0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan41 halaman

Pengujian Defleksi Batang Baja dan Alumunium

Laporan ini membahas pengujian defleksi pada batang baja dan alumunium. Defleksi adalah perubahan bentuk pada batang akibat pembebanan. Tujuan pengujian ini adalah menentukan besarnya defleksi dan mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Diunggah oleh

universitas unisma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan41 halaman

Pengujian Defleksi Batang Baja dan Alumunium

Laporan ini membahas pengujian defleksi pada batang baja dan alumunium. Defleksi adalah perubahan bentuk pada batang akibat pembebanan. Tujuan pengujian ini adalah menentukan besarnya defleksi dan mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Diunggah oleh

universitas unisma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN

PRAKTIKUM FENOMENA DASAR MESIN

( Pengujian Defleksi Sederhana Pada Batang Baja dan Alumunium )

Disusun Oleh :

Nama : ASRIL SANI ( 41187001160024 )


M. IDHAM RIFKI S ( 41187001160048 )
IRFAN TRI LAKSONO ( 41187001160088 )

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN S-1


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM “45”
BEKASI
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT.


karena atas berkat dan rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan laporan
praktikum “Fenomena Dasar Mesin” ini khususnya pada praktikum Defleksi
tepat pada waktunya.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu menyelesaikan laporan ini terutama kepada :
 Kedua Orang Tua penulis, yang selalu memberikan dukungan,
dorongan serta motivasi kepada penulis.
 Bapak Ahmad Muhazir ST.,MT selaku dosen pengampu mata
kuliah Prakt Fenomena Dasar Mesin.
 Anggota kelompok yang selalu kompak dalam menyusun laporan
praktikum Fenomena Dasar Mesin ini.
 Teman-teman yang telah membantu dan menyemangati, dalam
pembuatan laporan pratikum Fenomena Dasar ini, yang tidak
dapat penulis sebutkan namanya satu-persatu.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih terdapat kekurangan akibat


dari keterbatasan ilmu yang penulis miliki. Oleh karena itu penulis mengharapkan
kritik dan sarannya yang bersifat membangun untuk dapat di perbaiki
kedepannya. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bekasi, 16 Mei 2019

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Tujuan.............................................................................................................2
1.3 Manfaat..........................................................................................................2
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Teori Dasar.....................................................................................................3
2.2 Jenis- jenis defleksi........................................................................................4
2.3 Faktor Penentu Defleksi.................................................................................6
2.4 Jenis- jenis tumpuan.......................................................................................6
2.5 Jenis-jenis Pembebanan.................................................................................8
2.6 Jenis-jenis Batang..........................................................................................9
2.7 Fenomena Lendutan Batang.........................................................................10
2.8 Aplikasi Lendutan (Defleksi) Batang...........................................................11
2.9 Modulus Elastis............................................................................................13
2.10 Rotasi Benda Tegar....................................................................................13
2.11 Metode-Metode Perhitungan Lendutan......................................................15
2.12 Tabel Defleksi ...........................................................................................19
BAB III METODOLOGI
3.1 Peralatan.......................................................................................................20
3.2 Prosedur Praktikum......................................................................................23
3.3 Asumsi-Asumsi............................................................................................24
3.4 Pengujian Defleksi Tumpuan Sederhana.....................................................24
BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil Pratikum.....................................................................................26
4.2 Perhitungan..................................................................................................27
4.3 Analisis Data................................................................................................34
4.4 Pembahasan..................................................................................................34
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan..................................................................................................35
5.2 Saran.............................................................................................................35
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................36

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami
kemajuan, sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir
manusia. Disertai dengan sistem pendidikan yang mapan, memungkinkan kita
berpikir kritis, kreatif, dan [Link] halnya dengan perkembangan
teknologi dibidang konstruksi.
Seperti halnya defleksi. Defleksi merupakan suatu fenomena perubahan
bentuk pada balok dalam arah vertical dan horisontal akibat adanya pembebanan
yang diberikan pada balok atau batang. Sumbu sebuah batang akan terdeteksi dari
kedudukannya semula bila benda dibawah pengaruh gaya terpakai. Dengan kata
lain suatu batang akan mengalami pembebanan transversal baik itu beban terpusat
maupun terbagi merata akan mengalami defleksi.
Salah satu persoalan yang sangat penting diperhatikan adalah perhitungan
defleksi/lendutan dan tegangan pada elemen-elemen ketika mengalami suatu
pembebanan. Hal ini sangat penting terutama dari segi kekuatan (strength) dan
kekakuan (stiffness), dimana pada batang horizontal yang diberi beban secara
lateral akan mengalami defleksi.

Didalam kehidupan sehari – hari kita sering kali berjumpa dengan


defleksi,baik defleksi pada baja, pada besi maupun kayu. Oleh sebab itu kita
seorangengineer harus memperhitungkan defleksi atau lendutan yang akan
terjadi,contohnya saja pada jembatan. Jika seorang engineer tidak
memperhitungkanmaka akan berakibat fatal bagi pengguna jembatan tersebut,
karena faktor lendutan yang lebih besar akan mengurangi faktor safety pada
struktur tersebut.
Oleh sebab itu kita harus mengetahui fenomena apa saja yang akan terjadi
pada defleksi ini. Namun banyak yang belum mengerti terhadap fenomena-
fenomena pada defleksi.

1
1.2 Tujuan
Praktikum defleksi ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian dan makna dari kata defleksi
2. Mampu melakukan penelitian dan menganalisa factor – factor yang
mempengaruhi besar kecilnya defleksi
3. Menentukan besarnya fenomena defleksi (lendutan) pada batang atau
balok dari Alumunium atau Baja
4. Menentukan serta mengetahui besarnya defleksi berdasarkan pada jarak
dan letakk tumpuan
5. Membandingkan hasil defleksi secara teoritis dengan hasil percobaan

1.3 Manfaat
Manfaat dari pratikum ini yaitu Praktikan mengetahui fenomena defleksi
(lendutan) yang terjadi pada batang atau balok dari Baja atau Alumunium. Dan
mampu melakukan perhitungan defleksi teoritis dengan hasil percobaan. Manfaat
lain dari praktikum ini adalah untuk menambah wawasan penulis terkait dengan
objek yang dikaji, sehingga memiliki bayangan tentang ilmu perancangan design
kontruksi.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Teori Dasar


Defleksi adalah perubahan bentuk pada balok dalam arah vertical dan
horisontal akibat adanya pembebanan yang diberikan pada balok atau batang.
Sumbu sebuah batang akan terdeteksi dari kedudukannya semula bila benda
dibawah pengaruh gaya terpakai. Dengan kata lain suatu batang akan mengalami
pembebanan transversal baik itu beban terpusat maupun terbagi merata akan
mengalami defleksi.
Deformasi pada balok secara sangat mudah dapat dijelaskan berdasarkan
defleksi balok dari posisinya sebelum mengalami pembebanan. Defleksi diukur
dari permukaan netral awal ke posisi netral setelah terjadi deformasi. Konfigurasi
yang diasumsikan dengan deformasi permukaan netral dikenal sebagai kurva
elastis dari balok.

Gambar 2. 1 (a) Balok sebelum terjadi deformasi (b) Balok dalam konfigurasi
terdeformasi

Jarak perpindahan y didefinisikan sebagai defleksi balok. Dalam


penerapan, kadang kita harus menentukan defleksi pada setiap nilai x disepanjang
balok. Hubungan ini dapat ditulis dalam bentuk persamaan yang sering disebut
persamaan defleksi kurva (atau kurva elastis) dari balok.
Sistem struktur yang di letakkan horizontal dan yang terutama di
peruntukkan memikul beban lateral, yaitu beban yang bekerja tegak lurus sumbu

3
aksial batang ( Binsar hariandja 1996 ). Beban semacam ini khususnya muncul
sebagai beban gravitasi, seperti misalnya bobot sendiri, beban hidup vertical,
beban crane dan lain-lain. Contoh system balok dapat dikemukakan antara lain,
Balok lantai gedung, Gelagar jembatan, Balok penyangga crane, dan sebagainya.
Sumbu sebuah batang akan terdeteksi dari kedudukannya semula bila benda
dibawah pengaruh gaya terpakai. Dengan kata lain suatu batang akan mengalami
pembebanan transversal baik itu beban terpusat maupun terbagi merata akan
mengalami defleksi. Unsur-unsur dari mesin haruslah cukup tegar untuk
mempertahankan ketelitian terhadap pengaruh beban dalam gedung-gedung, balok
lantai tidak dapat melentur secara berlebihan untuk meniadakan pengaruh
psikologis yang tidak di inginkan para penghuni dan untuk memperkecil dan
mencegah dengan bahan-bahan jadi yang rapuh. Begitupun kekuatan mengenai
karakteristik deformasi dari bangunan struktur adalah paling penting untuk
mempelajari getaran mesin seperti juga bangunan-bangunan stasioner dan
penerbangan. Dalam menjalankan fungsinya, balok meneruskan pengaruh beban
gravitasi keperletakannya terutama dengann mengandalkan aksi lentur, yang
berkaitan dengan gaya berupa momen lentur dan geser. Kalaupun timbul aksi
normal, itu terutama ditimbulkan oleh beban luar yang relative kecil, misalnya
akibat gaya gesek rem kendaraan pada gelagar jembatan, atau missal akibat
perletakan yang dibuat miring.

2.2 Jenis- jenis defleksi


1. Deflkesi Vertikal (Δw)
Perubahan bentuk suatu batang akibat pembebanan arah vertikal
(tarik, tekan) hingga membentuk sudut defleksi, dan posisi batang vertikal,
kemudian kembali ke posisi semula.

Gambar 2. 2 Defleksi Vertikal


2. Defleksi Horisontal (Δp)

4
Perubahan bentuk suatu batang akibat pembebanan arah vertikal
(bending) posisi batang horizontal, hingga membentuk sudut defleksi,
kemudian kembali ke posisi semula.

Gambar 2. 3 Defleksi Horizontal


Sistem struktur yang di letakkan horizontal dan yang terutama di
peruntukkan memikul beban lateral, yaitu beban yang bekerja tegak lurus
sumbu aksial batang (Binsar Hariandja 1996).Beban semacam ini
khususnya muncul sebagai beban gravitasi, seperti misalnya bobot sendiri,
beban hidup vertical, beban keran (crane) dan [Link] sistem
balok dapat di kemukakan antara lain, balok lantai gedung, gelagar
jembatan, balok penyangga keran, dan sebagainya. Sumbu sebuah batang
akan terdeteksi dari kedudukannya semula bila benda dibawah pengaruh
gaya terpakai.
Dengan kata lain suatu batang akan mengalami pembebanan
tranversal baik itu beban terpusat maupun terbagi merata akan mengalami
defleksi. Unsur-unsur dari mesin haruslah cukup tegar untuk mencegah
ketidakbarisan dan mempertahankan ketelitian terhadap pengaruh beban
dalam gedung-gedung, balok lantai tidak dapat melentur secara berlebihan
untuk meniadakan pengaruh psikologis yang tidak diinginkan para
penghuni dan untuk memperkecil atau mencegah dengan bahan-bahan jadi
yang [Link] pun kekuatan mengenai karateristik deformasi dari
bangunan struktur adalah paling penting untuk mempelajari getaran mesin
seperti juga bangunan-bangunan stasioner dan penerbangan.
Dalam menjalankan fungsinya, balok meneruskan pengaruh
beban gravitasi keperletakan terutama dengan mengandalakan aksi lentur,
yang berkaitan dengan gaya berupa momen lentur dan geser. kalaupun
timbul aksi normal, itu terutama di timbulkan oleh beban luar yang relatif

5
kecil, misalnya akibat gaya gesek rem kendaraan pada gelagar jembatan,
atau misalnya akibat perletakan yang di buat miring.

2.3 Faktor Penentu Defleksi


1. Kekakuan batang
Semakin kaku suatu batang maka lendutan batang yang akan terjadi
pada batang akan semakin kecil.
2. Besarnya kecil gaya yang diberikan
Besar-kecilnya gaya yang diberikan pada batang berbanding lurus
dengan besarnya defleksi yang terjadi. Dengan kata lain semakin besar
beban yang dialami batang maka defleksi yang terjadi pun semakin besar.
3. Jenis tumpuan yang diberikan
Jumlah reaksi dan arah pada tiap jenis tumpuan berbeda-beda. Jika
karena itu besarnya defleksi pada penggunaan tumpuan yang berbeda-beda
tidaklah sama. Semakin banyak reaksi dari tumpuan yang melawan gaya
dari beban maka defleksi yang terjadi pada tumpuan rol lebih besar dari
tumpuan pin (pasak) dan defleksi yang terjadi pada tumpuan pin lebih
besar dari tumpuan jepit.
4. Jenis beban yang terjadi pada batang
Beban terdistribusi merata dengan beban titik,keduanya memiliki
kurva defleksi yang berbeda-beda. Pada beban terdistribusi merata slope
yang terjadi pada bagian batang yang paling dekat lebih besar dari slope
[Link] karena sepanjang batang mengalami beban sedangkan pada beban
titik hanya terjadi pada beban titik tertentu saja (Binsar Hariandja 1996).

2.4 Jenis- jenis tumpuan


1. Engsel
Engsel merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi
vertikal dan gaya reaksi horizontal. Tumpuan yang berpasak mampu
melawan gaya yang bekerja dalam setiap arah dari bidang. Jadi pada
umumnya reaksi pada suatu tumpuan seperti ini mempunyai dua
komponen yang satu dalam arah horizontal dan yang lainnya dalam arah
vertical. Tidak seperti pada perbandingan tumpuan rol atau
penghubung,maka perbandingan antara komponen-komponen reaksi pada
tumpuan yang terpasak tidaklah tetap. Untuk menentukan kedua
komponen ini, dua buah komponen statika harus digunakan.

6
Gambar 2. 4 Tumpuan Engsel

2. Rol
Rol merupakan tumpuan yang hanyadapat menerima gaya reaksi
vertical. Alat ini mampu melawan gaya-gaya dalam suatu garis aksi yang
spesifik. Penghubung yang terlihat pada gambar dibawah ini dapat
melawan gaya hanya dalam arah AB rol. Pada gambar dibawah hanya
dapat melawan beban vertical. Sedang rol-rol hanya dapat melawan suatu
tegak lurus pada bidang cp.

Gambar 2. 5 Tumpuan Rol


3. Jepit
Jepit merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi
vertical, gaya reaksi horizontal dan momen akibat jepitan dua penampang.
Tumpuan jepit ini mampu melawan gaya dalam setiap arah dan juga
mampu melawan suatu kopel atau momen. Secara fisik, tumpuan ini
diperoleh dengan membangun sebuah balok ke dalam suatu dinding batu
bata. Mengecornya ke dalam beton atau mengelas ke dalam bangunan
utama. Suatu komponen gaya dan sebuah momen.

Gambar 2. 6 Tumpuan Jepit

7
2.5 Jenis-jenis Pembebanan
Salah satu factor yang mempengaruhi besarnya defleksi pada batang
adalah jenis beban yang diberikan kepadanya. Adapun jenis pembeban :
1. Beban terpusat
Titik kerja pada batang dapat dianggap berupa titik karena luas
kontaknya kecil.

Gambar 2. 7 Beban Terpusat


2. Beban terbagi merata
Disebut beban terbagi merata karena merata sepanjang batang
dinyatakan dalam qm (kg/m atau kN/m).

Gambar 2. 8 Beban Terdistribusi


3. Beban bervariasi uniform
Disebut beban bervariasi uniform karena beban sepanjang batang
besarnya tidak merata.

8
Gambar 2. 9 Beban Bervariasi Uniform

2.6 Jenis-jenis Batang


1. Batang tumpuan sederhana
Bila tumpuan tersebut berada pada ujung-ujung dan pada pasak atau rol.

Gambar 2. 10 Batang Tumpuan Sederhana


2. Batang kartilever
Bila salah satu ujung balok dijepit dan yang lain bebas.

Gambar 2. 11 Batang Kartilever

3. Batang Overhang
Bila balok dibangun melewati tumpuan sederhana.

9
Gambar 2. 12 Batang Overhang
4. Batang menerus
Bila tumpuan-tumpuan terdapat pada balok continue secara fisik.

Gambar 2. 13 Batang Menerus


2.7 Fenomena Lendutan Batang
Untuk setiap batang yang ditumpu akan melendut apabila diberikan
beban yang cukup besar. Lendutan batang untuk setiap titik dapat dihitung dengan
menggunakan metode diagram atau cara integral ganda dan untuk mengukur gaya
yang digunakan load cell. Lendutan batang sangat penting dalam konstruksi
terutama konstruksi mesin, dimana pada bagian-bagian tertentu seperti poros,
lendutan sangat tidak diinginkan karena adannya lendutan maka kerja poros atau
operasi mesin akan tidak normal sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada
bagian mesin atau pada bagian lainnya.
Pada semua konstruksi teknik, bagian-bagian pelengkap suatu bangunan
haruslah diberi ukuran-ukuran fisik yang tertentu. Bagian-bagian tersebut haruslah
diukur dengan tepat untuk menahan gaya–gaya yang sesungguhnya atau yang
mungkin akan dibebankan kepadanya. Jadi poros sebuah mesin haruslah
diperlukan dan menahan gaya-gaya luar dan dalam. Demikian pula, bagian-bagian
suatu struktur komposit harus cukup tegar sehingga tidak akan melentung
melebihi batas yang diizinkan bila bekerja dibawah beban yang diizinkan.

10
2.8 Aplikasi Lendutan (Defleksi) Batang
Aplikasi dari analisa lendutan batang dalam bidang keteknikan sangat
luas, mulai dari perancangan poros transmisi sebuah kendaraan bermotor ini,
menujukkan bahwa pentingnya analisa lendutan batang ini dalam perancangan.
Sebuah konstruksi teknik, berikut adalah beberapa aplikasi dari lendutan batang :
1. Jembatan
Disinilah dimana aplikasi lendutan batang mempunyai perananan yang
sangat penting. Sebuah jembatan yang fungsinya menyeberangkan benda atau
kendaraan diatasnya mengalami beban yang sangat besar dan dinamis yang
bergerak diatasnya. Hal ini tentunya akan mengakibatkan terjadinya lendutan
batang atau defleksi pada batang-batang konstruksi jembatan tersebut. Defleksi
yang terjadi secara berlebihan tentunya akan mengakibatkan perpatahan pada
jembatan tersebut dan hal yang tidak diinginkan dalam membuat jembatan.

Gambar 2. 14 Lendutan Pada Jembatan


2. Poros Transmisi
Pada poros transmisi roda gigi yang saling bersinggungan untuk
mentransmisikan gaya torsi memberikan beban pada batang poros secara radial.
Ini yang menyebabkan terjadinya defleksi pada batang poros transmisi. Defleksi
yang terjadi pada poros membuat sumbu poros tidak lurus. Ketidaklurusan sumbu
poros akan menimbulkan efek getaran pada pentransmisian gaya torsi antara roda
gigi. Selain itu, benda dinamis yang berputar pada sumbunya.

Gambar 2. 15 Poros Transisi


3. Rangka (chasis) Kendaraan

11
Kendaraan-kendaraan pengangkut yang berdaya muatan besar, memiliki
kemungkinan terjadi defleksi atau lendutan batang-batang penyusun
konstruksinya.

Gambar 2. 16 Rangka Mobil


4. Konstruksi Badan Pesawat Terbang
Pada perancangan sebuah pesawat material-material pembangunan
pesawat tersebut merupakan material-material ringan dengan tingkat elestitas
yang tinggi namun memiliki kekuatan yang baik. Oleh karena itu, diperlukan
analisa lendutan batang untuk mengetahui defleksi yang terjadi pada material atau
batang-batang penyusun pesawat tersebut, untuk mencegah terjadinya defleksi
secara berlebihan yang menyebabkan perpatahan atau fatik karena beban terus-
menerus.

Gambar 2. 17 Rangka Pesawat


5. Mesin Pengangkut Material
Pada alat ini ujung pengankutan merupakan ujung bebas tak bertumpuan
sedangkan ujung yang satu lagi berhubungan langsung atau dapat dianggap dijepit
pada menara kontrolnya. Oleh karena itu, saat mengangkat material kemungkinan
untuk terjadi defleksi. Pada konstruksinya sangat besar karena salah satu ujungnya
bebas tak bertumpuan. Disini analisa lendutan batang akan mengalami batas tahan
maksimum yang boleh diangkut oleh alat pengangkut tersebut.

2.9 Modulus Elastis


Modulus elastitas merupakan perbandingan unsur tegangan normal dan
regangan normal. Adapun persamaan dinyatakan sebagai berikut :

12
Keterangan rumus
E adalah modulus elastisitas bahan (N/m²)
σ adalah tegangan normal (N/m²)
ε adalah regangan normal

Tabel 2. 1 Nilai Modulus Elastisitas Bahan

2.10 Rotasi Benda Tegar


Dalam penyelesaian seal rotasi benda tegar perlu diperhatikan dua hal
yaitu:
1. Gaya sebagai penyebab dari perubahan gerak translasi

2. Momen gaya atau momen kopel sebagai penyebab dari perubahan gerak
rotasi

Momen Gaya (t) adalah gaya kali jarak/lengan. Arah gaya dan arah
jarak harus tegak lurus.

13
Untuk benda panjang:

Untuk benda berjari-jari :

Tabel 2. 2 Momen Inersia Bahan

2.11 Metode-Metode Perhitungan Lendutan


Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan
persoalan-persoalan defleksi pada [Link] dari:
1. metode integrasi ganda (”doubel integrations”)

14
2. metode luas bidang momen (”Momen Area Method”)
3. metode energy.
4. serta metode superposisi.
Metode integrasi ganda sangat cocok dipergunakan untuk mengetahui
defleksi sepanjang bentang sekaligus. Sedangkan metode luas bidang momen
sangat cocok dipergunakan untuk mengetahui lendutan dalam satu tempat saja.
Asumsi yang dipergunakan untuk menyelesaiakan persoalan tersebut adalah
hanyalah defleksi yang diakibatkan oleh gaya-gaya yang bekerja tegak lurus
terhadap sumbu balok, defleksi yang terjadi relative kecil dibandingkan dengan
panjang baloknya, dan irisan yang berbentuk bidang datar akan tetap berupa
bidang datar walaupun berdeformasi.
Suatu struktur sedehana yang mengalami lentur dapat digambarkan
sebagaimana gambar 2.19, dimana y adalah defleksi pada jarak x, dengan x adalah
jarak lendutan yang ditinjau, dx adalah jarak mn, dθ sudut mon, dan r adalah jari-
jari lengkung.

Gambar 2. 18 Metode Integrasi Ganda

karena besarnya dθ relatif sangat kecil maka tg dθ=dθ saja sehingga


persamaannya dapat ditulis menjadi

Jika dx bergerak kekanan maka besarnya dθ akan semakin mengecil atau


semakin berkurang sehingga didapat persamaan

Lendutan relatif sangat kecil sehingga didapat persamaan :

15
Persamaan tersebut di atas dapat di terapkan untuk mencari defleksi pada
balok sesuai dengan penelitian seperti pada gambar di bawah ini

Gambar 2. 19 Balok Sederhana dengan beban titik

Dari gambar 2.19 diatas maka dapat di tentukan besarnya momen dan
reaksi tiap tumpuan:

16
17
2.12 Tabel Defleksi

18
19
BAB III
METODOLOGI
3.1 Peralatan
1. Beban

Beban yang digunakan untuk memberikan gaya luar pada batang.

Gambar 3. 1 Beban Uji Defleksi


Keterangan:
Massa A = 0.5 kg
2. Batang Uji

Batang yang digunakan dalam praktikum terdiri dari 3 batang :


a. Batang Baja

Gambar 3. 2 Batang Baja


Keterangan :
Panjang : 100 cm
Tebal : 5 mm

20
Lebar : 50 mm
b. Batang Alumunium

Gambar 3. 3 Batang Alumunium


Keterangan :
Panjang : 94 cm
Tebal : 5 mm
Lebar : 50 mm

3. Dial Indicator

Dial indicator berfungsi sebagai alat ukur defleksi.

Gambar 3. 4 Dial Indicator


4. Mistar

Digunakan untuk mengukur panjang batang sekaligus mengatur


letak beban yang diinginkan.

21
Gambar 3. 5 Mistar
5. Jangka Sorong

Jangka sorong digunakan untuk mengukur ketebalan dan diameter


benda uji defleksi.

Gambar 3. 6 Jangka Sorong


6. Alat ukur timbangan ( sebagai tumpuan dari benda kerja dan untuk
mengukur massa dari benda kerja )

22
Gambar 3. 7 Tumpuan
7. Mistar pengukur tinggi
Untuk mengukur defleksi timbangan, pengukuran dilakukan
sebelum ada beban dan pada saat ada beban.

Gambar 3. 8 Mistar pengukur tinggi

3.2 Prosedur Praktikum


Adapun prosedur dalam praktikum defleksi untuk tumpuan sederhana
sebagai berikut :
1. Siapkan alat dan bahan.

2. Lakukan kalibrasi kerataan meja kerja yang akan digunakan.

23
3. Ambillah dua timbangan, letakkan pada sisi kiri dan kanan dari meja
kerja.

4. Ambil salah satu batang uji ( Baja atau Alumunium ) dan letakkan di
atas timbangan tersebut.

5. Beri tanda pada batang uji ( menggunakan spidol atau yang lainnya )
untuk posisi tempat pembebanan dan posisi dial indikator.

6. Atur posisi dial indicator dibawah benda kerja, pastikan jarum dial
indicator menempel atau bersentuhan langsung dengan benda kerja.

7. Sebelum diberikan beban, terlebih dahulu lakukan kalibrasi pada


timbangan dan dial indicator ( pastikan jarum menunjuk kearah nol ).

8. Ukur tinggi permukaan timbangan dengan sisi luar alumunium, lalu


catat hasilnya.

9. Setelah itu letakkan beban pada titik yang sudah ditentukan


sebelumnya yaitu ½ atau ¼ dari panjang batang uji.

10. Ulangi langkah ( 9 ) masing-masing sebanyak 5 kali sesuai berapa data


yang diinginkan untuk bahan perbandingan.

11. Lihat skala pada dial indicator dan timbangan, Catatlah hasil
pembebanan pada tabel.

12. Selesai, Bersihkan dan rapihkan kembali peralatan yang telah dipakai
dan simpan pada tempatnya.

3.3 Asumsi-Asumsi
1. Defleksi hanya disebabkan oleh gaya-gaya yang bekerja tegak lurus
terhadap sumbu balok,
2. Defleksi yang terjadi relative kecil dibandingkan dengan panjang
baloknya.
3. Bentuk yang terjadi pada batang diantar akan tetap berupa bidang datar
walaupun telah terdeformasi.

24
3.4 Pengujian defleksi tumpuan sederhana

a). Pengujian pada batang Baja

Gambar 3. 11 Susunan perangkat pengujian defleksi tumpuan sederhana dengan


beban di titik tengah dari benda kerja.

Gambar 3. 12 Susunan perangkat pengujian defleksi tumpuan sederhana dengan


beban di titik 1/4 dari benda kerja.

b). Pengujian pada batang Alumunium

25
Gambar 3. 13 Susunan perangkat pengujian defleksi tumpuan sederhana dengan
beban di titik 1/4 dari benda kerja.

Gambar 3. 14 Susunan perangkat pengujian defleksi tumpuan sederhana dengan


beban di titik 1/4 dari benda kerja.

26
BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pratikum


Dilakukan Berbagai jenis pembebanan pada batang uji Baja dan
Alumunium, menggunakan tumpuan sederhana, didapatkan data :

a) Pengukuran pada batang uji Baja

Tabel 4. 1 Data hasil pengukuran pada titik 1/2 L dengan beban 0.5 kg

R Kiri R Kanan δ Dial δ Timbangan δ Batang


No
(kg) (kg) (mm) (mm) (mm)
1 0.24 0.22 2.7 145.0 – 142.5 = 2.5 0.2
2 0.23 0.24 2.6 147.2 – 145.0 = 2.2 0.4
3 0.22 0.24 2.6 146.0 – 143.9 = 2.1 0.5
4 0.24 0.23 2.5 146.2 – 144.0 = 2.2 0.3
5 0.23 0.22 2.5 146.0 – 143.7 = 2.3 0.2
rata
² 0.232 0.23 2.58 2.26 0.32

Tabel 4. 2 Data hasil pengukuran pada titik 1/4 L dengan beban 0.5 kg

R Kiri R Kanan δ Dial δ Timbangan δ Batang


No
(kg) (kg) (mm) (mm) (mm)
1 0.38 0.12 5.5 147.4 – 142.0 = 5.4 0.1
2 0.39 0.10 5.4 146.0 – 140.9 = 5.1 0.3
3 0.38 0.11 5.7 146.5 – 141.0 = 5.5 0.2
4 0.38 0.12 5.5 145.2 – 140.0 = 5.2 0.3
5 0.39 0.11 5.6 147.4 – 142.0 = 5.4 0.2
rata
² 0.384 0.112 5.54 5.32 0.22

27
b) batang uji Pengukuran pada Alumunium

Tabel 4. 3 Data hasil pengukuran pada titik 1/2 L dengan beban 0.5 kg

R Kiri R Kanan δ Dial δ Timbangan δ Batang


No
(kg) (kg) (mm) (mm) (mm)
1 0.22 0.23 2.5 146.0 – 143.8 = 2.2 0.3
2 0.23 0.24 2.6 146.0 – 144.0 = 2.0 0.6
3 0.22 0.22 2.5 146.1 – 144.0 = 2.1 0.4
4 0.24 0.23 2.5 147.0 – 145.0 = 2.0 0.5
5 0.23 0.22 2.6 147.2 – 145.0 = 2.2 0.4
rata
² 0.228 0.228 2.54 2.1 0.44

Tabel 4. 4 Data hasil pengukuran pada titik 1/4 L dengan beban 0.5 kg

R Kiri R Kanan δ Dial δ Timbangan δ Batang


No
(kg) (kg) (mm) (mm) (mm)
1 0.39 0.11 5.8 146.0 – 140.5 = 5.5 0.3
2 0.39 0.10 5.6 147.0 – 141.6 = 5.4 0.2
3 0.40 0.10 5.7 146.3 – 141.0 = 5.4 0.3
4 0.39 0.11 5.6 147.5 – 142.3 = 5.2 0.4
5 0.38 0.12 5.7 147.1 – 141.6 = 5.5 0.2
rata
² 0.39 0.108 5.68 5.4 0.28

4.2 Perhitungan

a) Persamaan defleksi batang uji ( baja ) untuk beban ditengah

Penurunan rumus :

0.5kg5
Penampang Balok
A kkkkg= B

5 mm

50 mm
DBB50
: cm 50 cm

F=0.5 x 10 m/s 2=5 N

28
Ax

Ay By

Dik : P = F=0.5 x 10 m/s 2=5 N


L = 100 cm ( 1/2L = 50 cm = 0.5 m )
b = 50 mm = 0.05 m
h = 5 mm = 0.005 m

A. ƩFy = 0 => Ax=0

B. ƩFy = 0 => Ay + By – 5N

Ay + By = 5N
ƩMA = 0 => ( 5 x 0.5 ) – 1.0 By = 0
2.5 – 1.0 By = 0
2.5
By = = 2.5 N 0.25 kg
1.0
Maka :
Ay + 2.5N = 5N
Ay = 5N – 2.5N
Ay = 2.5 N 0.25 kg

b) Persamaan defleksi batang uji ( baja ) untuk beban pada titik ( L4 ) dari

Penurunan rumus :

0.5kg5 Penampang Balok


A kkkkg= B

5 mm

DBB : 50 mm
25 cm 75 cm
2
F=0.5 x 10 m/s =5 N
Ax

Ay By

29
Dik : P = F=0.5 x 10 m/s 2=5 N
L = 100 cm ( 1/4L = 25 cm = 0.25 m )
b = 50 mm = 0.05 m
h = 5 mm = 0.005 m

A. ƩFy = 0 => Ax=0

B. ƩFy = 0 => Ay + By – 5N

Ay + By = 5N
ƩMA = 0 => ( 5 x 0.25 ) – 1.0 By = 0
1.25 – 1.0 By = 0
1.25
By = = 1.25 N 0.125 kg
1.0
Maka :
Ay + 1.25N = 5N
Ay = 5N – 1.25N
Ay = 3.75 N 0.375 kg

c) Persamaan defleksi batang uji ( Al ) untuk beban ditengah tengah

Penurunan rumus :

0.5kg5
Penampang Balok
A kkkkg= B

5 mm

DBB : 50 mm
47 cm 47 cm
2
F=0.5 x 10 m/s =5 N
Ax

Ay By

Dik : P = F=0.5 x 10 m/s 2=5 N


L = 100 cm ( 1/2L = 47 cm = 0.47 m )

30
b = 50 mm = 0.05 m
h = 5 mm = 0.005 m

A. ƩFy = 0 => Ax=0

B. ƩFy = 0 => Ay + By – 5N

Ay + By = 5N
ƩMA = 0 => ( 5 x 0.47 ) – 0.94 By = 0
2.35 – 0.94 By = 0
2.35
By = = 2.5 N 0.25 kg
0.94
Maka :
Ay + 2.5N = 5N
Ay = 5N – 2.5N
Ay = 2.5 N 0.25 kg

d) Persamaan defleksi batang uji ( Al ) untuk beban pada titik ( L4 ) dari A

Penurunan rumus :

0.5kg5 Penampang Balok


A kkkkg= B

5 mm

DBB : 50 mm
23.5 cm 70.5 cm
2
F=0.5 x 10 m/s =5 N
Ax

Ay By

Dik : P = F=0.5 x 10 m/s 2=5 N


L = 100 cm ( 1/4L = 23.5cm = 0.235 m )
b = 50 mm = 0.05 m
h = 5 mm = 0.005 m

A. ƩFy = 0 => Ax=0

31
B. ƩFy = 0 => Ay + By – 5N

Ay + By = 5N
ƩMA = 0 => ( 5 x 0.235 ) – 0.94 By = 0
1.175 – 0.94 By = 0
1.175
By = = 1.25 N 0.125 kg
0.94
Maka :
Ay + 1.25N = 5N
Ay = 5N – 1.25N
Ay = 3.75 N 0.375 kg

Untuk momen inersia batang uji baja dan Al :

A. Momen Inersia

1
I zz = . bh
3
12
1
= (0.05) x (0.005)3
12
1
= (0.00000000625)
12
= 0.00000000052 mm = 0.00000052 m

A. Bentuk persamaan beban di tengah tengah


3
PL
δ=
48 EL

B. Bentuk persamaan beban L/4 dari A

Pbx 2 2 2
δ= (l −x −b )
6 L . EI

C. Defleksi maksimum (beban di tengah tengah)

Diketahui :

P = Beban 0.5 kg = 5 N

L = Panjang keseluruhan

32
 Panjang baja 100 cm = 1 m
 Panjang alumunium 94 cm = 0.94 m
I = momen inersia :
I = 0.00000000052 mm = 0.00000052 m
ϵ = modulus elastisitas :
ϵ Baja = 200 Gpa = 200 . 109 Pa
ϵ Al = 80 Gpa = 80 . 109 Pa

a) Untuk batang jenis baja

3
PL
δ max=
48. EI
5.(1)3
¿
48 x 200 x 10 9 x 0.00000052
¿ 1.0016 x 10−6 m
¿ 0.00100160mm

33
b) Untuk batang jenis Al

3
PL
δ max=
48. EI
5. (0,94)3
¿
48 x 80 x 10 9 x 0.00000052
¿ 2.0797 x 10−6 m
¿ 0.00220797 mm

D. Defleksi balok jika beban dipindahkan ke ( L4 ) dari A

Dimana :

x = jarak pembebanan

b=L–x

a) Untuk batang jenis baja

Pbx ( l²−x 2−b ² )


δ max=
6 l . EI
5 x 0.75 x 0.25(12 −0.252−0.752 )
¿
6 x 1 x 200 x 109 x 0,0000052
¿ 7.0425 x 10−8 m
¿ 0.000070425 mm

b) Untuk batang jenis Al

34
Pbx ( l ²−x 2−b ² )
δ max=
6 l . EI
5 x 0.705 x 0.235( 0.942−0.235 2−0.7052 )
¿
6 x 0.94 x 80 x 109 x 0,0000052
¿ 1.1699 x 10−7 m
¿ 0.00011699 mm

4.3 Analisis Data

Beba R kiri R kiri R kanan R kanan


n Uji
No
teoritis eksperimen teoritis eksperimen ∆ R Defleksi teoritis Defleksi ekperimen ∆
. (mm) (mm) Defleksi
0.5 kg (kg) (kg) (kg) (kg) Kiri Kanan
Baja
1 0.25 0.232 0.25 0.23 0.018 0.02 0.00100160 0.32 0.31889984
½L
Baja
2 0.375 0.384 0.125 0.112 0.009 0.013 0.000070425 0.22 0.21992958
¼L
Al
3 0.25 0.228 0.25 0.228 0.022 0.022 0.00220797 0.44 0.43779203
½L
Al
4 0.375 0.39 0.125 0.108 0.015 0.017 0.00011699 0.28 0.27988301
¼L

4. 4 Pembahasan

Dari data yang penulis dapatkan, banyak terjadi perbedaan nilai lendutan
jika dibandingkan dengan teoritisnya. Jika praktikum dan pengambilan data
dilakukan dengan benar dan akurat, hasil pengujian dengan hasil perhitungan
menggunakan rumus akan sama. Jika memang terjadi perbedaan, tidak akan
terlalu besar nilainya.
Ada beberapa faktor penyebab kesalahan ini, diantaranya human error.
Kesalahan penulis pada saat melakukan pengambilan data dan membaca hasil
pengukuran dengan dial indikator. Selain itu, pada saat praktikum berlansung,
ketika beban diletakkan pada titik- titik yang telah ditentukan sebelumnya, beban
bergeser dan tidak tepat pada posisi yang seharusnya. Sehingga dalam pembacaan
dial indikator juga tidak tepat. Hal ini karena kail beban/massa yang sudah tidak
rakap lagi dengan beban.
Selain itu, hal lain yang menjadi kendala adalah keterbatasan alat uji,
kesulitan dalam memposisikan dial indikator tepat dibawah batang uji dengan

35
skala tetap harus dinolkan. Butuh beberapa kali pengulangan serta kecermatan
dalam pengukuran ini.

36
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari percobaan dan pengalahan data yang telah dilakukan, penulis dapat
mengambil kesimpulan :
1. Semakin kaku benda kerja yang di uji maka defleksi yang terjadi akan
lebih kecil dibandingkan benda kerja yang lebih lentur.

2. Nilai modulus elastisitas (€) benda sangat berpengaruh, semakin


tinggi nilai modulus elastisitasnya (€), maka nilai defleksinya akan
semakin kecil. Dalam kasus ini nilai defleksi pada baja lebih kecil
disbanding defleksi pada alumunium.

3. Lendutan yang terjadi mengalami peningkatan seiring dengan adanya


penambahan pembebanan.

4. Dari kedua jenis tumpuan yang digunakan, besarnya defleksi


maksimum cenderung terjadi pertengahan batang.

5. Defleksi pengujian jauh berbeda dengan defleksi teori.

6. Kebenaran dari rumus-rumus teoritis berbeda dengan hasil pengujian.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan setelah melakukan praktikum ini
yaitu :
1. Pada saat pengambilan data, lakukanlah dengan cermat dan pastikan
kedataran permukaan area kerja dan pelat antara kedua tumpuan karena
kedataran permukaan sangat mempengaruhi hasil perhitungan.

2. Perhatikan alat ukur dial indikator berada pada titik yang telah
ditentukan, karena kalau tidak pada titik yang ditentukan hasilnya akan
sangat berbeda, pastikan menunjuk angka nol.

37
3. Lakukan kalibrasi terlebih dahulu pada alat uji untuk menghasilkan
pengukuran yang presisi.

4. Kemungkinan eror yang terjadi pada pratikum ini, sehingga perlu adanya
ketelitian dalam proses peletakan beban dan memposisikan dial indicator.

DAFTAR PUSTAKA

 Fakultas Teknik Mesin 2015. Panduan pelaksanaan dan penyusunan kerja


praktek: Universitas Islam 45 Bekasi.
 Team Asisten LKM.2004. Panduan Pratikum Fenomena dasar Mesin
Bid. Konstruksi Mesin Dan [Link] Teknik Mesin FT-
Universitas Riau : Pekanbaru.
 Noor, Muhammad, syah. Laporan Praktek Fenomena Dasar Mesin.
[Link]
Diakses tanggal 14 mei 2017.
 William T. [Link] Of Vibration With Application Practice.
Hall Int: London.
 Putra, Herdi, Rio. Makalah Pengujian Bahan “Pengujian Defleksi”.
[Link]
bahan. Diakses tanggal 20 mei 2017.

38

Anda mungkin juga menyukai