0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan37 halaman

Teknik dan Tujuan Pengasaman Sumur

Acidizing bertujuan untuk memperbaiki produktivitas sumur dengan melarutkan partikel dan bahan asing di formasi menggunakan asam. Kerusakan formasi disebabkan oleh filtrat lumpur pemboran, fluida komplesi, dan produksi, yang menurunkan permeabilitas. Keberhasilan acidizing ditentukan dengan menganalisis penyebab dan tingkat kerusakan formasi, seperti kurva penurunan produksi dan uji tekanan transient.

Diunggah oleh

Carmel Petrus
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan37 halaman

Teknik dan Tujuan Pengasaman Sumur

Acidizing bertujuan untuk memperbaiki produktivitas sumur dengan melarutkan partikel dan bahan asing di formasi menggunakan asam. Kerusakan formasi disebabkan oleh filtrat lumpur pemboran, fluida komplesi, dan produksi, yang menurunkan permeabilitas. Keberhasilan acidizing ditentukan dengan menganalisis penyebab dan tingkat kerusakan formasi, seperti kurva penurunan produksi dan uji tekanan transient.

Diunggah oleh

Carmel Petrus
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Acidizing

TUJUAN

Memahami tujuan dilakukan pengasaman


Mengenali permasalahan yang ditimbulkan akibat kerusakan formasi
Mengenali jenis-jenis operasi pengasaman
Acid washing
Matrix aciding
Acid fracturing
Mengenali metoda evaluasi keberhasilan operasi pengasaman
Memahami pertimbangan-pertimabangan dalam melakukan operasi pengsaman
Mengenali zat-zat aditive yang digunakan pada operasi pengasaman
Corrosion inhibitor
Surfactant
Mutual solvent
Diverting agent
Sequestering Agent
Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi pengasaman
Memahami proses perencanaan stimulasi pengasaman
Pengasaman pada batuan batu pasir
Pengasaman pada batuan karbonat

WSER-005 Acidizing 1
1. Tujuan Pengasaman
Tujuan utama pengasaman adalah memperbaiki produktivitas sumur. Asam dapat
digunakan untuk tujuan ini karena sifatnya yang dapat melarutkan partikelpartikel formasi
dan material-material asing yang dapat masuk ke dalam formasi selama proses pemboran,
komplesi sumur dan proses produksi.
Keefektifan asam dalam memperbaiki produktivitas sumur akan tergantung pada
ketelitian analisa dari masalah ini, yang meliputi pemilihan asam yang sesuai teknik dan
pelaksanaan yang baik di lapangan.
Secara garis besar, pengasaman dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori,
tergantung pada tipe masalah yang akan diperbaiki, yaitu matrix acidizing dan
acid fracturing.
Pada matrix acidizing, volume asam yang relatif kecil digunakan untuk memperbaiki
suatu zona yang rusak atau yang permeabilitasnya berkurang di sekitar lubang sumur.
Volume asam yang diinjeksikan kecil pengaruhnya, hanya beberapa feet dari lubang bor.
Pada acid fracturing, volume asam yang diinjeksikan relatif besar. Asam tersebut
selalu diinjeksikan dengan laju dan tekanan yang tinggi yang akan menyebabkan terjadinya
rekahan. Selain itu dapat terjadi juga pada pori-pori batuan kecil secara alami.

2 WSER-005 Acidizing
2. Dasar-Dasar Pengasaman
Dasar-dasar pengasaman yang akan diuraikan dalam tulisan ini, adalah bagaimana
sampai terjadi kerusakan formasi, macam-macam pengasaman dan pengasaman yang akan
digunakan serta seberapa jauh keberhasilan pengasaman tersebut dalam mengurangi
penurunan produktivitas sumur.

2.1. Kerusakan Formasi


Karena tujuan pengasaman lubang sumur adalah memperbaiki kerusakan formasi,
maka terlebih dahulu harus mengetahui derajat kerusakan formasi yang terjadi secara
alamiah.
Kerusakan formasi menunjukkan daerah sekitar lubang sumur yang mengalami
penurunan permeabilitas. Penyebaran kerusakan formasi biasanya hanya beberapa inchi
dari lubang sumur, tetapi kadang-kadang dapat pula menyebar jauh sampai beberapa feet.
Jangkauan daerah kerusakan ini merupakan salah satu faktor penting dalam memilih asam
dan teknik pengasamannya.
Kerusakan formasi akan menurunkan produksi atau injeksi yang besarnya
penurunan tergantung pada derajat kerusakannya. Penyebab utama kerusakan formasi
adalah adanya kontak antara formasi dengan fluida kerja ulang, fluida stimulasi atau fluida
reservoir.
Material yang dapat menyebabkan kerusakan formasi adalah padatan dan cairan.
a. Kerusakan Formasi Akibat Padatan
Padatan yang terbawa oleh cairan (lumpur pemboran) dapat menyumbat pori-pori
di permukaan pasir di daerah sekitar lubang sumur atau pun dapat menyumbat
perforasi. Padatan yang terbawa cairan tersebut berasal dari :
¾ bahan pemberat lumpur
¾ clay
¾ bahan pengatur viskositas lumpur
¾ bahan pencegah lost circulation
¾ bahan padat yang berasal dari pengendapan reaksi kimia
b. Kerusakan formasi Akibat Cairan Filtrat
Cairan filtrat dari lumpur pemboran dapat masuk ke dalam formasi sebagai akibat
adanya perbedaan tekanan yang cukup besar antara lubang sumur dengan formasi.
Cairan ini dapat merusak formasi dengan mekanisme sebagai berikut :
¾ Jika filtrat berupa air, masuknya filtrat ke dalam formasi akan mendorong
hidrokarbon menjauhi lubang sumur
¾ Filtrat air dapat menyebabkan terjadinya pengembangan clay (clay
swelling).
Filtrat air dapat menimbulkan emulsi yang kental apabila bercampur dengan minyak
di reservoir, demikian pula filtrat minyak (dari oil base mud) jika bercampur dengan
air formasi dapat menimbulkan emulsi yang kental.
Filtrat dapat mengakibatkan perubahan sifat batuan di sekitar lubang sumur dari
water-wet menjadi oil wet.
Berdasarkan hal tersebut di atas, kerusakan formasi sebagai akibat padatan dan
cairan, jenis kerusakan yang terjadi dapat di klasifikasikan sebagai berikut :

WSER-005 Acidizing 3
¾ kerusakan formasi akibat penurunan permeabilitas absolut.
¾ kerusakan formasi akibat penurunan permeabilitas relatif minyak.

2.2. Penentuan Sumber dan Derajat Kerusakan Formasi


Untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan operasi pengasaman, pertama-
tama harus ditentukan sumber dan derajat kerusakan formasi.
Jika sumur tersebut relatif baru, kerusakan dapat terjadi sebagai akibat lumpur
pemboran atau pada tahap komplesinya. Untuk sumur yang relatif tua, kerusakan
merupakan suatu masalah produksi. Untuk menyelesaikan masalah kerusakan formasi
pada sumur tersebut harus dianalisa tentang prosedur pemboran dan komplesi dan
indikasi kinerja sumur tersebut.

2.3. Sumber Kerusakan Formasi


Filtrat lumpur pemboran merupakan salah satu sumber kerusakan yang paling
utama dan tidak mudah untuk mengetahui masalah fluid loss selama pemboran. Hal ini
memperlihatkan bahwa filtrat lumpur pemboran dengan pH lebih besar dari 11 dapat
merusak formasi yang mengandung clay.
Kedalaman invasi filtrat lumpur dapat diperkirakan dengan teknik logging open
hole atau dengan perkiraan fluid loss selama pemboran. Filtrat juga dapat menyebabkan
kerusakan formasi.
Selama tahap komplesi sumur, kerusakan dapat disebabkan oleh perforasi atau
hilangnya fluida komplesi yang sebelumnya tidak disaring dengan baik. Zona yang rusak
di sekitar perforasi dapat menurunkan produktivitas sumur. Derajat kerusakan
tergantung pada jumlah padatan yang tersuspensi di dalam fluida komplesi dan pada
besarnya tekanan underbalance atau overbalance. Sumur-sumur yang diperforasi
dengan teknik overbalance biasanya memerlukan stimulasi dahulu sebelum
diproduksikan. Sumur yang dilengkapi dengan teknik overbalance dapat mempunyai
faktor skin lebih besar dari 5. Walaupun fluida komplesi telah memiliki filter yang
mencukupi, tetapi jika lubang sumur tidak bersih dari lumpur pemboran, kerusakan
formasi masih dapat terjadi.
Filtrat lumpur akan mengkontaminasi fluida komplesi dengan padatan. Jika hal
ini terjadi, harus diketahui jenis padatannya sehingga dapat memilih asam yang sesuai.
Padatan yang paling mungkin dalam hal ini adalah bentonite yang mudah larut
dalam asam, sedangkan barite hanya digunakan untuk mengontrol tekanan sumur
karena tidak larut baik dalam HF maupun HCl. Operasi pemboran dapat menyebabkan
kerusakan formasi, misalnya casing yang bocor dapat mengalirkan air asin atau
padatan lumpur pada formasi sehingga dapat menyebabkan timbulnya scale.
Fluida kerja ulang yang tidak sesuai dengan formasi dapat menyebabkan
pengembangan clay. Sedangkan fluida-fluida reservoir dapat menghancurkan padatan
di luar suatu selang waktu, yang akan mengurangi produktivitas sumur. Suatu sumur
yang sedang berproduksi dapat pula merupakan sumber kerusakan selama masa
produksinya.

2.4. Metoda-metoda untuk Menentukan Derajat Kerusakan Formasi


Ada beberapa metoda yang dapat menentukan sumur yang telah rusak, antara
lain kurva penurunan produksi (decline curve) sering menunjukkan sumur yang menurun

4 WSER-005 Acidizing
secara alamiah. Jika penurunannya lebih dari biasanya merupakan hal yang istimewa,
karena hal ini dapat menunjukkan adanya kerusakan.
Indikasi yang dapat dipercaya adalah penurunan produksi sumur secara tiba-
tiba. Sedangkan penurunan dapat juga sedikit demi sedikit.
Metoda lain yang dapat mengevaluasi derajat kerusakan formasi yaitu dengan
pressure transient testing. Pressure transient testing adalah uji sumur yang melibatkan
bagaimana mendapatkan dan mengukur variasi tekanan terhadap waktu pada suatu
sumur tertentu.
Pressure transient testing terdiri dari pressure build up test, drawdown test,
injection test, falloff test atau uji interferensi lainnya. Dari analisa ini diperoleh informasi
produksi sumur dan karakteristik reservoir, termasuk diagnosa kerusakan lubang sumur.
Analisa tekanan transient menyebabkan sumur ditutup untuk selang waktu
tertentu, maka terlebih dahulu harus diidentifikasi masalah tersebut dengan seksama.
Metoda lainnya untuk menentukan kerusakan formasi, yaitu dengan
menggunakan persamaan Darcy untuk aliran radial dengan memperkirakan
produktivitas suatu sumur. Data sumur harus akurat untuk memperkirakan permeabilitas
formasi berdasarkan pada kondisi produksi. Informasi ini dapat membandingkan sejarah
produksi awal dan akan memberikan suatu indikasi jika reservoir tersebut rusak.

2.5. Tingkat Keberhasilan Stimulasi Yang Dicapai


Tingkat keberhasilan stimulasi yang dicapai dalam meningkatkan deliverability
sumur diketahui dengan evaluasi hasil pengasaman. Ukuran yang digunakan dalam
menilai tingkat keberhasilan yang dicapai oleh sumursumur yang di stimulasikan adalah:
¾ kenaikan laju produksi
¾ kenaikan produktivitas sumur (produktivitas rasio)
¾ penurunan harga skin
Selain dua hal tersebut untuk pengasaman matriks dapat diketahui dari
kenampakan Scanning Electron Microscopic (SEM) seperti ditunjukkan dalam Gambar 1,
terlihat bahwa kaolinite tersebar luas di dalam pori-pori batuan, tetapi setelah injeksi
asam (Gambar 2) sebagian besar kaolinite tersebut larut sehingga kemampuan batuan
untuk mengalirkan fluida bertambah.
Di samping itu keberhasilan suatu pengasaman dapat dilihat dari seberapa jauh
jarak penembusan asam, yang tergantung dari kecepatan laju reaksi, laju injeksi dan
perbandingan dari luas penetrasi terhadap volume reservoir.

WSER-005 Acidizing 5
⇪ G
Gambar 1 Ka
aolinite Terssebar Luas di
d Dalam Po
ori-pori

⇪ Gambar 2 Kaolinite Larut setela


ah Injeksi Assam
3. Jenis-JJenis Pengasaman
Secara um
mum stimulassi pengasam
man dikatego
orikan ke dalam 3 (tiga) kelompok:
k
[Link] dengan asam (acid w washing)
b. pengasaman perekahan (fracture acidicingg)
c. pengassaman matriiks (matrix acidizing)
Pencucian dengan assam (acid w washing) ada alah suatu operasi
o yangg didisain untuk
u
mengurangi dan menghilang gkan scale yang dapatt dilarutkan oleh asam m, yang terd dapat
ang bor atau
diluba u untuk memmbuka luban ng perforasi yang tersum mbat oleh sccale. Suatu asam
a
dalam
m volume da an konsentra
asi tertentu diinjeksikan ke interval-- interval tertentu di lub
bang
bor, sehingga
s akan bereaksi dengan en ndapan scale e. Dengan d demikian da apat dihilanggkan
hambatan aliran pada
p tubing atau perfora
asi.
Pengasam man matriks (matrix acidizing) dilak
kukan untukk menghilangkan kerusa akan
formasi (skin dammage) yang disebabkann oleh fluidaa pemboran n, komplesi dan kerja ulang
u
(worko
over) serta menghilangk
m kan endapan (plaque) di d sekitar lub
bang bor. Assam diinjekssikan
di baw
wah tekana an rekah forrmasi, maka
a dapat dih harapkan pe erbaikan ata
au pertamba ahan
produktivitas sumur.
Sementaraa itu pada pengasaman
p n perekahann (acid fractu
uring), asam
m diinjeksikan ke
formasi dengan te
ekanan dan laju injeksi di
d atas tekanan rekah forrmasi.
Pengasaman perekahan ini adala ah suatu alternatif dari perekahan n hidroulik p pada
reservvoir karbona at. Reservoiir direkah secara hidraulik, kemu udian beberrapa minera al di
permu ukaan rekah han dilarutkaan oleh asamm, sehingga
a akan mem mberikan salu uran air linie
er ke
lubang g bor. Konduktivitas rekkahan yang ttinggi dapatt dicapai settelah dilakukkan pengasa aman
ini, ap
pabila perm mukaan reka ahan tidak tergores seemua (yaitu mineral ya ang tidak dapat
d
dilaruttkan oleh assam), sehinggga tidak menutup rekah
han apabila ttekanan dihilangkan.
Pengasaman perekaha an ini tidak dapat diaplikasikan pada sumur-sumur batu pasir
(sand stone), teruttama apabila
a zona minyyak berdekattan dengan zona
z air atau
u gas. Pereka
ahan
pada sandstone akan
a dapat membuka saluran aliran n fluida secaara vertikal ke zona air atau
ang tidak diiharapkan te
gas ya ersebut. Juga akan dapa at membuka a saluran an ntara semen dan
formasi meskipun n tekanan rekkah formasi belum tercapai, seperti terlihat
t padaa gambar 3.

⇪ ari Perekahan Formasi Batupasir100)


Gambar 3 Efek Da
4. Pertimbangan Dilakukannya Pengasaman
Rendahnya atau menurunnya produksi suatu sumur secara drastis dapat ditimbulkan
oleh bermacam-macam masalah. Permasalahannya antara lain berupa kesalahan pada alat-
alat produksi, energi pendorong yang tidak cukup, cadangan yang telah menurun ataupun
rendahnya permeabilitas. Dalam hal rendahnya permeabilitas pada batupasir dapat
dilakukan pengasaman sebagai suatu cara stimulasi sumur.
Tetapi sebelum dilakukan pengasaman, perlu dievaluasi terlebih dahulu penyebab
rendahnya permeabilitas tersebut. Rendahnya permeabilitas dapat disebabkan oleh
rendahnya permeabilitas secara alamiah, dan dapat juga disebabkan oleh terjadinya
kerusakan formasi.
Kerusakan formasi dapat terjadi pada setiap sumur, mulai dari yang ringan sampai
yang berat sehingga sumur tidak dapat berproduksi lagi. Terjadinya kontak antara fluida
formasi dengan fluida asing yang masuk ke formasi adalah penyebab utama terjadinya
kerusakan formasi. "Fluida asing" itu dapat berasal dari lumpur pemboran, fluida komplesi
atau workover, fluida stimulasi, juga fluida reservoir yang mengalami perubahan
karakteristiknya. Umumnya fluida di lapangan minyak terdiri dari dua fasa : liquid dan solid
(padatan). Salah satu atau keduanya dapat menyebabkan terjadinya kerusakan formasi yang
hebat.

4.1. Kerusakan Permeabilitas karena Padatan


Penyumbatan padatan ini dapat terjadi pada permukaan formasi, pada perforasi
atau dalamm formasi itu sendiri. Padatan ini dapat berupa material padat, clay,
penambah viskositas, zat pencegah kehilangan fluida (fluid control), lumpur pemboran,
partikel semen, scale, parafin, atau garamgaram yang tidak larut.
Butiran-butiran padat dapat menyebabkan kerusakan formasi dengan
membentuk semacam filter permukaan atau masuk ke dalam formasi beberapa inchi di
belakang filter permukaan itu. Butiran-butiran yang sangat halus seperti oksida besi, clay
atau partikel-partikel silika, dapat bermigrasi karena aliran fluida. Pada tempat-tempat
tertentu butiran-butiran itu kemudian menumpuk dalam pori-pori batuan. Penyumbatan
pori-pori dapat juga disebabkan karena terjadinya pengendapan scale paraffin.

4.2. Kerusakan Permeabilitas karena Invasi Filtrat


Filtrat yang masuk ke formasi dapat berupa air yang mengandung ion-ion positif
dan negatif serta surfactant berbagai tipe dan konsentrasi. Dengan perbedaan tekanan
di formasi, filtrat didesak masuk ke dalam zona porous formasi, mendesak atau mengalir
bersama-sama fluida reservoir. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya pengembangan
clay (clay swelling) atau penguraian semen, clay yang tidak dapat mengembang atau
mineral formasi lainnya. Untuk selanjutnya bersama aliran fluida bermigrasi dan
mengendap pada tempat-tempat tertentu, sehingga menyumbat pori-pori batuan.
Peningkatan saturasi air dapat menyebabkan water blocking atau pengurangan
permeabilitas relatif terhadap minyak atau gas. Filtrat juga dapat menyebabkan
terjadinya emulsi, bila bertemu dengan fluida reservoir, atau terja-dinya oil-wet batuan
formasi.

8 WSER-005 Acidizing
4.3. Stimulasi
S Pengasama
P n Matriks
Teknik
k pengasamman terutama diterapkan pada sum mur-sumur yang
y menga alami
keerusakan fo
ormasi di se
ekitar lubang g bor yang mempunya ai sementasii kuat dan daya
la
arutnya terha
adap asam tinggi.
t Tujuannya adalah
h untuk mem mperbaiki ataau meningka atkan
permeabilitassnya. Di samping
s itu
u, metoda pengasaman matrikss dipilih untuk u
m
menghindari terbukanya komunikasii zona minyaak dengan zona
z air dan
n zona gas, yang
y
tidak diharap
pkan, yang dapat
d meningkatkan prooduksi air da
an gas. Penggasaman ma atriks
dilakukan denngan menginjeksikan assam ke dalamm formasi pada
p tekanann dan laju in
njeksi
di bawah tekaanan rekah formasi.
f
Untukk menggambarkan pen ningkatan produktifitas sumur dap pat diperhattikan
siistem gamb bar 4. Siste
em ini dapa at dibagi atas 2 (dua)) bagian; yaitu
y zona yang
y
m
mengalami k
kerusakan fo
ormasi (form
mation dama age), yang te erbentang antara
a rw daan re
dengan perm meabilitas ke; dan zona d
di luarnya yaang tidak mengalami ke erusakan forrmasi
yaaitu antara rw
r - re dengaan permeabilitas k. Pola aliran adala
ah radial.

⇪ Gamba a Reservoir8)
ar 4 Skema Kerusakan Sumur Pada
Muskat, menunjukkan
m perbanding
gan produktivitas fluida dari sistem yang
y menga
alami
kerusa
akan di atass terhadap sistem
s yang tidak meng
galami kerussakan denga an permeab
bilitas
seraga
am k, sebagaai berikut :
Js Fk log (rer / rw)
=
J o logg (re / rs ) + Fk log (re / rss )
diman na :
Js = produktivitas
p s sumur yang
g mengalami kerusakan formasi
Jo = produktivitas
p s sumur yang
g tidak mengalami kerussakan forma
asi
rs = ja
ari-jari daera
ah rusak
rw = jari-jari lubanng bor
ari-jari pengurasan
re = ja
Fk = Ks/Ko
K
Besarnya peeningkatan produktivitaas karena perbaikan sumur yang mengalami
m
kerusak
kan formasi dapat
d diperk
kirakan dari gambar 5.

⇪ Gam
mbar 5 Penurunan Produksi Karena n Formasi8)
a Kerusakan
Kalau misaln
nya jari-jari zona
z yang m
mengalami keerusakan forrmasi (rs - rw
w) adalah 6
inchi, perbandingann permeabilitas Fk, 0,05 maka produktivitas su umur hanyala ah 0,3 dari
produkttivitas sumur yang tidak mengalami kerussakan. Den ngan stimulasi, maka
peningkkatan produktivitas sumur dapat 3 kkali produktivvitas sumur sebelumnya a.
n pengasaman matriks pada
Pelaksanaan p sumur yang tidak mengalami kerusakan,
nya sangat kecil penin
umumn ngkatan prooduktivitas sumurnya. Seperti terllihat pada
Gambar 6.
⇪ Gambar 6 Peningkattan Produkssi melalui Pengasaman
P n pada Sumur Undamaged
Formation n8)
Plot pada
p gambaar diatas menunjukkan,, untuk men ncapai perta ambahan inndeks
produktivitas 2 (dua) ka
ali, suatu su
umur dengan luas peng gurasan 40 acre diperlukan
penembusan asam ke zona yang men ngalami keru uh 13 ft dari lubang bor.
usakan sejau
5. Asam Yang Digunakan Dalam Stimulasi
Asam yang biasa digunakan dalam stimulasi pengasaman sumur-sumur adalah asam
klorida (HCl), asam florida (HF), asam asetat, asam formiat dan asam sulfamix. Kombinasi dari
asam-asam di atas, dalam perbandingan tertentu, juga dilakukan untuk aplikasi khusus.
Tetapi sebagai patokan, persyaratan bagi asam agar dapat digunakan untuk stimulasi
pengasaman adalah :
a. Asam dapat bereaksi dengan karbonat, pasir, clay dan endapan scale, serta
membentuk bahan-bahan terlarut (soluble product).
b. Tidak terjadi reaksi yang berlebihan dengan bagian- bagian logam dari peralatan
sumur.
Di samping faktor-faktor di atas, unsur keselamatan dalam pengasaman serta faktor-
faktor ekonomis pembiayaan harus pula dipertimbangkan.

5.1. Asam Chlorida (HCl).


Asam jenis ini adalah yang paling banyak digunakan dalam stimulasi
pengasaman. Biasanya digunakan di lapangan dengan konsentrasi 15 % berat dari
larutan air. Tetapi dapat juga bervariasi antara 5 - 36 %, sesuai dengan kebutuhan.
Penggunaan yang luas dari asam ini terutama disebabkan harganya yang relatif
murah dan hasil reaksinya yang membentuk zat terlarut. Tetapi suatu hal yang perlu
diperhatikan, adalah tingkat korositas asam ini yang tinggi pada peralatan logam. Hal ini
menjadi sangat penting dan mahal untuk dikontrol pada temperatur di atas 250 oF.
Untuk itu biasa dipakai zat additif pencegah korosi (corrosion inhibitor).
Asam klorida dapat melarutkan karbonat yang terdapat pada formasi batu pasir.
Reaksi kimia asam ini dengan limestone dan dolomite adalah sebagai berikut :
a. Dengan limestone :
2HCl + CaCO3 −−−−−−−> CaCl2 + H2O + CO2
b. Dengan Dolomit
4HCl + CaMg(CO3)2 −−−−−−>CaCl2 + MgCl2 + 2H2O + 2CO2
Seribu gallon 15 % HCl akan dapat melarutkan 10,5 ft3 limestone (CaCO3)
berporositas 0%. Reaksi ini akan menghasilkan 2050 lb CaCl2, 812 lb CO2 atau 6600 ft3
gas CO2 pada kondisi tekanan dan temperatur standar, serta 333 lb air.
Seribu gallon 15 % HCl akan melarutkan 1710 lb (7,6 ft3) dolomit, CaMg(CO3)2
berporositas 0%, menghasilkan 1020 gallon larutan campuran 10,5% CaCl2 dan 9%
MgCl2 berat 9,7 lb/gallon.

5.2. Asam Flourida


Asam flourida digunakan untuk sumur miyak dan gas. Biasanya digunakan dalam
campuran 3 % dengan 2 % HCl. asam flourida dapat melarutkan clay, pasir, shale, dan
feldspar, dan dapat bereaksi dengan kalsium karbonat (CaCO3). Tetapi penggunaan HF
ini terutama ditujukan untuk menghilangkan kerusakan formasi karena clay (clay
damage). Seribu gallon 4,2% HF akan melarutkan 700 lb clay. Perawatan sumur yang
tidak mengalami kerusakan, maksimum akan menambah produktivitas sebesar kira-kira

12 WSER-005 Acidizing
30 %. Dalam reaksi antara HF dengan CaCO3, reaksinya akan menghasilkan endapan
CaF2, dan reaksinya berlangsung cepat. Reaksinya adalah :
CaCO3 + 2 HF -------> CaF2 + 2H2 O) + CO2
Karena kedua hal tersebut, maka HF tidak cocok digunakan untuk formasi
karbonat. Sedangkan untuk formasi batu pasir yang mengandung karbonat,
pengendapan CaF2 ini dapat dicegah dengan menggunakan pembilasan sebelumnya
dengan HCl. Tujuannya adalah untuk melarutkan CaCO3 dan mencegah ion kalsium
bereaksi dengan HF.

5.3. Asam Asetat (CH3COOH)


Asam asetat adalah asam lemah yang bereaksi dengan lambat. Korosivitas asam
ini terhadap ion logam bawah permukaan relatif tidak sehebat asam klorida (HCl).
Dengan demikian dapat dibiarkan dalam casing beberapa hari, tanpa menimbulkan
korosi yang serius. Keunggulan asam asetat yang lain adalah : tidak mengkorosi
aluminium pada temperatur berapapun, tidak menyebabkan kerapuhan baja yang
berkekuatan tinggi, tidak merusak krom sampai temperatur 200 oF, serta dapat
mencegah pengendapan besi.
Konsentrasi asam asetat yang sering digunakan antara 10 sampai 20 %.
Konsentrasi yang lebih tinggi akan mempercepat terjadinya spent acid yaitu asam habis
melarut sehingga tidak aktif lagi. Ditinjau dari segi biaya, asam ini relatif lebih mahal
dibandingkan dengan HCl ataupun asam formic. Biaya yang lebih tinggi ini
menyebabkan asam ini digunakan secara terbatas saja.

5.4. Asam Formiat


Asam ini mempunyai sifat yang sama dengan asam asetat, bereaksi dengan
lambat. Tetapi asam formiat lebih sulit mencegah korosi pada temperatur tinggi.
Dibandingkan dengan HCl, korosi yang ditimbulkannya relatif lebih mudah
ditanggulangi.

5.5. Asam Sulfamik


Kecepatan reaksi asam sulfamik hampir sama dengan kecepatan reaksi HCl.
Asam Sulfamik yang berupa butiran halus, dapat dibawa kelokasi sumur sebagai butiran
kering, kemudian baru dicampur air. Karena berat molekulnya, jumlah kalsium karbonat
yang dapat dilarutkan oleh satu pound asam sulfomic hanya 1/3 yang dapat dilarutkan
oleh HCl, pada berat yang sama.
Asam Sulfamik tidak dapat digunakan di atas suhu 180 oF, karena akan
menghidrolisa, membentuk asam sulfat (H2SO4). Kalau H2SO4 bereaksi dengan limestone
atau scale CaCO3, maka akan terjadilah pengendapan CaSO4.

WSER-005 Acidizing 13
6. Zat-zat Additive pada Pengasaman
Asam yang digunakan dalam stimulasi pengasaman sumur membutuhkan sejumlah
zat additif untuk mengefektifkan pengasaman yang dilakukan dan untuk mengurangi efek
yang berakibat buruk terhadap formasi, peralatan produksi, ataupun terhadap hasil
pengasaman itu sendiri. Zat additif itu antara lain berguna untuk : mencegah terjadinya
korosi, menghilangkan emulsi di formasi, mengubah kebasahan (Wettabillity) formasi, untuk
memperbaiki pengasaman atau pembersihan sumur (clean up) yang lebih baik, untuk
mengurangi friksi fluida asam karena laju pompa yang tinggi, untuk lebih meratakan laju
penembusan asam untuk zona-zona yang diasami, mencegah terjadinya scale besi,
mencegah pengendapan pada minyak yang mengandung aspalt tinggi.
Dengan penambahan zat aditif, maka faktor kerugian di atas dapat dihindari, dan
efek pengasaman dapat lebih dioptimalkan.

6.1. Pencegah Korosi (Corrosion inhibitor)


Pencegah korosi (corrosion inhibitor) adalah suatu zat additif yang paling
penting. Additif ini digunakan untuk memperlambat reaksi asam dengan peralatan
logam di dalam sumur, sehingga memperlambat terjadinya korosi. Waktu untuk
memperlambat korosi (corrosion inhibition time) bervariasi bergantung kepada : tipe
metal peralatan bawah permukaan, temperatur, tipe dan konsentrasi asam, tipe dan
konsentrasi inhibitor, perbandingan luas permukaan metal dengan volume asam,
tekanan dan kehadiran aditif lain, seperti surfactant atau mutual solvent.
Pemilihan tipe dan konsentrasi inhibitor dapat dilakukan setelah mengetahui
beberapa spesifikasi : jenis dan konsentrasi asam, jenis metal peralatan, temperatur
maksimum tubing dan casing, dan lamanya kontak antara asam dan pipa. Dengan
mengetahui spesifikasi di atas dapat ditentukan inhibitor yang diperlukan untuk suatu
tingkat proteksi tertentu.
Pencegahan terjadinya korosi untuk temperatur di atas 250 oF dan waktu di atas
8 jam adalah suatu keadaan yang sulit untuk sumur-sumur yang dalam. Beberapa waktu
yang lalu digunakan arsenic.
Tetapi arsenic mempunyai beberapa kelemahan, seperti merusak katalisator
yang digunakan di pengilangan minyak, tidak efektif untuk konsentrasi HCl di atas 17 %
dan kehadiran Hidrogen Sulfida, di samping itu, arsenic bersifat racun.
Tetapi kemudian ditemukan inhibitor organic yang dapat digunakan di atas suhu
250 oF. Kadang-kadang digunakan kombinasi antara inhibitor organik dengan non-
organik untuk penggunaan di atas temperatur 400 oF. Tabel 1 berikut menunjukkan
effektifitas pencegah korosi pada temperatur tinggi. Gambar 7 & 8 memberikan ilustrasi
mengenai kecepatan korosi

14 WSER-005 Acidizing
⇪ Gambar 7 Laju Korrosi HCl pad
da beberapa
a Jenis Baja3)

⇪ Gam
mbar 8 Peng peratur pada Korosi3)
garuh Temp

¯ Tab
bel 1 Penga eratur Pada Korosi10)
aruh Tempe
Type Inhibitor Inhibitor erature
Tempe Protective
Con
ncentration (oF
F) time
(%) Hrs
Orga
anic 0.5 20
00 24
1.0 25
50 10
2.0 30
00 2
In Org
ganic
0.4 20
00 24
1.2 25
50 24
2.0 30
00 12
6.2. Surfactant
Surfactant digunakan sebagai additif dalam stimulasi pengasaman untuk
mencegah emulsi antara asam dan minyak, untuk mengurangi tegangan antar muka,
mengatur kebasahan formasi, mempercepat pembersihan sumur (cleanup), dan
mencegah pengendapan formasi. Penambahan surfactant pada 15 % HCl dapat
mengurangi tegangan permukaan dari 72 dyne/cm menjadi 30 dyne/cm. Penurunan
tegangan permukaan dapat mengurangi waktu swabbing dan waktu pembersihan
(cleanup).
Pemilihan jenis dan konsentrasi surfactant harus berdasarkan pengujian terhadap
fluida formasi di laboratorium. Juga harus dicocokkan dengan pencegah korosi dan
additif lain untuk keefektifannya dan untuk mencegah efek samping yang tidak di
harapkan.

6.3. Mutual Solvent


Mutual solvent adalah senyawa kimia yang mempunyai kelarutan yang cukup
besar dalam air dan minyak. termasuk didalamnya antara lain adalah alkohol, aldehid,
ketone, ether dan lain-lain. Di lapangan minyak, istilah mutual solvent ini biasa disebut
juga dengan glycol ether. Glycol ether yang biasa digunakan dalam pengasaman batu
pasir adalah ethylene glycol monobutyl ether (EGMBE). EGMBE ini berguna untuk
mengurangi tekanan antar muka antara minyak dan air, berperan sebagai pelarut dalam
pelarutan minyak dan air, beberapa sebagai pelarut dalam pelarutan minyak dalam air,
berperan sebagai diterjen yang dapat menghilangkan zat yang oil wet dari permukaan
batuan sehingga menjadi water wet, dan dapat mengefektifkan kerja surfactant di
formasi.

6.4. Diverting Agent


Diverting Agent digunakan untuk meratakan penembusan asam sepanjang
interval perforasi yang diasamkan, seperti terlihat pada Gambar 9. Asam akan melewati
formasi yang mempunyai sedikit hambatannya, yaitu interval yang kerusakan formasinya
lebih sedikit. Kalau digunakan additif Diverting Agent, maka aliran asam akan
didistribusikan dengan relatif lebih merata masuk ke formasi sepanjang interval yang
distimulasi. Aliran asam menembus formasi relatif lebih seragam masuk ke pori-pori
batuan dekat lubang bor. Additif ini akan merubah aliran asam, tanpa merusak formasi.

16 WSER-005 Acidizing
⇪ Gambar 9 Distribusi Penemb
busan Asamm Pada Form
10)
masi Tanpa Penggunaan
P n
Div
verting Age
ent

6.5. Sequesterin
S ng Agent
Fungssi additif ini adalah untu
uk mengisola
asi ion-ion besi
b dan gara
am-garam m
metal
la
ainnya, sehin
ngga dapat dibatasi
d pen
ngendapannya di formasi. Selama pengasaman,
p , bila
besi hidroksida tidak diccegah dari p pengendapaan, maka senyawa besi yang tidak bisa
dilarutkan ini akan mengendap di sekkitar lubang bor dan aka an menyebabkan penuruunan
permeabilitass.
Konseentrasi asam
m yang digu unakan dala
am stimulasii pengasaman , tergantung
epada kandu
ke ungan besi yang
y larut pa
ada tempera
atur formasi.. Konsentrasi
HCl ak
kan naik darri 15 % apab
bila di formassi terdapat sscale besi okksida yang tin
nggi.
Kondisi sumur perlu dianalisa sep penuhnya untuk
u mene entukan laru utan asam dan
equestering agent yang paling efekttif. Penamba
se ahan surfacta ant yang coccok pada larrutan
assam, akan memperbaiki
m kontak asam
m dengan se enyawa besi..
Tabel (2) di bawwah ini memmperlihatkan n perbandin
ngan beberapa squeste
ering
ag
gent yang biasa dipergu
unakan sebagai additif pada
p pengasaman.
¯ Tabe
el 2 Perband
dingan Bebe
erapa Iron Sequesterin
ng Agent8)
7. Fakttor-Faktor yang Mem
mpengaruh
hi Laju Reak
ksi Pengasaman
Kecepatann reaksi dalaam stimulassi pengasam man akan mmempengaruhi besar de erajat
penem
mbusan asam m ke dalam m formasi. K
Kecepatan re eaksi yang rrendah bera
arti penembusan
asam ke dalam formasi lebih dalam,
d begittu juga sebaliknya.
Faktor-fakktor yang me
empengaruh
hi laju reaksi pengasaman adalah :
1. perban
ndingan luass permukaan
n formasi per unit volum
me asam
2. temperatur formassi
an
3. tekana
[Link] asam
5. kompoosisi batuan formasi
6. kecepa
atan aliran fluida

7.1. Perbanding
P gan Luas-V
Volume
Perbandingan lua as-volume iini, maksudnya adalah perbanding gan antara luas
permukaan batuan
b formaasi yang dike
enai oleh asa
am per unit volume asam m. Perbandin
ngan
lu
uas-volume ini, berband ding terbalikk dengan jaari-jari pori batuan atau
u lebar reka
ahan.
Pada Gambarr 10, terlihatt bahwa pen ngaruh perbbandingan lu uas volume ini,
i pada ma atriks
le
ebih besar da
ari pada reka
ahan.
Hal in
ni disebabka
an, pada ma
atriks luas pe
ermukaan ya
ang kontak lebih besarr dari
re
ekahan.

⇪ Gambar 10
1 Pengaruh
h Perbandin
ngan Luar-V
Volume Pada Kecepatan
3)
n Reaksi An
ntara
HCl dengan Ca
aCO3

7.2. Temperatu
T r
Temperatur mempunyai efekk langsung teerhadap laju u reaksi anta
ara Asam klo orida
dengan Karbo onat. Pada suhu
s antara 140 oF dan 150 oF, laju reaksi akan kira-kira 2 (dua)
(
ali lebih cep
ka da suhu 80 oF. Dengan kata lain, ka
pat dari pad alau temperratur bertam mbah,
kecepattan reaksi menjadi
m lebih
h cepat, dan
n mengurangi penembu usan asam ke
k formasi.
Panas formasi
f senddiri, dan panas yang ditimbulkan oleeh reaksi asa
am itu sendiri. Gambar
11 memmperlihatkann temperaturr pada laju antara HCl de
engan CaCO O3.

⇪ Gambar 11 aCO33)
1 Pengaruh Temperatur Pada Laju Reaksi HCll dengan Ca

7.3. Tekanan
Pengaruh te
ekanan pada a laju reaksi pengasama an, terutama
a berarti pad
da tekanan
di bawa ah 500 psi, seperti terllihat pada GGambar (12)). Hal ini disebabkan karena
k CO2
(karbonn dioksida) yang
y terlaru
ut sedikit, se
ehingga efek perlambattan reaksinyya menjadi
berkuraang juga. Seedangkan te ekanan di attas 500 psi, CO2 yang tterlarutkan meningkat.
m
Peningkkatan konsentrasi CO2 sebagai
s hasil reaksi ini akan
a mengggerakan reakksi lebih ke
arah terrcapainya ke
esetimbanga an, yang beraarti terjadi perlambatan reaksi.

⇪ Gambar 12 Pengaru
uh Tekanan Pada Laju Reaksi
R HCl 1 0o F
15% pada 80
7.4. Konsentras
K si Asam
Sampai dengan konsentrasi
k 20 %, penin ngkatan kon
nsentrasi asaam klorida akan
m
mempunyai h
hubungan ya
ang proporsional dengan laju reaksii. Pada konse
entrasi antarra 20
% sampai 24 %, laju raksi akan menccapai titik maaksimum. Pa
ada peningkkatan konsen ntrasi
se
elanjutnya di
d atas 24 % laju reaksi akan mengalami penurunan. Den ngan bertam mbah
banyaknya yang bereaksi, maka lajju reaksi ak kan menurun. Hal ini disebabkan
d oleh
danya penurunan. Deng
ad gan bertamb
bah banyakn nya yang berreaksi, maka
a laju reaksi akan
m
menurun, hal ini disebabkan oleh adanya penuru unan konsenntrasi asam dan
d adanya hasil
re
eaksi (CaCO3 dan CO2) bersifat me emperlambatt reaksi antara asam de engan karbo onat.
G
Gambar 13 memperlihatk
m kan pengaru
uh konsentra asi
HCl terhadap
t lajju reaksi assam. Gambar 14 peng
garuh temp
peratur terha
adap
viiskositas asa
am.

⇪ Gam
mbar 13 Pengaruh Kon
nsentrasi HC
Cl Terhadap
p Kecepatan
n reaksi9)

7.5. Komposisi
K Batuan Formasi
Kompposisi Batuan n Formasi a adalah fakto
or utama da
alam penenntuan laju reeaksi
assam. Umummnya laju reaksi
r limesstone lebih dari dua kali dolomiite; tetapi pada
p
te
emperatur tinggi, laju reaksi hampir sama.

7.6. Kecepatan
K Aliran
Peningkatan keccepatan aliran pada suatu pe ermukaan karbonat akan
meningkatkan laju reaksii. Pengaruh kecepatan terutama
m t terj
rjadi pada sa
aluran yang kecil
attau rekahan yang sempiit. Hal ini dip
perlihatkan pada
p maan berikut :
persam
Rr = [28,5 (v/w)0,8 + 184] x10-6 ...................................................................................................... (1)
na :
diman
Rr = laju raksi untuk HCl 15 % pada temperatur 80 oF dan tekanan 1100 psi,
mole/s
v = kecepatan aliran asam, ft/s
w = lebar rekahan, ft
Laju aliran v pada suatu pengasaman dihubungkan dengan laju injeksi dan
geometri :
v = 17,2 q/d2
= 1,15 q/h.w (rekahan linier)
= 0,18 q/rf.w (rekahan radial)
q = laju injeksi asam, bbl/min
d = diameter rekahan, icnh
h = tinggi rekahan, ft
rf = jari-jari rekahan, ft

22 WSER-005 Acidizing
8. Perencanaan Stimulasi Pengasaman
Perencanaan suatu stimulasi pengasaman matriks suatu sumur, tidak hanya untuk
jumlah volume dan jenis fluida asam yang akan diinjeksikan, tetapi juga termasuk laju dan
tekanan injeksi maksimum yang diizinkan (untuk mencegah perekahan formasi).
Suatu metoda yang sistimatik untuk perencanaan pengasaman matriks batupasir
dalah sebagai berikut :

8.1. Penentuan Gradien Rekahan Formasi Sumur


Data ini di dapat ddari pengukuran tekanan pada penutupan sesaat, selama atau
segera setelah dilakukan suatu operasi perekahan. Tetapi apabila data ini tidak ada, gradien
rekahan dapat diperkirakan dengan memakai rumus berikut :

⎛P ⎞
gf = α + ( g o − α )⎜ r ⎟ ............................................................................ (2)
⎝D⎠
dimana
gf = gradien rekahan, psi/ft
α = konstanta, yang berkisar antara 0,33 - 0,50.
go = gradien overburden adalah 1,0 psi/ft untuk sumur yang
kedalamannya kurang dari 10.000.- ft, dan 1,0 - 1,2 psi/ft untuk sumur
yang lebih dari 10.000 ft. lihat gambar 10.25
Pr = tekanan reservoir, psi
D = kedalaman sumur, ft

8.2. Penentu Laju Injeksi Maksimum Yang Mungkin Tanpa Mengakibatkan


Perekahan.
4,917 10 −6 k av hn ( gf * D − Pr )
qi max = ....................................................................................... (3)
μ ln (re / rew)
dimana :
qi max = laju injeksi maksimum, bbl/menit
kav = permeabilitas, milidarcy
hp = tebal lapisan pasir, ft
ro = jari-jari pengurasan, ft
rw = jar-jari sumur, ft
Pr = tekanan reservoir, psi
μ = viskositas asam, (dapat diperoleh dari Gambar 14), cp
Untuk menghindari terjadinya perekahan formasi, maka laju injeksi haruslah di
bawah qi max. Biasanya 10 % di bawah qi max.

WSER-005 Acidizing 23
⇪ Ga
ambar 14 Viiskositas Asam Pada Be
erbagai Tem
mperatur

8.3. Perkirraan Tekanan Permuk


kaan Makssimum Fluid
da Yang Di Injeksikan
n Untuk
Menccegah Perekahan Formmasi
Pmaax = (gf − gha) ∗ D ........................................................................................................................... (4)
drostatik asam. Data untuk gradien hidrostatik
g ha adalah gradien hid h a
asam dapat
diperoleeh dari Gam mbar 15. Seelama dilakukan injeksii, tekanan ppermukaan hendaklah
berada di bawah tekanan makksimum ini. Apabila inje eksi tidak daapat dilakukkan karena
tidak di bawah Pm max, maka teekanan awa alnya dapat di atas Pma ax dan sege era setelah
injeksi, laju injeksi harus dikurangi untukk menjaga agar
a tekanan
n di permukaan lebih
rendah dari Pmax.

⇪ Gambar 15 Grradien Asam


m Klorida Dii Lubang Bo
or Pada Berb
bagai Konse
entrasi8)
8.4. Penentuan
P Volume La
arutan HF--HCl yang Diinjeksika
D an
1. Laju Innjeksi maksiimum yang telah ditenttukan di ata as, dibagi de engan ketebbalan
interval yang diperforasi u untuk mend dapatkan la aju injeksi spesifik, dalam
barrel/menit/ft.
2. Perkiraan radius zona yang mengalami kerusakan. Kalau tidak ada data test
sumurr, untuk sum mur yang berrpermeabilittas rendah ( md), radius zona yang lebih
perme eabel, diperkkirakan 6 incchi atau lebih
h.
3. Tentukkan tempera atur formasi.
4. Pilih grafik
g antaraa Gambar (1 16) sampai (19), yang de ekat ke tem mperatur form
masi,
gunakkan ketebala an kerusakan n formasi, daan laju injekssi spesifik, baca volume mud
acid (3
( %HF, 12 % HCl) yan ng dibutuhkkan. Apabila mud acid yang digunakan
mengandung HF lebih dari 3 %, kurang gi volume yang
y dibaca dari grafik tadi
denga an mengalikkan dengan 3/(konsentra asi HF). Apaabila jari-jari lubang borr (rw)
tidak 3 inchi, volume mud acid dapat dica ari dengan persamaan
p berikut :
(rw + rasam )2 − rw
V = Vo * ................................................................................................................ (5)
(3 + rasam )2 − 9
dimanna :
Vo = volum
me mud acid
d yang dibacca dari grafikk, gal/ft
m
r asam = kedalaman pertambahan perrmeabilitas kke formasi, in
nch
Gamb bar 16 samp pai 19 adala
ah grafik ked
dalaman penembusan asam
a (perba
aikan
permeabilitass batuan), un
ntuk beberapa temperattur formasi, pada sumurr dengan jarri-jari
lu
ubang bor 3 inchi.

⇪ Gambar 16 Volume
V ermeabilitas Pada T = 100 oF8)
Asam Fungsi Pe
⇪ Gambar 17 Volume Asam Fun
ngsi Permea a T = 200 oF8)
abilitas Pada

⇪ Gambar 18 Volume Asam Fun


ngsi Permea a T = 150 oF8)
abilitas Pada

⇪ Gambar 19 Volume Asam Fun


ngsi Permea a T = 250 oF8)
abilitas Pada
9.
9 Pengasam
man Sumur Minyak di
d Formasi Batu Pasirr
1. Pembilasan awal (Preflush)
( : Biasanya
B denngan mengin njeksikan HC
Cl, 50 gallon
n tiap
interval 1 ft perrforasi. Tuju uan pembila asan ini adalah untuk menghilang gkan
karbonat dari se ekitar luban ng bor seb belum konta ak dengan HF dan untuk u
memb bentuk barrier antara ffluida forma asi dengan campuarn HF-HCl, gam mbar
10.20
2. Pengasaman HFF-HCl (mud d acid/mud d sol), biassanya diinje eksikan den ngan
konseentrasi 1,5 - 3 % HF da an 7,5 - 12 % HCl. Mud sol akan melarutkan clay,
sand, filtrat semeen, feldspar dan lain-lain. Biasanya ditambah dengan
d zat aditif
a
untukk menghinda ari efek sampping yang neegatif dari pe
engasaman.
3. Pembilasan akhirr (afterflush)), berguna untuk mend dorong mud sol ke dalam
formaasi dan mengisolasi asam yang sud dah bereaksii (spent acid
d) dengan fluida
pendeesak (air lauut), juga unttuk menamb bah kebasah han formasi dan hasil reeaksi
yang tidak dapat larut. Dapa at digunakann HCl, amon nium chlorid
da, kerosin yang
y
sudahh di saring, minyak
m diesel ataupun crrude oil.

9.1. Peramalan
P Jarak Pene
embusan A
Asam Pada
a Formasi Batu
B Pasir
Untuk
k memperkiirakan jari-jjari penemb busan asamm dan jumlah asam yang y
diinginkan pada suatu operasi
o pen
ngasaman, kita
k harus m
mempertimb bangkan kinetika
re
eaksi dan pe
erubahan sifa
at fisikformasi yang disebabkan oleh
h reaksi asam
m.
Pendeekatan yang
g kita gunakkan dalam perencanaan
p n pengasaman formasi batu
pasir yaitu yang dikembangkan oleh William dan Whiteley.
m dan With
William heley menyaajikan kurva-kurva pere
encanaan seperi ditunjukkan
dalam gamba ar 10.16 sam
mpai dengan 10.19 kurvva-kurva terrsebut memmpunyai bata asan-
batasan pengggunaan den ngan selang temperatur 100 - 250 o
oF dan laju in
njeksi 0,001 - 0,2
bbl/min ft.
Kurva-kurva tersebut dikemba
angkan untu
uk campuran
n asam HCl 12
1 % - HF 3 %
ng power da
Jika acid dissolvin an kandung
gan clay dalaam formasi diketahui, m
maka
edalaman pe
ke enembusan asam dapatt langsung dihubungkan
d n dengan volume asam yang
y
diinjeksikan. Pendekatan n ini penting untuk memperkiraka an kedalamaan penembusan
assam dan biaasanya memberikan hasiil yang konssisten dengan menggunakan Gamba ar 16
sa
ampai 19.

⇪ Gambarr 20 Pengassaman HF Pa
ada Formassi Batu Pasirr3)
9.2. Model Matemattik Pada Fo
ormasi Batu
u Pasir
William dann Whiteley telah mengusulkan me etoda simula
asi pengasaman pada
formasii batu pasir,, dengan menggunakan n keseimban
ngan massa pada suatuu pori dan
distribu
usi ukuran pori
p yang salah satunya dapat mep
perlihatkan p
perubahan konsentrasi
k
asam sebagai fung gsi jarak dann waktu yan
ng dapat dihhubungkan dengan koe efisien laju
reaksi dengan
d menggunakan persamaan.

⎛ ⎛ − ⎞⎞
⎜ ∂⎜ Φ C ⎟ ⎟ −
⎝ ⎝ ⎠⎠ ∂C −
⎡ ~ ⎤
+U = −Φ C ⎢r f (Φ )⎥ ............................................................................................ (6)
∂t ∂X ⎣ ⎦
dimana :
~
C= k
konsentrasi a
asam rata-ra
ata pada ked
dudukan diukur dari inlett.
U = flux volume
e
⎡ ~ ⎤
⎢⎣ r f (Φ )⎥⎦ = koefisien laaju reaksi efeektif yang beervariasi selaama pengasaaman

Bentuk laju reaksi ini diasumsikan


d untuk meng nambahan ukuran pori
ghitung pen
dan porrositas serta perubahan laju reaksi yyang diinginkkan.
Solusi anallisis untuk persamaan diatas daapat diperoleh jika diiasumsikan
alirannyya steady sta
ate yang dikembangkan dan porosittasnya konsttan.
Untuk asum
msi-asumsi te
ersebut, makka persamaan keseimban
ngan massa menjadi :

∂C −
⎡ ~ ⎤
U = −Φ C ⎢r f (Φ )⎥ ....................................................................................................................... (7)
∂X ⎣ ⎦
Jika kondisi inlet c = co pada x = 0, maka :

⎡ ~ ⎤
_ − Φ ⎢r f (Φ )⎥ X
∂X ⎣ ⎦
= exp ................................................................................................................ (8)
Co U
Koefisien la
aju reaksi da
apat ditentuukan dari pe ercobaan ya ang diperole
eh dengan
injeksi HF ke dalam m core batuupasir linier. Profil konssentrasi alira
an HF tak berdimensi
b
hatkan dalam
diperlih m Gambar 21,2 sedangkkan koefisien n laju reaksii dapat dipe
eroleh dari
data Gaambar 22.

⇪ Gamba
ar 21 Profil Konsentrassi Asam HF8
8)
⇪ Gambar 22
2 Perkemb
bangan Worrmhole Sete
elah Injeksi Asam Untu
uk Core Linie
er8)

⇪ Gambar 23
2 Perkemb
bangan Worrmhole Sete
elah Injeksi A
Asam Untuk Core Radiial8)
⇪ Gamb
bar 24 Jarak
k Penembussan Asam Se
epanjang W
Wormhole8)
10. Deskripsi Pengasaman Matriks Pada Formasi Karbonat
Pada pengasaman matriks karbonat, asam yang digunakan biasanya HCl dan
diinjeksikan pada tekanan dan laju yang cukup rendah untuk mencegah perekahan formasi.
Tujuan teknik ini untuk mencapai penembusan asam yang radial masuk ke formasi untuk
menambah permeabilitas formasi sekitar lubang sumur.
Teknik ini biasanya melibatkan penginjeksian asam yang disertai oleh overflush
dengan air atau hidrokarbon untuk membersihkan asam dari rangkaian pipa (drill string).

10.1. Mekanisme Bekerjanya Asam Pada Batuan Karbonat


Jika asam dipompakan ke dalam suatu batuan karbonat (limestone atau
dolomite) di bawah tekanan rekahnya, asam cendrung mengalir ke daerah yang
permeabilitasnya tinggi yang pori-porinya besar seperti rongga.
Reaksi asam pada daerah yang permeabilitasnya tinggi menyebabkan formasi
yang dan membentuk saluran aliran konduktif tinggi yang disebut wormhole. Gambar
22 dan 23 memperlihatkan akhir dari injeksi core limestone dengan HCI 1 %.
Pada kontak asam mula-mula beberapa pori besar terbentuk, lalu jumlah pori
yang membesar berkurang sampai batas yang dapat diterima oleh asam.
Asam-asam yang biasa digunakan di lapangan mempunyai daya reaksi tinggi
pada kondisi reservoir dan cendrung membentuk jumlah wormhole terbatas.
Kesimpulan ini didasarkan pada hasil percobaan laboratorium dan teori matrix
acidicing.
Jika laju reaksi asam sangat tinggi, teori-teori memperkirakan bahwa hanya
beberapa wormhole akan terbentuk, sedangkan laju reaksi yang rendah dapat
memberikan beberapa formasi wormhole dengan diameter kecil.
Percobaan-percobaan yang dilaksanakan oleh Imperial Oil LTD di Kanada
membuktikan perkiraan tersebut. Dalam percobaannya asam diinjeksikan ke dalam
suatu model cylindric batuan karbonat yang telah disediakan dan difoto dengan sinar x,
kemudian diamati perubahan yang disebabkan oleh asam.

10.2. Peramalan Jarak Penembusan Asam Pada Batuan Karbonat


Studi yang digambarkan oleh Nierode dan Williams memperlihatkan bahwa
panjang wormhole maksimum mempunyai selang harga dari beberapa inchi sampai
beberapa feet.
Selang panjang wormhole yang mungkin secara teoritis dapat dihitung dengan
asumsi tidak ada fluid loss (tabel 3), karena panjang wormhole biasanya dikontrol oleh
laju fluid loss dari wormhole ke matriks formasi (tabel 4).

WSER-005 Acidizing 31
¯ Tabel 3 Panjang Wormhole Maximum Tanpa Fluid Loss (0.25 bb/min, 40
perforasi, wormhole/perforasi)8)
Permeabilitas Panjang Wormhole
Formasi (md) Maksimum L (ft)
1 8,9
5 2,0
25 0,5
100 0,1

¯ Tabel 4 Efek Konsentrasi Aditif Fluid Loss Terhadap Laju Pembentukan


Wormhole 8)
Konsentrasi Laju Pertumbuhan
Additive (lb/Mgal) Wormhole (ft/min)
0 0,21
15 0,52
50 0,026
100 0,008
200 0,002
Pemakaian jenis dan konsentrasi additive yang digunakan harus diseleksi dengan
baik, karena jika terlalu banyak additive dapat menyumbat formasi dan menghambat
penyelesaian treatment, sedangkan jika terlalu sedikit additive, treatment tidak akan
efektif. Salah satu cara mengevaluasi additive dengan menggunakan uji fluid loss.
Umumnya additive yang paling efektif adalah padatan dan polimer yang dapat
mengembang dalam asam seperti yang digunakan dalam acid fracturing.
Adanya asam-asam penghambat kimia tidak selalu lebih baik dari pada asam
yang hanya terdiri dari HCl, karena asam-asam tersebut tidak mengontrol laju fluid loss
suatu wormhole.
Akan tetapi untuk asam-asam yang teremulsi karena viskositas tinggi,
penggunaan additive sering memberikan hasil yang lebih baik dari pada hanya HCl.
Tabel 4 memperlihatkan perubahan laju tumbuhnya wormhole terhadap
konsentrasi additive dalam ft/min.
Stimulasi maksimum yang diharapkan dari suatu pengasaman matriks berkisar
1,5 kali dari produktivitas sebelumnya. Dengan suatu fluid loss additive yang efektif,
panjang wormhole maksimum dapat mencapai 10 feet dan perbandingan stimulasi
tinggi di atas 2.
Perbandingan stimulasi yang pasti dari matrik acidizing pada batuan karbonat
tidak dapat diperkirakan karena jumlah dan lokasi wormhole tidak dapat diperkirakan.

10.3. Model Matematik Pada Formasi Karbonat


Nierode dan William membuat simulasi matematik untuk pertumbuhan
wormhole dari model reaksi asam dalam suatu wormhole, tetapi kita harus mengetahui
laju injeksi asam, jumlah wormhole yang terbentuk oleh reaksi asam dan laju fluid loss
asam dari wormhole ke formasi.

32 WSER-005 Acidizing
Untuk k menentuka
an batas laju reaksi yang
g mungkin da
ari panjang wormhole,
w s
suatu
m
model teorittik memperrkirakan pro
ofil konsentrasi asam sepanjang wormhole yang y
dikembangka an oleh Nie erode. Panjang worhole yang diperki-rakan dapat didekati
se
ebagai titik k dimana konsentrasi asamnya sepersepulu uh dari ko onsentrasi yang
y
diinjeksikan.
dur pengem
Prosed mbangan model, analog g dengan simulasi
s reaksi asam dalam
uatu rekahan
su n, sebagai ha
asilnya diplo
ot dalam gam
mbar 25

⇪ Gam
mbar 25 Harrga Poiton Ratio
R Menu
urut Eaton
N * RE = 2a ∇N ρ / μ ........................................................................................................................... (9)
diman
na:
NRE * = bilangan Reymond untuk fluid lo
oss wornhole
e
NRE = 2 a v

N * RE = 2a V o Aρ / μ ........................................................................................................................ (10)
NRE= bilangan Re
eymond untuk aliran sep
panjang worrmhole
Nsc = μ ⁄ ρ De ........................................................................................................................................... (11)
Nsc = bilangan Reymond unntuk aliran sepanjang wo
orhole
4 LNREE*/a NRE = jarak penembusan asam tanpa diimensi

VN = kecepatan n fluid loss rata-rata
r
a = jari-jari wormhole

V Ao a jalur masuk ke worhole
n fluida pada
= kecepatan

10.4. Prosedur Perencanaan Pengassaman Mattriks pada F


Formasi Ka
arbonat
Perencanaan suattu pengasam man matriks pada formaasi karbonat terdiri dari jenis
dan volume asam
a serta la
aju dan teka
anan injeksi maksimum
m y
yang dapat digunakan
d ta
anpa
erjadinya perekahan form
te masi.
Prosedur perencanaannya identik dengan pengasaman matriks batuan pasir,
sebagai berikut :
Langkah 1.
Menentukan gradien rekah untuk sumur atau lapangan yang bersangkutan.
Data terbaik diperoleh dari tekanan shut- in yang diukur selama atau segera
setelah treatment perekahan. Jika tidak ada data terbaru yang dapat diperoleh,
gradien rekah dapat diperkirakan dengan hubungan pendekatan seperti yang
diberikan pada persamaan.
gf = α + (go − α ) x (Pr ⁄ D) ................................................................(12)
dimana :
α = konstanta yang besarnya 0,33 - 0,5
D = kedalaman treatment dalam feet
Pr = tekanan reservoir dalam psi
gradien overburden = 1.0 psi/ft pada kedalaman , 10000 ft
= 1,2 psi/ft pada kedalaman 10000 ft.
= lihat gambar 25
langkah 2 :
memperkirakan laju injeksi maksimum yang mungkin tanpa terjadi rekahan
dengan persamaan .
4,917 10 −6 k av hn (gfxD − Pr )
qi max = ...................................................(13)
μ ln (re / rew)
dimana :
kav = md
hn = feet
μ = cp didapat dari gambar 14
Pr = psi
r0, rw = feet
qimax = bbl/min
Langkah 3.
Memperkirakan tekanan permukaan maksimum tanpa friksi untuk fluidafluida
yang dapat dinjeksikan tanpa perekahan formasi dengan persamaan.
Pmax = ( gf - gha ) x D .......................................................................(14)
dimana; gradien hidrostatik asam diperoleh dari gambar 15.
Langkah 4 :
Menentukan volume dan jenis asam yang dinjeksikan, misalnya jenis asam yang
diinjeksikan adalah :
Injeksi 50 - 2000 gallon HCl 15 % atau 28 % per feet intreval perforasi. Volume
asam yang pasti tidak dapat diramalkan karena kondisi sekitar lubang sumur
yang tidak tentu dan bervariasi dari formasi satu ke formasi lainnya.

34 WSER-005 Acidizing
11. Contoh Soal
1. Perencanaan Pengasaman Sumur minyak Pada Formasi Karbonat Suatu sumur
minyak yang akan diasamkan, mempunyai data sebagai berikut :
¾ Kedalaman formasi = 7500 feet
¾ Interval Perforasi = 20 feet
¾ Gradien rekah pada tekanan awal 3075 psi = 0,7 psi/ft
¾ Gradien overburden = 1,0 psi/ft
¾ Tekanan reservoir = 2000 psi
¾ kh = 200 md-ft
Viskositas asam pada temperatur reservoir dari gambar 3.5 sama dengan 0,4 cp
¾ Jari-jari penyerapan sumur = 660 feet
¾ Jari-jari lubang sumur = 0,25 feet
2. Perencanaan Pengasaman sumur minyak pada Formasi Batupasir
Suatu sumur minyak pada formasi batu pasir yang dilakukan pengasaman,
direncanakan dengan data sebagai berikut :
¾ Kedalaman formasi = 5000 feet
¾ Interval perforasi (hn) = 10 feet
¾ k av = 50 md
¾ Temperatur reservoir = 150 o F
¾ Viskositas minyak pada kondisi reservoir = 1 cp
¾ Viskositas HCl 15 % pada temperatur 150 oF dari gambar 25 = 0,78 cp
¾ Gradien rekah pada tekanan awal 2000 psi = 0,7 psi/ft
¾ Tekanan reservoir = 1000 psi
¾ Gradien overburden = 1, 0 psi/ft
¾ Jari-jari lubang sumur = 0,25 feet
¾ Jari-jari penyerapan sumur = 660 feet
3. Penentuan Volume Asam Berdasarkan Harga Penetrasi Asam Diketahui :
Temperatur formasi, T = 200 o F
Kandungan silicate = 10 %
Jari-jari sumur, rw = 3,81 inchi
Jari-Jari Wormhole = 5/8 inchi
Laju injeksi Asam, q = 1,5 bbl/min
Interval perforasi, h = 25 feet
Jenis asam = HCl - HF

WSER-005 Acidizing 35
DAFTAR PUSTAKA

1. Schechter R.S., "Oil Well Stimualtion", Englewood Cliffs, 1992.


2. Nathan C.C., "Corrosion Inhibitors", National Association of Corrosion Engineers
(NACE), Houston, 1994.
3. nn., "Stimulation Technology Review", Vol.1, Halliburton Energy Services Publication,
Houston, 1994.
4. Soliman. M.Y., "Stimulation & Reservoir Engineering Aspects of Horizontal Wells",
Halliburton, 1996.
5. Economides M.J. [Link]., "Petroleum Production Systems", Prentice Hall Petroleum
Engineering Series, Englewood Cliffs, New Jersey, 1994.
6. nn., "A Primer of Oilwell Service and Workover", Third Edition, Petroleum Extension
Service, Texas, 1979.
7. King G.E., "An Introduction to the Basics of Well Completions, Stimulations and
Workovers", 2nd Edition, Tulsa-Oklahoma, 1996.
8. Williams B.B., Gidley J.L., Schechter R.S., "Acidizing Fundamentals", Monograph SPE
Vol. 6, Texas, 1979.
9. Mian M.A., " Petroleum Engineering Handbook for Practicing Engineer", Vol. 2,
Pennwell Publishing Company, Tulsa-Oklahoma, 1992.
10. Allen T.O., Roberts A.P., "Production Operation : Well Completion, Workover, and
Stimulation", Vol. 2, OGCI, Tulsa, 1982.

36 WSER-005 Acidizing
DAFTAR PARAMETER DAN SATUAN

Ja = produktivitas sumur yang mengalami kerusakan formasi


Jo = produktivitas sumur yang tidak mengalami kerusakan formasi
re = jari-jari daerah rusak
rw = jari-jari lubang bor
re = jari-jari pengursan
Fk = ke/k
gf = gradien rekahan
α = konstanta, yang berkisar antara 0,33 - 0,50.
go = gradien overburden adalah 1,0 psi/ft untuk sumur yang kedalamannya kurang
dari 10.000.- ft, dan 1,0 - 1,2 psi/ft untuk sumur yang lebih dari 10.000 ft. lihat gambar 10.25
Pr = tekanan reservoir
D = kedalaman sumur
i max = laju injeksi maksimum (bbl/menit)
kav = permeabilitas (milidarcy)
hp = tebal lapisan pasir (ft)
ro = jari-jari pengurasan (ft)
rw = jar-jari sumur (ft)
Pr = tekanan reservoir (psi)
μ = viascositas asam, dapat diperoleh dari Gambar (14).
Vo = volume mud acid yang dibaca dari grafik
r asam = kedalaman pertambahan permeabilitas ke formasi
c_ = konsentrasi asam rata-rata pada kedudukan% diukur dari inlet.
U = flux volume
NRE * = bilangan Reymond untuk fluid loss wornhole NRE
N RE = 2a V − A o ρ / μ
NRE = bilangan Reymond untuk aliran sepanjang wormhole
Nsc = bilangan Reymond untuk aliran sepanjang wormhole
Nsc = μ ⁄ ρ De
4 LNRE*/a NRE = jarak penembusan asam tanpa dimensi

VN = kecepatan fluid loss rata-rata
a = jari-jari worhole

V Ao = kecepatan fluida pada jalur masuk ke worhole
Pmax = Tekanan permukaan maksimum, psi
gha = Gradien hidrostatik asam, psi/ft

WSER-005 Acidizing 37

Anda mungkin juga menyukai