TUGAS STRUKTUR BETON I
“Soal dan Jawaban Teknologi Beton”
Disusun Oleh:
ARING WULANDARI
N P M: 2016-22-201-098
Kelas : B
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUSAMUS MERAUKE
2019
1
SEMEN
1. Jelaskan deskripsi dari semen!
Jawab:
Semen merupakan bahan campuran yang secara kimiawi aktif setelah
berhubungan dengan [Link] tidak memainkan peran yang penting dalam
reaksi kimia tersebut, tetapi berfungsi sebagai bahan pengisi mineral yang dapat
mencegah perubahan-perubahan volume beton setelah pengadukan selesai dan
memperbaiki keawetan beton yang dihasilkan.
2. Sebutkan jenis-jenis semen hidrolik dan non-hidrolik!
Jawab:
Semen hidrolik adalah semen yang mempunyai kemampuan untuk mengikat dan
mengeras di dalam [Link] : kapur hidraulik, semen pozollam, semen terak,
semen alam, semen Portland putih, semen warna dan semen-semen untuk
keperluan khusus.
Semen non-hidrolik adalah semen semen yang tidak dapat mengikat dan mengeras
di dalam air, akan tetapi dapat mengeras di udara. Contoh : kapur.
3. Jelaskan proses pembuatan kapur hidrolik di Indonesia!
Jawab:
Kapur hidrolik dibuat dengan cara membakar batu kapur yang mengandung silika
dan lempung sampai menjadi klinker dan mengandung cukup kapur dan silikat
untuk menghasilkan kapur hidrolik. Klinker yang dihasilkan harus mengandung
cukup kapur bebas sehingga masa klinker iru dapat menghasilkan kapur tohor
setelah berhubungan dengan air.
4. Apa yang dimaksud dengan pozzolan? Apa saja yang dikelompokkan sebagai
pozzolan?
Jawab:
Pozzolan adalah sejenis bahan yang mengandung silisium atau aluminium, yamg
tidak mempunyai sifat penyemenan. Butirannya halus dan dapat bereaksi dengan
kalsium hidroksida pada suhu ruang serta membentuk senyawa-senyawa yang
mempunyai sifat-sifat semen.
5. Bagaimana proses pembuatan a). semen terak, b). semen alam dan c). semen
portland?
Jawab:
a). Semen terak dibuat melalui proses tertentu yakni penggilingan, yang
menyebabkan terak itu bersifat hidrolik, sekaligus berkurang jumlah
sulfatnya yang dapat merusak. Terak tersebut kemudian dikeringkan dan
ditambahi kapur tohor dengan perbandingan [Link] bahan
kemudian di campur dan dihaluskan kembali menjadi butiran yang halus.
b). Semen alam dibuat dengan cara membakar lempung batu kapur yang
memiliki kadar lempung 13%-35%, kadar silika 10%-20%, kadar
alumina 10-20%, serta kadar oksida besi 10%-20%. Setelah dibakar,
kapur tersebut dibasahi dengan air untuk mematikan kapur dan
menghilangkan kapur [Link] pembekuannya disebut [Link]
tersebut kemudian digiling menjadi butiran yang berbentuk halus.
c). Semen Portland dibuat dari serbuk halus mineral kristalin yang
komposisi utamanya adalah kalsium dan alumunium silikat. Penambahan
air pada mineral ini menghasilkan suatu pasta yang jika mengering akan
mempunyai kekuatan seperti batu. Berat jenis yang dihasilkan berkisar
antara 3.12 dan 3.16 dan berat volume sekitar 1500 kg/cm3. Bahan utama
pembentuk semen Portland adalah kapur (CaO), silika (SiO2), alumina
(A2O3), sedikit magnesia (MgO), dan terkadang sedikit alkali.
6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan proses basah dan proses kering dalam
pembuatan semen portland!
Jawab:
a). Proses basah yaitu proses pembuatan semen yang sebelum dibakar bahan
dicampur dengan air (slurry) dan digiling hingga berupa bubur halus.
Proses basah umumnya dilakukan jika yang diolah merupakan bahan-
bahan lunak seperti kapur dan lempung.
b). Proses kering biasanya digunakan untuk jenis batuan yang lebih keras
misalnya untuk batu kapur jenis shale. Pada proses ini bahan dicampur dan
digiling dalam keadaan kering menjadi bubuk kasar. Selanjutnya, bahan
tersebut dimasukkan ke dalam clin dan proses selanjutnya sama dengan
proses basah.
7. Jelaskan sifat dan karakteristik semen portland, baik sifat kimia maupun fisika!
Jawab:
a). Sifat dan Karakteristik Semen Portland
1. Sifat Fisika Semen Portland
Kehalusan Butir (Fineness), mempengaruhi proses hidrasi. Waktu
pengikatan (setting time) menjadi semakin lebih lama jika butir semen
lebih kasar. Kehalusan pengilinggan butir semen dinamakan penampang
spesifik, yaitu luas butir permukaan semen. Jika permukaan penampang
semen lebih besar, semen akan memperbesar bidang kontak dengan air.
Semakin halus butiran semen, proses hidrasinya semakin cepat, sehingga
kekuatan awal tinggi dan kekuatan akhir akan berkurang.
Kepadatan (density), berat jenis semen yang disyaratkan oleh ASTM
adalah 3.15 Mg/m3. Pada kenyataannya, berat jenis semen yang diproduksi
berkisar antara 3.05 Mg/m3 sampai 3.25 Mg/m3. Variasi ini akan
berpengaruh pada proporsi campuran semen dan campuran.
Konsistensi, konsistensi semen Portland lebih banyak pengaruhnya pada
saat pencampuran awal, yaitu pada saat terjadi pengikatan sampai pada
saat beton mengeras. Konsistensi yang terjadi bergantung pada rasio antara
semen dan air serta aspek-aspek bahan semen seperti kehalusan dan
kecepatan hidrasi. Konsistensi mortar bergantung pada konsistensi semen
dan agregat pencampurnya.
Waktu Pengikatan, waktu ikat adalah waktu yang diperlukan semen untuk
mengeras, terhitung dari mulai bereaksi dengan air dan menjadi pasta
semen hingga pasta semen cukup kaku untuk menahan tekanan.
Proses Hidrasi, adalah panas yang terjadi pada saat semen bereaksi dengan
air, dinyatakan dalam kalori/gram. Jumlah panas yang dibentuk antara lain
bergantung pada jenis semen yang dipakai dan kehalusan butir semen.
Perubahan Volume (Kekalan), merupakan suatu ukuran yang menyatakan
kemampuan pengembangan bahan-bahan campurannya dan kemampuan
untuk mempertahankan volume setelah pengikatan terjadi.
Kekuatan Tekan, kekuatan tekan diuji dengan cara membuat mortar yang
kemudian ditekan sampai hancur.
2. Sifat Kimia Semen Portland
Kesegaran semen, pengujian kehilangan berat akibat pembakaran (loss
ofignition) dilakukan pada semen dengan suhu 900-1000C. Kehilangan
berat ini terjadi karena kelembaban yang menyebabkan prehidrasi dan
karbonisasi dalam bentuk kapur bebas atau magnesium yang menguap.
Sisa yang Tak Larut (Insoluble Residue), sisa bahan yang tak habis
bereaksi adalah sisa bahan ini, semakin baik kualitas semen. Jumlah
maksimum sisa tak larut yang dipersyaratkan adalah 0.85%.
Panas Hidrasi Semen, hidrasi terjadi jika semen bersentuhan dengan air.
Proses hidrasi terjadi dengan arah kedalam dan keluar.
Kekuatan Pasta Semen dan Faktor Air Semen (FAS), banyaknya air yang
dipakai selama proses hidrasi akan mempengaruhi karakteristik kekuatan
beton jadi. Pada dasarnya jumlah air yang dibutuhkan untuk proses hidrasi
tersebut adalah sekitar 25% dari berat semen.
8. Jelaskan komposisi kimia dan kegunaan dari lima tipe semen portland!
Jawab:
Komposisi dalam persen (%) Karakteristik
C4AF CaSO4 CaO MgO
C3S C2S C3A Umum
Tipe I, Normal 49 25 12 8 2.9 0.8 2.4 Semen untuk
semua tujuan
Tipe II, Modifikasi 46 29 6 12 2.8 0.6 3 Relatif sedikit
pelepasan panas,
di gunakan untuk
struktur besar.
Tipe III, Kekuatan 56 15 12 8 3.9 1.4 2.6 Mencapai
Awal Tinggi kekuatan awal
yang tinggi pada
umur 3 hari
Tipe IV, Panas 30 46 5 13 2.9 0.3 2.7 Di pakai pada
Hidrasi Rendah bendungan beton
Tipe V, Tahan Sulfat 43 36 4 12 2.7 0.4 1.6 Dipakai pada
saluran dan
struktur yang
diekspose
terhadap sulfat.
9. Sebutkan dan jelaskan empat unsur kimia utama penyusunan semen portland!
Jawab:
Komposisi unsur-unsur kimia tersebut di dalam semen sangat mempengaruhi
sifat-sifat dan kegunaan semen tersebut. Peranan masing-masing unsur kimia
dalam semen tersebut dapat dijelaskan sbb:
C3S
Bereaksi dengan air untuk membentuk pasta semen
Pengerasan pasta semen berlangsung cepat, sekitar 70% dalam 1
minggu
Menghasilkan panas hidrasi (panas yang terjadi akibat reaksi antara
semen dengan air) tinggi, sekitar 500 joule/gram
C2S
Bereaksi dengan air untuk membentuk pasta semen
Pengerasan pasta semen berlangsung lambat (dalam beberapa minggu
sampai 1 bulan)
Menghasilkan panas hidrasi lebih rendah, sekitar 250 joule/gram
C3A
Bereaksi dengan air membentuk pasta semen berkekuatan rendah
Pengerasan pasta semen berlangsung cepat, sekitar 1 s.d 2 hari
Menghasilkan panas hidrasi tinggi, sekitar 850 joule/gram
C4AF
Bereaksi dengan air membentuk pasta semen
Pengerasan pasta semen berlangsung sangat cepat, dalam beberapa
menit
Menghasilkan panas hidrasi tinggi, sekitar 420 joule/gram
10. Jelaskan perkembangan kekuatan tekan (sampai dengan umur 28 hari) beton
yang menggunakan lima jenis semen portland dengan FAS 0.49!
Jawab:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan semen Andalas
tipe PCC dan semen Andalas tipe PC I terhadap kuat tekan beton dengan variasi
nilai Faktor Air Semen (FAS) dan umur pengerasan. Perencanaan campuran beton
menggunakan metode American Concrete Institute [Link] maksimum
agregat adalah 31,5 mm. Benda uji yang digunakan pada penelitian adalah silinder
beton berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Pada penelitian ini umur pengujian
kuat tekan adalah 3, 7, 14, 21 dan 28 hari dengan variasi FAS 0,5. Jumlah sampel
untuk semua variasi FAS pada setiap pengujian kuat tekan beton adalah 15 buah
benda uji untuk masing-masing tipe semen. Dari hasil penelitian terhadap kuat
tekan rata-rata beton menggunakan semen Type I pada umur 3 hari 149,96
kg/cm2, 7 hari 210,32 kg/cm2, 14 hari 242,39 kg/cm2, 21 hari 274,45 kg/cm2 dan
28 hari 296,15 kg/cm2. Sedangkan untuk semen PCC kuat tekan rata-rata beton
pada umur 3 hari 103,75 kg/cm2, 7 hari 144,30 kg/cm2, 14 hari 176,37 kg/cm2,
21 hari 198,06 kg/cm2, dan 28 hari 225,41 kg/cm2. Ditinjau dari jenis semen yang
digunakan, terlihat bahwa beton dengan menggunakan semen Andalas Tipe PC I
mampu memperoleh kuat tekan lebih tinggi dibandingkan dengan beton
menggunakan semen Andalas tipe PCC pada penggunaan FAS 0,5
11. Sebutkan dan jelaskan syarat mutu semen portland sebagai campuran beton!
Jawab:
Untuk keperluan pembuatan campuran beton, semen harus memenuhi syarat-
syarat sesuai dengan standar Normalisasi Indonesia (NI)-8 sebagai berikut:
1. Waktu pengikatan awal untuk segala jenis semen tidak boleh kurang dari
satu jam (60 menit).
2. Pengikatan awal semen normal 60-120 menit.
3. Air yang digunakan memenuhi syarat air minum, yaitu bersih dari zat
organis yang dapat mempengaruhi proses pengikatan awal.
4. Suhu ruangan 23º C.
12. Bagaimana cara penyimpanan semen portland?
Jawab:
Agar semen tetap memenuhi syarat meskipun disimpan dalam waktu lama, cara
penyimpanan semen perlu diperhatikan (PB, 1989:13). Semen harus terbebas dari
bahan kotoran dari luar. Semen dalam kantong harus disimpan dalam gudang
tertutup, terhindar dari basah dan lembab, dan tidak tercampur dengan bahan lain.
Semen dari jenis yang berbeda harus dikelompokkan sedemikian rupa untuk
mencegah kemungkinan tertukarnya jenis semen yang satu dengan yang lainnya.
2
AIR
1. Sebutkan dan jelaskan sumber-sumber air yang layak digunakan untuk pengerjaan
beton!
Jawab:
Air yang terdapat di udara, air yang terdapat di awan. Kemurnian air ini
sangat tinggi. Air yang terdapat dalam atmosfir ini kondisinya sama
dengan air suling, sehingga sangat mungkin unruk mendapatkan beton
yang baik dengan air ini.
Air laut, yang mengandung 30.000-36.000 mg/liter (3% - 3.6%) pada
umumnya dapat digunakan sebagai campuran untuk beton tidak bertulang,
beton pra-tegang dan beton pra-tekan atau dengan kata lain untuk beton-
beton mutu tinggi.
2. Jelaskan syarat mutu air yang layak digunakan untuk campuran beton!
Jawab:
Air yang digunakan untuk campuran beton harus bersih, tidak boleh mengandung
minyak, asam, alkali, zat organis atau bahan lainnya yang dapat merusak beton
atau tulangan.
3. Bila kualitas air yang akan digunakan sebagai campuran beton meragukan, apa
yang sebaiknya dilakukan?
Jawab:
Bila kualitas air yang akan digunakan sebagai campuran beton meragukan, maka
hal yang perlu dilakukan adalah mencari atau mengganti air tersebut. Jika tidak
ada air yang lain maka air tersebut harus disaring (filter) jika keruh, dan endapkan
untuk menurunkan lumpur yang tercampur dengan air ke dasar bejana atau ke
dasar permukaan.
4. Mengapa kandungan sulfat dalam air harus dibatasi?
Jawab:
Senyawa alkali karbonat dan bikarbonat akan memperngaruhi waktu pengikatan
semen (setting time) dan kekuatan beton. Selain itu, kemungkinan terjadinya
reaksi alkali agregat dalam beton menjadi besar.
5. Mengapa jumlah air yang akan digunakan dalam campuran beton harus dibatasi?
Berapa persen air dalam berat yang digunakan untuk proses hidrasi?
Jawab:
Air pada beton mempunyai fungsi sebagai pengencer. Agar cairan beton
dapat padat dan mengisi ruang-ruang sehingga membentuk cetakan. Selain
itu tujuan utama pemakaian air adalah untuk proses hidrasi, yaitu rekasi
antara semen dan air yang menghasilkan campuran keras setelah beberapa
waktu tertentu. Setelah pengecoran air juga berguna untuk perawatan
(curing) guna menjamin proses pengerasan yang sempurna. Penggunaan
air harus dibatasi karena apabila kelebihan air dapat memperlambat
pengerasan campuran beton dan apabila terlalu encer bentuk yang telah di
cetak tidak sesuai keinginan.
Jumlah air yang diperlukan untuk kelecakan tertentu tergantung pada sifat
material penyusun (agregat, semen) yang digunakan. Hukum kadar “air
konstan” mengatakan bahwa “kadar air yang diperlukan untuk kelecakan
tertentu hampir konstan tanpa tergantung pada jumlah semen untuk
kombinasi agregat halus dan kasar tertentu”. Hukum ini tidak sepenuhnya
berlaku untuk seluruh kisaran (range), namun cukup praktis untuk
penyesuaian perencanaan dan koreksi. Air yang diperlukan untuk beton
dipengaruhi oleh :
a. Ukuran agregat maksimum, diameter membesar maka kebutuhan air
menurun, begitu juga jumlah mortar yang dibutuhkan menjadi lebih
sedikit.
b. Bentuk butir, bentuk bulat akan menyebabkan kebutuhan air menurun
misalkan untuk batu pecah (split) perlu lebih banyak air.
c. Gradasi agregat, gradasi baik akan menyebabkan kebutuhan air menurun
untuk kelecakan yang sama.
d. Kotoran dalam agregat, makin banyak silt tanah liat dan lumpur maka
akan meningkatkan kebutuhan air meningkat.
e. Jumlah agregat halus (dibandingkan agregat kasar), jika agregat halus
lebih sedikit maka kebutuhan air menurun.
3
AGREGAT
1. Jika dilihat dari proses terbentuknya, batuan dapat dibedakan menjadi tiga
yaitu, batuan beku (magma), batuan endapan (sedimentasi) dan batuan
peralihan/malihan atau metamorf. Jelaskan deskripsi dari tiga jenis batuan
tersebut!
Jawab:
Batuan beku (Magma) terbentuk dari proses pembekuan magma yang
terdapat di dalam lapisan bumi yang dalam atau dari hasil pembekuan
magma yang keluar akibat letusan gunung berapi. Berdasarkan proses
kejadiannya batuan beku dapat dibedakan menjadi dua, yakni batuan beku
instrusif (batuan beku yang membeku di bawah permukaan bumi, dan
batuan beku ekstrusif (batuan beku yang membeku di permukaan bumi).
Batuan sedimen atau biasa yang disebut sebagai batuan endapan terbentuk
karena mengendapnya bahan-bahan yang terurai, sehingga membentuk
suatu lapisan endapan bahan padat yang secara fisik diendapkan oleh
angin, air, atau es. Batuan sedimen dapat juga terbentuk dari bahan-bahan
terlarut yang secara kimia terendapkan di lautan, danau atau sungai.
Batuan metamorf terjadi karena proses metamorphosis, yaitu perubahan
yang dialami oleh batuan karena perubahan temperature dan tekanan.
2. Jelaskan karakteristik agregat alam:
a. Batuan bedrock
b. Pasir dan batuan yang digali
Jawab:
a. Batuan bedrock adalah batuan yang mendasari lapisan yang diatasnya
merupakan lapisan permukaan bumi. Batuan dasar atau bedrock
mempunyai sifat impermeable artinya, sulit untuk ditembus oleh air.
Dengan kata lain bedrock mempunyai porositas yang tinggi. Porositas
suatu medium adalah perbandingan volume rongga-rongga pori terhadap
volume total seluruh batuan.
b. Pasir yang digunakan dalam campuran beton jika dilihat dari sumbernya
dapat berasal dari sungai ataupun dari galian tambang (quarry). Agregat
yang berasal dari tanah galian, yaitu tanah yang dibuka lapisan penutupnya
(pre-striping), biasanya berbentuk tajam, bersudut, berpori dan bebas dari
kandungan garam.
3. Apa yang dimaksud dengan agregat buatan (artificial aggregates)?
Jawab: Agregat buatan merupakan agregat yang berasal dari hasil sambingan
pabrik-pabrik dan mesin pemecah batu. Agregat buatan sering disebut filler
(material yang berukuran lebih kecil dari 0.075 mm)
4. Jelaskan proses pengelolahan agregat alam di Indonesia!
Jawab: Tujuan utama pengelolahan agregat adalah menghasilkan agregat
dengan mutu tinggi dan dengan biaya yang rendah. Pengelolahan agregat alam
meliputi penggalian (excavating), pengangkutan (hauling), pencucian,
pemecahan (crushing), dan penentuan ukuran. Pada waktu melakukan
penggalian, bahan-bahan yang akan menambah berat seperti lempung dan
lanau sedapat mungkin harus disingkirkan terlebih dahulu karena bahan-bahan
tersebut tidak dikehendaki. Pemisahan bahan yang tidak dikehendaki ini dapat
dilakukan dengan alat power-shovels, draglines atau scrapers. Penyingkiran
bahan-bahan ini perlu dipertimbangkan jika tebal lapisan penutupnya lebih
dari 15 meter. Bila bahan-bahan ini tidak terlalu banyak jumlahnya, cukup
dilakukan pencucian. Penggalian bahan yang keras dapat dilakukan dengan
peledakan (blasting). Setelah digali, agregat diangkut dengan kereta api, truk
atau ban berjalan (belt converyor) ketempat pengolahan agregat. Bahan-bahan
yang merusak kemudian dibuang, salah satu caranya adalah dengan pencucian
bahan baku. Di beberapa tempat, digunakan ban pengangkut yang di jalankan
melalui saluran buatan. Agregat yang lewat kemudian disemprot dengan air.
Proses selanjutnya adalah memperkecil ukuran agregat dengan menggunakan
alat pemecah batu. Alat pemecah batu yang paling tua disebut Jaw Crusher,
yang terdiri dari sebuah rahang (jaw) yang tetap dan sebuah rahang yang
bergerak. Jaw Crusher sangat cocok untuk memecah segala jenis batuan keras.
Satu-satunya hal yang tidak menguntungkan dari Jaw Crusher ini adalah
kapasitasnya yang relatif kecil. Dalam praktek, ukuran agregat biasanya
diperkecil dengan perbandingan 1:6 atau lebih kecil dari itu. Untuk
menentukan ukuran dari agregat, agregat kasar disaring menggunakan
saringan bergetar, sedangkan agregat halus disaring dengan saringan hidrolik.
Saringan tersebut memiliki perbedaan dalam pembuatannya, kapasitasnya,
serta efisiensinya. Dalam proses penyaringan, sekitar 70% dari bahan yang
disaring harus lolos sehingga efisiensi serta kapasitas yang tinggi dapat
dicapai. Tidak jarang, partikel yang disaring memiliki ukuran yang lebih besar
dibanding partikel yang dibutuhkan.
5. Klasifikasikan agregat berdasarkan sumbernya!
Jawab:
Berdasarkan sumbernya agregat dibagi menjadi dua yaitu:
1. Agregat Kasar (Bersumber dari Gunung Batu, dan Sungai). Menurut
British Standard (B.S), gradasi agregat kasar (kerikil/batu pecah) yang
baik sebaiknya masuk dalam batas, batas yang tercantum dalam tabel
berikut.
Lubang Persen Butir lewat Ayakan, Besar Butir Maks
Ayakan (mm) 40 mm 20 mm 12.5 mm
40 95 - 100 100 100
20 30 - 70 95 - 100 100
12.5 - - 90 - 100
10 10 - 35 25 - 55 40 - 85
4.8 0-5 0 - 10 0 - 10
2. Agregat Halus (Bersumber dari Gunung Pasir, dan Sungai). ASTM
C.33-86 dalam “Standar Spesification for Concrete Aggregates”
memberikan syarat gradasi agregat halus tidak boleh mengandung
bagian yang lolos pada satu set ayakan lebih besar dari 45% dan
tertahan pada ayakan berikutnya.
Ukuran Lubang Ayakan (mm) Persen Lolos Kumulatif
9.5 100
4.75 95 – 100
2.36 80 – 100
1.18 50 – 85
0.6 25 – 60
0.3 10 – 30
0.15 2 - 10
6. Jelaskan agregat berdasarkan:
a. Beratnya
b. Bentuknya
c. Tekstur permukannya
d. Ukuran nominalnya
e. Gradasi ayakannya.
Jawab:
a. Berdasarkan beratnya agregat dibagi menjadi tiga jenis yaitu agregat
normal, agregat ringan dan agregat berat.
1. Agregat normal dihasilkan dari pemecahan batuan dari quarry atau
langsung dari sumber alam. Agregat ini biasanya berasala dari granit,
basalt, kuarsa, dan sebagainya. Berat jenis rata-ratanya adalah 2,5-2,7
atau tidak boleh kurang dari 1,2 kg/dm³. Beton yang dibuat dengan isi
2.200-2.500 kg/m³. ([Link].T-15-1990:1).
2. Agregat ringan digunakan untuk menghasilkan beton yang ringan
dalam sebuah bangunan yang memperhitungkan berat dirinya. Agregat
ringan digunakan dalam bermacam produk beton, misalnya bahan-
bahan untuk isolasi atau bahan untuk pra-tekan. Agregat ini paling
banyak digunakan untuk beton-beton pra-cetak. Beton yang dibuat
dengan agregat ringan mempunyai sifat tahan api yang baik.
Kelemahannya adalah ukuran pori pada beton yang dibuat dengan
agregat ini besar sehingga penyerapannya besar pula. Jika tidak
diperhatikan, hal ini akan menyebabkan beton yang dihasilkan menjadi
kurang baik kualitasnya.
3. Agregat berat mempunyai berat jenis lebih besar dari 2.800 kg/m³.
Contohnya adalah magnetik (𝐹𝑒3 𝑂4), barytes (𝐵𝑎𝑆𝑂4) dan serbuk besi.
Berat jenis beton yang dihasilkan dapat mencapai 5 kali berat jenis
bahannya. Beton yang dibuat dengan agregat ini biasanya digunakan
sebagai pelindung dari radiasi sinar-X.
b. Berdasarkan bentuknya agregat dibagi menjadi enam bentuk yaitu:
1. Agregat Bulat terbentuk karena terjadinya pengikisan oleh air atau
keseluruhannya terbentuk karena pengeseran. Rongga udaranya
minimum 33%, sehingga rasio luas permukannya kecil. Beton yang
dihasilkan dari agregat ini kurang cocok untuk struktur yang
menekankan pada kekuatan atau untuk beton, mutu tinggi, karena
ikatan antar agregat kurang kuat.
2. Agregat Bulat Sebagian atau Tidak Teratur secara alamiah terbentuk
tidak teratur. Sebagian terbentuk karena pergeseran sehingga
permukaan atau sudut-sudutnya berbentuk bulat. Rongga udara pada
agregat ini lebih tinggi, sekitar 35%-38%, sehingga membutuhkan
lebih banyak pasta semen agar mudah dikerjakan. Beton yang
dihasilkan dari agregat ini belum cukup baik untuk struktur yang
menekankan pada kekuatan atau untuk mutu beton tinggi, karena
ikatan antar agregat belum cukup baik (masih kurang kuat).
3. Agregat Bersudut mempunyai sudut-sudut yang tampak jelas, yang
terbentuk di tempat-tempat perpotongan bidang-bidang dengan
permukaan kasar. Rongga udara pada agregat ini berkisar antara 38%-
40%, sehingga membutuhkan lebih banyak lagi pasta semen agar
mudah dikerjkan. Beton yang dihasilkan dari agregat ini cocok untuk
struktur yang menekankan pada kekuatan atau untuk beton mutu tinggi
karena ikatan antar agregatnya baik (kuat). Agregat ini dapat juga
digunakan untuk bahan lapis perkerasan (rigid pavement).
4. Agregat Panjang agregat ini panjangnya jauh lebih besar dari pada
lebarnya dan lebarnya jauh lebih besar daripada tebalnya. Agregat
disebut panjang jika ukuran terbesarnya lebih dari 9/5 dari ukuran rata-
rata. Ukuran rata-rata ialah ukuran ayakan yang meloloskan dan
menahan butiran agregat. Agregat jenis ini akan berpengaruh buruk
pada mutu beton yang akan dbuat. Agregat jenis ini cenderung berada
di rata-rata air sehingga akan terdapat rongga dibawahnya. Kekuatan
tekan dari beton yang menggunakan agregat ini buruk.
5. Agregat Pipih disebut pipih jika perbandingan tebal agregat terhadap
ukuran-ukuran lebar dan tebalnya lebih kecil. Agregat pipih sama
dengan agregat panjang, tidak baik untuk campuran beton mutu tinggi.
6. Agregat Pipih dan Panjang agregat jenis ini mempunyai panjang yang
jauh lebih besar daripada lebarnya, sedangkan lebarnya jauh lebih
besar dari tebalnya.
7. Berdasarkan bentuk, tekstur permukaan, ukuran nominal dan gradasinya,
agregat yang bagaimana yang baik digunakan untuk campuran beton?
Jawab:
Gradasi dari agregat-agregat tersebut secara keseluruhan harus dapat
menghasilkan mutu beton yang baik, padat dan mempunyai daya kerja yang
baik dengan semen dan air, dalam proporsi campuran yang dipakai.
Hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan penggunaan agregat dalam
beton (Landgren, 1994) :
1. Volume udara, udara yang terdapat dalam campuran beton akan
mempengaruhi proses pembuatan beton terutama setelah terbentuknya
pasta semen.
2. Volume padat, kepadatan volume agregat akan mempengaruhi berat isi
dari beton jadi.
3. Berat jenis agregat, akan mempengaruhi proporsi campuran dalam berat
sebagai kontrol.
4. Penyerapan, berpengaruh pada berat jenis.
5. Kadar air permukaan agregat, berpengaruh pada penggunaan air saat
pencampuran.
8. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan agregat dan cara
pengujiannya?
Jawab:
a. Faktor yang mempengaruhi kekuatan butir-butir agregat tergantung dari
bahannya dan tidak dipengaruhi oleh lekatan antara butir satu dengan
lainnya. Agregat yang lebih kuat biasanya mempunyai modulus elastisitas
(sifat dalam pengujian beban uniaxial) yang lebih tinggi. Butir-butir yang
lemah (lebih rendah dari pasta semen) tidak dapat menghasilkan kekuatan
beton yang dapat diandalkan. Kekeran sedang mungkin justru lebih
menguntungkan, karena dapat mengurangi konsentrasi tegangan yang
terjadi, atau pembasahan dan pengeringan, atau pemanasan dan
pendinginan dan dengan demikian membantu mengurangi kemungkinan
terjadinya retakan dalam beton. Butiran yang lemah dan lunak perlu
dibatasi nilai minimumnya jika ketahanan terhadap abrasi yang kuat
diperlukan. Modulus elastisitas agregat juga penting diketahui karena
memberikan kontribusi dalam modulus elastisitas beton.
b. Cara pengujian kekuatasn agregat dapat menggunakan bejana Rudelloff
ataupun Los Angelos Test.
Sesuai dengan SII. 0052-80 (PB, 1989) untuk agregat normal.
Bejana Rudelloff yang banyak digunakan di Negara Inggris berupa
bejana yang berbentuk silinder baja dengan garis tengah bagian
dalam 11.8 cm dan tingginya 40 cm dengan dilengkapi stempel
pada dasarnya. Cara pengujiannya, butiran agregat dimasukan
kedalam silinder tersebut dan diletakan stempel kemudian ditekan
dengan gaya tekan 20 ton selama 20 menit. Bagian yang hancur
yang lebih kecil dari 2 mm kemudian ditimbang. Beratnya
merupakan ukuran dari kekuatan agrgat yang dinyatakan dalam
persen hancur. Semakin banyak bagian yang hancur semakin
rendah kekuatan agregat tersebut. Cara Rudelloff agak kurang
tepat jika dipakai untuk menguji agregat yang lemah, karena
perkiraan akan terjadi gesekan yang kuat dengan dinding silinder
baja selama penekanan mengakibatkan beban yang ditahan butir-
butir berkurang, sehingga nilai yang dihasilkan nampaknya lebih
tinggi dari nilai yang sebenarnya.
Cara uji kekuatan lainnya dengan menggunakan alat Los Angelos
Test. Mesin ini berupa silinder baja yang tertutup pada kedua
sisinya dengan diameter 71 cm dan panjang 50 cm. Silinder
bertumpu pada sebuah sumbu horizontal tempat berputar. Pada
silinder terdapat lubang untuk memasukkan benda uji dan tertutup
rapat sedemikian hingga sehingga permukaan dalam silinder tidak
terganggu. Di bagian dalam silinder terdapat blade baja melintang
penuh setinggi 8.9 cm. Silinder dilengkapi dengan bola-bola baja
dengan diameter rata-rata 4.68 cm dan berat masing-masing antara
390-445 gram. Untuk mengetahui nilai Los Angelos, silinder
diputar dengan kecepatan 30-33 rpm. Pengujian ini nampak lebih
memuaskan jika dipakai untuk menguji agregat normal. Caranya
dengan mengukur banyaknya butiran yang pecah pada akhir
putaran ke-100 kali yang pertama dibandingkan dengan putaran ke-
500. Umumnya jika butiran yang pecah pada akhir ke-100 sudah
lebih besar dari 20% (SNI memberikan nilai batas 27%) dari pada
ke-500 dianggap bagian yang lunak sudah terlalu banyak.
Cara lainnya dengan melakukan uji keuletan (toughness) caranya
diberi beban dengan sebuah mesin kejut (crushing value) dimana
nilai kejut ini biasanya berhubungan dengan kekerasan agregat. Uji
kejut dilaksanakan dengan menggunakan silinder baja dengan
diameter dan tebal 25 cm yang dijatuhi hammer seberat 2 kg,
dengan nilai tinggi jatuh mulai dari 1 cm dan kelipatannya. Nilai
kejut yang baik lebih besar dari 19, sedangkan nilai yang kurang
dari 13 dianggap jelek. Uji kuat tekan pada campuran beton dapat
juga digunakan untuk mengukur kekuatan agregat yaitu dengan
membuat kubus ukuran 50-200 mm yang kemudian diberi tekanan
dengan menggunakan mesin tekan sampai pecah.
9. Jelaskan sifat dan karakteristik agregat dalam campuran beton!
Jawab:
Beberapa sifat dan karakteristik beton yang perlu diperhatikan antara lain
adalah modulus elastisitas beton, kekuatan tekan, permeabilitas dan sifat panas.
(Sifat dan Karakteristik Bahan Penyusun). Selain kekuatan pasta semen, hal
lain yang perlu menjadi perhatian adalah agregat. Seperti yang telah dijelaskan,
proporsi campuran agregat dalam beton adalah sekitar 70-80%, sehingga
pengaruh agregat akan menjadi besar, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi
tekniknya. Semakin baik mutu agregat yang digunakan, secara linear dan tidak
langsung akan menyebabkan mutu beton menjadi baik, begitu juga sebaliknya.
Jika melihat fungsi agregat dalam campuran beton hanya sebagai pengisi maka
diperlukan suatu sifat yang saling mengikat dan saling mengisi (interlocking)
yang baik, hal ini dapat tercapai jika bentuk permukaan dan bentuk
agregatnyamemenuhi syarat yang diberikan baik itu syarat ASTM, ACI
maupun SII. Agregat yang digunakan dalam beton yang berfungsi sebagai
bahan pengisi, namun karena prosentase agregat yang besar dalam volume
campuran, maka agregat memberikan kontribusi terhadap kekuatan beton.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan beton terhadap agregat : (1).
Perbandingan agregat dan semen campuran, (2). Kekuatan agregat, (3). Bentuk
dan ukuran, (4). Tekstur. Bahan tambah biasanya hanya digunakan untuk
memperbaiki sifat-sifat beton, baik saat beton dalam keadaan segar ataupun
saat beton mengeras nantinya. Banyaknya dan komposisi kimia dari bahan
tambah akan menyebabkan karakteristik yang berbeda terhadap kinerja beton
yang diharapkan.
10. Bagaimana hubungan antara angka pori dalam mortar dengan kekuatan
tekannya?
Jawab: Meningkatnya nilai porositas menunjukkan bahwa beton memiliki pori
yang cukup besar akibat terjadinya penguapan air dan pemuaian material
pengisi beton. Hal ini merupakan salah satu penyebab turunnya kualitas beton
dalam memikul beban, khususnya kemampuan beton dalam memikul beban
tekan.
11. Apa definisi dari modulus halus butir? Bagaimana cara menghitungnya?
Jawab:
Modulus halus butir (finnes modulus) atau biasa disingkat degan MHB
ialah suatu indek yang dipakai untuk mengukur kehalusan atau kekasaran
butir-butir agregat (Abrams, 1918). MHB didefinisikan sebagai jumlah
persen kumulatif dari butir aregat yang tertingal di atas satu set ayakan
(38,19, 9.6, 4.8, 2.4, 1.2, 0.6, 0.3 dan 0.15 mm), kemudian nilai tersebut
dibagi dengan seratus (Ilsley, 1942:232).
Cara menghitung MHB :
Tabel 1. Contoh Data Hasil Analisa Ayak
Lubang Berat Tertinggal (gram)
Ayakan (mm) Agregat Kasar Agregat Halus
(1) (2) (3)
38 0 0
19 0 0
9.6 640 0
4.8 270 50
2.4 90 75
1.2 0 190
0.6 0 220
0.3 0 290
0.15 0 155
Sisa 0 20
1000 gr 1000 gr
Penyelesaian :
Tabel 1.a Contoh Hitungan MHB Agregat Halus
Lubang Ayakan Berat Tertinggal
(mm) (gram) (persen) Kumulatif (%)
(1) (3) (4) (5)
38 0 0 0
19 0 0 0
9.6 0 0 0
4.8 50 5.00 5.00
2.4 75 7.50 12.50
1.2 190 19.00 31.50
0.6 220 22.00 53.50
0.3 290 29.00 82.50
0.15 155 15.50 98.00
Sisa 20 2.00 ---
1000 gr 100 % 283.00
Jadi, MHB pasir dapat di hitung, yaitu persen kumulatif di bagi seratus
persen, yaitu = 283.00/100 = 2.83.
Tabel 1.b Contoh Hitungan MHB Agregat Kasar
Lubang Ayakan Berat Tertinggal
(mm) (gram) (persen) Kumulatif (%)
(1) (3) (4) (5)
38 0 0 0
19 0 0 0
9.6 640 64.00 64.00
4.8 270 27.0 91.00
2.4 90 9.00 100.00
1.2 0 0.00 100.00
0.6 0 0.00 100.00
0.3 0 0.00 100.00
0.15 0 0.00 100.00
Sisa 0 0.00 ---
1000 gr 100 % 655.00
Jadi, MHB pasir dapat di hitung, yaitu persen kumulatif di bagi seratus
persen, yaitu = 655.00/100 = 6.55.
12. Mengapa agregat harus tahan terhadap serangan kimia alkali dan sulfat?
Jawab:
Agregat harus tahan terhadap serangan kimia alkali karena, beberapa jenis
agregat dapat bereaksi dengan alkali yang berada dalam semen dan
membentuk gel-silika yang suasananya basa. Hal ini dapat membuat
agregat mengembang dan membengkak dan menyebabkan timbulnya
retak-retak serta penguraian beton yang bersangkutan.
Agregat harus tahan terhadap serangan kimia sulfat karena, senyawa sulfat
tidak dapat larut dalam air. Senyawa sulfat juga mempunyai volume
senyawa yang lebih besar daripada senyawa-senyawa pasta semen sebagai
bahan induk. Bertambahnya volume pada beton yang mengeras inilah
yang memberikan kontribusi bagi kehancuran struktur.
13. Apa pengaruh karakteristik panas dalam agregat terhadap keawetan dan
kualitas beton?
Jawab:
Pengaruh karakteristik panas dalam agregat terhadap keawetan dan
kualitas beton yaitu jika koefisien muai beton besar, maka perubahan suhu
dapat mengakibatkan perbedaan gerakan sehingga dapat melepaskan
lekatan antara agregat dan pasta semen. Jika koefisien muai dari keduanya
berbeda lebih dari 5.4 x 10-6, beton akan retak jika mengalami proses
panas dan dingin atau jika terjadi kebakaran.
14. Mengapa agregat tidak boleh mengandung zat-zat yang merusak?
Sebutkan dan jelaskan bahan yang merusak tersebut!
Jawab:
1. Bahan padat yang menetap
Contohnya yaitu, lempung, tanah liat, abu batu. Hal tersebut tidak
diijinkan dalam jumlah banyak. Bahan-bahan ini tidak dapat menjadi
satu dengan semen sehingga menghalangi penggabungan antara semen
dan agregat. Sehingga menyebabkan berkurangnya kekuatan tekan
beton.
2. Bahan-bahan organik dan humus
Apabila agregat alam mengandung bahan-bahan organik maka proses
hidrasi akan terganggu, sehingga bahan agregat tersebut tidak dapat
dipergunakan dalam campuran beton.
15. Jelaskan syarat mutu agregat berdasarkan syarat SNI!
Jawab :
[Link]-T-15-190-03 memberika syarat-syarat untuk agregat halus, diman
agregat halus dikelompokkan dalam empat zone (daerah) yaitu :
1. Daerah Gradasi I = Pasir kasar
2. Daerah Gradasi II = Pasir agak kasar
3. Daerah Gradasi III = Pasir halus
4. Daerah Gradasi IV = Pasir agak halus
16. Pengujian agregat menghasilkan data sebagai berikut :
Berat Tertinggal (gram)
Ayakan (mm) Agregat Kasar Agregat Halus A Agregat Halus B
38 0 0 0
19 0 0 0
9.6 550 0 10
4.8 330 0 60
2.4 100 10 115
1.2 20 0 350
0.6 0 450 120
0.3 0 370 170
0.15 0 140 140
Sisa 0 40 35
Jumlah 1000 1000 1000
a. Hitunglah modulus halus butir agregat kasar, halus A dan B?
Jawab:
Tabel 1.a Hitungan MHB Agregat Kasar
Lubang Ayakan Berat Tertinggal
(mm) (gram) (persen) Kumulatif (%)
38 0 0 0
19 0 0 0
9.6 550 55.00 55.00
4.8 330 33.0 88.00
2.4 100 10.00 98.00
1.2 20 2.00 100.00
0.6 0 0.00 100.00
0.3 0 0.00 100.00
0.15 0 0.00 100.00
Sisa 0 0.00 ---
1000 gr 100 % 641.00
Jadi, MHB pasir dapat di hitung, yaitu persen kumulatif di bagi seratus
persen, yaitu = 641.00/100 = 6.41.
Tabel 1.b Hitungan MHB Agregat Halus A
Lubang Ayakan Berat Tertinggal
(mm) (gram) (persen) Kumulatif (%)
38 0 0 0
19 0 0 0
9.6 0 0 0
4.8 0 0 0
2.4 0 0 0
1.2 0 0 0
0.6 450 45.00 45.00
0.3 370 37.00 82.00
0.15 140 14.00 96.00
Sisa 40 4.00 100.00
1000 gr 100 % 323.00
Jadi, MHB pasir dapat di hitung, yaitu persen kumulatif di bagi seratus
persen, yaitu = 323.00/100 = 3.23.
Tabel 1.b Hitungan MHB Agregat Halus B
Lubang Ayakan Berat Tertinggal
(mm) (gram) (persen) Kumulatif (%)
38 0 0 0
19 0 0 0
9.6 10 1.00 1.00
4.8 60 6.00 7.00
2.4 115 11.50 18.5
1.2 350 35.00 53.5
0.6 120 12.00 65.5
0.3 170 17.00 82.5
0.15 140 14.00 96.5
Sisa 35 35.00 131.5
1000 gr 100 % 456.00
Jadi, MHB pasir dapat di hitung, yaitu persen kumulatif di bagi seratus
persen, yaitu = 456.00/100 = 4.56.
a. Apakah agregat halus jenis A dan B memenuhi syarat standar zona yang
diberikan oleh SNI?
Jawab :
Agregat halus A mempunyai MHB sebesar = 3.23
Agregat halus B mempunyai MHB sebesar = 4.56
Umumnya agregat halus mempunyai MHB sekitar 1.50-3.8. Jadi, agregat
halus A masih memenuhi syarat standar zona yang diberikan SNI.
Sedangkan agregat halus B, tidak.
b. Jika tidak, hitunglah komposisi antara agregat halus jenis A dan B agar
memenuhi syarat zona!
Jawab :
c. Hitung komposisi campuran agregat kasar dan agregat halus agar
memenuhi syarat zona gregat campuran!
Jawab :
Dari Tabel 1.a dan 1.b didapat nilai MHB agregat kasar (K)= 6.41 dan MHB
agregat halus A (P)= 3.23 dan MHB campuran ditetapkan (C)= 5.5
Presentase agregat halus terhadap campuran adalah (6.41-5.5)/(5.5-3.23) x
100% = 40%. Jadi, perbandingan antara agregat halus dengan agregat kasar
adalah 1:1.5. Selanjutnya hitungan ditabelkan (langkah 4).
Berat
Berat Lolos
Tertinggal Berat Butiran Lolos (gram)
(gram)
(gram)
Ayakan Ag. K Ag. H
P K %P %K 1xP 1.5XK (8)+(9) (10)/(P+K)
(mm) (K) (P)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
38 0 0 1000 1000 100 100 100 150 250 100
19 0 0 1000 1000 100 100 100 150 250 100
9.6 550 0 1000 450 100 45 100 67.5 167.5 67
4.8 330 0 1000 120 100 12 100 18 118 47,2
2.4 100 0 1000 20 100 2 100 3 103 41,2
1.2 20 0 1000 0 100 0 100 0 100 40
0.6 0 450 550 0 55 0 55 0 55 22
0.3 0 370 180 0 18 0 18 0 18 7,2
0.15 0 140 40 0 4 0 4 0 4 1,6
Sisa 0 40 0 0 0 0 0 0 0 0
Jumlah 1000 10000 - - - - - - - -
4
BAHAN TAMBAH
1. Jelaskan definisi bahan tambah!
Jawab:
Bahan Tambah juga di sebut Admixture atau bahan-bahan yang
ditambahkan ke dalam campuran beton pada saat atau selama
pencampuran berlangsung. Fungsi dari bahan ini adalah untuk mengubah
sifat-sifat dari beton agar menjadi lebih cocok untuk pekerjaan tertentu,
atau untuk menghemat biaya .
2. Apa yang dimaksud dengan bahan tambah kimia dan bahan tambah mineral?
Bagaimana proses pencampuran untuk bahan tambah kimia dan mineral?
Jawab:
Bahan kimia adalah bahan tambah bersifat kimiawi yang di campurkan ke
dalam campuran beton yang bertujuan untuk merubah sifat perilaku beton
pada saat pelaksanaannya.
Yang di maksud bahan mineral adalah bahan tambah bersifat padat yang
di campurkan ke dalam campuran beton. Bahan mineral ini lebih banyak
bersifat penyemenan yang bertujuan untuk perbaikan kinerja kekuatannya.
Proses pencampuran untuk bahan tambah kimia dan mineral
a. Proses pencampuran bahan tambah kimia yaitu dengan
menambahkan bahan-bahan kimia ke dalam campuran beton
sebelum proses pencampuran berlangsung dengan perbandingan-
perbandingan yang telah di tentukan.
b. Proses pencampuran bahan tambah mineral yaitu dengan
menambahkan bahan mineral ke dalam campuran beton sebelum
proses pencampuran berlangsung dengan perbandingan–
perbandingan campuran yang telah di [Link] sesuai dengan
keperluan ,kegunaan beton tersebut.
3. Jelaskan beberapa alasan mengapa digunakan bahan tambah !
Jawab:
Memodifikasi beton segar, mortar dan grouting
a) Menambah sifat kemudahan pekerjaan tanpa menambah air,
atau mengurangi kandungan air dengan kemudahan
pengerjaan yang sama.
b) Menghambat atau mempercepat waktu pengikatan awal
adukan beton.
c) Mengurangi atau mencegah secara preventif penurunan atau
perubahan volume beton.
d) Mengurangi segregasi.
e) Mengembangkan dan meningkatkan sifat penetrasi dan
pemompaan beton segar.
f) Mengurangi kehilangan konsistensi adukan.
Memodifikasi beton keras, mortar dan grouting
a) Menghambat atau mengurangi panas selama pengerasan
awal.
b) Mempercepat laju pengembangan kekuatan beton pada umur
muda.
c) Menambah kekuatan beton.
d) Menambah sifat keawetan beton atau ketahanan terhadap
serangan garam-garam sulfat.
e) Mengurangi kapilaritas air.
f) Mengurangi sifat permeabilitas.
g) Mengontrol pengembangan yang disebabkan oleh reaksi
alkali.
h) Menghasilkan struktur beton yang baik.
i) Menambah kekuatan ikatan beton bertulang
j) Mengembangkan ketahanan gaya impact dan ketahanan
abrasi.
k) Mencegah korosi yang terjadi pada baja.
l) Menghasilkan warna tertentu pada beton atau mortar
4. Jelaskan jenis-jenis bahan tambah kimia menurut SNI !
Jawab:
a) Tipe A, Water-Reducing Admixtures
b) Tipe B, Retarding Admixtures
c) Tipe C, Accelerating Admixtures
d) Tipe D, Water Reducing and Retarding Admixtures
e) Tipe E, Water Reducing and Accelerating Admixtures
f) Tipe F, Water Reducing, High Range Admixtures
g) Tipe G, Water Reducing, High Range Retarding Admixtures
Tipe A, Water-Reducing Admixtures (Plasticizer)
Water-Reducing Admixtures adalah bahan tambah yang mengurangi air
pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsistensi
tertentu. Bahan tambah ini biasa disebut water reducer atau plasticizer.
Tipe B, Retarding Admixtures
Retarding Admixtures adalah bahan tambah yang berfungsi untuk
menghambat waktu pengikat beton.
Tipe C, Accelerating Admixtures
Accelerating Admixtures adalah bahan tambah yang berfungsi untuk
mempercepat pengikatan dan pengembangan kekuatan awal beton.
Tipe D, Water Reducing and Retarding Admixtures
Water Reducing and Retarding Admixtures adalah bahan tambah yang
berfungsi ganda yaitu mengurangi jumlah air pencampuran yang di
perlukan untuk menghasilkan beton dengan konsisten tertentu dan
menghambat pengikat awal.
Tipe E, Water Reducing and Accelerating Admixtures
Water Reducing and Accelerating Admixtures adalah bahan tambah yang
berfungsi ganda yaitu mengurangi jumlah air pencampuran yang
diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsisten tertentu dan
mempercepat pengikat awal.
Tipe F, Water Reducing, High Range Admixtures
Water Reducing, High Range Admixtures adalah bahan tambah yang
berfungsi ganda yaitu mengurangi jumlah air pencampuran yang
diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsisten tertentu sebanyak
12% atau lebih.
Tipe G, Water Reducing, High Range Retarding Admixtures
Water Reducing, High Range Retarding Admixtures adalah bahan tambah
yang berfungsi ganda yaitu mengurangi jumlah air pencampuran yang di
perlukan untuk menghasilkan beton dengan konsisten tertentu sebanyak
12% atau lebih dan juga untuk menghambat pengikat beton.