0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
720 tayangan37 halaman

Kebutuhan Agregat dan Semen Beton

Dokumen tersebut memberikan informasi tentang soal dan jawaban mengenai teknologi beton. Terdapat 9 pertanyaan yang mencakup topik seperti jenis-jenis semen, proses pembuatan berbagai jenis semen, sifat kimia dan fisika semen portland, serta komposisi kimia lima tipe semen portland.

Diunggah oleh

Aring Wulandari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
720 tayangan37 halaman

Kebutuhan Agregat dan Semen Beton

Dokumen tersebut memberikan informasi tentang soal dan jawaban mengenai teknologi beton. Terdapat 9 pertanyaan yang mencakup topik seperti jenis-jenis semen, proses pembuatan berbagai jenis semen, sifat kimia dan fisika semen portland, serta komposisi kimia lima tipe semen portland.

Diunggah oleh

Aring Wulandari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS STRUKTUR BETON I

“Soal dan Jawaban Teknologi Beton”

Disusun Oleh:

ARING WULANDARI
N P M: 2016-22-201-098
Kelas : B

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUSAMUS MERAUKE
2019
1

SEMEN

1. Jelaskan deskripsi dari semen!

Jawab:

Semen merupakan bahan campuran yang secara kimiawi aktif setelah

berhubungan dengan [Link] tidak memainkan peran yang penting dalam

reaksi kimia tersebut, tetapi berfungsi sebagai bahan pengisi mineral yang dapat

mencegah perubahan-perubahan volume beton setelah pengadukan selesai dan

memperbaiki keawetan beton yang dihasilkan.

2. Sebutkan jenis-jenis semen hidrolik dan non-hidrolik!

Jawab:

Semen hidrolik adalah semen yang mempunyai kemampuan untuk mengikat dan

mengeras di dalam [Link] : kapur hidraulik, semen pozollam, semen terak,

semen alam, semen Portland putih, semen warna dan semen-semen untuk

keperluan khusus.

Semen non-hidrolik adalah semen semen yang tidak dapat mengikat dan mengeras

di dalam air, akan tetapi dapat mengeras di udara. Contoh : kapur.

3. Jelaskan proses pembuatan kapur hidrolik di Indonesia!

Jawab:

Kapur hidrolik dibuat dengan cara membakar batu kapur yang mengandung silika

dan lempung sampai menjadi klinker dan mengandung cukup kapur dan silikat
untuk menghasilkan kapur hidrolik. Klinker yang dihasilkan harus mengandung

cukup kapur bebas sehingga masa klinker iru dapat menghasilkan kapur tohor

setelah berhubungan dengan air.

4. Apa yang dimaksud dengan pozzolan? Apa saja yang dikelompokkan sebagai
pozzolan?

Jawab:

Pozzolan adalah sejenis bahan yang mengandung silisium atau aluminium, yamg

tidak mempunyai sifat penyemenan. Butirannya halus dan dapat bereaksi dengan

kalsium hidroksida pada suhu ruang serta membentuk senyawa-senyawa yang

mempunyai sifat-sifat semen.

5. Bagaimana proses pembuatan a). semen terak, b). semen alam dan c). semen
portland?

Jawab:

a). Semen terak dibuat melalui proses tertentu yakni penggilingan, yang

menyebabkan terak itu bersifat hidrolik, sekaligus berkurang jumlah

sulfatnya yang dapat merusak. Terak tersebut kemudian dikeringkan dan

ditambahi kapur tohor dengan perbandingan [Link] bahan

kemudian di campur dan dihaluskan kembali menjadi butiran yang halus.

b). Semen alam dibuat dengan cara membakar lempung batu kapur yang

memiliki kadar lempung 13%-35%, kadar silika 10%-20%, kadar

alumina 10-20%, serta kadar oksida besi 10%-20%. Setelah dibakar,

kapur tersebut dibasahi dengan air untuk mematikan kapur dan


menghilangkan kapur [Link] pembekuannya disebut [Link]

tersebut kemudian digiling menjadi butiran yang berbentuk halus.

c). Semen Portland dibuat dari serbuk halus mineral kristalin yang

komposisi utamanya adalah kalsium dan alumunium silikat. Penambahan

air pada mineral ini menghasilkan suatu pasta yang jika mengering akan

mempunyai kekuatan seperti batu. Berat jenis yang dihasilkan berkisar

antara 3.12 dan 3.16 dan berat volume sekitar 1500 kg/cm3. Bahan utama

pembentuk semen Portland adalah kapur (CaO), silika (SiO2), alumina

(A2O3), sedikit magnesia (MgO), dan terkadang sedikit alkali.

6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan proses basah dan proses kering dalam

pembuatan semen portland!

Jawab:

a). Proses basah yaitu proses pembuatan semen yang sebelum dibakar bahan

dicampur dengan air (slurry) dan digiling hingga berupa bubur halus.

Proses basah umumnya dilakukan jika yang diolah merupakan bahan-

bahan lunak seperti kapur dan lempung.

b). Proses kering biasanya digunakan untuk jenis batuan yang lebih keras

misalnya untuk batu kapur jenis shale. Pada proses ini bahan dicampur dan

digiling dalam keadaan kering menjadi bubuk kasar. Selanjutnya, bahan

tersebut dimasukkan ke dalam clin dan proses selanjutnya sama dengan

proses basah.
7. Jelaskan sifat dan karakteristik semen portland, baik sifat kimia maupun fisika!

Jawab:

a). Sifat dan Karakteristik Semen Portland

1. Sifat Fisika Semen Portland

 Kehalusan Butir (Fineness), mempengaruhi proses hidrasi. Waktu

pengikatan (setting time) menjadi semakin lebih lama jika butir semen

lebih kasar. Kehalusan pengilinggan butir semen dinamakan penampang

spesifik, yaitu luas butir permukaan semen. Jika permukaan penampang

semen lebih besar, semen akan memperbesar bidang kontak dengan air.

Semakin halus butiran semen, proses hidrasinya semakin cepat, sehingga

kekuatan awal tinggi dan kekuatan akhir akan berkurang.

 Kepadatan (density), berat jenis semen yang disyaratkan oleh ASTM

adalah 3.15 Mg/m3. Pada kenyataannya, berat jenis semen yang diproduksi

berkisar antara 3.05 Mg/m3 sampai 3.25 Mg/m3. Variasi ini akan

berpengaruh pada proporsi campuran semen dan campuran.

 Konsistensi, konsistensi semen Portland lebih banyak pengaruhnya pada

saat pencampuran awal, yaitu pada saat terjadi pengikatan sampai pada

saat beton mengeras. Konsistensi yang terjadi bergantung pada rasio antara

semen dan air serta aspek-aspek bahan semen seperti kehalusan dan

kecepatan hidrasi. Konsistensi mortar bergantung pada konsistensi semen

dan agregat pencampurnya.


 Waktu Pengikatan, waktu ikat adalah waktu yang diperlukan semen untuk

mengeras, terhitung dari mulai bereaksi dengan air dan menjadi pasta

semen hingga pasta semen cukup kaku untuk menahan tekanan.

 Proses Hidrasi, adalah panas yang terjadi pada saat semen bereaksi dengan

air, dinyatakan dalam kalori/gram. Jumlah panas yang dibentuk antara lain

bergantung pada jenis semen yang dipakai dan kehalusan butir semen.

 Perubahan Volume (Kekalan), merupakan suatu ukuran yang menyatakan

kemampuan pengembangan bahan-bahan campurannya dan kemampuan

untuk mempertahankan volume setelah pengikatan terjadi.

 Kekuatan Tekan, kekuatan tekan diuji dengan cara membuat mortar yang

kemudian ditekan sampai hancur.

2. Sifat Kimia Semen Portland

 Kesegaran semen, pengujian kehilangan berat akibat pembakaran (loss

ofignition) dilakukan pada semen dengan suhu 900-1000C. Kehilangan

berat ini terjadi karena kelembaban yang menyebabkan prehidrasi dan

karbonisasi dalam bentuk kapur bebas atau magnesium yang menguap.

 Sisa yang Tak Larut (Insoluble Residue), sisa bahan yang tak habis

bereaksi adalah sisa bahan ini, semakin baik kualitas semen. Jumlah

maksimum sisa tak larut yang dipersyaratkan adalah 0.85%.

 Panas Hidrasi Semen, hidrasi terjadi jika semen bersentuhan dengan air.

Proses hidrasi terjadi dengan arah kedalam dan keluar.

 Kekuatan Pasta Semen dan Faktor Air Semen (FAS), banyaknya air yang

dipakai selama proses hidrasi akan mempengaruhi karakteristik kekuatan


beton jadi. Pada dasarnya jumlah air yang dibutuhkan untuk proses hidrasi

tersebut adalah sekitar 25% dari berat semen.

8. Jelaskan komposisi kimia dan kegunaan dari lima tipe semen portland!
Jawab:
Komposisi dalam persen (%) Karakteristik
C4AF CaSO4 CaO MgO
C3S C2S C3A Umum
Tipe I, Normal 49 25 12 8 2.9 0.8 2.4 Semen untuk
semua tujuan
Tipe II, Modifikasi 46 29 6 12 2.8 0.6 3 Relatif sedikit
pelepasan panas,
di gunakan untuk
struktur besar.
Tipe III, Kekuatan 56 15 12 8 3.9 1.4 2.6 Mencapai
Awal Tinggi kekuatan awal
yang tinggi pada
umur 3 hari
Tipe IV, Panas 30 46 5 13 2.9 0.3 2.7 Di pakai pada
Hidrasi Rendah bendungan beton
Tipe V, Tahan Sulfat 43 36 4 12 2.7 0.4 1.6 Dipakai pada
saluran dan
struktur yang
diekspose
terhadap sulfat.

9. Sebutkan dan jelaskan empat unsur kimia utama penyusunan semen portland!
Jawab:

Komposisi unsur-unsur kimia tersebut di dalam semen sangat mempengaruhi

sifat-sifat dan kegunaan semen tersebut. Peranan masing-masing unsur kimia

dalam semen tersebut dapat dijelaskan sbb:

C3S
 Bereaksi dengan air untuk membentuk pasta semen

 Pengerasan pasta semen berlangsung cepat, sekitar 70% dalam 1

minggu

 Menghasilkan panas hidrasi (panas yang terjadi akibat reaksi antara

semen dengan air) tinggi, sekitar 500 joule/gram

C2S

 Bereaksi dengan air untuk membentuk pasta semen

 Pengerasan pasta semen berlangsung lambat (dalam beberapa minggu

sampai 1 bulan)

 Menghasilkan panas hidrasi lebih rendah, sekitar 250 joule/gram

C3A

 Bereaksi dengan air membentuk pasta semen berkekuatan rendah

 Pengerasan pasta semen berlangsung cepat, sekitar 1 s.d 2 hari

 Menghasilkan panas hidrasi tinggi, sekitar 850 joule/gram

C4AF

 Bereaksi dengan air membentuk pasta semen

 Pengerasan pasta semen berlangsung sangat cepat, dalam beberapa

menit

 Menghasilkan panas hidrasi tinggi, sekitar 420 joule/gram

10. Jelaskan perkembangan kekuatan tekan (sampai dengan umur 28 hari) beton

yang menggunakan lima jenis semen portland dengan FAS 0.49!

Jawab:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan semen Andalas

tipe PCC dan semen Andalas tipe PC I terhadap kuat tekan beton dengan variasi
nilai Faktor Air Semen (FAS) dan umur pengerasan. Perencanaan campuran beton

menggunakan metode American Concrete Institute [Link] maksimum

agregat adalah 31,5 mm. Benda uji yang digunakan pada penelitian adalah silinder

beton berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Pada penelitian ini umur pengujian

kuat tekan adalah 3, 7, 14, 21 dan 28 hari dengan variasi FAS 0,5. Jumlah sampel

untuk semua variasi FAS pada setiap pengujian kuat tekan beton adalah 15 buah

benda uji untuk masing-masing tipe semen. Dari hasil penelitian terhadap kuat

tekan rata-rata beton menggunakan semen Type I pada umur 3 hari 149,96

kg/cm2, 7 hari 210,32 kg/cm2, 14 hari 242,39 kg/cm2, 21 hari 274,45 kg/cm2 dan

28 hari 296,15 kg/cm2. Sedangkan untuk semen PCC kuat tekan rata-rata beton

pada umur 3 hari 103,75 kg/cm2, 7 hari 144,30 kg/cm2, 14 hari 176,37 kg/cm2,

21 hari 198,06 kg/cm2, dan 28 hari 225,41 kg/cm2. Ditinjau dari jenis semen yang

digunakan, terlihat bahwa beton dengan menggunakan semen Andalas Tipe PC I

mampu memperoleh kuat tekan lebih tinggi dibandingkan dengan beton

menggunakan semen Andalas tipe PCC pada penggunaan FAS 0,5

11. Sebutkan dan jelaskan syarat mutu semen portland sebagai campuran beton!

Jawab:

Untuk keperluan pembuatan campuran beton, semen harus memenuhi syarat-

syarat sesuai dengan standar Normalisasi Indonesia (NI)-8 sebagai berikut:

1. Waktu pengikatan awal untuk segala jenis semen tidak boleh kurang dari

satu jam (60 menit).

2. Pengikatan awal semen normal 60-120 menit.

3. Air yang digunakan memenuhi syarat air minum, yaitu bersih dari zat

organis yang dapat mempengaruhi proses pengikatan awal.


4. Suhu ruangan 23º C.

12. Bagaimana cara penyimpanan semen portland?

Jawab:

Agar semen tetap memenuhi syarat meskipun disimpan dalam waktu lama, cara

penyimpanan semen perlu diperhatikan (PB, 1989:13). Semen harus terbebas dari

bahan kotoran dari luar. Semen dalam kantong harus disimpan dalam gudang

tertutup, terhindar dari basah dan lembab, dan tidak tercampur dengan bahan lain.

Semen dari jenis yang berbeda harus dikelompokkan sedemikian rupa untuk

mencegah kemungkinan tertukarnya jenis semen yang satu dengan yang lainnya.
2

AIR

1. Sebutkan dan jelaskan sumber-sumber air yang layak digunakan untuk pengerjaan

beton!

Jawab:

 Air yang terdapat di udara, air yang terdapat di awan. Kemurnian air ini

sangat tinggi. Air yang terdapat dalam atmosfir ini kondisinya sama

dengan air suling, sehingga sangat mungkin unruk mendapatkan beton

yang baik dengan air ini.

 Air laut, yang mengandung 30.000-36.000 mg/liter (3% - 3.6%) pada

umumnya dapat digunakan sebagai campuran untuk beton tidak bertulang,

beton pra-tegang dan beton pra-tekan atau dengan kata lain untuk beton-

beton mutu tinggi.

2. Jelaskan syarat mutu air yang layak digunakan untuk campuran beton!

Jawab:

Air yang digunakan untuk campuran beton harus bersih, tidak boleh mengandung

minyak, asam, alkali, zat organis atau bahan lainnya yang dapat merusak beton

atau tulangan.

3. Bila kualitas air yang akan digunakan sebagai campuran beton meragukan, apa

yang sebaiknya dilakukan?

Jawab:

Bila kualitas air yang akan digunakan sebagai campuran beton meragukan, maka

hal yang perlu dilakukan adalah mencari atau mengganti air tersebut. Jika tidak
ada air yang lain maka air tersebut harus disaring (filter) jika keruh, dan endapkan

untuk menurunkan lumpur yang tercampur dengan air ke dasar bejana atau ke

dasar permukaan.

4. Mengapa kandungan sulfat dalam air harus dibatasi?

Jawab:

Senyawa alkali karbonat dan bikarbonat akan memperngaruhi waktu pengikatan

semen (setting time) dan kekuatan beton. Selain itu, kemungkinan terjadinya

reaksi alkali agregat dalam beton menjadi besar.

5. Mengapa jumlah air yang akan digunakan dalam campuran beton harus dibatasi?

Berapa persen air dalam berat yang digunakan untuk proses hidrasi?

Jawab:

 Air pada beton mempunyai fungsi sebagai pengencer. Agar cairan beton
dapat padat dan mengisi ruang-ruang sehingga membentuk cetakan. Selain

itu tujuan utama pemakaian air adalah untuk proses hidrasi, yaitu rekasi

antara semen dan air yang menghasilkan campuran keras setelah beberapa

waktu tertentu. Setelah pengecoran air juga berguna untuk perawatan

(curing) guna menjamin proses pengerasan yang sempurna. Penggunaan

air harus dibatasi karena apabila kelebihan air dapat memperlambat

pengerasan campuran beton dan apabila terlalu encer bentuk yang telah di

cetak tidak sesuai keinginan.

 Jumlah air yang diperlukan untuk kelecakan tertentu tergantung pada sifat

material penyusun (agregat, semen) yang digunakan. Hukum kadar “air

konstan” mengatakan bahwa “kadar air yang diperlukan untuk kelecakan

tertentu hampir konstan tanpa tergantung pada jumlah semen untuk


kombinasi agregat halus dan kasar tertentu”. Hukum ini tidak sepenuhnya

berlaku untuk seluruh kisaran (range), namun cukup praktis untuk

penyesuaian perencanaan dan koreksi. Air yang diperlukan untuk beton

dipengaruhi oleh :

a. Ukuran agregat maksimum, diameter membesar maka kebutuhan air

menurun, begitu juga jumlah mortar yang dibutuhkan menjadi lebih

sedikit.

b. Bentuk butir, bentuk bulat akan menyebabkan kebutuhan air menurun

misalkan untuk batu pecah (split) perlu lebih banyak air.

c. Gradasi agregat, gradasi baik akan menyebabkan kebutuhan air menurun

untuk kelecakan yang sama.

d. Kotoran dalam agregat, makin banyak silt tanah liat dan lumpur maka

akan meningkatkan kebutuhan air meningkat.

e. Jumlah agregat halus (dibandingkan agregat kasar), jika agregat halus

lebih sedikit maka kebutuhan air menurun.


3

AGREGAT

1. Jika dilihat dari proses terbentuknya, batuan dapat dibedakan menjadi tiga

yaitu, batuan beku (magma), batuan endapan (sedimentasi) dan batuan

peralihan/malihan atau metamorf. Jelaskan deskripsi dari tiga jenis batuan

tersebut!

Jawab:

 Batuan beku (Magma) terbentuk dari proses pembekuan magma yang

terdapat di dalam lapisan bumi yang dalam atau dari hasil pembekuan

magma yang keluar akibat letusan gunung berapi. Berdasarkan proses

kejadiannya batuan beku dapat dibedakan menjadi dua, yakni batuan beku

instrusif (batuan beku yang membeku di bawah permukaan bumi, dan

batuan beku ekstrusif (batuan beku yang membeku di permukaan bumi).

 Batuan sedimen atau biasa yang disebut sebagai batuan endapan terbentuk

karena mengendapnya bahan-bahan yang terurai, sehingga membentuk

suatu lapisan endapan bahan padat yang secara fisik diendapkan oleh

angin, air, atau es. Batuan sedimen dapat juga terbentuk dari bahan-bahan

terlarut yang secara kimia terendapkan di lautan, danau atau sungai.

 Batuan metamorf terjadi karena proses metamorphosis, yaitu perubahan

yang dialami oleh batuan karena perubahan temperature dan tekanan.

2. Jelaskan karakteristik agregat alam:

a. Batuan bedrock

b. Pasir dan batuan yang digali


Jawab:
a. Batuan bedrock adalah batuan yang mendasari lapisan yang diatasnya

merupakan lapisan permukaan bumi. Batuan dasar atau bedrock

mempunyai sifat impermeable artinya, sulit untuk ditembus oleh air.

Dengan kata lain bedrock mempunyai porositas yang tinggi. Porositas

suatu medium adalah perbandingan volume rongga-rongga pori terhadap

volume total seluruh batuan.

b. Pasir yang digunakan dalam campuran beton jika dilihat dari sumbernya

dapat berasal dari sungai ataupun dari galian tambang (quarry). Agregat

yang berasal dari tanah galian, yaitu tanah yang dibuka lapisan penutupnya

(pre-striping), biasanya berbentuk tajam, bersudut, berpori dan bebas dari

kandungan garam.

3. Apa yang dimaksud dengan agregat buatan (artificial aggregates)?

Jawab: Agregat buatan merupakan agregat yang berasal dari hasil sambingan

pabrik-pabrik dan mesin pemecah batu. Agregat buatan sering disebut filler

(material yang berukuran lebih kecil dari 0.075 mm)

4. Jelaskan proses pengelolahan agregat alam di Indonesia!

Jawab: Tujuan utama pengelolahan agregat adalah menghasilkan agregat

dengan mutu tinggi dan dengan biaya yang rendah. Pengelolahan agregat alam

meliputi penggalian (excavating), pengangkutan (hauling), pencucian,

pemecahan (crushing), dan penentuan ukuran. Pada waktu melakukan

penggalian, bahan-bahan yang akan menambah berat seperti lempung dan

lanau sedapat mungkin harus disingkirkan terlebih dahulu karena bahan-bahan


tersebut tidak dikehendaki. Pemisahan bahan yang tidak dikehendaki ini dapat

dilakukan dengan alat power-shovels, draglines atau scrapers. Penyingkiran

bahan-bahan ini perlu dipertimbangkan jika tebal lapisan penutupnya lebih

dari 15 meter. Bila bahan-bahan ini tidak terlalu banyak jumlahnya, cukup

dilakukan pencucian. Penggalian bahan yang keras dapat dilakukan dengan

peledakan (blasting). Setelah digali, agregat diangkut dengan kereta api, truk

atau ban berjalan (belt converyor) ketempat pengolahan agregat. Bahan-bahan

yang merusak kemudian dibuang, salah satu caranya adalah dengan pencucian

bahan baku. Di beberapa tempat, digunakan ban pengangkut yang di jalankan

melalui saluran buatan. Agregat yang lewat kemudian disemprot dengan air.

Proses selanjutnya adalah memperkecil ukuran agregat dengan menggunakan

alat pemecah batu. Alat pemecah batu yang paling tua disebut Jaw Crusher,

yang terdiri dari sebuah rahang (jaw) yang tetap dan sebuah rahang yang

bergerak. Jaw Crusher sangat cocok untuk memecah segala jenis batuan keras.

Satu-satunya hal yang tidak menguntungkan dari Jaw Crusher ini adalah

kapasitasnya yang relatif kecil. Dalam praktek, ukuran agregat biasanya

diperkecil dengan perbandingan 1:6 atau lebih kecil dari itu. Untuk

menentukan ukuran dari agregat, agregat kasar disaring menggunakan

saringan bergetar, sedangkan agregat halus disaring dengan saringan hidrolik.

Saringan tersebut memiliki perbedaan dalam pembuatannya, kapasitasnya,

serta efisiensinya. Dalam proses penyaringan, sekitar 70% dari bahan yang

disaring harus lolos sehingga efisiensi serta kapasitas yang tinggi dapat

dicapai. Tidak jarang, partikel yang disaring memiliki ukuran yang lebih besar

dibanding partikel yang dibutuhkan.


5. Klasifikasikan agregat berdasarkan sumbernya!

Jawab:

Berdasarkan sumbernya agregat dibagi menjadi dua yaitu:

1. Agregat Kasar (Bersumber dari Gunung Batu, dan Sungai). Menurut

British Standard (B.S), gradasi agregat kasar (kerikil/batu pecah) yang

baik sebaiknya masuk dalam batas, batas yang tercantum dalam tabel

berikut.

Lubang Persen Butir lewat Ayakan, Besar Butir Maks


Ayakan (mm) 40 mm 20 mm 12.5 mm
40 95 - 100 100 100
20 30 - 70 95 - 100 100
12.5 - - 90 - 100
10 10 - 35 25 - 55 40 - 85
4.8 0-5 0 - 10 0 - 10

2. Agregat Halus (Bersumber dari Gunung Pasir, dan Sungai). ASTM

C.33-86 dalam “Standar Spesification for Concrete Aggregates”

memberikan syarat gradasi agregat halus tidak boleh mengandung

bagian yang lolos pada satu set ayakan lebih besar dari 45% dan

tertahan pada ayakan berikutnya.


Ukuran Lubang Ayakan (mm) Persen Lolos Kumulatif

9.5 100

4.75 95 – 100

2.36 80 – 100

1.18 50 – 85

0.6 25 – 60

0.3 10 – 30

0.15 2 - 10

6. Jelaskan agregat berdasarkan:

a. Beratnya

b. Bentuknya

c. Tekstur permukannya

d. Ukuran nominalnya

e. Gradasi ayakannya.

Jawab:

a. Berdasarkan beratnya agregat dibagi menjadi tiga jenis yaitu agregat

normal, agregat ringan dan agregat berat.

1. Agregat normal dihasilkan dari pemecahan batuan dari quarry atau

langsung dari sumber alam. Agregat ini biasanya berasala dari granit,

basalt, kuarsa, dan sebagainya. Berat jenis rata-ratanya adalah 2,5-2,7

atau tidak boleh kurang dari 1,2 kg/dm³. Beton yang dibuat dengan isi

2.200-2.500 kg/m³. ([Link].T-15-1990:1).


2. Agregat ringan digunakan untuk menghasilkan beton yang ringan

dalam sebuah bangunan yang memperhitungkan berat dirinya. Agregat

ringan digunakan dalam bermacam produk beton, misalnya bahan-

bahan untuk isolasi atau bahan untuk pra-tekan. Agregat ini paling

banyak digunakan untuk beton-beton pra-cetak. Beton yang dibuat

dengan agregat ringan mempunyai sifat tahan api yang baik.

Kelemahannya adalah ukuran pori pada beton yang dibuat dengan

agregat ini besar sehingga penyerapannya besar pula. Jika tidak

diperhatikan, hal ini akan menyebabkan beton yang dihasilkan menjadi

kurang baik kualitasnya.

3. Agregat berat mempunyai berat jenis lebih besar dari 2.800 kg/m³.

Contohnya adalah magnetik (𝐹𝑒3 𝑂4), barytes (𝐵𝑎𝑆𝑂4) dan serbuk besi.

Berat jenis beton yang dihasilkan dapat mencapai 5 kali berat jenis

bahannya. Beton yang dibuat dengan agregat ini biasanya digunakan

sebagai pelindung dari radiasi sinar-X.

b. Berdasarkan bentuknya agregat dibagi menjadi enam bentuk yaitu:

1. Agregat Bulat terbentuk karena terjadinya pengikisan oleh air atau

keseluruhannya terbentuk karena pengeseran. Rongga udaranya

minimum 33%, sehingga rasio luas permukannya kecil. Beton yang

dihasilkan dari agregat ini kurang cocok untuk struktur yang

menekankan pada kekuatan atau untuk beton, mutu tinggi, karena

ikatan antar agregat kurang kuat.

2. Agregat Bulat Sebagian atau Tidak Teratur secara alamiah terbentuk

tidak teratur. Sebagian terbentuk karena pergeseran sehingga


permukaan atau sudut-sudutnya berbentuk bulat. Rongga udara pada

agregat ini lebih tinggi, sekitar 35%-38%, sehingga membutuhkan

lebih banyak pasta semen agar mudah dikerjakan. Beton yang

dihasilkan dari agregat ini belum cukup baik untuk struktur yang

menekankan pada kekuatan atau untuk mutu beton tinggi, karena

ikatan antar agregat belum cukup baik (masih kurang kuat).

3. Agregat Bersudut mempunyai sudut-sudut yang tampak jelas, yang

terbentuk di tempat-tempat perpotongan bidang-bidang dengan

permukaan kasar. Rongga udara pada agregat ini berkisar antara 38%-

40%, sehingga membutuhkan lebih banyak lagi pasta semen agar

mudah dikerjkan. Beton yang dihasilkan dari agregat ini cocok untuk

struktur yang menekankan pada kekuatan atau untuk beton mutu tinggi

karena ikatan antar agregatnya baik (kuat). Agregat ini dapat juga

digunakan untuk bahan lapis perkerasan (rigid pavement).

4. Agregat Panjang agregat ini panjangnya jauh lebih besar dari pada

lebarnya dan lebarnya jauh lebih besar daripada tebalnya. Agregat

disebut panjang jika ukuran terbesarnya lebih dari 9/5 dari ukuran rata-

rata. Ukuran rata-rata ialah ukuran ayakan yang meloloskan dan

menahan butiran agregat. Agregat jenis ini akan berpengaruh buruk

pada mutu beton yang akan dbuat. Agregat jenis ini cenderung berada

di rata-rata air sehingga akan terdapat rongga dibawahnya. Kekuatan

tekan dari beton yang menggunakan agregat ini buruk.


5. Agregat Pipih disebut pipih jika perbandingan tebal agregat terhadap

ukuran-ukuran lebar dan tebalnya lebih kecil. Agregat pipih sama

dengan agregat panjang, tidak baik untuk campuran beton mutu tinggi.

6. Agregat Pipih dan Panjang agregat jenis ini mempunyai panjang yang

jauh lebih besar daripada lebarnya, sedangkan lebarnya jauh lebih

besar dari tebalnya.

7. Berdasarkan bentuk, tekstur permukaan, ukuran nominal dan gradasinya,

agregat yang bagaimana yang baik digunakan untuk campuran beton?

Jawab:

Gradasi dari agregat-agregat tersebut secara keseluruhan harus dapat

menghasilkan mutu beton yang baik, padat dan mempunyai daya kerja yang

baik dengan semen dan air, dalam proporsi campuran yang dipakai.

Hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan penggunaan agregat dalam

beton (Landgren, 1994) :

1. Volume udara, udara yang terdapat dalam campuran beton akan

mempengaruhi proses pembuatan beton terutama setelah terbentuknya

pasta semen.

2. Volume padat, kepadatan volume agregat akan mempengaruhi berat isi

dari beton jadi.

3. Berat jenis agregat, akan mempengaruhi proporsi campuran dalam berat

sebagai kontrol.

4. Penyerapan, berpengaruh pada berat jenis.

5. Kadar air permukaan agregat, berpengaruh pada penggunaan air saat

pencampuran.
8. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan agregat dan cara

pengujiannya?

Jawab:

a. Faktor yang mempengaruhi kekuatan butir-butir agregat tergantung dari

bahannya dan tidak dipengaruhi oleh lekatan antara butir satu dengan

lainnya. Agregat yang lebih kuat biasanya mempunyai modulus elastisitas

(sifat dalam pengujian beban uniaxial) yang lebih tinggi. Butir-butir yang

lemah (lebih rendah dari pasta semen) tidak dapat menghasilkan kekuatan

beton yang dapat diandalkan. Kekeran sedang mungkin justru lebih

menguntungkan, karena dapat mengurangi konsentrasi tegangan yang

terjadi, atau pembasahan dan pengeringan, atau pemanasan dan

pendinginan dan dengan demikian membantu mengurangi kemungkinan

terjadinya retakan dalam beton. Butiran yang lemah dan lunak perlu

dibatasi nilai minimumnya jika ketahanan terhadap abrasi yang kuat

diperlukan. Modulus elastisitas agregat juga penting diketahui karena

memberikan kontribusi dalam modulus elastisitas beton.

b. Cara pengujian kekuatasn agregat dapat menggunakan bejana Rudelloff

ataupun Los Angelos Test.

 Sesuai dengan SII. 0052-80 (PB, 1989) untuk agregat normal.

Bejana Rudelloff yang banyak digunakan di Negara Inggris berupa

bejana yang berbentuk silinder baja dengan garis tengah bagian

dalam 11.8 cm dan tingginya 40 cm dengan dilengkapi stempel

pada dasarnya. Cara pengujiannya, butiran agregat dimasukan

kedalam silinder tersebut dan diletakan stempel kemudian ditekan


dengan gaya tekan 20 ton selama 20 menit. Bagian yang hancur

yang lebih kecil dari 2 mm kemudian ditimbang. Beratnya

merupakan ukuran dari kekuatan agrgat yang dinyatakan dalam

persen hancur. Semakin banyak bagian yang hancur semakin

rendah kekuatan agregat tersebut. Cara Rudelloff agak kurang

tepat jika dipakai untuk menguji agregat yang lemah, karena

perkiraan akan terjadi gesekan yang kuat dengan dinding silinder

baja selama penekanan mengakibatkan beban yang ditahan butir-

butir berkurang, sehingga nilai yang dihasilkan nampaknya lebih

tinggi dari nilai yang sebenarnya.

 Cara uji kekuatan lainnya dengan menggunakan alat Los Angelos

Test. Mesin ini berupa silinder baja yang tertutup pada kedua

sisinya dengan diameter 71 cm dan panjang 50 cm. Silinder

bertumpu pada sebuah sumbu horizontal tempat berputar. Pada

silinder terdapat lubang untuk memasukkan benda uji dan tertutup

rapat sedemikian hingga sehingga permukaan dalam silinder tidak

terganggu. Di bagian dalam silinder terdapat blade baja melintang

penuh setinggi 8.9 cm. Silinder dilengkapi dengan bola-bola baja

dengan diameter rata-rata 4.68 cm dan berat masing-masing antara

390-445 gram. Untuk mengetahui nilai Los Angelos, silinder

diputar dengan kecepatan 30-33 rpm. Pengujian ini nampak lebih

memuaskan jika dipakai untuk menguji agregat normal. Caranya

dengan mengukur banyaknya butiran yang pecah pada akhir

putaran ke-100 kali yang pertama dibandingkan dengan putaran ke-


500. Umumnya jika butiran yang pecah pada akhir ke-100 sudah

lebih besar dari 20% (SNI memberikan nilai batas 27%) dari pada

ke-500 dianggap bagian yang lunak sudah terlalu banyak.

 Cara lainnya dengan melakukan uji keuletan (toughness) caranya

diberi beban dengan sebuah mesin kejut (crushing value) dimana

nilai kejut ini biasanya berhubungan dengan kekerasan agregat. Uji

kejut dilaksanakan dengan menggunakan silinder baja dengan

diameter dan tebal 25 cm yang dijatuhi hammer seberat 2 kg,

dengan nilai tinggi jatuh mulai dari 1 cm dan kelipatannya. Nilai

kejut yang baik lebih besar dari 19, sedangkan nilai yang kurang

dari 13 dianggap jelek. Uji kuat tekan pada campuran beton dapat

juga digunakan untuk mengukur kekuatan agregat yaitu dengan

membuat kubus ukuran 50-200 mm yang kemudian diberi tekanan

dengan menggunakan mesin tekan sampai pecah.

9. Jelaskan sifat dan karakteristik agregat dalam campuran beton!

Jawab:

Beberapa sifat dan karakteristik beton yang perlu diperhatikan antara lain

adalah modulus elastisitas beton, kekuatan tekan, permeabilitas dan sifat panas.

(Sifat dan Karakteristik Bahan Penyusun). Selain kekuatan pasta semen, hal

lain yang perlu menjadi perhatian adalah agregat. Seperti yang telah dijelaskan,

proporsi campuran agregat dalam beton adalah sekitar 70-80%, sehingga

pengaruh agregat akan menjadi besar, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi

tekniknya. Semakin baik mutu agregat yang digunakan, secara linear dan tidak

langsung akan menyebabkan mutu beton menjadi baik, begitu juga sebaliknya.
Jika melihat fungsi agregat dalam campuran beton hanya sebagai pengisi maka

diperlukan suatu sifat yang saling mengikat dan saling mengisi (interlocking)

yang baik, hal ini dapat tercapai jika bentuk permukaan dan bentuk

agregatnyamemenuhi syarat yang diberikan baik itu syarat ASTM, ACI

maupun SII. Agregat yang digunakan dalam beton yang berfungsi sebagai

bahan pengisi, namun karena prosentase agregat yang besar dalam volume

campuran, maka agregat memberikan kontribusi terhadap kekuatan beton.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan beton terhadap agregat : (1).

Perbandingan agregat dan semen campuran, (2). Kekuatan agregat, (3). Bentuk

dan ukuran, (4). Tekstur. Bahan tambah biasanya hanya digunakan untuk

memperbaiki sifat-sifat beton, baik saat beton dalam keadaan segar ataupun

saat beton mengeras nantinya. Banyaknya dan komposisi kimia dari bahan

tambah akan menyebabkan karakteristik yang berbeda terhadap kinerja beton

yang diharapkan.

10. Bagaimana hubungan antara angka pori dalam mortar dengan kekuatan

tekannya?

Jawab: Meningkatnya nilai porositas menunjukkan bahwa beton memiliki pori

yang cukup besar akibat terjadinya penguapan air dan pemuaian material

pengisi beton. Hal ini merupakan salah satu penyebab turunnya kualitas beton

dalam memikul beban, khususnya kemampuan beton dalam memikul beban

tekan.

11. Apa definisi dari modulus halus butir? Bagaimana cara menghitungnya?

Jawab:
Modulus halus butir (finnes modulus) atau biasa disingkat degan MHB

ialah suatu indek yang dipakai untuk mengukur kehalusan atau kekasaran

butir-butir agregat (Abrams, 1918). MHB didefinisikan sebagai jumlah

persen kumulatif dari butir aregat yang tertingal di atas satu set ayakan

(38,19, 9.6, 4.8, 2.4, 1.2, 0.6, 0.3 dan 0.15 mm), kemudian nilai tersebut

dibagi dengan seratus (Ilsley, 1942:232).

Cara menghitung MHB :

Tabel 1. Contoh Data Hasil Analisa Ayak

Lubang Berat Tertinggal (gram)


Ayakan (mm) Agregat Kasar Agregat Halus
(1) (2) (3)
38 0 0
19 0 0
9.6 640 0
4.8 270 50
2.4 90 75
1.2 0 190
0.6 0 220
0.3 0 290
0.15 0 155
Sisa 0 20
1000 gr 1000 gr

Penyelesaian :

Tabel 1.a Contoh Hitungan MHB Agregat Halus

Lubang Ayakan Berat Tertinggal


(mm) (gram) (persen) Kumulatif (%)
(1) (3) (4) (5)
38 0 0 0
19 0 0 0
9.6 0 0 0
4.8 50 5.00 5.00
2.4 75 7.50 12.50
1.2 190 19.00 31.50
0.6 220 22.00 53.50
0.3 290 29.00 82.50
0.15 155 15.50 98.00
Sisa 20 2.00 ---
1000 gr 100 % 283.00

Jadi, MHB pasir dapat di hitung, yaitu persen kumulatif di bagi seratus
persen, yaitu = 283.00/100 = 2.83.

Tabel 1.b Contoh Hitungan MHB Agregat Kasar

Lubang Ayakan Berat Tertinggal


(mm) (gram) (persen) Kumulatif (%)
(1) (3) (4) (5)
38 0 0 0
19 0 0 0
9.6 640 64.00 64.00
4.8 270 27.0 91.00
2.4 90 9.00 100.00
1.2 0 0.00 100.00
0.6 0 0.00 100.00
0.3 0 0.00 100.00
0.15 0 0.00 100.00
Sisa 0 0.00 ---
1000 gr 100 % 655.00

Jadi, MHB pasir dapat di hitung, yaitu persen kumulatif di bagi seratus

persen, yaitu = 655.00/100 = 6.55.

12. Mengapa agregat harus tahan terhadap serangan kimia alkali dan sulfat?

Jawab:

Agregat harus tahan terhadap serangan kimia alkali karena, beberapa jenis

agregat dapat bereaksi dengan alkali yang berada dalam semen dan

membentuk gel-silika yang suasananya basa. Hal ini dapat membuat

agregat mengembang dan membengkak dan menyebabkan timbulnya

retak-retak serta penguraian beton yang bersangkutan.

Agregat harus tahan terhadap serangan kimia sulfat karena, senyawa sulfat

tidak dapat larut dalam air. Senyawa sulfat juga mempunyai volume
senyawa yang lebih besar daripada senyawa-senyawa pasta semen sebagai

bahan induk. Bertambahnya volume pada beton yang mengeras inilah

yang memberikan kontribusi bagi kehancuran struktur.

13. Apa pengaruh karakteristik panas dalam agregat terhadap keawetan dan

kualitas beton?

Jawab:

Pengaruh karakteristik panas dalam agregat terhadap keawetan dan

kualitas beton yaitu jika koefisien muai beton besar, maka perubahan suhu

dapat mengakibatkan perbedaan gerakan sehingga dapat melepaskan

lekatan antara agregat dan pasta semen. Jika koefisien muai dari keduanya

berbeda lebih dari 5.4 x 10-6, beton akan retak jika mengalami proses

panas dan dingin atau jika terjadi kebakaran.

14. Mengapa agregat tidak boleh mengandung zat-zat yang merusak?

Sebutkan dan jelaskan bahan yang merusak tersebut!

Jawab:

1. Bahan padat yang menetap

Contohnya yaitu, lempung, tanah liat, abu batu. Hal tersebut tidak

diijinkan dalam jumlah banyak. Bahan-bahan ini tidak dapat menjadi

satu dengan semen sehingga menghalangi penggabungan antara semen

dan agregat. Sehingga menyebabkan berkurangnya kekuatan tekan

beton.

2. Bahan-bahan organik dan humus


Apabila agregat alam mengandung bahan-bahan organik maka proses

hidrasi akan terganggu, sehingga bahan agregat tersebut tidak dapat

dipergunakan dalam campuran beton.

15. Jelaskan syarat mutu agregat berdasarkan syarat SNI!

Jawab :

[Link]-T-15-190-03 memberika syarat-syarat untuk agregat halus, diman

agregat halus dikelompokkan dalam empat zone (daerah) yaitu :

1. Daerah Gradasi I = Pasir kasar

2. Daerah Gradasi II = Pasir agak kasar

3. Daerah Gradasi III = Pasir halus

4. Daerah Gradasi IV = Pasir agak halus

16. Pengujian agregat menghasilkan data sebagai berikut :

Berat Tertinggal (gram)


Ayakan (mm) Agregat Kasar Agregat Halus A Agregat Halus B
38 0 0 0
19 0 0 0
9.6 550 0 10
4.8 330 0 60
2.4 100 10 115
1.2 20 0 350
0.6 0 450 120
0.3 0 370 170
0.15 0 140 140
Sisa 0 40 35
Jumlah 1000 1000 1000

a. Hitunglah modulus halus butir agregat kasar, halus A dan B?


Jawab:

Tabel 1.a Hitungan MHB Agregat Kasar

Lubang Ayakan Berat Tertinggal


(mm) (gram) (persen) Kumulatif (%)
38 0 0 0
19 0 0 0
9.6 550 55.00 55.00
4.8 330 33.0 88.00
2.4 100 10.00 98.00
1.2 20 2.00 100.00
0.6 0 0.00 100.00
0.3 0 0.00 100.00
0.15 0 0.00 100.00
Sisa 0 0.00 ---
1000 gr 100 % 641.00

Jadi, MHB pasir dapat di hitung, yaitu persen kumulatif di bagi seratus
persen, yaitu = 641.00/100 = 6.41.

Tabel 1.b Hitungan MHB Agregat Halus A

Lubang Ayakan Berat Tertinggal


(mm) (gram) (persen) Kumulatif (%)
38 0 0 0
19 0 0 0
9.6 0 0 0
4.8 0 0 0
2.4 0 0 0
1.2 0 0 0
0.6 450 45.00 45.00
0.3 370 37.00 82.00
0.15 140 14.00 96.00
Sisa 40 4.00 100.00
1000 gr 100 % 323.00

Jadi, MHB pasir dapat di hitung, yaitu persen kumulatif di bagi seratus
persen, yaitu = 323.00/100 = 3.23.
Tabel 1.b Hitungan MHB Agregat Halus B

Lubang Ayakan Berat Tertinggal


(mm) (gram) (persen) Kumulatif (%)
38 0 0 0
19 0 0 0
9.6 10 1.00 1.00
4.8 60 6.00 7.00
2.4 115 11.50 18.5
1.2 350 35.00 53.5
0.6 120 12.00 65.5
0.3 170 17.00 82.5
0.15 140 14.00 96.5
Sisa 35 35.00 131.5
1000 gr 100 % 456.00

Jadi, MHB pasir dapat di hitung, yaitu persen kumulatif di bagi seratus

persen, yaitu = 456.00/100 = 4.56.

a. Apakah agregat halus jenis A dan B memenuhi syarat standar zona yang

diberikan oleh SNI?

Jawab :

Agregat halus A mempunyai MHB sebesar = 3.23

Agregat halus B mempunyai MHB sebesar = 4.56

Umumnya agregat halus mempunyai MHB sekitar 1.50-3.8. Jadi, agregat

halus A masih memenuhi syarat standar zona yang diberikan SNI.

Sedangkan agregat halus B, tidak.

b. Jika tidak, hitunglah komposisi antara agregat halus jenis A dan B agar

memenuhi syarat zona!

Jawab :

c. Hitung komposisi campuran agregat kasar dan agregat halus agar

memenuhi syarat zona gregat campuran!

Jawab :

Dari Tabel 1.a dan 1.b didapat nilai MHB agregat kasar (K)= 6.41 dan MHB

agregat halus A (P)= 3.23 dan MHB campuran ditetapkan (C)= 5.5
Presentase agregat halus terhadap campuran adalah (6.41-5.5)/(5.5-3.23) x

100% = 40%. Jadi, perbandingan antara agregat halus dengan agregat kasar

adalah 1:1.5. Selanjutnya hitungan ditabelkan (langkah 4).

Berat
Berat Lolos
Tertinggal Berat Butiran Lolos (gram)
(gram)
(gram)
Ayakan Ag. K Ag. H
P K %P %K 1xP 1.5XK (8)+(9) (10)/(P+K)
(mm) (K) (P)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
38 0 0 1000 1000 100 100 100 150 250 100
19 0 0 1000 1000 100 100 100 150 250 100
9.6 550 0 1000 450 100 45 100 67.5 167.5 67
4.8 330 0 1000 120 100 12 100 18 118 47,2
2.4 100 0 1000 20 100 2 100 3 103 41,2
1.2 20 0 1000 0 100 0 100 0 100 40
0.6 0 450 550 0 55 0 55 0 55 22
0.3 0 370 180 0 18 0 18 0 18 7,2
0.15 0 140 40 0 4 0 4 0 4 1,6
Sisa 0 40 0 0 0 0 0 0 0 0
Jumlah 1000 10000 - - - - - - - -
4

BAHAN TAMBAH

1. Jelaskan definisi bahan tambah!

Jawab:

 Bahan Tambah juga di sebut Admixture atau bahan-bahan yang

ditambahkan ke dalam campuran beton pada saat atau selama

pencampuran berlangsung. Fungsi dari bahan ini adalah untuk mengubah

sifat-sifat dari beton agar menjadi lebih cocok untuk pekerjaan tertentu,

atau untuk menghemat biaya .

2. Apa yang dimaksud dengan bahan tambah kimia dan bahan tambah mineral?

Bagaimana proses pencampuran untuk bahan tambah kimia dan mineral?

Jawab:

 Bahan kimia adalah bahan tambah bersifat kimiawi yang di campurkan ke

dalam campuran beton yang bertujuan untuk merubah sifat perilaku beton

pada saat pelaksanaannya.

 Yang di maksud bahan mineral adalah bahan tambah bersifat padat yang

di campurkan ke dalam campuran beton. Bahan mineral ini lebih banyak

bersifat penyemenan yang bertujuan untuk perbaikan kinerja kekuatannya.

 Proses pencampuran untuk bahan tambah kimia dan mineral

a. Proses pencampuran bahan tambah kimia yaitu dengan

menambahkan bahan-bahan kimia ke dalam campuran beton


sebelum proses pencampuran berlangsung dengan perbandingan-

perbandingan yang telah di tentukan.

b. Proses pencampuran bahan tambah mineral yaitu dengan

menambahkan bahan mineral ke dalam campuran beton sebelum

proses pencampuran berlangsung dengan perbandingan–

perbandingan campuran yang telah di [Link] sesuai dengan

keperluan ,kegunaan beton tersebut.

3. Jelaskan beberapa alasan mengapa digunakan bahan tambah !

Jawab:

 Memodifikasi beton segar, mortar dan grouting


a) Menambah sifat kemudahan pekerjaan tanpa menambah air,

atau mengurangi kandungan air dengan kemudahan

pengerjaan yang sama.

b) Menghambat atau mempercepat waktu pengikatan awal

adukan beton.

c) Mengurangi atau mencegah secara preventif penurunan atau

perubahan volume beton.

d) Mengurangi segregasi.

e) Mengembangkan dan meningkatkan sifat penetrasi dan

pemompaan beton segar.

f) Mengurangi kehilangan konsistensi adukan.

 Memodifikasi beton keras, mortar dan grouting

a) Menghambat atau mengurangi panas selama pengerasan

awal.
b) Mempercepat laju pengembangan kekuatan beton pada umur

muda.

c) Menambah kekuatan beton.

d) Menambah sifat keawetan beton atau ketahanan terhadap

serangan garam-garam sulfat.

e) Mengurangi kapilaritas air.

f) Mengurangi sifat permeabilitas.

g) Mengontrol pengembangan yang disebabkan oleh reaksi

alkali.

h) Menghasilkan struktur beton yang baik.

i) Menambah kekuatan ikatan beton bertulang

j) Mengembangkan ketahanan gaya impact dan ketahanan

abrasi.

k) Mencegah korosi yang terjadi pada baja.

l) Menghasilkan warna tertentu pada beton atau mortar

4. Jelaskan jenis-jenis bahan tambah kimia menurut SNI !

Jawab:

a) Tipe A, Water-Reducing Admixtures

b) Tipe B, Retarding Admixtures

c) Tipe C, Accelerating Admixtures

d) Tipe D, Water Reducing and Retarding Admixtures

e) Tipe E, Water Reducing and Accelerating Admixtures

f) Tipe F, Water Reducing, High Range Admixtures

g) Tipe G, Water Reducing, High Range Retarding Admixtures


 Tipe A, Water-Reducing Admixtures (Plasticizer)

Water-Reducing Admixtures adalah bahan tambah yang mengurangi air

pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsistensi

tertentu. Bahan tambah ini biasa disebut water reducer atau plasticizer.

 Tipe B, Retarding Admixtures

Retarding Admixtures adalah bahan tambah yang berfungsi untuk

menghambat waktu pengikat beton.

 Tipe C, Accelerating Admixtures

Accelerating Admixtures adalah bahan tambah yang berfungsi untuk

mempercepat pengikatan dan pengembangan kekuatan awal beton.

 Tipe D, Water Reducing and Retarding Admixtures

Water Reducing and Retarding Admixtures adalah bahan tambah yang

berfungsi ganda yaitu mengurangi jumlah air pencampuran yang di

perlukan untuk menghasilkan beton dengan konsisten tertentu dan

menghambat pengikat awal.

 Tipe E, Water Reducing and Accelerating Admixtures

Water Reducing and Accelerating Admixtures adalah bahan tambah yang

berfungsi ganda yaitu mengurangi jumlah air pencampuran yang

diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsisten tertentu dan

mempercepat pengikat awal.

 Tipe F, Water Reducing, High Range Admixtures


Water Reducing, High Range Admixtures adalah bahan tambah yang

berfungsi ganda yaitu mengurangi jumlah air pencampuran yang

diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsisten tertentu sebanyak

12% atau lebih.

 Tipe G, Water Reducing, High Range Retarding Admixtures

Water Reducing, High Range Retarding Admixtures adalah bahan tambah

yang berfungsi ganda yaitu mengurangi jumlah air pencampuran yang di

perlukan untuk menghasilkan beton dengan konsisten tertentu sebanyak

12% atau lebih dan juga untuk menghambat pengikat beton.

Anda mungkin juga menyukai