0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan67 halaman

Efektivitas Ekstrak Daun Mentimun terhadap Ulat Api

Skripsi ini membahas pengujian efektivitas ekstrak daun mentimun sebagai insektisida alami terhadap hama ulat api pada tanaman kelapa sawit. Ekstrak daun mentimun diuji pada 10 variasi konsentrasi dan dibandingkan dengan insektisida kimia Deltametrhin. Hasil menunjukkan konsentrasi 100% ekstrak daun mentimun mampu membunuh ulat api dengan waktu hampir sama dengan insektisida kimia.

Diunggah oleh

Khairun Arrasyid
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan67 halaman

Efektivitas Ekstrak Daun Mentimun terhadap Ulat Api

Skripsi ini membahas pengujian efektivitas ekstrak daun mentimun sebagai insektisida alami terhadap hama ulat api pada tanaman kelapa sawit. Ekstrak daun mentimun diuji pada 10 variasi konsentrasi dan dibandingkan dengan insektisida kimia Deltametrhin. Hasil menunjukkan konsentrasi 100% ekstrak daun mentimun mampu membunuh ulat api dengan waktu hampir sama dengan insektisida kimia.

Diunggah oleh

Khairun Arrasyid
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

UJI EFEKTIVITAS INSEKTISIDA EKSTRAK DAUN

MENTIMUN (Cucumis sativus L.) TERHADAP HAMA ULAT


API (Setothosea asigna Van Eecke.) PADA TANAMAN
KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

SKRIPSI

Oleh

RAJA RIO SIMARMATA


143305010045

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS AGRO TEKNOLOGI
UNIVERSITAS PRIMA INDONESIA
MEDAN
2018
Judul : UJI EFEKTIVITAS INSEKTISIDA EKSTRAK DAUN
MENTIMUN (Cucumis sativus L.) TERHADAP HAMA
ULAT API (Setothosea asigna Van Eecke.) PADA
TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

Nama : Raja Rio Simarmata

Nim : 143305010045

Program Studi : Agroteknologi

Menyetujui
Komisi Pembimbing

(Harmileni, [Link]., [Link]) (Seno Aji, [Link]., [Link]., Prac)


Ketua Anggota

Ketua Program Studi, Dekan,

(Bayu Pratomo, SST., MP) (Seno Aji, [Link]., [Link]., Prac)


UJI EFEKTIVITAS INSEKTISIDA EKSTRAK DAUN
MENTIMUN (Cucumis sativus L.) TERHADAP HAMA ULAT
API (Setothosea asigna Van Eecke.) PADA TANAMAN
KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

SKRIPSI

Skripsi Ini Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Pertanian Pada Fakultas Agro Teknologi
Universitas Prima Indonesia

Oleh

RAJA RIO SIMARMATA


143305010045

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS AGRO TEKNOLOGI
UNIVERSITAS PRIMA INDONESIA
MEDAN
2018
PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:

UJI EFEKTIVITAS INSEKTISIDA EKSTRAK DAUN MENTIMUN


(Cucumis sativus L.) TERHADAP HAMA ULAT API
(Setothosea asigna Van Eecke.) PADA TANAMAN
KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

Adalah benar hasil karya saya sendiri dari belum dipublikasikan oleh siapapun
sebelumnya. Sumber-sumber data informasi yang digunakan telah dinyatakan
secara benar dan jelas.

Medan, Agustus 2018


Yang membuat pernyataan,

Raja Rio Simarmata


143305010045
Telah diuji dan dinyatakan LULUS didepan tim penguji pada Kamis, 01 Agustus
2018

Tim penguji
Ketua : Harmileni, [Link]., [Link]

Anggota : Seno Aji, [Link]., [Link]., Prac

Wilda Lumban Tobing, SST., [Link]

Julaili Irni, [Link]., [Link]


ABSTRAK

Raja Rio Simarmata, Uji Efektivitas Insektisida Ekstrak Daun Mentimun


(Cucumis sativus L.) Terhadap Hama Ulat Api (Sethothosea asigna Van Eecke.)
Pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Dibimbing oleh
Harmileni, [Link]., [Link]. dan Seno Aji, [Link]., [Link]. Prac.
Ulat api merupakan jenis ulat pemakan daun kelapa sawit yang sering
menimbulkan kerugian di perkebunan kelapa sawit. Jenis ulat api yang paling
banyak ditemukan adalah Setothosea asigna, Setora nitens, Darna trima. Spesies
ulat api Sethotosea asigna adalah yang sering menimbulkan kerusakan berat pada
tanaman kelapa sawit. Sehingga mengakibatkan kerugian yang cukup besar baik
berupa kehilangan hasil, penurunan mutu serta menurunkan pendapatan petani
sehingga dilakukan penelitian ini untuk mengetahui manfaat pemberian ekstrak
daun mentimun terhadap pengendalian hama ulat api (Setothosea asigna) pada
tanaman kelapa sawit dengan proses maserasi dan pemisahan larutan dengan
senyawa aktif. Crude extract yang dihasilkan selanjutnya dilakukan pengenceran
dengan 10 variasi konsentrasi yaitu 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%
9%, 10% serta insektisida “Deltametrhin” 4ml/l sebagai pembanding. Hasil uji
konsentrasi yang telah dilakukan secara berturut-turut dengan konsentrasi 10%
dapat mematikan hama ulat api (Setothosea asigna) selama 41112 detik,
konsentrasi 20% selama 36747 detik, konsentrasi 30% selama 24441 detik,
konsentrasi 40% selama 14649 detik, konsentrasi 50% selama 15403 detik,
konsentrasi 60% selama 11271 detik, konsentrasi 70% selama 15689 detik,
konsentrasi 80% selama 10803 detik, konsentrsi 90% 10101 dan konsentrasi
100% 4515 dan insektisida kimia “Deltametrhin” selama 950 detik. Pada
konsentrasi 100% ekstrak daun mentimun mampu mendekati lama tingkat
kematian ulat api dengan menggunakan insektisida “Deltametrhin” dengan beda
waktu kurang lebih 44 menit.

Kata kunci : Daun Mentimun, Fourier Transform Infra Red, Rotenon, Ulat api
(Setothosea asigna)

i
ABSTRACT

Raja Rio Simarmata, Test Effectiveness of Insecticides Of Mentimun


(Cucumis Sativus L.) Leaf Extract On Api Earth Pest (Sethothosea Asigna Van
Eecke) In Palm Oil Plant (Elaeis Guineensis Jacq). Supervised by Harmileni,
[Link]., [Link]. And Seno Aji, [Link]., [Link]. Prac.
Caterpillar fire is a type of palm leaf-eating caterpillar that often causes
losses in oil palm plantations. The most common type of caterpillar is Setothosea
asigna, Setora nitens, Darna thinks. Sethotosea asigna flame caterpillar species
are those that often cause heavy damage to oil palm plants. So that resulted in
considerable losses in the form of yield loss, quality degradation and lower
farmer income so this study was conducted to determine the benefits of cucumber
leaf extract to control fire caterpillar pests (Setothosea asigna) on oil palm plants
by maceration and separation of solution with active compounds . The resulting
extract crude was then diluted with 10 concentration variations, namely 10%,
20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80% 9%, 10% and the insecticide
"Deltametrhin" 4ml / l as a comparison . Concentration test results that have been
carried out in a row with a concentration of 10% can kill fire caterpillar pest
(Setothosea asigna) for 41112 seconds, concentration of 20% for 36747 seconds,
concentration of 30% for 24441 seconds, concentration of 40% for 14649
seconds, concentration of 50 % for 15403 seconds, concentration of 60% for
11271 seconds, concentration of 70% for 15689 seconds, concentration of 80%
for 10803 seconds, concentration of 90% 10101 and concentration of 100% 4515
and chemical insecticide "Deltametrhin" for 950 seconds. At a concentration of
100% cucumber leaf extract can approach the length of fire caterpillar mortality
by using the insecticide "Deltametrhin" with a time difference of approximately 44
minutes.

Keywords: Cucumber leaves, Fourier Transform Infra Red, Rotenon, Caterpillar


fire (Setothosea asigna)

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya

penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik sebagai salah satu syarat

untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas

Agro Teknologi Universitas Prima Indinesia dengan judul :“UJI EFEKTIVITAS

INSEKTISIDA EKSTRAK DAUN MENTIMUN (Cucumis Sativus L.)

TERHADAP HAMA ULAT API (Setothosea Asigna Van Eecke.) PADA

TANAMAN KELAPA SAWIT(Elaeis Guineensis Jacq.)”

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Seno Aji, [Link]., [Link] sebagai Dekan Fakultas Agro Teknologi,

Universitas Prima Indonesia Medan.

2. Bapak Bayu Pratomo, SST., M.P sebagai Ketua Program Studi Agroteknologi

Fakultas Agro Teknologi, Universitas Prima Indonesia dan juga sebagai sosok

yang berjasa bagi penulis.

3. Ibu Wilda Lumban Tobing, SST., [Link] sebagai Sekretaris Program Studi

Agroteknologi, Fakultas Agro Teknologi, Universitas Prima Indonesia Medan

dan selaku Ketua Komisi Penguji

4. Ibu Harmileni,[Link].,[Link] sebagai Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Seno

Aji,[Link].,[Link] sebagai Anggota Komisi Pembimbing yang telah

memberikan bimbingan, nasehat dan juga motivasi dengan sabar sehingga

penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Ibu Julaili Irni, [Link]., [Link] sebagai anggota komisi penguji yang telah

memberikan bimbingan dan juga membantu penulis sehingga dapat

menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

iv
6. Seluruh dosen Fakultas Agro Teknologi yang telah memberikan ilmu dan

pengetahuan kepada penulis serta kepada seluruh staf pengajar dan seluruh

staf pegawai FakultasAgro Teknologi, Universitas Prima Indonesia.

7. Kedua orang tua tercinta Alm. Ayahanda Drs. Saman Simarmata dan Ibunda

Rosenta Damanik [Link] yang telah berjuang keras untuk penulis dan selalu

memberikan dukungan baik moral maupun moril juga materil hingga penulis

dapat menyelesaikan perkuliahan ini serta, Kakanda Eva Rosenika Simarmata

[Link] dan Kakanda Evi Monika Simarmata [Link] yang selalu

memotivasi penulis.

8. Teman-teman seperjuangan penulis di Fakultas Agro Teknologi, Universitas

Prima Indonesia angkatan 2014.

Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna, sehingga penulis

menerima saran dan kritik yang bersifat membangun untuk penyempurnaan

skripsi ini. Penulis juga berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi

pembaca dan pihak-pihak yang membutuhkan. Akhir kata, penulis mengucapkan

terima kasih.

Medan, Agustus 2018

RAJA RIO SIMARMATA

v
DAFTAR ISI
Hal
ABSTRAK .................................................................................................................... i

KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii

DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii

DAFTAR TABEL ........................................................................................................v

DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... ...........vi

DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... ……..vii

I. PENDAHULUAN ......................................................................................................1
1.1 Latar Belakang........................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ ............3
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................. ............3
1.4 Hipotesa Penelitian .............................................................................. ............3
1.5 Manfaat Penelitian ............................................................................... ............4
1.6 Batasan Penelitian ................................................................................ ............4

II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................5


2.1 Morfologi Kelapa Sawit ....................................................................................5
2.2 Klasifikasi dan Morfologi Hama Ulat Api (Setothosea asigna)..........................6
2.2.1 Siklus Hidup Hama Ulat Api ([Link]).....................................................7
2.2.2 Gejala SeranganUlat Api .........................................................................8
2.2.3 Pengendalian Hama Ulat Api ([Link]) .................................................9
2.3 Tanaman Mentimun .........................................................................................11
2.3.1. Morfologi dan Kandungan Mentimun .................................................... 11
2.4 Fourier Transform Infra Red Spectroscopy (FTIR) ......................................... 15

III. METODOLOGI PENELITIAN ..................................................................... ........ 17


3.1 Tempat danWaktu .............................................................................................17
3.2 Alat dan Bahan ................................................................................................17
3.3 Metode Penelitian ............................................................................................17
3.4 Prosedur Kerja ........................................................................................ .........19
[Link] Ulat Api................................................................................19
[Link] Sampel .....................................................................................19
[Link] Daun Mentimun (Cucumissativus) ..............................................20
[Link] Larutan Ekstrak Daun Mentimun .................................. .........20
[Link] Larutan .................................................................................. .........20
[Link] Insektisida ...................................................................................................21
3.6. Identifikasi Gugus Fungsi Crude ekstrak ..........................................................22

vi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...............................................................................27
4.1 Hasil Preparasi Sampel .....................................................................................28
4.2 Analisis Rataan Kematian ................................................................................29
4.3 Uji Insektisida ..................................................................................................32
4.3.1. Uji Insektisida “Deltametrhin” .............................................................32
4.3.2. Uji Crude ekstrak 10% .......................................................................34
4.3.3. Uji Crude ekstrak 20% ........................................................................35
4.3.4. Uji Crude ekstrak 30% ........................................................................36
4.3.5. Uji Crude ekstrak 40% ........................................................................37
4.3.6. Uji Crude ekstrak 50% ........................................................................38
4.3.7. Uji Crude ekstrak 60% ........................................................................39
4.3.8. Uji Crude ekstrak 70% ........................................................................40
4.3.9. Uji Crude ekstrak 80% ........................................................................41
4.3.10. Uji Crude ekstrak 90 % .......................................................................42
4.3.11. Uji Crude ekstrak 100 % .....................................................................43

V. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................................41


5.1 Kesimpulan ......................................................................................................41
5.2 Saran................................................................................................................41

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................42


LAMPIRAN .................................................................................................................42

vii
DAFTAR TABEL

No Judul Hal

Tabel 1. Waktu Kematian Ulat Api .......................................................................... 29

viii
DAFTAR GAMBAR

No Judul Hal

Gambar 1. Hama Ulat Api Setothosea asigna Van Eecke ........................................ 9


Gambar 2. Daun mentimun (Cucumissativus L) ....................................................... 14
Gambar 3. Cucurbitacin E ................................................................................. …. 14
Gambar 4. Fourier Transform Infra Red Spectroscopy............................................. 28
Gambar 5. Struktur senyawa Cucurbitacin E. .......................................................... 29
Gambar 6. Grafik Waktu Kematian Ulat Api ........................................................... 32
Gambar 7. Uji Insektisida “Deltametrhin” ............................................................... 33
Gambar 8. Uji Crude ekstrak 10 % .......................................................................... 35
Gambar 9. Uji Crude ekstrak 20 % .......................................................................... 36
Gambar 10 Uji Crude ekstrak 30 % .......................................................................... 37
Gambar 11. Uji Crude ekstrak 40 % .................................................................... … 38
Gambar 12. Uji Crude ekstrak 50% ........................................................................... 39
Gambar 13. Uji Crude ekstrak 60 % .......................................................................... 40
Gambar 14. Uji Crude ekstrak 70 % .......................................................................... 41
Gambar 15. Uji Crude ekstrak 80 % .......................................................................... 42
Gambar 16. Uji Crude Ekstrak 90%.............................................................................. 43
Gambar 17. Uji Crude ekstrak 100%.............................................................................. 44

ix
DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Hal
1. Skema Kerja ........................................................................................................ 41
2. Data Waktu Kematian (Detik).............................................................................. 43
3. Daftar sidik ragam waktu kematian ulat api Setothosea asigna ............................ 43
4. Bubuk Daun Mentimun ....................................................................................... 44
5. Proses Maserasi ................................................................................................... 44
6. Ekstrak daun mentimun siap diaplikasi .......................................................... ...... 45
7. Tanaman pengaplikasian ulat ............................................................................... 45
8. Pipet mikro .......................................................................................................... 46
9. Rotary evaporator ............................................................................................... 46
10. Fourier Transform Infra Red Sprectoscopy (FTIR) .............................................. 47
11. Bilangan gelombang spektrum FTIR ................................................................... 48
12. Perhitungan Pengenceran Larutan ........................................................................ 49

x
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ulat api merupakan jenis ulat pemakan daun kelapa sawit yang sering

menimbulkan kerugian di perkebunan kelapa sawit. Jenis ulat api yang paling

banyak ditemukan adalah Setothosea asigna, Setora nitens, Darna trima

(Striawan, 2011). Salah satunya adalah spesies ulat api adalah Sethotosea asigna

yang sering menimbulkan kerusakan berat pada tanaman kelapa sawit.

Adanya hama dan penyakit tersebut belum dapat dikendalikan secara

optimal sehingga mengakibatkan kerugian yang cukup besar baik berupa

kehilangan hasil, penurunan mutu serta menurunkan pendapatan petani

(Tulung, 2004).

Keadaan ini terjadi karena dalam siklus hidup produksi telur sangat tinggi,

sex ratio tinggi, kemampuan untuk hidup tanpa kompetisi, daya adaptasi tinggi,

umur pendek, populasi lebih tinggi dan belum ditemukan varietas unggul tahan

ulat api (Prawirosukarto, 2002). Gejala ini dimulai dari serangan ringan hingga

dalam kondisi yang parah tanaman akan kehilangan daun sekitar 90%. Pada tahun

pertama setalah serangan dapat menurunkan produksi sekitar 69% dan sekitar

27% pada tahun kedua (Fauzi et al., 2002).

Besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelian insektisida dan

dampak negatif yang ditimbulkan akibat insektisida telah menimbulkan pemikiran

ke arah penggunaan musuh alami (Simanjuntak et al., 2011)..

Upaya pengendalian alternatif yang dilakukan yaitu menggunakan

tanaman yang memiliki senyawa yang berpotensi sebagai insektisida nabati.

Insektisida nabati memiliki beberapa kelebihan yakni aman, mudah dibuat, murah,
2

dan dapat diterapkan oleh petani, serta efektif dalam membunuh hama.

Syahputra (2001), menyatakan bahwa insektisida nabati mudah terurai, bersifat

tidak stabil dan dapat didegradasi secara alami di alam serta dampak residunya

mudah hilang sehingga tidak berbahaya bagi manusia, hewan, maupun

lingkungan.

Daun mentimun diketahui memiliki aktivitas sitotoksik dan antibakteri (Nasrin,

2014). Aktivitas-aktivitas yang dimiliki oleh daun mentimun tidak lepas dari

kandungan senyawa yang terdapat didalamnya. Shah [Link] (2013) menyatakan

bahwa ekstrak metanolik daun mentimun mengandung alkaloid, glikosida,

flavonoid, steroid, terpenoid, dan tannin. Selain kandungan tersebut daun

mentimun juga mengandung kukurbitasid B, C, dan ferredoksin

(Nasrin dan Nahar, 2014). Daun mentimun dapat digunakan sebagai emetik atau

penyebab muntah (Depkes RI, 1989). Ekstrak etanolik, kloroform dan n-heksan

daun mentimun memiliki aktivitas antifungi, antibakteri dan sitotoksik

(Nasrin, 2014).

Berdasarkan latar belakang tersebut maka penelitian yang berjudul “Uji

Efektivitas Insektisida Ekstrak Daun Mentimun(Cucumis sativus L.) Terhadap

Hama Ulat Api (Setothosea asigna van Eecke.) Pada Tanaman Kelapa Sawit

(Elais guineensis Jacq.)” penting untuk dilakukan.


3

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah :

1. Bagaimana efektivitas ekstrak daun mentimun

(Cucumis sativus) terhadap hama ulat api (Setothosea asigna)

2. Pada konsentrasi berapakah ekstrak daun mentimun

(Cucumis sativus) efektif terhadap hama ulat api (Setothosea asigna).

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan dari latar belakang dan rumusan masalah yang telah

dikemukakan, maka penelitian ini bertujuan untuk :

1. Untuk mengetahui efektivitas konsentrasi ekstrak daun mentimun

(Cucumis sativus) terhadap hama ulat api (Setothosea asigna)

2. Untuk mengetahui tingkat konsentrasi ekstrak daun mentimun

(Cucumis sativus) yang efektif terhadap hama ulat api (Setothosea

asigna).

1.4 Hipotesa Penelitian

Hipotesa dalam penelitian ini adalah :

1. Terdapat pengaruh ekstrak daun mentimun (Cucumis sativus) efektif

terhadap hama ulat api (Setothosea asigna).

2. Terdapat pengaruh variasi konsentrasi ekstrak daun mentimun

(Cucumis sativus) efektif terhadap hama ulat api (Setothosea asigna).


4

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat dalam penelitian ini adalah:

1. Menambah informasi tentang uji efektivitas insektisida ekstrak daun

mentimun (Cucumis sativus) terhadap hama ulat api

(Setothosea asigna van Eecke.) pada tanaman kelapa sawit

(Elaeis guineensis Jacq.)

2. Menambah informasi untuk proses pembelajaran Mahasiswa Fakultas

Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia.

1.6 Batasan Penelitian

Adapun batasan penelitian ini yaitu Masih dalam uji penelitian yang baru

di teliti tentang uji aktivitas insektisida ekstrak Daun Mentimun (Cucumis sativus)

terhadap hama ulat api (Setothosea asigna van Eecke.) pada bibit tanaman kelapa

sawit (Elaeis guineensis Jacq.)


II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Morfologi Kelapa Sawit

Kelapa sawit merupakan daun majemuk, daun berwarna hijau tua dan

pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya sangat mirip dengan

tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Bentuk

daunnya menyirip, tersusun rozet pada ujung batang (Hartono, 2002).

Biasanya tanaman kelapa sawit memiliki 40 hingga 55 daun, jika tidak

dipangkas dapat mencapai 60 daun. Tanaman kelapa sawit tua membentuk 2-3

daun setiap bulannya, sedangkan yang lebih muda menghasilkan 3-4 daun

perbulan (Sianturi, 1990). Stomata atau rongga terbuka untuk menerima cahaya

dalam proses fotosintesis wujud pada permukaan helai daun. Pelepah matang

berukuran hingga 7,5 cm dengan petiol 6 lebih kurang satu perempat dari pada

panjang pelepah serta mempunyai duri (Hartono, 2002). Batang kelapa sawit

berdiameter 25-75 cm, namun di perkebunan umumnya 45-65 cm, pangkal batang

lebih besar pada tanaman yang lebih tua. Batang kelapa sawit merupakan batang

tunggal yang tidak bercabang. Laju pertumbuhan batang di pengaruhi oleh

komposisi genetik dan lingkungan (Sianturi, 1990).

Susunan akar kelapa sawit terdiri dari akar serabut primer yang tumbuh

vertikal ke dalam tanah dan horizontal ke samping dan bercabang menjadi akar

sekunder ke atas dan ke bawah dan akhirnya cabang-cabang ini pun bercabang

lagi akar tersier dan seterusnya. Akar kelapa sawit dapat mencapai 8 meter dan 16

meter secara horizontal (Lubis, 2008).


6

Tanaman kelapa sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril

sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih

unggul digunakan sebagai tetua jantan (Satyawibawa, 2008).

2.2 Klasifikasi dan Morfologi Hama Ulat Api (Setothosea asigna)

Berikut ini adalah klasifikasi ulat api S. asigna :

Phylum : Arthropoda

Kingdom : Animalia

Class : Insekta

Ordo : Lepidoptera

Family : Limacodidae

Genus : Setothosea

Species : Setothosea asigna van Eecke

Ulat api merupakan jenis ulat pemakan daun kelapa sawit yang sering

menimbulkan kerugian di perkebunan kelapa sawit. Jenis ulat api yang paling

banyak ditemukan adalah Setothosea asigna, Setora nitens, Darna trima

(Striawan, 2011).

Ulat ini disebut ulat api karena jika bulunya mengenai kulit akan

menyebabkan rasa panas yang luar biasa. Ulat ini termasuk kedalam ulat yang

rakus, karena memakan semua jenis tanaman seperti kelapa sawit, kelapa,

jeruk,teh, kopi, dan tanaman lainnya. Di areal budidaya ulat ini ditemukan dengan

berbagai macam warna antara lain hijau kekuningan, kuning orange, atau merah

orange. Pada tubuhnya sering terdapat bercak-bercak warna hitam, kuning dan

merah. Dengan warna yang sedemikian ulat ini kelihatan cantik walaupun

sebenarnya sedikit berbahaya (Sastrosayono, 2003).


7

Ulat yang baru menetas hidup berkelompok, mengikis daging daun dari

permukaan bawah dan meninggalkan epidermis bagian atas permukaan daun.

Pada instar 2-3 ulat memakan daun mulai dari ujung kearah bagian pangkal daun.

Untuk S. asigna, selama perkembangannya ulat berganti kulit 7-8 kali dan mampu

menghabiskan helaian daun seluas 400 cm (Pahan, 2012).

2.2.1. Siklus Hidup Hama Ulat Api (S. asigna)

Siklus hidup masing-masing spesies ulat api berbeda. S. asigna

mempunyai siklus hidup 106-138 hari (Hartley, 1979). Siklus hidup hama ini

tergantung pada lokasi dan lingkungan.

1. Telur

Telur berwarna kuning kehijauan, berbentuk oval, sangat berukuran tipis

dan transparan. Telur diletakkan berderet 3-4 baris sejajar pada permukaan daun

bagian bawah, biasanya sekitar 44 butir dan seekor ngengat betina mampu

menghasilkan telur sebanyak 300-400 butir. Telur menetas 4-8 hari setelah

diletakkan (Prawirosukarto et al., 2003).

2. Larva

Larva berwarna hijau kekuningan dengan duri-duri yang kokoh dibagian

punggung dan bercak bersambung sepanjang punggung, berwarna coklat sampai

ungu keabu-abuan dan putih. Warna larva dapat berubah-ubah sesuai dengan

instarnya, semakin tua umurnya akan menjadi semakin gelap. Larva instar terakhir

(instar ke-9) berukuran panjang 36 mm dan lebar 14,5 mm, sedangkan apabila

sampai instar ke-8 ukurannya sedikit lebih kecil. Menjelang berpupa, ulat

menjatuhkan diri ke tanah. Stadia larva ini berlangsung selama 49-50 hari

(Simanjuntak et al., 2011).


8

3. Pupa

Pupa berada di dalam kokon yang terbuat dari campuran air liur ulat dan

tanah, berbentuk bulat telur dan berwarna coklat gelap, terdapat di bagian tanah

yang relatif gembur di sekitar piringan atau pangkal batang kelapa sawit. Pupa

jantan dan betina masing-masing berukuran berlangsung selama kurang lebih 39

hari (Purba et al., 2005)

4. Imago

Lebar rentangan sayap serangga dewasa (ngengat) jantan dan betina

masing- masing 41 mm dan 51 mm. Sayap depannya berwarna coklat kemerahan

dengan garis transparan dan bintik-bintik gelap, sedangkan sayap belakang

berwarna coklat muda. Dengan demikian perkembangan dari telur sampai menjadi

ngengat berkisar 93-98 hari, tetapi pada keadaan kurang menguntungkan dapat

mencapai 115 hari (Prawirosukarto et al., 2003).

Gambar 1. Setothosea asigna

2.2.2. Gejala Serangan Ulat Api

Gejala ini dimulai dari yang bawah dalam kondisi yang parah tanaman

akan kehilangan daun sekitar 90%. Pada tahun pertama setelah serangan dapat
9

menurunkan produksi sekitar 69% dan sekitar 27% pada tahun kedua

(Fauzi et al., 2002).

Kerusakan daun tanaman yang demikian menyebabkan tanaman tidak

berproduksi sampai tiga tahun kemudian. Ketika terbentuk tandan buah biasanya

terjadi aborsi atau berbentuk tandan buah abnormal, tidak proporsional dan buah

busuk sebelum matang (Prawirosukarto et al., 2008).

2.2.3 Pengendalian Hama Ulat Api (S. asigna)

1. Pengendalian Secara Mekanis

Pengendalian mekanis dapat dilakukan dengan cara handpicking larva

dengan semua stadia larva berukuran sedang sampai besar untuk tanaman < 5

tahun, handpicking pupa saat stadia pupa untuk semua umur tanaman

(Simanjuntak, 2014).

2. Pengendalian Secara Kimia

Pengendalian ulat api hingga saat ini masih bertumpu pada pengendalian

insektisida sintetik, karena cara ini mudah dilaksanakan dan hasilnya langsung

dapat dilihat, disamping masih belum ditemukannya cara pengendalian hama yang

lebih efektif. Untuk tanaman yang lebih muda (umur 2 tahun), knapsack sprayer

dapat digunakan untuk penyemprotan. Untuk tanaman lebih dari 3 tahun, aplikasi

insektisida dapat menggunakan fogging atau infus akar.

(Simanjuntak, 2014).

3. Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Pengendalian hama terpadu atau integrated pets control (IPC) mula-mula

diartikan seacara terbatas sebagai perpaduan atau kombinasi pengendalian hama

secara hayati (biologis) dan pengendalian secara kimiawi, tetapi kemudian


10

diperluas dengan perpaduan semua metode dan teknik pengendalian hama yang

dikenal (Untung, 1992).

4. Pengendalian Secara Biologis

Pelestarian tumbuhan yang bermanfaat bagi serangga parasitoid dan

predator di areal perkebunan kelapa sawit misalnya parasitoid yaitu Forcassia

toranicia celonica; predator yaitu sycanus dichotomus; serta penanaman beberapa

jenis tumbuhan tersebut seperti: turnera subulata dan cassia tora di sepanjang

pinggir jalan utama dan jalan koleksi. Penggunaan insektisida biologis seperti

insektisida yang berbahan aktif bakteri Bacillus thuringiensis atau pengendalian

hama dengan virus (Untung, 1992).

2.3 Tanaman Mentimun

2.3.1 Morfologi dan Kandungan Mentimun

Di Indonesia C. Sativus dikenal dengan nama umum mentimun. Di

Sumatera dikenal dengan nama timor, timun, antimun, cimun, ancimun, ansimun,

timon, laisen, hantimun. Di Jawa dikenal dengan sebutan timun dan temon. Di

Bali dikenal dengan katimun. Di Nusa Tenggara dikenal dengan sebutan timu,

kadingir, dan daha of Koto sedangkan di Maluku dikenal dengan nama timun,

dan tim (Depkes RI, 2001).


11

Klasifikasi tanaman mentimun (C. sativus) adalah sebagai berikut :

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Sub Kelas : Dilleniidae

Bangsa : Violales

Suku : Cucurbitaceae

Marga : Cucumis

Jenis : Cucumis sativus L. (Dalimartha, 2008)

Ekologi dan penyebaran mentimun Masyarakat pada umumnya menanam

mentimun (Cucumis sativus L.) disawah atau di ladang sebagai tanaman

komersial. Mentimun tumbuh sepanjang tahun dan tergolong tanaman merambat

(Mangonting et. al., 2008). Tumbuhan satu tahun, merayap atau memanjat,

rambut kasar. Batang bersegi 5 tumpul, panjang 0,5-2,5 m. Bangun daun bulat

telur lebar, bertaju 3-7 jelas, dengan pangkal bentuk jantung dan ujung runcing,

panjang 7-18 cm lebar 7-15 cm, berumbai kasar dan bergigi menyerupai kelenjar;

taju bersegi 3, runcing Bunga sebagian besar jantan. Tabung kelopak bentuk

lonceng atau bentuk gasing; taju bentuk garis hingga lanset, berdaging. Mahkota

bentuk lonceng datar, banyak tulang membujur, diameter 2-3 cm, taju runcing,

berambut. Bunga jantan : panjang tangkai 0,5-2 cm, langsing; benang sari 3, lepas,

panjang kepala sari 3-7 mm; ruang sari dan sisa putik kecil tak berarti Bunga

betina : tangkai pendek, tebal; staminodia 3, bakal buah bundar memanjang;

kepala putik 3; tonjolan dasar bunga bentuk cincin (Steenis, 1975).

Daun mentimun dapat digunakan sebagai emetik atau penyebab muntah

(Depkes RI, 1989). Ekstrak etanolik, kloroform dan n-heksan daun mentimun
12

memiliki aktivitas antifungi, antibakteri dan sitotoksik (Nasrin, 2014).

Kandungan kimia buah mentimun yakni saponin, flavonoid, polifenol

(Syamsuhidayat dan Hutapea,1991; Wijayakusuma, [Link]., 1996), protein, lemak,

vitamin C, vitamin B, kalsium, fosfor, besi, belerang, vitamin A (Mardisiswojo

dan Rajakmangunsudarso, 1985). Biji mengandung minyak lemak, karotin, dan

asetilkolin. Daun mengandung kukurbitasin E dan C, stigmasterol dan spinosterol

(Depkes RI, 1983).

Daun mentimun telah diketahui mengandung lima glikosida flavon yang

teralkilasi antara lain isoviteksin 2″- O-(6′′′-(E)-p-kumaroil) glukosida; isoviteksin

2″-O-(6′′′-(E)-p- kumaroil) glukosida-4′-O-glukosida; isoviteksin 2″-O-(6′′′-(E)-

feruloil) glukosida-4′-O-glukosida; isoskoparin 2″-O-(6′′′-(E)-p- kumaroil)

glukosida; isoskoparin 2″-O-( 6′′′-(E) feruloil) glukosida-4′-O- glukosida dan lima

glikosida flavon yang telah diketahui yakni isoviteksin, saponarin, saponarin 4 -

O-glukosida, vicenin 2, apigenin 7-O-(6″-O-pkoumaroil glukosida), isoviteksin

2″-O-( 6′′′ -(E) feruloil) glukosida and isoskoparin 2″-O-( 6′′′ -(E)-feruloil)

glukosida (Abou-Zaid, 2001).

Menurut Das [Link]., (2012) daun mentimun juga mengandung isoviteksin

2″-O glukosida, isoviteksin, isoorientin, 4-X-O-diglukosida dari isoviteksin dan

swertiajaponin (Krauze-Baranowska dan Cisowski, 2001). Ekstrak kloroform dari

daun dan batang C. sativus mengandung alkaloid, glikosida, steroid, saponin

tannin dan flavonoid

Flavonoid merupakan salah satu kelompok senyawa metabolit sekunder

yang paling banyak ditemukan di dalam jaringan tanaman (Rajalakshmi dan S.

Narasimhan, 1985). Senyawa flavonoid terdapat dalam bentuk aglikon dan


13

glikosida yang dapat tersari menggunakan pelarut yang sesuai. Flavonoid adalah

golongan senyawa polifenol yang diketahui memiliki sifat sebagai penangkap

radikal bebas, penghambat enzim hidrolisis dan oksidatif, dan bekerja sebagai

antiinflamasi (Pourmourad [Link]., 2006).

Aktivitas antioksidatif flavonoid sebagai salah satu kelompok antioksidan

alami yang terdapat pada sereal, sayur-sayuran dan buah telah banyak

dipublikasikan (Redha, 2010). Flavonoid berperan sebagai antioksidandengan

beberapa mekanisme salah satunya yakni dengan mekanisme penangkapan

radikal (Prochazkova., [Link]., 2011). Pada penelitian terdahulu diketahui bahwa

kandungan senyawa flavonoid didalam esktrak daun mentimun memiliki korelasi

yang tinggi dan positif terhadap aktivitas antioksidannya (Fidrianny, 2014).

Struktur kimia beberapa senyawa flavonoid yang terdapat dalam ekstrak

metanol dan etanol daun mentimun. Berdasarkan Telaah Kandungan Kimia

Ekstrak nheksana Buah Mentimun (Cucumis sativus L.) diketahui didalam buah

mentimun terdapat dua isolat triterpenoid yang mempunyai gugus –OH, -CH2-,

CH3, C=O dan C-H dan tidak mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi

(Laeliyatun et al., 2006).

Gambar [Link] sativus L


14

Mentimun memiliki senyawa metabolit sekunder alkaloid dan saponin

yang mampu memberikan efek larvasida terhadap larva nyamuk.

Gambar 3. Cucurbitacin E

2.4 Fourier Transform Infra Red Spectroscopy (FTIR)

Spektroskopi infrared merupakan suatu metode yang mengamati interaksi

molekul dengan radiasi elektromagnetik yang berada pada daerah panjang

gelombang 0.75–1.000 µm atau pada bilangan gelombang 13.000 – 10 cm-1.

Spektrofotometer Infrared adalah spektrofotometri yang berdasar pada

penyerapan panjang gelombang infra merah (Irsyad, 2018).

Pada spektro IR meskipun bisa digunakan untuk analisa kuantitatif, namun

biasanya lebih kepada analisa kualitatif. Umumnya spektro IR digunakan untuk

mengidentifikasi gugus fungsi pada suatu senyawa. Metode spektroskopi FTIR

(Fourier Transform Infrared ), yaitu metode spektroskopi inframerah modern yang

dilengkapi dengan teknik transformasi Fourier untuk deteksi dan analisis hasil

spektrumnya. Dalam hal ini metode spektroskopi yang digunakan adalah metode

spektroskopi absorbsi, yaitu metode spektroskopi yang didasarkan atas perbedaan

penyerapan radiasi inframerah oleh molekul suatu materi. Absorbsi inframerah

oleh suatu materi dapat terjadi jika dipenuhi dua syarat, yakni kesesuaian antara
15

frekuensi radiasi inframerah dengan frekuensi vibrasional molekul sampel dan

perubahan momen dipol selama bervibrasi (Irsyad, 2018).

FTIR sangat berguna untuk mengidentifikasi bahan kimia yang baik

organik atau anorganik. Hal ini dapat dimanfaatkan menduga jumlah beberapa

komponen dari suatu campuran yang tidak diketahui. Hal ini dapat diterapkan

pada analisis padatan, cairan, dan gas. Istilah FTIR mengacu pada perkembangan

yang baru dalam cara di mana data dikumpulkan dan dikonversi dari pola

interferensi untuk spektrum. Instrumen FTIR Hari ini adalah komputerisasi yang

membuat mereka lebih cepat dan lebih sensitif dibandingkan dengan instrumen

dispersif tua (Irsyad, 2018).

Sistem optik Spektrofotmeter Fourier Transform Infra Red dilengkapi

dengan cermin yang bergerak tegak lurus dan cermin yang diam . Dengan demikian

radiasi infra merah akan menimbulkan perbedaan jarak yang ditempuh menuju

cermin yang bergerak (M) dan jarak cermin yang diam (F). Perbedaan jarak

tempuh radiasi tersebut adalah 2 yang selanjutnya disebut sebagai retardasi (δ).

Hubungan antara intensitas radiasi IR yang diterima detektor terhadap retardasi

disebut sebagai interferogram. Sedangkan sistim optik dari Spektrofotometer

InfraRed yang didasarkan atas bekerjanya interferometer disebut sebagai sistim

optik Fourier Transform InfraRed (Irsyad, 2018).

Radiasi dari sumber IR konvensional dibedakan kedalam dua alur oleh

suatu pemisah berkas cahaya , satu alur menuju posisi cermin yang ditentukan,

dan yang lainnya menjauhi cermin. Ketika berkas cahaya dipantulkan, salah satu

cahaya dipindahkan (keluar dari tahap) dari yang lainnya sejak ia menjadi lebih

kecil (ataupun lebih besar) tujuan jaraknya untuk menjauhi cermin, dan mereka
16

dikombinasikan kembali untuk menghasilkan suatu rumus gangguan (semua

panjang gelombang dalam) (Irsyad, 2018).


III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu

Dalam penelitian pengujian pengaplikasi dilakukan di lahan milik

masyarakat Jalan Danau Singkarak Gang. Madrasah Kec. Medan Barat,

Pembuatan ekstrak daun mentimun dilakukan di Pusat Labaratorium Agro

Terpadu Universitas Prima Indonesia Jln. Ayahanda, Laboratorium Biokimia

Universitas Sumatera Utara (USU), dan Laboratorium Politeknik Teknologi

Kimia Industri (PTKI). Penelitian berlangsung selama 4 bulan yang dilaksanakan

mulai bulan Januari 2018 sampai dengan bulan April 2018.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pisau (cutter), toples,

kain kasa, karet gelang, blender, gunting, saringan ukuran 40-60 mesh, labu

erlemenyer sebagai wadah ekstrak, gelas ukur, pipet mikro, pinset, spatula, kertas

saring, penyemprot tangan (hand sprayer), rotary evaporator, kamera, timer.

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun mentimun

alumunium foil, etanol 96%, aquades, ulat api (Setothosea asigna), bibit tanaman

kelapa sawit (Umur 6-9 bulan).

3.3. Metode Penelitian

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak

Kelompok (RAK) Non faktorial dengan model linier :


18

Yij = µ + T1 + U1 + ∑ij

Dimana :

Yij = Tingkat kematian hama ulat api (Setothosea asigna) yang diberi ekstrar

daun mentimun.

µ = Pengaruh nilai rata-rata umum

T1 = Pengaruh perlakuan ke-i

U1 = Pengaruh kelompok ke-j

∑ij = Pengaruh acak pada perlakuan ke-i dan kelompok ke-j

Dosis Daun Mentimun (M)

M0 = Insektisida “Deltamethrin” 4 ml/l

M1 = 10 % M6 = 60 %

M2 = 20 % M7 = 70 %

M3 = 30 % M8 = 80%

M4 = 40 % M9 = 90 %

M5 = 50% M10 = 100%

Keterangan

Jumlah Perlakuan : 11 Perlakuan

Jumlah ulangan : 3 Ulangan

Jumlah Plot : 33 Plot

Jumlah Ulat : 165 Ekor

Jumlah antar plot : 90 cm

Data dianalisis dengan menggunakan uji F-hitungan dilakukan dengan

menggunakan komputer dengan program SAS 9.1.3 (SAS Institute, 1990) untuk
19

mengetahui tingkat signifikan, apabila terdapat perbedaan yang nyata maka

dilakukan uji lanjutan Duncan pada taraf 5 %. Terdiri dari 11 perlakuan

(Insektisida “Deltamatrin” 4 ml/l, Ekstrak daun mentimun 10 %, 20 %, 30 %, 40

%, 50 %, 50 %, 60 %, 70 %, 80 %, 90 %, 100 %. Setiap perlakuan dilakukan

pengulangan sebanyak 3 kali.

3.4 Prosedur Kerja

3.4.1 Penyediaan Ulat Api

Ulat api yang digunakan dalam pengujian ini adalah Setothosea asigna

yang dipilih adalah ulat api yang sehat . Ulat api Setothosea asigna diperoleh dari

[Link] IV Unit Usaha Laras.

3.4.2 Preparasi Sampel

Metode riset yang akan dilakukan adalah dengan cara melakukan

eksperimen di Laboratorium. Daun mentimun dicuci bersih, dikeringkan hingga

mencapai kadar air kering udara (KA ± 12%) atau dikering anginkan selama 2

minggu dan diperkiraan kandungan air di daun mentimun sudah tidak ada,

dihancurkan dengan menggunakan lumpang. Selanjutnya bahan disaring dengan

saringan.

3.4.3 Ekstrak Daun Mentimun (Cucumis sativus L.)

Sebanyak 1000 gram serbuk daun mentimun yang telah ditimbang

menggunakan neraca analitik di ambil dan dimasukan kedalam botol setelah itu di

rendam dalam larutan etanol 96%. Kemudian botol dibungkus menggunakan

alumunium Foil sebanyak dua lapis, maserasi ini dilakukan selama 5 hari. Setelah

5 hari hasil meserasi disaring menggunakan kertas saring sehingga didapatkan


20

filtrat. Residu yang diperoleh dilakukan kembali, maserasi dilakukan sebanyak 3

kali.

Hasil filtrat yang diperoleh dari mesarasi dilakukan pemekatan dengan

rotary evaporator untuk memisahkan pelarut pada filtrat sehingga didapatkan

Crude ekstrak. Penggunaan rotary I alas hanya bisa diisi 800 ml dengan lama

pemanasan 45 menit per sampel sehingga didapatkan Crude extract. Crude extract

yang pekat disimpan didalam suhu kamar (± 25 0C) untuk menjaga agar senyawa

pada crude exstract tidak rusak (Mudhumathy et al, 2007).

3.4.4 Pembuatan Larutan Ekstrak Daun Mentimun

Ekstrak pekat yang telah didapatkan dari hasil Rotary evaporator

diencerkan dengan aquades menjadi bebrapa variasi konsentrasi yaitu 10 %, 20 %,

30 %, 40 %, 50 %, 60 %, 70 %, 80 %, 90 %, 100 . Pembuataan larutan

menggunakan labu ukur 25 ml dan pipet mikro untuk mengambil Crude ekstrak.

3.5 Uji Insektisida

Pengaplikasian insektisida ini dilaksanakan di lapangan dengan cara

meletakkan 5 ekor hama ulat api (Setotoshea asigna van Eecke.) pada tanaman

kelapa sawit beumur 9-12 bulan. Setelah itu, hama ulat api

(Setotoshea asigna v. Eecke) dibiarkan selama 2 minggu pada tanaman kelapa

sawit agar hama ulat api tersebut dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Selanjutnya ulat api disemprot dengan variasi konsentrasi sesuai kelompok

variasi Kelompok I sebagai pembanding disemprot dengan Insektisida

(Deltamethrin), kelompok II disemprot dengan ekstrak Daun mentimun 10 %,

kelompok III disemprot dengan ekstrak Daun mentimun 20 %, kelompok IV


21

disemprot dengan ekstrak Daun mentimun 30 %, kelompok V disemprot dengan

ekstrak Daun mentimun 40 %, kelompok VI disemprot dengan ekstrak Daun

mentimun 50 %, kelompok VII disemprot dengan ekstrak Daun mentimun 60 %.

kelompok VIII disemprot dengan ekstrak Daun mentimun 70 %, kelompok IX

disemprot dengan ekstrak Daun mentimun 80 %, kelompok X disemprot dengan

ekstrak Daun mentimun 90 %, kelompok XI disemprot dengan ekstrak Daun

mentimun 100 %. Setelah itu diamati tingkat kematian dan lama waktu

kematiannya dalam beberapa jam.

3.6 Identifikasi Gugus Fungsi Crude ekstrak

Crude ekstrak diambil sedikit dan diletakkan pada Fourier Transform

Infra Red Spectroscopy (FTIR) melalui komputer menggunakan perangkat lunak

OPUS yang berbentuk grafik.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Preparasi Sampel

Hasil Bubuk mentimun di maserasi sebanyak 3 kali sehingga didapatkan

filtrate sebanyak 6 liter. Filtrat hasil maserasi kemudian di pekatkan menggunakan

rotary evaporator untuk memisahkan senyawa aktif dengan pelarut, sehingga dari

rotary evaporator tersebut didapatkan crude ekstrak sebanyak 200 ml berwarna hijau

pekat, selanjutnya di hot plate dan menghasilkan 170 ml.

4.2 Hasil Analisa Fourier Transform Infra Red Spectroscopy (FTIR)

Ekstrak pekat dari hasil penelitian di ambil 2 pipet untuk di analisis

menggunakan FTIR. hasil FTIR di tunjukkan pada Gambar. 4

Gambar 4. Fourier Transform Infra Red Spectroscopy


23

Dari hasil analisis FTIR diatas didapatkan bahwa pada daerah 3323.34 cm-1

merupakan puncak spektrum O-H (Fenol). pada daerah 2844-2952 cm-1 merupakan

puncak spektrum C-H (Alkana). pada daerah 1643.51 cm-1 merupakan puncak

spektrum C=C (Alkena). pada daerah 1405-1450 cm-1 merupakan puncak spektrum

C-H (Alkana). pada daerah 1014.45 cm-1 merupakan puncak spektrum C-O (Eter ).

Menurut hasil Fourier Transform Infra Red Spectroscopy dengan melihat seluruh

spektrum yang tajam dan stretching seluruh struktur senyawa kimia yang diperoleh

dari filtrat daun mentimun merupakan senyawa Cucurbitacin dan senyawa kimia

yang lain.

Setelah mengetahui hasil gugus fungsi yang di dapat dari analisis FTIR maka

disesuaikan dengan senyawa yang terdapat pada daun mentimun yaitu Cucurbitacin.

Gambar 5. Struktur senyawa Cucurbitacin E.

4.3 Analisis Rataan Kematian

Data hasil pengamatan waktu kematian hama ulat api terdapat pada lampiran

2, dan berdasarkan hasil analisi sidik ragam yang tertera pada Lampiran 3, terdapat

pengaruh yang berbeda nyata antara perlakuan ekstrak daun mentimun terhadap

insektisida Deltamethrin dilihat dengan tingkat kematian hama ulat api.


24

Tabel 1. Waktu Kematian ulat api dengan perlakuan insektisida nabati ekstrak
Daun mentimun

Perlakuan Rataan (Detik)

T0 (Insektisida “Deltamethrin” 4ml/l) 950 g


T1 (10% Ekstrak Daun Mentimun) 41112 a
T2 (20% Ekstrak Daun Mentimun) 36747 b
T3 (30% Ekstrak Daun Mentimun) 24441 c
T4 (40% Ekstrak Daun Mentimun) 14649 ed
T5 (50% Ekstrak Daun Mentimun) 15403 d
T6 (60% Ekstrak Daun Mentimun) 11271 ef
T7 (70% Ekstrak Daun Mentimun) 15689 d
T8 (80% Ekstrak Daun Mentimun) 10803 ef
T9 (90% Ekstrak Daun Mentimun) 10101 f
T10 (100% Ekstrak Daun Mentimun) 4515 g

Keterangan : Nilai yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda
nyata
pada Uji lanjut Duncan taraf 5%

Tabel 1. Menunjukkan hasil penelitian perbandingan 10 konsentrasi dari

ekstrak daun mentimun dan insektisida “Deltametrhin ” sebagai pembanding yang

diaplikasikan dalam mengendalikan Setothosea asigna, Pada crude extract 10%

selama 11 jam 42 menit, pada crude extract 20% selama 10 jam 21 menit, pada

crude extract 30% selama 7 jam 3 menit, pada crude extract 40% selama an 4 jam 6

menit, pada crude extract 50% selama 15403 detik sama dengan 4 jam 27 menit,

pada crude extract 60% selama 3 jam 13 menit, pada crude extract selama 70% 35

jam menit, pada crude extract 80% 3 jam, pada crude extract 90% 2 jam 8 menit,

pada crude extract 100% 1 jam 25 menit. Pada konsentrasi 40% tidak berbeda nyata

pada konsentrasi 50% dan 70%, konsentrasi 60% tidak berbeda nyata pada

konsentrasi 80% dan konsentrasi 100% sangat berbeda nyata pada konsentrasi 10%.
25

Dubey et al. (2010) menyatakan bahwa aktivitas biologi minyak atsiri

terhadap serangga dapat bersifat menolak (repellent), menarik (attractant), racun

kontak (toxic),racun pernafasan (fumigant), mengurangi nafsu makan (antifeedant),

menghambat peletakan telur (oviposition deterrent), menghambat pertumbuhan,

menurunkan fertilitas, serta sebagai antiserangga vector.

Salah satunya tanaman yang cukup banyak dibudidayakan khususnya di

Indonesia adalah mentimun (Cucumis sativus). Analisa fitokimia dari ekstrak batang

dan daun tanaman C. sativus mengandung senyawa aktif yang berperan dalam

melawan mikroorganisme seperti alkaloid, glikosida, steroid, flavonoid, saponin, dan

tannin (Das et al., 2012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ektrak dari daun dan

batang C. sativus menunjukkan aktivitas anti bakteri dan anti fungi. Sedangkan

ekstrak bunga C. sativus juga memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan

bakteri dan fungi seperti [Link], Escherichia coli, [Link], [Link] dan Candida

lunata, Candida albican (Muruganantham et al., 2016).

Penelitian yang telah dilakukan tentang mentimun menunjukan bahwa perasan

buah mentimun (Cucumis sativus L) memiliki efek sebagai larvasida terhadap larva

nyamuk Aedes aegypti L dan Nilai LC50 dari perasan buah mentimun (Cucumis

sativus L) yang dapat membunuh 50% larva nyamuk Aedes aegypti adalah sebesar

43,06% (Syamsul, 2014).

Pada penelitian lainya juga membuktikan bahwa ekstrak bunga mentimun

mampu menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi dengan luas zona hambat

terbesar yaitu 16 mm, lebih baik dibandingkan dengan Bacillus cereus dengan zona

hambat15 mm, pada konsentrasi ekstrak 40 mg/ml (Muruganantham et al., 2016).


26

Pengujian larvasida perasan buah mentimun dengan berbagai konsentrasi

didapatkan hasil bahwa kematian larva tercepat terjadi pada jam ke 6 yaitu pada

perlakuan pemberian perasan buah mentimun konsentrasi 20%, sedangkan kematian

larva tertinggi terjadi pada jam ke 24 pada konsentrasi 60% dan 80%

(Rindiani, 2018).

Hal ini sama dengan penelitian Syamsul dan Eka novitasar et al (2014) yang

menunjukkan bahwa angka kematian tertinggi terjadi pada jam ke 24 yakni sebanyak

100% larva uji karena senyawa metabolit sekunder seperti tanin, alkaloid, saponin,

dan flavonoid sebagian besar dapat larut setelah 24 jam, dan pada penelitian

sebelumnya data yang dihasilkan berdistribusi normal, serta perasan buah mentimun

memiliki aktivitas sebagai larvasida.

45000
40000
35000
Waktu Kematian

30000
(Detik)

25000
20000
15000
10000
5000
0
T0 T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 T8 T9 T10
Perlakuan Ekstrak Daun Mentimun
Gambar 6. Grafik Waktu Kematian Ulat Api

Gambar 6. Menunjukkan perbandingan waktu kemataian hama ulat api pada

10 variasi konsentrasi dan pemberian insektisda “Deltamethrin” sebagai pembanding.

Bahwa perbandingan waktu kematain hama ulat api pada ekstrak daun mentimun
27

10% membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan insektisida “Deltamethrin”

sedangkan waktu kematian hama ulat api pada ekstrak daun mentimun 100% lebih

mendekati waktu kematian insektisida “Deltamethrin”.

4.4. Uji Insektisida

[Link] Insektisida “Deltametrhin”

Pada pengujian penelitian, ulat api ([Link]) yang berada ditanaman kelapa

sawit sebanyak 5 ekor pada instar 2 sampai instar 5 disemprot menggunakan

insektisida “Deltametrhin”. Kemudian setelah disemprot hama ulat api masih aktif

bergerak, dalam waktu 3 menit setelah penyemprotan pergerakan ulat api mulai

melambat dan berhenti beraktifitas. Pada menit ke 5 ulat mulai berjatuhan, ulat

pertama mati pada waktu 12 menit dan ulat api mati seluruhnya pada 16 menit. Ulat

mati dengan mengeluarkan cairan susu dan butuh menyusut.

Gambar 7. Uji Insektisida “Deltametrhin”


28

Senyawa aktif yang terkandung dalam kedua buah tersebut yaitu alkaloid,

saponin, tanin, dan flavonoid.

Senyawa saponin memiliki rasa pahit dan tajam apabila dimakan. Senyawa

atau unsur yang bersifat toksik atau racun walaupun dalam konsentrasi rendah,

apabila masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan kematian pada larva. Selanjutnya

yaitu senyawa tanin, berperan menghambat proses makan larva. Mekanisme kerja

tannin hampir sama dengan saponin karena keduanya dapat menurunkan aktivitas

enzim pencernaan dan penyerapan makanan.

Alkaloid senyawa ini memiliki fungsi mempengaruhi fungsi sistem saraf,

sistem respirasi dan bisa digunakan untuk menolak serangga. Selain itu alkaloid juga

dapat menghambat daya makan larva (antifedant), menghambat reseptor perasa pada

daerah mulut larva sehingga menganggu pertumbuhan larva.

Senyawa flavonoid berperan sebagai racun pernapasan dimana senyawa ini

akanmasuk melalui siphon. Flavonoid mempunyai cara kerja yaitu dengan masuk ke

dalam tubuh larva melalui sistem pernapasan yang kemudian akan menimbulkan

kelayuan pada syaraf serta kerusakan pada sistem pernapasan dan mengakibatkan

larva tidak bisa bernapas dan akhirnya mati.

4.4.2. Uji Crude ekstrak 10 %

Pada pengujian penelitian,ulat api (Setothosea asigna) pada instar 2 sampai

instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian

disemprot dengan menggunakan ekstrak daun mentimun dengan konsentrasi 10%.

Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 50 menit setelah

penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan daun lagi,
29

kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 2 jam 47 menit, ulat pertama

matinya di waktu 11 jam 20 menit dan ulat api seluruhnya mati pada waktu kurang

lebih 11 jam 42 menit. Ulat api jenis Setothosea asigna mati dengan tubuh berubah

warna dari hijau kekuningan menjadi coklat

Gambar 8. Uji crude ekstrak 10 %

4.4.3. Uji Crude ekstrak 20 %

Pada pengujian penelitian,ulat api (Setothosea asigna) pada instar 2 sampai

instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian

disemprot dengan menggunakan ekstrak daun mentimun dengan konsentrasi 20%.

Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 1 jam setelah

penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan daun lagi,

kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 3 jam 12 menit, ulat pertama

matinya di waktu dari 9 jam 9 menit dan ulat api seluruhnya mati pada waktu 10 jam

21 menit. Ulat api jenis Setothosea asigna dengan tubuh tidak berlendir namun terjadi

perubahan warna.
30

Gambar 9. Uji crude ekstrak 20 %

4.4.4. Uji Crude ekstrak 30 %

Pada pengujian penelitian,ulat api (Setothosea asigna) pada instar 2 sampai

instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian

disemprot dengan menggunakan ekstrak daun mentimun dengan konsentrasi 30%.

Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 1 jam 53 menit

setelah penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan

daun lagi, kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 2 jam 33 menit, ulat

pertama matinya di waktu dari 5 jam 57 menit dan ulat api seluruhnya mati pada

waktu 7 jam 3 menit. Ulat api jenis Setothosea asigna dengan tubuh menyusut tetapi

tidak mengeluarkan lendir.


31

Gambar 10. Uji crude ekstrak 30 %

4.4.5. Uji Crude ekstrak 40 %

Pada pengujian penelitian,ulat api (Setothosea asigna) pada instar 2 sampai

instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian

disemprot dengan menggunakan ekstrak daun mentimun dengan konsentrasi 40%.

Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 35 menit setelah

penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan daun lagi,

kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 1 jam 28 menit, ulat pertama

matinya di waktu 3 jam 9 menit dan ulat api seluruhnya mati pada waktu 4 jam 6

menit. Ulat api jenis Setothosea asigna dengan mengeluarkan cairan susu dan tubuh

mulai menyusut serta terjadi perubahan warna menjadi kecoklatan.

Gambar 11. Uji crude ekstrak 40 %


32

4.4.6. Uji Crude ekstrak 50 %

Pada pengujian penelitian,ulat api (Setothosea asigna) pada instar 2 sampai

instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian

disemprot dengan menggunakan ekstrak daun mentimun dengan konsentrasi 40%.

Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 48 menit setelah

penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan daun lagi,

kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari1 jam 15 menit, ulat pertama

matinya di waktu 3 jam 17 menit dan ulat api seluruhnya mati pada waktu 4 jam 27

menit. Ulat api jenis Setothosea asigna tubuh muli menyusut serta terjadi perubahan

warna dari hijau kekuningan menjadi kuning kontras.

Gambar 12. Uji crude ekstrak 50 %

4.4.7. Uji Crude ekstrak 60 %

Pada pengujian penelitian,ulat api (Setothosea asigna) pada instar 2 sampai

instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian

disemprot dengan menggunakan ekstrak daun mentimun dengan konsentrasi 40%.

Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 32 menit setelah
33

penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan daun lagi,

kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 58 menit, ulat pertama matinya di

waktu 3 jam 7 menit dan ulat api seluruhnya mati pada waktu jam 13 menit. Ulat api

jenis Setothosea asigna dengan tubuh tidak berlendir tetapi mulai menyusut.

Gambar 13. Uji crude ekstrak 60 %

4.4.8. Uji Crude ekstrak 70 %

Pada pengujian penelitian,ulat api (Setothosea asigna) pada instar 2 sampai

instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian

disemprot dengan menggunakan ekstrak daun mentimun dengan konsentrasi 40%.

Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 25 menit setelah

penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan daun lagi,

kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 56 menit, ulat pertama matinya di

waktu 3 jam 9 menit dan ulat api seluruhnya mati pada waktu 4 jam 35 menit. Ulat

api jenis Setothosea asigna dengan tubuh mulai menyusut serta terjadi perubahan

warna.
34

Gambar 14. Uji crude ekstrak 70 %

4.4.9. Uji Crude ekstrak 80 %

Pada pengujian penelitian,ulat api (Setothosea asigna) pada instar 2 sampai

instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian

disemprot dengan menggunakan ekstrak daun mentimun dengan konsentrasi 40%.

Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 10 menit setelah

penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan daun lagi,

kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 20 menit, ulat pertama matinya di

waktu 9980 detik kurang lebih dari 2 jam 7 menit dan ulat api seluruhnya mati pada

waktu 10803 detik kurang lebih 3 [Link] api jenis Setothosea asigna dengan tubuh

tidak berlendir dan mulai menyusut.


35

Gambar 15. Uji crude ekstrak 80 %

4.4.10. Uji Crude ekstrak 90 %

Pada pengujian penelitian,ulat api (Setothosea asigna) pada instar 2 sampai

instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian

disemprot dengan menggunakan ekstrak daun mentimun dengan konsentrasi 40%.

Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 5 menit 13 detik

setelah penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan

daun lagi, kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 16 menit, ulat pertama

matinya di waktu 2 jam dan ulat api seluruhnya mati pada 2 jam 8 menit. Ulat api

jenis Setothosea asigna dengan tubuh mulai menyusut dan terjadi perubahan warna.

Gambar 16. Uji crude ekstrak 90 %


36

4.4.11. Uji Crude ekstrak 100 %

Pada pengujian penelitian,ulat api (Setothosea asigna) pada instar 2 sampai

instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian

disemprot dengan menggunakan ekstrak daun mentimun dengan konsentrasi 40%.

Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 2 menit setelah

penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan daun lagi,

kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 10 menit, ulat pertama matinya di

waktu 1 jam 20 menit dan ulat api seluruhnya mati pada waktu 1 jam 25 menit. Ulat

api jenis Setothosea asigna dengan mengeluarkan cairan susu dan tubuh mulai

menyusut serta terjadi perubahan warna

Gambar 17. Uji crude ekstrak 100 %


V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah :

Ekstrak daun mentimun efektif dalam mengendalikan hama ulat api

(Setothosea asigna) dan pada konsentrasi 100% ekstrak daun mentimun

menunjukkan tertinggi kematian hama ulat api (Setothosea asigna).

5.2 Saran

Untuk penelitian selanjutnya disarankan agar ekstrak daun mentimun

dipekatkan lagi dan dibuat penelitian dengan semua instar hama ulat api dengan

ekstrak daun mentimun.


DAFTAR PUSTAKA

Abou-Zaid MM, Lombardo DA, Kite GC, Grayer RJ dan Veitch NC.,2001,
Acylated Flavone C-glycosides from Cucumis sativus. Phytochemistry, 58,
167-172

Dalimartha, S. (2008). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 3. Jakarta:


Perpustakaan Nasional R.

Das, J., A. Chowdhury., S.K. Biswas., U.K. Karmakar., S.R. Sharif., S.Z. Raihan.,
and M.A. Muhit. 2012. Cytotoxicity and Antifungal Ativities of Ethanolic
and Chlorofrm Extracts of Cucumic sativus Linn (Cucurbitaceaae) Leaves
and Stems. Res. J. Phytochem. ISSN 1819-3471.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1989. Materia Medika Indonesia Jilid


V. Jakarta: Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan.

Depkes RI. Profil kesehatan Indonesia 2001 Menuju Indonesia sehat 2010.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 2002:40.

Dubey, R.C., Pandey, M.J. & Saini, S., 2010, Phytochemical and Antimicrobial
Studies on essential Oils of Some Aromatic Plants, African Journal of
Biotechnology, 9(28), 4364-4368.

Eka, N.P dan Eka, S.S., 2014. Uji Aktivitas Buah Mentimun (Cucumis sativus L.)
Sebagai Biolarvasida terhadap Larva Nyamuk Aedes aegypti L. Jurnal
Kimia Mulawarman. 11(2). 1693-5616.

Fauzi Y, Widyastuti YE, Satyawibawa I, Hartono R. 2008. Kelapa Sawit:


Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Limbah Analisis Usaha dan Pemasaran.
Edisi Revisi. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.

Fauzi, Yan, Yustina, E.W Imam, S. Rudi. 2002. Kelapa Sawit. Edisi Revisi.
Penebar Swadaya, Jakarta.

Hartley, C.W.S. 1979. The Oli Palm. Second editions. Tropical Agriculture
Saries. Golden Hope Plantation Berhad, Kuala Lumpur. 25.

Hartono, 2002. Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Limbah Analisa Usaha dan
Pemasaran. Penebar Swadaya. Jakarta.

Irsyad, M., Leman, O N., Syamsudin, U. 2018. FOURIER TRANSFORM INFRA


RED (FTIR). Tugas Matakuliah Karakterisasi Material. Fakultas Teknik.
Universitas Negeri Malang.

Krauze-Baranowska M. dan Wojciech Cisowski, 2001, Flavonoids from some


species of the genus Cucumis, Biochemical Systematics and Ecology, 29,
321-324.
39

Lubis, A.U., 2008. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Di Indonesia, Edisi 2.

Mangoting, D. et al., 2008. Tanaman Lalap Berkhasiat Obat. Penerbit Penebar


Swadaya, Jakarta.

Mudhamathy A.P, Aivazizi A.A, Vijayan. (2007). Larvicidal Efficacy Of


Capsicum Annum Against anopheles Stephensi And Culex
QuinQuefasciatus. Short Reaserh Communication. J Vect Bor.

Muruganantham, N., S. Solomon., M.M. Senthamilselv. 2016. Antimicrobial


Activity of Cucumis sativas (Cucumber) Flowers. Int. J. Pharm. Sci. Rev.
Res., 36(1), No. 16: 97-100.

Nasrin F. & Nahar L., 2014, Antidiarhoeal activity of Cucumis Sativus leaves.
Journal, Faculty Pharmacy of Rajshahi University, Bangladesh.

Pahan I. 2012. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Jakarta.

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Kelapa Sawit. Pusat penelitian Kelapa
Sawit, P. Siantar.

Prawirosukarto S; A Susanto; RY Purba dan B Drajat. 2008. Teknologi


Pengendalian Hama dan Penyakit pada Kelapa Sawit. Penebar Swadaya.
Jakarta.

Prawirosukarto, S. 2002. Pengenalan & Pengendalian Hama Ulat Pada Tanaman


Kelapa Sawit. Medan: pusat Penelitian Kelapa Sawit.

Purba, R.Y., A. Susanto dan Sudharto P. 2005. Hama-hama pada kelapa sawit.
buku 1. serangga hama pada kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit.
Medan. 29.

Rindiani. 2018. Uji Efikasi Konsentrasi Buah Mentimun (Cucumis sativus L.) dan
Buah Pare (Momordica charantia L.) Sebagai Larvasida Nyamuk Culex
sp. Skripsi. Universitas Islam Negeri Mataram. Mataram.

SAS Institute., 1990. SAS/STAT User’s Guide, Version 6, fourth edition, Vol 2.
SAS Institut Inc, North Carolina.

Sastrosayono, S, S., 2003. Kelapa Sawit, Budidaya Dan Perlindungannya. PT


Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Savitri, D. 2008. Respon Pertumbuhan dan Produksi Mentimun dengan Mutagen


Kholkisin. (Online).
40

Sianturi, H. S. D. 1990. Budidaya Tanaman Kelapa Sawit. Fakultas pertanian


Universitas Sumatera Utara. Medan.

Simanjuntak D dan A Susanto. 2011. Repropagasi Nucleo Polyhedral Virus


(NPV) Sethotosea asigna. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit 19 (2) : 83-90.

Simanjuntak, D., A. Susanto., A. E. Prasetyo., Dan Y. Sebayang. 2011. Setothosea


asigna Van. Eecke. Informasi OPT.

Simanjuntak, Nike V. 2014. Pengendalian Hama Ulat Api (Setothosea asigna)


Dengan Metode Fogging Di Tanaman Kelapa Sawit Di Kebun Adolina
PT. Perkebunan Nusantara IV. Tugas Akhir Program BDP. Sekolah Tinggi
Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIP-AP).

Striawan, R. 2011. Kelimpahan Populasi Ulat Api (Lepidoptera:Limacotidae)


serta predator pada perkebunan kelapa sawit (Elaeis gueneensis Jacq.).
Skripsi. Departemen Proteksi Tanaman. Fakultas Pertanian. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.

Syahputra, E. 2001. Hutan Kalbar Sumber Pestisida Botani. Makalah Falsafah


Sains. Program Pasca Sarjana. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Bogor.

Syamsulbahri.1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan. Gajah


Mada.

Syamsuhidayat dan Hutapea,1991; Inventaris Tanaman Obat Indonesia, edisi


kedua, Departemen Kesehatan RI, Wijayakusuma,[Link].,1996 Tanaman
Berkhasiat Obat di Indonesia, Jilid ke-4, Pustaka Kartini, Jakarta.412.

Syamsul, Siswanto, E., Purwanto, E., 2014. Uji Aktivitas Perasan Buah
Mentimmun (Cucumis sativus L.) Sebagai Biolarvasida Terhadap Larva
Nyamuk Aedes aegypti. Jurnal Kimia Mulawarman. 11(2).

Tulung, M. 2004. Sistem Peramalan Hama. Fakultas Pertanian UNSRAT


Manado. University Pres. Yogyakarta. 177.

Untung, K. 1992. Konsep dan Strategi Pengendalian Hama Terpadu. Makalah


Simposium Penerapan PHT. PEI Cabang Bandung.
LAMPIRAN

Lampiran 1. Skema Kerja


1. Ekstrak Daun Mentimun

Daun Mentimun Segar

 Keringkan daun mentimun


 Blender sampai halus

1000 gr bubuk

 Tambahkan etanol 96 %
 Bungkus botol dengan aluminium Foil

Campurkan bubuk
dan etanol

Saring menggunakan kertas


saringan

Filtrat

Rotary Evaporator

Crude Extract
Pengenceran

FTIR
42

2. Pembuatan Larutan

Crude extract/ Ekstrak Pekat

10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

3. Insktisida

Crude extract/ Ekstrak Pekat

 10%
 20%
 30%
 40%
 50%
 60%
 70%
 80%
 90%
 100%

 Ulat Api disemprot dengan


menggunakan Ektstrak
 Amati Pegerakan Ulat
 Lama Tingkat Kematian Ulat

Kematian Ulat Api


43

Lampiran 2. Data Waktu Kematian (Detik)

ULANGAN
PERLAKUAN TOTAL RATAAN
I II III
D 1039 686 1124 2849 950

T1 40347 41109 41881 123337 41112

T2 36439 35992 37810 110242 36747

T3 24256 20071 28997 73324 24441

T4 14148 14664 15134 43946 14649

T5 11318 17330 17562 46210 15403

T6 11508 11081 11224 80879 26960

T7 14187 15674 17205 47066 15689

T8 11715 10713 9980 32408 10803

T9 8373.2 14674 7256.6 30303.8 10101

T10 4690.4 4525.6 4328.4 13544.4 4514.8

Lampiran 3. Daftar sidik ragam waktu kematian ulat api Setothosea asigna

SK db JK KT F0 P0

trt 10 4706027627 470602763 96.92 <.0001

Blok 2 9628274 4814137 0.99 0.3885

Galat 20 97107682 4855384

Total Koreksi 26 4812763584

KK 13.05382
44

Lampiran 4. Bubuk Daun Mentimun

Lampiran 5. Proses Maserasi


45

Lampiran 6. Ekstrak akar tuba siap diaplikasi

Lampiran 7. Tanaman pengaplikasian ulat


46

Lampiran 8. Pipet mikro

Lampiran 9. Rotary evaporator


47

Lampiran 10. Fourier Transform Infra Red Sprectoscopy (FTIR)


48

Lampiran 11. Bilangan gelombang spektrum FTIR

Ikatan Tipe Senyawa Daerah Frekuensi Intensitas


(cm-1)

C–H Alkana 2850-2970 Kuat


1340-1470 Kuat
C–H Alkena ˃c=c˂H 3010-3095 Sedang
675-995 Kuat
C–H Alkuna ―C≡C― 3300 Kuat
C–H Cincin Aromatik 3010-3100 Sedang
690-900 Kuat
O–H Fenol, monomer alkohol, 3590-3650 Berubah-
alkohol ikatan hidrogen, 3200-3600 ubah
fenol Berubah-
3500-3650 ubah,
Monomer asam karboksilat, 2500-2700 terkadang
ikatan hidrogen asam Melebar
karboksilat Sedang
melebar

N–H Amina, Amida 3300-3500 Sedang


C=C Alkena 1610-1680 Berubah-
ubah
C=C Cincin Aromatik 1500-1600 Berubah-
ubah
C≡C Alkuna 2100-2260 Berubah-
ubah
C–N Amina, Amida 1180-1360 Kuat
C≡N Nitril 2210-2280 Kuat
C–O Alkohol, Eter, Asam 1050-1300 Kuat
Karboksilat, Ester
C=O Aldehid, Keton, Asam 1690-1760 Kuat
Karboksilat, Ester
NO2 Senyawa Nitro 1500-1570 Kuat
1300-1370
49

Gugus Jenis Senyawa Daerah Serapan (cm-1)

C-H Alkana 2850-2960, 1350-1470


C–H Alkena 3020-3080, 675-870
C–H Aromatic 3000-3100, 675-870
C–H Alkuna 3300
C=C Alkena 1640-1680
C=C Aromatik (cicin) 1500-1600
C–O Alkohol, ester, asam karboksilat, ester 1080-1300
C=O Aldehida, keton, asam karboksilat, ester 1690-1760
O–H Alkohol, fenol (monomer) 3610-3640
O–H Alkohol, fenol (ikatan H) 2000-3600 (lebar)
O–H Asam karboksilat 3000-3600 (lebar)
N–H Amina 3310-3500
C–N Amina 1180-1360
-N02a Nitro 1515-1560, 1345-1385

Lampiran 12. Perhitungan Pengenceran Larutan


Rumus Pengenceran :
V1.M1 = V2.M2
Keterangan :
V1 = Volume Crude Extract
M1 = Crude Extract
V2 = Labu Ukur 25 ml
M2 = Variasi Konsentrasi
1. Konsentrasi 10%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 10%
100V1 = 250 ml
V1 = 250
100
= 2.5 ml
50

2. Konsentrasi 20%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 20%
100V1 = 500 ml
V1 = 500
100
= 5 ml
3. Konsentrasi 30%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 30%
100V1 = 750 ml
V1 = 750
100
= 7.5 ml
4. Konsentrasi 40%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 40%
100V1 = 1000 ml
V1 = 1000
100
= 10 ml
5. Konsentrasi 50%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 50%
100V1 = 1250 ml
V1 = 1250
100
= 12.5 ml
51

6. Konsentrasi 60%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 60%
100V1 = 1500 ml
V1 = 1500
100
= 15 ml
7. Konsentrasi 70%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 70%
100V1 = 1750 ml
V1 = 1750
100
= 17.5 ml
8. Konsentrasi 80%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 80%
100V1 = 2000 ml
V1 = 2000
100
= 20 ml
9. Konsentrasi 90%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 90%
100V1 = 2250 ml
V1 = 2250
100
= 22.5 ml
52

10. Konsentrasi 100%


V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 100%
100V1 = 2500 ml
V1 = 2500
100
= 25 ml
RIWAYAT HIDUP

RAJA RIO SIMARMATA, lahir pada tanggal 16 April 1996 di [Link]

Kabupaten Deli Serdang. Merupakan anak ke tiga dari tiga bersaudara dari

pasangan Bapak Saman Simarmatadan Rosenta Damanik

Pendidikan yang telah ditempuh peulis adalah sebagai berikut:

1. Tahun 2002 bersekolah di SD Negeri Cimahi Kecamatan Bangun Purba 2008.

2. Tahun 2008 bersekolah di sekolah SMP N 2 Bangun Purbadan tamat pada

tahun 2011.

3. Tahun 2011 bersekolah di sekolah SMA N 1 Silindadan tamat pada tahun

2014.

4. Tahun 2014 masuk kuliah Di Universitas Prima Indonesia Fakultas

Agroteknologi.

iii

Anda mungkin juga menyukai