PEMERIKSAAN HEMATOLOGI LENGKAP DAN MORFOLOGI SEL
MAKALAH SEMINAR PLENO
Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Tugas Seminar Pleno Blok 6
Oleh:
Kelompok 1
PROGRAM STUDI KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
AGUSTUS 2018
Disusun oleh Diskusi Kelompok 1
Nama Anggota:
1. Fitha Maharani H 4111171008 8. Athaya Shafa M.S. 4111171073
2. Annisha Dika F 4111171012 9. Syifa Ainun R 4111171084
3. Viraninda C Y 4111171035 10. Lavia Diksa A.M 4111171087
4. Farhan Azima 4111171051 11. Fiqri Febyanti 4111171117
5. Irena Juniar S 4111171068 12. Gisda Ayu N.H 4111171129
6. Asep Yogi P 4111171069 13. Zania Putri C 4111171140
7. Elma Ghaida N.S 4111171072 14. Jihan Ratna K.I 4111171141
BAB I
PENDAHULUAN
Hematologi adalah ilmu yang mempelajari sel dan protein yang ditemukan dalam
darah. Terdapat tiga jenis sel utama dalam darah:
1. Sel darah merah (eritrosit) mengangkut oksigen ke seluruh tubuh dan mengeluarkan
produk sisa dan karbon dioksida..
2. Sel darah putih (leukosit) bertanggung jawab untuk melawan infeksi dan patogen yang
menginvasi (misalnya virus dan bakteri).
3. Platelet (trombosit) yang membantu pembekuan darah saat terjadi pendarahan.
Di laboratorium, kita dapat menggunakan mikroskop, percobaan (eksperimen), dan
laser analyser berteknologi tinggi untuk mendeteksi adanya perubahan jumlah sel-sel
tersebut. Bentuk sel, dan perubahan konsentrasi protein, dapat digunakan untuk
mendiagnosis penyakit. Misalnya, pasien dengan penyakit leukemia biasanya memiliki
peningkatan jumlah sel darah putih, juga perubahan bentuk sel darah putih di bawah
mikroskop. Hematologi juga termasuk tes sebelum transfusi darah. Sebelum pasien dapat
melaksanakan transfusi darah atau produk darah, kita perlu mengetahui golongan darahnya
sehingga pasien tersebut dapat menerima produk darah atau darah yang tepat. Jika kita
tidak melakukan pengujian ini sebelum pasien melakukan transfusi maka terdapat
kemungkinan reaksi penolakan dapat terjadi dan dapat membunuh pasien tersebut.
Tes koagulasi merupakan bagian penting lainnya dalam hematologi. Pada tes ini darah
pasien dapat dites untuk mengetahui adanya kelainan pembekuan darah misalnya DVT
(Deep Vein Thrombosis), kelainan perdarahan seperti hemofilia dan untuk memonitor
pasien yang sedang menjalani terapi menggunakan obat-obatan antikoagulan seperti
warfarin atau heparin (untuk mencegah pembekuan darah). Dengan diketahuinya kelainan
yang terdapat pada seorang pasien, kita dapat menggunakan informasi tersebut untuk
menentukan bagaimana terapi yang tepat untuk pasien tersebut.
Yang termasuk pemeriksaan hematologi lengkap meliputi, nilai hematokrit,
pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah leukosit, jumlah trombosit, laju endap darah
(LED), nilai absolut eritrosit (MCV, MCH, MCHC), dan hitung jenis leukosit.
BAB II
ISI
2.1 Pemeriksaan Hematologi
Pemeriksaan hematologi lengkap meliputi, nilai hematokrit, pemeriksaan kadar
hemoglobin, jumlah leukosit, jumlah trombosit, laju endap darah (LED), nilai absolut
eritrosit (MCV, MCH, MCHC), dan hitung jenis leukosit. Pemeriksaan ini dapat
menggunakan darah kapiler atau darah vena bergantung parameter pemeriksaan.
Antikoagulan yang digunakan untuk pemeriksaan hematologi adalah EDTA yang
direkomendasikan oleh ICSH. Namun, penggunaan EDTA yang berlebihan menyebabkan
perubahan pada eritrosit, leukosit, dan trombosit.
1. Laju Endap Darah
Darah ditampung di dalam tabung panjang berskala (dengan antikoagulan), yang
diposisikan tegak. Eritrosit akan mengendap di dasar tabung, terpisah dengan lapisan
plasma diatasnya. Hasil pengukuran dinyatakan dalam satuan millimeter/jam (mm/jam).
Nilai LED yang sangat tinggi ditemukan pada tuberculosis, tripanosomiasis, dan
keganasan. Peningkatan LED juga terjadi pada kehamilan.
Nilai normal:
Pria <15mm/1 jam
Wanita <20mm/1 jam
2. Nilai Hematokrit
Hematokrit menunjukan persentase sel darah merah tehadap volume darah total.
Penurunan nilai Hct merupakan indikator anemia (karena berbagai sebab yaitu, reaksi
hemolitik, leukemia, sirosis, kehilangan banyak darah dan hipertiroid). Penurunan Hct
sebesar 30% menunjukkan pasien mengalami anemia sedang hingga parah. Peningkatan
nilai Hct dapat terjadi pada eritrositosis, dehidrasi, kerusakan paru-paru kronik, polisitemia
dan syok.
Nilai Hct biasanya sebanding dengan jumlah sel darah merah pada ukuran eritrosit
normal, kecuali pada kasus anemia makrositik atau mikrositik. Nilai Hct normal bervariasi
sesuai umur dan jender. Nilai normal untuk bayi lebih tinggi karena bayi baru lahir
memiliki banyak sel makrositik. Nilai Hct pada wanita biasanya sedikit lebih rendah
dibandingkan laki-laki.
Nilai normal : Pria : 40% - 50 % SI unit : 0,4 - 0,5. Wanita : 35% - 45% SI unit : 0.35 -
0,45
3. Pemeriksaan Kadar Hemoglobin
Penurunan protein Hb normal tipe A1, A2, F (fetal) dan S berhubungan dengan anemia
sel sabit. Hb juga berfungsi sebagai dapar melalui perpindahan klorida kedalam dan keluar
sel darah merah berdasarkan kadar O2 dalam plasma (untuk tiap klorida yang masuk
kedalam sel darah merah, dikeluarkan satu anion HCO3). Penetapan anemia didasarkan
pada nilai hemoglobin yang berbeda secara individual karena berbagai adaptasi tubuh
(misalnya ketinggian, penyakit paru-paru, olahraga). Secara umum, jumlah hemoglobin
kurang dari 12 gm/dL menunjukkan anemia. Pada penentuan status anemia, jumlah total
hemoglobin lebih penting daripada jumlah eritrosit.
Nilai normal : Pria : 13 - 18 g/dL SI unit : 8,1 - 11,2 mmol/L
Wanita: 12 - 16 g/dL SI unit : 7,4 – 9,9 mmol/L
4. Jumlah Leukosit
Nilai normal : 3200 – 10.000/mm3 SI : 3,2 – 10,0 x 109/L
Neutrofil Netrofil-
Eosinofil Basofil Limfosit Monosit
Segmen Bands
Persentase
36-73 0-12 0-6 0-2 15-45 0-10
(%)
Jumlah
1.260-
Absolut 0-1440 0-500 0-150 800-40000 100-800
7.300
(/mm3)
a. Neutrofil
Berfungsi sebagai pertahanan tubuh pertama atau untuk fagositosis.
Neutropenia yaitu penurunan persentase neutrofil, dapat disebabkan oleh penurunan
produksi neutrofil, peningkatan kerusakan sel, infeksi bakteri, infeksi virus, penyakit
hematologi, gangguan hormonal dan infeksi berat.
Peningkatan jumlah neutrofil berkaitan dengan tingkat keganasan infeksi. Jika
peningkatan neutrophil lebih besar daripada peningkatan sel darah merah total
mengindikasikan infeksi yang berat.
b. Eosinofil
Eosinofil memiliki kemampuan memfagosit, eosinofil aktif terutama pada tahap akhir
inflamasi ketika terbentuk kompleks antigen-antibodi. Eosinofilia adalah peningkatan
jumlah eosinofil lebih dari 6% atau jumlah absolut lebih dari 500. Penyebabnya antara lain:
respon tubuh terhadap neoplasma, penyakit Addison, reaksi alergi, penyakit collagen
vascular atau infeksi parasit.
Eosipenia adalah penurunan jumlah eosinofil dalam sirkulasi. Eosipenia dapat terjadi
pada saat tubuh merespon stres (peningkatan produksi glukokortikosteroid).
c. Basofil
Fungsi basofil masih belum diketahui. Sel basofil mensekresi heparin dan histamin.
Jika konsentrasi histamin meningkat, maka kadar basofil biasanya tinggi. Jaringan basofi l
disebut juga mast sel.
Basofilia adalah peningkatan basofil berhubungan dengan leukemia granulositik dan
basofilik myeloid metaplasia dan reaksi alergi
Basopenia adalah penurunan basofil berkaitan dengan infeksi akut,reaksi stres, terapi
steroid jangka panjang.
d. Monosit
Monosit merupakan sel darah yang terbesar. Sel ini berfungsi sebagai lapis kedua
pertahanan tubuh, dapat memfagositosis dengan baik dan termasuk kelompok makrofag.
Manosit juga memproduksi interferon
Monositosis berkaitan dengan infeksi virus, bakteri dan parasit tertentu serta kolagen,
kerusakan jantung dan hematologi.
Monositopenia biasanya tidak mengindikasikan penyakit, tetapi mengindikasikan
stres, penggunaan obat glukokortikoid, myelotoksik dan imunosupresan.
e. Limfosit
Sel ini kecil dan bergerak ke daerah infl amasi pada tahap awal dan tahap akhir proses
inflamasi. Merupakan sumber imunoglobulin yang penting dalam respon imun seluler
tubuh.
Limfositosis dapat terjadi pada penyakit virus, penyakit bakteri dan gangguan
hormonal. Limfopenia dapat terjadi pada penyakit Hodgkin, luka bakar dan trauma.
5. Trombosit
Trombosit diaktivasi setelah kontak dengan permukaan dinding endotelia. Trombosit
terbentuk dalam sumsum tulang. Masa hidup trombosit sekitar 7,5 hari. Sebesar 2/3 dari
seluruh trombosit terdapat disirkulasi dan 1/3 nya terdapat di limfa.
Trombositosis berhubungan dengan kanker, splenektomi, polisitemia vera, trauma,
sirosis, myelogeneus, stres dan arthritis reumatoid.
Trombositopenia berhubungan dengan idiopatik trombositopenia purpura (ITP),
anemia hemolitik, aplastik, dan pernisiosa. Leukimia, multiple myeloma dan
multipledysplasia syndrome.
Nilai normal : 170 – 380. 103/mm3 SI : 170 – 380. 109/L
6. Eritrosit
Eritrosit, dengan umur 120 hari, adalah sel utama yang dilepaskan dalam sirkulasi. Bila
kebutuhan eritrosit tinggi, sel yang belum dewasa akan dilepaskan ke dalam sirkulasi. Pada
akhir masa hidupnya, eritrosit yang lebih tua keluar dari sirkulasi melalui fagositosis di
limfa, hati dan sumsum tulang (sistem retikuloendotelial).
Jumlah sel darah merah menurun pada pasien anemia leukemia, penurunan fungsi
ginjal, talasemin, hemolisis dan lupus eritematosus sistemik. Dapat juga terjadi karena obat
(drug induced anemia). Misalnya: sitostatika, antiretroviral.
Sel darah merah meningkat pada polisitemia vera, polisitemia sekunder,
diare/dehidrasi, olahraga berat, luka bakar, orang yang tinggal di dataran tinggi.
Nilai normal: Pria: 4,4 - 5,6 x 106 sel/mm3 SI unit: 4,4 - 5,6 x 1012 sel/L
Wanita: 3,8-5,0 x 106 sel/mm3 SI unit: 3,5 - 5,0 x 1012 sel/L
a. Mean Corpuscular Volume (MCV)
Rumus: Hmt/eritrosit x 10Cμ
MCV adalah indeks untuk menentukan ukuran sel darah merah. MCV menunjukkan
ukuran sel darah merah tunggal apakah sebagai Normositik (ukuran normal), Mikrositik
(ukuran kecil < 80 fL), atau Makrositik (ukuran kecil >100 fL).
Nilai normal : 80 – 100 (fL)
b. Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH)
Rumus: Hb/eritrosit x 10μμg
Indeks MCH adalah nilai yang mengindikasikan berat Hb rata-rata di dalam sel darah
merah, dan oleh karenanya menentukan kuantitas warna (normokromik, hipokromik,
hiperkromik) sel darah merah. MCH dapat digunakan untuk mendiagnosa anemia.
Nilai normal : 28– 34 pg/ sel
c. Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC)
Rumus: Hb/Hmt x 100%
Indeks MCHC mengukur konsentrasi Hb rata-rata dalam sel darah merah; semakin
kecil sel, semakin tinggi konsentrasinya. Perhitungan MCHC tergantung pada Hb dan Hct.
Indeks ini adalah indeks Hb darah yang lebih baik, karena ukuran sel akan mempengaruhi
nilai MCHC, hal ini tidak berlaku pada MCH.
Nilai normal : 32 – 36 g/dL
2.2 Morfologi Sel
2.2.1 Eritrosit
Sel Ukura Inti Anak Sitoplasma N/C Keterangan
n Inti Rati
o
Proeritroblas Sekitar Inti 1-2, Sitoplasma 8:1 Hanya
20 µm tampak samar tampak sempit, berada di
padat, - homogen, perifer
letak di samar berwarna biru dalam
tengah dengan kondisi
(sentral) pewarnaan patologis
Romanowsky
Normoblas 10-18 Berbentu 0-1 Biru keabuan, 6:1 Untuk
basofil µm k bulat granuler tidak membedaka
tampak ada n
padat eritropoiesis
dan
limfopoiesis,
dapat
dicirikan
dengan inti
normoblas
yang bulat,
dan
sitoplasma
eritroblas
yang
homogen.
Normoblas 8-15 Bulat, 0-1 Biru bercampur 4:1 Dapat
polikromatofil µm kromatin merah karena dibedakan
kasar dan terdapat dengan
berwarna hemoglobinisasi normoblas
gelap basofil
karena sudah
adanya Hb
Normoblas 7-12 Tampak 0 Merah karena 1:2
asidofil µm lebih ada
kecil, hemoglobinisasi
padat , lebih luas
Retikulosit 8-10 Tidak ada - Berwarna merah -
µm inti dengan
pewarnaan
Romanowsky,
terlihat
filamentosa
dengan BCB
Eritrosit 7-8 Tidak ada - Bagian tengah - Bentuk
µm inti pucat cakram
bikonkaf,
bagian
tengah lebih
kecil
daripada
tepinya
Sumber tabel: Color Atlas of Hematology Thieme 2004, dan Rini S. Harjono (Morfologi
Sel). Sumber gambar: Atlas of Clinical Hematology 6th edition
2.2.2 Leukosit
Tipe Inti Granul Hitung Jenis Rentang Fungsi Utama
Spesifik (%) Hidup
Granulosit
Neutrofil 3-5 lobus Merah muda 50-70 1-4 hari Membunuh
dan
fagositosis
bakteri
Eosinofil Bilobus Pink gelap 1-4 1-2 minggu Membunuh
cacing dan
parasit lain;
memodulasi
peradangan
setempat
Basofil Bilobus atau Biru 0,5-1 Beberapa Memodulasi
bentuk-S tua/ungu bulan peradangan,
melepaskan
histamin
selama alergi
Agranulosit
Limfosit Agak bulat - 20-40 Jam sampai Sel efektor
beberapa dan pengatur
tahun untuk
imunitas
adaptif
Monosit Berlekuk - 2-8 Jam sampai Prekursor
atau bentuk- beberapa makrofag dan
C tahun sel fagosit
mononuklear
lain
Sumber tabel dan gambar: Histologi Dasar Junqueira
2.3.3 Trombosit
Sel Ukuran Inti Anak Sitoplasma N/C Keterangan
Inti Ratio
Megakar 20-30 Sangat besar, 2-6, Sedikit, biru Tinggi Hanya ada di
ioblas µm hiperploid samar- tua/pucat, perifer dalam
(16x dari set samar dapat ada kondisi
kromosom pseudopodia patologis
normal)
Promega 30-70 Tidak teratur, 0 Biru muda, Rendah Tidak ada di
kariosit µm berlobus berbintik darah perifer
merah jambu
dekat inti
Megakar >50 µm Multilobules, 0 Banyak, Rendah Tidak ada di
iosit tidak teratur polikromasia -sangat darah perifer
rendah
Trombos 1-4 µm Bentuk bulat 0 Berwarna biru, Membentuk
it atau oval, granul ungu di kelompok
pinggir tengah
terdapat trombosit
rambut
(banyak
rambut ->
aktif)
Sumber tabel: Color Atlas of Hematology Thieme 2004, dan Rini S. Harjono (Morfologi
Sel). Sumber gambar: Atlas of Clinical Hematology 6th edition
BAB III
PENUTUP
Hematologi merupakan studi tentang sel-sel darah dan koagulasi yang mencakup
analisis konsentrasi, struktur, dan fungsi sel-sel dalam darah.
Pemeriksaan hematologi lengkap dapat menunjang hasil pemeriksaan fisik yang
dipengaruhi teknik dan waktu sampling, posisi tubuh saat sampling, aktivitas fisik
sebelumnya, kehamilan, ketinggian, dll. Faktor lainnya yaitu, jenis kelamin, umur,
pekerjaan, postur tubuh, genetik, perokok, dan diet. Umumnya tujuan pemeriksaan ini
untuk membedakan nilai normal atau nilai rujukan.
Parameter pemeriksaan hematologi lengkap meliputi, pemeriksaan kadar Hb, jumlah
leukosit, jumlah trombosit, nilai hematokrit, nilai absolut eritrosit (MCV, MCH, MCHC),
hitung jenis leukosit, dan laju endap darah (LED).
Leukopoiesis yang terjadi pada sumsum tulang (granulopoiesis, monopoiesis, dan
limfopoiesis), eritropoiesis, dan trombopoiesis termasuk ke dalam proses diferensiasi
komponen-komponen darah.
DAFTAR PUSTAKA
World Health Organization. Manual of Basic Techniques for A Health Laboratory.
2003.
Loffler H, Rastetter J, Haferlach T. Atlas of Clinical Hematology, 6 th ed. St. Peter and
Munich: Springer; 1999. p. 28—48.
Theml H, Diem H, Haferlach T. Color Atlas of Hematology, 2 nd ed. New York: Thieme;
2004. p. 30—51.
Merscher AL. Histologi Dasar Junqueira, edisi 14. Jakarta: EGC; 2016.