Ideologi HMI, Bekal Kader Progresif
Essay Ini Ditulis Sebagai Syarat Mengikuti Pelatihan Senior Course
Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Purwokerto
21 – 30 September 2018
Disusun oleh :
Arif Rahmat Triasa
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
CABANG CIPUTAT
2018
Ideologi HMI, Bekal Kader Progresif
Oleh : Arif Rahmat Triasa
Asal Cabang : Ciputat
Perkaderan merupakan ruh dari eksistensi organisasi, terlebih Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) yang telah berumur emas, yaitu 71 tahun, HMI masih
mampu berdiri dan mengawal Bangsa dengan dinamika-dinamika yang terjadi.
Tentu peran perkaderan yang tercantum dalam pasal 8 Anggaran Dasar (AD) HMI
tentang fungsi organisasi HMI adalah organisasi kader sangat berperan.
Kaderisasi adalah sistem perkaderan yang secara etimologis berasal dari kata
“kader” yang berarti tenaga yang terlatih yang disiapkan untuk mengggantikan
generasi yang lalu. Sedangkan secara terminologi adalah suatu rangkaian program
kegiatan yang bertujuan untuk mendidik, merangsang, memperkaya dan
memperbaiki keterampilan dalam hal kepemimpinan. Kaderisasi yang dimaksud
disini adalah suatu kegiatan mendidik dan membina seseorang sehingga menjadi
kader yang diharapkan mampu memangku jabatan penting yang dapat meneruskan
kelangsungan sebuah organisasi.
Makna “Kader” merujuk kepada Pedoman Perkaderan HMI adalah
“sekelompok orang yang teroganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang
punggung bagi kelompok yang lebih besar.” Maka usaha yang dilakukan organisasi
dalam membentuk kader yang disebut dengan istilah perkaderan akan
mewujudkan empat hal: Pertama, kader bergerak dan terbentuk dalam organisasi.
Maka aturan dalam organisasi berupa konstitusi dan pedoman-pedoman sangat
diperlukan, agar perkaderan yang diinginkan organisasi terwujud.
Kedua, seorang kader mempunyai komitmen yang terus menerus (permanen),
tidak mengenal semangat musiman, tapi utuh dan istiqomah (konsisten) dalam
memperjuangkan kebenaran. Komitmen kader HMI yang ditanamkan oleh
perkaderan adalah mewujudkan visi dari HMI yang termaktub dalam pasal 4 AD
HMI dengan semangat ikhlas kepada Allah lillahi ta’ala.
Ketiga, seorang kader memiliki bobot dan kualitas sebagai tulang punggung
atau kerangka yang mampu menyangga kesatuan komunitas manusia yang lebih
besar (masyarakat). Jadi fokus perkaderan adalah membentuk kualitas kader, kader-
kader yang paripurna, insan cita atau insan kamil yang akan mengamalkan nilai-
nilai keislaman dalam kehidupan bermasyarakat yang akan dia hadapi.
Keempat, seorang kader memiliki visi dan perhatian yang serius dalam
merespon dinamika sosial lingkungannya dan mampu melakukan social
engineering. Visi yang HMI inginkan yaitu pasal 4 AD HMI harus dipahami dan
diaplikasikan oleh kader karena cita-cita tersebut adalah respon kader dalam
dinamika sosial yang ada. Bahwa kader-kader HMI akan membela keadilan kaum
mustad’afin dan melawan penindasan/thagut kaum mustad’afin. Maka proses
perkaderan di HMI sangat penting untuk membekali para kader dengan ideologi
yang kuat.
Dalam proses perkaderan HMI yang sudah diatur dalam Pedoman Perkaderan
HMI, terdapat perkaderan formal berupa: training formal (berupa LK I, LK II dan
LK III), training informal (berupa Training of Trainer, Training Managemen
Training, Training Instruktur, Senior Course, Training Gender, Latihan Khusus
Kohati, dll). Dan perkaderan informal berupa follow up, up grading, aktifitas,
promosi, coaching (pendampingan), dan kegiatan menunjang proses perkaderan.
Proses penurunan dan pemberian nilai-nilai baik, nilai- nilai umum maupun
khusus, oleh institusi yang bersangkutan adalah kaderisasi. Proses kaderisasi sering
kali mengandung materi-materi kepemimpinan, manajemen, dan sebagainya,
karena kader yang masuk dalam institusi tersebut nantinya akan menjadi penerus
tongkat estafet kepemimpinan, terlebih lagi bagi institusi dan organisasi yang
dinamis.
Sejak awal, HMI t el ah mencantumkan “Menegakkan dan mengembangkan
ajaran agama Islam” sebagai salah satu tujuannya, di samping “Mempertahankan
dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia”. Dengan demikian, Islam telah
dijadikan sebagai landasan organisasi. Dalam hal ini HMI tidak mendasarkan diri
pada “mazhab” tertentu, walau kemudian dalam pola pemikirannya HMI cenderung
sebagai kelompok intelektual muslim pembaharu.
Dari situ HMI menuangkan pemahaman keislamannya yang tertampung
dalam sebuah buku pedoman yang diberi nama Nilai Dasar Perjuangan (NDP).
NDP merupakan gambaran bagaimana seorang HMI memahami Islam
sebagaimana tercantum dalam al-Quran. Secara doktrin, yang terkandung dalam
NDP bukanlah ajaran yang bertentangan dengan Islam, melainkan merupakan
formulasi kembali atas al-Quran sehingga tertuang menjadi suatu kepribadian bagi
kader HMI dalam mewujudkan amanat Tuhan sebagai khalifah fil-ardhi.
Dalam proses mempertahankan keutuhan organisasi HMI sudah banyak
dinamika yang dilewati. Pergolakan pemikiran, pertarungan ideologi, politik
bahkan sampai gesekan fisik pernah di lalui HMI tanpa mencederai keutuhan
organisasi dan NKRI. Pada etape tersebut para kader HMI riil menunjukkan
soliditas dan kesadaran kolektif akan tujuan dari sebuah organisasi dan
mempertahankan NKRI. Hal tersebut sesuai dengan latar belakang berdirinya dan
komitemen HMI yang disebut oleh (alm) Lafran Pane dengan istilah Tri komitmen
HMI yakni; Keindonesiaan, Keislaman dan Kemahasiswaan.
NDP adalah landasan ideologis perjuangan HMI, sebagai ruh yang
mendorong moral perjuangan kader. Pemahaman terhadap NDP diharapkan dapat
menumbuhkan kepercayaan diri kader akan keyakinan tauhidnya, membangun
semangat humanisme dalam interaksi dengan sesama manusia, dan sebagai sumber
nilai moral yang mengiringi ilmu pengetahuan untuk diabdikan bagi kemanusiaan.
Dengan demikian nilai-nilai NDP bisa menjadi identitas yang khas bagi kader-
kader HMI.
Sudah tentu HMI sebagai organisasi mahasiswa konsen pada fokus
kemahasiswaan dalam membentuk insan-insan yang akademis, pencipta, pengabdi
yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil
makmur yang diridhoi Allah Subhana wa Ta’ala yang menjadi tujuan dari
perkaderan di HMI. Maka perkaderan dengan NDP sebagai landasan ideologis
perjuangan HMI dilakukan untuk membekali perjuangan kader yang progresif.
وإن اهلل ملع احملسنني،والذين جهدوا فينا لنهدينهم سبلنا
“Dan mereka yang berjuang dijalan-Ku (kebenaran), maka pasti Aku akan
tunjukkan jalannya (mencapai tujuan) sesungguhnya Tuhan itu cinta kepada
orang-orang yang selalu berbuat (progresif)” (QS. Al-Ankabut: 69).
Bentuk keprogresifan kader ini merujuk kepada ayat diatas adalah orang
yang berjuang dijalan Allah dalam menciptakan perdamaian. Membela kaum
yang lemah/mustad’afin dan melawan penindasan/thagut kaum yang
kuat/mustakbirin.
Kaderisasi HMI sejatinya adalah upaya totalitas secara sistematis untuk
membangun dan membentuk kader yang progresif dalam berbagai lingkup
potensi. Tauhid, kemanusiaan dan kemasyarakatan. Ketiga hal tersebut
merupakan lingkup perjuangan kader yang ada di dalam diri kader HMI untuk
dikembangkan dan dilaksanakan dalam kehidupan.
Selanjutnya, untuk membentuk kader HMI yang progresif ini tidak terbatas
hanya kemauan kader saja. Namun, bagaimana instruktur perkaderan dan
pimpinan mampu mengorganisir, menggerakkan dan memotivasi kader beserta
potensinya untuk bergerak progresif. Instruktur perkaderan memiliki peran yang
besar dalam memberi pembekalan ideologi kepada kader untuk memantapkan
perjuangan kader HMI depan. Karena, saat perkaderanlah kader ini merasakan
awal dari kecintaan terhadap HMI yang selanjutnya setelah perkaderan selesai
tugas ini dilimpahkan kepada pimpinan untuk mendampingi kader agar lebih
matang serta menambah keterlibatan kader di HMI baik itu melalui kegiatan atau
aksi yang dilaksanakan oleh HMI.
Daftar Bacaan
Pedoman Perkaderan HMI
Isman, Bhaskarra-Harry, Kamus Populer Lengkap, Bandung: Citra Umbara, 1994.
Hisam, At-Tholib, Panduan Pelatihan Bagi Juru Dakwah, Jakarta: 1996.
Adjiwicaksana, Sistem Kaderisasi Organisasi, Jakarta: UI Press, 2004.
Said Muniruddin, Bintang Arasy. Tafsir Filosofis dan Gnostik Tujuan HMI,
Banda Aceh: Syiah Kuala Press, 2014.