0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan38 halaman

Arsitektur Modern: Sejarah dan Aliran

Paragraf pertama memberikan penjelasan tentang pengertian arsitektur dan pengaruh budaya terhadap perkembangannya. Paragraf berikutnya menjelaskan munculnya arsitektur modern di Eropa pada abad ke-16 dan ciri-cirinya. Kemudian dibahas empat aliran utama arsitektur modern yaitu Art and Craft, Nieuwe Kunts, De Stijl, dan Art Deco beserta contoh karyanya.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan38 halaman

Arsitektur Modern: Sejarah dan Aliran

Paragraf pertama memberikan penjelasan tentang pengertian arsitektur dan pengaruh budaya terhadap perkembangannya. Paragraf berikutnya menjelaskan munculnya arsitektur modern di Eropa pada abad ke-16 dan ciri-cirinya. Kemudian dibahas empat aliran utama arsitektur modern yaitu Art and Craft, Nieuwe Kunts, De Stijl, dan Art Deco beserta contoh karyanya.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Arsitektur

Arsitektur merupakan bagian dari kebudayaan manusia dan berkaitan

dengan segi kehidupan, yaitu : seni, teknik, ruang, letak/geografi dan sejarah. Jika

ditinjau dari segi seni, arsitektur adalah seni bangunan, seperti bentuk dan

dekorasinya. Dari segi teknik, arsitektur dapat diartikan sebagai sistem dalam

mendirikan sebuah bangunan, baik dalam proses perancangan, konstruksi dan

struktur, maupun nilai estetikanya. Sedangkan dari segi ruang, arsitektur adalah

upaya dalam memenuhi kebutuhan ruang manusia untuk melakukan berbagai

aktifitas. Jika ditinjau dari segi sejarah dan letak/geografi, arsitektur adalah

peninggalan sejarah pada suatu daerah dalam batasan waktu dan tempat tertentu.

(Sumalyo,1997), sehingga arsitektur memiliki berbagai pengertian dan

berkembang pada banyak sisi kehidupan, baik seni, teknik, ruang, maupun

sejarah.

Perkembangan arsitektur dipengaruhi dengan adanya perkembangan

budaya, sehingga arsitektur selalu berkembang ataupun mengalami perubahan

bentuk pada kehidupan manusia karena manusia adalah makhluk hidup yang

memiliki budaya. Perkembangan arsitektur menuju bentuk yang lebih kompleks

sejalan dengan perkembangan peradaban, yaitu mencakup ruang dan waktu.

Menurut Sumalyo (1997), sejarah perkembangan arsitektur di dunia berdasarkan

ciri-ciri bentuk dan karakter arsitektural dibagi menjadi empat, yaitu: primitif,

Universitas Sumatera Utara


10

tradisional, klasik barat, dan modern. Dalam penelitian ini yang akan dibahas

adalah arsitektur modern.

1.2 Arsitektur Modern

Arsitektur modern sudah mulai muncul di Eropa pada abad ke-16 yaitu

pada masa Renaissance yang ditandai dengan terjadinya percampuran antara

arsitektur Renaissance dengan Gotik sampai pada masa Neo-Klasik. Masa

berakhirnya arsitektur klasik sejak terjadinya revolusi industri di Inggris pada

akhir abad ke-19, sehingga terjadi revolusi sosial dan ekonomi yang mendunia.

Munculnya revolusi industri disebabkan karena terjadi perang dunia pada

awal abad ke-19, sehingga pasca perang dunia I membutuhkan kecepatan dalam

pembangunan karena banyak bangunan yang hancur dan membutuhkan

pembangunan kembali dalam jumlah yang sangat besar. Pada saat ini, timbul lah

gaya bangunan yang lebih mengutamakan fungsi dan teknologi karena

mempertimbangkan kualitas bangunan dan banyak bangunan yang harus

didirikan,sehingga melakukan sistem pabrikasi.

Ciri-ciri umum arsitektur modern internasional pada akhir abad ke-19

sampai awal abad ke-20, yaitu: asimetris, semua sisi bangunan dalam komposisi

dan kesatuan bentuk, yaitu : kepala, badan, dan kaki bangunan menyatu dalam

komposisi bangunan, dan tanpa ornamen.

Universitas Sumatera Utara


11

Menurut Sumalyo (1997), pada arsitektur modern terdapat aliran-aliran seni,

yaitu:

1. Art and Craft

Revolusi industri terjadi menyebabkan berbagai jenis barang

kebutuhan dibuat secara pabrikasi namun, kualitasnya menurun. Sebagai

reaksi dari keadaan ini, timbul sebuah gerakan yaitu Art and Craft yang

dipelopori oleh John Ruskin (1819-1900) dan William Morris (1834-

1896). Pada gerakan ini tidak setuju dengan proses produksi secara

pabrikasi karena mengasilkan produk yang terstandarisasi. Ruski merasa

seniman tidak lagi merasakan proses produksi karena pelaksanaan yang

terstandarisasi, sehingga menghambat kreativitas para seniman. Gerakan

ini menginginkan setiap produk yang dihasilkan merupakan buatan tangan

hasil kreativitas para seniman, mulai dari sistem strukturnya sampai pada

ornamen-ornamennya.

Gambar 2.1 Holy Trinity, Red House, dan Horniman Museum


(Sumber : Wikipedia, visitlondon, saatchigallery )

2. Nieuwe Kunts

Aliran ini bermula dari Perancis dan Belgia, pada akhir abad ke-19.

Pelopor aliran ini adalah HP. Berlage (1856-1934). Aliran ini memiliki

tiga prinsip utama, yaitu orisinalitas, spiritualitas, dan rasionalitas.

Universitas Sumatera Utara


12

Menurut Berlage, rasionalitas lebih mengarah ke desain, menekankan

fungsi dan konstruksi dalam menciptakan bentuk pada bangunan. Aliran

ini juga mulai meninggalkan ciri-ciri klasik yang realistis, natural dan

statis dalam bentuk baru, penyederhanaan bentuk tumbuhan, lengkungan,

dan bentuk geometris lainnya.

Pada tahun 1915, Nieuwe Kunts terpecah menjadi dua bagian, yaitu:

2.1 Amsterdam School

Amsterdam School merupakan gerakan arsitektural dan bagian dari

gerakan ekspresionisme yang berkembang di Amsterdam pada tahun

1915-1930. Karya-karya Amsterdam School menekankan pada buah

pikiran dari si perancang secara pribadi bukan pada estetika universal

(Handinoto, 2010). Gerakan ini tidak setuju jika mesin digunakan sebagai

alat penggandaan hasil karya, karena mereka sangat menghargai hasil

karya estetika pribadi. Menurut de Wit (1983:29) dalam Handinoto (2010),

ciri-ciri arsitektur Amsterdam School adalah secara umum terbuat dari

batu bata hasil kerajinan tangan (brick expressionism), plastisitas yang

besar dalam bentukannya, menggunakan ornamen pahatan, dan perbedaan

pewarnaan pada aneka ragam “bata, lantai, dan kayu” memainkan peran

tambahan dalam desain serta bentuk-bentuk yang sangat ekspresif,

distorsi, dan bentuk yang melengkung lebih penting dibandingkan

pelajaran yang rasional tentang kebutuhan perumahan untuk membawa

kepada pembangunan atau pengembangan tipe ground plan yang baru.

Universitas Sumatera Utara


13

Gambar 2.2 Museum Het Schip, Het Sieraad, dan De Dageraad


(Sumber : hetschip, straatkaart, iamsterdam)

2.2 De Stijl

De Stijl merupakan aliran yang melakukan gerakan modernisasi

dalam seni. Kelahiran dan perkembangan inovatif dalam seni dipelopori

oleh kelompok De Stijl yang ada di Belanda dan sama halnya di tempat

lain, yang awalnya dari seni lukis. Nama kelompok ini diambil dari nama

sebuah majalah yang terbit pertama pada tahun 1917. Pada aliran seni, De

Stijl dipelopori oleh Piet Modrian dan Van Doesburg. Tahun 1920, dalam

majalah De Stijl berkonsentrasi pada idenya Modrian, kemudian mulai

memuat pemikiran mengenai arsitektur. Arsitek utama dalam kelompok

De Stijl adalah J.J.P Oud, Jan Wils, Robert Van’t Hoff, Gerrit Rietveld,

dan Cornelis Van Eesteren. De Stijl mendapat pengaruh dari aliran

kubisme yang mana pada masa itu berkembang aliran kubisme.

Konsep De Stijl dalam bentukan yang murni, sehingga tercipta

aliran Purism yang merupakan sifat teguh terhadap peraturan dari orang

Belanda. Terdapat ungkapan yang mengatakan bersih dan murni adalah

indah, sehingga menjadi hal yang penting dalam seni De Stijl. Konsep De

Stijl juga menekankan terutama pada keharmonisan, kemudian keselarasan

Universitas Sumatera Utara


14

dan keseimbangan yang hanya dapat digambarkan dalam bentuk abstrak

dan dalam komposisi tidak dipengaruhi oleh hubungan antara objek dan

dunia luar.

Teori mengenai warna dan ruang merupakan dasar pada aliran De

Stijl. Warna bukan hanya sekedar untuk dekorasi, tetapi juga untuk

mendapatkan ruang. Warna dasar pada aliran ini adalah merah, biru, dan

kuning dan warna tambahan adalah abu-abu dan hitam. Gaya arsitektur De

Stijl tidak hanya berbentuk kubus, balok, dan dinding luar menyatu dengan

dinding dalam, sehingga ruang luar dan dalam menyatu, tetapi juga

menginginkan adanya pemisah antara dinding luar dan dinding dalam,

sehingga ruang luar dan dalam terpisah.

Gambar 2.3 Café De Unie, Schroder House, dan Henny House


(Sumber : Pinterest, Wikipedia, Pinterest)

3. Art Deco

Pada awal abad ke-20, aliran ini diterapkan dalam bentuk

bangunan, terutama pada dekorasi bangunan dengan bentuk yang

geometris. Aliran ini menunjukkan kesan mewah dan romantisme pada

bentuk bangunan, menggunakan bahan yang mahal dan jarang digunakan

pada gaya lain, mempunyai bentuk yang masif, kuat dan kokoh, sehingga

Universitas Sumatera Utara


15

dapat bertahan lama. Aliran ini juga menggambarkan kemegahan dari

sebuah bangunan.

Gambar 2.4 Zoroastrian Centre, Grundtvig Church, dan Hotel Breakwater


(Sumber : Pinterest, [Link], Architecturestyles)

4. Fungsionalisme, Rasionalisme, dan Cubisme

Aliran fungsionalisme adalah aliran yang anti pada pengulangan

bentuk-bentuk lama dengan menggunakan teknologi baru. Aspek

keindahan tidak lagi dihubungkan dengan adanya ornamen atau dekorasi,

tetapi keindahan timbul karena adanya fungsi dari elemen-elemen

bangunan. Arsitek pada aliran ini memandang tabu jika menciptakan

hiasan atau ornamen dan bagian serta bentuk bangunan yang tidak

memiliki fungsi.

Aliran ini sering juga disebut rasionalisme karena didasari oleh

rasional atau cara berpikir yang logis. Arsitek aliran ini juga menginginkan

bentuk baru yang murni tanpa dekor, sehingga aliran ini sering disebut

aliran arsitektur purism, yang mana ingin mewujudkan bangunan yang

sederhana berupa komposisi bidang, balok, dan kubus serta memandang

bangunan merupakan satu kesatuan bentuk, sehingga aliran ini sering

disebut sebagai arsitektur kubisme.

Universitas Sumatera Utara


16

Aliran kubisme merupakan gerakan paling revolusioner dalam seni

rupa yang berkembang mula-mula di Perancis pada tahun 1907-1920an.

Dalam dunia arsitektur aliran ini berkembang pada tahun 1917-1920an.

Sejak munculnya aliran ini, unsur utama dan aspek yang paling dominan

pada arsitektur adalah ruang, kedua adalah pencahayaan. Ruang dalam dan

luar dibuat menyatu dan adanya hubungan antara ruang atas dan bawah,

dan ruang-ruang yang bersebelahan, sehingga cahaya yang masuk lebih

banyak. Dan yang ketiga adalah material.

Gambar 2.5 Sekolah Bauhaus, Lovell House, dan Villa Savoye


(Sumber : Wikipedia, Evermotion, Studyblue)

2.3 Sejarah dan Perkembangan Arsitektur Nieuwe Bouwen di Belanda

Nieuwe Bouwen merupakan arsitektur modern Belanda yang dipelopori

oleh arsitek H.P Berlage. Arsitektur Nieuwe Bouwen lahir sejak akhir abad 19 dan

berkembang pada abad 20 di Belanda (Handinoto,2010), namun istilah “Nieuwe

Bouwen” diperkenalkan di Belanda sesudah tahun 1920 setelah perang dunia

pertama. Bersamaan dengan penggunaan istilah Nieuwe Bouwen, istilah “Nieuwe

Zakelijkheid” atau Objekvitas Baru juga digunakan, tetapi pada umumnya

menggunakan istilah Nieuwe Bouwen yang berarti meninggalkan masa lalu

dengan cara menyebarkan arsitektur kepada masyarakat baru dengan budaya baru

untuk orang-orang yang telah dibebaskan sesudah perang dunia pertama.

Universitas Sumatera Utara


17

Kesadaran bahwa aliran baru sudah muncul membuat masyarakat memberi

permintaan sebuah solusi baru yang radikal untuk masalah ekonomi, sosial, dan

budaya. Mereka yakin bahwa kelompok arsitek dan seniman akan membuat

kontribusi yang aktif dalam proses pembaharuan.

Istilah Nieuwe Bouwen hanya digunakan di negara Belanda, sedangkan di

negara-negara yang menggunakan bahasa Jerman menggunakan istilah Neues

Bauen atau Neue Sachlichkeit. Istilah Neue Sachlichkeit pertama kali digunakan

pada tanggal 18 Mei 1923 di sebuah surat edaran oleh G.F Hartlaub, direktur dari

Galeri Seni Mannheim.

Arsitektur Nieuwe Bouwen banyak diterapkan terutama pada perencanaan

kota dan perumahan, karena kota dan perumahan merupakan kebutuhan primer

dan memiliki peran yang penting, serta saat itu mengalami proses pembaharuan

karena sudah mengalami kerusakan akibat terjadinya perang dunia 1. Tidak hanya

diterapkan pada perencanaan kota dan perumahan, melainkan juga diterapkan

pada rumah kelas menengah, pabrik, kantor, restoran, bioskop, dan fasilitas

umum (Kras, 1983; Kusno, 2009).

Pada arsitektur Nieuwe Bouwen terdapat dua kelompok arsitek yang tidak

homogen, yaitu kelompok arsitek Opbouw merupakan kelompok yang berasal

dari Rotterdam dan kelompok arsitek De 8 yang berasal dari Amsterdam yang

mana kedua kelompok ini kemudian bersatu menjadi De 8 in Opbouw setelah

pertemuan CIAM di Swiss pada tahun 1928. Keduanya merupakan pilar utama

Universitas Sumatera Utara


18

yang mendukung gerakan Nieuwe Bouwen di Belanda (Rebel, 1983). Berikut

adalah penjelasan mengenai kelompok arsitek Opbouw dan De 8.

2.3.1 Opbouw

Kelompok arsitek ini berasal dari Rotterdam dan didirikan oleh arsitek

[Link] dan M. Brinkman dan beranggotakan L.C Van der Vlugt, W.H

Gispen, J.J.P Oud, M.A Stam, C. Van Eesteren, J.B Van Loghem, W. Van Tijen

dan P. Zwart. Opbouw merupakan sebuah kelompok yang mana arsitek dan

seniman menempatkan ide-ide mereka yang beranekaragam pada kelompok ini.

Kelompok Opbouw juga menolak peran estetika yang dominan. Masuknya J.J.P

Oud, Van Tijen dan Van Eesteren, terutama melalui pengaruh radikalisasi dari

M.A Stam dan Van Loghem, perhimpunan ini menjadi sebuah pusat penyebaran

arsitektur Nieuwe Bouwen.

2.3.2 De 8

Kelompok ini berasal dari Amsterdam didirikan pada tahun 1927 oleh

[Link], Ch. Karsten, [Link] den Bosch, J. Groenewegen, H Van de Pauwert

dan P. Verschuyl. Kelompok De 8 merupakan sekelompok arsitek muda yang

pragmatis dalam masyarakat yang mencoba melakukan perbaikan dalam

arsitektur. Prinsip dari kelompok ini adalah anti estetika, tidak dramatis, tidak

romantis, dan kubisme. Selain itu, kelompok ini berlawanan dengan konsep

ekspresionisme arsitektur Amsterdam School dan lebih terkait dengan

fungsionalisme dan idenya H.P Berlage mengenai perumahan dan kesederhanaan

bentuk. Pada tahun 1928, A Boeken, J. Duiker, dan J.G Wiebenga menjadi

anggota kelompok De 8. Prinsip dari De 8 adalah dalam pembangunan perumahan

Universitas Sumatera Utara


19

dan perkotaan perlunya cahaya, udara, penghijauan, dan keamanan. Area hijau

merupakan akomodasi untuk bangunan-bangunan publik seperti sekolah, gereja,

ruang baca, restoran, dan lain sebagainya. (Dietz, et al, 1995)

Kelompok Opbouw dan De 8 membentuk dasar untuk gerakan Nieuwe

Bouwen Fungsionalisme di Belanda. Kedua kelompok ini menciptakan kontribusi

yang kuat untuk penciptaan sebuah konsep arsitektural yang sesuai dengan budaya

baru yang mana masyarakat menaruh kepercayaan mereka sesudah terjadi

bencana perang dunia 1. Realisasi konsep tersebut terlihat jelas pada sejumlah

bangunan pada tahun 1920an.

Pada tahun 1928, setelah pertemuan awal dari CIAM (Congres

Internationaux d’Architecture Moderne) di La Sarraz, Swiss gerakan Nieuwe

Bouwen menjadi gerakan yang kuat melalui penggabungan kelompok

fungsionalis Amsterdam, yaitu De 8 dengan kelompok Opbouw. Formasi ini

disebut De 8 in Opbouw, yang tetap aktif sebagai sayap CIAM dari Belanda

sampai tahun 1943 (Frampton, 1994). Pada tahun 1932, majalah De 8 en Opbouw

diedarkan. Majalah ini sangat penting bagi gerakan Nieuwe Bouwen dan

merupakan sarana untuk mengembangkan ide-ide pada arsitektur. Pada artikel

yang ada di dalam majalah tersebut terdapat serangan terhadap Amsterdam School

dan mengekspresikan pandangan politik yang terang-terangan, padahal menurut

Merkelbach dan Duiker, arsitektur tidak ada hubungannya dengan politik (Dietz,et

al, 1995).

Universitas Sumatera Utara


20

2.4 Konsep Nieuwe Bouwen

Nieuwe Bouwen merupakan sebuah arsitektur baru yaitu : material baru

(beton, kaca, dan baja), struktur baru, dan metode produksi yang baru. Kata

“baru” menjadi kata kunci untuk gerakan ini. Konsep dari Nieuwe Bouwen adalah

sebuah arsitektur yang fleksibel, cahaya, transparan, kesehatan dan higienis

(Muller, 2011). Yang terpenting dan merupakan slogan utama arsitektur Nieuwe

Bouwen adalah cahaya, udara, dan ruang (Ibelings,1995). Konsep ini disebarkan

di kongres CIAM (Rebel, 1983). Bentuk universal dari arsitektur ini adalah kubus

dan silinder.

Beberapa arsitek utama dari Arsitektur Nieuwe Bouwen, yaitu J.J.P Oud,

Rietveld, dan Van Eesteren berasal dari arsitektur De Stijl yang mana arsitektur

ini bagian dari arsitektur Nieuwe Bouwen. Selain itu, arsitektur ini juga

dipengaruhi oleh kubisme karena bangunan ini dibangun atas tradisi dari Berlage

(Ibelings,1995) yang cenderung mengikuti aliran kubisme (Sumalyo, 1997).

Namun, pada tahun 1920an J.J.P Oud, Rietveld, dan Van Eesteren meninggalkan

De Stijl dan bergabung dengan kelompok Opbouw.

Dalam memulai sebuah gerakan, prinsip pertama dari gerakan Nieuwe

Bouwen dalam perumahan adalah arsitek berpusat pada kesejahteraan pengguna.

Van Loghem merupakan salah satu wakil terkemuka dari gerakan ini telah

merumuskan prinsip dari gerakan ini. Dia mengatakan bahwa kelompok ini

merupakan tindakan penciptaan yang tidak lahir dari keinginan untuk

mempercantik bangunan secara berlebihan, tetapi dorongan untuk

mengekspresikan terutama berfokus pada pemenuhan kebutuhan spiritual (psikis)

Universitas Sumatera Utara


21

dan kebutuhan material (fisik) manusia. Hal ini merupakan kebutuhan primer

yang penting untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak (Dietz,et al, 1995).

Pengguna bangunan diberi tempat yang dominan dalam pikiran arsitek

dalam mendesain sebuah bangunan. Arsitek akan memperhatikan kebutuhan dari

pengguna bangunan untuk memberikan rasa nyaman. Cahaya, udara, dekat

dengan area hijau, sarana olahraga, dan keamanan menjadi tujuan baru dalam

arsitektur ini. Bangunan menggunakan jendela yang besar pada fasad. Makna

keterbukaan ini tidak hanya sebagai simbol dari pembebasan, tetapi juga sebagai

simbol dari kehigienisan/kesehatan (Dietz,et al, 1995). Hal ini dikarenakan cahaya

matahari dan udara segar yang masuk ke dalam ruangan diperlukan untuk

memperoleh hidup yang sehat. Selain itu, pada arsitektur Nieuwe Bouwen

penggunaan warna bukan sebagai hiasan, tetapi sebagai sarana ekspresi, seperti

pada umumnya penggunaan warna putih pada bangunan Nieuwe Bouwen sebagai

ekspresi dari kehigienisan.

Di dalam arsitektur ini, industrialisasi dan standarisasi berperan (Akihary,

1990). Industrialisasi yang dilakukan adalah sistem pembangunan yang mampu

menyediakan perumahan dalam jumlah besar karena melakukan sistem pabrikasi,

sehingga para arsitek Nieuwe Bouwen fungsionalisme sangat menentang

arsitektur Amsterdam School karena menggunakan keahlian dalam membuat

ornamen-ornamen pada fasadnya. Sedangkan standardisasi merupakan

menyesuaikan bentuk dengan bentuk standard yang telah ditetapkan karena

penggunaan elemen bangunan yang standard memungkinkan untuk mengganti

bagian-bagian bangunan dalam menanggapi perubahan yang temporal

Universitas Sumatera Utara


22

berdasarkan fungsinya. Oleh sebab itu, industrialisasi dan standarisasi berperan

dalam arsitektur ini. Tidak hanya industrialisasi dan standarisasi berperan pada

arsitektur ini, rasionalisasi juga berperan karena pembangunan dilakukan dengan

teknik yang canggih dan mengutamakan ilmu pengetahuan, sehingga sistem

konstruksi bersifat rasional.

Pada tahun 1930an, bangunan Nieuwe Bouwen tidak lagi seperti Van

Nelle Factory yang sebagian besar elemen bangunan terdiri dari kaca, beton, dan

baja karena pada saat itu terjadi krisis ekonomi. Selain itu, saat itu terdapat

beberapa bangunan yang bentuknya menerapkan konsep tradisional tetapi

menggunakan material modern, seperti kaca, baja, dan beton. Sebagai contoh

adalah the Amstel Brewery di Amsterdam, yang mana Eschauzier sebagai arsitek

melengkapi interior dengan perabotan modern. Selain itu, pada rumah sakit de

Joodsche Invalide di Amsterdam dan toko pakaian Schunk di Heerlen

menggunakan kolom concrete mushroom dan dinding glass curtain yang mana

pada tahun 1920an, arsitektur Nieuwe Bouwen memperkenalkan penggunaan

kolom concrete mushroom dan dinding glass curtain. Namun, pada tahun 1935

Mart Stam mengklaim bahwa modernisasi tidak tergantung pada material, tetapi

tergantung pada letak dimana material itu digunakan. Oleh karena itu, kayu, bata,

dan material lainnya dapat terlihat seperti modern. Stam mengungkapkan hal ini

setelah dia kembali dari Siberia yang mana pada kondisi yang sangat primitif dia

bekerja pada konstruksi kota industri baru (Ibelings, 1995).

Universitas Sumatera Utara


23

2.5 Jenis-Jenis Nieuwe Bouwen

2.5.1 Nieuwe Bouwen Ekspresionisme

Nieuwe Bouwen Ekspresionisme merupakan arsitektur baru (aliran baru)

yang bergaya ekspresionisme seperti Amsterdam School yang berkembang di

Belanda pada tahun 1915 sampai 1930an. Arsitektur ini muncul akibat dari

kebijakan pemerintah Belanda yang ingin membangun tempat tinggal yang layak

untuk pekerja di kota Amsterdam. Para arsitek Amsterdam School ingin

memberikan kualitas hidup yang baik pada para buruh sehingga mereka

mendapatkan tempat tinggal yang nyaman. Para arsitek pun ingin meninggalkan

bentuk lama dan mengeksplorasi bentuk-bentuk yang baru yang menekankan pada

sisi artistik dari arsitektur. Gerakan ini juga diterapkan pada bangunan

pemerintahan dan sekolah.

Arsitektur ini menerapkan konsep ekspresionisme. Ekspresionis dalam

arsitektur merupakan salah satu aliran arsitektur yang menggunakan bentuk

sebagai alat untuk mengekspresikan pengalaman ataupun perasaan si perancang,

sehingga memiliki bentuk yang berbeda dengan bangunan lainnya (ekspresif dan

distorsi). Hal ini menunjukkan keoriginalitasan karya dari si perancang. Arsitektur

ini biasanya terdiri dari susunan bata yang dikerjakan dengan keahlian yang tinggi

serta bentuknya sangat plastis (mudah dibentuk). Selain itu, juga menggunakan

ornamen hias walaupun dalam skala yang kecil dan tidak dominan. Walaupun

arsitek dan ahli kerajinan tangan sering bekerja sama, mereka menganggap bahwa

arsitektur adalah unsur yang paling utama, sehingga harus dapat mengatur semua

seni (Sumalyo, 2010).

Universitas Sumatera Utara


24

Amsterdam School juga sering disebut sebagai “Rationalist as

Expressionist” dan H.P Berlage memiliki peran yang besar dalam gerakan ini,

sehingga pada dasarnya Amsterdam School tetap memegang dasar rasionalis pada

karyanya, walaupun aliran ini menekankan ekspresi pada bentuknya. Salah satu

contoh bangunan yang menerapkan arsitektur Amsterdam School, yaitu Het Schip

dibangun pada tahun 1917 di Amsterdam.

 Het Schip

Het Schip dirancang oleh Michael de Klerk, yang merupakan seorang tokoh

utama dalam arsitektur Amsterdam School. Bangunan ini merupakan apartemen

yang terdiri dari 102 rumah untuk para pekerja, terdapat ruang rapat, dan kantor

pos. Bangunan ini menerapkan brick expressionism yang disusun dengan keahlian

tangan yang tinggi dan bentuk yang sangat plastis. Bentuk yang unik dan

ekspresif membuat bangunan ini memiliki nilai orisinalitas yang tinggi yang mana

desain bangunan berbeda dengan yang lainnya.

Pada bangunan juga terdapat menara yang memiliki bentuk yang ekspresif.

Selain itu, terdapat bentuk yang melengkung pada bangunannya dan adanya

ornamen pada bangunan.

Gambar 2.6 Bangunan Het Schip yang dilihat dari courtyard dan dari luar
(Sumber : Het Schip)

Universitas Sumatera Utara


25

Gambar 2.7 Menara pada bangunan


(Sumber : Het Schip)

Adanya menara yang memiliki bentuk yang ekspresif dan terdapat elemen

hias pada menara. Selain itu, adanya ornamen hias pada fasad bangunan seperti

ukiran manusia memegang panah yang mana ukiran ini dipercayai sebagai simbol

dari kelas pekerja. Walaupun memiliki unsur dekorasi yang tetap sederhana dan

bersih pada bentuk bangunannya, dinding fasad bangunan menggunakan berbagai

macam batu bata dibuat oleh para pekerja dengan keahlian yang tinggi. Dengan

kata lain, menerapkan brick expressionism pada bangunan ini.

Gambar 2.8 Bentuk bangunan yang ekspresif dan unsur dekorasi yang sederhana pada
bangunannya
(Sumber : Het Schip)

Universitas Sumatera Utara


26

Gambar 2.9 Adanya ornamen geometris dan pahatan pada bangunan


(Sumber : Amsterdo)

 Department Store De Bijenkorf


Department Store De Bijenkorf merupakan bangunan yang penting di pusat kota

Den Haag. Bangunan ini dibangun karena De Bijenkorf ingin membuka cabang

kedua di kota ini dan mengadakan kompetisi untuk menemukan arsitek yang tepat

untuk proyek ini. Terdapat enam arsitek terkenal yang mengirimkan sketsanya,

yaitu : Piet Kramer, Michael de Kerk, J.F Staal, kakak beradik J.G. dan A.D.N.

van Gendt, J.M. Luthmann, A.P.B. Otten, dan W. Hamdorff. Dengan juri adalah

H.P Berlage, J. Gratama dan A. Steeman. Desain yang terpilih adalah desainnya

J.F Staal. Namun, De Bijenkorf mengatakan bahwa nilai estetika terlalu sedikit

untuk bangunan Department Store sehingga memutuskan untuk memilih desain

Piet Kramer. Bangunan ini dirancang oleh Piet Kramer yang dibangun pada tahun

1925. Dia adalah murid dari Eduard Cuypers dan salah satu arsitek penting dari

Amsterdam school. Dalam desain akhir dan pelaksanaan hampir dua puluh

seniman yang terlibat.

Piet Cuypers mendesain bangunan ini terinspirasi dari bentuk monumental

bulat. Dinding bangunan disusun dari batu bata berwarna merah jingga, dan

Universitas Sumatera Utara


27

terdapat bentuk yang ekspresif pada dindingnya. Selain itu, juga terdapat jendela

kaca besar yang memanjang ke bawah dengan bingkai jendela terbuat dari baja

berwarna perunggu. Pada dinding bagian atas terdapat pahatan.

Gambar 2.10 Department Store De Bijenkorf dan bentuk ekspresif pada dinding luar bangunan
(Sumber : Panoramio, Denhaagfm)

Gambar 2.11 Elemen hias pada dinding bangunan


(Sumber : Amsterdamse-school)

Bentuk ekspresionis tidak hanya berbentuk distorsi, tetapi ada juga arsitek

yang mengungkapkan ekspresinya dengan bentuk geometris, yaitu Willem

Marinus Dudok yang merupakan seorang arsitek Nieuwe Bouwen (Harmans,

2011) yang dipengaruhi oleh arsitektur ekspresionisme (Samuels, et al.,2004) dan

Universitas Sumatera Utara


28

menerapkan konsep kubistis ekspresionisme pada karyanya (Kolman, et

al., 1997). Contoh bangunan yang dipengaruhi oleh arsitektur Nieuwe Bouwen

ekspresionis yang menerapkan konsep kubistis ekspresionisme adalah Town Hall

Hilversum.

 Town Hall Hilversum

Bangunan ini merupakan kantor balai kota Hilversum yang sangat

memperhatikan kenyamanan dan ketentraman saat pengguna bangunan berada di

bangunan ini. Selain itu, arsitek sangat memperhatikan aspek cahaya, udara dan

ruang yang mana ketiga aspek ini merupakan slogan utama arsitektur Nieuwe

Bouwen. Pada bangunan ini komposisi, keselarasan, dan keseimbangan disusun

sepenuhnya, sehingga elemen-elemen bangunan semuanya menyatu (Sumalyo,

1997). Selain itu, arsitek dipengaruhi oleh H.P Berlage dalam mendesain

bangunan ini yaitu dipengaruhi oleh arsitektur rasionalisme yang mana berbentuk

sederhana berupa komposisi bidang balok dan kubus. Material yang digunakan

pada bangunan ini adalah bata ekspose yang merupakan salah satu material utama

pada arsitektur ekspresionisme (Tietz,[Link], 1999). Hal ini menunjukkan bahwa

bangunan ini menerapkan konsep kubistis ekspresionisme.

Gambar 2.12 Town Hall Hilversum Gambar 2.13 Tampak Samping Town
Dilihat dari Courtyard Hall Hilversum
(Sumber: [Link]) (Sumber: Mimoa)

Universitas Sumatera Utara


29

Selain itu, terdapat ornamen berbentuk geometri tidak seperti ornamen

yang terdapat pada bangunan klasik, elemen penghias berbentuk balok pada

jendela yang tidak berfungsi sebagai elemen struktur yang mana melambangkan

bahwa ruang yang ada di dalamnya adalah ruang dewan, serta menara memiliki

bentuk yang ekspresif dan penggunaan menara mengekspresikan status yang luar

biasa dari bangunan ini yaitu merupakan kantor balai kota Hilversum (Bergeijk &

Dudok, 2001). Bangunan ini juga mengutamakan individualisme (Ibelings, 1995)

yang mana arsitektur ekspresionisme menekankan pada individulisme

(Gruttemeier,[Link], 2013). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh

arsitektur ekspresionisme pada bangunan ini.

Gambar 2.14 Ornamen Geometris Gambar 2.15 Elemen Penghias berbentuk balok pada jendela
pada Menara (Sumber : Flickr)
(Sumber : Pinterest)

Gambar 2.16 Bentuk menara yang ekspresif dan bentuk balkon yang tidak umum/distorsi
(Sumber : Greatbuildings)

Universitas Sumatera Utara


30

2.5.2 Arsitektur Nieuwe Bouwen Fungsionalisme

Arsitektur Nieuwe Bouwen fungsionalisme merupakan bangunan

/arsitektur baru yang bergaya fungsionalisme di Belanda. Kelompok arsitek yang

menganut arsitektur Nieuwe Bouwen Fungsionalisme adalah kelompok De 8 in

Opbouw yang terbentuk setelah kongres CIAM di Swiss tahun 1928. Kelompok

ini menganut aliran fungsionalisme radikal dan pada tahun 1932, mereka

mengemukakan kritik kepada arsitektur Amsterdam School dalam majalah

Opbouw en De 8 (Dietz,et al, 1995). Pada tahun 1932 sampai 1942 merupakan

periode majalah Opbouw en De 8 yang merupakan juru bicara yang paling

penting dari arsitektur Nieuwe Bouwen. Kemudian, pada tahun 1943 publikasi

majalah ini dihentikan.

Aliran fungsionalisme merupakan anti pengulangan bentuk-bentuk lama

dengan menggunakan teknologi baru, anti terhadap ornamen, dekorasi tanpa

fungsi adalah hal yang sangat tidak diinginkan untuk dibuat karena aliran ini

mengutamakan rasional dalam membangun, bentuk yang sederhana yang terdiri

dari bentuk geometri yang mana bentuk geometri dihasilkan dari pemikiran yang

rasional (Wahid & Alamsyah, 2013). Bentuk geometri yang paling dominan pada

arsitektur fungsionalisme adalah kubus dan balok yang merupakan satu kesatuan

bentuk, sehingga aliran ini sering disebut arsitektur kubisme (Sumalyo, 1997).

 Perumahan Weissenhofsiedlung ( J.J.P Oud)

Perumahan Weissenhofsiedlung adalah perumahan yang dibangun untuk

pameran Deutscher Werkbund di Stuttgart pada tahun 1927. Perumahan ini terdiri

dari 60 tempat tinggal dengan 5 diantaranya didesain oleh J.J.P Oud, yaitu rumah

Universitas Sumatera Utara


31

ke-5 sampai rumah ke-9. Oud menggunakan beton untuk pertama kalinya pada

rumah - rumah ini. Selain beton, material yang digunakan adalah baja. Tangga

dan pintu terbuat dari baja.

Gambar 2.17 Tampak Depan dan Perspektif Bangunan


(Sumber : Alamy Stock Photo dan Wikipedia)

Bangunan ini memiliki bentuk yang kaku dan sederhana yaitu berbentuk

balok dan mengutamakan rasionalitas. Bentuk ini merupakan bentuk dari

international style (Sheumaker & Wajda, 2008) yang mana arsitektur Nieuwe

Bouwen merupakan penganut dari aliran internasional style (Handinoto, 1996).

Adanya balkon sebagai penghubung antara ruang dalam dan ruang luar. Pada

bagian luar bangunan terdapat taman sehingga udara yang masuk ke dalam

ruangan merupakan udara segar. Adanya pintu dan jendela yang menghadap ke

taman, sehingga dapat berhubungan langsung ke taman yang ada di halaman

belakang rumah.

Gambar 2.18 Tampak Belakang dan Pekspektif Bangunan


(Sumber : Alamy Stock Photo dan Wikipedia)

Universitas Sumatera Utara


32

 Van der Leeuw House

Van der Leeuw House merupakan rumah milik salah satu direktur pabrik

Van Nelle yang bernama C.H Van der Leeuw. Rumah ini dirancang oleh Leendert

Van der Vlugt pada tahun 1928. Bangunan ini menerapkan arsitektur Nieuwe

Bouwen fungsionalisme karena bangunan ini menerapkan konsep Nieuwe

Bouwen, yaitu keterbukaan dan dipengaruhi oleh arsitektur kubisme yang

merupakan konsep dari arsitektur fungsionalisme (Sumalyo, 1997). Selain itu,

pada bangunan tidak terdapat ornamen ataupun elemen hias yang mana arsitektur

fungsionalisme anti terhadap dekorasi.

Pada bangunan ini terdapat balkon agar ruang dalam dan luar dapat menyatu

dan udara maupun cahaya dapat masuk memenuhi ruang dalam. Tangga berada di

luar bangunan sehingga dapat menghubungkan ruang dalam dan ruang luar.

Gambar 2.19 Tampak Depan, Perspektif, dan Tangga pada Bagian Belakang Rumah
(Sumber : Wikipedia, [Link], dan Alamy Stock Photo)

 Rumah Sonnoveld

Rumah Sonnoveld didesain oleh Brinkman dan Van der Vlugt pada tahun 1929-

1933. Rumah ini merupakan milik dari salah satu direktur Van Nelle, yaitu

Albertus Sonnoveld.

Universitas Sumatera Utara


33

Gambar 2.20 Tampak Depan dan perspektif bangunan


(Sumber: Nai)

Bentuk bangunan ini menerapkan bentuk geometri dengan kubus sebagai

bentuk yang dominan. Dengan kata lain, bangunan memiliki bentuk yang kaku

karena mengutamakan rasionalitas dan tidak terdapat ornamen pada bangunan

yang mana arsitektur fungsionalisme anti terhadap dekorasi. Selain itu, bangunan

ini menggunakan material dan teknologi bangunan modern, seperti beton dan

rangka baja. Penggunaan teknologi dan material modern akan menciptakan

bangunan yang efisien dan higienis. Arsitek menginginkan bangunan yang

transparan, sehingga menciptakan lingkungan hidup yang sehat karena udara

segar dan cahaya matahari masuk ke dalam seluruh ruangan melalui jendela

horizontal pada fasad bangunan. Dinding luar harus terlihat seperti tirai karena

berbahan kaca.

Gambar 2.21 Tampak Belakang Bangunan dan Perspektif Belakang Bangunan


(Sumber: Nai dan Flickr)

Universitas Sumatera Utara


34

Tidak hanya udara dan cahaya menjadi slogan utama dari arsitektur

Nieuwe Bouwen, ruang juga merupakan hal yang penting dalam arsitektur

Nieuwe Bouwen, sehingga dalam arsitektur Nieuwe Bouwen ruang yang

diciptakan adalah ruang yang memberikan kenyamanan bagi penghuninya yang

mana kenyaman itu berasal dari kehangatan, terang, dan cahaya yang diberikan

oleh udara dan cahaya matahari yang masuk ke dalam ruang. Banyaknya pintu

terbuka menuju taman atau balkon mendorong penggunaan ruang sekitarnya yang

intensif karena banyaknya penghubung antar ruang dalam dan ruang luar. Balkon

dan taman pada atap didesain agar ruang dalam dapat terbuka ke ruang luar.

Dengan kata lain, ruang dalam dan ruang luar dapat terhubung. Pada ruang luar

terdapat area hijau sehingga menghasilkan udara yang segar karena tujuan utama

mereka adalah lingkungan hidup yang sehat.

2.5.3 Arsitektur Nieuwe Bouwen Lokal

Arsitektur Nieuwe Bouwen Lokal merupakan arsitektur Nieuwe Bouwen

yang mendapat pengaruh dari aliran arsitektur tradisional. Arsitektur ini mulai

muncul sesudah perang dunia pertama yang mana arsitek H.P Berlage merupakan

pelopor arsitektur modern di Belanda dan perantara antara tradisional dan modern

(Singelenberg, 1972), sehingga dalam beberapa karyanya mengandung unsur

tradisional. Selain itu, arsitektur ini mulai berkembang pada tahun 1930an saat

terjadi krisis ekonomi di Belanda, sehingga bangunan Nieuwe Bouwen tidak lagi

seperti pabrik Van Nelle dengan material utamanya adalah kaca, baja, dan beton.

Universitas Sumatera Utara


35

Arsitektur Tradisional merupakan arsitektur yang sesuai dengan tradisi

dari daerah atau negaranya. Konsep ini mengarah kepada arsitektur dengan bentuk

tradisional yang sederhana, dibangun dengan material tradisional (Ibelings, 1995).

Arsitektur tradisional Belanda ditandai dengan bangunan dengan skala

monumental, adanya gevel, cerobong asap, jendela berukuran kecil, ornamen hias

ataupun patung, gevel, dan atap pelana (Ibelings, 1995). Awalnya arsitek

tradisionalis menentang arsitektur fungsionalisme pada tahun 1930an, namun

pada akhirnya, mereka melakukan pembangunan secara produksi massal,

fabrikasi, dan berdamai dengan beberapa arsitek fungsionalis. Pada periode yang

sama, bangunan Nieuwe Bouwen mulai dirancang dengan skala monumental

dengan gaya tradisional (Ibelings, 1995).

Ada tiga contoh bangunan yang menerapkan arsitektur Nieuwe Bouwen lokal,

yaitu : Amsterdam Exchange, kantor Amstel Brewery, dan rumah susun

Zuidplein.

 Amsterdam Exchange

Bangunan ini adalah bursa efek yang dibangun di Damrak, pusat kota

Amsterdam oleh seorang arsitek bernama H.P Berlage pada tahun 1897 –

1903. Keberadaan bangunan ini sebagai tanda perubahan dalam sistem

ekonomi yang mana sebelumnya terjadi perkembangan dalam bidang industri.

Tujuan H.P Berlage dalam membangun gedung ini adalah untuk

menggabungkan gaya modern dengan gaya tradisional dan bangunan ini

menjadi tanda perubahan pola pemikiran dan konsep perancangan dari

tradisional ke modern.

Universitas Sumatera Utara


36

Amsterdam Exchange menggunakan konstruksi bata merah tanpa diplester

yang mana konstruksi ini menjadi ciri khas arsitektur tradisional Belanda dan

pada atap bangunan menggunakan konstruksi baja sebagai rangka atapnya dan

menggunakan kaca sebagai atapnya sehingga seluruh ruang yang ada di

bawahnya dipenuhi cahaya matahari. Tidak hanya pada atap, pada fasad

bangunan juga terdapat jendela kaca yang disusun berderet horizontal dan

vertikal, sehingga banyaknya cahaya matahari dan udara yang masuk ke dalam

ruangan melalui jendela-jendela tersebut. Hal ini menunjukkan adanya unsur

arsitektur Nieuwe Bouwen yaitu cahaya, udara, dan ruang.

Gambar 2.22 Tampak Depan dan Perspektif Bangunan


(Sumber : [Link])

Selain adanya unsur arsitektur Nieuwe Bouwen pada bangunan ini, adanya

unsur tradisional seperti terdapat gevel berbentuk segitiga pada fasad,

sebagian bangunan beratap pelana, dan terdapat menara yang tinggi sekitar

40m sehingga memberikan kesan monumental pada bangunan ini.

Gambar 2.23 Menara dan interior bangunan Amsterdam Exchange


(Sumber : [Link])

Universitas Sumatera Utara


37

Pada bangunan ini juga terdapat elemen dekorasi seperti ukiran dan patung

namun kehadirannya tidak mencolok karena dalam bangunan ini, H.P Berlage

menerapkan konsep kesederhanaan bentuk dan mengolah bagian-bagian bangunan

dalam komposisi yang harmonis ( Sumalyo, 1997)

Gambar 2.24 Patung dan ukiran pada fasad bangunan


(Sumber : [Link] )

 Kantor Amstel Brewery

Keterbatasan arsitektur Tradisionalisme tidak cocok untuk tugas modern

yang mana tidak memiliki batas referensi dalam sejarah. Kantor merupakan salah

satu tipe bangunan modern yang mana tradisionalis mampu menciptakan sebuah

bentuk untuknya. Hal ini menunjukkan bahwa arsitek ingin menggabungkan

arsitektur modern dan arsitektur tradisional dalam rancangannya. Contoh

bangunan yang dimaksud adalah kantor Amstel Brewery di Amsterdam (Ibelings,

1995).

Gambar 2.25 Aksonometri dan Perspektif Kawasan Amstel Brewery


(Sumber : Amfi dan Anp-archief)

Universitas Sumatera Utara


38

Kantor Amstel awalnya dibangun pada tahun 1870 di padang rumput tepi

sungai agar dapat lebih mudah mengambil air dalam pembuatan bir dan sebagai

jalur transportasi saat pengangkutan produk yang sudah jadi. Bangunan ini

dirancang oleh Eschauzier pada tahun 1930. Pada fasad bangunan menggunakan

material batu bata yang merupakan material tradisional dan terdapat pahatan pada

pintu masuk. Terdapat ornamen pada area sekeliling jendela dan pintu. Interior

bangunan diisi dengan perabotan yang menggunakan material modern yaitu baja

tubular (Ibelings,1995).

Gambar 2.26 Pekspektif dan Detail Pahatan yang Terdapat di Fasad Depan Bangunan
(Sumber : Panoramio dan Amsterdam)

Gambar 2.27 Detail Rangka Bangunan yang Terbuat dari Kayu dan Perabotan yang Terbuat dari
Baja
(Sumber : Iamsterdam)

Universitas Sumatera Utara


39

 Rumah Susun Zuidplein

Rumah susun ini dirancang oleh Willem van Tijen pada tahun 1940 di

Rotterdam. Departemen perkotaan memintanya untuk merancang rumah susun

yang terdiri dari ratusan rumah. Dia selesai merancang pada akhir tahun 1940 dan

akan dibangun pada tahun 1941, namun persiapan dihentikan karena terjadi

perang dunia kedua. Penggunaan material batu bata pada bangunan ini karena

kurangnya material kaca dan baja. Van Tijen juga berusaha untuk

mempertemukan arsitektur Tradisionalisme dan arsitektur modern pada

bangunannya yang ditandai dengan penggunaan material batu bata dan beton

(Ibelings, 1995). Van Tijen dibantu oleh Grossman dan Rietveld dalam

merancang bangunan ini. Pembangunannya dimulai pada akhir tahun 1946 setelah

perang dunia kedua sampai tahun 1949.

Gambar 2.28 Pekspektif Rumah Susun Zuidplein


(Sumber : Pinterest dan Rijssenbeek)

Universitas Sumatera Utara


40

Gambar 2.29 Konstruksi dan Rangka Baja yang Ada Pada Fasad Bangunan
(Sumber : Pinterest)

2.6 Perkembangan Arsitektur Nieuwe Bouwen di Indonesia

Pada tahun 1920, arsitektur modern sampai ke Indonesia yang dibawa oleh

arsitek Belanda yang berprofesi di Indonesia. Arsitektur ini disebut dengan

arsitektur Nieuwe Bouwen (new building) yang berorientasi ke Belanda dengan

melakukan penyesuaikan terhadap teknologi dan iklim setempat (Handinoto,

1996). Sama seperti arsitektur Barat lainnya, prinsip-prinsip arsitektur

fungsionalisme di Indonesia tidak hanya disesuaikan dengan keadaan tetapi juga

disesuaikan dengan kebutuhannya.

Arsitektur Nieuwe Bouwen di Indonesia juga menggunakan bentuk

umumnya yaitu kubus, silinder dan lengkungan (Akihary, 1990). Karya A.F

Aalbert di Bandung merupakan karya yang paling ekspresif dari Nieuwe Bouwen

di Indonesia. Bangunan yang dia desain adalah Hotel Savoy Homann, Denis

Bank, dan “Driekleur” di Bandung. Gaya bangunan tersebut menunjukkan

keterbukaan, garis fasad yang lembut, dan ruang luar memberikan pengaruh yang

kuat pada ruang dalam (Akihary,1990).

Universitas Sumatera Utara


41

Gambar 2.30 Hotel Savoy Homann, Bank Denis, dan Driekleur


(Sumber : bandungtourism, [Link], dan Youtube)

Selain A.F. Aalbert, arsitek yang menerapkan arsitektur Nieuwe Bouwen

adalah C.P. Wolff Schoemaker. Salah satu bangunannya adalah: Villa Isola.

Bentuk bangunan ini menggunakan bentuk silinder. Bangunan ini menunjukkan

pengaruh yang kuat dari Arsitektur Nieuwe Bouwen dalam konstruksi rangka

bajanya, jendela baja, dan beton bertulang.

Gambar 2.31 Tampak Depan Villa Isola dan Perspektif Villa Isola
(Sumber: Pinterest dan Sky-adventure)

Pada akhir tahun 1920, banyak bangunan yang menerapkan arsitektur

Nieuwe Bouwen karena para arsitek berkarya berpedoman pada gaya arsitektur

ini. Bentuk bangunan menjadi lebih kaku dan tidak seperti bentuk sebelumnya.

Gaya seperti ini menunjukkan peralihan awal menjadi gaya internasional. Contoh

bangunan yang menerapkan gaya ini adalah gedung Internasional di Surabaya.

Dibangun pada tahun 1927- 1931. Dirancang oleh Ir. Frans Johan Louwrens

Universitas Sumatera Utara


42

Ghijsels, pemimpin biro AIA (Algemeen Ingenieurs en Architecten Bureau)

(Handinoto, 2010).

Gambar 2.32 Perspektif Gedung Internasional


(Sumber: Liputanindonesianews dan Handinoto)

2.7 Adaptasi Arsitektur

Adaptasi adalah penyesuaian diri terhadap lingkungan yang baru. Menurut

Rachmadanti dan Antaryama (2013), adaptasi secara arsitektural memiliki

beberapa macam pendekatan, yaitu :

 Adaptasi terhadap lingkungan, seperti budaya dan teknologi bangunan


sekitar

 Adaptasi terhadap iklim

 Adaptasi bentuk bangunan terhadap tempat bangunan tersebut berada

 Adaptasi fungsi bangunan terhadap kondisi lingkungan.

Dari keempat pendekatan adaptasi berikut, yang akan dibahas adalah

adaptasi terhadap iklim dan teknologi bangunan karena arsitektur Nieuwe

Bouwen yang ada di Indonesia sepenuhnya berpedoman pada arsitektur Nieuwe

Bouwen yang ada di belanda dengan melakukan adaptasi terhadap iklim dan

teknologi setempat (Handinoto, 1996).

Universitas Sumatera Utara


43

Bentuk adaptasi terhadap iklim dapat dilihat pada fasad bangunan karena

fasad berasal dari bahasa latin yang merupakan sinonim dari kata face yang

artinya “wajah” dan appearance yang artinya “penampilan”, sehingga dapat

diartikan bahwa fasad merupakan bagian depan dan terluar bangunan

(Krier,2001). Dengan demikian, fasad merupakan elemen yang paling awal

menerima perubahan iklim (cuaca), sehingga pada fasad terdapat bentuk

penyesuaian terhadap kondisi iklim. Menurut Krier (2001), wajah bangunan yang

dikatakan fasad adalah wajah bangunan yang menghadap ke jalan.

Adaptasi iklim pada fasad dapat dilihat pada atap, bukaan, dan dinding

luar (Hardiman, 2013). Sedangkan teknologi bangunan berhubungan dengan

material (Ramachandran, 1991). Sehingga, untuk mengetahui bentuk adaptasi

arsitektur Nieuwe Bouwen pada bangunan kolonial Belanda di kota Medan, yaitu

dengan memperhatikan atap, bukaan, ventilasi atap, dinding luar, dan bahan

bangunan (material).

2.7.1 Adaptasi Iklim

1. Atap

Atap merupakan bagian paling atas pada bangunan yang paling dekat

dengan atmosfir (Krier, 2001). Sehingga, atap adalah elemen utama yang harus

diperhatikan dalam mengatasi perubahan iklim pada suatu tempat. Untuk itu, yang

harus diperhatikan adalah bentuk atap (Pujantara, 2013).

Universitas Sumatera Utara


44

2. Bukaan

Bukaan pada fasad terdiri dari ventilasi (ventilasi atap dan ventilasi

dinding), jendela dan pintu. Hal yang perlu diperhatikan adalah besar- kecilnya

bukaan dan letak bukaan ( Hardiman, 2013)

2. Dinding Luar

Dinding luar adalah elemen yang penting untuk diperhatikan untuk

mengatasi perubahan iklim karena dinding luar merupakan elemen bangunan yang

paling dekat dengan ruang luar selain atap. Hal yang perlu diperhatikan adalah

material dan warna dinding ( Pujantara, 2013).

2.7.2 Adaptasi Teknologi setempat

Kecanggihan dan kualitas teknologi setempat mempengaruhi produksi

bahan bangunan yang dapat dibuatnya (Ramachandran, 1991), sehingga yang

perlu diperhatikan adalah penggunaan material pada bangunan.

Universitas Sumatera Utara


45

2.8 Kerangka Teori

Arsitektur Arsitektur Modern

Sejarah perkembangan arsitektur Merupakan Awal dari


di dunia berdasarkan ciri-ciri perubahan secara
bentuk dan karakter arsitektural revolusioner yang
yang dibagi menjadi empat, yaitu membuat perubahan
: primitif, tradisional, klasik barat, pada pola pikir dan
dan modern (Sumalyo, 1997) pola hidup manusia
(Sumalyo, 1997).

Arsitektur Nieuwe Bouwen

Merupakan Arsitektur Modern Belanda yang dipelopori oleh H.P Berlage dan muncul pada tahun
1890. Istilah Nieuwe Bouwen mulai berkembang setelah tahun 1920. Karakter arsitektur ini
disebarkan di kongres CIAM, Swiss. Konsep dari Nieuwe Bouwen adalah fleksibel, cahaya,
transparan, kesehatan, dan higienis (Muller, 2011). Slogan utamanya adalah cahaya, udara, dan ruang
(Ibelings, 1995). Nieuwe Bouwen ada tiga jenis, yaitu:

Nieuwe Bouwen Ekspresionis Nieuwe Bouwen Fungsionalisme Nieuwe Bouwen Lokal

 Berbentuk kubus,  Bentuk dominan kubus dan  Bentuk bangunan yang


melengkung dan balok (kaku dan sederhana) kaku dan terdapat
silinder, serta adanya  Menggunakan jendela elemen yang
bentuk yang tidak horizontal yang panjang berdasarkan pada gaya
umum/distorsi pada fasad. tradisional yang
 Menggunakan  Anti terhadap ornamen, mempengaruhinya
material bata yang patung, dan elemen hias  Adanya penggunaan
tidak diplester dan lainnya material batu bata yang
ekspresif (brick  Dalam menciptakan bentuk tidak diplester
expressionism) hanya memikirkan fungsi  Adanya ornamen
 Adanya ornamen dan rasionalitas sculptural (pahatan)
geometris dan hias, dan patung.
seperti pahatan, serta  Adanya menara
elemen hias pada  Bangunan memiliki
fasad bangunan yang skala monumental
tak berfungsi sebagai
struktur. Adaptasi Arsitektur Nieuwe Bouwen di Indonesia
 Adanya menara yang Arsitektur Niewue Bouwen tersebar di Indonesia karena dibawa oleh
memiliki bentuk yang arsitek muda pada tahun 1920an. Arsitektur ini sangat popular dan
ekspresif . diterima di Indonesia termasuk di Medan. Arsitektur ini sepenuhnya
berpedoman pada arsitektur Nieuwe Bouwen yang ada di Belanda
dengan melakukan adaptasi terhadap iklim dan teknologi setempat
(Handinoto, 1996). Hal ini menyebabkan adanya perubahan antara
bangunan Nieuwe Bouwen di Belanda dengan bangunan kolonial
Belanda di kota Medan yang dipengaruhi oleh arsitektur Nieuwe
Bouwen.

Universitas Sumatera Utara


46

2.9 Kesimpulan

Arsitektur modern merupakan awal dari perubahan secara revolusioner

karena terjadinya revolusi industri pada awal abad ke-19, sehingga terjadi

perubahan pada pola pikir & pola hidup manusia (Sumalyo, 1996). Salah satu

arsitektur modern yang karakternya disebarkan di CIAM adalah arsitektur Nieuwe

Bouwen (Rebel, 1983). Nieuwe Bouwen merupakan arsitektur modern di Belanda

yang memiliki slogan utama yaitu : udara, cahaya, dan ruang (Ibelings,1995).

Pada tahun 1920, arsitektur Nieuwe Bouwen masuk dan berkembang di Indonesia

pada tahun 1920an dibawa oleh arsitek muda asal Belanda (Sumalyo, 1993:

Handinoto, 1996 : 2010), sehingga pada tahun 1920an banyak bangunan yang

dibangun dengan menerapkan gaya arsitektur Nieuwe Bouwen. Arsitek Belanda

merancang bangunan dengan gaya arsitektur ini sepenuhnya berorientasi ke

Belanda dengan menyesuaikan terhadap iklim dan teknologi setempat (Handinoto,

1996).

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai