HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN
KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN GANGUAN JIWA
PADA PASIEN RAWAT JALAN DIWILAYAH KERJA
PUSKESMAS MUARA AMAN
TAHUN 2019
PROPOSAL
OLEH :
SILVIA NUNGGARA
172426174 SPA
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN (S-1)
FAKULTAS ILMU KESEHATAN (FIKES)
UNIVERSITAS DEHASEN BENGKULU
TAHUN 2019
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN
KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN GANGUAN JIWA
PADA PASIEN RAWAT JALAN DIWILAYAH KERJA
PUSKESMAS MUARA AMAN
TAHUN 2019
PROPOSAL
OLEH :
SILVIA NUNGGARA
172426174 SPA
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Keperawatan pada Program Studi Ilmu Keperawatan (S1)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN (S-1)
FAKULTAS ILMU KESEHATAN (FIKES)
UNIVERSITAS DEHASEN BENGKULU
TAHUN 2019
ii
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN
KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN GANGUAN JIWA
PADA PASIEN RAWAT JALAN DIWILAYAH KERJA
PUSKESMAS MUARA AMAN
TAHUN 2019
PROPOSAL
OLEH :
SILVIA NUNGGARA
172426174 SPA
Disetujui Oleh :
Pembimbing Utama, Pembimbing Pendamping,
Ns. Berlian Kando ,S, [Link], [Link] Nuche Marlianto, SKM, MKM
NIDN : 02-0704-8601 NIDN : 02-1103-8402
Mengetahui,
Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan (S1)
Ns. Murwati, [Link], [Link]
NIDN : 02-2109-8001
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat
dak karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal skripsi penelitian
ini dengan judul ‘’ Hubungan Dukungan Sosial Keluarga Dengan Kepatuhan
Minum Obat Pasien Ganguan Jiwa Pada Pasien Rawat Jalan di wilayah Kerja
Puskesmas Muara Aman Tahun 2019’’
Tujuan penulisan proposal skripsi ini adalah sebagai persyaratan untuk
memperoleh gelar Sarjana Keperawatan pada Program Studi Ilmu Keperawatan
Jenjang S-I pada Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Dehasen Bengkulu.
Dalam penyelesaian proposal skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan
baik materi maupun moril dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima
kasih kepada:
1. Bapak Prof. agr. Johan Setianto selaku Rektor Universitas Dehasen Bengkulu
2. Ibu Dr. Ida Samidah, [Link], [Link], selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Dehasen Bengkulu
3. Ibu Ns. Berlian Kando Sianipar, [Link], [Link], selaku Wakil Dekan Fakultas
Ilmu Kesehatan Universitas Dehasen Bengkulu dan Dosen Pembimbing Utama.
4. Ibu Ns. Murwati, [Link], [Link], selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
Jenjang S-I Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Dehasen Bengkulu
iv
5. Bapak Nuche Marlianto, SKM, MKM, selaku Pembimbing pendamping yang
telah banyak memberikan bimbingan dan arahan dalam menyelesaikan proposal
skripsi ini
6. Kepala dan staf Puskesmas Muara Aman Kabupaten Lebong yang telah
memberikan izin penelitian di wilayah Kerjanya.
7. Seluruh staf dosen pengajar yang telah banyak memberikan ilmu kesehatan
khususnya dalam bidang ilmu keperawatan selama perkuliahan
8. Teman-teman sealmamater di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Dehasen
Bengkulu
9. Dan lain-lain yang tidak dapat disebut satu persatu
Demikian skripsi ini dibuat semoga dapat memberikan manfaat dan mendapatkan
masukan dan kritikan yang membangun. Terima kasih.
Bengkulu, April 2019
Penulis
v
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................................ii
KATA PENGANTAR ..............................................................................................v
DAFTAR ISI .............................................................................................................vi
DAFTAR BAGAN ....................................................................................................viii
DAFTAR TABEL ....................................................................................................ix
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang ................................................................................................1
B. Rumusan Masalah ..........................................................................................6
C. Tujuan Penelitian ...........................................................................................6
1. Tujuan Umum ..........................................................................................6
2. Tujuan Khusus .........................................................................................6
D. Manfaat Penelitian .........................................................................................7
1. Manfaat Teoritis .......................................................................................7
2. Manfaat Praktis ........................................................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Gangguan Jiwa ............................................................................................... 9
1. Pengertian Gangguan Jiwa ......................................................................... 9
2. Faktor Penyebab Gangguan Jiwa ................................................................10
3. Ciri-ciri Gangguan Jiwa ..............................................................................23
4. Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa...............................................................23
5. Macam-macam Gangguan Jiwa ..................................................................25
B. Dukugan Sosial Keluarga ............................................................................. . 27
1. Definisi dan Fungsi Keluarga ................................................................. . 27
2. Definisi Dukungan Sosial ....................................................................... . 32
3. Jenis-jenis Dukungan Sosial Keluarga ................................................... . 33
C. Kepatuhan Minum Obat ............................................................................... . 35
D. Kerangka Terori .......................................................................................... .. 37
BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN
HIPOTESIS
A. Kerangka Konsep ...................................................................................... 38
B. Definisi Operasional.................................................................................... 39
C. Hipotesis ................................................................................................... . 40
vi
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian.......................................................................................... ..41
B. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................... ..41
C. Populasi dan Sampel ................................................................................. ..41
D. Sumber Data............................................................................................. ...42
E. Pengumpulan Data ................................................................................... ..43
F. Instrumen Pengumpulan Data .................................................................. ..43
G. Pengolahan Data ...................................................................................... ..44
H. Analisis Data ............................................................................................ ..45
1. Analisis Univariat ............................................................................... ..45
2. Analisis Bivariat ................................................................................. ...45
I. Alur Penelitian .......................................................................................... ..47
J. Etika Penelitian ........................................................................................ .48
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN
vii
DAFTAR BAGAN
Bagan Judul Halaman
2.1 Kerangka Teori 37
3.1 Kerangka Konsep 38
4.1 Alur Penelitian 39
viii
DAFTAR TABEL
Tabel Daftar Tabel Halaman
Definisi operasional variabel penelitian
3.1 hubungan dukungan sosial keluarga dengan 39
kepatuhan minum obat pasien ganguan jiwa
Pada pasien rawat jalan di wilayah kerja
puskesmas Muara Aman Tahun 2019,
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gangguan jiwa adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak
normal, baik fisik maupun mental. Gangguan jiwa (Mental Disorder)
merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di negara-negara
maju, modern dan industri, keempat masalah kesehatan utama tersebut adalah
penyakit degeneratif, kanker, gangguan jiwa dan kecelakaan (dalam Hawari,
2013).
Salah satu penyakit gangguan jiwa yang menjadi masalah utama di
negaranegara berkembang adalah skizofrenia. Skizofrenia merupakan
kepribadian yang terpecah antara pikiran, perasaan dan perilaku, dalam artian
apa yang dilakukan tidak sesuai dengan pikiran dan perasaannya (Prabowo,
2014).
Skizofrenia termasuk jenis psikosis yang menempati urutan atas dari
seluruh gangguan jiwa yang ada. Fenomena gangguan jiwa saat ini mengalami
peningkatan yang sangat signifikant di belahan dunia. Menurut WHO (2016)
terdapat sekitar 21 juta orang penduduk dunia yang terkena skizofrenia, angka
tersebut meningkat dari tahun sebelumnya. Prevalensi skizofrenia di Amerika
Serikat dilaporkan bervariasi terentang dari 1 sampai 1,5% dengan angka
1
2
insiden 1 per 10.000 orang per tahun. Setiap tahun terdapat 300.000 pasien
skizofrenia mengalami episode akut (Yosep, 2011).
Insiden kekambuhan pasien skizofrenia juga merupakan insiden yang
tinggi, berkisar 60-75% setelah suatu episode psikotik jika tidak diberikan
terapi. Dari 74 % pasien skizofrenia yang kambuh, 71 % diantaranya
memerlukan rehospitalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 25 % sampai
50 % pasien yang pulang dari rumah sakit jiwa tidak memakan obat teratur.
Pasien dengan diagnosa skizofrenia diperkirakan akan kambuh 50% pada tahun
pertama dan 70% pada tahun kedua setelah pulang dari rumah sakit, serta
kekambuhan 100% pada tahun kelima setelah pulang dari rumah sakit jiwa
(Widodo dan Wulansi 2013)
Dari beberapa riset yang dilakukan di Indonesia membuktikan bahwa
dukungan keluarga mempunyai efek positif terhadap penyembuhan pasien atas
penyakit yang diderita. Dukungan keluarga berfaedah besar bagi proses
penyembuhan penyakit kronis termasuk skizofrenia. Dukungan keluarga dapat
mengurangi 50% kekambuhan pasien dan rehospitalisasi, 50% pasien
skizofrenia dapat dirawat jalan oleh keluarga setelah dipulangkan selama 1
tahun. Dalam waktu 6 bulan pasca rawat hanya sekitar 30-40% penderita yang
mengalami kekambuhan, setelah 1 tahun pasca rawat 40-50% penderita
mengalami kekambuhan, (Hardianto, 2014)
Salah satu faktor untuk mencegah terjadinya kekambuhan pada pasien
skizofrenia yaitu dengan melaksanakan program pengobatan dengan rutin yang
3
disertai keempat fungsi dukungan keluarga. Walaupun kepatuhan minum obat
tidak menyembuhkan dan tidak mengurangi kekambuhan 100 persen, tetapi
dengan perilaku patuh minum obat maka waktu remisi pasien setahun lebih
lama dan gejala psikosis tidak akan terlalu parah (Hardianto, 2014).
Kepatuhan pasien untuk melakukan kontrol terhadap kesehatan jiwa
dipengaruhi oleh individu atau pasien sendiri, dukungan dari keluarga,
dukungan sosial juga dukungan dari petugas kesehatan. Pasien gangguan jiwa
dalam masa rehabilitasi yang dirawat oleh keluarga sendiri dirumah atau rawat
jalan memerlukan dukungan untuk mematuhi program pengobatan. Namun
pada kenyataannya sampai saat ini masih banyak perlakuan yang salah terhadap
orang sakit jiwa diantaranya masih terdapat pemasungan, pengasingan bahkan
dibiarkan oleh keluarga sehingga tidak mendapat perawatan dan pengobatan
yang semestinya. Pasien gangguan jiwa dalam masa rehabilitasi yang dirawat
oleh keluarga sendiri dirumah atau rawat jalan memerlukan dukungan untuk
mematuhi program pengobata (Hardianto, 2014).
Keberhasilan pelayanan yang dilakukan di rumah sakit tidak akan
bermakna bila keluarga tidak ikut serta dalam merencanakan tindakan
keperawatan. Keluarga dapat mengurangi ansietas yang disebabkan oleh
penyakit tertentu dan dapat mengurangi godaan terhadap ketidakpatuhan
kontinuitas pengobatan. Dari beberapa riset yang dilakukan di Indonesia
membuktikan bahwa dukungan keluarga mempunyai efek positif terhadap
penyembuhan pasien atas penyakit yang diderita. Dukungan keluarga berfaedah
4
besar bagi proses penyembuhan penyakit kronis termasuk skizofrenia.
Dukungan keluarga dapat mengurangi 50% kekambuhan pasien dan
rehospitalisasi, 50% pasien skizofrenia dapat dirawat jalan oleh keluarga setelah
dipulangkan selama 1 tahun. Dalam waktu 6 bulan pasca rawat hanya sekitar
30-40% penderita yang mengalami kekambuhan, setelah 1 tahun pasca rawat
40-50% penderita mengalami kekambuhan, (Hardianto, 2014).
Jumlah penderita di Indonesia saat ini adalah 2,36 juta orang dengan
kategori gangguan jiwa ringan 6% dari populasi dan 0,17 gangguan jiwa berat,
tercatat sebanyak 6% penduduk berusia 14-24 tahun mengalami gangguan jiwa.
Hasil data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 prevalensi di
Sulawesi Utara sebanyak 0.8% yang mengalami skizofrenia. Data penderita
skizofrenia yang didapat dari rekam medik RSJ Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang
Provinsi Sulawesi Utara untuk tahun 2016 berjumlah 13.000 penderita. Data
rekam medik pasien skizofrenia pada bulan Juli 2017 sebanyak 1258 pasien,
pada bulan Agustus 2017 sebanyak 1292, dan pada bulan September 2017
sebanyak 1181 pasien. Hasil wawancara dengan tenaga kesehatan di rumah
sakit menerangkan bahwa sekitar 40 pasien perbulannya dihospitalisasi karena
mengalami gangguan jiwa, 30 diantaranya adalah pasien lama yang mengalami
kekambuhan dengan beberapa alasan diantarannya karena putus obat, minum
obat tidak teratur,dan karena proses penyakitnya
Berdasarkan data yang di peroleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Lebong, angka kejadian penyakit gangguan jiwa pada tahun 2018 sebanyak 203
5
orang dari 14 puskesmas yang ada di Kabupaten Lebong, diantaranya
Puskesmas Muara Aman ada 37 orang kunjungan, Puskesmas Taba Atas ada 21
orang kunjungan dan Puskesmas Ketenong ada 16 orang kunjungan. (Profil
Dinas Kesehatan Kabupaten Lebong tahun 2018).
Berdasarkan survei awal yang di lakukan pada tanggal 23 bulan
Februari tahun 2019 di Puskesmas perawatan Tes Kabupaten Lebong tahun
2017 terdapar 24 orang kunjungan, pada tahun 2017 terdapat 31 orang
kunjungan dan pada tahun 2019 bulan januari-Februari terdapat 37 orang
kunjungan pasien gangguan jiwa (Puskesmas Muara Aman, 2019).
Alasan peneliti mangambil di wilayah kerja Puskesmas Perawatan Tes,
pada saat observasi di Puskesmas perawatan Tes bahwa kasus yang paling
banyak di temukan adalah di wilaya kerja Puskesmas perawatan Muara Aman
Kabupaten Lebong. Hasil dari observasi yang dilakukan penelitian bahwa
masih banyak orang yang menderita gangguan jiwa, dikarenakan masi
kurangnya dukungan sosial keluarag dan kepatuhan minum obat, di wilaya
kerja Puskesmas perawatan Muara Aman pada tahun 2019.
Berdasarkan uraian di atas dapat di lihat bahwa jumlah kasus penyakit
ganguan jiwa di wilaya kerja Puskesmas perawatan Muara Aman termasuk
dalam 10 penyakit terbanyak. Melihat hal tersebut maka peneliti tertarik untuk
meneliti hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pasien
gangguan jiwa pada pasien rawat jalan di wilaya kerja Puskesmas perawatan
Muara Aman pada tahun 2019.
6
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka peneliti
tertarik untuk mengetahui apakah ada hubungan dukungan sosial keluarga dan
kepatuhan minum obat terhadap pasien gangguan jiwa rawat jalan di
Puskesmas perawatan Muara Aman pada tahun 2019.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dukungan
keluarga dengan kepatuhan minum obat pasien ganggua jiwa pada pasien
rawat jalan di Puskesmas perawatan Muara Aman pada tahun 2019.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui distribusi frekuensi kejadian ganguan jiwa di
Puskesmas perawatan Muara Aman pada tahun 2019.
b. Untuk mengetahui distribusi frekuensi dukungan sosial keluarga di
Puskesmas perawatan Muara Aman pada tahun 2019.
c. Untuk mengetahui distribusi frekuensi kepatuhan minum obat di
Puskesmas perawatan Muara Aman pada tahun 2019.
d. Untuk mengetahui hubungan dukungan sosial keluarga dengan kejadian
gangguan jiwa di Puskesmas perawatan Muara Aman pada tahun 2019.
e. Untuk mengetagui hubungan kepatuhan minum obat dengan kejadian
gangguan jiwa di Puskesmas perawatan Muara Aman pada tahun 2019.
7
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Bagi Pihak Akademi
Hasil penelitian ini supaya dapat di gunakan sebagai bahan kajian
literature dan pustaka mengenai penyakit gangguan jiwa serta upaya
pencegahan dan penyembuhannya di Puskesmas perawatan Muara
Aman. Pihak akademik dapat melakukan melalui kegiatan PBL dan
pengabdian masyarakat serta program stase komunitas.
b. Penelitian Lain
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam
melakukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih
banyak dan metodologinya penelitiannya lebih baik lagi.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dan dijadikan
sebagai bahan masukan bagi stakeholder untuk dapat mengambil keputusan
dan memecahkan masalah khususnya pencegahan penyakiit gangguan jiwa
di Puskesmas perawatan Muara Aman pada tahun 2019.
a. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Lebong
Hasil penelitian ini dapat di gunakan untuk bahan masukan bagi
Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Lebong untuk dapat
mengmbil keputusan dan memecahkan masalah mengenai penyakit
gangguan jiwa di Puskesmas perawatan Muara Aman pada tahun 2019.
8
b. Bagi Puskesmas perawatan Muara Aman
Hasil penelitian ini dapat digunkan sebagai bahan masukan
kepada Puskesmas Muara Aman untuk dapat mengambil keputusan dan
memecahkan masalah serta upaya penyembuhan pasien gangguan jiwa
di Puskesmas perawatan Muara Aman pada tahun 2019.
c. Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fikes Dehasen Bengkulu
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan
supaya bisa terlibat langsung dalam upaya pencegahan memecahkan
masalah dibagian kejadian gangguan jiwa di Puskesmas perawatan
Muara Aman pada tahun 2019.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Gangguan Jiwa
1. Pengertian Gangguan Jiwa
Gangguan jiwa adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang
menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan
penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peranan
sosial (Keliat, 2012). American Psychiatric Association (Videbeck, 2013)
mendefinisikan gangguan jiwa sebagai suatu pola psikologis atau perilaku yang
penting secara klinis yang terjadi pada seseorang dan dikaitkan dengan adanya
stress atau disabilitas (yaitu kerusakan pada satu atau lebih area yang penting)
atau disertai peningkatan resiko kematian yang menyakitkan, nyeri, disabilitas
atau kehilangan kebebasan yang sangat (Keliat, 2012).
Gangguan jiwa adalah sekumpulan keadaan yang tidak normal baik yang
berhubungan dengan keadaan secara fisik ataupun secara mental. Akan tetapi,
ketidaknormalan tersebut bukan disebabkan oleh sakit atau rusaknya bagian
anggota badan tertentu meskipun terkadang gejalanya dapat terlihat oleh
keadaan fisik (Ardani, 2007). Sedangkan menurut Yosep (2014) gangguan jiwa
adalah sekumpulan gejala patologik dominan yang berasal dari unsur jiwa.
Walaupun begitu bukan berarti unsur yang lain tidak mengalami gangguan,
sebab sesungguhnya yang mengalami sakit dan menderita adalah manusia
9
10
secara utuh bukan hanya badan, jiwa atau lingkungannya. Jadi dari beberapa
definisi gangguan jiwa di atas, dapat disimpulkan bahwa gangguan jiwa adalah
suatu kumpulan dari keadaan yang tidak normal baik pada mental maupun fisik
sehingga berakibat pada perubahan pada fungsi jiwa pada individu atau
hambatan dalam melaksanakan peran sosial.
2. Faktor penyebab gangguan jiwa
Penyebab gangguan jiwa itu bermacam-macam ada yang bersumber
dari berhubungan dengan orang lain yang tidak memuaskan seperti
diperlakukan tidak adil, diperlakukan semena-mena, cinta tidak terbalas,
kehilangan seseorang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain.
Menurut pendapat Sigmund Freud dalam (Maslim 2012), gangguan jiwa terjadi
karena tidak dapat dimainkan tuntutan dorongan instinctive yang sifatnya
seksual dengan tuntutan super ego (tuntutan normal sosial). Orang ingin berbuat
sesuatu yang dapat memberikan kepuasan diri, tetapi perbuatan tersebut akan
mendapat celaan masyarakat. Konflik yang tidak terselesaikan antara keinginan
diri dan tuntutan masyarakat ini akhirnya akan mengantarkan orang pada
gangguan jiwa (Maslim 2012)
(Menurut Yosep 2014) Penyebab gangguan jiwa dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang secara terus menerus saling terkait dan saling
mempengaruhi, yaitu:
11
1. Faktor organobiologis
a. Genetika / keturunan
Menurut (Cloninger dalam Yosep 2014) gangguan jiwa,
terutama gangguan persepsi sensori dan gangguan psikotik lainnya erat
sekali penyebabnya dengan faktor genetik termasuk di dalamnya
saudara kembar, individu yang memiliki anggota keluarga yang
mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan lebih tinggi
dibanding dengan orang yang tidak memiliki faktor herediter. Individu
yang memiliki hubungan sebagai ayah, ibu, saudara atau anak dari
klien yang mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan 10%
sedangkan keponakan atau cucu kejadian 2 -4%. Individu yang
memiliki hubungan sebagai kembar identik dengan klien yang
mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan 46–48%,
sedangkan kembar dizygot memiliki kecenderungan 14-17%. Faktor
genetik tersebut sangat ditunjang dengan pola asuh yang diwariskan
sesuai dengan pengalaman yang dimiliki oleh anggota keluarga klien
yang mengalami gangguan jiwa (Cloninger dalam Yosep 2014)
b. Cacat kongenital
Cacat kongenital atau sejak lahir dapat mempengaruhi perkembangan
jiwa anak, terlebih yang berat, seperti retardasi mental yang berat.
Akan tetapi umumnya pengaruh cacat ini timbulnya gangguan jiwa
terutama tergantung pada individu itu, bagaimana menilai dan
12
menyesuaikan diri terhadap keadaan hidupnya yang cacat. Orang tua
dapat mempersulit penyesuaian ini dengan perlindungan yang
berlebihan (proteksi berlebihan). Penolakan atau tuntutan yang sudah
diluar kemampuan anak.
c. Deprivasi
Deprivasi atau kehilangan fisik, baik yang dibawa sejak lahir ataupun
yang didapat, misalnya karena kecelakaan hingga anggota gerak (kaki
dan tangan) ada yang harus diamputasi (Baihaqi, 2013)
d. Temperamen / Proses-proses emosi yang berlebihan
Orang yang terlalu peka/sensitif biasanya mempunyai masalah
kejiwaan dan ketegangan yang memiliki kecenderungan mengalami
gangguan jiwa. Proses emosi yang terjadi secara terus-menerus dengan
koping yang tidak efektif akan mendukung timbulnya gejala psikotik
(Yosep, 2014).
a. Penyakit dan cedera tubuh
Penyakit–penyakit tertentu misalnya penyakit jantung, kanker, dan
sebagaimana, mungkin menyebabkan merasa murung dan sedih.
Demikian pula cacat tubuh tertentu dapat menyebabkan rasa rendah
diri (Yosep, 2014).
13
2. Faktor psikologis
a. Interaksi ibu dan anak
Lingkungan memang bukanlah satu-satunya pembentuk
kepribadian seseorang karena individu juga memiliki aspek bawaan
(nature). Pada dasarnya setiap orang lahir dengan keunikan dan potensi
diri namun potensi itu dapat terwujud juga dipengaruhi oleh dan
lingkungan psikologis yang akan membentuk kepribadian individu itu
nantinya. Lingkungan psikologis yang paling erat bagi perkembangan
kepribadian individu tidak lain adalah keluarga. Tahap psikososial
pertama adalah masa bayi. Krisis psikososial yang terjadi pada masa ini
adalah kepercayaan versus ketidakpercayaan dan kekuatan dasar pada
masa ini adalah harapan. Hubungan interpersonal bayi yang paling
signifikan adalah dengan pengasuh utama bayi biasanya ibu. Apabila
pola menerima segala sesuatu cocok dengan cara kulturnya dalam
menerima segala sesuatu maka bayi belajar rasa percaya diri dasar.
Sebaliknya bayi belajar ketidak percayaan bila menemui
ketidakcocokan antara kebutuhan sensori oral dari lingkungannya
(Feist,2014).
Ibu menjadi external object yang pertama (terpenting) bagi anak.
Ibu memiliki peran yang sangat penting bagi perkembangan seorang
anak karena ibu bertanggung jawab untuk mengelola tugas keluarga.
14
Ibu bersifat mengarahkan pada anak dan lebih positif dalam
berinteraksi terhadap anak (Brooks, 2012)
b. Hubungan sosial
Gangguan hubungan sosial merupakan suatu gangguan
hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang
tidak fleksibel dan menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu
fungsi seseorang dalam berhubungan sosial. Tiap individu mempunyai
potensi untuk terlibat dalam hubungan sosial pada berbagai tingkat
hubungan yaitu hubungan intim biasa sampai hubungan saling
ketergantungan. Individu tidak mampu memenuhi kebutuhan tanpa
adanya hubungan dengan lingkungan sosial. Oleh karena itu individu
perlu membina hubungan interpersonal (Sujono & Teguh, 2013).
Ada dua respon hubungan sosial yaitu respon adaptif dan
maladaptif. Respon adaptif adalah respon individu dalam
menyelesaikan dengan cara yang dapat diterima oleh norma
masyarakat. Respon maladaptif adalah respon individu dalam
menyelesaikan masalah dengan cara yang bertentangan dengan norma
agama dan masyarakat. Respon ini meliputi (Sujono & Teguh, 2013):
1. Solitude (menyendiri)
Solitude merupakan respon yang dilakukan individu untuk
merenungkan hal yang telah terjadi atau dilakukan dan suatu cara
mengevaluasi diri dalam menentukan rencana.
15
2. Autonomyatau otonomi
Autonomy merupakan kemampuan individu dalam menentukan dan
menyampaikan ide, pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
Individu mampu menetapkan untuk interdependen dan pengaturan
diri.
3. Mutualityatau kebersamaan
Mutuality merupakan kemampuan individu untuk saling pengertian,
saling memberi, dan menerima dalam hubungan interpersonal.
4. Interdependenatau saling ketergantungan
Iterdependen merupakan suatu hubungan saling ketergantungan,
saling tergantung antar individu dengan orang lain dalam membina
hubungan interpersonal.
5. Kesepian
Kondisi seseorang merasa sendiri, sepi, tidak adanya perhatian
dengan orang lain atau lingkungannya.
6. Menarik Diri
Kondisi seseorang tidak dapat mempertahankan hubungan dengan
orang lain atau lingkungannya.
7. Manipulasi
Manipulasi merupakan gangguan sosial bahwa individu cenderung
berorientasi pada diri sendiri. Tingkah laku mengontrol digunakan
16
sebagai pertahanan terhadap kegagalan atau frustasi dan dapat
menjadi alat untuk berkuasa kepada orang lain.
8. Impulsif
Impulsif merupakan respon sosial yang ditandai dengan individu
sebagai subyek yang tidak dapat diduga, tidak dapat dipercaya,
tidak mampu merencanakan, tidak mampu untuk belajar dari
pengalaman, dan miskin penilaian.
9. Narsisisme
Respon sosial ditandai dengan individu memiliki tingkah laku
egosentris, harga diri yang rapuh, terus menerus berusaha mendapat
penghargaan dan mudah marah jika tidak mendapat dukungan dari
orang lain.
10. Isolasi sosial
Isolasi sosial adalah keadaan individu mengalami penurunan atau
bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain
disekitarnya.
c. Hubungan keluarga yang patogenik
Struktur keluarga inti kecil atau besar mempengaruhi terhadap
perkembangan jiwa anak, apalagi bila terjadi ketidak sesuaian
perkawinan dan problem rumah tangga yang berantakan (Baihaqi,
2012).
17
Anak tidak mendapat kasih sayang, tidak dapat mengahayati
displin, tidak ada panutan, pertengkaran dan keributan yang
membingungkan dan menimbulkan rasa cemas serta rasa tidak aman.
Hal tersebut merupakan dasar yang kuat untuk timbulnya tuntunan
tingkah laku dan gangguan kepribadian pada anak dikemudian hari
(Yosep, 2014).
Kejadian kekerasan dalam rumah tangga memungkinkan anak-
anak untuk menyaksikan pertengkaran orang tuanya (kekerasan
terhadap ibunya) mengalami kekerasan seperti yang dialami ibunya,
bahkan menjadi sasaran kekerasan (pelampiasan emosi) oleh ibunya.
Anak korban KDRT tergantung usianya dapat mengalami
berbagai bentuk gangguan kejiwaan sebagai dampak dari peristiwa
traumatik yang dialaminya. Pada anak prasekolah dapat berupa perilaku
menarik diri, mengompol, gelisah, ketakutan, silit tidur, mimpi buruk,
dan teror tidur ( mendadak terbangun teriak histeris ), dan bicara gagap
(Dharmono, 2012)
d. Kehilangan
Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh
setiap individu selama rentang kehidupan, sejak lahir individu sudah
mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali
walaupun dalam bentuk yang berbeda (Yosep, 2014). Potter dan Perry
(2012) menyatakan kehilangan dapat dikelompokkan dalam 5 kategori:
18
kehilangan objek eksternal, kehilangan lingkungan yang telah dikenal,
kehilangan orang terdekat, kehilangan aspek diri, dan kehilangan hidup.
Kehilangan objek eksternal Kembali walaupun dalam bentuk yang
berbeda (Yosep, 2014). Potter dan Perry (2013) menyatakan kehilangan
dapat dikelompokkan dalam 5 kategori: kehilangan objek eksternal,
kehilangan lingkungan yang telah dikenal, kehilangan orang terdekat,
kehilangan aspek diri, dan kehilangan hidup.
1. Kehilangan objek eksternal
Kehilangan benda eksternal mencakup segala kepemilikan
yang telah menjadi usang, berpindah tempat, dicuri, atau rusak
karena bencana alam. Bagi seorang anak benda tersebut mungkin
berupa boneka atau selimut, bagi seorang dewasa mungkin berupa
perhiasan atau suatu aksesoris pakaian. Kedalaman berduka yang
dirasakan seseorang tehadap benda yang hilang tergantung pada
nilai yang dimiliki dan kegunaan dari benda tersebut.
2. Kehilangan lingkungan yang telah dikena
Kehilangan yang berkaitan dengan perpisahan dari
lingkungan yang telah dikenal mencakup meninggalkan
lingkungan yang telah dikenal selama periode tertentu atau
kepindahan secara permanen. Contohnya, termasuk pindah ke kota
baru, mendapat pekerjaan baru, atau perawatan di rumah sakit.
Kehilangan melalui perpisahan dari lingkungan yang telah dikenal
19
dan dapat terjadi melalui situasi maturasional, misalnya ketika
seorang lansia pindah ke rumah perawatan, contohnya kehilangan
rumah akibat bencana alam atau mengalami cedera atau penyakit.
Perawatan dalam suatu institusi mengakibatkan isolasi dari
kejadian rutin. Peraturan rumah sakit menimbulkan suatu
lingkungan yang sering bersifat impersonal dan demoralisasi.
Kesepian akibat lingkungan yang tidak dikenal dapat mengancam
harga diri dan membuat berduka menjadi lebih sulit.
3. Kehilangan orang terdekat
Orang terdekat mencakup orang tua, pasangan, anak-anak,
saudara sekandung, guru, pendeta, teman, tetangga, dan rekan
kerja. Artis atau atlet yang telah terkenal mungkin menjadi orang
terdekat bagi orang muda. Riset telah menunjukkan bahwa banyak
hewan peliharaan sebagai orang terdekat. Kehilangan dapat terjadi
akibat perpisahan, pindah, melarikan diri, promosi di tempat kerja,
dan kematian.
4. Kehilangan aspek diri
Kehilangan aspek dalam diri dapat mencakup bagian tubuh,
fungsi fisiologis, atau psikologis. Kehilangan bagian tubuh dapat
mencakup anggota gerak, mata, rambut, gigi, atau payudara.
Kehilangan fungsi fisiologis mencakup kehilangan kontrol
kandung kemih atau usus, mobilitas, kekuatan, atau fungsi
20
sensoris. Kehilangan fungsi psikologis termasuk kehilangan
ingatan, rasa humor, harga diri, percaya diri, kekuatan, respek atau
cinta. Kehilangan aspek diri ini dapat terjadi akibat penyakit,
cedera, atau perubahan perkembangan atau situasi. Kehilangan
seperti ini, dapat menurunkan kesejahteraan individu. Orang
tersebut tidak hanya mengalami kedukaan akibat kehilangan tetapi
juga dapat mengalami perubahan permanen dalam citra tubuh dan
konsep diri.
5. Kehilangan hidup
Sesorang yang menghadapi kematian, menjalani hidup,
merasakan, berpikir, dan merespon terhadap kejadian dan orang
sekitarnya sampai terjadinya kematian. Perhatian utama sering
bukan pada kematian itu sendiri tetapi mengenai nyeri dan
kehilangan kontrol. Meskipun sebagian besar orang takut tentang
kematian dan gelisah, masalah yang sama tidak menjadi penting
bagi setiap orang.
Setiap orang berespon secara berbeda-beda terhadap
kematian. orang yang telah hidup sendiri dan menderita penyakit
kronis lama dapat mengalami kematian. Sebagian menganggap
kematian sebagai jalan masuk ke dalam kehidupan yang akan
mempersatukannya dengan orang yang dicintai di surga.
Sedangkan orang lain takut perpisahan, dilalaikan, kesepian, atau
21
cedera. Ketakutan terhadap kematian sering menjadikan individu
lebih bergantung.
3. Faktor sosiokultural
Kebudayaan secara teknis adalah idea atau tingkah laku yang dapat
dilihat maupun yang tidak terlihat. Faktor budaya bukan merupakan
penyebab langsung timbulnya gangguan jiwa. Biasanya terbatas
menentukan “warna“ gejala disamping mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan kepribadian seseorang misalnya melalui kebiasaan yang
berlaku dalam kebudayaan tersebut. Beberapa faktor kebudayaan tersebut
yaitu :
a. Sistem nilai
Perbedaan sistem nilai, moral dan etika antara kebudayaan yang
satu dengan yang lain sering menimbulkan masalah kejiwaan.
b. Kepincangan antara keinginan dengan kenyataan
Iklan-iklan di radio, televisi, surat kabar, film dan lain-lain
menimbulkan bayangan-bayangan yang menyilaukan tentang
kehidupan modern yang mungkin jauh dari kenyataan hidup sehari-
hari. Akibat rasa kecewa yang timbul, seseorang mencoba
mengatasinya dengan khayalan atau melakukan kegiatan yang
merugikan masyarakat
c. Status ekonomi
22
Santrock (2013), status sosial ekonomi sebagai pengelompokan
orang-orang berdasarkan kesamaan karakteristik pekerjaan dan
pendidikan ekonomi. Sosial ekonomi adalah kedudukan atau posisi
sesorang dalam kelompok manusia yang ditentukan oleh jenis aktivitas
ekonomi, pendapatan, tingkat pendidikan, jenis rumah tinggal, dan
jabatan dalam organisasi (Maftukhah, 2012). Perbedaan dalam
kemampuan mengontrol sumber daya dan berpartisipasi dalam
ganjaran masyarakat menghasilkan kesempatan yang tidak setara.
Dalam masyarakat modern kebutuhan makin meningkat dan
persaingan makin meningkat dan makin ketat untuk meningkatkan
ekonomi hasil-hasil teknologi modern. Faktor-faktor gaji yang rendah,
perumahan yang buruk, waktu istirahat dan berkumpul dengan
keluarga sangat terbatas dan sebagainya merupakan sebagian hal yang
mengakibatkan perkembangan kepribadian yang abnormal.
d. Perpindahan kesatuan keluarga
Khusus untuk anak yang sedang berkembang kepribadiannya,
perubahan-perubahan lingkungan (kebudayaan dan pergaulan) cukup
mengganggu.
e. Masalah golongan minoritas
Tekanan-tekanan perasaan yang dialami golongan ini dari
lingkungannya dapat mengakibatkan rasa pemberontakan yang
23
selanjutnya akan tampil dalam bentuk sikap acuh atau melakukan
tindakan-tindakan yang akan merugikan orang banyak (Yosep, 2014).
3. Ciri-ciri gangguan jiwa
Ciri-ciri gangguan jiwa menurut Keliat (2012) adalah:
[Link] berkepanjangan
[Link] semangat dan cenderung malas
[Link] tanpa sebab
[Link] diri
[Link] mengenali orang
[Link] kacau
[Link] sendiri
[Link] mampu merawat diri
4. Tanda dan gejala gangguan jiwa
Tanda dan gejala gangguan jiwa menurut Yosep (2014) adalah sebagai berikut :
1. Gangguan kognisi pada persepsi
Gangguan kognisi pada persepsi biasanya penderita gangguan jiwa
merasa mendengar (mempersepsikan) sesuatu bisikan yang menyuruh
membunuh, melempar, naik genting, membakar rumah. Padahal orang di
sekitarnya tidak mendengarnya dan suara tersebut sebenarnya tidak ada
hanya muncul dari dalam diri individu sebagai bentuk kecemasan yang
sangat berat dirasakan. Hal ini sering disebut halusinasi, klien bisa
24
mendengar sesuatu, melihat sesuatu atau merasakan sesuatu yang
sebenarnya tidak ada menurut orang lain.
2. Gangguan Perhatian
Perhatian adalah pemusatan dan konsentrasi energi dalam proses
kognitif yang timbul dari luar akibat suatu rangsang. Agar suatu perhatian
dapat memperoleh hasil, harus ada 3 syarat yang terpenuhi yaitu: Inhibisi,
suatu rangsang yang tidak termasuk objek harus disingkirkan; Apersepsi,
yang dikemukakan hanya hal yang berkaitan dengan objek perhatian;
Adaptasi, alat-alat yang digunakan harus berfungsi dengan baik karena
diperlukan untuk penyesuaian terhadap objek pekerjaan.
3. Gangguan ingatan
Ingatan (kenangan, memori) adalah kesanggupan atau kemampuan
untuk mencatat, menyimpan, memproduksi isi dan tanda-tanda kesadaran.
Proses ingatan terdiri dari 3 unsur yaitu: Pencatatan, Penyimpanan,
Pemanggilan kembali. Gangguan ingatan terjadi apabila terdapat gangguan
pada satu atau lebih dari 3 unsur tersebut, faktor yang mempengaruhi adalah
keadaan jasmaniah dan umur.
4. Gangguan pikiran
Proses berpikir yang normal mengandung arus ide, simbol, dan
asosiasi yang terarah pada tujuan dan tugas yang dapat menghantar pada
suatu penyelesaian yang berorientasi pada kenyataan. Faktor-faktor yang
25
mempengaruhi proses berpikir, yaitu: faktor somatik, faktor psikologik,
faktor sosial.
5. Gangguan kemauan
Penderita gangguan jiwa memiliki kemauan yang lemah (abulia)
susah membuat keputusan atau memulai tingkah laku, susah sekali bangun
pagi, mandi, merawat diri sendiri sehingga terlihat kotor, bau dan acak-
acakan.
6. Gangguan emosi
Gangguan emosi dimana klien merasa senang, gembira yang
berlebihan (Waham kebesaran). Klien merasa sebagai orang penting,
sebagai raja, pengusaha, orang kaya, titisan Bung karno tetapi di lain waktu
bisa merasa sangat sedih, menangis, tak berdaya (depresi) sampai ada ide
ingin mengakhiri hidupnya.
7. Gangguan psikomotor
Gangguan psikomotor seperti hiperaktivitas, dimana klien melakukan
pergerakan yang berlebihan naik ke atas genting berlari, berjalan maju
mundur, meloncat-loncat, melakukan berbagai hal yang tidak disuruh atau
menentang apa yang disuruh, diam lama tidak bergerak atau melakukan
gerakan aneh (Yosep, 2014).
5. Macam-macam gangguan jiwa
Menurut Videback (2008) gangguan jiwa adalah :
1. Skizofrenia
26
Skizofrenia adalah suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan
menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerekan, perilaku yang
aneh. Penyakit ini sering diartikan oleh masyarakat adalah penyakit yang
berbahaya dan tidak dapat dikontrol dan digambarkan sebagai individu yang
mengalami masalah emosional dan memperlihatkan perilaku yang aneh
(Videbeck, 2012).
2. Depresi
Depresi merupakan gangguan alam perasaan ditandai dengan gejala
sedih, termasuk perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor,
konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya dan adanya keinginan
bunuh diri.
3. Kecemasan
Kecemasan sebagai pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang
pernah dialami oleh semua orang dalam rangka memacu individu untuk
mengatasi masalah yang dihadapi
4. Gangguan kepribadian
Gangguan kepribadian didiagnosis ketika kepribadian seseorang
menjadi kaku dan maladaptif, dan secara signifikan mengganggu
melakukan fungsi dalam masyarakat atau bisa jadi menyebabkan distres
emosional individu, (Videbeck, 2013).
5. Gangguan mental organik
27
Merupakan gangguan jiwa yang disebabkan oleh gangguan fungsi
jaringan otak. Gangguan fungsi otak ini dapat disebabkan oleh penyakit
badaniah yang mengenai otak menganai bagian luar otak.
6. Gangguan psikosomatik
Gangguan psikosomatik merupakan komponen psikologi yang diikuti
gangguan fungsi badaniah.
7. Retardasi mental
Retardasi mental merupakan keadaan dimana terhentinya atau tidak
lengkapnya perkembangan jiwa, yang ditandai oleh terjadinya hendaya
keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada
tingkat kecerdasan secara menyeluruh, misalnya kemampuan kognitif,
bahasa dan sosial.
8. Gangguan perilaku masa anak remaja
Anak dengan gangguan perilaku menunjukan perilaku yang tidak
sesuai dengan permintaan, kebiasaan atau norma-norma masyarakat. Jika
pada masa anak-anak terjadi gangguan jiwa maka kemungkinan masa
remaja juga dapat terkena gangguan jiwa.
B. Dukungan Sosial Keluarga
1. Definisi dan Fungsi Keluarga
Keluarga didefinisikan sebagai kumpulan dua orang atau lebih yang
hidup bersama dengan keterikatan emosional dimana setiap individu
28
mempunyai peran masing-masing sebagai bagian dari keluarga (Friedman,
Bowden, & Jones, 2010).
Menurut Ahmadi (2007: 221), “Keluarga merupakan sebuah group
yang terbentuk dari perhubungan laki-laki dan wanita, perhubungan yang
mana berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak”.
Jadi keluarga dalam bentuk yang murni merupakan satu kesatuan sosial
yang terdiri dari suami, istri, dan anak anak yang belum dewasa.
Dalam terminologi syariat, keluarga adalah setiap orang yang ada
hubungan darah atau perkawinan, yaitu: ibu, bapak, dan anakanaknya
(dalam arti sempit) serta mencakup semua orang berketurunan dari kakek-
nenek yang sama, termasuk kedalamnya keluarga masingmasing istri dan
suami (Hartini, 2011).
Pendapat lain menjelaskan pengertian keluarga dibedakan menjadi
dua, yaitu pengertian keluarga secara psikologis dan pengertian keluarga
secara biologis. Pertama, pengertian keluarga secara psikologis diartikan
sebagai sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal
bersama dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin
sehingga terjadi saling mempengaruhi, saling memperhatikan dan saling
menyerahkan diri. Kedua, pengertian keluarga secara biologis menunjukkan
ikatan keluarga antara ibu, ayah, dan anak yang berlangsung terus karena
adanya hubungan darah yang tidak mungkin terlepas (Shochib, 2010).
29
Berdasarkan pendapat para ahli maka keluarga mengandung dimensi
biologis, psikologis dan sosial. Keluarga merupakan suatu kesatuan yang
diikat oleh adanya saling berhubungan atau interaksi dan saling
mempengaruhi antara satu dengan lainnya, walaupun diantara mereka tidak
terdapat hubungan darah. Namun dalam konteks keluarga inti, secara
psikologis, keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam
tempat tinggal bersama dan masing-masing anggota merasakan adanya
pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi, saling
memperhatikan, dan saling menyerahkan diri.
a. Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga berfokus pada proses yang digunakan oleh
keluarga untuk mencapai tujuan bersama anggota keluarga. Ada
beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga terhadap anggota
keluarga, yaitu fungsi afektif, ekonomi, dan perawatan kesehatan.
Adapun penjelasannya sebagai berikut:
1. Fungsi afektif (the effective function)
Fungsi afektif secara umum didefinisikan sebagai fungsi
internal keluarga untuk memenuhi kebutuhan psikososial, saling
mengasihi dan memberikan cinta kasih, serta saling menerima dan
mendukung antar anggota keluarga. Fungsi afektif yang dilaksanakan
dengan baik dapat menciptakan konsep diri positif pada keluarga.
30
Kebahagiaan keluarga dapat diukur dari kekuatan cinta antar anggota
keluarga.
Fungsi afektif dapat diberikan kepada anggota keluarga yang
memerlukan bantuan secara emosional dengan cara memberikan
dukungan yang berupa kehadiran, perhatian, kepedulian, kesediaan
dan hal-hal lain yang dapat memberikan keuntungan emosional dan
kekuatan fisik sehingga mendorong anggota keluarga untuk
melakukan aktivitas sehari-hari.
Dukungan keluarga yang rendah dapat memperburuk kesehatan
psikologis atau mental anggota keluarga yang sedang mempunyai
banyak tugas. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang
mengatakan hubungan sosial yang positif berhubungan dengan hasil
kesehatan yang lebih baik, umur panjang, dan penurunan tingkat
stres. Sebaliknya kehidupan keluarga yang buruk juga dapat
menimbulkan stres dan koping disfungsional yang dapat
mengganggu kesehatan fisik anggota keluarga. Gangguan stres dan
koping disfungsional dapat berupa: sulit tidur, tekanan darah tinggi,
maupun penurunan respon imun. Dengan demikian dukungan afektif
atau emosional yang rendah dari keluarga dapat semakin menurunkan
kesehatan fisik anggota keluarga (Friedman, Bowden, & Jones,
2010).
31
2. Fungsi ekonomi (the economic function)
Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi
kebutuhan anggota keluarga secara ekonomi. Fungsi ekonomi
berkaitan dengan kemampuan keluarga menyediakan sumber daya
yang cukup secara finansial untuk memenuhi kebutuhan seluruh
anggota keluarga (Friedman, Bowden, & Jones, 2010).
Kondisi ibu hamil seringkali menjadi beban ekonomi keluarga
karena keluarga menanggung biaya kebutuhannya sehari hari. Fungsi
ekonomi keluarga dapat dilakukan dalam bentuk dukungan
instrumental yang dapat dilakukan dengan penyediaan fasilitas dan
lain sebagainya.
3. Fungsi perawatan kesehatan (the health care function)
Fungsi perawatan kesehatan keluarga merupakan fungsi untuk
mempertahankan keadaan kesehatan seluruh anggota keluarga.
Dengan demikian fungsi perawatan kesehatan, memberikan
kewajiban kepada keluarga untuk bertanggung jawab penuh, tidak
hanya memberikan pengobatan dan pelayanan kesehatan kepada
anggota keluarga tetapi juga bagaimana keluarga dapat berperan
mempertahankan status kesehatan anggota keluarga.
Keluarga secara ideal diharapkan menjadi sumber kesehatan
primer dan efektif bagi setiap anggota keluarga. Untuk mencapai
kondisi itu maka setiap anggota keluarga harus menjadi lebih terlibat
32
dalam tim perawatan kesehatan dan proses terapi total. Keluarga
harus dapat memberikan motivasi positif kepada setiap anggota
keluarga untuk memelihara, mendapatkan kembali atau mencapai
kesejahteraan keluarga dengan memelihara kesehatan setiap anggota
keluarga (Friedman, Bowden, & Jones, 2010).
2. Definisi Dukungan Sosial
Menurut (Johnson dan Jhonson 2012), “Dukungan sosial merupakan
keberadaan orang lain yang dapat diandalkan untuk memberi bantuan,
semangat, penerimaan dan perhatian, sehingga bisa meningkatkan
kesejahteraan hidup bagi individu yang bersangkutan”.
Gore (dalam Gotlib & Hammen, 2012) menyatakan bahwa
“Dukungan sosial lebih sering didapat dari relasi yang terdekat, yaitu dari
keluarga atau sahabat. Kekuatan dukungan sosial yang berasal dari relasi
yang terdekat merupakan salah satu proses psikologis yang dapat menjaga
perilaku sehat dalam diri seseorang”.
Menurut Cohen dan Syme (dalam Friedman 1998):
“Dukungan sosial keluarga merupakan keadaan yang bermanfaat bagi
individu yang diperoleh dari orang lain sehingga orang akan tahu bahwa ada
orang lain yang memperhatikan, menghargai dan mencintainya. Dukungan
keluarga merupakan segala bentuk perilaku dan sikap positif yang diberikan
keluarga kepada salah satu anggota keluarga yang membutuhkan”.
33
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dukungan sosial adalah
memberi bantuan, semangat, penerimaan, perhatian, penghargaan dan
pertolongan yang didapatkan dari orang tua, teman maupun orang terdekat
lain yang membantu seseorang saat mengalami permasalahan. Dukungan
sosial yang terpenting adalah yang berasal dari keluarga.
3. Jenis-jenis Dukungan Sosial Keluarga
Friedman, Bowden, & Jones, (2010) menjelaskan bahwa terdapat
empat jenis dukungan yakni: dukungan informasional, dukungan penilaian,
dukungan instrumental, dan dukungan emosional
a. Dukungan informasional
Dukungan informasional merupakan dukungan yang berfungsi
sebagai pengumpul informasi tentang segala sesuatu yang digunakan
untuk mengungkapkan suatu masalah. Jenis dukungan ini sangat
bermanfaat dalam menekan munculnya suatu stressor karena informasi
yang diberikan dapat menyumbangkan aksi sugesti yang khusus pada
individu. Secara garis besar terdiri dari aspek nasehat, usulan, petunjuk,
dan pemberian informasi.
b. Dukungan penilaian atau penghargaan
Dukungan penilaian atau penghargaaan yaitu keluarga bertindak
sebagai umpan balik, membimbing, dan menangani masalah, serta
sebagai sumber dan validator identitas anggota keluarga. Dimensi ini
terjadi melalui ekspresi berupa sambutan yang positif dengan orang-orang
34
di sekitarnya, dorongan atau pernyataan setuju terhadap ide-ide atau
perasaan individu. Perbandingan yang positif dengan orang lain seperti
pernyataan bahwa orang lain mungkin tidak dapat bertindak lebih baik
(Friedman, Bowden, & Jones, 2010).
c. Dukungan instrumental
Dukungan instrumental yaitu dukungan yang memfokuskan keluarga
sebagai sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit berupa bantuan
langsung dari orang yang diandalkan seperti materi, tenaga, dan sarana.
Dukungan yang bersifat nyata, dimana dukungan ini berupa bantuan
langsung. Dimensi ini memperlihatkan dukungan dari keluarga dalam
bentuk nyata terhadap ketergantungan anggota keluarga. Dimensi
instrumental ini meliputi penyediaan sarana untuk mempermudah atau
menolong orang lain, termasuk di dalamnya adalah memberikan peluang
waktu (Friedman, Bowden,& Jones,2010).
d. Dukungan emosional
Dukungan emosional yaitu dukungan yang menempatkan keluarga
sebagai tempat aman dan damai untuk istirahat dan dapat membantu
penguasaan terhadap emosi. Dengan adannya dukungan emosional di
dalam keluarga, secara positif akan mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anggotanya (Friedman, Bowden, & Jones, 2010).
Setiadi (2008), juga mengatakan bahwa:
35
“Bentuk dukungan emosional berupa dukungan simpati dan empati,
cinta, kepercayaan dan penghargaan. Hal mengandung pengertian bahwa
seseorang yang menghadapi persoalan merasa dirinya tidak menanggung
beban sendiri tetapi masih ada orang lain yang memperhatikan, mau
mendengar segala keluhannnya, dan berempati terhadap persoalan yang
dihadapinnya, bahkan mau membantu memecahkan masalah yang
dihadapi”.
C. Kepatuhan Minum Obat
Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa yang ditandai oleh adanya
penyimpangan yang sangat dasar dan adanya perbedaan dari pikiran, disertai
dengan adanya ekspresi emosi yang tidak wajar. Skizofrenia sering ditemukan
pada lapisan masyarakat dan dapat dialami oleh setiap manusia (Hendrata,
2012).
Salah satu Kendala dalam mengobati skizofrenia optimal adalah
keterlambatan penderita dating keklinik pengobatan. Kelambatan penanganan
ini akan berdampak buruk. Kekambuhan menjadi sering, pengobatan menjadi
semakin sulit dan akhirnya akan mengantar penderita pada keadaan kronis
berkepanjangan.
Penderita skizofrenia yang terlambat berobat akan cenderung “kebal”
dengan obat-obat, menggunakan obat dengan dosis yang lebih tinggi serta
perawatan di rumah sakit yang lebih [Link]
biaya dan beban ekonomikeluarga (Irmansyah, 2014).
36
Kekambuhan yang dialami pasien disebabkan ketidak patuhan pasien
yang mengalami [Link] itu, perlu adanya dukungan dari keluarga,
orang-orang terdekat dan juga lingkungan sekitar. Melalui pengawasan secara
intensif ke pada penderita skizofrenia, maka kepatuhann yauntuk selalu
mengkonsumsi obat bisa juga, sehingga pasien merasa memiliki tambahan
kekuatan dari keluarga dan orang terdekatnya (Nurjanah, 2014).
Berdasarkan data yang diperoleh dari rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. V. L
Ratumbuysang Manado data 2 tahun terakhir pada pasien rawat jalan dari tahun
2013 - 2014 terdapat penderita yang mengalami ke kambuhan yang dipengaruhi
oleh ke tidak patuhan dalam menjalani pengobatan pada tahun 2013 sebanyak
1000 dan tahun 2014 sebanyak 800 penderita.
37
D. Kerangka Teori
Faktor psikologis
Hubungan social
Struktur keluarga
yang patogenik
kehilangan
Faktor Organobiologis
Cacat Kongenital
Deprivasi Gangguan Jiwa
Temparemen
Penyalah gunaan obat-
obatan
Penyakit dan cetra
Faktor sosiokultural
tubuh
Sistem nilai
Kepincangan antar
keinginan dengan
kenyataan
Status ekonomi
Perpindahan kesatuan
keluarga
Masalah golongan
minoritas
Gambar 2.1 Kerangka Teori (Yosep, 2014), (Feist, 2014), (Sihombing, 2012)
BAB III
KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN
HIPOTESIS
A. Kerangka Konsep
Kerangka Konsep merupakan model konseptual yang berkaitan dengan
bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan secara logis
beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah.
Variabel bebas Variabel terikat
Dukungan sosial keluarga
Gangguan Jiwa
Kepatuhan Minum Obat
Bagan 2.2 Kerangka Konsep
38
39
B. Definisi Operasional
Tabel 3.1. Definisi Operasional
No Variabel Definisi Cara ukur Alat Hasil pengukuran Skala
operasional ukur
1 Gangguan Rentang waktu Observasi Kuesioner Dinyatakan dalam Interval
Jiwa pasien sejak tahun
awal
menderita
ganguan jiwa
2 Dukugan Dukungan Observasi Kuesioner 1= Mendukung,: Ordinal
sosial yang diberikan bila skor jawaban ≥
keluarga oleh keluarga Mean
untuk
kesembuhan 2= Tidak
penderita mendukung, bila
ganguan jiwa skor jawaban <
Mean
3 Kepatuhan Persepsi Observasi Kuesioner 1= Patuh,: bila Ordinal
Minum pasien tentang jawaban benar ≥
Obat prilaku dalam Mean
minum obat
yang tidak 2= Tidak patuh,
sesuai waktu bila jawaban benar
minum obat < Mean
atau dosis obat .
40
C. Hipotesis
Ha1 : Ada hubungan yang bermakna antara dukungan sosial keluarga dengan
kejadian gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Muara Aman tahun
2019.
Ha2 : Ada hubungan yang bermakna antara kepatuhan minum obat dengan
kejadian gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Muara Aman tahun
2019.
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan disain studi
cross sectional. Penelitian cross sectional ialah dimana variabel yang
termasuk faktor risiko dan variabel yang termasuk efek diobservasi ataua
diteliti sekaligus pada waktu yang bersamaan (Notoatmodjo 2015).
Penelitian ini pengambilan variabel dependen dan variabel independen
dilakuakan dalam waktu yang bersamaan untuk mengetahui hubungan
dukungan sosial keluarga, kepatuhan minum obat dengan kajadian gangguan
jiwa terhadap pasien rawat jalan di wilayah kerja Puskesmas Muara Aman
tahun 2019.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja puskesmas Muara
Aman, sedangkan waktu penelitian di lakukan pada bulan April sampai bulan
Mei tahun 2019.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien rawat jalan yang
berobat mengalami gangguan jiwa di Puskesmas Muara Aman Kabupaten
Lebong tahun 2019, berdasarkan rekapitulasi dalam bulan januari sampai
41
42
bulan februari terdapat 37 orang kunjungan gangguan jiwa yang rawat
jalan.
1. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah sama dengan jumlah populasi
yang ada Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik
Porposive Sampling yaitu teknik pengambilan sampel di mana jumlah
sampel ditentukan berdsarkan keinginan peneliti. Jumlah sampe dalam
penelitian ini yaitu 30 orang.
Kriteria sampel
a. Kriteria insklusi
Kriteria insklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari
suatu populasi suatu target dan terjangkau akan diteliti. Adapun
kriteria insklusi sampel yang akan diteliti adalah:
1) Bersedia menjadi responden.
2) Bisa membaca dan menulis
b. Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi adalah keadaan yang menyebabkan subjek
memenuhi kriteria insklusi namun tidak dapat diikuti sertakan dalam
penelitian, yang meliputi:
1. Tidak bisa dilakukan karena tidak di perbolehkan oleh responden
dan pihak keluarga.
43
D. Sumber Data
1. Sumber Primer
Sumber primer adalah sumber data yang secara langsung
memberikan data kepada pengumpul data (Sugiyono, 2012). Sumber
primer ini berupa catatan hasil wawancara dan pemeriksaan laboratorium
yang diperoleh melalui wawancara yang penulis lakukan. Selain itu,
penulis juga melakukan observasi lapangan dan mengumpulkan data
dalam bentuk catatan tentang situasi dan kejadian di perpustakaan.
2. Sumber Sekunder
Sumber data sekunder merupakan sumber data yang tidak
memberikan informasi secara langsung kepada pengumpul data
(Sugiyono, 2012). Sumber data sekunder ini didapatkan dari Data Dinas
Kesehatan Kabupaten Lebong dan Puskesmas Muara Aman .
E. Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data
primer yaitu data yang diperoleh langsung dari pasien gangguan jiwa yang
rawat jalan dengan mengunakan kuesioner, dan lembar observasi. Kuesioner
digunakan untuk mengetahui dukungan sosial keluarga dan kepatuhan pasien
dalam minum obat. Sedangkan data sekunder di dapat kan dari Dinas
Kesehatan Kabupaten Lebong dan Puskesmas Muara Aman.
44
F. Instrument Pengumpulan Data
Instrument penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
lembar kuesioner dan observasi dalam bentuk pertanyaan tertutup yang
sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih agar
mempermudah pengisian bagi responden pada waktu penelitian. Daftar
pertanyaan dibuat berdasarkan indikator-indikator yang di gunakan untuk
mengukur variabel dalam penelitian.
G. Pengolahan Data
Seluruh data yang terkumpul kemudian dioleh melalui tahap-tahap
sebagai berikut :
1. Editing, yaitu memeriksa data yang telah dikumpulkan untuk diteliti
kelengkapan, kejelasan makna jawaban, konsistensi maupun kesalahan
antarjawaban dari kuesioner.
2. Coding, yaitu kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data
berbentuk angka atau bilangan. Kegunaan dari coding adalah untuk
mempermudah pada saat analisis data dan juga mempercepat pada saat
entry data.
3. Entry, yaitu memasukkan data untuk di olah menggunakan komputer.
4. Cleaning (pembersih data) merupakan kegiatan pengecekan kembali
data yang sudah di-entry apakah ada kesalahan atau tidak. Kesalahan
tersebut di mungkinkan terjadi pada saat kita mengentry ke komputer.
45
5. Saving, yaitu menyimpan file yang telah selesai di operasikan ke
komputer.
6. Tabulating, yaitu kegiatan untuk meringkas data yang diperoleh
kedalam tabel-tabel yeng telah dipersiapkan. Data yang diperoleh
kemudian dikelompokkan dan diproses dengan menggunakan tabel
tertentu.
H. Analisis Data
1. Analisis Univariat
Analisis yang dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi hubungan
dukungan sosial keluarga dengan kapatuhan minum obat pasien
gangguan jiwa pada pasien rawat jalan di wilaya kerja Puskesmas
Muara Aman tahun 2019.
2. Analisis Bivariat
Analisis yang dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel
independen dengan variabel dependen dengan melakukan uji Chi Square
untuk variabel dengan bentuk kategorik – kategorik. Variabel yang
dianalisis dengan uji Chi Square yaitu :
a. Untuk mengetahui hubungan dukungan sosial keluarga dengan
kejadian pasien gangguan jiwa pada pasien rawat jalan di wilaya
kerja Puskesmas Muara Aman tahun 2019.
46
b. Untuk mengetahui hubungan kapatuhan minum obat pasien
gangguan jiwa pada pasien rawat jalan di wilaya kerja Puskesmas
Muara Aman tahun 2019.
Menentukan uji kemaknaan dengan cara membandingkan nilai p (p
Value) dengan tingkat signifikasi 95& dan α=0,05 yakitu
1. Jika nilai p ≤ 0,05 maka Ho di tolak yang berarti ada hubungan
bermakna antara variabel bebas dan varibel terikat.
2. Jika p ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak, yang artinya tidak ada
hubungan yang bermakna antara variabel bebas dan variabel terikat.
I. Etika Penelitian
Pada penelitian ini etika penelitian yang di berikan kepada responden
meliputi:
1. Inform consent ( lembar persetujuan )
Lembar penelitian yang akan di berikan kepada responden yang akan
di teliti dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Lembar persetujuan
diberikan kepada responden dan menjelaskan tentang maksut dan tujuan
penelitian ini di lakukan, dan menjelaskan manfaat yang akan di peroleh
setelah menjadi respoden penelitian. Jika responden bersedia maka harus
menandatangani lembar persetujuan, dan bila responden menolak maka
peneliti tidak boleh memaksa.
47
2. Anonymity ( tanpa nama )
Menjaga kerahasiaan identitas responden, peneliti tidak
mencantumkan nama responden melainkan hanya kode nomor atau kode
tertentu yang hanya di ketahui oleh peneliti untuk mengumpulkan data
yang akan diisi oleh responden sehingga responden tidak diketahui oleh
publik.
3. Confidential ( kerahasiaan )
Peneliti tidak akan menyebarkan informasi yang diberikan oleh
responden dan kerahasiaannya akan dijamin oleh peneliti. Hanya data
tertentu yang akan di laporkan sebagai hasil penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 2013. Ilmu Pendidikan. Rineka Cipta. Jakarta
Brooks, G. F., Butel, J. S. & Morse, S. A., 2012. Struktur Sel. In: Mikrobiologi
Kedokteran Jawetz, Melnick & Adelberg. Jakarta: EGC
Baihaqi, mif,dkk. 2013. 2012 “Konsep Dasar dan Gangguan-gangguan”.
Bandung: PT Refika Aditama.
Dinas kesehatan Kesehatan Lebong Tahun 2018. Profil Kesehatan Dinas
Dharmono. 2012. Pemanfaatan Tumbuhan Obat untuk keperluan adat. Online.
Tersedia Portal [Link]. diakses 12 April 2016. Kesehatan
Lebong
Feist, Jess dan Feist, Gregory. 2014. Teori Kepribadian. Buku 2. Jakarta: Salemba
Humanika
Ftidman, Bowden dan jhones 2013. Buku Ajar Keperawatan keluarga Riset,
Teori dan Praktik (Edisi 5). Jakarta: EGD
Puskesmas Muara Amana Tahun 2019. Profil Puskesmas Muara Aman.
Perry. [Link] Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses &. Praktek.
Edisi 4. Vol 1. Jakarta : EGC.
Hawari. Dadang. 2013. Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta: FKUI.
Harianto, Ridwan. 2014. Buku Ajar Kesehatan [Link]:EGC
,Hartini,(2011), Adsorbsi Minyak Goreng Bekas Menggunakan Arang Aktif dari
Sabut Kelapa, Jurnal Teknik Kimia Universitas
Muhammadiyah,Jakarta.
Hendrata, R. dan Sutardi. 2012. Respon bibit kakao pada bagian pangkal, tengah,
dan pucuk terhadap pemupukan majemuk. Agrovigor
Jhonson R, 2010. Keperawatan Keluarga. Cetakan Pertama. Yogyakarta : Nuha
Medika
Keliat, B.A. (2010). Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC.
Kaliet 2012. Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas Kelompok, EGC: Jakarta.
Pabowo, Eko. 2014. Konsep dan Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa.
Yogyakarta: Nuha Medika
Maftukhah, Ida. 2015. Pengaruh Kualitas Produk, dan Kualitas Pelayanan
terhadap Loyalitas Pelanggan Melalui Kepuasan Pelanggan.
Managemebnt Analysis journal 4 (4) (2015). Universitas Negeri
Semarang: Semarang.
Notoatmodjo, S.2015. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Nurjanah HT, Yusefi V. 2013. Profil asam amino dan asam lemak kerang bulu
(Anadara antiquate). Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia.
Videback, S.J. 2012. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Santrock, J. W. (2014). Psikologi Pendidikan. Jakarta : Salemba Humanika
Setiadi. 2012. Skizofrenia : Memahami Dinamika Keluarga Pasien. Bandung :
Refika Aditama
Shochib, Daryati. 2014. Pola Asuh Orang Tua Dalam Membantu Disiplin Diri.
Jakarta: Rineka Cipta.
Sujono dan Purwanto Teguh. 2013. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta:
Graha Ilmu
Sugiyono.(2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif & RND. Bandung :
Alfabeta
Widodo, Arif. 2012. Standar Operasional Prosedur Asuhan Keperawatan Jiwa.
Surakarta : FIK UMS.
Yosep. 2011. 2014 Keperawatan Jiwa. Edisi 4. Jakarta : Refika Aditama.
Lampiran 1. Surat Permintaan Menjadi Responden Penelitian
SURAT PERMINTAAN
MENJADI RESPONDEN PENELITIAN
Dengan Hormat,
Saya (Silvia Nunggara) mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (S1)
Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Dehasen Bengkulu, akan melakukan
penelitian dengan judul: “Hubungan Dukungan Sosial Keluarga Dengan
Kepatuhan Minum Obat Pasien Ganguan Jiwa Pada Pasien Rawat Jalan di
wilayah Kerja Puskesmas Muara Aman Tahun 2019”.
Adapun tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk mengetahui hubungan
dukungan sosial keluarga dengan kepatuhan minum obat pasien ganguan jiwa pada
pasien rawat jalan di Puskesmas Muara Aman Kabupaten Lebong tahun 2019. Dalam
penelitian ini, akan dilakukan beberapa tahapan:
1. Permintaan persetujuan Anda untuk menjadi responden penelitian.
2. Pengisian lembar informasi pribadi untuk mengetahui identitas Anda.
3. Pengisian kuesioner
Kuesioner bertujuan untuk mengumpulkan data penelitian dan data yang
diperoleh tidak akan mempengaruhi pekerjaan Anda. Data dan informasi yang Anda
berikan dijamin kerahasiaannya dan digunakan hanya semata-mata untuk kepentingan
penelitian.
Demikikian informasi terkait dengan penelitian yang bisa saya sampaikan. Atas
bantuan dan partisipasinya saya ucapkan terima kasih.
Bengkulu, April 2018
Peneliti
2. Lembar Kesediaan Menjadi Responden Penelitian
LEMBAR KESEDIAAN
MENJADI RESPONDEN PENELITIAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama :
Tempat, Tanggal Lahir :
Dengan ini bersedia menjadi responden dalam penelitian:
Nama :
NPM :
Judul penelitian : “Hubungan Dukungan Sosial Keluarga Dengan
Kepatuhan Minum Obat Pasien Ganguan Jiwa Pada Pasien Rawat Jalan di
wilayah Kerja Puskesmas Muara Aman Tahun 2019”.
Setelah saya mengetahui maksud dan tujuan dari penelitian ini, menyatakan
bahwa saya BERSEDIA/TIDAK BERSEDIA menjadi responden dalam penelitian
ini, karena saya menyadari sepenuhnya manfaat penelitian ini terhadap ilmu
pengetahuan.
Demikianlah pernyataan ini saya buat dalam keadaan yang sadar dan tanpa ada
paksaan dari pihak yang manapun.
Bengkulu, April 2019
Peneliti Responden
Silvia Nunggara (……..………….)
NPM : 172426174 SPA
Terima kasih atas kesediaan Bapak/Ibu untuk ikut serta dalam penelitian ini.
*Coret yang tidak perlu
Lampiran 3. Kuesioner Penelitian
KUESIONER PENELITIAN
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN KEPATUHAN
MINUM OBAT PASIEN GANGUAN JIWA PADA PASIEN RAWAT JALAN
DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS MUARA AMAN
TAHUN 2019
Petunjuk Pengisian :
1. Bacalah setiap pertanyaan dan setiap pilihan jawaban dengan seksama.
2. Isilah setiap pertanyaan pada kolom jawaban yang tersedia di bagian kanan.
3. Tuliskan angka yang merupakan jawaban anda pada kolom jawaban yang
tersedia untuk pertanyaan terkait informasi pribadi dan informasi pekerjaan
umum.
4. Beri tanda ceklis (√) pada kolom pilihan jawaban yang tersedia untuk tipe
pertanyaan dengan skala /Tidak Pernah - Kadang – Sering - Selalu.
Tanggal Pengisian :
A. IDENTITAS RESPONDEN
1. No Responden :
2. Nama :
3. Umur :
4. Pendidikan :□ SD □ SMP □ SMA □ [Link]
5. Status Responden :
B. Dukungan Sosial Keluarga
No Pertanyaan TP K S SL
1 Apakah keluarga meluangkan waktu untuk
memberikan perhatian kepada penderita
skizofrenia.
2 Apakah keluarga memperhatikan asupan
gizi penderita skizofrenia.
3 Apakah keluarga mengingatkan penderita
skizofrenia untuk selalu membersihkan diri
dengan mandi dua kali sehari.
4 Apakah keluarga selalu mengingatkan
penderita skizofrenia untuk makan obat
secara teratur.
5 Apakah keluarga membawa penderita
skizofrenia ke fasilitas pelayanan kesehatan
secara berkala.
6 Apakah keluarga mengarahkan penderita
skizofrenia agar ia selalu menjaga
kesehatannya dengan berpola hidup bersih
7 Apakah keluarga mengingatkan penderita
skizofrenia dengan hal-hal yang
menyenangkan
8 Apakah keluarga terkadang membawa
penderita skizofrenia ke tempat yang
menyenangkan
9 Apakah keluarga sering mengenalkan
penderita skizofrenia dengan orang lain di
luar Anda Anda
10 Apakah keluarga selalu membuat penderita
skizofrenia nyaman berkumpul dengan
anggota keluarga yang lain
C. Kepatuhan Minum Obat
No Pertanyaan TP K S SL
1 Apakah pasien skizofrenia meminum
obatnya setiap hari tanpa paksaan?
2 Apakah pasien skizofrenia cukup tidur
setiap hari?
3 Apakah pasien skizofrenia memnuhi
asupan gizinya dengan makan secara teratur
setiap hari (makan 3 kali sehari)?
4 Apakah pasien skizofrenia selalu
menghabiskan makanannya setiap kali dia
makan?
5 Apakah pasien skizofrenia selalu ingat dan
minum obat tepat waktu?
6 Apakah pasien skizofrenia selalu ingat
jadwal kunjungan ke dokter atau berobat ke
rumah sakit?
7 Apakah pasien skizofrenia memberitahukan
kepada keluarga saat obatnya habis?