A.
Terapi Intravena
1. Definisi
Terapi intravena (IV) merupakan salah satu prosedur yang paling sering dilakukan
di rumah sakit di seluruh dunia. Di USA, hampir 20 juta pasien dari total 40 juta pasien yang
dirawat mendapatkan terapi intravena. Gonullu, Dogan, & Dulger (1996, dalam Uslusoy &
Mete, 2008) menyatakan bahwa terapi IV bertujuan untuk memberikan cairan, elektrolit,
obat, transfusi darah, dan nutrisi. Terapi IV dilakukan dengan memasang kanul atau kateter
IV sebagai akses ke dalam intravaskular (Jurnal Elida Riris & Kuntarti 2014 ).
Saat ini secara umum diketahui bahwa semua perawat, bidan, staf radiografi,
serta praktisi ruang operasi dan anastesi yang teregristasi,serta asisten praktisi yang memberi
obat intravena (IV) harus menjalani program pelatihan, yang mencakup tes perhitungan IV
dan telah dinilai apakah mereka kompeten untuk melakukan ketrampilan ini. Dilingkungan
rumah sakit semua obat IV harus di cek untuk yang kedua kalinya oleh anggota staf yang
kompeten. Pada tatanan perawat komunitas, hal ini tidak selalu bias dilakukan, sehingga
tenaga kesehatan harus lebih berhati-hati. ( Claire Boyd, 2012)
Kutipan tersebut bukan bertujuan untuk menakuti anda, tetapi untuk membuat
anda berpikir dengan sangat berhati-hati tentang terapi intravena dan menegaskan fakta
bahwa jika anda tidak berhati-hati dan waspada, maka kecelakaan dan insiden bias saja
terjadi. ( Claire Boyd, 2012)
2. Komplikasi yang mungkin terjadi
Komplikasi yang mungkin terjadi pada terapi intravena adalah sebagai berikut
Kerusakan/oklusi kanula
Nyeri
Flebitis
Embolisme
Kesalahan obat
Cedera tertusuk jarum
Speed shock/fluid overload/free flow,
Ekstravasasi
Infiltrasi
Hematoma
( Claire Boyd, 2012)
a. Kerusakan/oklusi kanula
Kita tidak boleh mengabaikan oklusi kanula, hal ini perlu ditindak lanjuti dengan
segera. ( Claire Boyd, 2012)
Pasien yang memerlukan pemberian obat intravena harus memiliki lokasi akses in situ,
biasanya dalam bentuk kateter vena perifer (PVC). Hal pertama yang bias kita temukan pada
kanula yang mengalami oklusi dalam kesulitan untuk membias alat. Pasien dapat melaporkan
adanya nyeri pada lokasi kanula, yang segera membutuhkan pemasangan ulang kanula. Jika
pasien mendapat cairan IV yang diberikan melalui pompa, maka alaram pompa akan
berbunyi. Jangan pernah mengabaikan alarm pompa : alat ini berbunyi sebab ada alasanya. (
Claire Boyd, 2012)
Jika terapi IV diberikan tanpa pompa – dikenal dengan gravity feed - anda dapat melihat
bahwa infus berjalan dengan sangat lambat, atau bahkan berhenti pada waktu tertentu. (
Claire Boyd, 2012)
Ketika membilas kanula, anda harus menggunakan teknik push/pause dengan
spuilt 10 mL atau yang lebih besar : spuilt yang lebih kecil dari 10 mL tidak boleh
digunakan. Jangan memaksa untuk melakukan pembilasan karena dapat
menyebabkan sumbatan pada ujung PVC, yang selanjutnya memicu terjadinya
thrombosis. ( Claire Boyd, 2012)
b. Nyeri
Lokasi terpasangnya kanula harus diinspeksi menggunakan skor VIP (
visual inpection of phlebitis;). Namun, perlu diingat bahwa lengan pasien tidak harus
tampak nyeri untuk benar-benar merasakan sakit. ( Claire Boyd, 2012)
Kadang kanula bisa saja berada pada posisi yang buruk, misalnya disekitar
sendi, sehingga setiap sendi digerakan akan terjadi nyeri. Kanula juga bisa rusak. (
Claire Boyd, 2012)
Nyeri pada lokasi kanula juga dapat disebabkan oleh obat, kemungkinan
jika obat diencerkan dengan kadar yang salah. Fenition memiliki pH yang sama
dengan pemutih dan dapat sangat sakit jika kanula yang dipasang adalah kanula
besar, dan terdapat kemungkinan dapat bermigrasi keluar dari vena. Obat ini
selanjutnya dapat menyebabkan ekstravasasi yang merusak jaringan disekitarnya. (
Claire Boyd, 2012)
Yang paling utama, dengarkan pasien
Flebitis juga dapat menyebabkan nyeri, dan inpeksi teratur perlu dilakukan pada alat
PVC. ( Claire Boyd, 2012)
c. Embolisme
Terdapat 3 jenis embolisme sebagai berikut :
1) Trombus ( gumpalan darah ): kondisi ini biasanya diterapi dengan antikogulan
oral, sering kali dengan obat seperti warfarin. INR perlu diperiksa setiap hari atau
dua hari sekali. ( Claire Boyd, 2012)
2) Udara yang memasuki system kardiovaskular, yang merupakan alasan mengapa
kita harus mengeluarkan udara dari set pemberian dan spuit intravena. Tidak
perlu banyak udara dalam system untuk menyebabkan kematian, volume 8-10
mL saja sudah bisa berbahaya. ( Claire Boyd, 2012)
3) Mekanis: dapat disebabkan oleh potongan kanula yang rusak, kaca dari ampul,
atau karet dari ampul, obat yang masuk kedalam system. Studi menununjukan
bahwa 50% ampul kaca memiliki pecahan kaca didasarnya saat didorong untuk
membukanya. Ini adalah alasan mengapa perlu mengganti jarum setelah obat
ditarik, sebelum injeksi. Selain itu, anda harus selalu memeriksa kanula yang telah
anda ganti. Jika anda menduga bahwa nagian dari slang hilang, maka pasien
membutuhkan sinar X untuk menentukan bagian yang hilang, yang mungkin perlu
diambil secara bedah. ( Claire Boyd, 2012)
d. Kesalahan obat
Sekarang ini, lebih banyak pasien membutuhkan terapi IV dibandingkan
sebelumnya, jadi kita perlu menguasai ketrampilan pemberian obat melalui rute ini (
begitu juga dengan rute lainya). Namun, hingga 50% dari pemberian terapi IV
terdapat kesalahan perhitungan. ( Claire Boyd, 2012)
Untuk kesalahan obat yang diberikan melalui infus, kita perlu
menghentikan infus dengan segera dan memberitahu staf senior, termasuk perawat
penanggung jawab, tenaga medis, dan apoteker.. kita harus selalu memberi informasi
pada pasien kita tentang kesalahan-kesalahan terkait obat dan menenangkan pasien,
dan selanjutnya melakukan observasi yang relavan. Dokumentasi harus dilakukan.
Perawat harus jujur karena NHS berusaha untuk belajar dari kesalahan dalam “
buudaya yang tidak menyalahkan”, dan menfasilitasi transparansi agar pasien selalu
dapat meyakini pelayanan NHS terhadap mereka. ( Claire Boyd, 2012)
e. Cedera jarum suntik
Cedera jarum suntik paling sering disebabkan oleh upaya menutup kembali jarum
suntik: jangan pernah menutup kembali jarum suntik
Data menunjukan bahwa sebagian besar cedera terjadi setelah prosedur: jadi,
letakan benda-benda tajam langsung ke wadah sampai khusu benda tajam.
Jangan menunggu sampai tempat sampah khusus benda tajam terlalu penuh:
wadah ini hanya boleh tiga perempat penuh atau dipenuhi hingga garis penanda
sebelum disegel tertutup.
Hati-hatilah saat menangani benda tajam: sarung tangan akan memberi
perlindungan dari darah paasien yang berasal dari jarum, sehingga
meminimalkan jumlah jumlah darah yang masuk ke dalam tubuh anda.
Anda sebaiknya tidak menggunakan baki darikayu daur ulang, gunakan hanya
baki injeksi plastik yang keras dan bersih. Baki kayu daur ulang dibuat dari remah
kertas yang dipadatkan, dan ketika baki basah, benda tajam dapat menembus
bahan ini.
Baca kebijakan local tentang penanganan benda tajam dan ketahuilah apa yang
harus anda lakukan jika cedera.
Jika anda terkena cedera, lakukan prosedur pertolongan pertama;
Dorong luka untuk mengeluarkan darah dengan menekan area sekitar luka,
Cuci secara menyeluruh dengan air mengalir,
Tutup balutan dengan kedap air,
Beritahukan pada perawat penanggung jawaab dan kontak hotline cedera jarum
suntik dan/atau tim kesehatan kerja. Lengkapi dokumentasiaa yang diperlukan.
( Claire Boyd, 2012)
f. Speed shock/fluid overload/ free flow
Speed shock adalah pemberian obat yang cepat dan tidak terkontrol, yang
gejalanya terjadi akibat kecepatan pemberian obat dan bukanya karena volume
obat atau cairan. Contoh keadaan ini adalah pada pemberian furosemide, yang
jika diberikan terlalu cepat, dapat menyebabkan tinnitus atau kebetulan
permanen. Obat ini harus diberikan pada kecepatan 4 mg/menit. ( Claire Boyd,
2012)
Fluid overload secara harfiah adalah ketika kita memberikan sejumlah
cairan secara berlebihan pada pasien: hal ini dapat sangat berbahaya pada
pasien-pasien “berisiko”, misalnya pasien jantung, pasien ginjal, pasien lansia dan
anak-anak. ( Claire Boyd, 2012)
Free flow terjadi ketika cairan yang diberikan tidak diatur. Kelebihan cairan dapat
terjadi akibat hal ini.
Doughtherty (2011) merangkum ini dengan sangat baik:
…. Pemberian obat dan/atau infus harus dilakukan sesuai waktu yang ditentukan
untuk mencegah speed shock dan fluid overload. ( Claire Boyd, 2012)
Penyebab dan komplikasi free flow.
Dapat sangat berbahaya
Jika pasien berisiko, misalnya karena gagal jantung, hindari free flow dengan
menggunakan pompa,
Jika menggunakan gravity feed, ingatlah rumus kecepatan tetesan
Laukakan observasi berkala pada infus,
Hati-hati jika kanula berada pada posisi yang kurang tepat: yaitu, tidak terpasang
di tempat yang baik pada vena, dan rentan bergeser
Pasien-pasien yang mengalami kebingungan dapat membuka klem atau katup.
Beri tahu staf medis secepatnya jika free flow telah terjadi. Lakukan pemantuan
tanda vital yang akurat.
Dokumentasikan semua insiden
( Claire Boyd, 2012)
g. Ekstravasasi
Keadaan ini terjadi ketika suatu zat vesicant (pembentuk nula) merusak jaringan
di bawahnya karena kanula keluar dari vena. Hanya butuh waktu yang sangat
singkat untuk terjadinya hal ini. Terapi biasanya dilakukan dengan injeksi
adrenalin ke area disekitarnya dan pemberian salin atau air bilasan untuk
mengencerkan obat pada jaringan pasien. Selain itu, sebanyak mungkin obat
dapat ditarik keluar menggunakan jarum dan spuit. Es dapat dikompresikan ke
area yang mengalamikerusakan dan anelgesik diberikan untuk mengurangi nyeri
pasien. ( Claire Boyd, 2012)
Banyak obat onkologi dapat menyebabkan ekstravasasi dan anak-anak terutama
rentan mengalami kondisi ini karena mereka memiliki vena yang lebih kecil. Oleh
karena itu, ekstravasasi lebih sering terjadi pada area perawatan anak ini. ( Claire
Boyd, 2012)
h. Infiltrasi
Dulu keadaan ini disebut “tissuing”. Infiltrasi terjadi ketika kanulaa bergeser dari
vena dan zat yang di infuskan masuk ke dalam jaringan. Lengan dapat mengalami
adema ( sangat membengkak). Tetapi biasanya dilakukan dengan menaikan
lengan pasien sehingga infus dapat diabsorpsi secara perlahan oleh jaringan
tubuh. ( Claire Boyd, 2012)
Kita tahubahwa infiltrasi dapat menyebabkan kerusakan saraf yang permanen
dan pasiendapat membutuhkan eskarotmi, bedah “insisi dan drainase” untuk
membuang cairan yang berlebih ini. Setidaknya 500 mL cairan dapat
menyebabkan kerusakan saraf permanen. ( Claire Boyd, 2012)
i. Hematoma
Hematoma disebabkan oleh pendarahan yang tidak terkontrol, biasanya
menimbulkan pembengkakan yang keras, berbeda warna, dan nyeri di bawah
kulit. ( Claire Boyd, 2012)
3. Suntikan intravena
a. Pengertian
Memberikan obat melalui suntikan ke dalam pembuluh darah vena yang dilakukan pada
vena anggota gerak. (siti bandiya,2009)
Cara penyuntikan :
1) Tentukan daerah yang akan disuntik, kemudian lakukan pembendungan di bagian
atasnya. Selanjutnya permukaan kulit di daerah bersangkutan didesinfeksi dengan
kapas alcohol dan diregangkan.
2) Pasang pengalas di bagian yang akan disuntik, dan dekatkan bengkok (nierbekken) ke
bagian tubuh yang akan disuntik
3) Jarum ditusukan ke dalam pembuluh darah yang dimaksud dengan lubang jarum
menghadap keatas
4) Penghisap spuit ditarik sedikit. Bila jarum berhasil masuk kedalam vena, darah akan
masuk ke dalam spuit atau mengalir sendiri. Tetapi bila tidak ada darah yang keluar,
berarti jarum tidak berhasil, dan penyuntikan harus dipindahkan ke bagian lain.
Setelah berhasil, bukalah segera karet pembendung
5) Obat dimasukan perlahan-lahan sampai habis
6) Setelah obat masuk semua, jarum dicabut agak cepat. Bekas tusukan ditekan dengan
kapas alcohol
7) Bila pemberian cairan/obat melalui vena dilakukan dalam jumlah besar dan waktu
yang lama, maka pemberianya dilakukan dengan cara infus sesuai dengan
pengobatan (misalnya transfuse darah).
(siti bandiya,2009)
b. Bahaya-bahaya pemberian suntikan
1) Pasien alergi terhadap obat ( misalnya, menggigil, urticarial, shock,collaps, dan lain-
lain)
2) Pada bekas suntikan dapat terjadi abses,nekrose atauhaematoma.
3) Dapat menimbulkan kelumpuhan
c. Perhatian pada waktu menyuntik
1) Obat-obatan suntikan yang diberikan harus berdasarkan program pengobatan
2) Sebelum menyiapkan obat suntika, bacalah dengan teliti petunjuk pengobatan yang
ada dalam catatan medik atau status pasien, yaitu nama obat, waktu dan cara
pemberianya ( misalnya intravena, subcutan, dan lain-lain)
3) Pada waktu menyiapkan obat, bacalah dengan teliti label/ etiket dari tiap-tiap obat.
Obat-obat yang kurang jelas etiketnya tidak boleh diberikan pada pasien
4) Perhatikan teknik dan aseptic
5) Spuit dan jarum suntik tidak boleh dipergunakan untuk menyuntik pasien lain
sebelum disterilkan.
6) Spuit yang retak atau bocor, dan jarum suntik yang sudah tumpul, berkarat, atau
ujungnya bengkok, tidak bolehdipakai lagi
7) Memotong ampul dengan gergaji ampul harus dilakukansecara hati-hati, agar tidak
melukai tangan dan pecahanya tidak masuk ke dalam obat
8) Pasien yang telah mendapat suntikan harus diawasi untuk beberapa waktu, sebab
ada kemungkinan timbul reaksi alergi dan lain-lain.
9) Bagi pasien yang berpenyakit menular melalui peredaran darah ( misalnya pasien
hepatitis) harus digunakan jarum dan spuit khusu
10) Setiap selesai penyuntikan, perlatan harus dimasukan ke dalam larutan desifektan,
lalu disterilkan dan disimpan di dalam tempat khusus.
(siti bandiya,2009)
B. Transfusi Darah