PENGARUH METODE PEMBELAJARAN TEAMS GAMES
TOURNAMENT (TGT) DENGAN MEDIA TEKA-TEKI SILANG (TTS)
TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI MATERI SISTEM GERAK
PADA MANUSIA PADA SISWA KELAS XI SMAN 9 MAKASSAR
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat untuk melakukan penelitian
Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan
Universitas Muhammadiyah Makassar
OLEH
Umrah
105440008815
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2019
i
i
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala rahma dan
hidayahnya sehingga proses penulisan Proposal Penelitian yang berjudul
“Pengaruh Metode Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Dengan
Media Teka-Teki Silang (TTS) Terhadap Hasil Belajar Biologi Materi Sistem
Gerak pada Manusia Pada Siswa Kelas X SMAN 9 Makassar” dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis sadar bahwa apa yang telah penulis peroleh tidak semata-mata
hasil dari jerih payah penulis sendiri tetapi hasil dari keterlibatan semua pihak.
Oleh sebab itu, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Orang tua, Ayah dan Ibu yang dengan sabar telah mendidik dan membiayai
sejak kecil sampai sekarang.
2. [Link].,[Link] selaku Ketua Prodi Pendidikan Biologi
3. Hilmi [Link].,[Link] dan Riza Sativani Hayati,[Link].,[Link] selaku
dosen pembimbing yang telah membimbing kami selama penulisan proposal
4. Rekan-rekan satu bimbingan penelitiaan proposal, yang memberikan
masukan dan dorongan selama menyelesaikan proposal penelitian ini.
5. Pihak-pihak yang tidak dapat kami sebutkan, atas bantuan, doa serta
dukungannya yang berhubungan dengan penyusunan proposal penelitian ini.
i
Semoga bantuan dan dukungan yang telah diberikan mendapat pahala
dan hikmah dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan proposal
penelitian ini masih banyak kekurangan, karena keterbatasan pengetahuan
dan kemampuan, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari
pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan proposal penelitian ini.
Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.
Makassar, Mei 2019
Penulis
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................................. i
DAFTAR ISI ...........................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A. Latar belakang ......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................... 6
C. Tujuan Penelitian .................................................................................... 6
D. Manfaat Penelitian .................................................................................. 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA ................................................................................... 8
A. Kajian pustaka ......................................................................................... 8
1. Teams Games Tournament (TGT) .................................................... 8
2. Media Teka – Teki Silang ............................................................... 11
3. Materi Sistem Gerak ....................................................................... 14
4. Hasil Belajar .................................................................................... 23
5. Hasil Penelitian yang Relevan ........................................................ 24
B. Kerangka Pikir ...................................................................................... 25
C. Hipotesis Penelitian............................................................................... 27
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................ 28
A. Rancangan Penelitian ............................................................................ 28
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................ 29
C. Populasi dan Sampel Penelitian ............................................................ 29
D. Definisi Operasional Variabel ............................................................... 30
E. Instrumen Penelitian.............................................................................. 30
iii
F. Teknik Pengumpulan Data .................................................................... 31
G. Teknik Analisis Data ............................................................................. 31
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 34
iv
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan proses pengembangan daya nalar,
keterampilan, dan molaritas kehidupan dari potensi yang di miliki oleh setiap
manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di tentukan oleh tingkat
pendidikan manusia. Pendidikan dikatakan berhasil jika tercapai peningkatan
kualitas pendidikan. Suatu pendidikan di katakan berkualitas apabila proses
pendidikan berlangsung secara efektif, dan meningkatnya hasil belajar siswa.
Usaha dan keberhasilan belajar siswa di pengaruhi oleh berbagai faktor di
antaranya penggunaan media pembelajaran dan motivasi belajar dari siswa
sendiri.
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan
memegang peranan yang sangat penting. Pendidikan merupakan suatu usaha
untuk membantu pengembangan potensi dan kemampuan subjek didik
sehingga bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat pada umumnya.
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut adanya
perbaikan pada sistem pendidikan yang termasuk pada penyempurnaan
kurikulum. Salah satu kebijakan Departemen Pendidikan Nasional yang
mengalami perubahan dari kurikulum 1994 yang pada tahun Pendidikan.
Selain perubahan kurikulum, upaya lain yang dilakukan dalam meningkatkan
kualitas pendidikan diantaranya meningkatan kualitas guru, pengadaan sarana
1
2
dan prasarana yang memadai, perbaikan sistem penilaian penataan organisasi
dan manajemen pendidikan, serta memperbaiki proses belajar mengajar.
Rancangan pembelajaran yang mencerminkan kegiatan belajar secara
aktif perlu didukung oleh kemampuan guru memfasilitasi kegiatan belajar
siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Mengaktifkan kegiatan belajar
siswa berarti menuntut kreativitas dan kemampuan guru dalam merancang dan
melaksanakan kegiatan pembelajaran.
Dalam kegiatan pembelajaran, guru berperan sebagai motivator dan
fasilitator. Peran guru sebagai motivator adalah memberi motivasi kepada
siswa, agar melakukan kegiatan belajar dengan kehendak sendiri tanpa adanya
tekanan atau paksaan., dan sesuai dengan yujuan belajar yang akan di capai.
Sedangkan peran guru sebagai fasilitator adalah memfasilitasi siswa agar
dapat belajar dengan mengembangkan prestasi yang dimiliki siswa. Cara yang
dapat dilakukan oleh guru untuk memfasilitasi siswa antara lain dengan
menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, dan memberikan bimbingan
pada saat kegiatan belajar.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru biologi di SMAN
9 Makassar hasil belajar siswa dalam pembelajaran biologi rendah karena
minat baca dan antusiasme siswa terhadap pembelajaran biologi rendah.
Pelajaran Biologi cenderung didominasi oleh guru, hal tersebut dikarenakan
guru menggunakan metode pembelajaran konvensional yang mengandalkan
metode ceramah di depan kelas. Metode konvensional yang digunakan pada
saat mengajar hanya menitikberatkan pada kreativitas guru sedangkan siswa
kurang tertarik dengan cara guru menyampaikan materi. Kemampuan
3
akademis (kognitif) dalam kegiatan pembelajaran biologi juga menjadi
penyebab hasil belajar siswa rendah. Banyak siswa yang berangggapan bahwa
pelajaran biologi sebagai pelajaran hafalan karena sering kali guru
menciptakan suasana pembelajaran yang tidak menyenangkan bagi siswa.
Guru banyak bercerita tanpa memperhatikan siswa, apakah sudah paham apa
belum, dan hal yang penting bagi guru adalah materi tersebut sudah
disampaikan kepada siswa.
Proses pembelajaran yang efektif, aktif, kreatif, dan menyenangkan
dapat dilaksanakan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif.
Dalam model pembelajaran ini ditekankan keterlibatan aktif siswa secara
maksimal dalam proses belajar mengajar yaitu dengan cara siswa belajar
memecahkan masalah, mendiskusikan masalah dengan teman-temannya,
mempunyai keberanian menyampaikan ide atau gagasan dan mempunyai
tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Selain itu, model
pembelajaran kooperatif dapat menarik perhatian siswa terhadap
berlangsungnya proses pembelajaran, meningkatkan keterampilan bersosial,
membantu menyesuaikan diri, mengurangi perbedaan etnis dan meningkatkan
rasa percaya diri siswa. Pada pembelajaran kooperatif siswa harus aktif
mencari, menemukan, menyusun dan membentuk pengetahuan sendiri.
Salah satu satu strategi yang dapat meningkatkan kerjasama antar
siswa adalah Cooperatif Learning. Dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif Teams Games Tournament (TGT). Model pembelajaran TGT
adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah
diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan
4
status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur
permainan dan reinforcement.
Penggunaan media juga mempengaruhi aktivitas dan perkembangan
siswa dalam menerima materi pembelajaran yang disampaikan guru. Salah
satu media yang cocok digunakan dalam materi Sistem gerak adalah Teka-
Teki Silang. Peneliti berharap dengan penerapan metode pembelajaran TGT
dengan media TTS pada materi Sistem gerak pada manusia dapat
memperbaiki proses pembelajaran SMAN 9 Makassar sehingga hasil belajar
siswa kelas XI khususnya pelajaran Biologi dapat meningkat dilihat dari
aspek afektif dan aspek kognitifnya.
Menurut Hopkins (Winastawan, 2010) Teams Games Tournament
(TGT) merupakan bentuk pembelajaran kooperatif di mana setelah siswa
belajar secara individual, untuk selanjutnya dalam kelompok masing-masing
anggota kelompok. Mengadakan turnamen atau lomba dengan anggota
kelompok lainnya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Seperti karakteristik
pembelajaraan kooperatif lainnya, TGT memunculkan adanya kelompok dan
kerjasama dalam belajar. Di samping itu, terdapat persaingan antar individu
maupun antar kelompok. Dalam TGT, siswa yang mempunyai kemampuan
dan jenis kelamin yang berbeda dijadikan dalam sebuah tim yang terdiri dari 4
sampai 5 siswa. Sebagai salah satu model pembelajaran kooperatif TGT
sangat mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus
membedakan adanya perbedaan status, melibatkan siswa sebagai tutor sebaya,
dan adanya unsur reinforcement.
5
Media Teka Teki Silang (TTS) merupakan salah satu pendekatan yang
di kemas dalam bentuk permainan yang dapat merangsang daya pikir siswa
dalam kegiatan pembelajaran biologi khususnya dalam mempelajari materi
ekosistem. Menurut Sardiman (2007), sebagai media pembelajaran permainan
mempunyai beberapa kelebihan yaitu permainan merupakan sesuatu yang
menyenangkan untuk di lakukan sehingga dapat menghibur dan menarik.
Media Teka-Teki Silang merupakan sebuah permainan yang cara
mainnya yaitu mengisi ruang-ruang kosong yang berbentuk kotak dengan
huruf-huruf sehingga membentuk sebuah kata yang sesuai dengan petujuk
(Penulis: Nia November 13, 2009 at 12:31). Melalui media ini, siswa diajak
untuk lebih memahami istilah-istilah penting yang ada dalam pembelajaran
biologi, sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih
bermakna. Dengan menggunakan media TTS, guru dapat menghemat waktu
untuk menjelaskaan secara detail bab tertentu yang perlu di jelaskan kembali
secara structural, sehingga siswa juga dapat dengan mudah memahami materi
yang di sampaikan oleh guru karena siswa tidak merasa terbebani dan tidak
bosan dengan pengulangan unit tertentu.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka di buat penelitian yang judul
Pengaruh metode pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan
media teka-teki silang (TTS) terhadap hasil belajar biologi materi Sistem
Gerak pada manusia pada siswa kelas XI SMA Negeri 9 Makassar.
6
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan oleh peneliti, maka
permasalahan yang dapat dirumuskan yaitu adakah pengaruh metode
pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan media Teka-Teki
Silang (TTS) terhadap hasil belajar Biologi materi sistem gerak pada
manusia pada siswa kelas XI SMA Negeri 9 Makassar.
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan peneliti, penelitian
ini memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui adakah pengaruh metode
pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan media teka-teki silang
(TTS) terhadap hasil belajar Biologi materi sistem gerak pada manusia pada
siswa kelas XI SMA Negeri 9 Makassar.
D. Manfaat
a. Manfaat teoritis, diharapkan hasil penelitian ini diharapkan mampu
memperkuat teori yang sudah ada, mengenai model pembelajaran Teams
Games Tournament (TGT) dengan media Teka-Teki Silang (TTS)
berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
b. Manfaat praktis, diharapkan penelitian ini bermanfaat :
1. Bagi siswa, dapat meningkatkan minat belajar siswa.
2. Bagi guru, sebagai bahan masukan guru bahwa kreativitas berpikir dan
minat belajar dalam proses pembelajaran penting di ciptakan guna
mencapai tujuan pendidikan dan juga sebagai evaluasi dan sumber
7
inspirasi para guru sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan
di sekolah.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
1. Teams Games Tournament
a. Pengertian Teams Games Tournament (TGT)
Pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament
(TGT) adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang
mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada
perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan
mengandung unsur permainan dan reinforcement (Sukardjo,2014).
Menurut Istifar (2016) menyatakan bahwa Teams Games
Tournament (TGT) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif
yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang
beranggotakan 4-5 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis
kelamin, dan suku kata atau ras yang berbeda.
Sedangkan Waluyo (2014), menyatakan bahwa Teams Games
Tournament (TGT) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif,
model ini menggunakan pelajaran yang sama yang disampaikan guru
dan tim kerja yang sama seperti dalam STAD, tetapi menggantikan
kuis dengan turnamen mingguan, dimana siswa memainkan game
akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbang poin dengan
skor timnya.
8
9
Aktivitas belajar dengan model Teams Games Tournament
(TGT) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping
menumbuhkan tanggung jawab, kerja sama, persaingan sehat, dan
keterlibatan belajar. Model pembelajaran Teams Games Tournament
(TGT) dapat memperbaiki sikap siswa dalam pembelajaran
(Sukardjo,2014).
b. Ciri-ciri Model Pembelajaran Tipe Teams Games Tournament
(TGT)
Menurut Robert [Link] dikutip oleh Winastawan (2010: 62-
64), ciri-ciri pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament
(TGT) yaitu:
1) Presentasi Kelas
Pada tahap awal ini, guru menyampaikan materi dalam
presentasi kelas, dan biasanya dilakukan dengan pengajaran
langsung atau ceramah, dan diskusi. Pada saat presentasi kelas ini,
siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi
yang disampaikan guru karena akan membantu siswa bekerja lebih
baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor
game akan menentukan skor kelompok mereka.
2) Kelompok (team)
Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa
yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis
kelamin dan ras atau etnik. Fungsi utama kelompok adalah untuk
10
memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar, dan
lebih khusus lagi adalah untuk mempersiapkan anggotanya untuk
bisa menyelesaikan game dengan baik.
3) Game
Game terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang dirancang
untuk menguji pengetahuan yang diperoleh siswa dari presentasi
kelas oleh guru dan diskusi kelompok. Kebanyakan game terdiri
dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih
kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai
dengan nomor itu. Siswa yang menjawab pertanyaan dengan benar
maka akan mendapatkan skor.
4) Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau
pada akhir unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan
kelompok sudah mengerjakan lembar kegiatan. Turnamen pertama
guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Empat
siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, empat
siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
5) Team Recognize (Penghargaan Kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang.
Tim akan mendapatkan sertifikat atau penghargaan lain apabila
skor mereka mencapai kriteria tertentu. Skor tim siswa dapat juga
digunakan untuk menentukan dua puluh persen dari peringkat
mereka.
11
c. Prosedur Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)
Adapun prosedur dalam menerapkan model pembelajaran
Teams Games Tournament (TGT) menurut Eveline Siregar (2014:
116) yaitu:
1) Dalam identifikasi masalah, siswa dan guru mencoba mengajukan
masalah atau kasus yang berkaitan dengan materi atau konsep yang
sudah dipelajari dalam pertemuan sebelumnya atau melalui tugas
membaca dirumah.
2) Masalah dipecahkan bersama dalam kelompok.
3) Hasil pemecahan masalah disajikan dalam bentuk turnamen, ada
kompetisi untuk penyajian atau pemecahan masalah yang terbaik.
Guru dan beberapa siswa berperan sebagai penilai atau juri.
4) Untuk mengukur kemampuan siswa dilakukan kuis.
2. Media Teka – Teki Silang
a. pengertian Teka – Teki Silang
Teka - Teki Silang (TTS) merupakan tehnik pembelajaran siswa
yang lebih menarik karena mengandung unsur permainan, hiburan dan
dapat dilakukan secara santai dengan berbagai variasi. Teka-Teki
Silang (TTS) juga dapat mengembangkan intuisi siswa untuk berupaya
memahami lebih banyak kosakata karena adanya unsur tantangan yang
menimbulkan rasa penasaran. Dengan demikian, selain dapat
meningkatakan perbendaharaan kata siswa juga dapat dipahami secara
12
mendalam serta merupakan tehnik mengasah ketajaman berpikir
(Waluyo,2014).
Teka – Teki Silang merupakan sebuah media permainan yang
dimainkan dengan cara mengisi ruang – ruang kosong yang berbentuk
kotak dengan huruf – huruf, sehingga membentuk sebuah kata sesuai
dengan petunjuk yang ada. Dalam kegiatan pembelajaran biologi
media ini di gunakan untuk merangsang siswa berpikir dan mencari
jawaban sesuai dengan pertanyaan yang di berikan (Furwanto,2017).
Darmadi (2018), menyatakan bahwa permainan di butuhkan
dalam proses pembelajaran untuk menciptakan suasana belajar dari
pasif ke aktif, dari kaku menjadi gerak (akrab), dan dari jenuh menjadi
riang (segar). Metode ini di arahkan agar tujuan belajar dapat dicapai
secara efisien dan efektif dalam suasana gembira meskipun membahas
hal – hal yang sulit atau berat.
b. Kelebihan dan Kelemahan Media Teka – Teki Silang
Menurut Anita (2014), kelebihan dan kelemahan teka – teki
silang antara lain:
1) Kelebihan Media Teka – Teki Silang
a) Media Teka – Teki Silang sangat efektif untuk mengulang
pelajaran yang telah diberikan. Dengan demikian dapat
memudahkan siswa untuk mengingat kembali materi yang telah
disampaikan.
13
b) Mudah untuk diajarkan karena sebagian besar masyarakat telah
mengetahui dan pernah memainkan permainan ini.
c) Dapat dibuat dengan mudah dan biayanya relative murah.
d) Melatih ketelitian dan kejelian siswa dalam menjawab
pertanyaan.
e) Mengasah otak siswa untuk berpikir dan memecahkan soal
yang ada dalam permainan.
f) Dapat dimainkan secara individu maupun berkelompok
2) Kelemahan Media Teka – Teki Silang
a) Ada beberapa jawaban yang memiliki hubungan dengan
jawaban lainnya, sehingga apabila siswa tidak dapat menjawab
salah satu soal maka siswa akan merasa bingun karena akan
berpengaruh pada jawaban siswa yang hurufnya masih
berkaitan dengan soal sebelumnya yang tidak dapat dipecahkan
oleh siswa.
b) Perlu ada ketelitian dalam membuat kotak – kotak jawaban
yang akan diisi oleh siswa, karena apabila salah dalam
memberi jumlah kotak maka akan berpengaruh pada jawaban
pada soal-soal selanjutnya.
c) Materi – materi yang bersifat penjelasan atau pemaparan tidak
dapat dimasukan ke dalam media ini, karena ruang-ruangnya
terbatas, hanya untuk istilah – istilah atau singkatan kata.
14
3. Materi Sistem Gerak pada Manusia
a. Struktur rangka
Rangka tubuh manusia dari 206 tulang dengan berbagai bentuk
dan ukuran. Namun tulang-tulang tersebut saling berhubungan
(Diah,2004).
Gambar 2.1 rangka manusia
(sumber : Diah,2004)
Menurut Diah (2004), secara garis besar, rangka manusia
dibagi menjadi dua, yaitu rangka aksial (sumbu tubuh) dan rangka
apendikuler (anggota tubuh).
1) Rangka Aksial
Rangka ini merupakan rangka yang tersusun dari tulang
tengkorak, tulang belakang, tulang rusuk (iga) dan tulang dada.
a) Tulang tengkorak
Tengkorak manusia tersusun dari 22 buah tulang yang
merupakan gabungan tulang-tulang tempurung kelapa (kranium)
dan tulang muka. Tulang tempurung kelapa tersusun dari tulang
dahi (frontal), tulang kepala belakang (osipital), tulang ubun-
15
ubun (pariental), tulang baji (sphenoid), tlang tapis (ethmoid),
dan tulang pelipis (temporal), Lihat Gambar 2.1.
b) Tulang belakang
Tulang belakang terdiri dari 26 ruas yang terdiri dari 24
ruas tulang belakang, yaitu 7 ruas tulang leher (vertebra
servikalis), 12 ruang tulang punggung (vertebra dorsalis), dan 5
ruas tulang pinggang (vertebra lumbalis), serta tulang
kelangkang dan tulang ekor.
c) Tulang dada (sternum)
Tulang dada terdiri dari 3 bagian, yaitu hulu (manubrium),
badan (korpus), dan laju pedang (xipoid prosesus).
d) Tulang rusuk
Terdiri dari 12 pasang. Tulang rusuk sejati berjumlah 7
pasang, tulang rusuk palsu berjumlah 3 pasang, dan tulang rusuk
melayang berjumlah 2 pasang.
2) Rangka apendikular
Rangka apendikular merupakan rangka pelengkap yang
terdiri dari tulang-tulang anggota gerak atas dan tulang-tulang
aggota gerak bawah.
a) Tulang anggota gerak atas
Tulang anggota gerak atas terdiri dari tulang bahu, tulang
lengan atas, dan tulang lengan bawah. Tulang bahu terdiri dari
tulang selangka (klavikula) dan tulang belikat (skapula).
b) Tulang anggota gerak bawah
16
Tulang anggota gerak bawah terdiri dari tulang pinggul
yang tersusun dari tulang duduk (iscium), tulang usus (ilium),
dan tulang kemaluan (pubis).
Menurut Diah (2004), berdasarkan bentuknya tulang pada
manusia dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
1) Tulang Pipa
Tulang ini memiliki bentuk sesuai namanya, berbentuk
pipa. Tulang ini memiliki bentuk memanjang dan tengahnya
berlubang. Contohnya adalah tulang paha, tulang betis, dan tulang
lengan.
2) Tulang Pendek
Tulang pendek memiliki bentuk sesuai dengan namanya
berbentuk pendek. Tulang ini bersifat ringan dan kuat. Contohnya
adalah tulang pergelangan tangan, telapak tangan, dan telapak kaki.
3) Tulang Pipih
Tulang ini memiliki bentuk gepeng dan memipih.
Contohnya adalah tulang rusuk, tulang dada, tulang tengkorak.
Adapun menurut Diah (2004), fungsi dari rangka manusia
yaitu:
1) Sebagai formasi bentuk tubuh, yaitu tulang-tulang yang menyusun
rangka tubuh dan menentukan bentk tubuh dan ukuran tubuh.
2) Sebagai formasi sendi - sendi, tulang yang berdekatan membentuk
persendian yang bergerak, tidak bergerak, atau sedikit bergerak,
bergantung pada kebutuhan fungsional tubuh.
17
3) Pelekatan otot-otot. Tulang-tulang yang menyediakan
permukaannya untuk melekatkan otot - otot.
4) Bekerja sebagai pengungkit. Tulang digunakan sebagai pengugkit
untuk bermacam - macam aktivitas selama pergerakan.
5) Penyokong berat badan serta daya tahan untuk menghadapi
pengaruh tekanan. Tulang - tulang menyokong berat badan, sikap
tubuh tertentu (misalnya sikap tegak pada tubuh manusia), serta
menahan tarikan atau tekanan pada tulang.
6) Proteksi. Tulang - tulang membentuk rongga yang melindungi
organ - organ halus seperti otak, sumsum tulang belakang, jantung
paru - paru dan sebagian besar organ - organ bagian dalam tubuh.
7) Hemopoesis. Sumsum tulang merupakan pembentukan sel -sel
darah.
8) Sebagai tempat penyimpanan kalsium.
b. Otot
Menurut Sudjadi (2007), berdasarkan bentuk, susunan, dan cara
kerjanya, otot manusia dibagi menjadi tiga yaitu:
1) Otot lurik (otot rangka)
Otot lurik melekat pada rangka (tulang). Jaringan otot lurik
terdapat pada tubuh dan anggota gerak. Ujung otot lurik yang melekat
pada tulang disebut urat otot (tendon). Kerja otot lurik dipengaruhi
oleh kehendak kesadarankita melalui perintah yang diatur oleh otak.
2) Otot polos (otot licin)
18
Otot polos menyusun organ dalam tubuh kita, misalnya saluran
pencernaan (usus dan lambung), pembuluh darah, saluran pernapasan,
saluran kelamin, dan dinding rahim (uterus).
3) Otot jantung
Otot jantung merupakan otot yang khusus membentuk jantung.
Struktur otot jantung mirip dengan otot lurik tetapi bercabang - cabang
dan memiliki banyak inti sel.
Adapun cara kerja otot yaitu otot berkontraksi karena pengaruh
suatu ransangan melalui saraf. Ransangan yang tiba ke sel otot akan
mempengaruhi suatu zat (asetilkolin) yang peka terhadap ransangan.
Asetilkolin adalah zat pemindah ransangan yang dihasilkan pada bagian
ujung saraf. Adanya asetikolin akan membebaskan ion kalsium yang berda
di sel otot. Melalui proses tertentu adanya ion kalsium menyebabkan
protein otot, yaitu aktin dan myosin berikatan membentuk aktomiosin. Hal
ini menyebabkan pemendekan sel otot sehingga terjadilah kontraksi.
Setelah berkontraksi, ion kalsium masuk kembali kedalam plasma sel,
sehigga menyebabkan lepasnya pelekatan aktin dan myosin sehingga otot
melemas. Keadaan inilah yang disebut relaksasi (Sudjadi,2007).
c. Persendian
Rangka tubuh disusun oleh tulang - tulang yang saling
berhubungan. Hubungan antara dua tulang atau lebih disebut persendian
atau artikulasi. Persendian ada yang bersifat erat sehingga tidak
19
menimbulkan gerak da nada juga yang bersifat longgar dan masih
memungkinkan terjadinya gerak (Sudjadi, 2007).
Menurut Sudjadi (2007), bentuk persendian pada rangka tubuh
dapat dibedakan atas tiga kelompok yaitu :
1) Sinartosis
Sinartosis merupakan bentuk persendian yang tidak
memungkinkan terjadinya gerak. Persendian sinartosis dibagi menjadi
dua yaitu sinartosis sinfibrosis merupakan bentuk persendian dengan
jaringan ikat serat (fibrosa) sebagai penghubung antar tulang. Contoh,
hubungan antar tulang pada tengkorak. Sinartosis sinkondrosis
merupakan bentuk persendian dengan jaringan tulang rawan sebagai
penghubung antar tulang. Contoh, hubungan antara tulang rusuk dan
dada.
2) Amfiatrosis
Amfiatrosis merupakan bentuk persendian yang masih
memungkinkan terjadinya gerak. Contoh hubungan antara tulang rusuk
dan ruas - ruas tulang belakang dan hubungan antar ruas - ruas
belakang.
3) Diartrosis
Diartrosis merupakan bentuk persendian yang memungkinkan
terjadinya gerak secara bebas/ leluasa. Pada persendian diartrosis
terdapat beberapa struktur yang menunjang terjadinya gerak. Misalnya,
tulang rawan hialin.
Persendian diartrosis dapat dibedakan atas 5 bagian yaitu :
20
a) Sendi engsel
Sendi engsel merupakan persendian yang hanya
memungkinkan gerakan ke satu arah, seperti engsel pintu.
Misalnya, persendian pada siku, lutut, dan ruas-ruas jari.
b) Sendi putar
Sendi putar merupakan persendian yang memungkinkan
terjadinya gerakan berputar (rotasi). Misalnya, persendian pada
tulang tengkorak dengan tulang atas dan tulang lengan atas dengan
tulang lengan bawah.
c) Sendi pelana
Sendi pelana merupakan persendian yang memungkinkan
gerakan kea rah samping kanan dan kiri serta gerakan kea rah atas
dan bawah. Misalnya persendian pada ibu jari.
d) Sendi peluru
Sendi peluru merupakan persendian yang memungkinkan
terjadinya gerakan ke segala arah. Pada persendian ini, struktur
ujung tulang yang satu berbentuk kapsula (seperti peluru),
sedangkan ujung tulang yang lainnya berbentuk cekungan.
Misalnya, persendian pada tulang lengan atas dengan tulang belikat
dan tulang paha dengan tulang panggul.
e) Sendi luncur
Sendi luncur merupakan persendian yang memungkinkan
terjadinya gerakan rotasi pada satu bidang datar saja. Misalnya
21
persendian pada pergelangan kaki dan persendian antara dasar
tengkorak dengan ruasa pertama tulang punggung.
d. Kelainan/ penyakit pada sistem gerak
Menurut Sudjadi (2007), kelainan pada sistem gerak sangat
bermacam - macam, pada dasarnya kelainan ataupun penyakit pada
sistem gerak dapat bersumber pada bagian sistem rangka (tulang) atau
sistem otot atau keduanya. Adapun gangguan/ penyakit pada sistem
gerak yaitu :
1) Gangguan pada tulang
a) Fuktura sederhana
Fuktura sederhana merupakan patah tulang yang tidak
menyebabkan rusaknya jaringan sekelilingnya (otot atau kulit).
b) Fuktura kompleks
Fuktura kompleks atau fuktura majemuk merupakan patah
tulang yang mampu merobek otot atau kulit.
c) Fuktura sebagian
Fuktura sebagian atau greenstick merupakan patah tulang
yang tidak terlalu serius, hanya berupa retak tulang.
d) Fuktura berganda
Fuktura berganda atau comminuted merupakan patah
tulang pada beberapa tempat yang terjadi pada satu tulang.
22
2) Gangguang pada persendian
a) Dislokasi
Dislokasi merupakan gangguan persendian yang
menyebabkan sendi tergeser dari kedudukan semula. Dislokasi
terjadi karena ligament atau jaringan penggantungan rusak/
sobek.
b) Keseleo
Keseleo atau terkilir merupakan gangguan persendian yang
terjadi akibat gerakan mendadak yang tidak bias dilakukan.
Gerakan ini menyebabkan ligament tertarik, tetapi tidak
menyebabkan bergesernya posisi persendian.
c) Ankilosis
Ankilosis merupakan gangguan persendian yang
mengakibatkan tulang tidak dapat digerakkan lagi.
3) Gangguan pada otot
Menurut Susilowarno (2007), ada beberapa gangguan pada
otot yaitu :
a) Kram yaitu dimana otot mengalami ransangan terus menerus
sehingga mengalami ketegangan.
b) Tetanus yaitu penyakit yang terjadi disebabkan oleh infeksi
bakteri Clostridium tetani.
c) Miastenia grafis merupakan apabila saraf mengalami kelumpuha,
otot tidak berkontraksi, akibatnya, lama-kelamaan menjadi kecil
(atrofi otot).
23
4. Hasil belajar
Hasil belajar adalah perubahan – perubahan yang terjadi pada
diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan
psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Hasil belajar dapat
diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi
pelajaran di sekolah dinyatakan dalam skor yang di peroleh dari hasil
tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu (Istifar,2016).
Menurut Susanto (2014), menyatakan bahwa seecara sederhana
yang dimaksud hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak
setelah melalui kegiatan belajar. Anak yang berhasil dalam belajar
adalah yang mencapai tujuan – tujuan pembelajaran atau tujuan
instruksional.
Sedangkan menurut Arikunto (2006), hasil belajar merupakan
hasil yang dicapai seseorang setelah melaksanakan kegiatan belajar
dan merupakan penilaian terhadap siswa untuk mengetahui sejauh
mana bahan pelajaran atau materi yang diajarkan dapat dikuasai oleh
siswa.
Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli tersebut, peneliti
menyimpulkan pengertian hasil belajar merupakan perubahan pada diri
siswa yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor yang
tergambar dari skor yang diperoleh dari kegiatan belajar. Penelitian ini,
hasil belajar yang diamati difokuskan pada ranah kognitif pada kata
kerja operasional “menyebutkan”, “menjelaskan”, dan “menentukan”.
24
Purwanto (2008: 91-93) secara umum menjelaskan jenis hasil
belajar atau taksonomi tujuan pendidikan dapat dibedakan menjadi tiga
kelompok, yaitu (a) ranah kognitif, (b) ranah psikomotor, dan (c) ranah
afektif. Secara rinci, uraian masing-masing ranah tersebut ialah:
a. Ranah kognitif, yakni tujuan pendidikan yang sifatnya menambah
pengetahuan atau hasil belajar yang berupa pengetahuan.
b. Ranah psikomotor, yakni hasil belajar atau tujuan yang
berhubungan dengan keterampilan atau keaktifan fisik (motor
skills).
c. Ranah afektif, yakni hasil belajar atau kemampuan yang
berhubungan dengan sikap atau afektif.
5. Hasil penelitian yang relevan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dita Ayu Tria
Maharani (2013), menunjukkan bahwa penggunaan model
pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan media Teka –
Teki Silang (TTS) terhadap hasil belajar IPA biologi materi ekosistem
pada siswa kelas VII B SMP Al Islam Ngemplak Boyolali tahun ajaran
2012/2013 hasil yang diperoleh dapat dikategorikan meningkat.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Paskarada
Nini (2016), menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran
Teams Games Tournament (TGT) dengan media Teka – Teki Silang
(TTS) terhadap hasil belajar Submateri Plantae Kelas VII SMPN 3
25
Sungai Raya sangat berpengaruh dan di peroleh hasil belajar yang
dapat dikategorikan meningkat.
Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Meri Rahmida
(2011), menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran Teams
Games Tournament (TGT) terhadap hasil belajar siswa pada materi
Sistem gerak pada manusia Kelas VIII SMPN 1 Banua Lawas
diperoleh hasil belajar yang meningkat dan peneliti menyarankan
menggunakan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)
dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan mutu
pembelajaran.
B. Kerangka Pikir
Biologi adalah mata pelajaran yang dalam teorinya mengharuskan
siswa untuk menggunakan kemampuannya dalam menganalisis masalah yang
di dapatkan dari lingkungan sekitar utamanya pada materi tentang pencemaran
lingkungan. Namun dalam pelaksanaannya ketika pembelajaran di kelas
berlangsung, siswa jarang menggunakan kemampuan analisisnya dalam
menghadapi masalah yang ada. Pembelajaran di kelas dikatakan berhasil jika
mencapai kompetensi yang diharapkan. Tujuan pendidikan agar dapat tercapai
maka diperlukan berbagai macam faktor yang mendukung yaitu guru, siswa,
kurikulum, media, model, strategi pembelajaran, lingkungan sekolah dan lain-
lain.
Pembelajaran biologi di sekolah menengah atas, umumnya masih
menerapkan metode pembelajaran ceramah di kelas. Model pembelajaran
26
yang diterapkan pada pembelajaran biologi pun masih sangat terbatas.
Pembelajaran biologi seharusnya mampu menjadikan siswa mampu
menggunakan kemampuan analisisnya ketika tengah dihadapkan dalam
masalah di sekitarnya yang terkait dalam ruang lingkup biologi itu sendiri.
Salah satu model pembelajaran diduga dapat merangsang aktivitas
belajar siswa dalam mengembangkan pengetahuan tersebut sehingga
meningkatkan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran Teams Games
Tournament (TGT) salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang mudah
diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan
status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur
permainan sehingga membuat proses pembelajaran lebih menarik dan dapat
di nilai dapat meningkatkan hasil pembelajaran.
Masalah
Hasil belajar siswa dalam pembelajaran biologi rendah
guru menggunakan metode pembelajaran konvensional
yang mengandalkan metode ceramah di depan kelas
Penerapan
Penerapan model
model pembelajaran
pembelajaran
Kelas eksperimen Kelas kontrol
(Menggunakan model Teams Games (Menggunakan model konvensional)
Tournament (TGT)
Hasil belajar siswa
Apakah dengan penerapan model Teams Games
Tournament (TGT) mempengaruhi hasil belajar siswa
27
C. Hipotesis penelitian
Ha: Ada pengaruh metode pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)
dengan media teka-teki silang (TTS) terhadap hasil belajar Biologi materi
ekosistem pada siswa kelas X SMAN 9 Makassar.
H0: Tidak ada pengaruh metode pembelajaran Teams Games Tournament
(TGT) dengan media teka-teki silang (TTS) terhadap hasil belajar Biologi
materi ekosistem pada siswa kelas X SMAN 9 Makassar.
28
.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan
metode eksperimen yaitu metode penelitian yang digunakan untuk mencari
pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang
terkendali. Bentuk desain dalam penelitian ini adalah quasi experimental yaitu
suatu desain eksperimen yang memungkinkan peneliti mengendalikan variabel
sebanyak mungkin dari situasi yang ada karena tidak memungkinkan
mengontrol variabel dengan penuh. Kelas kontrol dan kelas eksperimen dalam
penelitian quasi eksperimental tidak dipilih secara acak, tetapi menggunakan
seluruh subjek dalam kelompok (kelas) secara utuh.
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel penelitian yaitu variabel
bebas (variabel independen) dan variabel terikat (variabel dependen).
Penjelasan lebih lanjut akan dijabarkan pada point-point berikut ini.
1. Varibel Bebas
Variabel bebas yang terdapat dalam penelitian ini adalah model
pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) yang diberikan kepada
kelas eksperimen. Pemberian pembelajaran dengan model pembelajaran
Teams Games Tournament (TGT) inilah yang akan menjadi sumber
penyebab terpengaruhnya variabel terikat.
28
29
2. Variabel Terikat
Hasil dari pengaruh yang diberikan oleh variabel bebas akan terlihat
dengan adanya perubahan dari variabel terikat. Dalam hal ini yang
menjadi variabel terikat adalah hasil belajar siswa pada materi ekosistem.
B. Lokasi Penelitian dan waktu
1. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian di rencanakan akan dilaksanakan di SMA Negeri
9 Makassar Kecamatan Rappocini kota Makassar pada kelas X.
2. Waktu penelitian
Penelitian ini akan dilaksnakan selama ± 2 bulan bulan Agustus-
Oktober semester ganjil tahun ajaran 2019/2020.
C. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 9
Makassar sedangkan populasi target pada penelitian adalah seluruh siswa
kelas XI SMA Negeri 9 Makassar.
2. Sampel
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah random
sampling. Teknik random sampling memungkinkan peneliti dapat
mengambil sampel secara objektif karena setiap unit yang menjadi anggota
populasi mempunyai kesenpatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel.
Teknik pengambilan sampling yang digunakan dengan cara undian.
30
Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah dari beberapa
kelas yang terpilih sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu kelas
XI A dan kelas XI B.
D. Definisi operasional variabel
a. Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe pembelajaran
kooperatif, model ini menggunakan pelajaran yang sama yang
disampaikan guru dan tim kerja yang sama seperti dalam STAD, tetapi
menggantikan kuis dengan turnamen mingguan, dimana siswa memainkan
game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbang poin dengan
skor timnya (Waluyo, 2014).
b. Teka – Teki Silang merupakan sebuah media permainan yang dimainkan
dengan cara mengisi ruang – ruang kosong yang berbentuk kotak dengan
huruf – huruf, sehingga membentuk sebuah kata sesuai dengan petunjuk
yang ada (Furwanto, 2017).
c. Hasil belajar kognitif merupakan hasil belajar yang lebih berkenaan
dengan kemampuan individul mengenai pemahaman, mengingat,
pengaplikasian, dan pengevaluasian siswa pada materi yang dipelajarinya
(Huraidah, 2018).
E. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes
merupakan sejumlah soal yang dibuat penulis sesuai kurikulum dan indikator
yang ingin dicapai dalam suatu pembelajaran yang digunakan sebagai latihan
31
kepada siswa dan dijadikan sebagai data tulis, soal tes yang diberikan kepada
siswa berjumlah 25 butir.
F. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pelakanaan pengumpulan data, yang lazim dipakai dalam
penulian ilmiah yaitu field Research (penelitian lapangan). Penelitian
lapangan yaitu metode yang di gunakan dalam mengumpulkan data dengan
jalan mengadakan penelitian langsung dilapangan terhadap masalah
penelitian, dalam hal ini digunakan tehnik sebagai berikut:
a. Observasi, yaitu peneliti mengadakan studi awal sebelum penelitian di
lakukan secara resmi, artinya penelitian mengadakan pengamatan terlebih
dahulu dengan hal- hal yang akan di angkat dalam penyajian Kompetensi
Guru dan Pengaruhnya Terhadap minat belajar siswa dan kreativitas
berpikir siswa.
b. Wawancara, yaitucara mengumpulkan data melalui tanya jawab sepihak
yang dilaksankan secara sistemtais dan berlandaskan pada tujuan
penyelidikan. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data
apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan
permasalahan yang harus diteliti, dan juga jika peneliti ingin mengetahui
hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya
sedikit atau kecil.
c. Dokumentasi, yaitu peneliti mengumpulkan data–data yang telah ada
seperti dokumen-dokumen tertulis dalam hubunganya dengan data yang di
butuhkan dalam penelitian ini.
I. Teknik Analisis Data
32
a. Nilai Hasil Belajar Secara Individual
Untuk menghitung nilai hasil belajar siswa ranah kognitif secara
individu dengan rumus sebagai berikut.
𝑅
NP = 𝑀x 100
Keterangan:
NP = nilai pengetahuan
R = skor yang diperoleh/item yang dijawab benar
SM = skor maksimum
100 = bilangan tetap (Sumber dari Purwanto,2008: 102)
b. Nilai Rata-rata Hasil Belajar Siswa
Untuk menghitung nilai rata-rata seluruh siswa dapat dihitung
dengan rumus:
𝚺𝐗
x=𝚺𝐍
Keterangan:
x = nilai rata-rata seluruh siswa
ΣX = total nilai yang diperoleh siswa
ΣN = jumlah siswa (Sumber: Aqib,dkk., 2010: 40)
c. Presentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Secara Klasikal
Menghitung presentase ketuntasan hasil belajar siswa secara
klasikal dapat digunakan rumus berikut.
𝜮 𝒔𝒊𝒔𝒘𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒖𝒏𝒕𝒂𝒔 𝒃𝒆𝒍𝒂𝒋𝒂𝒓
P= 𝜮 𝒔𝒊𝒔𝒘𝒂
(Sumber: Aqib, dkk., 2010:41)
Tabel Presentase ketuntasan hasil belajar siswa
33
No Persentase Kriteria
1 >85% Sangat tinggi
2 65-84% Tinggi
3 45-64% Sedang
4 4. 25-44% Rendah
5 < 24% Sangat rendah
(Sumber: Aqib, dkk., 2010: 41)
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi
Aksara.
Anita, Sisilia Aqib. 2014. Penggunaan Media Teka – Teki Silang (TTS) Untuk
Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Swasta
Karanu Waikabubak Sumba Barat Pada Materi Invertebrata.
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Aqib, Zainal, dkk. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung. Yrama Widya.
Artikel Nia Hidayati November 13, 2009 at 12:31 [Link]
teka-teki-silang-sebagaipenambah-wawasan-dan-mengasah
[Link] di akses 30 April 2019.
Darmadi,2018. Asiknya Belajar Sambil Bermain. Guepedia. Lampung
Diah, Aryulina. Dkk.2006. Biologi 2 SMA dan MA untuk kelas XI. Erlangga.
Jakarta.
Fourwanto, Agung. [Link] Media Teka – Teki Silang Biologi
untuk Memberdayakan Keterampilan Berpikir Kreatif Peserta Didik Di
SMP Negeri 9 Bandar Lampung. Universitas Islam Negeri Raden Intan
Lampung.
Huraidah, Dkk.2018. Keberadaan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dalam
Mendorong Sinergitas Kontribusi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam
(PTKIS) Menuju Generasi Indonesia Emas 2045. Indragiri Journal.
Istifar Rina Noni, 2016. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Teams Games Tournament (TGT) Berbantu Media Roda Putar untuk
Meningkatkan Aktivitas Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI Akuntansi 1
SMK Negeri 1 Tempel Tahun Ajaran 2015/2016. Universitas Negeri
Yogyakarta.
Purwanto, N. 2008. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Remaja
Rosdakarya. Bandung.
Susilowarno, Gunawan. Dkk.2006. Biologi SMA/MA Kelas XI. Grafindo Media
Pratama. Bandung.
34
35
Sudjadji, Bagod & Siti Laila.2007. Biologi Sains dalam Kehidupan SMA Kelas
XI. [Link].
Sukardjo, J.S. Dkk. 2014. Efektivitas Model Pembelajaran Teams Games
Tournament (TGT) Disertai Media Teka Teki Silang Terhadap Prestasi
Belajar pada Materi Minyak Bumi Siswa Kelas X SMA Negeri 3
Sukoharjo Tahun Pelajaran 2012/2013. Jurnal Pendidikan Kimia
(JPK), Vol. 3 No. 2 Tahun 2014.
Susanto, Ahmad. 2014. Teori belajar dan pembelajaran di sekolah dasar.
Prenadamedia Group. Jakarta.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta.
Bandung.
Waluyo, [Link]. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Teams Games
Tournament (TGT) Dengan Permainan Teka Teki Silang (TTS) untuk
Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi (Pokok Bahasan
Ekosistem Di SMP Negeri 14 Jember Tahun Pelajaran 2012/2013).
Pancaran, Vol. 3, No. 1, Hal 27-36, Februari 2014
Winastawan, Gora. Dkk. 2010. Pakematik (Strategi Pembelajaran Inovatif
Berbasis TIK). PT. Elex Media Komputindo. Jakarta