Dampak Gadget pada Prestasi Siswa
Dampak Gadget pada Prestasi Siswa
1. Pengertian Gadget
Era komunikasi dan teknologi saat ini tidak dipungkiri telah banyak membatu manusia dalam
berbagai aspek kehidupan. Hubungan antar-manusia seakan tak berjarak. Begitu banyak
pekerjaan yang terbantu dan dimudahkan oleh komunikasi dan teknologi yang semakin
canggih.
Gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya perangkat
elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Salah satu hal yang membedakan Gadget
dengan perangkat elektronik lainnya adalah unsur “kebaruan”. Artinya, dari hari ke hari
Gadget selalu muncul dengan menyajikan teknologi terbaru yang membuat hidup manusia
menjadi lebih praktis.
Gadget bisa berbentuk televisi, handphone, komputer dan ragam bentuk yang sama
(tablet,Pad), play station, dan berbagai perangkat elektronik lain yang selalu up to date
dengan perkembangan zaman dan kebutuhan umat manusia.
Namun, dalam perkembangannya, keberadaan Gadget ini juga membawa dampak yang tak
diharapkan bagi kehidupan manusia. Tak sedikit di jumpai dalam kehidupan di dalam rumah
tangga, sekeluarga yang tinggal dalam satu rumah, namun sibuk dengan kehidupan bersama
Gadget masing-masing. Anak asyik menonton televisi atau bermain game sementara orang
tua juga tak kalah asyiknya mengotak-atik handphone-nya.
Atau, seringkali juga orang tua menyaksikan sebuah keluarga yang mengadakan acara makan
bersama di sebuah tempat makan, tampak secara fisik mereka duduk bersebelahan, akan
tetapi secara psikis masing-masing mereka berjauhan, karena masing-masingnya asyik
berinteraksi dengan handphone-nya masing-masing, Kiranya tak salah bila sebuah temuan
yang menyatakan bahwa Gadget dapat mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.
Berbagai dampak kurang baik juga akan timbul bila menggunakan Gadget dengan tidak
bijak. Terutama pada anak, penggunaan Gadget yang berlebihan akan dapat menyebabkan
kecanduan yang dapat menurunkan prestasi belajar dan berdampak pada perilaku a sosial.
2. Hal-hal yang perlu diperhatiakan dalam penggunaan Gadget
Dalam paparannya yang disampaikan dalam kegiatan Parenting Skill yang dilaksanakan di
KB-TK Al Falah, Nurlita Endah Karunia, [Link]., psikolg dari Fakultas Psikolgi Ubaya
menyampaikan bahwa dalam mengenalkan Gadget pada anak perlu diperhatikan 3 hal.
a. Frekuensi.
Perlu dibuat ketentuan yang disepakati bersama tentang frekuensi, atau seberapa
sering Gadget tersebut di gunakan, apakah seminggu sekali atau dua kali, juga waktu
penggunaannya dalam seminggu apakah di hari Sabtu atau Minggu. Bila kesepakatan
telah dibuat, maka orang tua diharapkan untuk konsisten menegakkan aturan yang
sudah dibuat, sehingga anak dapat belajar tentang disiplin dari penegakan aturan yang
dilakukan.
b. Durasi.
Selain jumlah waktu penggunaan Gadget, lamanya waktu penggunaan juga perlu
dilakukan kesepakatan tentang lamanya waktu penggunaan Gadget. Apakah satu jam
untuk tiap kali pemakaian, dan seterusnya. Kesepakatan durasi ini perlu dilakukan
agar anak tahu batas waktu. Seringkali anak memanfaatkan akhir pekan dengan
bermain game sepanjang hari, bahkan tak jarang sampai lupa mandi. Dengan aturan
durasi ini diharapkan anak dapat mengendalikan keinginan untuk terus bermain
Gadget.
c. Isi.
Tak kalah penting yang harus diperhatikan orang tua dalam penggunaan Gadget
adalah content/isi Gadget yang dimainkan. Tak sedikit game di Gadget yang
mengajarkan kekerasan bahkan pembunuhan dengan menampilkan yang tak layak di
lihat oleh anak. Dan, ini seringkali memicu perilaku agresivitas pada anak, karena
anak cenderung berperilaku meniru.
Dari ke tiga hal tersebut diatas tak kalah pentingnya adalah melakukan tindakan pengamanan
saat anak mulai dikenalkan pada Gadget, langkah yang harus dilakukan adalah tidak ada
ponsel berkamera. Penyalahgunaan ponsel sering terjadi pada anak. Maka jangan pernah
memberikan ponsel berkamera kepada anak . Jika anak tertarik pada fotografi, lebih baik bila
anak di belikan kamera betulan bukan ponsel berkamera.
Non-aktifkan internet di tab. Anak boleh memegang tablet orang tua setelah menonaktifkan
internet. Penggunaan internet yang terlalu dini tampak pengawasan bisa berdampak negatif
pada perkembangan anak.
Melacak penggunaan internet, orang tua dapat memblokir situs-situs dewasa dengan
menggunakan sistem Walling di koneksi Internet . Pastikan juga selalu melacak penggunaan
internet anak. Pastikan pendampingan saat anak mulai bisa menggunakan internet.
Batasi waktu bermain. Banyak anak mulai kecanduan game online atau video game. Mereka
menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain di depan layar komputer, ponsel, maupun
TV. Maka, sebaiknya batasi kebiasaan buruk itu pada anak. Jangan sampai anak kehilangan
waktu bersosialisasinya di luar.
Tak kalah pentingnya adalah perilaku orang tua itu senidri dalm menggunakan Gadget. Tak
jarang orang tua juga terlalu berlebihan dalam memakai Gadgetnya sehingga seringkali anak
merasa terabaikan dengan adanya Gadget.
3. Tips agar hubungan sosial dalam keluarga menjadi sehat tanpa terintervensi
adanya Gadget.
Hindari terlihat terlalu lama atau terlalu sering gunakan Gadget di depan Anak. Meski zaman
sekarang semua serba canggih, hindari menggunakan Gadget di depan anak terlalu lama.
Pastikan punya perhatian lebih banyak pada anak sehingga anak tidak belajar perilaku
berlama-lama di depan Gadget canggih. Hindari juga perilaku makan sambil menggunakan
ponsel atau duduk di depan komputer.
Tidak perlu membelikan Gadget canggih terlalu dini untuk anak. Sebenarnya tidak ada
salahnya, hanya saja anak belum benar-benar membutuhkannya. Hal ini bisa berdampak di
masa depan karena ia kehilangan masa kecil yang seharusnya bermain dan belajar, tapi malah
tersita oleh sebuah Gadget. Selain itu, bijak membelikan Gadget juga akan menghindarkan
anak dari resiko kriminal seperti perampokan karena anak kecil belum mampu untuk
melindungi dirinya sendiri.
Selalu upayakan tatap muka. Batasi mengirim e-mail dan pesan instan kepad keluarga di
rumah. Tunjukkan sentuhan pribadi melalui komunikasi tatap muka. Tidak harus
menghabiskan banyak waktu,orang tua cukup membuat anak menjadi sesuatu yang berharga.
Jauhkan Gadget saat kegiatan bersama keluarga. Selama acara sosial bersama keluarga, mari
membiasakan untuk jauhkan segala Gadget. Jangan di letakkan di atas meja, karena segala
notifikasi dari Gadget tersebut bisa mengalihkan perhatian. Menaruh Gadget di atas meja bisa
mengartikan anak yang ada di depan oarng tua tidak mearik . Jangan buat anak menjadi sakit
hati, dan membalasnya dengan asyik bermain Gadget-nya sendiri.
Gadget bukan prioritas utama. Bangun pagi langsung mencari handphone. Banyak dari orang
tua yang mengisi rutinitas pagi dengan cek e-mail, membalas BBM, atau sekadar melihat
notifikasi sosial media. Meskipun sulit namun perlu dicoba. Mulailah hari dengan mengaji
bersama anak atau meluangkan waktu untuk ngobrol ringan bersama keluarga sebelum
berangkat ke kantor.
Tetapkan Zona Gadget free. Bisa diterapkan ruangan bebas Gadget seperti di kamar dan
ruang makan jangan biarkan laptop, handphone, dan alat-alat teknologi lainnya mengganggu
waktu kebersamaan anak dan orang tua. Bagaimana sebuah keluarga bisa saling mendekatkan
diri, kalau orang tua dan anak sama-sama masih sibuk dengan Gadget masing-masing.
Yang terpenting dari kesemuanya adalah kesadaran bahwa Gadget hanyalah alat bantu
manusia, maka penggunaan Gadget yang bijak, baik untuk anak maupun orang tua akan
menghindarkan kita semua dari perilaku negatif dari pengguanaan Gadget yang tidak bijak.
Tanda-tanda seorang remaja sudah kecanduan Gadget yaitu penggunan Gadget dalam sehari
bisa lebih dari 6-8 jam bahkan lebih dalam. Dampak lain dapat mengubah perilaku anak
menjadi individualisme yaitu lebih senang bermain dengan ponsel daripada bersosialisasi
dengan lingkungan sekitar. Kecanduan Gadget juga dapat berdampak pada kesehatan yang
membuat aktivitas fisik mulai menurun sebab kurang banyak bergerak.
Menurut statistik lembaga riset pemasaran digital perkiraan e-marketer, pada 2018, jumlah
pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah itu.
Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna smartphone terbesar keempat yang aktif di
dunia setelah China, India, dan Amerika.
Penggunaan media sosial di Gadget juga berdampak buruk. Media sosial yang paling sering
digunakan para generasi muda saat ini adalah Twitter, Path dan Instagram. Banyak sekali
remaja menggunakan media sosial untuk mencurahkan hati atau sesuatu yang menurutnya
harus dibeberkan ke media sosial tanpa mempedulikan dampak yang akan timbul.
Seperti dilaporkan Gwenn Schurgin O’Keeffe dan Kathleen Clarke-Pearson dari hasil
penelitiannya yang dipublikasikan [Link] belum lama ini, bahwa ada
beberapa dampak buruk jika anak kecanduan media sosial. Menggunakan media sosial
menjadi sangat berisiko jika tidak disadari para orang tua.
Data saat ini menunjukkan bahwa pelecehan online tidak seperti pelecehan offline (dunia
nyata). Bullying di media sosial sangat cepat menyebarnya tanpa bisa dikendalikan siapa saja
yang menerima kiriman yang bersifat pelecehan tersebut. Beberapa kasus tindakan bullying
bahkan menyebabkan korbannya melakukan tindakan nekat dengan mengakhiri hidupnya.
c. Sexting
Sexting dapat didefinisikan sebagai “pengiriman, penerimaan, atau meneruskan pesan seksual
eksplisit, foto, atau gambar melalui ponsel, komputer, atau perangkat digital lainnya.”
Banyak gambar ini menjadi didistribusikan dengan cepat melalui telepon seluler atau internet.
Survei terbaru mengungkapkan bahwa 20 persen remaja telah mengirim atau diposting foto
atau video porno oleh orang yang tak dikenal atau iklan terselubung. Jika Gadget telah
melakukan registrasi layanan aplikasi yang menyediakan konten dewasa, maka secara
otomatis dan berkali pihak penyelenggara akan mengirimkan gambar (foto) atau video
bahkan artikel dewasa tanpa kita minta.
Untuk itu orangtua harus memastikan Gadget anak bersih dari aplikasi atau bahkan games
yang diperuntukkan bagi pengguna dewasa.
d. Mengganggu kesehatan
Penggunaan Gadget yang tidak bijak alias berlebihan bisa berdampak buruk bagi kesehatan
psisikis dan jasmani. Dengan penggunaan Gadget secara berlebihan seseorang dapat
mengalami berbagai macam gangguan, seperti gangguan pendengaran, penglihatan, dan dapat
membuat seseorang menjadi susah untuk tidur. Gadget juga dapat memicu penyakit serius
seperti kangker karena radiasi yang dikeluarkan Gadget merupakan agen penyebab kanker
seperti leukemia, kulit, tiroid, payudara dan kanker perut.
Di era milenial seperti saat ini, pemandangan orang lalu lalang menggunakan Gadget
bukanlah suatu hal yang aneh lagi. Mulai dari anak sekolah hingga orang lanjut usia pasti
sudah memiliki Gadget. Banyak hal yang diuntungkan dengan adanya revolusi besar ini
dalam kehidupan. Namun tak jarang efek negatif juga seringkali timbul dengan adanya
Gadget.
Menggunakan Gadget bukanlah suatu kesalahan, tapi jika sudah sampai kecanduan dan
merugikan banyak pihak, sebaiknya kita mulai mengurangi frekuensi pemakaian.
5. Cara yang dapat digunakan untuk mengatasi kecanduan Gadget
1). Cara mengatasi kecanduan Gadget yang paling ampuh adalah mematikan WiFi di rumah.
Penggunaan WiFi di rumah biasanya ditujukan agar kita bisa lebih menghemat ketersediaan
kuota yang ada pada Gadget kita. Coba mulai hentikan langganan WiFi di rumah dan hanya
pergunaan kuota internet yang ada pada Gadget saja. Cara mengatasi kecanduan Gadget bisa
dilakukan agar kita lebih terbatas dalam penggunaan Gadget setiap harinya.
2). Gunakan hanya satu media sosial saja. Seringkali kita memeriksa media sosial padahal
tidak ada notifikasi apapun. Atau meng-update kegiatan sehari-hari di seluruh media sosial
yang kita punya. Selain menghabiskan banyak waktu, kita jadi terlihat sibuk sendiri dengan
aktivitas di dunia maya. Padahal banyak hal menarik yang bisa kita lakukan di dunia nyata.
Beberapa kejadian yang terjadi di dunia nyata mungkin tidak perlu selalu dibagikan lewat
sebuah unggahan foto atau video di dunia maya, namun cukup kita simpan di dalam memori
saja.
Nah, cara mengatasi kecanduan Gadget yang satu ini memang pasti sulit untuk dilakukan.
Tapi percayalah kamu akan mendapatkan banyak manfaat setelah tak terobsesi dengan sosial
media dan internet.
3). Jangan pergunakan power bank. Membawa power bank setiap saat tentu bermanfaat jika
Gadget yang kita miliki tiba-tiba kehabisan daya saat dibutuhkan. Namun dengan selalu
tersedianya power bank kita jadi tidak perlu khawatir dengan Gadget yang sewaktu-waktu
bisa mati. Coba mulai tinggalkan power bank dan atur penggunaan Gadget sebaik mungkin
agar kita tidak perlu kerepotan kehabisan daya saat benar-benar membutuhkan Gadget. Hal
ini secara otomatis akan membuat kita menyentuh Gadget hanya pada saat dibutuhkan saja.
4). Matikan Gadget satu jam sebelum tidur. Sudah pernah melakukan cara mengatasi
kecanduan Gadget yang satu ini? Salah satu hal yang membuat kita susah tidur adalah
penggunaan Gadget pada malam hari. Adanya rasa ingin memeriksa notifikasi atau hanya
sekadar melihat-lihat media sosial dapat membuat jam tidur kita jadi terganggu.
Coba mulai matikan Gadget satu jam sebelum tidur agar kita tidak perlu selalu memeriksa
Gadget yang kita miliki. Bereskan semua hal yang mengharuskan kita menggunakan Gadget.
Bila perlu, pasang status off atau sleeping di layanan chat yang kita punya agar tidak ada yang
menghubungi atau khawatir karena kita sedang tidak bisa dihubungi.
5). Bekali diri dengan sebuah buku setiap hari. Kebanyakan orang menggunakan Gadget pada
saat sedang menunggu atau antre. Hal ini dilakukan untuk membunuh waktu dalam
mengatasi rasa bosan. Mulai ganti alat bantu penghilang rasa bosan dengan membaca sebuah
buku yang menarik minat kalian untuk membaca. Bekali diri setiap hari dengan sebuah buku
hingga sewaktu-waktu kalian harus menunggu, kalian tahu harus mengakali rasa bosan selain
dengan memainkan Gadget.
Sejauh ini, riset baru bisa menunjukkan efek terlalu lama main Gadget pada fisik. Misal sakit
kepala, carpal tunnel syndrome dan stres akut. Pun demikian, solusinya berlaku sama baik itu
untuk anak, remaja, pun dewasa. Buatlah batasan bagi diri sendiri untuk menjauh dari
Gadget. Sepenuhnya menjauh dari Gadget mungkin sulit bahkan mustahil bagi kebanyakan
orang. Namun, menyediakan waktu sedikit saja untuk bergaul dan bermedia sosial benar-
benar bisa membuat Anda merasa lebih baik dalam jangka panjang.
Generasi muda harus pandai-pandai untuk membatasi diri serta menggali informasi dari
penggunaan Gadget. Gunakanlah Gadget sebagai suatu media yang dapat membawa kita
untuk menjadi orang yang sukses.
Jika kita memperhatikan, maka mayoritas anak sekolah mempunyai Gadget dengan fitur
yang lengkap. Berbagai fasilitas ada di dalam Gadget nya sehingga mereka dapat melakukan
apapun dengan alat tersebut. Dan, karena keasyikan bermain dengan Gadget, maka anak lupa
akan tugas dan kewajiban utamanya. Anak-anak lupa belajar!
Setiap saat kita dapat menemui beberapa anak bergerombol dan ber-Gadget ria. Mereka
begitu riang saat berbicara di Gadget. Ada juga yang asyik memencet tombol keyboard-nya
untuk menulis sms untuk teman-temannya. Begitulah keasyikan mereka bermain Gadget
sehingga banyak kegiatan mereka tertunda. Beberapa akibat yang ditimbulkan oleh
keberadaan Gadget bagi anak-anak adalah:
a. Mengalihkan Perhatian
Tentunya jika kondisi ini terjadi, maka pengaruh Gadget terhadap prestasi belajar benar-benar
mereka alami. Akibat terlalu memperhatikan Gadget, maka penjelasan guru diabaikan.
Akibatnya, prestasi mereka-pun merosot. Ini merupakan salah satu akibat dari pengaruh
Gadget pada anak-anak
b. Menurunkan Konsentrasi
Konsentrasi adalah tingkat perhatian kita terhadap sesuatu. Dalam konteks belajar, berarti
tingkat perhatian siswa terhadap segala penjelasan dan bimbingan belajar sang guru.
Seharusnya, seluruh perhatian siswa diarahkan pada apa yang sedang mereka pelajari, tetapi
seringkali Gadget menyita sebagian besar waktu mereka.
`Sementara kita tahu bahwa penjelasan dan bimbingan guru merupakan salah satu cara
belajar yang efektif. Jika mereka tidak memperhatikan, maka mereka telah kehilangan
kesempatan untuk mengetahui apa yang telah mereka pelajari. Akibatnya, saat evaluasi,
mereka tidak mempunyai bekal untuk evaluasi tersebut. Dan, nilai yang didapatkannya pasti
rendah. Nilai rendah yang didapatkan siswa pada saat evaluasi diindikasikan sebagai proses
pembelajaran yang tidak berhasil atau gagal.
Mereka tidak lagi memperhatikan tugas kewajibannya sebab disibukkan oleh Gadget
Akibatnya, anak tidak menguasai materi belajarnya. Tidak ada satupun materi yang tersimpan
dalam memori otak sebab memang tidak ada yang dimasukkan ke sana.
Pada saat proses pembelajaran berlangsung, seringkali kita melihat beberapa siswa bermain
Gadget. Walaupun sudah sering diperingatkan untuk tidak menggunakan Gadget saat proses
pembelajaran, tetapi pelanggaran tersebut tetap saja terjadi, mereka sembunyi sembunyi saat
melakukannnya. Tidak mungkin kita secara terus menerus merazia Gadget mereka.
Dengan bermain Gadget saat proses pembelajaran berlangsung, itu artinya siswa telah
mengabaikan dan melupakan tugas dan kewajiban utamanya. Hal ini tentu saja tidak boleh
terjadi dan tugas kewajiban guru untuk memperingatkannya.
Tetapi meskipun demikian, peranan guru tidak mungkin membatasi secara mutlak sebab ada
anak yang menggunakan Gadget tersebut untuk keperluan komunikasi dengan keluarganya.
Misalnya jika mereka harus antar jemput saat bersekolah.
d. Malas Belajar
Anak-anak yang sudah kecanduan Gadget, maka setiap saat yang dilakukannya hanyalah
bermain Gadget dan Gadget. Mereka tidak pernah berpikir pada hal yang lainnya. Bagi
mereka, yang terpenting adalah Gadget. Jika ke mana-mana tidak ada Gadget, maka rasanya
tidak lengkap, bahkan ada beberapa anak yang tidak mau melakukan kegiatan karena tidak
punya Gadget.
Pada saat-saat belajar, anak-anak menghadapi buku dengan dampingan Gadget. Pada awalnya
Gadget digunakan untuk mendengar musik untuk menciptakan suasana nyaman, refreshing
pikiran. Tetapi, ketika ada yang mengirim sms atau menelpon, maka mulai saat itulah mereka
berpindah kegiatan. Mereka sibuk dengan kegiatan barunya dan melupakan kegiatan belajar.
Mereka jadi malas untuk belajar dan asyik bertelpon ria atau bersms ria.
Keberadaan Gadget memang sangat penting bagi kehidupan di zaman global ini. Tetapi jika
ternyata Gadget mengganggu proses belajar dan menurunkan prestasi belajar anak, lebih baik
mereka tidak diberi Gadget. Oleh karena itulah, peranan orang tua, guru dan masyarakat
sangat menentukan keberhasilan kit adalam meminimalisasi pengaruh Gadget terhadap
prestasi belajar siswa.
Dengan canggihnya fitur-fitur yang tersedia di hand phone (Gadget) seperti : kamera,
permainan (games) akan mengganggu siswa dalam menerima pelajaran di sekolah? Tidak
jarang mereka disibukkan dengan menerima panggilan, sms, miscall dari teman mereka
bahkan dari keluarga mereka sendiri. Lebih parah lagi ada yang menggunakan Gadget untuk
mencontek (curang) dalam ulangan. Bermain game saat guru menjelaskan pelajaran dan
sebagainya. Kalau hal tersebut dibiarkan, maka generasi yang kita harapkan akan menjadi
budak teknologi.
Fitur internet pada handphone memang bisa memberikan pengaruh baik, tapi bila tidak
digunakan secara bijak, hal ini bisa saja malah menurunkan prestasi belajar
siswa. Kemudahan siswa untuk bisa memperoleh info apa saja, bisa membuat siswa terlena
oleh dunia maya. Apalagi saat ini banyak beredar jejaring sosial, hal ini bisa membuat siswa
lebih suka menghabiskan waktu untuk mengutak-atik handphone daripada belajar.
Handphone bukan sekedar kebutuhan, tapi sudah menjadi gaya hidup. Bahkan, ada anggapan
kalau tidak punya handphone, maka akan dicap sebagai orang kampungan. Hal seperti ini
bisa mempengaruhi mental siswa. Mereka akan lebih memikirkan gaya hidup daripada
memikirkan kegunaan handphone itu sendiri, mereka tidak fokus dalam belajar karena lebih
mementingkan gaya hidup pergaulan.
Pengaruh handphone terhadap prestasi belajar siswa yang lain adalah siswa menjadi lebih
mengandalkan handphone daripada harus belajar. Contohnya, saat ujian, siswa bisa
mencontek atau menanyakan jawaban pada teman lewat handphone (dengan SMS). Tentu
akan mengurangi minat siswa dalam belajar karena berpikir kalau mereka pasti bisa
melewati ujian asalkan ada handphone. Kasus seperti ini sudah banyak sekali ditemukan di
Indonesia.
Jadi, Perkembagan teknologi sekarang yang cukup mdern dapat mempengaruhi dunia
pendidikan di Indonesia. Maraknya Gadget sekarang juga sudah merusak akhlak pelajar
dinegeri kita rusak.
Menggunakan Gadget lebih baik tidak pada waktu belajar dan jauhilah anak yang suka
melihat dan menggunakan Gadget dengan tidak seharusnya
6. Kesimpulan
Berbagai dampak yang dapat ditimbulkan oleh telepon genggam atau handphone tersebut.
Baik itu dampak positif ataupun dampak negatifnya. Siswa dan siswi dapat membatasi
penggunaan Gadget itu dari kesadaran diri sendiri, pengaruh teman , didikan orangtua dan
juga guru-guru di sekolah. Asalkan siswa dan siswi dapat membagi waktu untuk urusan
belajar dan bermain dengan Gadget, itu tak masalah. Jam belajar lancar dan diselingi dengan
bermain Gadget, namun jangan juga sampai siswa ketagihan memakai Gadget, itu perlu
dibataskan dengan pengawasan orang tua jika di rumah , dan para guru jika disekolah
Pemakaian Gadget dalam penurunan prestasi, itu tidak 100% benar. Tergantung dari diri kita
sendiri. Semua pelajar SD, SMP, SMA pasti pernah memakai Gadget, namun pakai tapi tidak
terlalu mengetahui fungsi yang sebenarnya percuma juga. Jadi, dapat disimpulkan bahwa
pelajar memakai Gadget boleh – boleh saja, namun tidak boleh sampai ketagihan dan lupa
waktu akan belajar. Jika sudah sampai titik ketagihan, itulah yang membuat kita lambat laun
malas belajar, menengok sebentar ke telepon genggam kita dan mengutak-atiknya akhirnya
kita menjadi malas belajar, dan menimbulkan penurunan prestasi di kelas.
7. Saran
Memang menjadi dilema bagi orangtua untuk tidak membelikan Gadget pada anaknya. Jika
harus membeli Gadget seharusnya orang tua harus mampu memproteksi permata hatinya dari
pengaruh negatif dari Gadget. Secara berkala orang tua harus memeriksa isi Gadget putra-
putrinya. Bagi sekolah yang tidak melarang siswanya membawa Gadget harus secara berkala
melakukan razia terhadap penggunaan Gadget agar siswa terjamin bebas dari pengaruh
destruktif Gadget.
Bagi orangtua, ada beberapa isyarat untuk mencurigai perilaku anaknya yang telah
menyimpan file gambar atau video tidak senonoh. Adapun perilaku tersebut;
Jika anak/siswa telah menunjukkan perilaku di atas, sebaiknya orang tua harus dengan paksa
memeriksa isi Gadget anaknya sebagai upaya preventif agar anak terbebas dari pengaruh
negatif Gadget. Berdasarkan paparan di atas, sangatlah wajar jika beberapa sekolah
mengambil kebijakan melarang siswanya membawa Gadget ke sekolah sebagai upaya
preventif dan kepedulian terhadap masa depan siswanya.
Motivasi.
Motivasi memegang peranan penting bagi siswa di dalam meraih prestasi. Siswa dengan
motivasi yang tinggi walau kemampuannya biasa saja akan meraih prestasi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan siswa dengan kemampuan baik tetapi tanpa motivasi.
Dukungan lingkungan.
Lingkungan pergaulan juga menjadi salah satu faktor penting di dalam menciptakan prestasi
belajar siswa. Saat anak Anda bergaul di lingkungan anak-anak yang mau dan senang belajar,
anak Anda akan terpengaruh secara positif untuk melakukan hal yang sama. Lain halnya jika
anak Anda bergaul dengan anak-anak yang senang menghabiskan waktu dengan bermain,
maka anak Anda juga akan mudah terpengaruh untuk melakukan hal yang sama.
Ada anak yang sebelumnya berprestasi dan seiring berjalannya waktu, prestasi si anak terus
menurun. Setelah diselidiki secara mendalam, ternyata penurunan mulai terjadi saat orang tua
membelikan Gadget untuk si anak. Waktu belajar yang seyogyanya diisi dengan belajar
dihabiskan oleh anak tersebut dengan sibuk ber-Gadget ria. Perkembangan teknologi sering
ikut menghancurkan prestasi yang telah diraih siswa saat digunakan secara tidak tepat.
ARTIKEL ILMIAH
Disusun oleh:
1. Judul Artikel :
“Menyelesaikan operasi perkalian dengan metode lattice”.
2. Penulis
a. Nama Lengkap : Elmidawati, [Link]
b. Jenis Kelamin : Perempuan
c. NIP : 19820616 200801 2 030
d. Pangkat/ Gol : Penata III/c
e. Mata Pelajaran : MATEMATIKA
f. Unit Kerja : SMPN 13 Mukomuko
g. Alamat Unit Kerja : Simpang SP. 7 Lubuk Sanai Kec. XIV Koto
h. No Hp. : 0813 6865 1896
Mengesahkan
Kepala SMP Negeri 13 Mukomuko Penulis,
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Artikel ilmiah yang saya tulis
ini, seluruhnya merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah
dipublikasikan.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan Artikel ilmiah yang saya kutip
dari hasil orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma,
kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian Artikel ilmiah ini
bukan hasil kerja saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu,
saya bersedia menerima sanksi-sanksi sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Puji syukur kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa atas bimbingan dan
karuniaNya sehingga Penulis dapat menyelesaikan Artikel Ilmiah dengan judul
“Menyelesaikan operasi perkalian denga”.
Artikel Ilmiah ini di tulis dalam rangka menyusun DUPAK tahunan Tahun
2016. Penulisan Artikel ini dapat diselesaikan berkat bantuan banyak pihak. Oleh
karena itu penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Sugiman, [Link] [Link] Kepala SMP Negeri 13 Mukomuko.
3. Keluarga tercinta.
4. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu
penyelesaian penelitian ini.
Penulis berharap semoga Artikel ini dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan
dan menjadi inspirasi bagi rekan-rekan guru untuk melakukan dan mengembangkan
berbagai jenis Artikel .
SURAT TUGAS
Nomor :800/ /D.1/SMPN13/MM/2018
Untuk dapat mengikuti kegiatan pelatihan dan pendidikan tentang “ Implementasi Sistem
Penjaminan Mutu Internal (SPMI) untuk sekolah model SMP se-provinsi Bengkulu” pada
bulan September – November tahun 2017” di SMP Negeri 01 Mukomuko
Demikianlah surat tugas ini dibuat untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Kepala Sekolah
SURAT KETERANGAN
I. NAMA : LELA HARTATI, SPdI
NIP : 19790607 200801 2 033
PANGKAT/GOL : PENATA / IIIc
JABATAN : GURU MATA PELAJARAN PAI
Selanjutnya disebut pihak PERTAMA (I)
Menerangkan bahwa pada tanggal 28 Juli 2016, pihak PERTAMA menyerahkan poto
copy laporan penelitian berupa Artikel Pendidikan dengan judul “Peningkatan mutu belajar
mengajar dengan menggunakan CIT (TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI)”
kepada pihak KEDUA untuk disimpan/diarsipkan di perpustakaan SMP N13 Mukomuko agar
dapat dipergunakan oleh pihak-pihak yang membutuhkan.
Demikainlah surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya, agar dapat dipergunakan
sebagaimana mestinya.
Mengetahui,
Kepala SMP N 13 Mukomuko