100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
221 tayangan22 halaman

Pedoman K3 Laboratorium RSUD Majene

Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Laboratorium membahas manajemen K3 laboratorium yang meliputi identifikasi bahaya potensial, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan perbaikan berkelanjutan. Dokumen ini juga menjelaskan berbagai bahaya kimiawi seperti bahan karsinogen, korosif, toksik, dan mudah terbakar serta langkah-langkah pencegahannya."

Diunggah oleh

Komang sudarsana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
221 tayangan22 halaman

Pedoman K3 Laboratorium RSUD Majene

Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Laboratorium membahas manajemen K3 laboratorium yang meliputi identifikasi bahaya potensial, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan perbaikan berkelanjutan. Dokumen ini juga menjelaskan berbagai bahaya kimiawi seperti bahan karsinogen, korosif, toksik, dan mudah terbakar serta langkah-langkah pencegahannya."

Diunggah oleh

Komang sudarsana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM

KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA
LABORATORIUM

PEMERINTAH PROPINSI SULAWESI BARAT


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MAJENE
Alamat : Jl. Poros Majene - Mamuju No. Tlp: (0422) 21009
I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kegiatan laboratorium klinik mempunyai risiko baik yang berasal dari faktor fisik, biologi,
kimia, ergonomik dan psikososial dengan akibat dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan
petugas laboratorium dan lingkungannya. Pada umumnya petugas laboratorium belum memahami
risiko yang ditimbulkan akibat pekerjaan di laboratorium, baik dalam pencegahan maupun
penanggulangannya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan petugas, sarana dan
prasarana. Untuk itu perlu disusun Pedoman Kesehatan dan Keselamatan Kerja Instalasi
Laboratorium RSUD Majene dengan mengacu pada berbagai peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

B. PENGERTIAN

UU Kesehatan No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 23:

Kesehatan Kerja diselenggarakan untuk mewujudkan produktifitas yang optimal meliputi


pelayanan kesehatan kerja, pencegahan penyakit akibat kerja dan syarat kesehatan kerja. Pada
hakikatnya merupakan penyerasian kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja yang wajib
diselenggarakan oleh setiap tempat kerja

Keselamatan Kerja adalah upaya untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan, kebakaran,
bahaya peledakan, penyakit akibat kerja, pencemaran lingkungan yang pada umumnya
menimbulkan kerugian nyawa, waktu dan harta benda bagi pekerja dan masyarakat yang berada
di lingkungannya.

C. TUJUAN

1. Acuan dalam melaksanakan tugas di Instalasi Laboratorium RSUD Majene


2. Meningkatkan pengetahuan petugas terhadap risiko terjadinya kecelakaan dan gangguan
kesehatan akibat kegiatan laboratorium
3. Menjamin mutu pekerjaan di laboratorium

2
D. RUANG LINGKUP

Ruang Lingkup Kesehatan dan Keselamatan Kerja meliputi upaya peningkatan kesehatan
dan pencegahan kecelakaan atau gangguan kesehatan petugas laboratorium termasuk pengunjung
atau pasien dan lingkungannya di semua jenis dan jenjang pelayanan Instalasi Laboratorium
RSUD Polewali

II. MANAJEMEN K3

Mengingat besarnya risiko kecelakaan dan gangguan kesehatan yang dapat terjadi akibat
kegiatan laboratorium, maka diperlukan pengelolaan K3 Laboratorium yang baik melalui
penerapan manajemen K3.

Penerapan manajemen K3 adalah agar seluruh kegiatan K3 dapat terlaksana melalui proses
identifikasi, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi serta kegiatan pengendalian,
pengawasan dengan baik.

Penanggung jawab tertinggi dalam pelaksanaan K3 adalah Kepala Instalasi Laboratorium


yang menunjuk petugas K3 yang mempunyai tugas sebagai berikut:

1. IDENTIFIKASI

Pengenalan dari berbagai bahaya dan risiko kesehatan di tempat dan lingkungan kerja
biasanya dilakukan dengan cara melihat dan mengenal. Untuk dapat mengenal bahaya dan risiko
lingkungan kerja yang baik dan tepat diperlukan informasi mengenai:

- Alur proses dan cara kerja yang digunakan


- Bahan kimia, media dan reagen yang digunakan
- Spesimen yang diperiksa
- Sarana prasarana dan alat laboratorium
- Limbah yang dihasilkan
- Efek kesehatan dari semua bahan berbahaya di tempat dan lingkungan kerja
- Perkiraan petugas yang potensial terpapar/terpajan

3
2. PERENCANAAN

a. Analisa situasi kesehatan dan keselamatan kerja di Instalasi Laboratorium RSUD Majene.
Analisa situasi merupakan langkah pertama yang harus dilakukan, dengan melihat sumber
daya yang kita miiliki, sumber dana yang tersedia dan bahaya potensial apa yang
mengancam laboratorium.
b. Identifikasi masalah kesehatan dan keselamatan kerja di laboratorium dan bahaya
potensial. Identifikasi masalah kesehatan dan keselamatan kerja dapat dilakukan dengan
mengadakan inspeksi tempat kerja dan mengadakan pengukuran lingkungan kerja. Dari
kegiatan ini kita dapat menemukan masalakh-masalah kesehatan dan keselamatan kerja.
c. Alternatif rencana upaya penanggulangannya. Dari masalah-masalah yang ditemukan
dicari alternatif upaya penanggulangannya berdasarkan dana dan daya yang tersedia.
Keluaran yang diharapkan dari kegiatan perencanaan adalah:
- Adanya denah lokasi bahaya potensial
- Rumusan alternatif rencana upaya penanggulangannya
3. PELAKSANAAN

a. Melaksanakan sosialisasi K3 kepada seluruh karyawan dalam bentuk pelatihan,


penyuluhan dan lain-lain
b. Membuat protap pelaksanaan K3 di unit laboratorium masing-masing dan melakukan
revisi apabila diperlukan
c. Meningkatkan kerja sama antara personil Tim K3 melalui pertemuan secara berkala untuk
membahas pelaksanaan tugas Tim K3 dari kendala yang ada
d. Membuat laporan pelaksanaan kegiatan K3
e. Mengkoordinasi pelaksanaan pemeriksaan kesehatan dan imunisasi karyawan
4. PENGAWASAN

a. Melakukan pengawasan dan pengendalian penerapan program K3 Laboratorium


b. Melakukan penyelidikan sesuai kebutuhan di dalam laboratorium jika terjadi pelepasana
bahan infeksi dan bahan berbahaya
c. melaporkan kejadian yang berkaitan dengan K3 kepada pihak yang berwenang sesuai
kebutuhan
d. mencatat kejadian atau masalah K3 di laboratorium

4
5. MELAKSANAKAN UPAYA-UPAYA PERBAIKAN (CONTINUES IMPROVEMENT)

a. Menetapkan kebutuhan tahun depan


b. Memperbaiki sistem, prosedur dan manajemen yang kurang

III. IDENTIFIKASI ANCAMAN BAHAYA DAN PENCEGAHANNYA

A. IDENTIFIKASI ANCAMAN BAHAYA

Ancaman bahaya yang mengakibatkan risiko gangguan kesehatan dan keselamatan bagi
petugas laboratorium perlu diidentifikasi yang dapat berasal dari faktor fisik, kimiawi, biologim
psikososial maupun faal/ergonomi.

1. KIMIA

1) Bahan kimia yang mengakibatkan gangguan kesehatan. Bahan kimia ini dapat bersifat:

a. Karsinogen
Bahan kimia yang karsinogen adalah bahan kimia yang sudah dievaluasi oleh NTP
(National Toxicology Program), IARC (Interntional Agency for Research on Cancer) dan
ditetapkan oleh OSHA (Occupational Safety and Health Administration)
b. Korosif
Bahan kimia yang mengakibatkan kerusakan ireversibel pada jaringan karena reaksi
kimiawi yang terjadi pada daerah yang terpapar. Contoh: asam dan basa
c. Toksik
Bahan toksik jika tertelan, terhirup, atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan
penyakit akut atau kronik, bahkan kematian pada manusia, tanaman atau binatang.
d. Iritan
Bahan kimia ini tidak korosif tetapi dapat mengakibatkan pembengkakan jaringan karena
reaksi kimia yang terjadi di daerah yang terpapar.
e. Sensitizer
Bahan kimia ini mengakibatkan reaksi alergi pada jaringan yang sering terpapar, antara
lain keton.
f. Merusak organ tubuh tertentu

5
Bahan kimia yang merusak atau mengganggu organ tubuh tertentu dapat dilihat pada Tabel
1.
g. Bahan kimia yang mempunyai efek akut dan kronik terhadap kesehatan dapat dilihat dalam
Lampiran I.
2) Bahan kimia mudah terbakar. Bahan kimia ini mudah bereaksi dengan oksigen sehingga
menimbulkan kebakaran. Reaksi kebakaran yang sangat cepat dapat menimbulkan ledakan. Bahan
kimia mudah terbakar dapat berbentuk:

a. Padat
Bahan padat ini tidak mudah meledak, dapat menimbulkan kebakaran karena gesekan,
absorbsi uap, perubahan kimia yang spontan dan menyimpan panas selama proses.
Contoh: natrium, uranium, TNT, strontium
b. Cair
Zat cair ini mudah menguap dan uapnya mudah terbakar pada suhu <25,5°C, golongan ini
banyak dijumpai di laboratorium dan dikenal sebagai pelarut organik.
Contoh: eter, alkohol, aseton, benzena, heksan, dll
c. Gas
Yang termasuk golongan ini sering menimbulkan ledakan.
Contohnya: gas alam untuk bahan bakar, metan nitrogen, hidrogen, asetilen, etilen oksida
dan sebagainya.
Pada umumnya bahan kimia padat lebih sukar terbakar dibandingkan dengan bahan kimia cair,
tetapi bahan kimia padat berupa serbuk halus lebih mudah terbakar daripada bahan kimia cair atau
gas. Contoh yang termasuk golongan ini adalah: belerang, fosfor, hibrida logam, logam alkali, dll.

3) Bahan kimia mudah meledak. Bahan kimia ini mudah membebaskan panas dengan cepat tanpa
disertai pengimbangan kehilangan panas sehingga kecepatan reaksi, peningkatan suhu dan tekanan
meningkat cepat dan dapat menimbulkan ledakan.
Contoh:
a. Azida, Apabila azida bereaksi dengan tembaga, misalnya pipa pembuangan atau keran air
dari tembaga, maka tembaga azida akan menimbulkan ledakan hebat jika terkena benturan
ringan
b. Asam Perklorat

6
Jika dibiarkan mengering pada permukaan meja yang terbuat dari kayu, batu bata atau kain,
akan meledak dan menimbulkan kebakaran jika terkena benturan
c. Asam Pikrat dan garamnya
Akan terbakar oleh panas atau benturan
4) Bahan kimia dengan sifat khusus, yaitu:

a. Oksidator (Oxidation Agents)


Bahan kimia ini yang mungkin tidak mudah terbakar, tetapi dapat menghasilkan oksigen
yang dapat menyebabkan kebakaran. Contoh: Peroksida
b. Reaktif terhadap air (Water sensitive substance)
Bahan kimia yang mudah bereaksi dengan air dan menghasilkan panas serta gas yang
mudah terbakar. Contoh: H2SO4
c. Reaktif terhadap asam (acid sensitive substance)
Bahan kimia yang mudah bereaksi dengan asam dan menghasilkan panas serta gas yang
mudah terbakar, atau gas yang beracun dan korosif.
Contoh: HNO3 pekat
d. Bahan radioaktif (Radioactive substance)
Bahan kimia ini memancarkan gelombang elektromagnetik atau partikel radioaktif yang
merupakan bahan kimia yang mempunyai kemampuan memancarkan sinar radioaktif
dengan aktivitas lebih besar dari 2.10-3 microcurie/gram.
Contoh: carbol yodium, sinar α, sinar β, sinar γ, sinar x, dll
e. Bahan kimia yang tidak boleh tercampur (Incompatible Chemicals)
Banyak bahan kimia di laboratorium yang dapat menimbulkan reaksi berbahaya jika
tercampur satu sama lain. Beberapa bahan kimia tersebut adalah:
- Air raksa dengan asetilen, asam fulminat, hidrogen.
- Amonia anhidrat dengan air raksa, halogen, kalsium hipoklorit dan hidrogen
fluorida.
- Amonium nitrat dengan asam, bubuk logam, klorat, nitrat, sulfat dan zat mudah
terbakar
- Anilin dengan sama nitrat dan hidrogen peroksida
- Asam asetat dengan asam kromat, asam nitrat, ikatan hidroksi, etilen glikol, asam
perklorat, peroksida dan permanganat

7
- Asam kromat dengan asam asetat, naftalen, kamfer, alkohol, gliserol, terpentin dan
cairan mudah terbakar
- Asam nitrat dengan asam asetat, asam kromat dan asam hidrosianat, anilin, karbon,
hidrogen sulfida, cairan/gas/zat lain yang mudah bereaksi dengan nitrat
- Asam oksalat dengan perak dan air raksa
- Asam perklorat dengan asetat anhidrat, bismut dan ikatannya, alkohol, kertas, kayu
dan bahan organik lain
- Asam sulfat dengan klorat, perklorat, permanganat dan air
- Asetilen dengan tembaga, halogen, perak air raksa dan ikatan yang mengandung
komponen tersebut
- Aseton dengan campuran asam sulfat dan asam nitrat pekat
- Brom dengan amonia, asetilen, butadien, butan, hidrogen, natrium karbida,
erpentin, logam.
- Cairan mudah terbakar dengan amonium nitrat, asam kromat, hidrogen peroksida,
asam nitrat, natrium peroksida dan halogen
- Fosfor pentoksida dengan air
- Hidrokarbon dengan fluorin, klorin, formin, asam kromat dan natrium peroksida
- Hidrogen peroksida dengan krom, tembaga, besi, logam lain, garam logam, cairan
mudah terbakar dan produk yang mudah terbakar, anilin dan nitrometan
- Hidrogen sulfida dengan uap asam nitrat dan gas oksidan
- Kalium permanganat dengan gliserol, etilen glikol, benzaldehid dan asam sulfat
- Karbon (diaktifkan oleh kalsium hipoklorit) dengan semua zat oksidan
- Klorat dengan garam amonium, asam, bubuk logam, sulfat, zat mudah terbakar,
karbon
- Klorin dengan amonia, asetilen, butadien, benzen dan komponen minyak bumi lain,
hidrogen, natrium karbida, terpentin dan logam
- Klorin dioksida dengan amonia, metan, fosfin, hidrogen sulfa
- Logam alkali (kalsium, kalium, natrium) dengan air, karbondioksida dan
hidrokarbon yang mengandung klor
- Merkuri dengan asetilen, asam fulminat, hidrogen.
- Natrium dengan karbon tetraklorida, karbondioksida dan air

8
- Natrium azida dengan timbal, tembaga dan logam lain. Bahan kimia ini umumnya
digunakan sebagai pengawet, tetapi bila berikatan dengan logam dapat membentuk
ikatan yang tidak stabil dan mudah meledak. Jika campuran ini dibuang melalui
wastafel, komponen logam akan terperangkap dan pipa air dapat meledak pada saat
pipa tadi diperbaiki oleh tukang ledeng
- Natrium peroksida dengan zat oksidan seperti metanol, asam asetat glasial, asetat
anhidrat, benzoldehid, karbon disulfida, gliserol, etil asetat dan furfural
- Oksigen dengan minyak, lemak, hidrogen cairan/zat padat/gas yang mudah
terbakar
- Perak dengan asetilen, asam oksalat, asam tartrat dan ikatan amonium
- Sianida dengan asam dan alkali
- Tembaga dengan asetilen, azida dan hidrogen peroksida
- Yodium dengan asetilen dan amonia
b. LABEL TINGKAT BAHAYA

Berdasarkan jenis dan sifat bahan kimia, maka untuk mencegah bahaya yang timbul, bahan
kimia harus diberi tanda atau label sesuai kategori berikut:

1) Bahan kimia yang mengakibatkan gangguan kesehatan.


Tingkat bahaya terhadap kesehatan dari bahan kimia dapat dilihat dari angka yang tertulis
pada bagian label kemasan berwarna biru.
Rinciannya adalah:
4: Dapat menyebabkan kematian atau luka parah meskipun telah mendapat pengobatan
3: Dapat menyebabkan luka serius meskipun telah mendapat pengobatan
2: Dapat menyebabkan luka dan membutuhkan pengobatan segera
1: Dapat menyebabkan iritasi jika tidak diobati
0: Tidak menimbulkan bahaya
2) Bahan kimia mudah terbakar.
Kategori ini ditandai dengan tanda merah, dan dibagi dalam lima derajat yang dinyatakan
dengan angka:
4: Gas sangat mudah terbakar atau cairan yang sangat mudah meledak
3: Dapat terbakar pada temperatur biasa

9
2: Terbakar jika dipanaskan
1: Terbakar jika dipanaskan cukup lama
0: Tidak akan terbakar
3) Bahan kimia mudah meledak.
Tingkat stabilitas dan kemungkinan meledaknya bahan kimia tersebut dapat dilihat dari
angka yang tertulis pada bagian label kemasan berwarna kuning. Rinciannya adalah:
4: Segera meledak
3: Dapat meledak jika dipanaskan dalam ruang tertutup atau ada pencetus yang kuat
2: Umumnya tidak stabil tapi tidak akan meledak
1: Umumnya stabil, bersifat tidak stabil pada suhu tuinggi dan jika ada tekanan, bereaksi
dengan air
0: Umumnya stabil, tidak bereaksi dengan air
4) Bahan kimia dengan sifat khusus.
Sifat tersebut dapat dilihat dari huruf yang tertulis pada bagian label kemasan berwarna
putih. Sifat yang tertera adalah:
W = reaktif terhadap air
ACID = asam
COR = korosif
OX = oksidator
ALK = basa/alkali
RAD = radioaktif

2. BIOLOGI

Merupakan gangguan kesehatan yang disebabkan oleh mikroorganisme yang infeksius.


Semua spesimen yang ditangani di laboratorium harus dianggap infeksius sehingga selalu
berpotensi menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan.

Mikroorganisme diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Kelompok Risiko Satu

10
Kelompok ini merupakan mikroorganisme yang tidak menimbulkan risiko atau risiko
rendah baik terhadap individu maupun pada masyarakat. Mikroorganisme kelompok ini
pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menyebabkan penyakit.
b. Kelompok Risiko Dua
Kelompok ini merupakan mikroorganisme yang mempunyai risiko sedang terhadap
individu dan risiko rendah terhadap masyarakat. Kelompok mikroorganisme ini dapat
menyebabkan penyakit pada individu
c. Kelompok Risiko Tiga
Kelompok ini merupakan mikroorganisme yang mempunyai risiko tinggi bagi individu dan
risiko rendah bagi masyarakat. Kelompok mikroorganisme ini menyebabkan penyakit yang
serius pada individu tetapi tidak menyebar dari satu orang ke orang lainnya. Pada umumnya
tersedia tindakan pengobatan dan pencegahan penyebaran yang efektif.
d. Kelompok Risiko Empat
Kelompok ini merupakan mikroorganisme yang mempunyai risiko tinggi bagi individu dan
masyarakat. Kelompok mikrooganisme ini menyebabkan penyakit yang sangat serius bagi
manusia dan hewan, yang sangat menular baik langsung maupun tidak langsung. Pada
umumnya belum tersedia tindakan pengobatan dan pencegahan yang efektif.

Klaifikasi Mikrooganisme berdasakan kelompok infeksi dapat dilihat pada lampiran II

Berdsarkan klasifikasi Mikrooganisme yang ditangani dan diperiksa oleh laboratorium maka
laboratorium maka laboratorium diklasifikasikan sebagai berikut :

- Laboratorium tingkat kemanan biologis 1, merupakan laboratorium yang


menyelenggarakan kegiatan dengan kelompok mikrooganisme risiko satu.
- Laboratorium tingkat kemanan biologis 2, merupakan laboratorium yang
menyelenggarakan kegiatan dengan kelompok mikrooganisme risiko dua.
- Laboratorium tingkat keamanan biologis 3, merupakan laboratorium yang
menyelenggarakan kegiatan dengan kelompok mikrooganisme risiko tiga.
- Laboratorium tingkat keamanan biologis 4, merupakan laboratorium yang
menyelenggarakan kegiatan dengan kelompok mikrooganisme risiko empat.

11
[Link]

a. Cahaya
Penerangan yang kurang baik di ruang kerja mengakibatkan keluhan kelelahan mata.
Keluhan lainnya adalah iritasi, penglihatan rangkap, sakit kepala, ketajaman penglihatan
terganggu, akomodasi dan konvergensi menurun.
b. Panas
Secara umum panas dirasakan bila suhu udara di atas suhu nyaman. Suhu nyaman di
Indonesia berkisar antara 26°C-28°C dengan relatif kelembaban antara 60%-70%.
Lingkungan suhu nyaman adalah kombinasi dari suhu udara kelembaban, kecepatan aliran
udara dan suhu radiasi. Bekerja di tempat yang panas akan menyebabkan
ketidaknyamanan, rasa tidak enak, serba salah, mudah marah, suhu kulit panas/basah
karena berkeringat atau kering karena keringat terus menguap, lelah, mual, sakit kepala,
urin berkurang.
c. Getaran
Getaran/vibrasi adalah faktor fisik yang ditimbulkan oleh transmisi/penjalaran, baik
getaran yang mengenai seluruh tubuh maupun getaran setempat yang merambat melalui
tangan atau lengan operator, alat bergetar subyek dengan gerakan osilasi.
Penyakit akibat getaran, dari ringan sampai berat, gejala yang ditimbulkan secara
keseluruhan disebut sebagai sindroma vibrasi antara lain penyakit Raynaud atau White
Finger terutama terjadi pada ruangan yang dingin. Gejala dini berupa rasa kesemutan jari
tangan waktu bekerja atau sesaat setelah berhenti bekerja.
d. Radiasi
Ada 2 jenis radiasi yaitu radiasi pengion dan non pengion. Peralatan laboratorium
kesehatan yang menggunakan radiasi adalah radiasi non pengion.
Radiasi non pengion adalah radiasi yang tanpa ada pelepasan elektron, tergantung panjang
gelombang antara lain adalah:
- Sinar ultraviolet (A, B dan C)
- Sinar yang bisa dilihat (sinar biru yang berbahaya, sinar laser)
- Sinar dengan gelombang (microwave)

12
4. PSIKOSOSIAL (stres)

Gangguan psikososial dapat terjadi dalam bekerja antara lain adalah stres, hal ini sebagai
akibat masalah yang dihadapi oleh petugas laboratorium, yang apabila tidak dilakukan antisipasi
yang memadai dapat menurunkan produktifitas kerja.

Stres adalah gangguan psikologi akibat faktor lingkungan terhadap kejiwaan seseorang.
Keadaan di tempat kerja yang dapat menimbulkan stres antara lain:

 Beban kerja berlebihan atau kurang


 Tekanan waktu
 Konflik peran, biasanya pada pekerja wanita
 Hubungan dengan atasan, teman sekerja dan bawahan yang kurang baik
 Kurangnya pemanfaatan kemampuan seseorang
Gejala klinik dari stres dapat berupa:

 Depresi
 Anxietas
 Sakit kepala
 Kelelahan dan kejenuhan
 Sulit dalam mengambil keputusan
 Tidak pernah puas dalam bekerja
 Gangguan pencernaan, hilangnya nafsu makan, buang air besar tak teratur
 Perubahan perilaku
 Merokok, biasanya tidak sampai habis sudah dimatikan
 Minum minuman keras
 Sering absen dari pekerjaannya

5. ERGONOMI
Komputer
Penggunaan komputer dalam kondisi tidak sesuai dengan kesehatan kerja dapat menyebabkan
gangguan kesehatan berupa RSI (Repetitive Strain Injury) dan cahay yang kurang baik
menyebabkan Eye Strain (Kelelahan penglihatan).

13
RSI adalah kondisi yang terjadi karena bekerja dengan komputer dalam waktu berlebihan tanpa
istirahat, gejala yang terjadi antara lain keluhan nyeri otot, lelah dan sakit. Sedangkan Eye Strain
adalah kelelahan mata dapat diketahui dengan adanya gejala seperti iritasi mata (mata merah,
kabur dan berair), melihat bintik yang lewat di depan mata, fotofobia, pusing.

Akibat lain adalah:

 Posisi pandangan mata yang tidak lurus ke komputer, sehingga kelelahan pada otot leher,
tengkuk, sakit kepala
 Terlalu lama berkerja pada komputer sehingga terjadi kelelahan pada otot-otot mata
Beberapa risiko akibat masalah ergonomi, antara lain:
 Pekerjaan yang dilakukan dalam posisi duduk, dengan tempat duduk yang tidak sesuai
dengan postur tubuh, sehingga terjadi kelelahan pada pinggang dan leher
 Pekerjaan yang dilakukan dengan posisi berdiri, membungkuk akan terasa pada persendian
jaringan otot, jaringan syaraf (low back pain)
 Menuruni tangga yang terlalu curam, sehingga posisi tubuh tidak seimbang sehingga
mudah jatuh/terperosot
 Posisi pandangan mata yang tidak lurus ke komputer, sehingga kelelahan pada otot leher,
tengkuk dan sakit kepala
 Terlalu lama bekerja dengan komputer sehingga terjadi kelelahan pada otot mata

14
IV. PENERAPAN K3 JIKA TERJADI BAHAYA DI LABORATORIUM

Jika terjadi kecelakaan atau kedaruratan, harus dilakukan tindakan segera (emergency
respons) dan melakukan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan). Agar tidak terjadi akibat
yang fatal baik bagi petugas, tempat dan lingkungan kerja

A. TINDAKAN SEGERA

1. UMUM

a. Beritahukan kepada seluruh petugas, lakukan dengan tenang


b. Bunyikan alarm
c. Informasikan kepada tim/petugas K3. Kalau perlu kepada Petugas Pemadam kebakaran,
Polisi, Kelurahan, rumah Sakit dsb
d. Ikuti prosedur yang berlaku
2. KHUSUS

a. Tumpahan dan kebocoran bahan kimia

- Cucilah mata atau kulit di pancuran air (shower) terdekat bila terkena bahan kimia
- Ikuti semua petunjuk Material Safety Data Sheet (MSDS) tentang proses netralisasi bahan
kimia yang bocor atau tumpah tersebut sebaik-baiknya
- Bila tumpahan diperkirakan dapat menimbulkan kebakaran dan peledakan segera
tinggalkan ruangan
b. Kebakaran

Kebakaran dapat bersumber dari reaksi kimia, alat pemanas listrik, rusaknya kontrol suhu
pada salah satu alat laboratorium atau beban listrik yang terlalu berat.

Tindakan yang dilakukan:

- Tutuplah katup aliran gas keluar ruangan, jika terjadi pada cerobong asap
- Semprotkan air atau bahan lainnya ke lokasi kebakaran dengan Alat Pemadam Api Ringan
(APAR)
- Bungkuslah tubuh petugas dengan selimut bila pakaian terbakar dan petugas tersebut
berguling-guling di lantai

15
- Matikan aliran listrik
- Semua petugas segera meninggalkan ruangan
- Segera hubungi petugas pemadam kebakaran
c. Ledakan

Ledakan dapat terjadi sebagai akibat reaksi kimia, pecahnya tabung gas bertekanan tinggi,
reaksi logam reaktif dengan udara yang lembab atau adanya percikan api ke bahan gas yang mudah
terbakar. Meskipun jarang terjadi dibandingkan dengan kejadian kebakaran, namun jika ledakan
terjadi akibatnya lebih fatal karena biasanya diikuti oleh tumpahnya cairan kimia yang dapat
menyebabkan kebakaran. Tindakan pada kejadian ledakan adalah sebagai berikut:

 Selamatkan jiwa petugas


 Berikan pernafasan buatan bila diperlukan (jangan dari mulut ke mulut)
 Hentikan perdarahan bila terjadi
 Evakuasi korban ke rumah sakit
d. Perubahan Kualitas Udara

Perubahan kualitas udara dapat terjadi disebabkan oleh kebakaran, tumpahan bahan kimia
beracun, tabung gas bocor atau ventilasi yang buruk. Tindakan yang harus dilakukan:

 Tinggalkan segera ruang laboratorium


 Pakailah alat Respirator Self Contained Air Breathing Approach (SCBA)
 Buka seluruh pintu dan jendela ruangan
e. Terlepasnya Bahan Infeksius

Tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

 Lakukan dekontaminasi ruangan dengan segera


 Gunakan pakaian pelindung diri yang memadai
 Bawalah korban ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat, ambillah dan periksa darah
korban sebelum dilakukan tindakan medis
f. Tumpahan Bahan Radioaktif
Tindakan yang harus dilaksanakan baik bagi petugas yang terpapar/terpajan, tenaga medik
yang menolong dan bagi petugas pembersih ruangan.

16
1) Bagi petugas yang terpapar/terpajan
- Lakukan apusan mukosa hidung untuk mengetahui dosis
keterpaparan/keterpajanan bahan radioaktif melalui surveimeter
- Periksalah pakaian dan kulit petugas dengan surveimeter. Jika surveimeter tidak
tersedia, maka pakaian dan dosimeter yang dipakai petugas dikirimkan ke BATAN
- Evakuasi pasien ke unit gawat darurat bila diperlukan
2) Bagi tenaga medis
- Pakailah masker khusus atau respirator
- Lakukan dekontaminasi peralatan yang digunakan
- Isolasi korban
- Catatlah dan monitoring korban
3) Bagi petugas pembersih
- Kenakan pakaian pelindung diri khusus yang dilengkapi dengan kartris dan filter
yang dibungkus dengan bahan TyvekTM atau yang sesuai, tutup kepala dan penutup
kaki yang terbuat dari bahan plastik
- Pakailah sarung tangan yang terbuat dari bahan polietilen
- Bersihkan lokasi yang terkena dengan pel khusus yang dapat menyerap
- Buanglah pel yang telah digunakan ke pembuangan sampah khusus radioaktif

B. PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN (P3K)

P3K diberikan pada kejadian seperti perdarahan berat syok, luka bakar dan tersengat listrik.
Syok dapat terjadi sebagai akibat dari kecelakaan yang berat, terpapar/terpajan bahan kimia toksik,
sakit jantung, kehilangan darah dan kebakaran. Keadaan ini dapat dideteksi dengan adanya tanda-
tanda seperti kulit tangan dingin. Jika diraba, basah pucat, lemah, denyut nadi lemah dan cepat,
pernafasan cepat dan tidak teratur, kadang-kadang keluhan haus. Biasanya korban menjadi tidak
responsif dan terjadi dilatasi pada pupil matanya.

Keracunan dari bahan kimia yang tidak dikenal bisa terjadi jika label yang melekat di
wadah terhapus atau MSDSnya hilang. Tindakan yang dilakukan tergantung dari cara bahan kimia
tersebut meracuni tubuh petugas apakah melalui jalan pernafasan, tertelan atau kontak langsung
ke kulit. Tanda-tanda yang nampak dari bibir, kulit dan lidah korban dapat membantu identifikasi

17
cara keracunan. Salah satu contoh jika korban menunjukkan tanda-tanda permukaan perut yang
kaku dan jika ditekan terasa nyeri maka kemungkinan bahan kimia yang tertelan adalah jenis
korosif atau asam.

Luka bakar dibagi menjadi 3 kelompok menurut keparahannya, yaitu derajat pertama,
derajat kedua, dan derajat ketiga sebagai berikut:

- Derajat pertama, ditandai dengan permukaan kulit merah dan nyeri, tidak ada gelembung
dan sedikit pembengkakan
- Derajat kedua, ditandai dengan nyeri yang hebat, belum ada kerusakan jaringan, warna
pucat kemerahan, terjadi gelembung dan vesikel, bengkak dari lapisan dermis-epidermis
- Derajat ketiga ditandai dengan luka yang dalam dan kerusakan jaringan, jaringan kaku,
warnanya putih-merah-kehitaman, tidak nyeri karena mengenai seluruh lapisan kulit, bisa
mengenai subkutan, otot dan tulang
Untuk itu dilakukan tindakan sebagai berikut:

1. PERDARAHAN HEBAT

- Lakukan tekanan dengan perban steril langsung di atas lokasi perdarahan


- Letakkan perban steril jika ada, atau saputangan pada lokasi perdarahan kemudian tekanlah
dengan telapak tangan
- Pertahankan posisi tersebut sampai mendapat pertolongan selanjutnya di pos P3K
Laboratorium, Klinik atau Rumah Sakit terdekat
- Lakukan penekanan jika perdarahan tetap terjadi pada titik arteri

2. SYOK

- Bila tak sadar, rangsang dengan bahan-bahan tertentu (menthol)


- Tidurkan korban dengan posisi telentang kedua kakinya dinaikkan 20°-30° longgarkan
pakaian korban
- Selimuti untuk menghangatkan tubuh korban
- Berikan setengah gelas air setiap 15 menit jika korban dalam keadaan sadar dan tidak
muntah sampai mendapat pertolongan selanjutnya

18
3. KERACUNAN DARI BAHAN KIMIA YANG TIDAK DIKENAL

a. Keracunan melalui jalan pernafasan/terhisap (inhalation)

- Evakuasi korban dengan segera ke ruang yang aman dan udara cukup baik
- Pakailah alat pelindung diri bagi petugas penolong
- Periksa apakah ada kelainan bau pernafasan korban
- Longgarkan pakaian korban terutama di sekitar pinggang dan leher
- Jagalah agar udara tetap segar agar korban dapat bernafas dengan udara bersih
- Bantulah dengan pernafasan buatan secara manual jika korban mengalami kesulitan
bernafas
b. Keracunan melalui jalan tertelan (ingestion)

- Periksalah bibir dan rongga mulut korban


- Keluarkan sedapat mungkin bahan-bahan yang tersisa dari mulut korban
- Lakukan bantuan pernafasan buatan secara manual bila diperlukan
- Cobalah untuk membantu korban memuntahkan bahan kimia yang tertelan. Caranya
pukullah punggung atas dengan posisi kepala korban menunduk. Bantuan untuk
memuntahkan ini tidak boleh dilakukan pada keracunan bahan asam keras, kaustik, produk
petroleum, hydrogen peroksida, karena akan dapat mengakibatkan iritasi pada saluran
pernafasan atas, esofagus dan laring. Pada situasi ini encerkan bahan racun yang sudah
berada di lambung dengan air atau susu.
- Ambillah sampel dari bahan muntahan jika memungkinkan sebagai bahan analisa
- Letakkan spatel yang sudah dibungkus kasa di antara gigi atas dan bawah korban kalau
kejang. Bila kejang-kejang sudha mereda, tengkurapkan korban agar cairan yang ada di
dalam mulut korban dapat keluar dengan mudah
- Longgarkan pakaian korban terutama di sekitar leher, dada dan pinggang
c. Keracunan melalui kontak langsung

 Bila kena mata


- Keluarkan lensa kontak (bila memakai)
- Cucilah mata yang terkena dengan semprotan air selama 15 menit
- Jangan menggunakan salep mata atau bahan netralisasi

19
 Bila kena kulit
- Cuci tangan hingga bersih jika bahan kimia mengenai kulit
- Mandikan korban di pancuran dan pakailah apron dan sarung tangan
- Bersihkan dengan teliti lipatan atau rongga tubuh korban. Posisi kepala korban harus lebih
tinggi dari tubuh untuk menghindari cipratan ke mata korban
- Semprotan air ke tubuh dan cuci mata ini bisa dilakukan dengan posisi korban duduk
dengan kepala menengadah
4. LUKA BAKAR

a. Derajat Pertama

- Siramlah dengan air dingin untuk mengurangi pembengkakan


- Hindarkan terpapar/terpajan lagi, karena bagian yang permah terkena akan lebih sensitif
dibandingkan yang belum pernah
b. Derajat Kedua

- Siramlah daerah luka bakar dengan air dingin dengan hati-hati untuk menghilangkan rasa
nyeri
- Letakkan kain yang dingin dan bersih di atas luka bakar
- Jangan memecah gelembung yang terjadi
- Angkatlah ke atas jika yang terkena bagian kaki atau lengan
c. Derajat Ketiga

- Jangan melepaskan pakaian yang melekat pada luka bakar


- Balutlah luka bakar dengan perban steril yang tebal
- Jangan menyiram luka bakar dengan air dingin karena biasa mengakibatkan terjadinya
syok. Kompres dingin bisa diberikan pada daerah yang terbatas seperti muka korban
- Naikkan tubuh korban lebih tinggi jika kaki dan lengan terkena
- Rujuklah ke rumah sakit

20
V. PENGELOLAAN LIMBAH LABORATORIUM

1. Pemisahan Limbah

a) Limbah dipisahkan ke dalam kantong kuning untuk sampah infeksius dan container
dengan kantong sampah hitam untuk sampah non infeksius
b) Limbah benda tajam bekas dimasukkan ke dalam wadah khusus benda tajam yang
tahan tusukan seperti jerigen bekas
c) Labeli tempat sampah
d) Pergunakan alat pelindung setiap menangani limbah
2. Pengumpulan dan pengangkatan limbah

a) Periksa kantong limbah jerigen, jika sudah mencapai ¾ jerigen ganti dengan kantong
limbah/jerigen yang penuh tadi agar limbah tidak tumpah atau berceceran
b) Jerigen yang ¾ penuh tadi diambil oleh petugas cleaning service dan dibawa ke tempat
pengolahan limbah
c) Limbah benda tajam dikumpulkan pada wadah yang tahan tusuk, kemudian diambil oleh
petugas cleaning service dan dibawa ke tempat pengolahan limbah
3. Kode warna yang disarankan untuk limbah khusus:

a) Hitam : Limbah rumah tangga biasa, tidak digunakan untuk


menyimpan atau mengangkut limbah klinis

b) Kuning : Semua jenis limbah yang akan dibakar

VI. PROGRAM K3 INSTALASI LABORATORIUM

1. Pelatihan K3
Pelatihan K3 Laboratorium bagi staf Instalasi Laboratorium bekerja sama dengan Bagian
Diklat RSUD Polewali satu kali dalam satu tahun
2. Pengenalan K3 Laboratorium bagi staf laboratorium yang baru sesuai Program Orientasi
Pegawai Instalasi Laboratorium

21
JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Bulan
No. Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

1. Pelatihan K3 bagi petugas laboratorium √

2. Pengenalan K3 Laboratorium untuk √


pegawai baru
3. Penambahan APAR di laboratorium √

4. Pembentukan Tim Evakuasi Kebakaran √


di laboratorium
5. Sosialisasi spill kit (penanganan √
tumpahan) untuk petugas laboratorium
6. Melakukan medical check up terhadap √
karyawan yang beresiko
7. Pengadaan APD (jas laboratorium & √
sepatu)

22

Anda mungkin juga menyukai