Panduan Perencanaan Produksi PPIC
Panduan Perencanaan Produksi PPIC
Materi
1. Definisi, cakupan dan peranan Perencanaan dan
Pengendalian Produksi
2. Peramalan permintaan
3. Perencanaan Agregat & Disagregat dan Jadual Induk
Produksi
4. Manajemen Bahan: Perencanaan Kebutuhan Bahan
5. Pengendalian Persediaan : Metoda ABC, EOQ/EMQ
6. Penjadualan Tenaga Kerja
7. Keseimbangan Lini Produksi dan Penjadualan Produksi
8. Enterprise Resource Planning System
2
Tujuan
Mahasiswa mampu menerapkan model matematik,
heuristik dan teknik statistik untuk menganalisis dan
merancang suatu sistem perencanaan dan pengendalian
produksi
3
Daftar Referensi
1. Bedworth and Bailey, Integrated Production Control System, John
Wiley and Sons, Inc., New York, 1991.
2. Fogarty, D.W., Blackstone, J.H. dan Hoffman, T.R., Production and
Inventory Management, South-Western Publishing Co., Cincinnati,
1991.
3. Sipper, D., dan Bulfin, Jr., Production Planning Control and
Integration, [Link] Hill, 1997.
4. Biegel, Production Planning and Control, Prentice Hall, 1990.
5. Dilworth, Production and Operation Management, MHG, Singapore,
1996.
6. O’Leary, D.E., Enterprise Resource Planning Systems, Cambridge
University Press. Cambridge. 2000.
7. Narasimhan, S.L. et al . Production Planning & Inventory Control.
Prentice Hall. 1994.
4
5
6
6
Definisi manufacturing
CIRP (International Conference on Production
Engineering), 1983:
7
Siklus Manufaktur
8
Sistem Manufaktur
Sistem manufaktur adalah sistem yang melakukan proses
transformasi/konversi keinginan (needs) konsumen
menjadi produk jadi yang berkualitas tinggi
Keinginan konsumen diketahui dari studi pasar, yang
kemudian keinginan ini diterjemahkan menjadi desain
produk, dan kemudian menjadi desain proses
Komitmen terhadap kualitas produk harus dimiliki oleh
setiap level dalam perusahaan pada setiap tahap proses
produksi
Dalam proses transformasi ini terjadi pertambahan nilai
9
Sistem Produksi
Sistem produksi adalah sistem yang melakukan proses
transformasi atau konversi bahan mentah menjadi
produk jadi dengan kualitas tinggi dan sesuai dengan
desain produk yang telah ditetapkan
Dalam proses transformasi ini terjadi pertambahan
nilai sehingga produk jadi mempunyai nilai yang lebih
tinggi dari pada nilai bahan mentah
10
10
Sistem Produksi
Barang
Bahan atau
Jasa
Mesin
Tenaga kerja
Dana
Manajemen
11
11
Jenis proses transformasi
Fisik (manufacturing)
Lokasi (transport/storage)
Perdagangan (retail)
Fisiologis (healthcare)
Psikologis (entertainment)
Informasi (communications)
12
12
Sistem produksi, sistem manufaktur, sistem
perusahaan
13
13
INTEGRATED MANUFACTURING
Business Management
Quality Management
Information Management
Process (Production
Activity Control)
14
14
Perencanaan dan pengendalian produksi
Perencanaan & Pengendalian Produksi
Tujuan perencanaan: pemanfaatan sumber secara efektif
Tujuan pengendalian: penyesuaian rencana dengan
kegiatan sehari-hari
Issu dalam PPC:
apa (dilakukan pada level sistem manufaktur)
berapa banyak
kapan
siapa
bagaimana penyesuaian harus dilakukan
15
15
Kegiatan PPC
Peramalan kuantitas permintaan
Perencanaan pembelian/pengadaan: jenis, jumlah dan
waktu
Perencanaan persediaan (inventory): jenis, jumlah dan
waktu
Perencanaan kapasitas: tenaga kerja, mesin, fasilitas
Penjadwalan produksi dan tenaga kerja
Penjaminan kualitas
Monitoring aktivitas produksi
Pengendalian produksi
Pelaporan dan pendataan
16
16
Sistem produksi vs. Respons kepada konsumen
Jenis respon:
MTS=make to stock; ATO=assemble to order;
MTO=make to order; ETO=engineer to order
Jenis sistem:
FS=flow shop; BP=batch production; JS=job shop
17
17
Sistem Perencanaan & Pengendalian Produksi
18
18
Strategic
planning
Tahapan PPC
19
19
Hirarki Perencanaan
Issues Perencanaan Strategis:
Penentuan produk yang akan dibuat Strategic planning
Perancangan Sistem Manufaktur
Issues Perencanaan Taktis:
Perincian Rencana Strategis
Disagregasi rencana agregat
Penentuan planned order releases Tactical planning
Issue Perencanaan Pelaksanaan
Dispatching planned order releases
Day-by-day basis
Minimizing mfg lead time and work in
process
Execution planning
20
20
Hirarki produk
Type: kelompok beberapa product families
Product family: kelompok beberapa items
Item: produk akhir individual yang dibeli (digunakan) oleh
konsumen
Biasanya hirarki tersebut dimulai dari product family,
karena bila sebuah pabrik membuat lebih dari satu jenis
type maka operasi perusahaan itu akan menjadi sangat
kompleks
Pengelompokan sejumlah item ke dalam sebuah product
family dilakukan dengan teknik Group Technology (GT)
21
21
Hirarki Produk
Type Tipe 1 Tipe 2 … Tipe n1
Product
family
Famili 21 Famili 22 … Famili 2n2
Item Produk …
Component
Komponen …
22
22
Agregasi dan Disagregasi
Proses agregasi (aggregation) adalah proses
pengelompokan beberapa jenis item menjadi product
family
Proses disagregasi (disaggregation) adalah proses
derivasi product family menjadi item
23
23
Contoh proses agregasi
IBM memproduksi komputer laptop, desktop, notebook
dan mesin teknologi tinggi lainnya. Proses agregasi adalah
pengelompokan jenis-jenis komputer tersebut ke dalam
family product (misalnya famili komputer).
Unit agregat yang biasa digunakan dalam proses agregasi:
Jam kerja buruh, mesin atau resource lainnya
Waktu standar
Harga jual, ongkos produksi
Satuan agregat dummy (pseudoproduct)
24
24
Contoh proses agregasi
Sebuah rumah sakit bisa melakukan agregasi jasa yang
diberikan menjadi jumlah perawat atau dokter yang
dibutuhkan
Perusahaan jasa pelatihan bisa melakukan agregasi kursus
yang ditangani ke dalam jumlah instruktur yang harus
disiapkan
PT Telkomsel bisa melakukan agregasi jumlah unit
penjualan kartu prabayar (kartu Simpati) dan kartu
pascabayar (kartu Hallo) menjadi jumlah rupiah penjualan
yang diterima.
25
25
Contoh proses disagregasi
Nilai penjualan total perusahaan dikelompokan ke
dalam nilai penjualan masing-masing produk yang
di buat atau Jam produksi total dikelompokan ke
dalam jam produksi masing-masing produk
Nilai penjualan masing-masing produk tersebut
dibagi dengan harga jual masing-masing sehingga
diperoleh jumlah unit yang akan diproduksi
26
26
Peramalan
Peramalan adalah seni dan ilmu untuk memprediksi masa
depan.
Peramalan adalah tahap awal, dan hasil ramalan
merupakan basis bagi seluruh tahapan pada perencanaan
produksi
Proses peramalan dilakukan pada level agregat (part
family); bila data yang dimiliki adalah data item, maka
perlu dilakukan agregasi terlebih dahulu
Terminologi: perioda, horison, lead time, fitting error,
forecast error, data dan hasil ramalan
27
27
Aggregate planning (AP)
Tujuan AP adalah membangkitkan (generate) top level
production plans
Basis AP adalah hasil ramalan dan target produksi. Target
produksi ditentukan oleh top level business plan yang
memperhatikan kapasitas & kapabilitas perusahaan
Peran AP adalah sebagai interface antara
perusahaan/sistem manufaktur dan pasar produknya.
Analisis dilakukan dalam kelompok produk (product
family) dengan unit agregat
Melibatkan pemilihan srategi manufaktur
28
28
Company top level plans
Aggregate
Planning
29
29
Jadwal Produksi
Induk
Manajemen
demand
Factory Market
30
30
Master Production Schedule(MPS)
Jadwal Produksi Induk (Master Production Schedule, MPS)
atau JPI merupakan output disagregasi pada Rencana
Agregat
JPI berada pada tingkatan item
JPI bertujuan untuk melihat dampak demand pada
perencanaan material dan kapasitas
JPI bertujuan untuk menjamin bahwa produk tersedia
untuk memenuhi demand tetapi ongkos dan inventory
yang tidak perlu dapat dihindarkan
Teknik disagregasi: persentase dan metoda Bitran and Hax
31
31
Prosedur teknik persentase
Hitung persentase kuantitas item masing-masing
terhadap kuantitas famili pada data masa lalu (semua
dalam unit agregat)
Gunakan persentase ini untuk menentukan kuantitas
item masing-masing dari Rencana Agregat. Output
adalah MPS dalam satuan agregat
Lakukan pembagian MPS (yang masih dalam satuan
agregat) dengan nilai konversi sehingga dihasilkan
MPS dalam satuan individu item
32
32
Perencanaan material
Perencanaan material adalah penentuan jumlah material yang
diperlukan untuk memenuhi MPS dan saat pemenuhan
material tersebut
Pendekatan dalam perencanaan material: independent-
demand dan dependent demand.
Independent demand mengasumsikan bahwa produk-produk
(atau komponen) tidak saling bergantungan. Artinya,
perencanaan material untuk masing-masing produk dilakukan
secara independen
Biasanya pendekatan independent demand ini dilakukan
untuk produk-produk jadi (finished product), yang satu
dengan yang lainnya tidak saling bergantungan
33
33
Perencanaan material
Teknik dalam independent demand ini antara lain
Economic Order Quantity (EOQ)
Dependent demand melakukan perencanaan material
untuk produk-produk (komponen-komponen) secara
bergantungan. Artinya, jumlah dan saat material
dibutuhkan untuk suatu produk/komponen tergantung
kepada jumlah dan saat material yang dibutuhkan untuk
produk/komponen yang lain
Ketergantungan antar produk/komponen digambarkan
dalam bill of material atau product structure
34
34
.
Level-1
…
Level-2
…
Level-3
… …
…
Level-…
35
35
Perencanaan material
Dependensi: Vertical dependency dan horizontal
dependency
Vertical dependency menunjukkan hubungan
parent-children atau exploding
Horizontal dependency menunjukkan hubungan
saat selesai pemrosesan children untuk suatu
parent tertentu atau time phasing
Teknik dalam dependent demand adalah
material requirements planning (MRP)
36
36
Shop floor control
Pembuatan rencana menggunakan beberapa asumsi: mesin
selalu tersedia, material datang tepat waktu, waktu proses
tertentu, tenaga kerja produktif, tidak ada perubahan jumlah
demand dan due date, dan lain-lain
Dalam implementasi rencana sangat mungkin asumsi tersebut
tidak berlaku. Oleh karena itu perlu tindakan penyesuaian
yang dikenal dengan istilah pengendalian
Pengendalian adalah tindakan penyesuaian rencana dan
pelaksanaan, agar tetap operational dan performansi sistem
manufaktur tetap acceptable, meskipun perlu perubahan-
perubahan dalam rencana.
37
37
Shop floor control
Tindakan yang dilakukan dalam shop floor control
adalah rerouting/alternate routing
scheduling-rescheduling
operation splitting
operation overlapping (lot streaming)
over time
subcontracting
lain-lain
38
38
Performansi shop floor
Manufacturing lead time
Jumlah inventory
Idle time
Line balancing
Pemenuhan due date
Material handling cost
Utilization
Efisiensi
Produktivitas
Kualitas
39
39
Peramalan
40
Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memahami tentang jenis-jenis
peramalan, tujuan dan manfaat peramalan, serta
hubungannya dengan permintaan dan produksi
41
Standar Kompetensi
Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian peramalan
secara keseluruhan.
Mahasiswa dapat membedakan dan menjelaskan
pengertian dari peramalan kualitatif dan kuantitatif.
Mahasiswa dapat menghitung jenis peramalan
kualitatif, baik runtun waktu maupun causal
Mahasiswa dapat memakai jenis peramalan kualitatif
42
Pengantar
Pokok bahasan ini merupakan pokok
bahasan yang mengkaji perencanaan
produksi melalui penerapan metode
peramalan.
Teknik peramalan ini ditujukan untuk
menghasilkan perencanaan produksi yang
akurat dalam merespon permintaan pasar.
Langkah pertama dalam perencanaan
operasi sistem produksi adalah
menentukan peramalan yang akurat
terhadap permintaan produk yang akan
diproduksi.
43
Pengertian Peramalan
Peramalan merupakan bagian awal dari suatu proses pengambilan
suatu keputusan. Sebelum melakukan peramalan harus diketahui
terlebih dahulu apa sebenarnya persoalan dalam pengambilan
keputusan itu.
Peramalan adalah penggunaan data masa lalu dari sebuah variabel
atau kumpulan variabel untuk mengestimasi nilainya di masa yang
akan datang.
Peramalan adalah penggunaan data masa lalu dari sebuah variabel
atau kumpulan variabel untuk mengestimasi nilainya di masa yang
akan datang.
Asumsi dasar dalam penerapan teknik-teknik peramalan adalah jika
kita dapat memprediksi apa yang terjadi di masa depan maka kita
dapat mengubah kebiasaan kita saat ini menjadi lebih baik dan
akan jauh lebih berbeda di masa yang akan datang. Hal ini
disebabkan kinerja di masa lalu akan terus berulang setidaknya
dalam masa mendatang yang relatif dekat.
44
Pengertian Peramalan
Merupakan bagian vital bagi setiap organisasi bisnis
dan untuk setiap pengambilan keputusan
manajemen yang sangat signifikan. Peramalan
menjadi dasar bagi perencanaan jangka panjang
perusahaan.
Proses peramalan dilakukan pada level
agregat (part family); bila data yang
dimiliki adalah data item, maka perlu
dilakukan agregasi terlebih dahulu.
45
Karakteristik Peramalan
Karakteristikperamalanyang baik adalah:
Keakuratan
Biaya
Penyederhanaan
46
Prinsip Peramalan
Peramalan melibatkan kesalahan(error).
Peramalan sebaiknya memakai tolok ukur kesalahan
peramalan.
Peramalan famili produk lebih akurat dari pada
peramalan produk individu (item).
Peramalan jangka pendek lebih akurat dari pada
jangkapanjang.
Jikadi mungkinkan, hitung permintaan dari pada
meramal permintaan.
47
Langkah-langkah Peramalan
Definisikan Tujuan Peramalan
Buatlah diagram pencar (Plot Data) – part family masa lalu
Memilih model peramalan yang tepat, yaitu yang paling
memenuhi tujuan peramalan dan sesuai dengan plot data.
Lakukan perhitungan peramalan untuk masing-masing metode
Hitung kesalahan ramalan (forecast error)
Keakuratan suatu model peramalan bergantung pada seberapa dekat nilai
hasil peramalan terhadap nilai data yang sebenarnya. Perbedaan atau selisih
antara nilai aktual dan nilai ramalan disebut sebagai “kesalahan ramalan
( forecast error)” atau deviasi
Pilih Metode Peramalan dengan kesalahan yang terkecil.
Lakukan Verifikasi peramalan
48
Rentang Waktu dalam
Peramalan
49
Metode peramalan dapat di
klasifikasikan menjadi 2
1. Metode Kualitatif
Metode ini digunakan dimana tidak ada model matematik,
biasanya dikarenakan data yang ada tidak cukup representatif
untuk meramalkan masa yang akan datang (long term
forecasting).
2. Metode Kuantitatif
Metode yang penggunaanyadidasari ketersediaan data mentah
disertai serangkaian kaidah matematis untuk meramalkan hasil di
masa depan.
50
Metode kuantitatif dibagi
menjadi 3 jenis
1. Model-model Regresi
2. Model Ekonometrik
3. Model Time Series Analysis (Deret Waktu)
51
Persyaratan Penggunaan
Metode Kuantitatif:
1. Tersedia informasi tentang masa lalu.
2. Informasi tersebut dapat di kuantitatifkan
dalam bentuk data numerik.
3. Dapat diasumsikan bahwa beberapa aspek pola
masa lalu akan terus berlanjut di masa
mendatang.
52
Taksonomi Peramalan
53
Pola data metode deret berkala
1. Pola horisontal (H) terjadi bilamana data berfluktuasi
disekitar nilai rata-rata yg konstan. Suatu produk yg
penjualannya tdk meningkat atau menurun selama waktu
tertentu termasuk jenis ini. Pola khas dari data horizontal
atau stasioner seperti ini dapat dilihat dalam Gambar 1.1.
2. Pola musiman (S) terjadi bilamana suatu deret
dipengaruhi oleh faktor musiman (misalnya kuartal tahun
tertentu, bulanan, atau hari-hari pada minggu tertentu).
Penjualan dari produk seperti minuman ringan, es krim,
dan bahan bakar pemanas ruang semuanya menunjukkan
jenis pola ini. Untuk pola musiman kuartalan dapat dilihat
Gambar 1.2.
54
Pola data metode deret berkala
3. Pola siklis (C) terjadi bilamana datanya dipengaruhi
oleh fluktuasi ekonomi jangka panjang seperti yang
berhubungan dengan siklus bisnis. Contoh: Penjualan
produk seperti mobil, baja, dan peralatan utama
lainnya. Jenis pola ini dapat dilihat pada Gambar 1.3.
4. Pola trend (T) terjadi bilamana terdapat kenaikan
atau penurunan sekuler jangka panjang dalam data.
Contoh: Penjualan banyak perusahaan, GNP dan
berbagai indikator bisnis atau ekonomi lainnya. Jenis
pola ini dapat dilihat pada Gambar 1.4.
55
56
Karakteristik trend
Komponen Amplitudo Penyebab
57
Teknik Peramalan
58
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Pemilihan Teknik Peramalan
Peramalan adalah upaya untuk memperkecil resiko
yang timbul akibat pengambilan keputusan dalam
suatu perencanaan produksi.
Semakin besar upaya yang dikeluarkan tentu resiko
yang dapat dihindari semakin besar pula.
Upaya memperkecil resiko tersebut dibatasi oleh biaya
yang dikeluarkan akibat mengupayakan hal tersebut.
59
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Pemilihan Teknik Peramalan
Faktor-Faktor yang harus dipertimbangkan:
1. Horizon Peramalan
2. Tingkat Ketelitian
3. Ketersediaan Data
4. Bentuk Pola Data
5. Biaya
6. Jenis dari model
7. Mudah tidaknya penggunaan dan aplikasinya
60
Kegunaan Pemilihan Teknik Peramalan
Metoda yang dipergunakan sangat besar manfaatnya,
apabila dikaitkan dengan informasi atau data yang
dipunyai
Apabila dari data yang lalu diketahui adanya pola
musiman, maka untuk peramalan satau tahun kedepan
sebaiknya digunakan metoda variasi musim
Apabila dari data yang lalu diketahui adanya pola
hubungan antara variabel – variabel yang saling
mempengaruhi, maka sebaiknya dipergunakan metoda
sebab akibat ( causal) atau korelasi (cross section ).
61
Model Time Series Analysis
62
Model Konstan
Dalam Model Konstan, peramalan
dilakukan dengan mengambil rata-rata
data masa lalu (historis).
Persamaan garis yang menggambarkan pola
konstan adalah:
63
Model Konstan
Untuk mendapatkan nilai (a) maka dapat didekati
melalui turunan kuadrat terkecilnya (least square)
terhadap (a) sebagai berikut:
64
Model Konstan
Sehingga: ;
65
Model Konstan - Contoh 1
Diberikan data permintaan pabrik konveksi PT PAFN dari
bulan Januari sampai Juni tahun 2010. Tentukan jumlah
permintaan untuk lima bulan selanjutnya dengan
menggunakan model konstan!
66
Model Konstan - Contoh 1
Jawaban
Menghitung Konstanta a :
67
Model Siklis (Musiman)
Untuk pola data yang bersifat siklis atau musiman,
persamaan garis yang mewakili dapat didekati
dengan fungsi trigonometri, yaitu:
68
Model Siklis (Musiman)
Jumlah Kuadrat Kesalahan Terkecil didefinisikan
sebagai:
69
Model Siklis (Musiman)
Maka :
70
Contoh 2
Diketahui data permintaan produksi chip pada tahun 2010 sebagai berikut:
Bulan Permintaan dalam unit
(t) (Y)
Jan 73
Feb 83
Mar 92
Apr 107
Mei 114
Jun 129
Jul 91
Aug 108
Spt 116
Oct 79
Nov 92
Des 93
Jawab :
Silahkan jawab masing-masing
71
Model Regresi Linier (Linier
Forecasting)
Persamaan garis yang mendekati bentuk data linier
adalah:
72
Model Regresi Linier (Linier
Forecasting)
Anggaplah data mentah diwakili dengan (Yi,ti), dimana Yi
adalah permintaan aktual di saat ti, dimana i = 1,2, .....,n.
Definisikan:
73
Model Regresi Linier (Linier
Forecasting)
74
Model Regresi Linier (Linier
Forecasting)
Confidence Interval dan Prediction Interval
Berdasarkan sebaran t dengan (n – 2) derajat bebas, maka
pada persamaan linier [Y’(t) = a + b(t)] dapat dibuat
Selang Kepercayaan (confidence intervals) dengan (1-
a)100% bagi nilai tengah dari Y dan Selang Taksiran
(prediction intervals) untuk setiap nilai Y, yaitu:
75
Model Regresi Linier (Linier
Forecasting)
Prediction Interval untuk setiap nilai Y yaitu (1-a)100% bila
t = to.
76
Contoh 3
Diketahui data pada tahun 2010 pada tabel berikut ini.
Bulan Permintaan dalam
(t) unit
(Y)
Jan 199
Feb 202
Mar 199
Apr 208
Mei 212
Jun 194
Jul 214
Aug 220
Spt 219
Oct 234
Nov 219
a. Tentukan demand tahun 2012 Des 233
77
Model Rata-rata Bergerak (Moving
Average)
Metode ini digunakan untuk data yang perubahannya
tidak cepat, dan tidak mempunyai karakteristik
musiman atau seasonal serta tidak memiliki trend
Model rata-rata bergerak mengestimasi permintaan
periode berikutnya sebagai rata-rata data permintaan
aktual dari n periode terakhir.
Digunakan untuk peramalan dengan
perioda waktu spesifik.
78
Model Rata-rata Bergerak (Moving
Average)
Ada tiga macam model rata-rata bergerak, yaitu:
a. Simple Moving Average
79
Contoh 4
Diberikan data harga penutupan akhir minggu surat-
surat berharga perusahaan “Apa Adanya” yang
bergerak dalam bidang maskapai penerbangan.
t 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Y 46 56 54 43 57 56 67 62 50 56 47 56
80
Contoh 4
Maka Moving Average 3 mingguan (SMA3) terhadap harga penutupan akhir
minggu saham diperoleh dari perhitungan berikut:
1 46 -
2 56 -
3 54 52
4 43 51
5 57 51,33
6 56 52
7 67 60
8 62 61,17
9 50 59,17
10 56 56
11 47 51
12 56 53
81
Contoh 4
Contoh perhitungan:
dengan t = 1,2,3
82
Model Rata-rata Bergerak (Moving
Average)
b. Centered Moving Average
CMA menggunakan data sebelumnya dan data
sesudahnya. Misalnya untuk 3 periode moving
average, maka SMA menggunakan data periode 3
ditambah data sebelumnya dan data sesudahnya.
Didefinisikan sebagai berikut:
83
Model Rata-rata Bergerak (Moving
Average)
Dimana Yt adalah nilai tengah dari interval L data
observasi. (L-1)/2 observasi merupakan data sebelum dan
sesudahnya. Misalnya CMA 5 periode, maka Yt = Y5 maka
intervalnya dimulai dari Y3 sampai Y7
84
Contoh 5
Contoh perhitungan:
85
Model Rata-rata Bergerak (Moving
Average)
c. Weighted Moving Average
Formula untuk Weighted Moving Average (WMAt):
86
Contoh 6
Diketahui data penjualan suatu departement store 4 bulan periode.
Kemudian ingin meramalkan penjualan bulan ke-5 dengan moving average
dimana menggunakan bobot 40% actual sales untuk bulan saat ini (4), 30%
untuk 2 bulan sebelumnya, 20% untuk 3 bulan sebelumnya, dan 10% untuk
4 bulan sebelumnya. Data penjualannya sebagai berikut:
87
Exponential Smoothing
Kesalahan peramalan masa lalu digunakan
untuk koreksi peramalan berikutnya.
Dihitung berdasarkan hasil peramalan +
kesalahan peramalan sebelumnya.
88
Metode Exponential
Smoothing
Kesalahan peramalan masa lalu digunakan
untuk koreksi peramalan berikutnya.
Dihitung berdasarkan hasil peramalan +
kesalahan peramalan sebelumnya.
89
Metode Exponential Smoothing
ES didefinisikan sebagai:
Keterangan:
Ft+1 = Ramalan untuk periode berikutnya
Dt = Demand aktual pada periode t
Ft = Peramalan yg ditentukan sebelumnya untuk periode t
a = Faktor bobot
90
Contoh 7
Tabulasi data berikut ini merupakan actual
sales dalam unit untuk 6 bulan dan
peramalan dimulai dari bulan januari.
Month Jan Feb Marc Apr May June
91
Metode Seasonal
Demand meningkat karena pengaruh tertentu atau
berdasarkan waktu.
Nilai/harga faktor seasonal antara 0 dan 1.
Formulasi peramalan pada tahun ke i :
d’i = a + bt
Keterangan :
d’i = peramalan untuk saat ke i
t = perioda waktu (bulan, minggu, dll)
Formulasi Peramalan Seasonal :
SF(i) = (Si).(d’t)
92
Forecasting Errors & Tracking Signals
3 metode perhitungan kesalahan
peramalan :
93
Verifikasi (1)
Salah satu metode verifikasi adalah Moving Range Chart
(MRC).
Moving Range (MR) didefinisikan sebagai :
MR = |d’t – dt| – |d’t-1– dt-1|
Keterangan :
d’t = ramalan pada bulan ke t
dt = kebutuhan pada bulan ke t
d’t–1 = ramalan pada bulan ke t-1
dt–1 = kebutuhan pada bulan ke t-1
94
Verifikasi (2)
Rata-rata MR dihitung :
95
Verifikasi (3)
96
Verifikasi (4)
Pengujian out of kontrol :
Dari 3 titik yang berurutan, 2 titik atau lebih
berada di daerah A.
Dari 5 titik yang berurutan, 2 titik atau lebih
berada di daerah B.
Dari 8 titik yang berurutan, seluruhnya berada di
atas atau di bawah center line.
Satu titik berada di luar batas kontrol.
97
Verifikasi (5)
Contoh Soal: Kasus Peramalan Konstan
98
Verifikasi (6)
30
UCL = +28.2
20
10
d' - d
0 CL
-10
-20
LCL = -28.2
-30
J F M A M J J A S O N D
Bulan
99
Verifikasi (7)
Bila kondisi out of control terjadi.
Perbaiki ramalan dengan memasukkan data baru.
Tunggu evidence (fakta-fakta) selanjutnya.
100
Kesimpulan
1. Peramalan merupakan tahapan awal dalam
perencanaan sistem operasi produksi.
2. Model yang paling tepat harus dipilih dalam
melakukan peramalan.
3. Model yang dipilih dapat dibandingkan dengan
model yang lain dengan menggunakan kriteria
minimum average sum of squared errors.
4. Distribusi forecast errors harus dimonitor, jika
terjadi bias maka model yang digunakan tidak
tepat.
101
102
Pendahuluan
Perencanaan agregat (aggregate planning) juga
dikenal sebagai penjadwalan agregat (aggregate
scheduling) berhubungan dengan penentuan
kuantitas dan waktu produksi pada jangka
menengah
Tujuan Aggregate planning (AP) adalah
membangkitkan (generate) top level production
plans
Basis AP adalah hasil ramalan dan target produksi.
Target produksi ditentukan oleh top level business
plan yang memperhatikan kapasitas & kapabilitas
perusahaan
103
Pendahuluan
Analisis dilakukan dalam kelompok produk
(product family) dengan unit agregat
Melibatkan pemilihan strategi manufaktur
Peran AP adalah sebagai interface antara
perusahaan/sistem manufaktur dan pasar
produknya.
tujuan perencanaan agregat adalah memperkecil
biaya pada periode perencanaan.
104
Pendahuluan
Kapasitas (capacity) adalah hasil produksi
(throughtphut), atau jumlah unit yang dapat ditahan,
diterima, disimpan, atau diproduksi oleh sebuah fasilitas
dalam suatu periode waktu tertentu.
105
Rencana Agregat
Agregasi Disagregasi
Data family Peramalan Perancangan
Data B Family Agregat MPS
Family
106
Hirarki produk
Type: kelompok beberapa product families.
Product family: kelompok beberapa items.
Item: produk akhir individual yang dibeli (digunakan) oleh
konsumen.
Biasanya hirarki tersebut dimulai dari product family,
karena bila sebuah pabrik membuat lebih dari satu jenis
type maka operasi perusahaan itu akan menjadi sangat
kompleks.
Pengelompokan sejumlah item ke dalam sebuah product
family dilakukan dengan teknik Group Technology (GT).
107
Karakteristik Perencanaan
Agregat
Horison waktu sekitar 12 bulan
Tingkat agregat permintaan akan produk terdiri
dari satu atau beberapa kategori produk
Kemungkinan berubahnya kedua variabel
supply dan demand
Variasi sasaran manajemen
Fasilitas dianggap tetap tidak dapat diperluas
108
Masukan Perencanaan Agregat
a. Sumber Daya
Tenaga kerja
Fasilitas
b. Ramalan Permintaan
c. Kebijakan
Subcontracting
Overtime
Inventory levels
Back orders
d. Biaya
Inventory carrying
Back orders
Hiring/firing
Overtime
Inventory changes
Subcontracting
109
Keluaran Perencanaan Agregat
a. Total biaya perencanaan
b. Proyeksi tingkat persediaan
Persediaan
Pekerjaan
Keluaran
Subkontak
Backorder
110
Perencanaan Tugas dan
Tanggung Jawab
111
Strategi Perencanaan
Agregat
Mengubah permintaan untuk memenuhi kapasitas
(Pro-aktif)
Mengubah kapasitas untuk memenuhi permintaan
(Re-aktif)
Campuran
112
Strategi Pilihan Kapasitas
Mengubah tingkat persediaan.
Meragamkan jumlah tenaga kerja dengan cara
mengkaryakan atau memberhentikan.
Meragamkan tingkat produksi melalui lembur
atau waktu kosong
Subkontrak.
Penggunaan karyawan paruh waktu.
113
Strategi Perencanaan
Agregat
Mempertahankan tingkat tenaga kerja
Mempertahankan tingkat keluaran yang stabil
Memenuhi permintaan setiap periode
Menggunakan variabel keputusan
114
Strategi Dasar
Strategi tingkat kapasitas
Mempertahankan keluaran pada tingkat waktu normal yang
stabil sambil memenuhi variasi dalam permintaan oleh pilihan
kombinasi
Strategi mengejar permintaan
Menyelaraskan kapasitas permintaan; perencanaan keluaran untuk
setiap periode dalam permintaan yanh diharapkan pada periode
tersebut
115
Strategi Pilihan Permintaan
Pilihan permintaan dasar adalah sebagai berikut:
Memengaruhi permintaan
Tunggakan pesanan selama periode permintaan
tinggi
Perpaduan produk dan jasa yang
counterseasonal (dengan musim yang berbeda)
116
Proses Agregasi
Unit agregat yang biasa digunakan dalam
proses agregasi :
Jam kerja buruh, mesin atau resource lainnya.
Waktu standar.
Harga jual, Ongkos produksi.
Satuan agregat dummy (pseudo product).
117
Contoh Proses Agregasi
IBM memproduksi komputer laptop, desktop,
notebook dan mesin teknologi tinggi lainnya.
Proses agregasi adalah pengelompokkan jenis –
jenis komputer tersebut ke dalam family product
(misalnya famili komputer).
118
Teknik Aggregate Planning (AP)
Trial and Error atau charting : Pure and Mixed
Strategies.
Pendekatan empiris : Model Bowman.
Pendekatan matematis : Linear Programming.
Simulasi.
119
120
STRATEGI DAN TEKNIK
PERENCANAAN PRODUKSI
STRATEGI MURNI
STRATEGI CAMPURAN
121
STRATEGI DAN TEKNIK
PERENCANAAN PRODUKSI
STRATEGI MURNI
Strategi murni adalah strategi dengan melakukan
perubahan pada salah satu factor yang tersebut diatas,
yang meliputi :
1. Mengendalikan jumlah inventori
2. Mengendalikan jumlah tenaga kerja
3. Subkontrak
4. Mempengaruhi permintaan
122
STRATEGI DAN TEKNIK
PERENCANAAN PRODUKSI
STRATEGI CAMPURAN
Strategi ini merupakan penggunaan dua atau lebih
strategi murni untuk menghasilkan perencanaan
produksi yang feasible.
123
Nilai dari Aturan – aturan Pengambilan
Keputusan (The Value of Decision Rules)
Untuk menentukan perubahan production level
merupakan keputusan yang sulit, dan akan
melibatkan uang dan waktu dalam jumlah yang
sangat besar. Dengan menentukan decision rules,
manager pengendalian produksi dan manager
pengoperasian akan menetapkan aturan mainnya.
Untuk mengoptimalkan aturan ini , perlu ditinjau
struktur biaya yang terjadi.
124
Nilai dari Aturan – aturan Pengambilan
Keputusan (The Value of Decision Rules)
A. Biaya Upah Normal dan biayaLembur (Normal and
Overtime Cost)
Biaya produksi regular time diasumsikan untuk para
pekerja fulltime. Biaya ini akan meningkat sesuai
dengan bertambahnnya jumlah pekerja. Adapun
grafik biaya ini dapat dilihat pada gambar 1, berikut :
125
Nilai dari Aturan – aturan Pengambilan
Keputusan (The Value of Decision Rules)
Tetapi selain itu perusahaan juga harus menentukan
berapa faktor biaya ,antara lain mempertahankan
jumlah tenaga kerja yang perubahannya disebabkan
oleh tekanan sosial ,pendapat masyarakat, tingginya
biaya pelatihan. Dengan memasukkan faktor –faktor
ini biaya tenaga kerja akan menjadi konstan, seperti
terlihat pada gambar 2, dibawah ini :
Bentuk kurva dan ongkos waktu lembur (overtime)
dari jumlah tenaga kerja dapat dilihat pada gambar 3.
126
Gambar 1. Biaya produksi
waktu reguler
127
Gambar 2. Biaya Tenaga Kerja
128
Gambar 3. Biaya waktu lembur
dan tunda
129
Nilai dari Aturan – aturan Pengambilan
Keputusan (The Value of Decision Rules)
B. Ongkos Perubahan Kecepatan Produksi
Biaya akibat perubahan tingkat produksi bisa disebabkan
oleh jumlah tenaga kerja perubahan biaya,
pemberhentian dan perekrutan tenaga kerja, dapat dilihat
gambar 4.
130
Gambar 4. Ongkos Perubahan Tingkat
Tenaga kerja
131
Nilai dari Aturan – aturan Pengambilan
Keputusan (The Value of Decision Rules)
C. Ongkos Persediaan, Permintaan /Kekurangan
Pesanan
Tingkat persediaan agregat yang optimum,
merupakan pendekatan dari jumlah rata – rata safety
stock dan ½ dari optimum batch size, yang
ditentukan dari tiap item, seperti yang terlihat pada
gambar 5.
Ongkos persediaan berkisar antara 5% sampai 90%
dari harga item tersebut. Total ongkos persediaan
adalah merupakan jumlah dari ongkos persediaan
semua item.
132
Gambar 5. Tingkat Inventori Agregat
133
Nilai dari Aturan – aturan Pengambilan
Keputusan (The Value of Decision Rules)
Biaya backorder dan lost sales merupakan masalah
keuangan yang sama. Jika sering terjadi lost sales,
maka keadaan ini akan membuka peluang bagi
kompetitor dan menyebabkan semua biaya produksi
meningkat . Biaya lost sales sangat sulit
diperkirakan. Dari angka peramalan permintaan,
biaya inventory,back order, digambarkan pada
gambar 6.
134
Gambar 6. Biaya Inventori dan Shortage
135
Nilai dari Aturan – aturan Pengambilan
Keputusan (The Value of Decision Rules)
D. Ongkos Subkontrak.
Alternatif lain untuk merubah tingkat produksi dan
persediaan, sebuah perusahaan bisa memilih
subkontrak untuk memenuhi permintaan.
Subkontrak bisa juga tidak menguntungkan, karena
akan akan menyebabkan biaya yang lebih besar dan
akan membuka peluang kompetitor. Selain itu
subkontrak juga sulit dijalankan, karena untuk
mencari supplier yang on time dan reliable tidak
mudah.
136
137
Metode – Metode Perencanaan Agregat
Banyak metode yang telah dikembangkan untuk
perencanaan agregat ini tetapi pada dasarnya dapat
dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu:
A. Dengan pendekatan Optimasi :
progamma linier
aturan HMMS (Linier Decision Rule)
search Decision Rule, dll
138
Perencanaan Agregat dengan Metode Grafis
Metode grafis ini adalah metode perencanaan
agregat yang sangat sederhana dan mudah
dipahami. Dasar metode ini sebenarnya adalah “trial
and error” dengan melihat gambaran antara
permintaan kumulatif dan rata-rata permintaan
kumulatifnya.
139
Perencanaan Agregat dengan Metode Grafis
Secara garis besar langkah perencanaan yang dilakukan
adalah sebagai berikut :
1. Gambarkan histogram permintaan dan tentukan kecepatan
produksi (Pt) rata-rata yang diperlukan untuk memenuhi
permintaan.
2. Gambarkan grafik permintaan kumulatif terhadap waktu serta
grafik permintaan rata-rata kumulatif terhadap waktu.
Identifikasikan periode – periode tempat terjadinya kekurangan
barang (back order) dan periode-periode adanya kelebihan
barang (inventory).
3. Tentukan strategi yang akan digunakan untuk menanggulangi
kekurangan dan kelebihan barang tersebut.
4. Hitung ongkos yang ditimbulkan oleh setiap strategi dan pilih
yang memberikan ongkos terkecil.
140
CONTOH : Perencanaan Aggregat
141
141
Forecasted Demand per periode
142
142
Level Strategy
143
Chase Strategy
144
144
Subcontract Strategy
145
145
Mixed Strategy
146
146
Linear Programming
147
Transportation Model(1)
148
148
Transportation Model(3)
149
Transportation Model(2)
150
150
151
Perencanaan Disagregat
Tujuan :
Disagregasi dilakukan untuk menyusun jadwal induk
produksi (MPS – Master Production Schedule) Setelah
diketahui jadwal produksi agregatnya.
Metode disagregasi
Persentase.
Bitran dan Hax.
Hax dan Meal.
152
Jadual Induk Produksi
153
Prosedur Teknik Persentase
Hitung persentase kuantitas item masing-masing
terhadap kuantitas famili pada data masa lalu
(semua dalam unit agregat)
Gunakan persentase ini untuk menentukan kuantitas
item masing-masing dari Rencana Agregat. Output
adalah MPS dalam satuan agregat
Lakukan pembagian MPS (yang masih dalam satuan
agregat) dengan nilai konversi sehingga dihasilkan
MPS dalam satuan individu item
154
154
Contoh(1)
Data item (unit)
Perioda 1 2 3 4 5 6 Waktu baku (jam per unit)
Produk A 200 220 240 230 250 260 3
Produk B 600 650 700 690 720 770 2
Produk C 50 55 60 58 60 60 5
155
155
Contoh(2)
t At tAt t2
1 2050 2050 1
2 2235 4470 4
3 2420 7260 9
4 2360 9440 16
5 2490 12450 25
6 2620 15720 36
21 14175 51390 91 b = 101,6 a = 2006,9
Ft = 2006,9 + 101,6 t
156
156
Contoh(3)
Berdasarkan model ramalan tersebut, dapat dihitung
permintaan agregat pada perioda ke 7, 8, dan 9, yaitu:
F7 = 2.006,9 + 101,6 x 7 = 2.718,1
F8 = 2.006,9 + 101,6 x 8 = 2.819,7
F9 = 2.006,9 + 101,6 x 9 = 2.921,3
157
Contoh(4)
Dengan demikian nilai rencana agregat pada perioda
ke 7 adalah: 2.718,1 jam
Dengan teknik persentase, disagregasi dilakukan
untuk memperoleh MPS, yaitu:
Produk A = 0,296 x Rp. 2.718,100 = 804,5576 jam
Produk B = x Rp. 2.718,100 =
0,583 1.584,6523 jam
Produk C = x Rp. 2.718,100 =
0,121 328,8901 jam
158
Jumlah unit
Contoh(5) (pembulatan)
Produk Waktu Proses Waktu Baku
269
A 804,5576 3 jam 793
B 1.584,6523 2 jam
66
C 328,8901 5 jam
159
159
Model Bitran and Hax(1)
Bila terdapat item j dalam famili i yang memenuhi
160
160
161
Fungsi Persediaan
1. Memungkinkan operasi berjalan terus-menerus
dengan lancar karena penggunaan “barang dalam
proses”, persediaan diperlukan untuk menghadapi
kemacetan proses pada berbagai tingkat dalam
proses produksi
2. Melindungi variasi ketepatan pengiriman akibat
cuaca, persediaan yang menipis, masalah mutu
atau pengiriman yang kurang benar secara teknis.
3. Mengambil keuntungan mendapatkan discount
bila membeli bahan dalam jumlah besar karena
dapat mengurangi harga dan biaya pengiriman
4. Untuk melindungi/menghindari dari dampak
inflasi dan perubahan dalam bentuk kenaikan
harga-harga
162 -33
162
Manfaat Persediaan
1. Memanfaatkan diskon kuantitas. Diskon kuantitas
diperoleh jika perusahaan membeli dalam kuantitas yang
besar.
2. Menghindari Kekurangan Bahan (Out of stock). Jika
pelanggan datang untuk membeli barang dagangan,
kemudian perusahaan tidak mempunyai barang
tersebut, maka perusahaan kehilangan kesempatan
untuk memperoleh keuntungan.
3. Manfaat pemasaran. Jika perusahaan mempunyai
persediaan barang dagangan yang lengkap, maka
pelanggan atau calon pelanggan akan terkesan dengan
kelengkapan barang dagangan yang kita tawarkan.
4. Spekulasi;
163 -33
163
biaya-biaya yang berkaitan dengan persediaan
164 -33
164
Sistem Pengendalian Persediaan
Metode ABC
Metode ini menggolongkan persediaan berdasarkan
nilai dan kuantitas. Dengan bagan semacam itu,
manajer keuangan bisa memfokuskan pada item yang
paling membutuhkan pengendalian persediaan
165
165
ABC Analysis
Membagi persediaan ke dalam tiga
kelompok berdasarkan annual dollar
volume
Class A - high annual dollar volume (jumlah nilai uang per
tahunnya tinggi, persediaan semacam ini mungkin mewakili
hanya sekitar 15% dari persediaan total tetapi mewakili 70%
- 80% dari total biaya persediaan)
Class B - medium annual dollar volume (persediaan
semacam ini mungkin mewakili hanya sekitar 30% dari
keseluruhan persediaan total dan 15% - 25% dari total biaya
persediaan)
Class C - low annual dollar volume (mewakili hanya 5% dari
keseluruhan volume tahunan tetapi sekitar 55% dari
keseluruhan persediaan)
166
166
ABC Analysis
Digunakan untuk bagaimana memfokuskan
sumberdaya pada bagian persediaan penting yang
sedikit dan bukan pada bagian persediaan yang
banyak namun sepele
167
167
ABC Analysis
Percent of Percent of
Item Number of Annual Annual Annual
Stock Items Volume Unit Dollar Dollar
Number Stocked (units) x Cost = Volume Volume Class
168
168
ABC Analysis
Percent of Percent of
Item Number of Annual Annual Annual
Stock Items Volume Unit Dollar Dollar
Number Stocked (units) x Cost = Volume Volume Class
#12572 600 $ 14.17 $ 8,502 3.7% C
169
169
ABC Analysis
Percent of annual dollar usage
A Items
80 –
70 –
60 –
50 –
40 –
30 –
20 – B Items
10 – C Items
0 – | | | | | | | | | |
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
170
ABC Analysis
171
ABC Analysis
172
Keakuratan Catatan Persediaan
Keakuratan catatan mengenai persediaan ini
penting dalam sistem produksi dan persediaan
Memungkinkan organisasi untuk memfokuskan
pada persediaan yang dibutuhkan
Dibutuhkan untuk membuat keputusan yang
tepat mengenai pemesanan, penjadwalan dan
pengangkutan
Pencatatan pemasukan dan pengeluaran harus
baik
Ruang persediaan harus aman
173
173
Pengendalian Persediaan dalam Industri Jasa
174
174
Holding, Ordering, and Setup Costs
175
Holding Costs
Cost (and Range)
as a Percent of
Category Inventory Value
Housing costs (sewa bangunan atau 6% (3 - 10%)
depresiasi, biaya operasi, pajak, asuransi)
Material handling costs (sewa peralatan 3% (1 - 3.5%)
atau depresiasi, listrik, biaya operasi)
Biaya tenaga kerja 3% (3 - 5%)
Investment costs (biaya pinjaman, pajak, 11% (6 - 24%)
dan asuransi persediaan)
Pencurian, tergores, and kelalaian 3% (2 - 5%)
Biaya keseluruhan penangan bahan 26%
176
176
Model Persediaan untuk Permintaan Independen
177
177
Basic EOQ Model
178
178
Penggunaan persediaan dari waktu ke waktu
quantity = on hand
Q
Q
(maximum
inventory 2
level)
Minimum
inventory
Time
179
179
Meminimalkan Biaya
Tujuan untuk meminimalkan biaya
total
Curve for total
cost of holding
and setup
Minimum
total cost
Annual cost
Holding cost
curve
Setup (or
order) cost
curve
Optimal Order quantity
order
quantity 180
180
D
Annual setup cost = S
The EOQ Model Q
= D (S)
Q
181
181
D
Annual setup cost = S
Q
The EOQ Model Annual holding cost =
Q
2
H
Order quantity
= (Holding cost per unit per year)
2
= Q (H)
2
182
182
The EOQ Model
Q = Number of pieces per order
Q* = Optimal number of pieces per order (EOQ)
D = Annual demand in units for the Inventory item
S = Setup or ordering cost for each order
H = Holding or carrying cost per unit per year
D Q
S = H Annual setup cost = DS
Q 2
Q
Solving for Q* 2DS = Q2H Q
Annual holding cost = H
2
Q2 = 2DS/H
Q* = 2DS/H
183
183
Contoh EOQ
2DS
Q* =
H
2(1,000)(10)
Q* = = 40,000 = 200 units
0.50
Jumlah unit yang dipesan paling optimal adalah 200
unit 184
184
An EOQ Example
Expected Demand D
number of =N= =
orders Order quantity Q*
1,000
N = 200 = 5 orders per year
185
185
An EOQ Example
Number of working
Expected time days per year
between orders = T =
N
250
T= = 50 days between orders
5
186
186
An EOQ Example
TC = DS/Q + H.Q/2
187
187
An EOQ Example
• Sebuah apotek mendapatkan penawaran pembelian
obat dari detailer dengan berbagai variasi harga
sebagai berikut:
kuantitas harga
1 – 49 paket $1400
50-89 paket $1100
> 90 paket $900
188
188
• Hitung EOQ.
2DS
Q* =
H
2x200x2500
Q* =
190
Q = 72,5 unit
189
189
• HITUNG BIAYA TOTAL
– Untuk pembelian 72,5 paket, harga $1100
– TC = DS/Q + H.Q/2 + PD
– TC= (200x2500)/72,5 +190(72,5/2) +(1100x200)
– TC = $ 233,784
• BANDINGKAN DGN KUANTITAS YG LEBIH TINGGI
– TC = DS/Q + H.Q/2 + PD
– TC= (200x2500)/90 +190(90/2) +(900x200)
– TC = $ 194,105
190
190
Reorder Points
191
191
Reorder Point Curve
Inventory level (units)
Q*
Slope = units/day = d
ROP
(units)
Time (days)
Figure 12.5 Lead time = L
192
192
Reorder Point Example
Demand = 8,000 DVDs per year
250 working day year
Lead time for orders is 3 working days
D
d=
Number of working days in a year
= 8,000/250 = 32 units
ROP = d x L
193
193
194
Definisi Penjadwalan
195
Jenis Penjadwalan Operasi
196
[Link] (Pengurutan pekerjaan)
197
Aturan Prioritas
198
Aturan prioritas yang terkenal adalah:
1. First Come, First Served (FCFS)
2. Shortest Processing Time (SPT)
3. Longest Processing Time (LPT)
4. Earliest Due Date (EDD)
5. Critical Ratio (CR-Rasio Kritis)
199
2. Shortest Processing Time (SPT)
(waktu pemrosesan terpendek)
Pekerjaan yang memiliki waktu pemrosesan terpendek
diselesaikan terlebih dahulu
200
Kriteria Penjadwalan
Kriteria penjadwalan dilihat dari hal-hal berikut:
1. Minimasi waktu penyelesaian
Kriteria ini dievaluasi dengan menentukan waktu penyelesaian
rata-rata untuk setiap pekerjaan.
2. Maksimasi utilisasi
Kriteria ini dievaluasi dengan menghitung presentase waktu
digunakannya fasilitas.
3. Minimasi persediaan barang setengah jadi (work-in-process/WIP)
Kriteria ini dievaluasi dengan menentukan jumlah pekerjaan rata-rata
dalam sistem tersebut. Lebih sedikit pekerjaan dalam sistem, maka
lebih rendah persediaan.
4. Minimasi waktu tunggu pelanggan.
Kriteria ini dievaluasi dengan menentukan jumlah keterlambatan rata2.
201
Evaluasi
Contoh di bawah membandingkan keempat aturan di atas.
Lima pekerjaan yang berkaitan dengan tugas arsitektur menunggu untuk
ditugaskan pada Ajax, Tarneyand & Banes Architects. Waktu pengerjaan
(pemrosesan) mereka dan batas waktunya diberikan dalam tabel berikut.
Urutan pengerjaan sesuai dengan aturan FCFS, SPT, LPT, EDD akan diterapkan
Pekerjaan ditandai dengan huruf sesuai dengan urutan kedatangannya.
202
Penyelesaian
1. Urutan FCFS diperlihatkan dalam tabel berikut, yaitu A-B-C-D-E.
Aliran waktu dalam sistem untuk urutan ini menghitung waktu yang
Dihabiskan oleh setiap pekerjaan untuk menunggu ditambah dengan
waktu pengerjaannya.
203
Aturan FCFS menghasilkan ukuran efektivitas sebagai berikut:
204
2. Aturan SPT yang diperlihatkan dalam tabel berikut, menghasilkan
urutan B-D-A-C-E.
Urutan dibuat berdasarkan waktu pemrosesan, dengan prioritas
tertinggi diberikan kepada pekerjaan yang paling pendek.
Urutan Waktu Aliran Batas Waktu Keterlambatan
Pekerjaan pemrosesan Waktu Pekerjaan
B 2 2 8 0
D 3 5 15 0
A 6 11 8 3
C 8 19 18 1
E 9 28 23 5
Jumlah 28 65 9
205
Aturan SPT menghasilkan ukuran efektivitas sebagai berikut:
206
3. Aturan LPT yang diperlihatkan dalam tabel berikut, menghasilkan
urutan E-C-A-D-B.
Urutan dibuat berdasarkan waktu pemrosesan, dengan prioritas
tertinggi diberikan kepada pekerjaan yang paling panjang.
Urutan Waktu Aliran Batas Waktu Keterlambatan
Pekerjaan pemrosesan Waktu Pekerjaan
E 9 9 23 0
C 8 17 18 0
A 6 23 8 15
D 3 26 15 11
B 2 28 6 22
Jumlah 28 103 48
207
Aturan LPT menghasilkan ukuran efektivitas sebagai berikut:
208
4. Aturan EDD yang diperlihatkan dalam tabel berikut, menghasilkan
urutan B-A-D-C-E
Urutan dibuat berdasarkan waktu pemrosesan, dengan prioritas
tertinggi diberikan kepada pekerjaan dengan batas waktu paling.
209
Aturan LPT menghasilkan ukuran efektivitas sebagai berikut:
210
Rangkuman Hasil
Hasil dari keempat aturan ini diringkas dalam tabel berikut :
211
Rangkuman Evaluasi
LPT merupakan urutan yang paling tidak efektif. SPT unggul dalam
tiga pengukuran, sementara EDD kalah dalam keterlambatan rata-rata.
Hal ini merupakan kenyataan yang sesungguhnya dalam dunia nyata.
Tidak ada satu aturan pengurutan pun yang selalu unggul dalam semua
kriteria.
Pengalaman menunjukkan hal berikut:
212
3. EDD meminimasi keterlambatan maksimal, yang mungkin perlu untuk
pekerjaan yang memiliki penalti setelah tanggal tertentu. EDD bekerja
baik ketika keterlambatan menjadi sebuah isu.
213
Rasio Kritis
214
Rumus Rasio Kritis adalah :
Contoh:
Hari ini adalah hari ke-25 pada jadwal produksi Zyco Medical
Testing Laboratories. Tiga pekerjaan berada dalam urutan
sebagai berikut :
215
.
PEKERJAA BATAS WAKTU WAKTU UTK. PEKERJ. SISA
N
A 30 4
B 28 5
C 27 2
216