BUKU AJAR
VALUE ENGINEERING
MST81130
Ir. I Wayan Sudiasa., MT.
Made Sudiarsa, ST., MT
PROGRAM STUDI D4
MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BALI
2014
Value Engineering
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widi
Wasa/Tuhan yang Maha Esa atas anugrahNya Bahan Ajar ” Value Engineering”
ini dapat tersusun tepat pada waktunya.
Dengan menyadari sepenuhnya akan kebuthan buku ajar bagi mahasiswa Program
Studi Manajemen Proyek Konstruksi Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali,
khususnya pada bidang mata kuliah Value Engineering kami tim pengasuh mata
kuliah tersebut merasa berkewajiban untuk mewujudkannya, walaupun masih
dalam bentuk yang sangat sederhana dengan berbagai kelemahan dan keterbatasan
baik mengenai kedalaman isinya maupun dalam penyajiannya. Namun kami
merasa yakin buku ajar ini akan dapat membantu kemudahan dalam proses belajar
mengajar di lingkungan Program Studi Manajemen Proyek Konstruksi Jurusan
Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali baik bagi mahasiswa maupun bagi dosen
pengasuh mata kuliahnya.
Pada kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terimakasih kepada
semua pihak yang telah ikut membantu terwujudnya buku [Link] kami
berharap mudah-mudahan buku ajar ini dapat bermanfaat.
Demikianlah kami sampaikan, masukan serta saran sangat diharapkan
demi perbaikan isi buku ajar ini.
Denpasar, Nopember 2014
Penulis
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
i
Value Engineering
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Mengapa Menggunakan VE 1
1.2 Sejarah Perkembangan VE 3
1.2.1 Sejarah Value Engineering 3
1.2.2 Society of American Value Engineering (SAVE) 5
1.2.3 Perkembangan Value Engineering di Indonesia 8
1.3 Pengertian dan Definisi VE 7
1.3.1 Pengertian VE 7
1.3.2 Definisi VE 9
BAB II FUNGSI DAN NILAI
2.1 Fungsi 14
2.1.1 Mengklasifikasikan Fungsi-Fungsi 15
2.1.2 Analisa Fungsi 17
2.1.3 FAST 19
2.2 Nilai 21
2.3 Worth 23
2.4 Rasio Cost to Worth 24
2.5 Pemilihan Proyek Untuk Studi VE 26
2.5.1 Waktu untuk Aplikasi VE 27
2.5.2 Tahap Konsep Perencanaan 27
2.5.3 Tahap Akhir Perencanaan 29
2.5.4 Tahap Pelelangan dan Pelaksanaan 29
2.6 Data Studi VE 30
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
ii
Value Engineering
BAB III UNSUR-UNSUR UTAMA VE
3.1 Breakdown 32
3.2 Model Biaya 33
3.2.1 Model Biaya Permulaan 33
3.2.2 Model Biaya Nilai 34
3.2.3 Model Biaya Siklus Hidup 34
3.2.4 Hukum Pareto 34
3.2.5 Life Cycle Costing 36
3.3 Matrik Evaluasi 38
3.4 Kreatifitas 41
3.4.1 Latar Belakang 41
3.4.2 Tanda-tanda Individu Kreatif 42
BAB IV ESTIMASI NILAI
4.1 Pendahuluan 50
4.2 Estimasi Biaya 50
4.2.1 Sistem Estimasi 51
4.2.2 Metode Estimasi 52
4.2.3 Tahapan Estimasi 53
4.3 Hubungan VE dengan Program Estimasi Lainnya 55
4.4 Teknik Biaya dan Schedulling 57
4.5 Perencanaan Menurut Biaya 57
BAB V KEDUDUKAN KONSULTAN VE
5.1 Kedudukan Konsultan VE dalam Proyek 60
5.2 Mengelola Studi VE 63
5.3 Hubungan Pemilik, Perencana dan Team VE 64
BAB VI VE DAN PERENCANA
6.1 Pendahuluan 69
6.2 VE pada Tahap Perencanaan 70
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
iii
Value Engineering
6.3 VE pada Tahap Pelaksanaan 70
6.4 Kode Etik 71
6.5 Peranan Kontraktor dalam VE 71
6.6 Imbalan Jasa Konsultan VE 75
BAB VII RENCANA KERJA VE
7.1 Tahap Informasi 79
7.2 Tahap Spekulasi 82
7.3 Tahap Analisa 83
7.4 Tahap Pengembang 84
7.5 Tahap Rekomendasi 85
7.6 Tahap Presentasi 85
7.7 Tahap Implementasi 85
DAFTAR PUSTAKA
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
iv
Value Engineering
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Mengapa Menggunakan Value Engineering
Setiap orang tertarik untuk menghemat biaya, setiap orang berusaha
untuk mencari suatu investasi yang dapat menghasilkan pengembalian investasi
yang sebesar-besarnya. Ketika pertama kali value engineering study
diperkenalkan, tidak ada orang yang menduga bahwa penghematannya demikian
besar sehingga konsep dari value engineering ini berkembang dengan pesatnya.
Dalam usaha kita yang terus menerus mencari cara yang lebih baik guna
memerangi inflasi dan suku bunga yang tinggi, aplikasi value engineering pada
perencanaan dan pelaksanaan merupakan jawabannya.
Program Value Engineering “proven technique” yang dipakai untuk
mengatasi biaya yang tidak diperlukan. Sehatnya ekonomi dari suatu organisasi
adalah berkaitan dengan efisiensi penggunaan sumber daya yang tersedia. Kita
dihadapkan dengan bartambahnya kekhawatiran bahwa berbagai sumber daya
yang tersedia di dunia ini akan berkurang. Kita tidak lagi memiliki pilihan yang
tidak terbatas terhadap material-material jenis energi atau sumber-sumber tenaga
kerja.
Kenyataan menunjukkan bahwa tersedianya permodalan atau dana yang terbatas
terutama apabila kita mempertimbangkan biaya untuk peminjaman dana yang
selalu meningkat dan daya beli yang semakin menurun. Disamping kemajuan
teknologi yang sangat pesat, namun seringkali kita menemukan diri kita
menggunakan perencanaan dan metode pelaksanaan yang jauh tertinggal dengan
kemajuan teknologi.
Pemilik Proyek (apakah perorangan, perusahaan atau pemerintah) tidak
mampu membiayai kemewahan dari perencanaaan atau penampilan yang sama
sekali tidak menunjang tujuan dasar atau fungsi dari suatu item atau bagian
tertentu dari proyek tersebut. Kelebihan-kelebihan yang tidak diperlukan tersebut
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
1
Value Engineering
seringkali muncul dalam suatu perencanaan, mungkin karena perencananya terlalu
rajin atau karena kurangnya komunikasi antara pemilik proyek yang menentukan
kebutuhan-kebutuhannya dengan perencana untuk mewujudkan keinginan-
keinginan tersebut dalam gambar-gambar dan spesifikasi.
Untuk mencapai manfaat yang semaksimal mungkin dari sumber daya
yang terbatas, kita harus memanfaatkan sebisa mungkin satu-satunya sumber daya
yang tidak terbatas yaitu kemampuan kita untuk berfikir secara kreatif. Dengan
mengambil manfaat dari kemajuan teknologi dalam pemilihan material dan
metode pelaksanaan dan dengan mengaplikasikan kemampuan kreatif kita pada
setiap perencanaan, dalam batas-batas tertentu kita dapat mengatasi peningkatan
biaya konstruksi yang sangat pesat. Biaya-biaya konstruksi ini meningkat dengan
pesatnya pada dekade terakhir ini dan hampir setiap tahun peningkatan biaya ini
hampir melampaui tahun-tahun sebelumnya (Gambar 1-1).
Untuk memperoleh fasilitas-fasilitas yang kita perlukan sesuai dengan
dana-dana yang tersedia, kita harus menggunakan setiap kemungkinan untuk
mencapai fungsi yang diperlukan dengan biaya yang seminimal mungkin. Ini
sangat tepat dengan apa yang diusahakan untuk dicapai oleh value engineering
melalui pendekatan yang sistematik dan teroganisir.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
2
Value Engineering
Gambar 1.1 Trend Biaya Konstruksi
1.2 Sejarah Perkembangan Value Engineering
1.2.1 Sejarah Value Engineering
Value engineering methodology timbul pada waktu Perang Dunia II yaitu
antara tahun 1939 – 1945. Dalam periode tersebut, kebutuhan terhadap semua
logam (baja, tembaga, timah, nikel dan perunggu) meningkat, sebaliknya
persedian terbatas. Demikian pula dengan tenaga-tenaga kerja yang diperlukan
mengalami kekurangan persediaan. Lawrence Miles bapak dari Value
Analysis/Engineering yang merupakan purchasing engineering dari General
Electric Company pada waktu itu ditugaskan untuk menyiapkan pengadaan
material yang sangat vital bagi produksi turbochargers komponen-komponen
persenjataan untuk program pengembangan pesawat terbang. Sasaran
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
3
Value Engineering
meningkatnya produksi mengarahkan pada suatu pendekatan “Orientasi Hasil”
bagi General Electric terhadap usaha-usaha tersebut. Pengalaman Miles
menghadapi banyak kesulitan memperoleh peningkatan kebutuhan material untuk
peningkatan produksi. Semuanya ini memaksanya untuk kembali kepada
pemikiran terhadap konsep dasar dan ide : Apabila saya tidak dapat memperoleh
fungsi, bagaimana saya dapat menyediakan fungsi dengan menggunakan suatu
peralatan atau material yang tersedia”. Dengan pemikiran ini, alternatif
penyelesaian dikembangkan, dicoba dan diaplikasikan pada produksi untuk dapat
memenuhi waktu yang ditentukan. Jadi “fungsi” tampil sebagai pendekatan dasar
yang penting dalam penyelesaian berbagai problem. Miles menemukan hal ini
sebagai pengganti yang seringkali memberikan penampilan yang sama atau lebih
baik dengan biaya yang lebih rendah. “Pendekatan Fungsional” menjadi kunci
bagi permulaan keberhasilannya yang kemudian menjadi dasar dari teknik Value
Analysis.
Setelah perang berakhir, lebih lanjut Miles mengadakan pengetesan dan
menetapkan pendekatan fungsional sebagai suatu sistem Value Engineering
selanjutnya. Value Analysis telah dikembangkan dengan menelan biaya dan waktu
yang cukup besar, namun telah memberikan hasil yang cukup besar pula dalam
aplikasinya. Dengan cepat sistem ini tersebar di lingkungan industri produksi,
yang kemudian bernama “Value Engineering”.
Pada tahun 1954, Biro Perkapalan Angkatan Laut USA dengan bantuan
Miles dan staf yang telah dilatihnya mengimplementasikan untuk pertama kalinya
program Value Engineering dibidang procurement atau pengadaan.
Pada tahun 1963, Value Engineering dimanfaatkan di bidang industri
konstruksi, yaitu oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang selanjutnya
diikuti oleh departemen-departemen lainnya.
Pada tahun 1964, ketika Secretary Robert S. Mc Namara memperluas Cost
Reduction Program, maka pemerintah Amerika Serikat mulai memanfaatkan
keuntungan-keuntungan pengguna Value Engineering Program sebagai usaha
meningkatkan managemen..
Pada tahun 1972, Departement of Public Building Services
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
4
Value Engineering
mengembangkan Value Engineering secara luas, dimana ditentukan bahwa Value
Engineering Program merupakan keharusan bagi Construction Management
(CM) Services.
Pada tahun 1975, Enviromental Protection Agency (EPA) mengharuskan
pengguna Value Engineering.
Sedangkan perkembangan Value Engineering di beberapa negara adalah :
Jepang : mulai memperkenalkan Value Engineering pada tahun
1970, melalui Institute of Business and Management of
Tokyo.
Italia : mulai menggunakan Value Engineering pada tahun 1978,
melalui perusahaan yang bernama Chemint of Milan.
Kanada : mulai menggunakan Value Engineering pada tahun 1979,
melalui British Columbia Building Corporation dan
Departement of Public Works of Canada.
Australia : mulai menggunakan Value Engineering pada tahun 1979,
melalui perusahaan Brian Famerof Wool Worth, Inc dan
Mc. Lachlan Group of Sidney for Australian Mutual
Provident (AMP).
Value Engineering Analysis sekarang ini banyak dipraktekan bukan saja di
Amerika Serikat, akan tetapi juga di negara-negara lain seperti ; Jepang, India,
Afrika Selatan, Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, Kanada, Australia, Italia dan
lain-lain.
1.2.2. Society of American Value Engineering (SAVE)
Sejalan dengan berkembangnya peminat dalam Value Engineering
tentunya menimbulkan kebutuhan untuk mendirikan suatu jaringan komunikasi
diantara para peminatnya dan untuk memperoleh pengakuan dari konsep ini
sebagai suatu disiplin tersendiri. Society of American Value Engineering (SAVE)
telah lahir pada bulan Oktober tahun 1959. Dan pada saat ini SAVE telah
mempunyai anggota 1.500 orang yang tergabung dalam 41 cabang-cabang yang
tersebar diseluruh Amerika. Disamping itu terdapat juga anggota internasional
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
5
Value Engineering
yang berasal dari 51 negara serta organisasi-organisasi yang berafiliasi dari
berbagai benua. Sebegitu jauh Society of Japanese Value Engineering tersebar
dan paling aktif sehingga keanggotaan SAVE penting sekali bagi para Value
Practitioner dan bagi pihak-pihak yang tertarik dalam meningkatkan nilai dari
suatu produk dan pelayanan dalam industri konstruksi. SAVE juga mengeluarkan
sertifikat guna pengenalan dan peningkatan pengetahuan dan keahlian para
anggota-anggota yang memenuhi persyaratan dan kualifikasi sebagai Certified
Value Specialists.
Kecuali Value Specialists Programe, SAVE menerbitkan pula suatu
penerbitan secara periodik dan menyelenggarakan International Conference setiap
tahun. Aktivitas-aktivitas ini telah menghasilkan pengembangan dari Value
Methodelogy dalam dunia perindustrian dan telah memberikan pula peningkatan
produk dalam dunia industri konstruksi yang sangat besar sekali.
1.2.3 Perkembangan Value Engineering di Indonesia
Tahun 1985 Dr. Ir. Suriah Chandra memperkenalkan dan mempopulerkan
Value Engineering di Indonesia. Value Engineering mulai banyak dibahas setelah
keterbatasan dana pemerintah yang disebabkan resesi ekonomi yang
berkepanjangan.
Secara resmi pemakaian Value Engineering (VE) diakui oleh pemerintah
dan ditetapkan sebagai badan konsultansi tersendiri setelah BAPPENAS dan
Departemen Keuangan mengajukan Surat Keputusan Bersama tentang pemakaian
dan penerapan Value Engineering di Indonesia, melalui Surat Keputusan Direktur
Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum No. 290/KPTS/CK/1987
tertanggal 15 Juli 1987 tentang Pedoman Operasional Pelaksanaan Daftar Isisn
Proyek (DIP) Pembangunan Gedung Pemerintah dan Perumahan Dinas untuk
Tahun1987-1988.
Sebagai metode yang baru diperkenalkan, penggunaan Value Engineering
menimbulkan tanggapan positif maupun negatif. Hal-hal yang diperdebatkan
antara lain berkisar tentang keandalan teknik Value Engineering , struktur
organisasi proyek akibat masuknya konsultan Value Engineering, fee untuk
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
6
Value Engineering
konsultan Value Engineering, serta kapan waktu yang tepat untuk menerapkan
Value Engineering .
Departemen Pekerjaan Umum memasukkan model rekayasa teknik (value
enginering) dalam proses tender proyek konstruksi untuk mendapatkan
penghematan harga kontrak berdasarkan kualitas pekerjaan. Rekayasa teknik
(Value Engineering) adalah satu metode penghitungan biaya pekerjaan yang
menggunakan rumusan pragmatis dengan orientasi harga paling efisien, tapi tetap
dengan kualitas standar.
"Nantinya kontraktor akan diberi tahu basis harga terendah berdasarkan
perhitungan model rekayasa teknik termasuk standar kualitas pekerjaannya.
Dengan begitu akan didapatkan harga yang efisien, tapi bermutu dalam
pelaksanaan tender,"
Ketua Umum Himpunan Ahli Value Engineering Indonesia (HAVEI)
menyatakan Value Engineering merupakan pekerjaan profesional yang
memberikan kontribusi positif bagi perkembangan dunia konstruksi nasional.
1.3 Pengertian dan Definisi Value Engineering
1.3.1 Pengertian Value Engineering (VE).
Dalam perencanaan anggaran biaya suatu proyek bangunan dipengaruhi oleh
beberapa elemen pekerjaan dalam ilmu keteknik sipilan, diantaranya arsitektur,
struktur, mekanikal, elektrikal. Untuk mengetahui dan memperjelas penggunaan
value engineering dalam hubungannya dengan elemen pekerjaan tersebut dapat
kita lihat pada gambar 1.2 .
Gambar 1.2 menjelaskan bahwa biaya total bangunan dipengaruhi oleh berbagai
elemen pekerjaan, seperti arsitektur, sipil, mekanikal, elektrikal dan lain-lain.
Keputusan yang diambil dalam masing-masing elemen pekerjaan tersebut akan
mempengaruhi biaya baik didalam elemen tersebut maupun secara keseluruhan,
misalnya apabila terjadi pembengkakan biaya pada salah satu elemen, maka akan
mempengaruhi biaya total keseluruhan. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan
suatu metode yang dapat membuat biaya elemen tersebut menjadi optimal.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
7
Value Engineering
Metode tersebut dalam manajemen konstruksi disebut Value Engineering. Sebagai
contoh, dalam elemen arsitek perencanaan desain dan bahan yang dipakai untuk
membuat suatu bangunan tampak indah dan menarik, kadang-kadang dapat
membuat anggaran biayanya menjadi besar dan mempengaruhi biaya total proyek.
Oleh karena itu diperlukan suatu usaha pendekatan VE untuk merencanakan
penghematan biaya yang masih berpedoman pada desain utama.
Gambar 1.2 Berbagai Elemen Yang Mempengaruhi Perencanaan Biaya
Suatu Bangunan Gedung ( Dell’Isola, 1974 ).
Value Engineering (VE) adalah suatu metode analisa yang setiap langkahnya berorientasi
pada fungsi dan kegunaannya.
Pengertian selengkapnya mengenai Value Engineering (VE) yang berkaitan dengan
penggunaannya pada proyek konstruksi menurut Zimmerman dan Hart adalah :
a. A Multidisciplined Team Approach (Pendekatan tim multidispliner)
Yaitu suatu teknik penghematan biaya produksi yang melibatkan seluruh tim yang
terlibat dalam proyek yaitu pemilik, perencana dan para ahli yang berpengalaman
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
8
Value Engineering
dibidangnya. Jadi Value Engineering adalah kerja satu tim yang saling terkait,
bukan kerja perorangan
b. A Proven Management Techniqu e( Pembuktian Manajemen Teknik)
Yaitu suatu teknik penghematan yang sudah terbukti dan terjamin mampu
menghasilkan berbagai produk yang bermutu dan relatif murah pembaiyaannya.
c. An Oriented System (Berorientasi pada sistem)
Yaitu suatu teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi dan menghilangkan biaya-
biaya yang tidak perlu ( Unnecessary Cost ) dengan menggunakan tahapan tugas ( Job
Plan ).
d. An Oriented Function (Berorientasi pada fungsi)
Yaitu suatu teknik yang berorientasi pada fungsi-fungsi yang diperlukan pada setiap
item maupu sub item yang ditinjau untuk menghasilkan produk yang diinginkan.
e. Live Cycle Cost Oriented (Orientasi biaya siklus hidup)
Yaitu suatu teknik yang berorientasi pada biaya total yang diperlukan selama proses
produksi dan optimasi pengoperasian segala fasilitas pendukungnya.
1.3.2 Definisi Value Engineering
Ada beberapa ahli di dunia yang memberikan berbagai definisi dari Value
Engineering / VE yaitu :
Miles (1959) dalam Barruie dan Poulson (1984) mengatakan Value
engineering /rekayasa nilai adalah suatu sistem untuk mengidentifikasi dan
membuang faktor-faktor yang menyebabkan biaya-biaya dan usaha-usaha yang
tidak mendukung tujuan dan fungsi utama suatu proyek, proses atau jasa dengan
cara diberikan penilaian fungsi pada penampilan mutu, biaya dan sebagainya.
Menurut Suriah Chandra, Value engineering adalah suatu usaha yang
terorganisir yang diarahkan untuk menganalisa fungsi-fungsi suatu item maupun
sistem, yang bertujuan untuk mencapai fungsi-fungsi yang dikehendaki dengan
biaya total yang minimum, konsisten dengan persyaratan penampilan, keandalan,
kualitas dan pemeliharaannya
Menurut Zimmerman dan Hart dalam Hutabarat (1995) Value
Engineering/ rekayasa nilai adalah suatu teknik manajemen yang menggunakan
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
9
Value Engineering
pendekatan sistematis untuk mencapai keseimbangan fungsional terbaik antara
biaya, keandalan dan penampilan dari suatu sistem atau proyek.
Heller (1971) dalam Hutabarat (1995) juga menerangkan bahwa Value
Engineering / rekayasa nilai merupakan penerapan sistematis dari sejumlah teknik
untuk mengidentifikasikan fungsi-fungsi suatu benda dan jasa dengan memberi
nilai terhadap masing-masing fungsi yang ada serta mengembangkan sejumlah
alternatif yang memungkinkan tercapainya fungsi tersebut dengan biaya total
minimum.
Zimmerman dan Hart dalam Donomartono (1999) value engineering
adalah “a value study on a project or productthat is being developed. It analisys
the cost of the project as it is being designed”. Jadi value engineering adalah
suatu metode evaluasi yang menganalisa teknik dan nilai dari suatu proyek atau
produk yang melibatkan pemilik, perencana dan para ahli yang berpengalaman
dibidangnya masing- masing dengan pendekatan sistematis dan kreatif yang
bertujuan untuk menghasilkan mutu yang tetap dengan biaya serendah-rendahnya,
yaitu dengan batasan fungsional dan tahapan rencana tugas yang dapat
mengidentifikasi dan menghilangkan biaya serta usaha yang tidak
diperlukan/tidak mendukung.
Value engineering adalah suatu metode evaluasi yang menganalisa teknik
dan nilai dari suatu proyek atau produk yang melibatkan : pemilik, perencana dan
para ahli yang berpengalaman dibidangnya masing-masing dengan pendekatan
sistematis dan kreatif yang bertujuan utuk menghasilkan mutu dan biaya
serendah-rendahnya yaitu dengan batasan fungsional dan tahapan rencana tugas
yang dapat mengidentifikasi biaya-biaya dan usaha yang tidak diperlukan atau
kurang mendukung (Donomartono, 1999).
Definisi lain mengatakan bahwa Value Engineering adalah suatu
pendekatan sistematis untuk memperoleh hasil yang optimal dari setiap biaya
yang dikeluarkan dimana diperlukan suatu usaha kreatif untuk menganalisa fungsi
dengan menghapus atau memodifikasi penambahan harga yang tidak perlu dalam
proses pembiayaan konstruksi, operasi atau pelaksanaan, pemeliharaan,
pergantian alat dan lain-lain (Dell’Isola, 1974).
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
10
Value Engineering
Value Engineering ( VE ) adalah. suatu pendekatan bersifat kreatif dan
sistematis yang bertujuan mengurangi biaya-biaya yang tidak diperlukan. Biaya
yang tidak perlu ini adalah biaya yang tidak memberikan kualitas,
Dalam diktat ajar perkuliahan Universitas Negeri Semarang disebutkan
bahwa Aplikasi Value Engineering biasa digunakan pada tahap perencanaan
maupun pada tahap pelaksanaan.
a. Menurut Zimmerman dan Hart (1982) Value Engineering bukanlah suatu :
1. A Design Review
Yaitu mengoreksi kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh perencana atau
melakukan perhitungan ulang yang sudah dibuat oleh perencana.
2. A Cost Cutting Process
Yaitu proses menurunkan biaya dengan mengurangi biaya satuan serta
mengorbankan mutu, keandalan dan penampilan dari hasil produk yang
dihasilkan.
3. A Requirement Done All Design
Yaitu ketentuan yang harus ada pada setiap desain, akan tetapi lebih
berorientasi pada biaya sesungguhnya dan analisa fungsi.
4. Quality Control
Yaitu kontrol terhadap kualitas dari suatu produk karena lebih dari sekedar
meninjau ulang status keandalan sebuah desain.
b. Faktor-faktor yang diperlukan dalam penggunaan dari value engineering
(Tugino, 2004) :
1. Tersedianya data-data perencanaan
Data-data perencanaan di sini adalah data-data yang berhubungan
langsung dengan proses perencanaan sebuah bangunan yang dibangun dan
akan diadakan value engineering.
2. Biaya awal (Initial Cost)
Biaya awal disini adalah biaya yang dikeluarkan mulai dari awal
pembangunan sampai dengan pembangunan tersebut selesai dikerjakan
3. Persyaratan operasional dan perawatan
Dalam suatu value engineering juga harus mempertimbangkan nilai
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
11
Value Engineering
operasional dan perawatan dengan alternatif-alterantif yang disampaikan
melalui analisis value engineering dengan jangka waktu tertentu.
4. Ketersediaan material
Ketersediaan material disini adalah material yang digunakan sebagai
alternatif-alternatif dalam analisis value engineering suatu pembangunan
atau pekerjaan tiap item pekerjaan harus mempunyai kemudahan dalam
mencarinya dan tersedia dalam jumlah yang cukup di daerah proyek.
5. Penyesuaian terhadap standar.
Penyesuaian yang dimaksud disini adalah semua alternatif-alternatif yang
digunakan harus mempunyai standar dalam pembangunan baik akurasi
dimensi, maupun kwalitasnya.
6. Dampak terhadap pengguna
Dampak terhadap penggunaan di dalam value engineering suatu bangunan
harus mempunyai dampak positif kepada pengguna dari segi keamanan
maupun kenyamanan.
c. Karakteristik value engineering (Hutabarat,1995):
1. Berorientasi pada fungsi
Dalam value engineering mengidentifikasikan fungsi komponen yang
dibutuhkan.
2. Berorientasi pada sistem (sistematik)
Dalam mengidentifikasikan seluruh dimensi permasalahan (proses dan
biaya) saling melihat keterkaitan antara komponen-komponennya dan
menghilangkan biaya-biaya yang tidak perlu.
3. Multi disiplin ilmu
Melibatkan berbagai disiplin keahlihan karena semua dibahas didalam
value engineering yaitu value engineering itu sendiri,
4. Berorientasi pada siklus hidup produk
Melakukan analisis terhadap biaya total untuk memiliki dan
mengoperasionalkan fasilitas selama siklus hidupnya. Jika siklus hidup
pendek maka perlu mempertimbangkan apakah investasi yang dilakukan
akan menghasilkan keuntungan.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
12
Value Engineering
5. Pola pikir kreatif
Proses perancangan harus dapat mengidentifikasi alternatif-alternatif
pemecahan masalah sehingga akan banyak pilihan.
Sedangkan dalam mengidentifikasi biaya-biaya dan usaha-usaha yang
tidak perlu dalam penerapan Value Engineering tidaklah mudah, karena ada
beberapa faktor yang menyebabkan biaya dan usaha tersebut tidak terihat oleh
team (pemilik, perencana maupun pelaksana), diantaranya :
a. Terbatasnya waktu yang diberikan dalam proses perencanaan.
b. Kurangnya dan keterlambatan informasi.
c. Kekurangan kreatifitas dalam mengembangkan wawasan atau gagasan
baru.
d. Kurang tepatnya konsep yang dipakai.
e. Tidak memilih cara kerja yang efisien.
f. Masih belum cepat tanggap terhadap perubahan atau perkembangan.
g. Masih memiliki sifat kerja sendiri-sendiri antara perencana dan pemilik.
h. Tidak mau menerima saran.
i. Perubahan kebijaksanaan dan keadaan politik
j. Kurangnya penghargaan kepada pelaku kegiatan.
k. Hubungan masyarakat dan lingkungan yang kurang serasi .
BAB II
FUNGSI DAN NILAI
Dalam Value Engineering ini terdapat dua istilah penting yang nantinya
menjadi kunci pelaksanaan dalam rangka membuat suatu keputusan. Kedua istilah
tersebut adalah Fungsi dan Nilai.
2.1 Fungsi
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
13
Value Engineering
Fungsi, maksud spesifik atau penggunaan yang spesifik atau penggunaan
yang dikehendaki dari suatu bagian atau proyek adalah karakteristik yang
membuatnya bekerja atau terjual. Singkatnya yaitu mengapa pemilih, langganan
atau pemakai membeli suatu produk. Fungsi berhubungan dengan nilai
penggunaan (use value) atau bagian dan kualitas yang memberikan kepuasan dan
keandalan dalam penggunaannya.
Menurut Ir. Julianus H, MSIE (1995) fungsi adalah kegunaan atau manfaat
yang diberikan produk kepada pemakai untuk memenuhi suatu atau sekumpulan
kebutuhan tertentu.
Fungsi adalah langkah kritis yang dapat memberikan konsekuensi tidak
menguntungkan jika dihubungkan sembarangan.
Fungsi diidentifikasi dengan menggunakan deskripsi yang terdiri dari dua kata,
yaitu kata kerja dan kata benda. Kata kerja yang digunakan adalah kata kerja aktif
dan kata benda yang digunakan merupakan kata benda yang terukur.
Kata kerja menjawab pertanyaan “apa yang dikerjakan?” pertanyaan ini
memusatkan perhatian pada fungsi melainkan pada perencanaan dan memberikan
pengarahan tepat mengenai value engineering. Ini adalah permulaan yang radikal
dari usaha pengurangan biaya secara tradisional dimana pertanyaannya adalah apa
itu? Dan kemudian berkosentrasi pada pembuatan item yang sama yang lebih
rendah biayanya dengan menjawab pertanyaan “bagaimana kita menurunkan
biaya dari perencanaan ini?”. Usaha secara tradisional kurang memikirkan
pertimbangan fungsional atau kebutuhan pemakaiannya.
Setelah menjawab pertanyaan “apa yang dikerjakan?” dengan sebuah kata-
kata yang menentukan item itu menentukan tindakan lanjut sehingga terdapat
pertanyaan mengenai apa yang dikerjakan? Sehingga harus dijawab dengan kata
benda yang memberitahukan apa yang dikerjakan. Benda-benda tersebut harus
dapat diukur yang dilakukan pada proses evaluasi, suatu nilai tertentu yang
berhubungan dengan fungsi harus diberikan padanya. Suatu benda yang dapat
diukur bersama suatu kata kerja aktif memberikan penjelasan dari suatu fungsi
pekerjaan misalnya; menghemat energi, memindahkan muatan, mendukung atap
dan sebagainya.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
14
Value Engineering
Contoh :
Kata Kerja Kata Benda yang terukur
− Mendukung ( Support ) Bobot ( Weight )
− Mengumpulkan ( Collect ) Panas ( Heat )
− Menyalurkan ( Conduct ) Aliran ( Flow )
− Mengisolasi ( Insulate ) Arus Listrik ( Current )
− Melindungi ( Protect ) Tenaga ( Power )
− Mengeraskan ( Amplify ) Insulasi ( Insulation )
− Mengurangi ( Reduce ) Suara ( Sound )
2.1.1 Mengklasifikasikan Fungsi-Fungsi
Secara umu fungsi-fungsi dapat dibedakan menjadi dua yaitu fungsi primer dan
fungsi sekunder.
a. Fungsi Primer
Fungsi primer adalah dasar atau ketentuan yang diperlukan untuk
penampilan dari suatu item atau suatu produk dan menjawab pertanyaan
“apa yang harus dilakukan?”. Fungsi primer mempunyai nilai primer.
Suatu item dapat memiliki lebih dari satu fungsi primer. Ini ditentukan
oleh pertimbangan kebutuhan pemakainya.
Suatu dinding luar yang tidak menahan beban pada mulanya dapat
ditentukan fungsinya sebagai penutup ruangan. Namun analisa fungsional
lebih lanjut menentukan bahwa khusus untuk ini dua buah fungsi primer
yang lebih definitif dari yang tersebut diatas misalnya; melindungi ruangan
dan menutup interior. Kedua-duanya menjawab pertanyaan “apa yang
harus dikerjakan?”.
Fungsi dasar suatu produk/bangunan merupakan pekerjaan utama yang
harus dilaksanakannya.
b. Fungsi Sekunder
Fungsi sekunder untuk menjawab pertanyaan “apa yang dikerjakan?”
untuk kepentingan value engineering, semua fungsi sekunder mempunyai
nilai pemakaian nol. Fungsi sekunder adalah fungsi-fungsi penunjang yang
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
15
Value Engineering
biasanya merupakan hasil dari konfigurasi perencanaan tertentu. Pada
umumnya, fungsi-fungsi sekunder membebani biaya dan mungkin tidak
begitu penting bagi penampilan dari fungsi utama. Fungsi utama yang
memberikan nilai tinggi (kenikmatan, kepuasan dan penampilan) sebegitu
jauh hanya diperkenankan apabila diperlukan untuk perencanaan atau item
bekerja. Oleh karenanya, meskipun fungsi-fungsi sekunder mempunyai
nilai pakai nol, mereka kadang-kadang memainkan suatu bagian penting
dalam marketing atau penentuan dari perencanaan atau produk. Value
analyst diperlukan untuk menganalisa penampilan fungsional utama
berasal dari fungsi-fungsi sekunder yang tidak terlalu penting. Apabila
telah diketahui akan menjadi mudah untuk mengurangi dari fungsi-fungsi
sekunder, namun tetap memberikan penempilan yang diperlukan untuk
mengizinkan perencanaan. Value engineering berusaha untuk mengurangi
fungsi-fungsi sekunder sebanyak mungkin.
Tabel 3.1 Contoh Fungsi
No Uraian Kata Kerja Kata Banda Jenis Fungsi
1 Tiang pancang Mendukung Beban Primer
2 Galian Tanah Menyesuaikan Elevasi Sekunder
3 Urugan Kembali Menuup Lubang Sekunder
4 Lantai Kerja Meneruskan Kegiatan Sekunder
5 Pasangan Bt Kosong Meneruskan Beban Sekunder
6 Pilecap Meneruskan Beban Primer
7 Mobilisasi Memindahkan Alat Sekunder
8 Alat Pemancangan Membantu Pekerjaan Primer
9 Alat Bor Membantu Pekerjaan Primer
Contoh Soal :
Tentukan fungsi utama dari fungsi sekunder dari langit-langit accoustik, dimana
suatu item mepunyai lebih dari satu fungsi :
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
16
Value Engineering
Item Fungsi Tipe
Langit-
Menyerap suara Utama
langit
Accoustik Menutup langit-langit Sekunder
Melindungi langit-langit Sekunder
2.1.2 Analisa Fungsi
Pengertian analisa fungsi adalah suatu pendekatan untuk mendapatkan
suatu nilai tertentu, dalam hal ini fungsi merupakan karakterisitk produk atau
proyek yang membuat produk atau proyek dapat bekerja atau dijual.
Analisis fungsi merupakan basis utama di dalam value engineering karena analisis
inilah yang membedakan value engineering dari teknik-teknik penghematan
biaya lainnya.
Analisis ini membantu tim value engineering di dalam menentukan biaya
terendah yang diperlukan untuk melaksanakan fungsi-fungsi utama dan fungsi-
fungsi pendukung serta mengidentifikasi biaya-biaya yang dapat dikurangi atau
dihilangkan tanpa mempengaruhi kinerja atau kendala produk.
Adapun tujuan dari analisa fungsi ini adalah untuk :
a. Mengidentifikasikan fungsi - fungsi essensial ( sesuai dengan kebutuhan )
dan menghilangkan fungsi – fungsi yang tidak diperlukan.
b. Agar perancang dapat mengidentifikasikan komponen – komponen yang
dapat menghasilkan komponen – komponen yang diperlukan.
Menurut Miles (1961) dalam berfikir kreatif dari analisa fungsi akan
timbul suatu pertanyaan–pertanyaan yang dapat digambarkan atau umum
diaplikasikan sebagai berikut :
− Apa tujuan proyek itu ?
− Apa fungsinya ?
− Berapa biayanya ?
− Berapa biaya minimalnya ?
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
17
Value Engineering
− Apakah ada alternatif dengan jenis pekerjaan yang sama ?
− Apakah ada alternatif biaya ?
− Apadah fungsi – fungsi yang bisa dihilangkan sebagian ?
− Apakah yang bisa menyebabkan dihilangkan?
− Apakah dengan menggunakan itu mendukung nilai bangunan ?
Walau pertanyaan–pertanyaan diatas begitu sederhana, tetapi akan sulit
untuk dijawab dan butuh waktu yang lama untuk menjawab secara tepat dan benar
jika keadaan proyek termasuk dalam kategori proyek besar.
Kemudian setelah diketahui beberapa item permasalahan yang akan dikaji maka
langkah selanjutnya ditentukan perbandingan antara cost dan worth, dimana cost
adalah biaya yang harus dibayar untuk item pekerjaan tertentu ( diestimasikan
oleh perencana ) dan worth adalah biaya minimal untuk suatu item pekerjaan
tetapi fungsi pekerjaan tetap dipenuhi ( biaya rendah yang diperoleh setelah ide
diketemukan tetapi fungsinya tetap ).
2.1.3 FAST (Functional Analysis System Techniques)
Cara yang dianggap paling efektif didalam analisis fungsi Value
Engineering adalah dengan metode FAST. FAST adalah singkatan dari
Fungsional Analisa Sistem Teknik yang mana dikembangkan oleh Charles W.
Bytheway of Sperry Rand Cooporation dan diperkenalkan melalui makalah yang
disajikan pada National Conference of the Society of American Value Engineers.
FAST terutama dapat diaplikasikan pada suatu proyek secara total, program atau
proses yang terdiri dari tahap-tahap yang berhubungan dengan rangkaian-
rangkaian dari aktivitas-aktivitas.
Elemen-elemen dan penggunaan FAST
a. Logika
FAST adalah suatu metode untuk menstimulasi pemikiran secara teroganisir
tentang segala subyek dengan mengajukan pertanyaan yang memprofokasikan
pemikiran secara analitikal. Suatu pertanyaan-pertanyaan ini diawali dengan
kunci kata-kata bagaimana, mengapa, bilamana dan apa.
Fungsi-fungsi yang biasanya dinyatakan format kata kerja dan kata benda
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
18
Value Engineering
dipelajari dengan mengajukan pertanyaan tentang item itu dan menyusun
jawaban dalam bentuk diagram sehingga hubungan dari fungsi-fungsinya dapat
terlihat dengan jelas. Diagram ini disebut FAST diagram yang merupakan
suatu grafik yang mewakili logika fungsional yang dikembangkan secara
mendalam dengan melakukan penelitian-penelitian pada bagian yang sedang
dilakukan studi.
b. Penggunaan
FAST diagram dipergunakan untuk memahami permasalahan-permasalahan
dari pemakainya dalam usaha menentukan, menyederhanakan dan menjelaskan
hal-hal yang membatasi scope dari suatu masalah dan menentukan hubungan
antara fungsi-fungsi yang diperlukan guna menyediakan fasilitas produk atau
service.. Value analysts akan menemukan manfaat yang khusus dari
penggunaan FAST dalam penyelesaian masalah sebagi berikut :
• Membantu dalam mengorganisir daftar fungsi-fungsi diagram untuk
menentukan pertanyaan-pertanyaan kata kerja dan kata benda dalam
susunan yang benar.
• Membantu dalam menentukan fungsi-fungsi yang tidak ada dalam
daftar fungsi-fungsi.
• Membantu dalam menentukan fungsi dasar dan scope dari studi.
• Membantu dalam mengembangkan kreatifitas
• Memperkuat penyajian visual kepada decision makers
Beberapa istilah fungsi pada metode FAST, yaitu :
- Fungsi Utama
Fungsi bebas yang menggambarkan kegiatan utama yang harus
ditampilkan pada sistem.
- Fungsi Sekunder
Fungsi Ukuran (sekunder) Tergantung fungsi lain yang lebih tinggi
tingkatannya.
- Fungsi Jalur Kritis
Semua fungsi yang secara berurutan menggambarkan “Bagaimana
(How)” dan “Mengapa (Why)” dari fungsi lain pada urutan tersebut.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
19
Value Engineering
- Fungsi Tingkat Tinggi
Fungsi yang terletak di bagian paling kiri Diagram FAST.
Fungsi Dasar merupakan fungsi tingkat tinggi dalam batasan lingkup
masalah.
- Fungsi Tingkat Rendah
Fungsi yang terletak pada bagian paling kanan dari fungsi lain pada
diagram FAST.
Untuk lebih jelasnya metode FAST dapat dilihat pada gambar 2.5 yang
menjelaskan hubungan fungsi untuk kontruksu jembatan didasarkan atas fungsi
primernya yaitu untuk melewatkan lalulintas.
Gambar 2.5 Contoh Diagram FAST Fungsi struktur Jembatan
2.2 Nilai
Secara definitive, nilai adalah suatu ukuran yang mencerminkan seberapa
jauh kita menghargai hasil. Secara umum nilai akan diartikan dalam satuan uang
atau currency. Nilai akan selalu berkaitan dengan fungsi dari suatu produk,
dimana nilai akan mencapai maksimum saat fungsi utama akan mencapai nilai
biaya terkecil.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
20
Value Engineering
Dalam Value Engineering , nilai mempunyai arti ekonomi, dimana ada empat
macam tipe nilai yang mengandung arti ekonomi, yaitu:
a. Nilai Guna (Use Value),
Nilai yang mencerminkan seberapa besar kegunaan produk akibat
terpenuhinya suatu fungsi, dimana nilai ini tergantung dari sifat dan
kualitas produk.
b. Nilai Kebanggaan (Esteem Value),
Nilai yang menunjukkan seberapa besar kemampuan dari produk yang
dapat mendorong konsumen untuk memilikinya. Kemampuan ini
ditentukan oleh sifat-sifat khusus dari produk, seperti daya tarik,
keindahan, ataupun gengsi dari produk tersebut.
c. Nilai Tukar (Exchange Value),
Nilai yang menunjukkan seberapa besar konsumen mau berkorban atau
mengeluarkan biaya untuk mendapatkan produk tersebut.
d. Nilai Biaya (Cost Value),
Nilai yang menunjukkan seberapa besar biaya total yang diperlukan untuk
menghasilkan produk serta memenuhi semua fungsi yang diinginkan.
Sedangkan elemen-elemen biaya yang diperhitungkan dalam value engineering
meliputi (PBS, 1992) :
1. Biaya Awal (Initial Costs):
a. Biaya Bangunan/Produk (Item Cost):
Biaya untuk memproduksi atau membangun produk/bangunan yang
bersangkutan.
b. Biaya Pengembangan (Development Cost):
Biaya-biaya yang terkait dengan desain, pengujian, prototype, dan model.
c. Biaya Implementasi (Implementation Cost):
Biaya yang diantisipasi ada setelah gagasan disetujui, seperti: desain
ulang, inspeksi, pengujian, administrasi kontrak, pelatihan, dan
dokumentasi.
d. Biaya Lain-lain (Miscellaneous Cost):
Biaya yang tergantung dari produk/bangunan yang bersangkutan, termasuk
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
21
Value Engineering
biaya peralatan yang diadakan oleh pemilik, pendanaan, lisensi dan biaya
jasa (fee), dan pengeluaran sesaat lainnya
2. Biaya Tahunan (Annual Recurring Costs)
a. Biaya Operasi (Operation Cost):
Meliputi pengeluaran tahunan yang diperkirakan yang berhubungan
dengan produk/bangunan tersebut seperti untuk utilitas, bahan bakar,
perawatan, asuransi, pajak, biaya jasa (fee) lainnya, dan buruh.
b. Biaya Pemeliharaan (Maintenance Cost):
Meliputi pengeluaran tahunan untuk perawatan dan pemeliharaan
preventif terjadwal untuk suatu produk/bangunan agar tetap berada dalam
kondisi dapat dioperasikan.
c. Biaya-biaya Berulang Lainnya (Other Recurring Costs):
Meliputi biaya-biaya untuk penggunaan tahunan peralatan yang terkait
dengan suatu produk/bangunan dan juga biaya pendukung tahunan untuk
management overhead.
3. Biaya Tidak berulang (Nonrecurring Cost)
a. Biaya Perbaikan dan Penggantian (Repair and Replacement Cost):
Biaya yang diperkirakan atas dasar kerusakan dan penggantian yang
diprediksi dari komponen-komponen sistem utama, biaya-biaya perubahan
yang diprediksi untuk kategori-kategori ruang yang berhubungan dengan
frekuensi perpindahan, perbaikan modal yang diprediksi perlu untuk
pemenuhan standard sistem pada suatu waktu tertentu.
Biaya yang diperkirakan tersebut adalah untuk suatu tahun tertentu di masa
yang akan datang.
b. Nilai Sisa (Salvage):
Nilai sisa (salvage value) sering disebut sebagai residual value.
Nilai sisa merupakan nilai pasar atau nilai guna yang tersisa dari suatu
produk/bangunan pada akhir masa layanan.
2.3 Worth
Bagian yang paling sulit pada analisis fungsi adalah memperkirakan nilai
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
22
Value Engineering
kegunaan (worth) setiap subsistem atau komponen untuk membandingkannya
dengan biaya yang diperkirakan. Nilai kegunaan (worth) memberikan indikasi
nilai (value) artinya biaya terendah yang diperlukan untuk terlaksananya suatu
fungsi tertentu. Untuk itu tidak diperlukan ketelitian yang sangat besar.
Nilai kegunaan (worth) hanya digunakan sebagai suatu mekanisme untuk
mengidentifikasi wilayah-wilayah dengan potensi penghematan dan perbaikan
nilai (value) yang tinggi. Subsistem yang melaksanakan fungsi sekunder tidak
memiliki worth karena tidak berhubungan langsung dengan fungsi dasar.
Proses menentukan Worth
Fungsi di Individualize.
Memahami tentang fungsi tersebut secara lengkap.
Secara kreatif pikirkan cara lain fungsi ini dapat berjalan.
Hubungkan dan berikan harga perkiraan untuk itu.
Tambahkan Value dari beberapa fungsi untuk mendapatkan total Worth.
Hitung Value Index.
Contoh
2.4 Rasio Cost - to Worth
Sebagai bagian dari analisis fungsi, tim VE membandingkan rasio cost-to-worth
berbagai alternatif untuk keseluruhan fasilitas dan subsistemnya.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
23
Value Engineering
Rasio cost-to worth ini diperoleh dengan membagi biaya yang diperkirakan untuk
sistem atau subsistem dengan total worth untuk fungsi dasar sistem atau
subsistem.
Rasio cost-to-worth yang lebih besar daripada dua biasanya mengindikasikan
wilayah dimana terdapat potensi penghematan biaya dan perbaikan nilai (value).
Tingkat efisiensi dari suatu Value Engineering diukur dengan Value Index. ( VI ).
VI adalah perbandingan antara Cost dengan Worth
Sumber : Donomartono (1999)
Nilai cost / worth = ΣRp C / ΣRp W
Worth adalah biaya terendah untuk mencapai fungsi yang diperlukan.
Good Value apabila nilai VI =1
Contoh Analisis Fungsi Pekerjaan Pondasi
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
24
Value Engineering
Untuk kolom cost nilainya didapat dari biaya pekerjaan existing. Untuk kolom
worth 1 nilainya didapat dari biaya pekerjaan alternatif 1 atau dengan
menggunakan tiang pancang diameter 35 cm.
Untuk kolom worth 2 nilainya didapat dari pekerjaan alternatif 2 atau dengan
menggunakan fondasi sumuran.
Nilai cost/worth 1 = 376.756.695,25 / 364.849.044,50 = 1,03 dan cost/worth 2 =
376.756.695,25 / 412.101.804,50 = 0,91.
Nilai cost/worth berarti menunjukkan adanya penghematan atau tidak. Untuk
cost/worth 1 berarti menunjukkan pekerjaan alternatif 1 terdapat penghematan,
karena nilainya lebih dari 1. Untuk cost/worth 2 berarti menunjukkan pekerjaan
alternatif 2 tidak terdapat penghematan karena nilainya dibawah 1.
2.5 Pemilihan Proyek Untuk Studi VE
Terlepas apakah kita mencari suatu bangunan bertingkat tinggi yang besar
dan kompleks atau suatu bagian kecil dari pabrikasi yang terdiri dari berbagai
macam komponen, pada umumnya kita dihadapkan pada suatu kesulitan.
Kemajuan manusia telah berhasil menciptakan peningkatan struktur suatu
bangunan dan bagian kecil dari pabrikasi yang makin kompleks dan rumit yang
mana diharapkan akan menambah kualitas kehidupan. Jadi, bilamana suatu Value
Engineering Studi dimulai, analis langsung dihadapkan dengan pekerjaan untuk
memisahkan suatu kesatuan yang sulit dan rumit di dalam sub sistem memilih
bagian-bagian tertentu untuk studi dan meninggalkan yang lain. Terbatasnya
waktu dan tenaga tidak memungkinkan untuk melakukan studi secara
keseluruhan. Kita harus terlatih agar dengan cepat dapat menentukan bagian-
bagian yang mana mempunyai potensi yang besar untuk mengalami peningkatan.
2.5.1 Waktu untuk Mengaplikasikan Value Engineering
Secara umum siklus hidup dari proyek konstruksi (The Life Cycle of
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
25
Value Engineering
Construction Project) terdiri dari :
− Conception
− Development
− Design
− Construction
− Operation dan Maintenance
− Replacement
Secara teoritis, program Value Engineering dapat diaplikasikan setiap saat
sepanjang waktu berlangsungnya proyek tersebut. Dari awal selesainya
pelaksanaan pembangunan proyek tersebut, bahkan sampai pada tahap
penggantian (replacement). Seringkali proyek telah berjalan tanpa adanya Value
Study. Hal ont demikian ini seharusnya tidak terjadi, karena penting sekali bagi
Value Consultant untuk menjamin dan meyakinkan bahwa setiap proyek akan
dapat menghasilkan penghematan biaya melalui usaha Value Engineering. Lebih
praktis apabila Value Engineering dapat diaplikasikan pada saat tertentu dalam
tahap perencanaan untuk mencapai hasil yang maksimal.
Waktu merupakan hal yang penting, secara umum Value Engineering Program
harus dimulai sejak dini pada tahap konsep dan secara ontinue pada interval
sampai selesainya perencanaan.
2.5.2 Tahap Konsep Perencanaan
Aplikasi Value Engineering harus diusahakan pada tahap konsep
perencanaan, sebab pada saat ini kita mampu mendapatkan fleksibilitas yang
maksimal untuk mengadakan perubahan-perubahan tanpa menimbulkan biaya
tambahan untuk redesign. Dengan berkembangnya proses perencanaan, biaya
untuk mengadakan perubahan-perubahan akan bertambah, sampai akhirnya
mencapai suatu titik dimana tidak ada penghematan yang dicapai. Ini dapat dilihat
pada gambar 3.1 dimana penghematan yang berpotensi (potential savings) habis
ditelan oleh biaya untuk mengadakan perencanaan baru (redesigning), pemesanan
kembali (reordering) dan pembuatan schedule baru (rescheduling).
Pada Tahap Konsep Perencanaan (Consept Design Stage),
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
26
Value Engineering
Pemilik proyek menetapkan :
- Tujuan (Goals)
- Keperluan-keperluan (Requirements)
- Kriteria-kriteria yang bersangkutan (Applicable Criteria)
-
Perencana (Designer) menetapkan :
Objektif dari proyek dan kerangka biaya yang menjadi anggaran pembiayaan
untuk menetapkan batas-batas dari :
- Tujuan (Goals)
- Keperluan-keperluan (Requirements)
- Kriteria-kriteria yang bersangkutan (Applicable Criteria)
Suatu studi telah membuktikan bahwa Perencana (Designer) mempunyai
pengaruh yang besar pada biaya dari suatu proyek. Demikian pula Pemilik Proyek
yang menetapkan keperluan dan kriteria, mempunyai pengaruh yang cukup besar
terhadap biaya proyek. Pemilik Proyek dan Perencana telah menetapkan kurang
lebih 70 % dari biaya proyek tersebut pada akhir Tahap Konsep perencanaan ini.
Oleh karenanya, Value Engineering Study yang dilaksanakan pada tahap konsep
perencanaan mempunyai potensi yang mendasar untuk meningkatkan kualitas dan
menurunkan biaya.
Pada tahapan ini, Value Engineering Study dapat membantu Pemiliik Proyek
untuk :
- Menetapkan keperluan-keperluan yang sebenarnya (True Requirements) dari
proyek tersebut, yang mana memerlukan pengertian yang lengkap terhadap
fungsi utama (basic function) yang akan ditampilkan pada perencanaan.
- Koordinasi yang terpadu antara Value Engineering Specialist, Pemilik Proyek
dan Perencana meneliti secara mendalam, menyeluruh dan menyatakan dengan
tegas kebenaran dari semua keperluan-keperluan dan menghilangkan
kesimpangsiuran.
2.5.3 Tahap Akhir Perencanaan (Late Design Stage)
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
27
Value Engineering
Dengan kemajuan perencanaan dari konsep, programing schematic,
pengembangan (design development) sampai ke detail perencanaan (final design),
Value engineering perlu menyertai kemajuan perencanaan ini.
Terutama Value Engineering Analysis harus menyertai setiap penyerahan tahapan
penyerahan perencanaan itu agar dapat memberikan pengarahan kepada
Perencana dan menjamin bahwa pertimbangan dari segi nilai atau biaya telah
dikemukakan pada Pemilik Proyek guna mendapat perhatian dalam mengambil
keputusan. Minimum Value Engineering ini harus dilaksanakan pada tahap
pengembangan desain (design development stage) dan menyertai penyampaian
hasil dari tahapan pengembangan perencanaan ini.
Pada tahap ini hasil dari konsep perencanaan telah diputuskan bentuk dan
ukuran-ukuran yang mana memungkinkan untuk memberikan kepastian yang
lebih teliti dalam menentukan biaya-biaya dari sistem arsitektur dan struktur yang
akan digunakan. Selanjutnya Value Engineering Study ini dapat menguntungkan
untuk dilaksanakan pada akhir dari tahapan perencanaan (final design stage),
namun elemen-elemen yang dapat dirubah tanpa mengakibatkan pengunduran
waktu dan penambahan biaya untuk merubah perencanaan berkurang
dibandingkan dengan tahapan-tahapan sebelumnya yang sangat tergantung
dengan kesediaan time schedule dari proyek pada saat Value Engineering Study
akan dilaksanakan.
2.5.4 Tahap Pelelangan dan Pelaksanaan (Preconstruction-Construction
Stage)
Value Engineering Analysist dapat diaplikasikan pada tahap pelelangan
(Pre construction Stage) dan pada tahap pelaksanaan (Construction Stage).
Hal ini dapat terjadi dan dimungkinkan dalam situasi :
a. Apabila suatu item atau sistem telah diteliti oleh Value Engineering Study
pada tahapan sebelumnya, yang mana memerlukan penelitian lebih lanjut
sebelum diputuskan. Misalnya suatu item atau sistem telah diteliti oleh
Value Engineering Study pada tahap pengembangan perencanaan yang
memerlukan testing atau reserch sebelum diputuskan. Meskipun terjadi
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
28
Value Engineering
keterlambatan dengan proses yang demikian mungkin akan
menguntungkan untuk diteruskan apabila dapat memberikan potensi
penghematan biaya dan peningkatan kualitas yang sangat besar.
b. Apabila pada tahapan perencanaan belum diadakan Value Engineering
Analysis, maka Value Engineering yang dilaksanakan pada tahapan ini
dapat memberikan potensi penghematan biaya yang sangat besar.
c. Apabila Kontraktor meneliti suatu bidang pekerjaannya yang dapat
ditingkatkan kualitasnya dan menurunkan biayanya. Keadaan ini seringkali
terjadi bila perjanjian pemborongannya atau kontraknya terdapat pasal
Value Engineering Clause dimana Kontraktor dengan bantuan dari Value
Engineering Consultant akan mendapatkan pembagian dari penghematan
yang dapat dihasilkannya (saving sharing).
2.6 Data yang diperlukan untuk studi Value Engineering
Memilih data yang tersedia sebelum memulai studi Value Engineering /
nilai teknik merupakan hal yang penting, agar menghemat waktu dan tenaga.
Data-data ini umumnya diadakan oleh Value Manager dan diberikan pada tim
nilai teknik untuk studi sebelum pertemuan tim untuk yang pertama kalinya.
Hal-hal berikut yang diperlukan untuk Value Engineering/ nilai teknik:
a. Gambar-gambar terbaru pada saat studi dilakukan.
b. Spesifikasi teknis, ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang
berlaku dari pemilik proyek dan ketentuan-ketentuan
c. Besarnya biaya termasuk dana, harga satuan, perencanaan menurut biaya
yang tersedia dan estimasi terakhir
d. Informasi khusus seperti data historikal, status perencanaan, schedule,
ketentuan-ketentuan pemakai dan lain-lain
e. Orang-orang yang dapat diihubungi untuk memperoleh informasi,
petunjuk dan persetujuan
f. Volume yang diketahui atau pemakaian ulang dari perencanaan.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
29
Value Engineering
BAB III
UNSUR-UNSUR UTAMA VE
3.1 Breakdown
Menurut Dell’Isola (1974) breakdown adalah suatu analisis untuk
menggambarkan distribusi pemakaian biaya dari item-item pekerjaan suatu
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
30
Value Engineering
elemen bangunan. Jumlah biaya item pekerjaan tersebut kemudian
diperbandingkan dengan total biaya proyek untuk mendapatkan prosentase bobot
pekerjaan. Bila memiliki bobot pekerjaan besar, maka item pekerjaan tersebut
potensial untuk dianalisis VE. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.1.
Tabel 3.1 Breakdown
Tabel 3.1 dapat dijelaskan sebagai berikut :
• Pekerjaan A-F merupakan item-item pekerjaan dari suatu elemen bangunan
yang memiliki potensial untuk dilakukan VE. Item pekerjaan tersebut dipilih
karena memiliki biaya yang besar dari elemen pekerjaan yang lainnya.
• Untuk mengetahui item pekerjaan tersebut potensial untuk dilakukan VE
adalah dengan memperbandingkan jumlah item pekerjaan tersebut dengan
biaya total proyek. Bila memiliki prosentase besar, maka potensial dilakukan
VE.
• Setelah diidentifikasi, nantinya dipilih salah satu item pekerjaan A-F yang
memiliki potensial untuk dilakukan analisis VE. Selain memiliki biaya yang
besar, dalam memilih item pekerjaan dapat ditinjau dari segi bahan dan
desain yang nantinya dapat memunculkan berbagai macam alternatif
pengganti.
3.2 Model Biaya (Cost Model)
Dell’Isola (1974) mengatakan cost model adalah suatu model yang
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
31
Value Engineering
digunakan untuk mengambarkan distribusi biaya total suatu proyek.
Penggambarannya dapat berupa suatu bagan yang disusun dari atas ke bawah.
Bagian atas adalah jumlah biaya elemen bangunan dan dibawahnya merupakan
susunan biaya item pekerjaan dari elemen bangunan tersebut. Dengan cost model
dapat diketahui biaya total proyek secara keseluruhan dan dapat dilihat perbedaan
biaya tiap elemen bangunan. Perbedaan biaya tiap elemen bangunan tersebut
dapat dijadikan pedoman dalam menentukan item pekerjaan mana yang akan
dianalisis VE. Untuk lebih jelasnya cost model dapat dilihat pada gambar 3.2.
3.2.1 Model -Model Biaya Permulaan (Initial Cost Model)
Suatu standar sistem dapat dibuat biaya permulaan dari suatu bangunan,
struktur atau suatu bagian. Dengan menentukan ruangan dibawah setiap kolom,
memungkinkan untuk membandingkan biaya-biaya yang ditargetkan dan biaya-
biaya kenyataannyya. Biaya-biaya kenyataan tentu saja dapat merupakan estimasi
biaya-biaya terakhir yang mana mendekati kebenaran pada suatu tahapan dari
perencanaan dan berkali-kali akan berubah seiring dengan perkembangan dari
perencanaan tersebut. Jadi biaya kenyataan dapat menggambarkan harga-harga
penawaran dan dapat dibandingkan dengan estimasi biaya perencana.
3.2.2 Model-model Biaya Nilai (Cost-Worth Models)
Berdasarkan suatu standar model biaya permulaan, suatu perbandingan
dapat dibuat antara biaya dari suatu bagian dan nilai dari bagian-bagian tersebut
sesuai dengan evaluasi yyang dilakukan oleh Value Analyst. Nilai adalah suatu
penetapan kualitatif yang subyektif yang mana setiap orang akan mempunyai
pandangan yang berbeda-beda akan besarnya kesediaan untuk membayar untuk
suatu item.
Hal tersebut biasanya ditetapkan sebagai biaya terendah yang dapat diandalkan
untuk melakukan suatu fungsi. Tujuan dari Model Biaya Nilai adalah untuk
menentukan bagian-bagian yang mempunyai biaya yang melebihi pandangan
pengevaluasi terhadap nilainya. Bagian-bagian ini menjadi calon utama untuk
dilakukan penelitian terhadap Value Engineering lebih lanjut.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
32
Value Engineering
3.2.3 Model-model Biaya Siklus Hidup (Life Cycle Cost Models)
Biaya pemilikan seluruhnya sepanjang umur dari suatu proyek termasuk
biaya permulaan, biaya operasi, biaya penggunaan dana serta faktor-faktor lain
seperti; pajak, asuransi dan lain-lain. Semua ini dapat digambarkan dalam bentuk
Cost Models.
3.2.4 Hukum Pareto (Pareto’s Law)
Model-model biaya juga memungkinkan untuk menentukan bagian-
bagian dari perencanaan yang mana mengandung bagian-bagian terbesar dari
seluruh biaya. Menurut distribusi Hukum Pareto, 20 % dari bagian-bagian penting
dari suatu item akan merupakan 80% dari biayanya. Dengan menyusun urutan
elemen-elemen yang dimaksud dari biaya yang tertinggi ke biaya yang paling
rendah, kurva akan memperlihatkan bagian-bagian mana dari perencanaan akan
membentuk elemen-elemen dengan biaya yang besar, yang memungkinkan untuk
berkosentrasi lebih lanjut pada bagian-bagian yang kritis. Pareto pertama
menyampaikan hukumnya sebagai suatu hubungan antara pendapatan dengan
jumlah penerimaan, kemudian diaplikasikan dengan komponen biaya yang
berhubungan dengan produk dari industri.
Gambar 3.2 Cost Model Untuk Gedung Standar (Dell’Isola 1974)
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
33
Value Engineering
Gambar 3.2 menjelaskan suatu bagan cost model yang menggambarkan
distribusi perencanaan biaya suatu proyek gedung standar. Biaya total proyek
diperoleh dari penjumlahan elemen bangunan, seperti arsitek, mekanikal,
elektrikal dan lain-lain seperti pada gambar. Biaya elemen bangunan merupakan
penjumlahan dari item-item pekerjaan yang terdapat dalam elemen tersebut,
seperti pada elemen mekanikal terdapat item pekerjaan pemipaan, HC, pemadam
kebakaran. Untuk bagan dengan garis utuh/ ideal cost adalah biaya perencanaan
awal dan merupakan rencana anggaran biaya proyek, sedangkan pada bagan
dengan garis putus-putus/ aktual worth merupakan rencana anggaranm biaya
setelah dilakukan analisis VE. Nantinya dapat dilihat perbedaan antara biaya
perencanaan awal proyek dengan biaya proyek yang dilakukan analisis VE.
3.2.5 Life Cycle Costing (Pembiayaan Siklus Hidup)
Semua investor dan Pemilik Proyek ingin mengetahui biaya pemilikan
dan biaya operasi seluruhnya yang harus dikeluarkan. Keinginan untuk
mengetahui biaya seluruhnya sepanjang berlangsungnya siklus hidup dari proyek
tersebut terus meningkat baik pada sektor pemerintahan maupun swasta.
Ini meliputi suatu estimasi biaya konstruksi dan forecast, biaya energi, pajak-
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
34
Value Engineering
pajak, pemeliharaan, penggunaan dana yang mana perlu diketahui bahwa
perencana mempunyai bagian yang terkecil pada pembagian ini. Pada gambar di
bawah ini menunjukan keputusan dari pihak-pihak yang mempunyai pengaruh
terbesar pada biaya. Apabila daerah dibawah setiap bagian kurva menunjukan
pengaruh pada biaya akan terlihat perencana mempunyai bagian yang paling
besar.
Kontraktor hanya dapat melaksanakan pekerjaannya dalam batas-batas
yang sesuai dengan kontraknya. Setelah perencanaannya selesai, ia akan
mempunyai pengaruh kecil pada seluruh biaya proyek.
Bagian operasi dan pemeliharaannya mempunyai pengaruh lebih kecil, meskipun
jumlah biaya yang dikeluarkan dari fasilitas lebih besar dari biaya yang
dikeluarkan untuk perencanaan. Perencanaan yang baik mempunyai nilai setiap
sen dari biayanya. Studi telah menunjukan bahwa biaya pemilikan total Life Cycle
Costing ditetapkan pada saat ini yaitu pada tahap program oleh Pemilik Proyek
dan Perencana.
Departemen Pertahanan USA menyatakan bahwa 70% dari Life Cycle Costing
telah ditetapkan pada tahap konsep, 85% ditetapkan pada saat perencanaan telah
mencapai tahap skematik dan 95% ditetapkan pada tahap design development
Menurut Pujawan (1995) life cycle cost dalam suatu item adalah jumlah
semua pengeluaran yang berkaitan dengan item tersebut sejak dirancang sampai
tidak terpakai lagi. Untuk mencapai total biaya yang optimal dari suatu proyek
untuk waktu tertentu diperlukan studi value engineering pada bidang kontruksi
dengan metode sistematis, agar total biaya dapat dipertanggungjawabkan dari
pekerjaan kontruksi, operasional, pemeliharaan dan penggantian alat/barang di
dalam suatu sistem periode yang disebut cost of life cycle (Donomartono, 1999),
seperti tergambar dibawah ini.
Gambar 3.3 Distribusi Biaya Total
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
35
Value Engineering
Gambar 3.3 menjelaskan total biaya keseluruhan yang dikeluarkan untuk
sebuah proyek. Untuk biaya inisial adalah pembiayaan untuk pembangunan
proyek tersebut, seperti biaya perencanaan, biaya konstruksi/ pelaksanaan, biaya
supplier (material). Untuk biaya operasi, pemeliharaan dan pergantian merupakan
pembiayaan yang dikeluarkan setelah proyek tersebut selesai dan bangunannya
sudah digunakan/ dipakai. Perencanaan pembiayaannya berdasarkan umur
rencana proyek yang ditentukan.
Life cycle cost biasa dipakai sebagai alat bantu dalam analisa ekonomi untuk
mencari alternatif-alternatif berbagai kemungkinan dalam pengambilan keputusan
dan menggambarkan nilai sekarang dan nilai akan datang dari suatu proyek
selama umur manfaat proyek itu sendiri
dengan memperhatikan faktor ekonomi dan moneter yang saling dependen satu
sama lainnya.
Menurut Pujawan (1995), biaya siklus hidup didefinisikan sebagai
kombinasi 3 (tiga) hal yaitu :
a. Biaya awal
Biaya awal dari suatu item pembangunan merupakan investasi awal yang
dibutuhkan untuk mengadakaan pembangunan item tersebut dan tidak
akan diulang selama masa pakainya.
b. Biaya operasional dan perawatan
Biaya operasional dan perawatan adalah biaya-biaya yang senantiasa
berulang-ulang yang diperlukan untuk operasional dan merawat item
bangunan tersebut selama masa pakainya, dan biasanya dinyatakan
pertahun.
c. Biaya disposisi
Biaya disposisi terjadi apabila siklus hidup suatu item bangunan berakhir
masa pakainya sehingga biaya disposisi berada di akhir siklus hidup.
Dalam analisa ekonomi menggunakan cara yang disebut life cycle cost, di mana
life cycle cost sebagai alat bantu dalam mencari alternatif-alternatif berbagai
kemungkinan dalam pengambilan keputusan dan menggambarkan nilai sekarang
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
36
Value Engineering
dan nilai yang akan datang dari suatu proyek pembangunan selama umur manfaat
proyek itu sendiri.
3.3 Matrik Evaluasi dengan Analisa Perangkingan
Analisa perangkingan ialah suatu cara yang digunakan dalam perekayasaan
untuk mengkaji lebih dalam semua alternatif yang dihadirkan baik secara
kualitatif atau kuantitatif.
Dalam analisa perangkingan dilakukan dengan 2 (dua) cara yang disajikan saling
berkaitan yaitu :
1. Perangkingan Metode Zero – One
2. Penilaian Akhir alternatif dan existing (Pembobotan)
3.3.1 Perangkingan Metode Zero – One
Sebelum kegiatan penilaian dilakukan maka terlebih dahulu ditentukan
kriteria yang menjadi dasar penilaian untuk semua alternatif. Dengan dihitung
bobot sementara untuk masing-masing alternatif tersebut. Penghitungan bobot
alternatif ini didasarkan atas rumus dalam (Julianus, 1995) :
AngkaRangkingyangDimiliki
= X 100
JumlahAngkaRangking
Untuk penentuan angka rangking dilakukan dengan cara terbalik tergantung
jumlah fungsi yang dihadirkan dan perangkingan diberi nilai yang tertinggi untuk
fungsi yang diprioritaskan (tabel 3.1).
Tabel 3.1 Kriteria Fungsi Alternatif
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
37
Value Engineering
Kemudian setelah didapatkan angka bobot diatas maka dilakukan analisa
selanjutnya yaitu dengan metode Zero-One. Menurut Ir. Julianus H, MSIE (1995)
metode Zero-One adalah salah satu cara pengambilan keputusan yang bertujuan
untuk menentukan urutan prioritas fungsi – fungsi (Kriteria).
Prinsip metode ini adalah menentukan relativitas suatu fungsi “lebih penting” atau
“kurang penting” terhadap fungsi lainnya. Fungsi yang “lebih penting” diberi nilai
satu (One), sedangkan nilai yang “kurang penting” diberi nilai nol (Zero) (tabel
3.2). Kemudian dengan menghadirkan referensi perbandingan maka akhirnya
didapatkan indeks untuk masing-masing kriteria yang nantinya menjadi parameter
perhitungan dalam penentuan nilai pengambilan keputusan untuk masing-masing
alternatif berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Keuntungan metode ini
adalah mudah dimengerti dan pelaksanaannya cepat dan mudah.
Preferensi alternatif untuk kriteria biaya adalah sebagai berikut ;
− Alternatif Preferensi
− A A>B:A>C
− B B<A:B>C
− C C<A:C<B
Preferensi alternatif untuk kriteria mudah adalah sebagai berikut dst ;
− Alternatif Preferensi
− A A>B:A>C
− B B<A:B>C
− C C<A:C<B
Tabel 3.2 Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi 1 (biaya)
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
38
Value Engineering
Cara pelaksanaan metode zero-one ini adalah dengan mengumpulkan
fungsi-fungsi yang tingkatannya sama, kemudian disusun dalam suatu matriks
zero–one yang berbentuk bujursangkar. Kemudian dilakukan penilaian
fungsifungsi secara berpasangan, sehingga ada matriks akan terisi x. Nilai-nilai
pada matriks ini kemudian dijumlah menurut baris dan dikumpulkan pada kolom
jumlah.
Sebagai contoh untuk matriks diatas pada baris 1 kolom 2 bernilai 1, artinya
fungsi A lebih penting dari fungsi B. Sebaiknya baris 2 kolom 1 bernilai 0. Dari
matriks diatas diperoleh urutan prioritas adalah A, B,dan C (berdasarkan jumlah
nilai).
Akhirnya pemakaian metode zero-one ini digunakan secara terus menerus untuk
semua alternatif terhadap fungsi yang dimilikinya hingga diketahui nilai
indeksnya.
3.3.2 Penilaian Akhir alternatif dan existing (Pembobotan)
Kemudian setelah diperoleh nilai indeks dan bobot sementara dari semua
kriteria untuk alternatif yang dipakai maka dilakukan pembobotan akhir dengan
matrik evaluasi. Bagian dari metode ini yaitu untuk mengetahui nilai prioritas dari
suatu item yang dihadirkan adalah dengan metode penilaian alternatif dan
Existing.
Seperti halnya contoh di bawah ini dalam tabel yaitu :
Tabel 3.3 Penilaian Exiting dan Alternatif yang Muncul
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
39
Value Engineering
Dari tabel diatas nilai dari x didapat dengan hasil perkalian indeks dengan
bobot sementara. Dan hasil total dari total (Σx) menjadi bobot kesemuanya
alternatif yang berfungsi menjadi suatu alat untuk mengambil keputusan yang
dapat menggabungkan kriteria kualitatif (tak dapat diukur) dan kriteria kuantitatif
(dapat diukur).
Selain itu dengan adanya pembobotan dengan cara perbandingan nilai existing dan
alternatif nanti bertujuan agar pembaca tahu bahwa dalam penganalisaan VE
untuk suatu pembangunan konstruksi dengan menghadirkan alternatif-alternatif
tertentu ternyata mempunyai tingkat kelemahan ataupun kelebihan yang berbeda
dilihat dalam segi yang lain.
3.4 Kreatiifitas
3.4.1 Latar Belakang
Bahan dasar dari kreativitas adalah imajinasi, pengetahuan dan inovasi.
Kita semua memiliki kreativitas dengan kemampuan yang berbeda-beda. Semakin
tinggi kemampuan dalam menentukan cara terbaik dalam melayani kebutuhan
manusia. Imajinasi berdasarkan pengetahuan adalah hal yang utama dari inovasi
dan merupakan jalan dari pemecahan permasalahan yang ada. Kemampuan
menciptakan ditingkatkan melalui penerapan dan latihan.
Mencipta adalah memproduksi kerja dari pikiran atau imajinasi, mengadakan
sesuatu serta membuat yang tidak ada menjadi ada.
Sifat kreatif adalah sifat dari pemikiran manusia yang menunjukan kemampuan
untuk memproduksi hal-hal yang baru, unik dan inovatif dalam menyelesaikan
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
40
Value Engineering
permasalahan.
Kreativitas merupakan pengembangan dari gagasan baru yang dapat memenuhi
kebutuhan manusia yang dinyatakan atau dirasakan. Kreativitas harus dapat
menghasilkan gagasan yang berguna. Selain itu kreativitas proses pengenalan
sebuah masalah yang dahulu tidak diketahui atau pengenalan dari suatu
pemecahan dari setiap persoalan.
3.4.2 Tanda-tanda Individu Kreatif
Tanda-tanda dari individu yang kreatif adalah :
a. Sensitif terhadap masalah yang ada , mempunyai kemampuan untuk
melihat, mempunyai rasa ingin tahu, selalu bertanya dan menghargai
orang lain.
b. Mampu menghasilkan gagasan untuk menahan diri dari prasangka.
c. Fleksibilitas artinya dapat mempengaruhi cara-cara atau pendekatan,
sanggup menyatakan hipotesis yang ganjil.
d. Orisinil artinya mempunyai kemampuan untuk mengkaitkan gagasan-
gagasan atau hal-hal yang tidak berhubungan sehingga menghasilkan
pemecahan yang baru.
e. Ketidakpuasan yang konstruktif.
f. Imajinasi lebih penting dari pengetahuan.
g. Pengetahuan fundamental baik pengetahuan hukum, konsep dasar banyak
membaca dan memiliki pemikiran yang luas.
h. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
i. Percaya pada diri sendiri.
j. Memiliki motivasi menuju kemampuan yang kreatif.
k. Lingkungan yang baik sehingga dapat menimbulkan gagasan-gagasan
baru.
l. Keseimbangan emosi
Contoh Kasus
Kasus 1
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
41
Value Engineering
Analisa perangkingan untuk pekerjaan pondasi beberapa alternatif pemakaian
pondasi tiang pancang dengan mutu yang sama akan tetapi dengan dimensi tiang
yang bervariasi yaitu tiang silinder dengan diameter 300, diameter 350, dan tiang
persegi dimensi 20 x 20.
Jawab.
a. Penilaian Bobot Sementara
Keterangan : perhitungan bobot menggunakan rumus
Kemudian setelah diketahui bobot, maka dilakukan penganalisaan untuk semua
kriteria yang berfungsi dengan dimunculkan preferensi dari penyaji sebagai acuan
kepentingan dan kekurangpentingan masing-masing alternatif.
Preferensi alternatif untuk kriteria Penghematan Biaya (A) adalah sebagai
berikut ;
Alternatif Preferensi Keterangan
• 20 x 20 (I) I > II : I > III Alt I lebih baik dari Alt II &
III
• Ø300 (II) II < I : II > III Alt II lebih baik dari III
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
42
Value Engineering
• Ø 350 (III) III < I : III < II Alt I Kurang baik dari Alt I &
II
Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi A (Penghematan biaya)
Preferensi alternatif untuk kriteria Kualitas (B) adalah sebagai berikut ;
Alternatif Preferensi Keterangan
• 20 x 20 (I) I = II : I = III Alt I sama dengan Alt II & III
• Ø300 (II) II = I : II = III Alt II sama dengan Alt I & III
• Ø 350 (III) III = I : III = II Alt III sama dengan Alt I & II
Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi B (Kualitas)
Preferensi alternatif untuk kriteria Waktu (C) adalah sebagai berikut ;
Alternatif Preferensi Keterangan
• 20 x 20 (I) I < II : I < III Alt I kurang baik dari Alt II & III
• Ø300 (II) II > I : II > III Alt II lebih baik dari Alt II & III
• Ø 350 (III) III > I : III < II Alt I lebih baik dari Alt I & II
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
43
Value Engineering
Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi C (Waktu)
Preferensi alternatif untuk kriteria Pelaksanaan (D) adalah sebagai berikut ;
Alternatif Preferensi Keterangan
• I I > II : I > III Alt I lebih baik dari Alt II & III
• II II < I : II > III Alt II kurang baik dari Alt I
• III III < I : III < II Alt III kurang baik dari Alt I & II
Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi D (Pelaksanaan)
b. Penganalisaan metode Zero-One
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
44
Value Engineering
Pada tahap penganalisaan rangking digunakan perangkingan dengan metode
matrik evaluasi (lihat tabel 4.14). sehingga dari hasil analisa dapat diketahui
bahwa alternatif I yaitu penggunaan tiang pancang dengan dimensi 20x20
mempunyai keunggulan bobot total 43.34 dibandingkan dengan alternatif yang
lain yaitu penggunaan tiang pancang silinder dengan diameter 300 (II)
mempunyai bobot 39.96 dan 350 (III) dengan bobot 16.67.
Nilai bobot tersebut didapatkan berdasarkan kriteria penghematan biaya, kualitas
yang baik, efektifitas waktu dan kemudahan pelaksanaan dengan penggunaan
tenaga yang lebih sedikit. Dengan analisa rangking ini, nilai yang dihasilkan akan
menjadi nilai kelayakan penggunaan alternatif yang dikembangkan berdasarkan
parameter dalam sistem pekerjaan tersebut.
Kasus 2
Analisa perangkingan untuk pekerjaan balok beberapa alternatif pemakaian mutu
beton yang berbeda yaitu K 225, K 250 dan K 300.
Jawab
a. Penilaian Bobot Sementara
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
45
Value Engineering
Kemudian setelah diketahui bobot, maka dilakukan penganalisaan untuk semua
kriteria yang berfungsi dengan dimunculkan preferensi dari penyaji sebagai acuan
kepentingan dan kekurangpentingan masing-masing alternatif.
Preferensi alternatif untuk kriteria Penghematan Biaya (A) adalah sebagai
berikut;
Alternatif Preferensi Keterangan
• K 225 (I) (I) > (II) : (I) > (III) Alt I Lebih baik dari Alt II &III
• K 250 (II) (II) < (I) : (II) > (III) Alt II kurang baik dari Alt I
• K 300 (III) (III) < (I) : (III) < (II) Alt III kurang baik dari Alt I & II
Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi A (Penghematan biaya)
Preferensi alternatif untuk kriteria Kualitas (B) adalah sebagai berikut ;
Alternatif Preferensi Keterangan
• K 225 (I) (I) < (II) : (I) < (III) Alt I kurang baik dari Alt II
&III
• K 250 (II) (II) > (I) : (II) < (III) Alt II Lebih baik dari Alt I
• K 300 (III) (III) > (I) : (III) > (II) Alt III kurang baik dari Alt I &
II
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
46
Value Engineering
•
Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi B (Kualitas)
Preferensi alternatif untuk kriteria Finishing (C) adalah sebagai berikut ;
Alternatif Preferensi Keterangan
• K 225 (I) (I) = (II) : (I) = (III) Alt I sama dengan Alt II &
III
• K 250 (II) (II) = (I) : (II) = (III) Alt I sama dengan Alt II &
III
• K 300 (III) (III) = (I) : (III) = (II) Alt I sama dengan Alt II &
III
Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi C (Waktu)
Preferensi alternatif untuk kriteria Kemudahan Pelaksanaan/pembuatan (D)
adalah sebagai berikut ;
Alternatif Preferensi Keterangan
• I I > II : I > III Alt I lebih baik dari Alt II & III
• II II < I : II > III Alt II Kurang baik dari Alt I
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
47
Value Engineering
• III III < I : III < II Alt III Kurang baik dari Alt I &
II
Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi D (Pelaksanaan)
b. Penganalisaan metode Zero-One
Pada tahap penganalisaan rangking digunakan perangkingan dengan
metode matrik evaluasi sehingga dari hasil analisa dapat diketahui bahwa
alternatif I yaitu penggunaan beton dengan mutu K 225 mempunyai keunggulan
bobot total 43.34 dibandingkan dengan alternatif yang lain yaitu penggunaan
beton dengan mutu K 250 (II) mempunyai bobot 39.96 dan K 300 (III) dengan
bobot 16.67.
BAB IV
ESTIMASI NILAI
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
48
Value Engineering
4.1. Pendahuluan
Apabila progres pekerjaan berkembang dimana penyelesaiannya tidak
sesuai manfaatnya, maka biaya dan waktu yang diperlukan untuk mengadakan
perubahan-perubahan menjadi bertambah. Jika pada suatu titik dimana biaya yang
diperlukan untuk mengadakan perubahan melampaui manfaat yang diperoleh
sehingga aplikasi aplikasi metodelogi value engeneeirng pada tahapan ini menjadi
sangat penting. Pada tahap ini studi value engeneeirng dapat digunakan sebagai
pedoman bagi tim perencana dan tidak ada waktu yang hilang akibat permulaan
yang kurang tepat. Value engeneeirng mendapatkan nilai terbaik dengan cara
mempelajari ketentuan-ketentuan yang diperlukan dalam perencanaan,
menentukan fungsi utama, mengeliminasi bagian-bagian yang tidak diperlukan,
mengembangkan alternatif penyelesaian dan menentukan siklus hidup. Dengan
memiliki biaya-biaya tersebut, perencanaan yang optimal dapat dipilih.
4.2 Estimasi Biaya
Sesuai dengan penjelasan J.J. O’Brien bahwa “Harga adalah ukuran
prinsip dalam analisa nilai. Tanpa harga sebagai perbandingan, analisa nilai akan
menjadi subyektif dan konsekuensi potensi sepenuhnya akan berkurang”.Perlu
ditentukan setiap alternatif nilai menjadi estimasi tertentu yang dapat
dibandingkan dengan perencanaan yang sebenarnya. Namun pada tahap
perencanaan awal, potensi penghematan adalah maksimum, banyak bagian yang
diestimasi belum jelas. Hanya setelah perencanaan berjalan semuanya
ditentukan dengan jelas dan tergambar dengan skala, sehingga estimator akan
dapat menentukannya dengan mudah . Akan tetapi pada saat ini sudah terlambat
untuk merubah dan beberapa alternatif nilai harus dikesampingkan. Oleh
karenanya, kita harus mencari metode analisis nilai untuk memperoleh harga-
harga pada tahapan awal dari suatu proyek.
4.2.1 Sistem Estimasi
Suatu standar sistem atau kerangka kerja untuk pengumpulan biaya-biaya
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
49
Value Engineering
adalah penting. Komunikasi diantara anggota perencana, supllier, pelaksana
menjadi lebih mudah dan kesalahan-kesalahan dapat dikurangi apabila adanya
standar sistem harga tetapi kenyataannya estimasi biaya dengan komputer
memerlukan standarisasi. Banyak sistem telah dikembangkan dibawah dukungan
dari organisasi teknik. Salah satu sistem yang dapat dipakai adalah 16 Divisi
Uniform Construction Index (UCI) yang telah diperbaharui dan diberi nama
“Master Format” pararel dengan Format Construction Specification Institute
(CSI). Sistem UCI menitikberatkan pada produk dan material yang pemakaiannya
sulit pada tahap awal dari perencanaan. Untuk beberapa tahun lamanya manager
yang terlibat dalam pengendalian biaya konstruksi pada tahap perencanaan telah
mengakui sistem UCI dan mengembangkan sistem ini berdasarkan elemen-
elemen dari suatu struktur pada material-material dasar. Pendekatan ini
memisahkan suatu komponen bangunan menjadi bagian-bagian fungsional,
elemen-elemen atau subsistem.
Sehubungan dengan kurang maksimalnya UCI, GSA (General Services
Administration), pada tahun 1973 mengeluarkan draft outline dari Uniform
Building Component Format (UNIFORMAT). Sejalan dengan GSA, American
Insitute of Architects (AIA) mulai mengembangkan MASTER COST SYSTEM
yang merupakan suatu bank data harga bangunan nasional. Karena kedua
program tersebut hampir sama, GSA dan AIA menggabungkan sistem dari
UNIFORMAT dan MASTER COST. Dari kedua format tersebut, UNIFORMAT
memberikan harga kelayakan yang lebih besar bagi analisa nilai.
4.2.2 Metode Estimasi
Proses estimasi berbeda-beda dari industri yang satu ke industri yang lain,
banyak pendekatan khusus yang dikembangkan.:
a. Unit Pemakai/Unit Fungsional
Fasilitas yang akan direncanakan atau ditentukan berdasarkan kapasitas untuk
melayani seperti pembangunan rumah sakit, sekolah, hotel atau tempat parkir,
dapat ditentukan berdasarkan jumlah tempat tidur pasien, jumlah murid, kamar
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
50
Value Engineering
hotel atau jumlah mobil, untuk jenis proyek yang lain memerlukan unit
perhitungan yang berbeda dalam membuat estimasi biaya. Dalam beberapa hal
suatu agen yang menggunakan struktur yang sama berulang, mempunyai data
historis yang tersusun dengan baik mengenai harga kebutuhannya.
b. Meter Persegi
Harga-harga meter persegi diperoleh dengan mengalikan luas ruangan yang
diperlukan dengan faktor harga yang dibuat baik oleh perencana atau pemilik
atau lebih umum dengan menggunakan suatu faktor meter persegi yang
dikembangkan oleh organisasi seperti F.W Dodge yang mempunyai suatu
susunan yang disebut Dodge Digest yang memberikan informasi 2.500 analisa
harga untuk 57 jenis bangunan-bangunan utama.
c. Meter Kubik
Pendekatan ini hampir sama dengan prosedur meter persegi, kecuali ukuran
yang digunakan adalah volumenya.
d. Estimasi Parameter
Prosedur ini melibatkan penentuan lingkup dari 15-20 subsistem utama yang
membuat bangunan dan menentukan harga pada setiap sistem berdasarkan
pada data historikal atau contoh bangunan yang sama.
e. Quantity Survey
Cara ini dipakai oleh British dan Eropa dimana semua volume material dari
proyek dihitung secara lengkap. Harga-harga satuan pada setiap jenis material
dikalikan dengan volumenya masing-masing untuk mendapatkan jumlah harga
keseluruhan.
f. Pelelangan
Cara ini dilakukan dengan menyiapkan penjelasan dari sebagian pekerjaan
kepada Kontraktor spesialisasi atau supllier untuk bagian pekerjaan tersebut,
kemudian mengajukan penawaran. Cara ini dapat dilakukan baik sebelum
proyek dikerjakan dalam menghitung biaya untuk pekerjaan tambah.
4.2.3 Tahapan Estimasi
Metode estimasi akan tergantung pada tahapan dari proyek. Keputusan
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
51
Value Engineering
biaya utama dari proyek harus diambil pada awal dari tahap anggaran dan
programing. Namun pada saat ini konfigurasi, dimensi dan lingkup pekerjaan
belum banyak diketahui. Harga-harga yang mendukung analisa nilai pada tahapan
ini juga sangat terbatas. Teknik estimasi yang digunakan adalah cukup memadai
dengan keadaan informasi yang terbatas. Apabila proyek telah ditentukan lebih
baik, informasi biaya dan teknik estimasi yang lebih tepat akan digunakan.
Meskipun terminologi berbeda-beda, semua proyek berkembang melalui tahapan-
tahapan yang ditetapkan dengan baik dari awal yaitu konsepsi untuk kebutuhan
dasar sampai penyelesaian akhir dan penghunian. Tahapan-tahapan ini adalah :
a. Estimasi Anggaran Biaya / Estimasi Kelayakan
Estimasi ini dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan. Dengan demikian
harus ada kaitannya dengan jumlah orang yang dilayani, jumlah unit yang
akan dihasilkan atau fungsi yang harus dipenuhi. Sumber yang terbaik
adalah pengalaman yang ada sebelumnya. Suatu pembangunana
multiproyek seperti perusahan telepon dan telegraf dapat memperoleh
data-data dari file-filenya sendiri dan pengalamannya. Pengembangan
gedung-gedung yang berulang-ulang untuk tujuan yang sama di berbagai
tempat berbeda dapat dicatat lingkup dan harganya sebagai statistik.
Metode estimasi unit pemakai lebih sesuai untuk tahapan ini, seperti ;
jumlah tempat tidur, rumah sakit, murid dan sebagainya.
b. Estimasi Programming/Konsep
Pada tahapan ini anggaran biaya telah disetujui atau paling tidak telah
ditentukan. Sekarang dapat dijabarkan dalam beberapa jenis fasilitas-
fasilitas. Metode estimasi unit pemakai masih dapat digunakan, namum
sekarang sebagai tolak ukur konfersi pada harga-harga meter persegi (m2)
dan meter kubik (m3). Dimana dapat digunakan estimasi parameter dan
harga-harga modul dapat digunakan. Faktor perkalian dapat digunakan
untuk eskalasi, harga-harga daerah khusus dan kondisi umum.
c. Estimasi Pendahuluan
Estimasi pendahuluan adalah berdasarkan gambar-gambar yang
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
52
Value Engineering
berkembang dari gambar skematik yang ada. Gambar-gambar tersebut
seringkali merupakan gambar besar, oleh karenanya perhitungan volume
yang akurat dimungkinkan. Pembagian-pembagian ruangan untuk
bangunan telah selesai, demikian pula perhitungan volume untuk arsitektur
dan struktur menjadi lebih akurat. Pada tahap ini mekanikal, elektrikal dan
sistem HVAC baru mulai difokuskan. Oleh karenanya cara estimasi yang
digunakan adalah kombinasi untuk pekerjaan arsitektur struktur
menggunakan perhitungan volume (bill of quantity), untuk mekanikal dan
elektrikal menggunakan estimasi parametrik atau meter persegi. Analisa
nilai sekarang menjadi efektif, karena memungkinkan untuk menentukan
bagian-bagian biaya tinggi/nilai rendah, mengembangkan penyelesaian
dengan alternatif-alternatif perencanaan dan mengimplementasikan
perubahan-perubahan tanpa memerlukan biaya tinggi untuk merencanakan
kembali (redesign).
d. Estimasi Akhir atau Gambar Kerja
Pada tahapan ini, sebagian besar dari detail pekerjaan dalam progress
dimana estimasi dilakukan berdasarkan perhitungan volume (bill of
quantity) untuk semua bagian. Perencana dapat memberikan gambar-
gambar dan spesifikasi kepada Kontraktor dan Supplier untuk memperoleh
penawaran harga yang pasti pada bagian-bagian tertentu. Saat ini nilai
analisa mempunyai banyak informasi untuk dipergunakan. Apabila proyek
tidak mengalami kemunduran waktu, hasil dari analisis harus dirancang
lebih detail, biasanya perubahan diarahkan pada material, peralatan atau
sistem, namun tidak merubah konfigurasinya.
e. Estimasi Konstruksi
Estimasi pada tahap pelaksanaan adalah berdasarkan kenyataan. Biaya
aktual dari pekerjaan di lokasi dapat digunakan sebagai pedoman estimasi
pekerjaan tambahan atau perubahan-perubahan dalam skope. Metode
survey kuantitas dipergunakan oleh Kontraktor dalam estimasi
penghematan yang dapat diproyeksikan dan dihasilkan dari value incentive
programmes.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
53
Value Engineering
4.3 Hubungan VE dengan program Efisiensi lain
Berikut ini adalah beberapa sistem efisiensi harga yang lain yang
menjelaskan secara singkat hubungannya dengan value Engineering yaitu sebagai
berikut :
1. Reduksi Harga (Cost Reduction)
Filsafat orientasi perencanaan untuk mencari penurunan harga dari
perencanaan yang ada seringkali dengan menurunkan harga komponen-
komponennya. Sebaliknya value Engineering menganalisa fungsi dari suatu
item dan menghendaki untuk menyederhanakan atau memodifikasi
perencanaan dengan dengan mempertahankan kualitas yang sama.
2. Biaya Efektif (Cost Effective)
Membuat alternatif-alternatif yang banyak, misalnya apakah kita menyewa,
membeli atau membangun. Value Engineering juga melakukan hal yang sama
sebagai bagian integral dari tahap kreatif dan analisa.
3. Standar
Diperlukan untuk meningkatkan kualitas dan mengurangi biaya dengan
menggunakan elemen-elemen, perencanaan, metode dan sebagainya yang
standar sebagai bagian dari proses penyelidikan.
4. Nol Kerusakan (Zero Defects)
Teknik motivasi dengan sasaran pada peningkatan penampilan pekerjaan.
Value Engineering membantu dengan jalan menyederhanakan perencanaan.
5. Jaminan Kualitas (Quality Assurance)
Suatu program kontrol dan inspeksi. Value Engineering menghendaki
kualitas lebih baik. Oleh karenanya membantu dalam jaminan kualitas.
6. Analisa Keseimbangan (Tradeoff Analysis)
Menganalisa pengaruh dari keseimbangan gambar perencanaan Value
Engineering tidak pernah kompromi dengan fungsi utama, tetapi dapat
berubah dalam mewujudkan fungsinya.
7. Pendekatan Eliminasi (Elimination Approach)
Metodelogi yang dikemukakan oleh Procter Gamble Company sebagai
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
54
Value Engineering
bagian dari proses mereview perencanaan. Value Engineering juga
mempertimbangkan eliminasi sebagai bagian dari suatu analisa yang luas dan
lebih teliti pada tahap kreatif.
8. Anggaran Dasar Nol (Zero Base Budgeting)
Suatu teknik yang mendorong kebenaran dari segala program dengan jalan
membuktikannya terhadap informasi dasar yang ada dan tidak menggunakan
ketentuan dari tahun sebelumnya. Value Engineering melakukan hal yang
sama yaitu dengan mengajukan pertanyaan menyyeluruh, meskipun untuk
kebutuhan proyek itu sendiri.
9. Gugus Kendali Mutu (Quality Circles)
Teknik pembahasan bersama para pekerja dengan sasaran untuk memperoleh
saran dari para pekerja yang mengetahui produksi dari suatu item. Hal ini
sangat populer di industri Jepang. Value Engineering memperoleh saran yang
sama pada tahapan-tahapan informasi dan kreatif yang menitikberatkan pada
efek gabungan dari pembahasan kelompok.
10. Analisa Sistem
Penelitian atau strategi perencana yang lebih cederung ke seni daripada ilmu
pengetahuan. Merupakan cara untuk meneliti dan memilih masalah-masalah
yang kompleks dalam kondisi tidak menentu. Value engineering dapat
membantu mengintegrasikan subsistem-subsistem dalam perencanaan
keseluruhannya dengan melakukan perbandingan biaya siklus hidup.
4.4 Teknik Biaya dan Schedulling
Saat ini kita harus mempertimbangkan kriteria teknik yang ditujukan untuk
membantu project manager dan designer untuk menyelesaikan pekerjaannya
dalam batas biaya dan waktu yang telah disetujui. Value Engineering erat
hubungannya dengan sistem tersebut dan analisis nilai.
Adapun beberapa teknik yang utama adalah :
a. Perencanaan Menurut Biaya (PMB)
b. Model Biaya (MB)
c. Biaya Siklus Hidup (BSH)
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
55
Value Engineering
d. Teknik-teknik lain seperti ;
- Cost/Scheduling, Planning and Controling (C/SPC)
- Critical Path Method (CPM)
- Program Evaluation and Review Technique (PERT)
- Project Planning and Scheduling (PPS)
4.5 Perencanaan Menurut Biaya
Pada saat Perang Dunia II, Departemen Pertahanan Amerika Serikat telah
membuktikan bahwa dalam memproduksi hardware dan supply kebutuhan militer
kurang memperhatikan masalah biaya. Demikian pula saat konfrontasi dengan
Korea dan Vietnam, kebutuhan-kebutuhan militer diproduksi oleh bagian
perindustrian dengan sejumlah biaya yang diperlukan untuk memproduksi
kebutuhan-kebutuhan tersebut. Ketika konfrontasi dengan Vietnam mereda,
Departemen Pertahanan mendapatkan defisit anggaran biaya. Kantor akuntansi
pemerintah melaporkan bahwa pengembangan biaya untuk sistem persenjataan
dari 38 Departemen Pertahanan sebesar US$ [Link]. Kongres
menghendaki adanya perbaikan dan timbulah pendekatan Perencanaan Menurut
Biaya. Dapat dikatakan bahwa saat ini untuk setiap program diharuskan membuat
biaya untuk parameter perencanaan.
Prosedur tersebut diharuskan untuk menentukan sistem Perencanaan Menurut
Biaya yang akan menjamin kelayakan biaya seterusnya sepanjang tahap
pengembangan, perencanaan dan produksi. Biaya kelayakan dicapai melalui
model biaya dan sistem pelaporan yang diperluas pada setiap tahap perencanaan
dan produksi.
a. Hubungan PMB dengan Value Engineering (DTC & VE)
Filsafat dari Perencanaan Menurut Biaya sebagai ketentuan dan pelaksanaan
sebenarnya sejalan dengan Value Engineering. Hal tersebut merupakan suatu
rencana dengan menentukan tujuannya, dimana menurut kreativitas teknik dan
biaya dipertimbangkan sama pentingnya. Biaya menjadi variabel yang utama.
Dengan menggunakan sistem Perencanaan Menurut Biaya, peranan dari Value
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
56
Value Engineering
manager diperkuat dan diperluas. Dalam menentukan sasaran, biaya tidak
selalu menjamin perencanaan yang bagus. Oleh karenanya sesuai dengan
tujuan tidak akan mengeliminasi kemungkinan-kemungkinan bahwa
perencanaan yang asli mengandung elemen-elemen yang berulang atau
menggunakan material yang sudah lama. Untuk itu diperlukan suatu analisa
teknik dan nilai yang teliti untuk menentukan fungsi dan mengembangkan
kreativitas alternatif yang memenuhi semua parameter. Perencanaan Menurut
Biaya diaplikasikan dapat menghasilkan perencanaan yang kurang optimim.
Perencanaan Menurut Biaya yang diaplikasikan sehubuungan dengan Value
Engineering akan dapat memberikan hasil yang lebih baik untuk memenuhi
bahkan melampaui hasil yang direncanakan.
b. PMB dan Perencana
Pada perencanaan dan pelaksanaan pembangunan gedung, Kontraktor lain
yang sejenis, Perencana dapat diyakinkan dengan mengatakan bahwa biaya
merupakan suatu parameter dari perencanaan dalam profesinya. Jarang sekali
Perencana diberikan suatu fee untuk merencanakan tanpa batasan-batasan.
Dengan pengecualian pada Industri Pertahanan, dimana untuk mencapai hasil
maka waktu lebih penting daripada biaya.
Dalam hal-hal tertentu, Value Engineering dapat membantu Perencana dengan
jalan meneliti setiap sistem dari perencanaan dan membandingkannya dengan
fungsi-fungsi yang diperlukan. Untuk Value Analyst agar berpartisipasi pada
program Perencanaan Menurut Biaya. Penggunaan teknik PMB yang terbaik
adalah menentukan bagian-bagian yang tinggi biayanya yang mana akan
dipilih sebagai Value Engineering Study sepenuhnya.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
57
Value Engineering
BAB V
KEDUDUKAN KONSULTAN VE
5.1 Kedudukan Konsultan Value Engineering dalam Organisasi Proyek
Sebagai badan konsultan tersendiri, konsultan Value Engineering dapat
diterapkan pada posisi dan waktu tertentu dalam organisasi proyek. Meskipun
demikian tidak menutup kemungkinan bahwa konsultan Value Engineering
disertakan pada setiap posisis pada organisasi proyek dan sepanjang waktu selama
proses pembangunan berlangsung.
Dalam organisasi pelaksanaan suatu proyek, kedudukan dari Konsultan Value
Engineering memiliki beberapa alternatif yaitu :
Alternatif 1 : Konsultan Value Engineering berkedudukan sebagai team owner
Owner
Project
Team
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
58
Value Engineering
VE
V
E
A&R CM
Kontraktor
Gambar
5.1
Keuntungan dari alternatif 1 ini adalah : ;
a. Terjadinya komunikasi yang baik antara pemilik proyek dan team dari Value
Engineering
b. Dapat diketahui keseluruhan konsep kebutuhan yang diinginkan oleh owner
c. Team Value Engineering dapat leluasa untuk bertugas memonitor seluruh
pekerjaan dari Kontraktor maupun Perencana sehubungan dengan penerapan Value
Engineering (VE)
Kerugian :
Pemilik harus menyediakan alqkasi dana khusus untuk membayar jasa Konsultan
Value Engineering
Alternatif 2 : Konsultan Value Engineering bagian dari team Kontraktor
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
59
Value Engineering
Owner
Project
Team
Gambar
5.2
Keuntungan dari alternatif ini adalah :
Pemilik tidak perlu menyediakan alokasi dana khusus untuk membayar jasa
Konsultan Value Engineering
Kerugian :
a. Tidak dapat dilakukan kontrol secara langsung terhadap kinerja Konsultan
Value Engineering
b. Konsultan Value Engineering akan lebih membawa misi dari Kontraktor
c. Analisa Value Engineering hanya berorientasi pada biaya konstruksi saja
Alternatif 3 : Konsultan Value Engineering sebagi team dari Konsultan Manajemen
Konstruksi (MK)
Owner
Owner
Project
Project
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik
Team Negeri Bali
Team
60
Value Engineering
CM
A&R
VE
Kontraktor
Gambar 5.3
Adapun keuntungan menempatkan konsultan Value Engineering pada konsultan
Manajemen Konstruksi adalah :
a. Terjadi komunikasi yang baik antara pemilik, konsultan VE dan konsultan
MK tentang manajemen dan kontrol biaya, administrasi proyek dan
perencanaan oleh konsultan perencana.
b. Team VE leluasa bertugas memonitor dari tahap pengembangan desain
hingga tahap akhir perencanaan, desain dan mengontrol pelaksanaan VE
pada tahap pelaksanaan pekerjaan proyek.
c. Administrasi pembiayaan proyek lebih sederhana (tanpa merubah alokasi
anggaran yang sudah ada).
Sedangkan kerugiannya adalah :
Tidak dapat dilakukan kontrol langsung terhadap konsultan Value Engineering
oleh pemilik, harus melalui konsultan Manajemen Konstruksi lebih dahulu.
5.2 Mengelola Studi Value Engineering (VE)
Tingkat keberhasilan dalam mengelola proyek dengan menerapkan studi dari
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
61
Value Engineering
Value Engineering sangatlah tinggi, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :
a. Value Engineering menggunakan pendekatan langsung dan efektif yaitu
menggunakan Job Plan.
b. Fakta bahwa semua desain mempunyai beberapa biaya.
c. Adanya motivasi akibat dari penggunaan team yang terdiri dari berbagai
disiplin terkait.
d. Value Engineering (VE) merupakan hasil dari proses pengembangan
desain.
e. Value Engineering (VE) adalah sebuah sistem yang membantu untuk
memperkenalkan perubahan yang progresive.
f. Tujuan dari team Value Engineering adalah untuk menghasilkan desain yang
memenuhi keinginan owner yang terbaik dari segi biaya, penampilan dan
keandalan.
g. Value Engineering menghasilkan penghematan.
5.3 Hubungan Pemilik, Perencana dan Team Value Engineering
Desain terbaik dihasilkan oleh kerjasama pemilik, manajer konstruksi,
perencana, kontraktor serta konsultan Value Engineering untuk proyek-proyek yang
menggunakan studi Value Engineering. Selama fase desain, pemilik, perencana dan
konsultan Value Engineering berfungsi sebagai suatu team yang bertugas untuk
mengusahakan proyek yang direncanakan tersebut dapat memerlukan biaya yang rendah
namun tetap memenuhi fungsi yang dibutuhkan dari proyek tersebut.
Untuk kondisi tertentu, perencana tidak hanya merencanakan bangunannya saja,
namun sesuatu proyek yang lebih kompleks yang meliputi sistem transportasi, bangunan,
utilitas dan fasilitas-fasilitas lain maka konsultan Value Engineering diperlukan untuk
manajemen proses keseluruhan dari proyek tersebut.
Tugas dari pemilik adalah menyeleksi konsultan Value Engineering, negosiasi besarnya
fee, dan mengarahkan agar studi Value Engineering seseaui dengan kebutuhan.
Tugas perencana adalah melakukan perencanaan untuk memenuhi kebutuhan pemilik,
mengurus ijin konstruksi, dan membantu pemilik untuk tender proyek, terkadang
berpartisipasi selama fase konstruksi untuk melakukan pengawasan dan koordinasi.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
62
Value Engineering
Tugas konsultan Value Engineering adalah melakukan studi biaya proyek, bukan
melakukan review desain.
Rekomendasi yang dibuat oleh konsultan Value Engineering harus dievaluasi dan
disetujui oleh pemilik dan perencana sebelum diimplementasikan kedalam perencanaan.
Konsultan Value Engineering ditugaskan untuk melakukan analisa terhadap desain
dengan biaya tinggi.
Owner Sewer District
Value Engineering Review Committee
VE Consultant
Design Consultant
Owner
Value Engineering Consultant
VE Program Coordinator
Project Study A Project Study C
Project Study B
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
63
Value Engineering
Gambar 5.3
Contoh Bagan Organisasi Studi Value Engineering
Contoh-contoh Team Studi VE
− Team VE Studi untuk North Canadian Wastewater Treatment
Studi A : 20 – 30 % Pekerjaan (Konsep Desain)
Team 1 :Certified Value Specialist
Sanitary Engineer
Landscape Architect
Sanitary Engineer
Structural Engineer
Owner’s Representative
Team 2 :Team Coordinator/Certified Value Specialist
Sanitary Engineer
Cost Engineer
Electrical Engineer
Civil Engineer
Chemical Engineer
Studi B : 60-70 % (Desain lengkap)
Team 1 : Team Coordinator
Mechanical Engineer .
Sanitary Engineer
Cost/Construction Estimator
Owner's Representative
Team 2 : Team Coordinator
Structural Engineer
Electrical Engineer
Civil Engineer
Architect
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
64
Value Engineering
Mechanical Engineer
Team VE studi untuk Desain Jembatan :
Value Engineering Team Coordinator
Structural Engineer/ Bridges
Foundation Engineer
Civil Engineer / Transportation
Construction Engineer
STAFFING
Sesuai dengan lingkup pekerjaan yang dituntut, maka kebutuhan tenaga profesional yang
akan terlibat antara lain :
1. VALUE ENGINEERING SERVICE :
− Project Director
− Project Team Leader
− Value Engineering Team
− Construction Management Specialyst
− Contract Administration Specialyst
− Architect
− Planners
− Structural Engineer
− Soil Mechanic Engineer
− Industrial Engineer
− Mechanical Engineer
− Electrical Engineer
− Pocess Engineer
− Cost Engineer
− Estimator
2. COST CONTROL/PROJECT INFORMATION SERVICES
− Construction Management Specialyst
− Civil Engineer
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
65
Value Engineering
− Electrical Engineer
− Mechanical Engineer
− System Engineer
− Systems Analyst
− Computer Programmer
SUPPORT SERVICES
Technical
− Graphics Technician
− Draftman
− Surveyor
Administrasi dan Kantor
− Manager kantor
− Akuntan
− Sekretaris
− Typist
− Computer Operator
− Drivers
− Dll.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
66
Value Engineering
BAB VI
VALUE ENGINEERING DAN PERENCANA
6.1 Pendahuluan
Value Methodelogy apakah merupakan Value engineering, Value Analysis
atau Value Management, yang telah dikembangkan pada Perang Dunia ke II pada
industri produksi, namun di bidang industri konstruksi baru belakangan ini
dikembangkan. Konsekuensinya banyak perencana-perencana yang baru
belakangan ini memperhatikan bahwa Value Engineering merupakan suatu
metode untuk meningkatkan kualitas konstruksi, dengan menurunkan biaya dari
konstruksi tersebut. Ketika Departemen Pertahanan, GSA, EPA dan Departemen-
departemen lain dari pemerintahan Amerika Serikat menetapkan penggunaan
Value Engineering untuk pengendalian penggunaan biaya konstruksi pemerintah,
maka perencana-perencana mulai mempercayai dan menggunakan Value
Engineering Programme yang dalam hal tertentu persiapannya terburu-buru dan
tidak dilaksanakan dengan baik. Sebagai hasil dari pengalaman yang dini,
beberapa Perencana telah mendapatkan pertanyaan mengenai kebutuhan,
penggunaan atau nilainya dari Value Engineering. Perencana-perencana yang lain
dengan cepat melihat keuntungan-keuntungan dari Value Engineering yang
merupakan suatu kesempatan untuk melayani klien dengan jalan yang baru dan
lebih baik, terutama dalam menghadapi tendensi inflasi yang serius.
Peningkatan biaya konstruksi dan suku bunga yang kita hadapi sekarang telah
mendorong Pemilik Proyek memanfaatkan Value Engineering untuk membangun
fasilitas yang penting dalam batas kemampuan sumber dananya. Value
Engineering Service telah memusatkan perhatian perencana baik sebagai bagian
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
67
Value Engineering
dari proses perencanaan atau sebagai aktifitas konsultansecara terpisah.
6.2 Value Engineering pada Tahap Perencanaan
Sebagai Pemilik Proyek, terutama bagi erusahaan yang berorientasi pada
manajemen menaruh perhatian terhadap manfaat dari Value Engineering dan
menetapkannya sebagai ketentuan dalam tahap perencanaannya. Aplikasi dari
analisa fungsional diperlukan pada bagian-bagian tertentu pada tahap prencanaan
dimulai dengan kriteria dan dilanjutkan pada perencanaan pendahuluan pada tim
perencana. Dapat diperhatikan usaha dari Value Engineering semaca ini harus
dilakukan oleh personil yang terpisah dari tim perencana. Apabila dalam
perusahaan perencana tersebut tidak mempunyai tenaga ahli yang mengerti Value
Engineering, maka perlu diadakan training atau mendapatkan bantuan dari Value
Consultant. Pada akhir dari tahapan perencanaan ini, perencana diharuskan
menyampaikan laporan tentang usaha penghematan seluruhnya. Biaya-biaya yang
digunakan untuk aktivitas-aktivitas sesuai dengan tingkat usahanya, kecuali untuk
training melampaui dari usaha dan biaya perencanaan yang normal.
Perlu diketahui bahwa perencanaan dengan memberikan Value Engineering
Programme biasanya memerlukan biaya tambahan untuk Value Engineering
Team yang tergantung pada kepercayaan dari Pemilik Proyek bahwa ia akan
mendapatkan hasil yang baik dengan mengaplikasikan Value Engineering. Selain
itu, Pemilik Proyek mendapatkan bantuan dari Value Engineering Consultant atau
melakukan Value Study dengan kemampuan timnya sendiri. Hal demikian sering
dilakukan oleh Depertemen-departemen pemerintahan.
6.3 Value Engineering pada Tahap Pelaksanaan
Perencana dapat pula menyertakan suatu Value Engineering Incentive
Clause dalam dokumen yang dipersiapkannya. Ide ini untuk memberikan manfaat
pada Pemilik Proyek dari pengalaman praktek yang dimiliki oleh Kontraktor dan
dibantu oleh Value Engineering Consultant untuk menyampaikan Value
Engineering Change Proposal yang dapat menghemat biaya tanpa mengurangi
dan mempengaruhi baik lingkup pekerjaan maupun kualitas dari proyek. Sebagai
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
68
Value Engineering
Incentive, Kontraktor dengan bantuan Value Engineering Consultant memperoleh
50 % dari hasil penghematan yang dilakukan.
Bagaimanapun perlu diingat bahwa kepentingan yang terbaik dari pemilik proyek
akan dilayani dengan jalan membuka semua kemungkinan untuk meningkatkan
nilai, termasuk pula ide-ide yang berasal dari Kontraktor. Perencana juga harus
memahami bahwa ia melakukan pengontrolan terhadap perencanaan dan harus
sejalan dengan perubahan-perubahan yang diusulkan tersebut. Penyesuaian ini
hanya dapat dinyatakan setelah diteliti setiap usulan secara detail, usaha penelitian
ini perlu diberikan pembayaran. Bila usulan tersebut memerlukan perencanaan
kembali, perencana harus dibayar untuk tambahan usaha yang diberikannya.
6.4 Kode Etik
Pembahasan hasil perencanaan yang dibuat oleh Tim Perencana yang dilakukan
oleh atau usulan yang disampaikan oleh Kontraktor dengan bantuan Value
Engineering Consultant yang berupa Value Engineering Change Proposal
menimbulkan perlindungan secara ketat oleh beberapa perencana-perencana dan
mengganggapnya bahwa hal yang demikian melanggar kode [Link] yang
menyangkut kode etik sudah dipelajari oleh American Institut of Architects (AIA)
dan National Sosiety of Professional Engineers (NSPE). Kedua organisasi profesi
tersebut telah mengeluarkan pernyataan yang membuatnya menjadi jelas, bahwa
adanya standard of ethical practise, pembahasan hasil pekerjaan dari satu
konsultan oleh konsultan lain.
6.5 Peranan Kontraktor dalam Value Engineering
Program value Engineering harus secara integrated untuk memungkinkan
partisipasi dari Pemilik Proyek, Perencana dan Kontraktor. Kontraktor perlu
memperoleh peningkatan nilai pada tahapan pelaksanaan. Oleh karena itu
pengalaman dan pengetahuan tentang harga-harga material dan konstruksi
seringkali Kontraktor dapat menghasilkan perubahan-perubahan yang unik dan
memberikan penampilan fungsional yang lebih baik dengan disertai dengan
penurunan biaya kontrak. Banyak variasi kontrak Value Engineering yang
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
69
Value Engineering
dipergunakan pada saat ini, namun pada dasarnya hanya ada dua jenis. Yang
umumnya dikenal sebagai Value Engineering Incentive Clause dan Value
Engineering Programme Requirement Clause.
6.5.1 Value Engineering Incentive Clause
Value Engineering Incentive Clause adalah metode yang umumnya
digunakan untuk menarik Kontraktor agar menaarik input-input. Ketentuan
umumnya adalah mendorong Kontraktor dengan bantuan Value Engineering
Consultant mengajukan perubahan melalui suatu instrumen yang disebut sebagai
Value Engineering Chaange Proposal (VECP) atau Value Change Proposal
(VCP). Pada metode ini, Pemilik Proyek dan Kontraktor membagi hasil
penghematan yang dicapai dari Value Engineering Chaange Proposal (VECP)
yang disetujui dan diimplementasikan. Rasio perbandingan pembagian
penghematan umumnya adalah 50 : 50, namun ini dapat berbeda-beda dalam
ketentuan kontraknya sesuai dengan yang dikehendaki. Value Engineering
Chaange Proposal (VECP) dapat diterima bila memenuhi dua ketenttuan yaitu :
memerlukan adanya perubahan dalam ketentuan kontrak dan harus mengurangi
harga kontraknya.
Keterntuan Value Engineering Chaange Proposal (VECP) harus meliputi
informasi-infoormasi sebagai berikut :
a. Pernyataan dari pebedaan antara perencanaan semula dengan perencanaan
yang diusulkan.
b. Bagian-bagian dari ketentuan dalam kontrak (spesifikasi dan gambar) yang
perlu dirubah.
c. Estimasi biaya sebelum dan sesudah dirubah.
d. Pernyataan dari efek-efek perubahan yang diusulkan yang mungkin timbul
pada biaya-biaya kolateral.
e. Tanggal Value Engineering Chaange Proposal (VECP) harus
diimplementasikan untuk memperoleh penghematan yang maksimal.
f. Pernyataan terhadap perubahan yang dapat mempengaruhi waktu
penyelesaian yang singkat.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
70
Value Engineering
Incentive Clause dapat memberikan penjelasan dan kemudahan untuk
dimengerti, konsekuensinya adalah untuk mengurangi masalah-masalah
administratif. Value Engineering Incentive Clause harus menyatakan bahwa
Pemilik Proyek adalah mutlak dan Value Engineering Chaange Proposal (VECP)
tidak akan menimbulkan pertentangan dalam kontrak. Pernyataan lain yang perlu
adalah Pemiliik proyek dapat menyetujui sebagian atau seluruh Value
Engineering Chaange Proposal (VECP). Pernyataan-pernyataan lain yang perlu
adalah Kontraktor harus melaksanakann pekerjaan sesuai dengan kontrak sampai
adanya keputusan untuk mengimplementasikan Value Engineering Chaange
Proposal (VECP) yang disetujui dan Pemilik Proyek tidak bertanggung jawab
atas keterlambatan yang diakibatkan oleh penelitian dari usulan tersebut.
6.5.2 Value Engineering Programme Requirement Clause
Ketentuan ini menghendaki kontraktor untuk melaksanakan Value
Engineering Study sampai pada tingkatan tertentu, dimana Kontraktor dibayar
oleh Pemilik Proyek sebagai suatu bagian yang terpisah dari kontrak. Ketentuan-
ketentuan ini juga mengizinkan adanya pembagian proposal-proposal secara
individu, namun bagian penghematan yang dapat diterima oleh Kontraktor sangat
kecil bila dibandingkan dengan ketentuan Incentive Clause. Alasan utama Value
Engineering Programme Requirement Clause adalah untuk menjamin bahwa
pertimbangan nilai telah diperhatikan secara serius, dimulai dari tahap awal dari
suatu proyek.
6.5.3 Mendorong Value Engineering Change Proposal (VECP)
Pengalaman menunjukan bahwa aplikasi wakil dari Pemilik Proyek
mengambil inisiatif dengan memerintahkan Kontraktor dengan bantuan Value
Engineeriing Consultant untuk mengajukan Value Engineering Chaange
Proposal (VECP), maka ususlan-usulan tersebut segera disampaikan. Tidak ada
salahnya untuk membicarakan bagian-bagian yang sulit instalasinya atau biayanya
tinggi dengan pihak Kontraktor dan disarankan agar menggali bagian-bagian ini
untuk menyampaikan Value Engineering Chaange Proposal (VECP). Pendekatan
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
71
Value Engineering
semacam ini menimbulkan pengertian bahwa Pemilik Proyek serius terhadap
Value Engineering dan penurunan biaya dengan Incentive Clause.
6.5.4 Keberhasilan Contractor Incentive Programme
Keberhasilan dan kegagalan partisipasi Kontraktor ditandai dengan
pandangan-pandangan dan langkah-langkah dari berbagai pihak. Penyelesaian
secara tepat oleh Pemilik Proyek dan Kontraktor akan memperoleh manfaat yang
besar dari Incentive Programme.
Proposal-proposal yang diperoleh dari Kontraktor harus direview secara baik dan
menyeluruh dengan semangat saling mempercayai. Penilaian harus secara objektif
dan didukung dengan alasan-alasan teknis untuk mengambil keputusan. Perhatian
khusus perlu diberikan bila tidak disetujui proposalnya.
Apabila tidak, maka Kontraktor merasa dihalangi dalam melanjutkan usaha
mencari jalan yang lebih baik guna menyelesaikan biayanya dengan biaya yang
lebih rendah. Kontraktor perlu didorong untuk menyampaikan proposal lebih
lanjut dan perlu disadarkan bahwa proposal yang disampaikan secara baik dan
lengkap akan memberikan kesempatan yang terbaik untuk disetujui.
Pemiliki Proyek perlu menyadari bahwa pembagian yang diberikan pada
Kontraktor dibawah Value Engineering Incentive Clause adalah sepenuhnya
diperoleh sebagai hasil dari enthusias yang mana Kontraktor mencari jalan lebih
baik untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Bila proposal tidak memenuhi ketentuan teknis atau kriteria, masih ada
kemungkinan untuk menerima sebaagian dari proposal. Alternatifnya Kontraktor
dapat diminta untuk merubah proposalnya untuk mengatasi kekurangan-
kekurangannya. Evaluasi secara objektif bersamaan dengan pemikiran secara
cepat yang memberikan modifikasi yang membuat proposal tersebut dapat
diterima. Hal demikian menyakinkan Kontraktor terhadap keterbukaan Pemilik
Proyek dan mendorong penyampaian-penyampaian selanjutnya.
Banyak faktor yang mempengaruhi partisipasi Kontraktor. Kebanyakan adalah
subyektif dan sulit untuk dievaluasi. Indikasi hasil Incentive programme dapat
ditingkatkan dengan menneliti jumlah proposal yang diajukan dibandingkan
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
72
Value Engineering
dengan norma-norma berdasarkan pengalaman yang lalu. Rasio
penerimaan/penolakan juga berarti menunjukan hasil. Sebagai contoh suatu badan
mencapai penerimaan sebesar 75% selama periode dua tahun. Pengalaman lain
dilaporkan rata-rata melampaui 66 % selama melaksanakan program. Pada
tingkatan ini harus menyakinkan Kontraktor terhadap ketulusan-ketulusan dari
organisasi-organisasi yang bersangkutan. Bila angka persetujuan dibawah 50 %,
maka perlu diteliti kembali pandangan dan prosedur evaluasi dari Pemilik
Proyek.
6.6 Imbalan Jasa Konsultan Value Engineering
Sebagai salah satu dari penyedia jasa dalam pelaksanaan pembangunan tentunya setiap
konsultan Value Engineering berhak untuk menerima imbalan atau hasil atas jasanya yang
sudah diberikan.
Imbalan dari jasa Konsultan Value Engineering (VE) didasarkan atas :
a. Prosentase Biaya Proyek
b. Prosentase Hasil Penghematan
Berdasarkan Surat keputusan (SK) Direktorat Jendral Cipta Karya tentang Pedoman Teknis
Pembangunan Bangunan Gedung Negara :
Imbalan jasa Konsultan VE didasarkan atas prosentase. hasil penghematan yang
diperoleh oleh Konsullan Value Engineering (VE).
Pembagian hasil penghematan (H) berdasarkan SK Direktorat Jendral Cipta Karya tahun 1987
adalah :
• 55% dari H disetorkan ke Kas Negara
• 40 % dari H untuk fee Konsultan Direktorat Jendral Cipta Karya VE
• 5 % dari H untuk tambahan fee Konsultan Manajemen Konstruksi (MK).
Sedangkan Pembagian hasil penghematan (H) berdasarkan SK tahun 1993/1994 adalah :
a. Value Engineering (VE) yang dilaksanakan oleh konsultan Value Engineering (VE).
• 55 % dari H disetorkan ke Kas Negara
• 25 % dari H untuk fee Konsultan VE
• 10 % dari. H untuk tambahan fee Konsultan Perencana
• 5% dari H untuk Kontraktor
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
73
Value Engineering
• 5 % dari H untuk tambahan fee Konsultan MK /Pengawas
b. Value Engineering (VE) yang dilaksanakan oleh Konsultan Value
Engineering (VE) bersamam Kontraktor (pemenang lelang) adalah :
• 55 % dari H disetorkan ke Kas Negara
• 10 % dari H untuk tambahan fee Konsultan Perencana
• 20 % dari H untuk Konsultan Value Engineering (VE).
• 10 % dari H untuk Kontraktor (pemenang lelang) yang melaksanakan
kegiatan Value Engineering (VE) bersama Konsultan Value
Engineering (VE).
• 5 % dari H untuk tambahan fee Konsultan MK atau pengawas.
Pembagian hasil penghematan (H) berdasarkan SK tahun : 1997 (Value Engineering
dilaksanakan oleh Konsultan VE bersama Kontraktor pemenang lelang) adalah :
• 60 % dari H digunakan untuk mentngkatkan mutu dan
.atau menambah kegiatan pekerjaan konstruksi fisik, atau disetor ke
Kas Negara.
• 25 % dari H untuk tambahan biaya jasa Pemborong dan pelaksana
VE.
• 10 % dari H untuk tambahan fee Konsultan Perencana
• 5 % dari H untuk tambahan tambahan jasa Konsultan
MK (untuk proyek yang menggunakan jasa Konsultan MK),
sedangkan
untuk prroyek yang menggunakan Konsultan Pengawas, biaya
penghematan ini ditambahkan untuk peningkatan mutu dan atau
menambah kegiatan pekerjaan konstruksi fisik, atau disetor ke Kas
Negara.
BAB VII
RENCANA KERJA VALUE ENGINEERING
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
74
Value Engineering
Dalam melakukan studi Value Engineering dilakukan analisa melalui
tahap-tahap yang berhubungan satu dengan yang lain. Tahapan tersebut dikenal
dengan nama Value Engineering Job Plan.
Pendekatan yang terorganisir dan sistematis dari Value Engineering Job Plan
adalah kunci dari suksesnya studi VE
Dengan Value Engineering Job Plan dilakukan studi untuk mengidentifikasi
biaya-biaya tak perlu dan mencari alternatif-alternatif lain yang memberikan
fungsi yang sama.
Job Plan adalah format yang mampu mereduksi biaya proyek dan membantu
memaksimalkan efektivitas dari studi Value Engineering.
Adapun alasan-alasan dari penggunaan Value Engineering adalah :
a. Pendekatan yang terorganisir
b. Dapat dipergunakan untuk mendiskripsikan tujuan
c. Terfokus pada bagian-bagian dengan biaya tinggi
d. Memaksa orang berfikir lebih dalam daripada solusi yang sudah biasa
digunakan
e. Pendekatan yang obyektif
f. Pendekatan yang universal
Beberapa versi dari Value Engineering Job Plan :
a. Five Phase Job Plan :
1. Information Phase
2. Creative Phase
3. Judment Phase
4. Development Phase
5. Recommendation Phase
b. Six Phase Job Plan
1. Information Phase
2. Creative Phase
3. Analytical Phase
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
75
Value Engineering
4. Investigation Phase
5. Recommendation Phase
6. Implementation Phase
c. Eight Phase Job Plan
1. Information Phase
2. Functional Analysis
3. Creative Phase
4. Judment Phase
5. Development Phase
6. Presentatation Phase
7. Implementation Phase
8. Follow-up
d. Four Phase Job Plan
1. Information Phase (Fase informasi)
2. Creative Phase (Fase Kreatif)
3. Analytical Phase (Fase Analisa)
4. Recommendation Phase (Fase Rekomendasi)
Gambar 7.1 Fase Study Value Engineering
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
76
Value Engineering
Berdasarkan pedoman teknis pelaksanaan Value Engineering dari SK Dirjen Cipta
Karya Departemen Pekerjaan Umum No. 025/KPTS/CK/1993 tentang pedoman
operasional penyelenggaraan pembangunan gedung negara th 1993/1994 maka
tahapan-tahapan Value Engineering terdiri dari:
1. Tahap Informasi
2. Tahap Spekulasii
3. Tahap Analisa
4. Tahap Pengembangan
5. Tahap Presentasi
6. Tahap Implementasi
7.1 Tahap informasi
Melakukan identifikasi secara lengkap atas sistem struktur bangunan dan
sistem pelaksanaan konstruksi, identifikasi fungsi dan estimasi biaya yang
mendasar pada fungsi pokok.
Tujuan :
Memberikan suatu basis informasi, menyeleksi bidang-bidang untuk dikaji
lebih rinci.
Pertanyaan :
− Apakah barang / item itu ?
− Apakah yang akan dikerjakan olehnya ?
− Apakah manfaat dari fungsinya ?
− Berapakah biayanya ?
− Apa saja persyaratan yang diperlukan ?
− Berapakah rasio/nilai manfaatnya ?
− Bidang dengan biaya tinggi / biaya rendah manakah yang telah diketahui ?
Teknik-teknik :
− Pengumpulan informasi
− Analisa fungsional
− Konsep biaya/nilai-manfaat
− Grafik
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
77
Value Engineering
Pada tahap awal ini dilakukan upaya-upaya untuk mendapatkan informasi
sebanyak-sebanyaknya yang relevan dengan obyek studi yang akan dievaluasi,
dimana data dan informasi tersebut diolah menurut kebutuhan pada tahap
selanjutnya.
Informasi umum yang diperlukan antara lain adalah :
- Nama proyek
- Lokasi proyek
- Pemilik proyek
- Nilai proyek
- Luas bangunan
- Spesifikasi proyek
Langkah-langkah penunjang yang biasa diterapkan dalam tahap informasi adalah
sebagai berikut
a. Pengulangan desain informasi
Adalah pelaksanaan mengumpulkan semua informasi yang menyangkut
segala aspek kepentingan obyek studi.
Adapun yang termasuk didalam obyek studi, yaitu :
− Gambar-gambar perencanaan
− Spesifikasi biaya
− Perkiraan biaya
− Pendekatan desain
− Perhitungan desain/ konstruksi
− Data-data kondisi setempat
− Jadwal kegiatan, dan lain-lain.
Dalam proses evaluasi selanjutnya, data informasi tersebut dapat dijadikan
kumpulan data yang dibutuhkan dan disusun dalam suatu deskripsi
permasalahan dan tujuan penghematannya.
b. Penentuan sasaran studi
Untuk mengetahui sasaran studi dan berapa besar perkiraan target
penghematan biaya didapat dengan membuat struktur biaya dari
keseluruhan elemen obyek studi yang memperlihatkan dengan jelas bagian
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
78
Value Engineering
dan elemen yang ada sebagai sasaran studi tersebut.
c. Pemilihan elemen dengan potensi penghematan optimum
Dari struktur dan perkiraan target penghematan biaya tersebut, maka dapat
dipilih elemen-elemen obyek studi yang mempunyai potensi penghematan
optimum dengan metode perbandingan (rasio) antara biaya asal dan target
biaya, dan perhatian diutamakan kepada rasio yang menyolok. Cara ini
dikenal dengan analisis fungsi yang menguraikan rasio cost dengan worth,
presentasi pembagian pekerjaan (bobot).
7.2 Tahap spekulasi
Menggali gagasan-gagasan alternatif sebanyak-banyaknya dalam memenuhi
fungsi pokok.
Tujuan
Membangkitkan alternatif untuk memenuhi persyaratan
Pertanyaan :
Adakah barang/item lain yang memberikan fungsi tersebut ?
Teknik-teknik :
Proses pemikiran kreatif (sumbang saran) Penangguhan penilaian.
Didalam value engineering, berfikir kreatif adalah hal sangat penting dalam
mengembangkan ide-ide untuk memunculkan alternatifalternatif dari elemen yang
masih memenuhi fungsi tersebut, kemudian disusun secara sistematis.
Alternatif-alternatif tersebut dapat ditinjau dari berbagai aspek, diantaranya :
a. Bahan atau material
Pemunculan penggunaan alternatif bahan dikarenakan semakin banyaknya
jenis bahan bangunan yang diproduksi dengan kriteria mempunyai fungsi
yang sama. Seiring dengan
berkembangnya kemajuan teknologi jenis bahan yang mempunyai fungsi
yang sama dapat dibuat atau dicetak dengan mutu dan kualitas yang
hampir sama juga. Hanya karena memiliki merk atau lisensi yang berbeda,
maka harga bahan tersebut menjadi berbeda.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
79
Value Engineering
Dengan demikian, maka pemilihan alternatif bahan dapat dilakukan dalam
analisis VE. Pencarian bahan dengan mutu, kualitas dan fungsi yang sama
dengan rencana awal tapi dengan harga lebih rendah dapat dilakukan
b. Cara atau metode pelaksanaan pekerjaan
Dalam melaksanakan suatu pekerjaan pastinya mempunyai cara atau
metode sendiri-sendiri. Pada zaman dulu cara menyelesaikan suatu
pekerjaan hanya mengandalkan tenaga manusia dengan alat-alat
sederhana, sehingga waktu penyelesaian pekerjaan dapat membutuhkan
waktu yang cukup lama. Seiring dengan kemajuan teknologi, kini muncul
alat-alat bantu yang lebih canggih dalam menyelesaikan pekerjaan.
Sebagai contoh, adanya alat-alat berat seperti dozer, excavator, crane dan
lain-lain yang dapat membantu dalam menyelesaikan pekerjaan konstruksi
bangunan, sehingga pekerjaan dapat cepat selesai. Dengan demikian dapat
dilihat, bahwa suatu pekerjaan konsrtuksi bangunan yang dikerjakan
dengan tenaga manusia dan alat-alat sederhana akan membutuhkan waktu
yang lama dibandingkan dengan dikerjakan menggunakan alat-alat yang
lebih modern. Maka dalam analisis VE dapat berpedoman pada metode
pelaksanaan, karena semakin pendek waktu yang dibutuhkan dalam
menyelesaikan pekerjaan, semakin kecil pula biaya yang dikeluarkan.
c. Waktu pelaksanaan pekerjaan
Setiap pekerjaan dalam suatu proyek pastinya sudah mempunyai jadwal
pelaksanaan dalam perencanaan time schedule. Terkadang dengan bobot
pekerjaan yang tetap, waktu pelaksanaan pekerjaan dapat dikurangi,
asalkan pekerjaan tersebut tidak terdapat dalam jalur [Link] cara
yang dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut, diantaranya dengan
mengganti metode pelaksanaan, menambah jumlah tenaga kerja dan lain-
lain. Dengan demikian, alternatif pengurangan waktu pelaksanaan dapat
dijadikan pedoman karena akan berpengaruh pada perhitungan anggaran
biaya.
7.3 Tahap analisa
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
80
Value Engineering
Melakukan analisa terhadap gagasan-gagasan alternatif yang meliputi :
analisa alternatif, analisa rangking dan analisa matrik untuk mendapatkan
alternatif yang paling potensial.
Melakukan evaluasi terhadap alternatif-alternatif yang telah dibentuk dan
melakukan pemilihan nilai terbesar. Tahap ini juga menjawab pertanyaan tentang
apa yang harus dilakukan, dan bagaimana biayanya.
Tujuan tahapan ini adalah :
− Mengadakan evaluasi, mengajukan kritik dan menguji alteratif yang
muncul selama tahapan spekulatif
− Memperkirakan nilai uang untuk setiap alternatif.
− Menentukan alternatif yang akan memberikan kemampuan yang paling
besar untuk penghematan biaya.
− Alternatif yang timbul diformulasikan, kemudian melakukan eliminasi ide-
ide yang kurang praktis dan menilai ide kreatifitas tersebut dari segi
keuntungan dan kelemahannya dengan mencari potensi penghematan
biaya untuk setiap ide yang dievaluasi.
− Pemilihan dapat dilakukan dengan metode zero-one.
− Kemudian dibuatkan suatu ranking hasil penilaiannya.
Hasil analisa ini dibagi 2 (dua) tahap, yaitu :
7.4 Tahap pengembangan
Mempersiapkan rekomendasi tertulis dari alternatif akhir yang dipilih
dengan pertimbangan kemungkinan pelaksanaan secara teknis dan ekonomis.
Tujuan :
Mengevaluasi dan menyeleksi alternatif yang memberikan penghematan
biaya terbaik.
Pertanyaan :
− Berapa biaya dari alternatif ?
− Apakah alternatif itu mempunyai penghematan biaya terbesar ?
Teknik-teknik
− Biaya siklus hidup
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
81
Value Engineering
− Evaluasi bobot kendali
− Penilaian gagasan
Langkah-langkah tahapan pengembangan :
− Membuat konsep/ desain untuk dibandingkan satu sama lain.
− Membandingkan konsep semula dengan desain usulan/ alternatif.
− Membandingkan analisa life cycle cost dari biaya investasi/ awal, biaya
operasi dan pemeliharaan, biaya annual dan operasi.
− Memberikan rekomendasi setiap apa yang terlibat di dalamnya.
7.5 Tahap Rekomendasi
− Memberikan rekomendasi yang dapat berupa presentasi secara tertulis atau
lisan dari alternatif yang sudah dipilih dalam usulan tim VE untuk
ditujukan kepada semua pihak, baik pemilik, perencana maupun
pelaksana. Dalam tahap rekomendasi dapat juga berisi usulan alternatif
yang direkomendasikan beserta dasar pertimbangan.
7.6 Tahap presentasi
Menyajikan hasil studi Value engineeing kepada pengelola proyek untuk
mendapatkan persetujuan penerapannya pada proyek yang bersangkutan.
7.7 Tahap implementasi
Melakukan tugas pengawasan bersama Konsultan Manajemen Konstruksi
terhadap penerapan hasil studi value engineering.
Tujuan
Presentasi alternatif terbaik kepada para pengambil keputusn, menetapkan
dan mengukur hasil.
Pertanyaan
− Bagaimana presentasi terbaik bagi usul tersebut ?
− Apa yang telah diterapkan ?
Teknik-teknik
− Laporan narasi
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
82
Value Engineering
− Lembaran skematik
− Grafik
− Analisa penawaran
− Biaya siklus hidup
Pada tahap terakhir VE ini mencakup laporan akhir/ringkasan akhir yang
berisikan dokumen akhir yang berlaku dan telah disetujui pemilik proyek untuk
dilaksanakan oleh kontraktor dan diawasi bersama pengawas.
Tapi sebelum disetujui oleh pemilik proyek biasanya laporan akhir ini
dipresentasikan (tahapan sebelumnya) kepada semua pihak yang nantinya terlibat
agar dapat memahami alternatif / usulan perubahan secara singkat, jelas, cepat dan
cermat langsung mengambil langkah-langkah keputusan dan jalan pemecahannya
yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak merugikan salah satu pihak.
Pada tahap paling akhir dari pengawasan VE adalah membuat evaluasi proses
kontrol dari apa yang telah dipilih dan disepakati.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali
83
Value Engineering
No Tahapan Keluaran/Hasil Kata Kunci
1 Informasi Pemahaman atas proyek atau komponen Apakah ini ?
yang dikaji Apakah yang dapat dilakukan ?
Apa yang harus dilakukannya ?
Berapakah Biayanya ?
2 Analisis Pemahaman atas fungsi primer, sekunder dan tersier Bagian manakah yang strategik untuk dikaji ?
Fungsional proyek atau komponen yang dikaji Apakah fungsi sudah tepat dan konsisten ?
Ketepatan fungsi dari proyek atau komponen yang dikaji Berapakah Biayanya ?
Pengetahuan atas kelayakan proyek atau komponen yang dikaji Berapakah nilainya ?
Apakah proyek layak dikaji ?
3 Kreatif Alternatif-alternatif dari proyek atau komponen yang dikaji Apa saja yang bisa melaksanakan
fungsi yang sama
4 Evaluasi Peringkat alternatif Alternatif mana saja yang paling baik :
1. Tinggi potensial penghematannya
2. Paling mudah pelaksanaannya
3. Tinggi potensi peningkatan kinerjanya
5 Pengembangan Alternatif yang paling tinggi potensi : Alternatif manakah yang paling potensi
penghematannya, kinerjanya, kemudahan pengadaannya penghematannya, peningkatan kinerja, kemu-
dahan pelaksanaannya dan reabilitas
pemanfaatannya
6 Penyusunan Laporan yang efektif serta efisien Apakah yang menarik perhatian pemilik
laporan Kalimat bagaimanakah yang paling efektif
serta efisien
7 Presentasi Persetujuan pemilik Proyek untuk penerapan hasil kajian Apakah yang dapat meyakinkan pemilik proyek ?
Apakah yang disarankannya ?
Siapakah yang menyetujui saran yang diberikan ?
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali 87
Value Engineering
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali 88
Value Engineering
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali 89
Value Engineering
DAFTAR PUSTAKA
Bush, V.G., 1983. Manajemen proyek. PT. Pustaka Binaman Pressindo,Jakarta
Dell’Isola, A. 1974. Value Engineering in the Construction Industry. New York:
Construction Publishing Corp., Inc..
Dell’isola, A.J., 1975, “Value Engineering in the Construction Industry”, Van
Nostrand Reinhold Company.
Diktat perkuliahan Value Engineering Teknik Sipil Institut Teknologi Nasional
tahun 1995
Diktat Perkuliahan Value Engineering Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang
tahun 2005
Donomartono, 1999. Apilkasi Value Engineering Guna Mengoptimalkan Biaya
pada Tahap Perencanaan Kontruksi Gedung dengan Struktur
Donomartono, 1999. Apilkasi Value Engineering Guna Mengoptimalkan Biaya
pada
Hutabarat, J. 1995. Diktat Rekayasa Nilai ( Value Engineering ). Malang : Institut
Teknologi Nasional.
Isworo dkk., 1998. Value Engineering Changes Proposal Pembangunan Gedung
Laboratorium FP MIPA IKIP Surabaya. Tugas akhir JTS.
Palmer, A.J., Kelly, J., Male, S., 1996, “Holistic Appraisal of Value Engineering
in Construction in United States”, Journal of Construction Engineering and
Management, ASCE, December.
PBS-PQ250, 1992, “Value Engineering Program Guide for Design and
Construction”, U.S. General Services Administration, Public Buildings Service.
Suharto, Iman Ir. 1999. Manajemen Proyek. Jakarta
Suryolelono, K. B., 1994. Teknik Pondasi Bagian II. Nafiri, Yogyakarta
Tahap Perencanaan Kontruksi Gedung dengan Struktur Balok Beton Pratekan.
Tugas Akhir JTS. Surabaya : Fakultas Teknik Institut Teknologi Sepuluh
Nopember.
Zimmerman, L.W., Hart, G.D., 1982, “Value Engineering. A Practical Approach
for Owners, Designers, and Contractors”, Van Nostrand Reinhold Company.
Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali