KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)
PENYUSUNAN KAJIAN JARINGAN FASILITAS PEJALAN KAKI DAN RUTE AMAN
SELAMAT SEKOLAH (RASS) DI KABUPATEN BANDUNG
A LATAR BELAKANG
Program RASS adalah program untuk mendorong murid dan orang tua murid untuk lebih
memilih berjalan kaki, bersepeda atau menggunakan angkutan umum sebagai pilihan moda
yang selamat, aman, nyaman dan menyenangkan untuk berangkat dan pulang sekolah dari
kawasan sekitar pemukiman sampai dengan sekolah. Penetapan Rute Aman Selamat
Sekolah merupakan bagian dari kegiatan manajemen dan rekayasa lalu lintas berupa
penyediaan sarana angkutan umum dengan pengendalian lalu lintas dan penggunaan
jaringan jalan serta penggunaan sarana dan prasarana angkutan dari lokasi pemukiman
menuju sekolah. RASS diselenggarakan mulai dari kawasan pemukiman sampai dengan
kawasan sekolah, meliputi PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA. Jaringan jalan yang ditetapkan
sebagai RASS harus memenuhi persyaratan, yaitu terdapat sekolah yang memiliki akses
langsung ke jalan, akses merupakan titik masuk utama untuk pelajar sekolah, dan terdapat
aktivitas berjalan kaki, bersepeda, naik angkutan umum secara signifikan di sepanjang jalan.
Permasalahan yang muncul di perkotaan saat ini adalah semakin bertambahnya jumlah
pengguna kendaraan pribadi anak sekolah yang menggunakan sepeda motor untuk pergi
dan pulang dari sekolah. Banyak ditemukan anak sekolah terpaksa menggunakan sepeda
motor karena tidak ada angkutan umum untuk ke sekolah. Kegiatan mengantar dan
menjemput murid yang dilakukan telah menimbulkan kepadatan lalu lintas yang sering
menimbulkan kemacetan. Kendaraan yang berhenti dan parkir di badan jalan untuk
mengantar dan menjemput murid menyebabkan tundaan lalu lintas yang berakibat pada
antrian kendaraan dan kemacetan lalu lintas. Karakteristik Angkutan umum menunggu atau
ngetem penumpang anak sekolah di depan sekolah semakin memperparah ruang gerak
kendaraan di ruas jalan depan sekolah. Kurangnya fasilitas pejalan kaki di sekitar kawasan
sekolah yang membuat keselamatan pejalan kaki terutama anak sekolah dapat terancam.
Anak terpaksa berjalan di bagian jalan karena tidak tersedianya trotoar, atau berhadapan
dengan jalan raya yang membuat mereka harus berhadapan dengan lalu lintas kendaraan
yang lalu lalang dan sangat tidak ramah untuk anak-anak sekolah.
Fakta lain yang cukup memprihatinkan kecelakaan yang menimpa peserta didik terjadi di
jalan-jalan yang mereka lalui dan telah mereka kenal. Artinya mereka tidak mendapatkan
fasilitas keselamatan. Mobil antar jemput sekolah, angkutan kota, dan bus kota yang
mengangkut mereka tidak dilengkapi dengan sabuk keselamatan – anak-anak juga sering
menjadi korban perlakuan salah oleh sopir/orang dewasa; pedestrian tidak dilengkapi
dengan jalur-jalur yang aman, rambu-rambu lalu lintas, jembatan-jembatan penyeberangan
kurang memadai dan kurang aman untuk mereka lalui ke sekolah. Anak-anak yang
mengendarai sepeda pun sering tidak dilengkapi dengan helm atau alat keselamatan
lainnya. Anak-anak yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas adalah anak sebagai pejalan
kaki, penumpang, pengendara sepeda, dan pengendara sepeda motor.
Kabupaten Bandung sebagai bagian dari kawasan perkotaan metropolitan Bandung telah
mengalami permasalahan keselamatan terhadap peserta didik. Untuk mengatasi persoalan
tersebut, Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Perhubungan menginisiasi disusunnya
Rute Aman Selamat Sekolah (RASS). Diharapkan dengan terumuskannya dokumen Rute
Aman Selamat Sekolah (RASS) di Kabupaten Bandung, Pemerintah Daerah mempunyai
andil dalam mengurangi jumlah kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar (anak
sekolah), mengurangi tindak kejahatan dan kekerasan terhadap pelajar, mengurangi
konsumsi bahan bakar, menjaga kesehatan, mengurai kemacetan, dan menumbuhkan
kesadaran atas pentingnya berperilaku tertib agar selamat di jalan bagi masyarakat dan di
sekitar sekolah.
B MAKSUD DAN TUJUAN
B.1 MAKSUD
Maksud dari kegiatan Penyusunan Kajian Jaringan Fasilitas Pejalan Kaki dan Rute Aman
Selamat Sekolah (RASS) ini adalah untuk menciptakan rasa aman dan selamat dari dan ke
sekolah, serta meningkatkan pengalihan penggunaan moda kendaraan pribadi ke
kendaraan umum dari dan ke sekolah.
B.2 TUJUAN
Berdasarkan maksud kegiatan di atas, maka tujuan yang diharapkan dari kegiatan ini adalah
merumuskan rute yang selamat untuk anak sekolah dengan fasilitas penunjangnya yaitu
jalur pedestrian, jalur pesepeda, Zona Aman Sekolah (ZoSS) di Kabupaten Bandung.
C RUANG LINGKUP
C.1 RUANG LINGKUP WILAYAH
Ruang lingkup wilayah kajian dari kegiatan Penyusunan Kajian Jaringan Fasilitas Pejalan
Kaki dan Rute Aman Selamat Sekolah (RASS) adalah Kabupaten Bandung. Secara lebih
spesifik kajian dibatasi pada sekolah di Kabupaten Bandung yang berada pada Jalan
Nasional dan Jalan Provinsi. Jumlah minimal sekolah dalam 1 (satu) kawasan RASS adalah
3 (tiga) sekolah dengan jumlah pelajar minimal dalam 1 (satu) sekolah adalah 300 (tiga
ratus) pelajar.
C.2 RUANG LINGKUP MATERI/SUBSTANSI
Batasan materi yang akan dikaji pada kegiatan Penyusunan Kajian Jaringan Fasilitas
Pejalan Kaki dan Rute Aman Selamat Sekolah (RASS) ini adalah substansi terkait:
a. Karakteristik Sekolah di Kabupaten Bandung
Karakteristik sekolah meliputi sebaran lokasi, jumlah siswa, guru, dan pegawai lainnya.
Dari sisi ruang, diperlukan telaah kondisi ketersediaan sarana parkir dan pergerakan
kendaraan di dalam tapak sekolah. Hal ini akan mempengaruhi kondisi lalu lintas pada
ruas jalan di depan sekolah.
b. Karakteristik Jaringan atau ruas jalan
Karakteristik jalan meliputi kondisi geometris jalan yang mempengaruhi tingkat kapasitas
ruas jalan. Kondisi geometris jalan akan mempengaruhi tingkat kinerja jaringan jalan
melalui perbandingan dengan volume dan kecepatan kendaraan. Kondisi alinyemen
jalan (tikungan dan belokan) juga akan mempengaruhi arus lalu lintas di depan sekolah.
c. Karakteristik angkutan umum.
Karakteristik meliputi ketersediaan trayek angkutan umum yang melewati sekolah dan
rute yang dilalui, serta perilaku pengendara angkutan umum.
d. Karakteristik lalu lintas.
Karakteristik meliputi pengukuran volume dan komposisi kendaraan yang melintas,
kecepatan melintas kendaraan, perilaku perilaku kendaraan untuk parkir atau berhenti
untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.
e. Karakteristik fasilitas perlengkapan jalan.
Fasilitas perlengkapan jalan atas:
rambu;
marka;
alat pemberi isyarat lalu lintas;
fasilitas pejalan kaki;
fasilitas untuk sepeda.
Fasilitas yang diisyaratkan dalam RASS dapat dilengkapi dengan:
fasilitas parkir;
halte;
ruang tunggu kendaraan;
Zona Selamat Sekolah (ZoSS);
Perlengkapan berkendara;
alat penerangan jalan;
fasilitas khusus bagi penyandang cacat.
f. Karakteristik perjalanan pelajar.
Karakteristik ini meliputi lokasi awal pergerakan, jenis moda yang digunakan, jarak dan
waktu tempuh, perilaku anak untuk menggunakan fasilitas perlengkapan jalan dan pada
saat menyeberang.
C.3 RUANG LINGKUP KEGIATAN
Cakupan kegiatan yang dilakukan dalam menyusun Rute Aman Selamat Sekolah (RASS)
terdiri dari tahapan kegiatan berikut:
a. Tahap penentuan kawasan RASS.
Penetapan kawasan RASS dilakukan melalui tahapan kegiatan berikut:
1) Identifikasi titik titik lokasi sekolah SD, SMP dan SMA yang berada pada jaringan
Jalan Nasional dan Jalan Provinsi
2) Klasifikasi sekolah yang berdekatan dan memungkinkan untuk dijadikan satu
cluster/kawasan; dan
3) Identifikasi lokasi pemukiman sebagai zona pergerakan awal dan akhir.
b. Tahap identifikasi rute perjalanan ke sekolah;
Tahapan ini dilakukan melalui survei, pembuatan peta dan kompilasi data terkait:
1) Peta rute murid yang meliputi:
lokasi sekolah pada jaringan jalan eksisting;
pola arus perjalanan anak;
pola arus kendaraan pengantar;
sirkulasi lalu lintas; dan
titik - titik konflik.
2) Pembuatan peta volume dan kecepatan yang meliputi:
volume lalu lintas;
kecepatan arus lalu lintas; dan
kompilasi data kecelakaan lalu lintas.
c. Tahap analisis kebutuhan perjalanan ke sekolah;
1) Analisis kebutuhan perjalanan ke sekolah diperoleh dari data hasil survey
pengamatan moda transportasi yang digunakan.
2) Analisis kebutuhan perlengkapan jalan. Analisis ini dilakukan melalui data dan peta
terkait perlengkapan jalan yaitu:
Lokasi perlengkapan jalan;
Lokasi parkir di badan jalan; dan
Penghalang fisik pada trotoar dan jalan.
3) Analisis alur perjalanan ke sekolah.
d. Perumusan mekanisme pelayanan perjalanan ke sekolah.
Mekanisme pelayanan perjalanan ke sekolah berisi rumusan:
1) tingkatan ruas -ruas dan simpang yang memerlukan investigasi lebih mendalam;
2) tingkatan rute perjalanan anak yang beresiko dan segera membutuhkan
penanganan;
3) menentukan jarak dan penanganan:
kawasan 1 (satu) kilometer di sekitar sekolah ditangani dengan penyediaan
fasilitas berjalan kaki yang selamat;
jarak 5 (lima) kilometer di sekitar sekolah ditangani dengan penyediaan fasilitas
bersepeda;
kawasan lebih dari 5 (lirna) kilometer ditangani dengan angkutan umum.
D NAMA ORGANISASI PENGADAAN BARANG DAN JASA
Pelaksana pekerjaan jasa konsultasi adalah Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung.
E SUMBER PENDANAAN
Sumber pendanaan Kegiatan ini adalah APBD Kabupaten Bandung Tahun Anggaran 2018.
Perkiraan biaya yang diperlukan dalam pekerjaan ini adalah Rp. 249.500.000,-
F DASAR HUKUM
Dasar hukum Penyusunan Kajian Jaringan Fasilitas Pejalan Kaki dan Rute Aman Selamat
Sekolah (RASS) adalah:
1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4235)sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 35
Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 297, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5606);
2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5025);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2011 tentang Manajemen dan Rekayasa,
Analisis Dampak, Serta Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2011 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5221);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2013 Tentang Jaringan Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 193,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5468)
5. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 16 Tahun 2016 Tentang Penerapan Rute
Aman Selamat Sekolah (RASS).
G METODOLOGI
Metode penelitian yang digunakan dalam pekerjaan ini terdiri atas beberapa bagian yaitu:
1. Metode analisis MKJI, 1997, digunakan untuk menghitung derajat kejenuhan pada suatu
ruas jalan. Derajat kejenuhan dihitung berdasarkan volume kendaraan dibagi dengan
kapasitas.
a. Kapasitas
Kapasitas didefinisikan sebagai arus maksimum melalui suatu titik di jalan yang
dapat dipertahankan per satuan jam pada kondisi tertentu. Persamaan dasar untuk
menentukan kapasitas adalah:
dimana:
Co : kapasitas Dasar
C : Kapasitas ruas jalan
WE : lebar masuk rata-rata
WW : lebar jalinan
LW : panjang jalinan
PW : rasio jalinan
FCS : faktor penyesuaian ukuran kota
FRSU : faktor penyesuaian tipe lingkungan, hambatan samping, dan kendaraan tak bermotor
b. Derajat Kejenuhan
Derajat kejenuhan didefinisikan sebagai rasio arus terhadap kapasitas digunakan
sebagai faktor utama dalam penentuan tingkat kinerja simpang dan segmen jalan.
Derajat kejenuhan biasa disebut Degree of Saturation (DS) atau V/C Rasio (Volume
per Capacity Ratio). Derajat kejenuhan dihitung menggunakan arus dan kapasitas
dinyatakan dalam smp/ jam.
𝑄
𝐷𝑆 =
𝐶
dimana:
DS : Derajat kejenuhan
Q : Arus lalu lintas total
C : Kapasitas
2. Metode analisis cross tab digunakan untuk membandingkan dan melihat adanya suatu
pola hubungan antara dua variabel yang berbeda. Dalam penelitian ini, metode analisis
cross tab dilakukan untuk mengetahui hubungan antara jarak rumah ke sekolah dengan
moda yang digunakan.
3. Metode analisis perilaku penyeberang. Analisis dilakukan dengan memperhatikan
tentang prosedur baku menyeberang, cara menyeberang, dan penggunaan fasilitas
jalan.
4. Metode analisis perilaku pengendara kendaraan. Analisis perilaku pengendara
kendaraan meliputi arah kedatangan kendaraan, lokasi dan waktu berhenti kendaraan
untuk menaikkan dan menurunkan atau menunggu anak sekolah.
5. Metode analisis pedestrian digunakan untuk menentukan fasilitas penyeberangan
apakah yang harus digunakan. Fasilitas penyeberangan pejalan kaki erat kaitannya
dengan trotoar, maka fasilitas penyeberangan pejalan kaki dapat berupa perpanjangan
trotoar. Untuk penyeberangan, dapat berupa zebra cross atau pelican crossing.
6. Metode analisis deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti suatu obyek dengan
tujuan membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat
mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.
Metode ini digunakan untuk menggambarkan kondisi angkutan umum di Kabupaten
Bandung saat ini. Kondisi angkutan umum yang dimaksud adalah rute pelayanan
angkutan umum terhadap lokasi zona pendidikan. Oleh karena itu, dapat diketahui
apakah rute angkutan umum saat ini telah melayani zona-zona pendidikan atau belum
melayani zona-zona pendidikan tersebut.
7. Metode survei yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Survei lokasi sekolah, dilakukan dengan pengamatan langsung di lapangan dengan
menyusuri jalan pada zona-zona pendidikan.
b. Survei inventarisasi jalan, dilakukan dengan pengamatan di lapangan dengan
menyusuri jalan pada zona-zona pendidikan.
c. Survei penyebaran kuesioner kepada pelajar, dilakukan dengan menyebar kuesioner
ke sekolah dengan responden.
d. Survei traffic counting untuk kendaraan, dilakukan pada ruas-ruas jalan pada zona
pendidikan pada pukul 06.00 s.d. 07.00. Penentuan waktu tersebut dilakukan
berdasarkan jam masuk sekolah adalah pukul 07.00, sehingga pada pukul 06.00-
07.00 diharapkan dapat mengambil jumlah kendaraan pada periode jam sibuk
sebelum masuk sekolah sampai dengan masuk sekolah.
e. Survei traffic counting untuk pejalan kaki, dilakukan pada titik-titik lokasi sekolah.
Survei ini dilakukan untuk mendapatkan jumlah pejalan kaki, baik yang menyusuri
jalan maupun yang menyeberang jalan.
f. Survei spot speed untuk kendaraan bermotor, dilakukan dengan alat speed gun.
H JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN
Jadwal pelaksanaan kegiatan Penyusunan Kajian Jaringan Fasilitas Pejalan Kaki dan Rute
Aman Selamat Sekolah (RASS) adalah 4 bulan (120 hari kalender). Jadwal pelaksanaan
kegiatan secara terperinci dijabarkan pada tabel berikut.
NO KETERANGAN BULAN 1 BULAN 1 BULAN 1 BULAN 1
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Tahap Persiapan
2 Tahap Analisis
3 Tahap Perumusan Konsep &
Rencana
4 Tahap Finalisasi Rencana
2 Laporan Pendahuluan
3 Laporan Antara
4 Laporan Akhir
I KELUARAN
Dokumen yang dihasilkan adalah rencana Penyusunan Kajian Jaringan Fasilitas Pejalan
Kaki dan Rute Aman Selamat Sekolah (RASS).
J KEBUTUHAN TENAGA AHLI
Pelaksanaan pekerjaan ini membutuhkan beberapa tenaga ahli yang memiliki persyaratan
dan memadai. Tenaga ahli yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :
1. Team Leader (Tenaga Ahli Transportasi): S2 Transportasi dengan pengalaman minimal
5 tahun.
2. Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota: Sarjana Planologi / Perencanaan Wilayah dan Kota
(PWK) dengan pengalaman minimal 4 tahun
3. Ahli Sipil Jalan: Sarjana Teknik Sipil dengan pengalaman minimal 4 tahun.
4. Ahli Lingkungan: Sarjana Teknik Lingkungan dengan pengalaman minimal 4 tahun.
Asisten Tenaga Ahli untuk mendukung Tenaga Ahli terdiri dari:
1. Asisten Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota: Sarjana Planologi / Perencanaan Wilayah
dan Kota (PWK) dengan pengalaman minimal 2 tahun
Tenaga Pendukung terdiri dari :
1. Drafter atau Operator CAD/GIS
2. Surveyor household dan transportasi
3. Pegawai Administrasi
Rincian kebutuhan tenaga ahli, asisten tenaga ahli, dan tenaga pendukung dijabarkan pada
tabel berikut.
Jumlah
Posisi Kualifikasi Minimum
Orang Bulan
Tenaga Ahli:
Team Leader (Ahli Transportasi) S2/Pengalaman 5 Tahun 1/4 OB
Tenaga Ahli Planologi S1/Pengalaman 4 Tahun 1/4 OB
Tenaga Ahli Sipil S1/Pengalaman 4 Tahun 1/4 OB
Tenaga Ahli Lingkungan S1/Pengalaman 4 Tahun 1/4 OB
Asisten Tenaga Ahli:
Asisten Ahli Planologi S1/Pengalaman 2 Tahun 1/3 OB
Tenaga Pendukung
Drafter D3/ Pengalaman 2 Tahun 1/3 OB
Surveyor D3/ Pengalaman 2 Tahun
Operator Komputer D3/ Pengalaman 2 Tahun 1/4 OB
Administrasi D3/ Pengalaman 2 Tahun 1/4 OB
‘
K SISTEM PELAPORAN
Pelaporan dalam pelaksanaan Penyusunan Kajian Jaringan Fasilitas Pejalan Kaki dan Rute
Aman Selamat Sekolah (RASS) ini dilakukan sebanyak 3 (tiga) tahapan, dengan uraian
sebagai berikut:
1. Laporan Pendahuluan
Laporan pendahuluan sekurang-kurangnya bersisi pemahaman konsultan terhadap latar
belakang pekerjaan, tujuan dan sasaran pekerjaan, lingkup pekerjaan, konsep
pendekatan dan metodologi studi, program kerja dan jadwal pelaksanaan pekerjaan,
termasuk daftar kebutuhan data dan rencana survei lapangan. Laporan pendahuluan
diserahkan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak SPMK diterbitkan, sebanyak
10 (sepuluh) eksampelar.
2. Laporan Antara
Laporan antara berisi antara lain: kompilasi data eksisting, kajian referensi terkait, hasil
peninjauan lapangan, analisis awal kawasan yang dikaji, konsep RASS, dan rencana
RASS. Laporan Antara diserahkan selambat-lambatnya 90 (sembilan puluh) hari sejak
SPMK diterbitkan, sebanyak 10 (sepuluh) eksampelar.
3. Laporan Akhir
Laporan akhir berisi keseluruhan hasil laporan yang telah disempurnakan. Laporan
harus diserahkan selambat-lambatnya 120 (seratus dua puluh) hari sejak SPMK
diterbitkan. Laporan Akhir terdiri dari dua dokumen yaitu
a. Buku Rencana.
Buku Rencana berisi konsep dan rencana Jaringan Fasilitas Pejalan Kaki dan Rute
Aman Selamat Sekolah (RASS). Buku diserahkan sebanyak 10 eksemplar dan copy
CD/DVD yang berisi seluruh kegiatan laporan.
b. Album Peta.
Album Peta berisi peta-peta rencana rekayasa lalu lintas yang dibuat dalam skala
yang sesuai. Album Peta di cetak rangkap 5 (Lima) Album dan copy CD/DVD,
merupakan lampiran dari laporan akhir dan diserahkan bersamaan dengan Buku
Rencana.
Pelaksana diwajibkan untuk menyempurnakan setiap produk pelaporan dengan tepat waktu,
baik kepada pemberi tugas maupun kepada tim teknis dan narasumber untuk mendapatkan
koreksi dan sebagai bahan pembahasan. Produk yang dihasilkan oleh Konsultan Perencana
yang sesuai dengan keluaran yang diinginkan akan menghasilkan produk yang optimal,
apabila sebelumnya dilakukan pembahasan bersama semua pihak/unsur terkait dengan
penanganan kawasan studi.