selesai, lalu pilih Solve and Analyze kemudian
pilih Solve and Display Steps
21
5. Setelah di klik maka akan muncul tampilan seperti dibawah :
22
7. Jika setelah di klik Next Iteration masih muncul tampilan seperti
diatas maka klik terus Next Iteration hingga tampilan sebagai
berikut :
23
1.9 Studi kasus (8)
1.9.1 Identifikasi kasus
24
12x1 + 4x2 + 14x3 ≤ 175
7x1 + 7x2 + 12x3 ≤ 87
x1 , x2 , x3 ≥ 0
1.11.2 Algoritma Solusi
1.11.3 Penyelesaian dengan software
BAB 2 TRANSPORTASI
Landasan Teori Transportasi
2.1
Pengertian Metode Transportasi
Metode transportasi yaitu suatu metode yang di gunakan untuk
mengatur distribusi dari sumber-sumber yang menyediakan produk yang
sama ke tempat-tempat yang membutuhkan secara optimal dengan biaya
yang termurah. Alokasi produk ini harus di atur sedemikian rupa karena
terdapat perbedaan biaya-biaya alokasi dari satu sumber atau beberapa
sumber ke tempat tujuan yang berbeda.
Model transportasi diantaranya yaitu:
1. Merupakan salah satu bentuk dari model jaringan kerja (network)
2. Suatu model yang berhubungan dengan distribusi suatu barang
tertentu dari sejumlah sumber ke berbagai tujuan
3. Satiap sumber mempunyai sejumlah barang untuk di tawarkan dan
setiap tujuan mempunyai permintaan terhadap barang tersebut
4. Terdapat biaya transportasi per unit barang dari setiap rute
5. Asumsi dasar yaitu biaya transportasi pada suatu rute tertentu
proporsional dengan banyak barang yang di kirim
Tujuan metode transportasi yaitu:
1. Suatu proses pengaturan distribusi barang dari tempat yang
menghasilkan barang dengan kapasitas tertentu ke tempat yang
membutuhkan barang tersebut dengan jumlah kebutuhan tertentu
agar biaya distribusi dapat di tekan seminimal mungkin
2. Berguna untuk memecahkan permasalahan distribusi
3. Memecahkan permasalahan bisnis lainnya seperti masalah
pengiklanan, alokasi dana untuk investasi, analisis lokasi dsb.
Ciri-ciri penggunaan
1. Terdapat sejumlah sumber dan tujuan tertentu
2. Kuantitas barang yang di distribusikan dari setiap sumber dan yang
di minta oleh tujuan besarnya tertentu
3. Barang yang di kirim dari suatu sumber ke suatu tujuan besarnya
sesuai dengan permintaan dan kapasitas sumber
Ada tiga macam metode dalam metode transportasi:
1. Metode Stepping Stone
2. Metode MODI (Modified Distribution Method)
3. Metode VAM (Vogel’s Approximation Method)
25
Contoh sederhana pemecahan masalah dengan metode transportasi yaitu
suatu perusahaan manufaktur yang membuat VCD mempunyai dua pabrik
yang letaknya di kota Jakarta dan Medan dengan kapasitas produksi masing-
masing 1.000 dan 1.500 unit per minggu. Setiap akhir minggu VCD tersebut
dikirimkan ke 3 pusat industri yang berada di Pontianak, Makasar, dan
Jayapura. Daya tampung per minggu kota-kota distributor Pontianak (950
unit), Makasar (1.200 unit), dan Jayapura (400 unit). Biaya angkut per VCD
dari setiap pabrik ke masing-masing daerah yaitu:
Tabel 2.1 Alokasi barang dari tempat asal ke tempat tujuan
Dari-Ke Pontianak Makasar Jayapura
Jakarta Rp 10.000,00 Rp 25.000,00 Rp 60.000,00
Medan Rp 15.000,00 Rp 40.000,00 Rp 80.000,00
Tabel 2.1 Alokasi barang dari tempat asal ke tempat tujuan
26
Dengan alokasi pengiriman barang dari dua tempat asal Jakarta dan Medan
ke Pontianak, Makasar, dan Jayapura seperti tercantum dalam Matriks ke-
1, selanjutnya kita dapat menghitung total biaya transportnya, yakni sebesar:
900 unit × Rp 10.000/unit = Rp 9.000.000,00
100 unit × Rp 25.000/unit = Rp 2.500.000,00
1.100 unit × Rp 40.000/unit = Rp 44.000.000,00
400 unit × Rp 80.000/unit = Rp 32. 000.000,00 +
Total biaya transportasinya = Rp 87.500.000,00
Pertanyaannya, apakah total biaya transport sebesar Rp 87.500.000,00
tersebut masih dapat diturunkan lagi atau tidak ? Untuk menjawab
pertanyaan ini cara-cara stepping stone memberi petunjuk untuk coba
memindahkan “batu-batu” tersebut ke sel-sel yang lain. Mari kita
mencobanya dengan memindahkan 1 batu saja dari sel (M,Mk) ke sel (M,P).
Lihat anak-anak panah pada matriks -1 memindahkan 1 unit (batu) dari sel
(M,Mk) ke sel (M,P). Akibat pemindahan tersebut, maka harus diikuti oleh
pemindahan satu unit dari sel (J,P) ke sel (J,Mk) sehingga jumlah vertikal
dan horizontal “kapasitas “ dan “daya tampung” tidak berubah. Apakah
dengan pemindahan 1 unit dari dan ke sel-sel tersebut di atas mempunyai
akibat terhadap biaya transport? Tentu ada. Cara menghitungnya ialah
sebagai berikut.
i. Sel (M,Mk) ke sel (M,P) artinya mengurangi (-) sel (M,Mk)
menambah (+) sel (M,P) sehingga
(-1 × Rp 40.000,00) + (1 × Rp 15.000,00) = - Rp 25.000,00
ii. Sel (M,P) ke sel (J,P)
(+1 × Rp 15.000,00) + (-1 × Rp 10.000,00) = + Rp 5.000,00
iii. Sel (J,P) ke sel (J,Mk)
(-1 × Rp 10.000,00) + (1 × Rp 25.000,00) = + Rp 15.000,00
iv. Dari sel (J,Mk) ke sel (M,Mk)
(1 × Rp 25.000,00) + (-1 × Rp 40.000,00) = - Rp 15.000,00
Jadi, (i) + (ii) + (iii) + (iv) = -25.000 + 5.000 + 15.000 – 15.000 = -20.000
Artinya dengan memindahkan 1 unit (batu) dari sel (M,Mk) ke sel (M,P)
akan menurunkan biaya transport sebanyak Rp 20.000,00. Jika demikian,
pindahkan saja sebesar 900 unit sehingga diperoleh Matriks ke-2 berikut ini.
27
Berdasarkan alokasi barang seperti tercantum dalam Matriks-2 diperoleh
total biaya transport (1.000 × Rp 25.000,00) + (900 × Rp 15.000,00) + (200
× Rp 40.000,00) + (400 × Rp 80.000,00) = Rp 78.500.000,00
Pertanyaannya, apakah total biaya Rp 78.500.000,00 tersebut masih dapat
diturunkan lagi? Kita coba lagi dengan memindahkan 1 unit barang dari sel
(J,Mk) ke sel (J,Jp) dengan akibat beruntun terlihat dengan anak panah pada
matriks ke-2.
i. Sel (J,Mk) ke sel (J,Jp) = (-1 × Rp 25.000,00) + (1 × Rp 60.000,00)
= + Rp 35.000,00
ii. Sel (J,Jp) ke (M,Jp) = (1 × Rp 60.000,00) + (-1 × Rp 80.000,00) = -
Rp 20.000,00
iii. Sel (M,Jp) ke sel (M,Mk) = (-1 × Rp 80.000,00) + (1 × Rp 40.000,00)
= - Rp 40.000,00
iv. Sel (M,Mk) ke sel (J,Mk) = (1 × Rp 40.000,00) + (-1 × Rp 25.000,00)
= + Rp 15.000,00
Jadi, (i) + (ii) + (iii) + (iv) = Rp 35.000,00 – Rp 20.000,00 – Rp
40.000,00 + Rp 15.000,00 = - Rp 10.000,00. Hal ini berarti dengan
memindahkan 1 unit akan mengurangi biaya sebesar Rp 10.000,00. Oleh
karena itu, pindahkan saja sebanyak 400 unit (sesuai dengan daya
tampung Jp) sehingga alokasinya seperti tercantum dalam matriks ke-3
berikut ini.
28
+1 (Rp 10.000,00) -1 (Rp 25.000,00) = - Rp 15.000,00
iii. Dari sel (J,Mk) ke sel (M,Mk)
-1 (Rp 25.000,00) + 1 (Rp 40.000,00) = + Rp 15.000,00
iv. Dari sel (M,Mk) ke (M,P)
+1 (Rp 40.000,00) -1 (Rp 15.000,00) = + Rp 25.000,00
Jadi, (i) + (ii) + (iii) + (iv) = - Rp 5.000,00 + (– Rp 15.000,00) + Rp
15.000,00 + Rp 25.000,00 = + Rp 20.000,00
Jadi, dengan memindahkan 1 unit barang dari sel (M,P) ke sel (J,P) akan
menaikkan biaya transport sebesar Rp 20.000,00. Jika demikian, jangan
dipindahkan. Berdasarkan perhitungan tersebut matriks-3 telah optimal,
artinya pihak manajemen membuat perencanaan alokasi produk VCD dari
Jakarta dan Medan ke kota distribusi Pontianak, Makasar dan Jayapura
sebagai berikut : Pabrik Jakarta yang berkapasitas 1.000 unit
mendistribusikan produknya ke Makassar 600 unit dan Jayapura 400 unit.
Pabrik Medan mendistribusikan produk VCD ke Pontianak 900 dan ke
Makassar 600 unit sesuai dengan kapasitas pabrik 1.500 unit.
Nilai tempat awal (A) + nilai tempat tujuan (T) + nilai sel (A, T) = 0
Dari - ke T
A Sel (A, T)
Nilai tempat tujuan T bila mempunyai J kolom, kita beri simbol Kj,
sedangkan sel-sel yang merupakan perpotongan baris Bi dan kolom
Kj disebut sel (Bi, Kj), sehingga rumus umumnya menjadi:
Nilai Bi + Nilai Kj + (Bi, Kj) = 0
29
bernilai paling rendah, dan kemudian menjadi sel yang harus diisi.
Disinilah kelebihan MODI dengan Stepping Stone, yaitu sel yang
akan diisi perlu “dinilai” terlebih dahulu, sedangkan pada Stepping
Stone cara menilai sel-sel yang harus diisi dihitung secara lebih
panjang prosesnya dan lebih lama.
e) Bila sel-sel kosong telah terisi, berarti diperoleh matriks baru yang
berbeda alokasinya dengan matriks awal, selanjtunya matriks baru
tersebut perlu dinilai lagi dengan prosedur yang sama dari (a) sampai
dengan (e).
Tampaknya akan lebih mudah penghayatannya bila penerapan metode
MODI ini dijelaskan dengan contoh seperti di bawah ini:
B1 = 0 10 25 60
900 100 1.000
B2 = - 15 15 40 80 1.500
1.100 400
Ingat pada matriks ke-1, sel-selnya diisi di sudut kiri atas (north west
corner) dengan memperhatikan kapasitas dan daya tampung masing-masing
baris dan kolom.
Menilai sel yang terisi:
i. Sel ( B1,K1) : B1 + (B1,K1) +K1 = 0
0 + 10 + K1 = 0
K1 = -10 Cantumkan angka – 10 pada K1 di matriks ke -1
ii. Sel ( B1,K2) : B1 + (B1,K2) +K2 = 0
0 + 25 + K2 = 0 K2 = - 25 Cantumkan angka – 25
pada K2 di matriks ke -1
iii. Sel ( B2,K2) : B2 + (B2,K2) +K2 = 0
B2 + 40 + (-25) = 0
B2 + 15 = 0
B2 = -15 Cantumkan angka – 15 pada B2 pada baris di matriks ke -1
iv. Sel ( B2,K3) : B2 + (B2,K3) + K3 = 0
-15 + 80 + K3 = 0
K3 = -65
Jadi B1, B2, K1, K2, dan K3 telah diisikan nilainya. Selanjutnya kita perlu
menilai sel-sel kosong mana yang berpotensi diisi menerima pindahan.
Dalam hal ini terdapat dua sel saja, yakni sel ( B1,K3), dan ( B2,K1).
i. Sel ( B1,K3) : B1 + (B1,K3) +K3 = 0
0 + 60 + (-65) = -5
30
Sel ( B2,K1) : B2 + (B2,K1) +K1 = 0
ii.
-15 + 15 + (-10) = 0
0 – 10 = -10
Membandingkan kedua sel kosong tersebut, maka sel (B2, K1) mempunyai
nilai negatif sebesar –10, sedangkan sel (B1, K3) hanya sebesar –5. Jadi sel
(B2, K1) harus diisi dengan memindahkan dari sel yang ada. Berikut matriks
ke-2 di bawah ini. Sel (B2, K1) diisi 900 unit. Sel yang lain pun isinya
bergeser sesuai kapasitas dan daya tampung.
Dari- ke K1 = 0 K2 = -25 K3 = -60 Kapasitas
B1 = 0 10 25 60 1.000
0 600 400
B2 = -15 15 40 80 1.500
900 600 0
Daya tampung 900 1.200 400 2.500
Tabel 2.6 Matriks ke-2/MODI
Karena sel (B2, K1) menerima 900 unit dari sel (B1, K1), maka sel (B2, K2)
dan sel (B2, K3) harus berkurang karena kapasitas baris B2 hanya 1.500 unit.
Di lain pihak, sel (B1, K3) juga harus diisi sebanyak 400 unit dengan
memindahkan dari sel (B2, K3) sehingga sel (B2, K2) tinggal 1.500 – 900 =
600 unit. Kemudian di cek lagi apakah matrik ke-2 MODI sudah optimum.
Caranya sama:
i. Mulai dengan B1 = 0, lalu gunakan rumus untuk mencari nilai B2,
K2, K3. Perhatika sel-sel yang terisi saja dulu. Sel (B1,
K2 ) B1 + (B1, K2) + K2 =0
0 + 25 + K2 = 0
K2 = -25
Sel (B1, K3) B1 + (B1, K3) + K3 = 0
0 + 60 + K3 = 0, K3 = -60
Sel (B2, K2) B2 + (B2, K2) + K2 = 0
B2 + 40 + (-25) = 0
B2 + 40 -25 = 0
B2 = -15
Sel (B2, K1) B2 + (B2, K1) + K1 = 0
-15 + 15 + K1 = 0
K1 = 0
31
Sel (B2, K3) juga jangan diisi, karena hasilnya positif 5 atau +5.
Kesimpulannya, kedua sel yang kosong pada Matriks ke-2/ MODI tersebut
mempunyai nilai yang positif (+). Jadi, Matriks ke-2/ MODI tersebut telah
optimum. Berapa total biaya transportasinya? Mari kita hitung.
Total biaya transportasi = 600 (Rp 25.000,00) + 400 (Rp 60.000,00) + 600
(Rp 40.000,00) + 900 ( Rp 15.000,00)
TBT = Rp 15.0000.000,00 + Rp 24.000.000,00 + Rp
24.000.000,00 + Rp 13.500.000,00
TBT = Rp 76.500.000,00
Artinya, total biaya transportasi yang paling minimum sebesar Rp
76.500.000,00. Ternyata cara matematis, stepping stone, dan MODI
menghasilkan total biaya minimum yang sama, yakni Rp 76.500.000,00.
32
Untuk menerapkan tahap-tahap tersebut sebaiknya perhatikan contoh
berikut.
- 15 20 lapis -2
5 15 20 lapis -1
Dari – ke K1 K2 K3 Kapasitas
B1 10 25 400 60 15 35
0 600 1.000
B2 15 40 80 1.500 25 40
900 600 0
Pada lapisan 1, perbedaan angka pada kolom dari baris berturut-turut adalah
5,15, 20, 15, dan 25. Mana yang paling besar? Tentu angka 25.
Catatan:
Angka 5 dalam kolom K1 sebesar 5 hasil dari 15-10. Sedangkan angka 25
pada baris B2berasal dari 40 – 15. Demikian pula angka lain dihitung dengan
cara yang sama, seperti disebutkan langkah (a).
Angka 25 berada pada baris B2 sehingga baris B2 dipilih untuk diisi. Oleh
karena itu, buat garis arah untuk menunjukkan baris B2 sebagai baris yang
mempunyai sel (B2, K1), sel (B2, K2), dan sel (B2, K3). Sel mana dari ketiga
sel tersebut yang mempunyai angka biaya transport paling kecil? Tentu
saja sel (B2, K1) yaitu 15. Jadi, isi saja sel (B2, K1) tersebut dengan angka
900. Mungkin anda bertanya mengapa tidak diisi dengan angka 1.500
unit? Karena daya tampung kolom K1 hanya 900 unit saja.
Jika demikian, berarti kolom K1 sudah terpenuhi kebutuhannya, sehingga
kolomK1 diarsir. Selesai tahap ke-1, lalu diulang proses yang sama untuk 4
sel yang tersisa. Buat lapis ke-2 untuk mencari selisih angka biaya transport
seperti di atas. Dari lapis ke-2 kita diperoleh angka-angka 15, 20, 35, dan
40. Mana yang paling besar? Tentu 40. Artinya, baris B2 terpilih lagi untuk
diisi sel-sel tersisa yaitu sel (B2, K2), dan sel (B2, K3). Sel yang mempunyai
biaya transport paling kecil adalah (B2, K2), yakni 40. Berapa unit harus
diisikan pada sel (B2, K2)? Jumlahnya 1.500 unit – 900 unit = 600 unit. Jadi,
baris B2 sudah penuh sebanyak kapasitas 1.500 unit. Oleh karena itu
baris B2 diarsir saja. Selesai tahap ke-2, seterusnya kita perhatikan sel yang
tersisa, yaitu sel (B1, K2) dan (B1, K3). Isi saja masing-masing dengan
memperhatikan daya tampung dan kapasitas. Jadi, sel (B1, K2) diisi dengan
600 unit (=1.200 unit – 600 unit. Sedangkan sel (B1, K3) dengan 400 unit (=
1.000 unit – 600 unit).
33
Berarti selesai sudah alokasi “pengiriman dari tempat asal ke tempat tujuan
dengan total biaya transportasi sebesar
= (600 × 25.000) + ( 400 × 60.000) + (900 × 15.000) + (600 × 40.000)
= 15.000.000 + 24.000.000 + 13.500.000 + 24.000.000
= 76.500.000
Jadi t min = Rp 76.500.000,00
Pasar A B C
Gudang
Gudang 1 9 7 6
Gudang 2 10 12 7
Gudang 3 15 12 9
34
B. .
35
2. Pilih File kemudian New Problem
36
4. Kemudian mengisi data transportasi
37
Gambar 2.8Hasil Nomor 5
38
B. .
39
2. Pilih File kemudian New Problem
40
4. Kemudian mengisi data transportasi
41
Gambar 2.16 Hasil Nomor 5
42
2.4.3Penyelesaian dengan software
A. VAM
1. Buka menu START kemudian pilih ALL PROGRAM kemudian
pilih winQSB lalu pilih Network Modeling
43
3. Mengisi data dengan
Problem Type Transportation Problem
Objective Criterion Minimization
Data Entry Frormat Spreadsheet Matrix Form
Problem Title missal Soal 9
Number Of Sources = 3
Number Of Destinations = 3
44
5. Kemudian pilih Solve and Analyze kemudian pilih Solve The
Problem maka tampilan akan seperti dibawah ini :
45
BAB 3 PENUGASAN
3.1 Landasan Teori Penugasan
3.2 Studi kasus (1)
3.2.1 Sebuah perusahaan pengecoran logam mempunyai empat jenis
mesin yang diberi nama M1, M2, M3 dan M4. Setiap mesin
mempunyai kapasitas yang berbeda dalam pengoperasiannya.
Dalam minggu mendatang perusahaan mendapatkan pesanan untuk
menyelesaikan empat jenis pekerjaan (job) yaitu J1, J2, J3 dan J4.
Biaya pengoperasian setiap pekerjaan oleh keempat mesin dapat
dilihat dalam tabel berikut:
MACHINE
JOB M1 M2 M3 M4
J1 88 70 66 65
J2 60 61 71 80
J3 84 69 63 62
J4 82 78 60 84
46
3.2.2 Algoritma Solusi
47
2. Pilih File kemudian New Problem
48
4. Mengisi data penugasan
49
Gambar 3.7 Hasil nomor 1
50
3.3.2 Algoritma Solusi
51
2. Pilih File kemudian New Problem
52
4. Mengisi data penugasan
53
Gambar 3.15 Hasil nomor 2
54
3.4.2 Algoritma Solusi
55
2. Pilih File kemudian New Problem
56
4. Mengisi data penugasan
57
Gambar 3.21 Hasil nomor 3
58
1.4.3 Penyelesaian dengan software
1. Buka menu START kemudian pilih ALL PROGRAM kemudian
pilih winQSB lalu pilih Queuing Analysis
59
3. Mengisi data dengan
Problem Title: Soal 1
Time Unit : Hour
Entry Format : Simple M/M System
60
5. Kemudian pilih Solve and Analyze kemudian pilih Solve The
Problem maka tampilan akan seperti dibawah ini
61
4.3 Studi kasus(2)
1.4.1 Kedatangan penelpon pada telepon umum mengikuti fungsi poisson
dengan rata – rata waktu sebesar 20 menit antara satu kedatangan
dengan kedatangan berikutnya. Lamanya satu pembicaraan dianggap
mangikuti distribusi exponensial dengan rata rata 4 menit. Hitunglah
:
a. Probabilitas seorang penelpon yang dating ke telpon umum
harus menunggu
b. Rata rata penjang antrian yang tidak kosong
1.4.2 Algoritma solusi
A. .
62
2. Pilih File kemudian New Problem
63
4. Mengisi data queuing
64
Gambar 4.15 Hasil nomor 3
65
1.4.2 Algoritma solusi
A.
66
C.
67
1.4.3 Penyelesaian dengan software
Kondisi Dasar
Kondisi Ekonomi Kondisi Ekonomi
Keputusan Baik Buruk
Ruko baru 50.000 30.000
Gedung bekas
perkantoran 100.000 -40.000
Gedung bekas garasi
bus 30.000 10.000
keputusan dalam tiap kondisi ekonomi diperlihatkansebagai berikut
:
68
1.5.2 Algoritma Solusi
69