0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
350 tayangan131 halaman

Pengaruh Cote Scale pada Kidcote Skizofrenia

Dokumen ini membahas latar belakang masalah pengaruh terapi kelompok problem solving terhadap kemampuan sosialisasi pasien skizofrenia. Terapi kelompok problem solving diberikan kepada pasien skizofrenia untuk membantu meningkatkan kemampuan sosialisasi yang menurun akibat penyakit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh terapi tersebut terhadap kemampuan sosialisasi pasien skizofrenia.

Diunggah oleh

hfd
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
350 tayangan131 halaman

Pengaruh Cote Scale pada Kidcote Skizofrenia

Dokumen ini membahas latar belakang masalah pengaruh terapi kelompok problem solving terhadap kemampuan sosialisasi pasien skizofrenia. Terapi kelompok problem solving diberikan kepada pasien skizofrenia untuk membantu meningkatkan kemampuan sosialisasi yang menurun akibat penyakit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh terapi tersebut terhadap kemampuan sosialisasi pasien skizofrenia.

Diunggah oleh

hfd
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kesehatan menurut World Health Organization (1975) merupakan

keadaan yang meliputi sehat fisik, mental, sosial, dan bukan saja keadaan

yang bebas dari sakit, cacat, dan kelemahan. Sedangkan Kementerian

Kesehatan Indonesia (2015) mendefinisikan kesehatan jiwa merupakan

perasaan sehat dan bahagia serta kemampuan individu dalam mengatasi

tantangan hidup, sehingga dapat menerima orang lain sebagaimana

adanya, mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan lingkungan.

Dalam Undang-Undang Kesehatan Jiwa No. 18 Tahun 2014, kesehatan

jiwa merupakan suatu kondisi mental yang sejahtera sehingga

memungkinkan suatu individu dapat hidup harmonis dan produktif,

sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup seseorang. Gangguan

kejiwaan atau Skizofrenia merupakan suatu gangguan psikotik fungsional

berupa gangguan mental berulang yang ditandai dengan gejala-gejala

psikotik yang khas seperti kecemasan berlebihan, depresi, halusinasi, dan

keadaan yang menyebabkan kemunduran fungsi sosial, fungsi

produktivitas, dan fungsi perawatan diri (Supari, 2005).

Seseorang dengan gangguan kejiwaan akan mengalami gangguan

dalam pikiran, perilaku, perasaan yang termanifestasi dalam bentuk

sekumpulan gejala atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat


2

menimbulkan penderitaan, dan hambatan dalam menjalankan fungsinya

sebagai manusia, termasuk menurunnya fungsi sosialisasi terhadap

lingkungan sekitar (Kemenkes, 2015).

Manusia mempunyai kemampuan beradaptasi sebagai bentuk awal

proses sosialisasi dengan lingkungan. Hal tersebut bertujuan agar

individu dapat menjalani aktivitas sehari-hari, baik dalam melibatkan diri

sendiri, orang lain maupun lingkup masyarakat pada skala besar

(Maramis, 2009). Sosialisasi merupakan bentuk komunikasi terhadap

situasi yang terjadi di dalam lingkungan. Hal tersebut dapat distimulasi

dengan memberikan kesempatan bagi individu untuk bekerjasama pada

sebuah kelompok terstruktur yang bertujuan meningkatkan kemampuan

sosialisasi (Reed, 2001). Namun, perlu diketahui juga bahwa tingkat

kemampuan sosialisasi setiap individu sangat berbeda-beda. Bagi

individu yang tidak mampu menyesuaikan diri untuk bersosialisasi

dengan lingkungan, maka individu tersebut memungkinkan akan

mengalami tekanan, yang jika dibiarkan berlarut-larut dapat menjadi

faktor mencetus terjadinya masalah psikososial maupun gangguan

kejiwaan (Bruce, 2002).

Salah satu tanda dan gejala dari seseorang yang mengalami

gangguan kejiwaan atau Skizofrenia adalah terjadinya kemunduran

dalam hal sosialisasi dengan lingkungan. Kemunduran dalam hal

sosialisasi dengan lingkungan sosial tersebut terjadi apabila individu

mengalami ketidakmampuan atau kegagalan dalam menyesuaikan diri


3

terhadap hal-hal yang ada di sekitarnya. Individu tersebut tidak mampu

berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, sehinga

menimbulkan gangguan yang mengakibatkan terjadinya perilaku

maladaptif (Morgan, 2006).

Dobson (2005) menyatakan bahwa penderita Skizofrenia sering

memunculkan gejala-gejala negatif sehingga mengalami masalah yang

terlihat dari manifestasi klinisnya. Salah satu masalah yang terlihat

adalah penderita akan mengalami penurunan dalam hal kemampuan

pemecahan masalah (problem solving) disebabkan oleh inisiasi yang

rendah. Problem Solving juga mempengaruhi kemampuan inisiasi

sosialisasi seseorang, sebab pemecahan masalah merupakan suatu

kemampuan pada individu yang menjadi alur pemikiran dari

penyelesaian masalah yang terjadi dalam hidup, sehingga kemampuan

problem solving individu tidak baik, maka hal tersebut dapat menjadi

masalah. Seseorang dengan masalah Skizofrenia, kemampuan

pemecahan masalah (problem solving) semakin lama semakin menurun.

Dengan adanya pemberian intervensi dalam bentuk terapi kelompok

(group therapy), hal tersebut dapat menjadi pengobatan penderita dalam

memperbaiki dan meningkatkan problem solving yang juga

mempengaruhi fungsi sosialisasi terhadap lingkungan sosial.

Menurut data World Health Organization tahun 2016 terdapat

sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21

juta terkena Skizofrenia, serta 47,5 juta lainnya terkena demensia. Di


4

Indonesia, berbagai faktor biologis, psikologis, dan sosial dengan

keanekaragaman penduduk, maka jumlah kasus gangguan jiwa terus

bertambah, hal tersebut berdampak pada penambahan beban negara dan

penurunan produktivitas manusia untuk jangka waktu panjang. Data

Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi ganggunan mental emosional

yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia

15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6 % dari jumlah

penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti

Skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000

penduduk (Kemenkes, 2016).

Dari data Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta

(2017) menunjukkan bahwa, penderita gangguan kejiwaan yang sedang

dirawat saat ini mengalami berbagai macam kondisi gangguan mental

dan didiagnosis mengalami gangguan kejiwaan (Skizofrenia) dengan tipe

Skizofrenia tak terinci. Dari pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa

Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta, gangguan activity daily living dan

produktifitas adalah tipe gangguan yang paling banyak di dalam

lingkungan perawatan rumah sakit. Sehingga untuk mengembalikan

kondisi penderita agar mampu berperan kembali dalam lingkungan

sosialnya, hal tersebut perlu penanganan tim rehabilitasi medis yang

diberikan, salah satunya adalah penanganan yang dilakukan okupasi

terapis. Banyak program-program terapi okupasi di Unit Rumah Sakit

Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta yang diberikan untuk penderita
5

Skizofrenia, mulai dari terapi aktivitas bertujuan, terapi interaksi sosial,

terapi relaksasi, terapi asertif, hingga terapi kelompok pemecahan

masalah (problem solving).

Terapi kelompok problem solving diberikan kepada penderita

Skizofrenia sebagai bentuk proses rehabilitasi agar penderita dapat

kembali produktif dalam lingkungan. Sebab dengan pemberian terapi

kelompok problem solving, individu akan mengedukasi kembali dirinya

dalam inisiasi belajar pada kemampuan sosialisasi dengan orang lain.

Pemberian intervensi terapi kelompok problem solving diharapkan

menjadikan kemampuan pasien dalam hal sosialisasi yang menurun

akibat penyakitnya, dapat kembali menuju arah perbaikan secara

fungsional.

Penelitian yang dilakukan oleh Haruna (2014) tentang Pengaruh

Terapi Kelompok (Group Therapy) Terhadap Kemampuan Sosialisasi

Pasien Skizofrenia menyebutkan bahwa, terapi kelompok sangat

berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan penderita Skizofrenia

terhadap permasalahan di dalam lingkungan sosialnya. Terapi kelompok

juga sebagai cara untuk memfasilitasi penderita dalam membina

hubungan sosial yang bertujuan, sehingga menolong penderita dalam

berhubungan dengan orang lain. Penelitian lain terbaru yang relevan

dilakukan oleh Maulidah (2015) tentang Pengaruh Terapi Kelompok

Terhadap Kemampuan Sosialisasi Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit

Jiwa Menur Surabaya. Hasil penelitian menyebutkan bahwa terdapat


6

pengaruh dari intervensi terapi kelompok terhadap kemampuan

bersosialisasi pasien Skizofrenia. Hasil yang didapatkan, penderita

Skizofrenia yang diberikan aktivitas terapi kelompok secara berkala,

maka kemampuan bersosialisasinya terus menunjukkan pada perbaikan

yang signifikan.

Sehingga hal tersebut membuat peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian terbaru terkait masalah ini dan akan dibahas secara mendetail

pada bab-bab selanjutnya dengan judul penelitian “Pengaruh Terapi

Kelompok Problem Solving Terhadap Kemampuan Sosialisasi Pasien

Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta”.

B. Pembatasan Masalah

Batasan masalah pada penelitian ini adalah pengaruh terapi

kelompok problem solving terhadap kemampuan sosialisasi pasien

Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta.

C. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Adakah

pengaruh terapi kelompok problem solving terhadap kemampuan

sosialisasi pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif

Zainudin Surakarta?”.
7

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu tujuan umum dan

tujuan khusus:

1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui

pengaruh terapi kelompok problem solving terhadap kemampuan

sosialisasi pasien Skizofrenia.

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus pada penelitian ini adalah:

a. Mengidentifiasi karakteristik responden berdasarkan jenis

kelamin, usia, riwayat pendidikan dan diagnosis medis.

b. Untuk mengetahui nilai sebelum dan sesudah pemberian terapi

kelompok problem solving.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

a. Hasil dari penelitian ini dapat menambah wawasan dan

pengetahuan mengenai ada tidaknya pengaruh terapi kelompok

problem solving terhadap kemampuan sosialisasi penderita

Skizofrenia.

b. Sebagai acuan untuk perkembangan penelitian selanjutnya.


8

2. Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar Evidence Based

Practice (EBP) dalam pemberian pelayanan terapi okupasi pada

kasus Skizofrenia.

b. Dapat diterapkan oleh praktisi okupasi terapi untuk

mengembangkan perbaikan pelayanan terapi pada kasus

Skizofrenia.
9

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Skizofrenia

1. Definisi

Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu “skizo” yang artinya

retak atau pecah (split), dan “frenia” yang artinya jiwa. Dengan

demikian seseorang yang menderita gangguan jiwa (Skizofrenia)

adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan

kepribadian (splitting of personality) (Hawari, 2009). Menurut Maslim

(2001) Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindrom dengan variasi

penyebab (banyak atau belum diketahui) secara luas, serta sejumlah

akibat yang tergantung imbangnya pengaruh genetik, fisik, sosial, dan

budaya yang mana pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang

fundamental karakteristik dari pikiran, serta oleh efek yang tidak

wajar (in appropriate), kemampuan intelektual yang biasanya tetap

dipelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang

kemudian. Sedangkan Setiadi (2016) mendeskripsikan bahwa

Skizofrenia merupakan suatu penyakit yang menimbulkan gangguan

bagi individu, sehingga menyebabkan penderita mengalami kesulitan

dalam produktivitas (belajar dan bekerja) serta kemampuan sosialisasi

(menjalin hubungan dan komunikasi) dengan orang lain.

Dapat disimpulkan bahwa Skizofrenia merupakan suatu kondisi

jiwa seseorang yang mengalami permasalahan dengan


10

kepribadiannya, yang menyebabkan penderita mengalami kemunduran

dalam berbagai macam aktivitas sehari-harinya. Hal tersebut dapat

menimbulkan hambatan atau permasalahan yang menjadikan

penderita kesulitan dalam fungsi produktivitas, fungsi perawatan diri

hingga fungsi sosial seperti bersosialisasi dengan lingkungannya.

2. Etiologi

Hawari (2009) menyebutkan bahwa belum ditemukan etiologi

yang pasti mengenai Skizofrenia. Namun ada hasil dari beberapa

penelitian yang dilaporkan saat ini terkait etiologi seseorang yang

mengalami Skizofrenia yaitu:

a. Biologi

Tidak ada gangguan fungsional dan struktur secara

patognomonik (pasti dan jelas) yang ditemukan pada penderita

Skizofrenia. Meskipun demikian, beberapa gangguan organik

dapat terlihat pada subpopulasi penderita. Gangguan yang paling

banyak dijumpai yaitu pelebaran ventrikel tiga dan lateral yang

stabil kadang-kadang sudah terlihat sebelum awitan penyakit.

Terjadi atropi bilateral lobus temporal medial, dan lebih

spesifik yaitu girus parahipokampus, hipokampus, dan

amigdala, disorientasi spasial sel piramid hipokampus, dan

penurunan volume korteks pre-frontal dorsolateral. Beberapa

penelitian melaporkan bahwa semua perubahan ini tampak statis

dan telah dibawa sejak lahir. Pada beberapa kasus perjalanannya


11

sangat progresif. Lokasinya menunjukkan gangguan perilaku

yang ditemui pada Skizofrenia misalnya, gangguan hipokampus

dikaitkan dengan impairmen memori dan atropi lobus frontalis

dihubungkan dengan gejala negatif Skizofrenia.

b. Biokimia

Etiologi biokimia belum diketahui. Hipotesis yang paling

banyak yaitu, adanya gangguan neurotransmitter sentral,

sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan aktivitas

dopamin sentral (hipotesis dopamine). Ada beberapa

neurotransmitter yang diduga berpengaruh terhadap timbulnya

Skizofrenia. Dua di antaranya yang paling jelas adalah

neurotransmitter dopamin dan serotonin. Berdasarkan

penelitian, seseorang dengan Skizofrenia ditemukan dalam

otaknya ada aktivitas berlebihan dari dopamin atau peningkatan

jumlah hipersensitivitas reseptor dopamin. Peningkatan kadar

dopamin ini ternyata mempengaruhi fungsi kognitif (alam fikir),

afektif (alam perasaan), dan psikomotor (perilaku) yang

menjelma dalam bentuk gejala-gejala positif maupun negatif

Skizofrenia.

c. Genetika

Skizofrenia memiliki komponen yang diturunkan secara

bermakna, kompleks, dan poligen. Sesuai dengan penelitian

hubungan darah, Skizofrenia adalah gangguan yang bersifat


12

keluarga. Semakin dekat hubungan kekerabatan, semakin tinggi

risiko. Pada penelitian anak kembar, kembar monozigot

mempunyai risiko 4 sampai 6 kali lebih sering menjadi sakit

dibandingkan dengan kembar dizigot. Pada penelitian adopsi,

anak yang mempunyai orangtua Skizofrenia diadopsi, waktu

lahir, oleh keluarga normal, peningkatan angka sakitnya sama

dengan bila anak-anak tersebut diasuh sendiri oleh orangtua

yang Skizofrenia.

Tabel. 2.1 Risiko Terjadinya Skizofrenia Selama Kehidupan

Rincian Prevalensi
Populasi umum 1%
Kembar monozigot* 40 % - 50 %
Kembar dizigot 10 %
Saudara kandung Skizofrenia 10 %
Orangtua 5%
Anak dari salah satu orangtua Skizofrenia 10 % - 15 %
Anak dari kedua orangtua Skizofrenia 30 % - 40 %
Sumber : Skizofrenia 3th Ed. (Hawari, 2009).

Keterangan :

Tanda* pada tabel menyatakan bahwa kembar

monozigot tidak keduanya menderita Skizofrenia, sehingga

jelaslah bahwa faktor lingkungan juga memegang peranan.

Terjadinya penyakit merefleksikan adanya faktor bawaan dan

pengasuhan.

d. Faktor Keluarga

Kekacauan dan dinamika keluarga memegang peranan

penting dalam menimbulkan kekambuhan dan mempertahankan

remisi. Penderita Skizofrenia yang pulang ke rumah sering


13

relaps pada tahun berikutnya, bila dibandingkan dengan

penderita yang ditempatkan di panti penitipan. Penderita yang

berisiko terjadinya relaps dikarenakan penderita tinggal bersama

keluarga yang hostil (memperlihatkan kecemasan yang

berlebihan, sangat protektif kepada penderita, terlalu ikut

campur, dan sangat pengkritik).

e. Proses Psikososial dan Lingkungan

Stresor psikososial dalam setiap keadaan atau peristiwa

yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang

sehingga orang tersebut terpaksa mengadakan penyesuaian diri

(adaptasi) untuk menanggulangi stresor yang timbul. Namun

tidak semua orang mampu melakukan adaptasi sehingga

timbulah keluhan kejiwaan. Stresor psikososial dapat

digolongkan sebagai berikut:

1). Perkawinan

Permasalahan perkawinan menjadi sumber stres bagi

seseorang misalnya, pertengkaran, perceraian, dan kematian

salah satu pasangan.

2). Problem Orangtua

Permasalahan yang dihadapi orangtua misalnya, tidak

memiliki anak, kebanyakan anak, kenakalan anak, anak sakit,

dan hubungan yang tidak baik antara anggota keluarga.

Permasalahan tersebut di atas bila tidak dapat diatasi oleh


14

yang bersangkutan maka seseorang akan mengalami

permasalahan pada kejiwaan.

3). Hubungan Interpersonal

Adanya konflik antarpribadi merupakan sumber stres

bagi seseorang yang bila tidak dapat diperbaiki maka

seseorang akan mengalami permasalahan pada kejiwaan.

4). Pekerjaan

Stres pekerjaan misalnya, seseorang yang kehilangan

pekerjaan, pensiun, pekerjaan yang terlalu banyak, pekerjaan

tidak cocok, mutasi, dan jabatan.

5). Lingkungan Hidup

Kondisi lingkungan sosial di mana seseorang itu hidup.

Stresor lingkungan hidup antara lain: masalah perumahan,

pindah tempat tinggal, penggusuran, dan hidup dalam

lingkungan yang rawan kriminalitas. Rasa tidak aman dan

tidak terlindungi membuat jiwa seseorang tercekam sehingga

mengganggu ketenangan dan ketentraman hidup yang lama-

kelamaan daya tahan tubuh seseorang akan turun dan pada

akhirnya akan mengalami permasalahan pada kejiwaan.

6). Keuangan

Kondisi sosial ekonomi yang tidak sehat misalnya,

pendapatan jauh lebih rendah daripada pengeluaran, terlibat


15

hutang, kebangkrutan usaha, warisan, dan lain sebagainya

merupakan sumber stres.

7). Hukum

Keterlibatan seseorang terhadap hukum menjadi

sumber stres bagi seseorang yang membawanya pada

permasalahan kejiwaan karena beban hukum.

8). Perkembangan

Perkembangan fisik dan perkembangan mental dari

individu. Kondisi setiap perubahan fase perkembangan tidak

selamanya dapat dilampaui dengan baik, jadi hal tersebut

dapat menjadi sumber stres.

9). Penyakit Fisik atau Cidera

Penyakit dapat menjadi sumber stres yang dapat

mempengaruhi kondisi kejiwaan seseorang terutama penyakit

kronis.

10). Faktor Keluarga

Sumber stres bagi anak remaja yaitu hubungan kedua

orangtua yang kurang baik, orangtua yang jarang berada di

rumah, komunikasi antara anak dengan orangtua tidak baik,

perceraian kedua orangtua, salah satu orangtua menderita

gangguan kejiwaan, dan orangtua yang pemarah.


16

11). Sosioekonomi dan Faktor Kebudayaan

Prevalensi Skizofrenia lebih tinggi pada kelompok

dengan sosioekonomi rendah dengan anak dari imigran

generasi pertama (Hawari, 2009).

3. Klasifikasi

Dalam American Psychiatric Association (2000) menyebutkan

bahwa kemungkinan akan menghapus subtipe Skizofrenia yang

terdapat di DSM-IV TR seperti paranoid, disorganisasi, katatonik, dan

yang tidak tergolongkan.

a. Skizofrenia

Tidak adanya subtipe Skizofrenia. Selain itu gejala

Skizofrenia dijelaskan lebih detail. Penghapusan kriteria bahwa

satu gejala harus ada halusinasi, delusi atau pembicaraan yang

diorganisasi dan penghapusan syarat bahwa hanya satu gejala

yang ditampilkan jika delusi maka itu adalah delusi bizarre.

b. Gangguan Skizoafektif

Adanya delusi atau halusinasi sedikitnya 2 minggu dari

kriteria gangguan mood dan gejala dari episode mood mayor

hadir sedikitnya 305 dari durasi perjalanan penyakit.

c. Gangguan Delusi

Tidak ada perubahan dalam DSM-IV.

d. Ganguan Skizofreniform

Tidak ada perubahan dalam DSM-IV.


17

Sedangkan untuk klasifikasi pada jenis Skizofrenia menurut yang

didefinisikan oleh Maslim (2001) ada:

a. Skizofrenia Paranoid (F 20.0)

b. Skizofrenia Hebefrenik (F 20.1)

c. Skizofrenia Tak Terinci (F 20.3)

d. Depresi Pasca Skizofrenia (F 20.4)

e. Skizofrenia Residual (F 20.5)

f. Skizofrenia Simpleks (F 20.6)

g. Skizofrenia YTT atau Yang Tidak Tergolongkan (F 20.8).

4. Kriteria Diagnosis

Menurut Maslim (2001) Skizofrenia memiliki kriteria umum

diagnosis skizofenia. Halusinasi atau waham harus menonjol:

a. Suara-suara halusinasi yang mengancam atau memberi perintah,

atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa siulan

(whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa

(laughing).

b. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat

seksual, atau lain-lain perasaan tubuh: halusinasi pengelihatan

mungkin ada tetapi jarang menonjol.

c. Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham

dikendalikan, dipengaruhi, dan keyakinan dikejar-kejar yang

beraneka ragam adalah yang paling khas.


18

d. Gangguan afektif, dorongan kehendak, dan pembicaraan, serta

gejala katatonik secara relatif tidak nyata atau tidak menonjol.

5. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis pada Skizofrenia yang paling sering muncul

adalah:

a. Delusi atau waham.

b. Halusinasi auditori yang mengancam atau memberi perintah,

atau halusinasi auditori tanpa kata-kata, seperti siulan,

gumaman, atau tertawa.

c. Halusinasi pembauan atau pengecapan, seksual atau sensasi

tubuh: halusinasi visual dapat terjadi tetapi sangat jarang

ditemui.

Gangguan pikir dapat terlihat jelas pada fase akut, tetapi tidak

mencegah delusi dan halusinasi untuk muncul. Afek pada penderita

Skizofrenia biasanya tumpul, kurangnya inkongruensi (ketidak

sesuaian) biasa terjadi, seperti gangguan mood, cepat marah,

ketakutan, dan curiga (WHO, 2007).

Sedangkan Hawari (2012) menyatakan bahwa gejala-gejala

yang sering ditunjukkan oleh penderita Skizofrenia terdari dari gejala

positif dan negatif.


19

Adapun gejala positif yang sering ditunjukkan penderita, yaitu:

a. Kekacauan alam pikir adalah keadaan di mana penderita

Skizofrenia saat berbicara menunjukkan isi pembicaraan yang

kacau.

b. Halusinasi yang sering terjadi pada Skizofrenia biasanya berupa

halusinasi pendengaran (audiotori).

c. Waham adalah keyakinan dari sebuah persepsi yang salah (tidak

rasional) dan sangat diyakini oleh penderita.

d. Mengalami masalah dalam proses berpikir

Pikiran penderita Skizofrenia penuh dengan kecurigaan, seakan

merasa ada ancaman terhadap dirinya dan menyimpan rasa

permusuhan.

Sedangkan gejala negatif yang sering ditunjukkan penderita

Skizofrenia, yaitu:

a. Afek tumpul dan mendatar adalah keadaan di mana penderita

Skizofrenia memiliki wajah yang tidak menunjukkan ekspresi.

b. Menarik diri juga disebut dengan withdrawl yang berarti

penderita Skizofrenia tidak mau bergaul atau tidak ingin

melakukan kontak sosial dengan orang lain. Sukar saat diajak

berbicara, cenderung pendiam, pasif, dan sering menunjukkan

perilaku menarik diri dari pergaulan sosial.


20

c. Penderita Skizofrenia mengalami kesulitan dalam berpikir

abstrak, selain itu penderita juga tidak memiliki inisiatif serta

bersikap malas.

6. Manifestasi Fungsional

Individu dengan kondisi Skizofrenia akan mengalami perubahan

dalam activity daily living, penyakit tersebut merubah fungsi aktivitas

vokasional dan avokasional penderita. Terjadi penurunan fungsional

dalam perawatan diri (mandi, hygine oral, berpakaian, berhias),

produktivitas (belajar, bekerja), pemanfaatan waktu luang (leisure),

hingga perubahan pada fungsi kognitif yang berdampak pada

penurunan fungsi pemecahan masalah (problem solving). Sehingga

manifestasinya penderita Skizofrenia kehilangan kemampuan

bersosialisasi dengan lingkungan sosialnya. Hal tersebut

menyebabkan penderita Skizofrenia selalu menghindari aktivitas yang

berkaitan dan melibatkan banyak orang. Penderita menampilkan

disorganisasi kehidupan terhadap apa yang tidak dapat mereka

lakukan. Pada akhirnya penderita cenderung pasif terhadap

lingkungan, memiliki motivasi rendah untuk bergabung dengan

komunitas, menurunnya partisipasi dalam aktivitas sehari-hari seperti

pekerjaan dan studi (Mike, 2008).


21

7. Patofisiologi

Gejala Skizofrenia ini berlangsung secara perlahan-lahan,

meliputi beberapa fase perjalanan penyakit Skizofrenia, dimulai dari

fase prodromal (awal sakit), fase aktif (sakit), dan fase residual (sisa

sakit):

a. Fase prodromal (awal sakit)

Pada beberapa kasus Skizofrenia, gangguan Skizofrenia

dapat menyerang secara tiba-tiba dan berlangsung dalam

beberapa hari. Penderitanya mengalami penurunan fungsi-fungsi

tertentu, seperti fungsi perawatan diri, sosial, waktu luang,

pekerjaan, atau pendidikan. Keadaan ini berlangsung selama 6

hingga 12 bulan sampai timbul gejala positif atau negatif

Skizofrenia. Ciri-ciri umum pada fase prodromal antara lain:

1). Berhenti memperhatikan atau memperdulikan keadaan di

sekitar, seperti lupa mandi, lupa tidur, atau lupa makan.

2). Sering mengalami kebingungan.

3). Berbicara tidak jelas atau tidak bermakna.

4). Prestasi sekolah atau pekerjaan menurun drastis.

5). Sering melakukan kesalahan, seperti sering terlambat

datang kerja, sering ceroboh, kurang konsentrasi dan

kurang ada perhatian.


22

6). Sering melakukan aktivitas yang aneh, seperti berpakaian

aneh atau tidak pas dengan situasi dan berjalan tanpa

busana.

7). Senang memunguti sampah.

b. Fase aktif (sakit)

Pada fase aktif ini penderita Skizofrenia telah menunjukan

gejala psikotik umumnya, seperti delusi, halusinasi,

pembicaraan yang disorganisasi, merasa mengetahui kehidupan

masa yang akan datang, dan penarikan diri dari relasi sosial.

Pada fase aktif penderitanya harus diberikan perawatan yang

bersifat hospitalistik perlu juga rehabilitasi psikiatrik terutama

pada pikiran, perasaan, dan perilaku.

c. Fase residual (sisa sakit)

Fase residual atau fase stabil ada setelah fase aktif atau

setelah terapi dimulai yang ditandai dengan menghilangnya

beberapa gejala klinis Skizofrenia, sehingga tinggal satu atau

dua gejala sisa yang tidak terlalu nyata secara klinis, misalnya,

penarikan diri, menurunnya fungsi peran, perilaku aneh

(berbicara, tersenyum atau tertawa sendiri), memunguti atau

mengumpulkan sampah, menurunnya perawatan diri, afek

menjadi tumpul atau datar, serta menurunnya fungsi peran sosial

(Trethowan, 1979).
23

8. Prevalensi

Menurut Data Riset Kesehatan Dasar (2013) prevalensi

gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia dengan usia di atas 15

tahun mencapai angka 0,46 %. Hal ini berarti terdapat lebih dari satu

juta jiwa di Indonesia yang menderita gangguan jiwa berat. Gangguan

jiwa berat terbanyak di provinsi DI Yogyakarta, Aceh, Sulawesi

Selatan, Bali, dan Jawa Tengah. Proporsi keluarga yang pernah

memasung keluarga dengan gangguan jiwa berat sebanyak 14,3 %.

Terbanyak pada penduduk yang tinggal di perdesaan 18,2 %, serta

pada kelompok penduduk dengan kuintil indeks kepemilikan terbawah

19,5 %. Prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk

Indonesia 6,0 %, provinsi dengan prevalensi ganguan mental

emosional tertinggi adalah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa

Barat, DI Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Timur. Sedangkan menurut

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 banyaknya jumlah

penderita Skizofrenia, Provinsi Jawa tengah merupakan salah satu

propinsi yang menempati urutan ke lima terbanyak. Prevalensi

Skizofrenia di Jawa Tengah yaitu, 0.23 % dari jumlah penduduk

melebihi angka nasional 0.17 %. Jumlah kunjungan gangguan jiwa

tahun 2012 di Sarana Pelayanan Kesehatan Provinsi Jawa Tengah

sebanyak 224.617, mengalami peningkatan dari tahun 2011 yang

mencapai 198.387 kunjungan. Kunjungan terbanyak berada pada

rumah sakit yaitu sebanyak 138.399 kunjungan 61,62 %.


24

9. Prognosis

Pieter (2011) menjelaskan bahwa proses perjalanan penyakit

Skizofrenia merupakan gangguan yang bersifat kronis. Penderita

Skizofrenia secara berangsur-angsur menjadi semakin menarik diri,

tidak berfungsi setelah bertahun-tahun. Penderita dapat mempunyai

waham dengan taraf ringan dan halusinasi yang tidak begitu jelas.

Sebagai gejala akut dan gejala yang lebih dramatik hilang dengan

berjalannya waktu, tetapi penderita secara kronik membutuhkan

penanganan atau menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam proses

rehabilitasi di rumah sakit jiwa.

Keterlibatan dengan hukum penderita Skizofrenia biasanya

melakukan pelanggaran ringan, misalnya, menggelandang,

mengganggu keamanan, dan sering dikaitkan dengan penyalahgunaan

zat. Sebagian kecil penderita menjadi demensia secara keseluruhan,

harapan hidup pendek (terutama akibat kecelakaan, bunuh diri, dan

ketikmampuan merawat diri).

Sebelumnya, Skizofrenia dibedakan antara Skizofrenia dengan

proses terjadinya yang berangsur-angsur serta deteriorasi

(berkepanjangan) dan Skizofrenia reaktif. Selain itu Skizofrenia dapat

dibedakan antara gejala positif (halusinasi, waham, perilaku aneh)

yang biasanya berespon terdapat antipsikotika konvensional serta

gejala negatif (afek datar, miskin pembicaraan, anhedonia, penarikan

diri dari lingkungan sosial, dan lain-lain), sehingga tidak berespon


25

terhadap antipsikotika konvensional (berespon lebih baik terhadap

obat-obatan antipsikotika baru). Gambar klinis yang dikaitkan dengan

prognosis baik yaitu:

a. Awitan gejala-gejala psikotik aktif terjadi secara mendadak.

b. Awitan terjadi umur 30 tahun (terutama pada perempuan).

c. Fungsi pekerjaan dan sosial pre-morbid (sebelum sakit) baik.

d. Performa sebelumnya tetap merupakan prediktor terbaik

untuk meramalkan performa di masa datang.

e. Kebingungan sangat jelas dan gambar emosi menonjol,

selama episode akut atau gejala positif (Pieter, 2011).

10. Penatalaksanaan Skizofrenia

Menurut Hawari (2015) gangguan Skizofrenia merupakan

masalah dengan perjalanan penyakit yang terjadi secara berkelanjutan,

oleh sebab itu pendekatan pada masalah Skizofrenia seharusnya

dilakukan secara komprehensif dan holistik. Pendekatan atau terapi

yang dapat dilakukan untuk penderita Skizofrenia yaitu:

a. Terapi Obat-obatan

Terapi obat ini merupakan pemberian intervensi oleh

seorang dokter yang mengkombinasikan obat-obatan dengan

terapi psikologis. Obat-obatan yang digunakan untuk

mengobati Skizofrenia disebut antipsikotik. Antipsikotik

bekerja mengontrol halusinasi, delusi, cemas, perubahan pola

fikir serta membantu menjaga kemampuan berpikir dan


26

mengingat yang terjadi pada kondisi Skizofrenia. Pasien

dapat diberikan beberapa jenis antipsikotik sebelum

mendapatkan obat atau kombinasi obat antipsikotik yang

benar-benar sesuai bagi kondisi pasien. Antipsikotik pertama

diperkenalkan 50 tahun yang lalu dan merupakan terapi obat-

obatan pertama yang efekitif untuk mengobati Skizofrenia.

Terdapat 3 kategori obat antipsikotik yang dikenal saat ini,

yaitu antipsikotik konvensional, newer atypical antipsycotics,

dan clozaril. Efek samping yang ada pada antipsikotik ini

adalah peningkatan berat badan, sembelit, mengantuk,

pandangan kabur, mulut kering, dan berkurangnya gairah

seks. Sedangkan efek samping yang hanya ada pada

antipsikotik generasi lama adalah otot terasa berkedut, badan

gemetar, dan kejang otot. Bagi penderita Skizofrenia yang

telah melewati episode akut, pemberian antipsikotik harus

tetap dilakukan selama 1 hingga 2 tahun untuk mencegah

kambuh. Namun selama periode akut belum reda, biasanya

dokter akan menyarankan perawatan di rumah sakit jiwa agar

kebersihan, nutrisi, kebutuhan istirahat, dan keamanan

penderita terjamin (Neale, 2011).

b. Psikoterapi

Psikoterapi merupakan pendekatan psikodinamik yang

menekankan bahwa Skizofrenia disebabkan oleh pola


27

perilaku dan komunikasi yang salah dari penderita dan

keluarga. Pendekatan psikoterapi merubah pandangan yang

awalnya menempatkan keluarga sebagai pihak yang bersalah

dan akhirnya meningkatkan stigma positif pada keluarga.

Psikoterapi lebih ditekankan pada peningkatan kemampuan

penderita dalam menghadapi stres kehidupan, meningkatkan

kemampuan sosial (social skill training) serta intervensi pada

keluarga. Kini juga terdapat perhatian yang tinggi terhadap

pendekatan kognitif behavioral terapi (melibatkan kognisi

atau alam pikir untuk merubah output pada perilaku).

Sehingga inti dari pendekatan psikoterapi ditujukan untuk

mengatasi gejala penyakit, bukan untuk menghilangkan

etiologi dari Skizofrenia (Sani, 2002).

c. Terapi Psikososial

Di dalam terapi psikososial terdapat teknik untuk

membentuk perilaku yang diinginkan, menggunakan hadiah

(reward), latihan keterampilan sosial sehingga meningkatkan

kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, dan

komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif didorong dengan

pujian atau hadiah yang dapat diberikan untuk hal-hal yang

diharapkan. Dengan demikian, frekuensi perilaku maladaptif

atau menyimpang seperti berbicara lantang, berbicara

sendirian, dan marah-marah dapat diturunkan. Di dalam


28

terapi psikososial juga ada terapi yang berorintasi pada

keluarga. Terapi ini sangat berguna karena pasien Skizofrenia

seringkali dipulangkan dalam keadaan remisi parsial

(kembali lagi). Keluarga pasien Skizofrenia kembali,

seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang

singkat namun intensif (setiap hari) ini. Setelah periode

pemulangan pasien, topik penting yang dibahas dalam terapi

keluarga adalah proses pemulihan serta lama, dan cepatnya

kondisi pasien pulih. Profesional harus membantu keluarga

dan pasien dalam pemberian pemahaman kondisi Skizofrenia

tanpa mengecilkan hati dan semangat. Sejumlah penelitian

telah menemukan bahwa terapi keluarga efektif dalam

menurunkan relaps. Di dalam penelitian terkontrol, angka

relaps tahunan tanpa terapi keluarga sebesar 25-50 %, serta

menjadi 5-10 % dengan adanya terapi keluarga (Grebb,

2008).

d. Terapi Psikoreligius

Terapi psikoreligius pada penderita Skizofrenia

merupakan terapi yang memiliki hubungan antara penderita

dengan masalah keyakinan (agamanya). Meliputi doa-doa,

dzikir, ceramah keagamaan, dan lain-lain. Terapi ini dapat

meningkatkan kekebalan dan daya tahan tubuh penderita

dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang


29

merupakan stresor psikososial, guna peningkatan integrasi

kesehatan jiwa. Dari sudut ilmu kedokteran jiwa atau

keperawatan jiwa atau kesehatan jiwa, doa, dan dzikir

(psikoreligius terapi) merupakan terapi psikiatrik setingkat

lebih tinggi daripada psikoterapi biasa (Ilham, 2008).

e. Terapi Rehabilitasi

Terapi rehabilitasi adalah suatu proses penyembuhan

yang memungkinkan individu untuk dapat kembali pada

tingkat fungsional setinggi mungkin. Terapi ini bertujuan

untuk mengembalikan pada tingkat fungsi yang sama atau

lebih tinggi daripada tingkat fungsi saat sebelum penderita

sakit (Stuart & Sundeen, 2007). Sedangkan menurut World

Health Organization (2002) rehabilitasi adalah suatu proses

kompleks yang meliputi berbagai disiplin dan merupakan

gabungan dari usaha medik, sosial, edukasional, serta

vokasional terpadu untuk mempersiapkan, menyalurkan atau

menempatkan, dan membina seseorang dengan gangguan

Skizofrenia agar dapat kembali mencapai taraf kemandirian

setinggi mungkin yang dapat dicapai. Di dalam Hawari

(2015) menuliskan secara detail pelaksanaan rehabilitasi

dilakukan oleh multiprofesi yang terdiri dari dokter, perawat,

psikologi, pekerja sosial serta okupasi terapis yang memiliki

peran dan fungsi masing-masing dalam proses pemulihan


30

penderita di masa rehabilitasi. Dokter memberikan terapi

somatik, lalu psikolog melakukan pemilahan pasien

berdasarkan hasil psikotest dan kemampuan serta minatnya.

Perawat mempunyai peran dalam pelaksanaan rehabilitasi

baik pada tahap persiapan, pelaksanaan maupun pengawasan.

Pekerja sosial menjadi penghubung antara pasien dengan

keluarga dan lingkungan. Okupasi terapis memberikan terapi

rehabilitasi bagi pasien untuk dapat kembali kepada keluarga

dan aktivitas sehari-hari.

11. Rehabilitasi Skizofrenia

Program rehabilitasi memiliki tujuan kepada penderita

Skizofrenia sebagai program yang dapat memfasilitasi penderita

Skizofrenia sehingga mampu kembali lagi pada keluarga dan

masyarakat. Beberapa kegiatan atau aktifitas dalam program

rehabilitasi yang dapat dilakukan yaitu terapi kelompok, menjalankan

ibadah secara bersama-sama, kegiatan seni (musik, melukis), terapi

fisik (olahraga), keterampilan (kerajinan tangan), bimbingan belajar,

bercocok tanam, kegiatan rekresi, dan lain-lain. Program rehabilitasi

ini dapat dilakukan dengan beberapa multidisiplin, diantaranya:

dokter, perawat, pekerja sosial, rohaniawan, pelatih olahraga, okupasi

terapis, dan lain-lain (Hawari, 2015).

Rehabilitasi sendiri merupakan suatu proses pemulihan individu

dari gangguan atau penyakit sehingga dapat mengembalikan fungsi


31

individu tersebut dalam masayarakat. Begitu juga halnya individu

kondisi gangguan jiwa bersifat kronik. Rehabilitasi merupakan suatu

tahap penting yang dapat menjadikan penderita Skizofrenia kembali

pada fungsionalnya (David, 2005).

Penatalaksanaan okupasi terapi yang dilakukan pada rehabilitasi

penderita Skizofrenia menurut Reed (2001) diawali dengan adanya

assesment kemudian mengkaji beberapa permasalahan pada

kemampuan produktivitas, perawatan diri, pemanfaatan waktu luang

(leisure), sensorimotor, kognitif, dan psikososial. Kemudian terapis

okupasi dapat memberikan intervensi dengan sebuah kerangka acuan

(frame of reference) yang disesuaikan kondisi penderita. Kerangka

acuan menangani kasus Skizofrenia meliputi modifikasi perilaku,

kemampuan sosial, dan rehabilitasi kognitif ke arah perbaikan output

penderita Skizofrenia.

Intervensi yang dilakukan terapis okupasi diklasifikasikan dalam

beberapa komponen, yaitu:

a. Produktivitas

Terapis membantu meningkatkan kebiasaan dan

kemampuan dalam bekerja. Terapis juga berperan dalam

menyediakan kesempatan untuk mencoba pekerjaan yang

berbeda, melalui pelatihan, dan mengembangkan keterampilan

yang dibutuhkan dalam bekerja.


32

b. Perawatan Diri

Terapis berusaha meningkatkan atensi pada kemampuan

kebersihan diri, seperti mandi, berhias, dan berpakaian. Terapis

juga membentuk sistem penghargaan untuk meningkatkan dan

mempertahankan penampilannya. Terapis juga berperan

meningkatkan kemampuan fungsional secara mandiri, seperti

menyiapkan makanan, berbelanja, pengelolaan uang,

menggunakan transportasi umum, dan mengendarai dengan

aman.

c. Leisure

Terapis memberikan kesempatan untuk mengekplorasi

minat-minat yang ada dalam pemanfaatan waktu luang, hobi,

dan melatih aktivitas rekreasi.

d. Sensorimotor

Terapis berperan dalam meningkatkan kemampuan

koordinasi motorik kasar, perencanaan gerak (motor planning),

keseimbangan kesadaran tubuh (body awareness), dan

kemampuan perseptual.

e. Kognitif

Terapis membantu pasien untuk meregulasi kemauan dan

kesadarannya. Terapis juga berperan dalam meningkatkan

kemampuan memecahkan masalah, mendorong kemandirian

dalam mengambil keputusan, memberi wawasan, menambah


33

komunitas, menyediakan kesempatan dalam mengelola waktu,

mengajarkan keterampilan mempertimbangkan keputusan

(judgment skill), dan kewaspadaan pasien sendiri.

f. Psikososial

Terapis berusaha mengurangi perilaku depresi atau

ekspresi marah yang berlebihan. Terapis mengajari penderita

Skizofrenia mengenai orientasi dengan kenyataan saat ini,

mengklarifikasi nilai (value) dalam dirinya, meningkatkan

kemampuan mengatasi masalah (coping skill), meningkatkan

kepercayaan diri, dan pandangan positif dalam diri. Terapis

menyediakan kesempatan pada penderita Skizofrenia untuk

berinteraksi dengan individu lain, bekerja bersama, dan melatih

perilaku yang baik dalam masyarakat (Reed, 2001).


34

B. Sosialisasi

1. Definisi

Depertemen Pusat Bahasa (2008) mengartikan sosialisasi adalah

proses belajar seseorang dalam anggota masyarakat untuk mengenal

dan menghayati kebiasaan masyarakat di lingkungannya baik fisik

maupun sosial. Buhler (2002) mendeskripsikan sosialisasi merupakan

sebuah proses yang membantu individu untuk belajar dan

menyesuaikan diri terhadap bagaimana cara hidup dan berpikir

kelompoknya, sehingga dapat berperan, dan berfungsi di dalamnya.

Sedangkan menurut Bruce (2009) pengertian sosialisasi adalah proses

manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakat (ways of

life in society), untuk memperoleh kepribadian dan membangun

kapasitas dirinya sehingga mampu berfungsi dengan baik sebagai

individu maupun anggota suatu kelompok.

Pengenalan lingkungan dilakukan individu untuk menyesuaikan

dirinya dengan individu lain di sekitarnya, hal ini yang membekali

individu dalam hubungan antar kelompok yang lebih luas. Sosialisasi

dalam skala besar memiliki arti suatu proses interaksi dan juga

pembelajaran seorang individu yang dimulai saat seseorang lahir

hingga meninggal dalam suatu kebudayaan masyarakat. Sehingga,

seseorang yang baru lahir pun akan melakukan proses sosialisasi,

dimulai dengan mengenal lingkungan terdekatnya. Lingkungan yang

paling dekat dengan dirinya yaitu keluarga. Selanjutnya, seiring


35

berjalannya waktu, proses sosialisasinya pun akan semakin meluas,

seperti mengenal lingkungan masyarakat dan kelompoknya (Buhler,

2002).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sosialisasi merupakan suatu

bentuk komunikasi individu dengan lingkungan dan komunitas,

sebagai bentuk adaptasi juga penyesuaian kepribadian. Sebagai suatu

bentuk proses belajar untuk mengenal dan menyesuaikan diri, agar

dapat menyamakan hal-hal yang ada dalam lingkungan.

2. Bentuk Sosialisasi

Menurut Peter (1990) bentuk sosialisasi berbeda-beda dalam

setiap tahap kehidupan individu di siklus kehidupannya. Sosialisasi

dapat diartikan sebagai sebuah proses penanaman suatu kebiasaan

(value) dan aturan dari satu generasi ke generasi di dalam sebuah

kelompok atau masyarakat. Beberapa ahli menyebut bahwa sosialisasi

merupakan sebuah teori mengenai peranan (role theory). Karena

dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan

oleh individu. Terdapat dua bentuk sosialisasi, yaitu sosialisasi primer

dan sekunder:

a. Sosialisasi Primer

Peter (1990) mendefinisikan sosialisasi primer sebagai

sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil

dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga).

Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1 hingga 5


36

tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah (pra-sekolah).

Anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan

keluarganya. Keluarga merupakan institusi pertama yang

dikenal oleh anak dan bersifat permanen. Artinya sosialisasi

dalam keluarga itu akan terus berlangsung dalam kehidupan

seseorang selama masa hidup. Hubungan antaranggota akan

terus terjalin sampai kapanpun dan di manapun. Individu

melalui agen sosialisasi keluarga memperoleh penanaman

nilai dan norma sebagai bekal individu untuk memasuki

dunia selanjutnya yang lebih luas, seperti masyarakat dan

kelompok. Nilai serta norma yang diperoleh individu tersebut

akan mempengaruhi tingkah laku seseorang dalam

kesehariannya.

b. Sosialisasi Sekunder

Sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi

lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan

individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat.

Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi.

Dalam proses re-sosialisasi, seseorang diberi suatu identitas

diri yang baru. Sedangkan dalam proses desosialisasi,

seseorang mengalami pencabutan identitas diri yang lama ke

identitas yang lebih baru. Individu setelah mengalami

sosialisasi dalam keluarga, maka ia akan mengalami


37

sosialisasi sekunder. Salah satu agen dari bentuk sosialisasi

sekunder adalah sekolah atau tempat belajar lain. Sekolah

merupakan sebuah institusi yang memberikan pengajaran

serta pendidikan bagi masyarakat. Saat belajar di sekolah,

individu menemui berbagai macam tipe perilaku individu lain

di satu tempat yang sama. Individu satu dengan yang lainnya

memiliki sikap dan perilaku yang berbeda-beda. Hal tersebut

bukan hanya cerminan dari proses pendidikan yang

berlangsung di sekolah, melainkan dipengaruhi pula oleh

kehidupan keluarganya sebagai agen sosialisasi primer.

3. Proses Terjadinya Sosialisasi

Sosialisasi dapat terjadi secara langsung dengan beberapa

macam cara, seperti bertatap muka, mengobrol dalam aktivitas sehari-

hari. Sosialisai pun dapat terjadi secara tidak langsung, dengan cara

seperti melalui percakapan di telepon, dengan media massa dan lain-

lain. Proses sosialisasi dapat berjalan dengan lancar jika seorang

individu sadar sedang bersosialisasi dengan kebudayaan yang ada di

dalam masyarakat. Namun, sosialisasi juga dapat berjalan secara

terpaksa jika ada maksud dan kepentingan tertentu dari individu

kepada individu yang lain. Terjadinya sosialisasi di lingkungan

masyarakat, jika seorang individu memiliki peranan dalam proses

sosialisasi tersebut. Keadaan lingkungan juga dapat mempengaruhi

seorang individu dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan


38

masyarakat yang terdapat di lingkungannya. Oleh karena itu, setiap

individu akan melakukan sosialisasi untuk mempelajari nilai-nilai,

norma-norma, dan kebudayaan yang ada di dalam masyarakat.

Sosialisasi juga dapat terjadi dengan interaksi dan komunikasi.

Dengan komunikasi seorang individu dapat memperoleh pengalaman

hidup, kebiasaan yang nanti akan membekalinya dalam pergaulan di

masyarakat luas. Komunikasi juga dapat melalui berbagai media

massa. Dengan media masa setiap individu akan memperoleh berbagai

macam informasi, baik itu informasi positif maupun negatif, yang

nantinya akan berpengaruh pada pola tingkah laku (Buhler, 2002).

4. Manfaat Sosialisasi

Adapun beberapa manfaat sosialisasi, di antaranya yaitu:

a. Untuk mengetahui value yang ada dalam masyarakat,

digunakan sebagai pengetahuan yang diperlukan untuk

kelangsungan hidup (bahwa di dalam masyarakat individu

berperan sebagai anggota dari masyarakat).

b. Untuk mengetahui lingkungan sosial dan budaya baik tempat

individu tersebut tinggal maupun lingkungan sosial yang

baru.

c. Untuk melatih kemampuan berkomunikasi secara baik dan

mengembangkan kemampuan lainnya seperti kemampuan

bercerita, membaca, menulis, dan lain-lain.


39

d. Untuk melatih keterampilan dan pengetahuan yang

diperlukan sehingga dapat melangsungkan hidup dalam

masyarakat.

e. Untuk menanamkan kepada individu tentang nilai-nilai dan

kepercayaan yang terdapat dalam masyarakat (Buhler, 2002).

5. Media Sosialisasi

Ada beberapa media yang menjadi perantara utama dalam

proses sosialisasi individu, diantaranya:

a. Keluarga

Media sosialisasi keluarga yaitu media sosialisasi yang

pertama diterima oleh seseorang saat anak-anak, karena pada

keluarga ada orang-orang terdekat seperti ayah, ibu, saudara,

dan lain-lain. Melalui lingkungan keluarga, seseorang juga akan

mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan.

b. Teman

Teman bermain menjadi media sosialisasi berikutnya,

karena teman bermain menjadi media sosialisasi setelah

keluarga. Seseorang saat anak-anak akan belajar berinteraksi

dengan orang-orang yang sebaya dengannya. Saat proses

sosialisasi dengan temannya, seseorang anak akan mempelajari

norma-norma, dan nilai-nilai yang baru.


40

c. Sekolah

Seorang anak akan mengalami proses sosialisasi di

lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan dapat memberikan

pengaruh yang sangat besar kepada seorang anak karena di sana

merupakan tempat untuk menimba ilmu, melatih keterampilan,

melatih kemandirian, dan lain-lain. Di sana seorang anak juga

akan berinteraksi dengan banyak teman yang sebaya dengannya.

d. Media Massa

Media massa dapat menjadi media dalam proses

sosialisasi, melalui media cetak dan media elektronik

pengetahuan anak akan berkembang. Media massa dapat

mempengaruhi dan mengajarkan kepada seorang individu

tentang berbagai macam hal yang belum diketahuinya. Baik itu

hal yang positif ataupun hal yang negatif. Di sinilah peranan

orangtua harus bisa mengawasi anaknya jangan sampai anak

terpengaruh oleh hal-hal negatif yang diberikan oleh media

massa, karena tidak semua media massa memberikan hal yang

positif (Buhler, 2002).

6. Gangguan Sosialisasi

Gangguan sosialisasi merupakan ketidakmampuan individu

dalam menyesuaikan diri ketika melakukan kontak sosial terhadap

lingkungannya. Hal tersebut jika dibiarkan berlarut-larut menjadikan

individu menjadi pasif terhadap keadaan lingkungan sosialnya. Terapi


41

kelompok merupakan salah satu pengobatan yang dilaksanakan

dengan tujuan meningkatkan kemampuan individu dalam melakukan

interaksi sosial dan juga berperan aktif dalam lingkungan. Pada pasien

dengan gangguan jiwa yang melakukan terapi kelompok,

penyebabnya adalah adanya gangguan pada minimnya minat

mengikuti kegiatan yang melibatkan banyak orang, menarik diri, lebih

suka kegiatan pasif (berbaring di tempat tidur), kontak sosial kurang,

harga diri rendah, gelisah, curiga, takut, dan cemas, tidak ada inisiatif

memulai pembicaraan. Namun secara fisik mereka sehat dan mampu

menjalankan aktivitas tersebut. Proses sosialisasi dapat dianggap

tidak berhasil atau terganggu apabila individu tidak mampu

mendalami norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Perilaku

menyimpang dapat merupakan bentuk sosialisasi yang tidak sempurna

saat proses belajar beradaptasi. Proses sosialisasi tidak

sempurna dapat timbul karena adanya cacat bawaan dari suatu

individu, kekurangan gizi, hingga pada masalah kejiwaan yang tidak

sehat dalam diri (Herawaty, 2009).


42

C. Terapi Kelompok

1. Definisi

Terapi kelompok (group therapy) merupakan metode terapi

yang menjadikan aktivitas atau kegiatan berkelompok sebagai

pendukung dalam penyembuhan individu dari masalah sakitnya.

Kegiatan terapi kelompok terdiri dari dua orang atau lebih, untuk

mencapai sebuah penyembuhan yang sama. Di dalam suatu kelompok

terdapat kumpulan orang-orang yang memiliki tujuan sama, yaitu

ingin berbagi dengan anggota kelompok lain melalui hubungan dan

kerjasama antarindividu. Kelompok ini akan melakukan pertemuan

secara teratur dan membahas pengalaman pribadi mereka saat

menghadapi kondisi mereka serta berbagi ide dan pendapat tentang

bagaimana mereka dapat menjadi lebih baik (sharing). Terapi

kelompok berfokus pada penyembuhan dalam hal emosi, sebab

antarindividu di dalam kegiatan ini dapat memberikan dukungan

emosional satu dengan yang lain (Pambudi, 2017). Sedangkan Stuart

& Laraia (2001) menjelaskan bahwa terapi kelompok adalah sebuah

kumpulan individu yang mempunyai hubungan satu dengan yang lain,

saling ketergantungan dan mempunyai nilai norma yang sama dalam

anggota kelompok. Menjadi satu dari berbagai latar belakang yang

harus ditangani sesuai macam-macam kondisi, seperti agresif, takut,

kebencian, kompetitif, kesamaan, ketidaksamaan, kesukaan, dan

menarik diri. Semua kondisi ini akan mempengaruhi dinamika


43

kelompok, di mana anggota kelompok memberi, dan menerima umpan

balik (feedback) berarti dalam berbagai interaksi yang terjadi dalam

kelompok. Tujuan dari terapi kelompok adalah membantu anggota

yang berperilaku destruktif dalam berhubungan dengan orang lain dan

merubah perilaku yang maladaftif ke arah yang lebih baik. Kekuatan

kelompok ada pada konstribusi dan peran tiap anggota kelompok,

mulai dari pemimpin hingga anggota kelompok untuk mencapai

tujuan kelompok. Fungsi kelompok akan tercapai jika anggota

kelompok berbagai pengalaman dan saling membatu satu sama lain.

Jika anggota kelompok berbagi cara mereka menyelesaikan masalah

maka kelompok berfungsi dengan baik. Kelompok merupakan

laboratorium tempat mencoba dan menemukan hubungan sesama

antara interpersonal dan perilaku antarpribadi.

Dalam terapi kelompok menurut Grebb (2008) suatu kelompok

pendukung biasanya anggota yang sedang mengalami atau pernah

merasakan pengalaman yang sama seperti anggota kelompok lainnya

dapat berbagi (sharing) kepada anggota lain. Pemimpin dalam terapi

kelompok yang dipilih biasanya adalah orang yang telah terlatih serta

mampu memimpin kegiatan terapi dan diskusi kelompok. Dalam sesi

terapi kelompok formal, pemimpin dapat berupa seorang psikolog,

terapis, psikiater, perawat, atau pekerja sosial, namun dalam kelompok

pendukung buatan sendiri, suatu variasi dari terapi kelompok,

pemimpin dipilih dari anggota kelompok. Terapi kelompok bagi


44

Skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan

hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin terorientasi

secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika, tilikan, atau

suportif. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial,

meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi

pasien Skizofrenia.

Banyak macam dari jenis kegiatan terapi kelompok, salah

satunya adalah terapi kelompok problem solving. Kegiatan terapi

kelompok problem solving memiliki tujuan untuk pemecahan masalah

dan pengambilan keputusan secara bersama. Komunikasi kelompok

merupakan interaksi secara langsung dari beberapa individu untuk

berbagi informasi dan mendiskusikan suatu masalah untuk selanjutnya

dipecahkan secara bersama. Di mana antar individu tersebut memiliki

keterikatan yang sama dalam interaksi tersebut. Keterikatan tersebut

adalah, tujuan, fungsi, visi, dan misi dalam suatu kelompok problem

solving tersebut (Garvin, 1987).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa terapi kelompok problem

solving merupakan suatu wadah atau tempat yang menjadikan sebuah

metode pemecahan masalah ke dalam suatu aktivitas yang digunakan

sebagai penyembuhan penderita gangguan jiwa, dengan mencari jalan

keluar suatu masalah secara kelompok. Terapi kelompok tersebut

bertujuan untuk mengambil keputusan terbaik secara bersama untuk

menyelesaikan masalah. Kegiatan terapi kelompok ini menjadikan dua


45

atau lebih anggotanya agar dapat berkomunikasi, karena adanya

hubungan dan tujuan yang sama satu dengan yang lain.

2. Ciri Terapi Kelompok

Hal-hal yang menjadi ciri dari terapi kelompok sehingga

kegiatan ini dapat dilaksanakan, yaitu:

a. Anggota kelompok dipilih secara homogen dengan

memperhatikan berbagai pertimbangan di antaranya, usia,

jenis kelamin, ciri kepribadian umum dan prognosis.

b. Dalam terapi kelompok dapat mencakup dua tujuan

sekaligus, yaitu tujuan individu dan tujuan kelompok.

c. Aktivitas yang dapat dilakukan dalam terapi kelompok salah

satunya adalah berdiskusi, berbagi cerita tentang masalah-

masalah yang sedang dialami secara spontan.

d. Dalam situasi kelompok setiap anggota kelompok dapat

berpartisipasi dengan cara mereka sendiri (Semiun, 2006).

Sedangkan Garvin (1987) menyatakan hal yang sama tentang

ciri terapi kelompok di atas. Namun penjelasan mengenai ciri terapi

kelompok problem solving dijabarkan bahwa jenis terapi ini

memfokuskan pada suatu diskusi sebuah masalah dan dipecahkan

secara bersama untuk mendapatkan kesimpulan jalan keluar. Setiap

individu (anggota kelompok) terlibat untuk berperan aktif serta

berpartisipasi untuk memberikan ide dalam suatu pemecahan masalah.


46

Stuart & Laraia (2005) menjelaskan bahwa kelompok terdiri

dari delapan aspek yaitu struktur kelompok, besar kelompok, lamanya

sesi, komunikasi, peran kelompok, kekuatan kelompok, norma

kelompok, kekohesifan.

a. Struktur Kelompok

Struktur kelompok menjelaskan bahwa ada batasan,

komunikasi, proses pengambilan keputusan dan hubungan

otoritas dalam kelompok. Struktur kelompok menjaga

stabilitas, membantu pengaturan pola perilaku, dan interaksi.

Struktur dalam kelompok diatur dengan adanya pemimpin

anggota. Arah komunikasi dipandu oleh pemimpin,

sedangakan keputusan diambil secara bersama.

b. Besar Kelompok

Jumlah anggota kelompok yang nyaman adalah

kelompok kecil (tidak sedikit jumlahnya namun juga tidak

terlalu besar). Menurut Stuart dan Laraia (2005), ideal jumlah

anggotanya berkisar antara 7-10 orang atau 8-12 orang. Jika

anggota kelompok terlalu besar akibatnya tidak semua

anggota kelompok mendapat kesempatan mengungkapkan

perasaan, pendapat, dan pengalamannya. Jika terlalu kecil,

tidak cukup variasi informasi dan interaksi yang terjadi di

dalam suatu kelompok.


47

c. Lamanya Sesi

Waktu yang optimal untuk satu kali sesi terapi

kelompok adalah 20-60 menit untuk fungsi kelompok yang

rendah dan 60-120 menit untuk fungsi kelompok yang tinggi

(Stuart & Laraia, 2001). Biasanya dimulai dengan pemanasan

berupa orientasi, kemudian kegiatan inti, dan finishing berupa

terminasi. Banyaknya sesi tergantung pada tujuan kelompok,

dapat satu atau dua kali per minggu atau dapat direncanakan

sesuai dengan kebutuhan.

d. Komunikasi

Salah satu tugas pemimpin kelompok yang terpenting

adalah mengobservasi dan menganalisis pola komunikasi

dalam kelompok. Pemimpin menggunakan umpan balik

(feedback) untuk memberi kesadaran pada anggota kelompok

terhadap dinamika yang terjadi. Pemimpin kelompok dapat

mengkaji hambatan dalam kelompok, konflik interpersonal,

tingkat kompetisi, dan seberapa jauh anggota kelompok

mengerti serta mampu melaksanakan kegiatan yang

dilakukan. Elemen terpenting dalam mengobservasi

komunikasi verbal dan nonverbal adalah komunikasi setiap

anggota kelompok, rancangan tempat duduk, tema umum

yang diekspresikan, frekuensi komunikasi, dan orang yang

dituju selama komunikasi. Kemampuan anggota kelompok


48

sebagai pandangan terhadap kelompok, dan proses

penyelesaian masalah yang terjadi.

e. Peran Kelompok

Pemimpin perlu mengobservasi peran yang terjadi

dalam kelompok, ada tiga peran serta fungsi kelompok yang

ditampilkan anggota kelompok dalam kerja kelompok, yaitu

maintenance roles, task roles dan individual roles.

Maintenanace roles yaitu peran serta aktif dalam proses

kelompok dan fungsi kelompok. Task roles yaitu fokus pada

penyelesaian tugas, sedangkan individual roles adalah self

centered dan distraksi pada kelompok.

f. Kekuatan Kelompok

Kekuatan kelompok adalah kemampuan anggota

kelompok dalam mempengaruhi berjalannya kegiatan

kelompok. Untuk menetapkan kekuatan anggota kelompok

yang bervariasi diperlukan kajian siapa yang paling banyak

mendengar, dan siapa yang membuat keputusan dalam

kelompok.

g. Aturan Kelompok

Aturan atau norma adalah suatu standar perilaku yang

ada dalam kelompok. Pengharapan terhadap perilaku

kelompok pada masa yang akan datang berdasarkan

pengalaman masa lalu dan saat ini. Pemahaman tentang


49

norma kelompok berguna untuk mengetahui pengaruhnya

terhadap komunikasi dan interaksi dalam kelompok.

Kesesuaian perilaku anggota kelompok dengan norma

kelompok yang penting dalam menerima angota kelompok,

Anggota kelompok yang tidak mengikuti norma (aturan),

maka dianggap pemberontak dan akan ditolak anggota

kelompok yang lain.

h. Kekohesifan

Kekohesifan adalah kekuatan anggota kelompok

bekerja sama dalam mencapai tujuan. Hal ini mempengaruhi

anggota untuk tetap betah dalam kelompok. Apa yang

membuat anggota kelompok tertarik dan puas terhadap

kelompok, perlu diidentifikasi agar kehidupan kelompok

dapat dipertahankan. Pemimpin kelompok (terapis) perlu

melakukan upaya agar kekohesifan kelompok dapat terwujud,

seperti mendorong anggota kelompok bicara satu sama lain,

diskusi dengan kata-kata, menyampaikan kesamaan anggota

kelompok, membantu anggota kelompok untuk

mendengarkan ketika yang lain bicara. Kekohesifan perlu

diukur melalui seberapa sering antara anggota memberi

pujian dan mengungkapkan kekaguman satu sama lain.


50

3. Efek Terapeutik Terapi Kelompok

Terdapat beberapa penelitian menyatakan efek dari terapi

kelompok memberikan dampak baik kepada penderita Skizofrenia.

Sadock & Grebb (2010) menyatakan bahwa terapi kelompok dapat

berguna serta efektif untuk penderita Skizofrenia karena dapat

menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa kebersamaan dan

meningkatkan kemampuan realitas pasien Skizofrenia. Sedangkan

Semiun (2006) juga membenarkan salah satu kegunaan terapi

kelompok yaitu membantu pasien Skizofrenia untuk lebih memahami

bahwa masalah yang sedang dihadapi masih dapat dibagi (sharing)

dengan orang lain. Hal tersebut memberi peluang bagi penderita untuk

dapat memecahkan masalah, membuat penderita Skizofrenia belajar

cara menangani masalah secara lebih efektif. Sedangkan Yalom

(2005) menjelaskan bahwa terapi kelompok dapat memberikan

banyak manfaat, mulai dari menumbuhkan harapan penderita

Skizofrenia (instillation of hope), menumbuhkan kebersamaan

(universality), menumbuhkan rasa percaya untuk menghargai diri

sendiri dan orang lain (altruism), sebagai sarana penyampaian

informasi (impartiong information), koreksi rekapitulasi dari

kelompok keluarga primer (the corrective recapitulation of the

primary family group), perkembangan sosialisasi (development of

socializing techniques), perilaku meniru (imitative behavior),

pembelajaran interpersonal (interpersonal learning), keterpaduan


51

grup (group cohesiveness), mengekspresikan perasaan kepada orang

lain (catharsis), dan diharapkan pasien mempu memahami keyakinan

yang tercipta dalam dirinya tentang bahwa ‘hidup kadang tidak adil’

(existential factors).

Sedangkan efek terapeutik untuk terapi kelompok problem

solving sendiri secara spesifik dijelaskan oleh Garvin (1987) yaitu

sebagai media komukasi di dalam kelompok untuk memecahkan suatu

masalah dengan saling memberikan pendapat serta masukan. Dengan

hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa terapi kelompok problem

solving akan menghasilkan suatu pemecahan masalah karena adanya

interaksi sebuah ide dari setiap anggota kelompok dan membuahkan

hasil dengan kesepakatan bersama.

4. Struktur Terapi Kelompok

Sadock (1988) menjelaskan struktur terapi kelompok yaitu

terdapat penjelaskan batasan, komunikasi, proses pengambilan

keputusan, dan hubungan otoritas dalam kelompok. Struktur

kelompok menjaga stabilitas serta membantu pengaturan pola

perilaku, dan interaksi. Struktur dalam terapi kelompok diatur dengan

adanya pimpinan dan anggota, arah komunikasi dipandu oleh

pemimpin, sedangkan keputusan diambil secara bersama.

Terapi kelompok dilaksanakan di ruang yang terletak dalam

ruang tertutup, tidak terdapat distraksi dari luar, cukup terang, dan

tenang. Di dalamnya terdiri dari pemimpin (leader) atau terapis,


52

fasilitator atau co-terapis, anggota kelompok (pasien). Waktu

pelaksanaan terapi kelompok ini umumnya 45-60 menit dengan

jumlah anggota antara 8-12. Tugas leader memimpin jalannya terapi

kelompok, membuka kegiatan terapi kelompok, merencanakan, dan

mengembangkan jalannya kegiatan, memimpin dengan cara guiding.

Sedangkan tugas fasilitator adalah untuk memfasilitasi anggota dalam

kegiatan, mengarahkan anggota pada saat terapi kelompok, memberi

motivasi pasien untuk aktif dalam terapi kelompok (Woofle, 2003).

Tahap-tahap dalam pelaksanaan terapi kelompok meliputi

pendahuluan (warming up), tata tertib (rules), aktivitas inti,

pemanasan, diskusi atau berbagi pengalaman, dan perasaan (sharing),

kesimpulan (cooling down) serta penutup (Sadock, 1988).

Sedangkan menurut Woofle (2003) dalam terapi kelompok ada

beberapa fase. Fase pertama yaitu orientasi (selama 5 menit)

memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan terapi, melaksanakan

kontrak waktu (durasi setiap tahap), membaca tata tertib (rules).

Selanjutnya, kedua adalah fase melakukan aktivitas atau kegiatan inti

terapi kelompok (selama 30 menit) ada persepsi (menyampaikan

tujuan pembelajaran atau kegiatan), penjelasan tentang pengertian

berkenalan, penjelasan tentang cara berkenalan, tanya jawab untuk

dievaluasi. Fase terakhir adalah terminasi (selama 10 menit),

menanyakan perasaan anggota setelah mengikuti terapi kelompok,

menanyakan manfaat dari adanya terapi kelompok, menarik


53

kesimpulan dari kegiatan terapi kelompok, dan menutup jalannya

serangkaian kegiatan terapi kelompok.

D. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang dilakukan oleh Maulidah (2015) tentang

Pengaruh Terapi Kelompok Terhadap Kemampuan Sosialisasi Pasien

Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya. Penelitian yang

dilakukan menggunakan rancangan quasi experimental dengan metode

one group pre-test and post-test design mengungkapkan hubungan sebab

akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subjek. Metode penelitian

ini ditujukan untuk menguji pengaruh terapi kelompok terhadap

kemampuan bersosialisasi pasien Skizofrenia. Sebagai populasi dalam

penelitian adalah semua pasien Skizofrenia yang mengalami kemunduran

fungsi sosial di Ruang Puri Mitra Harapan Rumah Sakit Jiwa Menur

Surabaya sebanyak 7 orang, yang diambil menggunakan teknik total

sampling. Hasil penelitian yang dilakukan mengenai pengaruh terapi

kelompok terhadap kemampuan bersosialisasi pada pasien Skizofrenia,

dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan pasien bersosialisasi

sebelum pemberian terapi kelompok didapatkan bahwa semua responden

(7 orang) tidak mampu bersosialisasi dengan baik. Setelah pemberian

terapi kelompok didapatkan bahwa sebagian besar responden mampu

untuk bersosialisasi dengan baik sebanyak 5 orang. Maka kesimpulan

akhir adalah adanya pengaruh terapi kelompok terhadap kemampuan

bersosialisasi pada pasien Skizofrenia. Dengan diberikan aktivitas terapi


54

kelompok yang berkala, maka diharapkan kemampuan bersosialisasi

pada pasien Skizofrenia semakin baik.

Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Dobson (2005)

mengenai The Influence of Group Therapy on Schizophrenia juga

mengatakan hal yang sama. Studi ini membandingkan pengaruh

pemberian group therapy sebagai pengobatan penderita Skizofrenia,

terutama pada gejala-gejala negatif. Desain metode yang digunakan yaitu

dengan 33 pasien berusia 18-55 tahun yang diagnosis Skizofrenia dipilih

secara acak (random sampling). Dalam sembilan minggu pemberian

terapi kelompok, pasien dinilai pada tiga, enam, hingga sembilan

minggu. Selama masa pengobatan, instrumen yang digunakan adalah

skala (PANSS), diukur baik positif dan negatif gejala Skizofrenia. Dari

semua itu hasil yang ditunjukan pasien dalam menyelesaikan kegiatan

terapi kelompok menunjukkan perbandingan adanya perbedaan pada nilai

PANSS. Keterampilan sosialisasi pasien tampak lebih efektif dalam

mengurangi gejala negatif. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa

pemberian terapi kelompok pada penderita Skizofrenia merupakan

komponen penting dalam pengobatan. Peningkatan keterampilan

sosialisasi merupakan salah satu proses rehabilitasi yang sangat berguna

bagi penderita untuk mengarah pada produktivitas yang lebih baik.

Kanas (2006) melakukan penelitian berjudul The Effectiveness

of Group Therapy on Socialization Skill of Schizophrenia menyimpulkan

bahwa terapi kelompok merupakan modalitas pengobatan yang efektif


55

digunakan untuk kondisi psikosis dini fase Skizofrenia. Pernyataan ini

didasarkan pada tinjauan pustaka yang menargetkan Skizofrenia episode

pertama, episode pertama psikosis, dan psikosis awal dengan rehabilitasi

psikososial. Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukkan bahwa

pasien Skizofrenia dalam terapi kelompok memiliki hasil jauh lebih baik

daripada penderita kondisi Skizofrenia tanpa pemberian terapi kelompok.

Penelitian ini mengembangkan metode yang diturunkan secara empiris

untuk mengobati pasien Skizofrenia dalam terapi kelompok dengan

tujuan membantu penderita mengatasi permasalahan psikotik dan

hubungan interpersonal.

Sedangkan Dirgahayu (2012) melakukan penelitian tentang

Pengaruh Aktivitas Terapi Kelompok Terhadap Kemampuan Sosialisasi

dan Komunikasi Verbal pada Skizofrenia. Desain penelitian yang

digunakan jenis quasi experimental (eksperimen semu). Tujuan dari

penelitian ini untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang timbul

sebagai akibat dari adanya intervensi (terapi kelompok). Rancangan

penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah one group pre-test

post-test. Di dalam rancangan penelitian ini tidak ada kelompok

pembanding (kontrol), tetapi paling tidak sudah dilakukan observasi

pertama (pre-test) yang memungkinkan menguji perubahan yang terjadi

setelah eksperimen (post-test). Populasi dalam penelitian ini adalah

seluruh pasien baru, baik itu pasien yang benar-benar baru masuk

maupun pasien lama yang baru masuk (sebanyak 34 orang) dengan


56

syarat belum terpapar oleh kegiatan terapi kelompok sebelumnya. Teknik

pengambilan subjek penelitian dengan total sampling, yaitu cara

pengumpulan subjek penelitian berdasarkan jumlah populasi.

Pengumpulan data menggunakan wawancara bebas terpimpin, observasi

dan intervensi (terapi kelompok). Analisa yang digunakan adalah analisa

univariat dan bivariat dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Sehingga

hasil dari penelitian yang dilakukan ini didapatkan kesimpulan bahwa

terjadi peningkatan kemampuan sosialisasi dan komunikasi verbal dalam

pemberian 3 kali sesi terapi yang dapat dilihat perubahannya melalui

pengamatan sikap dan perilaku responden dari observasi pre-test hingga

post-test.
57

E. Kerangka Teori

Skizofrenia

Manifestasi Fungsional:
Manifestasi Klinis:
1. Menurunnya fungsi perawatan
1. Adanya delusi (waham)
diri, produktivitas, leisure
2. Halusinasi auditori, pembauan,
2. Gangguan afektif
rasa
3. Gangguan Kecemasan
3. Masalah dalam proses berpikir
4. Gangguan Sosialisasi

Terapi Terapi Terapi Terapi Psikoterapi


Obat-obatan Psikoreligius Rehabilitasi Psikososial

Terapi Terapi Terapi Terapi Terapi


Fisik Relaksasi Kelompok Seni Asertif

1. Problem Solving
2. Management Stress
3. Role Play
4. Ekspresi

1. Meningkatnya kemampuan produktivitas dan fungsional


2. Meningkatkan kemampuan perawatan diri dan pemanfaatan waktu luang
3. Meningkatnya fungsi kognitif, atensi dan konsentrasi
4. Meningkatnya fungsi sosialisasi
5. Penurunan tingkat tanda gejala positif dan negatif
6. Penurunan tingkat kecemasan

Gambar 2.1 Skema kerangka teori


58

F. Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Skizofrenia
(Masalah sosialisasi lingkungan)

Pre-test
Tes kemampuan
sosialisasi menggunakan
instrument COTE

Bagaimana terapi kelompok


problem solving dapat
Pemberian terapi kelompok problem solving mempengaruhi kemampuan
sosialisasi pasien
Skizofrenia?

Post-test
Tes kemampuan
sosialisasi menggunakan
instrument COTE

Gambar 2.2 Skema kerangka konsep

G. Hipotesis Penelitian

Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah adanya pengaruh

terapi kelompok problem solving terhadap kemampuan sosialisasi pasien

Skizofrenia.
59

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan sebuah strategi atau cara yang

digunakan oleh peneliti untuk mencapai tujuan penelitian yang telah

ditentukan sebelumnya dan digunakan sebagai pedoman seluruh proses

penelitian (Sujarweni, 2014).

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan

berbentuk quasi experimental design. Dengan desain penelitian one

group pre-test and post-test. Penelitian ini akan dilakukan dengan

memberikan intervensi atau treatment pada subjek penelitian berupa

terapi kelompok problem solving, untuk melihat pengaruh yang

berdampak pada kemampuan sosialisasi subjek penelitian.

Penelitian dengan pendekatan quasi experimental dengan ini

memiliki tujuan untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang

timbul sebagai akibat dari adanya intervensi tertentu. Ciri khusus yang

tergambarkan dari penelitian eksperimen adalah adanya percobaan atau

trial. Percobaan itu berupa intervensi terhadap variabel. Dengan

intervensi tersebut diharapkan ada atau terjadi perubahan pada variabel

lain (Darmawan, 2013).

Menurut Sugiyono (2015) one group pre-test and post-test design

merupakan suatu teknik untuk mengetahui efek sebelum dan sesudah


60

pemberian intervensi. Secara bagan, desain kelompok dapat digambarkan

sebagai berikut:

Pre-test Treatment Post-test

O1 X O2

Gambar. 3.1 One group pre-test and post-test design

Keterangan : O1 = Nilai pre-test (Sebelum diberikan treatment)

O2 = Nilai post-test (Sesudah diberikan treatment)

X = Treatment (group therapy).

B. Populasi dan Subjek Penelitian

Sugiyono (2015) menyebutkan bahwa populasi adalah wilayah

generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek dengan kuantitas dan

karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti, hal tersebut untuk

dipelajari kemudian ditarik kesimpulan. Populasi bukan hanya sekedar

jumlah yang ada pada objek atau subjek yang dipelajari, namun meliputi

keseluruhan karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh objek atau subjek

itu.

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien Skizofrenia di

Unit Rehabilitasi Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta.

Sedangkan sampel atau subjek penelitian adalah sebagaian dari

jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh suatu populasi (Sugiyono,

2015). Subjek penelitian ini adalah sebagian jumlah dan karakteristik

yang dimiliki oleh populasi penelitian, yaitu pasien Skizofrenia yang


61

mengikuti program kegiatan rehabilitasi okupasi terapi di Unit

Rehabilitasi Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta.

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik

purposive sampling. Teknik ini memiliki cara dalam penentuan sampling

dengan pertimbangan tertentu. Teknik sampling didapatkan dengan cara

tanpa melakukan random terhadap subjek penelitian.

Namun dalam penelitian ini terdapat kriteria inklusi dan eksklusi

dalam pemilihan subjek penelitian. Adapun kriteria inklusi dalam subjek

penelitian ini, yaitu:

1. Pasien Skizofrenia dengan level kognitif ≥ 3.

2. Pasien Skizofrenia dengan insight ≥ 3.

3. Memiliki skor Global Assesment Functional (GAF) ≥ 50.

4. Mampu berkomunikasi secara verbal dengan baik.

5. Mampu memahami instruksi (perintah).

6. Mampu mengenal huruf (membaca dan menulis).

7. Tidak mengalami diorientasi (orang, tempat dan waktu).

8. Skor pre-test pengukuran Comprehensive Occupational Therapy

Evaluation Scale (COTE) menujukkan skala minimal, mild

(ringan), moderate (sedang) dan severed (berat).

9. Bersedia menjadi subjek penelitian.

Sedangkan kriteria eksklusi dalam penelitian ini yaitu hasil pre-test

menggunakan skala Comprehensive Occupational Therapy Evaluation


62

Scale (COTE) menunjukkan tidak ada gangguan sosialisasi atau

dikatakan normal.

C. Variabel Penelitian

Menurut Sugiyono (2015) variabel penelitian merupakan sebuah

bentuk atau sifat yang akan dipelajari oleh peneliti. Variabel penelitian

adalah atribut yang memiliki nilai dari orang, objek atau kegiatan. Hal

tersebut ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian digunakan

untuk menarik kesimpulan.

Dalam penelitian ini fokus variabel penelitian terbagi menjadi dua

yaitu variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat).

Variabel independen juga dikenal dengan nama variabel bebas (x)

atau tidak terikat di mana variabel ini berperan memberikan stimulasi

atau variabel yang mempengaruhi variabel terikat (y) (Sugiyono, 2015).

Adapun variabel independen (bebas) yang mengacu pada judul

penelitian “Pengaruh Terapi Kelompok Problem Solving Terhadap

Kemampuan Sosialisasi Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah

Dr. Arif Zainudin Surakarta” yang menjadi variabel bebasnya adalah

terapi kelompok problem solving.

Sedangkan variabel dependen menurut Sugiyono (2015) adalah

variabel yang sering disebut dengan variabel terikat, yaitu variabel yang

dipengaruhi oleh variabel bebas. Adapun variabel dependen (terikat)

dalam penelitian ini adalah kemampuan sosialisasi pasien Skizofrenia.


63

D. Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan penjelasan tentang variabel

penelitian, sehingga setiap variabel penelitian dapat dipahami sebelum

dilakukan analisis (Sujarweni, 2014). Definisi operasional ini memiliki

tujuan untuk menghindari kesalahpahaman mengenai data yang akan

dikumpulkan, juga mengalami kesalahan dalam mengumpulkan alat

pengumpulan data (Darmawan, 2013).

1. Terapi Kelompok Problem Solving

Terapi kelompok problem solving merupakan suatu terapi

berbentuk kelompok yang melibatkan 10 anggota dengan beberapa

tahap yang dilakukan, pertama yaitu pendahuluan (warming up),

tata tertib (rules), pemanasan, aktivitas inti, diskusi, dan terakhir

penutup (cooling down). Terapi kelompok problem solving ini

berdurasi ± 45 menit dalam setiap sesi terapi. Aktivitas terapi

problem solving yang diberikan meliputi: cara menyapa dan

berkenalan dengan teman lain (komunikasi), diskusi dalam inisiasi

sutu kejadian, diskusi pada kertas masalah. Kegiatan-kegiatan

tersebut dibuat untuk menuntut adanya kemampuan pemecahan

masalah (problem solving) serta meningkatkan kemampuan

sosialisasi pasien dalam lingkungannya saat ini. Aktivitas diberikan

sebanyak dua kali dalam seminggu hingga terpenuhi intervensi

sebanyak 6 kali.
64

2. Kemampuan Sosialisasi

Kemampuan sosialisasi merupakan cara yang membantu

individu untuk belajar dan menyesuaikan diri terhadap

lingkungan, hal tersebut dibutuhkan agar individu dapat berperan

serta berfungsi di dalam lingkungan sosial. Kemampuan

sosialisasi diukur dalam instrumen Comprehensive Occupational

Therapy Evaluation Scale (COTE) menggunakan skala data rasio.

3. Pasien Skizofrenia

Skizofrenia merupakan suatu kondisi jiwa seseorang yang

mengalami permasalahan dengan kepribadiannya, yang

menyebabkan penderita mengalami kemunduran dan menimbulkan

hambatan atau permasalahan yang menjadikan penderita kesulitan

dalam fungsi produktivitas, fungsi perawatan diri hingga fungsi

sosial seperti bersosialisasi. Pada penelitian ini beberapa jenis

Skizofrenia yang akan digolongkan sebagai subjek penelitian

antara lain, Skizofrenia paranoid, Skizofrenia tak terinci,

Skizofrenia hebefrenik dan yang tidak tergolongkan.

E. Metode Pengumpulan Data

Menurut Darmawan (2013) metode pengumpulan data penelitian

merupakan suatu cara untuk mengumpulkan data yang dilakukan peneliti

dalam rangka menjalankan proses penelitian.


65

Adapun metode pengumpulan data penelitian ini, yaitu:

1. Alat Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan

dengan cara one-on-one berbentuk angket menggunakan alat

ukur instrumen Comprehensive Occupational Therapy

Evaluation Scale (COTE) yang didokumentasikan dalam sebuah

lampiran.

2. Sumber Data

Pengumpulan data primer yang dilakukan peneliti yaitu

melalui pemeriksaan secara langsung kepada subjek untuk

mengetahui kemampuan sosialisasi pasien sebelum dan sesudah

pemberian intervensi terapi kelompok problem solving

menggunakan instrumen Comprehensive Occupational Therapy

Evaluation Scale (COTE). Sedangkan data-data sekunder

(pendukung lain) dalam pengumpulan data yang diperlukan

dalam proses penelitian berasal dari catatan dokumen registrasi

dan riwayat rekam medis (medical record) pasien di Rumah

Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta.

3. Proses Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data ini dilakukan sebelum dan

sesudah pemberian intervensi kepada pasien yang telah masuk

ke dalam kriteria penelitian.


66

F. Instrumen Penelitian

1. Bentuk Instrumen

Alat pengukuran di dalam penelitian ini menggunakan

Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE).

COTE merupakan sebuah skala penilaian perilaku yang digunakan

untuk menggambarkan peran dari okupasi terapi dalam area kesehatan

mental dewasa dengan menilai behavior (perilaku) dan perubahan dari

perilaku itu sendiri secara komprehensif. Comprehensive

Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE) digunakan untuk

menandai sebuah progres dalam evaluasi hingga adanya perubahan

pada perlaku di dalam beberapa activity daily living selama pemberian

sesi terapi. Hal itu juga digunakan sebagai identifikasi beberapa item

behaviors, pertama yaitu general behaviors (perilaku umum), perilaku

interpersonal, dan task behaviors (perilaku tugas) yang

mempengaruhi kinerja pekerjaan. Dengan menentukan perilaku ini hal

tersebut akan mengurangi miss interpretations, menyampaikan

sejumlah informasi secara sederhana kepada tim rehabilitasi lainnya,

serta memungkinkan digunakan pengambilan kembali data yang

dibutuhkan untuk perencanaan pengobatan dan evaluasi kemajuan

pasien. Tujuan dari penilaian Comprehensive Occupational Therapy

Evaluation Scale (COTE) sebagai penilaian di berbagai bidang

perilaku yang terkait pada setiap poinnya general behaviors (perilaku

umum), perilaku interpersonal, dan task behaviors (perilaku tugas).


67

Dalam poin perilaku umum terdapat penilaian (a) ekspresi (cara

berkomunikasi melalui ekspresi), (b) kerjasama yaitu mengikuti

sebagian besar arahan, (c) minat dalam kegiatan seberapa besar

ketertarikan pasien jiwa dengan aktivitas baru, (d) pengambilan

keputusan merupakan bagaimana pasien mampu membuat keputusan

dalam suatu hal. Lalu pada poin selanjutnya terdapat penilaian-

penilaian item interpersonal dan general behaviors. Setiap item diberi

nilai pada skala 0 sampai 4, dengan "4" menunjukkan jumlah masalah

terberat (dysfunction) dalam skala behaviors. Skala ini merupakan

sebuah evaluasi komprehensif dalam menilai kemampuan individu

untuk membantu menetapkan sasaran yang ditargetkan dalam

meningkatkan kemampuan fungsional Activity Daily Living (ADL),

productivity dan leisure. Setelah diberi evaluasi, individu akan

menerima laporan terperinci yang mencakup profil hasil penilaiannya,

ringkasan aset (kemampuan) serta area untuk perbaikan, dan

rekomendasi layanan. Skala Comprehensive Occupational Therapy

Evaluation Scale (COTE) merupakan evaluasi penilaian yang dibagi

menjadi beberapa poin dengan 26 skills yang telah diidentifikasi dan

didefinisi dengan jelas tentang perilaku indikatif. Masing-masing

skills diberikan bagian belakang dengan subtotal yang dijumlahkan

lalu diinterpretasi. Comprehensive Occupational Therapy Evaluation

Scale (COTE) adalah salah satu skala penilaian yang dikembangkan

untuk mengukur dan menggambarkan peran dari okupasi terapi dalam


68

program kesehatan mental secara komprehensif. Skala terdiri dari 26

item, masing-masing ditentukan oleh serangkaian masalah pada 3

subpoin general behaviors (perilaku umum), perilaku interpersonal,

dan task behaviors (perilaku tugas). Penilaian setiap item dinilai pada

skala 0 (normal) sampai 4 (berat). Di mana interpretasi skor yang

didapat bila semakin tinggi total nilai dari akumulasi tiap subtotal,

maka semakin tinggi juga level gangguan pasien secara komprehensif.

Nilai 0-15 (normal), 16-36 (minimal), 37-54 mild (ringan), 55-70

moderate (sedang) dan ≥ 70 severed (berat). Setelah mendapatkan

total hasil dari setiap subtotal item maka nilai diakumulasi secara

keseluruhan dan didapatkan hasil interpretasi sesuai kategori

(Acharya, 2012).

2. Uji Instrumen

Validity and Reliability pada skala Comprehensive Occupational

Therapy Evaluation Scale (COTE) ditentukan dengan memilih secara

acak grafik dari 5 pasien yang dipulangkan dan membandingkan skor

untuk hari pertama (inisiadi) dan terakhir saat pemberian terapi oleh

okupasi terapis. Penurunan nilai tersebut disepakati dengan

pengamatan profesi lain di dalam tim rehabilitasi. Menurut penelitian

Skala Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale pada

peserta melalui catatan terapi okupasi ini, telah diteliti dengan desain

peneliti mengumpulkan data Comprehensive Occupational Therapy

Evaluation Scale (COTE) peserta kondisi Skizofrenia. Dengan


69

penilaian 26 item skills di dalam instrumen Comprehensive

Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE) yang berisi tiga

subskala. Untuk validitas, penelitian menguji dimensi pada setiap

subskala dengan menggunakan analisis Rasch. Setelah hal tersebut

didukung, para peneliti memeriksa validitas konvergen dengan

menggunakan reliabilitas Pearson dan Rasch dari masing-masing

subskala dalam pendekatan unidimensional dan multidimensi.

Didapatkan hasil persentase yang sangat tinggi berada pada rata-rata

95 % valid (Brayman & Kirby, 2014).

G. Analisis Data

Analisis data merupakan kegiatan yang dilakukan peneliti sesudah

data dari seluruh responden atau sumber data lain telah terkumpul.

Adapun kegiatan dalam analisis data meliputi:

1. Mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden

2. Mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden

3. Menyajikan data dari setiap variabel yang diteliti

4. Melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah

5. Melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah

diajukan

Data yang dianalisis dapat diperoleh dari hasil wawancara,

observasi, kuesioner, dan lain-lain (Sugiyono, 2015).

Data yang akan disajikan dalam penelitian ini berbentuk skala

interval sehingga pengujian hipotesis menggunakan skala pengukuran


70

numerik. Penelitian ini merupakan penelitian komparatif dengan

kelompok subjek berpasangan karena kelompok yang diuji adalah

kelompok yang sama. Apabila distribusi data yang diperoleh dikatakan

normal, maka analisis data yang digunakan adalah uji t berpasangan.

Sedangkan jika distribusi data yang diperoleh tidak normal maka analisis

data menggunakan uji data Wilcoxon. Ada beberapa persyaratan analisis

data, yaitu:

1. Uji Prasyarat

Penelitian ini adalah penelitian data berpasangan dengan

rancangan one group pre-test and post-test design, sehingga uji

prasyarat yang digunakan adalah uji normalitas. Uji normalitas data

yang digunakan mengetahui apakah data terdistribusi normal atau

tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan Shapiro

Wilk Test dikarenakan data kurang dari 50. Data dapat dikatakan

berdistribusi normal jika nilai p (p-value) > 0,05. Apabila data

berdistribusi normal, maka uji data menggunakan uji parametrik.

Sedangkan jika data tidak berdistribusi normal maka uji data

menggunakan non parametrik.

2. Uji beda pre-test dan post-test

Uji beda pre-test dan post-test digunakan untuk mengetahui

hasil perbedaan kemampuan sosialisasi pada saat sebelum dan

sesudah diberikan intervensi. Bila data tidak terdistribusi normal,

maka digunakan uji Wilcoxon sebagai alternatif penggantian uji


71

Paired Sample T Test (uji t sampel berpasangan). Uji Wilcoxon

berfungsi menguji perbedaan antar data berpasangan, menguji

komparasi antar dua pengamatan sebelum dan sesudah untuk

mengetahui efektifitas intervensi.

3. Pemeriksaan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan penelitian yang digunakan sesuai

dengan hipotesis yang telah diajukan.

4. Penyajian

Penyajian data dari hasil penelitian akan disajikan dalam

bentuk tabel berdasarkan olah data Statistical Product and Service

Solution (SPSS).

H. Prosedur Penelitian

1. Persiapan

a. Proses penelitian ini melakukan inisiasi berupa rancangan

penelitian dalam sebuah proposal penelitian dan pengujian sebuah

proposal

b. Pembuatan modul intervensi yaitu berupa modul terapi kelompok

problem solving sebagai acuan dalam pemberian treatment

c. Menyiapkan alat berupa instrument pengukuran yang digunakan

dalam penelitian.

2. Permohonan Izin Melakukan Penelitian

a. Peneliti mengajukan surat pemohonan izin kepada direktur, bagian


72

diklat litbang, tata usaha serta kepala ruangan Rehabilitasi Rumah

Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta

b. Setelah mendapat izin untuk melakukan penelitian selanjutnya

peneliti melakukan pelaksanaan penelitian sesuai dengan modul

terapi kelompok problem solving yang telah disusun secara

sistematis.

3. Pelaksanaan Penelitian

a. Pemeriksaan Awal

Pemeriksaan awal pada subjek penelitian menggunakan

instrumen Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale

(COTE) dengan pemilihan subjek penelitian sesuai dengan kriteria

yang telah ditentukan. Peneliti melakukan pemeriksaan (assesment)

kepada subjek penelitian menggunakan instrumen sebelum

pemberian terapi kelompok problem solving.

b. Intervensi

Intervensi yang dilakukan dalam penelitian ini dengan

pemberian terapi kelompok problem solving kepada subjek

penelitian. Subjek penelitian diarahkan dan diminta mengikuti

terapi kelompok problem solving sesuai program yang telah

dirancang oleh peneliti mulai dari awal hingga selesai (dalam 6 kali

pertemuan dengan durasi pemberian treatment selama ± 45 menit.


73

c. Evaluasi

Evaluasi akhir dilakukan pengukuran Comprehensive

Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE) kembali kepada

subjek penelitian kemudian dibandingkan dengan hasil

Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE) di

awal pemeriksaan.

4. Penyelesaian laporan dan presentasi hasil penelitian.

I. Jadwal Penelitian

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian


Tahun 2018
No. Kegiatan
Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli
1. Penyusunan Proposal

2. Seminar Proposal

4. Perizinan Penelitian

5. Pelaksanaan Penelitian dan


Pengumpulan Data
7. Analisis Data dan Penyusunan
Laporan
8. Presentasi Hasil

9. Perbaikan Laporan

10. Pengumpulan Laporan

Sumber: Jadwal Kalender Akademik


74

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Penelitian

Penelitian ini telah terlaksana bersamaan dengan pelaksanan

praktik klinik di Instalasi Rehab Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif

Zainudin di Jl. Ki Hajar Dewantara No. 80 Surakarta mulai 5 Maret

hingga 28 April 2018.

Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin memiliki berbagai

jenis pelayanan dan instalasi dalam menyelenggarakan pemulihan dan

rehabilitasi di bidang kesehatan jiwa sesuai dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku. Jenis pelayanan yang ada di

rumah sakit jiwa antara lain adalah pelayanan administrasi dan

manajemen, pelayanan gawat darurat, pelayanan rekam medik,

pelayan laboratorium klinik, pelayanan radiologi, pelayanan farmasi,

dan pelayanan rehabilitasi medik. Sedangkan beberapa instalasi yaitu

berupa instalasi gawat darurat, instalasi rawat inap, instalasi rawat

jalan, instalasi penunjang diagnostik, instalasi pelayanan terapi

biopsikososial, instalasi rekam medik, instalasi rehabilitasi diklat dan

rehabilitasi medik. Di antara pelayanan rehabilitasi ada pelayanan

rehabilitasi siang hari (day care), terapi okupasi dan latihan


75

keterampilan kerja (sheltered workshop), rekreasi, serta kunjungan

rumah (home visit).

Seluruh pasien bangsal rawat inap yang mengikuti kegiatan di

instalasi rehab okupasi terapi, setiap hari menuju ruang rehab dengan

diantar oleh perawat ruangan masing-masing, mulai pukul 08.30 dan

kembali lagi pukul 10.00 WIB. Jumlah pasien setiap hari yang datang

untuk mengikuti kegiatan terapi okupasi terapi sebanyak 50-60 pasien

dari 9 bangsal rawat inap Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin

Surakarta.

Sedangkan dari jumlah keseluruhan, pasien yang masuk ke

dalam kriteria dan bersedia menjadi subjek penelitian berjumlah 30

orang. Sebelum memulai kegiatan terapi, seluruh pasien berkumpul di

lapangan untuk mengikuti kegiatan senam pagi. Senam pagi sebagai

awal aktivitas pemanasan, setelah itu baru menuju pada aktivitas

terapi inti sesuai jadwal harian yang sudah ada.

Jadwal kegiatan terapi pada hari Senin yaitu terapi seni untuk

pasien perempuan dan kegiatan olahraga badminton untuk pasien laki-

laki. Selanjutnya untuk hari Selasa seluruh pasien baik laki-laki

maupun perempuan berkumpul untuk mengikuti terapi musik.

Sedangkan hari Rabu kegiatan terbagi menjadi dua kelompok (pasien

laki-laki dan pasien perempuan) yang nantinya pasien dibagi lagi

menjadi beberapa kelompok lagi untuk mengikuti group therapy. Hari

Kamis pasien perempuan mengikuti terapi asertif atau seni, sedangkan


76

pasien laki-laki mengikuti kegiatan olahraga voli, tenis meja (pasien

laki-laki). Di hari Jum’at pasien mengikuti kegiatan kerohanian sesuai

dengan agama yang dianutnya, pasien yang beragama Islam mengikuti

pengajian, pasien yang beragama Kristiani mengikuti kebaktian,

sedangkan pasien agama lain mengikuti arahan dari petugas

kerohanian.

Langkah-langkah Standart Procedure Operational dalam

pengambilan data di bagian Rehab Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif

Zainudin Surakarta mulai dari perizinan ke direktur rumah sakit

melalui administrasi diklat litbang. Setelah pengajuan perizinan turun,

bagian litbang akan memberikan surat izin penelitian. Setelah itu

peneliti dapat memberikannya surat kepada kepala ruangan bagian

instalasi rehab okupasi terapi. Setelah mendapat persetujuan dari

kepala instalasi rehab, langkah berikutnya peneliti melakukan

screening dan mencari informasi mengenai data subjek yang akan

masuk pada kategori penelitian. Setelah mendapatkan subjek

penelitian, peneliti melakukan tes menggunakan instrumen

Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE),

bersamaan dengan itu peneliti juga meminta izin dan menjelaskan

tujuan dari intervensi (pemberian terapi) kepada subjek penelitian

yang masuk ke dalam kategori. Parameter hasil dari penelitian adalah

adanya perubahan nilai tingkat sosialisasi pasien Skizofrenia sebelum

dan sesudah mengikuti intervensi (terapi kelompok).


77

Teknik pengambilan subjek penelitian menggunakan purposive

sample, pengambilan data diawali dengan screening subjek penelitian

berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Sebelum subjek penelitian

mendapatkan intervensi, peneliti melakukan pengukuran kemampuan

sosialisasi subjek penelitian menggunakan instrumen Comprehensive

Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE) yang terdiri dalam

pengukuran skor pre-test (nilai sebelum dilakukan tindakan). Peneliti

juga mempertimbangkan berapa lama pasien mulai masuk dan

mengikuti kegiatan rehab okupasi terapi. Jika pasien tersebut masuk

ke dalam kategori pasien baru yang baru saja dirujuk dan memenuhi

kriteria, maka pasien tersebut akan diprioritaskan peneliti untuk

dijadikan subjek penelitian. Setelah melakukan screening terhadap

subjek penelitian yang baru mengikuti kegiatan rehab, peneliti

menentukan jumlah subjek penelitian yang didapatkan untuk

mendapatkan intervensi selama 6 kali pertemuan yang akan datang.

Total jumlah subjek penelitian yang memenuhi persyaratan dari

kriteria penelitian yaitu sebanyak 30 pasien, dengan rincian jumlah

subjek penelitian laki-laki berjumlah 18 orang dan perempuan 12

orang.

Kemudian dilanjutkan dengan melihat rekam medis pasien

untuk mengetahui diagnosis medis. Dalam satu kali pemberian

intervensi durasi terapi selama ± 45 menit dengan rincian waktu 10

menit warming up, 25 menit aktivitas inti dan 10 menit cooling down.
78

Pengambilan data dimulai dengan melakukan pre-test

menggunakan instrumen Comprehensive Occupational Therapy

Evaluation Scale (COTE) kepada setiap subjek penelitian yang masuk

ke dalam kategori. Setelah itu minggu selanjutnya pada tanggal 26 dan

28 Maret 2018 dilakukan intervensi pertama dan kedua. Lalu minggu

selanjutkan pada tanggal 2 dan 4 April 2018 dilakukan intervensi

ketiga dan keempat. Minggu terakhir pada tanggal 9 dan 11 April

2018 dilakukan intervensi yang kelima dan keenam. Lalu tanggal 13

April 2018 diakhiri dengan melakukan post-test instrumen

Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE).

2. Diskripsi Karakteristik Subjek Penelitian

Diskripsi karakteristik subjek penelitian pada penelitian ini yaitu

berdasarkan jenis kelamin, usia, riwayat pendidikan dan diagnosis

medis.

a. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Subjek Penelitian


Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
Laki-Laki 18 60
Perempuan 12 40

Total 30 100
Sumber : Olah Data SPSS Ver. 24 (2018)

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa jumlah subjek penelitian

terbanyak adalah berjenis kelamin laki-laki, dengan jumlah 18

orang (60%). Sedangkan proporsi subjek penelitian berjenis

kelamin perempuan berjumlah 12 orang (40%).


79

b. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Subjek Penelitian


Berdasarkan Usia
Usia (Tahun) Jumlah Persentase (%)
17-25 4 13,3
26-35 11 36,7
36-45 8 26,7
46-55 7 23,3
Total 30 100
Sumber : Olah Data SPSS Ver. 24 (2018)

Departemen Kesehatan (2009) membagi usia manusia

berdasarkan kelompok remaja akhir yang berada pada rentang usia

17-25 tahun, masa dewasa awal berusia 26-35 tahun, masa dewasa

akhir berusia 36-45 tahun, dan masa lansia awal berusia 46-55

tahun. Berdasarkan Tabel 4.2, proporsi jumlah subjek penelitian

yang paling banyak mengalami Skizofrenia adalah kelompok

rentang usia 26-35 tahun berjumlah 11 orang (36,7 %). Sedangkan

untuk jumlah yang paling sedikit ada pada kelompok rentang usia

17-25 tahun dengan jumlah 4 orang (13,3 %).

c. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Riwayat Pendidikan

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Subjek Penelitian


Berdasarkan Riwayat Pedidikan
Pendidikan Jumlah Persentase (%)
Tidak Sekolah 1 3,3
SD 5 16,7
SMP 10 33,3
SMA 13 43,3
S1 1 3,3
Total 30 100
Sumber : Olah Data SPSS Ver. 24 (2018)
80

Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa jumlah subjek

penelitian paling banyak memiliki pendidikan pada tingkat SMA

dengan jumlah 13 orang (43,3 %). Sedangkan responden yang tidak

sekolah dan memiliki pendidikan tingkat sarjana merupakan angka

paling sedikit dengan masing-masing berjumlah 1 orang (3,3%).

d. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Diagnosis Medis

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Subjek Penelitian


Berdasarkan Diagnosis Medis

Diagnosis Medis Jumlah Persentase (%)


Skizofrenia Paranoid 8 26,7
Skizofrenia Hebefrenik 2 6,7
Skizofrenia Tak Terinci 14 46,7
Skizofrenia Residual 6 20
Total 30 100

Sumber : Olah Data SPSS Ver. 24 (2018)

Tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa jumlah subjek penelitian

yang memiliki jumlah paling banyak masuk ke dalam diagnosis

medis kelompok Skizofrenia Tak Terinci berjumlah 14 orang

(46,7%). Sedangkan tipe Skizofrenia Hebefrenik paling sedikit dari

jumlah subjek penelitian secara keseluruhan berjumlah 2 orang

(6,7%).
81

e. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Gangguan (Skor Pre-test COTE)

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Subjek Penelitian


Berdasarkan Kategori Gangguan (Skor Pre-test COTE)
Diagnosis Medis Jumlah Persentase (%)
Minimal 2 6,7
Mild (Ringan) 25 83,3
Moderate (Sedang) 2 6,7
Severed (Berat) 1 3,3
Total 30 100
Sumber : Olah Data SPSS Ver. 24 (2018)

Berdasarkan Tabel 4.5 menunjukkan bahwa jumlah subjek

penelitian pada nilai Pre-test dengan kategori gangguan mild

(ringan) paling banyak yaitu berjumlah 25 orang (83,3 %).

Sedangkan kategori gangguan severed (berat) berjumlah paling

sedikit yaitu 1 orang (3,3 %).

f. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Gangguan (Skor Post-test COTE)


Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Subjek Penelitian

Berdasarkan Kategori Gangguan (Skor Post-test COTE)


Diagnosis Medis Jumlah Persentase (%)
Minimal 27 90
Mild (Ringan) 2 6,7
Moderate (Sedang) 1 3,3
Total 30 100
Sumber : Olah Data SPSS Ver. 24 (2018)

Tabel 4.6 di atas menunjukkan bahwa ada perubahan pada

distribusi frekuensi antara penilaian subjek penelitian saat pre-test

dengan post-test. Pada penilain pre-test jumlah kategori gangguan

pada kelompok mild (ringan) berjumlah 25 orang (83,3 %). Setelah

adanya pemberian intervensi, hasil penilaian pada post-test subjek


82

penelitian rata-rata mengalami perubahan, masuk ke dalam kategori

minimal dengan jumlah 27 orang (90 %).

B. Analisis Uji Prasyarat

Sebelum menentukan teknik analisa data statistik, peneliti

melakukan uji prasyarat atau uji normalitas data. Uji normalitas data

pada penelitian ini menggunakan analisis Shapiro Wilk Test karena

jumlah subjek penelitian berjumlah 30 orang atau (<50 orang). Di

dalam uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk Test, hal tersebut

terdistribusi normal apabila nilai p (p-value >0,05) (Sugiyono, 2015).

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel. 4.7 Hasil Uji Normalitas Skor Pre-test dan Post-test COTE

Shapiro Wilk
Pengukuran
Sig. (p) Kriteria Keterangan
Pre-test COTE 0,000 p-value > 0,05 Tidak Normal
Post-test COTE 0,000 p-value > 0,05 Tidak Normal
Sumber : Olah Data SPSS Ver. 24 (2018)

Dari tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa nilai pada uji

normalitas terhadap sebaran skor pre-test dan post-test COTE

menunjukkan hasil signifikansi (p) = 0,000 (p-value < 0,05). Hasil uji

normalitas tersebut menunjukkan bahwa distribusi dua kelompok data

(pre-test dan post-test) tidak terdistribusi dengan normal karena

keduanya menunjukkan nilai signifikansi (Sig. p = 0,000), oleh karena

itu uji hipotesis yang akan digunakan adalah Uji Wilcoxon.


83

C. Analisis Uji Hipotesis

Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan Uji Wilcoxon.

Kriteria perhitungan Uji Wilcoxon adalah jika p < 0,05 dengan derajat

signifikasi 95 %, maka H0 ditolak dan Ha diterima.

Berdasarkan perhitungan menggunakan Uji Wilcoxon

menggunakan program Statistical Product and Service Solution

(SPSS), diperoleh angka signifikansi pada penelitian ini sebesar 0,000.

Karena nilai p < 0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa

kemampuan sosialisasi pre-test dan post-test dalam pemberian

intervensi terapi kelompok problem solving ada perbedaan secara

bermakna. Hal tersebut menunjukkan terdapat pengaruh pemberian

intervensi terapi kelompok terhadap kemampuan sosialisasi pasien

Skizofrenia. Hasil uji tersebut dapat dijelaskan pada Tabel 4.8 di

bawah ini.

Tabel 4.8 Analisis Uji Wilcoxon Statistics

Variabel P-Value Keterangan


V. Bebas : Terapi Kelompok 0,000 p < 0,05
V. Terikat : Kemampuan Sosialisasi H0 ditolak dan Ha diterima
Sumber : Olah Data SPSS Ver. 24 (2018)
84

D. Pembahasan

1. Karakteristik Responden

a. Jenis Kelamin

Dari distribusi kelompok penelitian berdasarkan jenis

kelamin pada Tabel 4.1 menunjukan bahwa total populasi pasien

berjenis kelamin laki-laki memiliki jumlah lebih banyak daripada

perempuan, yaitu sebesar 60%.

Di dalam data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013

memperkirakan sekitar satu juta orang di Indonesia yang

mengalami gangguan kejiwaan, menunjukkan individu berjenis

kelamin laki-laki memiliki risiko lebih tinggi mengalami

Skizofrenia dibandingkan perempuan. Namun untuk masalah

prognosis yang dialami pasien berjenis kelamin laki-laki atau

perempuan, keduanya memiliki prognosis sama, sehingga

keduanya perlu tindakan yang tepat (Nurwusta, 2017).

Suryabrata (2005) juga menyebutkan bahwa kejadian

Skizofrenia pada laki-laki lebih besar terjadi daripada perempuan.

Sedangkan Sadock (2010) mengungkap bahwa laki-laki (72%)

memiliki prognosis lebih buruk dibandingkan dengan perempuan,

dengan kemungkinan laki-laki berisiko 2,37 kali lebih besar mudah

mengalami gangguan kejiwaan dibandingkan perempuan. Hal

tersebut dikarenakan laki-laki menjadi penopang utama dalam

rumah tangga, sehingga laki-laki cenderung lebih besar mengalami


85

tekanan hidup. Sedangkan perempuan lebih sedikit berisiko

menderita gangguan jiwa karena perempuan lebih mampu

menerima situasi kehidupan dibandingkan dengan laki-laki.

b. Usia

Menurut Departemen Kesehatan (2009) manusia

dikelompokkan sesuai usianya, di mana masa remaja akhir berusia

17-25 tahun, masa dewasa awal berusia 26-35 tahun, masa dewasa

akhir berusia 36-45 tahun, dan masa lansia awal berusia 46-55

tahun. Sedangkan pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa proporsi

jumlah subjek penelitian paling banyak mengalami Skizofrenia

yaitu kelompok rentang usia 26-35 tahun dengan jumlah 11 orang

(36,7 %). Sedangkan jumlah yang paling sedikit pada kelompok

rentang usia 17-25 tahun dengan jumlah 4 orang (13,3 %).

Hal tersebut sama seperti yang ada dalam teori interpersonal

bahwa Skizofrenia muncul akibat adanya disfungsi pada masa

kehidupan awal dan masa remaja seorang individu. Penyebabnya

karena stressor lingkungan, seperti ibu yang memiliki kecemasan

berlebihan, orang tua yang terlalu protektif, keluarga yang tidak

perhatian secara emosional, atau ayah yang suka mengontrol.

Skizofrenia terjadi pada masa remaja akhir dan dewasa awal, pada

laki-laki rata-rata pada rentang usia 15-25 tahun dan perempuan

pada rentang usia 12-35 tahun (APA, 2000).


86

Setyanto dan Maliya (2010) menuliskan bahwa prevalensi

penderita Skizofrenia di Indonesia sering terjadi pada individu

dengan rentang usia 15-45 tahun. Penelitian tersebut

mengindikasikan bahwa Skizofrenia dapat dialami seseorang pada

rentang usia 15-45 tahun di mana masa tersebut merupakan usia

produktif seseorang. Sedangkan Hurlock (2010) mengatakan

bahwa masa dewasa muda atau dewasa awala adalah masa di mana

individu mencoba peran-peran baru yang memberikan perubahan

signifikan. Pada kondisi tersebut apabila seseorang mendapati

stressor (tekanan) atau kesulitan dalam memecahkan suatu masalah

tertentu maka akan membuat orang tersebut rentan mengalami

gangguan psikis atau kejiwaan.

Menurut Erlina & Pramono (2010) yang sama dengan teori

sebelumnya juga menyatakan bahwa gejalan Skizofrenia sering

muncul biasanya pada rentang usia remaja akhir atau dewasa awal.

Onset pada laki-laki biasanya antara usia 17-25 tahun, sedangkan

perempuan antara usia 26-35 tahun.

c. Riwayat Pendidikan

Sebagaian besar subjek penelitian dalam penelitian ini,

memiliki pendidikan di tingkat SMA dengan jumlah 13 pasien

(43,3 %). Sedangkan subjek penelitian terendah adalah yang tidak

sekolah dan memiliki tingkat pendidikan sarjana, di mana masing-

masing berjumlah 1 orang (33,3 %).


87

Banyak faktor yang menjadi pencetus seseorang dapat

mengalami gangguan kejiwaan, salah satunya pendapatan dan

tingkat pendidikan (Bruce, 2002). Sedangkan Kaplan & Grebb

(2010) menyebutkan bahwa faktor psikososial, faktor biologis dan

genetika sangat besar pengaruhnya sebagai pencetus gangguan

kejiwaan.

Di dalam penelitian yang ditulis Maryaningtyas (2005)

menyebutkan bahwa usia SMA masuk ke dalam fase remaja, di

mana individu masih sedang mencari jati diri. Emosinya cenderung

labil, tidak berani menyampaikan keinginannya, mudah cemas dan

mudah depresi karena belum matang secara perkembangan

mencapai masa dewasa.

Efendi (2014) mengatakan bahwa psikologis individu di usia

SMA berada pada tahap yang tidak jelas pada rangkaian proses

perkembangan emosi. Ketidakjelasan ini karena usia tersebut

merupakan periode transisi dari masa kanak-kanak menuju periode

orang dewasa (masa pubertas). Sehingga emosi yang tidak stabil

rentan membuat individu pada usia tersebut bertingkahlaku tidak

sesuai. Emosi yang belum matang cenderung menyebabkan

individu mudah tertekan, kemampuan problem solving yang tidak

sempurna, bahkan terkadang tidak mengetahui cara melampiasan

emosinya.
88

d. Diagnosis Medis

Diagnosis medis subjek penelitian pada penelitian ini terdiri

dari jenis Skizofrenia Paranoid, Skizofrenia Hebefrenik,

Skizofrenia Tak Terinci, dan Skizofrenia Residual. Dari tabel 4.4

menunjukkan bahwa jumlah subjek penelitian yang mendominasi

adalah jenis Skizofrenia Tak Terinci yaitu 14 pasien (46,7 %).

Ditinjau dari diagnosa atau jenis Skizofrenia, jenis

Skizofrenia Tak Terinci teridentifikasi masuk ke dalam jenis

Skizofrenia dengan jumlah penderita terbanyak. Skizofrenia Tak

Terinci merupakan jenis Skizofrenia yang gejalanya tidak

memenuhi kriteria Skizofrenia Paranoid, Skizofrenia Hebefrenik,

maupun Skizofrenia Katatonik (Elvira, 2013).

Sedangkan menurut Janut, 2013 menyebutkan bahwa jenis

Skizofrenia Paranoid memiliki jumlah terbanyak dibandingkan

dengan jenis Skizofrenia lainnya sebanyak 40,8 %, kemudian

diikuti dengan Skizofrenia Residual sebanyak 39,4 %, Skizofrenia

Hebefrenik sebanyak 12 %, Skizofrenia Katatonik sebanyak 3,5 %,

Skizofrenia Tak Terinci 2,1 %, Skizofrenia jenis lainnya sebanyak

1,4 % dan yang paling sedikit adalah Skizofrenia Simpleks

sebanyak 0,7 %. Sehingga hal tersebut bertolak belakang dengan

hasil penelitian ini di mana, jumlah subjek penelitian yang ada di

lapangan berbeda dengan pendapat-pendapat ahli yang telah ada

sebelumnya.
89

e. Pengaruh Terapi Kelompok Terhadap Sosialisasi

Dari hasil pengukuran instrumen COTE sebelum pemberian

terapi kelompok (pre-test), menunjukkan hasil bahwa jumlah subjek

penelitian banyak yang berada pada skor gangguan mild (ringan)

dengan jumlah 25 orang (83,3 %). Setelah adanya intervensi terapi

kelompok (post-test) selama 6 kali pertemuan, skor COTE dari seluruh

subjek penelitian secara umum mengalami perubahan dari gangguan

mild (ringan) ke minimal dengan jumlah 27 orang (90 %).

Hasil uji statistika menunjukkan bahwa nilai p = 0,000, di mana

menunjukkan hasil signifikasi antara terapi kelompok problem solving

terhadap kemampuan sosialisasi.

Ternyata hasil tersebut sesuai dengan beberapa penelitian yang

menyatakan efek dari terapi kelompok memberikan dampak baik

kepada penderita Skizofrenia. Sadock & Grebb (2010) menyatakan

bahwa terapi kelompok dapat berguna serta efektif untuk penderita

Skizofrenia karena dapat menurunkan isolasi sosial, meningkatkan

rasa kebersamaan dan meningkatkan kemampuan realitas pasien

Skizofrenia.

Sedangkan Semiun (2006) juga membenarkan salah satu

kegunaan terapi kelompok yaitu membantu pasien Skizofrenia untuk

lebih memahami bahwa masalah yang sedang dihadapi masih dapat

dibagi (sharing) dengan orang lain. Hal tersebut memberi peluang

bagi penderita untuk dapat memecahkan masalah, membuat penderita


90

Skizofrenia belajar cara menangani masalah secara lebih efektif.

Sedangkan Yalom (2005) menjelaskan bahwa terapi kelompok dapat

memberikan banyak manfaat, mulai dari menumbuhkan harapan

penderita Skizofrenia (instillation of hope), menumbuhkan

kebersamaan (universality), menumbuhkan rasa percaya untuk

menghargai diri sendiri dan orang lain (altruism), sebagai sarana

penyampaian informasi (impartiong information), koreksi rekapitulasi

dari kelompok keluarga primer (the corrective recapitulation of the

primary family group), perkembangan sosialisasi (development of

socializing techniques), perilaku meniru (imitative behavior),

pembelajaran interpersonal (interpersonal learning), keterpaduan

grup (group cohesiveness), mengekspresikan perasaan kepada orang

lain (catharsis), dan diharapkan pasien mempu memahami keyakinan

yang tercipta dalam dirinya tentang bahwa ‘hidup kadang tidak adil’

(existential factors).

Sedangkan efek terapeutik terapi kelompok problem solving

sendiri secara spesifik dijelaskan oleh Garvin (1987) yaitu sebagai

media komukasi di dalam kelompok untuk memecahkan suatu

masalah dengan saling memberikan pendapat serta masukan. Dengan

hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa terapi kelompok problem

solving akan menghasilkan suatu pemecahan masalah karena adanya

interaksi sebuah ide dari setiap anggota kelompok dan membuahkan

hasil dengan kesepakatan bersama.


91

E. Keterbatasan Penelitian

1. Instrumen penelitian Comprehensive Occupational Therapy

Evaluation Scale (COTE) merupakan instrumen komprehensif

berbahasa Inggris lalu dialihbahasakan menjadi bahasa Indonesia,

hal tersebut memungkinkan dapat menimbulkan kebingungan dan

bias pada skor COTE.

2. Beberapa subjek penelitian memperoleh intervensi medikamentosa

yang tidak sama selama perawatan di rumah sakit, sehingga hal

tersebut menunjukkan hasil perbaikan yang bias, apakah perbaikan

pasien sepenuhnya karena pemberian terapi atau didukung dengan

pengaruh dari pengobatan medikamentosa.

3. Pemberian intervensi tidak maksimal sebab kondisi dan mood

pasien yang tidak selalu sama, sehingga terkadang ada beberapa

pasien yang tiba-tiba berhenti melakukan aktivitasnya di tengah

kegiatan.
92

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian melalui data demografi 30 subjek

penelitian, menggunakan teknik purposive sampling. Jenis penelitian

yaitu kuasi eksperimental dengan desain one group pre-test and post-

test, dapat dirangkum menjadi kesimpulan bahwa terapi kelompok

problem solving memberikan pengaruh yang bermakna terhadap

kemampuan sosialisasi pasien Skizofrenia. Hasil penelitian

ditunjukkan dari hasil analisis uji Wilcoxon terhadap skor COTE

sebelum dan sesudah (pre-test dan post-test) terapi kelompok. Hasil

penilaian menunjukkan bahwa nilai (p-value 0,000) yang berarti

menunjukkan terdapat perbedaan signifikan pada pre-test dan post-test

intervensi terapi kelompok. Hal tersebut juga dapat dilihat

berdasarkan kategori gangguan yang menunjukkan penurunan dari

gangguan mild (ringan) ke minimal.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui data demografi pasien

yang kemudian dirangkum menjadi kesimpulan sebagai berikut:

1. Terdapat peningkatan kemampuan sosialisasi responden

sesudah mendapatkan terapi kelompok berdasarkan jenis

kelamin. Jumlah subjek penelitian laki-laki yang masuk ke


93

dalam kategori gangguan minimal yaitu 17 orang (56,7 %)

dan perempuan 10 orang (33,3 %).

2. Terdapat peningkatan kemampuan sosialisasi responden

sesudah mendapatkan terapi kelompok berdasarkan usia.

Kelompok usia yang paling mendominasi 26-35 tahun

sebelumnya di kategori gangguan mild (ringan) lalu berubah

ke dalam kategori gangguan minimal.

3. Terdapat peningkatan kemampuan sosialisasi responden

sesudah mendapatkan terapi kelompok berdasarkan diagnosis

medis. Kelompok Skizofrenia Tak Terinci sebelumnya di

kategori gangguan mild (ringan) lalu berubah ke dalam

kategori gangguan minimal.

4. Terdapat peningkatan kemampuan sosialisasi responden

sesudah mendapatkan terapi kelompok berdasarkan riwayat

pendidikan. Kelompok jenjang SMA sebelumnya di kategori

gangguan mild (ringan) lalu berubah ke dalam kategori

gangguan minimal.

B. Saran

1. Instrumen Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale

(COTE) merupakan instrumen yang bermula dari bahasa Inggris,

kemudian dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, untuk

meminimalisir bias atau kerancuan dalam mengartikan makna,

peneliti harus banyak refrensi pada instrumen, agar setiap poin


94

maksud dari penilian di dalam instrumen dapat diterjemahkan

dengan baik dan benar. Peneliti juga harus mampu melakukan

observasi yang jeli serta teliti terhadap kemampuan sosialisasi

pasien.

2. Perlu adanya penelitian yang bisa menekan faktor-faktor yang

menjadi distrak seperti penggunaan psikofarmaka, terapi keluarga

atau bentuk terapi lainnya sehingga penelitian yang dilakukan

merupakan pengaruh yang benar-benar dapat dilihat dari efektifitas

terapi kelompok problem solving pada kemampuan sosialisasi

pasien Skizofrenia.

3. Peneliti perlu mendesain kegiatan terapi kelompok problem solving

menjadi lebih menarik dan hidup, sehingga timbul motivasi atau

perasaan yang tidak membosankan bagi pasien.


95

DAFTAR PUSTAKA

Acharya, V. (2012). Problem Identification Grid: Assessment Tool for


Mental Health Settings. Indian Journal of Occupational Therapy. Vol. 44.
11–14.

American Psychiatric Association (APA). DSM-IV-TR. (2000). Diagnostic


and Statistical Manual of Mental Disorders. Washington: American
Psychiatric Association.

American Psychiatric Assosiation (APA). (2013). Diagnostic and Statistical


Manual of Mental Disorder (5th Edition). Washington: American
Psychiatric Assosiation.

American Occupational Therapy Assosiation (AOTA). (2000).


Ocuupational Therapy Practice Framework: Domain and Process
Teamwork. American Journal of Occupational Therapy Vol. 62. 625-687.

Bellido, M. (2005). Comprehensive Occupational Therapy Scale (COTE)


for Psychiatric Patients. Retrieved February 20, 2018 from the world
wide web: [Link]

Brayman, S.J & Kirby, T.F. (2014). The Comprehensive Occupational


Therapy Evaluation. Retrieved February 18, 2018 from the world wide
web: [Link]

Bruce, M. (2002). Psychosocial Frame of Reference (3th Edition).


Thorofare: Slack Incorporated.

Bruce, J. (2009). Peranan, Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka


Cipta.

Buhler, C. (2002). Practice Kinder Pshycholgy. Boston: Houghton Mifflin,


Co.

Dahlan, S (2006). Statistika untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta:


Arkans.

Darmawan, D. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

David, A. (2005). Community Work and Problem Solving. London:


McMilan.

Departemen Pendidikan Nasional Pusat Bahasa. (2008). Kamus Besar


Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
96

Departemen Kesehatan. (2009). Kategori Umur Menurut Depkes. Retrieved


June 04, 2018 from the world wide web: [Link] [Link]

Departemen Kesehatan. (2012). Buku Profil Kesehatan Provinsi Jawa


Tengah Tahun 2012. Semarang: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

Departemen Kesehatan RI. (2013). Data Riset Kesehatan Dasar 2013.


Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Dobson, M. (2005). The Influence of Group Therapy on Schizophrenia.


Retrieved February 15, 2018 from the world wide web: [Link]
[Link]

Efendi, R. (2014). Pengaruh Terapi Musik Terhadap Tingkat Kecemasan


Pasien Skizofrenia di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang.
Surakarta: Politeknik Kementerian Kesehatan Surakarta.

Elvira S. (2013). Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia.

Jarut, Y. (2013). Tinjauan Penggunaan Antipsikotik pada Pengobatan


Skizofrenia di Rumah Sakit Prof. Dr. V.L. Ratumbuysang Manado
Periode Januari 2013. Ilmiah Farm. 2013; 2(3):54-7.

Kanas, N. (2006). The Effectiveness of Group Therapy on Socialization Skill


of Schizophrenia. Retrieved February 17, 2018 from the world wide web:
[Link] [Link]

Hawari, D. (2009). Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia.


Jakarta: Balai Penerbit FK UI.

Hawari, D. (2012). Skizofrenia (3th Edition). Jakarta: Balai Penerbit FK UI.

Hurlock, I. (2010). A Functional Approach to Group Work in Occupational


Therapy. Philadelpia: J.B. Lippincott Company.

Ilham, A. (2008). Terapi Psikoreligius. Retrieved February 15, 2018 from


the world wide web: [Link] [Link]
com/.

Garvin, C. (1987). Handbook of Social Work with Groups. International


Journal Social Welfare Vol. 32. 167-169.

Grebb, J.A. (2008). Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri


Klinis. Tangerang: Binarupa Aksara.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang


No.18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa. Jakarta: Kemenkes RI.
97

Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Rencana Strategis


Kementrian Untuk Kesehatan Jiwa. Retrieved February 03, 2018 from
the world wide web: [Link]
publik/[Link]/.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peran Keluarga


Dukung Kesehatan Jiwa Masyarakat. Retrieved February 14, 2018 from
the world wide web: [Link]

Lucy, S. (2013). Comprehensive Occupational Therapy Evaluation.


Retrieved February 20, 2018 from the world wide web:
[Link]

Maramis, W. (2009). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa (Edisi ke II). Surabaya:


Airlangga University Press.

Maslim, R. (2001). Buku Saku: Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas


dari PPDGJ-III. Jakarta: Nuh Jaya.

Maulida, L. (2015). Pengaruh Terapi Kelompok Terhadap Kemampuan


Bersosialisasi Pasien Dengan Diagnosa Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa
Menur Surabaya. Skripsi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Surabaya.

Mike, J. (2008). The High Functional Schizophrenia. Retrieved February


03, 2018 from the world wide web: [Link]

Morgan, T. (2006). Introduction to Psychology. New York: Mc. Graw Hill


[Link].

Neale, J.M. (2011). Introducing Schizoprenia. Retrieved February 14, 2018


from the world wide web: [Link]

Nurwusta, A. (2017). Pengaruh Terapi Kelompok Problem Solving


Terhadap Level Kecemasan Global Pada Pasien Skizofrenia di Rumah
Sakit Jiwa Dr. RM. Soedjarwadi Provinsi Jawa Tengah. Surakarta:
Politeknik Kementerian Kesehatan Surakarta.

Pambudi. (2017). Pengaruh Aktivitas Kelompok Sosialisasi Terhadap


Tingkat Sosialisasi pada Lansia. Skripsi. Universitas Jember.

Reed, K.L. (2001). Quick Reference to Occupational Therapy. Maryland:


Aspen Publisher.

Rumah Sakit Jiwa Daerah Arif Zainudin Surakarta. (2017). Profil Rumah
Sakit Jiwa Daerah Arif Zainudin. Brosur. Retrieved February 13, 2018
from the world wide web: [Link]
98

Rumah Sakit Jiwa Daerah Arif Zainudin Surakarta. (2017). Day Care Sakit
Jiwa Daerah Arif Zainudin. Brosur No. 09.2/001/Humas&Pms/XII/2017.

Sadock, B.J. (1988). Directive Group Therapy: Innovative Mental Health


Treatment. Thorofarehanskizof: SLACK Incorporated.

Sadock B.J, Grebb J.A. (2010). Sinopsis Psikiatri Jilid 2: Terjemahan


Widjaja Kusuma. Jakarta: Binarupa Aksara.

Sadock, B.J. (2010). Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psyciatry: Behavioral


Sciences or Clinical Psychiatry. Edisi X. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins.

Sani, A. (2002). Spliting Personality: Skizofrenia. Jakarta: PT. Dian Ariesta.

Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius.

Setiadi, I. (2006). Skizophrenia: Memahami Dinamika Keluarga Pasien.


Jakarta: Refika Aditama.

Setyanto, I & Maliya, A. (2010). Efektifitas Terapi Gerak Terhadap Tingkat


Kecemasan Pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah
Surakarta. Retrieved June 03, 2018 from the world wide web:
[Link]

Stuart, G.W. and Laraia, M.T. (2005). Principles and Prectice of Psychiatry
Nursing 7 Edition St. Louis. Missouri: Mosby Year Book.

Stuart & Sundeen. (2007). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta:
EGC.

Sugiyono. (2015). Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.


Bandung: Alfabeta.

Sujarweni, V,W. (2014). Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Baru


Press.

Supari, S.F. (2005). Kesehatan Jiwa di Indonesia. Retrieved February 02,


2018 from the world wide web Kementerian Kesehatan Indonesia:
[Link]

Supratiknya, A. (2008). Tinjauan Psikologi: Komunikasi Antarpribadi.


Yogyakarta: Kanisius.

Suryabrata, S. (2005). Psikologi Kepribadian. Jakarta: EGC.

Trethowan, W.H. (2009). Psychiatry. London: Bailliere Tindal.


99

Woofle. (2003). Handbook of Counselling Psychology 2nd Ed. 2003.


London: SAGE Publication.

World Health Organization (WHO). (2007). The ICD-10 Classification of


Mental and Behavioral Disorder. Retrieved February 02, 2018 from the
world wide web: [Link]

World Health Organization (WHO). (1975). Definition Mental Health.


Retrieved February 02, 2018 from the world wide web: http://
[Link]/.

Yalom, I. (2005). The Theory and Practice of Group Psychotherapy. New


York: Basic Books Inc.
100

LAMPIRAN
101

Jenis Kelamin
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid perempuan 12 40,0 40,0 40,0
laki-laki 18 60,0 60,0 100,0
Total 30 100,0 100,0
102

Klasifikasi Umur
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 17-25 4 13,3 13,3 13,3
26-35 11 36,7 36,7 53,3
36-45 8 26,7 26,7 76,7
46-55 7 23,3 23,3 100,0
Total 30 100,0 100,0
103

Riwayat Pendidikan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak Sekolah 1 3,3 3,3 3,3
SD 5 16,7 16,7 20,0
SMP 10 33,3 33,3 53,3
SMA 13 43,3 43,3 96,7
Kuliah 1 3,3 3,3 100,0
Total 30 100,0 100,0
104

Diagnosis Medis
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Paranoid 8 26,7 26,7 26,7
Hebefrenik 2 6,7 6,7 33,3
Tak Terinci 14 46,7 46,7 80,0
Residual 6 20,0 20,0 100,0
Total 30 100,0 100,0
105

Nilai Pre-test COTE


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid minimal 2 6,7 6,7 6,7
ringan 25 83,3 83,3 90,0
sedang 2 6,7 6,7 96,7
berat 1 3,3 3,3 100,0
Total 30 100,0 100,0
106

Nilai Post-test COTE


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid minimal 26 86,7 89,7 89,7
ringan 2 6,7 6,9 96,6
sedang 1 3,3 3,4 100,0
Total 29 96,7 100,0
Missing System 1 3,3
Total 30 100,0
107

Case Processing Summary


Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
nilai pretest COTE 30 100,0% 0 0,0% 30 100,0%
nilai posttest COTE 30 100,0% 0 0,0% 30 100,0%

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
nilai pretest COTE ,451 30 ,000 ,561 30 ,000
nilai posttest COTE ,521 30 ,000 ,350 30 ,000
a. Lilliefors Significance Correction

Wilcoxon Signed Ranks Test

Ranks
N Mean Rank Sum of Ranks
nilai posttest COTE - nilai Negative Ranks 27a 14,00 378,00
pretest COTE Positive Ranks 0b ,00 ,00
Ties 3c
Total 30
a. nilai posttest COTE < nilai pretest COTE
b. nilai posttest COTE > nilai pretest COTE
c. nilai posttest COTE = nilai pretest COTE

Test Statisticsa
nilai posttest
COTE - nilai
pretest COTE
Z -5,112b
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,000
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on positive ranks.
108

Lampiran
Lembar Informed Consent

JURUSAN OKUPASI TERAPI


POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA
Jl. Kapten Adi Sumarmo, Tohudan, Colomadu, Karanganyar 57173
Telp. 0271-725370, 720472 Fax 0271-710377

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI SUBJEK PENELITIAN


(INFORMED CONSENT)

Setelah diberikan penjelasan tentang penelitian yang berjudul “Pengaruh


Terapi Kelompok Problem Solving Terhadap Kemampuan Sosialisasi Pasien
Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta” dengan
nama peneliti :
Nama : Laili Fitri Isnaini
NIM : P 27228017 027

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : L/P
Usia :
Bangsal :
Menyatakan bersedia menjadi responden penelitian dan selanjutnya akan
mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Informasi yang Saudara berikan akan
dijamin kerahasiaannya, serta partisipasi Saudara nantinya hanya digunakan untuk
keperluan ilmiah yang berhubungan dengan profesi.

Surakarta, April 2018


TTD

*Isi dengan inisial nama Saudara ( )*


109

Lampiran
Lembar Skala COTE

SKALA PENGUKURAN COTE


COMPREHENSIVE OCCUPATIONAL THERAPY EVALUATION
SCALE (COTE)

Nama : L/P
Usia :
Diagnosis :
INITIAL MG MG MG MG

(PRE- I II III IV
BAGIAN TEST) (POST
TEST
I. PERILAKU UMUM
 PENAMPILAN
 PERILAKU TIDAK PRODUKTIF
 LEVEL AKTIVITAS (a/b)
 EKSPRESI
 TANGGUNG JAWAB
 KETEPATAN WAKTU
 ORIENTASI TERHADAP KENYATAAN
SUB TOTAL

II. INTERPERSONAL
 KEMANDIRIAN
 KERJASAMA
 ASERTIF (a/b)
 SOSIALISASI
 PERILAKU MENCARI PERHATIAN
 RESPON NEGATIF DARI ORANG LAIN
SUB TOTAL

[Link] MELAKSANAKAN TUGAS


 KOMITMEN MELAKUKAN AKTIVITAS
 KONSENTRASI
 KOORDINASI GERAK
110

 MENGIKUTI INSTRUKSI
 KERAPIAN BERAKTIVITAS
 MENGATASI MASALAH
 KOMPLEKSITAS DAN
PENGORGANISASI TUGAS
 INISIASI TUGAS
 MINAT PADA AKTIVITAS
 KETERTARIKAN PADA
PENYELESAIAN AKTIVITAS
 MEMBUAT KEPUTUSAN
 TOLERANSI FRUSTASI

SUB TOTAL

TOTAL

Tabel Skala pemeriksaan COTE. Bellido (2005).

Keterangan Skala :
0 = Normal
1 = Minimal
2 = Mild (Ringan)
3 = Moderate (Sedang)
4 = Severe (Berat)
111

DEFINISI SKALA PENGUKURAN COTE


COMPREHENSIVE OCCUPATIONAL THERAPY EVALUATION
SCALE (COTE)

BAGIAN I. PERILAKU UMUM


A. PENAMPILAN
Meliputi 6 area : 1) kebersihan kulit, 2) kebersihan rambut, 3) rambut disisir,
4) kebersihan pakaian, 5) kerapian pakaian dan 6) kecocokan berpakaian.
0 = tidak ada masalah pada area tersebut di atas
1 = mempunyai masalah di 1 area
2 = mempunyai masalah di 2 area
3 = mempunyai masalah di 3 – 4 area
4 = mempunyai masalah di 5 – 6 area

B. PERILAKU TIDAK PRODUKTIF


(Bermain – main dengan tangan, mengulang – ulang kalimat, bicara sendiri,
hanyut dalam pikiran sendiri, dll).
0 = tidak dijumpai atau dicatat adanya perilaku non-produktif
1 = kadang – kadang dijumpai perilaku non-produktif selama 1 pertemuan
2 = dijumpai perilaku non-produktif selama ½ pertemuan
3 = dijumpai perilaku non-produktif selama ¾ pertemuan
4 = selalu melakukan perilaku tidak produktif saat pertemuan berlangsung

C. LEVEL AKTIVITAS
a) 0 = tidak ada hipoaktif
1 = kadang ada hipoaktif
2 = hipoaktif menarik perhatian pasien lain atau terapis tetapi mampu
berpartisipasi
3 = hipoaktif (mampu berpartisipasi meskipun dengan banyak kesulitan)
4 = sangat hipoaktif sehingga tidak mampu berpartisipasi dalam aktivitas
112

b) 0 = tidak ada hiperaktif


1 = kadang ada hiperaktif
2 = hiperaktf menarik perhatian pasien lain atau terapis tetapi mampu
berpartisipasi
3 = hiperaktif (mampu berpartisipasi meskipun dengan banyak kesulitan)
4 = sangat hiperaktif sehingga tidak mampu berpartisipasi dalam aktivitas

D. EKSPRESI
0 = ekspresi konsisten dengan situasi dan tempat
1 = mampu berkomunikasi dengan ekspresi yang kadang tidak sesuai

2 = menunjukkan ekspresi tidak sesuai beberapa saat selama pertemuan


3 = menunjukkan ekspresi tapi tidak konsisten dengan situasi
4 = ekspresi yang berlebihan dan aneh, tak terkontrol atau ekspresi datar

E. TANGGUNG JAWAB (RESPONSIBILITY)


0 = bertanggung jawab terhadap tindakannya sendiri
1 = tidak bertanggung jawab terhadap 1 atau 2 tindakannya
2 = tidak bertanggung jawab terhadap beberapa tindakannya
3 = tidak bertanggung jawab terhadap sebagian besar tindakannya
4 = tidak mau bertanggung jawab terhadap semua tindakannya (merusak
alat – alat & bahan, serta menyalahkan terapis atau orang lain)
aktivitas dan menyalahkan terapis atau orang lain
F. KETEPATAN WALTU MENGIKUTI TERAPI
0 = secara konsisten tepat mengikuti terapi
1 = perlu dorongan 20 % dari waktu keseluruhan
2 = perlu dorongan selama setengah pertemuan
3 = menolak sampai dengan setengah pertemuan
4 = menolak lebih dari ½ waktu pertemuan
113

G. ORIENTASI TERHADAP KENYATAAN


0 = secara lengkap sadar terhadap orang, tempat, waktu dan situasi
1 = kesadaran umum ada tapi mengalami gangguan pada 1 area
2 = sadar pada 2 area
3 = sadar pada 1 area
4 = hilang kesadaran mengenai orang, tempat, waktu dan situasi.
H. KONSEPTUALISASI
0 = mendemonstrasikan berfikiran abstrak
1 = merespon secara abstrak
2 = merespon secara konkret
3 = merespon secara konkret pada satu objek dan waktu
4 = merespon tidak berhubungan dengan situasi

BAGIAN II. INTERPERSONAL


A. KEMANDIRIAN
0 = mampu berfungsi secara mandiri
1 = ketergantungan pada 1 – 2 tindakannya
2 = setengah tergantung dan setengah mandiri
3 = hanya 1 dari 2 tindakannya yang mandiri
4 = tergantung pada orang lain

B. KERJA SAMA
0 = mampu bekerjasama dalam program
1 = mampu mengikuti perintah, menolak kerjasama kurang dari ½
2 = mengikuti setengah program dan menolak program
3 = menolak ¾ dari perintah
4 = menolak terhadap seluruh perintah atau saran
114

C. ASERTIF
a) 0 = bertindak asertif bilamana perlu
1 = bertindak pasif kurang dari ½ pertemuan
2 = bertindak pasif pada ½ pertemuan
3 = bertindak pasif lebih dari setengah pertemuan
4 = bertindak pasif selama pertemuan
b) 0 = bertindak asertif bilamana perlu
1 = dominan kurang dari ½ pertemuan
2 = dominan pada ½ pertemuan
3 = dominan lebih dari ½ pertemuan
4 = secara agresif mendominasi pertemuan
D. KEMAMPUAN SOSIALISASI
0 = bersosialisasi dengan pegawai dan pasien lain
1 = mampu bersosialisasi dengan karyawan dan kadang – kadang dengan
pasien lain atau sebaliknya
2 = mampu bersosialisasi hanya dengan karyawan atau dengan pasien saja
3 = mampu bersosialisasi hanya bila didekati saja
4 = tidak mau bersosialisasi
E. PERILAKU UNTUK MENCARI PERHATIAN
0 = perilaku yang masuk akal dalam berperilaku
1 = kurang dari ½ waktu diisi dengan perilaku untuk mencari perhatian
2 = ½ waktu diisi dengan perilaku untuk mencari perhatian
3 = ¾ waktu diisi dengan perilaku untuk mencari perhatian
4 = permintaan secara lisan atau tulisan dengan perhatian konstan
F. RESPON NEGATIF DARI YANG LAIN
0 = tidak ada respon negatif
1 = ada 1 respon negatif
2 = ada 2 respon negatif
3 = ada 3 atau lebih respon negatif selama pertemuan
4 = ada beberapa respon negatif dan terapis harus mengambil tindakan
115

BAGIAN III. PERILAKU UNTUK MELAKSANAKAN TUGAS

A. ENGAGEMENT (MELAKUKAN AKTIVITAS)


0 = tidak perlu dorongan untuk melakukan aktivitas
1 = saran satu kali untuk memulai aktivitas
2 = perlu saran 2 – 3 kali untuk memulai aktivitas
3 = melakukan hanya setelah diberikan banyak saran
4 = tidak mau melakukan aktivitas
B. KONSENTRASI
0 = mampu berkonsentrasi selama 1 pertemuan penuh
1 = tidak berkonsentrasi kurang dari ¼ pertemuan
2 = tidak berkonsentrasi selama ½ pertemuan
3 = tidak berkonsentrasi selama ¾ pertemuan
4 = konsentrasi kurang dari 1 menit
C. KOORDINASI GERAK
0 = kadang ada masalah dengan koordinasi gerak
1= kadang – kadang bermasalah dengan koordinasi gerak halus,
manipulasi alat atau bahan.
2 = kadang – kadang bermasalah dengan manipulasi alat dan bahan tapi
sering punya masalah dengan koordinasi gerak halus
3 = mengalami kesulitan pada koordinasi gerak kasar, ketidakmampuan
memanipulasi alat atau bahan
4 = mengalami kesulitan besar melakukan gerakan kasar, ketidakmampuan
dalam memanipulasi alat dan bahan
D. MENGIKUTI PERINTAH
0 = mampu mengikuti perintah
1 = mampu mengikuti perintah sederhana, kesulitan mengikuti 2 tahapan
perintah
2 = mampu mengikuti perintah tunggal, kesulitan mengikuti 2 perintah
sekaligus
116

3 = mampu mengikuti perintah yang sangat sederhana dengan 1 perintah


(dengan demonstrasi, tertulis atau lisan)
4 = tidak mampu mengikuti perintah
E. KERAPIAN BERAKTIVITAS
a) 0 = aktivitas dilakukan dengan rapi
1 = kadang – kadang mengabaikan hal – hal yang rinci
2 = sering mengabaikan hal – hal kecil dan bahan yang berserakan
3 = mengabaikan detail dan kebiasaan kerja yang mengganggu lingkungan
4 = tidak sadar terhadap hal – hal yang rinci, sehingga terapis perlu
campur tangan
b) Perhatian terhadap hal – hal yang rinci
0 = memperhatikan hal – hal yang detail yang sesuai
1 = kadang – kadang terlalu tepat pada hal tertentu
2 = perhatian lebih pada hal – hal yang detail yang tidak diperlukan
3 = karena perhatian terhadap ketepatan yang berlebihan sehingga perlu
waktu 2x lipat
4 = khawatir projek tidak pernah diselesaikan
F. PROBLEM SOLVING
0 = mampu mengatasi masalah tanpa bantuan
1 = menyelesaikan masalah setelah diberikan 1 kali bantuan
2= menyelesaikan maslah setelah diberikan pengulangan instruksi
3 = mengerti atau mengenali masalah tapi tidak dapat mengatasinnya
4 = tidak mampu mengenali atau mengatasi masalah
G. KOMPLEKSITAS DAN ORGANISASI TUGAS
0 = mengorganisasikan dan melaksanakan tugas yang diberikan
1 =kadang – kadang punya masalah dengan organisasi aktivitas kompleks
yang semestinya dapat dikerjakan
2 = dapat mengorganisasikan aktivitas sederhana tetapi tidak pada
aktivitas kompleks
3 = hanya dapat melakukan aktivitas sederhana dengan bimbingan dari
terapis
117

4 = tidak mampu mengorganisasikan atau melaksanakan aktivitas


meskipun diperintah dan alat ataupun materialnya telah disediakan
H. INITIAL LEARNING (BELAJAR HAL – HAL BARU)
0 = belajar aktivitas baru dengan cepat dan tanpa kesulitan
1 = kadang – kadang kesulitan mengerjkan aktivitas kompleks
2 = sering mengalami kesulitan mengerjakan aktivitas kompleks
3 = tidak mampu belajar aktivitas kompleks, kadang – kadang kesulitan
belajar aktivitas sederhana
4 = tidak mampu mempelajari aktivitas baru
I. KETERTARIKAN PADA AKTIVITAS
0 = tertarik pada berbagai aktivitas
1 = kadang – kadang tidak tertarik pada aktivitas baru
2 =kadang – kadang menunjukkan ketertarikan pada sebagian aktivitas
3 = mampu melakukan aktivitas tapi tidak menunjukkan ketertarikan
4 = tidak tertarik pada aktivitas
J. KETERTARIKAN PADA PENYELESAIAN AKTIVITAS
0 = tertarik pada penyelesaian aktivitas
1 = kadang – kadang tidak tertarik atau tidak senang dalam menyelesaikan
aktivitas jangka panjang
2 = tertarik menyelesaikan atau melengkapi aktivitas jangka pendek dan
tidak tertarik pada aktivitas jangka panjang
3 = hanya kadang – kadang tertarik meyelesaikan aktivitas
4 = tidak tertarik atau senang menyelesaikan aktivitas
K. MEMBUAT KEPUTUSAN
0 = mampu membuat keputusan sendiri
1 = mampu membuat keputusan sendiri tapi kadang – kadang mencari
persetujuan dari terapis
2 = mampu membuat keputusan tapi sering mencari persetujuan terapis
3 = mampu membuat keputusan bila diberikan 2 keputusan
5 = tidak mampu membuat keputusan atau menolak membuat keputusan
118

L. TOLERANSI FRUSTASI
0 = mampu menguasai atau menangani tugas tanpa putus asa atau frustasi
1 = kadang – kadang menjadi frustasi pada satu atau lebih aktivitas kompleks
tetapi dapat menguasai aktivitas simple
2 = sering frustasi menguasai aktivitas kompleks tapi mampu menangani
aktivitas yang sederhana
3 = sering frustasi dengan berbagai aktivitas tapi berusaha melanjutkan tugas
4 = menjadi sangat frustasi dengan tugas sederhana sehingga pasien menolak
atau tidak siap melanjutkan.
119

Lampiran
Modul Terapi Kelompok

MODUL TERAPI KELOMPOK

A. Pendahuluan

Adanya pembuatan modul terapi kelompok (group therapy) ini

bertujuan sebagai kerangka pelaksanaan dalam kaitannya dengan proses

penelitian dan pengambilan data subjek penelitian, yang dibutuhkan oleh

peneliti untuk mengukur pengaruh terapi kelompok problem solving

terhadap kemampuan sosialisasi pasien Skizofrenia di Unit Rehabilitasi

Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta. Modul ini dibuat

sebagai dasar dalam pemberian treatment dan intervensi kepada

responden yang masuk kriteria penetapan oleh peneliti. Digunakan

sebagai pedoman selama proses pemberian intervensi terapi kelompok

problem solving kepada subjek penelitian. Sehingga dengan adanya

modul terapi kelompok yang telah disusun, hal ini dapat memudahkan

pelaksanaan terapi kelompok berjalan secara sistematis dan terstruktur.

Supratiknya (2008) menjelaskan bahwa terapi kelompok mirip

dengan masalah-masalah yang ditangani dengan terapi individu seperti

konseling. Namun yang membedakan terapi kelompok dan terapi

individu adalah pendekatan yang dilakukan. Terapi kelompok tidak

menggunakan pendekatan yang bersifat persorangan, melainkan


120

menggunakan media sebagai penyembuhan. Dalam terapi kelompok,

individu-individu yang mengalami masalah sejenis akan disatukan dalam

kelompok penyembuhan dan kemudian diberikan intervensi dengan

pembimbingan dan pendampingan tim profesional sesuai bidang masing-

masing.

Di dalam modul ini akan dijelaskan materi tentang jenis aktivitas-

aktivitas terapi kelompok problem solving yang akan diberikan kepada

responden selama proses penelitian, hal ini bertujuan untuk melihat

pengaruhnya terhadap kemampuan sosialisasi pasien Skizofrenia. Selain

itu juga modul ini menjelaskan bagaimana strategi pelaksanaan, kerangka

acuan yang digunakan sebagai pendekatan, alat dan bahan apa saja yang

dibutuhkan serta berapa lama durasi dan frekuensi dalam pemberian

terapi.

Modul terapi kelompok problem solving ini dirancang sebagai

bentuk strategi dalam pemberian intervensi kepada subjek penelitian,

agar peneliti pada akhirnya dapat melihat hasil intervensi sesuai dengan

tujuan awal penelitian. Setiap jenis aktivitas yang diberikan dalam tujuan

terapi ini sebagai bentuk pengukuran, bagaimana hasil (output) terapi

kelompok problem solving dapat dinilai dengan instrument yang

digunakan.

B. Persiapan Terapi Kelompok

Persiapan kegiatan terapi kelompok di dalam modul penelitian ini

dimulai dari:
121

1. Perencanaan Terapi Kelompok

a. Penentuan Tujuan

1) Bagi anggota kelompok : Untuk meningkatkan kemampuan

problem solving.

2) Bagi terapis : Penentuan tujuan sebagai panduan sistematis.

b. Pemilihan Aktivitas

1) Aktivitas harus memiliki tujuan dan meaning bagi anggota

kelompok.

2) Aktivitas didesain untuk meningkatkan kemandirian.

3) Aktivitas harus memiliki interest sesuai dengan nilai

personal angota kelompok.

c. Persiapan Terapis

1) Persiapan personal (materi dan mental).

2) Pertimbangan jumlah terapis dan co-terapis (pembagian

peran).

d. Persiapan Anggota Kelompok

1) Jumlah anggota kelompok (jumlah kelompok ideal adalah 10

orang).

2) Aktivitas atau tugas lebih intensif dan fokus agar dapat

maksimal.

3) Pemilihan tipe terapi kelompok (closed group or open

group).
122

e. Kombinasi Anggota Kelompok

1) Tipe support group lebih baik level anggotanya sama.

2) Tipe activity group bisa mentoleransi heterogenitas anggota.

f. Pertimbangan Waktu

Setiap tahap pada sesi terapi kelompok akan dijadwalkan

waktu yang sesuai dan pas sehingga dalam 60 menit waktu

keseluruhan terapi kelompok dapat terbagi dengan baik.

g. Mengorganisasi Lingkungan

Mengatur kondisi lingkungan sekitar agar aktivitas dalam

kegiatan terapi kelompok dapat berjalan dengan baik.

h. Grading and Adapting Treatment

1) Gradasi merupakan level kesulitan yang diberikan secara

bertahap pada aktivitas terapi kelompok.

2) Adaptasi yaitu aktivitas yang diberikan sesuai dengan

kemampuan dan nilai anggota kelompok.

i. Motivasi Anggota Kelompok

Pada setiap tahap terapi kelompok pemberian motivasi

kepada setiap anggota kelompok memiliki tujuan agar anggota

dapat mengikuti aktivitas hingga akhir sesi terapi.

4. Kriteria Pasien

a. Pasien Skizofrenia dengan level kognitif ≥ 3.

b. Pasien Skizofrenia dengan insight ≥ 3.

c. Memiliki skor Global Assesment Functional (GAF) ≥ 50.


123

d. Mampu berkomunikasi secara verbal dengan baik.

e. Mampu memahami instruksi (perintah).

f. Mampu mengenal huruf (membaca dan menulis).

g. Tidak mengalami diorientasi (orang, tempat dan waktu).

h. Skor pengukuran Comprehensive Occupational Therapy

Evaluation Scale (COTE) menujukkan skala minimal, mild

(ringan), moderate (sedang) dan severed (berat).

5. Aturan Aktivitas Terapi Kelompok

a. Setiap anggota tidak diperbolehkan makan dan minum selama

sesi terapi kelompok.

b. Tidak boleh keluar ruangan tanpa seizin terapis atau co-terapis.

c. Tidak boleh membuat gaduh dan menganggu jalannya sesi

terapi.

d. Tidak boleh meninggalkan ruang terapi sebelum sesi terapi

selesai.

6. Struktur Pelaksanaan Terapi Kelompok

a. Pendahuluan (warming up).

b. Tata Tertib (rules).

c. Pemanasan (menanyakan orientasi orang, waktu, tempat).

d. Aktivitas Inti.

e. Diskusi (sharing).

f. Penutup (cooling down).


124

7. Jenis Aktivitas Terapi Kelompok

Jenis kegiatan terapi kelompok problem solving yang

dilaksanakan sebagai media terapi dengan berbagai variasi dengan

fokus pada kegiatan untuk mengukur kemampuan sosialisasi saat

pasien mampu menyesuaikan diri dalam kelompok, mampu

memulai pembicaraan dengan orang lain, memiliki inisiasi untuk

bertanya, bertegur sapa, bekerjasama, dan berpartisipasi dalam

situasi kelompok.

Jenis-jenis aktivitas terapi kelompok yang akan dilakukan

dalam pemberian sesi terapi, yaitu:

a. Pada intervensi pertama subjek penelitian dikelompokkan

menjadi 4 kelompok yang terdiri 2 kelompok laki-laki dan 2

kelompok perempuan. Subjek penelitian melakukan aktivitas

terapi kelompok, dengan strategi menyapa, memperkenalkan

dan bercerita tentang diri sendiri, berkenalan dengan teman

dengan bertanya (nama panjang, bangsal, alamat, usia, hobi,

warna favorit, makanan dan minuman kesukaan, dst),

mengajukkan pertanyaan serta memperkenalkan temannya di

depan teman lain.

b. Pada intervensi kedua subjek penelitian dikelompokkan menjadi

4 kelompok yang terdiri 2 kelompok laki-laki dan 2 kelompok

perempuan. Subjek penelitian melakukan aktivitas terapi


125

kelompok dengan strategi berdiskusi dengan teman lain dalam

menjawab pertanyaan pada sebuah kertas masalah (berbentuk

soal jawaban essay).

c. Pada intervensi ketiga subjek penelitian dikelompokkan menjadi

4 kelompok yang terdiri 2 kelompok laki-laki dan 2 kelompok

perempuan. Subjek penelitian melakukan aktivitas terapi

kelompok dengan strategi komunikasi sambung kata (berbentuk

games).

d. Pada intervensi keempat subjek penelitian dikelompokkan

menjadi 4 kelompok yang terdiri 2 kelompok laki-laki dan 2

kelompok perempuan. Subjek penelitian melakukan aktivitas

terapi kelompok dengan strategi menyusun gambar yang hilang

(puzzle).

e. Pada intervensi kelima subjek penelitian dikelompokkan

menjadi 4 kelompok yang terdiri 2 kelompok laki-laki dan 2

kelompok perempuan. Subjek penelitian melakukan aktivitas

terapi kelompok menjawab pertanyaan pada soal yang

didapatkan secara acak dan berputar (games).

f. Pada intervensi keenam subjek penelitian dikelompokkan

menjadi 4 kelompok yang terdiri 2 kelompok laki-laki dan 2

kelompok perempuan. Subjek penelitian melakukan aktivitas

terapi kelompok diskusi dalam inisiasi langkah-langkah pada

suatu kejadian (dengan cara memilih dari kertas yang diacak).


126

C. Tujuan Aktivitas
Tujuan pemberian aktivitas terapi kelompok problem solving ini

kepada pasien Skizofrenia, yaitu:

1. Memfasilitasi pasien Skizofrenia untuk dapat bersosialisasi dengan

orang lain di lingkungannya.

2. Memberikan kesempatan untuk berekspresi di dalam

kelompoknya.

3. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah (problem solving).

4. Menumbuhkan inisiasi pasien Skizofrenia untuk melakukan

sosialisasi dengan orang lain di sekitarnya.

5. Membantu anggota kelompok yang mengalami disfungsi dalam

perasaan, pikiran sehingga termanifestasi dalam perilakunya.

6. Meningkatkan pembelajaran penyesuaian diri kembali terhadap

lingkungannya.

D. Strategi Pelaksanaan

Terapi kelompok ini dilakukan oleh terapis, dan co-terapis. Adapun

strategi pelaksanaannya antara lain:

1. Pendahuluan (warming up)

Di tahap pendahuluan terapi kelompok ini akan dimulai

dengan perkenalan oleh terapis, co-terapis, dan setiap anggota

kelompok terapi selama kurang lebih 5 menit. Sebagai pendahuluan

maka terapis memulai pembukaan dengan melakukan perkenalan

diri, lalu perkenalan yang dilakukan co-terapis dan meminta setiap


127

anggota kelompok memperkenalkan diri dengan menyebutkan

nama bangsal masing-masing. Tidak hanya sebatas itu, perkenalan

juga dapat divariasikan dengan sebuah permainan (games)

sehingga pasien dapat mudah mengingat nama teman dan angota

kelompok lain sehingga terjalin keakraban, tidak hanya sesama

anggota kelompok, namun antara terapis, co-terapis, dan anggota

kelompok terapi.

2. Tata Tertib (rules)

Dalam aktivitas terapi kelompok ini, terapis menjelaskan

peraturan yang telah dibuat untuk disepakati bersama tiap anggota,

bahwa selama pelaksanaan terapi kelompok, setiap anggota tidak

diperbolehkan makan dan minum, tidak boleh keluar ruangan tanpa

seizin terapis atau co-terapis, tidak boleh membuat gaduh serta

tidak boleh meninggalkan ruang terapi sebelum sesi terapi selesai,

dalam tahap ini tata tertib (rules) disampaikan selama kurang lebih

dalam waktu 2 menit.

3. Pemanasan

Tujuan dari tahap pemanasan ini adalah agar dapat menarik

perhatian tiap anggota kelompok terapi dalam mempersiapkan

dirinya mengikuti tahap berikutnya. Tahap pemanasan ini

dilaksanakan selama kurang lebih 7 menit dengan cara memberikan

pertanyaan kepada setiap anggota kelompok. Bagaimana tentang

kemampuannya aware tentang orientasi orang dan tempat,


128

bagaimana mengingat hari, tanggal, bulan, dan tahun (waktu).

Selain itu juga di dalam tahap pemanasan terapi kelompok ini dapat

digunakan cara dengan variasi lain yaitu dengan permainan

(games) yang menarik dan menantang. Contoh lain pada tahap

pemanasan adalah dengan gerakan langkah cuci tangan, senam

ringan, brain gym, humor, dan lain-lain. Terapis memberikan

reward kepada anggota terapi kelompok apabila dapat menjawab

pertanyaan dengan baik dan benar.

4. Aktivitas Inti

Pada tahap ini maka anggota kelompok sudah masuk dalam

melakukan aktivitas yang telah disusun dan direncanakan yaitu

pemecahan masalah (problem solving). Aktivitas inti dari terapi

kelompok ini dilakukan selama kurang lebih 25 menit dengan

menjelaskan terlebih dahulu kepada pasien tentang tahapan-tahapan

kegiatan yang akan dilakukan. Pertama, memperkenalkan alat-alat

serta bahan-bahan dalam kegiatan terapi kelompok. Selanjutnya

terapis meminta setiap anggota mengingat apa saja alat-alat dan

bahan-bahan yang akan digunakan, lalu terapis meminta beberapa

anggota untuk menyebutkan kembali alat-alat dan bahan-bahan

yang dibutuhkan dalam aktivitas inti. Terapis selalu memberikan

dorongan serta motivasi kepada anggota untuk dapat berkonsentrasi

tidak hanya dalam mengingat alur kegiatan terapi, alat-alat dan

bahan-bahan, namun juga setiap anggota mampu menyelesaikan


129

dalam mengatasi permasalahan di dalam kegiatan terapi kelompok

dengan tenang dan santai.

5. Diskusi (sharing)

Pada tahap ini setiap anggota diarahkan dan diminta untuk

mengungkapkan pengalaman dan perasaan kepada terapis dan

setiap anggota kelompok. Hal ini bertujuan sebagai sarana agar

setiap anggota kelompok mendapakan hal baru dalam kegiatan

terapi serta merasakan pengalaman bagaimana berbaur dan berbagi

dengan anggota lain. Setiap angota dapat berpendapat mengenai

aktivitas inti di dalam kegiatan terapi kelompok yang baru saja

dilakukan, bagaimana perasaannya serta apa manfaat yang bisa

dirasakan saat mengikuti kegiatan tersebut. Di akhir tahap diskusi

(sharing) terapis dapat mengambil kesimpulan dan memberi

penjelasan serta penegasan tentang tujuan dan manfaat kegiatan

yang dilakukan dalam terapi kelompok problem solving yang telah

dilaksanakan sebelumnya. Di dalam tahap diskusi (sharing) ini

waktu yang dibutuhkan sekitar 15 menit.

6. Penutup (cooling down)

Pada tahap terakhir di kegiatan terapi kelompok ini terapis

menanyakan kembali kepada anggota kelompok tentang kegiatan

apa saja yang telah saja dilakukan mulai dari awal terapi hingga

tahap evaluasi. Terapis juga menanyakan kembali alat-alat dan

bahan-bahan apa saja yang diperlukan dalam kegiatan terapi


130

kelompok. Selanjutnya hal apa saja yang dibutuhkan agar aktivitas

dan tugas dalam kegiatan kelompok dapat diselesaikan dengan

baik. Selama waktu kurang lebih 6 menit terapis menanyakan

bagaimana perasaan pasien setelah mengikuti kegiatan terapi.

Setelah semua hal tersampaikan dan terjawab dengan baik maka

terapis menutup dengan ucapan terima kasih kepada anggota

kelompok dan pemberian hadiah atas partisipasinya dalam

mengikuti kegiatan kelompok dari awal hingga akhir. Terpis juga

memberikan ucapan terima kasih kepada co-terapis yang

membantu dengan baik sehingga pelaksanaan terapi dapat berjalan

sesuai harapan.

E. Frekuensi dan Durasi

Pemberian terapi kelompok problem solving ini akan dilakukan

sebanyak 6 kali pertemuan dengan jenis aktivitas terapi kelompok yang

bervariasi dan berbeda dari pertemuan sebelumnya. Durasi yang

diberikan untuk setiap kali sesi terapi adalah selama ± 45 menit.

F. Instrument
Alat pengukuran (instrument) yang digunakan dalam melihat

kemampuan sosialisasi yaitu Comprehensive Occupational Therapy

Evaluation Scale (COTE). Instrument ini digunakan sebagai alat

pemeriksaan dalam melihat hasil penelitian terhadap pengaruh terapi

kelompok problem solving terhadap kemampuan sosialisasi pasien

Skizofrenia. Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale


131

(COTE) merupakan skala pengukuran perilaku yang digunakan untuk

menggambarkan peran dari okupasi terapi dalam program kesehatan

mental dewasa secara komprehensif. Validity and Reliability skala

Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE)

ditentukan dengan memilih secara acak grafik dari 5 pasien yang

dipulangkan dan membandingkan skor untuk hari pertama dan terakhir

saat pemberian terapi oleh okupasi. Penurunan nilai tersebut disepakati

dengan pengamatan profesi okupasi terapis lainnya. Skala

Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale telah diteliti

melalui desain peneliti dengan cara mengumpulkan data COTE peserta

kondisi Skizofrenia. 26 item COTE berisi tiga subskala dengan

keterangan skor bahwa nilai 0 = normal, 1= minimal, 2 = mild (ringan),

3 = moderate (sedang) dan 4 = severe (berat) (Lucy, 2013). Sedangkan

Brayman & Kirby (2014) menyatakan validitas instrumen COTE melalui

sebuah penelitian yang menguji dimensi pada setiap subskala dengan

menggunakan analisis Rasch. Setelah hal tersebut didukung, para peneliti

memeriksa validitas konvergen dengan menggunakan reliabilitas Pearson

dan Rasch dari masing-masing subskala dalam pendekatan

unidimensional dan multidimensi persentase kesepakatan berada pada

rata-rata 95 %.

Anda mungkin juga menyukai