BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Anodizing merupakan suatu proses oksidasi elektrolitik dimana suatu
komponen aluminium dibuat menjadi anoda dalam suatu sel berisi larutan
elektrolit asam dan suatu katoda metal. Ketika aliran ini melalui sel, maka
permukaan berubah menjadi lapisan aluminium oksida lengket yang merupakan
bagian penting dengan substrat aluminium. Anodizing dapat disebut juga dengan
penebalan buatan dari lapisan oksida asli yang tipis (1 sampai 5 nm) yang selalu
ada pada aluminium yang terpapar pada atmosfer. (NPCS Board of Consultants &
Engineers, 2003).
II.1 Penjelasan Umum Tentang Anodizing
Anodizing adalah proses pelapisan secara elektrokimia yang bertujuan
untuk mempertebal atau memperkuat lapisan protektif alami pada logam. Melalui
proses elektrokimia ini akan terbentuk lapisan oksida berpori yang
memungkinkan untuk dilakukan proses sekunder yaitu pewarnaan. Proses
anodizing ini dapat meningkatkan keandalan dari permukaan material serta dapat
meningkatkan ketahanan terhadap korosi. Aluminium merupakan logam yang
sering di anodizing. Logam non-feros lain yang biasa di anodizing adalah
Magnesium dan Titanium.
II.2. Proses Anodizing
Pada prinsipnya proses anodizing pada aluminium menghasilkan lapisan
aluminium oksida (Al2O3) yang terbentuk menjadi lebih tebal pada permukaan
aluminium ketika arus listrik dan voltage tertentu dialirkan pada larutan elektrolit.
Dengan lapisan oksida yang semakin tebal akan terbentuk lapisan yang lebih
tahan korosi dan tahan aus. Untuk proses lebih lanjut lapisan ini dapat diberi
pewarnaan sehingga dapat memberikan penampilan yang lebih menarik.
Gambar 2 . a.) Struktur sel pada lapisan oksida
b.) Penampang lapisan oksida berpori(porous)
Lapisan oksida aluminium pada gambar 2 terdiri dari lapisan oksida yang
tipis dan padat yang disebut barrier layer, dan lapisan oksida yang berpori yang
disebut porous layer. Ketebalan barrier layer sekitar 0,1 – 2,0% dari total
ketebalan lapisan dan banyak dipengaruhi oleh konsentrasi larutan elektrolit dan
voltage yang digunakan.
Untuk mendapatkan benda kerja yang baik dilakukan proses pre-treatment
untuk mempersiapkan permukaan benda kerja sebelum dilakukan proses
anodizing. Proses pretreatment tersebut antara lain:
1. Degreasing
Degreasing adalah langkah pertama yang dilakukan dalam proses pre-
treatment, dimana tujuan dari proses degreasing ini adalah untuk menghilangkan
minyak atau lemak yang terdapat pada permukaan aluminium.
2. Etching
Etching dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan lapisan oksida murni
yang terdapat pada permukaan aluminium.
3. Desmuting
Desmuting adalah proses pembersihan bercak - bercak hitam yang diakibatkan
oleh proses etching.
4. Rinsing
Rinsing adalah proses pembersihan aluminium setelah pre-treatment
(degreasing, etching, desmuting) ataupun anodizing dengan menggunakan air
murni (destilated water). Tujuan dari proses rinsing ini adalah untuk
menghilangkan sisa-sisa zat kimia yang terbawa dari proses sebelumnya. Setelah
itu aluminium siap untuk proses anodizing.
Setelah proses anodizing dilakukan proses last-treatment. Proses last-treatment
tersebut antara lain:
a. Coloring
Coloring adalah proses pemberian warna pada pori - pori lapisan oksida yang
terbentuk akibat proses anodizing.
b. Sealing
Sealing dilakukan setelah proses pewarnaan selesai, Proses sealing merupakan
tahap paling akhir dalam anodizing yang bertujuan untuk:
1) Meningkatkan ketahanan korosi lapisan oksida yang terbentuk pada
permukaan aluminium.
2) Menahan pewarna agar tetap berada dalam pori.
3) Meningkatkan kerataan warna dari lapisan oksida yang diwarnai.
Sealing biasanya dilakukan dengan cara meletakkan spesimen pada uap air selama
5 menit.
c. Drying
Drying adalah proses pengeringan benda kerja setelah proses sealing. Drying
dilakukan dengan cara mengusap benda kerja dengan kain yang halus dan
meletakkannya pada tempat yang kering.
Secara umum proses anodizing diperlihatkan pada gambar 3. dibawah ini:
Electrolyte
Gambar 3. Skema Ilustrasi Proses Anodizing
Sumber : ATM Page Anodizing, 2001
Anodizing dilakukan dengan mencelupkan logam ke dalam larutan elektrolit
asam dan mengalirkan arus listrik melalui media tersebut. Sebuah katoda dipasang
pada tangki elektrolit tersebut dan logam yang akan di anodizing berlaku sebagai
anodanya, sehingga ion oksigen dilepaskan dari larutan elektrolit untuk
dikombinasikan dengan atom-atom aluminium pada permukaan logam yang di
anodizing.
(Nugraha, 2013)
II.3 Anodizing berdasarkan sumber arus
Berdasarkan sumber arus saat proses, anodizing dibagi menjadi 2, yaitu :
1. AC anodizing
AC anodizing adalah anodizing yang menggunakan arus bolak-balik
(alternating current). Proses pembentukan oksida pada AC anodizing lebih lambat
daripada DC anodizing karena polaritas positif dan negatif power supply
bergantian secara cepat. Anodizing tipe ini sering digunakan dengan tujuan
memperoleh hasil pelapisan dengan kekerasan rendah. Aplikasi anodizing tipe ini
adalah pada pembuatan aluminium foil. Apabila pembuatan aluminium foil
dilakukan menggunakan DC anodizing, maka akan diperoleh hasil anodizing
dengan kekerasan tinggi yang mengakibatkan aluminium foil akan patah jika di
tekuk atau di rol. Apabila pembuatan aluminium foil ini dilakukan dengan
menggunakan AC anodizing maka akan diperoleh aluminium foil dengan sifat
tahan tekuk dan rol.
2. DC anodizing
DC anodizing adalah anodizing yang menggunakan arus searah (dirrect
current). Proses pembentukan oksida pada DC anodizing lebih cepat daripada AC
anodizing karena polaritas positif power supply selalu berada pada benda kerja.
Anodizing tipe ini sering digunakan dengan tujuan memperoleh hasil pelapisan
dengan kekerasan tinggi. DC anodizing dapat dilakukan dengan dua metode yaitu
continuous anodizing dan pulse anodizing.
a. Continuous anodizing
Continuous anodizing adalah jenis anodizing yang paling sering
dilakukan. Continuous anodizing dilakukan dengan besar arus yang
dialirkan saat proses anodizing dijaga konstan.
b. Pulse anodizing
Pulse anodizing adalah jenis anodizing yang dilakukan dengan
rapat arus naik turun secara periodik seperti gambar 4. Pulse anodizing
ini dilakukan dengan merubah rapat arus yang diberikan secara cepat.
Dengan demikian pada saat On Time (t1), pembentukan lapisan oksida
akan lebih banyak terjadi karena memiliki arus yang paling tinggi.
Sedangkan pada saat Off Time (t2) , tidak ada pemberian arus, untuk
mencegah panas yang ditimbulkan selama arus yang mengalir (joule
heat), panas yang terjadi akan memicu proses peluruhan yang semakin
cepat dan menyebabkan lapisan yang terbentuk porositasnya semakin
besar
II.4 Kelebihan Proses Anodizing
Adapun kelebihan dari proses anodizing ini antara lain :
Keandalan
Pada umumnya produk yang mengalami anodisasi memiliki umur pakai yang
lebih lama dan memiliki keandalan yang baik. Hal ini merupakan implikasi positif
dari sifat lapisan yang terikat dengan kuat dengan substrat logam dasarnya.
Stabilitas Warna
Warna yang diaplikasikan pada lapisan hasil anodazing tahan terhadap sinar
ultraviolet sehingga tidak mudah pudar.
Estetika
Anodizing dapat menghasilkan warna kilap yang sangat baik dan warna yang
menarik. Tidak seperti proses surface treatment lainnya, anodizing tetap
mengizinkan mempertahankan tampilan logam dasarnya.
Biaya
Untuk jangka panjang, anodizing merupakan pilihan surface treatment yang dapat
memberikan nilai awal dan perawatan yang lebih rendah dibanding surface
treatment yang lain.
Kesehatan dan Keselamatan
Proses anodizing menghasilkan permukaan berupa lapisan oksida yang efeknya
tidak berbahaya terhadap lingkungan.
II.5 Tipe Anodizing
Chromic Acid Anodizing
Tipe ini menggunakan elektrolit Chromic Acid, menghasilkan lapisan hanya
sekitar 0,5 hingga 2,5 mikron. Pada saat proses berlangsung, 50 % lapisan oksida
terintegrasi ke dalam substrat dan 50% pertumbuhan lapisan keluar. Lapisan yang
dihasilkan cenderung lebih ulet dibanding tipe lain.
Sulfuric Acid Anodizing
Tipe ini merupakan tipe yang umum dilakukan yaitu menggunakan Asam Sulfat
sebagai elektrolit. Menghasilkan lapisan protektif sampai 25 mikron. 67% lapisan
terintegrasi ke dalam sisanya keluar. Lapisan yang dihasilkan permeable dan
bersifat porous sehingga dapat dilakukan pewarnaan. Bisa diaplikasikan untuk
aplikasi arsitektur, bagian pesawat terbang, otomotif, maupun komputer.
Hard Anodizing
Elektrolit sama dengan tipe 2 tetapi menggunakan konsentrasi yang lebih pekat
pada temperatur yang lebih rendah. Menghasilkan lapisan protektif sampai 75%.
Menghasilkan lapisan dengan ketahanan korosi dan ketahanan abrasi yang sangat
baik, anti pudar, tahan terhadap suhu tinggi. Diaplikasikan pada komponen yang
membutuhkan ketahanan korosi yang tinggi seperti pada piston dan hydraulic
gear. (Yulianto, 2011)
DAFTAR PUSTAKA
NPCS Board of Consultants & Engineers, 2003 “Electroplating, Anodizing, and
Metal Treatment Handbook”. Asia Pacific Buiness Press : Delhi
Nugraha, Agah. 2013. “Anodozing”.
([Link] Diakses pada
tanggal 9 Mei 2019 Pukul 00:37 WIB.
Yulianto, Arrian. 2011. “Anodizing” .
[Link]