BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Arthritis Rematoid merupakan penyakit inflamasi sistemik kronis, inflamasi
sistemik yang dapat mempengaruhi banyak jaringan dan organ, terutama
menyerang fleksibel (sinovial) sendi dan merupakan suatu penyakit yang telah
lama dikenal dan tersebar luas diseluruh dunia yang secara simetris mengalami
peradangan sehingga akan terjadi pembengkakan, nyeri dan ahirnya menyebabkan
kerusakan bagian dalam sendi dan akan mengganggu aktivitas/pekerjaan penderita
(Junaidi, 2006) dalam (Angriani, Dewi, & Novayelinda, 2013).
Menurut World Health Organisation (2016) 335 juta penduduk di dunia yang
mengalami Rematik artinya 1 dari 6 orang di dunia ini menderita Artritis
Rhematoid dan diperkirakan angka terus bertambah hingga tahun 2025 dengan
indikasi lebih dari 25% akan mengalami kelumpuhan (Hongkong, Rawat, &
Spesialis, 2018) . Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa prevalensi penderita
rematik di Indonesia mengalami penurunan menjadi 7,3% bila dibandingkan
dengan data rematik pada Riskesdas 2013 yang berada pada 11,9% dan prevalensi
rematik di Papua Barat berada pada angka 8,3% (Kemenkes RI, 2018).
Prevalensi Arthritis Rhematoid diIndonesia cukup tinggi yaitu mencapai
15,5% pada wanita dan 12,7% pada pria. Prevalensi yang cukup tinggi dan
1
sifatnya yang lebih besar baik dinegara maju maupun dinegara berkembang
diperkirakan 1-2 juta orang penderita cacat karena tidak melakukan
pencegahan/perawatan diri pada penderita Arthritis Rhematoid (Nursyamsi Norma
Lalla, 2011)
Penyakit Arthritis Rhematoid yang banyak diderita masyarakat, baik di
pedesaan maupun di perkotaan. Penyakit ini merupakan penyakit persendian yang
menimbulkan gangguan kronik yang dapat menyerang berbagai sistem organ
persendian (Noer, 2012) dalam (Fillah Muty Syahidah et al, 2018) .
Penanganan secara non farmakologis pada penyakit arthritis Rhematoid
adalah dengan berbagai terapi komplementer. Terapi komplementer yang
dimaksud diantarnya adalah terapi bekam, terapi senam, terapi tanaman herbal dan
terapi kompres hangat memakai jahe merah. Jahe merah memiliki kandungan air
(81%), minyak atsiri (3.9%), dan ekstrak yang larut dalam alkohol (9.93%), aroma
sangat tajam, dan mempunyai rasa yang sangat pedas dibanding jenis jahe lainnya
(Andhika et al, 2016) .
Hasil penelitian Ani Rima Putri pada pasien Arthritis Rhematoid di Wilayah
Kerja Puskesmas Alianyang Kota Pontianak disimpulkan bahwa Ada pengaruh
terapi kompres hangat menggunakan jahe merah terhadap nyeri pada pasien gout
arthritis dan disimpulkan bahwa terdapat perbedaan efektifitas terapi kompres jahe
merah dengan kompres air hangat (Ani Rima Putri, 2018).
2
B. Perumusan Masalah
Di Indonesia saat ini telah terjadi transisi epidemiologi penyakit menular ke
penyakit tidak menular, salah satunya adalah penyakit Arthritis Rhematoid..
Prevalensi kasusnya mengalami peningkatan setiap tahun dan masalah yang sering
diderita oleh pasien Arthritis Rheumatoid adalah nyeri. Penatalaksanaan arthritis
dapat dilakukan melalui terapi farmakologi dan nonfarmakologi. Sebagai tindakan
keperawatan mandiri, peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana penerapan
asuhan keperawatan pada pasien arthritis rhematoid.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mengaplikasikan asuhan keperawatan pada pasien Tn. YM dengan
arthritis rhematoid di Wilayah Kerja Puskesmas Seget Kabupaten Sorong.
2. Tujuan Khusus
a. Peneliti mampu melakukan pengkajian pada klien dengan arthritis
rhematoid.
b. Peneliti mampu merumuskan diagnosa yang muncul pada klien dengan
arthritis rhematoid.
c. Peneliti mampu menyusun intervensi dari diagnosa yang muncul pada klien
dengan arthritis rhematoid.
d. Peneliti mampu melakukan implementasi asuhan keperawatan pada klien
3
dengan arthritis rhematoid.
e. Peneliti mampu melakukan evaluasi hasil implementasi asuhan
keperawatan pada klien dengan arthritis rhematoid.
f. Peneliti mampu menganalisis hasil implementasi asuhan keperawatan pada
klien dengan arthritis rhematoid.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pasien dan Keluarganya
Sebagai tambahan informasi pada masyarakat luas tentang penerapan
pemberian rebusan daun seledri sebagai cara penanganan non farmakologis
untuk menurunkan intensitas nyeri pada klien dengan arthritis rhematoid. dan
dapat diaplikasi dalam kehidupan sehari-hari.
2. Bagi Perawat
Sebagai tambahan referensi untuk meningkatkan mutu pelayanan asuhan
keperawatan secara mandiri pada klien dengan arthritis rhematoid
menggunakan kompres jahe merah sebagai terapi nonfarmakologi.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai salah satu wacana dan tambahan informasi tentang salah satu
tindakan mandiri perawat dalam pemberian kompres jahe merah sebagai bentuk
terapi nonfarmakologi untuk menurunkan intensitas nyeri pada penderita
arthritis rhematoid yang bisa diaplikasikan dirumah sakit.
4. Bagi Penulis
4
Sebagai tambahan informasi, ilmu pengetahuan dan pengalaman tentang
penerapan pemberian kompres jahe merah sebagai bentuk terapi
nonfarmakologi untuk menurunkan intensitas nyeri pada penderita arthritis
rhematoid..........
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Medis Arthritis Rhematoid
1. Pengertian
Rhematoid Arthritis (RA) adalah penyakit autoimun yang etiologinya
belum diketahui dan ditandai oleh sinovitis erosif yang simetris dan pada
beberapa kasus disertai keterlibatan jaringan ekstraartikular. Perjalanan
penyakit RA ada 3 macam yaitu monosiklik, polisiklik dan progresif.
Sebagian besar kasus perjalananya kronik kematian dini (Perhimpunan
rheumatologi Indonesia, 2016) .
Kata arthritis berasal dari bahasa Yunani, “arthon” yang berarti sendi,
dan “itis” yang berarti peradangan. Secara harfiah, arthritis berarti radang
pada sendi. Sedangkan Rhematoid Arthritis adalah suatu penyakit autoimun
dimana persendian (biasanya tangan dan kaki) mengalami peradangan,
sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali menyebabkan kerusakan
pada bagian dalam sendi (Fera Bawarodi, 2017).
Penyakit ini sering menyebabkan kerusakan sendi, kecacatan dan
banyak mengenai penduduk pada usia produktif sehingga memberi dampak
sosial dan ekonomi yang besar. Diagnosis dini sering menghadapai kendala
6
karena pada masa dini sering belum didapatkan gambaran karakteristik yang
baru akan berkembang sejalan dengan waktu dimana sering sudah terlambat
untuk memulai pengobatan yang adekuat (Elsi, 2018).
2. Faktor Risiko Arthritis Rhematoid
Faktor risiko yang berhubungan dengan peningkatan kasus RA
dibedakan menjadi dua yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan
faktor risiko yang dapat dimodifikasi (Perhimpunan Reumatologi Indonesia,
2014) :
a. Tidak Dapat Dimodifikasi
1) Faktor genetik
Faktor genetik berperan 50% hingga 60% dalam perkembangan RA.
Gen yang berkaitan kuat adalah HLA-DRB1. Selain itu juga ada gen
tirosin fosfatase PTPN 22 di kromosom 1. Perbedaan substansial pada
faktor genetik RA terdapat diantara populasi Eropa dan Asia. HLA-
DRB1 terdapat di seluruh populasi penelitian, sedangkan polimorfisme
PTPN22 teridentifikasi di populasi Eropa dan jarang pada populasi Asia.
Selain itu ada kaitannya juga antara riwayat dalam keluarga dengan
kejadian RA pada keturunan selanjutnya.
2) Usia
RA biasanya timbul antara usia 40 tahun sampai 60 tahun. Namun
penyakit ini juga dapat terjadi pada dewasa tua dan anak-anak
7
(Rhematoid Arthritis Juvenil). Dari semua faktor risiko untuk timbulnya
RA, faktor ketuaan adalah yang terkuat. Prevalensi dan beratnya RA
semakin meningkat dengan bertambahnya usia. RA hampir tak pernah
pada anak-anak, jarang pada usia dibawah 40 tahun dan sering pada usia
diatas 60 tahun.
3) Jenis kelamin
RA jauh lebih sering pada perempuan dibanding laki-laki dengan rasio
3 : 1. Meskipun mekanisme yang terkait jenis kelamin masih belum
jelas. Perbedaan pada hormon seks kemungkinan memiliki pengaruh.
b. Dapat Dimodifikasi
1) Gaya hidup
a) Status sosial ekonomi
Penelitian di Inggris dan Norwegia menyatakan tidak terdapat kaitan
antara faktor sosial ekonomi dengan RA, berbeda dengan penelitian
di Swedia yang menyatakan terdapat kaitan antara tingkat pendidikan
dan perbedaan paparan saat bekerja dengan risiko RA.
b) Merokok
Sejumlah studi cohort dan case-control menunjukkan bahwa rokok
tembakau berhubungan dengan peningkatan risiko RA. Merokok
berhubungan dengan produksi dari Rhematoid factor(RF) yang akan
berkembang setelah 10 hingga 20 tahun. Merokok juga berhubungan
8
dengan gen ACPA-positif RA dimana perokok menjadi 10 hingga 40
kali lebih tinggi dibandingkan bukan perokok.
c) Diet
Banyaknya isu terkait faktor risiko RA salah satunya adalah makanan
yang mempengaruhi perjalanan RA. Dalam penelitian Pattison dkk,
isu mengenai faktor diet ini masih banyak ketidakpastian dan
jangkauan yang terlalu lebar mengenai jenis makanannya. Penelitian
tersebut menyebutkan daging merah dapat meningkatkan risiko RA
sedangkan buah-buahan dan minyak ikan memproteksi kejadian RA.
Selain itu penelitian lain menyebutkan konsumsi kopi juga sebagai
faktor risiko namun masih belum jelas bagaimana hubungannya.
d) Infeksi
Banyaknya penelitian mengaitkan adanya infeksi Epstein Barr Virus
(EBV) karena virus tersebut sering ditemukan dalam jaringan
sinovial pada pasien RA. Selain itu juga adanya parvovirus B19,
Mycoplasma pneumoniae, Proteus, Bartonella, dan Chlamydia juga
meningkatkan risiko RA.
e) Pekerjaan
Jenis pekerjaan yang meningkatkan risiko RA adalah petani,
pertambangan, dan yang terpapar dengan banyak zat kimia namun
9
risiko pekerjaan tertinggi terdapat pada orang yang bekerja dengan
paparan silica.
f) Faktor hormonal Hanya faktor reproduksi yang meningkatkan risiko
RA yaitu pada perempuan dengan sindrom polikistik ovari, siklus
menstruasi ireguler, dan menarche usia sangat muda.
g) Bentuk tubuh Risiko RA meningkat pada obesitas atau yang
memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih dari 30.
3. Etiologi dan Patofisiologi Rhematoid Arthritis
Penyebab pasti masih belum diketahui secara pasti dimana merupakan
penyakit autoimun yang dicetuskan faktor luar (infeksi, cuaca) dan faktor
dalam (usia, jenis kelamin, keturunan, dan psikologis). Diperkirakan infeksi
virus dan bakteri sebagai pencetus awal RA. Sering faktor cuaca yang lembab
dan daerah dingin diperkirakan ikut sebagai faktor pencetus (Angriani et al.,
2013).
Patogenesis terjadinya proses autoimun, melalui reaksi imun komplek
dan reaksi imunitas selular. Tidak jelas antigen apa sebagai pencetus awal,
mungkin infeksi virus. Terjadi pembentukan faktor rematoid, suatu antibodi
terhadap antibodi abnormal, sehingga terjadi reaksi imun komplek (autoimun)
(Angriani et al., 2013).
Proses autoimun dalam patogenesis RA masih belum tuntas diketahui,
dan teorinya masih berkembang terus. Dikatakan terjadi berbagai peran yang
10
saling terkait, antara lain peran genetik, infeksi, autoantibodi serta peran
imunitas selular, humoral, peran sitokin, dan berbagai mediator keradangan
(Putra dkk,2013) dalam (Dedy Setya Nugraha, 2017).
Proses peradangan karena autoimun pada RA, ditunjukkan dari
pemeriksaan laboratorium dengan adanya RF (Rhematoid Factor) dan anti-
CCP dalam darah. RF adalah antibodi terhadap komponen Fc dari IgG. Jadi
terdapat pembentukan antibodi terhadap antibodi dirinya sendiri, akibat
paparan antigen luar, kemungkinan virus atau bakteri.
Kerusakan sendi diawali dengan reaksi inflamasi dan pembentukan
pembuluh darah baru pada membran sinovial. Kejadian tersebut menyebabkan
terbentuknya pannus, yaitu jaringan granulasi yang terdiri dari sel fibroblas
yang berproliferasi, mikrovaskular dan berbagai jenis sel radang (Choy, 2012)
dalam (Perhimpunan rheumatologi Indonesia, 2016).
4. Manifestasi Klinis, Pemeriksaan Penunjang dan Diagnosis Rhematoid
Arthritis (Khoirunnisa, Novitasari, 2015)
a. Manifestasi Klinis
Keluhan biasanya mulai secara perlahan dalam beberapa minggu atau
bulan. Sering pada keadan awal tidak menunjukkan tanda yang jelas.
Keluhan tersebut dapat berupa keluhan umum, keluhan pada sendi dan
keluhan diluar sendi (Putra dkk,2013), seperti :
11
1) Keluhan umum
Keluhan umum dapat berupa perasaan badan lemah, nafsu makan
menurun, peningkatan suhu tubuh yang ringan dan penurunan berat
badan.
2) Kelainan sendi
Terutama mengenai sendi kecil dan simetris yaitu sendi pergelangan
tangan, lutut dan kaki (sendi diartrosis). Sendi lainnya juga dapat
terkena seperti sendi siku, bahu sternoklavikula, panggul, pergelangan
kaki. Kelainan tulang belakang terbatas pada leher. Keluhan sering
berupa kaku sendi di pagi hari, panggul, pergelangan kaki. Kelainan
tulang belakang terbatas pada leher. Keluhan sering berupa kaku sendi
di pagi hari, pembengkakan dan nyeri sendi.
3) Kelainan diluar sendi
a) Kulit : nodul subkutan (nodul rematoid)
b) Jantung : kelainan jantung yang simtomatis jarang didapatkan,
namun 40% pada autopsi RA didapatkan kelainan perikard
c) Paru : kelainan yang sering ditemukan berupa paru obstruktif dan
kelainan pleura (efusi pleura, nodul subpleura)
d) Saraf : berupa sindrom multiple neuritis akibat vaskulitis yang sering
terjadi berupa keluhan kehilangan rasa sensoris di ekstremitas dengan
gejala foot or wrist drop
12
e) Mata : terjadi sindrom sjogren (keratokonjungtivitis sika) berupa
kekeringan mata, skleritis atau eriskleritis dan skleromalase perforans
f) Kelenjar limfe : sindrom Felty adalah RA dengan spleenomegali,
limpadenopati, anemia, trombositopeni, dan neutropeni
5. Pemeriksaan Penunjang (Perhimpunan rheumatologi Indonesia, 2016)
a. Laboratorium
1) Penanda inflamasi : Laju Endap Darah (LED) dan C Reactive Protein
(CRP) meningkat
2) Rhematoid Factor (RF) : 80% pasien memiliki RF positif namun RF
negatif tidak menyingkirkan diagnosis
3) Anti Cyclic Citrullinated Peptide (anti CCP) : Biasanya digunakan
dalam diagnosis dini dan penanganan RA dengan spesifisitas 95-98%
dan sensitivitas 70% namun hubungan antara anti CCP terhadap
beratnya penyakit tidak konsisten
b. Radiologis
Dapat terlihat berupa pembengkakan jaringan lunak, penyempitan ruang
sendi, demineralisasi “juxta articular”, osteoporosis, erosi tulang, atau
subluksasi sendi.
6. Diagnosis
Terdapat beberapa kesulitan dalam mendeteksi dini penyakit RA. Hal
ini disebabkan oleh onset yang tidak bisa diketahui secara pasti dan hasil
13
pemeriksaan fisik juga dapat berbeda-beda tergantung pada pemeriksa.
Meskipun demikian, penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa alat
ukur diagnosis RA dengan ARA (American Rheumatism Association) yang
direvisi tahun 1987 memiliki sensitivitas 91%. Hasil laboratorium yang
digunakan dalam mendiagnosis RA ditemukan kurang sensitif dan spesifik.
Sebagai contoh, IGM Rhematoid Factor memiliki spesifisitas 90% dan
sensitivitas hanya 54%. (Bresnihan, 2002) dalam (Elsi, 2018).
Berikut adalah kriteria ARA (American Rheumatism Association) yang
direvisi tahun 1987 yang masih dapat digunakan dalam mendiagnosis RA
(Khoirunnisa et al., 2015) :
a. Kaku pagi hari pada sendi dan sekitarnya, sekurang-kurangnya selama 1
jam sebelum perbaikan maksimal.
b. Pembengkakan jaringan lunak atau persendian (arthritis) pada 3 daerah
sendi atau lebih secara bersamaan.
c. Artritis pada persendian tangan sekurang-kurangnya terjadi satu
pembengkakan persendian tangan yaitu PIP (proximal interphalangeal),
MCP (metacarpophalangeal), atau pergelangan tangan.
d. Artritis simetris, keterlibatan sendi yang sama pada kedua belah sisi
misalnya PIP (proximal interphalangeal), MCP (metacarpophalangeal),
atau MTP (metatarsophalangeal).
14
e. Nodul Rhematoid, yaitu nodul subkutan pada penonjolan tulang atau
permukaan ekstensor atau daerah juksta artikuler.
f. Rhematoid Factor serum positif
g. Perubahan gambaran radiologis yang khas pada RA pada sendi tangan atau
pergelangan tangan yaitu erosi atau dekalsifikasi tulang pada sendi yang
terlibat.
Diagnosa RA, jika sekurang-kurangnya memenuhi 4 dari 7 kriteria diatas dan
kriteria 1 sampai 4 harus ditemukan minimal 6 minggu.
7. Tatalaksana
a. Pencegahan
Etiologi penyakit RA ini belum diketahui secara pasti, namun berdasarkan
penelitian-penelitian sebelumnya, ada beberapa hal yang dapat dilakukan
untuk menekan faktor risiko (Friska & Daryono, 2017) :
1) Membiasakan berjemur di bawah sinar matahari pagi untuk mengurangi
risiko peradangan oleh RA. Oleh penelitian Nurses Health Study AS
yang menggunakan 1.314 wanita penderita RA didapatkan mengalami
perbaikan klinis setelah rutin berjemur di bawah sinar UV-B.
2) Melakukan peregangan setiap pagi untuk memperkuat otot sendi.
Gerakan-gerakan yang dapat dilakukan antara lain, jongkok-bangun,
menarik kaki ke belakang pantat, ataupun gerakan untuk melatih otot
lainnya. Bila mungkin, aerobik juga dapat dilakukan atau senam taichi.
15
3) Menjaga berat badan. Jika orang semakin gemuk, lutut akan bekerja
lebih berat untuk menyangga tubuh. Mengontrol berat badan dengan
diet makanan dan olahraga dapat mengurang risiko terjadinya radang
pada sendi.
4) Mengonsumsi makanan kaya kalsium seperti almond, kacang polong,
jeruk, bayam, buncis, sarden, yoghurt, dan susu skim. Selain itu vitamin
A,C, D, E juga sebagai antioksidan yang mampu mencegah inflamasi
akibat radikal bebas.
5) Memenuhi kebutuhan air tubuh. Cairan synovial atau cairan pelumas
pada sendi juga terdiri dari air. Dengan demikian diharapkan
mengkonsumsi air dalam jumlah yang cukup dapat memaksimalkan
sisem bantalan sendi yang melumasi antar sendi, sehingga gesekan bisa
terhindarkan. Konsumsi air yang disrankan adalah 8 gelas setiap hari.
(Candra, 2013)
6) Berdasarkan sejumlah penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa
merokok merupakan faktor risiko terjadinya RA. Sehingga salah satu
upaya pencegahan RA yang bisa dilakukan masyarakat ialah tidak
menjadi perokok akif maupun pasif. (Febriana, 2015).
b. Penanganan (Roscoe, Rubrum, 2016)
Penatalaksanaan pada RA mencakup terapi farmakologi, rehabilitasi
dan pembedahan bila diperlukan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga.
16
Tujuan pengobatan adalah menghilangkan inflamasi, mencegah deformitas,
mengembalikan fungsi sendi, dan mencegah destruksi jaringan lebih lanjut
(Roscoe, 2016) :
1) NSAID (Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drug)
Diberikan sejak awal untuk menangani nyeri sendi akibat inflamasi.
NSAID yang dapat diberikan atara lain: aspirin, ibuprofen, naproksen,
piroksikam, dikofenak, dan sebagainya. Namun NSAID tidak
melindungi kerusakan tulang rawan sendi dan tulang dari proses
destruksi.
2) DMARD (Disease-Modifying Antirheumatic Drug)
Digunakan untuk melindungi sendi (tulang dan kartilago) dari proses
destruksi oleh Rhematoid Arthritis. Contoh obat DMARD yaitu:
hidroksiklorokuin, metotreksat, sulfasalazine, garam emas, penisilamin,
dan asatioprin. DMARD dapat diberikan tunggal maupun kombinasi
3) Kortikosteroid
Diberikan kortikosteroid dosis rendah setara prednison 5-7,5mg/hari
sebagai “bridge” terapi untuk mengurangi keluhan pasien sambil
menunggu efek DMARDs yang baru muncul setelah 4-16 minggu.
4) Rehabilitasi
Terapi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Caranya dapat dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat melalui
17
pemakaian tongkat, pemasangan bidai, latihan, dan sebagainya. Setelah
nyeri berkurang, dapat mulai dilakukan fisioterapi.
c. Pembedahan
Jika segala pengobatan di atas tidak memberikan hasil yang
diharapkan, maka dapat dipertimbangkan pembedahan yang bersifat
ortopedi, contohnya sinovektomi, arthrodesis, total hip replacement, dan
sebagainya (Roscoe, Rubrum, 2016).
B. KONSEP MASALAH KEPERAWATAN (NYERI)
1. Pengertian Nyeri
Nyeri adalah bentuk pengalaman sensorik dan emosional yang tidak
menyenangkan yang berhubungan dengan adanya kerusakan jaringan atau
cenderung akan terjadi kerusakan jaringan atau suatu keadaan yang
menunjukkan kerusakan jaringan (Riyandi & Mardana, 2017).
Penilaian nyeri meliputi (Khoirunnisa et al., 2015) :
a. Anamnesis umum
b. Pemeriksaan fisik
c. Anamnesis spesifik nyeri dan evaluasi ketidakmampuan yang ditimbulkan
nyeri :
1) Lokasi nyeri
2) Keadaan yang berhubungan dengan timbulnya nyeri
3) Karakter nyeri
18
4) Intensitas nyeri
5) Gejala yang menyertai
6) Efek nyeri terhadap aktivitas
7) Tatalaksana yang sudah didapat
8) Riwayat penyakit yang relevan dengan rasa nyeri
9) Faktor lain yang akan mempengaruhi tatalaksana pasien
2. Penggolongan Nyeri
Nyeri dapat digolongkan dalam berbagai cara, yaitu (Riyandi & Mardana,
2017) :
a. Menurut jenisnya : nyeri nosiseptik, nyeri neurogenik, dan nyeri
psikogenik
b. Menurut timbulnya nyeri : nyeri akut dan nyeri kronik
c. Menurut penyebabnya : nyeri onkologik dan nyeri non-onkologik
d. Menurut derajat nyerinya : nyeri ringan, sedang, dan berat
3. Derajat Nyeri (Khoirunnisa et al., 2015)
Pengukuran derajat nyeri sebaiknya dilakukan dengan tepat karena
sangat dipengaruhi oleh faktor subyektif seperti faktor fisiologis, psikologi,
lingkungan. Karenanya, anamnesis berdasarkan pada pelaporan mandiri
pasien yang bersifat sensitif dan konsisten sangatlah penting. Berbagai cara
dipakai untuk mengukur derajat nyeri, cara yang sederhana dengan
menentukan derajat nyeri secara kualitatif sebagai berikut :
19
a. Nyeri ringan adalah nyeri yang hilang timbul, terutama sewaktu melakukan
aktivitas sehari-hari dan hilang pada waktu tidur.
b. Nyeri sedang adalah nyeri terus menerus, aktivitas terganggu, yang hanya
hilang apabila penderita tidur.
c. Nyeri berat adalah nyeri yang berlangsung terus menerus sepanjang hari,
penderita tak dapat tidur atau sering terjaga oleh gangguan nyeri sewaktu
tidur.
4. Pengukuran Derajat Nyeri
Ada beberapa cara untuk membantu mengetahui akibat nyeri menggunakan
skala assessment nyeri unidimensional (tunggal) atau multidimensi (Riyandi
& Mardana, 2017) :
a. Unidimensional: - Hanya mengukur intensitas nyeri - Cocok (appropriate)
untuk nyeri akut - Skala yang biasa digunakan untuk evaluasi pemberian
analgetik - Skala assessment nyeri unidimensional ini meliputi:
1) Visual Analog Scale (VAS)
2) Verbal Rating Scale (VRS)
3) Nummeric Rating Scale (NRS)
20
4) Wong Baker Pain Rating Scale
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
No Pain Moderat Worst
(Tidak Nyeri) Pain Possible Pain
Gambar 2.1 Numering Rating Scale
Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri
yang lebih objektif. Skala pendeskripsian verbal, (Verbal Descriptor Scale,
VDS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata
pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis.
Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan meminta klien untuk
memilih intensitas nyeri terbaru yang diarasakan. Alat VDS ini
memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan
nyeri (Potter dan Perry, 2006) dalam (Andarmoyo, 2013).
b. Multidimensional
Skala pendeskripsian verbal, (Verbal Descriptor Scale, VDS)
merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata
pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis.
Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan meminta klien untuk
21
memilih intensitas nyeri terbaru yang diarasakan. Alat VDS ini
memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan
nyeri (Potter dan Perry, 2006) dalam (Andarmoyo, 2013).
1) Mengukur intensitas dan afektif (unpleasantness) nyeri
2) Diaplikasikan untuk nyeri kronis
3) Dapat dipakai untuk penilaian klinis
4)
5)
0 1-3 4-6 7-9 10
Tidak Nyeri Nyeri Nyeri Sangat
Nyeri Ringan Sedang Berat Nyeri
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Gambar 1 : Deskripsi Skala Nyeri
(Potter dan Perry, 2006) dalam Nita Kristanti, 2014)
C. Konsep Keperawatan Gerontik
1. Definisi
Gerontologi merupakan pendekatan ilmiah (scientific approach)
terhadap berbagai aspek dalam proses penuaan, seperti aspek kesehatan,
psikologis, sosial ekonomi, perilaku, lingkungan, dan lain- lain (S. Tamher,
2009) dalam (Lestari, 2016). Keperawatan gerontik atau keperawatan
22
gerontologik adalah spesialis keperawatan lanjut usia yang menjalankan
peran dan tanggung jawabnya terhadap tatanan pelayanan kesehatan dengan
menggunakan ilmu pengetahuan, keahlian, keterampilan, teknologi, dan seni
dalam merawat untuk meningkatkan fungsi optimal lanjut usia secara
komprehensif (Kushariyadi, 2010) dalam (AKPER Harum Jakarta, 2016).
Keperawatan gerontik adalah keperawatan dengan berkeahlian khusus
merawat lansia, istilah ini diberi nama untuk pertama kalinya sebagai
keperawatan geriatric (Ebersole et al, 2005) dalam (Lestari, 2016).
Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang lanjut usia dengan
masalah-masalah yang terjadi pada lansia yang meliputi aspek biologis,
sosiologis, psikologis, dan ekonomi. Gerontologi merupakan pendekatan
ilmiah (scientific approach) terhadap berbagai aspek dalam proses penuaan
(Tamher&Noorkasiani, 2009) dalam (Lestari, 2016). Menurut Miller (2004),
gerontologi merupakan cabang ilmu yg mempelajari proses manuan dan
masalah yg mungkin terjadi pada lansia. Geriatrik adalah salah satu cabang
dari gerontologi dan medis yang mempelajari khusus aspek kesehatan dari
usia lanjut, baik yang ditinjau dari segi promotof, preventif, kuratif, maupun
rehabilitatif yang mencakup kesehatan badan, jiwa, dan sosial, serta penyakit
cacat (Tamher&Noorkasiani, 2009) dalam (STIKES Muhammadiyah Klaten,
2015).
23
Menurut Kozier (1987), keperawatan gerontik adalah praktek
perawatan yang berkaitan dengan penyakit pada proses menua, sedangkan
menurut Lueckerotte (2000) keperawatan gerontik adalah ilmu yang
mempelajari tentang perawatan pada lansia yang berfokus pada pengkajian
kesehatan dan status fungsional, perencanaan, implementasi serta evaluasi.
Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.
Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-
angsur mengakibatkan perubahan kumulatif, merupakan proses menurunnya
daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh
(Badan PPSDM Kesehatan, 2016).
2. Tujuan Keperawatan Gerontik
Adapun tujuan dari gerontik adalah (Maryam, 2008) dalam (Lestari, 2016) :
a. Membantu individu lanjut usia memahami adanya perubahan pada dirinya
berkaitan dengan proses penuaan
b. Mempertahankan, memelihara, dan meningkatkan derajat kesehatan lanjut
usia baik jasmani, rohani, maupun social secara optimal
c. Memotivasi dan menggerakkan masyarakat dalam upaya meningkatkan
kesejahteraan lanjut usia
d. Memenuhi kebutuhan lanjut usia sehari-hari
e. Mengembalikan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari
f. Mempercepat pemulihan atau penyembuhan penyakit
24
3. Fungsi Perawat Gerontik
Perawat memiliki banyak fungsi dalam memberikan pelayanan prima
dalam bidang gerontik. Menurut Eliopoulus (2005), fungsi dari perawat
gerontologi adalah :
a. Guide persons of all ages toward a healthy aging process (membimbing
orang pada segala usia untuk mencapai masa tua yang sehat)
b. Eliminate ageism (menghilangkan perasaan takut tua
c. Respect the tight of older adults and ensure other do the same
(menghormati hak orang yang lebih tua dan memastikan yang lain
melakukan hal yang sama)
d. Overse and promote the quality of service delivery (memantau dan
mendorong kualitas pelayanan)
e. Notice and reduce risks to health and well being (memerhatikan serta
menguragi resiko terhadap kesehatan dan kesejahteraan)
f. Teach and support caregives (mendidik dan mendorong pemberi pelayanan
kesehatan)
g. Open channels for continued growth (membuka kesempatan untuk
pertumbuhan selanjutnya)
h. Listen and support (mendengarkan dan memberi dukungan)
i. Offer optimism, encouragement and hope (memberikan semangat,
dukungan, dan harapan)
25
j. Generate, support, use, and participate in research (menghasilkan,
mendukung, menggunakan, dan berpartisipasi dalam penelitian)
k. Implement restorative and rehabilitative measures (melakukan perawatan
restorative dan rehabilitative)
l. Coordinate and managed care (mengoordinasi dan mengatur perawatan)
m. Asses, plan, implement, and evaluate care in an individualized, holistic
maner (mengkaji, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi
perawatan individu dan perawatan secara menyeluruh)
n. Link service with needs (memberikan pelayanan sesuai kebutuhan)
o. Nurtuere futue gerontological nurses for advancement of the speciality
(membangun masa depan perawat gerontik untuk menjadi ahli
dibidangnya)
p. Understand the unique physical, emotical, social, spiritual aspect of each
other (saling memahami keunikan pada aspek fisik, emosi, social, dan
spiritual)
q. Recognize and encourage the appropriate management of ethical concern
(mengenal dan mendukung manajemen etika yang sesuai dengan
tempatnya bekerja)
4. Batasan Lansia
Menurut WHO dan Depkes RI (2005) batasan lansia (Badan PPSDM
Kesehatan, 2016), adalah :
26
a. WHO (1999) menjelaskan batasan lansia adalah sebagai berikut :
1) Usia lanjut (elderly) antara usia 60-74 tahun,
2) Usia tua (old) :75-90 tahun, dan
3) Usia sangat tua (very old) adalah usia > 90 tahun.
b. Depkes RI (2005) menjelaskan bahwa batasan lansia dibagi menjadi tiga
katagori, yaitu :
1) Usia lanjut presenilis yaitu antara usia 45-59 tahun,
2) Usia lanjut yaitu usia 60 tahun ke atas,
3) Usia lanjut beresiko yaitu usia 70 tahun ke atas atau usia 60 tahun ke
atas dengan masalah kesehatan.
5. Ciri-ciri lansia
Ciri-ciri lansia adalah sebagai berikut (Badan PPSDM Kesehatan,
2016):
a. Terjadi periode kemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik
dan faktor psikologis. Motivasi memiliki peran yang penting dalam
kemunduran pada lansia.
b. Lansia memiliki status kelompok minoritas. Kondisi ini sebagai akibat dari
sikap sosial yang tidak menyenangkan terhadap lansia dan diperkuat oleh
pendapat yang kurang baik.
c. Perubahan peran karena lansia mulai mengalami kemunduran dalam segala
hal.
27
d. Penyesuaian yang buruk pada lansia karena mereka cenderung
mengembangkan konsep diri yang buruk sehingga dapat memperlihatkan
bentuk perilaku yang buruk.
6. Masalah kesehatan pada lansia
Lansia mengalami perubahan dalam kehidupannya sehingga
menimbulkan beberapa masalah. Permasalahan tersebut diantaranya yaitu :
a. Masalah fisik
Masalah yang hadapi oleh lansia adalah fisik yang mulai melemah, sering
terjadi radang persendian ketika melakukan aktivitas yang cukup berat,
indra pengelihatan yang mulai kabur, indra pendengaran yang mulai
berkurang serta daya tahan tubuh yang menurun, sehingga seringsakit.
b. Masalah kognitif ( intelektual )
Masalah yang hadapi lansia terkait dengan perkembangan kognitif, adalah
melemahnya daya ingat terhadap sesuatu hal (pikun), dan sulit untuk
bersosialisasi dengan masyarakat di sekitar.
c. Masalah emosional
Masalah yang hadapi terkait dengan perkembangan emosional, adalah rasa
ingin berkumpul dengan keluarga sangat kuat, sehingga tingkat perhatian
lansia kepada keluarga menjadi sangat besar. Selain itu, lansia sering marah
28
apabila ada sesuatu yang kurang sesuai dengan kehendak pribadi dan sering
stres akibat masalah ekonomi yang kurang terpenuhi.
d. Masalah spiritual
Masalah yang dihadapi terkait dengan perkembangan spiritual, adalah
kesulitan untuk menghafal kitab suci karena daya ingat yang mulai
menurun, merasa kurang tenang ketika mengetahui anggota keluarganya
belum mengerjakan ibadah, dan merasa gelisah ketika menemui
permasalahan hidup yang cukup serius.
D. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian (Bulecek. M. G et al, 2014)
a. Riwayat Keperawatan
1) Adanya keluhan sakit dan kekakuan pada tangan, atau pada tungkai.
2) Perasaan tidak nyaman dalam beberapa periode/waktu sebelum pasien
mengetahui dan merasakan adanya perubahan pada sendi.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing sisi (bilateral),
amati warna kulit, ukuran, lembut tidaknya kulit, dan pembengkakan.
2) Lakukan pengukuran passive range of mation pada sendi-sendi
synovial :
a) Catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak sendi)
b) Catat bila ada krepitasi
29
c) Catat bila terjadi nyeri saat sendi digerakkan
c. Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skeletal secara bilateral
a) Catat bila ada atrofi, tonus yang berkurang
b) Ukur kekuatan otot
d. Kaji tingkat nyeri, derajat dan mulainya
e. Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari
c. Riwayat Psiko Sosial
Pasien dengan Arthritis Rhematoid mungkin merasakan adanya
kecemasan yang cukup tinggi apalagi pada pasien yang mengalami
deformitas pada sendi-sendi karena ia merasakan adanya kelemahan-
kelemahan pada dirinya dan merasakan kegiatan sehari-hari menjadi
berubah. Perawat dapat melakukan pengkajian terhadap konsep diri klien
khususnya aspek body image dan harga diri klien.
2. Diagnosa Keperawatan (Mauren, 2017)
Berdasarkan tanda dan gejala yang dialami oleh pasien dengan artritis
ditambah dengan adanya data dari pemeriksaan diagnostik, maka diagnosa
keperawatan yang sering muncul yaitu :
a. Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh,
sendi, bengkok, deformitas.
b. Nyeri berhubungan dengan perubahan patologis oleh artritis rhematoid.
30
c. Risiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot, rasa nyeri.
d. Gangguan aktifitas sehari-hari berhubungan dengan terbatasnya gerakan.
e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
f. gangguan mobilitas
3. Intervensi dan Implementasi Keperawatan (Bulecek. M. G et all, 2014)
a. Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh,
sendi, bengkok, deformitas.
1) Tujuan : klien memahami perubahan-perubahan tubuhnya akibat
proses penyakit
2) Recana/tindakan Keperawatan
a) Dorong klien untuk mengungkapkan rasa takut dan cemasnya
mengahdapi proses penyakit. Kondisi ini dapat membantu untuk
menyadari keadaan diri.
b) Berikan support yang sesuai. Hal ini dapat membantu meningkatkan
upaya menerima dirinya.
c) Dorong klien untuk mandiri. Kemandirian membantu meningkatkan
harga diri.
d) Memodifikasi lingkungan sesuai dengan kondisi klien
b. Nyeri berhubungan dengan perubahan patologis oleh artritis rhematoid.
1) Tujuan : Kebutuhan rasa nyaman klien terpenuhi atau klien terhindar
dari rasa nyeri
31
2) Recana/tindakan Keperawatan
a) Istirahatkan klien sesuai kondisi (bed rest). Hal ini dapat membantu
menurunkan stress muskuloskeletal, mengurangi tegangan otot, dan
meningkatkan relaksasi karena kelelahan dapat mendorong terjadinya
nyeri.
b) Pertahankan posisi fisiologis dengan benar atai body alignment yang
baik. Bantu dan ajari klien untuk menghindari gerakan eksternal
rotasi pada ekstremitas. Hindarkan menggunakan bantal dibawah
lutut, tetapi letakkan bantal diatara lutut, hindari fleksi leher.
c) Bila direncanakan klien dapat menggunakan splint, atau brace. Hal
ini dapat mencegah deformitas lebih lanjut.
d) Hindari gerakan yang cepat dan tiba-tiba karena dapat menimbulkan
dislokasi dan stres pada sendi-sendi
e) Lakukan perawatan dengan hati-hati khususnya pada anggota-
anggota tubuh yang sakit. Karena gerakan-gerakan yang kasar akan
semakin menimbulkan nyeri
f) Gunakan terapi panas misal kompres hangat pada area/bagian tubuh
yang sakit. Panas dapat meningkatkan sirkulasi, relaksai otot-otot,
mengurangi kekakuan. Kemungkinan juga dapat membvantu
pengeluaran endorfin yaitu sejenis morfin yang diproduksi oleh
tubuh.
32
g) Lakukan peawatan kulit dan masase perlahan. Hal ini membantu
meningkatkan aliran darah relaksasi otot, dan menghambat impuls-
impuls nyeri serta merangsang pengeluaran endorfin.
h) Memberikan obata-obatab sesuai terapi dokter misal, analgetik,
antipiretik, anti inflamasi.
c. Risiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot dan sendi
1) Tujuan : Klien terhindar dari cedera
2) Recana/tindakan Keperawatan
a) Gunakan sepatu yang menyokong, hindarkan lantai yang licin,
menggunakan pegangan dikamar mandi.
b) Lakukan latihan ROM (bila memungkinkan). Untuk meningkatkan
mobilitas dan kekuatan otot, mencegah deformitas, memperthankan
fungsi semaksimal mungkin
c) Monitor atau observasi efek penggunaan obat-obatan misal ada
perdarahan pada lambung, hematemesis.
d. Gangguan aktifitas sehari-hari (defisit self care) berhubungan dengan
terbatasnya gerakan.
1) Tujuan : Klien akan mandiri sesuai kemampuan daam memenuhi
aktifitas sehari-hari
2) Recana/tindakan Keperawatan
33
a) Ajarkan aktifitas sehari-hari agar klien mulai terkondisi untuk
melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuanyya dan bertahap.
b) Bantu klien untuk makan, berpakaian, dan kebutuhan lain selam
memang diperlukan.
e. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan sendi
1) Tujuan : Mobilitas persendian klien dapat meningkat
2) Recana/tindakan Keperawatan
a) Bantu klien untuk melakukan ROM aktif maupun pasif. Untuk
memelihara fungsi sendi dan kekuatan otot meningkatkan elasitias
serabut- serabut otot.
b) Rencanakan program latihan setiap hari (dapat bekerja sama dengan
dokter dan fisioterapi)
c) Lakukan observasi untuk setiap kali latihan
d) Berikan istirahat secara periode
e) Berikan lingkungan yang aman misal, menggunakan pegangan saat
dikamar mandi, tongkat yang ujungnya sejenis karet sehingga tidak
licin
f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
1) Tujuan : Klien dan keluarga dapat memahami cara perawatan dirumah.
2) Recana/tindakan Keperawatan
34
a) Tekankan kembali tentang pentingnya latihan atau aktivitas yang
dianjurkan, proses penyakit dan keterbatasan-keterbatasannya.
b) Diskusi tentang diit, dan hindarkan peningkatan berat badan
c) Berikan jadwal obat-obatan yang ada, anam dosis, tujuan/efek, efek
samping dan tanda keracunan obat.
d) Jelaskan bahwa klien harus menghindari terjadinya konstipasi
e) Jelaskan, kapan klien harus periksa ulang
4. Evaluasi (Mauren, 2017)
a. Perilaku yang adaptif sehubungan dengan adanya masalah konsep diri
b. Nyeri dapat berkurang
c. Mampu untuk melakukan aktifitas sehari-hari
d. Komplikasi dapat dihindari
e. Meningkatkan mobilitas
f. Memahami cara perawatan di rumah
35
BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
Hari/ Tgl : Mei 2019
Jam :
Nama Mhs : Labrina Maifun
1. Identitas
a. Nama : Tn. Y
b. Tempat /tgl lahir :
c. Jenis Kelamin : Laki-laki
d. Status Perkawinan : Duda
e. Agama : Kristen Protestan
f. Suku : Papua
2. Riwayat Pekerjaan dan Status Ekonomi
a. Pekerjaan saat ini : Petani
b. Pekerjaan sebelumnya : Petani
c. Sumber pendapatan :
d. Kecukupan pendapatan :
36
3. Lingkungan tempat tinggal
a. Kebersihan dan kerapihan ruangan ? : Bersih tetapi kurang rapih
b. Penerangan ? : Pada siang hari cukup
c. Sirkulasi udara? : Cukup
d. Keadaan kamar mandi & WC? : Kamar mandi dan WC bersih
e. Pembuangan air kotor (SPAL)? : Dibuang ke pekarangan
f. Sumber air minum? : Tersedia dan bersih
g. Pembuangan sampah ?, : Sampah dibakar dipekarangan
h. Sumber pencemaran?, : Asap
i. Privasi?, : tersedia kamar
j. Risiko injuri? : Tidak ada
4. Riwayat Kesehatan
a. Status Kesehatan saat ini
1) Keluhan utama dalam 1 tahun terakhir : klien tidak dapat beraktifitas
seperti biasa karena kendala sakit pada persendian terutama tungkai bawah
2) Gejala yang dirasakan : nyeri pada waktu pagi dan malam
3) Faktor pencetus : karena udara yang dingin
4) Timbulnya keluhan : Bertahap sejak beberapa tahun ini
5) Upaya mengatasi :
a) Pergi ke RS/Klinik pengobatan/dokter praktek/bidan/perawat ? klien
berobat ke Puskesmas dan perawat yang bertugas
37
b) Mengkomsumsi obat-obatan sendiri ?, obat tradisional ? keluarga klien
biasa kompres dengan air panas dan juga minum ramuan sendiri
c) Lain-lain tidak ada
b. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
1) Penyakit yang pernah diderita : Penyakit malaria dan Ispa
2) Riwayat alergi ( obat, makanan, binatang, debu dll ) : tidak ada
3) Riwayat kecelakaan : Tidak ada
4) Riwayat pernah dirawat di RS : Tidak ada
5) Riwayat pemakaian obat : Tidak ada
5. Pola Fungsional
a. Persepsi kesehatan dan pola manajemen kesehatan
Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan misal merokok, minuman
keras, ketergantungan terhadap obat ( jenis/frekuensi/jumlah/ lama
pakai ) : Tidak ada
b. Nutrisi metabolik
1) Frekuensi makan : 2 kali sehari
2) Nafsu makan : baik tapi terganggu bila sakit
3) Jenis makanan : nasi, ubi, ikan/daging dan sayur
4) Makanan yg tdk disukai : Ubi, ikan / daging dan sayur
5) Alergi thdp makanan : Tidak ada
38
6) Pantangan makanan : Tidak ada
7) Keluhan yang berhubungan dengan makan : Tidak ada
c. Eliminasi
1) BAK :
a) Frekuensi & waktu? : > 3 kali sehari
b) kebiasaan BAK pada malam hari? : 2 kali semalam
c) keluhan yang berhubungan dengan BAK? : Sering BAK
2) BAB :
a) Frekuensi dan waktu? : 2 kali sehari pada pagi hari
b) Konsistensi? : keras
c) Keluhan yang berhubungan dengan BAB? : sering susah BAB
d) Pengalaman memakai pencahar? : tidak pernah
d. Aktifitas Pola Latihan
1) Rutinitas mandi? : 2 kali sehari (pagi dan sore)
2) kebersihan sehari-hari? : kurang terpenuhi
3) aktifitas sehari-hari? :
4) apakah ada masalah dengan aktifitas? : tidak dapat berjalan jauh
5) kemampuan kemandirian? : terganggu dan dibantu
e. Pola istirahat tidur
39
1) Lama tidur malam?, : terganggu bila hendak BAK
2) Lama tidur siang?, : tidak terganggu (tidur 1 jam)
3) keluhan yang berhubungan dengan tidur? : Tidak ada
f. Pola Kognitif Persepsi
1) Masalah dengan penglihatan : terganggu pada mata kiri dan kanan
2) kabur?, : penglihatan kabur
3) Pakai kacamata?. : pakai kaca mata
4) Masalah pendengaran normal?, terganggu pada (kanan dan kiri)?
5) memakai alat bantu dengar ?, tuli ( ka/ki ) ? : Tidak ada.
g. Kesulitan membuat keputusan ?
h. Persepsi diri-Pola konsep diri
i. Bagaimana klien memandang dirinya ( Persepsi diri sebagai lansia?),
bagaimana persepsi klien tentang orang lain mengenai dirinya?
j. Pola Peran-Hubungan
1) Peran ikatan?,
2) kepuasan?, pekerjaan/ sosial/hubungan perkawinan ?
3) Sexualitas
a) Riwayat reproduksi, kepuasan sexual, masalah ?
k. Koping-Pola Toleransi Stress
40
Apa yang menyebabkan stress pada lansia, bagaimana penanganan terhadap
masalah ?
l. Nilai-Pola Keyakinan
1) Sesuatu yang bernilai dalam hidupnya spirituality menganut suatu
agama,
2) bagaimana manusia dengan penciptanya ),
3) keyakinan akan kesehatan,
4) keyakinan agama
6. Pemeriksaan Fisik :
a. Keadaan umum : Lemah dan tidak dapat berjalan jauh
b. TTV : (TD : 140/90), Nadi : 74 x/menit, Respirasi : 24 x/m
c. BB/TB : 52 kg / 160 cm
d. Kepala : Baik dan tidak ada benjolan
e. Rambut : kurang terawat
f. Mata : kabur sehingga menggunakan kaca mata
g. Telinga : kurang pendengaran
h. Mulut, gigi dan bibir : tidak gosok gigi hanya kumur-kumur pagi hari
i. Dada : kadang terasa sakit bila batuk
j. Abdomen : tidak teraba massa dan tidak nyeri tekan
k. Kulit : tidak menderita penyakit kulit
l. Ekstremitas Atas : kadang mesara nyeri
41
m. Ekstremitas bawah : nyeri pada persendian terutama pagi dan malam hari
B. Diagnosa Keperawatan
1. Analisa Data
Masalah
No. Gejala Penyebab
Keperawatan
1. Data Subyektif (DS) : Lansia Gangguan mobilisasi
Klien mengeluh nyeri pada
sendi lutut terutama pagi hari
dan malam hari Berkurangnya kadar air
tulang rawan sendi
Data Obyektif (DO) :
Klien tampak meringis
kesakitan, skala nyeri 5, klien Nyeri
tidak dapat berjalan dan hanya
duduk ditempat,
2. Penetapan Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan hasil analisis data maka ditetapkan diagnosa keperawatan
sebagai berikut : Gangguan mobilisasi sehubungan dengan nyeri pada
persendian ditandai dengan , DS : klien mengeluh nyeri pada sendi lutut, DO :
klien tampak meringis kesakitan dan tidak dapat berjalan, skala nyeri 5.
42
C. Intervensi
Perencanaan keperawatan dan rasional
Hari/Tanggal Diagnosa Perencanaan Keperawatan
Juni 2019 Nyeri berhubungan Tujuan dan Kriteria hasil :
dengan penurunaan fungsi 1. Nyeri hilang/terkontrol
tulang 2. Pasien dapat istirahat/tidur dengan tenang, pasien
ditandai dengan nyeri tampak rileks
(skala 5), wajah meringis, Rencana Tindakan Rasional
kaki sakit bila berjalan 1. Kaji nyeri, catat 1. Membantu dalam
lokasi, Karakteristik, menentukan
derajat ( skala 0- 10) manajemen nyeri
2. Anjurkan klien untuk 2. Panas Meningkatkan
mandi air hangat relaksasi otot dan
mobilitas,
menurunkan rasa
sakit
3. Berikan klien posisi 3. Tirah baring
yang nyaman pada mungkin diperlukan
waktu tidur / duduk untuk membatasi
dikursi nyeri / cedera sendi
4. Berikan massage 4. Meningkatkan
yang lembut relaksasi atau
regangan otot
43
D. Implementasi
Pelaksanaan Keperawatan
Hari / Tanggal Diagnosa Implementasi Keperawatan Evaluasi (SOAP)
Pukul 10.00 WIB S : Klien menyatakan
1. Memberikan salam teraupetik bahwa kaki kanan dan
dan memperkenalkan diri kirinya masih sakit
Nyeri
2. Melakukan hubungan saling apalagi berjalan
berhubungan
percaya antara klien dan O : Klien memijat-
dengan
perawat mijat kakinya
penurunaan fungsi
3. Mengkaji keluhan nyeri dan A : Masalah belum
tulang
15 Juni 2019 catat lokasi skala nyeri. Skala teratasi
ditandai dengan
nyeri = 5 (kaki) P : Rencana tindakan
nyeri (skala 5),
4. Menganjurkan Klien mandi dilanjutkan
wajah meringis,
dengan air panas /hangat
kaki sakit bila
5. Mempertahankan posisi yang
berjalan
nyaman saat istirahat dan
duduk
Pukul 17.00 WIB S : Klien menyatakan
1. Memberikan salam teraupetik bahwa kaki kanan dan
2. Mengkaji keluhan nyeri dan kirinya masih sakit
catat lokasi skala nyeri. Skala apalagi saat berjalan
nyeri = 4 (kaki) O : Klien belum dapat
3. Melakukan pijitan beraktifitas dan
menggunakan minyak gosok nampak memijat-
pada lutut yang nyeri mijat kakinya
4. Menganjurkan Klien mandi A : Masalah belum
dengan air panas /hangat teratasi
5. Tetap mempertahankan posisi P : Rencana tindakan
yang nyaman saat istirahat dan dilanjutkan
duduk
Pukul 09.00 WIB S : Klien menyatakan
1. Memberikan salam teraupetik bahwa kaki kanan dan
2. Mengkaji keluhan nyeri dan kirinya masih sakit
Nyeri
catat lokasi skala nyeri. Skala apalagi berjalan
berhubungan
nyeri = 3- 4 O : Klien memijat-
dengan
3. Menganjurkan Klien mandi mijat kakinya
penurunaan fungsi
16 Juni 2019 dengan air panas /hangat A : Masalah teratasi
tulang
4. Mempertahankan posisi yang sebagian
ditandai dengan
nyaman saat istirahat dan P : Rencana tindakan
nyeri (skala 4),
duduk dilanjutkan
wajah meringis,
Pukul 17.30 WIB S : Klien menyatakan
kaki sakit bila
1. Memberikan salam bahwa kaki kanan dan
berjalan
2. Melakukan hubungan saling kirinya masih terasa
percaya antara klien dan sakit dan kaku bila
perawat berjalan
44
3. Mengkaji keluhan nyeri dan O : Klien memijat-
catat lokasi skala nyeri. Skala mijat kakinya
nyeri = 2 - 3 A : Masalah teratasi
4. Menganjurkan Klien mandi sebagian
dengan air panas /hangat P : Rencana tindakan
5. Mempertahankan posisi yang dilanjutkan
nyaman saat istirahat dan
duduk
17 Juni 2019 Nyeri Pukul 10.00 WIB S : Klien menyatakan
berhubungan 1. Memberikan salam nyeri pada bahwa kaki
dengan 2. Mengkaji keluhan nyeri dan kanan dan kirinya
penurunaan fungsi catat lokasi skala nyeri. Skala berkurang
tulang nyeri = 1-2 O : Klien sudah
ditandai dengan 3. Melakukan pijitan pada lutut berjalan ditempat
nyeri (skala 0-1), gunakan minyak goosok A : Masalah telah
wajah meringis, 4. Mempertahankan posisi yang teratasi
kaki sakit bila nyaman saat istirahat dan P : Rencana tindakan
berjalan duduk dilanjutkan
45
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis akan membahas asuhan keperawatan gerontik pada Tn.Y.
dengan Arthritis Rhematoid di Wilayah Kerja Puskesmas Seget Kabupaten Sorong.
Pembahasan pada bab ini terutama membahas adanya kesesuaian maupun
kesenjangan antara teori dengan kasus. Terkait dengan hal tersebut pada bab ini
penulis akan melakukan pembahasan tentang penerapan asuhan keperawatan gerontik
yang dimulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan
evaluasi keperawatan.
A. Pengkajian
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data yang relevan dan continue
tentang respon manusia, kekuatan dan masalah pasien (Bulecek. M. G et all,
2014). Dalam pengkajian terhadap Tn.Y penulis menggunakan metode
wawancara, observasi serta catatan rekam medis. Dalam tahap pengkajian
didapatkan data klien yang bernama Tn.Y dengan diagnosa medis Arthritis
Rematoid.
Arthritis Rhematoid adalah penyakit autoimun yang etiologinya belum
diketahui dan ditandai oleh sinovitis erosif yang simetris dan pada beberapa
kasus disertai keterlibatan jaringan ekstraartikular. Perjalanan penyakit RA ada 3
46
macam yaitu monosiklik, polisiklik dan progresif. Sebagian besar kasus
perjalananya kronik kematian dini (Perhimpunan rheumatologi Indonesia, 2016).
Karakteristik klien yang menderita Arthritis Rhematoid adalah seorang
laki-laki yang telah berumur 70 tahun (Lansia) mengeluh nyeri pada persendian
terutama pada extrimitas bawah pada pagi dan malam hari dan faktor
pencetusnya adalah udara yang dingin. Keadaan ini menyebabkan klien tidak
dapat beraktifitas terutama berjalan jauh dan melakukan pekerjaannya sebagai
petani dan sering dibantu oleh keluarganya serta berjalan menggunakan tongkat.
B. Diagnosa
Berdasarkan tanda dan gejala yang dialami oleh pasien dengan artritis
rhematoid ditambah dengan adanya data dari pemeriksaan diagnostik, maka
diagnosa keperawatan yang sering muncul yaitu (Mauren, 2017) :
Nyeri berhubungan dengan penurunan fungsi tulang ditandai, DS : klien
mengeluh nyeri pada sendi lutut, DO : klien tampak meringis kesakitan dan tidak
dapat berjalan, skala nyeri 5.
C. Intervensi
Berdasarkan diagnosa keperawatan maka ditetapkan rencana tindakan
keperawatan selama 3 hari yaitu : (1) Kaji intensitas nyeri, catat lokasi,
karakteristik, derajat ( skala 0 - 10), rasionalnya adalah agar membantu dalam
manajemen nyeri. (2) Anjurkan klien untuk mandi air hangat dengan rasional
47
panas meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit.
(3) Berikan klien posisi yang nyaman pada waktu tidur / duduk dikursi,
rasionalnya : tirah baring diperlukan untuk membatasi nyeri atau cedera sendi.
(4) Berikan massage yang lembut, rasionalnya : meningkatkan relaksasi atau
peregangan otot.
D. Implementasi
Implementasi merupakan tindakan asuhan keperawatan yang didasarkan
pada rencana (intervensi) yang telah ditetapkan. Implementasi selama 3 hari
dimulai sejak tanggal 15- 17 Juni 2019, dengan kegiatan antara lain :
memberikan salam teraupetik dan memperkenalkan diri, melakukan hubungan
saling percaya antara klien dan perawat, mengkaji keluhan nyeri dan catat lokasi
skala nyeri = 5 berlokasi di kaki, menganjurkan klien mandi dengan air panas
/hangat, melakukan pijitan pada lokasi yang nyeri menggunakan minyak gosok
dan mempertahankan posisi yang nyaman saat istirahat dan duduk.
E. Evaluasi
Setelah dilakukan implementasi selama 3 hari, maka dilakukan evaluasi
berdasarkan SOAP, diperoleh hasil bahwa (S) klien menyatakan bahwa kaki
kanan dan kirinya masih sakit apalagi berjalan (O) : Klien memijat- mijat
kakinya, (A) masalah belum teratasi (P) : rencana tindakan dilanjutkan.
48
Berdasarkan hasil evaluasi pada hari pertama, maka peneliti lakukan
implementasi yaitu melakukan pijitan pada kaki menggunakan minyak gosok dan
membalutnya dengan verban agar tempat pijitan menjadi hangat
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah dilakukan pengkajian pengkajian terhadap Tn. Y, ada masalah
keperawatan yang ditemukan nyeri dan ditetapkan diagnosa keperawatan yaitu :
Nyeri berhubungan dengan penurunaan fungsi tulang ditandai dengan nyeri (skala
5), wajah meringis, kaki sakit bila berjalan nyeri berhubungan dengan kelemahan
ekstremitas bawah ditandai dengan pasien berjalan dengan menggunakan tongkat,
tidak mampu berjalan jauh, dan sebagian kegiatan dibantu oleh keluarga, TD:
140/90 mmHg, Nadi : 74x/menit, RR: 24x/menit. Kemudian dilakukan
49
implementasi berdasarkan intervensi yang direncanakan selama 3 hari dan hasil
evaluasi yaitu klien sudah mampu berjalan lambat tanpa tongkat dan nyeri pada
sendi kaki berkurang.
B. Saran
Berdasarkan hasil yang diperoleh dan setelah membahas masalah-masalah
yang dihadapi didalam perawatan pasien dengan masalah kebutuhan. Gangguan
rasa aman dan nyaman : nyeri, maka penulis dapat memberikan saran sebagai
berikut :
1. Diharapkan kepada pihak institusi pendidikan agar dapat menyediakan dan
menambah referensi terbaru, terutama mengenai buku-buku keperawatan
kebutuhan dasar dan buku Nyeri, agar dalam pemberian asuhan keperawatan
dapat dilaksanakan secara optimal.
2. Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan diharapkan para petugas kesehatan
dapat lebih optimal dalam melakukan praktek dan melaksanakan asuhan
keperawatan secara benar sesuai dengan standar praktek keperawatan.
50
DAFTAR PUSTAKA
AKPER Harum Jakarta. (2016). Konsep Dasar Keperawatan Gerontik, 1–23.
Andhika et al. (2016). Penyebab Penyakit Asam Urat, 02(Asam Urat dan
Penyebabnya), 125–146.
Angriani, E., Dewi, A. P., & Novayelinda, R. (2013). Faktor-faktor yang
berhubungan dengan kejadian Gout Arthritis Masyarakat Melayu.
Ani Rima Putri. (2018). PENGARUH PEMBERIAN KOMPRES JAHE MERAH (
ZINGIBER OFFICINALE VAR RUBRUM RHIZOMA ) TERHADAP NYERI
PADA PASIEN GOUT ARTHRITIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
ALIANYANG KOTA PONTIANAK.
Badan PPSDM Kesehatan. (2016). Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan Gerontik.
Bulecek. M. G et all. (2014). Nursing Interventions Classification ( NIC ), 4th edition
Intervention Labels & Definitions , Indonesian Edition.
Dedy Setya Nugraha. (2017). GAMBARAN KARAKTERISTIK RESPONDEN,
RIWAYAT PENYAKIT YANG MENYERTAI DAN JENIS PENYAKIT
REUMATIK PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
51
KECAMATAN BUNGKAL KABUPATEN PONOROGO.
Elsi, M. (2018). Gambaran faktor dominan pencetus arthritis rheumatoid di wilayah
kerja puskesmas danguang danguang payakumbuh tahun 2018, XII(8), 98–106.
Fera Bawarodi, et al. (2017). FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN
DENGAN KEKAMBUHAN PENYAKIT REMATIK DI WILAYAH
PUSKESMAS BEO KABUPATEN TALAUD, 5, 1–7.
Fillah Muty Syahidah et al. (2018). Potensi Seledri Untuk Pengobatan. Farmaka, 16,
55–62.
Friska, M., & Daryono, B. S. (2017). HASIL POLIPLOIDISASI DENGAN
KOLKISIN, 10(2), 91–97.
Hongkong, O. R., Rawat, K., & Spesialis, J. (2018). Artritis reumatoid.
Kemenkes RI. (2018). Hasil Utama RISKESDAS 2018.
Khoirunnisa, N., Novitasari, R. W., Neurologi, D., Kedokteran, F., & Gadjah, U.
(2015). Assessment Nyeri, 42(3), 214–234.
Lestari, S. A. (2016). Asuhan keperawatan Pada Lansia Dengan Masalah Risiko
Kerusakan Fungsi Kardiovaskuler Melalui Swedish Massage.
Mauren, P. (2017). Asuhan Keperawatan pada Ny . S dengan Prioritas Masalah
Kebutuhan Dasar Rasa Nyaman : Nyeri di Kelurahan Sari Rejo Kecamatan
Medan Polonia.
Nursyamsi Norma Lalla. (2011). TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG
PENYAKIT ARTHRITIS RHEUMATOID DI TINJAU DARI
KARAKTERISTIK LANSIA DI PUSKESMAS TAMALANREA JAYA KOTA
MAKASSAR, 630–646.
Perhimpunan Reumatologi Indonesia. (2014). Rekomendasi Perhimpunan
Reumatologi Indonesia Untuk Diagnosis dan Pengelolaan Artritis Reumatoid
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang : Diterbitkan oleh :
Perhimpunan rheumatologi Indonesia. (2016). Artritis Reumatoid.
Riyandi, I. K., & Mardana, P. (2017). Penilaian Nyeri.
Roscoe, R. (2016). Pengaruh Pemberian Kompres Hangat Memakai Parutan Jahe
Merah (, 4.
52
STIKES Muhammadiyah Klaten. (2015). Panduan Praktek Belajar Klinik
Keperawatan Gerontik.
Lampiran 1
SURAT PERMINTAAN UNTUK MENJADI
RESPONDEN PENELITIAN
Kepada Yth:
Calon Responden Penelitian
Di
Kota Sorong
Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini;
Nama : Labrina Maifun.
NIM : 31440118120
Pekerjaan : Mahasiswa
Institusi : Politeknik Kesehatan Kemenkes Sorong
Adalah Mahasiswa Program Studi D-III Keperawatan Kelas RPL Politeknik
Kesehatan Kementerian Kesehatan Sorong yang melakukan penelitian dengan judul
“Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Tn. YM. Dengan Arthritis Rhematoid
Di Wilayah Kerja Puskesmas Seget Kabupaten Sorong”.
Penelitian ini tidak menimbulkan akibat yang merugikan bagi Saudara sebagai
responden, kerahasiaan semua informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya
digunakan untuk kepentingan penelitian.
Jika Saudara tidak bersedia menjadi responden, maka tidak ada ancaman bagi
Saudara, serta memungkinkan mengundurkan diri untuk tidak mengikuti penelitian
ini. Apabila Saudara menyetujui, maka saya mohon kesediaannya untuk
menandatangani persetujuan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian
53
ini. Atas perhatian dan kesediaan Saudara menjadi responden, saya ucapkan terima
kasih.
Sorong, Juni 2019
Peneliti
(Labrina Maifun.)
NIM. 31440118120
Lampiran 2
INFORMED CONSENT
(PERSETUJUAN UNTUK MENJADI RESPONDEN)
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama :………………………………..
Tgl Lahir / Umur :………………………………..
Pekerjaan :………………………………..
Alamat :………………………………...
Telp /HP :………………………………...
Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa bersedia secara sukarela tanpa
unsur paksaan untuk menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan oleh saudari
Labrina Maifun, mahasiswi Program Studi D-III Keperawatan Kelas RPL Sorong
pada Politeknik Kesehatan Kemenkes Sorong dengan Judul :
“Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Pasien Tn. YM. Dengan Arthritis Rhematoid
Di Wilayah Kerja Puskesmas Seget Kabupaten Sorong”.
Demikian persetujuan ini saya buat dan ditanda tangani untuk dijadikan dasar
kesediaan sebagai responden atau informan (sumber informasi) pada penelitian ini.
Sorong, Juni 2019
54
Informan
(………………………..)
55