0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
195 tayangan55 halaman

Terapi Nonfarmakologis untuk RA

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang penyakit arthritis rematoid yang merupakan penyakit inflamasi sistemik kronis yang dapat menyerang berbagai jaringan dan organ terutama sendi, prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia, dan manfaat penelitian tentang penerapan kompres jahe merah untuk menurunkan nyeri pada pasien arthritis rematoid."

Diunggah oleh

yengki_eko5605
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
195 tayangan55 halaman

Terapi Nonfarmakologis untuk RA

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang penyakit arthritis rematoid yang merupakan penyakit inflamasi sistemik kronis yang dapat menyerang berbagai jaringan dan organ terutama sendi, prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia, dan manfaat penelitian tentang penerapan kompres jahe merah untuk menurunkan nyeri pada pasien arthritis rematoid."

Diunggah oleh

yengki_eko5605
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Arthritis Rematoid merupakan penyakit inflamasi sistemik kronis, inflamasi

sistemik yang dapat mempengaruhi banyak jaringan dan organ, terutama

menyerang fleksibel (sinovial) sendi dan merupakan suatu penyakit yang telah

lama dikenal dan tersebar luas diseluruh dunia yang secara simetris mengalami

peradangan sehingga akan terjadi pembengkakan, nyeri dan ahirnya menyebabkan

kerusakan bagian dalam sendi dan akan mengganggu aktivitas/pekerjaan penderita

(Junaidi, 2006) dalam (Angriani, Dewi, & Novayelinda, 2013).

Menurut World Health Organisation (2016) 335 juta penduduk di dunia yang

mengalami Rematik artinya 1 dari 6 orang di dunia ini menderita Artritis

Rhematoid dan diperkirakan angka terus bertambah hingga tahun 2025 dengan

indikasi lebih dari 25% akan mengalami kelumpuhan (Hongkong, Rawat, &

Spesialis, 2018) . Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa prevalensi penderita

rematik di Indonesia mengalami penurunan menjadi 7,3% bila dibandingkan

dengan data rematik pada Riskesdas 2013 yang berada pada 11,9% dan prevalensi

rematik di Papua Barat berada pada angka 8,3% (Kemenkes RI, 2018).

Prevalensi Arthritis Rhematoid diIndonesia cukup tinggi yaitu mencapai

15,5% pada wanita dan 12,7% pada pria. Prevalensi yang cukup tinggi dan

1
sifatnya yang lebih besar baik dinegara maju maupun dinegara berkembang

diperkirakan 1-2 juta orang penderita cacat karena tidak melakukan

pencegahan/perawatan diri pada penderita Arthritis Rhematoid (Nursyamsi Norma

Lalla, 2011)

Penyakit Arthritis Rhematoid yang banyak diderita masyarakat, baik di

pedesaan maupun di perkotaan. Penyakit ini merupakan penyakit persendian yang

menimbulkan gangguan kronik yang dapat menyerang berbagai sistem organ

persendian (Noer, 2012) dalam (Fillah Muty Syahidah et al, 2018) .

Penanganan secara non farmakologis pada penyakit arthritis Rhematoid

adalah dengan berbagai terapi komplementer. Terapi komplementer yang

dimaksud diantarnya adalah terapi bekam, terapi senam, terapi tanaman herbal dan

terapi kompres hangat memakai jahe merah. Jahe merah memiliki kandungan air

(81%), minyak atsiri (3.9%), dan ekstrak yang larut dalam alkohol (9.93%), aroma

sangat tajam, dan mempunyai rasa yang sangat pedas dibanding jenis jahe lainnya

(Andhika et al, 2016) .

Hasil penelitian Ani Rima Putri pada pasien Arthritis Rhematoid di Wilayah

Kerja Puskesmas Alianyang Kota Pontianak disimpulkan bahwa Ada pengaruh

terapi kompres hangat menggunakan jahe merah terhadap nyeri pada pasien gout

arthritis dan disimpulkan bahwa terdapat perbedaan efektifitas terapi kompres jahe

merah dengan kompres air hangat (Ani Rima Putri, 2018).

2
B. Perumusan Masalah

Di Indonesia saat ini telah terjadi transisi epidemiologi penyakit menular ke

penyakit tidak menular, salah satunya adalah penyakit Arthritis Rhematoid..

Prevalensi kasusnya mengalami peningkatan setiap tahun dan masalah yang sering

diderita oleh pasien Arthritis Rheumatoid adalah nyeri. Penatalaksanaan arthritis

dapat dilakukan melalui terapi farmakologi dan nonfarmakologi. Sebagai tindakan

keperawatan mandiri, peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana penerapan

asuhan keperawatan pada pasien arthritis rhematoid.

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Mengaplikasikan asuhan keperawatan pada pasien Tn. YM dengan

arthritis rhematoid di Wilayah Kerja Puskesmas Seget Kabupaten Sorong.

2. Tujuan Khusus

a. Peneliti mampu melakukan pengkajian pada klien dengan arthritis

rhematoid.

b. Peneliti mampu merumuskan diagnosa yang muncul pada klien dengan

arthritis rhematoid.

c. Peneliti mampu menyusun intervensi dari diagnosa yang muncul pada klien

dengan arthritis rhematoid.

d. Peneliti mampu melakukan implementasi asuhan keperawatan pada klien

3
dengan arthritis rhematoid.

e. Peneliti mampu melakukan evaluasi hasil implementasi asuhan

keperawatan pada klien dengan arthritis rhematoid.

f. Peneliti mampu menganalisis hasil implementasi asuhan keperawatan pada

klien dengan arthritis rhematoid.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Pasien dan Keluarganya

Sebagai tambahan informasi pada masyarakat luas tentang penerapan

pemberian rebusan daun seledri sebagai cara penanganan non farmakologis

untuk menurunkan intensitas nyeri pada klien dengan arthritis rhematoid. dan

dapat diaplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

2. Bagi Perawat

Sebagai tambahan referensi untuk meningkatkan mutu pelayanan asuhan

keperawatan secara mandiri pada klien dengan arthritis rhematoid

menggunakan kompres jahe merah sebagai terapi nonfarmakologi.

3. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai salah satu wacana dan tambahan informasi tentang salah satu

tindakan mandiri perawat dalam pemberian kompres jahe merah sebagai bentuk

terapi nonfarmakologi untuk menurunkan intensitas nyeri pada penderita

arthritis rhematoid yang bisa diaplikasikan dirumah sakit.

4. Bagi Penulis

4
Sebagai tambahan informasi, ilmu pengetahuan dan pengalaman tentang

penerapan pemberian kompres jahe merah sebagai bentuk terapi

nonfarmakologi untuk menurunkan intensitas nyeri pada penderita arthritis

rhematoid..........

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Medis Arthritis Rhematoid

1. Pengertian

Rhematoid Arthritis (RA) adalah penyakit autoimun yang etiologinya

belum diketahui dan ditandai oleh sinovitis erosif yang simetris dan pada

beberapa kasus disertai keterlibatan jaringan ekstraartikular. Perjalanan

penyakit RA ada 3 macam yaitu monosiklik, polisiklik dan progresif.

Sebagian besar kasus perjalananya kronik kematian dini (Perhimpunan

rheumatologi Indonesia, 2016) .

Kata arthritis berasal dari bahasa Yunani, “arthon” yang berarti sendi,

dan “itis” yang berarti peradangan. Secara harfiah, arthritis berarti radang

pada sendi. Sedangkan Rhematoid Arthritis adalah suatu penyakit autoimun

dimana persendian (biasanya tangan dan kaki) mengalami peradangan,

sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali menyebabkan kerusakan

pada bagian dalam sendi (Fera Bawarodi, 2017).

Penyakit ini sering menyebabkan kerusakan sendi, kecacatan dan

banyak mengenai penduduk pada usia produktif sehingga memberi dampak

sosial dan ekonomi yang besar. Diagnosis dini sering menghadapai kendala

6
karena pada masa dini sering belum didapatkan gambaran karakteristik yang

baru akan berkembang sejalan dengan waktu dimana sering sudah terlambat

untuk memulai pengobatan yang adekuat (Elsi, 2018).

2. Faktor Risiko Arthritis Rhematoid

Faktor risiko yang berhubungan dengan peningkatan kasus RA

dibedakan menjadi dua yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan

faktor risiko yang dapat dimodifikasi (Perhimpunan Reumatologi Indonesia,

2014) :

a. Tidak Dapat Dimodifikasi

1) Faktor genetik

Faktor genetik berperan 50% hingga 60% dalam perkembangan RA.

Gen yang berkaitan kuat adalah HLA-DRB1. Selain itu juga ada gen

tirosin fosfatase PTPN 22 di kromosom 1. Perbedaan substansial pada

faktor genetik RA terdapat diantara populasi Eropa dan Asia. HLA-

DRB1 terdapat di seluruh populasi penelitian, sedangkan polimorfisme

PTPN22 teridentifikasi di populasi Eropa dan jarang pada populasi Asia.

Selain itu ada kaitannya juga antara riwayat dalam keluarga dengan

kejadian RA pada keturunan selanjutnya.

2) Usia

RA biasanya timbul antara usia 40 tahun sampai 60 tahun. Namun

penyakit ini juga dapat terjadi pada dewasa tua dan anak-anak

7
(Rhematoid Arthritis Juvenil). Dari semua faktor risiko untuk timbulnya

RA, faktor ketuaan adalah yang terkuat. Prevalensi dan beratnya RA

semakin meningkat dengan bertambahnya usia. RA hampir tak pernah

pada anak-anak, jarang pada usia dibawah 40 tahun dan sering pada usia

diatas 60 tahun.

3) Jenis kelamin

RA jauh lebih sering pada perempuan dibanding laki-laki dengan rasio

3 : 1. Meskipun mekanisme yang terkait jenis kelamin masih belum

jelas. Perbedaan pada hormon seks kemungkinan memiliki pengaruh.

b. Dapat Dimodifikasi

1) Gaya hidup

a) Status sosial ekonomi

Penelitian di Inggris dan Norwegia menyatakan tidak terdapat kaitan

antara faktor sosial ekonomi dengan RA, berbeda dengan penelitian

di Swedia yang menyatakan terdapat kaitan antara tingkat pendidikan

dan perbedaan paparan saat bekerja dengan risiko RA.

b) Merokok

Sejumlah studi cohort dan case-control menunjukkan bahwa rokok

tembakau berhubungan dengan peningkatan risiko RA. Merokok

berhubungan dengan produksi dari Rhematoid factor(RF) yang akan

berkembang setelah 10 hingga 20 tahun. Merokok juga berhubungan

8
dengan gen ACPA-positif RA dimana perokok menjadi 10 hingga 40

kali lebih tinggi dibandingkan bukan perokok.

c) Diet

Banyaknya isu terkait faktor risiko RA salah satunya adalah makanan

yang mempengaruhi perjalanan RA. Dalam penelitian Pattison dkk,

isu mengenai faktor diet ini masih banyak ketidakpastian dan

jangkauan yang terlalu lebar mengenai jenis makanannya. Penelitian

tersebut menyebutkan daging merah dapat meningkatkan risiko RA

sedangkan buah-buahan dan minyak ikan memproteksi kejadian RA.

Selain itu penelitian lain menyebutkan konsumsi kopi juga sebagai

faktor risiko namun masih belum jelas bagaimana hubungannya.

d) Infeksi

Banyaknya penelitian mengaitkan adanya infeksi Epstein Barr Virus

(EBV) karena virus tersebut sering ditemukan dalam jaringan

sinovial pada pasien RA. Selain itu juga adanya parvovirus B19,

Mycoplasma pneumoniae, Proteus, Bartonella, dan Chlamydia juga

meningkatkan risiko RA.

e) Pekerjaan

Jenis pekerjaan yang meningkatkan risiko RA adalah petani,

pertambangan, dan yang terpapar dengan banyak zat kimia namun

9
risiko pekerjaan tertinggi terdapat pada orang yang bekerja dengan

paparan silica.

f) Faktor hormonal Hanya faktor reproduksi yang meningkatkan risiko

RA yaitu pada perempuan dengan sindrom polikistik ovari, siklus

menstruasi ireguler, dan menarche usia sangat muda.

g) Bentuk tubuh Risiko RA meningkat pada obesitas atau yang

memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih dari 30.

3. Etiologi dan Patofisiologi Rhematoid Arthritis

Penyebab pasti masih belum diketahui secara pasti dimana merupakan

penyakit autoimun yang dicetuskan faktor luar (infeksi, cuaca) dan faktor

dalam (usia, jenis kelamin, keturunan, dan psikologis). Diperkirakan infeksi

virus dan bakteri sebagai pencetus awal RA. Sering faktor cuaca yang lembab

dan daerah dingin diperkirakan ikut sebagai faktor pencetus (Angriani et al.,

2013).

Patogenesis terjadinya proses autoimun, melalui reaksi imun komplek

dan reaksi imunitas selular. Tidak jelas antigen apa sebagai pencetus awal,

mungkin infeksi virus. Terjadi pembentukan faktor rematoid, suatu antibodi

terhadap antibodi abnormal, sehingga terjadi reaksi imun komplek (autoimun)

(Angriani et al., 2013).

Proses autoimun dalam patogenesis RA masih belum tuntas diketahui,

dan teorinya masih berkembang terus. Dikatakan terjadi berbagai peran yang

10
saling terkait, antara lain peran genetik, infeksi, autoantibodi serta peran

imunitas selular, humoral, peran sitokin, dan berbagai mediator keradangan

(Putra dkk,2013) dalam (Dedy Setya Nugraha, 2017).

Proses peradangan karena autoimun pada RA, ditunjukkan dari

pemeriksaan laboratorium dengan adanya RF (Rhematoid Factor) dan anti-

CCP dalam darah. RF adalah antibodi terhadap komponen Fc dari IgG. Jadi

terdapat pembentukan antibodi terhadap antibodi dirinya sendiri, akibat

paparan antigen luar, kemungkinan virus atau bakteri.

Kerusakan sendi diawali dengan reaksi inflamasi dan pembentukan

pembuluh darah baru pada membran sinovial. Kejadian tersebut menyebabkan

terbentuknya pannus, yaitu jaringan granulasi yang terdiri dari sel fibroblas

yang berproliferasi, mikrovaskular dan berbagai jenis sel radang (Choy, 2012)

dalam (Perhimpunan rheumatologi Indonesia, 2016).

4. Manifestasi Klinis, Pemeriksaan Penunjang dan Diagnosis Rhematoid

Arthritis (Khoirunnisa, Novitasari, 2015)

a. Manifestasi Klinis

Keluhan biasanya mulai secara perlahan dalam beberapa minggu atau

bulan. Sering pada keadan awal tidak menunjukkan tanda yang jelas.

Keluhan tersebut dapat berupa keluhan umum, keluhan pada sendi dan

keluhan diluar sendi (Putra dkk,2013), seperti :

11
1) Keluhan umum

Keluhan umum dapat berupa perasaan badan lemah, nafsu makan

menurun, peningkatan suhu tubuh yang ringan dan penurunan berat

badan.

2) Kelainan sendi

Terutama mengenai sendi kecil dan simetris yaitu sendi pergelangan

tangan, lutut dan kaki (sendi diartrosis). Sendi lainnya juga dapat

terkena seperti sendi siku, bahu sternoklavikula, panggul, pergelangan

kaki. Kelainan tulang belakang terbatas pada leher. Keluhan sering

berupa kaku sendi di pagi hari, panggul, pergelangan kaki. Kelainan

tulang belakang terbatas pada leher. Keluhan sering berupa kaku sendi

di pagi hari, pembengkakan dan nyeri sendi.

3) Kelainan diluar sendi

a) Kulit : nodul subkutan (nodul rematoid)

b) Jantung : kelainan jantung yang simtomatis jarang didapatkan,

namun 40% pada autopsi RA didapatkan kelainan perikard

c) Paru : kelainan yang sering ditemukan berupa paru obstruktif dan

kelainan pleura (efusi pleura, nodul subpleura)

d) Saraf : berupa sindrom multiple neuritis akibat vaskulitis yang sering

terjadi berupa keluhan kehilangan rasa sensoris di ekstremitas dengan

gejala foot or wrist drop

12
e) Mata : terjadi sindrom sjogren (keratokonjungtivitis sika) berupa

kekeringan mata, skleritis atau eriskleritis dan skleromalase perforans

f) Kelenjar limfe : sindrom Felty adalah RA dengan spleenomegali,

limpadenopati, anemia, trombositopeni, dan neutropeni

5. Pemeriksaan Penunjang (Perhimpunan rheumatologi Indonesia, 2016)

a. Laboratorium

1) Penanda inflamasi : Laju Endap Darah (LED) dan C Reactive Protein

(CRP) meningkat

2) Rhematoid Factor (RF) : 80% pasien memiliki RF positif namun RF

negatif tidak menyingkirkan diagnosis

3) Anti Cyclic Citrullinated Peptide (anti CCP) : Biasanya digunakan

dalam diagnosis dini dan penanganan RA dengan spesifisitas 95-98%

dan sensitivitas 70% namun hubungan antara anti CCP terhadap

beratnya penyakit tidak konsisten

b. Radiologis

Dapat terlihat berupa pembengkakan jaringan lunak, penyempitan ruang

sendi, demineralisasi “juxta articular”, osteoporosis, erosi tulang, atau

subluksasi sendi.

6. Diagnosis

Terdapat beberapa kesulitan dalam mendeteksi dini penyakit RA. Hal

ini disebabkan oleh onset yang tidak bisa diketahui secara pasti dan hasil

13
pemeriksaan fisik juga dapat berbeda-beda tergantung pada pemeriksa.

Meskipun demikian, penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa alat

ukur diagnosis RA dengan ARA (American Rheumatism Association) yang

direvisi tahun 1987 memiliki sensitivitas 91%. Hasil laboratorium yang

digunakan dalam mendiagnosis RA ditemukan kurang sensitif dan spesifik.

Sebagai contoh, IGM Rhematoid Factor memiliki spesifisitas 90% dan

sensitivitas hanya 54%. (Bresnihan, 2002) dalam (Elsi, 2018).

Berikut adalah kriteria ARA (American Rheumatism Association) yang

direvisi tahun 1987 yang masih dapat digunakan dalam mendiagnosis RA

(Khoirunnisa et al., 2015) :

a. Kaku pagi hari pada sendi dan sekitarnya, sekurang-kurangnya selama 1

jam sebelum perbaikan maksimal.

b. Pembengkakan jaringan lunak atau persendian (arthritis) pada 3 daerah

sendi atau lebih secara bersamaan.

c. Artritis pada persendian tangan sekurang-kurangnya terjadi satu

pembengkakan persendian tangan yaitu PIP (proximal interphalangeal),

MCP (metacarpophalangeal), atau pergelangan tangan.

d. Artritis simetris, keterlibatan sendi yang sama pada kedua belah sisi

misalnya PIP (proximal interphalangeal), MCP (metacarpophalangeal),

atau MTP (metatarsophalangeal).

14
e. Nodul Rhematoid, yaitu nodul subkutan pada penonjolan tulang atau

permukaan ekstensor atau daerah juksta artikuler.

f. Rhematoid Factor serum positif

g. Perubahan gambaran radiologis yang khas pada RA pada sendi tangan atau

pergelangan tangan yaitu erosi atau dekalsifikasi tulang pada sendi yang

terlibat.

Diagnosa RA, jika sekurang-kurangnya memenuhi 4 dari 7 kriteria diatas dan

kriteria 1 sampai 4 harus ditemukan minimal 6 minggu.

7. Tatalaksana

a. Pencegahan

Etiologi penyakit RA ini belum diketahui secara pasti, namun berdasarkan

penelitian-penelitian sebelumnya, ada beberapa hal yang dapat dilakukan

untuk menekan faktor risiko (Friska & Daryono, 2017) :

1) Membiasakan berjemur di bawah sinar matahari pagi untuk mengurangi

risiko peradangan oleh RA. Oleh penelitian Nurses Health Study AS

yang menggunakan 1.314 wanita penderita RA didapatkan mengalami

perbaikan klinis setelah rutin berjemur di bawah sinar UV-B.

2) Melakukan peregangan setiap pagi untuk memperkuat otot sendi.

Gerakan-gerakan yang dapat dilakukan antara lain, jongkok-bangun,

menarik kaki ke belakang pantat, ataupun gerakan untuk melatih otot

lainnya. Bila mungkin, aerobik juga dapat dilakukan atau senam taichi.

15
3) Menjaga berat badan. Jika orang semakin gemuk, lutut akan bekerja

lebih berat untuk menyangga tubuh. Mengontrol berat badan dengan

diet makanan dan olahraga dapat mengurang risiko terjadinya radang

pada sendi.

4) Mengonsumsi makanan kaya kalsium seperti almond, kacang polong,

jeruk, bayam, buncis, sarden, yoghurt, dan susu skim. Selain itu vitamin

A,C, D, E juga sebagai antioksidan yang mampu mencegah inflamasi

akibat radikal bebas.

5) Memenuhi kebutuhan air tubuh. Cairan synovial atau cairan pelumas

pada sendi juga terdiri dari air. Dengan demikian diharapkan

mengkonsumsi air dalam jumlah yang cukup dapat memaksimalkan

sisem bantalan sendi yang melumasi antar sendi, sehingga gesekan bisa

terhindarkan. Konsumsi air yang disrankan adalah 8 gelas setiap hari.

(Candra, 2013)

6) Berdasarkan sejumlah penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa

merokok merupakan faktor risiko terjadinya RA. Sehingga salah satu

upaya pencegahan RA yang bisa dilakukan masyarakat ialah tidak

menjadi perokok akif maupun pasif. (Febriana, 2015).

b. Penanganan (Roscoe, Rubrum, 2016)

Penatalaksanaan pada RA mencakup terapi farmakologi, rehabilitasi

dan pembedahan bila diperlukan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga.

16
Tujuan pengobatan adalah menghilangkan inflamasi, mencegah deformitas,

mengembalikan fungsi sendi, dan mencegah destruksi jaringan lebih lanjut

(Roscoe, 2016) :

1) NSAID (Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drug)

Diberikan sejak awal untuk menangani nyeri sendi akibat inflamasi.

NSAID yang dapat diberikan atara lain: aspirin, ibuprofen, naproksen,

piroksikam, dikofenak, dan sebagainya. Namun NSAID tidak

melindungi kerusakan tulang rawan sendi dan tulang dari proses

destruksi.

2) DMARD (Disease-Modifying Antirheumatic Drug)

Digunakan untuk melindungi sendi (tulang dan kartilago) dari proses

destruksi oleh Rhematoid Arthritis. Contoh obat DMARD yaitu:

hidroksiklorokuin, metotreksat, sulfasalazine, garam emas, penisilamin,

dan asatioprin. DMARD dapat diberikan tunggal maupun kombinasi

3) Kortikosteroid

Diberikan kortikosteroid dosis rendah setara prednison 5-7,5mg/hari

sebagai “bridge” terapi untuk mengurangi keluhan pasien sambil

menunggu efek DMARDs yang baru muncul setelah 4-16 minggu.

4) Rehabilitasi

Terapi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

Caranya dapat dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat melalui

17
pemakaian tongkat, pemasangan bidai, latihan, dan sebagainya. Setelah

nyeri berkurang, dapat mulai dilakukan fisioterapi.

c. Pembedahan

Jika segala pengobatan di atas tidak memberikan hasil yang

diharapkan, maka dapat dipertimbangkan pembedahan yang bersifat

ortopedi, contohnya sinovektomi, arthrodesis, total hip replacement, dan

sebagainya (Roscoe, Rubrum, 2016).

B. KONSEP MASALAH KEPERAWATAN (NYERI)

1. Pengertian Nyeri

Nyeri adalah bentuk pengalaman sensorik dan emosional yang tidak

menyenangkan yang berhubungan dengan adanya kerusakan jaringan atau

cenderung akan terjadi kerusakan jaringan atau suatu keadaan yang

menunjukkan kerusakan jaringan (Riyandi & Mardana, 2017).

Penilaian nyeri meliputi (Khoirunnisa et al., 2015) :

a. Anamnesis umum

b. Pemeriksaan fisik

c. Anamnesis spesifik nyeri dan evaluasi ketidakmampuan yang ditimbulkan

nyeri :

1) Lokasi nyeri

2) Keadaan yang berhubungan dengan timbulnya nyeri

3) Karakter nyeri

18
4) Intensitas nyeri

5) Gejala yang menyertai

6) Efek nyeri terhadap aktivitas

7) Tatalaksana yang sudah didapat

8) Riwayat penyakit yang relevan dengan rasa nyeri

9) Faktor lain yang akan mempengaruhi tatalaksana pasien

2. Penggolongan Nyeri

Nyeri dapat digolongkan dalam berbagai cara, yaitu (Riyandi & Mardana,

2017) :

a. Menurut jenisnya : nyeri nosiseptik, nyeri neurogenik, dan nyeri

psikogenik

b. Menurut timbulnya nyeri : nyeri akut dan nyeri kronik

c. Menurut penyebabnya : nyeri onkologik dan nyeri non-onkologik

d. Menurut derajat nyerinya : nyeri ringan, sedang, dan berat

3. Derajat Nyeri (Khoirunnisa et al., 2015)

Pengukuran derajat nyeri sebaiknya dilakukan dengan tepat karena

sangat dipengaruhi oleh faktor subyektif seperti faktor fisiologis, psikologi,

lingkungan. Karenanya, anamnesis berdasarkan pada pelaporan mandiri

pasien yang bersifat sensitif dan konsisten sangatlah penting. Berbagai cara

dipakai untuk mengukur derajat nyeri, cara yang sederhana dengan

menentukan derajat nyeri secara kualitatif sebagai berikut :

19
a. Nyeri ringan adalah nyeri yang hilang timbul, terutama sewaktu melakukan

aktivitas sehari-hari dan hilang pada waktu tidur.

b. Nyeri sedang adalah nyeri terus menerus, aktivitas terganggu, yang hanya

hilang apabila penderita tidur.

c. Nyeri berat adalah nyeri yang berlangsung terus menerus sepanjang hari,

penderita tak dapat tidur atau sering terjaga oleh gangguan nyeri sewaktu

tidur.

4. Pengukuran Derajat Nyeri

Ada beberapa cara untuk membantu mengetahui akibat nyeri menggunakan

skala assessment nyeri unidimensional (tunggal) atau multidimensi (Riyandi

& Mardana, 2017) :

a. Unidimensional: - Hanya mengukur intensitas nyeri - Cocok (appropriate)

untuk nyeri akut - Skala yang biasa digunakan untuk evaluasi pemberian

analgetik - Skala assessment nyeri unidimensional ini meliputi:

1) Visual Analog Scale (VAS)

2) Verbal Rating Scale (VRS)

3) Nummeric Rating Scale (NRS)

20
4) Wong Baker Pain Rating Scale

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

No Pain Moderat Worst

(Tidak Nyeri) Pain Possible Pain

Gambar 2.1 Numering Rating Scale

Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri

yang lebih objektif. Skala pendeskripsian verbal, (Verbal Descriptor Scale,

VDS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata

pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis.

Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan meminta klien untuk

memilih intensitas nyeri terbaru yang diarasakan. Alat VDS ini

memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan

nyeri (Potter dan Perry, 2006) dalam (Andarmoyo, 2013).

b. Multidimensional

Skala pendeskripsian verbal, (Verbal Descriptor Scale, VDS)

merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata

pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis.

Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan meminta klien untuk

21
memilih intensitas nyeri terbaru yang diarasakan. Alat VDS ini

memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan

nyeri (Potter dan Perry, 2006) dalam (Andarmoyo, 2013).

1) Mengukur intensitas dan afektif (unpleasantness) nyeri

2) Diaplikasikan untuk nyeri kronis

3) Dapat dipakai untuk penilaian klinis

4)
5)

0 1-3 4-6 7-9 10

Tidak Nyeri Nyeri Nyeri Sangat

Nyeri Ringan Sedang Berat Nyeri

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Gambar 1 : Deskripsi Skala Nyeri


(Potter dan Perry, 2006) dalam Nita Kristanti, 2014)

C. Konsep Keperawatan Gerontik

1. Definisi

Gerontologi merupakan pendekatan ilmiah (scientific approach)

terhadap berbagai aspek dalam proses penuaan, seperti aspek kesehatan,

psikologis, sosial ekonomi, perilaku, lingkungan, dan lain- lain (S. Tamher,

2009) dalam (Lestari, 2016). Keperawatan gerontik atau keperawatan

22
gerontologik adalah spesialis keperawatan lanjut usia yang menjalankan

peran dan tanggung jawabnya terhadap tatanan pelayanan kesehatan dengan

menggunakan ilmu pengetahuan, keahlian, keterampilan, teknologi, dan seni

dalam merawat untuk meningkatkan fungsi optimal lanjut usia secara

komprehensif (Kushariyadi, 2010) dalam (AKPER Harum Jakarta, 2016).

Keperawatan gerontik adalah keperawatan dengan berkeahlian khusus

merawat lansia, istilah ini diberi nama untuk pertama kalinya sebagai

keperawatan geriatric (Ebersole et al, 2005) dalam (Lestari, 2016).

Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang lanjut usia dengan

masalah-masalah yang terjadi pada lansia yang meliputi aspek biologis,

sosiologis, psikologis, dan ekonomi. Gerontologi merupakan pendekatan

ilmiah (scientific approach) terhadap berbagai aspek dalam proses penuaan

(Tamher&Noorkasiani, 2009) dalam (Lestari, 2016). Menurut Miller (2004),

gerontologi merupakan cabang ilmu yg mempelajari proses manuan dan

masalah yg mungkin terjadi pada lansia. Geriatrik adalah salah satu cabang

dari gerontologi dan medis yang mempelajari khusus aspek kesehatan dari

usia lanjut, baik yang ditinjau dari segi promotof, preventif, kuratif, maupun

rehabilitatif yang mencakup kesehatan badan, jiwa, dan sosial, serta penyakit

cacat (Tamher&Noorkasiani, 2009) dalam (STIKES Muhammadiyah Klaten,

2015).

23
Menurut Kozier (1987), keperawatan gerontik adalah praktek

perawatan yang berkaitan dengan penyakit pada proses menua, sedangkan

menurut Lueckerotte (2000) keperawatan gerontik adalah ilmu yang

mempelajari tentang perawatan pada lansia yang berfokus pada pengkajian

kesehatan dan status fungsional, perencanaan, implementasi serta evaluasi.

Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.

Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-

angsur mengakibatkan perubahan kumulatif, merupakan proses menurunnya

daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh

(Badan PPSDM Kesehatan, 2016).

2. Tujuan Keperawatan Gerontik

Adapun tujuan dari gerontik adalah (Maryam, 2008) dalam (Lestari, 2016) :

a. Membantu individu lanjut usia memahami adanya perubahan pada dirinya

berkaitan dengan proses penuaan

b. Mempertahankan, memelihara, dan meningkatkan derajat kesehatan lanjut

usia baik jasmani, rohani, maupun social secara optimal

c. Memotivasi dan menggerakkan masyarakat dalam upaya meningkatkan

kesejahteraan lanjut usia

d. Memenuhi kebutuhan lanjut usia sehari-hari

e. Mengembalikan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari

f. Mempercepat pemulihan atau penyembuhan penyakit

24
3. Fungsi Perawat Gerontik

Perawat memiliki banyak fungsi dalam memberikan pelayanan prima

dalam bidang gerontik. Menurut Eliopoulus (2005), fungsi dari perawat

gerontologi adalah :

a. Guide persons of all ages toward a healthy aging process (membimbing

orang pada segala usia untuk mencapai masa tua yang sehat)

b. Eliminate ageism (menghilangkan perasaan takut tua

c. Respect the tight of older adults and ensure other do the same

(menghormati hak orang yang lebih tua dan memastikan yang lain

melakukan hal yang sama)

d. Overse and promote the quality of service delivery (memantau dan

mendorong kualitas pelayanan)

e. Notice and reduce risks to health and well being (memerhatikan serta

menguragi resiko terhadap kesehatan dan kesejahteraan)

f. Teach and support caregives (mendidik dan mendorong pemberi pelayanan

kesehatan)

g. Open channels for continued growth (membuka kesempatan untuk

pertumbuhan selanjutnya)

h. Listen and support (mendengarkan dan memberi dukungan)

i. Offer optimism, encouragement and hope (memberikan semangat,

dukungan, dan harapan)

25
j. Generate, support, use, and participate in research (menghasilkan,

mendukung, menggunakan, dan berpartisipasi dalam penelitian)

k. Implement restorative and rehabilitative measures (melakukan perawatan

restorative dan rehabilitative)

l. Coordinate and managed care (mengoordinasi dan mengatur perawatan)

m. Asses, plan, implement, and evaluate care in an individualized, holistic

maner (mengkaji, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi

perawatan individu dan perawatan secara menyeluruh)

n. Link service with needs (memberikan pelayanan sesuai kebutuhan)

o. Nurtuere futue gerontological nurses for advancement of the speciality

(membangun masa depan perawat gerontik untuk menjadi ahli

dibidangnya)

p. Understand the unique physical, emotical, social, spiritual aspect of each

other (saling memahami keunikan pada aspek fisik, emosi, social, dan

spiritual)

q. Recognize and encourage the appropriate management of ethical concern

(mengenal dan mendukung manajemen etika yang sesuai dengan

tempatnya bekerja)

4. Batasan Lansia

Menurut WHO dan Depkes RI (2005) batasan lansia (Badan PPSDM

Kesehatan, 2016), adalah :

26
a. WHO (1999) menjelaskan batasan lansia adalah sebagai berikut :

1) Usia lanjut (elderly) antara usia 60-74 tahun,

2) Usia tua (old) :75-90 tahun, dan

3) Usia sangat tua (very old) adalah usia > 90 tahun.

b. Depkes RI (2005) menjelaskan bahwa batasan lansia dibagi menjadi tiga

katagori, yaitu :

1) Usia lanjut presenilis yaitu antara usia 45-59 tahun,

2) Usia lanjut yaitu usia 60 tahun ke atas,

3) Usia lanjut beresiko yaitu usia 70 tahun ke atas atau usia 60 tahun ke

atas dengan masalah kesehatan.

5. Ciri-ciri lansia

Ciri-ciri lansia adalah sebagai berikut (Badan PPSDM Kesehatan,

2016):

a. Terjadi periode kemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik

dan faktor psikologis. Motivasi memiliki peran yang penting dalam

kemunduran pada lansia.

b. Lansia memiliki status kelompok minoritas. Kondisi ini sebagai akibat dari

sikap sosial yang tidak menyenangkan terhadap lansia dan diperkuat oleh

pendapat yang kurang baik.

c. Perubahan peran karena lansia mulai mengalami kemunduran dalam segala

hal.

27
d. Penyesuaian yang buruk pada lansia karena mereka cenderung

mengembangkan konsep diri yang buruk sehingga dapat memperlihatkan

bentuk perilaku yang buruk.

6. Masalah kesehatan pada lansia

Lansia mengalami perubahan dalam kehidupannya sehingga

menimbulkan beberapa masalah. Permasalahan tersebut diantaranya yaitu :

a. Masalah fisik

Masalah yang hadapi oleh lansia adalah fisik yang mulai melemah, sering

terjadi radang persendian ketika melakukan aktivitas yang cukup berat,

indra pengelihatan yang mulai kabur, indra pendengaran yang mulai

berkurang serta daya tahan tubuh yang menurun, sehingga seringsakit.

b. Masalah kognitif ( intelektual )

Masalah yang hadapi lansia terkait dengan perkembangan kognitif, adalah

melemahnya daya ingat terhadap sesuatu hal (pikun), dan sulit untuk

bersosialisasi dengan masyarakat di sekitar.

c. Masalah emosional

Masalah yang hadapi terkait dengan perkembangan emosional, adalah rasa

ingin berkumpul dengan keluarga sangat kuat, sehingga tingkat perhatian

lansia kepada keluarga menjadi sangat besar. Selain itu, lansia sering marah

28
apabila ada sesuatu yang kurang sesuai dengan kehendak pribadi dan sering

stres akibat masalah ekonomi yang kurang terpenuhi.

d. Masalah spiritual

Masalah yang dihadapi terkait dengan perkembangan spiritual, adalah

kesulitan untuk menghafal kitab suci karena daya ingat yang mulai

menurun, merasa kurang tenang ketika mengetahui anggota keluarganya

belum mengerjakan ibadah, dan merasa gelisah ketika menemui

permasalahan hidup yang cukup serius.

D. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian (Bulecek. M. G et al, 2014)

a. Riwayat Keperawatan

1) Adanya keluhan sakit dan kekakuan pada tangan, atau pada tungkai.

2) Perasaan tidak nyaman dalam beberapa periode/waktu sebelum pasien

mengetahui dan merasakan adanya perubahan pada sendi.

b. Pemeriksaan Fisik

1) Inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing sisi (bilateral),

amati warna kulit, ukuran, lembut tidaknya kulit, dan pembengkakan.

2) Lakukan pengukuran passive range of mation pada sendi-sendi

synovial :

a) Catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak sendi)

b) Catat bila ada krepitasi

29
c) Catat bila terjadi nyeri saat sendi digerakkan

c. Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skeletal secara bilateral

a) Catat bila ada atrofi, tonus yang berkurang

b) Ukur kekuatan otot

d. Kaji tingkat nyeri, derajat dan mulainya

e. Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari

c. Riwayat Psiko Sosial

Pasien dengan Arthritis Rhematoid mungkin merasakan adanya

kecemasan yang cukup tinggi apalagi pada pasien yang mengalami

deformitas pada sendi-sendi karena ia merasakan adanya kelemahan-

kelemahan pada dirinya dan merasakan kegiatan sehari-hari menjadi

berubah. Perawat dapat melakukan pengkajian terhadap konsep diri klien

khususnya aspek body image dan harga diri klien.

2. Diagnosa Keperawatan (Mauren, 2017)

Berdasarkan tanda dan gejala yang dialami oleh pasien dengan artritis

ditambah dengan adanya data dari pemeriksaan diagnostik, maka diagnosa

keperawatan yang sering muncul yaitu :

a. Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh,

sendi, bengkok, deformitas.

b. Nyeri berhubungan dengan perubahan patologis oleh artritis rhematoid.

30
c. Risiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot, rasa nyeri.

d. Gangguan aktifitas sehari-hari berhubungan dengan terbatasnya gerakan.

e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.

f. gangguan mobilitas

3. Intervensi dan Implementasi Keperawatan (Bulecek. M. G et all, 2014)

a. Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh,

sendi, bengkok, deformitas.

1) Tujuan : klien memahami perubahan-perubahan tubuhnya akibat

proses penyakit

2) Recana/tindakan Keperawatan

a) Dorong klien untuk mengungkapkan rasa takut dan cemasnya

mengahdapi proses penyakit. Kondisi ini dapat membantu untuk

menyadari keadaan diri.

b) Berikan support yang sesuai. Hal ini dapat membantu meningkatkan

upaya menerima dirinya.

c) Dorong klien untuk mandiri. Kemandirian membantu meningkatkan

harga diri.

d) Memodifikasi lingkungan sesuai dengan kondisi klien

b. Nyeri berhubungan dengan perubahan patologis oleh artritis rhematoid.

1) Tujuan : Kebutuhan rasa nyaman klien terpenuhi atau klien terhindar

dari rasa nyeri

31
2) Recana/tindakan Keperawatan

a) Istirahatkan klien sesuai kondisi (bed rest). Hal ini dapat membantu

menurunkan stress muskuloskeletal, mengurangi tegangan otot, dan

meningkatkan relaksasi karena kelelahan dapat mendorong terjadinya

nyeri.

b) Pertahankan posisi fisiologis dengan benar atai body alignment yang

baik. Bantu dan ajari klien untuk menghindari gerakan eksternal

rotasi pada ekstremitas. Hindarkan menggunakan bantal dibawah

lutut, tetapi letakkan bantal diatara lutut, hindari fleksi leher.

c) Bila direncanakan klien dapat menggunakan splint, atau brace. Hal

ini dapat mencegah deformitas lebih lanjut.

d) Hindari gerakan yang cepat dan tiba-tiba karena dapat menimbulkan

dislokasi dan stres pada sendi-sendi

e) Lakukan perawatan dengan hati-hati khususnya pada anggota-

anggota tubuh yang sakit. Karena gerakan-gerakan yang kasar akan

semakin menimbulkan nyeri

f) Gunakan terapi panas misal kompres hangat pada area/bagian tubuh

yang sakit. Panas dapat meningkatkan sirkulasi, relaksai otot-otot,

mengurangi kekakuan. Kemungkinan juga dapat membvantu

pengeluaran endorfin yaitu sejenis morfin yang diproduksi oleh

tubuh.

32
g) Lakukan peawatan kulit dan masase perlahan. Hal ini membantu

meningkatkan aliran darah relaksasi otot, dan menghambat impuls-

impuls nyeri serta merangsang pengeluaran endorfin.

h) Memberikan obata-obatab sesuai terapi dokter misal, analgetik,

antipiretik, anti inflamasi.

c. Risiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot dan sendi

1) Tujuan : Klien terhindar dari cedera

2) Recana/tindakan Keperawatan

a) Gunakan sepatu yang menyokong, hindarkan lantai yang licin,

menggunakan pegangan dikamar mandi.

b) Lakukan latihan ROM (bila memungkinkan). Untuk meningkatkan

mobilitas dan kekuatan otot, mencegah deformitas, memperthankan

fungsi semaksimal mungkin

c) Monitor atau observasi efek penggunaan obat-obatan misal ada

perdarahan pada lambung, hematemesis.

d. Gangguan aktifitas sehari-hari (defisit self care) berhubungan dengan

terbatasnya gerakan.

1) Tujuan : Klien akan mandiri sesuai kemampuan daam memenuhi

aktifitas sehari-hari

2) Recana/tindakan Keperawatan

33
a) Ajarkan aktifitas sehari-hari agar klien mulai terkondisi untuk

melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuanyya dan bertahap.

b) Bantu klien untuk makan, berpakaian, dan kebutuhan lain selam

memang diperlukan.

e. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan sendi

1) Tujuan : Mobilitas persendian klien dapat meningkat

2) Recana/tindakan Keperawatan

a) Bantu klien untuk melakukan ROM aktif maupun pasif. Untuk

memelihara fungsi sendi dan kekuatan otot meningkatkan elasitias

serabut- serabut otot.

b) Rencanakan program latihan setiap hari (dapat bekerja sama dengan

dokter dan fisioterapi)

c) Lakukan observasi untuk setiap kali latihan

d) Berikan istirahat secara periode

e) Berikan lingkungan yang aman misal, menggunakan pegangan saat

dikamar mandi, tongkat yang ujungnya sejenis karet sehingga tidak

licin

f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.

1) Tujuan : Klien dan keluarga dapat memahami cara perawatan dirumah.

2) Recana/tindakan Keperawatan

34
a) Tekankan kembali tentang pentingnya latihan atau aktivitas yang

dianjurkan, proses penyakit dan keterbatasan-keterbatasannya.

b) Diskusi tentang diit, dan hindarkan peningkatan berat badan

c) Berikan jadwal obat-obatan yang ada, anam dosis, tujuan/efek, efek

samping dan tanda keracunan obat.

d) Jelaskan bahwa klien harus menghindari terjadinya konstipasi

e) Jelaskan, kapan klien harus periksa ulang

4. Evaluasi (Mauren, 2017)

a. Perilaku yang adaptif sehubungan dengan adanya masalah konsep diri

b. Nyeri dapat berkurang

c. Mampu untuk melakukan aktifitas sehari-hari

d. Komplikasi dapat dihindari

e. Meningkatkan mobilitas

f. Memahami cara perawatan di rumah

35
BAB III

TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian

Hari/ Tgl : Mei 2019

Jam :

Nama Mhs : Labrina Maifun

1. Identitas

a. Nama : Tn. Y

b. Tempat /tgl lahir :

c. Jenis Kelamin : Laki-laki

d. Status Perkawinan : Duda

e. Agama : Kristen Protestan

f. Suku : Papua

2. Riwayat Pekerjaan dan Status Ekonomi

a. Pekerjaan saat ini : Petani

b. Pekerjaan sebelumnya : Petani

c. Sumber pendapatan :

d. Kecukupan pendapatan :

36
3. Lingkungan tempat tinggal

a. Kebersihan dan kerapihan ruangan ? : Bersih tetapi kurang rapih

b. Penerangan ? : Pada siang hari cukup

c. Sirkulasi udara? : Cukup

d. Keadaan kamar mandi & WC? : Kamar mandi dan WC bersih

e. Pembuangan air kotor (SPAL)? : Dibuang ke pekarangan

f. Sumber air minum? : Tersedia dan bersih

g. Pembuangan sampah ?, : Sampah dibakar dipekarangan

h. Sumber pencemaran?, : Asap

i. Privasi?, : tersedia kamar

j. Risiko injuri? : Tidak ada

4. Riwayat Kesehatan

a. Status Kesehatan saat ini

1) Keluhan utama dalam 1 tahun terakhir : klien tidak dapat beraktifitas

seperti biasa karena kendala sakit pada persendian terutama tungkai bawah

2) Gejala yang dirasakan : nyeri pada waktu pagi dan malam

3) Faktor pencetus : karena udara yang dingin

4) Timbulnya keluhan : Bertahap sejak beberapa tahun ini

5) Upaya mengatasi :

a) Pergi ke RS/Klinik pengobatan/dokter praktek/bidan/perawat ? klien

berobat ke Puskesmas dan perawat yang bertugas

37
b) Mengkomsumsi obat-obatan sendiri ?, obat tradisional ? keluarga klien

biasa kompres dengan air panas dan juga minum ramuan sendiri

c) Lain-lain tidak ada

b. Riwayat Kesehatan Masa Lalu

1) Penyakit yang pernah diderita : Penyakit malaria dan Ispa

2) Riwayat alergi ( obat, makanan, binatang, debu dll ) : tidak ada

3) Riwayat kecelakaan : Tidak ada

4) Riwayat pernah dirawat di RS : Tidak ada

5) Riwayat pemakaian obat : Tidak ada

5. Pola Fungsional

a. Persepsi kesehatan dan pola manajemen kesehatan

Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan misal merokok, minuman

keras, ketergantungan terhadap obat ( jenis/frekuensi/jumlah/ lama

pakai ) : Tidak ada

b. Nutrisi metabolik

1) Frekuensi makan : 2 kali sehari

2) Nafsu makan : baik tapi terganggu bila sakit

3) Jenis makanan : nasi, ubi, ikan/daging dan sayur

4) Makanan yg tdk disukai : Ubi, ikan / daging dan sayur

5) Alergi thdp makanan : Tidak ada

38
6) Pantangan makanan : Tidak ada

7) Keluhan yang berhubungan dengan makan : Tidak ada

c. Eliminasi

1) BAK :

a) Frekuensi & waktu? : > 3 kali sehari

b) kebiasaan BAK pada malam hari? : 2 kali semalam

c) keluhan yang berhubungan dengan BAK? : Sering BAK

2) BAB :

a) Frekuensi dan waktu? : 2 kali sehari pada pagi hari

b) Konsistensi? : keras

c) Keluhan yang berhubungan dengan BAB? : sering susah BAB

d) Pengalaman memakai pencahar? : tidak pernah

d. Aktifitas Pola Latihan

1) Rutinitas mandi? : 2 kali sehari (pagi dan sore)

2) kebersihan sehari-hari? : kurang terpenuhi

3) aktifitas sehari-hari? :

4) apakah ada masalah dengan aktifitas? : tidak dapat berjalan jauh

5) kemampuan kemandirian? : terganggu dan dibantu

e. Pola istirahat tidur

39
1) Lama tidur malam?, : terganggu bila hendak BAK

2) Lama tidur siang?, : tidak terganggu (tidur 1 jam)

3) keluhan yang berhubungan dengan tidur? : Tidak ada

f. Pola Kognitif Persepsi

1) Masalah dengan penglihatan : terganggu pada mata kiri dan kanan

2) kabur?, : penglihatan kabur

3) Pakai kacamata?. : pakai kaca mata

4) Masalah pendengaran normal?, terganggu pada (kanan dan kiri)?

5) memakai alat bantu dengar ?, tuli ( ka/ki ) ? : Tidak ada.

g. Kesulitan membuat keputusan ?

h. Persepsi diri-Pola konsep diri

i. Bagaimana klien memandang dirinya ( Persepsi diri sebagai lansia?),

bagaimana persepsi klien tentang orang lain mengenai dirinya?

j. Pola Peran-Hubungan

1) Peran ikatan?,

2) kepuasan?, pekerjaan/ sosial/hubungan perkawinan ?

3) Sexualitas

a) Riwayat reproduksi, kepuasan sexual, masalah ?

k. Koping-Pola Toleransi Stress

40
Apa yang menyebabkan stress pada lansia, bagaimana penanganan terhadap

masalah ?

l. Nilai-Pola Keyakinan

1) Sesuatu yang bernilai dalam hidupnya spirituality menganut suatu

agama,

2) bagaimana manusia dengan penciptanya ),

3) keyakinan akan kesehatan,

4) keyakinan agama

6. Pemeriksaan Fisik :

a. Keadaan umum : Lemah dan tidak dapat berjalan jauh

b. TTV : (TD : 140/90), Nadi : 74 x/menit, Respirasi : 24 x/m

c. BB/TB : 52 kg / 160 cm

d. Kepala : Baik dan tidak ada benjolan

e. Rambut : kurang terawat

f. Mata : kabur sehingga menggunakan kaca mata

g. Telinga : kurang pendengaran

h. Mulut, gigi dan bibir : tidak gosok gigi hanya kumur-kumur pagi hari

i. Dada : kadang terasa sakit bila batuk

j. Abdomen : tidak teraba massa dan tidak nyeri tekan

k. Kulit : tidak menderita penyakit kulit

l. Ekstremitas Atas : kadang mesara nyeri

41
m. Ekstremitas bawah : nyeri pada persendian terutama pagi dan malam hari

B. Diagnosa Keperawatan

1. Analisa Data

Masalah
No. Gejala Penyebab
Keperawatan
1. Data Subyektif (DS) : Lansia Gangguan mobilisasi
Klien mengeluh nyeri pada
sendi lutut terutama pagi hari
dan malam hari Berkurangnya kadar air
tulang rawan sendi
Data Obyektif (DO) :
Klien tampak meringis
kesakitan, skala nyeri 5, klien Nyeri
tidak dapat berjalan dan hanya
duduk ditempat,

2. Penetapan Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan hasil analisis data maka ditetapkan diagnosa keperawatan

sebagai berikut : Gangguan mobilisasi sehubungan dengan nyeri pada

persendian ditandai dengan , DS : klien mengeluh nyeri pada sendi lutut, DO :

klien tampak meringis kesakitan dan tidak dapat berjalan, skala nyeri 5.

42
C. Intervensi

Perencanaan keperawatan dan rasional

Hari/Tanggal Diagnosa Perencanaan Keperawatan


Juni 2019 Nyeri berhubungan Tujuan dan Kriteria hasil :
dengan penurunaan fungsi 1. Nyeri hilang/terkontrol
tulang 2. Pasien dapat istirahat/tidur dengan tenang, pasien
ditandai dengan nyeri tampak rileks
(skala 5), wajah meringis, Rencana Tindakan Rasional
kaki sakit bila berjalan 1. Kaji nyeri, catat 1. Membantu dalam
lokasi, Karakteristik, menentukan
derajat ( skala 0- 10) manajemen nyeri

2. Anjurkan klien untuk 2. Panas Meningkatkan


mandi air hangat relaksasi otot dan
mobilitas,
menurunkan rasa
sakit

3. Berikan klien posisi 3. Tirah baring


yang nyaman pada mungkin diperlukan
waktu tidur / duduk untuk membatasi
dikursi nyeri / cedera sendi

4. Berikan massage 4. Meningkatkan


yang lembut relaksasi atau
regangan otot

43
D. Implementasi

Pelaksanaan Keperawatan
Hari / Tanggal Diagnosa Implementasi Keperawatan Evaluasi (SOAP)
Pukul 10.00 WIB S : Klien menyatakan
1. Memberikan salam teraupetik bahwa kaki kanan dan
dan memperkenalkan diri kirinya masih sakit
Nyeri
2. Melakukan hubungan saling apalagi berjalan
berhubungan
percaya antara klien dan O : Klien memijat-
dengan
perawat mijat kakinya
penurunaan fungsi
3. Mengkaji keluhan nyeri dan A : Masalah belum
tulang
15 Juni 2019 catat lokasi skala nyeri. Skala teratasi
ditandai dengan
nyeri = 5 (kaki) P : Rencana tindakan
nyeri (skala 5),
4. Menganjurkan Klien mandi dilanjutkan
wajah meringis,
dengan air panas /hangat
kaki sakit bila
5. Mempertahankan posisi yang
berjalan
nyaman saat istirahat dan
duduk

Pukul 17.00 WIB S : Klien menyatakan


1. Memberikan salam teraupetik bahwa kaki kanan dan
2. Mengkaji keluhan nyeri dan kirinya masih sakit
catat lokasi skala nyeri. Skala apalagi saat berjalan
nyeri = 4 (kaki) O : Klien belum dapat
3. Melakukan pijitan beraktifitas dan
menggunakan minyak gosok nampak memijat-
pada lutut yang nyeri mijat kakinya
4. Menganjurkan Klien mandi A : Masalah belum
dengan air panas /hangat teratasi
5. Tetap mempertahankan posisi P : Rencana tindakan
yang nyaman saat istirahat dan dilanjutkan
duduk
Pukul 09.00 WIB S : Klien menyatakan
1. Memberikan salam teraupetik bahwa kaki kanan dan
2. Mengkaji keluhan nyeri dan kirinya masih sakit
Nyeri
catat lokasi skala nyeri. Skala apalagi berjalan
berhubungan
nyeri = 3- 4 O : Klien memijat-
dengan
3. Menganjurkan Klien mandi mijat kakinya
penurunaan fungsi
16 Juni 2019 dengan air panas /hangat A : Masalah teratasi
tulang
4. Mempertahankan posisi yang sebagian
ditandai dengan
nyaman saat istirahat dan P : Rencana tindakan
nyeri (skala 4),
duduk dilanjutkan
wajah meringis,
Pukul 17.30 WIB S : Klien menyatakan
kaki sakit bila
1. Memberikan salam bahwa kaki kanan dan
berjalan
2. Melakukan hubungan saling kirinya masih terasa
percaya antara klien dan sakit dan kaku bila
perawat berjalan

44
3. Mengkaji keluhan nyeri dan O : Klien memijat-
catat lokasi skala nyeri. Skala mijat kakinya
nyeri = 2 - 3 A : Masalah teratasi
4. Menganjurkan Klien mandi sebagian
dengan air panas /hangat P : Rencana tindakan
5. Mempertahankan posisi yang dilanjutkan
nyaman saat istirahat dan
duduk
17 Juni 2019 Nyeri Pukul 10.00 WIB S : Klien menyatakan
berhubungan 1. Memberikan salam nyeri pada bahwa kaki
dengan 2. Mengkaji keluhan nyeri dan kanan dan kirinya
penurunaan fungsi catat lokasi skala nyeri. Skala berkurang
tulang nyeri = 1-2 O : Klien sudah
ditandai dengan 3. Melakukan pijitan pada lutut berjalan ditempat
nyeri (skala 0-1), gunakan minyak goosok A : Masalah telah
wajah meringis, 4. Mempertahankan posisi yang teratasi
kaki sakit bila nyaman saat istirahat dan P : Rencana tindakan
berjalan duduk dilanjutkan

45
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan membahas asuhan keperawatan gerontik pada Tn.Y.

dengan Arthritis Rhematoid di Wilayah Kerja Puskesmas Seget Kabupaten Sorong.

Pembahasan pada bab ini terutama membahas adanya kesesuaian maupun

kesenjangan antara teori dengan kasus. Terkait dengan hal tersebut pada bab ini

penulis akan melakukan pembahasan tentang penerapan asuhan keperawatan gerontik

yang dimulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan

evaluasi keperawatan.

A. Pengkajian

Pengkajian adalah proses mengumpulkan data yang relevan dan continue

tentang respon manusia, kekuatan dan masalah pasien (Bulecek. M. G et all,

2014). Dalam pengkajian terhadap Tn.Y penulis menggunakan metode

wawancara, observasi serta catatan rekam medis. Dalam tahap pengkajian

didapatkan data klien yang bernama Tn.Y dengan diagnosa medis Arthritis

Rematoid.

Arthritis Rhematoid adalah penyakit autoimun yang etiologinya belum

diketahui dan ditandai oleh sinovitis erosif yang simetris dan pada beberapa

kasus disertai keterlibatan jaringan ekstraartikular. Perjalanan penyakit RA ada 3

46
macam yaitu monosiklik, polisiklik dan progresif. Sebagian besar kasus

perjalananya kronik kematian dini (Perhimpunan rheumatologi Indonesia, 2016).

Karakteristik klien yang menderita Arthritis Rhematoid adalah seorang

laki-laki yang telah berumur 70 tahun (Lansia) mengeluh nyeri pada persendian

terutama pada extrimitas bawah pada pagi dan malam hari dan faktor

pencetusnya adalah udara yang dingin. Keadaan ini menyebabkan klien tidak

dapat beraktifitas terutama berjalan jauh dan melakukan pekerjaannya sebagai

petani dan sering dibantu oleh keluarganya serta berjalan menggunakan tongkat.

B. Diagnosa

Berdasarkan tanda dan gejala yang dialami oleh pasien dengan artritis

rhematoid ditambah dengan adanya data dari pemeriksaan diagnostik, maka

diagnosa keperawatan yang sering muncul yaitu (Mauren, 2017) :

Nyeri berhubungan dengan penurunan fungsi tulang ditandai, DS : klien

mengeluh nyeri pada sendi lutut, DO : klien tampak meringis kesakitan dan tidak

dapat berjalan, skala nyeri 5.

C. Intervensi

Berdasarkan diagnosa keperawatan maka ditetapkan rencana tindakan

keperawatan selama 3 hari yaitu : (1) Kaji intensitas nyeri, catat lokasi,

karakteristik, derajat ( skala 0 - 10), rasionalnya adalah agar membantu dalam

manajemen nyeri. (2) Anjurkan klien untuk mandi air hangat dengan rasional

47
panas meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit.

(3) Berikan klien posisi yang nyaman pada waktu tidur / duduk dikursi,

rasionalnya : tirah baring diperlukan untuk membatasi nyeri atau cedera sendi.

(4) Berikan massage yang lembut, rasionalnya : meningkatkan relaksasi atau

peregangan otot.

D. Implementasi

Implementasi merupakan tindakan asuhan keperawatan yang didasarkan

pada rencana (intervensi) yang telah ditetapkan. Implementasi selama 3 hari

dimulai sejak tanggal 15- 17 Juni 2019, dengan kegiatan antara lain :

memberikan salam teraupetik dan memperkenalkan diri, melakukan hubungan

saling percaya antara klien dan perawat, mengkaji keluhan nyeri dan catat lokasi

skala nyeri = 5 berlokasi di kaki, menganjurkan klien mandi dengan air panas

/hangat, melakukan pijitan pada lokasi yang nyeri menggunakan minyak gosok

dan mempertahankan posisi yang nyaman saat istirahat dan duduk.

E. Evaluasi

Setelah dilakukan implementasi selama 3 hari, maka dilakukan evaluasi

berdasarkan SOAP, diperoleh hasil bahwa (S) klien menyatakan bahwa kaki

kanan dan kirinya masih sakit apalagi berjalan (O) : Klien memijat- mijat

kakinya, (A) masalah belum teratasi (P) : rencana tindakan dilanjutkan.

48
Berdasarkan hasil evaluasi pada hari pertama, maka peneliti lakukan

implementasi yaitu melakukan pijitan pada kaki menggunakan minyak gosok dan

membalutnya dengan verban agar tempat pijitan menjadi hangat

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah dilakukan pengkajian pengkajian terhadap Tn. Y, ada masalah

keperawatan yang ditemukan nyeri dan ditetapkan diagnosa keperawatan yaitu :

Nyeri berhubungan dengan penurunaan fungsi tulang ditandai dengan nyeri (skala

5), wajah meringis, kaki sakit bila berjalan nyeri berhubungan dengan kelemahan

ekstremitas bawah ditandai dengan pasien berjalan dengan menggunakan tongkat,

tidak mampu berjalan jauh, dan sebagian kegiatan dibantu oleh keluarga, TD:

140/90 mmHg, Nadi : 74x/menit, RR: 24x/menit. Kemudian dilakukan

49
implementasi berdasarkan intervensi yang direncanakan selama 3 hari dan hasil

evaluasi yaitu klien sudah mampu berjalan lambat tanpa tongkat dan nyeri pada

sendi kaki berkurang.

B. Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh dan setelah membahas masalah-masalah

yang dihadapi didalam perawatan pasien dengan masalah kebutuhan. Gangguan

rasa aman dan nyaman : nyeri, maka penulis dapat memberikan saran sebagai

berikut :

1. Diharapkan kepada pihak institusi pendidikan agar dapat menyediakan dan

menambah referensi terbaru, terutama mengenai buku-buku keperawatan

kebutuhan dasar dan buku Nyeri, agar dalam pemberian asuhan keperawatan

dapat dilaksanakan secara optimal.

2. Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan diharapkan para petugas kesehatan

dapat lebih optimal dalam melakukan praktek dan melaksanakan asuhan

keperawatan secara benar sesuai dengan standar praktek keperawatan.

50
DAFTAR PUSTAKA

AKPER Harum Jakarta. (2016). Konsep Dasar Keperawatan Gerontik, 1–23.


Andhika et al. (2016). Penyebab Penyakit Asam Urat, 02(Asam Urat dan
Penyebabnya), 125–146.
Angriani, E., Dewi, A. P., & Novayelinda, R. (2013). Faktor-faktor yang
berhubungan dengan kejadian Gout Arthritis Masyarakat Melayu.
Ani Rima Putri. (2018). PENGARUH PEMBERIAN KOMPRES JAHE MERAH (
ZINGIBER OFFICINALE VAR RUBRUM RHIZOMA ) TERHADAP NYERI
PADA PASIEN GOUT ARTHRITIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
ALIANYANG KOTA PONTIANAK.
Badan PPSDM Kesehatan. (2016). Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan Gerontik.
Bulecek. M. G et all. (2014). Nursing Interventions Classification ( NIC ), 4th edition
Intervention Labels & Definitions , Indonesian Edition.
Dedy Setya Nugraha. (2017). GAMBARAN KARAKTERISTIK RESPONDEN,
RIWAYAT PENYAKIT YANG MENYERTAI DAN JENIS PENYAKIT
REUMATIK PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

51
KECAMATAN BUNGKAL KABUPATEN PONOROGO.
Elsi, M. (2018). Gambaran faktor dominan pencetus arthritis rheumatoid di wilayah
kerja puskesmas danguang danguang payakumbuh tahun 2018, XII(8), 98–106.
Fera Bawarodi, et al. (2017). FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN
DENGAN KEKAMBUHAN PENYAKIT REMATIK DI WILAYAH
PUSKESMAS BEO KABUPATEN TALAUD, 5, 1–7.
Fillah Muty Syahidah et al. (2018). Potensi Seledri Untuk Pengobatan. Farmaka, 16,
55–62.
Friska, M., & Daryono, B. S. (2017). HASIL POLIPLOIDISASI DENGAN
KOLKISIN, 10(2), 91–97.
Hongkong, O. R., Rawat, K., & Spesialis, J. (2018). Artritis reumatoid.
Kemenkes RI. (2018). Hasil Utama RISKESDAS 2018.
Khoirunnisa, N., Novitasari, R. W., Neurologi, D., Kedokteran, F., & Gadjah, U.
(2015). Assessment Nyeri, 42(3), 214–234.
Lestari, S. A. (2016). Asuhan keperawatan Pada Lansia Dengan Masalah Risiko
Kerusakan Fungsi Kardiovaskuler Melalui Swedish Massage.
Mauren, P. (2017). Asuhan Keperawatan pada Ny . S dengan Prioritas Masalah
Kebutuhan Dasar Rasa Nyaman : Nyeri di Kelurahan Sari Rejo Kecamatan
Medan Polonia.
Nursyamsi Norma Lalla. (2011). TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG
PENYAKIT ARTHRITIS RHEUMATOID DI TINJAU DARI
KARAKTERISTIK LANSIA DI PUSKESMAS TAMALANREA JAYA KOTA
MAKASSAR, 630–646.
Perhimpunan Reumatologi Indonesia. (2014). Rekomendasi Perhimpunan
Reumatologi Indonesia Untuk Diagnosis dan Pengelolaan Artritis Reumatoid
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang : Diterbitkan oleh :
Perhimpunan rheumatologi Indonesia. (2016). Artritis Reumatoid.
Riyandi, I. K., & Mardana, P. (2017). Penilaian Nyeri.
Roscoe, R. (2016). Pengaruh Pemberian Kompres Hangat Memakai Parutan Jahe
Merah (, 4.

52
STIKES Muhammadiyah Klaten. (2015). Panduan Praktek Belajar Klinik
Keperawatan Gerontik.

Lampiran 1

SURAT PERMINTAAN UNTUK MENJADI


RESPONDEN PENELITIAN

Kepada Yth:
Calon Responden Penelitian
Di
Kota Sorong

Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini;
Nama : Labrina Maifun.
NIM : 31440118120
Pekerjaan : Mahasiswa
Institusi : Politeknik Kesehatan Kemenkes Sorong

Adalah Mahasiswa Program Studi D-III Keperawatan Kelas RPL Politeknik


Kesehatan Kementerian Kesehatan Sorong yang melakukan penelitian dengan judul
“Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Tn. YM. Dengan Arthritis Rhematoid
Di Wilayah Kerja Puskesmas Seget Kabupaten Sorong”.
Penelitian ini tidak menimbulkan akibat yang merugikan bagi Saudara sebagai
responden, kerahasiaan semua informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya
digunakan untuk kepentingan penelitian.
Jika Saudara tidak bersedia menjadi responden, maka tidak ada ancaman bagi
Saudara, serta memungkinkan mengundurkan diri untuk tidak mengikuti penelitian
ini. Apabila Saudara menyetujui, maka saya mohon kesediaannya untuk
menandatangani persetujuan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian

53
ini. Atas perhatian dan kesediaan Saudara menjadi responden, saya ucapkan terima
kasih.

Sorong, Juni 2019


Peneliti

(Labrina Maifun.)
NIM. 31440118120

Lampiran 2

INFORMED CONSENT
(PERSETUJUAN UNTUK MENJADI RESPONDEN)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama :………………………………..
Tgl Lahir / Umur :………………………………..
Pekerjaan :………………………………..
Alamat :………………………………...
Telp /HP :………………………………...

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa bersedia secara sukarela tanpa
unsur paksaan untuk menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan oleh saudari
Labrina Maifun, mahasiswi Program Studi D-III Keperawatan Kelas RPL Sorong
pada Politeknik Kesehatan Kemenkes Sorong dengan Judul :
“Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Tn. YM. Dengan Arthritis Rhematoid
Di Wilayah Kerja Puskesmas Seget Kabupaten Sorong”.

Demikian persetujuan ini saya buat dan ditanda tangani untuk dijadikan dasar
kesediaan sebagai responden atau informan (sumber informasi) pada penelitian ini.

Sorong, Juni 2019

54
Informan

(………………………..)

55

Anda mungkin juga menyukai