HUBUNGAN PENGETAHUAN ORANG TUA DENGAN
PERILAKU KEKERASAN VERBAL PADA ANAK
Leony Manggivera Indika, Dewi Rokhanawati
Universitas'Aisyiyah Yogyakarta Program Studi DIV Bidan Pendidik
E-mail: dewik.2011@[Link]
Abstract: This study aims to determine knowing the relationship of parental
knowledge with verbal abuse behavior in children at Kindergarten ABA
Tegalrejo, 2017. This study used a correlation study with cross sectional
time approach. Methods of data collection using primary data by using
questionnaire. Respondents of this study consisted of 69 respondents, using
purposive sampling technique of data analysis using Kendall Tau. Kendall
Tau with a p value of 0.016 (p<0.05), indicates that there is a relationship
between parental knowledge with verbal violence behavior in children.
Hopefully TK ABA Tegalrejo can cooperate with Puskesmas Tegalrejo in
order to conduct routine socialization activities related to verbal violence, so
it can increase the insight of the guardian of the students.
Keywords: verbal abuse, parental knowledge
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui hubungan
pengetahuan orang tua dengan perilaku kekerasan verbal pada anak di TK
ABA Tegalrejo tahun 2017. Penelitian ini menggunakan studi korelasi dengan
pendekatan waktu cross sectional. Metode pengumpulan data menggunakan
data primer dengan menggunakan kuesioner. Responden penelitian ini terdiri
dari 69 responden, menggunakan teknik purposive sampling. Analisa data
menggunakan Kendall Tau. Kendall Tau dengan nilai p sebesar 0,016
(p<0,05), menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara Pengetahuan orang
tua dengan perilaku kekerasan verbal pada anak. Dengan begitu diharapkan
TK ABATegalrejo dapat melakukan kerjasama dengan Puskesmas Tegalrejo
agar dapat melakukan kegiatan sosialisasi rutin terkait dengan kekerasan
verbal, sehingga dapat menambah wawasan para wali murid.
Kata kunci: kekerasan verbal, pengetahuan orang tua
Leony M Indika, Dewi Rokhanawati, Hubungan Pengetahuan Orang Tua ... 105
PENDAHULUAN pengetahuan orang tua itu sendiri terkait
Hasil pantauan Pusat Data dan Infor- kekerasan verbal. Kekerasan verbal dapat
masi Komnas Anak menunjukkan 62% ke- terjadi bahkan tanpa disadari oleh orang tua.
kerasan terhadap anak terjadi di lingkungan Bahkan tanpa disadari,orang tua setiap hari
yang dekat dengan anak. Kekerasan meru- melakukan verbal abuse terhadap anaknya.
pakan tindakan yang disengaja yang menga- Bentuk dari verbal abuse itu umumnya
kibatkan cidera fisik atau tekanan mental. dilakukan dalam bentuk mengancam,
Salah satu penyebab terjadinya kekerasan mengkritik, membentak, mengucilkan anak,
verbal adalah dikarenakan kurangnya pe- memberikan julukan negatif pada anak
ngetahuan orang tua itu sendiri terkait (Fitriana, 2015).
kekerasan verbal (Putri, 2012). Peran pemerintah dalam penanganan
Komisi Perlindungan Anak Indonesia kasus kekerasan tertuang dalam UU No.23
(KPAI) mencatat per April 2015, terjadi Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pasal
6006 kasus kekerasan anak di Indonesia. 59, yang berbunyi: “Pemerintah dan lembaga
Angka ini meningkat signifikan dari tahun negara lainnya berkewajiban dan bertanggung
2010 yang hanya 171 kasus. Sementara jawab untuk memberikan perlindungan
pada tahun 2011 tercatat sebanyak 2.179 khusus kepada anak dalam situasi darurat,
kasus, 2012 sebanyak 3.512 kasus, 2013 anak yang berhadapan dengan hukum, anak
sebanyak 4311, dan 2014 sebanyak 5.066 dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak
kasus (KPAI, 2015). tereksploitasi secara ekonomi dan/atau
Menurut Wong (2009) bentuk dari seksual, anak yang diperdagangkan, anak
kekerasan pada anak terdiri dari physical yang menjadi korban penyalahgunaan
abuse, sexual abuse, emotional abuse dan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat
neglect. Emotional abuse (kekerasan adiktif lainnya (napza), anak korban
emosional) yang biasanya juga lebih sering penculikan, penjualan dan perdagangan, anak
disebut dengan kekerasan verbal paling korban kekerasan baik fisik dan/atau mental,
banyak didapat oleh anak-anak dari orang- anak yang menyandang cacat, dan anak
tua mereka. Dampak dari kekerasan verbal korban perlakuan salah dan penelantaran dan
biasanya tidak berdampak secara fisik pasal 78 dan 80 yang berisi tentang sanksi
kepada anak. bagi pelaku tindak kekerasan”.
Verbal abuse yang dilakukan orang Berdasarkan studi pendahuluan yang
tua menimbulkan luka lebih dalam pada penulis lakukan di Dinas Pemberdayaan
kehidupan anak melebihi perkosaan. Dam- Perempuan dan Masyarakat Kota Yogya-
pak psikologi pada kekerasan verbal dianta- karta, didapati hasil rekap data angka keja-
ranya anak menjadi tidak peka dengan dian kekerasan di kecamatan Kota Yogya-
perasaan orang lain, gangguan perkem- karta tahun 2016 menunjukkan jumlah
bangan, anak menjadi agresif, gangguan kekerasan di Mantrijeron adalah sebanjak
emosi, hubungan sosial menjadi terganggu, 31, Mergangsan 14, Tegalrejo 66, Danu-
memiliki kepribadian sociopath atau anti- rejan 25, Gedong Tengen 7, Umbulharjo 29,
social personality disorder, menciptakan Kota Gede 22, Kraton 10, Wirobrajan 22,
lingkaran setan dalam keluarga, rendahnya Ngampilan 9, Jetis 12, Gondomanan 12,
motivasi belajar dan yang terparah adalah Pakualaman 12, Gondokusuman 22
bunuh diri (Lestari, 2016). (DPMPPA, 2016).
Salah satu penyebab terjadinya keke- Hasil wawancara dengan 10 wali
rasan verbal adalah dikarenakan kurangnya murid di TK ABA Tegalrejo didapatkan
106 Jurnal Kebidanan dan Keperawatan, Vol. 13, No. 2, Desember 2017: 104-110
bahwa tujuh orang tua tidak mengetahui pengetahuan cukup sebanyak 27 responden
tentang kekerasan verbal dan dampak (39,1%) dan responden dengan penge-
kekerasan verbal pada anak. tahuan kurang sebanyak 23 responden
(33,3%). Berdasarkan data tersebut dapat
METODE PENELITIAN diketahui bahwa sebagian besar responden
Penelitian ini menggunakan studi tidak memiliki pengetahuan cukup yaitu 27
korelasi dengan pendekatan waktu cross responden (39,1%).
sectional. Metode pengumpulan data
menggunakan data primer dengan menggu- Tabel 2. Distribusi Frekuensi Perkem-
nakan kuesioner. Populasi dalam penelitian bangan Bayi
ini adalah orangtua yang memiliki anak yang
bersekolah di TK ABA Tegalrejo. Besar Perilaku
No F (%)
Kekerasan Verbal
sampel dalam penelitian adalah 69 respon-
1 Tinggi 46 66,7
den. Teknik pengambilan data dengan
2 Sedang 23 33,3
menggunakan teknik purposive sampling.
Total 69 100,0
Analisa data menggunakan kendall tau.
HASIL PENELITIAN DAN Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui
PEMBAHASAN bahwa seluruh responden memiliki perilaku
kekerasan dengan tingkat kekerasan tinggi
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Penge- dan sedang. Responden yang memiliki peri-
tahuan Orangtua tentang laku kekerasan verbal tinggi sebanyak 46
kekerasan verbal responden (66,7%), responden yang memi-
liki perilaku kekerasan verbal sedang seba-
No Pengetahuan F (%) nyak 23 responden (33,3%).
1 Baik 19 27,5 Dari tabel 3 terlihat bahwa responden
2 Cukup 27 39,1 berpengetahuan baik dengan kejadian keke-
3 Kurang 23 33,3 rasan verbal tinggi sebanyak 10 orang
Total 69 100,0 (14,4%) dan kejadian kekerasan sedang
sebanyak 9 orang (13,0%). Responden
Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui berpengetahuan cukup dengan perilaku
bahwa responden yang memiliki penge- kekerasan verbal tinggi sebanyak 16 orang
tahuan baik sebanyak 19 responden (23,1%) dan kejadian kekerasan sedang
(27,5%), responden yang memiliki sebanyak 11 orang (15,9%). Responden
Tabel 3. Hubungan Pengetahuan Orangtua dengan Perilaku Kekerasan Verbal
Tingkat Perilaku Kekersan Verbal
Pengeta- Tak Terjadi Ringan Sedang Tinggi Total
huan F % F % F % F % F %
Baik 0 0 0 0 9 13,0 10 14,4 19 27,5
Cukup 0 0 0 0 11 15,9 16 23,1 27 39,1
Kurang 0 0 0 0 3 4,33 20 28,9 23 33,3
Total 0 0 0 0 23 33,3 46 66,6 69 100
Sumber: Data Primer, 2017
Leony M Indika, Dewi Rokhanawati, Hubungan Pengetahuan Orang Tua ... 107
berpengetahuan kurang dengan perilaku cukup, terdiri dari 10 responden sebagai ibu
kekerasan verbal tinggi sebanyak 20 orang rumah tangga (IRT), 7 responden dengan
(28,9%) dan perilaku kekerasan verbal pekerjaan swasta, dan 10 responden de-
sedang sebanyak 3 orang (4,34%). ngan pekerjaan wiraswasta. Terdapat 23
responden dengan pengetahuan rendah,
Pengetahuan Orangtua terdiri dari 15 responden sebagai ibu rumah
Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang tangga (IRT), 2 responden dengan peker-
terjadi setelah orang melakukan penginde- jaan swasta, dan 6 responden sebagai wira-
raan terhadap suatu objek tertentu. Hasil swasta.
penelitian menunjukkan bahwa dari 69 res- Hasil penelitian terhadap 69 respon-
ponden didapati hasil 19 responden (27,5%) den, berdasarkan usia, dapat diketahui
berpengetahuan baik, terdiri dari 15 respon- bahwa 19 responden memiliki pengetahuan
den perempuan dan 4 responden laki-laki, baik, terdiri dari 23 responden berusia 31-
sebanyak 27 responden (39,1%) berpe- 40 tahun, 7 responden berusia 20-30 tahun.
ngetahuan sedang, terdiri dari 23 responden Terdapat 27 responden memiliki penge-
perempuan dan 4 responden laki-laki, serta tahuan cukup, terdiri dari 14 responden
sebanyak 23 responden (33,3%) berpe- berusia 20-30 tahun, 12 responden berusia
ngetahuan rendah, terdiri dari 20 responden 31-40 tahun dan 1 responden berusia 41-
perempuan dan 3 responden laki-laki. 50 tahun. Terdapat 23 responden memiliki
Jumlah tingkat pendidikan terakhir pengetahuan kurang, terdiri dari 7 respon-
responden dengan persentase tertinggi ada- den berusia 20-30 tahun, 11 responden
lah SMA dengan jumlah 45 orang (65,3%), berusia 31-40 tahun, dan 5 responden
terdiri dari 11 responden berpengetahuan berusia 41-50 tahun.
baik, 17 responden berpengetahuan cukup, Tingkat pendidikan merupakan salah
dan 16 responden berpengetahuan rendah. satu aspek sosial yang dapat mempengaruhi
Responden dengan pendidikan terakhir tingkah laku manusia. Pendidikan akan
SMP sebanyak 15 orang (21,8%), terdiri mempengaruhi seseorang dalam melakukan
dari 7 responden berpengetauan baik, 5 respon terhadap sesuatu yang datang dari
responden berpengetahuan cukup, dan 3 luar. Orang yang mempunyai pendidikan
orang berpengetahuan kurang. lebih tinggi akan mempberikan respon yang
Responden dengan pendidikan tera- lebih rasional dibandingkan mereka yang
khir sarjana sebanyak 8 orang (11,5%), tidak berpendidikan tidak mampu meng-
terdiri dari seorang responden berpenge- hadapi tantangan dengan rasional (Noto-
tahuan baik, 5 responden berpengetahuan atmodjo, 2007).
cukup, dan 3 responden berpengetahuan Pendidikan adalah bimbingan yang
kurang. Ada 1 orang responden (1,4%) diberikan oleh seseorang kepada perkem-
berpendidikan SD dengan pengetahuan bangan orang lain menuju ke arah cita-cita
rendah. tertentu. Pendidikan diperlukan untuk men-
Berdasarkan jenis pekerjaan respon- dapatkan informasi Semakin tinggi pendi-
den, didapati hasil bahwa terdapat 19 dikan seseorang semakin mudah informasi
responden memiliki pengetahuan baik, terdiri diterima. Semakin banyak pula pengetahuan
dari 10 responden sebagai ibu rumah tangga yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang
(IRT), 7 responden dengan pekerjaan swas- kurang akan menghambat perkembangan
ta, dan 2 responden dengan pekerjaan wira- sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang
swasta. 27 responden berpengetahuan baru diperkenalkan. Semakin cukup umur
108 Jurnal Kebidanan dan Keperawatan, Vol. 13, No. 2, Desember 2017: 104-110
seseorang, tingkat pengetahuan seseorang abuse, sexual abuse, emotional abuse dan
akan lebih matang atau lebih baik dalam neglect. Emotional abuse (kekerasan
berpikir dan bertindak. Makin muda sese- emosional) yang biasanya juga lebih sering
orang akan mempengaruhi tingkat pengeta- disebut dengan kekerasan verbal paling
huan (Notoatmodjo, 2007) banyak didapat oleh anak-anak dari orang
tua mereka. Bahkan tanpa disadari, orang
Perilaku Kekerasan Verbal tua setiap hari melakukan verbal abuse
Berdasasarkan hasil penelitian dari 69 pada anaknya. Bentuk dari verbal abuse itu
responden didapatkan hasil terdapat umumnya dilakukan dalam bentuk meng-
perilaku kekerasan verbal tinggi dan perilaku ancam, mengkritik, membentak, mengecil-
kekerasan verbal sedang dengan presentase kan anak, memberi julukan negatif pada
perilaku kekerasan verbal tinggi sebanyak anak.
46 responden (66,6%) dan perilaku keke- Banyak orangtua yang tidak menge-
rasan verbal sedang sebanyak 23 responden tahui atau mengenal informasi mengenai
(33,3%). Sehingga dapat disimpulkan bah- kebutuhan perkembangan anak, misalnya
wa seluruh responden melakukan kekerasan anak belum memungkinkan untuk melaku-
verbal pada anaknya dan mayoritas respon- kan sesuatu, tetapi karena sempitnya penge-
den melakukan kekerasan verbal pada anak tahuan orangtua anak dipaksa melakukan
dengan kejadian tinggi. dan ketika memang belum bisa dilaku-
Berdasarkan hasil penelitian dari 69 kan,orangtua menjadi marah, membentak
responden didapati hasil 58 responden pe- dan mencaci anak (Soetjaningsih, 2007).
rempuan (84%) melakukan perilaku keke- Hasil penelitian menunjukkan bahwa
rasan verbal dan 11 responden laki-laki dari 69 responden didapati hasil 19 respon-
(16%) melakukan kekerasan verbal. Berda- den (27,5%) berpengetahuan baik, 27
sarkan usia responden dapat diketahui responden (39,1%) berpengetahuan se-
bahwa responden dengan rentang usia 20- dang, dan 23 responden (33,3%) berpenge-
30 tahun memiliki perilaku kekerasan verbal tahuan rendah. Sehingga dapat disimpulkan
yang tinggi sebanyak 21 responden, 20 bahwa mayoritas responden memiliki pe-
responden berperilaku kekerasan verbal ngetahuan sedang.
tinggi pada usia 31-40 tahun, dan 5 Dari 19 responden yang berpengeta-
responden dalam rentang usia 41-50 tahun. huan baik terdapat kejadian kekerasan ver-
Perilaku kekerasan verbal tertinggi ter- bal tinggi sebanyak 10 orang (14,4%) dan
jadi pada responden yang memiliki 2 orang kejadian kekerasan sedang sebanyak 9
anak yaitu sebanyak 25 responden (37,6%) orang (13,0%). Responden berpengetahuan
dan perilaku kekerasan verbal dengan fre- cukup dengan perilaku kekerasan verbal
kuensi sedang sebanyak 15 responden tinggi sebanyak 16 orang (23,1%) dan
(21,8%)pada responden yang memiliki 2 kejadian kekerasan sedang sebanyak 11
orang anak. Responden dengan penghasilan orang (15,9%). Responden berpengetahuan
d”1.500.000 memiliki perilaku kekerasan kurang dengan perilaku kekerasan verbal
verbal tertinggi dengan presentase 28 res- tinggi sebanyak 20 orang (28,9%) dan
ponden (40,5%) berperilaku kekerasan perilaku kekerasan verbal sedang sebanyak
verbal tinggi dan 12 (17,3) responden de- 3 orang (4,34%). Sehingga dapat disim-
ngan perilaku kekerasan verbal sedang. pulkan bahwa mayoritas responden memi-
Menurut Wong (2009) bentuk dari liki pengetahuan tentang kekerasan verbal
kekerasan pada anak terdiri dari physical rendah dan perilaku kekerasan verbal tinggi
Leony M Indika, Dewi Rokhanawati, Hubungan Pengetahuan Orang Tua ... 109
dengan jumlah 20 orang responden. lebih kecil dari 0,05. Dalam penelitian ini
Dari 20 responden yang memiliki didapatkan nilai korelasi Kendall Tau yaitu
pengetahuan kurang dengan perilaku keke- sebesar -0,276 dengan taraf signifikansi (p-
rasan verbal tinggi terdapat pertanyaan yang value) 0,016. Hasil uji statistik menunjukkan
paling banyak terjawab salah oleh responden p-value <0,05 sehingga dapat disimpulkan
yaitu pertanyaan yang menggali tentang terdapat hubungan pengetahuan orang tua
pengertian dari kekerasan verbal, dari 20 dengan perilaku kekerasan verbal pada
responden 14 responden menjawab salah. anak di TK ABA Tegalrejo.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa mayo- Pandangan yang keliru tentang posisi
ritas responden tidak mengetahui tentang anak dalam keluarga. Orang tua meng-
pengertian kekerasan verbal. Pandangan anggap bahwa anak adalah seorang yang
yang keliru tentang posisi anak dalam kelu- tidak tahu apa-apa. Dengan demikian pola
arga. Orang tua menganggap bahwa anak asuh apapun berhak dilakukan oleh orang
adalah seorang yang tidak tahu apa-apa. tua. Orang tua yang mempunyai harapan-
Dengan demikian pola asuh apapun berhak harapan yang tidak realistik terhadap peri-
dilakukan oleh orangtua (Lestari, 2016). laku anak berperan memperbesar tindakan
Hasil penelitian sesuai dengan pene- kekerasan pada anak. Demikian juga, ku-
litian Annora Mentari Putri (2012) yang rangnya pengetahuan orang tua tentang
menyebutkan bahwa orang tua menyebut- pendidikan anak dan minimnya pengetahuan
kan bahwa kekerasan pada anak hanya ke- agama orangtua dapat melatarbelakangi
kerasan berbentuk fisik saja seperti memu- kejadian kekerasan pada anak (Fitriana,
kul, menjewer dan melempar dengan benda. 2015).
Orang tua masih melakukan kekerasan Hasil penelitian ini sesuai dengan
verbal pada anak meskipun mereka men- penelitian Inna Nurul Rahmawati (2006)
gerti tentang kekerasan verbal. Orang tua yang menyatakan bahwa pengetahuan orang
berpendapat bahwa dampak dari kekerasan tua berpengaruh dengan kejadian kekerasan
verbal tidak terlalu berat jika dibandingkan verbal pada anak. Salah satu faktor yang
dengan kekerasan fisik. mempengaruhi terjadinya kekerasan verbal
Berdasarkan analisis butir soal kuesio- adalah pengetahuan. Banyak orangtua yang
ner dapat disimpulkan bahwa dari 69 res- tidak mengetahui atau mengenal informasi
ponden yang paling banyak menjawab salah mengenai kebutuhan perkembangan anak,
adalah pada butir soal yang menggali tentang misalnya anak belum memungkinkan untuk
pengertian dari kekerasan verbal, keba- melakukan sesuatu. Karena sempitnya pe-
nyakan orang tua menganggap bahwa me- ngetahuan orang tua, anak dipaksa mela-
marahi anak adalah bentuk dari mendisi- kukan sesuatu. Ketika anak belum bisa
plinkan anak, bukan kekerasan verbal. melakukannya, orangtua menjadi marah,
Berdasarkan hasil penelitian terhadap membentak dan mencaci anak.
69 responden, dapat diketahui bahwa jenis Salah satu faktor yang mempengaruhi
kekerasan verbal yang sering dilakukan oleh pengetahuan adalah pendidikan. Tingkat
orangtua adalah bentuk intimidasi. Menurut pendidikan merupakan salah satu aspek
Lestari (2016), tindakan intimidasi adalah sosial yang dapat mempengaruhi tingkah
tindakan berupa berteriak, menjerit, meng- laku manusia. Pendidikan akan mempe-
ancam dan mengertak anak. ngaruhi seseorang dalam melakukan respon
Hasil uji statistik dengan analisa terhadap sesuatu yang datang dari luar.
Kendall Tau dapat diketahui bahwa nilai p Orang yang mempunyai pendidikan lebih
110 Jurnal Kebidanan dan Keperawatan, Vol. 13, No. 2, Desember 2017: 104-110
tinggi akan memberikan respon yang lebih DAFTAR RUJUKAN
rasional dibandingkan mereka yang tidak DPMPPA. 2015. Rekapitulasi Data
berpendidikan tidak mampu menghadapi Kejadian Kekerasan. Yogyakarta
tantangan dengan rasional (Notoatmodjo, Fitriana, Yuni. 2015. Faktor-Faktor yang
2007). Berhubungan dengan Perilaku
Orang Tua dalam Melakukan
SIMPULAN DAN SARAN Kekerasan Verbal Terhadap Anak
Usia Pra-Sekolah. Skripsi.
Simpulan Universitas Diponegoro.
Tingkat pengetahuan orang tua tentang
kekerasan verbal di TK ABA Tegalrejo, KPAI. 2015. Kasus Kekerasan pada
mayoritas responden berpengetahuan se- Anak. Diakses tanggal 9 Februari
dang yaitu sebanyak 27 responden 2017 dari [Link].
(39,1%), berpengetahuan kurang sebanyak Lestari,T. 2016. Verbal Abuse Dampak
23 responden (33,3%), dan 19 responden Buruk dan Solusi Penanganan-
(27,5%) berpengetahuan baik. nya pada Anak. Psikosain:
Kejadian kekerasan verbal di TK ABA Yogyakarta
Tegalrejo adalah mayoritas responden me- Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kese-
miliki perilaku kekerasan verbal tinggi, yakni hatan dan Ilmu Perilaku, Rineka
sebanyak 46 responden (66,6%) dan Cipta: Jakarta.
perilaku kekerasan verbal sedang, sebanyak Rahmawati, Ina Nurul. 2006. Faktor-
23 responden (33,3%). Faktor yang Mempengaruhi
Hasil uji statistik dengan analisa Ken- Orang Tua Melakukan Verbal
dall Tau diketahui bahwa nilai p lebih kecil Abuse pada Anaknya di Kelu-
dari 0,05 dengan taraf signifikansi (p-value) rahan Bulusan Kecamatan Tem-
0,016. Hasil uji statistik menunjukkan p- balang Kota Semarang. Univer-
value <0,05. Dengan demikian, dapat sitas Dipenogoro: Semarang.
disimpulkan adanya hubungan pengetahuan Putri, Annora. 2012. Persepsi Orang Tua
orang tua dengan perilaku kekerasan verbal tentang Kekerasan Verbal pada
pada anak di TK ABA Tegalrejo. Anak. Universitas Diponegoro:
Semarang.
Saran
Saran kepada Kepala TK ABA Tegal- Soetjiningsih. 2007. Tumbuh Kembang
rejo, diharapkan TK ABA Tegalrejo dapat Anak. EGC: Jakarta.
melakukan kerjasama dengan Puskesmas Wong. D.L. 2009. Buku Ajar Kepera-
Tegalrejo agar dapat melakukan kegiatan watan Pediatrik. Edisi 6. EGC:
sosialisasi rutin terkait dengan kekerasan Jakarta.
verbal. Wulandari, P.Y. 2006. Efektivitas Senam
Kepada orang tua, diharapkan hasil Hamil dalam Menurunkan Kece-
penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan masan Menghadapi Persalinan
sebagai evaluasi diri agar orang tua dapat Pertama. online, (http:/[Link].
lebih mendidik anak secara cerdas bukan [Link]), Diakses 27 November
secara keras. 2013.