0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan45 halaman

Pengaruh TGT dan TTS pada Belajar Biologi

Proposal ini membahas pengaruh metode pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan media teka-teki silang terhadap hasil belajar biologi materi sistem gerak pada manusia pada siswa kelas XI SMAN 9 Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui metode pembelajaran kooperatif dan media pembelajaran yang menarik.

Diunggah oleh

Reskii Amalia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan45 halaman

Pengaruh TGT dan TTS pada Belajar Biologi

Proposal ini membahas pengaruh metode pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan media teka-teki silang terhadap hasil belajar biologi materi sistem gerak pada manusia pada siswa kelas XI SMAN 9 Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui metode pembelajaran kooperatif dan media pembelajaran yang menarik.

Diunggah oleh

Reskii Amalia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN TEAMS GAMES

TOURNAMENT (TGT) DENGAN MEDIA TEKA-TEKI SILANG (TTS)


TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI MATERI SISTEM GERAK
PADA MANUSIA PADA SISWA KELAS XI SMAN 9 MAKASSAR

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat untuk melakukan penelitian

Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan

Universitas Muhammadiyah Makassar

OLEH

Umrah
105440008815

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2019
i
i
i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala rahma dan

hidayahnya sehingga proses penulisan Proposal Penelitian yang berjudul

“Pengaruh Metode Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Dengan

Media Teka-Teki Silang (TTS) Terhadap Hasil Belajar Biologi Materi Sistem

Gerak pada Manusia Pada Siswa Kelas X SMAN 9 Makassar” dapat

diselesaikan tepat pada waktunya.

Penulis sadar bahwa apa yang telah penulis peroleh tidak semata-mata

hasil dari jerih payah penulis sendiri tetapi hasil dari keterlibatan semua pihak.

Oleh sebab itu, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada:

1. Orang tua, Ayah dan Ibu yang dengan sabar telah mendidik dan membiayai

sejak kecil sampai sekarang.

2. [Link].,[Link] selaku Ketua Prodi Pendidikan Biologi

3. Hilmi [Link].,[Link] dan Riza Sativani Hayati,[Link].,[Link] selaku

dosen pembimbing yang telah membimbing kami selama penulisan proposal

4. Rekan-rekan satu bimbingan penelitiaan proposal, yang memberikan

masukan dan dorongan selama menyelesaikan proposal penelitian ini.

5. Pihak-pihak yang tidak dapat kami sebutkan, atas bantuan, doa serta

dukungannya yang berhubungan dengan penyusunan proposal penelitian ini.

i
Semoga bantuan dan dukungan yang telah diberikan mendapat pahala

dan hikmah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan proposal

penelitian ini masih banyak kekurangan, karena keterbatasan pengetahuan

dan kemampuan, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari

pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan proposal penelitian ini.

Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.

Makassar, Mei 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i

DAFTAR ISI ...........................................................................................................iii

BAB 1 PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

A. Latar belakang ......................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................... 6

C. Tujuan Penelitian .................................................................................... 6

D. Manfaat Penelitian .................................................................................. 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA ................................................................................... 8

A. Kajian pustaka ......................................................................................... 8

1. Teams Games Tournament (TGT) .................................................... 8

2. Media Teka – Teki Silang ............................................................... 11

3. Materi Sistem Gerak ....................................................................... 14

4. Hasil Belajar .................................................................................... 23

5. Hasil Penelitian yang Relevan ........................................................ 24

B. Kerangka Pikir ...................................................................................... 25

C. Hipotesis Penelitian............................................................................... 27

BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................ 28

A. Rancangan Penelitian ............................................................................ 28

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................ 29

C. Populasi dan Sampel Penelitian ............................................................ 29

D. Definisi Operasional Variabel ............................................................... 30

E. Instrumen Penelitian.............................................................................. 30

iii
F. Teknik Pengumpulan Data .................................................................... 31

G. Teknik Analisis Data ............................................................................. 31

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 34

iv
1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan proses pengembangan daya nalar,

keterampilan, dan molaritas kehidupan dari potensi yang di miliki oleh setiap

manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di tentukan oleh tingkat

pendidikan manusia. Pendidikan dikatakan berhasil jika tercapai peningkatan

kualitas pendidikan. Suatu pendidikan di katakan berkualitas apabila proses

pendidikan berlangsung secara efektif, dan meningkatnya hasil belajar siswa.

Usaha dan keberhasilan belajar siswa di pengaruhi oleh berbagai faktor di

antaranya penggunaan media pembelajaran dan motivasi belajar dari siswa

sendiri.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan

memegang peranan yang sangat penting. Pendidikan merupakan suatu usaha

untuk membantu pengembangan potensi dan kemampuan subjek didik

sehingga bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat pada umumnya.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut adanya

perbaikan pada sistem pendidikan yang termasuk pada penyempurnaan

kurikulum. Salah satu kebijakan Departemen Pendidikan Nasional yang

mengalami perubahan dari kurikulum 1994 yang pada tahun Pendidikan.

Selain perubahan kurikulum, upaya lain yang dilakukan dalam meningkatkan

kualitas pendidikan diantaranya meningkatan kualitas guru, pengadaan sarana

1
2

dan prasarana yang memadai, perbaikan sistem penilaian penataan organisasi

dan manajemen pendidikan, serta memperbaiki proses belajar mengajar.

Rancangan pembelajaran yang mencerminkan kegiatan belajar secara

aktif perlu didukung oleh kemampuan guru memfasilitasi kegiatan belajar

siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Mengaktifkan kegiatan belajar

siswa berarti menuntut kreativitas dan kemampuan guru dalam merancang dan

melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Dalam kegiatan pembelajaran, guru berperan sebagai motivator dan

fasilitator. Peran guru sebagai motivator adalah memberi motivasi kepada

siswa, agar melakukan kegiatan belajar dengan kehendak sendiri tanpa adanya

tekanan atau paksaan., dan sesuai dengan yujuan belajar yang akan di capai.

Sedangkan peran guru sebagai fasilitator adalah memfasilitasi siswa agar

dapat belajar dengan mengembangkan prestasi yang dimiliki siswa. Cara yang

dapat dilakukan oleh guru untuk memfasilitasi siswa antara lain dengan

menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, dan memberikan bimbingan

pada saat kegiatan belajar.

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru biologi di SMAN

9 Makassar hasil belajar siswa dalam pembelajaran biologi rendah karena

minat baca dan antusiasme siswa terhadap pembelajaran biologi rendah.

Pelajaran Biologi cenderung didominasi oleh guru, hal tersebut dikarenakan

guru menggunakan metode pembelajaran konvensional yang mengandalkan

metode ceramah di depan kelas. Metode konvensional yang digunakan pada

saat mengajar hanya menitikberatkan pada kreativitas guru sedangkan siswa

kurang tertarik dengan cara guru menyampaikan materi. Kemampuan


3

akademis (kognitif) dalam kegiatan pembelajaran biologi juga menjadi

penyebab hasil belajar siswa rendah. Banyak siswa yang berangggapan bahwa

pelajaran biologi sebagai pelajaran hafalan karena sering kali guru

menciptakan suasana pembelajaran yang tidak menyenangkan bagi siswa.

Guru banyak bercerita tanpa memperhatikan siswa, apakah sudah paham apa

belum, dan hal yang penting bagi guru adalah materi tersebut sudah

disampaikan kepada siswa.

Proses pembelajaran yang efektif, aktif, kreatif, dan menyenangkan

dapat dilaksanakan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif.

Dalam model pembelajaran ini ditekankan keterlibatan aktif siswa secara

maksimal dalam proses belajar mengajar yaitu dengan cara siswa belajar

memecahkan masalah, mendiskusikan masalah dengan teman-temannya,

mempunyai keberanian menyampaikan ide atau gagasan dan mempunyai

tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Selain itu, model

pembelajaran kooperatif dapat menarik perhatian siswa terhadap

berlangsungnya proses pembelajaran, meningkatkan keterampilan bersosial,

membantu menyesuaikan diri, mengurangi perbedaan etnis dan meningkatkan

rasa percaya diri siswa. Pada pembelajaran kooperatif siswa harus aktif

mencari, menemukan, menyusun dan membentuk pengetahuan sendiri.

Salah satu satu strategi yang dapat meningkatkan kerjasama antar

siswa adalah Cooperatif Learning. Dengan menggunakan model pembelajaran

kooperatif Teams Games Tournament (TGT). Model pembelajaran TGT

adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah

diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan


4

status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur

permainan dan reinforcement.

Penggunaan media juga mempengaruhi aktivitas dan perkembangan

siswa dalam menerima materi pembelajaran yang disampaikan guru. Salah

satu media yang cocok digunakan dalam materi Sistem gerak adalah Teka-

Teki Silang. Peneliti berharap dengan penerapan metode pembelajaran TGT

dengan media TTS pada materi Sistem gerak pada manusia dapat

memperbaiki proses pembelajaran SMAN 9 Makassar sehingga hasil belajar

siswa kelas XI khususnya pelajaran Biologi dapat meningkat dilihat dari

aspek afektif dan aspek kognitifnya.

Menurut Hopkins (Winastawan, 2010) Teams Games Tournament

(TGT) merupakan bentuk pembelajaran kooperatif di mana setelah siswa

belajar secara individual, untuk selanjutnya dalam kelompok masing-masing

anggota kelompok. Mengadakan turnamen atau lomba dengan anggota

kelompok lainnya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Seperti karakteristik

pembelajaraan kooperatif lainnya, TGT memunculkan adanya kelompok dan

kerjasama dalam belajar. Di samping itu, terdapat persaingan antar individu

maupun antar kelompok. Dalam TGT, siswa yang mempunyai kemampuan

dan jenis kelamin yang berbeda dijadikan dalam sebuah tim yang terdiri dari 4

sampai 5 siswa. Sebagai salah satu model pembelajaran kooperatif TGT

sangat mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus

membedakan adanya perbedaan status, melibatkan siswa sebagai tutor sebaya,

dan adanya unsur reinforcement.


5

Media Teka Teki Silang (TTS) merupakan salah satu pendekatan yang

di kemas dalam bentuk permainan yang dapat merangsang daya pikir siswa

dalam kegiatan pembelajaran biologi khususnya dalam mempelajari materi

ekosistem. Menurut Sardiman (2007), sebagai media pembelajaran permainan

mempunyai beberapa kelebihan yaitu permainan merupakan sesuatu yang

menyenangkan untuk di lakukan sehingga dapat menghibur dan menarik.

Media Teka-Teki Silang merupakan sebuah permainan yang cara

mainnya yaitu mengisi ruang-ruang kosong yang berbentuk kotak dengan

huruf-huruf sehingga membentuk sebuah kata yang sesuai dengan petujuk

(Penulis: Nia November 13, 2009 at 12:31). Melalui media ini, siswa diajak

untuk lebih memahami istilah-istilah penting yang ada dalam pembelajaran

biologi, sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih

bermakna. Dengan menggunakan media TTS, guru dapat menghemat waktu

untuk menjelaskaan secara detail bab tertentu yang perlu di jelaskan kembali

secara structural, sehingga siswa juga dapat dengan mudah memahami materi

yang di sampaikan oleh guru karena siswa tidak merasa terbebani dan tidak

bosan dengan pengulangan unit tertentu.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka di buat penelitian yang judul

Pengaruh metode pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan

media teka-teki silang (TTS) terhadap hasil belajar biologi materi Sistem

Gerak pada manusia pada siswa kelas XI SMA Negeri 9 Makassar.


6

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan oleh peneliti, maka

permasalahan yang dapat dirumuskan yaitu adakah pengaruh metode

pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan media Teka-Teki

Silang (TTS) terhadap hasil belajar Biologi materi sistem gerak pada

manusia pada siswa kelas XI SMA Negeri 9 Makassar.

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan peneliti, penelitian

ini memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui adakah pengaruh metode

pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan media teka-teki silang

(TTS) terhadap hasil belajar Biologi materi sistem gerak pada manusia pada

siswa kelas XI SMA Negeri 9 Makassar.

D. Manfaat

a. Manfaat teoritis, diharapkan hasil penelitian ini diharapkan mampu

memperkuat teori yang sudah ada, mengenai model pembelajaran Teams

Games Tournament (TGT) dengan media Teka-Teki Silang (TTS)

berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

b. Manfaat praktis, diharapkan penelitian ini bermanfaat :

1. Bagi siswa, dapat meningkatkan minat belajar siswa.

2. Bagi guru, sebagai bahan masukan guru bahwa kreativitas berpikir dan

minat belajar dalam proses pembelajaran penting di ciptakan guna

mencapai tujuan pendidikan dan juga sebagai evaluasi dan sumber


7

inspirasi para guru sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan

di sekolah.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka

1. Teams Games Tournament

a. Pengertian Teams Games Tournament (TGT)

Pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament

(TGT) adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang

mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada

perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan

mengandung unsur permainan dan reinforcement (Sukardjo,2014).

Menurut Istifar (2016) menyatakan bahwa Teams Games

Tournament (TGT) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif

yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang

beranggotakan 4-5 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis

kelamin, dan suku kata atau ras yang berbeda.

Sedangkan Waluyo (2014), menyatakan bahwa Teams Games

Tournament (TGT) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif,

model ini menggunakan pelajaran yang sama yang disampaikan guru

dan tim kerja yang sama seperti dalam STAD, tetapi menggantikan

kuis dengan turnamen mingguan, dimana siswa memainkan game

akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbang poin dengan

skor timnya.

8
9

Aktivitas belajar dengan model Teams Games Tournament

(TGT) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping

menumbuhkan tanggung jawab, kerja sama, persaingan sehat, dan

keterlibatan belajar. Model pembelajaran Teams Games Tournament

(TGT) dapat memperbaiki sikap siswa dalam pembelajaran

(Sukardjo,2014).

b. Ciri-ciri Model Pembelajaran Tipe Teams Games Tournament

(TGT)

Menurut Robert [Link] dikutip oleh Winastawan (2010: 62-

64), ciri-ciri pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament

(TGT) yaitu:

1) Presentasi Kelas

Pada tahap awal ini, guru menyampaikan materi dalam

presentasi kelas, dan biasanya dilakukan dengan pengajaran

langsung atau ceramah, dan diskusi. Pada saat presentasi kelas ini,

siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi

yang disampaikan guru karena akan membantu siswa bekerja lebih

baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor

game akan menentukan skor kelompok mereka.

2) Kelompok (team)

Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa

yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis

kelamin dan ras atau etnik. Fungsi utama kelompok adalah untuk
10

memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar, dan

lebih khusus lagi adalah untuk mempersiapkan anggotanya untuk

bisa menyelesaikan game dengan baik.

3) Game

Game terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang dirancang

untuk menguji pengetahuan yang diperoleh siswa dari presentasi

kelas oleh guru dan diskusi kelompok. Kebanyakan game terdiri

dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih

kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai

dengan nomor itu. Siswa yang menjawab pertanyaan dengan benar

maka akan mendapatkan skor.

4) Turnamen

Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau

pada akhir unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan

kelompok sudah mengerjakan lembar kegiatan. Turnamen pertama

guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Empat

siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, empat

siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.

5) Team Recognize (Penghargaan Kelompok)

Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang.

Tim akan mendapatkan sertifikat atau penghargaan lain apabila

skor mereka mencapai kriteria tertentu. Skor tim siswa dapat juga

digunakan untuk menentukan dua puluh persen dari peringkat

mereka.
11

c. Prosedur Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)

Adapun prosedur dalam menerapkan model pembelajaran

Teams Games Tournament (TGT) menurut Eveline Siregar (2014:

116) yaitu:

1) Dalam identifikasi masalah, siswa dan guru mencoba mengajukan

masalah atau kasus yang berkaitan dengan materi atau konsep yang

sudah dipelajari dalam pertemuan sebelumnya atau melalui tugas

membaca dirumah.

2) Masalah dipecahkan bersama dalam kelompok.

3) Hasil pemecahan masalah disajikan dalam bentuk turnamen, ada

kompetisi untuk penyajian atau pemecahan masalah yang terbaik.

Guru dan beberapa siswa berperan sebagai penilai atau juri.

4) Untuk mengukur kemampuan siswa dilakukan kuis.

2. Media Teka – Teki Silang

a. pengertian Teka – Teki Silang

Teka - Teki Silang (TTS) merupakan tehnik pembelajaran siswa

yang lebih menarik karena mengandung unsur permainan, hiburan dan

dapat dilakukan secara santai dengan berbagai variasi. Teka-Teki

Silang (TTS) juga dapat mengembangkan intuisi siswa untuk berupaya

memahami lebih banyak kosakata karena adanya unsur tantangan yang

menimbulkan rasa penasaran. Dengan demikian, selain dapat

meningkatakan perbendaharaan kata siswa juga dapat dipahami secara


12

mendalam serta merupakan tehnik mengasah ketajaman berpikir

(Waluyo,2014).

Teka – Teki Silang merupakan sebuah media permainan yang

dimainkan dengan cara mengisi ruang – ruang kosong yang berbentuk

kotak dengan huruf – huruf, sehingga membentuk sebuah kata sesuai

dengan petunjuk yang ada. Dalam kegiatan pembelajaran biologi

media ini di gunakan untuk merangsang siswa berpikir dan mencari

jawaban sesuai dengan pertanyaan yang di berikan (Furwanto,2017).

Darmadi (2018), menyatakan bahwa permainan di butuhkan

dalam proses pembelajaran untuk menciptakan suasana belajar dari

pasif ke aktif, dari kaku menjadi gerak (akrab), dan dari jenuh menjadi

riang (segar). Metode ini di arahkan agar tujuan belajar dapat dicapai

secara efisien dan efektif dalam suasana gembira meskipun membahas

hal – hal yang sulit atau berat.

b. Kelebihan dan Kelemahan Media Teka – Teki Silang

Menurut Anita (2014), kelebihan dan kelemahan teka – teki

silang antara lain:

1) Kelebihan Media Teka – Teki Silang

a) Media Teka – Teki Silang sangat efektif untuk mengulang

pelajaran yang telah diberikan. Dengan demikian dapat

memudahkan siswa untuk mengingat kembali materi yang telah

disampaikan.
13

b) Mudah untuk diajarkan karena sebagian besar masyarakat telah

mengetahui dan pernah memainkan permainan ini.

c) Dapat dibuat dengan mudah dan biayanya relative murah.

d) Melatih ketelitian dan kejelian siswa dalam menjawab

pertanyaan.

e) Mengasah otak siswa untuk berpikir dan memecahkan soal

yang ada dalam permainan.

f) Dapat dimainkan secara individu maupun berkelompok

2) Kelemahan Media Teka – Teki Silang

a) Ada beberapa jawaban yang memiliki hubungan dengan

jawaban lainnya, sehingga apabila siswa tidak dapat menjawab

salah satu soal maka siswa akan merasa bingun karena akan

berpengaruh pada jawaban siswa yang hurufnya masih

berkaitan dengan soal sebelumnya yang tidak dapat dipecahkan

oleh siswa.

b) Perlu ada ketelitian dalam membuat kotak – kotak jawaban

yang akan diisi oleh siswa, karena apabila salah dalam

memberi jumlah kotak maka akan berpengaruh pada jawaban

pada soal-soal selanjutnya.

c) Materi – materi yang bersifat penjelasan atau pemaparan tidak

dapat dimasukan ke dalam media ini, karena ruang-ruangnya

terbatas, hanya untuk istilah – istilah atau singkatan kata.


14

3. Materi Sistem Gerak pada Manusia

a. Struktur rangka

Rangka tubuh manusia dari 206 tulang dengan berbagai bentuk

dan ukuran. Namun tulang-tulang tersebut saling berhubungan

(Diah,2004).

Gambar 2.1 rangka manusia


(sumber : Diah,2004)

Menurut Diah (2004), secara garis besar, rangka manusia

dibagi menjadi dua, yaitu rangka aksial (sumbu tubuh) dan rangka

apendikuler (anggota tubuh).

1) Rangka Aksial

Rangka ini merupakan rangka yang tersusun dari tulang

tengkorak, tulang belakang, tulang rusuk (iga) dan tulang dada.

a) Tulang tengkorak

Tengkorak manusia tersusun dari 22 buah tulang yang

merupakan gabungan tulang-tulang tempurung kelapa (kranium)

dan tulang muka. Tulang tempurung kelapa tersusun dari tulang

dahi (frontal), tulang kepala belakang (osipital), tulang ubun-


15

ubun (pariental), tulang baji (sphenoid), tlang tapis (ethmoid),

dan tulang pelipis (temporal), Lihat Gambar 2.1.

b) Tulang belakang

Tulang belakang terdiri dari 26 ruas yang terdiri dari 24

ruas tulang belakang, yaitu 7 ruas tulang leher (vertebra

servikalis), 12 ruang tulang punggung (vertebra dorsalis), dan 5

ruas tulang pinggang (vertebra lumbalis), serta tulang

kelangkang dan tulang ekor.

c) Tulang dada (sternum)

Tulang dada terdiri dari 3 bagian, yaitu hulu (manubrium),

badan (korpus), dan laju pedang (xipoid prosesus).

d) Tulang rusuk

Terdiri dari 12 pasang. Tulang rusuk sejati berjumlah 7

pasang, tulang rusuk palsu berjumlah 3 pasang, dan tulang rusuk

melayang berjumlah 2 pasang.

2) Rangka apendikular

Rangka apendikular merupakan rangka pelengkap yang

terdiri dari tulang-tulang anggota gerak atas dan tulang-tulang

aggota gerak bawah.

a) Tulang anggota gerak atas

Tulang anggota gerak atas terdiri dari tulang bahu, tulang

lengan atas, dan tulang lengan bawah. Tulang bahu terdiri dari

tulang selangka (klavikula) dan tulang belikat (skapula).

b) Tulang anggota gerak bawah


16

Tulang anggota gerak bawah terdiri dari tulang pinggul

yang tersusun dari tulang duduk (iscium), tulang usus (ilium),

dan tulang kemaluan (pubis).

Menurut Diah (2004), berdasarkan bentuknya tulang pada

manusia dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:

1) Tulang Pipa

Tulang ini memiliki bentuk sesuai namanya, berbentuk

pipa. Tulang ini memiliki bentuk memanjang dan tengahnya

berlubang. Contohnya adalah tulang paha, tulang betis, dan tulang

lengan.

2) Tulang Pendek

Tulang pendek memiliki bentuk sesuai dengan namanya

berbentuk pendek. Tulang ini bersifat ringan dan kuat. Contohnya

adalah tulang pergelangan tangan, telapak tangan, dan telapak kaki.

3) Tulang Pipih

Tulang ini memiliki bentuk gepeng dan memipih.

Contohnya adalah tulang rusuk, tulang dada, tulang tengkorak.

Adapun menurut Diah (2004), fungsi dari rangka manusia

yaitu:

1) Sebagai formasi bentuk tubuh, yaitu tulang-tulang yang menyusun

rangka tubuh dan menentukan bentk tubuh dan ukuran tubuh.

2) Sebagai formasi sendi - sendi, tulang yang berdekatan membentuk

persendian yang bergerak, tidak bergerak, atau sedikit bergerak,

bergantung pada kebutuhan fungsional tubuh.


17

3) Pelekatan otot-otot. Tulang-tulang yang menyediakan

permukaannya untuk melekatkan otot - otot.

4) Bekerja sebagai pengungkit. Tulang digunakan sebagai pengugkit

untuk bermacam - macam aktivitas selama pergerakan.

5) Penyokong berat badan serta daya tahan untuk menghadapi

pengaruh tekanan. Tulang - tulang menyokong berat badan, sikap

tubuh tertentu (misalnya sikap tegak pada tubuh manusia), serta

menahan tarikan atau tekanan pada tulang.

6) Proteksi. Tulang - tulang membentuk rongga yang melindungi

organ - organ halus seperti otak, sumsum tulang belakang, jantung

paru - paru dan sebagian besar organ - organ bagian dalam tubuh.

7) Hemopoesis. Sumsum tulang merupakan pembentukan sel -sel

darah.

8) Sebagai tempat penyimpanan kalsium.

b. Otot

Menurut Sudjadi (2007), berdasarkan bentuk, susunan, dan cara

kerjanya, otot manusia dibagi menjadi tiga yaitu:

1) Otot lurik (otot rangka)

Otot lurik melekat pada rangka (tulang). Jaringan otot lurik

terdapat pada tubuh dan anggota gerak. Ujung otot lurik yang melekat

pada tulang disebut urat otot (tendon). Kerja otot lurik dipengaruhi

oleh kehendak kesadarankita melalui perintah yang diatur oleh otak.

2) Otot polos (otot licin)


18

Otot polos menyusun organ dalam tubuh kita, misalnya saluran

pencernaan (usus dan lambung), pembuluh darah, saluran pernapasan,

saluran kelamin, dan dinding rahim (uterus).

3) Otot jantung

Otot jantung merupakan otot yang khusus membentuk jantung.

Struktur otot jantung mirip dengan otot lurik tetapi bercabang - cabang

dan memiliki banyak inti sel.

Adapun cara kerja otot yaitu otot berkontraksi karena pengaruh

suatu ransangan melalui saraf. Ransangan yang tiba ke sel otot akan

mempengaruhi suatu zat (asetilkolin) yang peka terhadap ransangan.

Asetilkolin adalah zat pemindah ransangan yang dihasilkan pada bagian

ujung saraf. Adanya asetikolin akan membebaskan ion kalsium yang berda

di sel otot. Melalui proses tertentu adanya ion kalsium menyebabkan

protein otot, yaitu aktin dan myosin berikatan membentuk aktomiosin. Hal

ini menyebabkan pemendekan sel otot sehingga terjadilah kontraksi.

Setelah berkontraksi, ion kalsium masuk kembali kedalam plasma sel,

sehigga menyebabkan lepasnya pelekatan aktin dan myosin sehingga otot

melemas. Keadaan inilah yang disebut relaksasi (Sudjadi,2007).

c. Persendian

Rangka tubuh disusun oleh tulang - tulang yang saling

berhubungan. Hubungan antara dua tulang atau lebih disebut persendian

atau artikulasi. Persendian ada yang bersifat erat sehingga tidak


19

menimbulkan gerak da nada juga yang bersifat longgar dan masih

memungkinkan terjadinya gerak (Sudjadi, 2007).

Menurut Sudjadi (2007), bentuk persendian pada rangka tubuh

dapat dibedakan atas tiga kelompok yaitu :

1) Sinartosis

Sinartosis merupakan bentuk persendian yang tidak

memungkinkan terjadinya gerak. Persendian sinartosis dibagi menjadi

dua yaitu sinartosis sinfibrosis merupakan bentuk persendian dengan

jaringan ikat serat (fibrosa) sebagai penghubung antar tulang. Contoh,

hubungan antar tulang pada tengkorak. Sinartosis sinkondrosis

merupakan bentuk persendian dengan jaringan tulang rawan sebagai

penghubung antar tulang. Contoh, hubungan antara tulang rusuk dan

dada.

2) Amfiatrosis

Amfiatrosis merupakan bentuk persendian yang masih

memungkinkan terjadinya gerak. Contoh hubungan antara tulang rusuk

dan ruas - ruas tulang belakang dan hubungan antar ruas - ruas

belakang.

3) Diartrosis

Diartrosis merupakan bentuk persendian yang memungkinkan

terjadinya gerak secara bebas/ leluasa. Pada persendian diartrosis

terdapat beberapa struktur yang menunjang terjadinya gerak. Misalnya,

tulang rawan hialin.

Persendian diartrosis dapat dibedakan atas 5 bagian yaitu :


20

a) Sendi engsel

Sendi engsel merupakan persendian yang hanya

memungkinkan gerakan ke satu arah, seperti engsel pintu.

Misalnya, persendian pada siku, lutut, dan ruas-ruas jari.

b) Sendi putar

Sendi putar merupakan persendian yang memungkinkan

terjadinya gerakan berputar (rotasi). Misalnya, persendian pada

tulang tengkorak dengan tulang atas dan tulang lengan atas dengan

tulang lengan bawah.

c) Sendi pelana

Sendi pelana merupakan persendian yang memungkinkan

gerakan kea rah samping kanan dan kiri serta gerakan kea rah atas

dan bawah. Misalnya persendian pada ibu jari.

d) Sendi peluru

Sendi peluru merupakan persendian yang memungkinkan

terjadinya gerakan ke segala arah. Pada persendian ini, struktur

ujung tulang yang satu berbentuk kapsula (seperti peluru),

sedangkan ujung tulang yang lainnya berbentuk cekungan.

Misalnya, persendian pada tulang lengan atas dengan tulang belikat

dan tulang paha dengan tulang panggul.

e) Sendi luncur

Sendi luncur merupakan persendian yang memungkinkan

terjadinya gerakan rotasi pada satu bidang datar saja. Misalnya


21

persendian pada pergelangan kaki dan persendian antara dasar

tengkorak dengan ruasa pertama tulang punggung.

d. Kelainan/ penyakit pada sistem gerak

Menurut Sudjadi (2007), kelainan pada sistem gerak sangat

bermacam - macam, pada dasarnya kelainan ataupun penyakit pada

sistem gerak dapat bersumber pada bagian sistem rangka (tulang) atau

sistem otot atau keduanya. Adapun gangguan/ penyakit pada sistem

gerak yaitu :

1) Gangguan pada tulang

a) Fuktura sederhana

Fuktura sederhana merupakan patah tulang yang tidak

menyebabkan rusaknya jaringan sekelilingnya (otot atau kulit).

b) Fuktura kompleks

Fuktura kompleks atau fuktura majemuk merupakan patah

tulang yang mampu merobek otot atau kulit.

c) Fuktura sebagian

Fuktura sebagian atau greenstick merupakan patah tulang

yang tidak terlalu serius, hanya berupa retak tulang.

d) Fuktura berganda

Fuktura berganda atau comminuted merupakan patah

tulang pada beberapa tempat yang terjadi pada satu tulang.


22

2) Gangguang pada persendian

a) Dislokasi

Dislokasi merupakan gangguan persendian yang

menyebabkan sendi tergeser dari kedudukan semula. Dislokasi

terjadi karena ligament atau jaringan penggantungan rusak/

sobek.

b) Keseleo

Keseleo atau terkilir merupakan gangguan persendian yang

terjadi akibat gerakan mendadak yang tidak bias dilakukan.

Gerakan ini menyebabkan ligament tertarik, tetapi tidak

menyebabkan bergesernya posisi persendian.

c) Ankilosis

Ankilosis merupakan gangguan persendian yang

mengakibatkan tulang tidak dapat digerakkan lagi.

3) Gangguan pada otot

Menurut Susilowarno (2007), ada beberapa gangguan pada

otot yaitu :

a) Kram yaitu dimana otot mengalami ransangan terus menerus

sehingga mengalami ketegangan.

b) Tetanus yaitu penyakit yang terjadi disebabkan oleh infeksi

bakteri Clostridium tetani.

c) Miastenia grafis merupakan apabila saraf mengalami kelumpuha,

otot tidak berkontraksi, akibatnya, lama-kelamaan menjadi kecil

(atrofi otot).
23

4. Hasil belajar

Hasil belajar adalah perubahan – perubahan yang terjadi pada

diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan

psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Hasil belajar dapat

diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi

pelajaran di sekolah dinyatakan dalam skor yang di peroleh dari hasil

tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu (Istifar,2016).

Menurut Susanto (2014), menyatakan bahwa seecara sederhana

yang dimaksud hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak

setelah melalui kegiatan belajar. Anak yang berhasil dalam belajar

adalah yang mencapai tujuan – tujuan pembelajaran atau tujuan

instruksional.

Sedangkan menurut Arikunto (2006), hasil belajar merupakan

hasil yang dicapai seseorang setelah melaksanakan kegiatan belajar

dan merupakan penilaian terhadap siswa untuk mengetahui sejauh

mana bahan pelajaran atau materi yang diajarkan dapat dikuasai oleh

siswa.

Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli tersebut, peneliti

menyimpulkan pengertian hasil belajar merupakan perubahan pada diri

siswa yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor yang

tergambar dari skor yang diperoleh dari kegiatan belajar. Penelitian ini,

hasil belajar yang diamati difokuskan pada ranah kognitif pada kata

kerja operasional “menyebutkan”, “menjelaskan”, dan “menentukan”.


24

Purwanto (2008: 91-93) secara umum menjelaskan jenis hasil

belajar atau taksonomi tujuan pendidikan dapat dibedakan menjadi tiga

kelompok, yaitu (a) ranah kognitif, (b) ranah psikomotor, dan (c) ranah

afektif. Secara rinci, uraian masing-masing ranah tersebut ialah:

a. Ranah kognitif, yakni tujuan pendidikan yang sifatnya menambah

pengetahuan atau hasil belajar yang berupa pengetahuan.

b. Ranah psikomotor, yakni hasil belajar atau tujuan yang

berhubungan dengan keterampilan atau keaktifan fisik (motor

skills).

c. Ranah afektif, yakni hasil belajar atau kemampuan yang

berhubungan dengan sikap atau afektif.

5. Hasil penelitian yang relevan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dita Ayu Tria

Maharani (2013), menunjukkan bahwa penggunaan model

pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan media Teka –

Teki Silang (TTS) terhadap hasil belajar IPA biologi materi ekosistem

pada siswa kelas VII B SMP Al Islam Ngemplak Boyolali tahun ajaran

2012/2013 hasil yang diperoleh dapat dikategorikan meningkat.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Paskarada

Nini (2016), menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran

Teams Games Tournament (TGT) dengan media Teka – Teki Silang

(TTS) terhadap hasil belajar Submateri Plantae Kelas VII SMPN 3


25

Sungai Raya sangat berpengaruh dan di peroleh hasil belajar yang

dapat dikategorikan meningkat.

Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Meri Rahmida

(2011), menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran Teams

Games Tournament (TGT) terhadap hasil belajar siswa pada materi

Sistem gerak pada manusia Kelas VIII SMPN 1 Banua Lawas

diperoleh hasil belajar yang meningkat dan peneliti menyarankan

menggunakan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)

dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan mutu

pembelajaran.

B. Kerangka Pikir

Biologi adalah mata pelajaran yang dalam teorinya mengharuskan

siswa untuk menggunakan kemampuannya dalam menganalisis masalah yang

di dapatkan dari lingkungan sekitar utamanya pada materi tentang pencemaran

lingkungan. Namun dalam pelaksanaannya ketika pembelajaran di kelas

berlangsung, siswa jarang menggunakan kemampuan analisisnya dalam

menghadapi masalah yang ada. Pembelajaran di kelas dikatakan berhasil jika

mencapai kompetensi yang diharapkan. Tujuan pendidikan agar dapat tercapai

maka diperlukan berbagai macam faktor yang mendukung yaitu guru, siswa,

kurikulum, media, model, strategi pembelajaran, lingkungan sekolah dan lain-

lain.

Pembelajaran biologi di sekolah menengah atas, umumnya masih

menerapkan metode pembelajaran ceramah di kelas. Model pembelajaran


26

yang diterapkan pada pembelajaran biologi pun masih sangat terbatas.

Pembelajaran biologi seharusnya mampu menjadikan siswa mampu

menggunakan kemampuan analisisnya ketika tengah dihadapkan dalam

masalah di sekitarnya yang terkait dalam ruang lingkup biologi itu sendiri.

Salah satu model pembelajaran diduga dapat merangsang aktivitas

belajar siswa dalam mengembangkan pengetahuan tersebut sehingga

meningkatkan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran Teams Games

Tournament (TGT) salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang mudah

diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan

status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur

permainan sehingga membuat proses pembelajaran lebih menarik dan dapat

di nilai dapat meningkatkan hasil pembelajaran.

Masalah

Hasil belajar siswa dalam pembelajaran biologi rendah


guru menggunakan metode pembelajaran konvensional
yang mengandalkan metode ceramah di depan kelas

Penerapan
Penerapan model
model pembelajaran
pembelajaran

Kelas eksperimen Kelas kontrol

(Menggunakan model Teams Games (Menggunakan model konvensional)


Tournament (TGT)

Hasil belajar siswa

Apakah dengan penerapan model Teams Games


Tournament (TGT) mempengaruhi hasil belajar siswa
27

C. Hipotesis penelitian

Ha: Ada pengaruh metode pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)

dengan media teka-teki silang (TTS) terhadap hasil belajar Biologi materi

ekosistem pada siswa kelas X SMAN 9 Makassar.

H0: Tidak ada pengaruh metode pembelajaran Teams Games Tournament

(TGT) dengan media teka-teki silang (TTS) terhadap hasil belajar Biologi

materi ekosistem pada siswa kelas X SMAN 9 Makassar.


28

.
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan

metode eksperimen yaitu metode penelitian yang digunakan untuk mencari

pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang

terkendali. Bentuk desain dalam penelitian ini adalah quasi experimental yaitu

suatu desain eksperimen yang memungkinkan peneliti mengendalikan variabel

sebanyak mungkin dari situasi yang ada karena tidak memungkinkan

mengontrol variabel dengan penuh. Kelas kontrol dan kelas eksperimen dalam

penelitian quasi eksperimental tidak dipilih secara acak, tetapi menggunakan

seluruh subjek dalam kelompok (kelas) secara utuh.

Dalam penelitian ini terdapat dua variabel penelitian yaitu variabel

bebas (variabel independen) dan variabel terikat (variabel dependen).

Penjelasan lebih lanjut akan dijabarkan pada point-point berikut ini.

1. Varibel Bebas

Variabel bebas yang terdapat dalam penelitian ini adalah model

pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) yang diberikan kepada

kelas eksperimen. Pemberian pembelajaran dengan model pembelajaran

Teams Games Tournament (TGT) inilah yang akan menjadi sumber

penyebab terpengaruhnya variabel terikat.

28
29

2. Variabel Terikat

Hasil dari pengaruh yang diberikan oleh variabel bebas akan terlihat

dengan adanya perubahan dari variabel terikat. Dalam hal ini yang

menjadi variabel terikat adalah hasil belajar siswa pada materi ekosistem.

B. Lokasi Penelitian dan waktu

1. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian di rencanakan akan dilaksanakan di SMA Negeri

9 Makassar Kecamatan Rappocini kota Makassar pada kelas X.

2. Waktu penelitian

Penelitian ini akan dilaksnakan selama ± 2 bulan bulan Agustus-

Oktober semester ganjil tahun ajaran 2019/2020.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 9

Makassar sedangkan populasi target pada penelitian adalah seluruh siswa

kelas XI SMA Negeri 9 Makassar.

2. Sampel

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah random

sampling. Teknik random sampling memungkinkan peneliti dapat

mengambil sampel secara objektif karena setiap unit yang menjadi anggota

populasi mempunyai kesenpatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel.

Teknik pengambilan sampling yang digunakan dengan cara undian.


30

Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah dari beberapa

kelas yang terpilih sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu kelas

XI A dan kelas XI B.

D. Definisi operasional variabel

a. Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe pembelajaran

kooperatif, model ini menggunakan pelajaran yang sama yang

disampaikan guru dan tim kerja yang sama seperti dalam STAD, tetapi

menggantikan kuis dengan turnamen mingguan, dimana siswa memainkan

game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbang poin dengan

skor timnya (Waluyo, 2014).

b. Teka – Teki Silang merupakan sebuah media permainan yang dimainkan

dengan cara mengisi ruang – ruang kosong yang berbentuk kotak dengan

huruf – huruf, sehingga membentuk sebuah kata sesuai dengan petunjuk

yang ada (Furwanto, 2017).

c. Hasil belajar kognitif merupakan hasil belajar yang lebih berkenaan

dengan kemampuan individul mengenai pemahaman, mengingat,

pengaplikasian, dan pengevaluasian siswa pada materi yang dipelajarinya

(Huraidah, 2018).

E. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes

merupakan sejumlah soal yang dibuat penulis sesuai kurikulum dan indikator

yang ingin dicapai dalam suatu pembelajaran yang digunakan sebagai latihan
31

kepada siswa dan dijadikan sebagai data tulis, soal tes yang diberikan kepada

siswa berjumlah 25 butir.

F. Teknik Pengumpulan Data

Dalam pelakanaan pengumpulan data, yang lazim dipakai dalam

penulian ilmiah yaitu field Research (penelitian lapangan). Penelitian

lapangan yaitu metode yang di gunakan dalam mengumpulkan data dengan

jalan mengadakan penelitian langsung dilapangan terhadap masalah

penelitian, dalam hal ini digunakan tehnik sebagai berikut:

a. Observasi, yaitu peneliti mengadakan studi awal sebelum penelitian di

lakukan secara resmi, artinya penelitian mengadakan pengamatan terlebih

dahulu dengan hal- hal yang akan di angkat dalam penyajian Kompetensi

Guru dan Pengaruhnya Terhadap minat belajar siswa dan kreativitas

berpikir siswa.

b. Wawancara, yaitucara mengumpulkan data melalui tanya jawab sepihak

yang dilaksankan secara sistemtais dan berlandaskan pada tujuan

penyelidikan. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data

apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan

permasalahan yang harus diteliti, dan juga jika peneliti ingin mengetahui

hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya

sedikit atau kecil.

c. Dokumentasi, yaitu peneliti mengumpulkan data–data yang telah ada

seperti dokumen-dokumen tertulis dalam hubunganya dengan data yang di

butuhkan dalam penelitian ini.

I. Teknik Analisis Data


32

a. Nilai Hasil Belajar Secara Individual

Untuk menghitung nilai hasil belajar siswa ranah kognitif secara

individu dengan rumus sebagai berikut.

𝑅
NP = 𝑀x 100

Keterangan:

NP = nilai pengetahuan

R = skor yang diperoleh/item yang dijawab benar

SM = skor maksimum

100 = bilangan tetap (Sumber dari Purwanto,2008: 102)

b. Nilai Rata-rata Hasil Belajar Siswa

Untuk menghitung nilai rata-rata seluruh siswa dapat dihitung

dengan rumus:
𝚺𝐗
x=𝚺𝐍

Keterangan:

x = nilai rata-rata seluruh siswa

ΣX = total nilai yang diperoleh siswa

ΣN = jumlah siswa (Sumber: Aqib,dkk., 2010: 40)

c. Presentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Secara Klasikal

Menghitung presentase ketuntasan hasil belajar siswa secara

klasikal dapat digunakan rumus berikut.

𝜮 𝒔𝒊𝒔𝒘𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒖𝒏𝒕𝒂𝒔 𝒃𝒆𝒍𝒂𝒋𝒂𝒓


P= 𝜮 𝒔𝒊𝒔𝒘𝒂

(Sumber: Aqib, dkk., 2010:41)

Tabel Presentase ketuntasan hasil belajar siswa


33

No Persentase Kriteria

1 >85% Sangat tinggi

2 65-84% Tinggi

3 45-64% Sedang

4 4. 25-44% Rendah

5 < 24% Sangat rendah

(Sumber: Aqib, dkk., 2010: 41)


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi


Aksara.

Anita, Sisilia Aqib. 2014. Penggunaan Media Teka – Teki Silang (TTS) Untuk
Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Swasta
Karanu Waikabubak Sumba Barat Pada Materi Invertebrata.
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Aqib, Zainal, dkk. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung. Yrama Widya.

Artikel Nia Hidayati November 13, 2009 at 12:31 [Link]


teka-teki-silang-sebagaipenambah-wawasan-dan-mengasah
[Link] di akses 30 April 2019.

Darmadi,2018. Asiknya Belajar Sambil Bermain. Guepedia. Lampung

Diah, Aryulina. Dkk.2006. Biologi 2 SMA dan MA untuk kelas XI. Erlangga.
Jakarta.

Fourwanto, Agung. [Link] Media Teka – Teki Silang Biologi


untuk Memberdayakan Keterampilan Berpikir Kreatif Peserta Didik Di
SMP Negeri 9 Bandar Lampung. Universitas Islam Negeri Raden Intan
Lampung.

Huraidah, Dkk.2018. Keberadaan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dalam


Mendorong Sinergitas Kontribusi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam
(PTKIS) Menuju Generasi Indonesia Emas 2045. Indragiri Journal.

Istifar Rina Noni, 2016. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe


Teams Games Tournament (TGT) Berbantu Media Roda Putar untuk
Meningkatkan Aktivitas Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI Akuntansi 1
SMK Negeri 1 Tempel Tahun Ajaran 2015/2016. Universitas Negeri
Yogyakarta.

Purwanto, N. 2008. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Remaja


Rosdakarya. Bandung.

Susilowarno, Gunawan. Dkk.2006. Biologi SMA/MA Kelas XI. Grafindo Media


Pratama. Bandung.

34
35

Sudjadji, Bagod & Siti Laila.2007. Biologi Sains dalam Kehidupan SMA Kelas
XI. [Link].

Sukardjo, J.S. Dkk. 2014. Efektivitas Model Pembelajaran Teams Games


Tournament (TGT) Disertai Media Teka Teki Silang Terhadap Prestasi
Belajar pada Materi Minyak Bumi Siswa Kelas X SMA Negeri 3
Sukoharjo Tahun Pelajaran 2012/2013. Jurnal Pendidikan Kimia
(JPK), Vol. 3 No. 2 Tahun 2014.

Susanto, Ahmad. 2014. Teori belajar dan pembelajaran di sekolah dasar.


Prenadamedia Group. Jakarta.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta.


Bandung.

Waluyo, [Link]. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Teams Games


Tournament (TGT) Dengan Permainan Teka Teki Silang (TTS) untuk
Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi (Pokok Bahasan
Ekosistem Di SMP Negeri 14 Jember Tahun Pelajaran 2012/2013).
Pancaran, Vol. 3, No. 1, Hal 27-36, Februari 2014

Winastawan, Gora. Dkk. 2010. Pakematik (Strategi Pembelajaran Inovatif


Berbasis TIK). PT. Elex Media Komputindo. Jakarta

Anda mungkin juga menyukai