1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kesehatan menurut World Health Organization (1975) merupakan
keadaan yang meliputi sehat fisik, mental, sosial, dan bukan saja keadaan
yang bebas dari sakit, cacat, dan kelemahan. Sedangkan Kementerian
Kesehatan Indonesia (2015) mendefinisikan kesehatan jiwa merupakan
perasaan sehat dan bahagia serta kemampuan individu dalam mengatasi
tantangan hidup, sehingga dapat menerima orang lain sebagaimana
adanya, mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan lingkungan.
Dalam Undang-Undang Kesehatan Jiwa No. 18 Tahun 2014, kesehatan
jiwa merupakan suatu kondisi mental yang sejahtera sehingga
memungkinkan suatu individu dapat hidup harmonis dan produktif,
sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup seseorang. Gangguan
kejiwaan atau Skizofrenia merupakan suatu gangguan psikotik fungsional
berupa gangguan mental berulang yang ditandai dengan gejala-gejala
psikotik yang khas seperti kecemasan berlebihan, depresi, halusinasi, dan
keadaan yang menyebabkan kemunduran fungsi sosial, fungsi
produktivitas, dan fungsi perawatan diri (Supari, 2005).
Seseorang dengan gangguan kejiwaan akan mengalami gangguan
dalam pikiran, perilaku, perasaan yang termanifestasi dalam bentuk
sekumpulan gejala atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat
2
menimbulkan penderitaan, dan hambatan dalam menjalankan fungsinya
sebagai manusia, termasuk menurunnya fungsi sosialisasi terhadap
lingkungan sekitar (Kemenkes, 2015).
Manusia mempunyai kemampuan beradaptasi sebagai bentuk awal
proses sosialisasi dengan lingkungan. Hal tersebut bertujuan agar
individu dapat menjalani aktivitas sehari-hari, baik dalam melibatkan diri
sendiri, orang lain maupun lingkup masyarakat pada skala besar
(Maramis, 2009). Sosialisasi merupakan bentuk komunikasi terhadap
situasi yang terjadi di dalam lingkungan. Hal tersebut dapat distimulasi
dengan memberikan kesempatan bagi individu untuk bekerjasama pada
sebuah kelompok terstruktur yang bertujuan meningkatkan kemampuan
sosialisasi (Reed, 2001). Namun, perlu diketahui juga bahwa tingkat
kemampuan sosialisasi setiap individu sangat berbeda-beda. Bagi
individu yang tidak mampu menyesuaikan diri untuk bersosialisasi
dengan lingkungan, maka individu tersebut memungkinkan akan
mengalami tekanan, yang jika dibiarkan berlarut-larut dapat menjadi
faktor mencetus terjadinya masalah psikososial maupun gangguan
kejiwaan (Bruce, 2002).
Salah satu tanda dan gejala dari seseorang yang mengalami
gangguan kejiwaan atau Skizofrenia adalah terjadinya kemunduran
dalam hal sosialisasi dengan lingkungan. Kemunduran dalam hal
sosialisasi dengan lingkungan sosial tersebut terjadi apabila individu
mengalami ketidakmampuan atau kegagalan dalam menyesuaikan diri
3
terhadap hal-hal yang ada di sekitarnya. Individu tersebut tidak mampu
berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, sehinga
menimbulkan gangguan yang mengakibatkan terjadinya perilaku
maladaptif (Morgan, 2006).
Dobson (2005) menyatakan bahwa penderita Skizofrenia sering
memunculkan gejala-gejala negatif sehingga mengalami masalah yang
terlihat dari manifestasi klinisnya. Salah satu masalah yang terlihat
adalah penderita akan mengalami penurunan dalam hal kemampuan
pemecahan masalah (problem solving) disebabkan oleh inisiasi yang
rendah. Problem Solving juga mempengaruhi kemampuan inisiasi
sosialisasi seseorang, sebab pemecahan masalah merupakan suatu
kemampuan pada individu yang menjadi alur pemikiran dari
penyelesaian masalah yang terjadi dalam hidup, sehingga kemampuan
problem solving individu tidak baik, maka hal tersebut dapat menjadi
masalah. Seseorang dengan masalah Skizofrenia, kemampuan
pemecahan masalah (problem solving) semakin lama semakin menurun.
Dengan adanya pemberian intervensi dalam bentuk terapi kelompok
(group therapy), hal tersebut dapat menjadi pengobatan penderita dalam
memperbaiki dan meningkatkan problem solving yang juga
mempengaruhi fungsi sosialisasi terhadap lingkungan sosial.
Menurut data World Health Organization tahun 2016 terdapat
sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21
juta terkena Skizofrenia, serta 47,5 juta lainnya terkena demensia. Di
4
Indonesia, berbagai faktor biologis, psikologis, dan sosial dengan
keanekaragaman penduduk, maka jumlah kasus gangguan jiwa terus
bertambah, hal tersebut berdampak pada penambahan beban negara dan
penurunan produktivitas manusia untuk jangka waktu panjang. Data
Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi ganggunan mental emosional
yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia
15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6 % dari jumlah
penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti
Skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000
penduduk (Kemenkes, 2016).
Dari data Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta
(2017) menunjukkan bahwa, penderita gangguan kejiwaan yang sedang
dirawat saat ini mengalami berbagai macam kondisi gangguan mental
dan didiagnosis mengalami gangguan kejiwaan (Skizofrenia) dengan tipe
Skizofrenia tak terinci. Dari pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa
Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta, gangguan activity daily living dan
produktifitas adalah tipe gangguan yang paling banyak di dalam
lingkungan perawatan rumah sakit. Sehingga untuk mengembalikan
kondisi penderita agar mampu berperan kembali dalam lingkungan
sosialnya, hal tersebut perlu penanganan tim rehabilitasi medis yang
diberikan, salah satunya adalah penanganan yang dilakukan okupasi
terapis. Banyak program-program terapi okupasi di Unit Rumah Sakit
Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta yang diberikan untuk penderita
5
Skizofrenia, mulai dari terapi aktivitas bertujuan, terapi interaksi sosial,
terapi relaksasi, terapi asertif, hingga terapi kelompok pemecahan
masalah (problem solving).
Terapi kelompok problem solving diberikan kepada penderita
Skizofrenia sebagai bentuk proses rehabilitasi agar penderita dapat
kembali produktif dalam lingkungan. Sebab dengan pemberian terapi
kelompok problem solving, individu akan mengedukasi kembali dirinya
dalam inisiasi belajar pada kemampuan sosialisasi dengan orang lain.
Pemberian intervensi terapi kelompok problem solving diharapkan
menjadikan kemampuan pasien dalam hal sosialisasi yang menurun
akibat penyakitnya, dapat kembali menuju arah perbaikan secara
fungsional.
Penelitian yang dilakukan oleh Haruna (2014) tentang Pengaruh
Terapi Kelompok (Group Therapy) Terhadap Kemampuan Sosialisasi
Pasien Skizofrenia menyebutkan bahwa, terapi kelompok sangat
berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan penderita Skizofrenia
terhadap permasalahan di dalam lingkungan sosialnya. Terapi kelompok
juga sebagai cara untuk memfasilitasi penderita dalam membina
hubungan sosial yang bertujuan, sehingga menolong penderita dalam
berhubungan dengan orang lain. Penelitian lain terbaru yang relevan
dilakukan oleh Maulidah (2015) tentang Pengaruh Terapi Kelompok
Terhadap Kemampuan Sosialisasi Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit
Jiwa Menur Surabaya. Hasil penelitian menyebutkan bahwa terdapat
6
pengaruh dari intervensi terapi kelompok terhadap kemampuan
bersosialisasi pasien Skizofrenia. Hasil yang didapatkan, penderita
Skizofrenia yang diberikan aktivitas terapi kelompok secara berkala,
maka kemampuan bersosialisasinya terus menunjukkan pada perbaikan
yang signifikan.
Sehingga hal tersebut membuat peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian terbaru terkait masalah ini dan akan dibahas secara mendetail
pada bab-bab selanjutnya dengan judul penelitian “Pengaruh Terapi
Kelompok Problem Solving Terhadap Kemampuan Sosialisasi Pasien
Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta”.
B. Pembatasan Masalah
Batasan masalah pada penelitian ini adalah pengaruh terapi
kelompok problem solving terhadap kemampuan sosialisasi pasien
Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta.
C. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Adakah
pengaruh terapi kelompok problem solving terhadap kemampuan
sosialisasi pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif
Zainudin Surakarta?”.
7
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu tujuan umum dan
tujuan khusus:
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui
pengaruh terapi kelompok problem solving terhadap kemampuan
sosialisasi pasien Skizofrenia.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus pada penelitian ini adalah:
a. Mengidentifiasi karakteristik responden berdasarkan jenis
kelamin, usia, riwayat pendidikan dan diagnosis medis.
b. Untuk mengetahui nilai sebelum dan sesudah pemberian terapi
kelompok problem solving.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Hasil dari penelitian ini dapat menambah wawasan dan
pengetahuan mengenai ada tidaknya pengaruh terapi kelompok
problem solving terhadap kemampuan sosialisasi penderita
Skizofrenia.
b. Sebagai acuan untuk perkembangan penelitian selanjutnya.
8
2. Manfaat Praktis
a. Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar Evidence Based
Practice (EBP) dalam pemberian pelayanan terapi okupasi pada
kasus Skizofrenia.
b. Dapat diterapkan oleh praktisi okupasi terapi untuk
mengembangkan perbaikan pelayanan terapi pada kasus
Skizofrenia.
9
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Skizofrenia
1. Definisi
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu “skizo” yang artinya
retak atau pecah (split), dan “frenia” yang artinya jiwa. Dengan
demikian seseorang yang menderita gangguan jiwa (Skizofrenia)
adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan
kepribadian (splitting of personality) (Hawari, 2009). Menurut Maslim
(2001) Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindrom dengan variasi
penyebab (banyak atau belum diketahui) secara luas, serta sejumlah
akibat yang tergantung imbangnya pengaruh genetik, fisik, sosial, dan
budaya yang mana pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang
fundamental karakteristik dari pikiran, serta oleh efek yang tidak
wajar (in appropriate), kemampuan intelektual yang biasanya tetap
dipelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang
kemudian. Sedangkan Setiadi (2016) mendeskripsikan bahwa
Skizofrenia merupakan suatu penyakit yang menimbulkan gangguan
bagi individu, sehingga menyebabkan penderita mengalami kesulitan
dalam produktivitas (belajar dan bekerja) serta kemampuan sosialisasi
(menjalin hubungan dan komunikasi) dengan orang lain.
Dapat disimpulkan bahwa Skizofrenia merupakan suatu kondisi
jiwa seseorang yang mengalami permasalahan dengan
10
kepribadiannya, yang menyebabkan penderita mengalami kemunduran
dalam berbagai macam aktivitas sehari-harinya. Hal tersebut dapat
menimbulkan hambatan atau permasalahan yang menjadikan
penderita kesulitan dalam fungsi produktivitas, fungsi perawatan diri
hingga fungsi sosial seperti bersosialisasi dengan lingkungannya.
2. Etiologi
Hawari (2009) menyebutkan bahwa belum ditemukan etiologi
yang pasti mengenai Skizofrenia. Namun ada hasil dari beberapa
penelitian yang dilaporkan saat ini terkait etiologi seseorang yang
mengalami Skizofrenia yaitu:
a. Biologi
Tidak ada gangguan fungsional dan struktur secara
patognomonik (pasti dan jelas) yang ditemukan pada penderita
Skizofrenia. Meskipun demikian, beberapa gangguan organik
dapat terlihat pada subpopulasi penderita. Gangguan yang paling
banyak dijumpai yaitu pelebaran ventrikel tiga dan lateral yang
stabil kadang-kadang sudah terlihat sebelum awitan penyakit.
Terjadi atropi bilateral lobus temporal medial, dan lebih
spesifik yaitu girus parahipokampus, hipokampus, dan
amigdala, disorientasi spasial sel piramid hipokampus, dan
penurunan volume korteks pre-frontal dorsolateral. Beberapa
penelitian melaporkan bahwa semua perubahan ini tampak statis
dan telah dibawa sejak lahir. Pada beberapa kasus perjalanannya
11
sangat progresif. Lokasinya menunjukkan gangguan perilaku
yang ditemui pada Skizofrenia misalnya, gangguan hipokampus
dikaitkan dengan impairmen memori dan atropi lobus frontalis
dihubungkan dengan gejala negatif Skizofrenia.
b. Biokimia
Etiologi biokimia belum diketahui. Hipotesis yang paling
banyak yaitu, adanya gangguan neurotransmitter sentral,
sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan aktivitas
dopamin sentral (hipotesis dopamine). Ada beberapa
neurotransmitter yang diduga berpengaruh terhadap timbulnya
Skizofrenia. Dua di antaranya yang paling jelas adalah
neurotransmitter dopamin dan serotonin. Berdasarkan
penelitian, seseorang dengan Skizofrenia ditemukan dalam
otaknya ada aktivitas berlebihan dari dopamin atau peningkatan
jumlah hipersensitivitas reseptor dopamin. Peningkatan kadar
dopamin ini ternyata mempengaruhi fungsi kognitif (alam fikir),
afektif (alam perasaan), dan psikomotor (perilaku) yang
menjelma dalam bentuk gejala-gejala positif maupun negatif
Skizofrenia.
c. Genetika
Skizofrenia memiliki komponen yang diturunkan secara
bermakna, kompleks, dan poligen. Sesuai dengan penelitian
hubungan darah, Skizofrenia adalah gangguan yang bersifat
12
keluarga. Semakin dekat hubungan kekerabatan, semakin tinggi
risiko. Pada penelitian anak kembar, kembar monozigot
mempunyai risiko 4 sampai 6 kali lebih sering menjadi sakit
dibandingkan dengan kembar dizigot. Pada penelitian adopsi,
anak yang mempunyai orangtua Skizofrenia diadopsi, waktu
lahir, oleh keluarga normal, peningkatan angka sakitnya sama
dengan bila anak-anak tersebut diasuh sendiri oleh orangtua
yang Skizofrenia.
Tabel. 2.1 Risiko Terjadinya Skizofrenia Selama Kehidupan
Rincian Prevalensi
Populasi umum 1%
Kembar monozigot* 40 % - 50 %
Kembar dizigot 10 %
Saudara kandung Skizofrenia 10 %
Orangtua 5%
Anak dari salah satu orangtua Skizofrenia 10 % - 15 %
Anak dari kedua orangtua Skizofrenia 30 % - 40 %
Sumber : Skizofrenia 3th Ed. (Hawari, 2009).
Keterangan :
Tanda* pada tabel menyatakan bahwa kembar
monozigot tidak keduanya menderita Skizofrenia, sehingga
jelaslah bahwa faktor lingkungan juga memegang peranan.
Terjadinya penyakit merefleksikan adanya faktor bawaan dan
pengasuhan.
d. Faktor Keluarga
Kekacauan dan dinamika keluarga memegang peranan
penting dalam menimbulkan kekambuhan dan mempertahankan
remisi. Penderita Skizofrenia yang pulang ke rumah sering
13
relaps pada tahun berikutnya, bila dibandingkan dengan
penderita yang ditempatkan di panti penitipan. Penderita yang
berisiko terjadinya relaps dikarenakan penderita tinggal bersama
keluarga yang hostil (memperlihatkan kecemasan yang
berlebihan, sangat protektif kepada penderita, terlalu ikut
campur, dan sangat pengkritik).
e. Proses Psikososial dan Lingkungan
Stresor psikososial dalam setiap keadaan atau peristiwa
yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang
sehingga orang tersebut terpaksa mengadakan penyesuaian diri
(adaptasi) untuk menanggulangi stresor yang timbul. Namun
tidak semua orang mampu melakukan adaptasi sehingga
timbulah keluhan kejiwaan. Stresor psikososial dapat
digolongkan sebagai berikut:
1). Perkawinan
Permasalahan perkawinan menjadi sumber stres bagi
seseorang misalnya, pertengkaran, perceraian, dan kematian
salah satu pasangan.
2). Problem Orangtua
Permasalahan yang dihadapi orangtua misalnya, tidak
memiliki anak, kebanyakan anak, kenakalan anak, anak sakit,
dan hubungan yang tidak baik antara anggota keluarga.
Permasalahan tersebut di atas bila tidak dapat diatasi oleh
14
yang bersangkutan maka seseorang akan mengalami
permasalahan pada kejiwaan.
3). Hubungan Interpersonal
Adanya konflik antarpribadi merupakan sumber stres
bagi seseorang yang bila tidak dapat diperbaiki maka
seseorang akan mengalami permasalahan pada kejiwaan.
4). Pekerjaan
Stres pekerjaan misalnya, seseorang yang kehilangan
pekerjaan, pensiun, pekerjaan yang terlalu banyak, pekerjaan
tidak cocok, mutasi, dan jabatan.
5). Lingkungan Hidup
Kondisi lingkungan sosial di mana seseorang itu hidup.
Stresor lingkungan hidup antara lain: masalah perumahan,
pindah tempat tinggal, penggusuran, dan hidup dalam
lingkungan yang rawan kriminalitas. Rasa tidak aman dan
tidak terlindungi membuat jiwa seseorang tercekam sehingga
mengganggu ketenangan dan ketentraman hidup yang lama-
kelamaan daya tahan tubuh seseorang akan turun dan pada
akhirnya akan mengalami permasalahan pada kejiwaan.
6). Keuangan
Kondisi sosial ekonomi yang tidak sehat misalnya,
pendapatan jauh lebih rendah daripada pengeluaran, terlibat
15
hutang, kebangkrutan usaha, warisan, dan lain sebagainya
merupakan sumber stres.
7). Hukum
Keterlibatan seseorang terhadap hukum menjadi
sumber stres bagi seseorang yang membawanya pada
permasalahan kejiwaan karena beban hukum.
8). Perkembangan
Perkembangan fisik dan perkembangan mental dari
individu. Kondisi setiap perubahan fase perkembangan tidak
selamanya dapat dilampaui dengan baik, jadi hal tersebut
dapat menjadi sumber stres.
9). Penyakit Fisik atau Cidera
Penyakit dapat menjadi sumber stres yang dapat
mempengaruhi kondisi kejiwaan seseorang terutama penyakit
kronis.
10). Faktor Keluarga
Sumber stres bagi anak remaja yaitu hubungan kedua
orangtua yang kurang baik, orangtua yang jarang berada di
rumah, komunikasi antara anak dengan orangtua tidak baik,
perceraian kedua orangtua, salah satu orangtua menderita
gangguan kejiwaan, dan orangtua yang pemarah.
16
11). Sosioekonomi dan Faktor Kebudayaan
Prevalensi Skizofrenia lebih tinggi pada kelompok
dengan sosioekonomi rendah dengan anak dari imigran
generasi pertama (Hawari, 2009).
3. Klasifikasi
Dalam American Psychiatric Association (2000) menyebutkan
bahwa kemungkinan akan menghapus subtipe Skizofrenia yang
terdapat di DSM-IV TR seperti paranoid, disorganisasi, katatonik, dan
yang tidak tergolongkan.
a. Skizofrenia
Tidak adanya subtipe Skizofrenia. Selain itu gejala
Skizofrenia dijelaskan lebih detail. Penghapusan kriteria bahwa
satu gejala harus ada halusinasi, delusi atau pembicaraan yang
diorganisasi dan penghapusan syarat bahwa hanya satu gejala
yang ditampilkan jika delusi maka itu adalah delusi bizarre.
b. Gangguan Skizoafektif
Adanya delusi atau halusinasi sedikitnya 2 minggu dari
kriteria gangguan mood dan gejala dari episode mood mayor
hadir sedikitnya 305 dari durasi perjalanan penyakit.
c. Gangguan Delusi
Tidak ada perubahan dalam DSM-IV.
d. Ganguan Skizofreniform
Tidak ada perubahan dalam DSM-IV.
17
Sedangkan untuk klasifikasi pada jenis Skizofrenia menurut yang
didefinisikan oleh Maslim (2001) ada:
a. Skizofrenia Paranoid (F 20.0)
b. Skizofrenia Hebefrenik (F 20.1)
c. Skizofrenia Tak Terinci (F 20.3)
d. Depresi Pasca Skizofrenia (F 20.4)
e. Skizofrenia Residual (F 20.5)
f. Skizofrenia Simpleks (F 20.6)
g. Skizofrenia YTT atau Yang Tidak Tergolongkan (F 20.8).
4. Kriteria Diagnosis
Menurut Maslim (2001) Skizofrenia memiliki kriteria umum
diagnosis skizofenia. Halusinasi atau waham harus menonjol:
a. Suara-suara halusinasi yang mengancam atau memberi perintah,
atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa siulan
(whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa
(laughing).
b. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat
seksual, atau lain-lain perasaan tubuh: halusinasi pengelihatan
mungkin ada tetapi jarang menonjol.
c. Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham
dikendalikan, dipengaruhi, dan keyakinan dikejar-kejar yang
beraneka ragam adalah yang paling khas.
18
d. Gangguan afektif, dorongan kehendak, dan pembicaraan, serta
gejala katatonik secara relatif tidak nyata atau tidak menonjol.
5. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis pada Skizofrenia yang paling sering muncul
adalah:
a. Delusi atau waham.
b. Halusinasi auditori yang mengancam atau memberi perintah,
atau halusinasi auditori tanpa kata-kata, seperti siulan,
gumaman, atau tertawa.
c. Halusinasi pembauan atau pengecapan, seksual atau sensasi
tubuh: halusinasi visual dapat terjadi tetapi sangat jarang
ditemui.
Gangguan pikir dapat terlihat jelas pada fase akut, tetapi tidak
mencegah delusi dan halusinasi untuk muncul. Afek pada penderita
Skizofrenia biasanya tumpul, kurangnya inkongruensi (ketidak
sesuaian) biasa terjadi, seperti gangguan mood, cepat marah,
ketakutan, dan curiga (WHO, 2007).
Sedangkan Hawari (2012) menyatakan bahwa gejala-gejala
yang sering ditunjukkan oleh penderita Skizofrenia terdari dari gejala
positif dan negatif.
19
Adapun gejala positif yang sering ditunjukkan penderita, yaitu:
a. Kekacauan alam pikir adalah keadaan di mana penderita
Skizofrenia saat berbicara menunjukkan isi pembicaraan yang
kacau.
b. Halusinasi yang sering terjadi pada Skizofrenia biasanya berupa
halusinasi pendengaran (audiotori).
c. Waham adalah keyakinan dari sebuah persepsi yang salah (tidak
rasional) dan sangat diyakini oleh penderita.
d. Mengalami masalah dalam proses berpikir
Pikiran penderita Skizofrenia penuh dengan kecurigaan, seakan
merasa ada ancaman terhadap dirinya dan menyimpan rasa
permusuhan.
Sedangkan gejala negatif yang sering ditunjukkan penderita
Skizofrenia, yaitu:
a. Afek tumpul dan mendatar adalah keadaan di mana penderita
Skizofrenia memiliki wajah yang tidak menunjukkan ekspresi.
b. Menarik diri juga disebut dengan withdrawl yang berarti
penderita Skizofrenia tidak mau bergaul atau tidak ingin
melakukan kontak sosial dengan orang lain. Sukar saat diajak
berbicara, cenderung pendiam, pasif, dan sering menunjukkan
perilaku menarik diri dari pergaulan sosial.
20
c. Penderita Skizofrenia mengalami kesulitan dalam berpikir
abstrak, selain itu penderita juga tidak memiliki inisiatif serta
bersikap malas.
6. Manifestasi Fungsional
Individu dengan kondisi Skizofrenia akan mengalami perubahan
dalam activity daily living, penyakit tersebut merubah fungsi aktivitas
vokasional dan avokasional penderita. Terjadi penurunan fungsional
dalam perawatan diri (mandi, hygine oral, berpakaian, berhias),
produktivitas (belajar, bekerja), pemanfaatan waktu luang (leisure),
hingga perubahan pada fungsi kognitif yang berdampak pada
penurunan fungsi pemecahan masalah (problem solving). Sehingga
manifestasinya penderita Skizofrenia kehilangan kemampuan
bersosialisasi dengan lingkungan sosialnya. Hal tersebut
menyebabkan penderita Skizofrenia selalu menghindari aktivitas yang
berkaitan dan melibatkan banyak orang. Penderita menampilkan
disorganisasi kehidupan terhadap apa yang tidak dapat mereka
lakukan. Pada akhirnya penderita cenderung pasif terhadap
lingkungan, memiliki motivasi rendah untuk bergabung dengan
komunitas, menurunnya partisipasi dalam aktivitas sehari-hari seperti
pekerjaan dan studi (Mike, 2008).
21
7. Patofisiologi
Gejala Skizofrenia ini berlangsung secara perlahan-lahan,
meliputi beberapa fase perjalanan penyakit Skizofrenia, dimulai dari
fase prodromal (awal sakit), fase aktif (sakit), dan fase residual (sisa
sakit):
a. Fase prodromal (awal sakit)
Pada beberapa kasus Skizofrenia, gangguan Skizofrenia
dapat menyerang secara tiba-tiba dan berlangsung dalam
beberapa hari. Penderitanya mengalami penurunan fungsi-fungsi
tertentu, seperti fungsi perawatan diri, sosial, waktu luang,
pekerjaan, atau pendidikan. Keadaan ini berlangsung selama 6
hingga 12 bulan sampai timbul gejala positif atau negatif
Skizofrenia. Ciri-ciri umum pada fase prodromal antara lain:
1). Berhenti memperhatikan atau memperdulikan keadaan di
sekitar, seperti lupa mandi, lupa tidur, atau lupa makan.
2). Sering mengalami kebingungan.
3). Berbicara tidak jelas atau tidak bermakna.
4). Prestasi sekolah atau pekerjaan menurun drastis.
5). Sering melakukan kesalahan, seperti sering terlambat
datang kerja, sering ceroboh, kurang konsentrasi dan
kurang ada perhatian.
22
6). Sering melakukan aktivitas yang aneh, seperti berpakaian
aneh atau tidak pas dengan situasi dan berjalan tanpa
busana.
7). Senang memunguti sampah.
b. Fase aktif (sakit)
Pada fase aktif ini penderita Skizofrenia telah menunjukan
gejala psikotik umumnya, seperti delusi, halusinasi,
pembicaraan yang disorganisasi, merasa mengetahui kehidupan
masa yang akan datang, dan penarikan diri dari relasi sosial.
Pada fase aktif penderitanya harus diberikan perawatan yang
bersifat hospitalistik perlu juga rehabilitasi psikiatrik terutama
pada pikiran, perasaan, dan perilaku.
c. Fase residual (sisa sakit)
Fase residual atau fase stabil ada setelah fase aktif atau
setelah terapi dimulai yang ditandai dengan menghilangnya
beberapa gejala klinis Skizofrenia, sehingga tinggal satu atau
dua gejala sisa yang tidak terlalu nyata secara klinis, misalnya,
penarikan diri, menurunnya fungsi peran, perilaku aneh
(berbicara, tersenyum atau tertawa sendiri), memunguti atau
mengumpulkan sampah, menurunnya perawatan diri, afek
menjadi tumpul atau datar, serta menurunnya fungsi peran sosial
(Trethowan, 1979).
23
8. Prevalensi
Menurut Data Riset Kesehatan Dasar (2013) prevalensi
gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia dengan usia di atas 15
tahun mencapai angka 0,46 %. Hal ini berarti terdapat lebih dari satu
juta jiwa di Indonesia yang menderita gangguan jiwa berat. Gangguan
jiwa berat terbanyak di provinsi DI Yogyakarta, Aceh, Sulawesi
Selatan, Bali, dan Jawa Tengah. Proporsi keluarga yang pernah
memasung keluarga dengan gangguan jiwa berat sebanyak 14,3 %.
Terbanyak pada penduduk yang tinggal di perdesaan 18,2 %, serta
pada kelompok penduduk dengan kuintil indeks kepemilikan terbawah
19,5 %. Prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk
Indonesia 6,0 %, provinsi dengan prevalensi ganguan mental
emosional tertinggi adalah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa
Barat, DI Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Timur. Sedangkan menurut
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 banyaknya jumlah
penderita Skizofrenia, Provinsi Jawa tengah merupakan salah satu
propinsi yang menempati urutan ke lima terbanyak. Prevalensi
Skizofrenia di Jawa Tengah yaitu, 0.23 % dari jumlah penduduk
melebihi angka nasional 0.17 %. Jumlah kunjungan gangguan jiwa
tahun 2012 di Sarana Pelayanan Kesehatan Provinsi Jawa Tengah
sebanyak 224.617, mengalami peningkatan dari tahun 2011 yang
mencapai 198.387 kunjungan. Kunjungan terbanyak berada pada
rumah sakit yaitu sebanyak 138.399 kunjungan 61,62 %.
24
9. Prognosis
Pieter (2011) menjelaskan bahwa proses perjalanan penyakit
Skizofrenia merupakan gangguan yang bersifat kronis. Penderita
Skizofrenia secara berangsur-angsur menjadi semakin menarik diri,
tidak berfungsi setelah bertahun-tahun. Penderita dapat mempunyai
waham dengan taraf ringan dan halusinasi yang tidak begitu jelas.
Sebagai gejala akut dan gejala yang lebih dramatik hilang dengan
berjalannya waktu, tetapi penderita secara kronik membutuhkan
penanganan atau menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam proses
rehabilitasi di rumah sakit jiwa.
Keterlibatan dengan hukum penderita Skizofrenia biasanya
melakukan pelanggaran ringan, misalnya, menggelandang,
mengganggu keamanan, dan sering dikaitkan dengan penyalahgunaan
zat. Sebagian kecil penderita menjadi demensia secara keseluruhan,
harapan hidup pendek (terutama akibat kecelakaan, bunuh diri, dan
ketikmampuan merawat diri).
Sebelumnya, Skizofrenia dibedakan antara Skizofrenia dengan
proses terjadinya yang berangsur-angsur serta deteriorasi
(berkepanjangan) dan Skizofrenia reaktif. Selain itu Skizofrenia dapat
dibedakan antara gejala positif (halusinasi, waham, perilaku aneh)
yang biasanya berespon terdapat antipsikotika konvensional serta
gejala negatif (afek datar, miskin pembicaraan, anhedonia, penarikan
diri dari lingkungan sosial, dan lain-lain), sehingga tidak berespon
25
terhadap antipsikotika konvensional (berespon lebih baik terhadap
obat-obatan antipsikotika baru). Gambar klinis yang dikaitkan dengan
prognosis baik yaitu:
a. Awitan gejala-gejala psikotik aktif terjadi secara mendadak.
b. Awitan terjadi umur 30 tahun (terutama pada perempuan).
c. Fungsi pekerjaan dan sosial pre-morbid (sebelum sakit) baik.
d. Performa sebelumnya tetap merupakan prediktor terbaik
untuk meramalkan performa di masa datang.
e. Kebingungan sangat jelas dan gambar emosi menonjol,
selama episode akut atau gejala positif (Pieter, 2011).
10. Penatalaksanaan Skizofrenia
Menurut Hawari (2015) gangguan Skizofrenia merupakan
masalah dengan perjalanan penyakit yang terjadi secara berkelanjutan,
oleh sebab itu pendekatan pada masalah Skizofrenia seharusnya
dilakukan secara komprehensif dan holistik. Pendekatan atau terapi
yang dapat dilakukan untuk penderita Skizofrenia yaitu:
a. Terapi Obat-obatan
Terapi obat ini merupakan pemberian intervensi oleh
seorang dokter yang mengkombinasikan obat-obatan dengan
terapi psikologis. Obat-obatan yang digunakan untuk
mengobati Skizofrenia disebut antipsikotik. Antipsikotik
bekerja mengontrol halusinasi, delusi, cemas, perubahan pola
fikir serta membantu menjaga kemampuan berpikir dan
26
mengingat yang terjadi pada kondisi Skizofrenia. Pasien
dapat diberikan beberapa jenis antipsikotik sebelum
mendapatkan obat atau kombinasi obat antipsikotik yang
benar-benar sesuai bagi kondisi pasien. Antipsikotik pertama
diperkenalkan 50 tahun yang lalu dan merupakan terapi obat-
obatan pertama yang efekitif untuk mengobati Skizofrenia.
Terdapat 3 kategori obat antipsikotik yang dikenal saat ini,
yaitu antipsikotik konvensional, newer atypical antipsycotics,
dan clozaril. Efek samping yang ada pada antipsikotik ini
adalah peningkatan berat badan, sembelit, mengantuk,
pandangan kabur, mulut kering, dan berkurangnya gairah
seks. Sedangkan efek samping yang hanya ada pada
antipsikotik generasi lama adalah otot terasa berkedut, badan
gemetar, dan kejang otot. Bagi penderita Skizofrenia yang
telah melewati episode akut, pemberian antipsikotik harus
tetap dilakukan selama 1 hingga 2 tahun untuk mencegah
kambuh. Namun selama periode akut belum reda, biasanya
dokter akan menyarankan perawatan di rumah sakit jiwa agar
kebersihan, nutrisi, kebutuhan istirahat, dan keamanan
penderita terjamin (Neale, 2011).
b. Psikoterapi
Psikoterapi merupakan pendekatan psikodinamik yang
menekankan bahwa Skizofrenia disebabkan oleh pola
27
perilaku dan komunikasi yang salah dari penderita dan
keluarga. Pendekatan psikoterapi merubah pandangan yang
awalnya menempatkan keluarga sebagai pihak yang bersalah
dan akhirnya meningkatkan stigma positif pada keluarga.
Psikoterapi lebih ditekankan pada peningkatan kemampuan
penderita dalam menghadapi stres kehidupan, meningkatkan
kemampuan sosial (social skill training) serta intervensi pada
keluarga. Kini juga terdapat perhatian yang tinggi terhadap
pendekatan kognitif behavioral terapi (melibatkan kognisi
atau alam pikir untuk merubah output pada perilaku).
Sehingga inti dari pendekatan psikoterapi ditujukan untuk
mengatasi gejala penyakit, bukan untuk menghilangkan
etiologi dari Skizofrenia (Sani, 2002).
c. Terapi Psikososial
Di dalam terapi psikososial terdapat teknik untuk
membentuk perilaku yang diinginkan, menggunakan hadiah
(reward), latihan keterampilan sosial sehingga meningkatkan
kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, dan
komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif didorong dengan
pujian atau hadiah yang dapat diberikan untuk hal-hal yang
diharapkan. Dengan demikian, frekuensi perilaku maladaptif
atau menyimpang seperti berbicara lantang, berbicara
sendirian, dan marah-marah dapat diturunkan. Di dalam
28
terapi psikososial juga ada terapi yang berorintasi pada
keluarga. Terapi ini sangat berguna karena pasien Skizofrenia
seringkali dipulangkan dalam keadaan remisi parsial
(kembali lagi). Keluarga pasien Skizofrenia kembali,
seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang
singkat namun intensif (setiap hari) ini. Setelah periode
pemulangan pasien, topik penting yang dibahas dalam terapi
keluarga adalah proses pemulihan serta lama, dan cepatnya
kondisi pasien pulih. Profesional harus membantu keluarga
dan pasien dalam pemberian pemahaman kondisi Skizofrenia
tanpa mengecilkan hati dan semangat. Sejumlah penelitian
telah menemukan bahwa terapi keluarga efektif dalam
menurunkan relaps. Di dalam penelitian terkontrol, angka
relaps tahunan tanpa terapi keluarga sebesar 25-50 %, serta
menjadi 5-10 % dengan adanya terapi keluarga (Grebb,
2008).
d. Terapi Psikoreligius
Terapi psikoreligius pada penderita Skizofrenia
merupakan terapi yang memiliki hubungan antara penderita
dengan masalah keyakinan (agamanya). Meliputi doa-doa,
dzikir, ceramah keagamaan, dan lain-lain. Terapi ini dapat
meningkatkan kekebalan dan daya tahan tubuh penderita
dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang
29
merupakan stresor psikososial, guna peningkatan integrasi
kesehatan jiwa. Dari sudut ilmu kedokteran jiwa atau
keperawatan jiwa atau kesehatan jiwa, doa, dan dzikir
(psikoreligius terapi) merupakan terapi psikiatrik setingkat
lebih tinggi daripada psikoterapi biasa (Ilham, 2008).
e. Terapi Rehabilitasi
Terapi rehabilitasi adalah suatu proses penyembuhan
yang memungkinkan individu untuk dapat kembali pada
tingkat fungsional setinggi mungkin. Terapi ini bertujuan
untuk mengembalikan pada tingkat fungsi yang sama atau
lebih tinggi daripada tingkat fungsi saat sebelum penderita
sakit (Stuart & Sundeen, 2007). Sedangkan menurut World
Health Organization (2002) rehabilitasi adalah suatu proses
kompleks yang meliputi berbagai disiplin dan merupakan
gabungan dari usaha medik, sosial, edukasional, serta
vokasional terpadu untuk mempersiapkan, menyalurkan atau
menempatkan, dan membina seseorang dengan gangguan
Skizofrenia agar dapat kembali mencapai taraf kemandirian
setinggi mungkin yang dapat dicapai. Di dalam Hawari
(2015) menuliskan secara detail pelaksanaan rehabilitasi
dilakukan oleh multiprofesi yang terdiri dari dokter, perawat,
psikologi, pekerja sosial serta okupasi terapis yang memiliki
peran dan fungsi masing-masing dalam proses pemulihan
30
penderita di masa rehabilitasi. Dokter memberikan terapi
somatik, lalu psikolog melakukan pemilahan pasien
berdasarkan hasil psikotest dan kemampuan serta minatnya.
Perawat mempunyai peran dalam pelaksanaan rehabilitasi
baik pada tahap persiapan, pelaksanaan maupun pengawasan.
Pekerja sosial menjadi penghubung antara pasien dengan
keluarga dan lingkungan. Okupasi terapis memberikan terapi
rehabilitasi bagi pasien untuk dapat kembali kepada keluarga
dan aktivitas sehari-hari.
11. Rehabilitasi Skizofrenia
Program rehabilitasi memiliki tujuan kepada penderita
Skizofrenia sebagai program yang dapat memfasilitasi penderita
Skizofrenia sehingga mampu kembali lagi pada keluarga dan
masyarakat. Beberapa kegiatan atau aktifitas dalam program
rehabilitasi yang dapat dilakukan yaitu terapi kelompok, menjalankan
ibadah secara bersama-sama, kegiatan seni (musik, melukis), terapi
fisik (olahraga), keterampilan (kerajinan tangan), bimbingan belajar,
bercocok tanam, kegiatan rekresi, dan lain-lain. Program rehabilitasi
ini dapat dilakukan dengan beberapa multidisiplin, diantaranya:
dokter, perawat, pekerja sosial, rohaniawan, pelatih olahraga, okupasi
terapis, dan lain-lain (Hawari, 2015).
Rehabilitasi sendiri merupakan suatu proses pemulihan individu
dari gangguan atau penyakit sehingga dapat mengembalikan fungsi
31
individu tersebut dalam masayarakat. Begitu juga halnya individu
kondisi gangguan jiwa bersifat kronik. Rehabilitasi merupakan suatu
tahap penting yang dapat menjadikan penderita Skizofrenia kembali
pada fungsionalnya (David, 2005).
Penatalaksanaan okupasi terapi yang dilakukan pada rehabilitasi
penderita Skizofrenia menurut Reed (2001) diawali dengan adanya
assesment kemudian mengkaji beberapa permasalahan pada
kemampuan produktivitas, perawatan diri, pemanfaatan waktu luang
(leisure), sensorimotor, kognitif, dan psikososial. Kemudian terapis
okupasi dapat memberikan intervensi dengan sebuah kerangka acuan
(frame of reference) yang disesuaikan kondisi penderita. Kerangka
acuan menangani kasus Skizofrenia meliputi modifikasi perilaku,
kemampuan sosial, dan rehabilitasi kognitif ke arah perbaikan output
penderita Skizofrenia.
Intervensi yang dilakukan terapis okupasi diklasifikasikan dalam
beberapa komponen, yaitu:
a. Produktivitas
Terapis membantu meningkatkan kebiasaan dan
kemampuan dalam bekerja. Terapis juga berperan dalam
menyediakan kesempatan untuk mencoba pekerjaan yang
berbeda, melalui pelatihan, dan mengembangkan keterampilan
yang dibutuhkan dalam bekerja.
32
b. Perawatan Diri
Terapis berusaha meningkatkan atensi pada kemampuan
kebersihan diri, seperti mandi, berhias, dan berpakaian. Terapis
juga membentuk sistem penghargaan untuk meningkatkan dan
mempertahankan penampilannya. Terapis juga berperan
meningkatkan kemampuan fungsional secara mandiri, seperti
menyiapkan makanan, berbelanja, pengelolaan uang,
menggunakan transportasi umum, dan mengendarai dengan
aman.
c. Leisure
Terapis memberikan kesempatan untuk mengekplorasi
minat-minat yang ada dalam pemanfaatan waktu luang, hobi,
dan melatih aktivitas rekreasi.
d. Sensorimotor
Terapis berperan dalam meningkatkan kemampuan
koordinasi motorik kasar, perencanaan gerak (motor planning),
keseimbangan kesadaran tubuh (body awareness), dan
kemampuan perseptual.
e. Kognitif
Terapis membantu pasien untuk meregulasi kemauan dan
kesadarannya. Terapis juga berperan dalam meningkatkan
kemampuan memecahkan masalah, mendorong kemandirian
dalam mengambil keputusan, memberi wawasan, menambah
33
komunitas, menyediakan kesempatan dalam mengelola waktu,
mengajarkan keterampilan mempertimbangkan keputusan
(judgment skill), dan kewaspadaan pasien sendiri.
f. Psikososial
Terapis berusaha mengurangi perilaku depresi atau
ekspresi marah yang berlebihan. Terapis mengajari penderita
Skizofrenia mengenai orientasi dengan kenyataan saat ini,
mengklarifikasi nilai (value) dalam dirinya, meningkatkan
kemampuan mengatasi masalah (coping skill), meningkatkan
kepercayaan diri, dan pandangan positif dalam diri. Terapis
menyediakan kesempatan pada penderita Skizofrenia untuk
berinteraksi dengan individu lain, bekerja bersama, dan melatih
perilaku yang baik dalam masyarakat (Reed, 2001).
34
B. Sosialisasi
1. Definisi
Depertemen Pusat Bahasa (2008) mengartikan sosialisasi adalah
proses belajar seseorang dalam anggota masyarakat untuk mengenal
dan menghayati kebiasaan masyarakat di lingkungannya baik fisik
maupun sosial. Buhler (2002) mendeskripsikan sosialisasi merupakan
sebuah proses yang membantu individu untuk belajar dan
menyesuaikan diri terhadap bagaimana cara hidup dan berpikir
kelompoknya, sehingga dapat berperan, dan berfungsi di dalamnya.
Sedangkan menurut Bruce (2009) pengertian sosialisasi adalah proses
manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakat (ways of
life in society), untuk memperoleh kepribadian dan membangun
kapasitas dirinya sehingga mampu berfungsi dengan baik sebagai
individu maupun anggota suatu kelompok.
Pengenalan lingkungan dilakukan individu untuk menyesuaikan
dirinya dengan individu lain di sekitarnya, hal ini yang membekali
individu dalam hubungan antar kelompok yang lebih luas. Sosialisasi
dalam skala besar memiliki arti suatu proses interaksi dan juga
pembelajaran seorang individu yang dimulai saat seseorang lahir
hingga meninggal dalam suatu kebudayaan masyarakat. Sehingga,
seseorang yang baru lahir pun akan melakukan proses sosialisasi,
dimulai dengan mengenal lingkungan terdekatnya. Lingkungan yang
paling dekat dengan dirinya yaitu keluarga. Selanjutnya, seiring
35
berjalannya waktu, proses sosialisasinya pun akan semakin meluas,
seperti mengenal lingkungan masyarakat dan kelompoknya (Buhler,
2002).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa sosialisasi merupakan suatu
bentuk komunikasi individu dengan lingkungan dan komunitas,
sebagai bentuk adaptasi juga penyesuaian kepribadian. Sebagai suatu
bentuk proses belajar untuk mengenal dan menyesuaikan diri, agar
dapat menyamakan hal-hal yang ada dalam lingkungan.
2. Bentuk Sosialisasi
Menurut Peter (1990) bentuk sosialisasi berbeda-beda dalam
setiap tahap kehidupan individu di siklus kehidupannya. Sosialisasi
dapat diartikan sebagai sebuah proses penanaman suatu kebiasaan
(value) dan aturan dari satu generasi ke generasi di dalam sebuah
kelompok atau masyarakat. Beberapa ahli menyebut bahwa sosialisasi
merupakan sebuah teori mengenai peranan (role theory). Karena
dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan
oleh individu. Terdapat dua bentuk sosialisasi, yaitu sosialisasi primer
dan sekunder:
a. Sosialisasi Primer
Peter (1990) mendefinisikan sosialisasi primer sebagai
sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil
dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga).
Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1 hingga 5
36
tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah (pra-sekolah).
Anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan
keluarganya. Keluarga merupakan institusi pertama yang
dikenal oleh anak dan bersifat permanen. Artinya sosialisasi
dalam keluarga itu akan terus berlangsung dalam kehidupan
seseorang selama masa hidup. Hubungan antaranggota akan
terus terjalin sampai kapanpun dan di manapun. Individu
melalui agen sosialisasi keluarga memperoleh penanaman
nilai dan norma sebagai bekal individu untuk memasuki
dunia selanjutnya yang lebih luas, seperti masyarakat dan
kelompok. Nilai serta norma yang diperoleh individu tersebut
akan mempengaruhi tingkah laku seseorang dalam
kesehariannya.
b. Sosialisasi Sekunder
Sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi
lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan
individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat.
Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi.
Dalam proses re-sosialisasi, seseorang diberi suatu identitas
diri yang baru. Sedangkan dalam proses desosialisasi,
seseorang mengalami pencabutan identitas diri yang lama ke
identitas yang lebih baru. Individu setelah mengalami
sosialisasi dalam keluarga, maka ia akan mengalami
37
sosialisasi sekunder. Salah satu agen dari bentuk sosialisasi
sekunder adalah sekolah atau tempat belajar lain. Sekolah
merupakan sebuah institusi yang memberikan pengajaran
serta pendidikan bagi masyarakat. Saat belajar di sekolah,
individu menemui berbagai macam tipe perilaku individu lain
di satu tempat yang sama. Individu satu dengan yang lainnya
memiliki sikap dan perilaku yang berbeda-beda. Hal tersebut
bukan hanya cerminan dari proses pendidikan yang
berlangsung di sekolah, melainkan dipengaruhi pula oleh
kehidupan keluarganya sebagai agen sosialisasi primer.
3. Proses Terjadinya Sosialisasi
Sosialisasi dapat terjadi secara langsung dengan beberapa
macam cara, seperti bertatap muka, mengobrol dalam aktivitas sehari-
hari. Sosialisai pun dapat terjadi secara tidak langsung, dengan cara
seperti melalui percakapan di telepon, dengan media massa dan lain-
lain. Proses sosialisasi dapat berjalan dengan lancar jika seorang
individu sadar sedang bersosialisasi dengan kebudayaan yang ada di
dalam masyarakat. Namun, sosialisasi juga dapat berjalan secara
terpaksa jika ada maksud dan kepentingan tertentu dari individu
kepada individu yang lain. Terjadinya sosialisasi di lingkungan
masyarakat, jika seorang individu memiliki peranan dalam proses
sosialisasi tersebut. Keadaan lingkungan juga dapat mempengaruhi
seorang individu dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan
38
masyarakat yang terdapat di lingkungannya. Oleh karena itu, setiap
individu akan melakukan sosialisasi untuk mempelajari nilai-nilai,
norma-norma, dan kebudayaan yang ada di dalam masyarakat.
Sosialisasi juga dapat terjadi dengan interaksi dan komunikasi.
Dengan komunikasi seorang individu dapat memperoleh pengalaman
hidup, kebiasaan yang nanti akan membekalinya dalam pergaulan di
masyarakat luas. Komunikasi juga dapat melalui berbagai media
massa. Dengan media masa setiap individu akan memperoleh berbagai
macam informasi, baik itu informasi positif maupun negatif, yang
nantinya akan berpengaruh pada pola tingkah laku (Buhler, 2002).
4. Manfaat Sosialisasi
Adapun beberapa manfaat sosialisasi, di antaranya yaitu:
a. Untuk mengetahui value yang ada dalam masyarakat,
digunakan sebagai pengetahuan yang diperlukan untuk
kelangsungan hidup (bahwa di dalam masyarakat individu
berperan sebagai anggota dari masyarakat).
b. Untuk mengetahui lingkungan sosial dan budaya baik tempat
individu tersebut tinggal maupun lingkungan sosial yang
baru.
c. Untuk melatih kemampuan berkomunikasi secara baik dan
mengembangkan kemampuan lainnya seperti kemampuan
bercerita, membaca, menulis, dan lain-lain.
39
d. Untuk melatih keterampilan dan pengetahuan yang
diperlukan sehingga dapat melangsungkan hidup dalam
masyarakat.
e. Untuk menanamkan kepada individu tentang nilai-nilai dan
kepercayaan yang terdapat dalam masyarakat (Buhler, 2002).
5. Media Sosialisasi
Ada beberapa media yang menjadi perantara utama dalam
proses sosialisasi individu, diantaranya:
a. Keluarga
Media sosialisasi keluarga yaitu media sosialisasi yang
pertama diterima oleh seseorang saat anak-anak, karena pada
keluarga ada orang-orang terdekat seperti ayah, ibu, saudara,
dan lain-lain. Melalui lingkungan keluarga, seseorang juga akan
mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan.
b. Teman
Teman bermain menjadi media sosialisasi berikutnya,
karena teman bermain menjadi media sosialisasi setelah
keluarga. Seseorang saat anak-anak akan belajar berinteraksi
dengan orang-orang yang sebaya dengannya. Saat proses
sosialisasi dengan temannya, seseorang anak akan mempelajari
norma-norma, dan nilai-nilai yang baru.
40
c. Sekolah
Seorang anak akan mengalami proses sosialisasi di
lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan dapat memberikan
pengaruh yang sangat besar kepada seorang anak karena di sana
merupakan tempat untuk menimba ilmu, melatih keterampilan,
melatih kemandirian, dan lain-lain. Di sana seorang anak juga
akan berinteraksi dengan banyak teman yang sebaya dengannya.
d. Media Massa
Media massa dapat menjadi media dalam proses
sosialisasi, melalui media cetak dan media elektronik
pengetahuan anak akan berkembang. Media massa dapat
mempengaruhi dan mengajarkan kepada seorang individu
tentang berbagai macam hal yang belum diketahuinya. Baik itu
hal yang positif ataupun hal yang negatif. Di sinilah peranan
orangtua harus bisa mengawasi anaknya jangan sampai anak
terpengaruh oleh hal-hal negatif yang diberikan oleh media
massa, karena tidak semua media massa memberikan hal yang
positif (Buhler, 2002).
6. Gangguan Sosialisasi
Gangguan sosialisasi merupakan ketidakmampuan individu
dalam menyesuaikan diri ketika melakukan kontak sosial terhadap
lingkungannya. Hal tersebut jika dibiarkan berlarut-larut menjadikan
individu menjadi pasif terhadap keadaan lingkungan sosialnya. Terapi
41
kelompok merupakan salah satu pengobatan yang dilaksanakan
dengan tujuan meningkatkan kemampuan individu dalam melakukan
interaksi sosial dan juga berperan aktif dalam lingkungan. Pada pasien
dengan gangguan jiwa yang melakukan terapi kelompok,
penyebabnya adalah adanya gangguan pada minimnya minat
mengikuti kegiatan yang melibatkan banyak orang, menarik diri, lebih
suka kegiatan pasif (berbaring di tempat tidur), kontak sosial kurang,
harga diri rendah, gelisah, curiga, takut, dan cemas, tidak ada inisiatif
memulai pembicaraan. Namun secara fisik mereka sehat dan mampu
menjalankan aktivitas tersebut. Proses sosialisasi dapat dianggap
tidak berhasil atau terganggu apabila individu tidak mampu
mendalami norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Perilaku
menyimpang dapat merupakan bentuk sosialisasi yang tidak sempurna
saat proses belajar beradaptasi. Proses sosialisasi tidak
sempurna dapat timbul karena adanya cacat bawaan dari suatu
individu, kekurangan gizi, hingga pada masalah kejiwaan yang tidak
sehat dalam diri (Herawaty, 2009).
42
C. Terapi Kelompok
1. Definisi
Terapi kelompok (group therapy) merupakan metode terapi
yang menjadikan aktivitas atau kegiatan berkelompok sebagai
pendukung dalam penyembuhan individu dari masalah sakitnya.
Kegiatan terapi kelompok terdiri dari dua orang atau lebih, untuk
mencapai sebuah penyembuhan yang sama. Di dalam suatu kelompok
terdapat kumpulan orang-orang yang memiliki tujuan sama, yaitu
ingin berbagi dengan anggota kelompok lain melalui hubungan dan
kerjasama antarindividu. Kelompok ini akan melakukan pertemuan
secara teratur dan membahas pengalaman pribadi mereka saat
menghadapi kondisi mereka serta berbagi ide dan pendapat tentang
bagaimana mereka dapat menjadi lebih baik (sharing). Terapi
kelompok berfokus pada penyembuhan dalam hal emosi, sebab
antarindividu di dalam kegiatan ini dapat memberikan dukungan
emosional satu dengan yang lain (Pambudi, 2017). Sedangkan Stuart
& Laraia (2001) menjelaskan bahwa terapi kelompok adalah sebuah
kumpulan individu yang mempunyai hubungan satu dengan yang lain,
saling ketergantungan dan mempunyai nilai norma yang sama dalam
anggota kelompok. Menjadi satu dari berbagai latar belakang yang
harus ditangani sesuai macam-macam kondisi, seperti agresif, takut,
kebencian, kompetitif, kesamaan, ketidaksamaan, kesukaan, dan
menarik diri. Semua kondisi ini akan mempengaruhi dinamika
43
kelompok, di mana anggota kelompok memberi, dan menerima umpan
balik (feedback) berarti dalam berbagai interaksi yang terjadi dalam
kelompok. Tujuan dari terapi kelompok adalah membantu anggota
yang berperilaku destruktif dalam berhubungan dengan orang lain dan
merubah perilaku yang maladaftif ke arah yang lebih baik. Kekuatan
kelompok ada pada konstribusi dan peran tiap anggota kelompok,
mulai dari pemimpin hingga anggota kelompok untuk mencapai
tujuan kelompok. Fungsi kelompok akan tercapai jika anggota
kelompok berbagai pengalaman dan saling membatu satu sama lain.
Jika anggota kelompok berbagi cara mereka menyelesaikan masalah
maka kelompok berfungsi dengan baik. Kelompok merupakan
laboratorium tempat mencoba dan menemukan hubungan sesama
antara interpersonal dan perilaku antarpribadi.
Dalam terapi kelompok menurut Grebb (2008) suatu kelompok
pendukung biasanya anggota yang sedang mengalami atau pernah
merasakan pengalaman yang sama seperti anggota kelompok lainnya
dapat berbagi (sharing) kepada anggota lain. Pemimpin dalam terapi
kelompok yang dipilih biasanya adalah orang yang telah terlatih serta
mampu memimpin kegiatan terapi dan diskusi kelompok. Dalam sesi
terapi kelompok formal, pemimpin dapat berupa seorang psikolog,
terapis, psikiater, perawat, atau pekerja sosial, namun dalam kelompok
pendukung buatan sendiri, suatu variasi dari terapi kelompok,
pemimpin dipilih dari anggota kelompok. Terapi kelompok bagi
44
Skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan
hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin terorientasi
secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika, tilikan, atau
suportif. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial,
meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi
pasien Skizofrenia.
Banyak macam dari jenis kegiatan terapi kelompok, salah
satunya adalah terapi kelompok problem solving. Kegiatan terapi
kelompok problem solving memiliki tujuan untuk pemecahan masalah
dan pengambilan keputusan secara bersama. Komunikasi kelompok
merupakan interaksi secara langsung dari beberapa individu untuk
berbagi informasi dan mendiskusikan suatu masalah untuk selanjutnya
dipecahkan secara bersama. Di mana antar individu tersebut memiliki
keterikatan yang sama dalam interaksi tersebut. Keterikatan tersebut
adalah, tujuan, fungsi, visi, dan misi dalam suatu kelompok problem
solving tersebut (Garvin, 1987).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa terapi kelompok problem
solving merupakan suatu wadah atau tempat yang menjadikan sebuah
metode pemecahan masalah ke dalam suatu aktivitas yang digunakan
sebagai penyembuhan penderita gangguan jiwa, dengan mencari jalan
keluar suatu masalah secara kelompok. Terapi kelompok tersebut
bertujuan untuk mengambil keputusan terbaik secara bersama untuk
menyelesaikan masalah. Kegiatan terapi kelompok ini menjadikan dua
45
atau lebih anggotanya agar dapat berkomunikasi, karena adanya
hubungan dan tujuan yang sama satu dengan yang lain.
2. Ciri Terapi Kelompok
Hal-hal yang menjadi ciri dari terapi kelompok sehingga
kegiatan ini dapat dilaksanakan, yaitu:
a. Anggota kelompok dipilih secara homogen dengan
memperhatikan berbagai pertimbangan di antaranya, usia,
jenis kelamin, ciri kepribadian umum dan prognosis.
b. Dalam terapi kelompok dapat mencakup dua tujuan
sekaligus, yaitu tujuan individu dan tujuan kelompok.
c. Aktivitas yang dapat dilakukan dalam terapi kelompok salah
satunya adalah berdiskusi, berbagi cerita tentang masalah-
masalah yang sedang dialami secara spontan.
d. Dalam situasi kelompok setiap anggota kelompok dapat
berpartisipasi dengan cara mereka sendiri (Semiun, 2006).
Sedangkan Garvin (1987) menyatakan hal yang sama tentang
ciri terapi kelompok di atas. Namun penjelasan mengenai ciri terapi
kelompok problem solving dijabarkan bahwa jenis terapi ini
memfokuskan pada suatu diskusi sebuah masalah dan dipecahkan
secara bersama untuk mendapatkan kesimpulan jalan keluar. Setiap
individu (anggota kelompok) terlibat untuk berperan aktif serta
berpartisipasi untuk memberikan ide dalam suatu pemecahan masalah.
46
Stuart & Laraia (2005) menjelaskan bahwa kelompok terdiri
dari delapan aspek yaitu struktur kelompok, besar kelompok, lamanya
sesi, komunikasi, peran kelompok, kekuatan kelompok, norma
kelompok, kekohesifan.
a. Struktur Kelompok
Struktur kelompok menjelaskan bahwa ada batasan,
komunikasi, proses pengambilan keputusan dan hubungan
otoritas dalam kelompok. Struktur kelompok menjaga
stabilitas, membantu pengaturan pola perilaku, dan interaksi.
Struktur dalam kelompok diatur dengan adanya pemimpin
anggota. Arah komunikasi dipandu oleh pemimpin,
sedangakan keputusan diambil secara bersama.
b. Besar Kelompok
Jumlah anggota kelompok yang nyaman adalah
kelompok kecil (tidak sedikit jumlahnya namun juga tidak
terlalu besar). Menurut Stuart dan Laraia (2005), ideal jumlah
anggotanya berkisar antara 7-10 orang atau 8-12 orang. Jika
anggota kelompok terlalu besar akibatnya tidak semua
anggota kelompok mendapat kesempatan mengungkapkan
perasaan, pendapat, dan pengalamannya. Jika terlalu kecil,
tidak cukup variasi informasi dan interaksi yang terjadi di
dalam suatu kelompok.
47
c. Lamanya Sesi
Waktu yang optimal untuk satu kali sesi terapi
kelompok adalah 20-60 menit untuk fungsi kelompok yang
rendah dan 60-120 menit untuk fungsi kelompok yang tinggi
(Stuart & Laraia, 2001). Biasanya dimulai dengan pemanasan
berupa orientasi, kemudian kegiatan inti, dan finishing berupa
terminasi. Banyaknya sesi tergantung pada tujuan kelompok,
dapat satu atau dua kali per minggu atau dapat direncanakan
sesuai dengan kebutuhan.
d. Komunikasi
Salah satu tugas pemimpin kelompok yang terpenting
adalah mengobservasi dan menganalisis pola komunikasi
dalam kelompok. Pemimpin menggunakan umpan balik
(feedback) untuk memberi kesadaran pada anggota kelompok
terhadap dinamika yang terjadi. Pemimpin kelompok dapat
mengkaji hambatan dalam kelompok, konflik interpersonal,
tingkat kompetisi, dan seberapa jauh anggota kelompok
mengerti serta mampu melaksanakan kegiatan yang
dilakukan. Elemen terpenting dalam mengobservasi
komunikasi verbal dan nonverbal adalah komunikasi setiap
anggota kelompok, rancangan tempat duduk, tema umum
yang diekspresikan, frekuensi komunikasi, dan orang yang
dituju selama komunikasi. Kemampuan anggota kelompok
48
sebagai pandangan terhadap kelompok, dan proses
penyelesaian masalah yang terjadi.
e. Peran Kelompok
Pemimpin perlu mengobservasi peran yang terjadi
dalam kelompok, ada tiga peran serta fungsi kelompok yang
ditampilkan anggota kelompok dalam kerja kelompok, yaitu
maintenance roles, task roles dan individual roles.
Maintenanace roles yaitu peran serta aktif dalam proses
kelompok dan fungsi kelompok. Task roles yaitu fokus pada
penyelesaian tugas, sedangkan individual roles adalah self
centered dan distraksi pada kelompok.
f. Kekuatan Kelompok
Kekuatan kelompok adalah kemampuan anggota
kelompok dalam mempengaruhi berjalannya kegiatan
kelompok. Untuk menetapkan kekuatan anggota kelompok
yang bervariasi diperlukan kajian siapa yang paling banyak
mendengar, dan siapa yang membuat keputusan dalam
kelompok.
g. Aturan Kelompok
Aturan atau norma adalah suatu standar perilaku yang
ada dalam kelompok. Pengharapan terhadap perilaku
kelompok pada masa yang akan datang berdasarkan
pengalaman masa lalu dan saat ini. Pemahaman tentang
49
norma kelompok berguna untuk mengetahui pengaruhnya
terhadap komunikasi dan interaksi dalam kelompok.
Kesesuaian perilaku anggota kelompok dengan norma
kelompok yang penting dalam menerima angota kelompok,
Anggota kelompok yang tidak mengikuti norma (aturan),
maka dianggap pemberontak dan akan ditolak anggota
kelompok yang lain.
h. Kekohesifan
Kekohesifan adalah kekuatan anggota kelompok
bekerja sama dalam mencapai tujuan. Hal ini mempengaruhi
anggota untuk tetap betah dalam kelompok. Apa yang
membuat anggota kelompok tertarik dan puas terhadap
kelompok, perlu diidentifikasi agar kehidupan kelompok
dapat dipertahankan. Pemimpin kelompok (terapis) perlu
melakukan upaya agar kekohesifan kelompok dapat terwujud,
seperti mendorong anggota kelompok bicara satu sama lain,
diskusi dengan kata-kata, menyampaikan kesamaan anggota
kelompok, membantu anggota kelompok untuk
mendengarkan ketika yang lain bicara. Kekohesifan perlu
diukur melalui seberapa sering antara anggota memberi
pujian dan mengungkapkan kekaguman satu sama lain.
50
3. Efek Terapeutik Terapi Kelompok
Terdapat beberapa penelitian menyatakan efek dari terapi
kelompok memberikan dampak baik kepada penderita Skizofrenia.
Sadock & Grebb (2010) menyatakan bahwa terapi kelompok dapat
berguna serta efektif untuk penderita Skizofrenia karena dapat
menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa kebersamaan dan
meningkatkan kemampuan realitas pasien Skizofrenia. Sedangkan
Semiun (2006) juga membenarkan salah satu kegunaan terapi
kelompok yaitu membantu pasien Skizofrenia untuk lebih memahami
bahwa masalah yang sedang dihadapi masih dapat dibagi (sharing)
dengan orang lain. Hal tersebut memberi peluang bagi penderita untuk
dapat memecahkan masalah, membuat penderita Skizofrenia belajar
cara menangani masalah secara lebih efektif. Sedangkan Yalom
(2005) menjelaskan bahwa terapi kelompok dapat memberikan
banyak manfaat, mulai dari menumbuhkan harapan penderita
Skizofrenia (instillation of hope), menumbuhkan kebersamaan
(universality), menumbuhkan rasa percaya untuk menghargai diri
sendiri dan orang lain (altruism), sebagai sarana penyampaian
informasi (impartiong information), koreksi rekapitulasi dari
kelompok keluarga primer (the corrective recapitulation of the
primary family group), perkembangan sosialisasi (development of
socializing techniques), perilaku meniru (imitative behavior),
pembelajaran interpersonal (interpersonal learning), keterpaduan
51
grup (group cohesiveness), mengekspresikan perasaan kepada orang
lain (catharsis), dan diharapkan pasien mempu memahami keyakinan
yang tercipta dalam dirinya tentang bahwa ‘hidup kadang tidak adil’
(existential factors).
Sedangkan efek terapeutik untuk terapi kelompok problem
solving sendiri secara spesifik dijelaskan oleh Garvin (1987) yaitu
sebagai media komukasi di dalam kelompok untuk memecahkan suatu
masalah dengan saling memberikan pendapat serta masukan. Dengan
hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa terapi kelompok problem
solving akan menghasilkan suatu pemecahan masalah karena adanya
interaksi sebuah ide dari setiap anggota kelompok dan membuahkan
hasil dengan kesepakatan bersama.
4. Struktur Terapi Kelompok
Sadock (1988) menjelaskan struktur terapi kelompok yaitu
terdapat penjelaskan batasan, komunikasi, proses pengambilan
keputusan, dan hubungan otoritas dalam kelompok. Struktur
kelompok menjaga stabilitas serta membantu pengaturan pola
perilaku, dan interaksi. Struktur dalam terapi kelompok diatur dengan
adanya pimpinan dan anggota, arah komunikasi dipandu oleh
pemimpin, sedangkan keputusan diambil secara bersama.
Terapi kelompok dilaksanakan di ruang yang terletak dalam
ruang tertutup, tidak terdapat distraksi dari luar, cukup terang, dan
tenang. Di dalamnya terdiri dari pemimpin (leader) atau terapis,
52
fasilitator atau co-terapis, anggota kelompok (pasien). Waktu
pelaksanaan terapi kelompok ini umumnya 45-60 menit dengan
jumlah anggota antara 8-12. Tugas leader memimpin jalannya terapi
kelompok, membuka kegiatan terapi kelompok, merencanakan, dan
mengembangkan jalannya kegiatan, memimpin dengan cara guiding.
Sedangkan tugas fasilitator adalah untuk memfasilitasi anggota dalam
kegiatan, mengarahkan anggota pada saat terapi kelompok, memberi
motivasi pasien untuk aktif dalam terapi kelompok (Woofle, 2003).
Tahap-tahap dalam pelaksanaan terapi kelompok meliputi
pendahuluan (warming up), tata tertib (rules), aktivitas inti,
pemanasan, diskusi atau berbagi pengalaman, dan perasaan (sharing),
kesimpulan (cooling down) serta penutup (Sadock, 1988).
Sedangkan menurut Woofle (2003) dalam terapi kelompok ada
beberapa fase. Fase pertama yaitu orientasi (selama 5 menit)
memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan terapi, melaksanakan
kontrak waktu (durasi setiap tahap), membaca tata tertib (rules).
Selanjutnya, kedua adalah fase melakukan aktivitas atau kegiatan inti
terapi kelompok (selama 30 menit) ada persepsi (menyampaikan
tujuan pembelajaran atau kegiatan), penjelasan tentang pengertian
berkenalan, penjelasan tentang cara berkenalan, tanya jawab untuk
dievaluasi. Fase terakhir adalah terminasi (selama 10 menit),
menanyakan perasaan anggota setelah mengikuti terapi kelompok,
menanyakan manfaat dari adanya terapi kelompok, menarik
53
kesimpulan dari kegiatan terapi kelompok, dan menutup jalannya
serangkaian kegiatan terapi kelompok.
D. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang dilakukan oleh Maulidah (2015) tentang
Pengaruh Terapi Kelompok Terhadap Kemampuan Sosialisasi Pasien
Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya. Penelitian yang
dilakukan menggunakan rancangan quasi experimental dengan metode
one group pre-test and post-test design mengungkapkan hubungan sebab
akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subjek. Metode penelitian
ini ditujukan untuk menguji pengaruh terapi kelompok terhadap
kemampuan bersosialisasi pasien Skizofrenia. Sebagai populasi dalam
penelitian adalah semua pasien Skizofrenia yang mengalami kemunduran
fungsi sosial di Ruang Puri Mitra Harapan Rumah Sakit Jiwa Menur
Surabaya sebanyak 7 orang, yang diambil menggunakan teknik total
sampling. Hasil penelitian yang dilakukan mengenai pengaruh terapi
kelompok terhadap kemampuan bersosialisasi pada pasien Skizofrenia,
dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan pasien bersosialisasi
sebelum pemberian terapi kelompok didapatkan bahwa semua responden
(7 orang) tidak mampu bersosialisasi dengan baik. Setelah pemberian
terapi kelompok didapatkan bahwa sebagian besar responden mampu
untuk bersosialisasi dengan baik sebanyak 5 orang. Maka kesimpulan
akhir adalah adanya pengaruh terapi kelompok terhadap kemampuan
bersosialisasi pada pasien Skizofrenia. Dengan diberikan aktivitas terapi
54
kelompok yang berkala, maka diharapkan kemampuan bersosialisasi
pada pasien Skizofrenia semakin baik.
Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Dobson (2005)
mengenai The Influence of Group Therapy on Schizophrenia juga
mengatakan hal yang sama. Studi ini membandingkan pengaruh
pemberian group therapy sebagai pengobatan penderita Skizofrenia,
terutama pada gejala-gejala negatif. Desain metode yang digunakan yaitu
dengan 33 pasien berusia 18-55 tahun yang diagnosis Skizofrenia dipilih
secara acak (random sampling). Dalam sembilan minggu pemberian
terapi kelompok, pasien dinilai pada tiga, enam, hingga sembilan
minggu. Selama masa pengobatan, instrumen yang digunakan adalah
skala (PANSS), diukur baik positif dan negatif gejala Skizofrenia. Dari
semua itu hasil yang ditunjukan pasien dalam menyelesaikan kegiatan
terapi kelompok menunjukkan perbandingan adanya perbedaan pada nilai
PANSS. Keterampilan sosialisasi pasien tampak lebih efektif dalam
mengurangi gejala negatif. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa
pemberian terapi kelompok pada penderita Skizofrenia merupakan
komponen penting dalam pengobatan. Peningkatan keterampilan
sosialisasi merupakan salah satu proses rehabilitasi yang sangat berguna
bagi penderita untuk mengarah pada produktivitas yang lebih baik.
Kanas (2006) melakukan penelitian berjudul The Effectiveness
of Group Therapy on Socialization Skill of Schizophrenia menyimpulkan
bahwa terapi kelompok merupakan modalitas pengobatan yang efektif
55
digunakan untuk kondisi psikosis dini fase Skizofrenia. Pernyataan ini
didasarkan pada tinjauan pustaka yang menargetkan Skizofrenia episode
pertama, episode pertama psikosis, dan psikosis awal dengan rehabilitasi
psikososial. Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukkan bahwa
pasien Skizofrenia dalam terapi kelompok memiliki hasil jauh lebih baik
daripada penderita kondisi Skizofrenia tanpa pemberian terapi kelompok.
Penelitian ini mengembangkan metode yang diturunkan secara empiris
untuk mengobati pasien Skizofrenia dalam terapi kelompok dengan
tujuan membantu penderita mengatasi permasalahan psikotik dan
hubungan interpersonal.
Sedangkan Dirgahayu (2012) melakukan penelitian tentang
Pengaruh Aktivitas Terapi Kelompok Terhadap Kemampuan Sosialisasi
dan Komunikasi Verbal pada Skizofrenia. Desain penelitian yang
digunakan jenis quasi experimental (eksperimen semu). Tujuan dari
penelitian ini untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang timbul
sebagai akibat dari adanya intervensi (terapi kelompok). Rancangan
penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah one group pre-test
post-test. Di dalam rancangan penelitian ini tidak ada kelompok
pembanding (kontrol), tetapi paling tidak sudah dilakukan observasi
pertama (pre-test) yang memungkinkan menguji perubahan yang terjadi
setelah eksperimen (post-test). Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh pasien baru, baik itu pasien yang benar-benar baru masuk
maupun pasien lama yang baru masuk (sebanyak 34 orang) dengan
56
syarat belum terpapar oleh kegiatan terapi kelompok sebelumnya. Teknik
pengambilan subjek penelitian dengan total sampling, yaitu cara
pengumpulan subjek penelitian berdasarkan jumlah populasi.
Pengumpulan data menggunakan wawancara bebas terpimpin, observasi
dan intervensi (terapi kelompok). Analisa yang digunakan adalah analisa
univariat dan bivariat dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Sehingga
hasil dari penelitian yang dilakukan ini didapatkan kesimpulan bahwa
terjadi peningkatan kemampuan sosialisasi dan komunikasi verbal dalam
pemberian 3 kali sesi terapi yang dapat dilihat perubahannya melalui
pengamatan sikap dan perilaku responden dari observasi pre-test hingga
post-test.
57
E. Kerangka Teori
Skizofrenia
Manifestasi Fungsional:
Manifestasi Klinis:
1. Menurunnya fungsi perawatan
1. Adanya delusi (waham)
diri, produktivitas, leisure
2. Halusinasi auditori, pembauan,
2. Gangguan afektif
rasa
3. Gangguan Kecemasan
3. Masalah dalam proses berpikir
4. Gangguan Sosialisasi
Terapi Terapi Terapi Terapi Psikoterapi
Obat-obatan Psikoreligius Rehabilitasi Psikososial
Terapi Terapi Terapi Terapi Terapi
Fisik Relaksasi Kelompok Seni Asertif
1. Problem Solving
2. Management Stress
3. Role Play
4. Ekspresi
1. Meningkatnya kemampuan produktivitas dan fungsional
2. Meningkatkan kemampuan perawatan diri dan pemanfaatan waktu luang
3. Meningkatnya fungsi kognitif, atensi dan konsentrasi
4. Meningkatnya fungsi sosialisasi
5. Penurunan tingkat tanda gejala positif dan negatif
6. Penurunan tingkat kecemasan
Gambar 2.1 Skema kerangka teori
58
F. Kerangka Konsep
Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Skizofrenia
(Masalah sosialisasi lingkungan)
Pre-test
Tes kemampuan
sosialisasi menggunakan
instrument COTE
Bagaimana terapi kelompok
problem solving dapat
Pemberian terapi kelompok problem solving mempengaruhi kemampuan
sosialisasi pasien
Skizofrenia?
Post-test
Tes kemampuan
sosialisasi menggunakan
instrument COTE
Gambar 2.2 Skema kerangka konsep
G. Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah adanya pengaruh
terapi kelompok problem solving terhadap kemampuan sosialisasi pasien
Skizofrenia.
59
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan sebuah strategi atau cara yang
digunakan oleh peneliti untuk mencapai tujuan penelitian yang telah
ditentukan sebelumnya dan digunakan sebagai pedoman seluruh proses
penelitian (Sujarweni, 2014).
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan
berbentuk quasi experimental design. Dengan desain penelitian one
group pre-test and post-test. Penelitian ini akan dilakukan dengan
memberikan intervensi atau treatment pada subjek penelitian berupa
terapi kelompok problem solving, untuk melihat pengaruh yang
berdampak pada kemampuan sosialisasi subjek penelitian.
Penelitian dengan pendekatan quasi experimental dengan ini
memiliki tujuan untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang
timbul sebagai akibat dari adanya intervensi tertentu. Ciri khusus yang
tergambarkan dari penelitian eksperimen adalah adanya percobaan atau
trial. Percobaan itu berupa intervensi terhadap variabel. Dengan
intervensi tersebut diharapkan ada atau terjadi perubahan pada variabel
lain (Darmawan, 2013).
Menurut Sugiyono (2015) one group pre-test and post-test design
merupakan suatu teknik untuk mengetahui efek sebelum dan sesudah
60
pemberian intervensi. Secara bagan, desain kelompok dapat digambarkan
sebagai berikut:
Pre-test Treatment Post-test
O1 X O2
Gambar. 3.1 One group pre-test and post-test design
Keterangan : O1 = Nilai pre-test (Sebelum diberikan treatment)
O2 = Nilai post-test (Sesudah diberikan treatment)
X = Treatment (group therapy).
B. Populasi dan Subjek Penelitian
Sugiyono (2015) menyebutkan bahwa populasi adalah wilayah
generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek dengan kuantitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti, hal tersebut untuk
dipelajari kemudian ditarik kesimpulan. Populasi bukan hanya sekedar
jumlah yang ada pada objek atau subjek yang dipelajari, namun meliputi
keseluruhan karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh objek atau subjek
itu.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien Skizofrenia di
Unit Rehabilitasi Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta.
Sedangkan sampel atau subjek penelitian adalah sebagaian dari
jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh suatu populasi (Sugiyono,
2015). Subjek penelitian ini adalah sebagian jumlah dan karakteristik
yang dimiliki oleh populasi penelitian, yaitu pasien Skizofrenia yang
61
mengikuti program kegiatan rehabilitasi okupasi terapi di Unit
Rehabilitasi Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta.
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
purposive sampling. Teknik ini memiliki cara dalam penentuan sampling
dengan pertimbangan tertentu. Teknik sampling didapatkan dengan cara
tanpa melakukan random terhadap subjek penelitian.
Namun dalam penelitian ini terdapat kriteria inklusi dan eksklusi
dalam pemilihan subjek penelitian. Adapun kriteria inklusi dalam subjek
penelitian ini, yaitu:
1. Pasien Skizofrenia dengan level kognitif ≥ 3.
2. Pasien Skizofrenia dengan insight ≥ 3.
3. Memiliki skor Global Assesment Functional (GAF) ≥ 50.
4. Mampu berkomunikasi secara verbal dengan baik.
5. Mampu memahami instruksi (perintah).
6. Mampu mengenal huruf (membaca dan menulis).
7. Tidak mengalami diorientasi (orang, tempat dan waktu).
8. Skor pre-test pengukuran Comprehensive Occupational Therapy
Evaluation Scale (COTE) menujukkan skala minimal, mild
(ringan), moderate (sedang) dan severed (berat).
9. Bersedia menjadi subjek penelitian.
Sedangkan kriteria eksklusi dalam penelitian ini yaitu hasil pre-test
menggunakan skala Comprehensive Occupational Therapy Evaluation
62
Scale (COTE) menunjukkan tidak ada gangguan sosialisasi atau
dikatakan normal.
C. Variabel Penelitian
Menurut Sugiyono (2015) variabel penelitian merupakan sebuah
bentuk atau sifat yang akan dipelajari oleh peneliti. Variabel penelitian
adalah atribut yang memiliki nilai dari orang, objek atau kegiatan. Hal
tersebut ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian digunakan
untuk menarik kesimpulan.
Dalam penelitian ini fokus variabel penelitian terbagi menjadi dua
yaitu variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat).
Variabel independen juga dikenal dengan nama variabel bebas (x)
atau tidak terikat di mana variabel ini berperan memberikan stimulasi
atau variabel yang mempengaruhi variabel terikat (y) (Sugiyono, 2015).
Adapun variabel independen (bebas) yang mengacu pada judul
penelitian “Pengaruh Terapi Kelompok Problem Solving Terhadap
Kemampuan Sosialisasi Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah
Dr. Arif Zainudin Surakarta” yang menjadi variabel bebasnya adalah
terapi kelompok problem solving.
Sedangkan variabel dependen menurut Sugiyono (2015) adalah
variabel yang sering disebut dengan variabel terikat, yaitu variabel yang
dipengaruhi oleh variabel bebas. Adapun variabel dependen (terikat)
dalam penelitian ini adalah kemampuan sosialisasi pasien Skizofrenia.
63
D. Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan penjelasan tentang variabel
penelitian, sehingga setiap variabel penelitian dapat dipahami sebelum
dilakukan analisis (Sujarweni, 2014). Definisi operasional ini memiliki
tujuan untuk menghindari kesalahpahaman mengenai data yang akan
dikumpulkan, juga mengalami kesalahan dalam mengumpulkan alat
pengumpulan data (Darmawan, 2013).
1. Terapi Kelompok Problem Solving
Terapi kelompok problem solving merupakan suatu terapi
berbentuk kelompok yang melibatkan 10 anggota dengan beberapa
tahap yang dilakukan, pertama yaitu pendahuluan (warming up),
tata tertib (rules), pemanasan, aktivitas inti, diskusi, dan terakhir
penutup (cooling down). Terapi kelompok problem solving ini
berdurasi ± 45 menit dalam setiap sesi terapi. Aktivitas terapi
problem solving yang diberikan meliputi: cara menyapa dan
berkenalan dengan teman lain (komunikasi), diskusi dalam inisiasi
sutu kejadian, diskusi pada kertas masalah. Kegiatan-kegiatan
tersebut dibuat untuk menuntut adanya kemampuan pemecahan
masalah (problem solving) serta meningkatkan kemampuan
sosialisasi pasien dalam lingkungannya saat ini. Aktivitas diberikan
sebanyak dua kali dalam seminggu hingga terpenuhi intervensi
sebanyak 6 kali.
64
2. Kemampuan Sosialisasi
Kemampuan sosialisasi merupakan cara yang membantu
individu untuk belajar dan menyesuaikan diri terhadap
lingkungan, hal tersebut dibutuhkan agar individu dapat berperan
serta berfungsi di dalam lingkungan sosial. Kemampuan
sosialisasi diukur dalam instrumen Comprehensive Occupational
Therapy Evaluation Scale (COTE) menggunakan skala data rasio.
3. Pasien Skizofrenia
Skizofrenia merupakan suatu kondisi jiwa seseorang yang
mengalami permasalahan dengan kepribadiannya, yang
menyebabkan penderita mengalami kemunduran dan menimbulkan
hambatan atau permasalahan yang menjadikan penderita kesulitan
dalam fungsi produktivitas, fungsi perawatan diri hingga fungsi
sosial seperti bersosialisasi. Pada penelitian ini beberapa jenis
Skizofrenia yang akan digolongkan sebagai subjek penelitian
antara lain, Skizofrenia paranoid, Skizofrenia tak terinci,
Skizofrenia hebefrenik dan yang tidak tergolongkan.
E. Metode Pengumpulan Data
Menurut Darmawan (2013) metode pengumpulan data penelitian
merupakan suatu cara untuk mengumpulkan data yang dilakukan peneliti
dalam rangka menjalankan proses penelitian.
65
Adapun metode pengumpulan data penelitian ini, yaitu:
1. Alat Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan
dengan cara one-on-one berbentuk angket menggunakan alat
ukur instrumen Comprehensive Occupational Therapy
Evaluation Scale (COTE) yang didokumentasikan dalam sebuah
lampiran.
2. Sumber Data
Pengumpulan data primer yang dilakukan peneliti yaitu
melalui pemeriksaan secara langsung kepada subjek untuk
mengetahui kemampuan sosialisasi pasien sebelum dan sesudah
pemberian intervensi terapi kelompok problem solving
menggunakan instrumen Comprehensive Occupational Therapy
Evaluation Scale (COTE). Sedangkan data-data sekunder
(pendukung lain) dalam pengumpulan data yang diperlukan
dalam proses penelitian berasal dari catatan dokumen registrasi
dan riwayat rekam medis (medical record) pasien di Rumah
Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta.
3. Proses Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data ini dilakukan sebelum dan
sesudah pemberian intervensi kepada pasien yang telah masuk
ke dalam kriteria penelitian.
66
F. Instrumen Penelitian
1. Bentuk Instrumen
Alat pengukuran di dalam penelitian ini menggunakan
Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE).
COTE merupakan sebuah skala penilaian perilaku yang digunakan
untuk menggambarkan peran dari okupasi terapi dalam area kesehatan
mental dewasa dengan menilai behavior (perilaku) dan perubahan dari
perilaku itu sendiri secara komprehensif. Comprehensive
Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE) digunakan untuk
menandai sebuah progres dalam evaluasi hingga adanya perubahan
pada perlaku di dalam beberapa activity daily living selama pemberian
sesi terapi. Hal itu juga digunakan sebagai identifikasi beberapa item
behaviors, pertama yaitu general behaviors (perilaku umum), perilaku
interpersonal, dan task behaviors (perilaku tugas) yang
mempengaruhi kinerja pekerjaan. Dengan menentukan perilaku ini hal
tersebut akan mengurangi miss interpretations, menyampaikan
sejumlah informasi secara sederhana kepada tim rehabilitasi lainnya,
serta memungkinkan digunakan pengambilan kembali data yang
dibutuhkan untuk perencanaan pengobatan dan evaluasi kemajuan
pasien. Tujuan dari penilaian Comprehensive Occupational Therapy
Evaluation Scale (COTE) sebagai penilaian di berbagai bidang
perilaku yang terkait pada setiap poinnya general behaviors (perilaku
umum), perilaku interpersonal, dan task behaviors (perilaku tugas).
67
Dalam poin perilaku umum terdapat penilaian (a) ekspresi (cara
berkomunikasi melalui ekspresi), (b) kerjasama yaitu mengikuti
sebagian besar arahan, (c) minat dalam kegiatan seberapa besar
ketertarikan pasien jiwa dengan aktivitas baru, (d) pengambilan
keputusan merupakan bagaimana pasien mampu membuat keputusan
dalam suatu hal. Lalu pada poin selanjutnya terdapat penilaian-
penilaian item interpersonal dan general behaviors. Setiap item diberi
nilai pada skala 0 sampai 4, dengan "4" menunjukkan jumlah masalah
terberat (dysfunction) dalam skala behaviors. Skala ini merupakan
sebuah evaluasi komprehensif dalam menilai kemampuan individu
untuk membantu menetapkan sasaran yang ditargetkan dalam
meningkatkan kemampuan fungsional Activity Daily Living (ADL),
productivity dan leisure. Setelah diberi evaluasi, individu akan
menerima laporan terperinci yang mencakup profil hasil penilaiannya,
ringkasan aset (kemampuan) serta area untuk perbaikan, dan
rekomendasi layanan. Skala Comprehensive Occupational Therapy
Evaluation Scale (COTE) merupakan evaluasi penilaian yang dibagi
menjadi beberapa poin dengan 26 skills yang telah diidentifikasi dan
didefinisi dengan jelas tentang perilaku indikatif. Masing-masing
skills diberikan bagian belakang dengan subtotal yang dijumlahkan
lalu diinterpretasi. Comprehensive Occupational Therapy Evaluation
Scale (COTE) adalah salah satu skala penilaian yang dikembangkan
untuk mengukur dan menggambarkan peran dari okupasi terapi dalam
68
program kesehatan mental secara komprehensif. Skala terdiri dari 26
item, masing-masing ditentukan oleh serangkaian masalah pada 3
subpoin general behaviors (perilaku umum), perilaku interpersonal,
dan task behaviors (perilaku tugas). Penilaian setiap item dinilai pada
skala 0 (normal) sampai 4 (berat). Di mana interpretasi skor yang
didapat bila semakin tinggi total nilai dari akumulasi tiap subtotal,
maka semakin tinggi juga level gangguan pasien secara komprehensif.
Nilai 0-15 (normal), 16-36 (minimal), 37-54 mild (ringan), 55-70
moderate (sedang) dan ≥ 70 severed (berat). Setelah mendapatkan
total hasil dari setiap subtotal item maka nilai diakumulasi secara
keseluruhan dan didapatkan hasil interpretasi sesuai kategori
(Acharya, 2012).
2. Uji Instrumen
Validity and Reliability pada skala Comprehensive Occupational
Therapy Evaluation Scale (COTE) ditentukan dengan memilih secara
acak grafik dari 5 pasien yang dipulangkan dan membandingkan skor
untuk hari pertama (inisiadi) dan terakhir saat pemberian terapi oleh
okupasi terapis. Penurunan nilai tersebut disepakati dengan
pengamatan profesi lain di dalam tim rehabilitasi. Menurut penelitian
Skala Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale pada
peserta melalui catatan terapi okupasi ini, telah diteliti dengan desain
peneliti mengumpulkan data Comprehensive Occupational Therapy
Evaluation Scale (COTE) peserta kondisi Skizofrenia. Dengan
69
penilaian 26 item skills di dalam instrumen Comprehensive
Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE) yang berisi tiga
subskala. Untuk validitas, penelitian menguji dimensi pada setiap
subskala dengan menggunakan analisis Rasch. Setelah hal tersebut
didukung, para peneliti memeriksa validitas konvergen dengan
menggunakan reliabilitas Pearson dan Rasch dari masing-masing
subskala dalam pendekatan unidimensional dan multidimensi.
Didapatkan hasil persentase yang sangat tinggi berada pada rata-rata
95 % valid (Brayman & Kirby, 2014).
G. Analisis Data
Analisis data merupakan kegiatan yang dilakukan peneliti sesudah
data dari seluruh responden atau sumber data lain telah terkumpul.
Adapun kegiatan dalam analisis data meliputi:
1. Mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden
2. Mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden
3. Menyajikan data dari setiap variabel yang diteliti
4. Melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah
5. Melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah
diajukan
Data yang dianalisis dapat diperoleh dari hasil wawancara,
observasi, kuesioner, dan lain-lain (Sugiyono, 2015).
Data yang akan disajikan dalam penelitian ini berbentuk skala
interval sehingga pengujian hipotesis menggunakan skala pengukuran
70
numerik. Penelitian ini merupakan penelitian komparatif dengan
kelompok subjek berpasangan karena kelompok yang diuji adalah
kelompok yang sama. Apabila distribusi data yang diperoleh dikatakan
normal, maka analisis data yang digunakan adalah uji t berpasangan.
Sedangkan jika distribusi data yang diperoleh tidak normal maka analisis
data menggunakan uji data Wilcoxon. Ada beberapa persyaratan analisis
data, yaitu:
1. Uji Prasyarat
Penelitian ini adalah penelitian data berpasangan dengan
rancangan one group pre-test and post-test design, sehingga uji
prasyarat yang digunakan adalah uji normalitas. Uji normalitas data
yang digunakan mengetahui apakah data terdistribusi normal atau
tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan Shapiro
Wilk Test dikarenakan data kurang dari 50. Data dapat dikatakan
berdistribusi normal jika nilai p (p-value) > 0,05. Apabila data
berdistribusi normal, maka uji data menggunakan uji parametrik.
Sedangkan jika data tidak berdistribusi normal maka uji data
menggunakan non parametrik.
2. Uji beda pre-test dan post-test
Uji beda pre-test dan post-test digunakan untuk mengetahui
hasil perbedaan kemampuan sosialisasi pada saat sebelum dan
sesudah diberikan intervensi. Bila data tidak terdistribusi normal,
maka digunakan uji Wilcoxon sebagai alternatif penggantian uji
71
Paired Sample T Test (uji t sampel berpasangan). Uji Wilcoxon
berfungsi menguji perbedaan antar data berpasangan, menguji
komparasi antar dua pengamatan sebelum dan sesudah untuk
mengetahui efektifitas intervensi.
3. Pemeriksaan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan penelitian yang digunakan sesuai
dengan hipotesis yang telah diajukan.
4. Penyajian
Penyajian data dari hasil penelitian akan disajikan dalam
bentuk tabel berdasarkan olah data Statistical Product and Service
Solution (SPSS).
H. Prosedur Penelitian
1. Persiapan
a. Proses penelitian ini melakukan inisiasi berupa rancangan
penelitian dalam sebuah proposal penelitian dan pengujian sebuah
proposal
b. Pembuatan modul intervensi yaitu berupa modul terapi kelompok
problem solving sebagai acuan dalam pemberian treatment
c. Menyiapkan alat berupa instrument pengukuran yang digunakan
dalam penelitian.
2. Permohonan Izin Melakukan Penelitian
a. Peneliti mengajukan surat pemohonan izin kepada direktur, bagian
72
diklat litbang, tata usaha serta kepala ruangan Rehabilitasi Rumah
Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta
b. Setelah mendapat izin untuk melakukan penelitian selanjutnya
peneliti melakukan pelaksanaan penelitian sesuai dengan modul
terapi kelompok problem solving yang telah disusun secara
sistematis.
3. Pelaksanaan Penelitian
a. Pemeriksaan Awal
Pemeriksaan awal pada subjek penelitian menggunakan
instrumen Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale
(COTE) dengan pemilihan subjek penelitian sesuai dengan kriteria
yang telah ditentukan. Peneliti melakukan pemeriksaan (assesment)
kepada subjek penelitian menggunakan instrumen sebelum
pemberian terapi kelompok problem solving.
b. Intervensi
Intervensi yang dilakukan dalam penelitian ini dengan
pemberian terapi kelompok problem solving kepada subjek
penelitian. Subjek penelitian diarahkan dan diminta mengikuti
terapi kelompok problem solving sesuai program yang telah
dirancang oleh peneliti mulai dari awal hingga selesai (dalam 6 kali
pertemuan dengan durasi pemberian treatment selama ± 45 menit.
73
c. Evaluasi
Evaluasi akhir dilakukan pengukuran Comprehensive
Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE) kembali kepada
subjek penelitian kemudian dibandingkan dengan hasil
Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE) di
awal pemeriksaan.
4. Penyelesaian laporan dan presentasi hasil penelitian.
I. Jadwal Penelitian
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
Tahun 2018
No. Kegiatan
Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli
1. Penyusunan Proposal
2. Seminar Proposal
4. Perizinan Penelitian
5. Pelaksanaan Penelitian dan
Pengumpulan Data
7. Analisis Data dan Penyusunan
Laporan
8. Presentasi Hasil
9. Perbaikan Laporan
10. Pengumpulan Laporan
Sumber: Jadwal Kalender Akademik
74
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Penelitian
Penelitian ini telah terlaksana bersamaan dengan pelaksanan
praktik klinik di Instalasi Rehab Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif
Zainudin di Jl. Ki Hajar Dewantara No. 80 Surakarta mulai 5 Maret
hingga 28 April 2018.
Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin memiliki berbagai
jenis pelayanan dan instalasi dalam menyelenggarakan pemulihan dan
rehabilitasi di bidang kesehatan jiwa sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Jenis pelayanan yang ada di
rumah sakit jiwa antara lain adalah pelayanan administrasi dan
manajemen, pelayanan gawat darurat, pelayanan rekam medik,
pelayan laboratorium klinik, pelayanan radiologi, pelayanan farmasi,
dan pelayanan rehabilitasi medik. Sedangkan beberapa instalasi yaitu
berupa instalasi gawat darurat, instalasi rawat inap, instalasi rawat
jalan, instalasi penunjang diagnostik, instalasi pelayanan terapi
biopsikososial, instalasi rekam medik, instalasi rehabilitasi diklat dan
rehabilitasi medik. Di antara pelayanan rehabilitasi ada pelayanan
rehabilitasi siang hari (day care), terapi okupasi dan latihan
75
keterampilan kerja (sheltered workshop), rekreasi, serta kunjungan
rumah (home visit).
Seluruh pasien bangsal rawat inap yang mengikuti kegiatan di
instalasi rehab okupasi terapi, setiap hari menuju ruang rehab dengan
diantar oleh perawat ruangan masing-masing, mulai pukul 08.30 dan
kembali lagi pukul 10.00 WIB. Jumlah pasien setiap hari yang datang
untuk mengikuti kegiatan terapi okupasi terapi sebanyak 50-60 pasien
dari 9 bangsal rawat inap Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin
Surakarta.
Sedangkan dari jumlah keseluruhan, pasien yang masuk ke
dalam kriteria dan bersedia menjadi subjek penelitian berjumlah 30
orang. Sebelum memulai kegiatan terapi, seluruh pasien berkumpul di
lapangan untuk mengikuti kegiatan senam pagi. Senam pagi sebagai
awal aktivitas pemanasan, setelah itu baru menuju pada aktivitas
terapi inti sesuai jadwal harian yang sudah ada.
Jadwal kegiatan terapi pada hari Senin yaitu terapi seni untuk
pasien perempuan dan kegiatan olahraga badminton untuk pasien laki-
laki. Selanjutnya untuk hari Selasa seluruh pasien baik laki-laki
maupun perempuan berkumpul untuk mengikuti terapi musik.
Sedangkan hari Rabu kegiatan terbagi menjadi dua kelompok (pasien
laki-laki dan pasien perempuan) yang nantinya pasien dibagi lagi
menjadi beberapa kelompok lagi untuk mengikuti group therapy. Hari
Kamis pasien perempuan mengikuti terapi asertif atau seni, sedangkan
76
pasien laki-laki mengikuti kegiatan olahraga voli, tenis meja (pasien
laki-laki). Di hari Jum’at pasien mengikuti kegiatan kerohanian sesuai
dengan agama yang dianutnya, pasien yang beragama Islam mengikuti
pengajian, pasien yang beragama Kristiani mengikuti kebaktian,
sedangkan pasien agama lain mengikuti arahan dari petugas
kerohanian.
Langkah-langkah Standart Procedure Operational dalam
pengambilan data di bagian Rehab Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif
Zainudin Surakarta mulai dari perizinan ke direktur rumah sakit
melalui administrasi diklat litbang. Setelah pengajuan perizinan turun,
bagian litbang akan memberikan surat izin penelitian. Setelah itu
peneliti dapat memberikannya surat kepada kepala ruangan bagian
instalasi rehab okupasi terapi. Setelah mendapat persetujuan dari
kepala instalasi rehab, langkah berikutnya peneliti melakukan
screening dan mencari informasi mengenai data subjek yang akan
masuk pada kategori penelitian. Setelah mendapatkan subjek
penelitian, peneliti melakukan tes menggunakan instrumen
Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE),
bersamaan dengan itu peneliti juga meminta izin dan menjelaskan
tujuan dari intervensi (pemberian terapi) kepada subjek penelitian
yang masuk ke dalam kategori. Parameter hasil dari penelitian adalah
adanya perubahan nilai tingkat sosialisasi pasien Skizofrenia sebelum
dan sesudah mengikuti intervensi (terapi kelompok).
77
Teknik pengambilan subjek penelitian menggunakan purposive
sample, pengambilan data diawali dengan screening subjek penelitian
berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Sebelum subjek penelitian
mendapatkan intervensi, peneliti melakukan pengukuran kemampuan
sosialisasi subjek penelitian menggunakan instrumen Comprehensive
Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE) yang terdiri dalam
pengukuran skor pre-test (nilai sebelum dilakukan tindakan). Peneliti
juga mempertimbangkan berapa lama pasien mulai masuk dan
mengikuti kegiatan rehab okupasi terapi. Jika pasien tersebut masuk
ke dalam kategori pasien baru yang baru saja dirujuk dan memenuhi
kriteria, maka pasien tersebut akan diprioritaskan peneliti untuk
dijadikan subjek penelitian. Setelah melakukan screening terhadap
subjek penelitian yang baru mengikuti kegiatan rehab, peneliti
menentukan jumlah subjek penelitian yang didapatkan untuk
mendapatkan intervensi selama 6 kali pertemuan yang akan datang.
Total jumlah subjek penelitian yang memenuhi persyaratan dari
kriteria penelitian yaitu sebanyak 30 pasien, dengan rincian jumlah
subjek penelitian laki-laki berjumlah 18 orang dan perempuan 12
orang.
Kemudian dilanjutkan dengan melihat rekam medis pasien
untuk mengetahui diagnosis medis. Dalam satu kali pemberian
intervensi durasi terapi selama ± 45 menit dengan rincian waktu 10
menit warming up, 25 menit aktivitas inti dan 10 menit cooling down.
78
Pengambilan data dimulai dengan melakukan pre-test
menggunakan instrumen Comprehensive Occupational Therapy
Evaluation Scale (COTE) kepada setiap subjek penelitian yang masuk
ke dalam kategori. Setelah itu minggu selanjutnya pada tanggal 26 dan
28 Maret 2018 dilakukan intervensi pertama dan kedua. Lalu minggu
selanjutkan pada tanggal 2 dan 4 April 2018 dilakukan intervensi
ketiga dan keempat. Minggu terakhir pada tanggal 9 dan 11 April
2018 dilakukan intervensi yang kelima dan keenam. Lalu tanggal 13
April 2018 diakhiri dengan melakukan post-test instrumen
Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE).
2. Diskripsi Karakteristik Subjek Penelitian
Diskripsi karakteristik subjek penelitian pada penelitian ini yaitu
berdasarkan jenis kelamin, usia, riwayat pendidikan dan diagnosis
medis.
a. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Subjek Penelitian
Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
Laki-Laki 18 60
Perempuan 12 40
Total 30 100
Sumber : Olah Data SPSS Ver. 24 (2018)
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa jumlah subjek penelitian
terbanyak adalah berjenis kelamin laki-laki, dengan jumlah 18
orang (60%). Sedangkan proporsi subjek penelitian berjenis
kelamin perempuan berjumlah 12 orang (40%).
79
b. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Subjek Penelitian
Berdasarkan Usia
Usia (Tahun) Jumlah Persentase (%)
17-25 4 13,3
26-35 11 36,7
36-45 8 26,7
46-55 7 23,3
Total 30 100
Sumber : Olah Data SPSS Ver. 24 (2018)
Departemen Kesehatan (2009) membagi usia manusia
berdasarkan kelompok remaja akhir yang berada pada rentang usia
17-25 tahun, masa dewasa awal berusia 26-35 tahun, masa dewasa
akhir berusia 36-45 tahun, dan masa lansia awal berusia 46-55
tahun. Berdasarkan Tabel 4.2, proporsi jumlah subjek penelitian
yang paling banyak mengalami Skizofrenia adalah kelompok
rentang usia 26-35 tahun berjumlah 11 orang (36,7 %). Sedangkan
untuk jumlah yang paling sedikit ada pada kelompok rentang usia
17-25 tahun dengan jumlah 4 orang (13,3 %).
c. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Riwayat Pendidikan
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Subjek Penelitian
Berdasarkan Riwayat Pedidikan
Pendidikan Jumlah Persentase (%)
Tidak Sekolah 1 3,3
SD 5 16,7
SMP 10 33,3
SMA 13 43,3
S1 1 3,3
Total 30 100
Sumber : Olah Data SPSS Ver. 24 (2018)
80
Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa jumlah subjek
penelitian paling banyak memiliki pendidikan pada tingkat SMA
dengan jumlah 13 orang (43,3 %). Sedangkan responden yang tidak
sekolah dan memiliki pendidikan tingkat sarjana merupakan angka
paling sedikit dengan masing-masing berjumlah 1 orang (3,3%).
d. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Diagnosis Medis
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Subjek Penelitian
Berdasarkan Diagnosis Medis
Diagnosis Medis Jumlah Persentase (%)
Skizofrenia Paranoid 8 26,7
Skizofrenia Hebefrenik 2 6,7
Skizofrenia Tak Terinci 14 46,7
Skizofrenia Residual 6 20
Total 30 100
Sumber : Olah Data SPSS Ver. 24 (2018)
Tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa jumlah subjek penelitian
yang memiliki jumlah paling banyak masuk ke dalam diagnosis
medis kelompok Skizofrenia Tak Terinci berjumlah 14 orang
(46,7%). Sedangkan tipe Skizofrenia Hebefrenik paling sedikit dari
jumlah subjek penelitian secara keseluruhan berjumlah 2 orang
(6,7%).
81
e. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Gangguan (Skor Pre-test COTE)
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Subjek Penelitian
Berdasarkan Kategori Gangguan (Skor Pre-test COTE)
Diagnosis Medis Jumlah Persentase (%)
Minimal 2 6,7
Mild (Ringan) 25 83,3
Moderate (Sedang) 2 6,7
Severed (Berat) 1 3,3
Total 30 100
Sumber : Olah Data SPSS Ver. 24 (2018)
Berdasarkan Tabel 4.5 menunjukkan bahwa jumlah subjek
penelitian pada nilai Pre-test dengan kategori gangguan mild
(ringan) paling banyak yaitu berjumlah 25 orang (83,3 %).
Sedangkan kategori gangguan severed (berat) berjumlah paling
sedikit yaitu 1 orang (3,3 %).
f. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Gangguan (Skor Post-test COTE)
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Subjek Penelitian
Berdasarkan Kategori Gangguan (Skor Post-test COTE)
Diagnosis Medis Jumlah Persentase (%)
Minimal 27 90
Mild (Ringan) 2 6,7
Moderate (Sedang) 1 3,3
Total 30 100
Sumber : Olah Data SPSS Ver. 24 (2018)
Tabel 4.6 di atas menunjukkan bahwa ada perubahan pada
distribusi frekuensi antara penilaian subjek penelitian saat pre-test
dengan post-test. Pada penilain pre-test jumlah kategori gangguan
pada kelompok mild (ringan) berjumlah 25 orang (83,3 %). Setelah
adanya pemberian intervensi, hasil penilaian pada post-test subjek
82
penelitian rata-rata mengalami perubahan, masuk ke dalam kategori
minimal dengan jumlah 27 orang (90 %).
B. Analisis Uji Prasyarat
Sebelum menentukan teknik analisa data statistik, peneliti
melakukan uji prasyarat atau uji normalitas data. Uji normalitas data
pada penelitian ini menggunakan analisis Shapiro Wilk Test karena
jumlah subjek penelitian berjumlah 30 orang atau (<50 orang). Di
dalam uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk Test, hal tersebut
terdistribusi normal apabila nilai p (p-value >0,05) (Sugiyono, 2015).
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel. 4.7 Hasil Uji Normalitas Skor Pre-test dan Post-test COTE
Shapiro Wilk
Pengukuran
Sig. (p) Kriteria Keterangan
Pre-test COTE 0,000 p-value > 0,05 Tidak Normal
Post-test COTE 0,000 p-value > 0,05 Tidak Normal
Sumber : Olah Data SPSS Ver. 24 (2018)
Dari tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa nilai pada uji
normalitas terhadap sebaran skor pre-test dan post-test COTE
menunjukkan hasil signifikansi (p) = 0,000 (p-value < 0,05). Hasil uji
normalitas tersebut menunjukkan bahwa distribusi dua kelompok data
(pre-test dan post-test) tidak terdistribusi dengan normal karena
keduanya menunjukkan nilai signifikansi (Sig. p = 0,000), oleh karena
itu uji hipotesis yang akan digunakan adalah Uji Wilcoxon.
83
C. Analisis Uji Hipotesis
Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan Uji Wilcoxon.
Kriteria perhitungan Uji Wilcoxon adalah jika p < 0,05 dengan derajat
signifikasi 95 %, maka H0 ditolak dan Ha diterima.
Berdasarkan perhitungan menggunakan Uji Wilcoxon
menggunakan program Statistical Product and Service Solution
(SPSS), diperoleh angka signifikansi pada penelitian ini sebesar 0,000.
Karena nilai p < 0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa
kemampuan sosialisasi pre-test dan post-test dalam pemberian
intervensi terapi kelompok problem solving ada perbedaan secara
bermakna. Hal tersebut menunjukkan terdapat pengaruh pemberian
intervensi terapi kelompok terhadap kemampuan sosialisasi pasien
Skizofrenia. Hasil uji tersebut dapat dijelaskan pada Tabel 4.8 di
bawah ini.
Tabel 4.8 Analisis Uji Wilcoxon Statistics
Variabel P-Value Keterangan
V. Bebas : Terapi Kelompok 0,000 p < 0,05
V. Terikat : Kemampuan Sosialisasi H0 ditolak dan Ha diterima
Sumber : Olah Data SPSS Ver. 24 (2018)
84
D. Pembahasan
1. Karakteristik Responden
a. Jenis Kelamin
Dari distribusi kelompok penelitian berdasarkan jenis
kelamin pada Tabel 4.1 menunjukan bahwa total populasi pasien
berjenis kelamin laki-laki memiliki jumlah lebih banyak daripada
perempuan, yaitu sebesar 60%.
Di dalam data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013
memperkirakan sekitar satu juta orang di Indonesia yang
mengalami gangguan kejiwaan, menunjukkan individu berjenis
kelamin laki-laki memiliki risiko lebih tinggi mengalami
Skizofrenia dibandingkan perempuan. Namun untuk masalah
prognosis yang dialami pasien berjenis kelamin laki-laki atau
perempuan, keduanya memiliki prognosis sama, sehingga
keduanya perlu tindakan yang tepat (Nurwusta, 2017).
Suryabrata (2005) juga menyebutkan bahwa kejadian
Skizofrenia pada laki-laki lebih besar terjadi daripada perempuan.
Sedangkan Sadock (2010) mengungkap bahwa laki-laki (72%)
memiliki prognosis lebih buruk dibandingkan dengan perempuan,
dengan kemungkinan laki-laki berisiko 2,37 kali lebih besar mudah
mengalami gangguan kejiwaan dibandingkan perempuan. Hal
tersebut dikarenakan laki-laki menjadi penopang utama dalam
rumah tangga, sehingga laki-laki cenderung lebih besar mengalami
85
tekanan hidup. Sedangkan perempuan lebih sedikit berisiko
menderita gangguan jiwa karena perempuan lebih mampu
menerima situasi kehidupan dibandingkan dengan laki-laki.
b. Usia
Menurut Departemen Kesehatan (2009) manusia
dikelompokkan sesuai usianya, di mana masa remaja akhir berusia
17-25 tahun, masa dewasa awal berusia 26-35 tahun, masa dewasa
akhir berusia 36-45 tahun, dan masa lansia awal berusia 46-55
tahun. Sedangkan pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa proporsi
jumlah subjek penelitian paling banyak mengalami Skizofrenia
yaitu kelompok rentang usia 26-35 tahun dengan jumlah 11 orang
(36,7 %). Sedangkan jumlah yang paling sedikit pada kelompok
rentang usia 17-25 tahun dengan jumlah 4 orang (13,3 %).
Hal tersebut sama seperti yang ada dalam teori interpersonal
bahwa Skizofrenia muncul akibat adanya disfungsi pada masa
kehidupan awal dan masa remaja seorang individu. Penyebabnya
karena stressor lingkungan, seperti ibu yang memiliki kecemasan
berlebihan, orang tua yang terlalu protektif, keluarga yang tidak
perhatian secara emosional, atau ayah yang suka mengontrol.
Skizofrenia terjadi pada masa remaja akhir dan dewasa awal, pada
laki-laki rata-rata pada rentang usia 15-25 tahun dan perempuan
pada rentang usia 12-35 tahun (APA, 2000).
86
Setyanto dan Maliya (2010) menuliskan bahwa prevalensi
penderita Skizofrenia di Indonesia sering terjadi pada individu
dengan rentang usia 15-45 tahun. Penelitian tersebut
mengindikasikan bahwa Skizofrenia dapat dialami seseorang pada
rentang usia 15-45 tahun di mana masa tersebut merupakan usia
produktif seseorang. Sedangkan Hurlock (2010) mengatakan
bahwa masa dewasa muda atau dewasa awala adalah masa di mana
individu mencoba peran-peran baru yang memberikan perubahan
signifikan. Pada kondisi tersebut apabila seseorang mendapati
stressor (tekanan) atau kesulitan dalam memecahkan suatu masalah
tertentu maka akan membuat orang tersebut rentan mengalami
gangguan psikis atau kejiwaan.
Menurut Erlina & Pramono (2010) yang sama dengan teori
sebelumnya juga menyatakan bahwa gejalan Skizofrenia sering
muncul biasanya pada rentang usia remaja akhir atau dewasa awal.
Onset pada laki-laki biasanya antara usia 17-25 tahun, sedangkan
perempuan antara usia 26-35 tahun.
c. Riwayat Pendidikan
Sebagaian besar subjek penelitian dalam penelitian ini,
memiliki pendidikan di tingkat SMA dengan jumlah 13 pasien
(43,3 %). Sedangkan subjek penelitian terendah adalah yang tidak
sekolah dan memiliki tingkat pendidikan sarjana, di mana masing-
masing berjumlah 1 orang (33,3 %).
87
Banyak faktor yang menjadi pencetus seseorang dapat
mengalami gangguan kejiwaan, salah satunya pendapatan dan
tingkat pendidikan (Bruce, 2002). Sedangkan Kaplan & Grebb
(2010) menyebutkan bahwa faktor psikososial, faktor biologis dan
genetika sangat besar pengaruhnya sebagai pencetus gangguan
kejiwaan.
Di dalam penelitian yang ditulis Maryaningtyas (2005)
menyebutkan bahwa usia SMA masuk ke dalam fase remaja, di
mana individu masih sedang mencari jati diri. Emosinya cenderung
labil, tidak berani menyampaikan keinginannya, mudah cemas dan
mudah depresi karena belum matang secara perkembangan
mencapai masa dewasa.
Efendi (2014) mengatakan bahwa psikologis individu di usia
SMA berada pada tahap yang tidak jelas pada rangkaian proses
perkembangan emosi. Ketidakjelasan ini karena usia tersebut
merupakan periode transisi dari masa kanak-kanak menuju periode
orang dewasa (masa pubertas). Sehingga emosi yang tidak stabil
rentan membuat individu pada usia tersebut bertingkahlaku tidak
sesuai. Emosi yang belum matang cenderung menyebabkan
individu mudah tertekan, kemampuan problem solving yang tidak
sempurna, bahkan terkadang tidak mengetahui cara melampiasan
emosinya.
88
d. Diagnosis Medis
Diagnosis medis subjek penelitian pada penelitian ini terdiri
dari jenis Skizofrenia Paranoid, Skizofrenia Hebefrenik,
Skizofrenia Tak Terinci, dan Skizofrenia Residual. Dari tabel 4.4
menunjukkan bahwa jumlah subjek penelitian yang mendominasi
adalah jenis Skizofrenia Tak Terinci yaitu 14 pasien (46,7 %).
Ditinjau dari diagnosa atau jenis Skizofrenia, jenis
Skizofrenia Tak Terinci teridentifikasi masuk ke dalam jenis
Skizofrenia dengan jumlah penderita terbanyak. Skizofrenia Tak
Terinci merupakan jenis Skizofrenia yang gejalanya tidak
memenuhi kriteria Skizofrenia Paranoid, Skizofrenia Hebefrenik,
maupun Skizofrenia Katatonik (Elvira, 2013).
Sedangkan menurut Janut, 2013 menyebutkan bahwa jenis
Skizofrenia Paranoid memiliki jumlah terbanyak dibandingkan
dengan jenis Skizofrenia lainnya sebanyak 40,8 %, kemudian
diikuti dengan Skizofrenia Residual sebanyak 39,4 %, Skizofrenia
Hebefrenik sebanyak 12 %, Skizofrenia Katatonik sebanyak 3,5 %,
Skizofrenia Tak Terinci 2,1 %, Skizofrenia jenis lainnya sebanyak
1,4 % dan yang paling sedikit adalah Skizofrenia Simpleks
sebanyak 0,7 %. Sehingga hal tersebut bertolak belakang dengan
hasil penelitian ini di mana, jumlah subjek penelitian yang ada di
lapangan berbeda dengan pendapat-pendapat ahli yang telah ada
sebelumnya.
89
e. Pengaruh Terapi Kelompok Terhadap Sosialisasi
Dari hasil pengukuran instrumen COTE sebelum pemberian
terapi kelompok (pre-test), menunjukkan hasil bahwa jumlah subjek
penelitian banyak yang berada pada skor gangguan mild (ringan)
dengan jumlah 25 orang (83,3 %). Setelah adanya intervensi terapi
kelompok (post-test) selama 6 kali pertemuan, skor COTE dari seluruh
subjek penelitian secara umum mengalami perubahan dari gangguan
mild (ringan) ke minimal dengan jumlah 27 orang (90 %).
Hasil uji statistika menunjukkan bahwa nilai p = 0,000, di mana
menunjukkan hasil signifikasi antara terapi kelompok problem solving
terhadap kemampuan sosialisasi.
Ternyata hasil tersebut sesuai dengan beberapa penelitian yang
menyatakan efek dari terapi kelompok memberikan dampak baik
kepada penderita Skizofrenia. Sadock & Grebb (2010) menyatakan
bahwa terapi kelompok dapat berguna serta efektif untuk penderita
Skizofrenia karena dapat menurunkan isolasi sosial, meningkatkan
rasa kebersamaan dan meningkatkan kemampuan realitas pasien
Skizofrenia.
Sedangkan Semiun (2006) juga membenarkan salah satu
kegunaan terapi kelompok yaitu membantu pasien Skizofrenia untuk
lebih memahami bahwa masalah yang sedang dihadapi masih dapat
dibagi (sharing) dengan orang lain. Hal tersebut memberi peluang
bagi penderita untuk dapat memecahkan masalah, membuat penderita
90
Skizofrenia belajar cara menangani masalah secara lebih efektif.
Sedangkan Yalom (2005) menjelaskan bahwa terapi kelompok dapat
memberikan banyak manfaat, mulai dari menumbuhkan harapan
penderita Skizofrenia (instillation of hope), menumbuhkan
kebersamaan (universality), menumbuhkan rasa percaya untuk
menghargai diri sendiri dan orang lain (altruism), sebagai sarana
penyampaian informasi (impartiong information), koreksi rekapitulasi
dari kelompok keluarga primer (the corrective recapitulation of the
primary family group), perkembangan sosialisasi (development of
socializing techniques), perilaku meniru (imitative behavior),
pembelajaran interpersonal (interpersonal learning), keterpaduan
grup (group cohesiveness), mengekspresikan perasaan kepada orang
lain (catharsis), dan diharapkan pasien mempu memahami keyakinan
yang tercipta dalam dirinya tentang bahwa ‘hidup kadang tidak adil’
(existential factors).
Sedangkan efek terapeutik terapi kelompok problem solving
sendiri secara spesifik dijelaskan oleh Garvin (1987) yaitu sebagai
media komukasi di dalam kelompok untuk memecahkan suatu
masalah dengan saling memberikan pendapat serta masukan. Dengan
hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa terapi kelompok problem
solving akan menghasilkan suatu pemecahan masalah karena adanya
interaksi sebuah ide dari setiap anggota kelompok dan membuahkan
hasil dengan kesepakatan bersama.
91
E. Keterbatasan Penelitian
1. Instrumen penelitian Comprehensive Occupational Therapy
Evaluation Scale (COTE) merupakan instrumen komprehensif
berbahasa Inggris lalu dialihbahasakan menjadi bahasa Indonesia,
hal tersebut memungkinkan dapat menimbulkan kebingungan dan
bias pada skor COTE.
2. Beberapa subjek penelitian memperoleh intervensi medikamentosa
yang tidak sama selama perawatan di rumah sakit, sehingga hal
tersebut menunjukkan hasil perbaikan yang bias, apakah perbaikan
pasien sepenuhnya karena pemberian terapi atau didukung dengan
pengaruh dari pengobatan medikamentosa.
3. Pemberian intervensi tidak maksimal sebab kondisi dan mood
pasien yang tidak selalu sama, sehingga terkadang ada beberapa
pasien yang tiba-tiba berhenti melakukan aktivitasnya di tengah
kegiatan.
92
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian melalui data demografi 30 subjek
penelitian, menggunakan teknik purposive sampling. Jenis penelitian
yaitu kuasi eksperimental dengan desain one group pre-test and post-
test, dapat dirangkum menjadi kesimpulan bahwa terapi kelompok
problem solving memberikan pengaruh yang bermakna terhadap
kemampuan sosialisasi pasien Skizofrenia. Hasil penelitian
ditunjukkan dari hasil analisis uji Wilcoxon terhadap skor COTE
sebelum dan sesudah (pre-test dan post-test) terapi kelompok. Hasil
penilaian menunjukkan bahwa nilai (p-value 0,000) yang berarti
menunjukkan terdapat perbedaan signifikan pada pre-test dan post-test
intervensi terapi kelompok. Hal tersebut juga dapat dilihat
berdasarkan kategori gangguan yang menunjukkan penurunan dari
gangguan mild (ringan) ke minimal.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui data demografi pasien
yang kemudian dirangkum menjadi kesimpulan sebagai berikut:
1. Terdapat peningkatan kemampuan sosialisasi responden
sesudah mendapatkan terapi kelompok berdasarkan jenis
kelamin. Jumlah subjek penelitian laki-laki yang masuk ke
93
dalam kategori gangguan minimal yaitu 17 orang (56,7 %)
dan perempuan 10 orang (33,3 %).
2. Terdapat peningkatan kemampuan sosialisasi responden
sesudah mendapatkan terapi kelompok berdasarkan usia.
Kelompok usia yang paling mendominasi 26-35 tahun
sebelumnya di kategori gangguan mild (ringan) lalu berubah
ke dalam kategori gangguan minimal.
3. Terdapat peningkatan kemampuan sosialisasi responden
sesudah mendapatkan terapi kelompok berdasarkan diagnosis
medis. Kelompok Skizofrenia Tak Terinci sebelumnya di
kategori gangguan mild (ringan) lalu berubah ke dalam
kategori gangguan minimal.
4. Terdapat peningkatan kemampuan sosialisasi responden
sesudah mendapatkan terapi kelompok berdasarkan riwayat
pendidikan. Kelompok jenjang SMA sebelumnya di kategori
gangguan mild (ringan) lalu berubah ke dalam kategori
gangguan minimal.
B. Saran
1. Instrumen Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale
(COTE) merupakan instrumen yang bermula dari bahasa Inggris,
kemudian dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, untuk
meminimalisir bias atau kerancuan dalam mengartikan makna,
peneliti harus banyak refrensi pada instrumen, agar setiap poin
94
maksud dari penilian di dalam instrumen dapat diterjemahkan
dengan baik dan benar. Peneliti juga harus mampu melakukan
observasi yang jeli serta teliti terhadap kemampuan sosialisasi
pasien.
2. Perlu adanya penelitian yang bisa menekan faktor-faktor yang
menjadi distrak seperti penggunaan psikofarmaka, terapi keluarga
atau bentuk terapi lainnya sehingga penelitian yang dilakukan
merupakan pengaruh yang benar-benar dapat dilihat dari efektifitas
terapi kelompok problem solving pada kemampuan sosialisasi
pasien Skizofrenia.
3. Peneliti perlu mendesain kegiatan terapi kelompok problem solving
menjadi lebih menarik dan hidup, sehingga timbul motivasi atau
perasaan yang tidak membosankan bagi pasien.
95
DAFTAR PUSTAKA
Acharya, V. (2012). Problem Identification Grid: Assessment Tool for
Mental Health Settings. Indian Journal of Occupational Therapy. Vol. 44.
11–14.
American Psychiatric Association (APA). DSM-IV-TR. (2000). Diagnostic
and Statistical Manual of Mental Disorders. Washington: American
Psychiatric Association.
American Psychiatric Assosiation (APA). (2013). Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorder (5th Edition). Washington: American
Psychiatric Assosiation.
American Occupational Therapy Assosiation (AOTA). (2000).
Ocuupational Therapy Practice Framework: Domain and Process
Teamwork. American Journal of Occupational Therapy Vol. 62. 625-687.
Bellido, M. (2005). Comprehensive Occupational Therapy Scale (COTE)
for Psychiatric Patients. Retrieved February 20, 2018 from the world
wide web: [Link]
Brayman, S.J & Kirby, T.F. (2014). The Comprehensive Occupational
Therapy Evaluation. Retrieved February 18, 2018 from the world wide
web: [Link]
Bruce, M. (2002). Psychosocial Frame of Reference (3th Edition).
Thorofare: Slack Incorporated.
Bruce, J. (2009). Peranan, Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka
Cipta.
Buhler, C. (2002). Practice Kinder Pshycholgy. Boston: Houghton Mifflin,
Co.
Dahlan, S (2006). Statistika untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta:
Arkans.
Darmawan, D. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
David, A. (2005). Community Work and Problem Solving. London:
McMilan.
Departemen Pendidikan Nasional Pusat Bahasa. (2008). Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
96
Departemen Kesehatan. (2009). Kategori Umur Menurut Depkes. Retrieved
June 04, 2018 from the world wide web: [Link] [Link]
Departemen Kesehatan. (2012). Buku Profil Kesehatan Provinsi Jawa
Tengah Tahun 2012. Semarang: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Departemen Kesehatan RI. (2013). Data Riset Kesehatan Dasar 2013.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Dobson, M. (2005). The Influence of Group Therapy on Schizophrenia.
Retrieved February 15, 2018 from the world wide web: [Link]
[Link]
Efendi, R. (2014). Pengaruh Terapi Musik Terhadap Tingkat Kecemasan
Pasien Skizofrenia di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang.
Surakarta: Politeknik Kementerian Kesehatan Surakarta.
Elvira S. (2013). Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Jarut, Y. (2013). Tinjauan Penggunaan Antipsikotik pada Pengobatan
Skizofrenia di Rumah Sakit Prof. Dr. V.L. Ratumbuysang Manado
Periode Januari 2013. Ilmiah Farm. 2013; 2(3):54-7.
Kanas, N. (2006). The Effectiveness of Group Therapy on Socialization Skill
of Schizophrenia. Retrieved February 17, 2018 from the world wide web:
[Link] [Link]
Hawari, D. (2009). Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia.
Jakarta: Balai Penerbit FK UI.
Hawari, D. (2012). Skizofrenia (3th Edition). Jakarta: Balai Penerbit FK UI.
Hurlock, I. (2010). A Functional Approach to Group Work in Occupational
Therapy. Philadelpia: J.B. Lippincott Company.
Ilham, A. (2008). Terapi Psikoreligius. Retrieved February 15, 2018 from
the world wide web: [Link] [Link]
com/.
Garvin, C. (1987). Handbook of Social Work with Groups. International
Journal Social Welfare Vol. 32. 167-169.
Grebb, J.A. (2008). Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri
Klinis. Tangerang: Binarupa Aksara.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang
No.18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa. Jakarta: Kemenkes RI.
97
Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Rencana Strategis
Kementrian Untuk Kesehatan Jiwa. Retrieved February 03, 2018 from
the world wide web: [Link]
publik/[Link]/.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peran Keluarga
Dukung Kesehatan Jiwa Masyarakat. Retrieved February 14, 2018 from
the world wide web: [Link]
Lucy, S. (2013). Comprehensive Occupational Therapy Evaluation.
Retrieved February 20, 2018 from the world wide web:
[Link]
Maramis, W. (2009). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa (Edisi ke II). Surabaya:
Airlangga University Press.
Maslim, R. (2001). Buku Saku: Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas
dari PPDGJ-III. Jakarta: Nuh Jaya.
Maulida, L. (2015). Pengaruh Terapi Kelompok Terhadap Kemampuan
Bersosialisasi Pasien Dengan Diagnosa Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa
Menur Surabaya. Skripsi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Surabaya.
Mike, J. (2008). The High Functional Schizophrenia. Retrieved February
03, 2018 from the world wide web: [Link]
Morgan, T. (2006). Introduction to Psychology. New York: Mc. Graw Hill
[Link].
Neale, J.M. (2011). Introducing Schizoprenia. Retrieved February 14, 2018
from the world wide web: [Link]
Nurwusta, A. (2017). Pengaruh Terapi Kelompok Problem Solving
Terhadap Level Kecemasan Global Pada Pasien Skizofrenia di Rumah
Sakit Jiwa Dr. RM. Soedjarwadi Provinsi Jawa Tengah. Surakarta:
Politeknik Kementerian Kesehatan Surakarta.
Pambudi. (2017). Pengaruh Aktivitas Kelompok Sosialisasi Terhadap
Tingkat Sosialisasi pada Lansia. Skripsi. Universitas Jember.
Reed, K.L. (2001). Quick Reference to Occupational Therapy. Maryland:
Aspen Publisher.
Rumah Sakit Jiwa Daerah Arif Zainudin Surakarta. (2017). Profil Rumah
Sakit Jiwa Daerah Arif Zainudin. Brosur. Retrieved February 13, 2018
from the world wide web: [Link]
98
Rumah Sakit Jiwa Daerah Arif Zainudin Surakarta. (2017). Day Care Sakit
Jiwa Daerah Arif Zainudin. Brosur No. 09.2/001/Humas&Pms/XII/2017.
Sadock, B.J. (1988). Directive Group Therapy: Innovative Mental Health
Treatment. Thorofarehanskizof: SLACK Incorporated.
Sadock B.J, Grebb J.A. (2010). Sinopsis Psikiatri Jilid 2: Terjemahan
Widjaja Kusuma. Jakarta: Binarupa Aksara.
Sadock, B.J. (2010). Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psyciatry: Behavioral
Sciences or Clinical Psychiatry. Edisi X. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins.
Sani, A. (2002). Spliting Personality: Skizofrenia. Jakarta: PT. Dian Ariesta.
Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius.
Setiadi, I. (2006). Skizophrenia: Memahami Dinamika Keluarga Pasien.
Jakarta: Refika Aditama.
Setyanto, I & Maliya, A. (2010). Efektifitas Terapi Gerak Terhadap Tingkat
Kecemasan Pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah
Surakarta. Retrieved June 03, 2018 from the world wide web:
[Link]
Stuart, G.W. and Laraia, M.T. (2005). Principles and Prectice of Psychiatry
Nursing 7 Edition St. Louis. Missouri: Mosby Year Book.
Stuart & Sundeen. (2007). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta:
EGC.
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Sujarweni, V,W. (2014). Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Baru
Press.
Supari, S.F. (2005). Kesehatan Jiwa di Indonesia. Retrieved February 02,
2018 from the world wide web Kementerian Kesehatan Indonesia:
[Link]
Supratiknya, A. (2008). Tinjauan Psikologi: Komunikasi Antarpribadi.
Yogyakarta: Kanisius.
Suryabrata, S. (2005). Psikologi Kepribadian. Jakarta: EGC.
Trethowan, W.H. (2009). Psychiatry. London: Bailliere Tindal.
99
Woofle. (2003). Handbook of Counselling Psychology 2nd Ed. 2003.
London: SAGE Publication.
World Health Organization (WHO). (2007). The ICD-10 Classification of
Mental and Behavioral Disorder. Retrieved February 02, 2018 from the
world wide web: [Link]
World Health Organization (WHO). (1975). Definition Mental Health.
Retrieved February 02, 2018 from the world wide web: http://
[Link]/.
Yalom, I. (2005). The Theory and Practice of Group Psychotherapy. New
York: Basic Books Inc.
100
LAMPIRAN
101
Jenis Kelamin
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid perempuan 12 40,0 40,0 40,0
laki-laki 18 60,0 60,0 100,0
Total 30 100,0 100,0
102
Klasifikasi Umur
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 17-25 4 13,3 13,3 13,3
26-35 11 36,7 36,7 53,3
36-45 8 26,7 26,7 76,7
46-55 7 23,3 23,3 100,0
Total 30 100,0 100,0
103
Riwayat Pendidikan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak Sekolah 1 3,3 3,3 3,3
SD 5 16,7 16,7 20,0
SMP 10 33,3 33,3 53,3
SMA 13 43,3 43,3 96,7
Kuliah 1 3,3 3,3 100,0
Total 30 100,0 100,0
104
Diagnosis Medis
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Paranoid 8 26,7 26,7 26,7
Hebefrenik 2 6,7 6,7 33,3
Tak Terinci 14 46,7 46,7 80,0
Residual 6 20,0 20,0 100,0
Total 30 100,0 100,0
105
Nilai Pre-test COTE
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid minimal 2 6,7 6,7 6,7
ringan 25 83,3 83,3 90,0
sedang 2 6,7 6,7 96,7
berat 1 3,3 3,3 100,0
Total 30 100,0 100,0
106
Nilai Post-test COTE
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid minimal 26 86,7 89,7 89,7
ringan 2 6,7 6,9 96,6
sedang 1 3,3 3,4 100,0
Total 29 96,7 100,0
Missing System 1 3,3
Total 30 100,0
107
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
nilai pretest COTE 30 100,0% 0 0,0% 30 100,0%
nilai posttest COTE 30 100,0% 0 0,0% 30 100,0%
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
nilai pretest COTE ,451 30 ,000 ,561 30 ,000
nilai posttest COTE ,521 30 ,000 ,350 30 ,000
a. Lilliefors Significance Correction
Wilcoxon Signed Ranks Test
Ranks
N Mean Rank Sum of Ranks
nilai posttest COTE - nilai Negative Ranks 27a 14,00 378,00
pretest COTE Positive Ranks 0b ,00 ,00
Ties 3c
Total 30
a. nilai posttest COTE < nilai pretest COTE
b. nilai posttest COTE > nilai pretest COTE
c. nilai posttest COTE = nilai pretest COTE
Test Statisticsa
nilai posttest
COTE - nilai
pretest COTE
Z -5,112b
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,000
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on positive ranks.
108
Lampiran
Lembar Informed Consent
JURUSAN OKUPASI TERAPI
POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA
Jl. Kapten Adi Sumarmo, Tohudan, Colomadu, Karanganyar 57173
Telp. 0271-725370, 720472 Fax 0271-710377
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI SUBJEK PENELITIAN
(INFORMED CONSENT)
Setelah diberikan penjelasan tentang penelitian yang berjudul “Pengaruh
Terapi Kelompok Problem Solving Terhadap Kemampuan Sosialisasi Pasien
Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta” dengan
nama peneliti :
Nama : Laili Fitri Isnaini
NIM : P 27228017 027
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : L/P
Usia :
Bangsal :
Menyatakan bersedia menjadi responden penelitian dan selanjutnya akan
mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Informasi yang Saudara berikan akan
dijamin kerahasiaannya, serta partisipasi Saudara nantinya hanya digunakan untuk
keperluan ilmiah yang berhubungan dengan profesi.
Surakarta, April 2018
TTD
*Isi dengan inisial nama Saudara ( )*
109
Lampiran
Lembar Skala COTE
SKALA PENGUKURAN COTE
COMPREHENSIVE OCCUPATIONAL THERAPY EVALUATION
SCALE (COTE)
Nama : L/P
Usia :
Diagnosis :
INITIAL MG MG MG MG
(PRE- I II III IV
BAGIAN TEST) (POST
TEST
I. PERILAKU UMUM
PENAMPILAN
PERILAKU TIDAK PRODUKTIF
LEVEL AKTIVITAS (a/b)
EKSPRESI
TANGGUNG JAWAB
KETEPATAN WAKTU
ORIENTASI TERHADAP KENYATAAN
SUB TOTAL
II. INTERPERSONAL
KEMANDIRIAN
KERJASAMA
ASERTIF (a/b)
SOSIALISASI
PERILAKU MENCARI PERHATIAN
RESPON NEGATIF DARI ORANG LAIN
SUB TOTAL
[Link] MELAKSANAKAN TUGAS
KOMITMEN MELAKUKAN AKTIVITAS
KONSENTRASI
KOORDINASI GERAK
110
MENGIKUTI INSTRUKSI
KERAPIAN BERAKTIVITAS
MENGATASI MASALAH
KOMPLEKSITAS DAN
PENGORGANISASI TUGAS
INISIASI TUGAS
MINAT PADA AKTIVITAS
KETERTARIKAN PADA
PENYELESAIAN AKTIVITAS
MEMBUAT KEPUTUSAN
TOLERANSI FRUSTASI
SUB TOTAL
TOTAL
Tabel Skala pemeriksaan COTE. Bellido (2005).
Keterangan Skala :
0 = Normal
1 = Minimal
2 = Mild (Ringan)
3 = Moderate (Sedang)
4 = Severe (Berat)
111
DEFINISI SKALA PENGUKURAN COTE
COMPREHENSIVE OCCUPATIONAL THERAPY EVALUATION
SCALE (COTE)
BAGIAN I. PERILAKU UMUM
A. PENAMPILAN
Meliputi 6 area : 1) kebersihan kulit, 2) kebersihan rambut, 3) rambut disisir,
4) kebersihan pakaian, 5) kerapian pakaian dan 6) kecocokan berpakaian.
0 = tidak ada masalah pada area tersebut di atas
1 = mempunyai masalah di 1 area
2 = mempunyai masalah di 2 area
3 = mempunyai masalah di 3 – 4 area
4 = mempunyai masalah di 5 – 6 area
B. PERILAKU TIDAK PRODUKTIF
(Bermain – main dengan tangan, mengulang – ulang kalimat, bicara sendiri,
hanyut dalam pikiran sendiri, dll).
0 = tidak dijumpai atau dicatat adanya perilaku non-produktif
1 = kadang – kadang dijumpai perilaku non-produktif selama 1 pertemuan
2 = dijumpai perilaku non-produktif selama ½ pertemuan
3 = dijumpai perilaku non-produktif selama ¾ pertemuan
4 = selalu melakukan perilaku tidak produktif saat pertemuan berlangsung
C. LEVEL AKTIVITAS
a) 0 = tidak ada hipoaktif
1 = kadang ada hipoaktif
2 = hipoaktif menarik perhatian pasien lain atau terapis tetapi mampu
berpartisipasi
3 = hipoaktif (mampu berpartisipasi meskipun dengan banyak kesulitan)
4 = sangat hipoaktif sehingga tidak mampu berpartisipasi dalam aktivitas
112
b) 0 = tidak ada hiperaktif
1 = kadang ada hiperaktif
2 = hiperaktf menarik perhatian pasien lain atau terapis tetapi mampu
berpartisipasi
3 = hiperaktif (mampu berpartisipasi meskipun dengan banyak kesulitan)
4 = sangat hiperaktif sehingga tidak mampu berpartisipasi dalam aktivitas
D. EKSPRESI
0 = ekspresi konsisten dengan situasi dan tempat
1 = mampu berkomunikasi dengan ekspresi yang kadang tidak sesuai
2 = menunjukkan ekspresi tidak sesuai beberapa saat selama pertemuan
3 = menunjukkan ekspresi tapi tidak konsisten dengan situasi
4 = ekspresi yang berlebihan dan aneh, tak terkontrol atau ekspresi datar
E. TANGGUNG JAWAB (RESPONSIBILITY)
0 = bertanggung jawab terhadap tindakannya sendiri
1 = tidak bertanggung jawab terhadap 1 atau 2 tindakannya
2 = tidak bertanggung jawab terhadap beberapa tindakannya
3 = tidak bertanggung jawab terhadap sebagian besar tindakannya
4 = tidak mau bertanggung jawab terhadap semua tindakannya (merusak
alat – alat & bahan, serta menyalahkan terapis atau orang lain)
aktivitas dan menyalahkan terapis atau orang lain
F. KETEPATAN WALTU MENGIKUTI TERAPI
0 = secara konsisten tepat mengikuti terapi
1 = perlu dorongan 20 % dari waktu keseluruhan
2 = perlu dorongan selama setengah pertemuan
3 = menolak sampai dengan setengah pertemuan
4 = menolak lebih dari ½ waktu pertemuan
113
G. ORIENTASI TERHADAP KENYATAAN
0 = secara lengkap sadar terhadap orang, tempat, waktu dan situasi
1 = kesadaran umum ada tapi mengalami gangguan pada 1 area
2 = sadar pada 2 area
3 = sadar pada 1 area
4 = hilang kesadaran mengenai orang, tempat, waktu dan situasi.
H. KONSEPTUALISASI
0 = mendemonstrasikan berfikiran abstrak
1 = merespon secara abstrak
2 = merespon secara konkret
3 = merespon secara konkret pada satu objek dan waktu
4 = merespon tidak berhubungan dengan situasi
BAGIAN II. INTERPERSONAL
A. KEMANDIRIAN
0 = mampu berfungsi secara mandiri
1 = ketergantungan pada 1 – 2 tindakannya
2 = setengah tergantung dan setengah mandiri
3 = hanya 1 dari 2 tindakannya yang mandiri
4 = tergantung pada orang lain
B. KERJA SAMA
0 = mampu bekerjasama dalam program
1 = mampu mengikuti perintah, menolak kerjasama kurang dari ½
2 = mengikuti setengah program dan menolak program
3 = menolak ¾ dari perintah
4 = menolak terhadap seluruh perintah atau saran
114
C. ASERTIF
a) 0 = bertindak asertif bilamana perlu
1 = bertindak pasif kurang dari ½ pertemuan
2 = bertindak pasif pada ½ pertemuan
3 = bertindak pasif lebih dari setengah pertemuan
4 = bertindak pasif selama pertemuan
b) 0 = bertindak asertif bilamana perlu
1 = dominan kurang dari ½ pertemuan
2 = dominan pada ½ pertemuan
3 = dominan lebih dari ½ pertemuan
4 = secara agresif mendominasi pertemuan
D. KEMAMPUAN SOSIALISASI
0 = bersosialisasi dengan pegawai dan pasien lain
1 = mampu bersosialisasi dengan karyawan dan kadang – kadang dengan
pasien lain atau sebaliknya
2 = mampu bersosialisasi hanya dengan karyawan atau dengan pasien saja
3 = mampu bersosialisasi hanya bila didekati saja
4 = tidak mau bersosialisasi
E. PERILAKU UNTUK MENCARI PERHATIAN
0 = perilaku yang masuk akal dalam berperilaku
1 = kurang dari ½ waktu diisi dengan perilaku untuk mencari perhatian
2 = ½ waktu diisi dengan perilaku untuk mencari perhatian
3 = ¾ waktu diisi dengan perilaku untuk mencari perhatian
4 = permintaan secara lisan atau tulisan dengan perhatian konstan
F. RESPON NEGATIF DARI YANG LAIN
0 = tidak ada respon negatif
1 = ada 1 respon negatif
2 = ada 2 respon negatif
3 = ada 3 atau lebih respon negatif selama pertemuan
4 = ada beberapa respon negatif dan terapis harus mengambil tindakan
115
BAGIAN III. PERILAKU UNTUK MELAKSANAKAN TUGAS
A. ENGAGEMENT (MELAKUKAN AKTIVITAS)
0 = tidak perlu dorongan untuk melakukan aktivitas
1 = saran satu kali untuk memulai aktivitas
2 = perlu saran 2 – 3 kali untuk memulai aktivitas
3 = melakukan hanya setelah diberikan banyak saran
4 = tidak mau melakukan aktivitas
B. KONSENTRASI
0 = mampu berkonsentrasi selama 1 pertemuan penuh
1 = tidak berkonsentrasi kurang dari ¼ pertemuan
2 = tidak berkonsentrasi selama ½ pertemuan
3 = tidak berkonsentrasi selama ¾ pertemuan
4 = konsentrasi kurang dari 1 menit
C. KOORDINASI GERAK
0 = kadang ada masalah dengan koordinasi gerak
1= kadang – kadang bermasalah dengan koordinasi gerak halus,
manipulasi alat atau bahan.
2 = kadang – kadang bermasalah dengan manipulasi alat dan bahan tapi
sering punya masalah dengan koordinasi gerak halus
3 = mengalami kesulitan pada koordinasi gerak kasar, ketidakmampuan
memanipulasi alat atau bahan
4 = mengalami kesulitan besar melakukan gerakan kasar, ketidakmampuan
dalam memanipulasi alat dan bahan
D. MENGIKUTI PERINTAH
0 = mampu mengikuti perintah
1 = mampu mengikuti perintah sederhana, kesulitan mengikuti 2 tahapan
perintah
2 = mampu mengikuti perintah tunggal, kesulitan mengikuti 2 perintah
sekaligus
116
3 = mampu mengikuti perintah yang sangat sederhana dengan 1 perintah
(dengan demonstrasi, tertulis atau lisan)
4 = tidak mampu mengikuti perintah
E. KERAPIAN BERAKTIVITAS
a) 0 = aktivitas dilakukan dengan rapi
1 = kadang – kadang mengabaikan hal – hal yang rinci
2 = sering mengabaikan hal – hal kecil dan bahan yang berserakan
3 = mengabaikan detail dan kebiasaan kerja yang mengganggu lingkungan
4 = tidak sadar terhadap hal – hal yang rinci, sehingga terapis perlu
campur tangan
b) Perhatian terhadap hal – hal yang rinci
0 = memperhatikan hal – hal yang detail yang sesuai
1 = kadang – kadang terlalu tepat pada hal tertentu
2 = perhatian lebih pada hal – hal yang detail yang tidak diperlukan
3 = karena perhatian terhadap ketepatan yang berlebihan sehingga perlu
waktu 2x lipat
4 = khawatir projek tidak pernah diselesaikan
F. PROBLEM SOLVING
0 = mampu mengatasi masalah tanpa bantuan
1 = menyelesaikan masalah setelah diberikan 1 kali bantuan
2= menyelesaikan maslah setelah diberikan pengulangan instruksi
3 = mengerti atau mengenali masalah tapi tidak dapat mengatasinnya
4 = tidak mampu mengenali atau mengatasi masalah
G. KOMPLEKSITAS DAN ORGANISASI TUGAS
0 = mengorganisasikan dan melaksanakan tugas yang diberikan
1 =kadang – kadang punya masalah dengan organisasi aktivitas kompleks
yang semestinya dapat dikerjakan
2 = dapat mengorganisasikan aktivitas sederhana tetapi tidak pada
aktivitas kompleks
3 = hanya dapat melakukan aktivitas sederhana dengan bimbingan dari
terapis
117
4 = tidak mampu mengorganisasikan atau melaksanakan aktivitas
meskipun diperintah dan alat ataupun materialnya telah disediakan
H. INITIAL LEARNING (BELAJAR HAL – HAL BARU)
0 = belajar aktivitas baru dengan cepat dan tanpa kesulitan
1 = kadang – kadang kesulitan mengerjkan aktivitas kompleks
2 = sering mengalami kesulitan mengerjakan aktivitas kompleks
3 = tidak mampu belajar aktivitas kompleks, kadang – kadang kesulitan
belajar aktivitas sederhana
4 = tidak mampu mempelajari aktivitas baru
I. KETERTARIKAN PADA AKTIVITAS
0 = tertarik pada berbagai aktivitas
1 = kadang – kadang tidak tertarik pada aktivitas baru
2 =kadang – kadang menunjukkan ketertarikan pada sebagian aktivitas
3 = mampu melakukan aktivitas tapi tidak menunjukkan ketertarikan
4 = tidak tertarik pada aktivitas
J. KETERTARIKAN PADA PENYELESAIAN AKTIVITAS
0 = tertarik pada penyelesaian aktivitas
1 = kadang – kadang tidak tertarik atau tidak senang dalam menyelesaikan
aktivitas jangka panjang
2 = tertarik menyelesaikan atau melengkapi aktivitas jangka pendek dan
tidak tertarik pada aktivitas jangka panjang
3 = hanya kadang – kadang tertarik meyelesaikan aktivitas
4 = tidak tertarik atau senang menyelesaikan aktivitas
K. MEMBUAT KEPUTUSAN
0 = mampu membuat keputusan sendiri
1 = mampu membuat keputusan sendiri tapi kadang – kadang mencari
persetujuan dari terapis
2 = mampu membuat keputusan tapi sering mencari persetujuan terapis
3 = mampu membuat keputusan bila diberikan 2 keputusan
5 = tidak mampu membuat keputusan atau menolak membuat keputusan
118
L. TOLERANSI FRUSTASI
0 = mampu menguasai atau menangani tugas tanpa putus asa atau frustasi
1 = kadang – kadang menjadi frustasi pada satu atau lebih aktivitas kompleks
tetapi dapat menguasai aktivitas simple
2 = sering frustasi menguasai aktivitas kompleks tapi mampu menangani
aktivitas yang sederhana
3 = sering frustasi dengan berbagai aktivitas tapi berusaha melanjutkan tugas
4 = menjadi sangat frustasi dengan tugas sederhana sehingga pasien menolak
atau tidak siap melanjutkan.
119
Lampiran
Modul Terapi Kelompok
MODUL TERAPI KELOMPOK
A. Pendahuluan
Adanya pembuatan modul terapi kelompok (group therapy) ini
bertujuan sebagai kerangka pelaksanaan dalam kaitannya dengan proses
penelitian dan pengambilan data subjek penelitian, yang dibutuhkan oleh
peneliti untuk mengukur pengaruh terapi kelompok problem solving
terhadap kemampuan sosialisasi pasien Skizofrenia di Unit Rehabilitasi
Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Arif Zainudin Surakarta. Modul ini dibuat
sebagai dasar dalam pemberian treatment dan intervensi kepada
responden yang masuk kriteria penetapan oleh peneliti. Digunakan
sebagai pedoman selama proses pemberian intervensi terapi kelompok
problem solving kepada subjek penelitian. Sehingga dengan adanya
modul terapi kelompok yang telah disusun, hal ini dapat memudahkan
pelaksanaan terapi kelompok berjalan secara sistematis dan terstruktur.
Supratiknya (2008) menjelaskan bahwa terapi kelompok mirip
dengan masalah-masalah yang ditangani dengan terapi individu seperti
konseling. Namun yang membedakan terapi kelompok dan terapi
individu adalah pendekatan yang dilakukan. Terapi kelompok tidak
menggunakan pendekatan yang bersifat persorangan, melainkan
120
menggunakan media sebagai penyembuhan. Dalam terapi kelompok,
individu-individu yang mengalami masalah sejenis akan disatukan dalam
kelompok penyembuhan dan kemudian diberikan intervensi dengan
pembimbingan dan pendampingan tim profesional sesuai bidang masing-
masing.
Di dalam modul ini akan dijelaskan materi tentang jenis aktivitas-
aktivitas terapi kelompok problem solving yang akan diberikan kepada
responden selama proses penelitian, hal ini bertujuan untuk melihat
pengaruhnya terhadap kemampuan sosialisasi pasien Skizofrenia. Selain
itu juga modul ini menjelaskan bagaimana strategi pelaksanaan, kerangka
acuan yang digunakan sebagai pendekatan, alat dan bahan apa saja yang
dibutuhkan serta berapa lama durasi dan frekuensi dalam pemberian
terapi.
Modul terapi kelompok problem solving ini dirancang sebagai
bentuk strategi dalam pemberian intervensi kepada subjek penelitian,
agar peneliti pada akhirnya dapat melihat hasil intervensi sesuai dengan
tujuan awal penelitian. Setiap jenis aktivitas yang diberikan dalam tujuan
terapi ini sebagai bentuk pengukuran, bagaimana hasil (output) terapi
kelompok problem solving dapat dinilai dengan instrument yang
digunakan.
B. Persiapan Terapi Kelompok
Persiapan kegiatan terapi kelompok di dalam modul penelitian ini
dimulai dari:
121
1. Perencanaan Terapi Kelompok
a. Penentuan Tujuan
1) Bagi anggota kelompok : Untuk meningkatkan kemampuan
problem solving.
2) Bagi terapis : Penentuan tujuan sebagai panduan sistematis.
b. Pemilihan Aktivitas
1) Aktivitas harus memiliki tujuan dan meaning bagi anggota
kelompok.
2) Aktivitas didesain untuk meningkatkan kemandirian.
3) Aktivitas harus memiliki interest sesuai dengan nilai
personal angota kelompok.
c. Persiapan Terapis
1) Persiapan personal (materi dan mental).
2) Pertimbangan jumlah terapis dan co-terapis (pembagian
peran).
d. Persiapan Anggota Kelompok
1) Jumlah anggota kelompok (jumlah kelompok ideal adalah 10
orang).
2) Aktivitas atau tugas lebih intensif dan fokus agar dapat
maksimal.
3) Pemilihan tipe terapi kelompok (closed group or open
group).
122
e. Kombinasi Anggota Kelompok
1) Tipe support group lebih baik level anggotanya sama.
2) Tipe activity group bisa mentoleransi heterogenitas anggota.
f. Pertimbangan Waktu
Setiap tahap pada sesi terapi kelompok akan dijadwalkan
waktu yang sesuai dan pas sehingga dalam 60 menit waktu
keseluruhan terapi kelompok dapat terbagi dengan baik.
g. Mengorganisasi Lingkungan
Mengatur kondisi lingkungan sekitar agar aktivitas dalam
kegiatan terapi kelompok dapat berjalan dengan baik.
h. Grading and Adapting Treatment
1) Gradasi merupakan level kesulitan yang diberikan secara
bertahap pada aktivitas terapi kelompok.
2) Adaptasi yaitu aktivitas yang diberikan sesuai dengan
kemampuan dan nilai anggota kelompok.
i. Motivasi Anggota Kelompok
Pada setiap tahap terapi kelompok pemberian motivasi
kepada setiap anggota kelompok memiliki tujuan agar anggota
dapat mengikuti aktivitas hingga akhir sesi terapi.
4. Kriteria Pasien
a. Pasien Skizofrenia dengan level kognitif ≥ 3.
b. Pasien Skizofrenia dengan insight ≥ 3.
c. Memiliki skor Global Assesment Functional (GAF) ≥ 50.
123
d. Mampu berkomunikasi secara verbal dengan baik.
e. Mampu memahami instruksi (perintah).
f. Mampu mengenal huruf (membaca dan menulis).
g. Tidak mengalami diorientasi (orang, tempat dan waktu).
h. Skor pengukuran Comprehensive Occupational Therapy
Evaluation Scale (COTE) menujukkan skala minimal, mild
(ringan), moderate (sedang) dan severed (berat).
5. Aturan Aktivitas Terapi Kelompok
a. Setiap anggota tidak diperbolehkan makan dan minum selama
sesi terapi kelompok.
b. Tidak boleh keluar ruangan tanpa seizin terapis atau co-terapis.
c. Tidak boleh membuat gaduh dan menganggu jalannya sesi
terapi.
d. Tidak boleh meninggalkan ruang terapi sebelum sesi terapi
selesai.
6. Struktur Pelaksanaan Terapi Kelompok
a. Pendahuluan (warming up).
b. Tata Tertib (rules).
c. Pemanasan (menanyakan orientasi orang, waktu, tempat).
d. Aktivitas Inti.
e. Diskusi (sharing).
f. Penutup (cooling down).
124
7. Jenis Aktivitas Terapi Kelompok
Jenis kegiatan terapi kelompok problem solving yang
dilaksanakan sebagai media terapi dengan berbagai variasi dengan
fokus pada kegiatan untuk mengukur kemampuan sosialisasi saat
pasien mampu menyesuaikan diri dalam kelompok, mampu
memulai pembicaraan dengan orang lain, memiliki inisiasi untuk
bertanya, bertegur sapa, bekerjasama, dan berpartisipasi dalam
situasi kelompok.
Jenis-jenis aktivitas terapi kelompok yang akan dilakukan
dalam pemberian sesi terapi, yaitu:
a. Pada intervensi pertama subjek penelitian dikelompokkan
menjadi 4 kelompok yang terdiri 2 kelompok laki-laki dan 2
kelompok perempuan. Subjek penelitian melakukan aktivitas
terapi kelompok, dengan strategi menyapa, memperkenalkan
dan bercerita tentang diri sendiri, berkenalan dengan teman
dengan bertanya (nama panjang, bangsal, alamat, usia, hobi,
warna favorit, makanan dan minuman kesukaan, dst),
mengajukkan pertanyaan serta memperkenalkan temannya di
depan teman lain.
b. Pada intervensi kedua subjek penelitian dikelompokkan menjadi
4 kelompok yang terdiri 2 kelompok laki-laki dan 2 kelompok
perempuan. Subjek penelitian melakukan aktivitas terapi
125
kelompok dengan strategi berdiskusi dengan teman lain dalam
menjawab pertanyaan pada sebuah kertas masalah (berbentuk
soal jawaban essay).
c. Pada intervensi ketiga subjek penelitian dikelompokkan menjadi
4 kelompok yang terdiri 2 kelompok laki-laki dan 2 kelompok
perempuan. Subjek penelitian melakukan aktivitas terapi
kelompok dengan strategi komunikasi sambung kata (berbentuk
games).
d. Pada intervensi keempat subjek penelitian dikelompokkan
menjadi 4 kelompok yang terdiri 2 kelompok laki-laki dan 2
kelompok perempuan. Subjek penelitian melakukan aktivitas
terapi kelompok dengan strategi menyusun gambar yang hilang
(puzzle).
e. Pada intervensi kelima subjek penelitian dikelompokkan
menjadi 4 kelompok yang terdiri 2 kelompok laki-laki dan 2
kelompok perempuan. Subjek penelitian melakukan aktivitas
terapi kelompok menjawab pertanyaan pada soal yang
didapatkan secara acak dan berputar (games).
f. Pada intervensi keenam subjek penelitian dikelompokkan
menjadi 4 kelompok yang terdiri 2 kelompok laki-laki dan 2
kelompok perempuan. Subjek penelitian melakukan aktivitas
terapi kelompok diskusi dalam inisiasi langkah-langkah pada
suatu kejadian (dengan cara memilih dari kertas yang diacak).
126
C. Tujuan Aktivitas
Tujuan pemberian aktivitas terapi kelompok problem solving ini
kepada pasien Skizofrenia, yaitu:
1. Memfasilitasi pasien Skizofrenia untuk dapat bersosialisasi dengan
orang lain di lingkungannya.
2. Memberikan kesempatan untuk berekspresi di dalam
kelompoknya.
3. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah (problem solving).
4. Menumbuhkan inisiasi pasien Skizofrenia untuk melakukan
sosialisasi dengan orang lain di sekitarnya.
5. Membantu anggota kelompok yang mengalami disfungsi dalam
perasaan, pikiran sehingga termanifestasi dalam perilakunya.
6. Meningkatkan pembelajaran penyesuaian diri kembali terhadap
lingkungannya.
D. Strategi Pelaksanaan
Terapi kelompok ini dilakukan oleh terapis, dan co-terapis. Adapun
strategi pelaksanaannya antara lain:
1. Pendahuluan (warming up)
Di tahap pendahuluan terapi kelompok ini akan dimulai
dengan perkenalan oleh terapis, co-terapis, dan setiap anggota
kelompok terapi selama kurang lebih 5 menit. Sebagai pendahuluan
maka terapis memulai pembukaan dengan melakukan perkenalan
diri, lalu perkenalan yang dilakukan co-terapis dan meminta setiap
127
anggota kelompok memperkenalkan diri dengan menyebutkan
nama bangsal masing-masing. Tidak hanya sebatas itu, perkenalan
juga dapat divariasikan dengan sebuah permainan (games)
sehingga pasien dapat mudah mengingat nama teman dan angota
kelompok lain sehingga terjalin keakraban, tidak hanya sesama
anggota kelompok, namun antara terapis, co-terapis, dan anggota
kelompok terapi.
2. Tata Tertib (rules)
Dalam aktivitas terapi kelompok ini, terapis menjelaskan
peraturan yang telah dibuat untuk disepakati bersama tiap anggota,
bahwa selama pelaksanaan terapi kelompok, setiap anggota tidak
diperbolehkan makan dan minum, tidak boleh keluar ruangan tanpa
seizin terapis atau co-terapis, tidak boleh membuat gaduh serta
tidak boleh meninggalkan ruang terapi sebelum sesi terapi selesai,
dalam tahap ini tata tertib (rules) disampaikan selama kurang lebih
dalam waktu 2 menit.
3. Pemanasan
Tujuan dari tahap pemanasan ini adalah agar dapat menarik
perhatian tiap anggota kelompok terapi dalam mempersiapkan
dirinya mengikuti tahap berikutnya. Tahap pemanasan ini
dilaksanakan selama kurang lebih 7 menit dengan cara memberikan
pertanyaan kepada setiap anggota kelompok. Bagaimana tentang
kemampuannya aware tentang orientasi orang dan tempat,
128
bagaimana mengingat hari, tanggal, bulan, dan tahun (waktu).
Selain itu juga di dalam tahap pemanasan terapi kelompok ini dapat
digunakan cara dengan variasi lain yaitu dengan permainan
(games) yang menarik dan menantang. Contoh lain pada tahap
pemanasan adalah dengan gerakan langkah cuci tangan, senam
ringan, brain gym, humor, dan lain-lain. Terapis memberikan
reward kepada anggota terapi kelompok apabila dapat menjawab
pertanyaan dengan baik dan benar.
4. Aktivitas Inti
Pada tahap ini maka anggota kelompok sudah masuk dalam
melakukan aktivitas yang telah disusun dan direncanakan yaitu
pemecahan masalah (problem solving). Aktivitas inti dari terapi
kelompok ini dilakukan selama kurang lebih 25 menit dengan
menjelaskan terlebih dahulu kepada pasien tentang tahapan-tahapan
kegiatan yang akan dilakukan. Pertama, memperkenalkan alat-alat
serta bahan-bahan dalam kegiatan terapi kelompok. Selanjutnya
terapis meminta setiap anggota mengingat apa saja alat-alat dan
bahan-bahan yang akan digunakan, lalu terapis meminta beberapa
anggota untuk menyebutkan kembali alat-alat dan bahan-bahan
yang dibutuhkan dalam aktivitas inti. Terapis selalu memberikan
dorongan serta motivasi kepada anggota untuk dapat berkonsentrasi
tidak hanya dalam mengingat alur kegiatan terapi, alat-alat dan
bahan-bahan, namun juga setiap anggota mampu menyelesaikan
129
dalam mengatasi permasalahan di dalam kegiatan terapi kelompok
dengan tenang dan santai.
5. Diskusi (sharing)
Pada tahap ini setiap anggota diarahkan dan diminta untuk
mengungkapkan pengalaman dan perasaan kepada terapis dan
setiap anggota kelompok. Hal ini bertujuan sebagai sarana agar
setiap anggota kelompok mendapakan hal baru dalam kegiatan
terapi serta merasakan pengalaman bagaimana berbaur dan berbagi
dengan anggota lain. Setiap angota dapat berpendapat mengenai
aktivitas inti di dalam kegiatan terapi kelompok yang baru saja
dilakukan, bagaimana perasaannya serta apa manfaat yang bisa
dirasakan saat mengikuti kegiatan tersebut. Di akhir tahap diskusi
(sharing) terapis dapat mengambil kesimpulan dan memberi
penjelasan serta penegasan tentang tujuan dan manfaat kegiatan
yang dilakukan dalam terapi kelompok problem solving yang telah
dilaksanakan sebelumnya. Di dalam tahap diskusi (sharing) ini
waktu yang dibutuhkan sekitar 15 menit.
6. Penutup (cooling down)
Pada tahap terakhir di kegiatan terapi kelompok ini terapis
menanyakan kembali kepada anggota kelompok tentang kegiatan
apa saja yang telah saja dilakukan mulai dari awal terapi hingga
tahap evaluasi. Terapis juga menanyakan kembali alat-alat dan
bahan-bahan apa saja yang diperlukan dalam kegiatan terapi
130
kelompok. Selanjutnya hal apa saja yang dibutuhkan agar aktivitas
dan tugas dalam kegiatan kelompok dapat diselesaikan dengan
baik. Selama waktu kurang lebih 6 menit terapis menanyakan
bagaimana perasaan pasien setelah mengikuti kegiatan terapi.
Setelah semua hal tersampaikan dan terjawab dengan baik maka
terapis menutup dengan ucapan terima kasih kepada anggota
kelompok dan pemberian hadiah atas partisipasinya dalam
mengikuti kegiatan kelompok dari awal hingga akhir. Terpis juga
memberikan ucapan terima kasih kepada co-terapis yang
membantu dengan baik sehingga pelaksanaan terapi dapat berjalan
sesuai harapan.
E. Frekuensi dan Durasi
Pemberian terapi kelompok problem solving ini akan dilakukan
sebanyak 6 kali pertemuan dengan jenis aktivitas terapi kelompok yang
bervariasi dan berbeda dari pertemuan sebelumnya. Durasi yang
diberikan untuk setiap kali sesi terapi adalah selama ± 45 menit.
F. Instrument
Alat pengukuran (instrument) yang digunakan dalam melihat
kemampuan sosialisasi yaitu Comprehensive Occupational Therapy
Evaluation Scale (COTE). Instrument ini digunakan sebagai alat
pemeriksaan dalam melihat hasil penelitian terhadap pengaruh terapi
kelompok problem solving terhadap kemampuan sosialisasi pasien
Skizofrenia. Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale
131
(COTE) merupakan skala pengukuran perilaku yang digunakan untuk
menggambarkan peran dari okupasi terapi dalam program kesehatan
mental dewasa secara komprehensif. Validity and Reliability skala
Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE)
ditentukan dengan memilih secara acak grafik dari 5 pasien yang
dipulangkan dan membandingkan skor untuk hari pertama dan terakhir
saat pemberian terapi oleh okupasi. Penurunan nilai tersebut disepakati
dengan pengamatan profesi okupasi terapis lainnya. Skala
Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale telah diteliti
melalui desain peneliti dengan cara mengumpulkan data COTE peserta
kondisi Skizofrenia. 26 item COTE berisi tiga subskala dengan
keterangan skor bahwa nilai 0 = normal, 1= minimal, 2 = mild (ringan),
3 = moderate (sedang) dan 4 = severe (berat) (Lucy, 2013). Sedangkan
Brayman & Kirby (2014) menyatakan validitas instrumen COTE melalui
sebuah penelitian yang menguji dimensi pada setiap subskala dengan
menggunakan analisis Rasch. Setelah hal tersebut didukung, para peneliti
memeriksa validitas konvergen dengan menggunakan reliabilitas Pearson
dan Rasch dari masing-masing subskala dalam pendekatan
unidimensional dan multidimensi persentase kesepakatan berada pada
rata-rata 95 %.