Teknik dan Tujuan Pengasaman Sumur
Teknik dan Tujuan Pengasaman Sumur
TUJUAN
WSER-005 Acidizing 1
1. Tujuan Pengasaman
Tujuan utama pengasaman adalah memperbaiki produktivitas sumur. Asam dapat
digunakan untuk tujuan ini karena sifatnya yang dapat melarutkan partikelpartikel formasi
dan material-material asing yang dapat masuk ke dalam formasi selama proses pemboran,
komplesi sumur dan proses produksi.
Keefektifan asam dalam memperbaiki produktivitas sumur akan tergantung pada
ketelitian analisa dari masalah ini, yang meliputi pemilihan asam yang sesuai teknik dan
pelaksanaan yang baik di lapangan.
Secara garis besar, pengasaman dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori,
tergantung pada tipe masalah yang akan diperbaiki, yaitu matrix acidizing dan
acid fracturing.
Pada matrix acidizing, volume asam yang relatif kecil digunakan untuk memperbaiki
suatu zona yang rusak atau yang permeabilitasnya berkurang di sekitar lubang sumur.
Volume asam yang diinjeksikan kecil pengaruhnya, hanya beberapa feet dari lubang bor.
Pada acid fracturing, volume asam yang diinjeksikan relatif besar. Asam tersebut
selalu diinjeksikan dengan laju dan tekanan yang tinggi yang akan menyebabkan terjadinya
rekahan. Selain itu dapat terjadi juga pada pori-pori batuan kecil secara alami.
2 WSER-005 Acidizing
2. Dasar-Dasar Pengasaman
Dasar-dasar pengasaman yang akan diuraikan dalam tulisan ini, adalah bagaimana
sampai terjadi kerusakan formasi, macam-macam pengasaman dan pengasaman yang akan
digunakan serta seberapa jauh keberhasilan pengasaman tersebut dalam mengurangi
penurunan produktivitas sumur.
WSER-005 Acidizing 3
¾ kerusakan formasi akibat penurunan permeabilitas absolut.
¾ kerusakan formasi akibat penurunan permeabilitas relatif minyak.
4 WSER-005 Acidizing
secara alamiah. Jika penurunannya lebih dari biasanya merupakan hal yang istimewa,
karena hal ini dapat menunjukkan adanya kerusakan.
Indikasi yang dapat dipercaya adalah penurunan produksi sumur secara tiba-
tiba. Sedangkan penurunan dapat juga sedikit demi sedikit.
Metoda lain yang dapat mengevaluasi derajat kerusakan formasi yaitu dengan
pressure transient testing. Pressure transient testing adalah uji sumur yang melibatkan
bagaimana mendapatkan dan mengukur variasi tekanan terhadap waktu pada suatu
sumur tertentu.
Pressure transient testing terdiri dari pressure build up test, drawdown test,
injection test, falloff test atau uji interferensi lainnya. Dari analisa ini diperoleh informasi
produksi sumur dan karakteristik reservoir, termasuk diagnosa kerusakan lubang sumur.
Analisa tekanan transient menyebabkan sumur ditutup untuk selang waktu
tertentu, maka terlebih dahulu harus diidentifikasi masalah tersebut dengan seksama.
Metoda lainnya untuk menentukan kerusakan formasi, yaitu dengan
menggunakan persamaan Darcy untuk aliran radial dengan memperkirakan
produktivitas suatu sumur. Data sumur harus akurat untuk memperkirakan permeabilitas
formasi berdasarkan pada kondisi produksi. Informasi ini dapat membandingkan sejarah
produksi awal dan akan memberikan suatu indikasi jika reservoir tersebut rusak.
WSER-005 Acidizing 5
⇪ G
Gambar 1 Ka
aolinite Terssebar Luas di
d Dalam Po
ori-pori
8 WSER-005 Acidizing
4.3. Stimulasi
S Pengasama
P n Matriks
Teknik
k pengasamman terutama diterapkan pada sum mur-sumur yang
y menga alami
keerusakan fo
ormasi di se
ekitar lubang g bor yang mempunya ai sementasii kuat dan daya
la
arutnya terha
adap asam tinggi.
t Tujuannya adalah
h untuk mem mperbaiki ataau meningka atkan
permeabilitassnya. Di samping
s itu
u, metoda pengasaman matrikss dipilih untuk u
m
menghindari terbukanya komunikasii zona minyaak dengan zona
z air dan
n zona gas, yang
y
tidak diharap
pkan, yang dapat
d meningkatkan prooduksi air da
an gas. Penggasaman ma atriks
dilakukan denngan menginjeksikan assam ke dalamm formasi pada
p tekanann dan laju in
njeksi
di bawah tekaanan rekah formasi.
f
Untukk menggambarkan pen ningkatan produktifitas sumur dap pat diperhattikan
siistem gamb bar 4. Siste
em ini dapa at dibagi atas 2 (dua)) bagian; yaitu
y zona yang
y
m
mengalami k
kerusakan fo
ormasi (form
mation dama age), yang te erbentang antara
a rw daan re
dengan perm meabilitas ke; dan zona d
di luarnya yaang tidak mengalami ke erusakan forrmasi
yaaitu antara rw
r - re dengaan permeabilitas k. Pola aliran adala
ah radial.
⇪ Gamba a Reservoir8)
ar 4 Skema Kerusakan Sumur Pada
Muskat, menunjukkan
m perbanding
gan produktivitas fluida dari sistem yang
y menga
alami
kerusa
akan di atass terhadap sistem
s yang tidak meng
galami kerussakan denga an permeab
bilitas
seraga
am k, sebagaai berikut :
Js Fk log (rer / rw)
=
J o logg (re / rs ) + Fk log (re / rss )
diman na :
Js = produktivitas
p s sumur yang
g mengalami kerusakan formasi
Jo = produktivitas
p s sumur yang
g tidak mengalami kerussakan forma
asi
rs = ja
ari-jari daera
ah rusak
rw = jari-jari lubanng bor
ari-jari pengurasan
re = ja
Fk = Ks/Ko
K
Besarnya peeningkatan produktivitaas karena perbaikan sumur yang mengalami
m
kerusak
kan formasi dapat
d diperk
kirakan dari gambar 5.
⇪ Gam
mbar 5 Penurunan Produksi Karena n Formasi8)
a Kerusakan
Kalau misaln
nya jari-jari zona
z yang m
mengalami keerusakan forrmasi (rs - rw
w) adalah 6
inchi, perbandingann permeabilitas Fk, 0,05 maka produktivitas su umur hanyala ah 0,3 dari
produkttivitas sumur yang tidak mengalami kerussakan. Den ngan stimulasi, maka
peningkkatan produktivitas sumur dapat 3 kkali produktivvitas sumur sebelumnya a.
n pengasaman matriks pada
Pelaksanaan p sumur yang tidak mengalami kerusakan,
nya sangat kecil penin
umumn ngkatan prooduktivitas sumurnya. Seperti terllihat pada
Gambar 6.
⇪ Gambar 6 Peningkattan Produkssi melalui Pengasaman
P n pada Sumur Undamaged
Formation n8)
Plot pada
p gambaar diatas menunjukkan,, untuk men ncapai perta ambahan inndeks
produktivitas 2 (dua) ka
ali, suatu su
umur dengan luas peng gurasan 40 acre diperlukan
penembusan asam ke zona yang men ngalami keru uh 13 ft dari lubang bor.
usakan sejau
5. Asam Yang Digunakan Dalam Stimulasi
Asam yang biasa digunakan dalam stimulasi pengasaman sumur-sumur adalah asam
klorida (HCl), asam florida (HF), asam asetat, asam formiat dan asam sulfamix. Kombinasi dari
asam-asam di atas, dalam perbandingan tertentu, juga dilakukan untuk aplikasi khusus.
Tetapi sebagai patokan, persyaratan bagi asam agar dapat digunakan untuk stimulasi
pengasaman adalah :
a. Asam dapat bereaksi dengan karbonat, pasir, clay dan endapan scale, serta
membentuk bahan-bahan terlarut (soluble product).
b. Tidak terjadi reaksi yang berlebihan dengan bagian- bagian logam dari peralatan
sumur.
Di samping faktor-faktor di atas, unsur keselamatan dalam pengasaman serta faktor-
faktor ekonomis pembiayaan harus pula dipertimbangkan.
12 WSER-005 Acidizing
30 %. Dalam reaksi antara HF dengan CaCO3, reaksinya akan menghasilkan endapan
CaF2, dan reaksinya berlangsung cepat. Reaksinya adalah :
CaCO3 + 2 HF -------> CaF2 + 2H2 O) + CO2
Karena kedua hal tersebut, maka HF tidak cocok digunakan untuk formasi
karbonat. Sedangkan untuk formasi batu pasir yang mengandung karbonat,
pengendapan CaF2 ini dapat dicegah dengan menggunakan pembilasan sebelumnya
dengan HCl. Tujuannya adalah untuk melarutkan CaCO3 dan mencegah ion kalsium
bereaksi dengan HF.
WSER-005 Acidizing 13
6. Zat-zat Additive pada Pengasaman
Asam yang digunakan dalam stimulasi pengasaman sumur membutuhkan sejumlah
zat additif untuk mengefektifkan pengasaman yang dilakukan dan untuk mengurangi efek
yang berakibat buruk terhadap formasi, peralatan produksi, ataupun terhadap hasil
pengasaman itu sendiri. Zat additif itu antara lain berguna untuk : mencegah terjadinya
korosi, menghilangkan emulsi di formasi, mengubah kebasahan (Wettabillity) formasi, untuk
memperbaiki pengasaman atau pembersihan sumur (clean up) yang lebih baik, untuk
mengurangi friksi fluida asam karena laju pompa yang tinggi, untuk lebih meratakan laju
penembusan asam untuk zona-zona yang diasami, mencegah terjadinya scale besi,
mencegah pengendapan pada minyak yang mengandung aspalt tinggi.
Dengan penambahan zat aditif, maka faktor kerugian di atas dapat dihindari, dan
efek pengasaman dapat lebih dioptimalkan.
14 WSER-005 Acidizing
⇪ Gambar 7 Laju Korrosi HCl pad
da beberapa
a Jenis Baja3)
⇪ Gam
mbar 8 Peng peratur pada Korosi3)
garuh Temp
¯ Tab
bel 1 Penga eratur Pada Korosi10)
aruh Tempe
Type Inhibitor Inhibitor erature
Tempe Protective
Con
ncentration (oF
F) time
(%) Hrs
Orga
anic 0.5 20
00 24
1.0 25
50 10
2.0 30
00 2
In Org
ganic
0.4 20
00 24
1.2 25
50 24
2.0 30
00 12
6.2. Surfactant
Surfactant digunakan sebagai additif dalam stimulasi pengasaman untuk
mencegah emulsi antara asam dan minyak, untuk mengurangi tegangan antar muka,
mengatur kebasahan formasi, mempercepat pembersihan sumur (cleanup), dan
mencegah pengendapan formasi. Penambahan surfactant pada 15 % HCl dapat
mengurangi tegangan permukaan dari 72 dyne/cm menjadi 30 dyne/cm. Penurunan
tegangan permukaan dapat mengurangi waktu swabbing dan waktu pembersihan
(cleanup).
Pemilihan jenis dan konsentrasi surfactant harus berdasarkan pengujian terhadap
fluida formasi di laboratorium. Juga harus dicocokkan dengan pencegah korosi dan
additif lain untuk keefektifannya dan untuk mencegah efek samping yang tidak di
harapkan.
16 WSER-005 Acidizing
⇪ Gambar 9 Distribusi Penemb
busan Asamm Pada Form
10)
masi Tanpa Penggunaan
P n
Div
verting Age
ent
6.5. Sequesterin
S ng Agent
Fungssi additif ini adalah untu
uk mengisola
asi ion-ion besi
b dan gara
am-garam m
metal
la
ainnya, sehin
ngga dapat dibatasi
d pen
ngendapannya di formasi. Selama pengasaman,
p , bila
besi hidroksida tidak diccegah dari p pengendapaan, maka senyawa besi yang tidak bisa
dilarutkan ini akan mengendap di sekkitar lubang bor dan aka an menyebabkan penuruunan
permeabilitass.
Konseentrasi asam
m yang digu unakan dala
am stimulasii pengasaman , tergantung
epada kandu
ke ungan besi yang
y larut pa
ada tempera
atur formasi.. Konsentrasi
HCl ak
kan naik darri 15 % apab
bila di formassi terdapat sscale besi okksida yang tin
nggi.
Kondisi sumur perlu dianalisa sep penuhnya untuk
u mene entukan laru utan asam dan
equestering agent yang paling efekttif. Penamba
se ahan surfacta ant yang coccok pada larrutan
assam, akan memperbaiki
m kontak asam
m dengan se enyawa besi..
Tabel (2) di bawwah ini memmperlihatkan n perbandin
ngan beberapa squeste
ering
ag
gent yang biasa dipergu
unakan sebagai additif pada
p pengasaman.
¯ Tabe
el 2 Perband
dingan Bebe
erapa Iron Sequesterin
ng Agent8)
7. Fakttor-Faktor yang Mem
mpengaruh
hi Laju Reak
ksi Pengasaman
Kecepatann reaksi dalaam stimulassi pengasam man akan mmempengaruhi besar de erajat
penem
mbusan asam m ke dalam m formasi. K
Kecepatan re eaksi yang rrendah bera
arti penembusan
asam ke dalam formasi lebih dalam,
d begittu juga sebaliknya.
Faktor-fakktor yang me
empengaruh
hi laju reaksi pengasaman adalah :
1. perban
ndingan luass permukaan
n formasi per unit volum
me asam
2. temperatur formassi
an
3. tekana
[Link] asam
5. kompoosisi batuan formasi
6. kecepa
atan aliran fluida
7.1. Perbanding
P gan Luas-V
Volume
Perbandingan lua as-volume iini, maksudnya adalah perbanding gan antara luas
permukaan batuan
b formaasi yang dike
enai oleh asa
am per unit volume asam m. Perbandin
ngan
lu
uas-volume ini, berband ding terbalikk dengan jaari-jari pori batuan atau
u lebar reka
ahan.
Pada Gambarr 10, terlihatt bahwa pen ngaruh perbbandingan lu uas volume ini,
i pada ma atriks
le
ebih besar da
ari pada reka
ahan.
Hal in
ni disebabka
an, pada ma
atriks luas pe
ermukaan ya
ang kontak lebih besarr dari
re
ekahan.
⇪ Gambar 10
1 Pengaruh
h Perbandin
ngan Luar-V
Volume Pada Kecepatan
3)
n Reaksi An
ntara
HCl dengan Ca
aCO3
7.2. Temperatu
T r
Temperatur mempunyai efekk langsung teerhadap laju u reaksi anta
ara Asam klo orida
dengan Karbo onat. Pada suhu
s antara 140 oF dan 150 oF, laju reaksi akan kira-kira 2 (dua)
(
ali lebih cep
ka da suhu 80 oF. Dengan kata lain, ka
pat dari pad alau temperratur bertam mbah,
kecepattan reaksi menjadi
m lebih
h cepat, dan
n mengurangi penembu usan asam ke
k formasi.
Panas formasi
f senddiri, dan panas yang ditimbulkan oleeh reaksi asa
am itu sendiri. Gambar
11 memmperlihatkann temperaturr pada laju antara HCl de
engan CaCO O3.
⇪ Gambar 11 aCO33)
1 Pengaruh Temperatur Pada Laju Reaksi HCll dengan Ca
7.3. Tekanan
Pengaruh te
ekanan pada a laju reaksi pengasama an, terutama
a berarti pad
da tekanan
di bawa ah 500 psi, seperti terllihat pada GGambar (12)). Hal ini disebabkan karena
k CO2
(karbonn dioksida) yang
y terlaru
ut sedikit, se
ehingga efek perlambattan reaksinyya menjadi
berkuraang juga. Seedangkan te ekanan di attas 500 psi, CO2 yang tterlarutkan meningkat.
m
Peningkkatan konsentrasi CO2 sebagai
s hasil reaksi ini akan
a mengggerakan reakksi lebih ke
arah terrcapainya ke
esetimbanga an, yang beraarti terjadi perlambatan reaksi.
⇪ Gambar 12 Pengaru
uh Tekanan Pada Laju Reaksi
R HCl 1 0o F
15% pada 80
7.4. Konsentras
K si Asam
Sampai dengan konsentrasi
k 20 %, penin ngkatan kon
nsentrasi asaam klorida akan
m
mempunyai h
hubungan ya
ang proporsional dengan laju reaksii. Pada konse
entrasi antarra 20
% sampai 24 %, laju raksi akan menccapai titik maaksimum. Pa
ada peningkkatan konsen ntrasi
se
elanjutnya di
d atas 24 % laju reaksi akan mengalami penurunan. Den ngan bertam mbah
banyaknya yang bereaksi, maka lajju reaksi ak kan menurun. Hal ini disebabkan
d oleh
danya penurunan. Deng
ad gan bertamb
bah banyakn nya yang berreaksi, maka
a laju reaksi akan
m
menurun, hal ini disebabkan oleh adanya penuru unan konsenntrasi asam dan
d adanya hasil
re
eaksi (CaCO3 dan CO2) bersifat me emperlambatt reaksi antara asam de engan karbo onat.
G
Gambar 13 memperlihatk
m kan pengaru
uh konsentra asi
HCl terhadap
t lajju reaksi assam. Gambar 14 peng
garuh temp
peratur terha
adap
viiskositas asa
am.
⇪ Gam
mbar 13 Pengaruh Kon
nsentrasi HC
Cl Terhadap
p Kecepatan
n reaksi9)
7.5. Komposisi
K Batuan Formasi
Kompposisi Batuan n Formasi a adalah fakto
or utama da
alam penenntuan laju reeaksi
assam. Umummnya laju reaksi
r limesstone lebih dari dua kali dolomiite; tetapi pada
p
te
emperatur tinggi, laju reaksi hampir sama.
7.6. Kecepatan
K Aliran
Peningkatan keccepatan aliran pada suatu pe ermukaan karbonat akan
meningkatkan laju reaksii. Pengaruh kecepatan terutama
m t terj
rjadi pada sa
aluran yang kecil
attau rekahan yang sempiit. Hal ini dip
perlihatkan pada
p maan berikut :
persam
Rr = [28,5 (v/w)0,8 + 184] x10-6 ...................................................................................................... (1)
na :
diman
Rr = laju raksi untuk HCl 15 % pada temperatur 80 oF dan tekanan 1100 psi,
mole/s
v = kecepatan aliran asam, ft/s
w = lebar rekahan, ft
Laju aliran v pada suatu pengasaman dihubungkan dengan laju injeksi dan
geometri :
v = 17,2 q/d2
= 1,15 q/h.w (rekahan linier)
= 0,18 q/rf.w (rekahan radial)
q = laju injeksi asam, bbl/min
d = diameter rekahan, icnh
h = tinggi rekahan, ft
rf = jari-jari rekahan, ft
22 WSER-005 Acidizing
8. Perencanaan Stimulasi Pengasaman
Perencanaan suatu stimulasi pengasaman matriks suatu sumur, tidak hanya untuk
jumlah volume dan jenis fluida asam yang akan diinjeksikan, tetapi juga termasuk laju dan
tekanan injeksi maksimum yang diizinkan (untuk mencegah perekahan formasi).
Suatu metoda yang sistimatik untuk perencanaan pengasaman matriks batupasir
dalah sebagai berikut :
⎛P ⎞
gf = α + ( g o − α )⎜ r ⎟ ............................................................................ (2)
⎝D⎠
dimana
gf = gradien rekahan, psi/ft
α = konstanta, yang berkisar antara 0,33 - 0,50.
go = gradien overburden adalah 1,0 psi/ft untuk sumur yang
kedalamannya kurang dari 10.000.- ft, dan 1,0 - 1,2 psi/ft untuk sumur
yang lebih dari 10.000 ft. lihat gambar 10.25
Pr = tekanan reservoir, psi
D = kedalaman sumur, ft
WSER-005 Acidizing 23
⇪ Ga
ambar 14 Viiskositas Asam Pada Be
erbagai Tem
mperatur
⇪ Gambar 16 Volume
V ermeabilitas Pada T = 100 oF8)
Asam Fungsi Pe
⇪ Gambar 17 Volume Asam Fun
ngsi Permea a T = 200 oF8)
abilitas Pada
9.1. Peramalan
P Jarak Pene
embusan A
Asam Pada
a Formasi Batu
B Pasir
Untuk
k memperkiirakan jari-jjari penemb busan asamm dan jumlah asam yang y
diinginkan pada suatu operasi
o pen
ngasaman, kita
k harus m
mempertimb bangkan kinetika
re
eaksi dan pe
erubahan sifa
at fisikformasi yang disebabkan oleh
h reaksi asam
m.
Pendeekatan yang
g kita gunakkan dalam perencanaan
p n pengasaman formasi batu
pasir yaitu yang dikembangkan oleh William dan Whiteley.
m dan With
William heley menyaajikan kurva-kurva pere
encanaan seperi ditunjukkan
dalam gamba ar 10.16 sam
mpai dengan 10.19 kurvva-kurva terrsebut memmpunyai bata asan-
batasan pengggunaan den ngan selang temperatur 100 - 250 o
oF dan laju in
njeksi 0,001 - 0,2
bbl/min ft.
Kurva-kurva tersebut dikemba
angkan untu
uk campuran
n asam HCl 12
1 % - HF 3 %
ng power da
Jika acid dissolvin an kandung
gan clay dalaam formasi diketahui, m
maka
edalaman pe
ke enembusan asam dapatt langsung dihubungkan
d n dengan volume asam yang
y
diinjeksikan. Pendekatan n ini penting untuk memperkiraka an kedalamaan penembusan
assam dan biaasanya memberikan hasiil yang konssisten dengan menggunakan Gamba ar 16
sa
ampai 19.
⇪ Gambarr 20 Pengassaman HF Pa
ada Formassi Batu Pasirr3)
9.2. Model Matemattik Pada Fo
ormasi Batu
u Pasir
William dann Whiteley telah mengusulkan me etoda simula
asi pengasaman pada
formasii batu pasir,, dengan menggunakan n keseimban
ngan massa pada suatuu pori dan
distribu
usi ukuran pori
p yang salah satunya dapat mep
perlihatkan p
perubahan konsentrasi
k
asam sebagai fung gsi jarak dann waktu yan
ng dapat dihhubungkan dengan koe efisien laju
reaksi dengan
d menggunakan persamaan.
⎛ ⎛ − ⎞⎞
⎜ ∂⎜ Φ C ⎟ ⎟ −
⎝ ⎝ ⎠⎠ ∂C −
⎡ ~ ⎤
+U = −Φ C ⎢r f (Φ )⎥ ............................................................................................ (6)
∂t ∂X ⎣ ⎦
dimana :
~
C= k
konsentrasi a
asam rata-ra
ata pada ked
dudukan diukur dari inlett.
U = flux volume
e
⎡ ~ ⎤
⎢⎣ r f (Φ )⎥⎦ = koefisien laaju reaksi efeektif yang beervariasi selaama pengasaaman
⎡ ~ ⎤
_ − Φ ⎢r f (Φ )⎥ X
∂X ⎣ ⎦
= exp ................................................................................................................ (8)
Co U
Koefisien la
aju reaksi da
apat ditentuukan dari pe ercobaan ya ang diperole
eh dengan
injeksi HF ke dalam m core batuupasir linier. Profil konssentrasi alira
an HF tak berdimensi
b
hatkan dalam
diperlih m Gambar 21,2 sedangkkan koefisien n laju reaksii dapat dipe
eroleh dari
data Gaambar 22.
⇪ Gamba
ar 21 Profil Konsentrassi Asam HF8
8)
⇪ Gambar 22
2 Perkemb
bangan Worrmhole Sete
elah Injeksi Asam Untu
uk Core Linie
er8)
⇪ Gambar 23
2 Perkemb
bangan Worrmhole Sete
elah Injeksi A
Asam Untuk Core Radiial8)
⇪ Gamb
bar 24 Jarak
k Penembussan Asam Se
epanjang W
Wormhole8)
10. Deskripsi Pengasaman Matriks Pada Formasi Karbonat
Pada pengasaman matriks karbonat, asam yang digunakan biasanya HCl dan
diinjeksikan pada tekanan dan laju yang cukup rendah untuk mencegah perekahan formasi.
Tujuan teknik ini untuk mencapai penembusan asam yang radial masuk ke formasi untuk
menambah permeabilitas formasi sekitar lubang sumur.
Teknik ini biasanya melibatkan penginjeksian asam yang disertai oleh overflush
dengan air atau hidrokarbon untuk membersihkan asam dari rangkaian pipa (drill string).
WSER-005 Acidizing 31
¯ Tabel 3 Panjang Wormhole Maximum Tanpa Fluid Loss (0.25 bb/min, 40
perforasi, wormhole/perforasi)8)
Permeabilitas Panjang Wormhole
Formasi (md) Maksimum L (ft)
1 8,9
5 2,0
25 0,5
100 0,1
32 WSER-005 Acidizing
Untuk k menentuka
an batas laju reaksi yang
g mungkin da
ari panjang wormhole,
w s
suatu
m
model teorittik memperrkirakan pro
ofil konsentrasi asam sepanjang wormhole yang y
dikembangka an oleh Nie erode. Panjang worhole yang diperki-rakan dapat didekati
se
ebagai titik k dimana konsentrasi asamnya sepersepulu uh dari ko onsentrasi yang
y
diinjeksikan.
dur pengem
Prosed mbangan model, analog g dengan simulasi
s reaksi asam dalam
uatu rekahan
su n, sebagai ha
asilnya diplo
ot dalam gam
mbar 25
⇪ Gam
mbar 25 Harrga Poiton Ratio
R Menu
urut Eaton
N * RE = 2a ∇N ρ / μ ........................................................................................................................... (9)
diman
na:
NRE * = bilangan Reymond untuk fluid lo
oss wornhole
e
NRE = 2 a v
−
N * RE = 2a V o Aρ / μ ........................................................................................................................ (10)
NRE= bilangan Re
eymond untuk aliran sep
panjang worrmhole
Nsc = μ ⁄ ρ De ........................................................................................................................................... (11)
Nsc = bilangan Reymond unntuk aliran sepanjang wo
orhole
4 LNREE*/a NRE = jarak penembusan asam tanpa diimensi
−
VN = kecepatan n fluid loss rata-rata
r
a = jari-jari wormhole
−
V Ao a jalur masuk ke worhole
n fluida pada
= kecepatan
34 WSER-005 Acidizing
11. Contoh Soal
1. Perencanaan Pengasaman Sumur minyak Pada Formasi Karbonat Suatu sumur
minyak yang akan diasamkan, mempunyai data sebagai berikut :
¾ Kedalaman formasi = 7500 feet
¾ Interval Perforasi = 20 feet
¾ Gradien rekah pada tekanan awal 3075 psi = 0,7 psi/ft
¾ Gradien overburden = 1,0 psi/ft
¾ Tekanan reservoir = 2000 psi
¾ kh = 200 md-ft
Viskositas asam pada temperatur reservoir dari gambar 3.5 sama dengan 0,4 cp
¾ Jari-jari penyerapan sumur = 660 feet
¾ Jari-jari lubang sumur = 0,25 feet
2. Perencanaan Pengasaman sumur minyak pada Formasi Batupasir
Suatu sumur minyak pada formasi batu pasir yang dilakukan pengasaman,
direncanakan dengan data sebagai berikut :
¾ Kedalaman formasi = 5000 feet
¾ Interval perforasi (hn) = 10 feet
¾ k av = 50 md
¾ Temperatur reservoir = 150 o F
¾ Viskositas minyak pada kondisi reservoir = 1 cp
¾ Viskositas HCl 15 % pada temperatur 150 oF dari gambar 25 = 0,78 cp
¾ Gradien rekah pada tekanan awal 2000 psi = 0,7 psi/ft
¾ Tekanan reservoir = 1000 psi
¾ Gradien overburden = 1, 0 psi/ft
¾ Jari-jari lubang sumur = 0,25 feet
¾ Jari-jari penyerapan sumur = 660 feet
3. Penentuan Volume Asam Berdasarkan Harga Penetrasi Asam Diketahui :
Temperatur formasi, T = 200 o F
Kandungan silicate = 10 %
Jari-jari sumur, rw = 3,81 inchi
Jari-Jari Wormhole = 5/8 inchi
Laju injeksi Asam, q = 1,5 bbl/min
Interval perforasi, h = 25 feet
Jenis asam = HCl - HF
WSER-005 Acidizing 35
DAFTAR PUSTAKA
36 WSER-005 Acidizing
DAFTAR PARAMETER DAN SATUAN
WSER-005 Acidizing 37