Prosedur Pengukuran Debit Sungai
Prosedur Pengukuran Debit Sungai
NO . : QA/HDR/03/2009
2
3.9. Rai adalah jarak antara suatu titik di tepi sungai dengan
jalur vertikal pada suatu penampang melintang
sungai/saluran terbuka.
5. Ketentuan
Umum : 5.1. Pemilihan lokasi pengukuran debit dengan
mempertimbangkan faktor-faktor, sbb:
a. berada tepat atau di sekitar lokasi pos duga air,
dimana tidak ada perubahan bentuk penampang
atau debit yang menyolok.
b. alur sungai harus lurus sepanjang minimal 3 kali
lebar sungai pada saat banjir/muka air tertinggi.
c. distribusi aliran merata dan tidak ada aliran yang
memutar.
d. aliran tidak terganggu sampah maupun tanaman air
dan tidak terganggu oleh adanya bangunan air
lainnya (misalnya pilar jembatan), tidak terpengaruh
peninggian muka air, pasang surut dan aliran lahar.
e. penampang melintang pengukuran diupayakan
tegak lurus terhadap alur sungai.
f. kedalaman pengukuran minimal 3 s/d 5 kali
diameter baling-baling alat ukur arus yang
digunakan.
g. apabila dilakukan di lokasi bendung, harus dilakukan
di sebelah hilir atau di hulu bendung pada lokasi
yang tidak ada pengaruh pengempangan (arus
balik).
3
b. pada saat banjir pengukuran debit dilaksanakan
satu (1) kali dalam periode waktu pengukuran.
c. periode pelaksanaan pengukuran debit minimal 3
kali untuk satu (1) pos duga air yang mewakili
kondisi musim kemarau dan musim penghujan.
6. Kegiatan
Tanggung Jawab : 6.1. Prosedur tata cara pengukuran aliran, selanjutnya
dapat dilihat pada Lampiran 1.
4
a. Kegiatan persiapan :
a) susun dan tetapkan jadual pengukuran debit atas
semua pos duga air yang dikelola.
b) siapkan peralatan termasuk pelaksanaan
kalibrasinya dan prasarana pendukungnya.
Ha + Hz
Hrata2 = --------------- ……………………(1)
2
keterangan :
Hrata2= rata-rata TMA pengukuran, m.
Ha = TMA saat mulai pengukuran, m.
Hz = TMA saat akhir pengukuran, m.
qn = debit interval waktu ke n, m3/dt.
hn = TMA rerata interval waktu ke n, m.
Q = debit seluruh penampang m3/dt.
5
- Tentukan waktu (lamanya) putaran baling-
baling.
- catat pada kartu pengukuran :
• jumlah putaran baling-baling pada tiap-tiap
titik pengukuran,
• kedalaman air pada masing-masing jalur
vertikal,
• jarak antar jalur vertikal.
- bilamana kedalaman air > 3 meter dan kabel
penggantung alat membentuk sudut terhadap
garis vertikal maka kedalaman air perlu
dikoreksi sesuai tabel terlampir (Lampiran 2).
- hitung luas penampang basah pada tiap-tiap
vertikal. Perhitungan luas penampang basah
secara keseluruhan dihitung dari penjumlahan
hasil perkalian antara kedalaman air dan lebar
sungai pada setiap jalur vertikal. Rumus yang
digunakan adalah, sbb :
b(x+1) + b(x-1)
ax = ------------------ dx ………….…….…..(3)
2
keterangan :
ax = luas penampang basah pada bagian
ke x, (m2)
b(x+1) = jarak titik vertikal sesudah titik vertikal
ke x dari titik tetap, (m)
b(x-1) = jarak titik vertikal sebelum titik vertikal
ke x dari titik tetap, (m)
dx = kedalaman pada titik vertikal ke x, (m)
A = luas seluruh penampang basah, (m2).
qn = vn x ax ..............................................(8)
keterangan :
qn = debit pada rai ke n, m3/dt.
vn = kecepatan aliran pada rai ke n, m/dt.
ax = luas penampang pada rai ke n, m2.
Q = q1 + q2 + q3 + ……+ qn ….…………..(9)
keterangan :
Q = debit total yang melewati penampang
yang diukur, m3/dt.
qn = debit pada rai ke n, m3/dt.
7
- lakukan pengukuran penampang basah pada
penampang bagian hulu, tengah (lurus
dengan pos duga air) dan hilir serta ukur jarak
antar penampang melintang.
- baca tinggi muka air pada papan duga air
biasa/manual (peilshcaal) pada saat mulai
pengukuran.
- letakan alat penyipat ruang kurang lebih di
tengah-tengah antara dua penampang
melintang.
- ukur jarak antara penampang melintang
dengan alat penyipat datar.
- lepaskan pelampung lebih kurang 10 m di
sebelah hulu dari penampang bagian hulu.
- ukur sudut azimut posisi lintasan pelampung
pada penampang hulu, tengah dan hilir
dengan alat penyipat ruang.
- catat lama waktu lintasan pelampung dari
bagian penampang hulu sampai hilir.
- ulangi pekerjaan (mulai dari pelepasan
pelampung s/d catat lama waktu lintasan)
hingga semua titik lintasan pelampung
(minimum 3 lintasan) yang telah ditentukan
selesai diukur.
- lakukan pembacaan tinggi muka air pada
papan duga air segera setelah pengukuran
kecepatan aliran selesai.
- gambarkan penampang basah bagian hulu,
tengah dan hilir.
- gambarkan posisi lintasan pelampung.
- hitung kecepatan aliran permukaan setiap
lintasan pelampung dengan cara membagi
panjang lintasan dengan lama waktu lintasan.
- tentukan nilai koefisien kecepatan aliran
permukaan rata-rata untuk setiap bagian
penampang basah.
- hitung kecepatan aliran pada setiap lintasan
pelampung dengan cara mengalikan koefisien
pelampung dengan hasil dari pembagian
antara panjang lintasan dengan waktu tempuh
pelampung dari hulu ke hilir [Link]
yang digunakan :
L
vp = kp x ---- ………………….…………. (10)
t
8
d
α = ------- ……………….……………….(12)
h
keterangan :
vp = kecepatan aliran, m3/dt.
Vp rata2 = kecepatan aliran rata-rata, m3/dt
kp = koefisien pelampung.
d = tinggi pelampung yang tenggelam
dalam air, m.
h = kedalaman muka air dari dasar
sungai, m.
- hitung luas setiap bagian penampang basah.
- hitung debit untuk setiap bagian penampang
basah dengan cara mengalikan luas
penampang basah dengan kecepatan aliran
rata-rata pada tiap penampang.
- hitung debit total dengan cara menjumlahkan
debit pada setiap bagian penampang basah
dan hitung tinggi muka air rata-ratanya.
b. Petugas :
a) menyiapkan sarana dan kalibrasi peralatan yang
akan dipakai dalam pengukuran debit.
b) menyiapkan pelaksanaan pengukuran debit.
c) melaksanakan pengukuran debit.
9
7. Kondisi khusus : Pengukuran debit sungai pada saat banjir atau pengukuran
aliran berubah sangat cepat, sbb :
a. pada saat banjir, pengukuran debit hendaknya dilakukan
pada saat banjir telah melampaui puncak dan berada
pada sisi surut.
b. lama pengukuran dengan alat ukur aliran untuk setiap
titik vertikal cukup 30 detik.
c. lakukan satu titik pengukuran pada kedalaman 0,5 d
pada tiap bidang vertikal.
d. kecepatan aliran rata-rata untuk setiap bidang vertikal
adalah :
10
Lampiran 1
Mulai
Tidak
Disetujui ?
Ya
2 hari
4. Memeriksa persiapan sarana dan Memeriksa persiapan
prasarana pengukuran debit.
Lengkap Tidak
/sesuai ?
Ya
Persiapan pengukuran
5. Persiapan pengukuran debit a.l : debit
membuat rai, mengukur
kedalaman, dst.
Pemeriksaan persiapan
6. Memeriksa persiapan pengukuran, mis. metode,
pengukuran debit. jumlah rai, dll
Sesuai Tidak
kriteria?
Ya
4 hari
7. Pelaksanaan pengukuran debit. Pelaksanaan pengukuran
debit dan lakukan
perhitungan debit
Benar ?
Selesai
11
Lampiran 2
Lantai jembatan
a
Sudut antara juntaian penggantung dengan garis vertical,
o
maksimal yang diijinkan adalah 30
c
Permukaan air b d
Arah aliran
Dasar sungai f e
Sudut juntaian penggantung (αo) Koreksi juntaian di atas air (%) Koreksi juntaian di dalam air (%)
10 1,54 0,50
12 2,23 0,72
14 3,06 0,98
16 4,03 1,28
18 5,15 1,64
20 6,42 2,04
22 7,85 2,48
24 9,46 2,96
26 11,26 3,50
28 13,26 4,08
30 15,47 4,72
Contoh penerapannya :
Hasil perhitungan :
o
a. koreksi juntaian di atas muka air untuk α = 20 = 6,42% = 0,0642
b. nilai panjang koreksi = 18 x 0,0642
= 1,16 m
12
Lampiran 3
Sungai, WS : ……………………………………………………………………………………..
Tempat : ……………………………………………………………………………………..
Pos duga air : ……………………………………………………………………………………..
Tanggal : ……………………………………………………………………………………..
Lebar sungai : ………………… Luas penampang : ………………………………………
Muka air : mulai …………. Selesai : ………………………….
Waktu : mulai …………. Selesai : ………………………….
Kondisi alat : Baik / Rusak
Nomor register alat : ……………………………………………………………………………………..
Nomor pengukuran : .....................................................................................................................
Nama pengukur : ……………………………………………………………………………………..
Kecepatan rata-rata : ……………………………………………………………………………………..
Debit : ……………………………………………………………………………………..
(………………………………) (………………………………)
13
B. Formulir pengukuran debit dengan pelampung
Sungai, WS : ……………………………………………………………………………………..
Tempat : ……………………………………………………………………………………..
Pos duga air : ……………………………………………………………………………………..
Nomor register alat : ……………………………………………………………………………………..
Kondisi alat : Baik / Rusak
Tanggal : ……………………………………………………………………………………..
Muka air : mulai …………. Selesai : ………………………….
Waktu : mulai …………. Selesai : ………………………….
Nomor pengukuran : ……………………………………………………………………………………..
Nama pengukur : ……………………………………………………………………………………..
Jarak (m)
Pelampung Waktu Kecepatan
Koef.
No L α L’ (menit) (m/dt)
(………………………………) (………………………………)
14