MAKALAH F&B MARKETING
(MARKETING MIX 7P)
Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah F&B Marketing
Disusun oleh:
DINI PRILA ARDHIANA (2162202014)
CS.A
SEMESTER 6
AKADEMI PARIWISATA INDONESIA
JL. Pahlawan Revolusi, Gg. Achmad R, Pondok Bambu, Jakarta Timur
Telp. (021) 8617552, (021) 8617965 Fax. (021) 86017711
TAHUN 2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya baik perusahaan yang bergerak
dalam bidang jasa maupun barang mempunyai tujuan yang sama yaitu memperoleh
keuntungan. Selain itu perusahaan juga ingin memberikan kepuasan kepada
konsumen atas produk yang yang dihasilkannya, karena kepuasan konsumen menjadi
tolak ukur dari keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan produk yang
berkualitas, dan yang diinginkan oleh konsumen. Dalam mencapai strategi pemasaran
yang tepat dan terbaik untuk diterapkan, salah satunya perusahaan dapat melihat dari
faktor bauran pemasaran. Hal tersebut penting karena bauran pemasaran merupakan
salah satu pokok pertimbangan konsumen dalam melakukan keputusan pembelian
suatu produk. Jika perusahaan tidak peka terhadap apa yang dibutuhkan oleh
konsumen, maka dapat dipastikan bahwa perusahaan akan kehilangan banyak
kesempatan untuk menjaring konsumen dan produk yang ditawarkan akan sia-sia.
Pemasaran merupakan salah satu ilmu ekonomi yang telah lama berkembang,
dan sampai pada saat sekarang ini pemasaran sangat mempengaruhi keberhasilan
suatu perusahaan untuk bisa bertahan di dalam pangsa pasar. oleh karena itu
diperlukan strategi pemasaran yang dapat memberikan pengaruh untuk menentukan
berhasil atau tidaknya dalam memasarkan produknya. Apabila strategi pemasaran
yang dilaksanakan perusahaan tersebut mampu memasarkan produknya dengan baik,
hal ini akan berpengaruh terhadap tujuan perusahaan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. PEMASARAN
A. Pengertian Pemasaran.
Pemasaran adalah suatu proses sosial manajerial di mana individu
dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan
menciptakan, menawarkan dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama
lain. Definisi ini berdasarkan pada konsep inti, yaitu : kebutuhan,
keinginan dan permintaan; pasar, pemasaran dan pemasar.
Tujuan Pemasaran adalah mengenal dan memahami pelanggan
sedemikian rupa sehingga produk yang di jual akan cocok sesuai dengan
keinginan pelanggan,sehingga produk tersebut dapat terjual dengan
sendirinya. Idealnya pemasaran menyebabkan pelanggan siap membeli
sehingga yang harus di fikirkan selanjutnya adalah bagaimana membuat
produk tersebut tersedia.
B. Pengertian pemasaran oleh beberapa ahli
Pengertian pemasaran oleh beberapa ahli diartikan menjadi :
1. William J Stanton, menyatakan bahwa:
Pemasaran adalah keseluruhan intern yang berhubungan dengan
kegiatan-kegiatan usaha yang bertujuan untuk merencanakan,
menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan
jasa yang akan memuaskan kebutuhan pembeli baik pembeli yang ada
maupun pembeli yang potensial.
2. Philip dan Duncan.
Pemasaran meliputi semua langkah yang digunakan atau diperlukan
untuk menempatkan barang-barang berwujud kepada konsumen.
3. American Marketing Association.
Pemasaran meliputi pelaksanaan kegiatan usaha niaga yang diarahkan
pada arus aliran barang dan jasa dari produsen kepada konsumen.
C. Fungsi utama mengapa kegiatan pemasaran
Fungsi utama mengapa kegiatan pemasaran dilakukan :
1. Untuk memberikan informasi tentang produk yang dijual perusahaan.
2. Untuk mempengaruhi keputusan membeli konsumen.
3. Untuk menciptakan nilai ekonomis suatu barang.
D. Kegiatan Utama pemasaran
Kegiatan utama pemasaran atau juga disebut marketing mix adalah
suatu perangkat perusahaan yang terdiri dari 4 variable yaitu produk,
struktur harga, kegiatan promosi dan saluran distribusi dengan tujuan
untuk menentukan tingkat keberhasilan pemasaran perusahaan yang bisa
memberikan kepuasan dalam pemenuhan kebutuhan konsumen yang
dipilih atau segmen pasar yang di harapkan.
2.2. BAURAN PEMASARAN ( MARKETING MIX )
A. Pengertian Bauran Pemasaran ( Marketing Mix)
Philip Kotler dan Geri Amstrong (2001 : 23) tentang bauran
pemasaran adalah: saluran pemasaran dapat dipandangan sebagai sistem
penyerahan nilai pelanggan dimana masing-masing anggota saluran
menambah nilai bagi pelanggan. Oleh karena itu mendesain saluran
distribusi dengan menemukan nilai apa yang diinginkan oleh berbagai
segmen sasaran dari saluran distribusi. Salah satu strategi utama dalam
menentukan keberhasilan mencapai tujuan kegiatan pemasaran
perusahaan adalah penentuan marketing mixnya. Penentuan ini secara
lansung berhubungan dengan langkah operasi perusahaan didalam
pelaksanaan kegiatan berhubungan dengan langkah operasi. Sehingga
apabila marketing mix yang ditetapkan perusahaan tersebut akan
mengalami kegagalan dalam nencapai tujuan operasinya.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan dikemukakan beberapa
pengertian marketing mix. Dalam Marketing Mix, ada unsur-unsur atau
elemen yang menjadi dasar pertimbangan pengambilan keputusan dalam
pembuatan strategi komunikasi pemasaran, yaitu 4P ditambah 3P :
1. Product (Produk)
2. Price (Harga)
3. Place (Tempat)
4. Promotion (Promosi)
5. People (Orang)
6. Process (Proses)
7. Physical evidence (Tampilan fisik)
B. Komponen Bauran Pemasaran ( Marketing Mix )
Kotler ( 2000 ) mendefinisikan bahwa “bauran pemasaran adalah
kelompok kiat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai
sasaran pemasarannya dalam pasar sasaran”. Sedangkan Jerome Mc
Carthy dalam Fandy Tjipto ( 2004 ) mermuskan bauran pemasaran
menjadi 4P (Product, Price, Place dan Promotion).
1. Product ( Produk )
Produk secara singkat menurut Philip Kotler “Dasar-dasar
Pemasaran” (1989:89) dapat didefinisikan sebagai berikut:
“Produk adalah apa yang dapat ditawarkan didalam pasar untuk
dipertahankan, dimiliki, digunakan atau dikonsumsi sehingga dapat
memuaskan keinginan atau kebutuhan termasuk didalamnya adalah
objek fisik, jasa, orang, tempat organisasi dan gagasan.”
Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud produk
adalah suatu yang berwujud maupun sesuatu yang tidak berwujud
yang lazim disebut jasa. Dari definisi diatas terkandung tiga makna
yang perlu dibedakan:
1. Produk ini yang merupakan manfaat yang dicari oleh pembeli.
2. Produk formal yaitu obyek fisik yang ditawarkan seperti :
kemasan, merek, mutu
3. Produk yang disempurnakan yaitu mencakup keseluruhan manfaat
yang diberikan oleh produk formal.
Dari ketiga makna produk, menumbulkan gagasan bagi
pemasar selalu mempertimbangkan konsumsi konsumen yaitu
bagaimana cara seseorang membeli, bukan semata-mata dipengaruhi
oleh manfaat yang dicari, melainkan dipengaruhi oleh faktor –faktor
lain yang menyertai barang yang bersangkutan. Maka dari itu produk
digolongkan menjadi:
1. Penggolongan menurut tujuan pemakainya
a. Barang konsumsi
Barang konsumsi yaitu barang-barang yang dibeli untuk
dikonsumsikan, jadi barang ini untuk dikonsumsikan sendiri
dan tidak digunakan untuk proses produksi. Barang konsumsi
dapat dibedakan menjadi:
Barang konvenien, yaitu barang yang mudah dipakai
pembeliannya dapat disembarang tempat dan pada setiap
waktu.
Barang shopping, adalah barang yang harus dibeli dengan
mencari terlebih dahulu dan didalam pembeliannya harus
dipertimbangkan secara matang.
Barang special adalah barang yang mempunyai ciri khas
dan hanya dapat dibeli ditempat tertentu saja, untuk
memperolehnya konsumen harus mengeluarkan
pengorbanan yang sangat besar.
b. Barang industri
Adalah yang dibeli untuk menghasilkan barang lain atau untuk
menyelenggarakan suatu usaha.
2. Penggolongan menurut tingkat konsumsi dan konkret
tidaknya suatu barang.
a. Barang tahan lama
Adalah barang konkret yang dapat digunakan dalam jangka
waktu tertentu.
b. Barang tidak tahan lama
Adalah barang konkret yang habis dikonsumsikan setelah
digunakan sekali atau beberapa kali.
c. Jasa
Adalah kegiatan, kegunaan atau kepuasan yang dijual.
Berdasarkan uraian diatas maka produk yang dihasilkan home
industri adalah barang konsumsi.
2. Price ( Harga )
Dalam penetapan harga jual, perusahaan harus memperhatikan
berbagai pihak antara lain para konsumen akhir, para penyalur,
saingan, para suplier, bahan, dana, tenaga kerja dan para manager
perusahaan yang bersangkutan. Segala keputusan yang berhubungan
dengan harga akan sangat mempengaruhi beberapa aspek kegiatan
perusahaan, baik menyangkut kegiatan penjualan maupun aspek
keuntungan yang mau dicapai oleh perusahaan. Dengan demikian
semua keputusan yang berkaitan dengan harga hendaknya harus
dipertimbangkan secara sungguh-sungguh dan mendalam serta
memperhatikan aspek intern dan ekstern perusahaan.
Marius P Angipora (1998 : 186) mendefinisikan kebijakan harga
sebagai berikut:
“Tuntutan atau pedoman managerial yang akan diperlukan untuk
membuat keputusan-keputusan dimasa yang akan datang bila mana
situasi menuntutnya.”
Dengan deikian sebuah kebijakan dapat menjadi suatu tindakan
konkrit yang secara rutin diikuti bila mana sebuah situasi taktis atau
strategis tertentu menuntutnya. Apabila produk dipresepsikan
berkualitas tinggi dan manfaatnya dianggap banyak, maka harga akan
dinilai murah. Tetapi apabila presepsi konsumen terhadap kualitas
rendah dan manfaatnya dianggap kurang, maka harga umumnya
dianggap mahal, dengan dasar pemikiran yang demikian. Harga bisa
juga didefinisikan suatu takaran perbandingan antara pengorbanan
dan manfaat dalam pikiran (asumsi konsumen). Untuk mencapai
keunggulan dalam harga, menurut Michael Treacy, diperlukan
keunggulan operasional (operational exelence) dengan keunggulan
operasional akan memberikan perpaduan kualitas, harga dan
kemudahan dalam membeli (Michael Treacy & Fred Wiessema, Op
Cit 22)
Dengan keunggulan dalam pelaksanaan operasi perusahaan,
maka perushaan akan dapat menekan biaya produksi. Dengan
demikian harga jual dapat ditekan lebih rendah lagi. Namun presepsi
konsumen tidak secara mutlak mampu membuat konsumen
mengabaikan harga. Sebab konsumen pada umumnya memiliki suatu
acuan dalam menilai harga. Acuan atau dasar yang sering dijadikan
konsumen dalam menilai harga adalah:
a. Harga produk lain.
b. Perubahan waktu pembelian
c. Lingkungan pembelian
Selain hal penetapkan harga diatas , Perusahaan juga dapat
menggunakan cara dengan melakukan pendekatan penetapan harga
secara umum yang meliputi satu atau lebih diantara tiga perangkat
perimbangan berikut ini yakni:
1. Cost-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan biaya)
a. Cost-Plus-Pricing (Penetapan harga biaya plus)
Metode ini merupakan metode penelitian harga yang paling
sederhana, dimana metode ini menambah standar mark-up
terhadap biaya produk.
b. Break Even Analysis and Target Profit Pricing (Analisis
peluang pokok dan penetapan harga laba sasaran).
Suatu metode yang digunakan perusahaan untuk menetapkan
harga apakah akan break even atau membuat target laba yang
akan dicari.
2. Value-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan nilai)
Metode ini menggunakan satu persepsi nilai dari pembeli (bukan
dari biaya penjualan) untuk menetapkan suatu harga.
3. Competition-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan
persaingan)
a. Going-rate Pricing (Penetapan harga berdasarkan harga
yang berlaku)
Perusahaan mendasarkan harganya pada harga pesaing dan
kurang memperhatikan biaya dan permintaannya. Perusahaan
dapat mengenakan harga yang sama, lebih tinggi atau lebih
rendah dan pesaing utamanya.
b. Scaled-Bid Pricing (Penetapan harga penawaran tertutup)
Perusahaan menetapkan pesaing dan bukan berdasarkan
hubungan yang kaku atas biaya atau permintaan perusahaan.
3. Place ( Tempat Distribusi )
Setelah barang selesai dibuat dan siap untuk dipasarkan, tahap
berikutnya dalam proses pemasaran adalah menentukan metode dan rute
yang akan dipakai untuk menyalurkan barang tersebut kepasar. Hal ini
menyangkut strategi penyaluran dan termasuk didalam pemiilihan
penyaluran distribusi.
Secara singkat saluran distribusi menurut Drs. Basu Swasta (1990)
tersebut dapat didefinisikan sebagai saluran distribusi untuk suatu barang
adalah:
“Saluran yang digunakan oleh produsen untuk menyalurkan barang tersebut
dari produsen sampai ke konsumen atau pemakai industri”
Willian J. Stanto (1986 : 81) membagi gambaran umum mengenai saluran
distribusi yang paling banyak digunakan untuk barang hasil produksi buat
konsumen atau pemakai industri antara lain:
a. Distribusi barang-barang konsumen
1. Produsen => Konsumen
Merupakan saluran distribusi paling pendek dan sederhana untuk arang
konsumen tanpa campur tangan perantara
2. Produsen => Pengecer => Konsumen
Dalam saluran distribusi ini, perusahaan pengecer besar membeli
lansung dari produsen industri
3. Produsen => Pedagang besar => Pengecer => Konsumen
Disebut juga saluran tradisional karna beribu-ribu pengecer kecil dan
produsen industri kecil menganggap saluran ini sebagai saluran paling
ekonomis.
4. Produsen => Agen => Pengecer => Konsumen
Dari pada menggunakan pedagang pasar, produsen banyak
menggunakan agen, makelar atau agen perantara lain untuk mencapai
pasar eceran, khususnya perusahaan besar pengecer
5. Produsen => Agen => Pedagang besar => Pengecer => Konsumen
Untuk dapat mencapai pengeceran kecil, produsen juga menggunakan
perantara yang menghubungi pasar besar yang menjual kepada
pengecer kecil.
b. Distribusi barang industri
i. Produsen => Pemakai Industri
Hubungan lansung ini menyalurkan produksi industri dengan nilai
dolar lebih besar dibandingkan dengan saluran distribusi lain
ii. Produsen => Distributor Industri => Pemakai
Produsen peralatan assesoris kecil kerap kali memasuki pasaran
mereka
iii. Produsen => Agen => Pemakai
Perusahaan yang hendak memasarkan produk baru atau hendak
memasuki pasaran baru lebih suka menggunakan agen dari pada
tenaga penjual
iv. Produsen => Agen => Distributor Industri => Pemakai
Cara ini dipakai dalam keadan produsen tidak menjual maupun
menjual lewat agen lansung kepada pemakai industri.
4. Promotion ( Promosi )
Luas ruang lingkup kegiatan promosi dipengaruhi oleh macam-macam
kegiatan yang dipergunakan. Dan kegiatan promosi dari perusahaan saingan
merupakan faktor lain yang perlu dipertimbangkan oleh perusahaan dalam
memasarkan produknya.
Promosi menurut Basu Swaswa Dh Op. Cit (273) adalah:
“Arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan
seseorang atau organisai kepada tindakan untuk menciptakan pertukaran
dalam pemasaran.”
Philip Kotler “Manajemen Pemasaran Analisis” (1983 : 177) membagi
kegiatan promosi kedalam beberapa element, antara lain:
a. Periklanan
Yaitu setiap penyajian yang bukan dengan orang pribadi dan promosi,
ide-ide, barang atau jasa dengan pembayaran oleh suatu sponsor tertentu.
Adapun fungsi-fungsi periklanan adalah sebagai berikut:
Memberikan informasi.
Membujuk atau mempengaruhi
Menciptakan kesan (image)
Memuaskan keinginan
b. Penjualan pribadi (personal selling)
Yaitu penyajian yang secara lisan dalam percakapan bersama calon
pembeli dengan tujuan melaksanakan jual beli.
Fungsi dari tenaga penjualan adalah:
Mengadakan analisa pasar
Menentukan komunikasi
Memajukan langganan
Memperhatikan langganan
Mengatasi masalah
Mengatur waktu
Mengalokasi sumber-sumber
Meningkatkan kemampuan diri
c. Promosi dagang
Yaitu ransangan (stimulation) jangka pendek untuk mendorong jual beli
suatu barang atau jasa.
Pembelian contoh (product sampling)
Kupon atau nota
Hadiah
Kupon berhadiah
d. Publisitas
Yaitu penggairahan bukan bribadi untuk meransang permintaan terhadap
suatu barang atau jasa, atau suatu unit niaga dengan menanam berita
dengan sifat komersil dalam suatu media penerbitan atau untuk
memperoleh penyajian baik dalam siaran radio, TV, atau dipentas tanpa
lansung dibayar oleh seorang sponsor.
Sofyan Assauri memandang tentang sifat - sifat yang terdapat pada
publisitas dalam buku “Manajemen Pemasaran Dasar, Konsep dan
Strategi (260) adalah :
1. Tingkat kebenaran atau kepercayaan yang tinggi
Pemberian publisitasyang diberikan pada masyarakat dianggap sebagai
suatu yang benar atau lebih dipercaya daripada bila berita tersebut
dikeluarkan dengan sponsor daripenjualan sebagai bertanya tidak
memihak.
2. Mendramatisir
Seperti advantasi, publisitas juga mempunyai kemampuan untuk
menggambar produk atau jasa perusahaan dalam bentuk cerita yang
jelas. Oleh karena itu perusahaan harus dapat berusaha mempengaruhi
para konsumen untuk dapat menciptakan permintaan atau produknya,
yang merupakan salah satu bauran pemasaran secara keseluruhan dan
dikendalikan dengan baik akan dapat meningkatkan penjualan dan
market share.
Tambahan elemen pada bauran pemasaran menurut Zeithaml and
Bitner yang di kutip oleh Ratih Hurriyati ( 2008:62 ).
5. People ( Orang )
Menurut Boom dan Bitner dalam Effendi ( 2010:349 ), menerangkan bahwa
people berarti “orang yang melayani ataupun yang merencanakan pelayanan
terhadap para konsumen”. Karena sebagian besar jasa dilayani oleh orang,
maka orang tersebut perlu diseleksi, dilatih, dimotivasi, sehingga
memberikan kepuasan terhadap konsumen dengan sikap perhatian, responsif,
inisiatif, kreatif, pandai memecahkan masalah, sabar dan ikhlas.
Dengan pelayanan yang baik, maka konsumen akan merasa terlayani dengan
baik dan besar kemungkinan konsumen tersebut akan kembali lagi membeli
produk kita. Orang adalah semua pelaku yang memainkan peranan dalam
penyajian jasa sehingga dapat mempengaruhi persepsi pembeli.
6. Physical Evidence (Sarana Fisik)
Menurut Boom dan Bitner Dalam Effendi ( 2010:349 ), menjelaskan
bahwaphysical evidence “merupakan bentuk fisik, berarti konsumen akan
melihat keadaan nyata dan benda-benda yang menghasilkan jasa tersebut”.
Sarana fisik ini merupakan satu hal yang secara nyata turut
mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli dan menggunakan
produk yang ditawarkan, unsur-unsur yang termasuk dalam sarana fisik
antara lain : lingkungan fisik, dalam hal ini bangunan fisik, peralatan,
perlengkapan, logo, warna dan barang-barang lainnya, yang disatukan
dengan servis yang diberikan.
Dengan kata lain, sarana fisik ( Physical Evidence ) yang menarik
atau unik menjadi daya tarik konsumen dalam membeli suatu produk.
Misalnya ketupat dipakai untuk dekorasi saat menyambut bulan Ramadhan
atau pohon cemara dipakai untuk dekorasi saat menyambut Natal.
7. Proses ( Process )
Menurut Boom dan Bitner dalam Effendi ( 2010:349 ), menjelaskan
bahwa “proses ini terjadi diluar pandangan konsumen, konsumen tidak
mengetahui bagaimana proses yang terjadi, yang penting jasa yang dia
terima harus memuaskan”. Proses ini terjadi berkat dukungan karyawan dan
tim manajemen yang mengatur semua proses agar berjalan dengan lancar.
Misalnya proses pemberian jasa yang dilakukan oleh bank berupa jasa
transfer, administrasi dan lain-lain.
Loveloct dan Wright ( 2002:13-15 ) mengembangkan bauran
pemasaran (marketing mix) menjadi integrated service manajemen dengan
menggunakan pendekatan “8P”, yaitu “Product elemen, Place, cyberspace
and time, Promotion and Education, Price and other user outlays, Process,
Productifity and quality, People, and Physical evidence. Dan dari variabel
tersebut dapat dijabarkan :
a. Product element adalah semua komponen dari kinerja layanan yang
menciptakan nilai bagi pelanggan.
b. Place, cyberspace, and time adalah keputusan manajemen mengenai
kapan, dimana dan bagaimana menyajikan layanan yang baik bagi
pelanggan.
c. Promotion and education adalah semua aktifitas komunikasi dan
perancangan insentif untuk membangun persepsi pelanggan yang
dikehendaki perusahaan atas layanan spesifik yang perusahaan berikan.
d. Price and user other outlays adalah pengeluaran uang, waktu dan usaha
yang pelanggan korbankan dalam membeli dan mengkonsumsi produk
dan layanan yang perusahaan tawarkan atau sajikan.
e. Process adalah suatu metode pengoperasian atau serangkaian tindakan
yang diperlukan untuk menyajikan produk dan layanan yang baik
kepada pelanggan.
f. Productifity and quality, productifity adalah sejauh mana efisiensi
masukan-masukan kedalam hasil-hasil layanan yang dapat menambah
nilai bagi pelanggan, sedangkan quality adalah derajat suatu layanan
yang dapat memuaskan pelanggan karena dapat memenuhi kebutuhan,
keinginan, dan harapan.
g. People adalah pelanggan dan karyawan yang terlibat dalam kegiatan
memproduksi produk dan layanan ( Sevice production ).
h. Physical evidence adalah perangkat-perangkat yang diperlukan dalam
menyajikan secara nyata kualitas produk dan layanan.
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Dari pengertian-pengertian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa pada prinsipnya marketing mix bertujuan untuk mempengaruhi
pasar, konsumen, dan permintaan dan juga merebut pembeli sasaran
dalam suatu persaingan melalui 7P.
3.2. SARAN