PROPOSAL
TERAPI AKTIVITAS BERMAIN DI RUANG CEMPAKA
RSUD dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA
Disusun oleh :
KELOMPOK 24
1. Tri Purnama Sari (1811040038)
2. Lestirani Dewi (1811040089)
3. Lufi Sukowati (1811040106)
4. Viki Adhi N (1811040078)
5. Intan Gatty N (1811040041)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat rahmat dan kasih -Nyalah sehingga kami dapat menyusun dan
menyelesaikan “PROPOSAL TERAPI BERMAIN ANAK MENYUSUN
GELAS” ini tepat pada waktu yang telah ditentukan. Proposal terapi bemain ini
diajukan guna memenuhi tugas kelompok dalam Stase Keperawatan Anak.
Pada kesempatan ini juga kami berterima kasih atas bimbingan dan masukan
dari semua pihak yang telah memberi kami bantuan wawasan untuk dapat
menyelesaikan Proposal Terapi Bernain ini baik itu secara langsung maupun tidak
langsung.
Kami menyadari isi ini Proposal Terapi Bernain masih jauh dari kategori
sempurna, baik dari segi kalimat, isi maupun dalam [Link] karen itu,
kritik dan saran yang membangun dari dosen mata kuliah yang bersangkutan,
sangat kami harapkan demi kesempurnaan Proposal Terapi Bermain ini.
Purbalingga, 19 Juni 2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bermain adalah kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk
memperoleh kepuasan. Aktivitas bermain merupakan suatu kegiatan yang
menyenangkan bagi anak, meskipun hal tersebut tidak meghasilkan
komoditas tertentu. Aktifitas optimal, anak bebas mengekspresikan
perasaan takut, cemas, gembira atau perasaan lainnya sehingga hal tersebut
memberikan kebebasan bermain untuk anak sehingga orang tua dapat
mengetahui suasana hati si anak. Oleh karena itu dalam memilih alat
bermain hendaknya disesuaikan dengan jenis kelamin dan usia anak.
Sehingga dapat merangsang perkembangan anak secara optimal. Dalam
kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit, aktifitas bermain ini tetap
perlu dilaksanakan disesuaikan dengan kondisi anak.
Pada saat dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai
perasaan yang sangat tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas,
sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi
yang dialami anak karena menghadapi beberapa stressor yang ada
dilingkungan rumah sakit. Hospitalisasi pada anak akan memberikan
dampak negatif seperti trauma, cemas dan ketakutan. Untuk itu, dengan
melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stress yang
dialaminya karena dengan melakukan permainan anak akan
dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan
relaksasi melalui kesenangannya melakukan permainan. Tujuan bermain
di rumah sakit pada prinsipnya adalah agar dapat melanjutkan fase
pertumbuhan dan perkembangan secara optimal, mengembangkan
kreatifitas anak, dan dapat beradaptasi lebih efektif terhadap
stress. Bermain sangat penting bagi mental, emosional, dan kesejahteraan
anak seperti kebutuhan perkembangan dan kebutuhan bermain tidak juga
terhenti pada saat anak sakit atau anak di rumah sakit (Wong, 2009).
Pada usia 4-6 tahun anak sudah mampu mengembangkan
kreatifitasnya dan sosialisasi sehingga sangat diperlukan permainan yang
dapat mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan,
kemampuan berbahasa, mengembangkan kecerdasan, menumbuhkan
sportifitas, mengembangkan koordinasi motorik, mengembangkan dan
mengontrol emosi, motorik kasar dan halus, memperkenalkan pengertian
yang bersifat ilmu pengetahuan dan memperkenalkan suasana kompetisi
serta gotong royong.
Menyusun gelas salah satu jenis permainan yang bisa dilakukan
dalam proses terapi bermain bagi klien anak yang sedang menjalani proses
hospitalisasi. Terapi bermain ini dapat digunakan sebagai terapi bagi anak
dengan usia mulai dari 4 tahun hingga 6 tahun. Bermain dengan cara
menyusun gelas pada dasarnya tidak hanya membantu mengembangkan
kemampuan motorik anak tetapi juga berperan penting dalam proses
pengembangan kognitif klien. Kemampuan klien menyusun gelas
berkaitan erat dengan kemampuan kognitif klien karena pada dasarnya
bermain dengan cara metode menyusun gelas tidak hanya melatih
kemampuan motorik halus klien tapi lebih dari itu bermain menyusun
balok memerlukan perencanaan meskipun masih relatif sederhana. Ketika
anak sudah mampu bermain menyusun gelas secara lancar maka dia sudah
siap untuk meningkatkan kemampuannya ke tingkat yang lebih lanjut
seperti mencorat-coret kertas, belajar menggosok gigi sendiri dan makan
dengan menggunakan sendok. Menyusun gelas mengandalkan
keterampilan memegang benda kecil, meletakkannya di atas gelas lainnya
sambil mengusahakan keseimbangan.
B. TUJUAN
a. TUJUAN UMUM
Setelah mendapatkan terapi bermain selama 20 menit agar dapat
mencapai tugas perkembangan secara optimal sesuai tahap
perkembangan walaupun dalam kondisi sakit
b. TUJUAN KHUSUS
Setelah dilakukan terapi bermain selam 20 menit anak mampu:
a. Mendemonstrasikan menyusun gelas
b. Menunjukkan ekspresi non verbal dengan tertawa, tersenyum dan
saling bercanda.
c. Meningkatkan kemampuan dan kreatifitas
d. Meningkatkan keterampilan anak
e. Memberikan kesenangan dan kepuasaan
C. MANFAAT
a. Untuk anak-anak sebagai salah satu terapi pengobatan dan
menghilangkan kejenuhan terhadap suasana rumah sakit
b. Sebagai sarana orang tua untuk mengetahui suasana hati anak saat
bermain.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Bermain adalah satu kegiatan menyenangkan bagi anak yang
dilakukan setiap hari secara sukarela untuk memperoleh kepuasan dan
merupakan media yang baik bagi anak-anak untuk belajar komunikasi,
mengenal lingkungan, dan untuk meningkatkan kesejahteraan mental dan
sosial anak.
B. Fungsi Bermain
1. Fungsi bermain adalah merangsang perkembangan sensorik-motorik,
perkembangan intelektual, sosial, kreatifitas, kesadaran diri, moral dan
bermain sebagai terapi.
2. Perkembangan sensorik-motorik merupakan komponen terbesar yang
digunakan anak dan bermain aktif sangat penting untuk perkembangan
pengobatan.
3. Perkembangan intelektual anak melakukan eksplorasi dan manipulasi
terhadap segala sesuatu yang ada dilingkungan sekitar.
4. Perkembangan sosial anak akan memberi dan menerima serta
mengembangkan hubungan sesuai dengan belajar memecahkan
masalah dan hubungan sulit
5. Perkembangan kreatifitas anak belajar merealisasikan diri.
6. Perkembangan kesadaran diri, anak belajar mengenal kemampuan
dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah
lakunya terhadap orang lain.
7. Perkembangan moral, anak akan belajar mengenai nilai dan moral dan
etika belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah serta
belajar bertanggung jawab atas segala tindakan yang telah dilakukan.
8. Bermain sebagai terapi, anak akan mengalihkan rasa sakitnya pada
permainannya dan relaksasi melalui kesenangannya bermain.
C. Tujuan Bermain
1. Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada
saat sakit, pada saat sakit anak mengalami gangguan pertumbuhan dan
perkembangan
2. Mengekspresikan perasaan, keinginan, dan fantasi serta ide-idenya
3. Pengembangan kreatifitas dan kemampuan memecahkan masalah.
4. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stres karena sakit dan dirawat
di rumah sakit.
D. Faktor Yang Mempengaruhi Aktifitas Bermain
1. Tahap perkembangan
2. Jenis kelamin anak
3. Status kesehatan anak
4. Lingkungan yang tidak mendukung
5. Alat dan jenis permainan yang cocok atau sesuai dengan anak
E. Prinsip-Prinsip Dalam Aktifitas Bermain
1. Perlu energi ekstra
2. Waktu yang cukup
3. Alat permainan
4. Ruang untuk bermain
5. Pengetahuan cara bermain
6. Teman bermain
F. Klasifikasi Bermain Berdasarkan isi permainan :
1. Sosial Affective Play
2. Sense of Pleasure Play
3. Skill Play
4. Games atau permainan
5. Unoccupied Behaviour
6. Dramatic Play
G. Jenis Permainan Yang Cocok Untuk Usia 4-6 tahun
1. Dramatic Play.
Pada permainan ini anak memainkan peran sebagai orang lain, contoh:
Anak memerankan sebagai ayah atau ibu
2. Skill Play.
Pada permainan ini akan meningkatkan keterampilan anak khususnya
motorik kasar dan halus, ontoh : Bermain Clay (Plastisin)
3. Assosiative Play.
4. Pada permainan ini sudah terjadi komunikasi antara satu anak dengan
yang lain, tetapi tidak terorganisir. Tidak ada pemimpin yang
memimpin permainan dan tujuan yang tidak jelas, contoh: anak-anak
bernyanyi sesuai selera masing-masing.
5. Cooperative Play.
Aturan permainan dalam kelompok tampak lebih jelas tetapi tujuan
dan pimpinan permainan jelas, contoh : anak-anak bernyanyi bersama-
sama dengan satu orang menjadi pemimpin.
H. Tahap Kerja Terapi Bermain Anak Usia Pre Sekolah
1. Stimulasi Sosial. Anak bermain bersama teman-temannya, tetapi tidak
ada tujuan. Contoh: bermain pasir bersama-sama
2. Stimulasi Keterampilan. Mengetahui kemampuan keterampilan yang
ada pada anak sehingga dapat mengetahui bakat anak. Contoh:
Menggambar, bernyanyi, menari.
3. Stimulasi Kerjasama. Anak mampu bekerjasama dalam permainan.
Contoh: anakanak bermain menyusun puzzle, bermain bola,menyusun
gelas
I. BERMAIN MENYUSUN GELAS
Pada usia 4-6 tahun anak sudah mampu mengembangkan
kreatifitasnya dan sosialisasi sehingga sangat diperlukan permainan yang
dapat mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan,
kemampuan berbahasa, mengembangkan kecerdasan, menumbuhkan
sportifitas, mengembangkan koordinasi motorik, mengembangkan dan
mengontrol emosi, motorik kasar dan halus, memperkenalkan pengertian
yang bersifat ilmu pengetahuan dan memperkenalkan suasana kompetisi
serta gotong royong. Sehingga jenis permainan yang dapat digunakan pada
usia ini seperti benda-benda di sekitar rumah, buku gambar, majalah anak-
anak, alat gambar, kertas untuk belajar melipat, gunting dan air.
Pada usia 4-6 tahun anak sudah mampu mengembangkan
kreatifitasnya dan sosialisasi sehingga sangat diperlukan permainan yang
dapat mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan,
kemampuan berbahasa, mengembangkan kecerdasan, menumbuhkan
sportifitas, mengembangkan koordinasi motorik, mengembangkan dan
mengontrol emosi, motorik kasar dan halus, memperkenalkan pengertian
yang bersifat ilmu pengetahuan dan memperkenalkan suasana kompetisi
serta gotong royong. Sehingga jenis permainan yang dapat digunakan pada
usia ini seperti benda-benda di sekitar rumah, buku gambar, majalah anak-
anak, alat gambar, kertas untuk belajar melipat, gunting dan air.
Bermain menyusun gelas merupakan salah satu jenis permainan
yang bisa dilakukan dalam proses terapi bermain bagi klien anak yang
sedang menjalani proses sosialisasi. Terapi bermain ini dapat digunakan
sebagai terapi bagi anak dengan usia sekolah. Bermain dengan cara
menyusun gelas pada dasarnya tidak hanya membantu mengembangkan
kemampuan motorik anak tetapi juga berperan penting dalam proses
pengembangan kognitif klien. Kemampuan klien menyusun gelas
berkaitan erat dengan kemampuan kognitif klien karena pada dasarnya
bermain dengan cara metode menyusun gelas tidak hanya melatih
kemampuan motorik halus klien tapi lebih dari itu bermain menyusun
balok memerlukan perencanaan meskipun masih relatif sederhana. Ketika
anak sudah mampu bermain menyusun gelas secara lancar maka dia sudah
siap untuk meningkatkan kemampuannya ke tingkat yang lebih lanjut
seperti mencoratcoret kertas, belajar menggosok gigi sendiri dan makan
dengan menggunakan sendok.
Menyusun gelas mengandalkan keterampilan menyusun benda-
benda tersebut, meletakkannya di atas gelas lain sambil mengusahakan
keseimbangan. Keterampilan memegang, sebenarnya dicapai anak sejak
berusia 10 bulan, saat ia mulai suka menjumput remah-remah kue yang
berserakan di dekatnya Jenis permainan yang digunakan yaitu bermain
menyusun gelas. Terapi bermain dengan menggunakan jenis gelas plastik
diberikan pada anak yang sedang menjalani kegiatan sosialisasi dengan
teman disekitarnya, karena tidak membutuhkan energi yang besar untuk
bermain.
BAB III
SAK TERAPI BERMAIN
Pokok Bahasan : Terapi Bermain Pada Anak Di Rumah Sakit
Sub Pokok Bahasan : Terapi Barmain Anak Usia 4-6 tahun Menyusun Gelas
Tujuan : Mengoptimalkan Tingkat Perkembangan Anak Sesuai
Tahap Perkembangan Walaupun Dalam Kondisi Sakit
Hari / Tanggal : Jum’at, 21 Juni 2019
Jam / Durasi : Pukul 10.00 sd selesai
Tempat Bermain : Ruang Terapi Bermain di Ruang Cempaka
A. Peserta
Untuk kegiatan ini peserta yang dipilih adalah pasien di Ruang anak
yang memenuhi kriteria :
a. Anak usia 4 - 6 tahun
b. Tidak mempunyai keterbatasan fisik
c. Dapat berinteraksi dengan perawat dan keluarga
d. Pasien kooperatif
e. Peserta terdiri dari anak usia pra sekolah 5 orang didampingi keluarga.
B. Target : 4 orang
C. Sarana dan Media :
a. Sarana
- Ruangan tempat bermain
- Tikar untuk duduk
b. Media:
- Gelas plastik 10 buah/ kelompok
- Karpet
- Lembar penilaian
- Meja
D. Pengorganisasian
Leader : Viki Adhi N
Co Leader : Lestirani D
Observer : Lufi Sukowati
Fasilitator : Tri Purnama Sari
Intan Gatty Nugraha
E. Setting Tempat
Keterangan
: Leader
: Peserta
: Co Leader
: Observer
: Fasilitator
Susunan Kegiatan
KEGIATAN
No. WAKTU
Penyaji Peserta
1. Pembukaan a. Co-Leader membuka a. Menjawab salam
dan mengucapkan salam b. Mendengarkan dan
5 menit
serta memperkenalkan berkenalan
diri c. Mendengarkan dan
b. Memperkenalkan tim saling berkenalan
terapi bermain d. Mendengarkan
c. Memperkenalkan anak e. Mendengarkan
satu persatu dan anak f. Medengarkan
saling berkenalan g. Mendengarkan
dengan temannya
d. Menyampaikan tujuan
dan manfaat terapi
bermain
e. Kontrak waktu dengan
anak
f. Menyampaikan tata
tertib dalam permainan
g. Mempersilahkan Leader
2. Kegiatan Inti a. Leader menjelaskan a. Mendengarkan
cara permainan b. Menjawab pertanyaan
20 menit
b. Menanyakan kesiapan c. Menerima permainan
anak bermain d. Bermain
c. Menbagikan permainan e. Bermain
d. Leader ,co-leader, dan f. Mengungkapkan
Fasilitator memotivasi perasaan
anak
e. Fasilitator
mengobservasi anak
f. Menanyakan perasaan
anak
3. Penutup a. Leader Menghentikan a. Selesai bermain
permainan b. Mengungkapkan
5 menit
b. Menanyakan perasaan perasaan
anak c. Mendengarkan
c. Menyampaikan hasil d. Senang
permainan e. Senang
d. Memberikan hadiah f. Mendengarkan
pada anak yang cepat g. Mendengarkan
menyelesaikan h. Menjawab salam
permaiannya dengan
cepat dan rapi
e. Membagikan
souvenir/kenang-
kenangan pada semua
anak yang bermain
f. Memberikan
reinforcement positif
g. Co-leader menutup
acara
h. Mengucapkan salam
F. Analisa tugas
a. Anak dibimbing untuk menyusun gelas plastik dalam bentuk piramid
segitiga
b. Anak dibimbing untuk menyusun gelas dengan rapi supaya tidak terjatuh
kembali.
Kriteria Penilaian:
1. Berhasil bila anak dapat menyusun gelas plastik dalam bentuk piramid
segitiga (10)
2. Anak dapat menyusun dengan rapi dan mampu mempertahankan agar
tidak terjatuh (10).
3. Anak dapat menyelesaikan dengan cepat dan tepat waktu (10)
G. Aspek kognitif
a. Pengetahuan anak tentang bentuk piramid segitiga
b. Pemahaman anak tentang menyusun bentuk piramid segitiga
c. Penerapan anak dalam menyusun dan mempertahankan piramid segitiga
dengan menggunakan gelas plastik secara rapi dan utuh.
H. Aspek psikomotor
a. Motorik halus
Pengetahuan dan pemahaman anak tentang bentuk piramid segitiga
contoh: mengerti bahwa itu bentuk piramid segitiga
b. Motorik kasar
Anak dibimbing untuk menyusun gelas dengan pola piramid segitiga.
c. Hasilnya dapat diukur melalui
1. Pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku anak selama proses
bermain.
2. Anak mampu mengikuti proses bermain dari awal hingga akhir.
I. Aspek afektif
Anak dapat member respon rangsangan dari pembimbing.
J. Aspek sosial
Anak dapat berinteraksi dengan ibu,teman sebaya dan pembimbing.
K. Perkiraan hambatan :
1. Jadwal terapi bermain yang kurang sesuai (lebih lambat dari yang di
jadwalkan
2. Anak rewel atau ingin keluar dari terapi bermain
L. Antisipasi hambatan/masalah
1. Jadwal terapi bermain disesuaikan (tidak pada waktu terapi)
2. Melakukan kerjasama dengan orang tua untuk mendampingi anak selama
program terapi.
M. Kriteria evaluasi
1. Evalusi Struktur
a. Anak hadir di ruangan minimal 2 orang.
b. Penyelenggaraan terapi bermain dilakukan di ruang Cempaka
c. Pengorganisasian penyelenggaraan terapi dilakukan sebelumnya.
2. Evaluasi Proses
a. Anak antusias dalam kegiatan menyusun
b. Anak mengikuti terapi bermain dari awal sampai akhir
c. Tidak terdapat anak yang rewel atau malas untuk menyusun gelas
dalam bentuk piramid segitiga
3. Kriteria Hasil
a. Anak terlihat senang dan gembira
b. Kecemasan anak berkurang
c. Menyusun gelas sesuai dengan contoh
DAFTAR PUSTAKA
Erlita, dr. (2006). Pengaruh Permainan pada Perkembangan [Link]
pada [Link] Diakses pada tanggal 21
Agustus 2015
Foster and Humsberger, 1998, Family Centered Nursing Care of
Children. WB sauders Company, Philadelpia USA
Hurlock, E B.1991. Perkembangan Anak Jilid 1. Erlangga : Jakarta
L. Wong, Donna. 2003. Pedoman Klinik Keperawatan Pediatrik Edisi
4. EGC : Jakarta [Link] Selasa 21 Agustus 2015
Immanuel, R. (2006). Permainan Edukatif dalam Perkembangan Logic-
Smart Anak. Terdapat pada:
[Link]
[Link]/[Link] pada 9 Februari 2012.
Markum, dkk. [Link] Ajar Ilmu Kesehatan Anak, EGC : Jakarta
Soetjiningsih, 1995,Tumbuh Kembang Anak, EGC : Jakarta
Whaley and Wong, 2009, Nursing Care Infanst and Children. Fourth
Edition. Mosby Year Book. Toronto Canada