0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
280 tayangan21 halaman

Perencanaan dan Kontrol Produksi PPIC

PPIC bertugas merencanakan produksi dan mengontrol persediaan bahan baku agar proses produksi berjalan efektif dan efisien serta memenuhi permintaan pelanggan tepat waktu."

Diunggah oleh

Robi Afrizal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
280 tayangan21 halaman

Perencanaan dan Kontrol Produksi PPIC

PPIC bertugas merencanakan produksi dan mengontrol persediaan bahan baku agar proses produksi berjalan efektif dan efisien serta memenuhi permintaan pelanggan tepat waktu."

Diunggah oleh

Robi Afrizal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PRODUCTION PLANNING AND

INVENTORY CONTROL (PPIC)


Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Perancangan Proses Produksi

Dosen Pengampu Ahmad Iskandar [Link]

Disusun oleh

Robi Afrizal 15-21-201-096

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG

2017
DAFTAR ISI
Table of Contents
DAFTAR ISI ................................................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
[Link] ..................................................................................................................... 3
[Link] MASALAH .......................................................................................................... 4
[Link].................................................................................................................................... 4
BAB II LANDASAN TEORI
[Link] PPIC ................................................................................................................ 5
[Link]-TUGAS PPIC ................................................................................................................... 6

[Link] AGAR KINERJA PPIC OPTIMAL...................................................................................... 6

[Link] PLANNING DAN INVENTORY......................................................................................... 7

[Link] INVENTORY ............................................................................................................ 8

[Link] DAN MONITORING PROSES...................................................................................... 9

[Link] PRODUKSI......................................................................................................................... 10

[Link] PRODUKSI ................................................................................................................... 11

[Link] LETAK ............................................................................................................................... 12

[Link]/FORECASTING........................................................................................................ 13

[Link] DALAM HORIZON WAKTU.. ................................................................................ 13

[Link] PERAMALAN. ............................................................................................................ 14

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN ......................................................................................................................... 15

SARAN ...................................................................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 17


KATA PENGANTAR
Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan beribu
kenikmatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang kami beri judul
PRODUCTION PLANNING AND INVENTORY CONTROL (PPIC).
Makalah ini berisi seluk beluk sistem produksi (manufaktur), perencanaan (planning),
dan kontrol terhadap sistem ketersediaan bahan baku (inventory control). Jika kita
ambil pengertian Production Planning bukan hanya merencanakan produksi saja,
dimana pengertiannya bisa menjadi lebih luas lagi. Begitu juga dengan Iventory
Control, pengertiannya bukan hanya sekedar mengkontrol bahan baku saja tetapi
bagaimana deptartemen PPIC dapat me-minimalkan persediaan bahan baku yang
berada di departemen Warehouse sehingga penempatan di gudang menjadi lebih
efektif dan dapat menekan biaya penyimpanan dan pembelian bahan baku.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menambah kasanah
keilmuan kita tentang Production Planning and Inventory Control..
BAB I
LATAR BELAKANG MASALAH
PENDAHULUAN
Fungsi Planning dalam perusahaan (manufacture) dijalankan oleh bagian PPIC (
Production Planning and Inventory Control ). Disamping memiliki fungsi production
planning, PPIC juga memiliki peranan dalam manajemen Inventory.
Inventory atau barang persediaan merupakan aset perusahaan yang berupa persediaan
bahan baku / raw material, barang-barang sedang dalam proses produksi, dan barang-
barang yang dimiliki untuk dijual. Karena inventory disimpan di gudang, maka
manajemen inventory dan gudang sangat berkaitan. Pergudangan sendiri adalah
kesatuan komponen didalam suplay chain product. Gudang berfungsi sebagai tempat
penyimpanan barang sampai digunakan dalam proses produksi. Fungsi penyimpanan
ini sering disebut ruang persediaan atau gudang bahan baku. Perusahaan besar atau
kecil, untuk pengadaan dan penyimpanan barang ini diperlukan biaya besar. Biaya
penyimpanan ini setiap tahun umumnya mencapai sekitar 20 – 40% dari harga barang
(Indrajit, R,E., Djokopranoto,R., Manajemen Persediaan, 2003, Gramedia, hal.3).
Untuk itu diperlukan strategi atau manajemen inventory yang baik agar biaya
persediaan optimum.
Dalam struktur organisasi ada beberapa variasi untuk mempertegas fungsi planing dan
gudang (material ware house dan final product ware house), untuk kondisi seperti ini,
PPIC bertanggung jawab pada monitoring persediaan (Safety Stock, mengeluarkan Bill
of Material, akurasi data inventory, efektivitas sistem informasi).
Sedangkan aktivitas pergudangan, seperti penerimaan dan penyimpanan, serta
pengiriman raw material ke bagian processing, penerimaan dan penyimpanan serta
pengiriman final produk ke kustomer, mengoperasikan sistem informasi, umumnya
dibawah kendali Head Ware House setingkat supervisor atau manager, disesuaikan
dengan lingkup tanggung jawabnya.
RUMUSAN MASALAH
[Link] pengertian dari PPIC ?
[Link] apa saja yang dikerjakan oleh PPIC ?
[Link] tipe produksi dan aliran produksi ?
[Link] proses peramalan dan metode apa saja yang dipakai ?

TUJUAN
[Link] peran penting departemen PPIC/produksi/pembelian dalam perusahaan

[Link] menilai kinerja perusahaan tempatnya bekerja dan meningkatkan efesiensi


dan produktivitas dalam perusahaan

[Link] menyelaraskan lini PPIC perusahaan dengan keinginan pasar strategis bisnis
perusahaan secara global
BAB II
ISI
Pengertian PPIC
PPIC (Production Planning and Iventory Control) adalah kegiatan merencanakan
produksi dan mengontrol kebutuhan bahan baku agar proses produksi (manufaktur)
dapat berjalan dengan baik (efektif dan efisien). Jika kita ambil pengertian production
planning bukan hanya merencanakan produksi saja, dimana pengertiannya bisa menjadi
lebih luas lagi. Jika kita ingin merencanakan suatu produksi maka kita harus mengetahui
kebutuhan bahan yang akan di produksi yang mana departemen PPIC dapat
mengetahuinya berdasarkan informasi dari departemen R&D berupa formulasi produk
dan dari sini departemen PPIC dapat menghitung kebutuhan bahan baku yang harus
disediakan sesuai dengan berapa banyak yang akan diproduksi. Sedangkan Iventory
Control pengertiannya bukan hanya sekedar mengontrol bahan baku saja tetapi
bagaimana departemen PPIC dapat meminimalkan persediaan bahan baku yang berada
di departemen Warehouse sehingga penempatan di gudang menjadi lebih efektif dan
dapat menekan biaya penyimpanan dan pembelian bahan baku.
Yang perlu diketahui bahwa berdasarkan survey yang pernah dilakukan oleh suatu
lembaga survey kepada suatu pelanggan yang menyatakan alasan mengapa pelanggan
meninggalkan perusahaan, antara lain disebutkan karena meninggal (1%), pindah (3%),
membentuk kelompok lain (5%), alasan pesaing lebih baik (9%), produk
mengecewakan (14%), dan sikap tidak berbeda dari perusahaan dalam memberikan
pelayanan dari waktu ke waktu (68%). Alasan terakhir ini menunjukan bahwa perlu
adanya perbaikan terus-menerus (continuous improvement) dalam proses industri untuk
mempertahankan loyalitas pelanggan (customer loyalty) kepada perusahaan.
Berdasarkan survey diatas maka departemen PPIC mempunyai peranan penting di
dalam mewujukan perbaikan terus-menerus (continuous improvement) sehingga dapat
mempertahankan loyalitas pelanggan (customer loyalty). Departemen PPIC merupakan
urat nadi perusahaan tetapi kadang PPIC dianggap sepele bagi sebagian
manager/perusahaan. Mungkin pemikiran sepeti itu menganggap bahwa tanpa adanya
PPIC perusahaan tetap dapat berjalan tapi hasilnya tidak akan dapat efektif dan efisien.
Tugas – tugas PPIC adalah sebagai berikut :
1. Menerima order dari Marketing dan membuat rencana produksi sesuai order
yang diterima.
2. Memenuhi permintaan sample dari Marketing dan memantau proses pembuatan
sample sampai terkirim ke pelanggan.
3. Membuat rencana pengadaan bahan berdasarkan forecast dari marketing dengan
memperhatikan kondisi stock dengan menghitung kebutuhan material produksi
menurut standard stock yang ideal.
4. Memonitor semua inventory baik untuk proses produksi, stock yang ada di
gudang maupun yang akan didatangkan sehingga proses produksi dan
penerimaan order bisa berjalan lancar dan seimbang.
5. Menyusun jadwal proses produksi pada waktu, routing & quantity yang tepat
sehingga barang bisa dikirim tepat waktu dan sesuai dengan permintaan
pelanggan.
6. Menjaga keseimbangan lini kerja di produksi agar tidak ada mesin yang
overload sementara mesin lain tunggu order.
7. Menginformasikan ke bagian marketing jika ada masalah di proses produksi
yang menyebabkan delay delivery.
8. Aktif berkomunikasi dengan semua pihak yang terkait sehinggga diperoleh
informasi akurat dan up to date.

Syarat agar kinerja PPIC bisa optimal yaitu :


1. Ada rencana penjualan yang jelas dari marketing
2. Ada keseimbangan jenis order sesuai dengan mesin yang dimiliki perusahaan.
3. Ada standard kapasitas produksi tiap-tiap mesin.
4. Ada pengaturan delivery time yang merata dari marketing sesuai kapasitas
produksi yang dimiliki perusahaan.
5. Ada pedoman waktu kedatangan (time arrival) untuk pengadaan bahan/material,
baik lokal maupun impor.
6. Ada batasan minimum dan maksimum stock

Ada koordinasi dan komunikasi yang baik dengan bagian terkait yaitu
marketing, produksi, purchasing,logistic ware house, quality control dan F&A (Finance
& Accounting).
Design Planning dan Inventory Control
Peran Sistem Informasi dalam aktivitas production planning sangat besar, begitu
besarnya sampai saya berani jamin, tanpa bantuan software, aktivitas planning tidak
akan optimal. Planning tidak hanya mengerjakan masalah perencanaan saja, tapi terkait
dengan manajemen inventory. Otomatis Planning harus memiliki Link dengan Sistem
Purchasing dan Ware house secara real time dan up date. Ini masih dalam scope
inventory, belum termasuk aktivitas pengawasan proses produksi. Setiap perubahan
dalam proses yang terkait dengan Penjadwalan ulang (reschedulling), Pembuatan ulang
(Remake), Permintaan tambahan material, dll, pastinya akan mempengaruhi alokasi
capasitas dan seluruh penjadwalan. Pertanyaannya, mungkinkah Ms. Excel
melakukannya? Jika yang saya masuk sinkronisasi, yang saya tahu, jawabannya adalah
“tidak mungkin”. Excel hanya bisa mengerjakannya secara terpisah dan sangat
tergantung pada operator untuk melakukan rangkaian update.

SAP for Manufacture


Untuk lebih jelasnya berikut saya sampaikan lingkup kerja PPIC :

Registrasi New Item dan Material


Setiap Item Product harus memiliki Item Code. Begitu pula Setiap material dan
supporting material yang digunakan sekecil apapun harus tercoding. Ada dua jenis
material, pertama Raw material, yaitu seluruh material yang digunakan dalam proses
pembentukan produk, dan kedua yaitu Supporting material, yaitu material pembantu,
yang digunakan untuk melengkapi unit Final product, seperti plastic packaging, sticker,
cartoon box, kertas label, dll.

Code untuk Regristasi ini berupa urutan numerik/angka. Kode numerik digunakan agar
dapat terbaca oleh sistem. Dalam perkembangannya, untuk mempermudah input data,
kode angka dikonversi lagi kedalam barcode, sehingga proses input menggunakan
scanner. Selain untuk mempercepat waktu iniput, proses scanning menghasilkan data
yang sangat akurat dengan tingkat human error sangat rendah.
Item-item baru biasanya didapat dari bagian R&D, setelah melalui uji coba dan
berhasil, setelah di verifikasi oleh Quality Control (QC), produk baru harus diregristasi
oleh PPIC lengkap dengan komponen penyusun dan formulasi per unit produk (
Material Requirement Planning/MRP )
Pengelolaan Inventory atau barang persediaan
Barang persediaan terdiri dari : 1) Material dan Supporting Material, 2) Work In Process
(WIP), dan 3) Final Product.

Material dan Supporting


Material (M&SM). Ada dua hal yang harus selalu diperhatikan untuk pengadaannya,
yaitu; 1) M&SM tanpa melihat order customer , 2) M&SM berdasarkan order
customer. Dengan pertimbangan minimalisir biaya pengadaan dan buffer, memiliki
stock M&SM dalam batas optimum dengan beberapa metode peramalan memberikan
jaminan akan kelancaran proses ( fluently production process ). Namun tidak menutup
kemungkinan adanya emergency order atau order spesial sehingga menyebabkan
keluarnya Bill of material (BOM) setelah kedatangan order customer atau setelah
arrange order ( master production schedulle/MPS )

Work In Process ( WIP )


Kondisi ideal, tahapan process dari satu station ke station lainnya berlangsung secara
continue. Namun ada beberapa proses memerlukan pengelolaan khusus,
akibatnya produksi terbagi kedalam beberapa divisi berdasarkan proses. Pergeseran
barang ½ jadi terkadang tidak bisa sempurna atau satu banding satu. Karena aspek
kerumitan dan ongkos pengerjaan yang ekonomis, produk dari Divisi A yang menjadi
bahan baku untuk proses di divisi B, terkadang tidak dibuat pas atau sesuai dengan
order customer, mempertimbangkan aspek yang saya sebut sebelumnya, quantity yang
diproduksi kadang berlebih. Inilah yang disebut WIP, bagian PPIC bertanggung jawab
penuh dalam mengendalikan barang persediaan jenis ini. Peranan Sistem Informasi dan
penerapan logic proses yang tepat dapat menjamin pengendalian WIP. PPIC akan
selalu dapat memantau progress produksi di semua tahapan proses.

Final Product
Barang persediaan jenis ini relatif lebih mudah dikendalikan, karena posisinya sudah
di tahap akhir, dengan manajemen ware house yang baik, pengendalian final product
bisa dilakukan dengan baik. Poinnya, PPIC harus secara real time dan up to date dalam
menerima informasi mengenai final product siap dikirim ke customer.
Planning dan Monitoring Proses Produksi
Mari memasuki intinya. PPIC menjadi semacam Conection point dan Gate, antara
dunia luar dan Internal perusahaan dalam konteks realisasi produk. PPIC harus
memberikan informasi yang akurat mengenai proses internal ke Sales/Marketing, untuk
diteruskan ke Customer. Sama dengan dikehidupan sehari-hari, misal kita di posisi
customer, mau beli Gado-gado, kalo penjualnya lambat dan gak jelas kapan selesainya,
setiap ditanya jawabannya tidak tahu atau berulangkali sampaikan,”maaf saya cek
dulu”, hampir tidak ada kepastian kapan selesainya dan berapa banyak yang bisa
diselesaikan. Ini baru masalah gado-gado lho ya. Dalam sebuah industri, bisa saja final
product perusahaan kita menjadi material bagi industri lainnya. Misal Industri kancing
dan resleting menjadi material bagi industri Garment. Inilah salah satu konsep dari
“customer satisfaction” . Customer tidak bisa melihat langsung ke dalam “dapur”
anda, tapi bagaimana meresponse datangnya order, akan memberikan gambaran
seberapa kuat kemampuan manufacturing perusahaan anda. Disinilah vitalnya peranan
PPIC dan Sistem Informasi dalam proses planning dan monitoring .

Arrange Order
Ini merupakan tahap awal dari planning, yaitu menerima order dari Sales. Order ini bisa
berupa direct order dari customer, atau pembuatan stock untuk buffer saat peak season.
Kombinasi Make To order (MTO) dan Make To Stock (MTS). Beberapa perusahaan
menyebutnya Schedulling Rencana induk atau pembuatan Master Planning Schedule
(MPS). Schedulling ini masih belum detail, masih bersifat global dan memiliki periode
yang panjang 3 – 6 bulan. Data-data di MPS sangat penting untuk memberikan
informasi ke bagian produksi untuk mempersiapkan resourcesnya, dan ke bagian
purchasing untuk mempersiapkan material.

Alokasi & Monitoring Order


Setelah PO Customer ter input kedalam database, secara real time sistem
menginformasikan pada PPIC estimasi schedulling dan status component material.
Seperti yang saya sampaikan data dalam Arrange order masih sangat kasar dan belum
bisa dibaca oleh bagian processing. Perusahaan yang terdiri dari beberapa divisi-divisi
yang saling tergantung ( dependent) memiliki kode-kode Gruping yang berbeda-beda.
Semakin mendekati proses akhir, pembagian grup/ Line ini semakin terpecah semakin
banyak. Disinilah pentingnya PPIC memahami total alur proses realisasi produk.

Alokasi order bertujuan untuk membagi Item yang diorder kedalam tahapan-tahapan
proses mulai awal sampai delivery. Berbeda dengan arrange order, alokasi order
biasanya memiliki periode schedulling yang lebih pendek, yaitu sekitar 2 – 4 minggu ,
kecuali jika suatu Line benar-benar mendapat order yang kapasitasnya melebihi dari
30 hari ( tentunya ketentuan ini bervariasi disetiap perusahaan ). Tidak semua item
dimulai dari proses awal, inilah pentingnya database WIP, beberapa komponen-
komponen pendukung reguler juga distock dalam batas optimal di masing-masing
divisi. Sistem memberikan pergerakan barang persediaan diseluruh tahapan.
Tipe Produksi :

Make-to-Stock
yaitu sistem produksi yang dilakukan bila produsen membuat (memproduksi)
produk atau item sebagai suatu persediaan sebelum pesanan dari komsumen
diterima.

Assemble-to-Order
yaitu sistem produksi yang dilakukan bila produsen membuat desain standard yang
terdiri atas beberapa komponen dan merakit (assembly) suatu kombinasi tertentu
dari komponen tersebut sesuai dengan pesanan konsumen. Komponen-komponen
standar tersebut bias dirakit untuk berbagai tipe produk. Contohnya adalah
perusahaan mobil, dimana mereka menyediakan pilihan transmisi secara manual
/otomatis, AC, Audio, Interior, dan engine khsusus dengan berbagai varian.
Komponen-komponen tersebut telah disiapkan (diproduksi) terlebih sejak awal dan
baru akan dirakit menjadi mobil utuh behitu ada pesanan dari agen.

Make-to-Order

yaitu sistem produksi yang dilakukan bila produsen membuat (memproduksi) suatu
produk/item “jika & hanya jika” telah menerima pesanan dari komsumen untuk
produk atau item tersebut.

Engineering-to-Order

yaitu sistem produksi yang dilakukan bila pemesan meminta produsen untuk
membuat produk yang dimulai dari proses perancangannya (rekayasa).
Aliran Proses :

Fixed Site (Project)


Pada tipe project, material, tools, dan personel dialokasikan pada produk yang dibuat.
Secara ekstrim dikatakan bahwa tidak ada aliran produk pada tipe ini, tetapi masih
terdapat urutan operasi. Bentuk operasi pada project digunakan ketika terdapat
kebutuhan khusus/spesial yang memerlukan kreativitas dan keunikan. Hal ini sulit
diotomasikan pada proses manufaktur, karena hanya dilakukan satu kali. Project
memerlukan biaya tinggi dengan perencanaan dan pengendalian yang sulit, sebab berat
pada tahap definisi initial dengan tingkat perubahan-perubahan dan inovasi yang tinggi.

Job Shop (Jumbled Flow)


Pada proses job shop, man dan machine dikelompokkan menjadi stasiun kerja (semua
bor pada satu stasiun kerja, gerinda, dan sebagainya). Aliran produk dan job hanya pada
stasiun kerja yang dibutuhkan. Keuntungannya, dengan mesin yang berfungsi umum
(general-purpose equipment) dan operator berketerampilan tinggi membuat proses
manufaktur job shop fleksibel dalam merespon perubahan disain dan volume pesanan
konsumen. Kerugiannya, tidak efisien.

Flow Shop
Meliputi small batch line flow, large batch (repetitive)line flow, dan continuous line
flow. Flow Shop disusun dari stasiun kerja dalam urutan operasi untuk membuat
produk. Semua produk mengikuti standar produk yang ditentukan. Lintas rakitan
automobile merupakan contoh bagus untuk proses flow shop.
Tata Letak :

Fixed position layout

Fixed position layout disebut juga layout dengan posisi tetap. Artinya pengaturan
fasilitas produksi dalam membuat produk, dengan meletakkan produk yang dibuat tetap
atau tidak dipindah-pindah. Mesin, karyawan, dan fasilitas produksi lain yang berpindah
mengelilingi produk yang dikerjakan sesuai dengan kebutuhan. Contoh: pembuatan
produk pesawat terbang, kapal laut, dan lain-lain.

Process layout
Process layout disebut juga layout fungsional. Artinya pengaturan letak fasilitas
produksi di dalam pabrik didasarkan atas fungsi bekerjanya setiap mesin atau fasilitas
produksi yang ada. Mesin atau fasilitas yang memiliki fungsi yang sama dikelompokkan
dan diletakkan pada tempat yang sama. Layout ini biasanya digunakan untuk membuat
barang yang beragam. Dalam layout ini arus barang selalu berubah, tergantung pada
kebutuhan mesin yang digunakan untuk membuat suatu produk. Contoh: berbagai
produk dan besi.

Product flow layout

Product flow layout disebut juga layout garis. Artinya pengaturan letak mesin-mesin
atau fasilitas produksi dalam suatu pabrik didasarkan atas urut-urutan proses produksi
dalam membuat suatu produk. Produk yang dikerjakan setiap hari selalu sama dan arus
produk yang dikerjakan juga selalu sama, seolah-olah menyerupai garis, meskipun tidak
selalu berupa garis lurus.
Peramalan/ Forecasting
Peramalan adalah proses untuk memperkirakan berapa kebutuhan di masa mendatang
yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu, dan lokasi yang
dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang ataupun jasa.

Peramalan mungkin tidak selalu dibutuhkan dalam kondisi permintaan pasar yang
stabil, karena perubahan permintaannya relatif kecil. Tetapi peramalan akan sangat
dibutuhkan bila kondisi keadaan pasar bersifat kompleks dan dinamis.
Dalam kondisi pasar bebas, permintaan pasar lebih banyak bersifat kompleks dan
dinamis karena permintaan tersebut akan bergantung kepada keadaan sosial, ekonomi,
politik, aspek teknologi, produk pesaingm dan produk substitusi. Oleh karena itu,
peramalan yang akurat merupakan informasi yang sangat dibutuhkan dalam
pengambilan keputusan manajemen.

Peramalan dan Horizon Waktu


Dalam hubunganya dengan horison waktu, peramalan dapat diklasifikasikan ke dalam
tiga kelompok, yaitu:
1. Peramalan Jangka Panjang, umumnya 2 sampai 10 tahun. Peramalan ini digunakan
untuk perencanaan produk dan perencanaan sumberdaya.
2. Peramalan Jangka Menengah, umumnya 1 sampai 24 bulan. Peramalan ini lebih
khusus dibandingkan peramalan jangka panjang, biasanya digunakan untuk menentukan
aliran kas, perencanaan produksi, dan penentuan anggaran.
3. Peramalan Jangka Pendek, umumnya 1 sampai 5 minggu. Peramalan ini digunakan
untuk mengambil keputusan dalam hal perlu tidaknya lembur, penjadwalan kerja, dan
keputusan kontrol jangka pendek lainnya.
Karaketeristik Peramalan yang Baik
Peramalan yang baik mempunyai beberapa kriteria yang penting antara lain sebagai
berikut :

· Akurasi. Akurasi dari suatu hasil peramalan diukur dengan kebiasaan dan
konsistensi peramalan tersebut. Hasil peramalan dikatakan bias bila peramalan tersebut
terlalu tinggi atau terlalu rendah dibandingkan dengan kenyataan yang sebenarnya
terjadi. Hasil peramalan dikatakan konsisten bila besarnya kesalahan peramalan relatif
kecil. Peramalan yang terlalu rendah, akan mengakibatkan kekurangan persediaan,
sehingga permintaan konsumen tidak dapat dipenuhi segera, akibatnya adalah
perusahaan dimungkinkan kehilangan pelanggan dan kehilangan keuntungan penjualan.
Peramalan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terjadinya penumpukan persediaan,
sehingga banyak modal yang terserap sia-sia. Keakuratan dari hasil peramalan ini
berperan penting dalam menyeimbangkan persediaan yang ideal, yaitu meminimasi
penumpukan persediaan dan memaksimasi tingkat pelayanan.

· Biaya. Biaya yang diperlukan dalam pembuatan suatu peramalan bergantung


kepada jumlah item yang diramalkan, lamanya periode peramalan, dan metode
peramalan yang dipakai. Ketiga faktor pemicu biaya tersebut akan mempengaruhi
berapa banyak data yang dibutuhkan, Bagaimana pengolahan datanya, yaitu secara
manual atau komputerisasi, bagaimana penyimpanan datanya, dan siapa tenaga ahli
yang diperbantukan. Pemilihan metode peramalan harus disesuaikan dengan dana yang
tersedia dan tingkat akurasi yang ingin didapat, misalnya item-item yang penting akan
diramalkan dengan metode yang canggih dan mahal, sedangkan item-item yang kurang
penting bisa diramalkan dengan metode yang sederhana dan murah. Prinsip ini
merupakan adopsi dari Hukum Pareto (Analisis ABC).

· Kemudahan. Penggunaan metode peramalan yang sederhana, mudah dibuat,


dan mudah diaplikasikan, akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Adalah
percuma memakai metode yang canggih, tetapi tidak dapat diaplikasikan pada sistem
perusahaan karena keterbatasan dana, sumberdaya manusia, maupun peralatan
teknologi.
Sifat Hasil Peramalan
Dalam membuat peramalan atau menerapkan hasil suatu peramalan, terdapat beberapa
hal yang harus dipertimbangkan, yaitu:

· Peramalan pasti mengandung kesalahan, artinya peramal hanya bisa mengurangi


ketidakpastian yang akan terjadi, tetapi tidak dapat menghilangkan ketidakpastian
tersebut.

· Peramalan seharusnya memberikan informasi tentang berapa ukuran kesalahan,


artinya karena peramalan pasti mengandung kesalahan, maka adalah penting bagi
peramal untuk menginformasikan seberapa besar kesalahan yang mungkin terjadi.

· Peramalan jangka pendek lebih akurat dibandingkan peramalan jangka panjang.


Hal ini disebabkan pada peramalan jangka pendek, sejumlah faktor yang mempengaruhi
permintaan relatif masih konstan, sementara semakin panjang periode peramalan,
semakin besar pula kemungkinan terjadinya perubahan faktor yang mempengaruhi
permintaan.
Metode Peramalan
Secara umum, peramalan diklasifikasika menjadi 2 macam, yaitu :

1. Peramalan yang bersifat subyektif

2. Peramalan yang bersifat obyektif

Perbedaan antara kedua macam peramalan ini didasarkan pada cara mendapatkan nilai-
nilai ramalan.

Peramalan Subjektif

Peramalan subyektif lebih menekankan pada keputusan-keputusan hasil diskusi,


pendapat pribadi seseorang, dan intuisi yang meskipun kelihatanya kurang ilmiah tetapi
dapat memberikan hasil yang baik. Peramalan subyektif ini akan diwakili oleh metoda
delphi dan metoda penelitian pasar.

Peramalan Objektif
Peramalan objektif merupakan prosedur peramalan yang mengikuti aturan-aturan
matematis dan statistik dalam menunjukan hubungan antara permintaan dengan satu
atau lebih variabel yang mempengaruhinya. Selain itu peramalan objektif juga
mengasumsikan bahwa tingkat keeratan dan macam dari hubungan antara variabel-
variabel bebas dengan permintaan yang terjadi pada masa lalu akan berulang juga pada
masa yang akan datang. Peramalan objektif terdiri atas dua metoda, yaitu metoda
intristik dan metoda ektrinsik.
Pada metode kausal terdapat tiga kelompok metode
yang sering dipakai :
1. Metoda regresi dan korelasi memakai teknik kuadrat terkecil (least square). Metoda
ini sering digunakan untuk prediksi jangka pendek. Contohnya: meramalkan hubungan
jumlah kredit yang diberikan dengan giro, deposito dan tabungan masyarakat.

2. Metoda ekonometri berdasarkan pada persamaan regresi yang didekati secara


simultan. Metoda ini sering digunakan untuk perencanaan ekonomi nasional dalam
jangka pendek maupun jangka panjang. Contohnya: meramalkan besarnya indikator
moneter buat beberapa tahun ke depan, hal ini sering dilakukan pihak BI tiap tahunnya.

3. Metoda input output biasa digunakan untuk perencanaan ekonomi nasional jangka
panjang. Contohnya: meramalkan pertumbuhan ekonomi seperti pertumbuhan domestik
bruto (PDB) untuk beberapa periode tahun ke depan 5-10 tahun mendatang. Tahapan
perancangan peramalan Secara ringkas terdapat tiga tahapan yang harus dilalui dalam
perancangan suatu metoda peramalan,
yaitu :
- Melakukan analisa pada data masa lampau. Langkah ini bertujuan untuk
mendapatkan gambaran pola dari data bersangkutan.
- Memilih metoda yang akan digunakan. Terdapat bermacam-macam metoda yang
tersedia dengan keperluannya. Metoda yang berlainan akan menghasilkan sistem
prediksi yang berbeda pula untuk data yang sama. Secara umum dapat dikatakan bahwa
metoda yang berhasil adalah metoda yang menghasilkan penyimpangan (error) sekecil
kecilnya antara hasil prediksi dengan kenyataan yang terjadi.
- Proses transformasi dari data masa lampau dengan menggunakan metode yang
dipilih. Kalau diperlukan, diadakan perubahan sesuai kebutuhannya.
KESIMPULAN
PPIC (Production Planning and Iventory Control) adalah kegiatan merencanakan
produksi dan mengontrol kebutuhan bahan baku agar proses produksi (manufaktur)
dapat berjalan dengan baik (efektif dan efisien).

1. Kedudukan PPIC dalam suatu perusahaan sangat penting dikarenakan dengan


adanya departemen PPIC perusahaan manufaktur akan dapat melakukan
efektifitas dan efisiensi dalam operasional perusahaan maupun dalam
ketersediaan bahan baku yang memadahi.
2. Pekerjaan PPIC dapat berjalan lebih efektif dan efisien apabila kita dapat
mengetahui kapasitas produksi, mengetahui forecast penjualan, mengetahui
customer order, mengetahui formula produk, mengetahui proses produksi,
mengetahui kualitas produk, mengetahui kapasitas gudang, mengetahui lead
time pembelian, mengetahui quantity minimum order, mengetahui bahan baku
alternatif, mengetahui kapasitas ekspedisi, mengetahui lead time pengiriman,
mengetahui safety stock raw material dan finish good.
SARAN
1. Karena cakupan PPIC yang sangat luas, maka penelitian lebih lanjut sangat
disarankan agar dapat digali lebih dalam dan dapat lebih mengembangkan fungsi
dari PPIC.
2. Fungsi dan konsep dasar PPIC yang terdapat pada makalah adalah merupakan
contoh bentuk dasarnya saja. Implementasi pada bentuk perusahaan
(manufaktur) yang sesungguhnya masih membutuhkan banyak penyesuaian
tergantung dari jenis perusahaan dan faktor permasalahan yang muncul.
DAFTAR PUSTAKA
1. Bedworth, D.D., dan Bailey, J.E, Integrated Production Control System
(Management, Analysis, Design), John wiley dan Sons, NY, 1987
2. Fogarty, D.W., Blackstone. JH. Dan Hoffman, T.R., Production and Inventory
Management, South-Western Publishing Co., Cincinnati, 1991
3. 3. Tersine J., Production Planning and Inventory Control
4. Biegel, J.E., Production Control: a Quantitativ Approach, Prentice Hall, 1980
5. A.H. Nasution, Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Gama Widya, Jakarta

Anda mungkin juga menyukai