0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan19 halaman

Laringomalasia: Diagnosis dan Penatalaksanaan

Teks tersebut membahas tentang laringomalasia, yaitu kelainan bawaan dimana kartilago supraglotis kurang berkembang yang menyebabkan stridor pada bayi. Diagnosa ditegakkan dengan laringoskopi yang menunjukkan epiglotis berbentuk omega sehingga terjadi kolaps. Pemilihan operasi epiglottoplasty efektif untuk mengobati gejala yang berat. Teks ini juga membahas anatomi, fisiologi, dan embriologi laring secara

Diunggah oleh

Khaula Sugira
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan19 halaman

Laringomalasia: Diagnosis dan Penatalaksanaan

Teks tersebut membahas tentang laringomalasia, yaitu kelainan bawaan dimana kartilago supraglotis kurang berkembang yang menyebabkan stridor pada bayi. Diagnosa ditegakkan dengan laringoskopi yang menunjukkan epiglotis berbentuk omega sehingga terjadi kolaps. Pemilihan operasi epiglottoplasty efektif untuk mengobati gejala yang berat. Teks ini juga membahas anatomi, fisiologi, dan embriologi laring secara

Diunggah oleh

Khaula Sugira
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

Laringomalasia adalah kelainan bawaan di mana kartilago supraglotis


kurang berkembang. Laringmomalasia adalah penyebab paling sering dari stridor
persisten pada bayi dan biasanya terlihat dalam 6 minggu pertama kehidupan.
Stridor didapatkan lebih buruk pada posisi terlentang, peningkatan aktivitas,
dengan infeksi saluran pernapasan atas, dan selama menyusui. Namun, gejala
klinis dapat bervariasi. Pasien mungkin mengalami desaturasi oksigen ringan
selama tidur. Gastroesophageal reflux juga dapat berhubungan dengan
laringomalasia yang membutuhkan perawatan. Kondisi ini biasanya membaik
dengan bertambahnya usia dan membaik pada usia 2 tahun, tetapi dalam beberapa
gejala kasus bertahan selama bertahun-tahun.1

Diagnosis ditegakkan dengan laringoskopi langsung, yang menunjukkan


epiglotis berbentuk omega sehingga terjadi kolaps yang menyebabkan kegagalan
inspirasi. Pada pasien dengan laringomalasia derajat ringan (mereka yang tidak
stridor saat istirahat atau retraksi), prosedur ini mungkin tidak diperlukan dan
biasanya tidak diperlukan perawatan. Namun, pada pasien dengan gejala obstruksi
jalan nafas berat yang berhubungan dengan kesulitan makan, kegagalan untuk
berkembang, obstructive sleep apnea, insufisiensi pernapasan, atau dispnea berat,
bedah epiglottoplasty mungkin diperlukan. Pemilihan operasi menunjukkan
efikasi yang tinggi dalam keberhasilan terapi dibandingkan dengan cara
konservatif. 1

Berdasarkan fakta bahwa laringomalasia kelainan kongenital tersering yang


menyebabkan stridor pada neonatus, bayi dan anak-anak, maka diperlukan
pemahaman lebih lanjut, sehingga memudahkan kita untuk mengetahui diagnosis
dini dan penatalaksanaan mutakhir laringomalasia.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Laring

Laring adalah organ yang berperan sebagai sphincter pelindung


pada pintu masuk jalan nafas dan berperan dalam pembentukan suara.
Larynx terletak dl bawah lidah dan os hyoid, di antara pembuluh-
pembuiuh besar leher, dan terletak setinggi vertebra cervicalis keempat,
kelima, dan keenam. Ke atas, laring terbuka ke laryngopharynx, ke bawah
laring berlanjut sebagai trachea. Di depan, laring ditutupi oleh ikatan otot-
otot infrahyoid dan di lateral oleh glandula thyroidea.2
Laring terdiri dari serangkaian tulang rawan yang disatukan oleh
membran dan otot dan berisi pita suara. Tulang rawan terbesar di laring
adalah kartilago tiroid, yang dibagi menjadi lamina kiri dan kanan.3
Kartilago tiroid terdiri dari dua sayap yang bertemu di anterior dan
membentuk sudut lancip. Sudut bervariasi menurut jenis kelamin, 90˚ pada
pria dewasa dan 120 ˚ pada wanita. Pada pria, bagian superior sudut
tersebut membentuk penonjolan subkutan disebut “ Adam’s Apple” atau
jakun. 3
Antara kartilago tiroid dan cincin trakea pertama adalah kartilago
krikoid. Ini adalah struktur berbentuk cincin dan merupakan satu-satunya
cincin lengkap di jalan napas. Ini adalah titik tersempit dari jalan nafas atas
pada anak-anak sedangkan pita suara adalah titik tersempit di jalan napas
bagian atas dewasa. Kartilago krikoid bersambung dengan kartilago tiroid
serta kartilago yang lebih kecil di dalam laring yang memungkinkan
pergerakan pita suara dan karenanya menghasilkan suara. Laring melekat
pada tulang hyoid oleh otot dan membran yang mana mengikat tulang
hyoid dari mandibula. Otot-otot yang melekat pada bagian luar laring
menggerakkan laring naik-turun selama berbicara dan menelan, ini disebut
otot infrahyoid (strap muscle).4

2
Gambar 1. : Cartilago laring. 4
Terdapat dua buah kartilago arytenoidea ; kecil, berbentuk
pyramid, dan terletak pada permukaan belakang laring.4 Kartilago ini
bersendi dengan pinggir atas lamina kartilago kricoidea. Masing-masing
kartilago mempunyai apex di atas yang bersendi dengan kartilago
corniculata yang kecil, serta basis di bawah yang bersendi dengan lamina
cartilago kricoidea, dan sebuah processus vocalis yang menonjol ke depan
dan merupakan tempat lekat dari ligamentum vocale. Processus muscularis
yang menonjol ke lateral, menjadi tempat lekat Musculus
cricoarytenoideus lateralis dan posterior.2
Kartilago Corniculata merupakan dua buah kartilago kecil
berbentuk kerucut, bersendi dengan apex kartilago arytenoideae dan

3
menjadi tempat melelekatnya plica aryepiglottica. Cartilago cuneiforme
Dua cartilago kecil yang berbentuk batang ini terletak di dalam plica
aryepiglottica dan berperan memperkuat plica tersebut.2
Epiglotis merupakan kartilago elastis berbentuk daun yang terletak
di belakang radix linguae. Tangkainya dilekatkan di belakang cartilago
thyroidea. Sisi epiglottis dihubungkan dengan cartilago arytenoidea oleh
plica aryepiglottica, yang merupakan sebuah lipatan membrana mucosa.
Pinggir atas epiglottis bebas. Membrana mucosa yang melapisinya
berjalan ke depan, meliputi permukaan posterior lidah sebagai plica
glossoepiglottica mediana. Lekukan pada membrana mucosa di kanan dan
kiri plica glossoepiglottica disebut vallecular. Di sebelah lateral,
membrana mucosa berjalan ke dinding pharynx membentuk plica
glossoepigloftica lateralis.2
Otot-otot larynx dapat dibagi dalam dua kelompok: ekstrinsik dan
intrinsik. Otot-otot Ekstrinsik menarik larynx ke atas dan bawah selama
proses menelan. Perhatikan bahwa kebanyakan otot-otot melekat pada os
hyoideum, yang melekat pada cartilago thyroidea melalui membrana
thyrohyoidea. Oleh karena itu gerakan os hyoideum akan diikuti oleh
gerakan larynx. Otot-Otot lntrinsik terdiri dari musculus arytenoideus
obliquus, musculus thyroepiglottica. Lima otot menggerakkan plica
vocalis (pita suara) musculus cricothyroideus, musculus thyroarytenoideus
(vocalis), musculus cricoarytenoideus lateralis, musculus cricoarytenoideus
posterior, musculus arytenoideus transversus.2

Gambar 2. Vaskularisasi Laring.

4
Laring suplai oleh arteri thyroid superior dan inferior. Arteri laring
superior berasal dari arteri karotis eksterna, sedangkan suplai arteri thyroid
inferior berasal dari arteri subklavia. Drainase vena bagian atas melalui
vena tiroid superior ke vena jugularis interna dan inferior melalui vena
tiroid inferior ke vena brachiosefal sinistra.5
Nervus yang menginervasi otot-otot laring adalah saraf sensoris di
atas plica vocalis oleh ramus laryngeus internus, cabang dari nervus
laryngeus superior nervus vagus. Di bawah plica vocalis oleh nervus
laryngeus recurrens. Sedangkan saraf motoris yaitu semua otot-otot
intrinsik larynx, kecuali musculus cricothyroideus dipersarafi oleh nervus
laryngeus recurrens. Musculus cricothyroideus dipersarafi oleh ramus
laryngeus externus dari nervus laryngeus superior nervus vagus.2
Aliran pembuluh limfe laring bermuara ke dalam nodi lymphoidei
cervicales profundi.2

B. Fisiologi Laring
Laring atau kotak suara terletak di pintu trakea. Tonjolan anterior
laring membentuk jakun (Adam’s apple). Pita suara, dua pita dari jaringan
elastis yang membentang sepanjang pembukaan laring, bisa meregang dan
berposisi sebagaimana bentuk-bentuk otot laring yang berbeda-beda.
Udara melewati laring melalui ruang antara kedua pita suara. Pembukaan
laring dikenal dengan sebutan glottis. Saat udara berpindah melalui
pembukaan glottis melewati posisi yang berbeda, pita suara menegang,
kemudian bergetar untuk menghasilkan banyak suara saat berbicara. Bibir,
lidah, dan palatum molle memodifikasi suara-suara tersebut menjadi pola
suara yang dapat dikenal. Sewaktu menelan, pita suara melaksanakan
fungsi yang tidak berkaitan dengan bicara; keduanya saling mendekat
untuk menutup pintu masuk ke trakea.6
Laring memiliki fungsi utama sebagai saluran pernapasan. Laring
bagian dari bagian atas saluran pernapasan dan mengatur aliran udara.6
Laring mengatur besar kecilnya rima glotis. Bila [Link]

5
posterior berkontraksi akan menyebabkan prosesus vokalis kartilago
aritenoid bergerak ke lateral, sehingga rima glotis terbuka.7
Laring berfungsi sebagai sfingter di ujung atas pernapasan saluran
dan penutupan sfingterik ini mekanisme membantu dengan cara berikut:
Penutupan saat menelan, melindungi dari regurgitasi dan muntah. Refleks
melindungi terhadap masuknya benda asing. Penutupan sphincter
membantu fiksasi toraks dari tekanan intrathoracic seperti berkemih,
mengedan, batuk, dll. Reflek pada pangkal tenggorokan memainkan peran
penting bagian dalam refleks batuk.6
Laring memainkan peran utama dalam getaran pita suara. Fonasi
melibatkan nada dasar diproduksi oleh getaran pita suara. Produksi suara
oleh laring melibatkan mekanisme udara dengan tekanan tinggi
intratrakeal, mekanisme vibrasi, dan mekanisme resonansi. Fonasi
dihasilkan oleh kontraksi otot ekspirasi di dada dan dada dinding perut.5
Fungsi laring selama menelan, laring bergerak ke arah pangkal
lidah dan dengan demikian membawa persimpangan pharyngooesophageal
lebih dekat ke bolus. Epiglotis melengkung ke belakang dan mengarahkan
makanan ke fossa piriform. Mekanisme sphincteric pada laring mulai
terjadi dan mencegah makanan ke laryngotracheobronchial.5

C. Embriologi Laring
Laring, trakea, dan paru-paru mulai terbentuk selama minggu
keempat perkembangan embriologis. Divertikulum pernapasan juga
disebut sebagai divertikulum laryngotracheal, dimulai sebagai penebalan
pada dinding ventral foregut lumen segera caudal ke keempat cabang
lengkungan. Lapisan divertikulum ini berasal dari endoderm foregut dan
memunculkan lapisan epitel dan kelenjar laring, trakea, dan paru-paru.
Diverticulum memanjang, itu menjadi akan menjadi tulang rawan dan
struktur otot organ pernapasan bawah. Meluasnya diverticulum mulai
melebar pada akhir minggu keempat, menimbulkan kuncup paru
primordial atau kuncup bronkopulmonalis.8

6
Berlawanan dengan anggapan tersebut diusulkan oleh- Zaw-Tun
dan Burdi menunjukkan bahwa esofagus terbentuk sebagai akibat dari
kelanjutannya pemanjangan ventrocaudal divertikulum respirasi, kondilus
tulang rawan krikoid dimulai secara bilateral dari satu pusat di lengkungan
ventral itu mulai menuju lamina dorsal. Pembentukan tulang rawan
arytenoid dari satu pusat, tiroid berasal dari dua pusat pembentukan tulang
rawan. Epiglotis berasal dari puncak hipobranchial, yang mana proliferasi
mesenkim di ujung ventral pada ujung ketiga dan lengkungan cabang
keempat.8
Otot krikotiroid berasal dari lengkungan cabang keempat dan
karenanya, dipersarafi oleh saraf laring superior. Semua otot laring
intrinsik lainnya berasal dari cabang lengkung keenam dan dipersarafi oleh
berulang saraf laring.8
Dimulai pada minggu keenam, mesenkim di bagian dalam laring
yang sedang berkembang, berkembang dengan cepat, menyebabkan
menghilangnya lumen dan munculnya lamina epitel. Pembesaran
arytenoid berkembang di dasar median faring, menyebabkan laring tampak
berbentuk T antara arytenoid dan epiglotis. Lamina epitel akan berlanjut
untuk memperbesar di ventral ke dorsal dan hampir menghilangkan
laringofaring primitive kecuali untuk saluran pharyngoglottic yang sempit.
Selain itu, antara pembesaran arytenoid dan epiglotis, sekum laring
muncul dan turun menuju ventral glotis ke lamina epitel.8
Pada minggu kesepuluh perkembangan, lamina epitel akan mulai
kembali dalam dorsoventral, yang akan menghubungkan saluran
pharygoglottic dengan sekum laring bagian dalam dan ketika selesai,
menghubungkan supra dan daerah infraglotis. Ventrikel laring juga
terbentuk selama periode rekanalisasi sebagai ekor dari sekum laring.
Gangguan dari proses rekanalisasi diyakini bertanggung jawab atas
jaringan laring bawaan dan atresia.8
Selama periode janin berikutnya, tulang rawan elemen akan terus
matang. Saat lahir, laring terletak pada posisi yang jauh lebih tinggi pada
vertebra serviks kedua atau ketiga dari pada laring dewasa pada vertebra

7
serviks kelima. Selama pertama beberapa tahun kehidupan, pangkal
tenggorokan akan tumbuh pada tingkat cepat dan epiglotis akan mencapai
bentuk dewasa. Epiglottis adalah yang terakhir membentuk jaringan tulang
rawan.3
Tulang hyoid dan laring turun selama pertumbuhan dan
pematangan, yang merupakan sesuatu yang unik bagi manusia dan
diperlukan untuk laring untuk melakukan kompleknya fungsi yang
dijelaskan di bagian Fisiologi.8

Gambar 3 . Embriologi Laring

D. Definisi

Laringomalasia adalah kelainan bawaan di mana kartilago


supraglotis kurang berkembang. Ini adalah penyebab paling sering dari
stridor persisten pada bayi dan biasanya terlihat dalam 6 minggu pertama
kehidupan. Pada stadium awal ditemukan epiglotis lemah, sehingga pada
waktu inspirasi epiglotis tertarik kebawah dan menutup rima glotis.10
Stridor didapatkan lebih buruk pada posisi terlentang, dengan peningkatan
aktivitas, dengan infeksi saluran pernapasan atas, dan selama menyusui.
Namun, gejala klinis dapat bervariasi. Pasien mungkin mengalami
desaturasi oksigen ringan selama tidur. Gastroesophageal reflux juga dapat

8
berhubungan dengan laryngomalasia yang membutuhkan perawatan.
Kondisi ini biasanya membaik dengan bertambahnya usia dan membaik
pada usia 2 tahun, tetapi dalam beberapa gejala kasus bertahan selama
bertahun-tahun. 1

E. Epidemiologi

Laringomalasia adalah penyebab paling umum stridor pada bayi baru


lahir. Pada beberapa anak, mungkin menjadi lesi dominan autosomal.
Hawkins dan Clark mengevaluasi 453 pasien dengan fleksibel fiberscope dan
ditemukan 84 dengan laringomalasia primer dan 29 dengan laringomalasia
sekunder. Nussbaum dan Maggi menemukan bahwa 68% dari 297 anak-
anak dengan laringomalasia memiliki gangguan pernapasan lainnya, seperti
yang dicatat dengan bronkoskopi fleksibel. Ini adalah diagnosis paling umum
untuk obstruksi jalan nafas anak-anak dengan sindrom Down.9

F. Etiologi

Penyebab laringomalasia masih belum diketahui, namun banyak


teori yang menjelaskan patofisiologi laringomalasia. Terdapat hipotesis
yang dibuat berdasarkan model embriologi. Epiglotis dibentuk oleh
lengkung brakial ketiga dan keempat. Pada laringomalasia terjadi
pertumbuhan lengkung ketiga yang lebih cepat dibandingkan yang
keempat sehingga epiglotis melengkung ke dalam.9

Secara umum terdapat dua teori patofisiologi laringomalasia, yaitu


teori anatomi dan teori neurogenik. Menurut teori anatomi, terdapat
hipotesis bahwa terjadi abnormalitas kelenturan tulang rawan dan
sekitarnya yang menyebabkan kolapsnya struktur supraglotis.9

G. Patogenesis

Dua teori telah diajukan untuk diusulkan untuk penyebab


penyempitan lubang laring. Pertama adalah bahwa kelainan neuromuskuler,

9
dengan tidak adanya sokongan yang tepat dari supraglotis, menyebabkan
peningkatan flaksiditas laring. Kelemen menyarankan itu penyebabnya
adalah dilator yang tidak efektif dari supraglotis, tetapi pembedahan oleh
Belmont dan Grundfast menunjukkan penyisipan ganda palatopharyngeus,
lateral glossoepiglottic, dan stylopharyngeal otot, yang bisa melebarkan
laring inlet. Insiden gangguan neuromuskuler tampaknya lebih tinggi pada
anak-anak dengan laringomalasia. Laporan insiden tingginya
keterbelakangan mental pada pasien ini belum dibuktikan.9

Mekanisme lain yang diusulkan adalah anatomi, dengan penyempitan


yang dihasilkan dari flaksid epiglotis yang terlipat kearah dinding laring
posterior atau ke saluran napas. Epiglotis panjang, berbentuk tabung epiglotis
yang bengkok dengan sendirinya. Epiglotis pendek dan lipatan aryepiglottic
berlebihan dengan ukuran yang bervariasi tulang rawan runcing yang
memutar medial ke jalan napas . Bentuk W epiglotis tidak dianggap sebagai
faktor penting karena terjadi pada 30 hingga 50% pasien, kebanyakan dari
mereka tidak memiliki stridor.9

H. Gejala Klinis

Bayi dengan laringomalasia biasanya tidak memiliki tanda kelainan


pernapasan saat lahir. Stridor inspirasi biasanya berkembang setelah
beberapa hari atau minggu dan awalnya ringan, tetapi selama bulan-bulan
berikutnya secara bertahap menjadi lebih jelas, biasanya memuncak pada
usia 6-9 bulan. Perbaikan spontan kemudian terjadi dan biasanya gejala
sepenuhnya sembuh pada usia 18 bulan hingga 2 tahun, meskipun kasus
persisten di atas usia 5 telah dilaporkan. Stridor tidak selalu ada; lebih
tepatnya, itu intermiten dan intensitasnya bervariasi. Biasanya, gejalanya
lebih buruk selama tidur, dan variasi posisi terjadi; stridor lebih buruk
ketika pasien dalam posisi terlentang dan membaik ketika pasien posisi
tengkurap. Saat memberi makan dan pengerahan tenaga cenderung
menghasilkan stridor yang lebih jelas.10

10
Meskipun bayi dengan laringomalasia biasanya memiliki kondisi
tangisan yang normal, stridor dapat diperburuk dengan menangis karena
adanya upaya inspirasi yang lebih kuat. Dalam kebanyakan kasus, gejala
ringan dan terbatas, tetapi sebagian kecil dari kasus memiliki stridor parah,
episode apnea, kesulitan makan, dan kegagalan untuk berkembang.10

I. Diagnosis

Laringomalasia ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan


fisik, pemeriksaan penunjang berupa laringoskopi fleksibel dan radiologi.

a. Anamnesis
Dari anamnesis dapat kita temukan :
- Riwayat stridor inspiratoris diketahui mulai 2 bulan awal kehidupan.
Suara biasa muncul pada minggu 4-6 awal.
- Stridor berupa tipe inspiratoris dan terdengar seperti kongesti nasal,
yang biasanya membingungkan. Namun demikian stridornya persisten
dan tidak terdapat sekret nasal.
- Stridor bertambah jika bayi dalam posisi terlentang, ketika
menangis, ketika terjadi infeksi saluran nafas bagian atas, dan pada
beberapa kasus, selama dan setelah makan.
- Tangisan bayi biasanya normal
- Biasanya tidak terdapat intoleransi ketika diberi makanan, namun
bayi kadang tersedak atau batuk ketika diberi makan jika ada refluks
pada bayi.
- Bayi gembira dan tidak menderita.
b. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisis ditemukan : Pada pemeriksaan bayi terlihat
gembira dan berinteraksi secara wajar.
- Dapat terlihat takipneu ringan
- Tanda-tanda vital normal, saturasi oksigen juga normal
- Biasanya terdengar aliran udara nasal, suara ini meningkat jika posisi
bayi terlentang

11
- Tangisan bayi biasanya normal, penting untuk mendengar tangisan
bayi selama pemeriksaan.
- Stridor murni berupa inspiratoris. Suara terdengar lebih jelas di
sekitar angulus sternalis.
c. Pemeriksaan penunjang

Diagnosis paling sering didasarkan pada gejala dan tanda,


laringoskopi fleksibel, dan radiografi lateral leher dan dada dan endoskopi
untuk mengidentifikasi kemungkinan hubungannya dengan lesi jalan
nafas seperti stenosis subglottic.9

Hawkins dan Clark telah menunjukkan laringoskopi fleksibel


untuk menjadi efektif, bahkan pada neonatus lebih akurat daripada
menggunakan anestesi umum dan endoskopi kaku. Keuntungan
menggunakan laringoskop fleksibel pada pasien yang sadar adalah
pergerakan supraglottis dapat dengan mudah dinilai. Kerugiannya pada
bentuk kasus ringan larngomalasia mungkin terlewatkan jika anak
menangis. Laringoskop fleksibel juga bias digunakan untuk mendiagnosis
lesi glotis lainnya seperti kelumpuhan pita suara dan glottis kista.
Mancuso dan rekannya secara retrospektif mengevaluasi 233 pasien
dengan laringomalasia untuk menilai perlunya melakukan yang lengkap
pemeriksaan diagnostik pada semua pasien. Kesimpulan mereka adalah
endoskopi yang kaku dalam evaluasi bayi dengan laryngomalacia jarang
diperlukan karena secara klinis signifikan tidak sinkron lesi jalan nafas
yang membutuhkan intervensi bedah jarang. Secara historis, ini belum
terjadi kasus.9

Diagnosis ditegakkan dengan transnasal fleksibel laringoskopi.


Temuan karakteristik termasuk aryepiglottic pendek lipatan, dengan
2
prolaps kartilago runcing. Pada Laringoskopi direct memperlihatkan
pemanjangan epiglotis dan memutar ( omega shape).11

Pada beberapa pasien, epiglotis yang melengkung rapat diamati.


Karena efek Bernoulli, karakteristik kerusakan struktur supraglotis terlihat

12
pada inspirasi. peradangan mungkin mengindikasikan refluks laringitis
juga terlihat.12

Gambar 3. Laringoskop Langsung

J. Diagnosis Banding
Laringomalasia merupakan penyebab stridor inspirasi tersering
pada anak. Terdapat beberapa penyakit dan keadaan yang menimbulkan
stridor inspirasi pada anak diantaranya :
1. Laringotracheobronchitis
Laryngotracheobronchitis adalah infeksi yang paling umum
penyebab obstruksi jalan napas pada anak-anak, biasanya terjadi antara
usia 6 bulan dan 3 tahun. Laringotracheobronchitis adalah infeksi virus
yang paling sering disebabkan oleh virus parainfluenza, meskipun
banyak organisme lain telah dilaporkan. Gejala terjadi sebagai akibat
edema mukosa di laring, trakea, dan bronkus.10
2. Epiglottitis
Pada epiglottitis, atau lebih tepatnya, supraglottitis, selulitis
melibatkan banyak area supraglotis. Khas, supraglottitis akut muncul
pada anak-anak antara usia 2 dan 6 tahun, meskipun semua kelompok
umur, termasuk orang dewasa, bisa terpengaruh. Haemophilus
influenzae tipe B (HIB) adalah patogen yang bertanggung jawab di

13
sebagian besar kasus, dan, sebagai hasil dari pengenalan HIB vaksin,
kejadian supraglottitis telah berkurang lebih dari 90%.10
3. Bakterial Trakeitis
Bakterial trakeitis adalah infeksi langka yang diduga terjadi
terjadi sebagai kolonisasi bakteri sekunder setelah virus infeksi
saluran pernapasan. Keterlibatan subglotis dan bronkus utama tidak
jarang. Usia saat presentasi jauh lebih beragam daripada yang
terlihat dengan croup dan telah dilaporkan sejak bayi hingga dewasa,
meskipun variasi musiman dalam insiden mencerminkan infeksi
virus dari saluran pernapasan. Yang paling umum diisolasi patogen
bakteri adalah Staphylococcus aureus.10
4. Hemangioma subglotis
Hemangioma subglotis. Meskipun bawaan, pasien itu tanpa
gejala sampai 3-6 bulan saat hemangioma mulai bertambah besar.
Sekitar 50% dari anak-anak telah berhubungan hemangioma kulit.
Pasien dapat datang dengan stridor tetapi memiliki tangisan normal.
Agitasi pasien atau menangis dapat meningkatkan obstruksi jalan
napas karena pengisian vena.11
5. Stenosis Subglotik
Pada daerah subglotik 2-3 cm dari pita suara, sering terjadi
penyempitan (stenosis). Kelainan yang dapat menyebabkan stenosis
subglotis adalah penebalan jaringan submukosa dengan hiperplasia
kelenjar mukus dan fibrosis, kelainan tulang rawan krikoid dengan
lumen lebih kecil, ukuran tulang rawan krikoid lebih kecil,
pergeseran lumen trakea kedalam lumen krikoid.13
6. Laryngeal Web

Suatu selaput yang transparan (web) dapat tumbuh di daerah


glotis, supraglotis, atau subglotik. Terdapat gejala sumbatan laring,
terapi bedah mikro laring untuk membuang selaput dengan
laringoskop suspensial.13

7. Kista Kongenital

14
Kista sering tumbuh di pangkal lidah atau di plika ventrikularis.
Untuk penanggulangannya ialah dengan mengangkat kista dengan
bedah mikro laring.13
K. Penatalaksanaan

Sebagian besar anak dengan kelainan ini dapat ditangani


secara konservatif.11 Observasi yang diharapkan cukup dalam banyak
kasus. Persentase kecil pasien (10 hingga 15%) dengan gagal tumbuh
atau lebih dari satu lesi mungkinn memerlukan intervensi bedah. Iglauer,
pada tahun 1922, adalah yang pertama untuk mengubah supraglottis
dengan operasi laringomalasia. Schwartz, pada tahun 1944,
menghilangkan dengan irisan berbentuk V dari epiglotis dengan hasil
baik. Fearon dan Ellis, pada tahun 1971, berhasil merawat pasien dengan
menjahit epiglottis ke pangkal lidah. Pada tahun yang sama,
hyomandibulopexy dianjurkan di [Link] dan rekan, pada tahun
1981, melakukan supraglottectomy pada orang dewasa untuk jangka
stridor dalam waktu lama dan apnea tidur obstruktif sekunder
laringomalasia.9

Gambar 4. Supraglotoplasti

Jika ada tidak ada riwayat gangguan pernapasan (apnea, sianosis,


retraksi) dan pasien bertambah berat badan dengan baik, perawatan
hanyalah observasi, karena anak-anak ini biasanya akan tumbuh keluar

15
dari kondisi tersebut. Jika pasien memiliki episode apnea atau desaturat,
maka jaringan supraglotis bisa dipangkas atau trakeostomi dapat
dilakukan. Indikasi lain untuk pembedahan Intervensi termasuk
penambahan berat badan yang buruk atau kegagalan untuk berkembang.
Menariknya, laporan terbaru akan menunjukkan hubungan antara GERD
dan laringomalasia. Pada anak-anak yang bergejala, pengobatan GERD
secara empiris dapat terjadi perbaikan.14

L. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada laringomalasia yaitu aspirasi
pneumoitis, obstruktif sleep apnea, masalah pemberian makan yang
berakibat ke gangguan pertumbuhan.9

M. Prognosis

Prognosis laringomalasia umumnya baik. Stridor biasanya sedikit


demi sedikit berkurang dan menghilang ketika anak berusia 2 – 3 tahun.
Pada sebagian besar pasien, gejala menghilang pada usia dua tahun.5 Pada
beberapa kasus, walaupun tanda dan gejala menghilang, kelainan tetap
ada. Pada keadaan seperti ini, biasanya stridor akan muncul saat
beraktifitas saat dewasa. 15

16
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Laringomalasia adalah kelainan bawaan di mana kartilago


supraglotis kurang berkembang. Ini adalah penyebab paling sering dari
stridor persisten pada bayi. Pada stadium awal ditemukan epiglotis lemah,
sehingga pada waktu inspirasi epiglotis tertarik kebawah dan menutup
rima glotis.

Secara umum terdapat dua teori patofisiologi laringomalasia,


yaitu teori anatomi dan teori neurogenik. Menurut teori anatomi,
terdapat hipotesis bahwa terjadi abnormalitas kelenturan tulang rawan dan
sekitarnya yang menyebabkan kolapsnya struktur supraglotis. Pada teori
neuromuskular, dipercayai terjadinya disfungsi atau imaturitas dari control
neuromuscular.

Laringomalasia ditegakkan berdasarkan anamnesis (obstruksi


jalan napas, tangis abnormal yang dapat berupa tangis tanpa suara atau
disertai stridor inspiratoris serta kesulitan menelan), pemeriksaan fisik
(tampak takipnea ringan), endoskopi (kolapsnya plika ariepiglotik dan
kartilago kuneiform ke sebelah dalam).

Diagnosis banding laringomalasia adalah hemangioma supraglotik,


laryngeal web, kista laring, laringotracheobronchitis, epiglottitis,
stenosis supraglotik, dan bakterial trakeitis.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Kerby GS, et al. Respiratory Tract and Mediastinum. In : Hay WW, et al.
(editors ). Current Diagnosis & Treatment Pediatrics. Nineteenth edition.
New York: Mc Graw Hill. 2009. P : 477.
2. Snell Richard S. Anatomi Klinik Edisi Ketiga Bagian Ketiga. Jakarta : EGC.
1997 . hal : 59-67
3. Spector GJ. Penyakit- penyakit Laring. Dalam : Ballenger JJ (editor ) .
Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala, dan Leher. Tanggerang :
Binarupa Aksara. 2009. hal :417-20.
4. Munir Nazia, Ray Clarke. Ear, Nose and Throat at a Glance. London : Wiley
Backwell. 2013. p : 72-3.
5. Maqbol M, Maqbol S. Textbook Ear, Nose and Throat Deases. New Delhi :
Jaypee. 2009. p : 307-325.
6. Sherwood Lauralee. Fisiologi Manusia. Edisi ke-enam. Jakarta : EGC . 2011.
hal : 500.
7. Hermani B, Hutauruk SM. Disfonia. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N
(editors). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Kepala Hidung Tenggorok. Edisi
ketujuh. Jakarta : Penerbit Fakultas Kedokteran Unversitas Indonesia. 2016.
Hal : 212.
8. Sasaki CT, Kim YH, Levay AJ. In : Snow JB, Wackim PA (editor ).
Ballenger’s Otorhinolaryngology . Head and Neck Surgery. 17th edition. New
Delhi : Bc Pecker . 2009 . p : 847-8.
9. Lusk Rodney P. Congenitas Anomalies of the Larynx. In : Snow JB, Wackim
PA (editors) . Ballenger’s Otorhinolaryngology . Head and Neck Surgery.
Seventeenth edition . New Delhi : Bc Pecker . 2009 . p : 815-7.
10. Yates PD. Stridor in Children . In :Lalwani AK ( editor ). Otolaryngology
Head and Neck Surgery. Second edition. New York : Mc Graw Hill. 2009. p :
462.
11. Dhingra P, Shruti D. Deases of Ear, Nose and Throat and Head and Neck
Surgery. 6th edition. New Delhi : Dheeksa Dhigra . 2014. p : 282-297

18
12. Alarcon A, Cotton RT, Rutter MJ. Laringeal and Trakeal Airway Disorder. In
: Wilmott RW, et al . Kendig and Chernick's Disorders of the Respiratory
Tract in Children. 8th edition. Sanghai : Eselvier. 2012. p : 972-3.
13. Hermani B, Abdurrachman H, Cahyono A. Kelainan Laring. Soepardi EA,
Iskandar N (editors). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Kepala Hidung
Tenggorok. Edisi ketujuh. Jakarta : Penerbit Fakultas Kedokteran Unversitas
Indonesia. 2016. Hal : 215 -9.
14. Staffel Gregory. Primary Care [Link] Academy Of
Otolaryngology Head and Neck Surgery. London : Mc Graw Hill. 2011:128
15. Spector GJ, Faw KD. Malformasi Laring Kongenital. Dalam : Ballenger JJ
(editor) . Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala, dan Leher.
Tanggerang : Binarupa Aksara. 2009. hal :478-9.

19

Anda mungkin juga menyukai