0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
168 tayangan14 halaman

Rencana Pengendalian Fraud 2019

Fraud dapat terjadi karena faktor tekanan situasional, kesempatan, dan etika yang lemah. Untuk mencegah fraud, perlu dilakukan pengelolaan risiko fraud dengan menetapkan dan mengimplementasikan kebijakan dan prosedur anti fraud.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
168 tayangan14 halaman

Rencana Pengendalian Fraud 2019

Fraud dapat terjadi karena faktor tekanan situasional, kesempatan, dan etika yang lemah. Untuk mencegah fraud, perlu dilakukan pengelolaan risiko fraud dengan menetapkan dan mengimplementasikan kebijakan dan prosedur anti fraud.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FRAUD CONTROL PLAN (PROGRAM ANTI FRAUD/KORUPSI)

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Internal Audit

Dosen Pengampu: Tedi Rustendi, [Link]., Ak,. CA.

Disusun Oleh,

Reza Faisal Muharam 173403091

Mima Kharisma Mustika 173403094

Pratiwi Herdinadewi 173403101

Tresna Ayu Dwilestari 173403110

KRS A

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SILIWANGI

2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Banyaknya penindakan tehadap kasus korupsi bukanlah tujuan, karena korupsi

bukanlah sesuatu yang dikehendaki terjadi, maka upaya pencegahan atau preventif

jauh lebih baik dan masuk akal untuk dilaksanakan. Berangkat dari adagium;

mencegah itu lebih baik dari penindakan, dan perlunya suatu kebijakan represif untuk

preventif yaitu upaya pemulihan dampak korupsi melalui perbaikan system dan

prosedur yang lebih spesifik, maka BPKP telah mendesain dan mengembangkan suatu

program preventif yaitu Program Anti Korupsi atau Fraud Control Plan (FCP),

sebagai pedoman atau alat untuk mencegah dan mendeteksi fraud secara lebih dini.

Fraud Control Plan (FCP) yang diadopsi dari apa yang sudah dipraktekan di Negara

Australia dan Selandia Baru adalah suatu program yang dirancang untuk melindungi

organisasi dari kemungkinan terjadinya fraud / korupsi.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana definisi, tujuan dan ruang lingkup fraud?
2. Bagaimana fraud dapat terjadi?
3. Bagaimana penanganan bila terjadi fraud?

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Fraud

Istilah fraud diartikan sebagai penipuan atau kecurangan di bidang keungan untuk

memperoleh keuntungan sepihak bagi pelakunya. Fraud pada dasarnya merupakan

konsep hokum yang memiliki cakupan yang luas, The IIA (2016) mendefinisikan

fraud sebagai tindakan illegal yang bercirikan penipuan, penyembunyian, atau

penyalahgunaan kepercayaan, yang dilakukan oleh pihak tertentu dan organisasi

dengan maksud untuk mendapatkan uang, aset, atau jasa; atau menghindari

pembayaran atau kerugian atas jasa; atau untuk memperoleh keuntungan pribadi atau

bisnis. Sementara COSO (2016) menyatakan bahwa fraud merupakan tindakan yang

disengaja atau kelalaian yang dirancang untuk menipu pihak lain, sehingga korbannya

menderita kerugian dan atau pelaku mendapatkan keuntungan. Dengan demikian,

fraud merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara sengaja guna untuk

memperoleh keuntungan baik untuk pribadi ataupun organisasi, dengan cara

melakukan penipuan ataupun kecurangan terhadap pihak lain yang dapat merugiakan

pihak tersebut.

B. Ruang Lingkup Fraud

Dalam perspektif akuntansi, fraud memiliki sifat merembes (pervasive),

sedangkan tindak kejahatan selain memiliki sifat merembes juga berdasarkan

penuntuta (prosecution). Dalam perspektif organisasi, tindak kecurangan yang

dilakukan oleh unsur pegawai atau manajemen dalam suatu organisasi secara umum

dikategorikan fraud, kemudian bila ditemukan bukti hukum yang cukup sehingga

dapat memunculkan tuntutan terhadap pelaku maka tindak kecurangan tersebut

dikategorikan kejahatan. Dalam perspektif hukum yang mendahulukan kepentingan

2
umum (sosial), bila pihak eksternal organisasi (individu atau korporasi) melakukan

fraud yang merugikan suatu organisasi, atau suatu organisasi melakukan fraud yang

merugikan pihak eksternal (individu, korporasi, atau pemerintah), maka fraud

demikian langsung dikatakan sebagai tindak kejahatan (crime). Tindak kecurangan

dalam pengertian umum baik tanpa unsur pidana maupun terdapat undur pidana

dengan atau manajemen dalam suatu organisasi, sehingga terminologi yang digunakan

adalah fraud.

Dengan demikian, fraud pada dasarnya meliputi tindakan penyimpangan

(irregulaties) dan atau tindakan ilegal (illegal acts) yang mengandung unsur

kesengajaan, penipuan, dan dilakukan secara terorganisir dan tersamar. ACFE (2016)

mengkategorikan fraud :

1. Fraud Laporan Keuangan, yaitu skema kecurangan dengan sengaja melakukan

manipulasi informasi akuntansi atau keuangan sehingga mengakibatkan salah saji

materil pada laporan keuangan, dimana pelaku memperoleh manfaat langsung

atau tidak langsung yang bersifat keuangan atau jasa.


2. Penyalahgunaan Aset, yaitu skema kecurangan yang memanfaatkan sumber daya

berupa aset organisasi untuk kepentingan individu.


3. Korupsi, yaitu skema kecurangan yang menyalahgunakan kewenangan atau

kepercayaan dengan melakukan tindakan yang melanggar ketentuan hukum dan

regulasi untuk memperoleh manfaat langsung atau tidak langsung bagi pelaku.

C. Pelaku Fraud

Berdasarkan subjek pelaku, fraud dibedakan dalam dua kelompok subjek, yaitu:

3
1. Fraud yang dilakukan oleh pegawai (employee fraud) relatif sederhana, dimana

pelaku mengakali sistem pengendalian, dan atau menyalahgunakan kepercayaan

untuk kepentingan pribadi, misalnya mencuri aset berharga. Tujuan pelaku

biasanya hanya mengkonversi aset atau kas untuk kepentingan pribadi. Oleh

karena itu, fraud yang dilakukan oleh pegawai biasanya focus kepada

penyalahgunaan aset, dan korupsi (biasanya dilakukan dengan berkolusi).


2. Fraud yang dilakukan oleh manajemen umumnya bersifat kompleks karena terkait

dengan sistem organisasi secara keseluruhan atau beberapa sub-sistem dalam

sistem organisasi dan mungkin melibatkan beberapa pihak termasuk pegawai.

Tujuan pelaku umumnya lebih luas, misalnya: untuk memperoleh keuntungan

bagi individu atau kelompok manajemen, atau menguntungkan perusahaan secara

langsung dan pelaku secara tidak langsung. Guna mencapai tujuan tersebut,

pelaku umunya melakukan tindakan eksepsi terhadap pengendalian untuk

memuluskan kecurangannya, pelanggaran regulasi dan atau hukum, mengambil

kebijakan atau keputusan menyimpang karena konflik kepentingan. Dengan

demikian fraud yang dilakukan oleh manajemen dapat meliputi fraud laporan

keuangan, penyalahgunaan aset, dan korupsi.

Golden (2006) menyataan bahwa pelaku fraud umumnya memiliki tingkat

kecerdasan diatas rata-rata, berpendidikan, tipe orang yang mengambil risiko, tetapi

rasa khawatir dan empatinya sangat kurang. Selanjutnya dia mengemukakan hasil

studi para ahli yang menunjukkan bahwa perilaku pelaku fraud umumnya tidak dapat

mengendalikan diri, memiliki rasa percaya diri, dan ingin dihargai, serta termotivasi

berdasarkan hasrat untuk menjadi bagian dan diterima dengan kata lain pelaku ingin

dipandang sukses oleh pihak lain.

4
Peaku fraud melakukan tindak kecurangannya berdasarkan situasi tertentu,

terdorong oleh keserakahan (ekonomi, kekuasaan/politik), hasrat ingin merusak,

dendam, atau motif paling mendasar terdesak kebutuhan secara ekonomi.

D. Faktor Pemicu Fraud

Fraud berkenaan dengan perilaku individu atau kelompok yang tidak memiliki

integritas dalam mengemban wewenang dan tanggungjawabnya, yang dicirikan

dengan tindakan yang melanggar etika, regulasi dan/atau hukum. Oleh karena itu

untuk memahami skema fraud, maka perlu diketahui faktor pemicu terjadinya fraud,

yaitu:

1. Tekanan situasional (unshareable pressure), yaitu kondisi yang disebabkan oleh

faktor keuangan dan/atau non-keuangan yang dihadapi oleh pegawa atau

manajemen yang sulit dipecahkan dengan cara yang legal atau etis. Pada

umumnya hal ini disebabkan karena adanyua kebutuhan atau kepentingan yang

mendesak untuk mendapatkan atau mencapai sesuatu (uang, insentif, promosi atau

posisi).
2. Kesempatan (perceived opportunity), yaitu peluang yang dimiliki oleh pegawai

atau manajemen untuk melakukan tindak kecurangan yang timbul karena tidak

adanya atau lemahnya pengendalian internal.

5
3. Rasionalisasi kecurangan (fraud rationalization), yaitu pemikiran (moral hazard)

yang menjustifikasi tindak kecurangan sebagai suatu perilaku yang wajar karena

terdapat masalah buruknya attitude (rendahnya integritas/mengabaikan nilai

etika).
Sumber: Hall (2011)

Hall (2011) mengemukakan bahwa tekanan situasional (situational pressure),

kesempatan (opportunity), dan etika (ethics) akan mempengaruhi terjadi fraud oleh

pegawai atau manajemen. Personel yang memiliki etika baik dan dihadapkan pada

tekanan situasional yang rendah dan kesempatan terbatas, cenderung mencerminkan

perilaku yang jujur. Selanjutnya model seperti yang disajikan pada gambar yang

menghadapkan faktor etika dengan tekanan situasional dan kesempatan,

mengisyaratkan pentingnya memelihara nilai etika guna membentuk pribadi yang

berintegritas tinggi sehingga tercipta budaya kerja yang mengedepankan kejujuran

dan kebenaran (honest and truthful).

E. Pengelolaan Risiko Fraud

Pengelolaan risiko fraud merupakan bagian dari manajemen risiko organisasi

secara keseluruhan, dimana setiap organisasi mungkin menetakan dan

mengimplementasikannya secara berbeda-beda disesuaikan dengan karakteristik

perusahaan dan sifat kegiatan atau bisnisnya dari aspek kerentanan terhadap fraud.
6
Pengelolaan risiko fraud sebagai upaya pencegahan memiliki orientasi ke masa

yang akan datang, dimana konsep good governance menjadi strategis untuk

menciptakan praktik yang sehat dalam organisasi.

BPKP (2007) memberikan gambaran intensitas kegiatan dalam memerangi

korupsi di masa yang akan datang, dimana upaya preventif akan lebih dikedepankan

atau ditonjolkan sehingga upaya investigasi terhadap tindak korupsi dapat dikurangi

secara alamiah mengikuti tren positif efektivitas program fraud control plan.

Pentingnya upaya pencegahan fraud didasarkan kepada prtimbangan bahwa bila

fraud terjadi, maka :

1. Kerugian, kerusakan, dan kegagalan akibat fraud umumnya besar, sedangkan

pemulihan sistem memerlukan waktu, dan penggantian kerugian sangat kecil

dimana sebagian besar tidak dapat ditarik kembali


2. Penyelesaian hukum atas fraud memerlukan biaya yang sangat besar dan waktu

yang lama
3. Merusak reputasi organisasi dan manajemen yang berdampak terhadap

menurunnya kepercayaan masyarakat dan pemangku kepentingan terhadap

organisasi dan manajemen.


4. Fraud yang terlambat ditemukan cenderung membuka peluang bagi pelakunya

untuk menutupi kecuranggannya dengna kecurangan yang lain sehingga

kerugiannya semakin besar.

Pada sektor publik di Indonesia BPKP memperkenalkan sistem fraud control

plan/FCP sebagai upaya mengembangkan pengendalian spesifik pada institusi yang

meengelola keuangan negara dengan maksud untuk mencegah, menangkal dan

meudahkan pengungkapan kejadian yang terindikasi fraud. BPKP (2007)

mengemukakan unsur-unsur kerangka kerja fraud control plan yang terdiri atas :

7
1. Standar perilaku dan disiplin (conjunct and disciplinary), yaitu nilai-nilai anti

fraud yang harus dipatuhi oleh seluruh unsur organisasi, dan pihak eksternal yang

berkepentingan / memiliki keterkaitan kegiatan.


2. Penilaian risiko fraud (fraud risk accesment), yaitu penilaian secara komperhensif

guna perbaikan manajemen risiko fraud.


3. Kepedulian pihak-pihak yang berkepentingan (community awarness), yaitu

kesadaran dan kepedulian pihak internal dan eksternal organisasi terhadap

pencegahan fraud, dan kesiapan untuk melindungi pihak yang melaporkan adanya

fraud.
4. Sistem pelaporan fraud (fraud reporting system), yaitu sistem pelaporan dan

pengungkapan fraud.
5. Kebijakan makro yang terintegrasi (integrated macro policy), yaitu kebijakan

manajemen yang menempatkan fraud control plan sebagai bagian integral dari

governance organisasi.

BPKP (2007) menegemukakan bahwa penguatan dilakukan melalui penjabaran

kerangka kerja fraud control plan kedalam artribut-atribut sebagai berikut :

1. Kebijakan antri fraud


2. Struktur pertanggungjawban
3. Penilaian risiko fraud
4. Kepedulian pegawai
5. Kepedulian pelanggan dan masyarakat
6. Sistem pelaporan fraud
7. Perlindungan pelapor
8. Pengungkapan kepada pihak eksternal
9. Prosedur investigasi
10. Standar perilaku dan disiplin

Konsep yang lebih spesifik mempertegas peran audit internal dalam mencegah,

mendeteksi dan menginvestigasi fraud dikemukakan oleh The IIA 2009 yang

menyatakan bahwa pengelolaan risiko fraud yang efektif meliputi :

8
1. Kebijakan ketika organisasi yang dimulai dan diselaraskan dari atasan (tone of the

top) dimana manajemen senior harus memberikan contoh yang akan diikuti oleh

bawahannya
2. Kepedulian terhadap fraud, dimana semua unsur organisasi harus memiliki

pemahaman yang baik berkenaan dengan sifat, penyebab dan karakteristik fraud.
3. Penilaian risiko fraud, dimana manajemen harus mengevaluasi berbagai resiko

fraud.
4. Review yang dilakukan secara terus menerus, dimana aktivitas audit internal harus

menimbangkan risiko fraud pada setiap auditnya, dan melaksanakan prosedur

audit yang tepat berdasarkan risiko fraud.


5. Pencegahan dan pendeteksian, dimana manajemen harus berupaya mengurangi

peluang terjadinya fraud, dan meyakinkan setiap individu untuk tidak melakukan

fraud, sebab akan terdeteksi dan akan dikenakan sanksi.


6. Investigasi, yaitu orosedur yang dimaksudkan untuk menyelidiki dan melaporkan

kejadian yang diduga fraud.

Pendapatan yang komprehensif dalam pengelolaan risiko fraud menekankan

perbedaan dasar antara kelemahan pengendalian internal yang mengakibatkan

kesalahan, dan kelemahan yang mengakibatkan kecurangan. Proses pengelolaan risiko

fraud mengidentifikasi kemungkinan tindakan yang disengaja yang dirancang sebagai

skema fraud, misalnya salah saji informasi keuangan, salah saji informasi non-

keuangan, penyalahgunaan aset, atau tindakan melanggar aturan tindakan regulasi

hukum.

F. Penguatan Fungsi Audit Internal

Data yang dirilis oleh ACFE (2016) menunjukan bahwa secara umum hasil studi

terkait peran audit internal dalam pendeteksian fraud pada tahun 2016 di Asia Pasifik

9
(termasuk Indonesia) mencapai 15.80% dari keseluruhan kasus fraud yang berhasil

diidentifikasi.

Penguatan peran audit internal ditandai dengan tingkat kematangan organisasi

audit internal. Kematangan organisasi audit internal merupakan aspek penting dalam

menentukan tingkat peranan fungsi audit internal dalam mencegah, mendeteksi dan

menginvestigasi fraud. Keberhasilan pemberian jasa penjaminan (assurance) atau

konsultasi (consulting) ditentukan olej kapabilitas auditor internal baik secara

individual maupun organisasional. Sementara itu, peran audit internal yang dimaksud

dapat terealisasi bila ada komitmen dan dukungan nyata dari manajemen senior dan

komite audit untuk memperkuat organisasi audit internalnya dengan melaksanakan

ketentuan peraturan dan regulasi terkait fungsi audit internal, menempatkan orang

yang kompeten dan berintegritas, mengembangkan dan membina sumber daya

manusia (auditor) secara berkelanjutan, dan menyediakan sumber daya pendukung

yang memadai.

Pitt (2014) mengemukakan tingkat kematangan organisasi audit berdasarkan

maturity models, yaitu:

1. Foundation, dimana standar audit belum ditetapkan, aktivitas audit tidak rutin, dan

tidak profesional, staff auditor tidak kompeten.


2. Emergin, dimana standar audit ditetapkan tetapi kurang dipatuhi, aktivitas audit

dilakukan secara rutin dan profesional baik ad hoc maupun individual, dan

beberapa staff audit memiliki kualifikasi dan atau pengalaman, tetapi tidak secara

kolektif.
3. Established, dimana aktivitas audit secara profesional sesuai dengan standar audit

yang ditetapkan, dan staff auditor secara kolektif memiliki keahlian dan

pengalaman yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawabnya.

10
4. Embedded, dimana aktivitas audit baik dasar penjaminan maupun jasa konsultasi

memenuhi ekspektasi pemangku kepentingan, dan fokus kepada prioritas strategis,

serta pengembangan staff auditor dilakukan secara terstruktur dan sistemastis.


5. Reading, dimana aktivitas audit merupakan layanan unggulan dengan

memanfaatkan proses dan teknologi mutakhir, serta secara kolektif staff auditor

sangat ahli dan berpengalaman.

G. Kasus Fraud di Indonesia

sajikan penjualan dan persediaan pada 3 unit usaha, dan dilakukan dengan

menggelembungkan harga persediaan yang telah diotorisasi oleh Direktur Produksi

untuk menentukan nilai persediaan pada unit distribusi PT Kimia Farma per 31

Desember 2001. Selain itu manajemen PT Kimia Farma melakukan pencatatan ganda

atas penjualan pada 2 unit usaha. Pencatatan ganda itu dilakukan pada unit-unit yang

tidak disampling oleh auditor eksternal. Terhadap auditor eksternal yang mengaudit

laporan keuangan PT Kimia Farma per 31 Desember 2001, Bapepam menyimpulkan

auditor eksternal telah melakukan prosedur audit sampling yang telah diatur dalam

Standar Profesional Akuntan Publik, dan tidak ditemukan adanya unsur kesengajaan

membantu manajemen PT Kimia Farma menggelembungkan keuntungan.

Bapepam mengemukakan proses audit tersebut tidak berhasil mengatasi resiko

audit dalam mendeteksi adanya penggelembungan laba yang dilakukan PT Kimia

Farma. Atas temuan ini. Bapepam memberikan sanksi kepada PT Kimia Farma

administratif sebesar Rp 500 juta, Rp 1 milyar terhadap direksi lama PT Kimia Farma

dan Rp 100 juta kepada auditor eksternal (Tempo, 4 November 2002). Dalam kasus

PT Kimia Farma, terdapat kegagalan audit dimana akuntan publik tidak berhasil

mendeteksi adanya kesalahan. Penelitian Beasley (2001) dalam Herusetya (2007)

yang didasarkan pada AAERs (Accounting and Auditing Releases), selama periode

11
(Januari 1987 Desember 1997) menyatakan bahwa salah satu penyebab kegagalan

auditor dalam mendeteksi laporan keuangan adalah rendahnya tingkat skeptisisme

profesional auditor.

BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Fraud merupakan suatu problema publik yang memang sulit untuk dihilangkan

dengan demikian cara mengatasinya hanya dapat dilakukan melaui program

pencegahan serta upaya untuk menguranginya. Salah satu pihak yang berperan

penting dalam upaya pengendalian fraud yakni Auditor Internal. Auditor Internal

berperan sebagai pihak yang mengawasi serta mencegah terjadinya fraud di dalam

perusahaan.

B. Saran
Auditor Internal perlu memperketat pengawasan serta harus menjalin

komunikasi yang baik dengan pihak-pihak dapat dicurigai berpotensi melakukan

fraud. Tindakan pencegahan sangatlah penting, untuk itu diperlukan kecermatan

seorang auditor internal dalam hal mendteksi indikasi yang menandakan adanya

rencana kegiatan fraud maupun fraud yang sedang terjadi, sebab umumnya pelaku

fraud sangat licik dalam hal menyembunyikan kegiatan ilegallnya.

12
DAFTAR PUSTAKA

Menzelthe, Yohanes. 2015. PENGARUH PROFESIONALISME, SKEPTISISME


PROFESIONAL, DAN PENGALAMAN TERHADAP KUALITAS AUDIT (Tesis).
Dapat diunduh di : [Link]

Rustendi, Tedi. 2018. Fraud Pencegahan dan Pengungkapannya Dalam Perspektif Audit
Internal. Mujahid Press, Bandung.

13

Anda mungkin juga menyukai