Efektivitas Ekstrak Daun Mentimun terhadap Ulat Api
Efektivitas Ekstrak Daun Mentimun terhadap Ulat Api
SKRIPSI
Oleh
Nim : 143305010045
Menyetujui
Komisi Pembimbing
SKRIPSI
Skripsi Ini Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Pertanian Pada Fakultas Agro Teknologi
Universitas Prima Indonesia
Oleh
Adalah benar hasil karya saya sendiri dari belum dipublikasikan oleh siapapun
sebelumnya. Sumber-sumber data informasi yang digunakan telah dinyatakan
secara benar dan jelas.
Tim penguji
Ketua : Harmileni, [Link]., [Link]
Kata kunci : Daun Mentimun, Fourier Transform Infra Red, Rotenon, Ulat api
(Setothosea asigna)
i
ABSTRACT
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik sebagai salah satu syarat
1. Bapak Seno Aji, [Link]., [Link] sebagai Dekan Fakultas Agro Teknologi,
2. Bapak Bayu Pratomo, SST., M.P sebagai Ketua Program Studi Agroteknologi
Fakultas Agro Teknologi, Universitas Prima Indonesia dan juga sebagai sosok
3. Ibu Wilda Lumban Tobing, SST., [Link] sebagai Sekretaris Program Studi
5. Ibu Julaili Irni, [Link]., [Link] sebagai anggota komisi penguji yang telah
iv
6. Seluruh dosen Fakultas Agro Teknologi yang telah memberikan ilmu dan
pengetahuan kepada penulis serta kepada seluruh staf pengajar dan seluruh
7. Kedua orang tua tercinta Alm. Ayahanda Drs. Saman Simarmata dan Ibunda
Rosenta Damanik [Link] yang telah berjuang keras untuk penulis dan selalu
memberikan dukungan baik moral maupun moril juga materil hingga penulis
memotivasi penulis.
Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna, sehingga penulis
skripsi ini. Penulis juga berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi
terima kasih.
v
DAFTAR ISI
Hal
ABSTRAK .................................................................................................................... i
I. PENDAHULUAN ......................................................................................................1
1.1 Latar Belakang........................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ ............3
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................. ............3
1.4 Hipotesa Penelitian .............................................................................. ............3
1.5 Manfaat Penelitian ............................................................................... ............4
1.6 Batasan Penelitian ................................................................................ ............4
vi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...............................................................................27
4.1 Hasil Preparasi Sampel .....................................................................................28
4.2 Analisis Rataan Kematian ................................................................................29
4.3 Uji Insektisida ..................................................................................................32
4.3.1. Uji Insektisida “Deltametrhin” .............................................................32
4.3.2. Uji Crude ekstrak 10% .......................................................................34
4.3.3. Uji Crude ekstrak 20% ........................................................................35
4.3.4. Uji Crude ekstrak 30% ........................................................................36
4.3.5. Uji Crude ekstrak 40% ........................................................................37
4.3.6. Uji Crude ekstrak 50% ........................................................................38
4.3.7. Uji Crude ekstrak 60% ........................................................................39
4.3.8. Uji Crude ekstrak 70% ........................................................................40
4.3.9. Uji Crude ekstrak 80% ........................................................................41
4.3.10. Uji Crude ekstrak 90 % .......................................................................42
4.3.11. Uji Crude ekstrak 100 % .....................................................................43
vii
DAFTAR TABEL
No Judul Hal
viii
DAFTAR GAMBAR
No Judul Hal
ix
DAFTAR LAMPIRAN
No Judul Hal
1. Skema Kerja ........................................................................................................ 41
2. Data Waktu Kematian (Detik).............................................................................. 43
3. Daftar sidik ragam waktu kematian ulat api Setothosea asigna ............................ 43
4. Bubuk Daun Mentimun ....................................................................................... 44
5. Proses Maserasi ................................................................................................... 44
6. Ekstrak daun mentimun siap diaplikasi .......................................................... ...... 45
7. Tanaman pengaplikasian ulat ............................................................................... 45
8. Pipet mikro .......................................................................................................... 46
9. Rotary evaporator ............................................................................................... 46
10. Fourier Transform Infra Red Sprectoscopy (FTIR) .............................................. 47
11. Bilangan gelombang spektrum FTIR ................................................................... 48
12. Perhitungan Pengenceran Larutan ........................................................................ 49
x
I. PENDAHULUAN
Ulat api merupakan jenis ulat pemakan daun kelapa sawit yang sering
menimbulkan kerugian di perkebunan kelapa sawit. Jenis ulat api yang paling
(Striawan, 2011). Salah satunya adalah spesies ulat api adalah Sethotosea asigna
(Tulung, 2004).
Keadaan ini terjadi karena dalam siklus hidup produksi telur sangat tinggi,
sex ratio tinggi, kemampuan untuk hidup tanpa kompetisi, daya adaptasi tinggi,
umur pendek, populasi lebih tinggi dan belum ditemukan varietas unggul tahan
ulat api (Prawirosukarto, 2002). Gejala ini dimulai dari serangan ringan hingga
dalam kondisi yang parah tanaman akan kehilangan daun sekitar 90%. Pada tahun
pertama setalah serangan dapat menurunkan produksi sekitar 69% dan sekitar
Insektisida nabati memiliki beberapa kelebihan yakni aman, mudah dibuat, murah,
2
dan dapat diterapkan oleh petani, serta efektif dalam membunuh hama.
tidak stabil dan dapat didegradasi secara alami di alam serta dampak residunya
lingkungan.
2014). Aktivitas-aktivitas yang dimiliki oleh daun mentimun tidak lepas dari
(Nasrin dan Nahar, 2014). Daun mentimun dapat digunakan sebagai emetik atau
penyebab muntah (Depkes RI, 1989). Ekstrak etanolik, kloroform dan n-heksan
(Nasrin, 2014).
Hama Ulat Api (Setothosea asigna van Eecke.) Pada Tanaman Kelapa Sawit
asigna).
Adapun batasan penelitian ini yaitu Masih dalam uji penelitian yang baru
di teliti tentang uji aktivitas insektisida ekstrak Daun Mentimun (Cucumis sativus)
terhadap hama ulat api (Setothosea asigna van Eecke.) pada bibit tanaman kelapa
Kelapa sawit merupakan daun majemuk, daun berwarna hijau tua dan
tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Bentuk
dipangkas dapat mencapai 60 daun. Tanaman kelapa sawit tua membentuk 2-3
daun setiap bulannya, sedangkan yang lebih muda menghasilkan 3-4 daun
perbulan (Sianturi, 1990). Stomata atau rongga terbuka untuk menerima cahaya
dalam proses fotosintesis wujud pada permukaan helai daun. Pelepah matang
berukuran hingga 7,5 cm dengan petiol 6 lebih kurang satu perempat dari pada
panjang pelepah serta mempunyai duri (Hartono, 2002). Batang kelapa sawit
berdiameter 25-75 cm, namun di perkebunan umumnya 45-65 cm, pangkal batang
lebih besar pada tanaman yang lebih tua. Batang kelapa sawit merupakan batang
Susunan akar kelapa sawit terdiri dari akar serabut primer yang tumbuh
vertikal ke dalam tanah dan horizontal ke samping dan bercabang menjadi akar
sekunder ke atas dan ke bawah dan akhirnya cabang-cabang ini pun bercabang
lagi akar tersier dan seterusnya. Akar kelapa sawit dapat mencapai 8 meter dan 16
Tanaman kelapa sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril
sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih
Phylum : Arthropoda
Kingdom : Animalia
Class : Insekta
Ordo : Lepidoptera
Family : Limacodidae
Genus : Setothosea
Ulat api merupakan jenis ulat pemakan daun kelapa sawit yang sering
menimbulkan kerugian di perkebunan kelapa sawit. Jenis ulat api yang paling
(Striawan, 2011).
Ulat ini disebut ulat api karena jika bulunya mengenai kulit akan
menyebabkan rasa panas yang luar biasa. Ulat ini termasuk kedalam ulat yang
rakus, karena memakan semua jenis tanaman seperti kelapa sawit, kelapa,
jeruk,teh, kopi, dan tanaman lainnya. Di areal budidaya ulat ini ditemukan dengan
berbagai macam warna antara lain hijau kekuningan, kuning orange, atau merah
orange. Pada tubuhnya sering terdapat bercak-bercak warna hitam, kuning dan
merah. Dengan warna yang sedemikian ulat ini kelihatan cantik walaupun
Ulat yang baru menetas hidup berkelompok, mengikis daging daun dari
Pada instar 2-3 ulat memakan daun mulai dari ujung kearah bagian pangkal daun.
Untuk S. asigna, selama perkembangannya ulat berganti kulit 7-8 kali dan mampu
mempunyai siklus hidup 106-138 hari (Hartley, 1979). Siklus hidup hama ini
1. Telur
dan transparan. Telur diletakkan berderet 3-4 baris sejajar pada permukaan daun
bagian bawah, biasanya sekitar 44 butir dan seekor ngengat betina mampu
menghasilkan telur sebanyak 300-400 butir. Telur menetas 4-8 hari setelah
2. Larva
ungu keabu-abuan dan putih. Warna larva dapat berubah-ubah sesuai dengan
instarnya, semakin tua umurnya akan menjadi semakin gelap. Larva instar terakhir
(instar ke-9) berukuran panjang 36 mm dan lebar 14,5 mm, sedangkan apabila
sampai instar ke-8 ukurannya sedikit lebih kecil. Menjelang berpupa, ulat
menjatuhkan diri ke tanah. Stadia larva ini berlangsung selama 49-50 hari
3. Pupa
Pupa berada di dalam kokon yang terbuat dari campuran air liur ulat dan
tanah, berbentuk bulat telur dan berwarna coklat gelap, terdapat di bagian tanah
yang relatif gembur di sekitar piringan atau pangkal batang kelapa sawit. Pupa
4. Imago
berwarna coklat muda. Dengan demikian perkembangan dari telur sampai menjadi
ngengat berkisar 93-98 hari, tetapi pada keadaan kurang menguntungkan dapat
Gejala ini dimulai dari yang bawah dalam kondisi yang parah tanaman
akan kehilangan daun sekitar 90%. Pada tahun pertama setelah serangan dapat
9
menurunkan produksi sekitar 69% dan sekitar 27% pada tahun kedua
berproduksi sampai tiga tahun kemudian. Ketika terbentuk tandan buah biasanya
terjadi aborsi atau berbentuk tandan buah abnormal, tidak proporsional dan buah
dengan semua stadia larva berukuran sedang sampai besar untuk tanaman < 5
tahun, handpicking pupa saat stadia pupa untuk semua umur tanaman
(Simanjuntak, 2014).
Pengendalian ulat api hingga saat ini masih bertumpu pada pengendalian
insektisida sintetik, karena cara ini mudah dilaksanakan dan hasilnya langsung
dapat dilihat, disamping masih belum ditemukannya cara pengendalian hama yang
lebih efektif. Untuk tanaman yang lebih muda (umur 2 tahun), knapsack sprayer
dapat digunakan untuk penyemprotan. Untuk tanaman lebih dari 3 tahun, aplikasi
(Simanjuntak, 2014).
diperluas dengan perpaduan semua metode dan teknik pengendalian hama yang
jenis tumbuhan tersebut seperti: turnera subulata dan cassia tora di sepanjang
pinggir jalan utama dan jalan koleksi. Penggunaan insektisida biologis seperti
Sumatera dikenal dengan nama timor, timun, antimun, cimun, ancimun, ansimun,
timon, laisen, hantimun. Di Jawa dikenal dengan sebutan timun dan temon. Di
Bali dikenal dengan katimun. Di Nusa Tenggara dikenal dengan sebutan timu,
kadingir, dan daha of Koto sedangkan di Maluku dikenal dengan nama timun,
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Violales
Suku : Cucurbitaceae
Marga : Cucumis
(Mangonting et. al., 2008). Tumbuhan satu tahun, merayap atau memanjat,
rambut kasar. Batang bersegi 5 tumpul, panjang 0,5-2,5 m. Bangun daun bulat
telur lebar, bertaju 3-7 jelas, dengan pangkal bentuk jantung dan ujung runcing,
panjang 7-18 cm lebar 7-15 cm, berumbai kasar dan bergigi menyerupai kelenjar;
taju bersegi 3, runcing Bunga sebagian besar jantan. Tabung kelopak bentuk
lonceng atau bentuk gasing; taju bentuk garis hingga lanset, berdaging. Mahkota
bentuk lonceng datar, banyak tulang membujur, diameter 2-3 cm, taju runcing,
berambut. Bunga jantan : panjang tangkai 0,5-2 cm, langsing; benang sari 3, lepas,
panjang kepala sari 3-7 mm; ruang sari dan sisa putik kecil tak berarti Bunga
(Depkes RI, 1989). Ekstrak etanolik, kloroform dan n-heksan daun mentimun
12
2″-O-( 6′′′ -(E) feruloil) glukosida and isoskoparin 2″-O-( 6′′′ -(E)-feruloil)
glikosida yang dapat tersari menggunakan pelarut yang sesuai. Flavonoid adalah
radikal bebas, penghambat enzim hidrolisis dan oksidatif, dan bekerja sebagai
alami yang terdapat pada sereal, sayur-sayuran dan buah telah banyak
Ekstrak nheksana Buah Mentimun (Cucumis sativus L.) diketahui didalam buah
mentimun terdapat dua isolat triterpenoid yang mempunyai gugus –OH, -CH2-,
CH3, C=O dan C-H dan tidak mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi
Gambar 3. Cucurbitacin E
dilengkapi dengan teknik transformasi Fourier untuk deteksi dan analisis hasil
spektrumnya. Dalam hal ini metode spektroskopi yang digunakan adalah metode
oleh suatu materi dapat terjadi jika dipenuhi dua syarat, yakni kesesuaian antara
15
organik atau anorganik. Hal ini dapat dimanfaatkan menduga jumlah beberapa
komponen dari suatu campuran yang tidak diketahui. Hal ini dapat diterapkan
pada analisis padatan, cairan, dan gas. Istilah FTIR mengacu pada perkembangan
yang baru dalam cara di mana data dikumpulkan dan dikonversi dari pola
interferensi untuk spektrum. Instrumen FTIR Hari ini adalah komputerisasi yang
membuat mereka lebih cepat dan lebih sensitif dibandingkan dengan instrumen
dengan cermin yang bergerak tegak lurus dan cermin yang diam . Dengan demikian
radiasi infra merah akan menimbulkan perbedaan jarak yang ditempuh menuju
cermin yang bergerak (M) dan jarak cermin yang diam (F). Perbedaan jarak
tempuh radiasi tersebut adalah 2 yang selanjutnya disebut sebagai retardasi (δ).
suatu pemisah berkas cahaya , satu alur menuju posisi cermin yang ditentukan,
dan yang lainnya menjauhi cermin. Ketika berkas cahaya dipantulkan, salah satu
cahaya dipindahkan (keluar dari tahap) dari yang lainnya sejak ia menjadi lebih
kecil (ataupun lebih besar) tujuan jaraknya untuk menjauhi cermin, dan mereka
16
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pisau (cutter), toples,
kain kasa, karet gelang, blender, gunting, saringan ukuran 40-60 mesh, labu
erlemenyer sebagai wadah ekstrak, gelas ukur, pipet mikro, pinset, spatula, kertas
alumunium foil, etanol 96%, aquades, ulat api (Setothosea asigna), bibit tanaman
Yij = µ + T1 + U1 + ∑ij
Dimana :
Yij = Tingkat kematian hama ulat api (Setothosea asigna) yang diberi ekstrar
daun mentimun.
M1 = 10 % M6 = 60 %
M2 = 20 % M7 = 70 %
M3 = 30 % M8 = 80%
M4 = 40 % M9 = 90 %
Keterangan
menggunakan komputer dengan program SAS 9.1.3 (SAS Institute, 1990) untuk
19
Ulat api yang digunakan dalam pengujian ini adalah Setothosea asigna
yang dipilih adalah ulat api yang sehat . Ulat api Setothosea asigna diperoleh dari
mencapai kadar air kering udara (KA ± 12%) atau dikering anginkan selama 2
minggu dan diperkiraan kandungan air di daun mentimun sudah tidak ada,
saringan.
menggunakan neraca analitik di ambil dan dimasukan kedalam botol setelah itu di
alumunium Foil sebanyak dua lapis, maserasi ini dilakukan selama 5 hari. Setelah
kali.
Crude ekstrak. Penggunaan rotary I alas hanya bisa diisi 800 ml dengan lama
pemanasan 45 menit per sampel sehingga didapatkan Crude extract. Crude extract
yang pekat disimpan didalam suhu kamar (± 25 0C) untuk menjaga agar senyawa
menggunakan labu ukur 25 ml dan pipet mikro untuk mengambil Crude ekstrak.
meletakkan 5 ekor hama ulat api (Setotoshea asigna van Eecke.) pada tanaman
kelapa sawit beumur 9-12 bulan. Setelah itu, hama ulat api
sawit agar hama ulat api tersebut dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
mentimun 100 %. Setelah itu diamati tingkat kematian dan lama waktu
rotary evaporator untuk memisahkan senyawa aktif dengan pelarut, sehingga dari
rotary evaporator tersebut didapatkan crude ekstrak sebanyak 200 ml berwarna hijau
Dari hasil analisis FTIR diatas didapatkan bahwa pada daerah 3323.34 cm-1
merupakan puncak spektrum O-H (Fenol). pada daerah 2844-2952 cm-1 merupakan
puncak spektrum C-H (Alkana). pada daerah 1643.51 cm-1 merupakan puncak
spektrum C=C (Alkena). pada daerah 1405-1450 cm-1 merupakan puncak spektrum
C-H (Alkana). pada daerah 1014.45 cm-1 merupakan puncak spektrum C-O (Eter ).
Menurut hasil Fourier Transform Infra Red Spectroscopy dengan melihat seluruh
spektrum yang tajam dan stretching seluruh struktur senyawa kimia yang diperoleh
dari filtrat daun mentimun merupakan senyawa Cucurbitacin dan senyawa kimia
yang lain.
Setelah mengetahui hasil gugus fungsi yang di dapat dari analisis FTIR maka
disesuaikan dengan senyawa yang terdapat pada daun mentimun yaitu Cucurbitacin.
Data hasil pengamatan waktu kematian hama ulat api terdapat pada lampiran
2, dan berdasarkan hasil analisi sidik ragam yang tertera pada Lampiran 3, terdapat
pengaruh yang berbeda nyata antara perlakuan ekstrak daun mentimun terhadap
Tabel 1. Waktu Kematian ulat api dengan perlakuan insektisida nabati ekstrak
Daun mentimun
Keterangan : Nilai yang di ikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda
nyata
pada Uji lanjut Duncan taraf 5%
selama 11 jam 42 menit, pada crude extract 20% selama 10 jam 21 menit, pada
crude extract 30% selama 7 jam 3 menit, pada crude extract 40% selama an 4 jam 6
menit, pada crude extract 50% selama 15403 detik sama dengan 4 jam 27 menit,
pada crude extract 60% selama 3 jam 13 menit, pada crude extract selama 70% 35
jam menit, pada crude extract 80% 3 jam, pada crude extract 90% 2 jam 8 menit,
pada crude extract 100% 1 jam 25 menit. Pada konsentrasi 40% tidak berbeda nyata
pada konsentrasi 50% dan 70%, konsentrasi 60% tidak berbeda nyata pada
konsentrasi 80% dan konsentrasi 100% sangat berbeda nyata pada konsentrasi 10%.
25
Indonesia adalah mentimun (Cucumis sativus). Analisa fitokimia dari ekstrak batang
dan daun tanaman C. sativus mengandung senyawa aktif yang berperan dalam
tannin (Das et al., 2012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ektrak dari daun dan
batang C. sativus menunjukkan aktivitas anti bakteri dan anti fungi. Sedangkan
bakteri dan fungi seperti [Link], Escherichia coli, [Link], [Link] dan Candida
buah mentimun (Cucumis sativus L) memiliki efek sebagai larvasida terhadap larva
nyamuk Aedes aegypti L dan Nilai LC50 dari perasan buah mentimun (Cucumis
sativus L) yang dapat membunuh 50% larva nyamuk Aedes aegypti adalah sebesar
mampu menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi dengan luas zona hambat
terbesar yaitu 16 mm, lebih baik dibandingkan dengan Bacillus cereus dengan zona
didapatkan hasil bahwa kematian larva tercepat terjadi pada jam ke 6 yaitu pada
larva tertinggi terjadi pada jam ke 24 pada konsentrasi 60% dan 80%
(Rindiani, 2018).
Hal ini sama dengan penelitian Syamsul dan Eka novitasar et al (2014) yang
menunjukkan bahwa angka kematian tertinggi terjadi pada jam ke 24 yakni sebanyak
100% larva uji karena senyawa metabolit sekunder seperti tanin, alkaloid, saponin,
dan flavonoid sebagian besar dapat larut setelah 24 jam, dan pada penelitian
sebelumnya data yang dihasilkan berdistribusi normal, serta perasan buah mentimun
45000
40000
35000
Waktu Kematian
30000
(Detik)
25000
20000
15000
10000
5000
0
T0 T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 T8 T9 T10
Perlakuan Ekstrak Daun Mentimun
Gambar 6. Grafik Waktu Kematian Ulat Api
Bahwa perbandingan waktu kematain hama ulat api pada ekstrak daun mentimun
27
sedangkan waktu kematian hama ulat api pada ekstrak daun mentimun 100% lebih
Pada pengujian penelitian, ulat api ([Link]) yang berada ditanaman kelapa
insektisida “Deltametrhin”. Kemudian setelah disemprot hama ulat api masih aktif
bergerak, dalam waktu 3 menit setelah penyemprotan pergerakan ulat api mulai
melambat dan berhenti beraktifitas. Pada menit ke 5 ulat mulai berjatuhan, ulat
pertama mati pada waktu 12 menit dan ulat api mati seluruhnya pada 16 menit. Ulat
Senyawa aktif yang terkandung dalam kedua buah tersebut yaitu alkaloid,
Senyawa saponin memiliki rasa pahit dan tajam apabila dimakan. Senyawa
atau unsur yang bersifat toksik atau racun walaupun dalam konsentrasi rendah,
apabila masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan kematian pada larva. Selanjutnya
yaitu senyawa tanin, berperan menghambat proses makan larva. Mekanisme kerja
tannin hampir sama dengan saponin karena keduanya dapat menurunkan aktivitas
sistem respirasi dan bisa digunakan untuk menolak serangga. Selain itu alkaloid juga
dapat menghambat daya makan larva (antifedant), menghambat reseptor perasa pada
akanmasuk melalui siphon. Flavonoid mempunyai cara kerja yaitu dengan masuk ke
dalam tubuh larva melalui sistem pernapasan yang kemudian akan menimbulkan
kelayuan pada syaraf serta kerusakan pada sistem pernapasan dan mengakibatkan
instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian
Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 50 menit setelah
penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan daun lagi,
29
kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 2 jam 47 menit, ulat pertama
matinya di waktu 11 jam 20 menit dan ulat api seluruhnya mati pada waktu kurang
lebih 11 jam 42 menit. Ulat api jenis Setothosea asigna mati dengan tubuh berubah
instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian
Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 1 jam setelah
penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan daun lagi,
kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 3 jam 12 menit, ulat pertama
matinya di waktu dari 9 jam 9 menit dan ulat api seluruhnya mati pada waktu 10 jam
21 menit. Ulat api jenis Setothosea asigna dengan tubuh tidak berlendir namun terjadi
perubahan warna.
30
instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian
Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 1 jam 53 menit
setelah penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan
daun lagi, kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 2 jam 33 menit, ulat
pertama matinya di waktu dari 5 jam 57 menit dan ulat api seluruhnya mati pada
waktu 7 jam 3 menit. Ulat api jenis Setothosea asigna dengan tubuh menyusut tetapi
instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian
Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 35 menit setelah
penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan daun lagi,
kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 1 jam 28 menit, ulat pertama
matinya di waktu 3 jam 9 menit dan ulat api seluruhnya mati pada waktu 4 jam 6
menit. Ulat api jenis Setothosea asigna dengan mengeluarkan cairan susu dan tubuh
instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian
Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 48 menit setelah
penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan daun lagi,
kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari1 jam 15 menit, ulat pertama
matinya di waktu 3 jam 17 menit dan ulat api seluruhnya mati pada waktu 4 jam 27
menit. Ulat api jenis Setothosea asigna tubuh muli menyusut serta terjadi perubahan
instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian
Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 32 menit setelah
33
penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan daun lagi,
kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 58 menit, ulat pertama matinya di
waktu 3 jam 7 menit dan ulat api seluruhnya mati pada waktu jam 13 menit. Ulat api
jenis Setothosea asigna dengan tubuh tidak berlendir tetapi mulai menyusut.
instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian
Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 25 menit setelah
penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan daun lagi,
kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 56 menit, ulat pertama matinya di
waktu 3 jam 9 menit dan ulat api seluruhnya mati pada waktu 4 jam 35 menit. Ulat
api jenis Setothosea asigna dengan tubuh mulai menyusut serta terjadi perubahan
warna.
34
instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian
Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 10 menit setelah
penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan daun lagi,
kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 20 menit, ulat pertama matinya di
waktu 9980 detik kurang lebih dari 2 jam 7 menit dan ulat api seluruhnya mati pada
waktu 10803 detik kurang lebih 3 [Link] api jenis Setothosea asigna dengan tubuh
instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian
Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 5 menit 13 detik
setelah penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan
daun lagi, kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 16 menit, ulat pertama
matinya di waktu 2 jam dan ulat api seluruhnya mati pada 2 jam 8 menit. Ulat api
jenis Setothosea asigna dengan tubuh mulai menyusut dan terjadi perubahan warna.
instar 5 sebanyak 5 ekor yang diletakkan pada tanaman kelapa sawit kemudian
Setelah disemprot hama ulat api masih aktif bergerak, dalam waktu 2 menit setelah
penyemprotan aktivitas ulat mulai lambat dan sudah tidak aktif memakan daun lagi,
kemudian ulat mulai berjatuhan kurang lebih dari 10 menit, ulat pertama matinya di
waktu 1 jam 20 menit dan ulat api seluruhnya mati pada waktu 1 jam 25 menit. Ulat
api jenis Setothosea asigna dengan mengeluarkan cairan susu dan tubuh mulai
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
dipekatkan lagi dan dibuat penelitian dengan semua instar hama ulat api dengan
Abou-Zaid MM, Lombardo DA, Kite GC, Grayer RJ dan Veitch NC.,2001,
Acylated Flavone C-glycosides from Cucumis sativus. Phytochemistry, 58,
167-172
Das, J., A. Chowdhury., S.K. Biswas., U.K. Karmakar., S.R. Sharif., S.Z. Raihan.,
and M.A. Muhit. 2012. Cytotoxicity and Antifungal Ativities of Ethanolic
and Chlorofrm Extracts of Cucumic sativus Linn (Cucurbitaceaae) Leaves
and Stems. Res. J. Phytochem. ISSN 1819-3471.
Depkes RI. Profil kesehatan Indonesia 2001 Menuju Indonesia sehat 2010.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 2002:40.
Dubey, R.C., Pandey, M.J. & Saini, S., 2010, Phytochemical and Antimicrobial
Studies on essential Oils of Some Aromatic Plants, African Journal of
Biotechnology, 9(28), 4364-4368.
Eka, N.P dan Eka, S.S., 2014. Uji Aktivitas Buah Mentimun (Cucumis sativus L.)
Sebagai Biolarvasida terhadap Larva Nyamuk Aedes aegypti L. Jurnal
Kimia Mulawarman. 11(2). 1693-5616.
Fauzi, Yan, Yustina, E.W Imam, S. Rudi. 2002. Kelapa Sawit. Edisi Revisi.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Hartley, C.W.S. 1979. The Oli Palm. Second editions. Tropical Agriculture
Saries. Golden Hope Plantation Berhad, Kuala Lumpur. 25.
Hartono, 2002. Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Limbah Analisa Usaha dan
Pemasaran. Penebar Swadaya. Jakarta.
Lubis, A.U., 2008. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Di Indonesia, Edisi 2.
Nasrin F. & Nahar L., 2014, Antidiarhoeal activity of Cucumis Sativus leaves.
Journal, Faculty Pharmacy of Rajshahi University, Bangladesh.
Pahan I. 2012. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Jakarta.
Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Kelapa Sawit. Pusat penelitian Kelapa
Sawit, P. Siantar.
Purba, R.Y., A. Susanto dan Sudharto P. 2005. Hama-hama pada kelapa sawit.
buku 1. serangga hama pada kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit.
Medan. 29.
Rindiani. 2018. Uji Efikasi Konsentrasi Buah Mentimun (Cucumis sativus L.) dan
Buah Pare (Momordica charantia L.) Sebagai Larvasida Nyamuk Culex
sp. Skripsi. Universitas Islam Negeri Mataram. Mataram.
SAS Institute., 1990. SAS/STAT User’s Guide, Version 6, fourth edition, Vol 2.
SAS Institut Inc, North Carolina.
Syamsul, Siswanto, E., Purwanto, E., 2014. Uji Aktivitas Perasan Buah
Mentimmun (Cucumis sativus L.) Sebagai Biolarvasida Terhadap Larva
Nyamuk Aedes aegypti. Jurnal Kimia Mulawarman. 11(2).
1000 gr bubuk
Tambahkan etanol 96 %
Bungkus botol dengan aluminium Foil
Campurkan bubuk
dan etanol
Filtrat
Rotary Evaporator
Crude Extract
Pengenceran
FTIR
42
2. Pembuatan Larutan
10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%
3. Insktisida
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
ULANGAN
PERLAKUAN TOTAL RATAAN
I II III
D 1039 686 1124 2849 950
Lampiran 3. Daftar sidik ragam waktu kematian ulat api Setothosea asigna
SK db JK KT F0 P0
KK 13.05382
44
2. Konsentrasi 20%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 20%
100V1 = 500 ml
V1 = 500
100
= 5 ml
3. Konsentrasi 30%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 30%
100V1 = 750 ml
V1 = 750
100
= 7.5 ml
4. Konsentrasi 40%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 40%
100V1 = 1000 ml
V1 = 1000
100
= 10 ml
5. Konsentrasi 50%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 50%
100V1 = 1250 ml
V1 = 1250
100
= 12.5 ml
51
6. Konsentrasi 60%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 60%
100V1 = 1500 ml
V1 = 1500
100
= 15 ml
7. Konsentrasi 70%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 70%
100V1 = 1750 ml
V1 = 1750
100
= 17.5 ml
8. Konsentrasi 80%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 80%
100V1 = 2000 ml
V1 = 2000
100
= 20 ml
9. Konsentrasi 90%
V1.M1 = V2.M2
V1. 100% = 25 ml . 90%
100V1 = 2250 ml
V1 = 2250
100
= 22.5 ml
52
Kabupaten Deli Serdang. Merupakan anak ke tiga dari tiga bersaudara dari
tahun 2011.
2014.
Agroteknologi.
iii