0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan31 halaman

Model Pembelajaran STEM untuk Abad 21

Model pembelajaran STEM melibatkan pendekatan interdisipliner untuk mempelajari konsep sains, teknologi, rekayasa, dan matematika secara terintegrasi dan terkait dengan dunia nyata. Tujuannya mencakup mengasah keterampilan berpikir kritis dan kreatif serta mempersiapkan peserta didik untuk dunia kerja abad 21. Penerapannya meliputi penelaahan kurikulum dan pengembangan kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan ke

Diunggah oleh

Wahidin Udin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan31 halaman

Model Pembelajaran STEM untuk Abad 21

Model pembelajaran STEM melibatkan pendekatan interdisipliner untuk mempelajari konsep sains, teknologi, rekayasa, dan matematika secara terintegrasi dan terkait dengan dunia nyata. Tujuannya mencakup mengasah keterampilan berpikir kritis dan kreatif serta mempersiapkan peserta didik untuk dunia kerja abad 21. Penerapannya meliputi penelaahan kurikulum dan pengembangan kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan ke

Diunggah oleh

Wahidin Udin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODEL PEMBELAJARAN STEM

A. PENGANTAR

Perkembangan iptek pada abad 21 ini, semakin tidak terbendung, hal ini dikarenakan
sudah tidak adanya batas antar Negara dalam hal komunikasi dan kerjasama, sehingga
semua lini harus mengantisipasi hal ini.

Dalam dunia pendidikan perlu dilakukan perubahan dalam model pembelajaran yang
dapat mengantisipasi kemajuan abad 21, yang menuntut adanya 4 ketrampilan dasar dan
20 standar literasi teknologi.

Secara umum 4 ketrampilan (4C) yang dibutuhkan di abad 21, antara lain (NEA,
2012) :

 1. Critical Thinking and Problem Solving, mempunyai pemikiran yang kritis dalam
menyelesaikan masalah
 2. Creativity and Innovation, mempunyai kreatifitas dan inovasi

 3. Communication, mempunyai kemampuan dalam mendengar, membaca, berbicara


dan menulis dengan menggunakan berbagai media

 4. Collaboration, mempunyai kemampuan dalam bekerjasama dan menghargai


orang lain

Sedangkan 20 standar literasi teknologi yang harus dikuasai dalam abad 21, antara
lain (International Technology Education Association , 2002) :

1. 1 Dasar Teknologi, meliputi :

a. Standar 1, Peserta didik akan mengembangkan sebuah pemahaman tentang karakteristik


dan ruang lingkup teknologi
b. Standar 2, Peserta didik akan mengembangkan sebuah pemahaman tentang konsep inti dari
teknologi
c. Standar 3, Peserta didik akan mengembangkan sebuah pemahaman tentang hubungan antar
teknologi dan hubungan antara teknologi dan bidang studi lainnya.

1. 2Teknologi dan Masyarakat, meliputi :

a. Standar 4, Peserta didik akan mengembangkan sebuah pemahaman tentang budaya, sosial,
ekonomi dan efek-efek kebijakan teknologi
b. Standar 5, Peserta didik akan mengembangkan sebuah pemahaman tentang efek teknologi
pada lingkungan
c. Standar 6, Peserta didik akan mengembangkan peran masyarakat dalam pengembangan dan
penggunaan teknologi
d. Standar 7, Peserta didik akan mengembangkan sebuah pemahaman tentang pengaruh
teknologi pada sejarah masa lalu.

1. [Link], meliputi :

a. Standar 8, Peserta didik akan mengembangkan sebuah pemahaman tentang elemen-elemen


desain
b. Standar 9, Peserta didik akan mengembangkan sebuah pemahaman tentang desain rekayasa
c. Standar 10, Peserta didik akan mengembangkan sebuah pemahaman tentang pembaharuan,
penelitian dan pengembangan, penemuan dan inovasi, dan percobaan pada pemecahan
masalah

1. [Link] untuk Dunia Teknologi, meliputi :

a. Standar 11, Peserta didik akan mengembangkan kemampuan untuk menerapkan sebuah
proses desain
b. Standar 12, Peserta didik akan mengembangkan kemampuan menggunakan dan merawat
produk teknologi dan sistem
c. Standar 13, Peserta didik akan mengembangkan kemampuan menilai dampak dari produk
dan sistem

1. [Link] yang Terdesain

a. Standar 14, Peserta didik akan mengembangkan sebuah pemahaman tentang kemampuan
menyeleksi serta menggunakan teknologi pengobatan (kedokteran)
b. Standar 15, Peserta didik akan mengembangkan sebuah pemahaman tentang kemampuan
menyeleksi dan menggunakan pertanian serta yang terkait dengan bioteknologi
c. Standar 16, Peserta didik akan mengembangkan sebuah pemahaman tentang kemampuan
menyeleksi serta menggunakan dan kekuatan teknologi
d. Standar 17, Peserta didik akan mengembangkan sebuah pemahaman dan dapat menyeleksi
serta menggunakan informasi dan teknologi komunikasi
e. Standar 18, Peserta didik akan mengembangkan sebuah pemahaman tentang kemampuan
menyeleksi serta menggunakan teknologi transportasi
f. Standar 19, Peserta didik akan mengembangkan sebuah pemahaman tentang kemampuan
menyeleksi serta menggunakan teknologi manufaktur
g. Standar 20, Peserta didik akan mengembangkan sebuah pemahaman tentang kemampuan
menyeleksi serta menggunakan teknologi konstruksi

Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan dalam mengantisipasi abad 21


adalah STEM (Sain, Teknologi, Enjinering, Matematika).

B. MODEL PEMBELAJARAN STEM


Menurut Tsupros (2009), STEM adalah pendekatan interdisipliner untuk mempelajari
berbagai konsep akademik yang disandingkan dengan dunia nyata dengan menerapkan
prinsip-prinsip sains, matematika, rekayasa dan teknologi ; yang menghubungkan antara
sekolah, komunitas, pekerjaan, dan dunia global, memberikan ruang untuk pengembangan
STEM literasi, dan dengannya memiliki kemampuan untuk bersaing dalam dunia ekonomi
baru.

Sedang menurut [Link]. STEM adalah Suatu basis kurikulum yang idenya
adalah mendidik Peserta didik dalam 4 disiplin ilmu: sains, teknologi, engineering, dan
matematika secara pendekatan interdisipliner, menyajikan paradigma pembelajaran yang
kohesif dengan basis aplikasi pada dunia nyata/alam.

Secara umum STEM adalah akronim dari science, technology, engineering, dan
mathematics, yaitu :

 1. Sains adalah kajian tentang fenomena alam yang melibatkan observasi dan
pengukuran, sebagai wahana untuk menjelaskan secara obyektif alam yang selalu
berubah, atau Berkaitan dengan alam untuk memahami alam semesta yang
merupakan dasar dari teknologi
 2. Teknologi adalah tentang inovasi-inovasi manusia yang digunakan untuk
memodifikasi alam agar memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia, sehingga
membuat kehidupan lebih baik dan lebih aman, atau Modifikasi segala sesuatu yang
alamiah untuk memenuhi kebutuhan manusia

 3. Enjiniring (engineering) adalah pengetahuan dan keterampilan untuk memperoleh


dan mengaplikasikan pengetahuan ilmiah, ekonomi, sosial, serta praktis untuk
mendesain dan mengkonstruksi mesin, peralatan, sistem, material, dan proses yang
bermanfaat bagi manusia secara ekonomis dan ramah lingkungan, atau Aplikasi
kreatif dari prinsipsains untuk merancang atau mengembangkan rangkamesin, alat-
alat suatu proses fabrikasi dalam membuat rancangan yang telah dibuat
berdasarkan berbagai perkembangan seperti ekonomi dan keselamatan

 4. Matematika adalah ilmu tentang pola-pola dan hubungan-hubungan, dan


menyediakan bahasa bagi teknologi, sains, dan enjiniring, atau Merupakan ilmu yang
mempelajari keteraturan pola dan hubungannya.

Secara umum tujuan dan manfaat dari model pembelajaran STEM yang diharapkan,
antara lain :

1. Mengasah keterampilan berpikir kritis dan kreatif, logis, inovatif dan produktif
2. Menanamkan semangat gotong royong dalam memecahkan masalah
3. Mengenalkan perspektif dunia kerja dan mempersiapkannya.
4. Memanfaatkan teknologi untuk menciptakan dan mengomunikasikan solusi yang inovatif
5. Media untuk menumbuhkembangkan kemampuan menemukan dan menyelesaikan masalah.
6. Media untuk merealisasikan kecakapan abad 21 dengan menghubungkan pengalaman
kedalam proses pembelajaran melalui peningkatan kapasitas dan kecakapan peserta didik
7. Standar Literasi Teknologi

Secara umum, ada 3 pendekatan yang digunakan dalam model pembelajaran STEM,
yaitu :
 1. Pendekatan Silos, dimana setiap disiplin STEM diajarkan secara terpisah untuk
menjaga domain pengetahuan dalam batas-batas dari masing-masing disiplin,
contohnya seperti permainan jams session, dimana hanya satu alat music yang
dominan
 2. Pendekatan embedded, lebih menekankan untuk mempertahankan integritas
materi pelajaran, bukan fokus pada interdisiplin mata pelajaran, materi pada
pendekatan tertanam tidak dirancang untuk dievaluasi atau dinilai, contohnya seperti
permainan music organ tunggal, dimana semua alat music ada pada organ.

 3. Pendekatan integrated, dimana setiap bidang STEM diajarkan seolah-olah


terintegrasi dalam satu subjek, contohnya adalah group band music.

Sedangkan Prespektif Pendidikan model pembelajaran STEM ada 9, antara lain


(Bebey 2013):

 1. STEM Equals Science (or Mathematics), seperti ekosistem hutan untuk pohon
 2. STEM Means Both Science and Mathematics ( STEM as a reference for science
and mathematic), seperti silos dan postholes

 3. STEM Means Science and Incorporates Technology, Engineering, or Math


(Separate Science Disciplines That Incorporate Other Disciplines), seperti rumah
yang terdiri dari beberapa ruang/kamar

 4. STEM Equals a Quartet of Separate Disciplines, seperti silos

 5. STEM Means Science and Math Are Connected by One Technology or Engineering
Program, seperti mall yang didalamnya terdiri dari beberapa took yang terintegrasi

 6. STEM Means Coordination Across Disciplines, seperti membangun rumah yang


terdiri dari beberapa sub kontraktor

 7. STEM Means Combining Two or Three Disciplines, seperti membuat produk baru
dengan mengabungkan beberapa produk yang sudah ada

 8. STEM Means Complementary Overlapping Across Disciplines, seperti dalam


perakitan mobil

 9. STEM Means a Transdisciplinary Course or Program, seperti group music

C. APLIKASI MODEL PEMBELAJARAN STEM

Adapun langkah-langkah dalam penerapan model pembelajaran STEM, meliputi :

 1. Telaah Kurikulum 2013, pada prinsipnya sudah menerapkan kaidah-kaidah STEM


dalam KI/KD, agar penerapan STEM lebih optimal :
a. Membentuk Tim Pengembang Kurikulum untuk mengidentifikasi KD-KD yang bisa diberikan
muatan STEM, merumuskan indikator keberhasilan, meengevaluasi waktu proses
pembelajaran STEM, formasi struktur STEM dalam kegiatan proses pembelajaran, TIK
masuk kembali dalam kurikulum
b. Mengingat karakteristik kurikulum SMA dan SMK sudah berdasarkan subject matter maka
disarankan beberapa hal antara lain :
 Pembelajaran dibuat tematik
 Proyek dibuat dengan mengintegrasi dari beberapa KD
 Adakan penelitian pada setiap satuan pendidikan

 2. Menggunakan Crosscutting konsep untuk memahami kesamaan pemikiran dari


sudut pandang di siplin ilmu yang berbeda

Cross Cutting (CC), merupakan konsep untuk memahami kesamaan pemikiran dari
sudut pandang disiplin ilmu yang berbeda, ada 7 konsep CC, antara lain :

 1. Patterns (pola), di temukan dari kegiatan observasi dan kita akan menggunakan
pola sebagai panduan/guide ketika kita melakukan klasifikasi , dan ketika
pembentukan pola berlangsung perlu ada penjelasan pertanyaan tentang hubungan
antar faktor atau pengaruh antar faktor.
 Contoh : Penggunaan hasil Observasi untuk menjelaskan pola proses
pengembunan, bagaimana binantang/manusia dapat beradaptasi untuk
menjelankan keberlangsungan hidupnya.

 2. Cause and effect (sebab- akibat), menjelaskan mekanisme proses kejadian.


Suatu peristiwa memiliki latar belakang dapat dijelaskan secara sederhana atau
kompleks. Sebagian besar peristiwa sains dapat diselidiki penyebabnya dan
mekanisme proses kejadiannya, seperti halnya mekanisme pengujian untuk
selanjutnya informasi tersebut dapat digunakan untuk meramalkan dan menjelaskan
peristiwa yang mungkin terjadi pada situasi baru.

 Contoh : Penyelidikan terkait dangan proses vibrasi dapat menghasilkan bunyi, kita dapat
memprediksi kekuatan yang dihasilkan dari penyebab getaran suatu material

 3. Scale, proportion, and quantity (skala, proporsi dan jumlah), didalam mengamati
fenomena, perlu mempertimbangkan standar skala yang dipergunakan, ukuran jarak,
dan waktu. Apakah pengamatan kita proposional sesuai standar?. Apakah cara
melakukan pengukuran sudah memenuhi standar proses untuk menghasilkan
struktur sistem yang baik?.

 Contoh : menggunakan keterangan sumber yang tepat, standar besaran yang baku.
Memilih alat ukur yang tepat, melakukan tehnik pengukuran dengan standar

 4. Systems and system models(sistem dan model sistem), mendefinisikan sistem


melalui study, membangun model sistem dengan batasannya, menerapkan
penggunaan model sistem dan rancang bangunnya, melakukan pengujian terhadap
model sistem pada aplikasi sains dan enjiniring.

 Contoh : penggunaan model tentang sistem syaraf pada komputer cerdas. Untuk
komputer cerdas. Membangun prototype dari model yang telah ada.
 5. Energy and matter (Energi dan Materi), Transfer, siklus dan konservasi, Tracking
Fluxes energi dan materi (into, out, of), sistem energi (krisis dan dampak
pemecahannya), memahami kemungkinan dan keterbatasan sistem energi.

 Contoh: pengukuran dan data untuk menunjukkan bukti proses, ketersediaan,


perubahan yang terjadi pada proses pemanasan,pendinginan, perubahan materi dari
suatu proses reaksi, energi terbarukan.

 6. Structure and function (Struktur dan Fungsi), Cara yang digunakan oleh suatu
objek atau pembentukan struktur suatu sistem dan fungsi elemen pembentuknya.

 Contoh: penjelasan argumentasi tentang konstruk suatu objek atau mahluk hidup
terkait dengan fungsi faktor internal dan eksternal yang mendukung terhadap
keberlangsungan proses tersebut.

 7. Stability and change (stabilitas dan perubahan), pembentukan dan perubahan


sistem/objek secara alam, kondisi kesetabilan dari faktor-faktor yang mempengaruhi
perubahan atau evolusi berdasarkan studi terhadap elememen/unsur terkait.

 Contoh: menghadirkan data/grafik untuk mengungkapkan pola perubahan misal


terhadap fungsi waktu, kasus tentang cuaca, iklim, musim dan lain sebagainya.

Sedangkan implementasi model pembelajaran di SMK, meliputi langkah-langkah


sebagai berikut :

 1. Analisis KD dan Model Pembelajaran, lihat lampiran 1


 2. Menentukan masalah/tema atau project yang akan dibuat

 3. Analisis Cross Cutting, lihat lampiran 2

 4. Analisis RPP, lihat lampiran 3

 5. Menyusun RPP, lihat lampiran 4

 6. Supervise RPP, lihat lampiran 5

 7. Supervise pembelajaran, lihat lampiran 6

D. PENUTUP
Keterampilan yang diperlukan pada abad 21 adalah berpikir kritis dan menyelesaikan
masalah (critical thinking and problem solving ), kreativitas dan inovasi (creativity and
innovation), komunikasi (communication), dan kolaborasi (collaboration).

Beberapa hal teknis agar penerapan STEM lebih optimal dapat dilakukan dengan
membentuk Tim Pengembang Kurikulum untuk mengidentifikasi KD-KD yang bisa diberikan
muatan STEM, merumuskan indikator keberhasilan, mengevaluasi waktu proses
pembelajaran STEM, formasi struktur STEM dalam kegiatan proses pembelajaran, TIK
masuk kembali dalam kurikulum.

Mengingat karakteristik kurikulum SMK sudah berdasarkan subject matter maka


disarankan beberapa hal antara lain : (1). Pembelajaran dibuat tematik, (2) Proyek dibuat
dengan mengintegrasi dari beberapa KD, (3) Diadakan penelitian pada setiap satuan
pendidikan, (4) Menggunakan Crosscutting konsep untuk memahami kesamaan pemikiran
dari sudut pandang disiplin ilmu yang berbeda.

Memberikan definisi Mengenai Pembelajaran berbasis


Science, Technology, Engineering and Mathematics
(STEM)
Eureka Pendidikan. STEM merupakan singkatan dari sebuah pendekatan pembelajaran
interdisiplin antara Science, Technology, Engineering and Mathematics. Torlakson (2014)
menyatakan bahwa pendekatan dari keempat aspek ini merupakan pasangan yang serasi
antara masalah yang terjadi di dunia nyata dan juga pembelajaran berbasis masalah.
Pendekatan ini mampu menciptakan sebuah sistem pembelajaran secara kohesif dan
pembelajaran aktif karena keempat aspek dibutuhkan secara bersamaan untuk menyelesaikan
masalah. Solusi yang diberikan menunjukkan bahwa peserta didik mampu untuk menyatukan
konsep abstrak dari setiap aspek.

Tantangan dari seorang pendidik adalah menyediakan sebuah sistem pendidikan yang
menciptakan kesempatan kepada peserta didik untuk menghubungkan antara pengetahuan
dan keterampilan sehingga menjadi familiar bagi setiap peserta didik. Kesempatan tidak akan
tercipta jika pengetahuan dan keterampilan dipisahkan dalam suatu proses pembelajaran.
Pfeiffer, Ignatov, & Poelmans (2013) menyatakan bahwa dalam pembelajaran STEM
keterampilan dan pengetahuan digunakan secara bersamaan oleh peserta didik. Perbedaan
dari aspek pada STEM akan membutuhkan sebuah garis penghubung yang membuat seluruh
aspek dapat digunakan secara bersamaan dalam pembelajaran. Peserta didik mampu
menghubungkan seluruh aspek dalam STEM merupakan indikator yang baik bahwa ada
pemahaman metakognisi yang dibangun oleh peserta sehingga bisa merangkai 4 aspek inter
disiplin dalam STEM.

Setiap aspek dari STEM memiliki ciri-ciri khusus yang membedakan antara ke empat aspek
tersebut. Masing-masing dari aspek membantu peserta didik menyelesaikan masalah jauh
lebih komprehensif jika diintegrasikan. Adapun ke empat ciri tersebut berdasarkan defenisi
yang dijabarkan oleh Torlakson (2014) yakni: (1) sains yang mewakili pengetahuan mengenai
hukum-hukum dan konsep-konsep yang berlaku di alam; (2) teknologi adalah keterampilan
atau sebuah sistem yang digunakan dalam mengatur masyarakat, organisasi, pengetahuan
atau mendesain serta menggunakan sebuah alat buatan yang dapat memudahkan pekerjaan;
(3) teknik atau Engineering adalah pengetahuan untuk mengoperasikan atau mendesain
sebuah prosedur untuk menyelesaikan sebuah masalah; dan (4) matematika adalah ilmu yang
menghubungkan antara besaran, angka dan ruang yang hanya membutuhkan argument logis
tanpa atau disertai dengan bukti empiris. Seluruh aspek ini dapat membuat pengetahuan
menjadi lebih bermakna jika diintegrasikan dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STEM secara langsung memberikan latihan
kepada peserta didik untuk dapat mengintegrasikan masing-masing aspek sekaligus. Proses
pembelajaran yang melibatkan keempat aspek akan membentuk pengetahuan tentang subjek
yang dipelajari lebih dipahami. Bybee (2010) dalah karakter dalam pembelajaran STEM
adalah kemampuan peserta didik mengenali sebuah konsep atau pengetahuan dalam sebuah
kasus. Sebagaimana dalam pembelajaran fisika, maka STEM membantu peserta didik untuk
menggunakan teknologi dan merangkai sebuah sebuah percobaan yang dapat membuktikan
sebuah hukum atau konsep sains. Kesimpulan tersebut didukung oleh data yang telah dikelola
secara matematis.

Tujuan dari pembelajaran dengan pendekatan STEM cocok untuk diterapkan pada
pembelajaran sekolah menengah yang subjek dalam pembelajarannya membutuhkan
pengetahuan yang komplek. Gonzalez & Kuenzi (2010) menemukan bahwa STEM memiliki
arti pengajaran dan pembelajaran yang berkaitan dengan bidang Sains, Teknologi,
Engineering dan Matematika. Pendekatan STEM tidak hanya dapat dilakukan dalam tingkat
pendidikan dasar dan menengah saja, tetapi juga dapat dilaksanakan sampai tingkat kuliah
bahkan sampai jenjang postdoctoral. Manfaat dari pembelajaran STEM yang berkelanjutan
sebaiknya mulai ditunjukkan oleh pendidikan sejak dini dan pada tahap peserta didik sudah
mampu mengkombinasikan antara pengetahuan kognitif dan psikomotorik.

Penggunaan pendekatan STEM dalam bidang pendidikan memiliki tujuan untuk


mempersiapkan peserta didik agar dapat bersaing dan siap untuk bekerja sesuai bidang yang
ditekuninya. Penelitian yang dilakukan oleh lembaga penelitian Hannover (2011)
menunjukkan bahwa tujuan utama dari STEM Education adalah sebuah usaha untuk
menunjukkan pengetahuan yang bersifat holistik antara subjek STEM. Keterpaduan dalam
sistem pembelajaran STEM dapat dikatakan berhasil jika seluruh aspek yang ada dalam
STEM terdapat dalam setiap proses pembelajaran untuk masing-masing subjek.

Defining STEM - [Link]

Pada masa pendidikan sekolah menengah atas program ilmu alam, peserta didik sebaiknya
disiapkan untuk dilatih dalam menggunakan segala sumber daya yang dimiliki. Bekal ini ini
selanjutnya digunakan peserta didik setelah menempuh jenjang pendidikan SMA. White
(2010) menyatakan bahwa pendekatan STEM dalam pembelajaran akan memberikan
pengenalan yang bagi peserta didik pasca melewati masa sekolah. Pengenalan ini sangat
bermanfaat bagi peserta didik dalam melanjutkan pendidikan pada tingkat universitas baik itu
untuk ilmu murni maupun pada pendidikan sains terapan.

Penerapan pendekatan STEM dalam pembelajaran tentunya terintegrasi selama proses


pembelajaran. Keempat aspek dalam STEM mengambil bagian dalam setiap pelaksanaan
langkah-langkah pembelajaran. Adapun langkah-langkah dari setiap pelaksanaan aspek
tersebut adalah sebagai berikut; (1) Aspek Science dalam pendekatan STEM didefinisikan
oleh Hannover (2011) adalah keterampilan menggunakan pengetahuan dan proses sains
dalam memahami gejala alam dan memanipulasi gejala tersebut sehingga dapat dilaksanakan;
(2) Aspek Technology adalah keterampilan peserta didik dalam mengetahui bagaimana
teknologi baru dapat dikembangkan, keterampilan menggunakan teknologi dan bagaimana
teknologi dapat digunakan dalam memudahkan kerja manusia; (3) Aspek Engineering
memiliki lima tahap fase dalam proses pembelajaran; dan (4) Aspek Mathematics adalah
keterampilan yang digunakan untuk menganalisis, memberikan alasan, mengkomunikasikan
idea secara efektif, menyelesaikan masalah dan menginterpretasikan solusi berdasarkan
perhitungan dan data dengan matematis.

Aspek engineering dalam pendekatan STEM adalah keterampilan yang dimiliki seseorang
untuk mengoperasikan ata merangkai sesuatu. Bligh, (2015) mengklasifikasikan aspek
engineering merujuk pada aplikasi dari pengetahuan sains dan keterampilan dalam
menggunakan teknologi dalam menciptakan suatu cara yang memiliki manfaat. Pada
pembelajaran fisika tingkat sekolah menengah aspek ini diimplementasikan sebagai
keterampilan dalam menggunakan alat dan menyusun suatu rancangan untuk mencapai suatu
tujuan seperti keterampilan memasukkan bahasa matematis dalam bahasa program.

Sumber Rujukan:
Bligh, A. (2015) Towards a 10-year plan for science, technology, engineering and
mathematics (STEM) education and skills in Queensland. Queensland: Department of
Education, Training and the Arts

Gonzalez, H.B. & Kuenzi, J. J. (2012). Science, Technology, Engineering, and Mathematics
(STEM) Education: A Primer. Congressional Research Service.[di akses 5-2-2014].

Hannover Research. (2011) Successful K-12 STEM Education: Identifying Effective


Approaches in Science, Technology, Engineering, and Mathematics. National Academies
Press. NW, Suite 300, P 202.756.2971 F 866.808.6585]. Washington, DC: U.S.

--------, (2014). Future Trends in K-12 Education. [1101 Connecticut Ave. NW, Suite 300,
Desember 2013. Washington, DC: U.S. Distric Administration Practice

Pfeiffer, H.D, Ignatov, D.I., & Poelmans, J (2013) Conceptual Structures for STEM Research
and Education. 20th International Conference on Conceptual Structures, ICCS 2013
Mumbai, India, January 10-12, 2013Proceedings. Springger. ISBN 978-3-642-35785-5.

Torlakson. T, 2014. Innovate: A Blueprint For Science, Technology, Engineering, and


Mathematics in California Public Education. California: State Superintendent of Public
Instruction.

White, D.W., (2010) What Is STEM Education and Why Is It Important?. Florida Association
of Teacher Educators Journal Volume 1 Number 14 2014 1-9.
[Link]

Memberikan definisi Mengenai Pembelajaran berbasis


Science, Technology, Engineering and Mathematics
(STEM)
Eureka Pendidikan. STEM merupakan singkatan dari sebuah pendekatan pembelajaran
interdisiplin antara Science, Technology, Engineering and Mathematics. Torlakson (2014)
menyatakan bahwa pendekatan dari keempat aspek ini merupakan pasangan yang serasi
antara masalah yang terjadi di dunia nyata dan juga pembelajaran berbasis masalah.
Pendekatan ini mampu menciptakan sebuah sistem pembelajaran secara kohesif dan
pembelajaran aktif karena keempat aspek dibutuhkan secara bersamaan untuk menyelesaikan
masalah. Solusi yang diberikan menunjukkan bahwa peserta didik mampu untuk menyatukan
konsep abstrak dari setiap aspek.

Tantangan dari seorang pendidik adalah menyediakan sebuah sistem pendidikan yang
menciptakan kesempatan kepada peserta didik untuk menghubungkan antara pengetahuan
dan keterampilan sehingga menjadi familiar bagi setiap peserta didik. Kesempatan tidak akan
tercipta jika pengetahuan dan keterampilan dipisahkan dalam suatu proses pembelajaran.
Pfeiffer, Ignatov, & Poelmans (2013) menyatakan bahwa dalam pembelajaran STEM
keterampilan dan pengetahuan digunakan secara bersamaan oleh peserta didik. Perbedaan
dari aspek pada STEM akan membutuhkan sebuah garis penghubung yang membuat seluruh
aspek dapat digunakan secara bersamaan dalam pembelajaran. Peserta didik mampu
menghubungkan seluruh aspek dalam STEM merupakan indikator yang baik bahwa ada
pemahaman metakognisi yang dibangun oleh peserta sehingga bisa merangkai 4 aspek inter
disiplin dalam STEM.

Setiap aspek dari STEM memiliki ciri-ciri khusus yang membedakan antara ke empat aspek
tersebut. Masing-masing dari aspek membantu peserta didik menyelesaikan masalah jauh
lebih komprehensif jika diintegrasikan. Adapun ke empat ciri tersebut berdasarkan defenisi
yang dijabarkan oleh Torlakson (2014) yakni: (1) sains yang mewakili pengetahuan mengenai
hukum-hukum dan konsep-konsep yang berlaku di alam; (2) teknologi adalah keterampilan
atau sebuah sistem yang digunakan dalam mengatur masyarakat, organisasi, pengetahuan
atau mendesain serta menggunakan sebuah alat buatan yang dapat memudahkan pekerjaan;
(3) teknik atau Engineering adalah pengetahuan untuk mengoperasikan atau mendesain
sebuah prosedur untuk menyelesaikan sebuah masalah; dan (4) matematika adalah ilmu yang
menghubungkan antara besaran, angka dan ruang yang hanya membutuhkan argument logis
tanpa atau disertai dengan bukti empiris. Seluruh aspek ini dapat membuat pengetahuan
menjadi lebih bermakna jika diintegrasikan dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STEM secara langsung memberikan latihan


kepada peserta didik untuk dapat mengintegrasikan masing-masing aspek sekaligus. Proses
pembelajaran yang melibatkan keempat aspek akan membentuk pengetahuan tentang subjek
yang dipelajari lebih dipahami. Bybee (2010) dalah karakter dalam pembelajaran STEM
adalah kemampuan peserta didik mengenali sebuah konsep atau pengetahuan dalam sebuah
kasus. Sebagaimana dalam pembelajaran fisika, maka STEM membantu peserta didik untuk
menggunakan teknologi dan merangkai sebuah sebuah percobaan yang dapat membuktikan
sebuah hukum atau konsep sains. Kesimpulan tersebut didukung oleh data yang telah dikelola
secara matematis.

Tujuan dari pembelajaran dengan pendekatan STEM cocok untuk diterapkan pada
pembelajaran sekolah menengah yang subjek dalam pembelajarannya membutuhkan
pengetahuan yang komplek. Gonzalez & Kuenzi (2010) menemukan bahwa STEM memiliki
arti pengajaran dan pembelajaran yang berkaitan dengan bidang Sains, Teknologi,
Engineering dan Matematika. Pendekatan STEM tidak hanya dapat dilakukan dalam tingkat
pendidikan dasar dan menengah saja, tetapi juga dapat dilaksanakan sampai tingkat kuliah
bahkan sampai jenjang postdoctoral. Manfaat dari pembelajaran STEM yang berkelanjutan
sebaiknya mulai ditunjukkan oleh pendidikan sejak dini dan pada tahap peserta didik sudah
mampu mengkombinasikan antara pengetahuan kognitif dan psikomotorik.

Penggunaan pendekatan STEM dalam bidang pendidikan memiliki tujuan untuk


mempersiapkan peserta didik agar dapat bersaing dan siap untuk bekerja sesuai bidang yang
ditekuninya. Penelitian yang dilakukan oleh lembaga penelitian Hannover (2011)
menunjukkan bahwa tujuan utama dari STEM Education adalah sebuah usaha untuk
menunjukkan pengetahuan yang bersifat holistik antara subjek STEM. Keterpaduan dalam
sistem pembelajaran STEM dapat dikatakan berhasil jika seluruh aspek yang ada dalam
STEM terdapat dalam setiap proses pembelajaran untuk masing-masing subjek.

Defining STEM - [Link]

Pada masa pendidikan sekolah menengah atas program ilmu alam, peserta didik sebaiknya
disiapkan untuk dilatih dalam menggunakan segala sumber daya yang dimiliki. Bekal ini ini
selanjutnya digunakan peserta didik setelah menempuh jenjang pendidikan SMA. White
(2010) menyatakan bahwa pendekatan STEM dalam pembelajaran akan memberikan
pengenalan yang bagi peserta didik pasca melewati masa sekolah. Pengenalan ini sangat
bermanfaat bagi peserta didik dalam melanjutkan pendidikan pada tingkat universitas baik itu
untuk ilmu murni maupun pada pendidikan sains terapan.

Penerapan pendekatan STEM dalam pembelajaran tentunya terintegrasi selama proses


pembelajaran. Keempat aspek dalam STEM mengambil bagian dalam setiap pelaksanaan
langkah-langkah pembelajaran. Adapun langkah-langkah dari setiap pelaksanaan aspek
tersebut adalah sebagai berikut; (1) Aspek Science dalam pendekatan STEM didefinisikan
oleh Hannover (2011) adalah keterampilan menggunakan pengetahuan dan proses sains
dalam memahami gejala alam dan memanipulasi gejala tersebut sehingga dapat dilaksanakan;
(2) Aspek Technology adalah keterampilan peserta didik dalam mengetahui bagaimana
teknologi baru dapat dikembangkan, keterampilan menggunakan teknologi dan bagaimana
teknologi dapat digunakan dalam memudahkan kerja manusia; (3) Aspek Engineering
memiliki lima tahap fase dalam proses pembelajaran; dan (4) Aspek Mathematics adalah
keterampilan yang digunakan untuk menganalisis, memberikan alasan, mengkomunikasikan
idea secara efektif, menyelesaikan masalah dan menginterpretasikan solusi berdasarkan
perhitungan dan data dengan matematis.

Aspek engineering dalam pendekatan STEM adalah keterampilan yang dimiliki seseorang
untuk mengoperasikan ata merangkai sesuatu. Bligh, (2015) mengklasifikasikan aspek
engineering merujuk pada aplikasi dari pengetahuan sains dan keterampilan dalam
menggunakan teknologi dalam menciptakan suatu cara yang memiliki manfaat. Pada
pembelajaran fisika tingkat sekolah menengah aspek ini diimplementasikan sebagai
keterampilan dalam menggunakan alat dan menyusun suatu rancangan untuk mencapai suatu
tujuan seperti keterampilan memasukkan bahasa matematis dalam bahasa program.

Sumber Rujukan:
Bligh, A. (2015) Towards a 10-year plan for science, technology, engineering and
mathematics (STEM) education and skills in Queensland. Queensland: Department of
Education, Training and the Arts

Gonzalez, H.B. & Kuenzi, J. J. (2012). Science, Technology, Engineering, and Mathematics
(STEM) Education: A Primer. Congressional Research Service.[di akses 5-2-2014].

Hannover Research. (2011) Successful K-12 STEM Education: Identifying Effective


Approaches in Science, Technology, Engineering, and Mathematics. National Academies
Press. NW, Suite 300, P 202.756.2971 F 866.808.6585]. Washington, DC: U.S.

--------, (2014). Future Trends in K-12 Education. [1101 Connecticut Ave. NW, Suite 300,
Desember 2013. Washington, DC: U.S. Distric Administration Practice

Pfeiffer, H.D, Ignatov, D.I., & Poelmans, J (2013) Conceptual Structures for STEM Research
and Education. 20th International Conference on Conceptual Structures, ICCS 2013
Mumbai, India, January 10-12, 2013Proceedings. Springger. ISBN 978-3-642-35785-5.

Torlakson. T, 2014. Innovate: A Blueprint For Science, Technology, Engineering, and


Mathematics in California Public Education. California: State Superintendent of Public
Instruction.

White, D.W., (2010) What Is STEM Education and Why Is It Important?. Florida Association
of Teacher Educators Journal Volume 1 Number 14 2014 1-9.
[Link]
Model pembelajaran Teaching Factory adalah model pembelajaran di
SMK berbasis produksi/jasa yang mengacu pada standar dan prosedur
yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang
terjadi di industri.
Pelaksanaan model pembelajaran Teaching Factory menuntut
keterlibatan mutlak pihak industri sebagai pihak yang relevan menilai
kualitas hasil pendidikan di SMK. Pelaksanaan Teaching Factory(TEFA)
juga harus melibatkan pemerintah,pemerintah daerah dan stakeholders
dalam pembuatan regulasi, perencanaan, implementasi maupun
evaluasinya.

============================================

============================================

Pelaksanaan Model pembelajaran Teaching Factory sesuai Panduan


TEFA Direktorat PMK terbagi atas 4 model, dan dapat digunakan
sebagai alat pemetaan SMK yang telah melaksanakan TEFA. Adapun
model tersebutadalah sebagai berikut:

Model pertama, Dual Sistem dalam bentuk praktik kerja lapangan adalah
pola pembelajaran kejuruan di tempat kerja yang dikenal sebagai
experience based training atau enterprise based training.
Model kedua, Competency Based Training (CBT) atau pelatihan
berbasis kompetensi merupakan sebuah pendekatan pembelajaran
yang menekankan pada pengembangan dan peningkatan keterampilan
dan pengetahuan peserta didik sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
Pada model ini, penilaian peserta didik dirancang untuk memastikan
bahwa setiap peserta didik telah mencapai keterampilan dan
pengetahuan yang dibutuhkan pada setiap unit kompetensi yang
ditempuh.

Model ketiga,Production Based Education and Training(PBET)


merupakan pendekatan pembelajaran berbasis produksi. Kompetensi
yang telah dimliki oleh peserta didik perlu diperkuat dan dipastikan
keterampilannya dengan memberikan pengetahuan pembuatan produk
nyata yang dibutuhkan dunia kerja (industri dan masyarakat).

Model keempat, Teaching Factoryadalah konsep pembelajaran berbasis


industri (produk dan jasa) melalui sinergi sekolah dan industri untuk
menghasilkan lulusan yang kompeten dengan kebutuhan pasar.
Tujuan dan Sintaks penerapan Model Pembelajaran Teaching Factory

Tujuan penerapan Model pembelajaran Teaching Factory di SMK


 Mempersiapkan lulusan SMK menjadi pekerja dan wirausaha;
 Membantu siswa memilih bidang kerja yang sesuai dengan
kompetensinya;
 Menumbuhkan kreatifitas siswa melalui learning by doing;
 Memberikan keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia kerja;
 Memperluas cakupan kesempatan rekruitmen bagi lulusan SMK;
 Membantu siswa SMK dalam mempersiapkan diri menjadi tenaga kerja,
serta membantu menjalin kerjasama dengan dunia kerja yang aktual;
 Memberi kesempatan kepada siswa SMK untuk melatih
keterampilannya sehingga dapat membuat keputusan tentang karier
yang akan dipilih.
Tujuan yang selaras tentang Model pembelajaran Teaching Factory
(Sema E. Alptekin, Reza Pouraghabagher, atPatricia McQuaid, and Dan
Waldorf; 2001) adalah sebagai berikut.
 Menyiapkan lulusan yang lebih profesional melalui pemberian konsep
manufaktur moderen sehingga secara efektif dapat berkompetitif di
industri;
 Meningkatkan pelaksanaan kurikulum SMK yang berfokus pada konsep
manufaktur moderen;
 Menunjukan solusi yang layak pada dinamika teknologi dari usaha yang
terpadu;
 Menerima transfer teknologi dan informasi dari industri pasangan
terutama pada aktivitas peserta didik dan guru saat pembelajaran.

Sintaksis Model pembelajaran Teaching Factory


Atas dasar uraian di atas, sintaksis Model pembelajaran Teaching
Factory dapat menggunakan sintaksis PBET/PBT ata udapat juga
menggunakan sintaksis yang diterapkan di Cal Poly - San Luis Obispo
USA ( Sema E. Alptekin : 2001) dengan langkah-langkah yang
disesuaikan dengan kompetensi keahlian :

1. Merancang produk
Pada tahap ini peserta didik mengembangkan produk baru/cipta resep
atau produk kebutuhan sehari-hari (consumer goods)/merancang
pertunjukankontemporer dengan menggambar/membuat
scrip/merancang pada komputer atau manual dengan data
spesifikasinya.
2. Membuat prototype
Membuat produk/ kreasi baru /tester sebagai proto type sesuai data
spesifikasi.
3. Memvalidasi dan memverifikasi prototype
Peserta didik melakukan validasi dan verifikasi terhadap dimensi data
spesifikasi dari prototype/kreasi baru/tester yang dibuat untuk
mendapatkan persetujuan layak diproduksi/dipentaskan.
4. Membuat produk masal
Peserta didik mengembangkan jadwaldan jumlah produk/pertunjukan
sesuai dengan waktu yang ditetapkan.

Dadang Hidayat (2011) berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan,


mengembangkan langkah-langkah pembelajaran Teaching Factory
sebagai berikut.
1. Menerima order
Pada langkah belajar ini peserta didik berperan sebagai penerima order
dan berkomunikasi dengan pemberi order berkaitan dengan
pesanan/layanan jasa yang diinginkan. Terjadi komunikasi efektif dan
santun serta mencatat keinginan/keluhan pemberi order seperti contoh:
pada gerai perbaikan Smart Phone atau reservasi kamar hotel.
2. Menganalisis order
Peserta didik berperan sebagai teknisi untuk melakukan analisis
terhadap pesanan pemberi order baik berkaitan dengan benda
produk/layanan jasa sehubungan dengan gambar detail, spesifikasi,
bahan, waktu pengerjaan dan harga di bawah supervisi guru yang
berperan sebagai supervisor.
3. Menyatakan Kesiapan mengerjakan order
Peserta didik menyatakan kesiapan untuk melakukan pekerjaan
berdasarkan hasil analisis dan kompetensi yang dimilikinya sehingga
menumbuhkan motivasi dan tanggung jawab.
4. Mengerjakan order
Melaksanakan pekerjaan sesuai tuntutan spesifikasi kerja yang sudah
dihasilkan dari proses analisis order. Siswasebagai pekerja harus
menaati prosedur kerja yang sudah ditentukan. Dia harus menaati
keselamatan kerja dan langkah kerja dengan sungguh-sunguh untuk
menghasilkan benda kerja yang sesuai spesifikasi yang ditentukan
pemesan
5. Mengevaluasi produk
Melakukan penilaian terhadap benda kerja/layanan jasa dengan cara
membandingkan parameter benda kerja/layanan jasa yang dihasilkan
dengan data parameter pada spesifikasi order pesanan atau spesifikasi
pada service manual.
6. Menyerahkan order
Peserta didik menyerahkan order baik benda kerja/layanan jasa setelah
yakin semua persyratan spesifikasi order telah terpenuhi, sehingga
terjadi komunikasi produktif dengan pelanggan.

Demikian info model pembelajaran Model Pembelajaran Teaching


Factory yang disarikan dari materi pelatihan K13 jenjang SMK.

=================================================

A. Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based


Learning)

Proyek adalah tugas yang kompleks, berdasarkan tema yang menan tang,
yang melibatkan siswa dalam mendesain, memecahkan masalah, mengambil
keputusan, atau kegiatan investigasi; memberikan kesempatan kepada siswa
untuk bekerja dalam periode waktu yang telah dijadwalkan dalam
menghasilkan produk (Thomas, Mergendoller, and Michaelson, 1999).

Proyek terurai menjadi beberapa jenis. Stoller (2006) mengemukakan tiga


jenis proyek berdasarkan sifat dan urutan kegiatannya, yaitu: (1) proyek
terstruktur, ditentukan dan diatur oleh guru dalam hal topik, bahan,
metodologi, dan presentasi; (2) proyek tidak terstruktur didefinisikan terutama
oleh siswa sendiri; (3) proyek semi-terstruktur yang didefinisikan dan diatur
sebagian oleh guru dan sebagian oleh siswa.

Memperluas pengertian di atas Stoller (2006), mendefinisikan Pembelajaran


Berbasis Proyek sebagai pembelajaran yang menggunakan Proyek sebagai
media dalam proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap,
pengetahuan dan keterampilan. Penekanan pembela -jaran terletak pada
aktivitas-aktivitas siswa untuk menghasilkan produk dengan menerapkan
keterampilan meneliti, menganalisis, membuat, sampai dengan
mempresentasikan produk pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata.
Produk yang dimaksud adalah hasil Proyek berupa barang atau jasa dalam
bentuk desain, skema, karya tulis, karya seni, karya teknologi/prakarya, dan
lain-lain. Melalui penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek, siswa akan
berlatih merencanakan, melaksanakan kegiatan sesuai rencana dan
menampilkan atau melaporkan hasil kegiatan.

Bentuk aktivitas proyek terdiri dari (1) Proyek produksi yang meli batkan
penciptaan seperti buletin, video, program radio, poster, laporan tertulis, esai,
foto, surat-surat, buku panduan, brosur, menu banquet, jadwal perjalanan,
dan sebagainya; (2) Proyek kinerja seperti pementasan, presentasi lisan,
pertunjukan teater, pameran makanan atau fashion show ; (3) Proyek
organisasi seperti pembentukan klub, kelompok disku-si, atau program-mitra
percakapan. Lebih lanjut, menurut Fried-Booth (2002) ada dua jenis proyek
yaitu (1) Proyek skala kecil atau sederhana yang hanya menghabiskan dua
atau tiga pertemuan. Proyek ini hanya dilakukan di dalam kelas; (2) Proyek
skala penuh yang membutuhkan kegiatan yang rumit di luar kelas untuk
menyelesaikannya dengan rentang waktu lebih panjang.

Pengertian metode atau Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project


Based Learning = PBL) adalah metode pembelajaran yang menggunakan
proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi,
penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai
bentuk hasil belajar.

Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based


Learning=PBL) yang adalah model atau metode belajar yang menggunakan
masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan
pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara
nyata. Pembelajaran Berbasis Proyekdirancang untuk digunakan pada
permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan
insvestigasi dan memahaminya.

Contoh Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning /


PBL)
Melalui Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based
Learning=PBL), proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan
penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah
proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam
kurikulum. Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta didik
dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam
sebuah disiplin yang sedang dikajinya. PjBLmerupakan investigasi mendalam
tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha
peserta didik.

Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang


berbeda, maka Pembelajaran berbasis proyekmemberikan kesempatan
kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan
menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan
eksperimen secara kolaboratif. Pembelajaran Berbasis Proyekmerupakan
investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga
bagi atensi dan usaha peserta didik.

Pembelajaran berbasis proyek dapat dikatakan sebagai operasionalisasi


konsep “Pendidikan Berbasis Produksi” yang dikembangkan di Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK). SMK sebagai institusi yang berfungsi untuk
menyiapkan lulusan untuk bekerja di dunia usaha dan industri harus dapat
membekali peserta didiknya dengan “kompetensi terstandar” yang dibutuhkan
untuk bekerja dibidang masing-masing. Dengan pembelajaran “berbasis
produksi” peserta didik di SMK diperkenalkan dengan suasana dan makna
kerja yang sesungguhnya di dunia kerja. Dengan demikian model
pembelajaran yang cocok untuk SMK adalah pembelajaran berbasis proyek.

Pembelajaran Berbasis proyekmemiliki karakteristik sebagai berikut:


 peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja
 adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik
 peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan
atau tantangan yang diajukan
 peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan
mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan
 proses evaluasi dijalankan secara kontinyu
 peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah
dijalankan
 produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif, dan
 situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.

Peran instruktur atau guru dalam Pembelajaran berbasis proyeksebaiknya


sebagai fasilitator, pelatih, penasehat dan perantara untuk mendapatkan hasil
yang optimal sesuai dengan daya imajinasi, kreasi dan inovasi dari siswa.
Adapun beberapa hambatan dalam implementasi metode Pembelajaran
Berbasis Proyek antara lain berikut ini.
 Pembelajaran berbasis proyek memerlukan banyak waktu yang harus
disediakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek.
 Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan, karena menambah
biaya untuk memasuki system baru.
 Banyak instruktur merasa nyaman dengan kelas tradisional ,dimana instruktur
memegang peran utama di kelas. Ini merupakan suatu transisi yang sulit,
terutama bagi instruktur yang kurang atau tidak menguasai teknologi.
 Banyaknya peralatan yang harus disediakan, sehingga kebutuhan listrik
bertambah.

Untuk itu disarankan menggunakan team teaching dalam proses


pembelajaran, dan akan lebih menarik lagi jika suasana ruang belajar tidak
monoton, beberapa contoh perubahan lay-out ruang kelas, seperti: traditional
class (teori), discussion group (pembuatan konsep dan pembagian tugas
kelompok), lab tables (saat mengerjakan tugas mandiri), circle (presentasi).
Atau buatlah suasana belajar menyenangkan, bahkan saat diskusi dapat
dilakukan di taman, artinya belajar tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas.

Berdasarkan urian diatas dapat disimpulan bahwa Pembelajaran Berbasis


Projek (PBP) adalah kegiatan pembelajaran yang menggunakan
projek/kegiatan sebagai proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi
sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Penekanan pembelajaran terletak pada
aktivitas-aktivias peserta didik untuk menghasilkan produk dengan
menerapkan keterampilan meneliti, menganalisis, membuat, sampai dengan
mempresentasikan produk pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata.
Produk yang dimaksud adalah hasil projek dalam bentuk desain, skema,
karya tulis, karya seni, karya teknologi/prakarya, dan lain-lain. Pendekatan ini
memperkenankan pesera didik untuk bekerja secara mandiri maupun
berkelompok dalam menghasilkan produk nyata.

B. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Berbasis Proyek


(Project Based Learning)

Kelebihan dan kekurangan pada penerapan Pembelajaran Berbasis


Proyekdapat dijelaskan sebagai berikut.

1) Kelebihan / Keuntungan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project


Based Learning)
 Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar, mendorong
kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting, dan mereka
perlu untuk dihargai.
 Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.

 Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan


problem-problem yang kompleks.
 Meningkatkan kolaborasi.
 Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan
keterampilan komunikasi.
 Meningkatkan keterampilan peserta didikdalam mengelola sumber.
 Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan
praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan
sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
 Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara
kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata.
 Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan
menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan
dengan dunia nyata.
 Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta
didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.
Meteri Membuat Laporan Pengamatan di SMP dapat diterapkan dengan Model
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning / PBL)

2. Kelemahan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based


Learning)
 Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
 Membutuhkan biaya yang cukup banyak.

 Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, di


mana instruktur memegang peran utama di kelas.
 Banyaknya peralatan yang harus disediakan.
 Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan
pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
 Ada kemungkinanpeserta didikyang kurang aktif dalam kerja kelompok.
 Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda,
dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara
keseluruhan

Untuk mengatasi kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek di atas


seorang pendidik harus dapat mengatasi dengan cara memfasilitasi peserta
didik dalam menghadapi masalah, membatasi waktu peserta didik dalam
menyelesaikan proyek, meminimalis dan menyediakan peralatan yang
sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar, memilih lokasi penelitian yang
mudah dijangkau sehingga tidak membutuhkan banyak waktu dan biaya,
menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga instruktur
dan peserta didik merasa nyaman dalam proses pembelajaran.

Meteri Membuat Naskah Peraturan dapat diterapkan dengan Model


Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning / PBL)

Pembelajaran berbasis proyek ini juga menuntut siswa untuk


mengembangkan keterampilan seperti kolaborasi dan refleksi. Menurut studi
penelitian, Pembelajaran berbasis proyek membantu siswa untuk
meningkatkan keterampilan sosial mereka, sering menyebabkan absensi
berkurang dan lebih sedikit masalah disiplin di kelas. Siswa juga menjadi lebih
percaya diri berbicara dengan kelompok orang, termasuk orang dewasa.

Pelajaran berbasis proyek juga meningkatkan antusiasme untuk belajar.


Ketika anak-anak bersemangat dan antusias tentang apa yang mereka
pelajari, mereka sering mendapatkan lebih banyak terlibat dalam subjek dan
kemudian memperluas minat mereka untuk mata pelajaran lainnya. Antusias
peserta didik cenderung untuk mempertahankan apa yang mereka pelajari,
bukan melupakannya secepat mereka telah lulus tes.

C. Prinsip-prinsip Pembelajaran pada Pembelajaran Berbasis Proyek


Prinsip-prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek adalah sebagai berikut.
a. Pembelajaran berpusat pada siswa yang menggunakan tugas-tugas proyek
pada kehidupan nyata untuk memperkaya pembelajaran.
b. Tugas Proyek menekankan pada kegiatan penyelesaian proyek berasarkan
suatu tema atau topik yang telah ditentukan dalam pembelajaran.
c. Tema atau topik yang dibelajarkan dapat dikembangkan dari suatu
kompetensi dasar tertentu atau gabungan beberapa kompetensi dasar dalam
suatu mata pelajaran, atau gabungan beberapa kompetensi dasar antar mata
pelajaran. Oleh karena itu, tugas proyek dalam satu semester dibolehkan
hanya satu penugasan dalam suatu mata pelajaran.
d. Penyelidikan atau eksperimen dilakukan secara otentik dan menghasilkan
produk nyata. Produk tersebut selanjutnya dikomunikasikan untuk mendapat
tanggapan dan umpan balik untuk perbaikan produk.
e. Pembelajaran dirancang dalam pertemuan tatap muka dan tugas mandiri
dalam fasilitasi dan monitoring oleh guru. Pertemuan tatap muka dapat
dilakukan di awal pada langkah penentuan proyek dan di akhir pembelajaran
pada penyusunan laporan dan presentasi/publikasi hasil proyek, serta
evaluasi proses dan hasil proyek

D. Langkah langkah pelaksanaan Model Pembelajaran Berbasis Proyek


(Project Based Learning)

Langkah langkah pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat


dijelaskan dengan diagram sebagai berikut.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based


Learning) sebagai berikut.
1. Penentuan pertanyaan mendasar (Start With the Essential Question).
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang
dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas.
Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan
sebuah investigasi mendalam. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat
relevan untuk para peserta didik.
2) Mendesain perencanaan proyek (Design a Plan for the Project.
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik.
Dengan emikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas
proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas
yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara
mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan
bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.

3. Menyusun jadwal (Create a Schedule)


Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas
dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1)
membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline
penyelesaian proyek, (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara
yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang
tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik untuk
membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.

4. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the
Progress of the Project)
Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas
peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan
cara menfasilitasi peserta didik pada setiap roses. Dengan kata lain pengajar
berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah
proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan
aktivitas yang penting.

5. Menguji hasil (Assess the Outcome)


Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian
standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta
didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai
peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran
berikutnya.

6. Mengevaluasi pengalaman (Evaluate the Experience)


Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan
refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses
refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini
peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya
selama menyelesaikan proyek. Pengajar dan peserta didik mengembangkan
diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran,
sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk
menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.

Tabel . Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Projek


Langkah-langkah Deskripsi
Langkah -1 Guru bersama dengan
Penentuan projek peserta didik
menentukan tema/topik
projek
Langkah -2 Guru memfasilitasi
Perancangan langkah- Peserta didik untuk
langkah penyelesaian merancang langkah-
projek langkah kegiatan
penyelesaian projek
beserta
pengelolaannya
Guru memberikan
Langkah -3 pendampingan kepada
Penyusunan jadwal peserta didik
pelaksanaan projek melakukan
penjadwalan semua
kegiatan yang telah
dirancangnya
Langkah -4 Guru memfasilitasi dan
Penyelesaian projek memonitor peserta
dengan fasilitasi dan didik dalam
monitoring guru melaksanakan
rancangan projek yang
telah dibuat
Langkah -5 Guru memfasilitasi
Penyusunan laporan dan Peserta didik untuk
presentasi/publikasi hasil mempre-sentasikan
projek dan mempublikasikan
hasil karya
Langkah -6 Guru dan peserta didik
Evaluasi proses dan pada akhir proses
hasil projek pembe-lajaran
melakukan refleksi
terhadap aktivitas dan
hasil tugas projek

E. Tujuan Pembelajaran Berbasis Proyek


Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode pembelajaran yang
berfokus pada siswa dalam kegiatan pemecahan masalah terkait dengan
Proyek dan tugas-tugas bermakna lainnya. Pelaksanaan Pembelajaran
Berbasis Proyek dapat memberi peluang pada siswa untuk bekerja,
mengkonstruk tugas yang diberikan guru yang pada puncaknya dapat
menghasilkan produk karya siswa.
Tujuan Pembelajaran Berbasis Proyek adalah sebagai berikut.
a. Memperoleh pengetahuan dan ketrampilan baru dalam pembelajaran;
b. Meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah proyek;
c. Membuat siswa lebih aktif dalam memecahkan masalah proyek yang kompleks
dengan hasil produk nyata berupa barang atau jasa;
d. Mengembangkan dan meningkatkan keterampilan ssiwa dalam mengelola
sumber/bahan/alat untuk menyelesaikan tugas/proyek; dan
e. Meningkatkan kolaborasi siswa khususnya pada Pembelajaran Ber basis
Proyek yang bersifat kelompok.

Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki kelebihan dalam hal: (1)


meningkatkan motivasi siswa untuk belajar, mendorong kemampuan mereka
melakukan pekerjaan penting, (2) meningkatkan kemampuan siswa dalam
pemecahan masalah, (3) menjadikan siswa lebih aktif dan berhasil
memecahkan masalah-masalah yang kompleks, (4) meningkatkan kolaborasi,
(5) mendorong siswa untuk mengembangkan dan mempraktikan keterampilan
komunikasi, (6) memberikan pengalaman kepada siswa dalam
mengorganisasi suatu Proyek, menentukan alokasi waktu dan memanfaatkan
sumber-sumber yang ada untuk menyelesaikan tugas, dan (7) menyediakan
pengalaman belajar siswa mengambil informasi dan menunjukkan
pengetahuan yang dimiliki, kemudian mengimplementasikannya di dunia
nyata.

F. Peran guru dan peserta didik dalam pelaksanaan Model Pembelajaran


Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Peran guru dan peserta didik dalam pelaksanaan Pembelajaran Berbasis


Proyek sebagai berikut.
1) Peran Guru
Merencanakan dan mendesain pembelajaran.
Membuat strategi pembelajaran.
Membayangkan interaksi yang akan terjadi antara guru dan siswa.
Mencari keunikan siswa.
Menilai siswa dengan cara transparan dan berbagai macam penilaian.
Membuat portofolio pekerjaan siswa.
Meteri perakitan PC di SMK dapat diterapkan dengan Model Pembelajaran
Berbasis Proyek (Project Based Learning / PBL)

2) Peran Peserta Didik


Menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir.
Melakukan riset sederhana.
Mempelajari ide dan konsep baru.
Belajar mengatur waktu dengan baik.
Melakukan kegiatan belajar sendiri/kelompok.
Mengaplikasikanhasil belajar lewat tindakan.
Melakukan interaksi sosial (wawancara, survey, observasi, dll).

E. Sistem Penilaian dalam pelaksanaan Model Pembelajaran Berbasis


Proyek (Project Based Learning)

Penilaian pembelajaran dengan metoda Pembelajaran berbasis proyek harus


diakukan secara menyeluruh terhadap sikap, pengetahuan dan keterampilan
yang diperoleh siswa dalam melaksanakan pembelajaran berbasis proyek.
Penilaian pembelajaran berbasis proyek dapat menggunakan teknik penilaian
yang dikembangkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan yaitu penilaian proyek atau penilaian produk.
Penilaian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

1) Penilaian Proyek
a) Pengertian Penilaian proyek
Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang
harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa
suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data,
pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian proyek dapat
digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan,
kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik
pada mata pelajaran tertentu secara jelas.

Pada penilaian proyek setidaknya ada 4 (empat) hal yang perlu


dipertimbangkan, yaitu:

a.1) Pengelolaan
Kemampuan siswa dalam memilih topik, mencari informasi, dan mengelola
waktu pengumpulan data, serta penulisan laporan.

a.2) Relevansi
Topik, data, dan produk sesuai dengan KD.

a.3) Keaslian
Produk (misalnya laporan) yang dihasilkan siswa merupakan hasil karyanya,
dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan
terhadap proyek siswa.

a.4) Inovasi dan kreativitas


Hasil proyek siswa terdapat unsur-unsur kebaruan dan menemukan sesuatu
yang berbeda dari biasanya.

b. Teknik Penilaian Proyek


Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan,
sampai hasil akhir proyek. Untuk itu, guru perlu menetapkan hal-hal atau
tahapan yang perlu dinilai, seperti penyusunan disain, pengumpulan data,
analisis data, dan penyiapkan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil
penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian
dapat menggunakan alat/ instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun
skala penilaian.

Penilaian Proyek dilakukan mulai dari perencanaan , proses pengerjaan


sampai dengan akhir proyek. Untuk itu perlu memperhatikan hal-hal atau
tahapan yang perlu dinilai. Pelaksanaan penilaian dapat juga menggunakan
rating scale dan checklist.
2) Penilaian Produk
a) Pengertian Penilaian Produk
Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas
suatu produk. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik
membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil
karya seni (patung, lukisan, gambar), barang-barang terbuat dari kayu,
keramik, plastik, dan logam. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap
dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu:
a.1) Tahap persiapan, meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan
merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain
produk.
a.2) Tahap pembuatan produk (proses), meliputi: penilaian kemampuan peserta
didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.
a.3) Tahap penilaian produk (appraisal), meliputi: penilaian produk yang dihasilkan
peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan.

b) Teknik Penilaian Produk


Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik.
b.1) Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya
dilakukan pada tahap appraisal.
b.2) Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan
terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses
pengembangan.

Daftar Pustaka

Alexander, D. (2000). The learning that lies between play and academics in
afterschool programs. National Institute on Out-of-School Time. Retrieved
from [Link]

[Link] Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)


[online]. Diakses di [Link]
[Link] (17 Oktober 2011).

Barron, B., & Darling-Hammond, L. (2008). Teaching for meaningful learning:


A review of research on inquiry-based and cooperative learning. Retrieved
from [Link]
[Link].

Buck Institute for Education. Introduction to Project Based Learning. [Online].

Daniel K. Schneider. 2005. Project-based learning. [Online]. Diakses


di[Link]

Florin, Suzanne. 2010. The Success of Project Based Learning. [Online].


Diakses di [Link]
Grant, M. (2009, April). Understanding projects in projectbased learning: A
student’s perspective. Paper presented at Annual Meeting of the American
Educational Research Association, San Diego, CA.

Lucas, George .(2005). Instructional Module Project Based Learning.


[Link]

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2013). Modul Pelatihan Kurikulum


2013, Jakarta:Kemdikbud

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2016). Modul Pelatihan Kurikulum


2013, Jakarta:Kemdikbud.

Markham, T. (2003). Project-Based Learning Handbook (2nd ed.). Novato,


CA: Buck Institute for Education.

Research summary: Project-based learning in middle grades mathematics.


Retrieved from [Link]

ResearchSummaries/ProjectBasedLearninginMath/tabid/1570/[Link].

Savery, J. R. (2006). Overview of problem-based learning: Definitions and


distinctions. The Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning, 1(1), 9–
20. Journal of Problem-Based Learning, 3(1), 12–43

Anda mungkin juga menyukai