PANDUAN PRAKTIK KLINIK TATALAKSANA KASUS RS
ROYAL PRIMA JAMBI
No. Dokumen No. Revisi Halaman
RS ROYAL PRIMA JAMBI
1/3
PPK Tanggalterbit DitetapkanOleh:
Direktur RS Royal Prima Jambi
Kolonel CKM (Purn) dr. EkoKuswandono, MMRS
NIK: 532.04.19
RESPIRATORY DISTRESS SYNDROM (RDS)
Adalah gangguan pernafasan yang sering terjadi pada bayi premature
Pengertian dengan tanda-tanda takipnue (>60 x/mnt), retraksi dada, sianosis, yang
menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak
yang spesifik. Tanda-tanda klinik sesuai dengan besarnya bayi, berat
penyakit, adanya infeksi dan ada tidaknya shunting darah melalui patent
ductus arteriosus.
Anamnesis 1. Sesak nafas berat (dyspnea ),
2. Frekuensi nafas meningkat (tachypnea ),
3. Sianosis yang menetap dengan terapi oksigen,
4. Gejala muncul setelah bayi baru lahir, dan semakin memberat
5. Bayi prematur yang lahir dengan operasi caesar
Pemeriksaan Fisik
1. Bayi premature biasanya dengan berat badan <1000 gram.
2. Tanda-tanda gangguan pernafasan berupa :
Dispnue/hipernue/takipneu, sianosis Retraksi suprasternal /
epigastrik / intercostals, Grunting expirasi Mengorok
ekspiratori.
3. Pernapasan cuping hidung.
4. Pemeriksaan lain didapatkan gejala lain seperti : Bradikardi,
hipotensi, kardiomegali, edema terutama didaerah dorsal tangan
atau kaki.
Kriteria Diagnosis
1. Faktor predisposisi seperti prematuritas pada bayi
2. Sesak nafas yang berat
3. Kadang disertai biru
4. Sering terjadi segera setelah lahir dan semakin memberat
5. Pemeriksaan fisik adanya takipneu, nafas cuping hidung, adanya
ronkhi di hampir seluruh paru, retraksi otot-otot pernapasan
6. Rontgen dengan gejala barat dapat berupa “white lung”
Diagnosis klinis RDS ditegakkan kalau telah menemukan sindrom sebagai
berikut : Dispnea, Merintih (grunting), Takipne, Pernafsan cuping hidung,
Retraksi dinding toraks, Sianosis. Gejala-gejala ini timbul dalam 24 jam
pertama sesudah bayi lahir dengan gradasi yang berbeda-beda.
Diagnosis Kerja
Respiratory Distress Syndrom (RDS)
PANDUAN PRAKTIK KLINIK TATALAKSANA KASUS RS
ROYAL PRIMA JAMBI
No. Dokumen No. Revisi Halaman
RS ROYAL PRIMA JAMBI
2/3
Diagnosis Banding 1. Hyalin membran disease
2. Gagal napas
3. Transient Tacypneu New born
4. Meconium Aspirasi Syndrom
5. Displasi bronkopulmoner
Pemeriksaan Penunjang
1. Seri rontqen dada, untuk melihat densitas atelektasis dan
elevasi diaphragma dengan overdistensi duktus alveolar
2. Bronchogram udara, untuk menentukan ventilasi jalan
nafas.
3. Data laboratorium
- Profil paru, untuk menentukan maturitas paru, dengan
bahan cairan amnion (untuk janin yang mempunyai
predisposisi RDS)
- Lecitin/Sphingomielin (L/S) ratio2 : 1 tau lebih
mengindikasikan maturitas paru Phospatidyglicerol :
meningkat saat usia gestasi 35 mingguTingkat
phosphatydylinositol
- Analisa Gas Darah, PaO2 kurang dari 50 mmHg, PaCO2
kurang dari 60 mmHg, saturasi oksigen 92% – 94%, pH
7,31 – 7,45
- Level pottasium, meningkat sebagai hasil dari release
potassium dari sel alveolar yang rusak.
Terapi Tindakan umum terutama dilakukan pada penderita ringan atau sebagai
tindakan penunjang pada penderita berat. Tindakan umum yang perlu
dikerjakan ialah :
1. Memberikan lingkungan yang optimal. Suhu tubuh bayi harus selalu
diusahakan agar tetap dalam batas normal (36,5° C-37° C) dengan
meletakan bayi dalam inkubator. Humiditas ruangan juga harus adekuat
2. Makan peroral sebaiknya tidak diberikan dan bayi diberi cairan
intravena yang disesuaikan dengan kebutuhan kalorinya.
Tindakan khusus meliputi :
1. Pemberian O2
2. Pemberian Antibiotik, yang dipilih adalah spektrum luas yaitu
penisilin (50.000 U-100.000 U/KgBB/hr) atau ampicilin
(100 mg/KgBB/hr) dengan gentamicin (3-5 mg/KgBB/hr)
3. Pemberina NaHCO2
4. Pemberian surfaktan buatan
Edukasi Edukasi meliputi penjelasan mengenai diagnosis, prognosis, komplikasi dan
rencana tatalaksana, penjelasan mengenai tanda bahaya, diet nutrisi, kebutuhan
cairan dan faktor resiko serta cara pencegahan penyakit.
Prognosis Prognosis RDS tergantung dari tingkat prematuritas dan beratnya
penyakit. Pada penderita yang ringan penyembuhan dapat terjadi pada
hari ke-3 atau ke-4 dan pada hari ke-7 terjadi penyembuhan sempurna.
Pada penderita yang lanjut mortalitas diperkirakan 20-40 %. Dengan
perawatan yang intensif dan cara pengobatan terbaru mortalitas ini dapat
menurun.
Tingkat evidens
Tingkat rekomendasi
PenelaahKritis
KSM BEDAH
Kepustakaan 1. Monintja, H.E, Rulina Suradi, Asril Aminullah, Sindrom Gawat Nafas
Pada Neonatus, Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan IKA XXIII,
FKUI, Jakarta, 1991, hal. 1-7. 55. 65-66.
2. Harthaway, W.E et all, Pediatrics Diagnosis & Treatment, Edition II, A
Lange Medical Book, by Appleton & Lange, 1993, hal. 33.
3. Pincus Catzel & Lan Roberts, Kapita Selekta Pediatri, Edisi II, Editor,
Dr. Petrus Andrianto, EGC, Jakarta, 1991, hal. 45-46.
4. Nelson, Ilmu Kesehatan Anak, Bagian I, Edisi 12, Alih Bahasa :
Siregar, M.R, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1988, hal. 622-
627.
5. Markum, A.H, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Jilid I, Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI, Jakarta, 1991, hal. 303-306.
6. Klaus & Fanaroff, Penatalaksanaan Neonatus Risiko Tinggi, Edisi 4,
Editor :Achmad Surjono, EGC, Jakarta, 1998, hal. 286-289.
7. Winarno, dkk, Penatalaksanaan Kegawatan Neonatus, dalam
Simposium Gawat Darurat Neonatus, Unit Kerja Koordinasi Pediatri
Darurat IDAI, Badan Penerbit UNDIP, Semarang, 1991, hal. 151-153.
8. Arif Masjoer, dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2, Edisi 3, Media
Aesculapius FKUI, Jakarta, 2000, hal. 507-508.
9. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Ilmu Kesehatan Anak, Jilid
I, Editor : Rusepno Hassan & Husein Alatas, Bagian IKA FKUI,
Jakarta 1985, hal.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK TATALAKSANA KASUS RS
ROYAL PRIMA JAMBI
No. Dokumen No. Revisi Halaman
RS ROYAL PRIMA JAMBI
3/3
Kepustakaan
2. Chen, K. Pohan, H.T, Sinto, R. Diagnosis dan terapi cairan pada
Demam Berdarah Dengue. Medicinus. Jakarta. 2009: Vol 22;p.3-7.
3. WHO. Dengue Hemorrhagic Fever: diagnosis, traetment, prevention
and control 2nd Edition. Geneva.1997.
4. Tim adaptami Indonesia, 2009. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah
Sakit: Pedoman bagi Rumah Sakit Rujukan Pertama di
Kabupaten/Kota. 1 ed. Jakarta: World Health Organization Country
Office for Indonesia.