Punca dan Penanganan Asma pada Anak
Punca dan Penanganan Asma pada Anak
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Asma pada anak merupakan masalah bagi pasien dan keluarga, karena asma
pada anak berpengaruh terhadap berbagai aspek khusus yang berkaitan dengan
kualitas hidup, termasuk proses tumbuh kembang baik pada masa bayi, balita maupun
remaja ( Sidhartani, 2007 ).
Menurut Wong ( 2009 ) dampak penyakit kronis dan ketidakmampuan pada
anak cukup luas. Anak mengalami gangguan aktivitas dan gangguan perkembangan.
Serangan asma menyebabkan anak dapat tidak masuk sekolah berhari-hari, berisiko
mengalami masalah perilaku dan emosional, dan dapat menimbulkan masalah bagi
anggota keluarga lainnya, orang tua sulit membagi waktu antara kerja dan merawat
anak, masalah keuangan, fisik dan [Link] ini berdampak pada pola
interaksi orang tua dan anak serta 2 upaya yang dilakukan untuk meningkatkan
kemampuan dan kualitas hidup anak.
Global initiative for asthma (GINA) memperkirakan 300 juta penduduk dunia
menderita asma (GINA, 2011). Prevalensi asma pada anak di Amerika Serikat
mencapai 9,4% (National Center for Health Statistics, 2008). World Health
Organization (WHO) memperkirakan angka ini akan terus bertambah hingga
mencapai 180.000 orang setiap tahun. Prevalensi total asma di dunia diperkirakan 6%
pada dewasa dan 10% pada anak (Depkes RI, 2009).
Menurut Depkes ( 2009 ) angka kejadian asma pada anak dan bayi sekitar 10-
85%. Departemen Kesehatan juga memperkirakan penyakit asma termasuk 10 besar
penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian di Rumah Sakit serta diperkirakan
10% dari 25 juta penduduk Indonesia menderita asma. Apabila tidak dilakukan
pencegahan prevalensi asma akan semakin meningkat pada masa yang akan datang (
Depkes RI, 2009 ).
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Mengetahui bagaimana cara mengatasi penyakit asma pada anak sehingga dapat
menekan terjadinya komplikasi lebih lanjut.
2. Tujuan khusus
1
a. Mengetahui definisi dari penyakit asma
b. Mengetahui penyebab dari penyakit asma pada anak
c. Mengetahui tanda dan gejala dari penyakit asma pada anak
d. Mengetahui pathway dan patofisiologi dari penyakit asma pada anak
e. Mengetahui penatalaksanaan dari penyakit asma pada anak
f. Menjelaskan konsep dasar asuhan keperawatan dari penyakit asma pada anak
C. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari penyakit asma ?
2. Bagaimana penyebab dari penyakit asma pada anak ?
3. Bagaimana patofisiologi daari penyakit asma ?
4. Bagaimana penatalaksanaannya ?
5. Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatannya ?
2
BAB II
A. Pengertian
Asma merupakan gangguan inflamasi kronik jalan nafas yang melibatkan
berbagai sel inflmasi. Dasar penyakit ini adalah hiperaktifitas bronkus dalam berbagai
obstruksi jalan nafas, dan gejala pernafasan (mengi dan sesak). Tingkat penyempitan
jalan napas dapat berubah baik secara spontan atau karena terapi. Asma berbeda dari
penyakit paru obstruktif dalam hal bahwa asma adalah proses reversibel. Eksaserbasi
akut dapat terjadi, yang berlangsung dari beberapa menit sampai jam, diselingi oleh
periode bebas gejala. Jika asma dan bronchitis terjadi secara bersamaan, obstrukusi
yang diakibatkan menjadi gabungan dan disebut bronchitis asmatik kronik.
Asma bronkhial merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya
respon yang berlebihan dari trakea dan bronkus terhadap bebagai macam rangsangan,
yang mengakibatkan penyempitan saluran nafas yang tersebar luas di seluruh paru dan
derajatnya dapat berubah secara spontan atau setelah mendapat pengobatan.
Asthma Bronchiale adalah penyakit yang mempunyai karakteristik dengan
peningkatan respon trakhea dan bronkus dengan berbagai macam stimulasi:
psikologis, otonom, infeksi, endokrin, kekebalan imun dan biokimia. (Nancy
Holloway Medical, Surgical Nursing Care Plan).
B. Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan factor predisposisi dan presipitasi timbulnya
serangan asma bronchial :
1. Faktor predisposisi
a. Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi,
karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma
bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas
saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
2. Faktor presipitasi
a. Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
3
1) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan
Ex: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamu bakteri dan polusi
2) Ingestan, yang masuk melalui mulut
Ex: makanan dan obat-obatan
3) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit.
Ex: perhiasan, logam dan jam tangan.
b. Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mampengaruhi asma.
Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan
asma kadang-kadang serangan berhubungan dengan arah angin serbuk bunga
dan debu.
c. Stres
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma yang sudah
ada. Disamping itu gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita
asma yang mengalami stress/gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk
menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stresnya belum diatasi maka
gejala asmanya belum diobati.
d. Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal
ini berkaitan dengan dimana ia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di
laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalulintas. Gejala ini
membaik pada waktu libur atau cuti.
e. Olahraga/ aktivitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan
aktivitas jasmani atau olahraga yang berat. Lari cepat paling mudah
menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktivitas biasanya terjadi
segera setelah selesai aktivitas tersebut.
C. Tanda dan Gejala
Gejala asma yang klasik terdiri atas batuk, sesak dan mengie (wheezing) dan
sebagian penderita disertai nyeri dada). Gejala-gejala tersebut tidak selalu terdapat
bersama-sama, sehingga ada beberapa tingkat penderita asma sebagai berikut:
1. Tingkat I penderita asma secara klinis normal. Gejala asma timbul bila ada faktor
pencetus.
4
2. Tingkat II penderita asma tanpa keluhan dan tanpa kelainan pada pemeriksaan
fisik tetapi fungsi paru menunjukan tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
3. Tingkat III penderita asma tanpa golongan tetapi pada pemeriksaan fisik maupun
fungsi paru menunjukan obstruksi jalan nafas.
Misal:
Tingkat II dijumpai setelah sembuh dari serangan asma.
Tingkat III penderita sembuh tetapi tidak menemukan pengobatannya.
4. Tingkat IV penderita asma yang paling sering dijumpai mengeluh sesak nafas,
batuk dan nafas berbunyi.
Pada pemeriksaan fisik maupun spirometri akan ditemukan obstruksi jalan nafas.
Pada serangan asma yang berat gejala yang timbul antara lain:
a. Kompresi otot-otot bantu pernafasan terutama otot sterna.
b. Cyanosis
c. Silent chest
d. Gangguan kesadaran
e. Penderita tampak letih, hiperinflasi dada
f. Thacycardi
5. Tingkat V status asmatikus yaitu serangan asma akut yang berat bersifat refrater
sementara terhadap pengobatan yang langsung dipakai.
D. Patofisiologi
Suatu serangan asthma timbul karena seorang yang atopi terpapar dengan
alergen yang ada dalam lingkungan sehari-hari dan membentuk imunoglobulin E
(IgE). Faktor atopi itu diturunkan. Alergen yang masuk kedalam tubuh melalui saluran
nafas, kulit, dan lain-lain akan ditangkap makrofag yang bekerja sebagai antigen
presenting cell (APC). Setelah alergen diproses dalan sel APC, alergen tersebut
dipresentasikan ke sel Th. Sel Th memberikan signal kepada sel B dengan
dilepaskanya interleukin 2 (IL-2) untuk berpoliferasi menjadi sel plasma dan
membentuk imunoglobulin E (IgE).
IgE yang terbentuk akan diikat oleh mastosit yang ada dalam jaringan dan
basofil yang ada dalan sirkulasi. Bila proses ini terjadi pada seseorang, maka orang itu
sudah disensitisasi atau baru menjadi rentan. Bila orang yang sudah rentan itu terpapar
kedua kali atau lebih dengan alergen yang sama, alergen tersebut akan diikat oleh Ig E
5
yang sudah ada dalam permukaan mastoit dan basofil. Ikatan ini akan menimbulkan
influk Ca++ kedalam sel dan perubahan di dalam sel yang menurunkan kadar cAMP.
Penurunan pada kadar cAMP menimbulkan degranulasi sel. Degranulasi sel ini
akan menyebabkan dilepaskanya mediator-mediator kimia yang meliputi: histamin,
slow releasing suptance of anaphylaksis (SRS-A), eosinophilic chomotetik factor of
anaphylacsis (ECF-A) dan lain-lain. Hal ini akan menyebabakan timbulnya tiga reaksi
utama yaitu: kontraksi otot-otot polos baik saluran nafas yang besar ataupun yang
kecil yang akan menimbulkan bronkospasme, peningkatan permeabilitas kapiler yang
berperan dalam terjadinya edema mukosa yang menambah semakin menyempitnya
saluran nafas, peningkatansekresi kelenjar mukosa dan peningkatan produksi mukus.
Tiga reaksi tersebut menimbulkan gangguan ventilasi, distribusi ventilasi yang tidak
merata dengan sirkulasi darah paru dan gangguan difusi gas ditingkat alveoli,
akibatnya akan terjadi hipoksemia, hiperkapnea dan asidosis pada tahap yangsangat
lanjut
Berdasarkan etiologinya, asma dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu
asma intrinsik dan asma ektrinsik. Asma ektrinsik (atopi) ditandai dengan reaksi
alergik terhadap pencetus-pencetus spesifik yang dapat diidentifikasi seperti: tepung
sari jamur, debu, bulu binatang, susu telur ikan obat-obatan serta bahan-bahan alergen
yang lain. Sedangkan asma intrinsik (non atopi) ditandai dengan mekanisme non
alergik yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik seperti: Udara dingin, zat
kimia,yang bersifat sebagai iritan seperti: ozon, eter, nitrogen, perubahan musim dan
cuaca, aktifitas fisik yang berlebih, ketegangan mental serta faktor-faktor intrinsik
lain.
Serangan asma mendadak secara klinis dapat dibagi menjadi tiga
stadium. Stadium pertama ditandai dengan batuk-batuk berkala dan kering. Batuk ini
terjadi karena iritasi mukosa yang kental dan mengumpul. Pada stadium ini terjadi
edema dan pembengkakan bronkus. Stadium kedua ditandai dengan batuk disertai
mukus yang jernih dan berbusa. Klien merasa sesak nafas, berusaha untuk bernafas
dalam, ekspirasi memanjang diikuti bunyi mengi (wheezing). Klien lebih suka duduk
dengan tangan diletakkan pada pinggir tempat tidur, penderita tampak pucat, gelisah
dan warna kulit sekitar mulai membiru. Sedangkan stadiun ketiga ditandai hampir
tidak terdengarnya suara nafas karena aliran udara kecil, tidak ada batuk, pernafasan
menjadi dangkal dan tidak teratur, irama pernafasan tinggi karena asfiksia.
6
E. Penatalaksanaan
Pengobatan asma secara garis besar dibagi dalam pengobatan non farmakologik
dan pengobatan farmakologik.
1. Pengobatan non farmakologik
a. Penyuluhan
Penyuluhan ini ditujukan pada peningkatan pengetahuan klien tentang penyakit
asthma sehinggan klien secara sadar menghindari faktor-faktor pencetus, serta
menggunakan obat secara benar dan berkonsoltasi pada tim kesehatan.
b. Menghindari faktor pencetus
Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan asthma yang ada pada
lingkungannya, serta diajarkan cara menghindari dan mengurangi faktor
pencetus, termasuk pemasukan cairan yang cukup bagi klien.
c. Fisioterapi
Fisioterapi dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mukus. Ini
dapat dilakukan dengan drainage postural, perkusi dan fibrasi dada.
2. Pengobatan farmakologik
a. Agonis beta
Bentuk aerosol bekerja sangat cepat diberika 3-4 kali semprot dan jarak antara
semprotan pertama dan kedua adalan 10 menit. Yang termasuk obat ini adalah
metaproterenol (Alupent, metrapel).
b. Metil Xantin
7
Golongan metil xantin adalan aminophilin dan teopilin, obat ini diberikan bila
golongan beta agonis tidak memberikan hasil yang memuaskan. Pada orang
dewasa diberikan 125-200 mg empatkali sehari.
c. Kortikosteroid
Jika agonis beta dan metil xantin tidak memberikan respon yang baik, harus
diberikan kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol (beclometason
dipropinate) dengan dosis 800 empat kali semprot tiap hari. Karena pemberian
steroid yang lama mempunyai efek samping maka yang mendapat steroid
jangka lama harus diawasi dengan ketat.
d. Kromolin
Kromolin merupakan obat pencegah asthma, khususnya anak-anak. Dosisnya
berkisar 1-2 kapsul empat kali sehari.
e. Ketotifen
Efek kerja sama dengan kromolin dengan dosis 2 x 1 mg perhari.
Keuntunganya dapat diberikan secara oral.
f. Iprutropioum bromide (Atroven)
Atroven adalah antikolenergik, diberikan dalam bentuk aerosol dan bersifat
bronkodilator.
3. Pengobatan selama serangan status asmatikus
a. Infus RL : D5 = 3 : 1 tiap 24 jam
b. Pemberian oksigen 4 liter/ menit melalui nasal kanul
c. Aminophilin bolus 5 mg/ kg bb diberikan pelan-pelan selama 20 menit
dilanjutkan drip RL atau D5 mentenence (20 tetes/ menit) dengan dosis 20 mg/
kg BB/ 24 jam.
d. Terbutalin 0,25 mg/ 6 jam secara sub kutan.
e. Dexametason 10-20 mg/ 6 jam secara intra vena.
f. Antibiotik spektrum luas.
8
BAB III
A. Pengkajian
1. Identitas penderita (mencakup: nama, jenis kelamin, umur, suku, agama,
pekerjaan, alamat, pendidikan, status perkawinan)
2. Status perawatan (ruang rawat, nomor rekam medik, tanggal dan jam masuk,
tanggal dan jam pengambilan data, diagnosa masuk, cara masuk, pindahan dari
rumah sakit atau ruangan mana, serta tim atau perawat yang bertanggung jawab)
3. Keadaan umum pasien
4. Kebutuhan dasar
a. Rasa nyaman nyeri
b. Nutrisi : kebutuhan nutrisi pada pasien asma dapat terganggu akibat adanya
gangguan berupa sputum, mual atau muntah.
c. Kebersihan perorangan : kebersihan pada asien asma dapat terganggu utamnya
pada pasien dengan kelemahan
d. Cairan : masalah kebutuhan cairan dapat terjadi akibat kurangnya minum
e. Aktivitas dan latihan : aktivitas dan latihan dapat terganggu akibat kelemahan
otot yang tidak mempunyai sumber energi yang cukup akibat dari kurangnya
oksigen dan nutrien yang masuk ke tubuh
f. Eliminasi : eliminasi dapat terganggu terutama pada pasien dengan kelemahan
dan juga pada kondisi kekurangan cairan dan nutrisi
g. Oksigenasi : akibat dari proses asma, jalan nafas menyempit sehinngga proses
pemenuhan oksigen akan terganggu
h. Tidur dan istirahat : akibat sesak, saraf simpatis akan terangsan dan RAS akan
teraktivasi sehingga respons tidur akan hilang/menurun
i. Pencegahan terhadap bahaya : pada pasien asma umumnya tidak mengalami
masalah
j. Neurosensoris
k. Keamanan
l. Seksualitas
m. Keseimbangan dan peningkatan hubungan resiko serta interaksi sosial
5. Genogram
9
6. Data pemeriksaan penunjang
B. Diagnosa Yang Mungkin Muncul
1. Bersihan jalan napas tidak efektif yang berhubungan dengan respon alergenik dan
inflamasi pada percabangan bronkus
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen
3. Risiko asfiksia yang berhubungan dengan interaksi antara individu dan alergen
4. Risiko cedera (asidosis respiratorik, ketidakseimbangan elektrolit) yang
berhubungan dengan hipoventilasi, dehidrasi.
C. Intervensi Keperawatan
NO. DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI
1. Bersihan jalan napas Setelah dilakukan 1. Instruksikan dan/atau
tidak efektif b/d tindakan awasi latihan
respon alergenik dan keperawatan selama pernapasan dan
inflamasi pada ……… jam pasien pengendalian
percabangan bronkus diharapkan dapat pernapsan untuk
bernapas dengan meningkatkan
stabil dengan kriteria pernapasan
hasil : diagfragmatik yang
1. Anak benar, ekspansi dada
bernapas dan perbaikan
dengan mobilitas dinding dada
mudah dan 2. Gunakan teknik
tanpa dipsnea bermain untuk latihan
2. Anak bernapas pada anak –
menunjukan anak yang masih kecil
perbaikan ( mis. Meniup pluit
kapasitas atau meniup bola kapas
ventilasi diatas meja) untuk
3. Anka terlibat memeprpanjang waktu
dalam ekspirasi dan
aktivitas yang meningkatkan tekanan
sesuai dengan ekspirasi
10
kemampuan 3. Ajarkan penggunaan
dan minat obat yang benar
4. Ajarkan penggunaan
PEFM, nebuliser, dan
inhaler dosis terukur
benar jika
diindikasikan.
5. Ajarkan keluarga
untuk melakukan
perfusi dan drainase
postural dan
menganjurkan batuk
jika diindikasikan.
6. Anjurkan latihan fisik
(mis. Berenang, lari
cepat, ski, basball, dll)
7. Batasi latihan fisik
hanya jika kondisi
anak mengharuskannya
8. Anjurkan postur tubuh
yang baik untuk
ekspansi paru
maksimal.
2. Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan 1. Anjurkan kativitas-
b/d tindakan aktivitas yang sesuai
ketidakseimbangan keperawatan selama dengan kondisi anak
antara suplai dan ……… jam pasien 2. Berikan banyak
kebutuhan oksigen diharapkan istirahat kesempatasn untuk
dengan optimal tidur, istirahat, dan
dengan kriteria hasil : aktivitas tenang untuk
1. Anak terlibat menghemat suplai
dalam oksigen.
aktivitas yang
11
sesuai
2. Anak tampak
beristirahat
12
mampu anti-inflamasi yang
menggunakan benar
inhaler serta 6. Jelaskan pada anak
peralatan cara kerja peralatan
lainnya 7. Ajarkan anak tentang
penggunaan inhaler,
nebulaser, dan PEFM
yang benar
8. Ajarkan anak dan
keluarga tentang
pengobatan
profolaktik
9. Jelaskan pada anak
dan keluarga
kemungkinan manfaat
terapi hiposentisasi
jika alergen dapat
ditentukan dan tidak
dapat dihindari atau
dikendalikan dengan
baik oleh obat
10. Berikan terapi
hiposentisasi jika
diresepkan
4. Risiko cedera Setelah dilakukan 1. Pantau ketat PH darah
(asidosis tindakan 2. Beri natrium
respiratorik, keperawatan selama bikarbonat sesuai
ketidakseimbangan ……… jam pasien intstruksi
elektrolit) b/d diharapkan tidak 3. Pertahankan infus IV
hipoventilasi, mengalami sidosis untuk pemberian obat-
dehidrasi dengan kriteria hasil: obat darurat dan untuk
1. Anak tidak mencegah dehidrasi
menunjukan 4. Cegah muntah dan
13
tanda-tanda dehidrasi, karena
asidosi dapat mengebabkan
2. Anak ketidakseimbangan
menunjukan elektrolit
elektrolit 5. Implementasikan
serum normal tindakan untuk
memperbaiki
ventilasi, karena
hipoventilasi dapat
menyebabkan
akumulasi
karbondioksida, yang
akan menurunkan PH
6. Pantau ketat elektrolit
serum
7. Pertahankan infus IV
dengan kecepatan
yang tepat
14
BAB IV
ANALISA JURNAL
A. Judul Jurnal
Efektivitas Teknik Pernafasan Buteyko terhadap Pengontrolan Asma di Balai
Kesehatan Paru Masyarakat Semarang
B. Penulis Jurnal
Erna Maleastuti dan Lailya Husna
C. Latar Belakang Jurnal
Asma merupakan inflamasi kronik pada jalan nafas yang disebabkan oleh
hiperresponsivitas jalan nafas, edema mukosa dan produksi mucus berlebih. Inflamasi
ini biasanya kambuh dengan tanda pada episode asthma seperti batuk, dada sesak,
wheezing dan dyspnea(Smeltzer, Suzanne C. O’Connell., Bare, 2008). Penyakit ini
dapat mengakibatkan penurunan jumlah udara yang dapat diinduksi oleh kontraksi
otot polos, penebalan pada dinding jalan nafas serta terdapatnya sekresi berlebih
dalam jalan nafas yang merupakan hasil dari respon berlebih pada alergen.( Jeffrey
M.C, 2012).
Alergi merupakan faktor predisposisi terkuat terhadap angka kejadian asma,
paparan yang lama pada iritan jalan nafas atau alergen juga meningkatkan resiko
berkembangnya asma. Sedangkan faktor pencetus terhadap gejala asma dan
eksaserbasi pada pasien asma meliputi iritan jalan nafas, latihan, stress atau kesedihan
yang mendalam, sinusitis dengan postnasal drip, terapi pengobatan, infeksi traktus
respiratorius yang disebabkan oleh virus dan gastroesophageal reflux(Smeltzer,
Suzanne C. O’Connell., Bare, 2008).
Angka morbiditas yang diakibatkan oleh asma semakin meningkat setiap
tahunnya, sehinggga tujuan dari pengobatan asma yakni mengontrol asma yang
ditunjukkan oleh fungsi pulmonar yang kembali normal maupun mendekati normal,
mempertahankan level aktivitas normal, dan meminimalkan kebutuhan beta2 agonist
inhalers yang berfungsi sebagai quick relief dari gejala asthma yang diberikan 2 kali
seminggu dipantau secara adekuat (Asthma, 2014). Tanda dan gejala asma yang biasa
sering muncul adalah mengi, peningkatan frekuensi pernafasan, hyperventilation,
hyperinflasi, fluktuasi kadar CO2.
15
Hyperventilation yang diikuti dengan kecemasan merupakan gejala yang sering
ditemukan pada penderita asma, sehingga mengakibatkan bronkokonstriksi jalan nafas
(Holloway, Elizabeth A. Wes, 2007). Hyperventilation merupakan suatu kondisi
dimana CO2 dalam darah dan alveoli berkurang sehingga kompensasi jalan nafas
mengalami konstriksi bertujuan untuk menghindari kehilangan CO secara berlebih
(Bruton, 2005). Selain itu penebalan dinding jalan nafas karena remodelling jalan
nafas meningkat dengan tajam dan berkontribusi terhadap obstruksi aliran udara
(Wiley, 2012). Pernafasan yang seperti ini berkontribusi dalam kerentanan dan
kelemahan tubuh terhadap berbagai macam penyakit dan berhubungan erat dengan
cara bernafas yang efektif dan benar (Zara, 2012).
Pengobatan untuk asma dibedakan atas dua macam yaitu pengobatan secara
farmakologis dan non farmakologis. Terdapat dua golongan medikasi secara
farmakologis yakni pengobatan jangka panjang dan pengobatan cepat atau quick
reliefsebagai pereda gejala yang dikombinasikan sesuai kebutuhan (Smeltzer, Suzanne
C. O’Connell., Bare, 2008). Bentuk pengobatan nonfarmakologis adalah pengobatan
komplementer yang meliputi breathing technique (teknik pernafasan), acupunture,
exercise theraphy, psychological therapies, manual therapies(Council, 2006).
Dewasa ini, teknik pernafasan yang dikembangkan berupa olah raga aerobik,
senam, taichi, waitankung, yoga, mahatma, buteyko dan papworth. Teknik pernafasan
ini ditujukan tidak hanya untuk mereka para penderita asthma, namun juga penderita
penyakit paru lainnya (Adryan, 2012). Sepanjang data april 2012 data dari RCTs
menyebutkan bahwa pernafasan buteyko dapat memperbaiki gejala asma (Asthma,
2014)
Berdasarkan bukti penelitian yang dilakukan oleh Cooper tahun 2003
menunjukkan hasil bahwa teknik pernafasan Buteyko terbukti mampu mengurangi
gejala asma namun tidak dapat mengubah fungsi pulmonar pada pasien. Sehingga
prinsip dalam pengontrolan asma dimana derajat gejala dan keterbatasan fungsi dapat
diminimalisasi akan mempengaruhi pengobatan yang didasarkan pada derajat
pengontrolan asma.
Berdasarkan uraian diatas, pengontrolan asma menggunakan teknik pernafasan
menjadi alternative pilihan bagi penderita asma (Council, 2006). Teknik pernafasan
buteyko diyakini mampu mengurangi gejala hyperventilation karena produksi nitric
oxide dapat menyebabkan bronkodilator jalan nafas (Bruton, 2005). Sehingga kurva
16
disosiasi oksihemoglobin yang dapat menghambat kelancaran oksigenasi dan efek
bohr dapat dikurangi (Zara, 2012).
D. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan desain
penelitian pre experimen dengan menggunakan kelompok yang mendapat perlakuan
(Riyanto, 2011). Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yaitu sampel
dalam penelitian ini adalah anggota dari populasi yang memiliki kriteria inklusi dan
eksklusi diantaranya pasien yang menderita asma dan menjalani pemeriksaan di
BKPM Semarang, pasien asma dengan kriteria asma persisten ringan dan sedang, dan
bersedia menjadi responden. sedangkan untuk kriteria eksklusinya yakni pasien asma
dengan komplikasi berkelanjutan, pasien dengan penyakit paru lain seperti
tuberkulosis, emfisema, kanker paru, serta tidak bersedia menjadi responden. Dengan
variabel bebasnya adalah teknik pernafasan buteyko dan variabel terikatnya adalag
pengontrolan nafas.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November - Desember 2014 di Balai
Kesehatan Paru Masyarakat Semarang. Adapun definisi operasional variabel bebasnya
adalah Teknik pernafasan yang digunakan untuk mengontrol pernafasan serta latihan
menahan pernafasan yang bertujuan untuk mengurangi keadaan hyperventilasi dan
hypocapnue dan memperbaiki pernafasan diafragma. Sedangkan definisi operasional
untuk variabel terikatnya adalah Merupakan hasil pernyataan klien terhadap
pengontrolan gejala dengan menggunakan quesioner Asthma Control test.
E. Hasil Penelitian
Hasil penelitian setelah dilakukan tehnik pernafasan Buteyko mnunjukan nilai
signifikansi (p value < 0,05) untuk pengukuran dengan menggunakan asthma control
test adalah 0,000. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan kontrol asma sebelum dan sesudah dilakukan tehnik pernafasan Buteyko.
Hasil penelitian diatas sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
(Agustiningsih, Denny. Kafi, Abdul. Djunaidi, 2007) yang menyatakan bahwa tehnik
pernafasan Buteyko dipercaya dapat menurunkan angka serangan, penggunaan obat
bronkodilator dan pengguanaan steroid menadi minimal. Menurut Thomas (2014)
hasil penelitiannya menerangkan bahwa setelah dilakukan intervensi dengan
menggunakan tehnik pernafasan Buteyko terdapat perbedaan signifikan antara
kelompok kontrol dan kelompok perlakuan.
17
Huyton (2006) menyatakan bahwa dengan diberikan tehnik pernafasan Buteyko
pada pasien dengan asma menghasilkan perbedaan yang signifikan pada pengontrolan
asma. Hal ini didasarkan pada teori yang menenrangkan bahwa hiperventilasi
bertanggung awab terhadap peningkatan bronkospasme yang merupakan akibat dari
upaya tubuh menahan karbondioksida, dengan menggunakan tehnik pernafasan
Buteyko yang prinsip dasarnya adalah nasal breathing (pernafasan hidung), efek
turbulensi disaluran nafas yang diakibatkan oleh penyempitan jalan nafas akan
berkurang sehingga ventilasi-perfusi didalam paru akan meningkat serta kondisi yang
mengakibatkan tubuh harus menyimpan karbondioksida berlebih didalam tubuh dapat
berkurang.
18
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Asma bronkhial merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya
respon yang berlebihan dari trakea dan bronkus terhadap bebagai macam rangsangan,
yang mengakibatkan penyempitan saluran nafas yang tersebar luas di seluruh paru dan
derajatnya dapat berubah secara spontan atau setelah mendapat pengobatan.
B. Saran
Dengan adanya makalah ini pembaca diharapkan memahami penyakit asma
yang terjadi pada anak termasuk dari gejala awal dan penyebabnya.
19
DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arif. 2008. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2. Jakarta : Media
Aesculapius
Kyle Terry dan Carman Susan. 2012. Buku Ajar Keperawatan Pediatri, Edisi 2 Vol 3.
Jakarta : EGC
20