Kesehatan dan Keselamatan Kerja Tambang
Kesehatan dan Keselamatan Kerja Tambang
Puji dan syukur Kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telahmelimpahkan rahmat, bimbingan
dan [Link] Makalah yang berjudul
Melalui makalah ini, Kami berharap pembaca dapat mengetahui kesehatan dankeselamatan kerja
pada pertambangan. Pada kesempatan ini, Kami juga berterimakasihkepada :1. ASRIL, SKM. Selaku
dosen pengampu Kesehatan dan keselamatan kerja.
2. Semua pihak yang telah membantu Kami dalam penyelesaian penulisan Makalah ini.
Seperti ungkapan, “Tak ada gading yang tak retak”, begitu pula dengan penulisan
makalah yang sangat jauh dari sempurna ini. Kami sangat mengharapkan saran dan kritikyang
membangun dari para pembaca untuk memperbaiki kualitas makalah ini. Semogamakalah ini dapat
bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi semua pihak [Link], Desember
2013
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
................................................................................................. i
DAFTAR ISI
................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
............................................................................................
42.1 Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja ............................................ 42.2 Kecelakaan Kerja Ta
mbang ......................................................................... 52.2.1 Pengertian Kerja Tambang ............................
................................. 52.2.2 Penggolongan Kecelakaan Tambang .............................................. 52.3 Sebab
Terjadinya Kecelakaan ..................................................................... 62.4 Manajemen Risiko Pertambanga
n ................................................................ 72.5 Faktor Risiko Perusahaan Pertambangan ..........................
........................... 72.6 Manfaat Manajemen Risiko Perusahaan Pertambangan .............................. 82.7 M
etode Pengelolaan Risiko Pada Perusahaan Pertambangan ...................... 82.8 Program Keselamatan dan
Kesehatan Kerja di Industri Pertambangan ....... 8
....................................................................................................
113.1 Kesimpulan .................................................................................................. 113.2 Kritik dan Saran ...
........................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA
................................................................................................. 13
BAB IPENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
communitydevelopment
atau
Ditinjau dari aspek ekonomis, dengan menerapkan kesehatan dan keselamatan kerja, makatingkat
kecelakaan akan menurun, sehingga kompensasi terhadap kecelakaan juga menurun,dan biaya tenaga
kerja dapat berkurang. Sejalan dengan itu, kesehatan dan keselamatan kerjayang efektif akan dapat
meningkatkan produktivitas kerja sehingga dapat meningkatkan
hasil produksi. Hal ini pada gilirannya kemudian dapat mendorong semua tempat kerja/industrimaupun
tempat-tempat umum merasakan perlunya dan memiliki budaya kesehatan dankeselamatan kerja untuk
diterapkan disetiap tempat dan waktu, sehingga kesehatan dankeselamatan kerja menjadi salah satu
budaya [Link] melaksanakan kesehatan dan keselamatan kerja akan terwujud
perlindunganterhadap tenaga kerja dari risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang dapat
terjadi pada waktu melakukan pekerjaan di tempat kerja. Dengan dilaksanakannya perlindungankesehat
an dan keselamatan kerja, diharapkan akan tercipta tempat kerja yang aman, nyaman,sehat dan tenaga
kerja yang produktif, sehingga akan meningkatkan produktivitas kerja
dan produktivitas perusahaan. Dengan demikian kesehatan dan keselamatan kerja sangat besar peranan
nya dalam upaya meningkatkan produktivitas perusahaan, terutama dapat mencegahkorban
manusia..Ditahap pengontrolan risiko, peran manajemen sangat penting karena pengontrolanrisiko
membutuhkan ketersediaan semua sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan,
karena pihak manajemen yang sanggup memenuhi ketersediaan ini. Semua konsep-
konsep utamatersebut semakin menyadarkan akan pentingnya kebutuhan pengelolaan kesehatan
dankeselamatan kerja dalam bentuk manajemen yang sistematis dan mendasar agar dapatterintegrasi
dengan manajemen perusahaan yang lain. Integrasi ini diawali dengan kebijakandari perusahaan untuk
mengelola kesehatan dan keselamatan kerja menerapkan suatu SistemManajemen Kesehatan dan
keselamatan kerja (smkesehatan dan keselamatan kerja).
Melihat latar belakang yang ada, maka masalah yang terdapat dalam pokok bahasanini, dapat
dirumuskan sebagai berikut:1)
7)
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penulisan makalah iniadalah sebagai berikut
:1)
Untuk mengetahui dan memahami sistim manajemen kesehatan dan keselamatan kerjadi
pertambangan.9)
BAB IIPEMBAHASAN
Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upayauntuk menjamin
keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja padakhususnya dan manusia
pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakatmakmur dan sejahtera. Sedangkan
pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuandan penerapannya dalam usaha mencegah
kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakitakibat [Link] dan kesehatan kerja (K3)
tidak dapat dipisahkan dengan proses
produksi baik jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia merdekamenimbul
kan konsekwensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan pulameningkatnya resiko
kecelakaan di lingkungan [Link] tersebut juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan yang lebih
tinggi dalammencegah terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam bentuk maupun jenis
[Link] dengan itu, perkembangan pembangunan yang dilaksanakan tersebut
makadisusunlah UU No.14 tahun 1969 tentang pokok-pokok mengenai tenaga kerja yangselanjutnya
mengalami perubahan menjadi UU No.12 tahun 2003 tentang ketenaga [Link] pasal 86 UU
No.13 tahun 2003, dinyatakan bahwa setiap pekerja atau buruhmempunyai hak untuk memperoleh
perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja,moral dan kesusilaan dan perlakuan yang sesuai
dengan harkat dan martabat serta [Link] mengantisipasi permasalahan tersebut, maka
dikeluarkanlah peraturan perundangan-
undangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja sebagai pengganti peraturan sebelumnya yaitu Ve
iligheids Reglement, STBl No.406 tahun 1910 yang dinilaisudah tidak memadai menghadapi kemajuan
dan perkembangan yang [Link] tersebut adalah Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang
keselamatan kerjayang ruang lingkupnya meliputi segala lingkungan kerja, baik di darat, didalam
tanah, permukaan air, di dalam air maupun udara, yang berada di dalam wilayah
kekuasaan hukumRepublik [Link]-undang tersebut juga mengatur syarat-syarat
keselamatan kerja dimulai
dari perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan, pemakaian,
5
penggunaan, pemeliharaan dan penyimpanan bahan, barang produk tekhnis dan aparat produksi yang
mengandung dan dapat menimbulkan bahaya [Link] sudah banyak peraturan yang
diterbitkan, namun pada pelaksaannya masih banyak kekurangan dan kelemahannya karena
terbatasnya personil pengawasan, sumber dayamanusia K3 serta sarana yang ada. Oleh karena itu,
masih diperlukan upaya untukmemberdayakan lembaga-lembaga K3 yang ada di masyarakat,
meningkatkan sosialisasi dankerjasama dengan mitra sosial guna membantu pelaksanaan pengawasan
norma K3 agarterjalan dengan baik.
b.
Membuat Cidera Pekerja Tambang atau orang yang diizinkan di tambang olehKTT
c.
d.
Cidera Ringan (Kecelakaan Ringan), Korban tidak mampu melakukan tugassemula lebih dari 1 hari
dan kurang dari 3 minggu. b.
Cidera Berat (Kecelakaan Berat), Korban tidak mampu melakukan tugassemula lebih dari 3 minggu serta
Korban invalid & tidak mampumelaksanakan tugas semula. Berdasarkan cedera korban yaitu :-
Retak Tengkorak kepala, tulang punggung pinggul, lengan bawah/atas, paha/kaki- Pendarahan di dalam
atau pingsan kurang oksigen
Mati, Korban mati dalam waktu 24 jam dari waktu terjadinya kecelakaan.
Kecelakaan tidak terjadi begitu saja, kecelakaan terjadi karena tindakan yang salahatau kondisi yang
tidak aman. Kelalaian sebagai sebab kecelakaan merupakan nilai tersendiridari teknik keselamatan. Ada
pepatah yang mengungkapkan tindakan yang lalai sepertikegagalan dalam melihat atau berjalan
mencapai suatu yang jauh diatas sebuah tangga. Haltersebut menunjukkan cara yang lebih baik selamat
untuk menghilangkan kondisi kelalaiandan memperbaiki kesadaran mengenai keselamatan setiap
karyawan pabrik. Penyebab dasarkecelakaan kerja yaitu :1)
Faktor Personila.
Kelemahan pengetahuan dan skill b.
Kurang motivasic.
Problem fisik2)
Faktor Perkerjaana.
Housekeeping tidak baikPenyebab Kecelakaan Kerja (Heinrich Mathematical Ratio) dibagi atas 3
bagianBerdasarkan Prosentasenya :
a.
LedakanLedakan dapat menimbulkan tekanan udara yang sangat tinggi disertai dengan nyalaapi. Setelah
itu akan diikuti dengan kepulan asap yang berwarna hitam. Ledakanmerambat pada lobang turbulensi
udara akan semakin dahsyat dan dapatmenimbulkan kerusakan yang fatal b.
LongsorLongsor di pertambangan biasanya berasal dari gempa bumi, ledakan yang terjadi didalam
tambang,serta kondisi tanah yang rentan mengalami longsor. Hal ini bisa jugadisebabkan oleh tidak
adanya pengaturan pembuatan terowongan untuk tambang.c.
KebakaranBila akumulasi gas-gas yang tertahan dalam terowongan tambang bawah tanahmengalami
suatu getaran hebat, yang diakibatkan oleh berbagai hal, seperti gerakanroda-roda mesin, tiupan angin
dari kompresor dan sejenisnya, sehingga gas ituterangkat ke udara (beterbangan) dan kemudian
membentuk awan gas dalam kondisi batas ledak (
explosive limit
) dan ketika itu ada sulutan api, maka akan terjadi ledakanyang diiringi oleh kebakaran.
Secara umum manfaat Manajemen Resiko pada perusahaan pertambangan adalahsebagai berikut :1.
2.
3.
Meningkatkan kepercayaan karyawan kepada perusahaan
2.
3.
4.
5.
6.
PP No. 59 Tahun 2007 tentang Kegiatan Usaha Panas Bumi
7.
PP No.38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,Pemprov dan
Pemkab/Kota
8.
9.
Permen No.06.P Tahun 1991 tentang Pemeriksaan Keselamatan Kerja atas Instalasi,Peralatan dan Teknik
Migas dan Panas Bumi
10.
11.
Program keselamatan kerja yang baik adalah program yang didasarkan pada prinsipclose the loop atau
prinsip penindaklanjutan hingga tuntas. Secanggih apapun program yangditawarkan, jikalau berhenti di
tengah jalan dan tidak diikuti dengan tindak lanjut yang nyatatentu tidak memiliki arti. Baik Internationa
Loss Control Institute (ILCI) maupun NationalOccupational Safety Association (NOSA) menyebutkan
bahwa sistem keselamatan kerjayang efektif harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut :1.
Identifikasi Bahaya (
Identification Hazzard
Cobalah Scribd GRATIS selama 30 hari untuk mengakses lebih dari 125 juta judul tanpa iklan atau
gangguan!
Identifikasi bahaya Adalah tidak sama bahaya di lingkungan kerja satu dengan yanglain. Untuk program
yang umum dijumpai di industri pertambangan dalam kaitannya dengan prinsip ini antara lain :a.
) b.
)c.
Sampling Program
)e.
STOP Programf.
)g.
)h.
)2.
)Di dalam langkah ini dipandang sangat penting untuk menmbuat standart, proseduratau kebijakan yang
berkaitan dengan potensi bahaya yang telah diketahui. Dalam penyusunan prosedur ini sebaiknya
melibatkan semua tingkatan managemen dan pelaksana dilapangan.a.
Program Penyusunan Kebijakan, Standart Kerja, Prosedur dengan tolok ukurstandart institusi
international, pemerintah dan pabrik. b.
Program Review Prosedur Kritis (
)c.
)d.
)e.
)3.
)Langkah ini adalah untuk menetapkan sistem pertanggunggugatan untuk masing-masing tingkatan
manajemen. Program yang sering dijumpai berkaitan dengan langkah iniadalah :
10
a.
) b.
)c.
)d.
Program KRA-KPI4.
)Langkah ini untuk mengetahui seberapa tinggi kinerja yang dipakai terhadap standaryang ada.
Beberapa program yang telah sangat dikenal dalam langkah ini adalah :a.
) b.
Housekeeping Evaluation5.
Evaluate Outcome
) b.
Government Reporting
)c.
)d.
Medical Evaluation
)e.
)Salah satu contoh yang amat dikenal dalam langkah ini adalah :a.
) b.
)c.
)d.
)
11
BAB IIIPENUTUP
3.1
Kesimpulan
12
3.2
Kritik dan Saran
13
DAFTAR PUSTAKA
Budiono S. Manajemen Risiko dalam Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Bunga RampaiHiperkes dan
Keselamatan. Semarang, [Link], Helena dan Syaifullah. Hukum Perburuhan Bidang Kesehatan
dan KeselamatanKerja. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, [Link]'mur
.1991. Higene perusahaan dan kesehatan kerja. Jakarta :Haji Masagung
Suma’mur P.K, Dr. Msc,”Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan”, Gunung Agung,
Jakarta, 1981
Polban 2011 1
BAB IPENDAHULUAN
[Link] Belakang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terutama di industri pertambangan merupakan salah satufactor
yang sangat penting demi kelancaran kegiatan operasional sehingga timbulnya rasa aman dannyaman
bagi pekerja untuk dapat beker ja secara optimal dan produktif. Pada prinsipnya kecelakaankerja dapat
terjadi dikarenakan oleh kondisi yang tidak aman serta kegiatan/aktifitas yang tidak [Link] karena
itu penting sekali untuk menanamkan budaya dan disiplin K3 bagi pekerja karenarendahnya budaya dan
disiplin K3 menyebabkan rendahnya kendali manajemen, contohnya :mengambil jalan pintas pada
prosedur kerja, khususnya terjadi pada tingkat operasi. Oleh karena ituuntuk dapat hal itu terlaksana
dengan baik dan benar maka diperlukan Sumber Daya Manusia yangdapat mengelola manajemen K3
tersebut.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
“Bagaimana
3 di pertambangan?”
1.3. Tujuan
1.3.1. Mencegah terjadinya penyakit akibat kerja1.3.2. Meningkatkan derajat kesehatan pekerja
dengan melakukan promosi kesehatan1.3.3. Menjaga status kesehatan dan kebugaran pekerja pada
kondisi ya ng optimal1.3.4. Mencipta kan system kerja yang aman mulai dari input, proses sampai
output1.3.5. Mencegah terjadinya kerugian (loss) baik moril maupun materil akibat
terjadinyaaccident/incident1.3.6. Melakukan pengendalian terhadap risiko yang ada di tempat
kerja1.3.7. Mencipta kan lingkungan kerja yang aman dan sehat dari bahaya health
hazard1.3.8. Mencipta kan interaksi semua sub di perusahaan dalam interaksi yang sehat dan
tidak berdampak terhadap penurunan derajat kesehatan atau adanya ketidaknyamanan
Polban 2011 2
a. UU Nomor 11 TH 1967 (Pasal 29)Tata Usaha, Pengawasan pekerjaan usaha pertambangan dan penga
wasan hasil perta mbangandipusatkan kepada Menteri dan diatur lebih lanjut dala m Peraturan
Pemerintah. Pengawasan yangdimaksud dalam ayat (1) pasal ini terutama meliputi keselamatan kerja,
pengawasan produksi dankegiatan lainnya dalam pertambangan yang menyangkut kepentingan
umum. b. UU Nomor 1 TH 1970 (Menimbang, Ps.3 ayat 1a-z) bahwa setiap tenaga kerja berhak
mendapat perlindungan atas kesela matannya dalam melakukan pekerjaan untuk keseja hteraan hidup
dan meningkatkan produksi serta produktivitas Nasional; Bahwasetiap orang lainnya yang berada di
tempat kerja perlu terjamin pula kesela matannya; Bahwa setiapsumber produksi perlu dipakai dan
dipergunakan secara aman dan effisien; Bahwa pembinaan norma-norma itu perlu diwujudkan dala m
Unda ng-undang yang memuat ketentuan - ketentuan umumtentang keselamata n kerja yang sesuai
dengan perkembangan masyarakat, industrialisasi, teknik danteknologi.c. UU Nomor 13 TH 2003 (Pasal
86 & 87)d. PP Nomor 32 TH 1969 (Pasal 64 & 65)e. PP Nomor 19 TH 1973 (Pasal 1, 2, & 3)f. MPR Nomor
341 LN 1930g. KEPMEN Nomor 2555.K/201/[Link]/1993h. KEPMEN Nomor 555.K/26/[Link]/1995
Dalam melakukan pengelolaan K-3 seperti yang termaktub dalam Kepmen Nomor555.K/26/[Link]/1995,
seorang Kepala Teknik Tambang (KTT) yang ditunjuk sebagai penanggung jawab penuh terhadap K 3 ,
dimana dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh PengawasOperasional dan Pengawas Teknis dengan
memperhatikan beberapa hal sebagai pedomannya, yaitu :1. Perkembangan keselamatan sebagai faktor
utama2. K3 merupakan sistem yang terpadu3. Sistem K3 mampu mengantisipasi peraturan perudangan
dan kesadaran masyarakat di bidang K34. Sistem K3 terintegrasi dalam pengendalian manajemen5.
Sistem K3 terintegrasi dalam sistem proses desain dan modifikasi peralatan6. Sistem K3 mampu
mengantisipasi teknologi keselamatan bagi SDM operasi
Polban 2011 3
Dalam pelaksanaan K3 pada industri pertambangan seringkali dihadapkan dengan segala macamkendala
yang menghambat kelancaran dalam pelaksanaan program pela ksanaan K3, kenda la iniantara lain:1.
Untuk menerapkan kebijakan dan strategi K3 diperlukan dana yang tidak sedikit. Fakta yang
seringterjadi adalah keterbatasan terhadap dana.2. Rendahnya budaya dan disiplin K3 menyebabkan
rendahnya kendali manajemen3. Pengetahuan K3 rendah :a.
Menyebabkan timbulnya kesulitan-kesulitan dala m mengintegrasikan aspek-aspek K3. b.
Pelatihan yang telah diberikan tidak memasukkan aspek-aspek K3.4. Aspek K3 tidak dipandang sebagai
salah satu faktor utama, akibatnya keputusan yang dibuat masih berisiko tinggi.
Polban 2011 4
[Link] SMK3
George Terry dalam Budiono (2003) menyebutkan bahwa manajemen merupakan sebuah proses
yangkhas, terdiri dari tindakan-tinda kan: perencanaan, pengorganisasian, pergerakan, dan
pengawasan,yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan,
melalui pemanfaatan sumber da ya lainnya (Budiono, dkk 2003). John D Millet dalam Ramlan
(2006)mengatakan bahwa manajemen adalah suatu proses pengarahan, penjurusan dan pemberian
fasilitaskerja kepada orang-orang yang diorganisasikan dalam kelompok-kelompok formal untuk
mencapaitujuan yang diharapkan. Menurut Santosa (2004) Manajemen adalah upaya mencapai hasil
atau tujuanyang telah ditetapkan dengan memanfaatkan orang lain melalui
kegiatan peencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian, selain itu juga kemampuan
untuk mengelolasemua hal secara professional. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
adalah bagiandari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi,
perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumberdaya yang dibutuhkan bagi
pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan, kebija kan kesela matan dan
kesehatan kerjadalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna
terciptanya tenaga kerjayang sehat, aman, efisien, da n produktif. Manajemen K3 merupakan suatu
usaha yang dilakukanuntuk meminimalkan dan mencegah kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, dan
penyakit akibathubungan kerja.
[Link] SMK3
Penerapa n SMK3 menurut Suardi (2007) mempunyai tujuan yaitu:1. Sebagai alat untuk mencapai
derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya, baik buruh, petani, nelayan, pegawai negeri,
atau pekerja-pekerja bebas.2. Sebagai upaya untuk mencegah dan memberantas penyakit
dan kecelakaan-kecelakaan akibatkerja, memelihara dan meningkatkan kesehatan dan gizi para tenaga
kerja, merawat danmeningkatkan efisiensi dan daya produktivitas tenaga manusia.
Polban 2011 5
Tujuan dan sasaran SMK3 yang tercantum dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.5 tahun
1996adalah menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja
yang terintregasidalam rangka mencegah da n mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta
menc iptakantempat kerja yang aman, efisien dan produktif. D engan peraturan perundangan
ditetapkannya syarat-syarat keselamatan kerja adalah untuk:1. Mencegah dan mengurangi
kecelakaan;2. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran;3. Mencegah dan mengurangi
bahaya peledakan;4. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran
atau kejadian-kejadianlain yang berbahaya;5. Memberi pertolongan pada kecelakaan;6. Memberi alat-
alat perlindungan diri pada para pekerja;7. Mencegah dan mengendalikan timbul a tau menyebar
luasnya suhu;8. Kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar radiasi, suara
dangetaran;9. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik physic maupum non
psychis,keracunan, infeksi dan penularan.10. Memperoleh penerangan yang cukup dan
sesuai;11. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik; Menyelenggarakan penyegaran udara
yangcukup;12. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban;13. Memperoleh keserasian a ntara
tenaga kerja , alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya ;14. Menga mankan dan memperlancar
pengangkuta n orang, binatang, tanaman a tau barang;15. Menga mankan dan memelihara segala
jenis bangunan;16. Menga mankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan
penyimpanan barang;17. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya;18. Menyesuaika n dan
menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannyamenjadi bertambah tinggi.
Polban 2011 6
Polban 2011 7
Pencapaian penerapan SMK3 dalam Permenaker 05/Men/1996 terbagi dalam beberapa elemen
yaitu:1. Pembangunan dan pemeliharaan komitmen2. Kebijakan K33. Tanggung jawab dan wewenang
untuk bertinda k4. Tinjauan ulang dan evaluasi5. Keterlibatan dan konsultasi dengan
tenaga kerja6. Strategi pendokumentasian7. Perencanaan strategi K38. Manual SMK39. Penyebarluasan
informa si K310. Peninjauan ulang desain dan
kontrak11. Pengendalian perancangan12. Peninjauan ulang kontrak13. Pengendalian dokumen14. Perse
tujuan dan pengeluaran dokumen15. Perubahan da n modifika si dokumen16. Pembelian17. Spesifikasi
dari pembelian barang dan jasa18. Sistem verifikasi untuk barang dan jasa yang dibeli19. Kontrol
barang dan jasa dipasok pelanggan20. Kea mana n bekerja berdasarkan SMK321. Sistem kerja22.
Pengawasan23. Seleksi dan penempatan personil24. Lingkungan kerja25. Pemeliharaan, perbaikan dan
perubahan sarana produksi26. Pelayanan
Polban 2011 8
27. Kesiapan untuk menangani kea daan darurat28. Pertolonga n pertama pada kecela
kaan29. Standar pemantauan30. Pemeriksaan bahaya31. Pemantauan lingkunga n kerja32. Peralatan,
inspeksi, pengukuran, dan pengujian33. Pemantauan Kesehatan34. Pelaporan dan perbaikan
kekurangan35. Pelaporan keadaan darurat36. Pelaporan insiden37. Penyelidikan kecelakaan kerja38. Pe
nanganan masalah39. Pengelolaan materia l dan
perpindahannya40. Penangana n secara manual dan mekanis41. Sistem pengangkutan, penyimpanan,
dan pembuangan42. Bahan-bahan berbaha ya43. Pengumpulan dan penggunaan
data44. Catatan K345. Data dan laporan K346. Audit SMK347. Audit internal SMK348. Pengembangan
ketrampilan dan kema mpuan49. Strategi pelatihan50. Pelatihan bagi manajemen dan
supervisor51. Pelatihan bagi tenaga kerja52. Pelatihan dan pengenalan bagi pengunjung dan
kontraktor53. Pelatiha n keadaan khusus
Polban 2011 9
Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) a dalah salah satu bentuk upaya untukmenciptakan
tempat kerja yang a man, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapatmengurangi dan
atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapa tmeningkatkan
efisiensi dan produktivitas kerja. Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 23 tahun1992 tentang
Kesehatan telah menga manatkan antara lain : setiap tempat kerja harus melaksanakanupaya kesehatan
kerja agar tida k terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat, danlingkungan
di sekitarnya,([Link]. [Link], 2009). Penerapan SMK3 dilaksanakan oleh setiap perusahaan yang
mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus ora ng atau mengandung potensi bahaya ya ng
ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkankecelakaan kerja
wajib menerapkan SMK3. Pela ksana an SMK3 dilakukan oleh Pengurus, Pengusahadan seluruh tenaga
kerja sebagai satu kesatuan. Ketentuan-ketentuan yang wajib dilaksa nakan dalam penerapan SMK3
yang tercantum dala m Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 5 Tahun 1996adalah:1. Menetapkan
Kebijakan K3 dan menjamin komitmen terhadap penerapan Sistem Manajemen K3.2. Merencanakan
pemenuhan kebijakan, tujuan, dan sasaran penerapan K3.3. Menerapkan kebijakan K3 secara efektif
dengan mengembangkan kemampuan dan mekanisme pendukung yang diperlukan untuk mencapai
kebijakan, tujuan, dan sasaran keselamatan dankesehatan kerja.4. Mengukur,
memantau, dan mengevaluasi kinerja keselamatan dan kesehatan kerja sertamelakukan tindakan
perbaikan dan pencega han.5. Meninjau secara teratur dan meningkatkan pela ksanaa n Sistem
Manajemen K3 secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja keselamatan dan
kesehatan [Link] Suardi (2007), Tahapan dan langkah-langkah ya ng harus dilakukan suatu
untukmemudahkan dalam menerapkan pengembangan SMK3 terbagi menjadi dua bagian besar yaitu:1.
Tahap persiapanTahap ini merupakan langkah awal ya ng harus dilakukan suatu perusahaan. Langkah
inimelibatkan lapisan manajemen dan sejumlah personil, mulai dari menyatakan komitmen
sampaidengan menetapkan kebutuhan sumber daya yang diperlukan. Adapun tahap persiapan
ini antara lain:a. Komitmen manajemen puncak b. Menentukan ruang lingkupc. Menetapkan
cara penerapand. Membentuk kelompok penerapa ne. Menetapkan sumber daya yang diperlukan
Polban 2011 10
2. Tahap Pengembangan dan PenerapanSistem dalam tahapan ini berisi langkah-langkah yang harus
dilakukan oleh organisasi/ perusahaandengan melibatkan banyak personil. Langkah-langkah tersebut
adalah:a. Menyatakan komitmenPenerapan Sistem Manajemen tidak akan berjalan tanpa adanya
komitmen terhadap sistemmanajemen tersebut. Manajemen harus benar-benar menyadari bahwa
merekalah yang paling bertanggung jawab terhadap keberhasilan dan kegagalan penerapan
SMK3. Komitmen harus dinyatakandengan tindakan nyata agar diketahui oleh seluruh staf dan karyawan
perusahaan. b. Menetapkan cara penerapanPerusahaan dapat menggunakan jasa konsultan ataupun
personel perusahaan yang ma mpu untukmengorganisasikan dan mengarahkan orang untuk
menerapkan SMK3.c. Membentuk kelompok kerja penerapanJika perusahaan akan membentuk
kelompok kerja sebaiknya anggota kelompok kerja tersebut terdiriatas seorang wakil dari setiap unit
kerja, biasanya manajer unit kerja. Ha l ini penting karena merekayang paling bertanggung jawab
terhadap setiap unit kerja yang bersangkutan.d. Menetapkan sumber daya yang diperlukanSumber daya
di sini mencakup orang atau personil, perlengkapan, waktu, dan dana. Orang yangdimaksud adalah
beberapa orang yang diangka t secara resmi di luar tugas-tugas pokoknya dan terlibat penuh dalam
proses penerapan. Perlengkapan ada lah perlunya mempersiapkan kemungkinanruangan tambahan
untuk menyimpan dokumen atau komputer tambahan untuk mengolah danmenyimpan data. Waktu
yang diperlukan tidaklah sedikit terutama bagi orang yang terlibat dalam penerapan, mulai mengikuti
rapat, pelatihan, mempelajari bahan-bahan pustaka, menulis dokumenmutu sampai menghadapi
kegiatan audit dan assessment. Sementara dana diperlukan adalah untukmembayar konsultan (jika
menggunakan jasa konsultan), lembaga sertifikasi, dan biaya untuk pelatihan karyawan diluar
perusahaan. Serta peralatan khusus untuk pengendalian risiko dan bahayayang ditimbulkan
dalam penerapan SMK3.e. Kegiatan penyuluhanKegiatan penyuluhan ini harus diarahkan
untuk mencapai tujuan, antara lain:1. Menya makan persepsi dan motivasi terhadap pentingnya
penerapan SMK3 bagi kinerja perusahaan.2. Membangun komitmen menyeluruh mulai dari direksi,
manajer, staf, dan seluruh jajaran dalam perusahaan untuk bekerja bersama-sama dalam menerapakan
standar sistem.
Polban 2011 11
f. Peninjauan sistemKelompok kerja yang telah terbentuk meninjau sistem yang sedang berlangsung
denganmembandingkannyabdengan persyaratan yang ada dalam SMK3. Peninjauan dapat dilakukan
melalui2 cara yaitu dengan meninjau dokumen prosedur dan meninjau
pelaksanaannya.g. Penyusunan Jadwal KegiatanJadwal kegiatan disusun setelah melakukan peninjauan
dengan mempertimbangkan:1. Ruang lingkup pekerjaan2. Kemampuan wakil ma najemen
dan kelompok kerja penerapan3. Keberadaan proyekh. Pengembangan SMK3Kegiatan-kegiatan
yang dilakukan dalam tahap pengembangan sistem adalah dokumentasi, pembagian kelompok,
penyusunan bagan alir, penulisan manual SMK3, prosedur dan instruksi
kerja.i. Penerapa n SistemPenerapan sisitem harus dila ksanakan sedikitnya tiga bulan
sebelum pelaksanaan audit [Link] tiga bulan diperlukan untuk mengumpulkan bukti-bukti
(dalam bentuk rekaman tercatat)secara memadai dan untuk melaksanakan penyempurnaan sistem
serta modifikasi dokumen. j. Proses SertifikasiPerusahaan diharapkan melakukan sertifikasi dengan
memilih lembaga sertifikasi yang [Link] penerapan SMK3 dibagi menjadi 3 tingkatan
:1. Perusahaan kecil atau perusahaan dengan tingkat risiko rendah harus menetapkan sebanyak
64kriteria (ena m puluh empat) kriteria.2. Perusahaan sedang atau perusahaan denga n tingkat risiko
menenga h harus menerapkan sebanyak122 (seratus dua puluh dua) kriteria.3. Perusahaan besar atau
perusahaan dengan tingkat risiko tinggi harus menerapkan sebanyak 166(seratus enam puluh enam)
kriteria.
Polban 2011 12
Untuk membentuk ataupun meningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) memang tidaklah begitu
mudah, dibutuhkan komitmen yang kuat, tenaga pelatih yang berkompeten serta ditunjang olehfasilitas
dan dana yang memadai. Seharusnya dimana SDM sebagai target perubahan dalam pelaksanaan K3 di
industri pertambangan, diharapkan semua karyawan harus memiliki pengetahuandan kepahaman yang
sama tentang aspek-aspek K3 dan operasi dalam industri pertambangan.
Polban 2011 13
BAB IVMANAGEMEN K3
pertambangan umum tidak mungkin dilakukan seca ra “super ficial”, bahkan untuk
dapat mencakupseluruh karakter tersebut serta untuk mendapatkan kinerja K3 yang tinggi maka
pengelolaan K3 harusdilakukan secara bersistem Sistem menejemen K3 di lingkunga n pertambangan
umum berkembangseiring dengan perkemba ngan industri itu sendiri, utamanya setelah masuknya
swasta asing. Dalam peraturan perundangan sub-sektor pertambangan umum tidak secara eksplisit
disebut adanya sistemmenejemen K3, namun dalam prakteknya seluruh perusahaan pertambangan
umum telah menerapkandengan berbagai variasinya. Khusus untuk beberapa perusahaan swasta asing
ada yang langsungmengadopsi sistem menejemen K3 yang ada di negara asalnya atau dari negara lain,
seperti nasionaloccupational safety agency ( NOSA) dari afrika selatan, international safety rating (ISR),
internationalLoss control institute (ILCI) dari Amareika, dan beberapa sistem yang dikembangakan
di [Link] demikian perusahaanpertambangan umum tidak di wajibkan untuk hanya
menerapkan satumodel sistem menejemen K3 yang seragam. Sistem K3 negara lain yang diterapkan
di indonesia,umumnya hanya menekankan pengaturan dan pengawasan internal di dalam unit
organisasi perusahaan dan tidak menjelaskan bagaimana korelasi sistem manejemen K3 tersebut
dengan pengawasan dan pembina an dari sisi pemerintah ( inspekturtambang ).
Manajemen keselamatan pertambangan meliputi :1. menimbang dan memperhitungkan bahaya yang
potensial dima na akan membahayakan para pekerja dan peralatan2. melaksanakan dan memelihara /
menjaga kendali yang memadai termasuk kontrol terhadap :a.
pola penambangan b.
pemeliharaan perala tan ta mbanng3. struktur menejemen yang ada harus memadai
untuk mengidentifikasi resiko dan penerapan kontrol.
Polban 2011 14
Elemen - elemen yang terkandung dalam menejemen keselamatan pertambangan adalah :1. Harus
ada KTT yang merupakan orang dari jajaran top menejemen yang bertanggung jawabterhadap
terlaksana nya serta ditaatinya peraturan perundangan K3.2. Harus ada struktur organisasi
yang menjalankan program K3.3. Harus ada orang yang kompeten dan menguasai K3, baik teori maupun
praktek, yang duduk dalamstruktur.4. Ada lembaga perwakilan karyawan yang independen di dalam
perusahaan yang mampu sebagaitempat menejemen berkonsultasi dan memberi masukan.5.
Ada sistem dokumentasi dan administrasi K3.6. Ada program identifikasi dan pengendalian bahaya dan
sistem evakuasi.7. Ada tersedia peraturan, pedoman dan standar K3 yang relevan.8. Ada program
sertifikasi alat, operator, dan tenaga teknik khusus.9. Ada program pelatihan K3, baik tingkat pelaksana
maupun pengawas.10. Ada program perawatan dan pemeliharaan peralatan / permesinan serta
pengadaan alat proteksidiri.11. Ada program pengawasan, pemeriksaan, dan perawatan kesehatan.12.
Ada program pengawasan ( internal planed inspection ) dan kompliance.13. Ada programa udit secara
berkala.14. Ada mekanisme evaluasi perbaikan, dan peningkatan program K3.15. Ada program
pengawasan secara berkala dari pemerintah.16. Ada program bench marking dari kinerja antar
perusahaan pertambangan umu dalam aspek K3.17. Ada komunikasi dalam bentuk pelaporan dari
perusahaan ke [Link] adanya Pengendalian manajemen oleh sistem K3, berarti
peningkatan:1. Kesadaran ma najemen terhadap risiko tinggi.2. Antisipasi terhadap peraturan
perundangan.3. Integrasi dengan teknologi proses sejak fase desain hingga modifikasi.4. Integrasi
dengan prosedur kerja.5. Antisipasi terhadap perkembagan teknologi.
Polban 2011 15
Pada awalnya, pola pengelola an K3 pada industri subsektor pertambangan umum adalah
merupakanwarisan dari era Hindia Belanda. Pola tersebut cukup lama dipa kai Indonesia .dalam pola
tersebut, posisi Inspektur Tambang sanga t sentral dan menentukan. Bahka n, fungsi Inspektur Tambang
saatitu lebih
cenderung kepada a ktif “watch dog” daripada berperan kearah upaya pemandirian da
lam bentuk Sistem Mannagemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Peraturan -
peraturannya pada waktu itu sangat rinci dan kaku serta kurang mempertimbangkan pemberian ruang
terhadap pengelolaan aspek efisiensi dan produktivitas. Hal inidapa t dimengerti karena kepemilikan
dan pemanfaatan seluruh bahan galian tersebut langsung dikelola pemerintah Hindia Belanda,
artinyatidak berorientasi pasar. Setelah pemerintah Indonesia mengambil alih perusahaan -
perusahaan pertambangan tersebut dan penjualan produknya berorientasi pasar dan karena dituntut
harusmenghasilkan devisa maka aspek efisiensi, produ
agar tetap kompetitif dan menghasilkan keuntungan. Sejak itu sifat peraturan perundangannya berubah
dari rinci dan kaku ke arah umum dan fleksibel. Dalam hal ini lebih banyakdirencanakandalam bentuk
pedoman - pedoman, baikya ng bersifat operasiona l maupun teknis. SMK3 disubsektor pertambangan
umum tercermin secara tidak langsung di dalam pasal - pasal KepmenPertambangan dan Energi Nomor
555.K/ 26/ [Link] / 1995 tentang Keselamatan dan Kesehatan KerjaPertambangan Umum. Dala m
kaitannya dengan elemen - elemen SMK3 sebagaimana dijelaskansebelumnya (ada 17 elemen) maka
dalam Keputusan Menteri tersebut diatur bahwa :1. Komitmen dan Kepemimpinan K3Penanggung
jawab pelaksanaan K3 dalam perusaha an adalah seorang dari pimpinan tertinggi atauChief Executive
Officer (CEO) di lapangan yang bidang tanggung jawabnya adalah bersifat teknisoperasional atau
produksi. Orang tersebut harus memiliki sertifikat KTT. Kemudian, penunjukannyaharus mendapat
pengesahan dari Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang/ Kepala Inspektur Tambang(KAPIT/ KIT).2. Struktur
Organisasi K3Berdasa rkan jumlah pekerja, sifat, dan lua snya pekerjaan maka Kepala Inspektur Tambang
dapatmewajibkan perusahaan membentuk unit or ganisasi yang mengelola K3. Pada kenyataannya
hanya perusahaan - perusahaan yang skalanya sangat kecil yang dibebaskan dari kewajiban membentuk
unitorganisasi K3. Artinya, semua perusahaan di lingkungan pertambangan umum memiliki
unit organisasi K3 yang dipimpin oleh orang setingkat Manager atau sekurang - kurangnya
Superintenden.
Polban 2011 16
3. Pengawas K3Untuk dapat melakukan pola pengelolaan terhadap K3 maka perlu adanya implementasi
strategi K3,yaitu:1. Menetapkan aspek K3 diantara SDM pada departemen operasi.2. K3 harus
prediktif dan proaktif pada fase disain dan modifikasi3. Mempercepat SMK3 (ISO 14000)4. Membentuk
spesialis K35. Menetapkan indikator kinerja:a.
Zero accident b.
Zero on firec.
a.
Memasukkan K3 secara formal dalam proyek perusahaan sejak fase desain dan modifikasic.
Pelatihan tidak hanya fokus pada lingkup pekerjaan, tapi juga aspek-aspek lainnya.e.
Memasukkan aspek K3 sebagai syarat kompetensi dasar bagi SDM bidang operasif.
SDM Operasi-
SDM Perawatan-
SDM K3
Polban 2011 17
K3 adalah Kesela matan & Kesehatan Kerja, di lingkungan pertambangan umum. Keselamatan
&Kesehatan Kerja, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan upaya untuk
memperolehkeselamatan dan kesehatan setiap orang yang bekerja di lingkungan tambang. Kecelakaan
Tambang,adalah semua kecela kaan kerja yang terjadi pada saat jam kerja di wilayah tambang.
Lingkunga nTambang Aktif, adalah Lingkungan di sekitar lokasi pena mbangan yang masih aktif
menggunakanmetode open pit, open cut atau open mine (khususnya untuk batubara) dan terdapat
pekerjaan- pekerjaan land clearing, top soil stripping, gali muat angkut OB, gali muat angkut batubara,
pemboranda n peledakan, water pumping, OB dumping & back filling, la nd regrading, recontouring, top
soilspreading dan landscaping pada lokasi front kerja tambang (single atau multi bench), disposal
aktif, jalan-ja lan tamba ng (sementara maupun permanen), sedimen pond (sementara maupun
permanen),drainase tambang dan sarana lain yang berada dida la mnya dan berhubungan dengan
kegiatantambang itu sendiri.
[Link] Hukum :
KEPMEN PERTAMBANGAN & ENERGI No. 555.K/26/[Link]/1995, tentang K esela matan danKesehatan K
erja di Lingkungan Pertamba ngan Umum.
[Link] :
a.
Mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan sebab akibat dari adanya tindakan dankondisi yang
tidak aman, nyaman, sehat dan menyenangkan dari setiap pekerja ta mbang. b.
d.
Memberikan sanksi bagi setiap pela nggaran yang berakibat pada kerugian material dannonmaterial
pada perusahaa n, lingkungan sekitar dan pekerja/orang lain.
Polban 2011 18
Pengertian Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan, tidak direncanakan, dan takterduga
yang menyebabkan cidera pada manusia, kerusakan peralatan atau barang atauterganggunya
proses produksi/kerja. Sesuai Kepmen Pertambangan dan Energi
Nomor555.K/26/[Link]/1995, kecelakaan tambang harus memenuhi lima unsur :1. Benar-
benar terjadi2. Mengakibatkan cidera pekerja tambang atau orag yang diberi izin oleh kepala teknik
tambang3. Akibat kegiatan usaha pertambangan4. Terjadi pada jam kerja pekerja tambang yang
mendapat cidera atau setiap saat orang yang diberiizin dan5. Terjadi di dalam wilayah izin
usaha pertambangan atau wilaya h proyekDari lima unsur tersebut harus terpenuhi sahingga disebut
kecelakaan tambang, salah satuunsur yang tidak terpenuhi, maka tidak bisa dikatakan
kecelakaan tambang.
Lemahnya Kontrol:1. Progra m tidak sesuai2. Standard tidak memadai3. Kepatuhan terhadap standar
Penyebab DasarFaktor Pribadi, antara lain :1. Kemampuan fisik da n mental2. Kurang pengetahuan dan
keterampila n, dllFaktor Pekerjaan, antara lain :1. Pengawasan dan kepemimpinan2. Kurang peralatan
dan standa r, dll
Polban 2011 19
Penyebab LangsungTindakan Tidak Aman, antara lain :1. Pengopera sian peralatan tanpa
otorisa si2. Pakai alat yang rusak, dllKondisi Tidak Aman, antara
lain:1. Perlindungan tidak layak2. Kebersiha n, penerangan kurang memada i, dll
Cidera akibat kecelakaan tambang harus dicatat dan digolongkan dalam kategori sebagai berikut :1.
Cidera ringanCidera akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang tidak
mampumelakukan tugas semula lebih dari 1 hari dan kurang dari 3 minggu, termasuk hari minggu dan
harilibur .2.
Cidera berata.
Cidera akibat kecelakaan tambang yang menyebabkan pekerja tambang tidak mampumelakukan tugas
semula selama lebih dari 3 minggu termasuk hari minggu dan hari libur b.
Cidera akibat kecelakaan tambang yang menyebabka n pekerja tambang cacat tetap (invalid)yang tidak
mampu menjalankan tugas semulac.
Cidera akibat kecelakaan tambang tidak tergantung dari lama nya pekerja tambang tidakmampu
melakukan tugas semula, tetapi mengalami cidera seperti salah satu di bawah ini :-
Keretakan tengkorak kepala, tulang punggung, pinggul, lengan bawah, lengan atas, pahaatau kaki-
Luka berat atau luka terbuka/terkoyak yang dapat mengakibatkan ketidak mampuan tetap-
MatiKecelakaan tambang yang mengakibatkan pekerja tambang mati dalam waktu 24 jam terhitungdari
waktu terjadinya kecelakaan tersebut.
Polban 2011 20
Dalam industri pertambangan usaha menunjukkan kinerja keselamatan dan kesehatan kerja
adalah pencatatan jam kerja tanpa kecelakaan dilakukan dengan cara mengalikan jumlah karyawandeng
an jam kerja karyawan. Misalnya jumlah karyawan (pekerja tambang) 200 orang,
jam kerja8 jam/hari. Jadi dalam sehari jumla h jam kerja adalah 200 orang x 8 jam/hari = 1600 jam
kerjaorang/hari. Di Indonesia apabila perusahaan dapat mencapai jam kerja dalam jumlah wa
ktu tertentutanpa kecelakaan maka perusahaan tersebut akan mendapat penghargaan
dari [Link] jam kerja tanpa kecelakaan akan jatuh kembali ke nol lagi
apabila terjadikecelakaan yang mengakibatkan pekerja tidak dapat masuk kerja lagi setelah kejadiankece
[Link] Accident akan jatuh ke nol apabila terjadi kecelakaan kerja yang menyebabkan pekerja tidak
dapat masuk kerja setelah 2 x 24 jam.
Contoh I:
kecelakaan terjadi pada ;Tanggal 17 Januari (kecelakaan)Tanggal 18 Januari (tidak masuk kerja)Tanggal
19 Januari (tidak masuk kerja
jatuh ke nol) maka zero accident akan jatuh ke nol lagi dalam pencatatan jam kerja tanpa [Link]
Amerika Serikat (USA) dengan aturan dari Occupational Safety and Health Act mengatur bahwaZero
Accident akan jatuh ke nol a pabila terjadi kecelakaan kerja yang mengakibatkan pekerja tidakmasuk
kerja kembali setelah 1 x 24 jam
Contoh II:
kecelakaan terjadi pada;Tanggal 17 Januari (kecelakaan), tidak dihitungTanggal 18 Januari (tidak masuk
kerja)Tanggal 19 Januari (tidak masuk kerja
jatuh ke nol) ma ka zero accident akan jatuh ke nol lagidalam pencatatan ja m kerja ta npa
[Link] dengan contoh I diatas adalah pada hari kecelakaan tidak dihitung sebagai hari
kerja yanghilang. Sedangkan di Inggris dengan aturan dari British Safety Council mencantumkan
bahwaZero Accident akan jatuh ke nol apabila terjadi kecelakaan kerja yang mengakibatkan peker
jatidak masuk kerja setelah 3 x 24 jam.
Polban 2011 21
Contoh III:
kecelakaan terjadi pada;Tanggal 17 Januari (kecelakaan)Tanggal 18 Januari (tidak masuk kerja)Tanggal
19 Januari (tidak masuk kerja)Tanggal 20 Januari (tidak masuk kerja
jatuh ke nol) ma ka zero accident akan jatuh ke nol lagidalam pencatatan jam kerja tanpa kecelakaan.
Polban 2011 22
a.
Gambar
6.1
(7)
Gambar
6.2
(7)
Gambar
6.3
(7)
Polban 2011 23
b.
Gambar
6.4
(7)
Gambar
6.5
(7)
Gambar
6.6
(7)
Polban 2011 24
Statistik Kecelakaan
Gambar
6.7
(7)
Polban 2011 25
Dilarang memakai APD yang sudah rusak atau tidak berfungsi dengan baik. APD yangdemikian harus
diperbaiki atau diamankan
Didalam bekerja perhatikan keadaan sekeliling sehingga APD yang sedang dipakai tidakmembahayakan
orang lain
Bila bekerja di ketinggian maka ketika sedang membawa atau ketika sedang bekerja
supayamengamankan APD tersebut dari kemungkinan terjatuh
Bila beratnya melebihi 7kg maka harus dilengkapi dengan sabuk penyandang
APD yang mempunyai bagian-bagian yang tajam atau berputar sedapat mungkin dipasang pelindung
atau penggunaannya dengan cara yang aman.
Polban 2011 26
Gambar
6.8.1
Gambar
6.8.2
Gambar
6.8.3
Gambar
6.8.4
Gambar
6.8.5
Berdasarkan uraian yang telah dikemuka kan sebelumnya, maka dapat ditarik dua kesimpulan
utamasecara garis besar, yaitu :1. Faktor penghambat pelaksanaan K3 yaitu ; keterbatasan dana,
rendahnya budaya dan disiplin K3menyebabkan rendahnya kendali manajemen, pengetahuan K3
rendah, dan aspek K3 tidak dipandangsebagai salah satu faktor utama, akibatnya keputusan yang dibuat
masih berisiko tinggi.2. Dalam melakukan pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada industri
pertambanganminerba-pabum (minera l, batubara dan panas bumi) kita harus:- Memahami perubahan
lingkungan- Memiliki Sistem Managemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK-3) yang terintegrasi-
Memiliki kebijakan dan strategi K3 yang menciptakan SDM berbudaya K3 khususnya didepartemen
operasi.- Perlu adanya rotasi ja batan di antara SDM Operasi, K3 dan Perawatan untuk mendapatkan
SDMyang kompeten.
[Link]
Perusahaan pertambangan sebaiknya menerapkan SMK3 dengan baik sesuai undang-undang K3
ditempatnya untuk mengurangi angka kecelakaan pada pakerja dan kerugian bagi perusahaan.
Polban 2011 30
DAFTAR PUSTAKA
1.
[Link], Jr. Frank, [Link] George,1996, Practical Loss Control Leadership, Det NorskeVaritas, USA4.
Sumber: ([Link]