Pedoman K3 Laboratorium RSUD Majene
Pedoman K3 Laboratorium RSUD Majene
KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA
LABORATORIUM
A. LATAR BELAKANG
Kegiatan laboratorium klinik mempunyai risiko baik yang berasal dari faktor fisik, biologi,
kimia, ergonomik dan psikososial dengan akibat dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan
petugas laboratorium dan lingkungannya. Pada umumnya petugas laboratorium belum memahami
risiko yang ditimbulkan akibat pekerjaan di laboratorium, baik dalam pencegahan maupun
penanggulangannya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan petugas, sarana dan
prasarana. Untuk itu perlu disusun Pedoman Kesehatan dan Keselamatan Kerja Instalasi
Laboratorium RSUD Majene dengan mengacu pada berbagai peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
B. PENGERTIAN
Keselamatan Kerja adalah upaya untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan, kebakaran,
bahaya peledakan, penyakit akibat kerja, pencemaran lingkungan yang pada umumnya
menimbulkan kerugian nyawa, waktu dan harta benda bagi pekerja dan masyarakat yang berada
di lingkungannya.
C. TUJUAN
2
D. RUANG LINGKUP
Ruang Lingkup Kesehatan dan Keselamatan Kerja meliputi upaya peningkatan kesehatan
dan pencegahan kecelakaan atau gangguan kesehatan petugas laboratorium termasuk pengunjung
atau pasien dan lingkungannya di semua jenis dan jenjang pelayanan Instalasi Laboratorium
RSUD Polewali
II. MANAJEMEN K3
Mengingat besarnya risiko kecelakaan dan gangguan kesehatan yang dapat terjadi akibat
kegiatan laboratorium, maka diperlukan pengelolaan K3 Laboratorium yang baik melalui
penerapan manajemen K3.
Penerapan manajemen K3 adalah agar seluruh kegiatan K3 dapat terlaksana melalui proses
identifikasi, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi serta kegiatan pengendalian,
pengawasan dengan baik.
1. IDENTIFIKASI
Pengenalan dari berbagai bahaya dan risiko kesehatan di tempat dan lingkungan kerja
biasanya dilakukan dengan cara melihat dan mengenal. Untuk dapat mengenal bahaya dan risiko
lingkungan kerja yang baik dan tepat diperlukan informasi mengenai:
3
2. PERENCANAAN
a. Analisa situasi kesehatan dan keselamatan kerja di Instalasi Laboratorium RSUD Majene.
Analisa situasi merupakan langkah pertama yang harus dilakukan, dengan melihat sumber
daya yang kita miiliki, sumber dana yang tersedia dan bahaya potensial apa yang
mengancam laboratorium.
b. Identifikasi masalah kesehatan dan keselamatan kerja di laboratorium dan bahaya
potensial. Identifikasi masalah kesehatan dan keselamatan kerja dapat dilakukan dengan
mengadakan inspeksi tempat kerja dan mengadakan pengukuran lingkungan kerja. Dari
kegiatan ini kita dapat menemukan masalakh-masalah kesehatan dan keselamatan kerja.
c. Alternatif rencana upaya penanggulangannya. Dari masalah-masalah yang ditemukan
dicari alternatif upaya penanggulangannya berdasarkan dana dan daya yang tersedia.
Keluaran yang diharapkan dari kegiatan perencanaan adalah:
- Adanya denah lokasi bahaya potensial
- Rumusan alternatif rencana upaya penanggulangannya
3. PELAKSANAAN
4
5. MELAKSANAKAN UPAYA-UPAYA PERBAIKAN (CONTINUES IMPROVEMENT)
Ancaman bahaya yang mengakibatkan risiko gangguan kesehatan dan keselamatan bagi
petugas laboratorium perlu diidentifikasi yang dapat berasal dari faktor fisik, kimiawi, biologim
psikososial maupun faal/ergonomi.
1. KIMIA
1) Bahan kimia yang mengakibatkan gangguan kesehatan. Bahan kimia ini dapat bersifat:
a. Karsinogen
Bahan kimia yang karsinogen adalah bahan kimia yang sudah dievaluasi oleh NTP
(National Toxicology Program), IARC (Interntional Agency for Research on Cancer) dan
ditetapkan oleh OSHA (Occupational Safety and Health Administration)
b. Korosif
Bahan kimia yang mengakibatkan kerusakan ireversibel pada jaringan karena reaksi
kimiawi yang terjadi pada daerah yang terpapar. Contoh: asam dan basa
c. Toksik
Bahan toksik jika tertelan, terhirup, atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan
penyakit akut atau kronik, bahkan kematian pada manusia, tanaman atau binatang.
d. Iritan
Bahan kimia ini tidak korosif tetapi dapat mengakibatkan pembengkakan jaringan karena
reaksi kimia yang terjadi di daerah yang terpapar.
e. Sensitizer
Bahan kimia ini mengakibatkan reaksi alergi pada jaringan yang sering terpapar, antara
lain keton.
f. Merusak organ tubuh tertentu
5
Bahan kimia yang merusak atau mengganggu organ tubuh tertentu dapat dilihat pada Tabel
1.
g. Bahan kimia yang mempunyai efek akut dan kronik terhadap kesehatan dapat dilihat dalam
Lampiran I.
2) Bahan kimia mudah terbakar. Bahan kimia ini mudah bereaksi dengan oksigen sehingga
menimbulkan kebakaran. Reaksi kebakaran yang sangat cepat dapat menimbulkan ledakan. Bahan
kimia mudah terbakar dapat berbentuk:
a. Padat
Bahan padat ini tidak mudah meledak, dapat menimbulkan kebakaran karena gesekan,
absorbsi uap, perubahan kimia yang spontan dan menyimpan panas selama proses.
Contoh: natrium, uranium, TNT, strontium
b. Cair
Zat cair ini mudah menguap dan uapnya mudah terbakar pada suhu <25,5°C, golongan ini
banyak dijumpai di laboratorium dan dikenal sebagai pelarut organik.
Contoh: eter, alkohol, aseton, benzena, heksan, dll
c. Gas
Yang termasuk golongan ini sering menimbulkan ledakan.
Contohnya: gas alam untuk bahan bakar, metan nitrogen, hidrogen, asetilen, etilen oksida
dan sebagainya.
Pada umumnya bahan kimia padat lebih sukar terbakar dibandingkan dengan bahan kimia cair,
tetapi bahan kimia padat berupa serbuk halus lebih mudah terbakar daripada bahan kimia cair atau
gas. Contoh yang termasuk golongan ini adalah: belerang, fosfor, hibrida logam, logam alkali, dll.
3) Bahan kimia mudah meledak. Bahan kimia ini mudah membebaskan panas dengan cepat tanpa
disertai pengimbangan kehilangan panas sehingga kecepatan reaksi, peningkatan suhu dan tekanan
meningkat cepat dan dapat menimbulkan ledakan.
Contoh:
a. Azida, Apabila azida bereaksi dengan tembaga, misalnya pipa pembuangan atau keran air
dari tembaga, maka tembaga azida akan menimbulkan ledakan hebat jika terkena benturan
ringan
b. Asam Perklorat
6
Jika dibiarkan mengering pada permukaan meja yang terbuat dari kayu, batu bata atau kain,
akan meledak dan menimbulkan kebakaran jika terkena benturan
c. Asam Pikrat dan garamnya
Akan terbakar oleh panas atau benturan
4) Bahan kimia dengan sifat khusus, yaitu:
7
- Asam kromat dengan asam asetat, naftalen, kamfer, alkohol, gliserol, terpentin dan
cairan mudah terbakar
- Asam nitrat dengan asam asetat, asam kromat dan asam hidrosianat, anilin, karbon,
hidrogen sulfida, cairan/gas/zat lain yang mudah bereaksi dengan nitrat
- Asam oksalat dengan perak dan air raksa
- Asam perklorat dengan asetat anhidrat, bismut dan ikatannya, alkohol, kertas, kayu
dan bahan organik lain
- Asam sulfat dengan klorat, perklorat, permanganat dan air
- Asetilen dengan tembaga, halogen, perak air raksa dan ikatan yang mengandung
komponen tersebut
- Aseton dengan campuran asam sulfat dan asam nitrat pekat
- Brom dengan amonia, asetilen, butadien, butan, hidrogen, natrium karbida,
erpentin, logam.
- Cairan mudah terbakar dengan amonium nitrat, asam kromat, hidrogen peroksida,
asam nitrat, natrium peroksida dan halogen
- Fosfor pentoksida dengan air
- Hidrokarbon dengan fluorin, klorin, formin, asam kromat dan natrium peroksida
- Hidrogen peroksida dengan krom, tembaga, besi, logam lain, garam logam, cairan
mudah terbakar dan produk yang mudah terbakar, anilin dan nitrometan
- Hidrogen sulfida dengan uap asam nitrat dan gas oksidan
- Kalium permanganat dengan gliserol, etilen glikol, benzaldehid dan asam sulfat
- Karbon (diaktifkan oleh kalsium hipoklorit) dengan semua zat oksidan
- Klorat dengan garam amonium, asam, bubuk logam, sulfat, zat mudah terbakar,
karbon
- Klorin dengan amonia, asetilen, butadien, benzen dan komponen minyak bumi lain,
hidrogen, natrium karbida, terpentin dan logam
- Klorin dioksida dengan amonia, metan, fosfin, hidrogen sulfa
- Logam alkali (kalsium, kalium, natrium) dengan air, karbondioksida dan
hidrokarbon yang mengandung klor
- Merkuri dengan asetilen, asam fulminat, hidrogen.
- Natrium dengan karbon tetraklorida, karbondioksida dan air
8
- Natrium azida dengan timbal, tembaga dan logam lain. Bahan kimia ini umumnya
digunakan sebagai pengawet, tetapi bila berikatan dengan logam dapat membentuk
ikatan yang tidak stabil dan mudah meledak. Jika campuran ini dibuang melalui
wastafel, komponen logam akan terperangkap dan pipa air dapat meledak pada saat
pipa tadi diperbaiki oleh tukang ledeng
- Natrium peroksida dengan zat oksidan seperti metanol, asam asetat glasial, asetat
anhidrat, benzoldehid, karbon disulfida, gliserol, etil asetat dan furfural
- Oksigen dengan minyak, lemak, hidrogen cairan/zat padat/gas yang mudah
terbakar
- Perak dengan asetilen, asam oksalat, asam tartrat dan ikatan amonium
- Sianida dengan asam dan alkali
- Tembaga dengan asetilen, azida dan hidrogen peroksida
- Yodium dengan asetilen dan amonia
b. LABEL TINGKAT BAHAYA
Berdasarkan jenis dan sifat bahan kimia, maka untuk mencegah bahaya yang timbul, bahan
kimia harus diberi tanda atau label sesuai kategori berikut:
9
2: Terbakar jika dipanaskan
1: Terbakar jika dipanaskan cukup lama
0: Tidak akan terbakar
3) Bahan kimia mudah meledak.
Tingkat stabilitas dan kemungkinan meledaknya bahan kimia tersebut dapat dilihat dari
angka yang tertulis pada bagian label kemasan berwarna kuning. Rinciannya adalah:
4: Segera meledak
3: Dapat meledak jika dipanaskan dalam ruang tertutup atau ada pencetus yang kuat
2: Umumnya tidak stabil tapi tidak akan meledak
1: Umumnya stabil, bersifat tidak stabil pada suhu tuinggi dan jika ada tekanan, bereaksi
dengan air
0: Umumnya stabil, tidak bereaksi dengan air
4) Bahan kimia dengan sifat khusus.
Sifat tersebut dapat dilihat dari huruf yang tertulis pada bagian label kemasan berwarna
putih. Sifat yang tertera adalah:
W = reaktif terhadap air
ACID = asam
COR = korosif
OX = oksidator
ALK = basa/alkali
RAD = radioaktif
2. BIOLOGI
10
Kelompok ini merupakan mikroorganisme yang tidak menimbulkan risiko atau risiko
rendah baik terhadap individu maupun pada masyarakat. Mikroorganisme kelompok ini
pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menyebabkan penyakit.
b. Kelompok Risiko Dua
Kelompok ini merupakan mikroorganisme yang mempunyai risiko sedang terhadap
individu dan risiko rendah terhadap masyarakat. Kelompok mikroorganisme ini dapat
menyebabkan penyakit pada individu
c. Kelompok Risiko Tiga
Kelompok ini merupakan mikroorganisme yang mempunyai risiko tinggi bagi individu dan
risiko rendah bagi masyarakat. Kelompok mikroorganisme ini menyebabkan penyakit yang
serius pada individu tetapi tidak menyebar dari satu orang ke orang lainnya. Pada umumnya
tersedia tindakan pengobatan dan pencegahan penyebaran yang efektif.
d. Kelompok Risiko Empat
Kelompok ini merupakan mikroorganisme yang mempunyai risiko tinggi bagi individu dan
masyarakat. Kelompok mikrooganisme ini menyebabkan penyakit yang sangat serius bagi
manusia dan hewan, yang sangat menular baik langsung maupun tidak langsung. Pada
umumnya belum tersedia tindakan pengobatan dan pencegahan yang efektif.
Berdsarkan klasifikasi Mikrooganisme yang ditangani dan diperiksa oleh laboratorium maka
laboratorium maka laboratorium diklasifikasikan sebagai berikut :
11
[Link]
a. Cahaya
Penerangan yang kurang baik di ruang kerja mengakibatkan keluhan kelelahan mata.
Keluhan lainnya adalah iritasi, penglihatan rangkap, sakit kepala, ketajaman penglihatan
terganggu, akomodasi dan konvergensi menurun.
b. Panas
Secara umum panas dirasakan bila suhu udara di atas suhu nyaman. Suhu nyaman di
Indonesia berkisar antara 26°C-28°C dengan relatif kelembaban antara 60%-70%.
Lingkungan suhu nyaman adalah kombinasi dari suhu udara kelembaban, kecepatan aliran
udara dan suhu radiasi. Bekerja di tempat yang panas akan menyebabkan
ketidaknyamanan, rasa tidak enak, serba salah, mudah marah, suhu kulit panas/basah
karena berkeringat atau kering karena keringat terus menguap, lelah, mual, sakit kepala,
urin berkurang.
c. Getaran
Getaran/vibrasi adalah faktor fisik yang ditimbulkan oleh transmisi/penjalaran, baik
getaran yang mengenai seluruh tubuh maupun getaran setempat yang merambat melalui
tangan atau lengan operator, alat bergetar subyek dengan gerakan osilasi.
Penyakit akibat getaran, dari ringan sampai berat, gejala yang ditimbulkan secara
keseluruhan disebut sebagai sindroma vibrasi antara lain penyakit Raynaud atau White
Finger terutama terjadi pada ruangan yang dingin. Gejala dini berupa rasa kesemutan jari
tangan waktu bekerja atau sesaat setelah berhenti bekerja.
d. Radiasi
Ada 2 jenis radiasi yaitu radiasi pengion dan non pengion. Peralatan laboratorium
kesehatan yang menggunakan radiasi adalah radiasi non pengion.
Radiasi non pengion adalah radiasi yang tanpa ada pelepasan elektron, tergantung panjang
gelombang antara lain adalah:
- Sinar ultraviolet (A, B dan C)
- Sinar yang bisa dilihat (sinar biru yang berbahaya, sinar laser)
- Sinar dengan gelombang (microwave)
12
4. PSIKOSOSIAL (stres)
Gangguan psikososial dapat terjadi dalam bekerja antara lain adalah stres, hal ini sebagai
akibat masalah yang dihadapi oleh petugas laboratorium, yang apabila tidak dilakukan antisipasi
yang memadai dapat menurunkan produktifitas kerja.
Stres adalah gangguan psikologi akibat faktor lingkungan terhadap kejiwaan seseorang.
Keadaan di tempat kerja yang dapat menimbulkan stres antara lain:
Depresi
Anxietas
Sakit kepala
Kelelahan dan kejenuhan
Sulit dalam mengambil keputusan
Tidak pernah puas dalam bekerja
Gangguan pencernaan, hilangnya nafsu makan, buang air besar tak teratur
Perubahan perilaku
Merokok, biasanya tidak sampai habis sudah dimatikan
Minum minuman keras
Sering absen dari pekerjaannya
5. ERGONOMI
Komputer
Penggunaan komputer dalam kondisi tidak sesuai dengan kesehatan kerja dapat menyebabkan
gangguan kesehatan berupa RSI (Repetitive Strain Injury) dan cahay yang kurang baik
menyebabkan Eye Strain (Kelelahan penglihatan).
13
RSI adalah kondisi yang terjadi karena bekerja dengan komputer dalam waktu berlebihan tanpa
istirahat, gejala yang terjadi antara lain keluhan nyeri otot, lelah dan sakit. Sedangkan Eye Strain
adalah kelelahan mata dapat diketahui dengan adanya gejala seperti iritasi mata (mata merah,
kabur dan berair), melihat bintik yang lewat di depan mata, fotofobia, pusing.
Posisi pandangan mata yang tidak lurus ke komputer, sehingga kelelahan pada otot leher,
tengkuk, sakit kepala
Terlalu lama berkerja pada komputer sehingga terjadi kelelahan pada otot-otot mata
Beberapa risiko akibat masalah ergonomi, antara lain:
Pekerjaan yang dilakukan dalam posisi duduk, dengan tempat duduk yang tidak sesuai
dengan postur tubuh, sehingga terjadi kelelahan pada pinggang dan leher
Pekerjaan yang dilakukan dengan posisi berdiri, membungkuk akan terasa pada persendian
jaringan otot, jaringan syaraf (low back pain)
Menuruni tangga yang terlalu curam, sehingga posisi tubuh tidak seimbang sehingga
mudah jatuh/terperosot
Posisi pandangan mata yang tidak lurus ke komputer, sehingga kelelahan pada otot leher,
tengkuk dan sakit kepala
Terlalu lama bekerja dengan komputer sehingga terjadi kelelahan pada otot mata
14
IV. PENERAPAN K3 JIKA TERJADI BAHAYA DI LABORATORIUM
Jika terjadi kecelakaan atau kedaruratan, harus dilakukan tindakan segera (emergency
respons) dan melakukan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan). Agar tidak terjadi akibat
yang fatal baik bagi petugas, tempat dan lingkungan kerja
A. TINDAKAN SEGERA
1. UMUM
- Cucilah mata atau kulit di pancuran air (shower) terdekat bila terkena bahan kimia
- Ikuti semua petunjuk Material Safety Data Sheet (MSDS) tentang proses netralisasi bahan
kimia yang bocor atau tumpah tersebut sebaik-baiknya
- Bila tumpahan diperkirakan dapat menimbulkan kebakaran dan peledakan segera
tinggalkan ruangan
b. Kebakaran
Kebakaran dapat bersumber dari reaksi kimia, alat pemanas listrik, rusaknya kontrol suhu
pada salah satu alat laboratorium atau beban listrik yang terlalu berat.
- Tutuplah katup aliran gas keluar ruangan, jika terjadi pada cerobong asap
- Semprotkan air atau bahan lainnya ke lokasi kebakaran dengan Alat Pemadam Api Ringan
(APAR)
- Bungkuslah tubuh petugas dengan selimut bila pakaian terbakar dan petugas tersebut
berguling-guling di lantai
15
- Matikan aliran listrik
- Semua petugas segera meninggalkan ruangan
- Segera hubungi petugas pemadam kebakaran
c. Ledakan
Ledakan dapat terjadi sebagai akibat reaksi kimia, pecahnya tabung gas bertekanan tinggi,
reaksi logam reaktif dengan udara yang lembab atau adanya percikan api ke bahan gas yang mudah
terbakar. Meskipun jarang terjadi dibandingkan dengan kejadian kebakaran, namun jika ledakan
terjadi akibatnya lebih fatal karena biasanya diikuti oleh tumpahnya cairan kimia yang dapat
menyebabkan kebakaran. Tindakan pada kejadian ledakan adalah sebagai berikut:
Perubahan kualitas udara dapat terjadi disebabkan oleh kebakaran, tumpahan bahan kimia
beracun, tabung gas bocor atau ventilasi yang buruk. Tindakan yang harus dilakukan:
16
1) Bagi petugas yang terpapar/terpajan
- Lakukan apusan mukosa hidung untuk mengetahui dosis
keterpaparan/keterpajanan bahan radioaktif melalui surveimeter
- Periksalah pakaian dan kulit petugas dengan surveimeter. Jika surveimeter tidak
tersedia, maka pakaian dan dosimeter yang dipakai petugas dikirimkan ke BATAN
- Evakuasi pasien ke unit gawat darurat bila diperlukan
2) Bagi tenaga medis
- Pakailah masker khusus atau respirator
- Lakukan dekontaminasi peralatan yang digunakan
- Isolasi korban
- Catatlah dan monitoring korban
3) Bagi petugas pembersih
- Kenakan pakaian pelindung diri khusus yang dilengkapi dengan kartris dan filter
yang dibungkus dengan bahan TyvekTM atau yang sesuai, tutup kepala dan penutup
kaki yang terbuat dari bahan plastik
- Pakailah sarung tangan yang terbuat dari bahan polietilen
- Bersihkan lokasi yang terkena dengan pel khusus yang dapat menyerap
- Buanglah pel yang telah digunakan ke pembuangan sampah khusus radioaktif
P3K diberikan pada kejadian seperti perdarahan berat syok, luka bakar dan tersengat listrik.
Syok dapat terjadi sebagai akibat dari kecelakaan yang berat, terpapar/terpajan bahan kimia toksik,
sakit jantung, kehilangan darah dan kebakaran. Keadaan ini dapat dideteksi dengan adanya tanda-
tanda seperti kulit tangan dingin. Jika diraba, basah pucat, lemah, denyut nadi lemah dan cepat,
pernafasan cepat dan tidak teratur, kadang-kadang keluhan haus. Biasanya korban menjadi tidak
responsif dan terjadi dilatasi pada pupil matanya.
Keracunan dari bahan kimia yang tidak dikenal bisa terjadi jika label yang melekat di
wadah terhapus atau MSDSnya hilang. Tindakan yang dilakukan tergantung dari cara bahan kimia
tersebut meracuni tubuh petugas apakah melalui jalan pernafasan, tertelan atau kontak langsung
ke kulit. Tanda-tanda yang nampak dari bibir, kulit dan lidah korban dapat membantu identifikasi
17
cara keracunan. Salah satu contoh jika korban menunjukkan tanda-tanda permukaan perut yang
kaku dan jika ditekan terasa nyeri maka kemungkinan bahan kimia yang tertelan adalah jenis
korosif atau asam.
Luka bakar dibagi menjadi 3 kelompok menurut keparahannya, yaitu derajat pertama,
derajat kedua, dan derajat ketiga sebagai berikut:
- Derajat pertama, ditandai dengan permukaan kulit merah dan nyeri, tidak ada gelembung
dan sedikit pembengkakan
- Derajat kedua, ditandai dengan nyeri yang hebat, belum ada kerusakan jaringan, warna
pucat kemerahan, terjadi gelembung dan vesikel, bengkak dari lapisan dermis-epidermis
- Derajat ketiga ditandai dengan luka yang dalam dan kerusakan jaringan, jaringan kaku,
warnanya putih-merah-kehitaman, tidak nyeri karena mengenai seluruh lapisan kulit, bisa
mengenai subkutan, otot dan tulang
Untuk itu dilakukan tindakan sebagai berikut:
1. PERDARAHAN HEBAT
2. SYOK
18
3. KERACUNAN DARI BAHAN KIMIA YANG TIDAK DIKENAL
- Evakuasi korban dengan segera ke ruang yang aman dan udara cukup baik
- Pakailah alat pelindung diri bagi petugas penolong
- Periksa apakah ada kelainan bau pernafasan korban
- Longgarkan pakaian korban terutama di sekitar pinggang dan leher
- Jagalah agar udara tetap segar agar korban dapat bernafas dengan udara bersih
- Bantulah dengan pernafasan buatan secara manual jika korban mengalami kesulitan
bernafas
b. Keracunan melalui jalan tertelan (ingestion)
19
Bila kena kulit
- Cuci tangan hingga bersih jika bahan kimia mengenai kulit
- Mandikan korban di pancuran dan pakailah apron dan sarung tangan
- Bersihkan dengan teliti lipatan atau rongga tubuh korban. Posisi kepala korban harus lebih
tinggi dari tubuh untuk menghindari cipratan ke mata korban
- Semprotan air ke tubuh dan cuci mata ini bisa dilakukan dengan posisi korban duduk
dengan kepala menengadah
4. LUKA BAKAR
a. Derajat Pertama
- Siramlah daerah luka bakar dengan air dingin dengan hati-hati untuk menghilangkan rasa
nyeri
- Letakkan kain yang dingin dan bersih di atas luka bakar
- Jangan memecah gelembung yang terjadi
- Angkatlah ke atas jika yang terkena bagian kaki atau lengan
c. Derajat Ketiga
20
V. PENGELOLAAN LIMBAH LABORATORIUM
1. Pemisahan Limbah
a) Limbah dipisahkan ke dalam kantong kuning untuk sampah infeksius dan container
dengan kantong sampah hitam untuk sampah non infeksius
b) Limbah benda tajam bekas dimasukkan ke dalam wadah khusus benda tajam yang
tahan tusukan seperti jerigen bekas
c) Labeli tempat sampah
d) Pergunakan alat pelindung setiap menangani limbah
2. Pengumpulan dan pengangkatan limbah
a) Periksa kantong limbah jerigen, jika sudah mencapai ¾ jerigen ganti dengan kantong
limbah/jerigen yang penuh tadi agar limbah tidak tumpah atau berceceran
b) Jerigen yang ¾ penuh tadi diambil oleh petugas cleaning service dan dibawa ke tempat
pengolahan limbah
c) Limbah benda tajam dikumpulkan pada wadah yang tahan tusuk, kemudian diambil oleh
petugas cleaning service dan dibawa ke tempat pengolahan limbah
3. Kode warna yang disarankan untuk limbah khusus:
1. Pelatihan K3
Pelatihan K3 Laboratorium bagi staf Instalasi Laboratorium bekerja sama dengan Bagian
Diklat RSUD Polewali satu kali dalam satu tahun
2. Pengenalan K3 Laboratorium bagi staf laboratorium yang baru sesuai Program Orientasi
Pegawai Instalasi Laboratorium
21
JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN
Bulan
No. Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
22