Pengujian Defleksi Batang Baja dan Alumunium
Pengujian Defleksi Batang Baja dan Alumunium
Disusun Oleh :
Penulis
1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Tujuan.............................................................................................................2
1.3 Manfaat..........................................................................................................2
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Teori Dasar.....................................................................................................3
2.2 Jenis- jenis defleksi........................................................................................4
2.3 Faktor Penentu Defleksi.................................................................................6
2.4 Jenis- jenis tumpuan.......................................................................................6
2.5 Jenis-jenis Pembebanan.................................................................................8
2.6 Jenis-jenis Batang..........................................................................................9
2.7 Fenomena Lendutan Batang.........................................................................10
2.8 Aplikasi Lendutan (Defleksi) Batang...........................................................11
2.9 Modulus Elastis............................................................................................13
2.10 Rotasi Benda Tegar....................................................................................13
2.11 Metode-Metode Perhitungan Lendutan......................................................15
2.12 Tabel Defleksi ...........................................................................................19
BAB III METODOLOGI
3.1 Peralatan.......................................................................................................20
3.2 Prosedur Praktikum......................................................................................23
3.3 Asumsi-Asumsi............................................................................................24
3.4 Pengujian Defleksi Tumpuan Sederhana.....................................................24
BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil Pratikum.....................................................................................26
4.2 Perhitungan..................................................................................................27
4.3 Analisis Data................................................................................................34
4.4 Pembahasan..................................................................................................34
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan..................................................................................................35
5.2 Saran.............................................................................................................35
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................36
2
BAB I
PENDAHULUAN
1
1.2 Tujuan
Praktikum defleksi ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian dan makna dari kata defleksi
2. Mampu melakukan penelitian dan menganalisa factor – factor yang
mempengaruhi besar kecilnya defleksi
3. Menentukan besarnya fenomena defleksi (lendutan) pada batang atau
balok dari Alumunium atau Baja
4. Menentukan serta mengetahui besarnya defleksi berdasarkan pada jarak
dan letakk tumpuan
5. Membandingkan hasil defleksi secara teoritis dengan hasil percobaan
1.3 Manfaat
Manfaat dari pratikum ini yaitu Praktikan mengetahui fenomena defleksi
(lendutan) yang terjadi pada batang atau balok dari Baja atau Alumunium. Dan
mampu melakukan perhitungan defleksi teoritis dengan hasil percobaan. Manfaat
lain dari praktikum ini adalah untuk menambah wawasan penulis terkait dengan
objek yang dikaji, sehingga memiliki bayangan tentang ilmu perancangan design
kontruksi.
2
BAB II
LANDASAN TEORI
Gambar 2. 1 (a) Balok sebelum terjadi deformasi (b) Balok dalam konfigurasi
terdeformasi
3
aksial batang ( Binsar hariandja 1996 ). Beban semacam ini khususnya muncul
sebagai beban gravitasi, seperti misalnya bobot sendiri, beban hidup vertical,
beban crane dan lain-lain. Contoh system balok dapat dikemukakan antara lain,
Balok lantai gedung, Gelagar jembatan, Balok penyangga crane, dan sebagainya.
Sumbu sebuah batang akan terdeteksi dari kedudukannya semula bila benda
dibawah pengaruh gaya terpakai. Dengan kata lain suatu batang akan mengalami
pembebanan transversal baik itu beban terpusat maupun terbagi merata akan
mengalami defleksi. Unsur-unsur dari mesin haruslah cukup tegar untuk
mempertahankan ketelitian terhadap pengaruh beban dalam gedung-gedung, balok
lantai tidak dapat melentur secara berlebihan untuk meniadakan pengaruh
psikologis yang tidak di inginkan para penghuni dan untuk memperkecil dan
mencegah dengan bahan-bahan jadi yang rapuh. Begitupun kekuatan mengenai
karakteristik deformasi dari bangunan struktur adalah paling penting untuk
mempelajari getaran mesin seperti juga bangunan-bangunan stasioner dan
penerbangan. Dalam menjalankan fungsinya, balok meneruskan pengaruh beban
gravitasi keperletakannya terutama dengann mengandalkan aksi lentur, yang
berkaitan dengan gaya berupa momen lentur dan geser. Kalaupun timbul aksi
normal, itu terutama ditimbulkan oleh beban luar yang relative kecil, misalnya
akibat gaya gesek rem kendaraan pada gelagar jembatan, atau missal akibat
perletakan yang dibuat miring.
4
Perubahan bentuk suatu batang akibat pembebanan arah vertikal
(bending) posisi batang horizontal, hingga membentuk sudut defleksi,
kemudian kembali ke posisi semula.
5
kecil, misalnya akibat gaya gesek rem kendaraan pada gelagar jembatan,
atau misalnya akibat perletakan yang di buat miring.
6
Gambar 2. 4 Tumpuan Engsel
2. Rol
Rol merupakan tumpuan yang hanyadapat menerima gaya reaksi
vertical. Alat ini mampu melawan gaya-gaya dalam suatu garis aksi yang
spesifik. Penghubung yang terlihat pada gambar dibawah ini dapat
melawan gaya hanya dalam arah AB rol. Pada gambar dibawah hanya
dapat melawan beban vertical. Sedang rol-rol hanya dapat melawan suatu
tegak lurus pada bidang cp.
7
2.5 Jenis-jenis Pembebanan
Salah satu factor yang mempengaruhi besarnya defleksi pada batang
adalah jenis beban yang diberikan kepadanya. Adapun jenis pembeban :
1. Beban terpusat
Titik kerja pada batang dapat dianggap berupa titik karena luas
kontaknya kecil.
8
Gambar 2. 9 Beban Bervariasi Uniform
3. Batang Overhang
Bila balok dibangun melewati tumpuan sederhana.
9
Gambar 2. 12 Batang Overhang
4. Batang menerus
Bila tumpuan-tumpuan terdapat pada balok continue secara fisik.
10
2.8 Aplikasi Lendutan (Defleksi) Batang
Aplikasi dari analisa lendutan batang dalam bidang keteknikan sangat
luas, mulai dari perancangan poros transmisi sebuah kendaraan bermotor ini,
menujukkan bahwa pentingnya analisa lendutan batang ini dalam perancangan.
Sebuah konstruksi teknik, berikut adalah beberapa aplikasi dari lendutan batang :
1. Jembatan
Disinilah dimana aplikasi lendutan batang mempunyai perananan yang
sangat penting. Sebuah jembatan yang fungsinya menyeberangkan benda atau
kendaraan diatasnya mengalami beban yang sangat besar dan dinamis yang
bergerak diatasnya. Hal ini tentunya akan mengakibatkan terjadinya lendutan
batang atau defleksi pada batang-batang konstruksi jembatan tersebut. Defleksi
yang terjadi secara berlebihan tentunya akan mengakibatkan perpatahan pada
jembatan tersebut dan hal yang tidak diinginkan dalam membuat jembatan.
11
Kendaraan-kendaraan pengangkut yang berdaya muatan besar, memiliki
kemungkinan terjadi defleksi atau lendutan batang-batang penyusun
konstruksinya.
12
Keterangan rumus
E adalah modulus elastisitas bahan (N/m²)
σ adalah tegangan normal (N/m²)
ε adalah regangan normal
2. Momen gaya atau momen kopel sebagai penyebab dari perubahan gerak
rotasi
Momen Gaya (t) adalah gaya kali jarak/lengan. Arah gaya dan arah
jarak harus tegak lurus.
13
Untuk benda panjang:
14
2. metode luas bidang momen (”Momen Area Method”)
3. metode energy.
4. serta metode superposisi.
Metode integrasi ganda sangat cocok dipergunakan untuk mengetahui
defleksi sepanjang bentang sekaligus. Sedangkan metode luas bidang momen
sangat cocok dipergunakan untuk mengetahui lendutan dalam satu tempat saja.
Asumsi yang dipergunakan untuk menyelesaiakan persoalan tersebut adalah
hanyalah defleksi yang diakibatkan oleh gaya-gaya yang bekerja tegak lurus
terhadap sumbu balok, defleksi yang terjadi relative kecil dibandingkan dengan
panjang baloknya, dan irisan yang berbentuk bidang datar akan tetap berupa
bidang datar walaupun berdeformasi.
Suatu struktur sedehana yang mengalami lentur dapat digambarkan
sebagaimana gambar 2.19, dimana y adalah defleksi pada jarak x, dengan x adalah
jarak lendutan yang ditinjau, dx adalah jarak mn, dθ sudut mon, dan r adalah jari-
jari lengkung.
15
Persamaan tersebut di atas dapat di terapkan untuk mencari defleksi pada
balok sesuai dengan penelitian seperti pada gambar di bawah ini
Dari gambar 2.19 diatas maka dapat di tentukan besarnya momen dan
reaksi tiap tumpuan:
16
17
2.12 Tabel Defleksi
18
19
BAB III
METODOLOGI
3.1 Peralatan
1. Beban
20
Lebar : 50 mm
b. Batang Alumunium
3. Dial Indicator
21
Gambar 3. 5 Mistar
5. Jangka Sorong
22
Gambar 3. 7 Tumpuan
7. Mistar pengukur tinggi
Untuk mengukur defleksi timbangan, pengukuran dilakukan
sebelum ada beban dan pada saat ada beban.
23
3. Ambillah dua timbangan, letakkan pada sisi kiri dan kanan dari meja
kerja.
4. Ambil salah satu batang uji ( Baja atau Alumunium ) dan letakkan di
atas timbangan tersebut.
5. Beri tanda pada batang uji ( menggunakan spidol atau yang lainnya )
untuk posisi tempat pembebanan dan posisi dial indikator.
6. Atur posisi dial indicator dibawah benda kerja, pastikan jarum dial
indicator menempel atau bersentuhan langsung dengan benda kerja.
11. Lihat skala pada dial indicator dan timbangan, Catatlah hasil
pembebanan pada tabel.
12. Selesai, Bersihkan dan rapihkan kembali peralatan yang telah dipakai
dan simpan pada tempatnya.
3.3 Asumsi-Asumsi
1. Defleksi hanya disebabkan oleh gaya-gaya yang bekerja tegak lurus
terhadap sumbu balok,
2. Defleksi yang terjadi relative kecil dibandingkan dengan panjang
baloknya.
3. Bentuk yang terjadi pada batang diantar akan tetap berupa bidang datar
walaupun telah terdeformasi.
24
3.4 Pengujian defleksi tumpuan sederhana
25
Gambar 3. 13 Susunan perangkat pengujian defleksi tumpuan sederhana dengan
beban di titik 1/4 dari benda kerja.
26
BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN
Tabel 4. 1 Data hasil pengukuran pada titik 1/2 L dengan beban 0.5 kg
Tabel 4. 2 Data hasil pengukuran pada titik 1/4 L dengan beban 0.5 kg
27
b) batang uji Pengukuran pada Alumunium
Tabel 4. 3 Data hasil pengukuran pada titik 1/2 L dengan beban 0.5 kg
Tabel 4. 4 Data hasil pengukuran pada titik 1/4 L dengan beban 0.5 kg
4.2 Perhitungan
Penurunan rumus :
0.5kg5
Penampang Balok
A kkkkg= B
5 mm
50 mm
DBB50
: cm 50 cm
28
Ax
Ay By
B. ƩFy = 0 => Ay + By – 5N
Ay + By = 5N
ƩMA = 0 => ( 5 x 0.5 ) – 1.0 By = 0
2.5 – 1.0 By = 0
2.5
By = = 2.5 N 0.25 kg
1.0
Maka :
Ay + 2.5N = 5N
Ay = 5N – 2.5N
Ay = 2.5 N 0.25 kg
b) Persamaan defleksi batang uji ( baja ) untuk beban pada titik ( L4 ) dari
Penurunan rumus :
5 mm
DBB : 50 mm
25 cm 75 cm
2
F=0.5 x 10 m/s =5 N
Ax
Ay By
29
Dik : P = F=0.5 x 10 m/s 2=5 N
L = 100 cm ( 1/4L = 25 cm = 0.25 m )
b = 50 mm = 0.05 m
h = 5 mm = 0.005 m
B. ƩFy = 0 => Ay + By – 5N
Ay + By = 5N
ƩMA = 0 => ( 5 x 0.25 ) – 1.0 By = 0
1.25 – 1.0 By = 0
1.25
By = = 1.25 N 0.125 kg
1.0
Maka :
Ay + 1.25N = 5N
Ay = 5N – 1.25N
Ay = 3.75 N 0.375 kg
Penurunan rumus :
0.5kg5
Penampang Balok
A kkkkg= B
5 mm
DBB : 50 mm
47 cm 47 cm
2
F=0.5 x 10 m/s =5 N
Ax
Ay By
30
b = 50 mm = 0.05 m
h = 5 mm = 0.005 m
B. ƩFy = 0 => Ay + By – 5N
Ay + By = 5N
ƩMA = 0 => ( 5 x 0.47 ) – 0.94 By = 0
2.35 – 0.94 By = 0
2.35
By = = 2.5 N 0.25 kg
0.94
Maka :
Ay + 2.5N = 5N
Ay = 5N – 2.5N
Ay = 2.5 N 0.25 kg
Penurunan rumus :
5 mm
DBB : 50 mm
23.5 cm 70.5 cm
2
F=0.5 x 10 m/s =5 N
Ax
Ay By
31
B. ƩFy = 0 => Ay + By – 5N
Ay + By = 5N
ƩMA = 0 => ( 5 x 0.235 ) – 0.94 By = 0
1.175 – 0.94 By = 0
1.175
By = = 1.25 N 0.125 kg
0.94
Maka :
Ay + 1.25N = 5N
Ay = 5N – 1.25N
Ay = 3.75 N 0.375 kg
A. Momen Inersia
1
I zz = . bh
3
12
1
= (0.05) x (0.005)3
12
1
= (0.00000000625)
12
= 0.00000000052 mm = 0.00000052 m
Pbx 2 2 2
δ= (l −x −b )
6 L . EI
Diketahui :
P = Beban 0.5 kg = 5 N
L = Panjang keseluruhan
32
Panjang baja 100 cm = 1 m
Panjang alumunium 94 cm = 0.94 m
I = momen inersia :
I = 0.00000000052 mm = 0.00000052 m
ϵ = modulus elastisitas :
ϵ Baja = 200 Gpa = 200 . 109 Pa
ϵ Al = 80 Gpa = 80 . 109 Pa
3
PL
δ max=
48. EI
5.(1)3
¿
48 x 200 x 10 9 x 0.00000052
¿ 1.0016 x 10−6 m
¿ 0.00100160mm
33
b) Untuk batang jenis Al
3
PL
δ max=
48. EI
5. (0,94)3
¿
48 x 80 x 10 9 x 0.00000052
¿ 2.0797 x 10−6 m
¿ 0.00220797 mm
Dimana :
x = jarak pembebanan
b=L–x
34
Pbx ( l ²−x 2−b ² )
δ max=
6 l . EI
5 x 0.705 x 0.235( 0.942−0.235 2−0.7052 )
¿
6 x 0.94 x 80 x 109 x 0,0000052
¿ 1.1699 x 10−7 m
¿ 0.00011699 mm
4. 4 Pembahasan
Dari data yang penulis dapatkan, banyak terjadi perbedaan nilai lendutan
jika dibandingkan dengan teoritisnya. Jika praktikum dan pengambilan data
dilakukan dengan benar dan akurat, hasil pengujian dengan hasil perhitungan
menggunakan rumus akan sama. Jika memang terjadi perbedaan, tidak akan
terlalu besar nilainya.
Ada beberapa faktor penyebab kesalahan ini, diantaranya human error.
Kesalahan penulis pada saat melakukan pengambilan data dan membaca hasil
pengukuran dengan dial indikator. Selain itu, pada saat praktikum berlansung,
ketika beban diletakkan pada titik- titik yang telah ditentukan sebelumnya, beban
bergeser dan tidak tepat pada posisi yang seharusnya. Sehingga dalam pembacaan
dial indikator juga tidak tepat. Hal ini karena kail beban/massa yang sudah tidak
rakap lagi dengan beban.
Selain itu, hal lain yang menjadi kendala adalah keterbatasan alat uji,
kesulitan dalam memposisikan dial indikator tepat dibawah batang uji dengan
35
skala tetap harus dinolkan. Butuh beberapa kali pengulangan serta kecermatan
dalam pengukuran ini.
36
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari percobaan dan pengalahan data yang telah dilakukan, penulis dapat
mengambil kesimpulan :
1. Semakin kaku benda kerja yang di uji maka defleksi yang terjadi akan
lebih kecil dibandingkan benda kerja yang lebih lentur.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan setelah melakukan praktikum ini
yaitu :
1. Pada saat pengambilan data, lakukanlah dengan cermat dan pastikan
kedataran permukaan area kerja dan pelat antara kedua tumpuan karena
kedataran permukaan sangat mempengaruhi hasil perhitungan.
2. Perhatikan alat ukur dial indikator berada pada titik yang telah
ditentukan, karena kalau tidak pada titik yang ditentukan hasilnya akan
sangat berbeda, pastikan menunjuk angka nol.
37
3. Lakukan kalibrasi terlebih dahulu pada alat uji untuk menghasilkan
pengukuran yang presisi.
4. Kemungkinan eror yang terjadi pada pratikum ini, sehingga perlu adanya
ketelitian dalam proses peletakan beban dan memposisikan dial indicator.
DAFTAR PUSTAKA
38