0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
357 tayangan14 halaman

Prosedur Pengukuran Debit Sungai

Dokumen ini memberikan pedoman pelaksanaan pengukuran debit sungai dan saluran terbuka dengan menjelaskan tujuan, ruang lingkup, definisi istilah, referensi, ketentuan umum dan kegiatan tanggung jawab yang meliputi persiapan, pelaksanaan pengukuran menggunakan alat ukur arus dan pelampung, serta perhitungan rata-rata tinggi muka air.

Diunggah oleh

Addin Pratama
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
357 tayangan14 halaman

Prosedur Pengukuran Debit Sungai

Dokumen ini memberikan pedoman pelaksanaan pengukuran debit sungai dan saluran terbuka dengan menjelaskan tujuan, ruang lingkup, definisi istilah, referensi, ketentuan umum dan kegiatan tanggung jawab yang meliputi persiapan, pelaksanaan pengukuran menggunakan alat ukur arus dan pelampung, serta perhitungan rata-rata tinggi muka air.

Diunggah oleh

Addin Pratama
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Prosedur dan Instruksi Kerja

Pengukuran Debit Sungai dan


Saluran Terbuka

NO . : QA/HDR/03/2009

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM


DIREKTORAT JENDERAL SUMBER DAYA AIR
Jl. Pattimura No.20, Kebayoran Baru, Jakarta – Telp. 7396616, Fax. 7208285
PROSEDUR DAN INSTRUKSI KERJA
PENGUKURAN DEBIT SUNGAI DAN SALURAN TERBUKA

1. Tujuan : Sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengukuran debit


sungai dan atau saluran terbuka.

2. Ruang Lingkup : Dokumen ini dibuat dan untuk diterapkan di lingkungan


Direktorat Jenderal Sumber Daya Air guna memberikan
acuan teknis dalam pelaksanaan kegiatan pengukuran debit
sungai ataupun saluran terbuka.

3. Definisi : 3.1. Aliran air adalah pergerakan air di alur sungai/saluran


terbuka.

3.2. Debit adalah volume air yang mengalir melalui suatu


penampang melintang sungai/saluran persatuan waktu.

3.3. Jalur vertikal adalah jalur kearah vertikal pada suatu


penampang melintang.

3.4. Kedalaman adalah jarak yang diukur ke arah vertikal


dari muka air ke dasar sungai/saluran terbuka.

3.5. Pelampung permukaan adalah bahan yang dapat


terapung di permukaan air, tidak berubah sifat dan
bentuknya, dengan ukuran antara 10 cm sampai 30 cm,
bagian yang tenggelam maksimum 25% dari kedalaman
aliran dan bagian yang tidak tenggelam berkisar antara
3 sampai dengan 10 cm.

3.6. Penampang basah adalah penampang melintang


sungai/saluran terbuka yang dibatasi oleh dasar
sungai/saluran terbuka dan muka air.

3.7. Pengukuran debit adalah proses pengukuran dan


perhitungan kecepatan, kedalaman dan lebar aliran
serta perhitungan luas penampang basah untuk
menghitung debit di sungai dan saluran terbuka.

3.8. Sungai adalah tempat dan wadah serta jaringan


pengaliran air mulai dari sumber air sampai muara
dengan dibatasi kanan dan kirinya sepanjang
pengalirannya oleh garis sempadan, yaitu garis luar
pengaman.

2
3.9. Rai adalah jarak antara suatu titik di tepi sungai dengan
jalur vertikal pada suatu penampang melintang
sungai/saluran terbuka.

[Link] vertikal adalah suatu titik kedalaman dari


permukaan air pada suatu jalur vertikal.

4. Referensi : 4.1. Revisi SNI 03-2414-1991, tata cara pengukuran debit


sungai dan saluran terbuka menggunakan alat ukur
arus dan pelampung.

4.2. SNI 03-3413-1994, metode pengukuran debit puncak


dengan cara tidak langsung.

4.3. SNI 03-2822-1992, metode pembuatan lengkung debit


dan tabel sungai / saluran terbuka dengan analisis
grafis.

4.4. Pedoman BWRM tentang pengelolaan hidrologi.

5. Ketentuan
Umum : 5.1. Pemilihan lokasi pengukuran debit dengan
mempertimbangkan faktor-faktor, sbb:
a. berada tepat atau di sekitar lokasi pos duga air,
dimana tidak ada perubahan bentuk penampang
atau debit yang menyolok.
b. alur sungai harus lurus sepanjang minimal 3 kali
lebar sungai pada saat banjir/muka air tertinggi.
c. distribusi aliran merata dan tidak ada aliran yang
memutar.
d. aliran tidak terganggu sampah maupun tanaman air
dan tidak terganggu oleh adanya bangunan air
lainnya (misalnya pilar jembatan), tidak terpengaruh
peninggian muka air, pasang surut dan aliran lahar.
e. penampang melintang pengukuran diupayakan
tegak lurus terhadap alur sungai.
f. kedalaman pengukuran minimal 3 s/d 5 kali
diameter baling-baling alat ukur arus yang
digunakan.
g. apabila dilakukan di lokasi bendung, harus dilakukan
di sebelah hilir atau di hulu bendung pada lokasi
yang tidak ada pengaruh pengempangan (arus
balik).

5.2. Lama dan periode pelaksanaan


a. pada saat aliran rendah pengukuran debit
dilaksanakan dua (2) kali dalam periode waktu
pengukuran (bolak-balik di penampang basah yang
sama).

3
b. pada saat banjir pengukuran debit dilaksanakan
satu (1) kali dalam periode waktu pengukuran.
c. periode pelaksanaan pengukuran debit minimal 3
kali untuk satu (1) pos duga air yang mewakili
kondisi musim kemarau dan musim penghujan.

5.3. Pengukuran penampang basah


a. pengukuran kedalaman harus tegak lurus terhadap
permukaan air.
b. jarak maksimum antara dua jalur vertikal adalah:
a) 1/15 lebar sungai/saluran terbuka apabila
dasarnya teratur.
b) 1/20 lebar sungai/saluran terbuka apabila
dasarnya tidak teratur.
c. jarak minimum antara dua jalur vertikal adalah 2 kali
diameter baling-baling (propeller) yang digunakan.

5.4. Pengukuran kecepatan aliran


Pengukuran kecepatan aliran dapat dilakukan dengan
menggunakan peralatan diantaranya current meter tipe
baling-baling dan pelampung.
a. pengukuran kecepatan aliran dengan alat ukur arus
dapat dilaksanakan dengan cara sbb :
a) merawas,
b) menggunakan perahu,
c) menggunakan jembatan
d) menggunakan kereta gantung
e) menggunakan winch cable way
f) Radio current meter
b. posisi dan jumlah titik pengukuran tergantung dari
kedalaman air (d) dengan ketentuan sebagai
berikut:
a) untuk kedalaman air ≤ 0,75 m, atau ≤ 6 kali
diameter baling-baling yang digunakan (besar,
kecil, sedang), pengukuran dilakukan dengan
menggunakan metode satu titik, yaitu pada titik
vertikal 0,6d yang diukur dari permukaan air.
b) untuk kedalaman air > 0,75 m, pengukuran
dilakukan dengan menggunakan metode dua
titik, yaitu pada titik vertikal 0,2d dan 0,8d atau
menggunakan metode tiga (3) titik atau lebih,
yaitu pada titik vertikal 0,2d, 0,6d dan 0,8d.

5.5. Pengukuran kecepatan aliran menggunakan pelampung


dihitung dari jarak lintasan pelampung dibagi waktu
tempuh, dan kecepatan rata-rata yang diperoleh harus
dikalikan koefisien pelampung.

6. Kegiatan
Tanggung Jawab : 6.1. Prosedur tata cara pengukuran aliran, selanjutnya
dapat dilihat pada Lampiran 1.

4
a. Kegiatan persiapan :
a) susun dan tetapkan jadual pengukuran debit atas
semua pos duga air yang dikelola.
b) siapkan peralatan termasuk pelaksanaan
kalibrasinya dan prasarana pendukungnya.

b. Pelaksanaan pengukuran debit :


a) pengukuran dengan alat ukur current meter tipe
baling-baling :
- bentangkan tali/kabel pada penampang
melintang yang telah ditetapkan sebagai lokasi
untuk pengukuran debit.
- ukur lebar penampang basah dan tetapkan
jarak antar jalur vertikal sesuai dengan
ketentuan yang disyaratkan.
- rakit (stel) alat ukur.
- catat tinggi muka air (TMA) pada pos duga air
sebelum dan setelah selesainya pekerjaan
pengukuran pada kartu pengukuran yang
telah disiapkan.
• bila perbedaan TMA pada saat permulaan
dan akhir pengukuran kurang dari 10 cm,
dipakai formula :

Ha + Hz
Hrata2 = --------------- ……………………(1)
2

• bila perbedaan TMA pada saat permulaan


dan akhir pengukuran lebih besar dari 10
cm, dipakai formula :

q1h1 + q2h2 + …+qnhn


Hrata2 = ------------------------------- ………(2)
Q

keterangan :
Hrata2= rata-rata TMA pengukuran, m.
Ha = TMA saat mulai pengukuran, m.
Hz = TMA saat akhir pengukuran, m.
qn = debit interval waktu ke n, m3/dt.
hn = TMA rerata interval waktu ke n, m.
Q = debit seluruh penampang m3/dt.

- catat waktu mulai pengukuran dan waktu


selesai pengukuran serta kejadian-kejadian
(seperti hujan dan perubahan muka air yang
menyolok) selama pengukuran berlangsung.
- ukur kedalaman air dan tempatkan posisi alat
ukur kecepatan pada titik kedalaman sesuai
dengan ketentuan yang disyaratkan.

5
- Tentukan waktu (lamanya) putaran baling-
baling.
- catat pada kartu pengukuran :
• jumlah putaran baling-baling pada tiap-tiap
titik pengukuran,
• kedalaman air pada masing-masing jalur
vertikal,
• jarak antar jalur vertikal.
- bilamana kedalaman air > 3 meter dan kabel
penggantung alat membentuk sudut terhadap
garis vertikal maka kedalaman air perlu
dikoreksi sesuai tabel terlampir (Lampiran 2).
- hitung luas penampang basah pada tiap-tiap
vertikal. Perhitungan luas penampang basah
secara keseluruhan dihitung dari penjumlahan
hasil perkalian antara kedalaman air dan lebar
sungai pada setiap jalur vertikal. Rumus yang
digunakan adalah, sbb :

b(x+1) + b(x-1)
ax = ------------------ dx ………….…….…..(3)
2

A = (a1 + a2 + a3 + ……+an) …….……....(4)

keterangan :
ax = luas penampang basah pada bagian
ke x, (m2)
b(x+1) = jarak titik vertikal sesudah titik vertikal
ke x dari titik tetap, (m)
b(x-1) = jarak titik vertikal sebelum titik vertikal
ke x dari titik tetap, (m)
dx = kedalaman pada titik vertikal ke x, (m)
A = luas seluruh penampang basah, (m2).

- hitung kecepatan aliran rata-rata pada tiap-tiap


jalur vertikal.
• metode satu titik
Vrata2 = V0,6 ………………..……………….(5)

• metode dua titik


V0,2 + V0,8
Vrata2 = --------------- ………..……..……….(6)
2

• metode tiga titik


V0,2 + V0,8 1
Vrata2 = [(---------------)+ V0,6] x ---- ……….(7)
2 2
6
keterangan :
Vrata2 = kecepatan aliran rata-rata pada
suatu vertikal, m/dt.
V0,2 = kecepatan aliran pada titik 0,2 d,
m/dt.
V0,6 = kecepatan aliran pada titik 0,6 d,
m/dt.
V0,8 = kecepatan aliran pada titik 0,8 d,
m/dt.

- hitung besar debit setiap bagian penampang,


dengan rumus :

qn = vn x ax ..............................................(8)

keterangan :
qn = debit pada rai ke n, m3/dt.
vn = kecepatan aliran pada rai ke n, m/dt.
ax = luas penampang pada rai ke n, m2.

- jumlahkan debit seluruh bagian penampang


untuk memperoleh debit total.

Q = q1 + q2 + q3 + ……+ qn ….…………..(9)

keterangan :
Q = debit total yang melewati penampang
yang diukur, m3/dt.
qn = debit pada rai ke n, m3/dt.

- bersihkan dan simpan kembali ke dalam kotak


penyimpanan alat ukur dan semua peralatan
lapangan setelah selesai pengukuran.

b) Pengukuran dengan alat ukur pelampung


- siapkan pelampung dan peralatan penyipat
ruang dan alat penyipat datar serta
perlengkapan lainnya untuk mengukur
penampang melintang dan jarak antara dua
penampang melintang (lintasan pelampung).
- siapkan peralatan pemberi aba-aba (seperti
bendera, peluit) dan rambu-rambu, serta
pencatat waktu.
- siapkan formulir (terlampir) untuk pencatatan
pengukuran penampang basah dan
pengukuran kecepatan aliran, serta alat tulis.
- siapkan kertas millimeter dan peralatan
gambar yang dibutuhkan serta formulir
perhitungan debit, terlampir (lihat Lampiran
3).

7
- lakukan pengukuran penampang basah pada
penampang bagian hulu, tengah (lurus
dengan pos duga air) dan hilir serta ukur jarak
antar penampang melintang.
- baca tinggi muka air pada papan duga air
biasa/manual (peilshcaal) pada saat mulai
pengukuran.
- letakan alat penyipat ruang kurang lebih di
tengah-tengah antara dua penampang
melintang.
- ukur jarak antara penampang melintang
dengan alat penyipat datar.
- lepaskan pelampung lebih kurang 10 m di
sebelah hulu dari penampang bagian hulu.
- ukur sudut azimut posisi lintasan pelampung
pada penampang hulu, tengah dan hilir
dengan alat penyipat ruang.
- catat lama waktu lintasan pelampung dari
bagian penampang hulu sampai hilir.
- ulangi pekerjaan (mulai dari pelepasan
pelampung s/d catat lama waktu lintasan)
hingga semua titik lintasan pelampung
(minimum 3 lintasan) yang telah ditentukan
selesai diukur.
- lakukan pembacaan tinggi muka air pada
papan duga air segera setelah pengukuran
kecepatan aliran selesai.
- gambarkan penampang basah bagian hulu,
tengah dan hilir.
- gambarkan posisi lintasan pelampung.
- hitung kecepatan aliran permukaan setiap
lintasan pelampung dengan cara membagi
panjang lintasan dengan lama waktu lintasan.
- tentukan nilai koefisien kecepatan aliran
permukaan rata-rata untuk setiap bagian
penampang basah.
- hitung kecepatan aliran pada setiap lintasan
pelampung dengan cara mengalikan koefisien
pelampung dengan hasil dari pembagian
antara panjang lintasan dengan waktu tempuh
pelampung dari hulu ke hilir [Link]
yang digunakan :

L
vp = kp x ---- ………………….…………. (10)
t

kp = 1 – 0,116 {(1 - α)0,5 - 0,1)} ………...(11)

8
d
α = ------- ……………….……………….(12)
h

- hitung kecepatan aliran rata-rata dengan cara


menjumlahkan seluruh kecepatan lintasan
pelampung dibagi dengan jumlah lintasan.
Rumus yang digunakan :

Vp1 + Vp2 + …..+Vpn


Vp rata2 = -------------------------------............…(13)
n

keterangan :
vp = kecepatan aliran, m3/dt.
Vp rata2 = kecepatan aliran rata-rata, m3/dt
kp = koefisien pelampung.
d = tinggi pelampung yang tenggelam
dalam air, m.
h = kedalaman muka air dari dasar
sungai, m.
- hitung luas setiap bagian penampang basah.
- hitung debit untuk setiap bagian penampang
basah dengan cara mengalikan luas
penampang basah dengan kecepatan aliran
rata-rata pada tiap penampang.
- hitung debit total dengan cara menjumlahkan
debit pada setiap bagian penampang basah
dan hitung tinggi muka air rata-ratanya.

6.4. Tanggung Jawab :


a. Koordinator pelaksana :
a) menyusun jadual dan petugas pelaksananya.
b) menyiapkan prasarana dan biaya pengukuran
debit.
c) memeriksa persiapan pelaksanaan pengukuran
debit.
d) memeriksa hasil pengukuran debit.

b. Petugas :
a) menyiapkan sarana dan kalibrasi peralatan yang
akan dipakai dalam pengukuran debit.
b) menyiapkan pelaksanaan pengukuran debit.
c) melaksanakan pengukuran debit.

c. Kabid/Kasi Perencanaan dan OP :


a) mengesahkan jadual dan petugas pelaksana
pengukuran debit.
b) mengesahkan hasil pengukuran debit.

9
7. Kondisi khusus : Pengukuran debit sungai pada saat banjir atau pengukuran
aliran berubah sangat cepat, sbb :
a. pada saat banjir, pengukuran debit hendaknya dilakukan
pada saat banjir telah melampaui puncak dan berada
pada sisi surut.
b. lama pengukuran dengan alat ukur aliran untuk setiap
titik vertikal cukup 30 detik.
c. lakukan satu titik pengukuran pada kedalaman 0,5 d
pada tiap bidang vertikal.
d. kecepatan aliran rata-rata untuk setiap bidang vertikal
adalah :

Vrata2 = 0,96 V0,5d …………………………………….…(13)

e. catat tinggi muka air untuk setiap titik pengukuran.


f. debit aliran dihitung dengan rumus penampang tengah
(mid section), seperti yang diuraikan di atas.
g. jika muka air berubah >5%, selama pengukuran, debit
dihitung berdasarkan kedalaman aliran untuk masing-
masing vertikal.

8. Rekaman : 8.1. Hasil pengukuran debit (kartu pengukuran).

8.2. Gambar penampang melintang.

9. Lampiran : 9.1. Bagan alir pelaksanaan pengukuran debit sungai dan


saluran terbuka.

9.2. Koreksi panjang juntaian penggantung (untuk


menentukan kedalaman muka air sungai).

9.3. Formulir pengukuran debit.

10
Lampiran 1

Bagan Alir Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka


No. Uraian Kegiatan Kabid/Kasi Koordinator Petugas Target
Perencanaan & OP Pelaksana Pelaksanaan

Mulai

1. Menyusun jadual pengukuran Penyusunan


debit dan usulan petugas Jadual updating dan 1 hari
pelaksananya. usulan petugas
pelaksananya

2. Memeriksa dan menetapkan


jadual pengukuran debit dan Memerikasa jadual
usulan petugas pelaksananya. updating dan usulan 1 hari
petugas

Tidak
Disetujui ?

Ya

3. Menyiapkan sarana dan Penyiapan prasarana Penyiapan peralatan dan


pengukuran dan biaya blangko serta kalibrasi
prasarana pengukuran debit
termasuk kegiatan kalibrasi alat.

2 hari
4. Memeriksa persiapan sarana dan Memeriksa persiapan
prasarana pengukuran debit.

Lengkap Tidak
/sesuai ?

Ya

Persiapan pengukuran
5. Persiapan pengukuran debit a.l : debit
membuat rai, mengukur
kedalaman, dst.

Pemeriksaan persiapan
6. Memeriksa persiapan pengukuran, mis. metode,
pengukuran debit. jumlah rai, dll

Sesuai Tidak
kriteria?

Ya
4 hari
7. Pelaksanaan pengukuran debit. Pelaksanaan pengukuran
debit dan lakukan
perhitungan debit

8. Memeriksa hasil pengukuran Memeriksa hasil


debit. pengukuran debit

Benar ?

9. Pengesahan hasil pengukuran Pengesahan hasil


pengukuran debit 1 hari
debit.

Selesai

11
Lampiran 2

Tabel Koreksi Pengukuran

Lantai jembatan
a
Sudut antara juntaian penggantung dengan garis vertical,
o
maksimal yang diijinkan adalah 30

c
Permukaan air b d

ab : panjang garis di atas air.


cd : koreksi panjang juntaian
penggantung di atas air.
ce : kedalaman terukur
de : panjang juntaian penggantung di
dalam air.
df : kedalaman air yang sebenarnya.
Juntaian penggantung

Arah aliran

Dasar sungai f e

Koreksi panjang juntaian penggantung di atas dan di dalam air

Sudut juntaian penggantung (αo) Koreksi juntaian di atas air (%) Koreksi juntaian di dalam air (%)
10 1,54 0,50
12 2,23 0,72
14 3,06 0,98
16 4,03 1,28
18 5,15 1,64
20 6,42 2,04
22 7,85 2,48
24 9,46 2,96
26 11,26 3,50
28 13,26 4,08
30 15,47 4,72

Contoh penerapannya :

Dalam suatu pengukuran aliran diperoleh data sebagai berikut :


• Jarak antara titik penggantung s/d muka air (ab) = 18 m
• Kedalaman aliran terukur (ce) = 8m
o
• Sudut penggantung s/d garis vertikal (α) = 20

Hasil perhitungan :
o
a. koreksi juntaian di atas muka air untuk α = 20 = 6,42% = 0,0642
b. nilai panjang koreksi = 18 x 0,0642
= 1,16 m

c. panjang juntaian tali di dalam air = 8 – 1,16


= 6,84 m

d. koreksi juntaian didalam air untuk α = 20o = 2,04% = 0,0204


e. panjang juntaian sesungguhnya = 6,84 – 6,84 x 0,0204
= 6,70 m

12
Lampiran 3

A. Formulir pengukuran debit dengan alat ukur arus

Kartu Pengukuran Debit

Sungai, WS : ……………………………………………………………………………………..
Tempat : ……………………………………………………………………………………..
Pos duga air : ……………………………………………………………………………………..
Tanggal : ……………………………………………………………………………………..
Lebar sungai : ………………… Luas penampang : ………………………………………
Muka air : mulai …………. Selesai : ………………………….
Waktu : mulai …………. Selesai : ………………………….
Kondisi alat : Baik / Rusak
Nomor register alat : ……………………………………………………………………………………..
Nomor pengukuran : .....................................................................................................................
Nama pengukur : ……………………………………………………………………………………..
Kecepatan rata-rata : ……………………………………………………………………………………..
Debit : ……………………………………………………………………………………..

Rumus alat : …………………………………………………………..


…………………………………………………………..

Data Pengukuran Debit

Rai Lebar Dalam Dalam Jumlah Waktu Kecepatan Luas Debit


(m) (m) (m) Kincir Putaran (det) (m2) (m3/det)
Pd Titik Rata-rata
(m)

Diperiksa oleh : Koordinator pelaksana :

(………………………………) (………………………………)

13
B. Formulir pengukuran debit dengan pelampung

Kartu Pengukuran Debit

Sungai, WS : ……………………………………………………………………………………..
Tempat : ……………………………………………………………………………………..
Pos duga air : ……………………………………………………………………………………..
Nomor register alat : ……………………………………………………………………………………..
Kondisi alat : Baik / Rusak
Tanggal : ……………………………………………………………………………………..
Muka air : mulai …………. Selesai : ………………………….
Waktu : mulai …………. Selesai : ………………………….
Nomor pengukuran : ……………………………………………………………………………………..
Nama pengukur : ……………………………………………………………………………………..

Data Pengukuran Debit

Panjang hulu Penampang hilir


Jarak dari tepi Kedalaman Jarak dari tepi Kedalaman
(m) (m) (m) (m)

Jarak (m)
Pelampung Waktu Kecepatan
Koef.
No L α L’ (menit) (m/dt)

Diperiksa oleh : Koordinator pelaksana :

(………………………………) (………………………………)

14

Anda mungkin juga menyukai