0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
469 tayangan6 halaman

Prosedur RJP untuk Perawat

Laporan praktikum RJP menjelaskan prosedur resusitasi jantung paru yang meliputi: 1. Definisi RJP sebagai tindakan kedaruratan yang memberikan pernapasan buatan dan masase jantung eksternal secara manual untuk mengalirkan oksigen ke otak dan mencegah kerusakan jaringan. 2. Protokol meliputi pembukaan saluran napas, kompresi dada, dan ventilasi bergantian untuk orang dewasa, anak-anak, dan bayi.

Diunggah oleh

Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
469 tayangan6 halaman

Prosedur RJP untuk Perawat

Laporan praktikum RJP menjelaskan prosedur resusitasi jantung paru yang meliputi: 1. Definisi RJP sebagai tindakan kedaruratan yang memberikan pernapasan buatan dan masase jantung eksternal secara manual untuk mengalirkan oksigen ke otak dan mencegah kerusakan jaringan. 2. Protokol meliputi pembukaan saluran napas, kompresi dada, dan ventilasi bergantian untuk orang dewasa, anak-anak, dan bayi.

Diunggah oleh

Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM KD V

RJP ( Resusitasi Jantung Paru)


Oleh Ratna Susiyanti, 1106053363

1. Pengertian tindakan
RJP merupakan prosedur kedaruratan yang berupa pernapasan buatan dan masase
jantung eksternal yang manual. Pelaksanaan resusitasi sesuai perubahan yang ditetapkan
oleh AHA 2010 yaitu “CAB” adalah upaya untuk melakukan penekanan dada
(compression), membentuk jalan napas (airway) yang lancar, dan mempertahankan
sirkulasi (breathing).
2. Tujuan dari tindakan
Mengalirkan darah yang mengandung oksigen ke otak dalam upaya mencegah kerusakan
jaringan yang permanen.
3. Kompetensi dasar lain yang harus dimiliki untuk melakukan tindakan
Pemantauan tindak lanjut:
a. Setelah pasien berhasil di resusitasi, perawat harus memantau dengan cermat
keadaan, karena pasien beresiko besar mengalami henti jantung kembali.
b. Pemantauan EKG secara terus menerus sangat penting dan bila ada irama abnormal
harus segera dikoreksi
c. Keseimbangan elektrolit asam basa harus segera diperbaiki dan dipertahankan.
d. Pemantauan hemodinamika harus segera dimulai.
e. Obat-obatan tertentu yang dapat digunakan selama dan sesudah resusitasi harus siap
sedia.
4. Indikasi, kontraindikasi, komplikasi dari tindakan
Indikasi:
a. Ancaman gagal nafas
b. Ancaman henti jantung
Kontra Indikasi:
a. Fraktur Kosta, trauma thorax
b. Pneumothorax, Emphysema berat
c. Cardiac tamponade
d. Cardiac arrest lebih dari 5-6 menit
e. Keadaan terminal penyakit yang tidak dapat disembuhkan, misalnya Gagal Ginjal
Kronis
Komplikasi:
a. Fraktur iga
b. Laserasi hati
Penghentian RJP:
a. Jika penderita sudah tidak memberikan respon yang stabil.

1
b. Pupil dilatasi maksimal
c. Tidak ada respon spontan setelah RJP selama 15-30 menit
d. Gambaran EKG sudah flat
5. Anatomi daerah yang akan menjadi target tindakan

6. Aspek keamanan dan keselamatan (safety) yang harus diperhatikan


a. Mengetahui indikasi dan kontraindikasi tindakan.
b. Kompresi dilakukan antara sternum dan vertebra, apabila kompresi dilakukan di atas
prosesus xifoideus maka hati korban akan mengalami laserasi.
c. Jari-jari tidak boleh menyentuh dada untuk mengurangi terjadinya resiko fraktur iga
selama kompresi.
7. Protokol/ tahap/ prosedur tindakan
SATU PERAWAT
1. Kaji ketidakadaan respons, observasi adanya pernapasan spontan, palpasi nadi
karotis, tanyakan, “Apakah Anda baik-baik saja?”
2. Minta bantuan: di rumah sakit, hubungi sebuah “kode” di rumah sakit, di
komunitas, hubungi nomor telepon kedaruratan. Untuk anak dan bayi, lakukan RPJ
selama satu menit penuh sebelum menelepon untuk meminta bantuan.
3. Tempatkan korban pada posisi telentang pada permukaan datar dan keras atau
gunakan papan-punggung (back-board).
4. Kaji adanya nadi karotis, pemeriksaan nadi harus dilakukan selama 5 sampai 10
detik.
a. Nadi karotis merupakan arteri yang letaknya paling sentral dan paling mudah
ditemukan pada anak-anak berusia lebih dari 1 tahun. Namun, pada bayi,
lehernya yang pendek dan gemuk membuat nadi karotis sulit di palpasi.
Dengan demikian,arteri brakialis direkomendasikan
5. Mulailah dengan melakukan kompresi jantung eksternal.
Orang dewasa:
a. Posisi tangan yang benar:

2
1) Tangan penyelamat terletak di bawah batas rangka iga korban di samping
langsung si penyelamat.
2) Jari-jari digerakkan ke arah atas rangka iga untuk menandai tempat
pertemuan iga dengan sternum bagian bawah di tengah dada bagian
bawah.
3) Letakkan tumit telapak tangan pada separuh bagian bawah sternum
letakkan telapak tangan lain pada bagian atas tangan yang berada di atas
sternum sehingga kedua tangan menjadi paralel.
4) Jari-jari dapat diekstensikan atau saling menempel, tetapi tidak boleh
menyentuh dada.
b. Tegangkan siku, pertahankan lengan lurus dan bahu tepat di atas kedua
tangan di atas sternum korban:
1) Lakukan kompresi dada dengan kedalaman minimal 2 inchi (5 cm).
2) Lakukan kompresi dada dengan kuat dan cepat, setidaknya 100 kali /
menit. Lakukan 15 kali kompresi eksternal dengan menghapal “satu dan,
dua dan, tiga dan...” sampai 15.
3) Kompresi harus menjadi 50% siklus lepas-kompresi.
c. Ventilasi paru-paru dengan dua kali napas lambat dari penyelamat.
d. Kaji kembali korban setelah empat siklus kompresi lengkap (15 kompresi, dua
kali ventilasi pada setiap siklus).
Bayi (1-12 bulan)
a. Posisi tangan yang benar:
1) Bayangkan garis imajiner antara puting susu di atas tulang payudara
(sternum).
2) Letakkan jari telunjuk tangan yang terjauh dari kepala bayi tepat di bawah
garis inframamae tempat jari tersebut berinterseksi dengan sternum.
b. Lakukan kompresi dengan menggunakan dua atau tiga jari, yaitu 1 ½ sampai 2
inchi (4cm) minimal 100 kali/menit.
c. Pada akhir setiap kompresi ke lima, beristirahatlah sejenak untuk melakukan
ventilasi. (1 ½ detik).
d. Kaji kembali korban setelah 10 siklus (5 kompresi, 1 ventilasi pada setiap
siklus).
Anak (1 sampai 7 tahun)
a. Posisi tangan benar:
b. Tangan terletak batas bawah rangka iga korban di samping langsung
penyelamat dengan jari telunjuk dan jari tengah.
c. Ikuti batas rangka iga dengan jari tengah sampai titik pertemuan titik iga
dengan sternum.
d. Letakkan jari telunjuk di sebelah jari tengah.
e. Letakkan tumit tangan dei depan titik tempat jari telunjuk berada dengan aksis
panjang tumit sejajar dengan sternum.

3
f. Tangan lain dari penyelamat mempertahankan posisin kepala anak.
g. Kompresi sternum dengan satu tangan dengan kedalaman dari sedikitnya
sepertiga anterior-posterior (AP) diameter dada, yaitu sekitar 2 inchi (5 cm)
dengan kecepatan 100 kali/menit.
h. Pada kahir setiap kompresi kelima, berikan jeda sejenak untuk ventilasi (1-1 ½
detik)
i. Kaji kembali korban setelah 10 kali siklus. (5 kompresi, 1 ventilasi setiap
siklus).
6. Selanjutnya yaitu melakukan buka jalan napas (airway) yang dimulai dengan
berlutut pada sisi korban.
7. Buka jalan napas korban untuk meningkatkan oksigenasi dan ventilasi:
a. Manuver mengangkat dagu/memiringkan kepala (orang dewasa dan anak-
anak):
Tempatkan satu tangan pada dahi korban dan berikan tekanan yang kuat ke
arah belakang dengan menggunakan telapak tangan untuk memiringkan kepala
ke arah belakang. Letakkan jari-jari tangan yang lain di bawah bagian tulang
rahang sebelah bawah dekat dagu dan angkat untuk membawa dagu ke depan
dan gigi hampir menutupi, sehingga menyokong rahang dan membantu dalam
memiringkan kepala ke belakang. Jari-jari tidak perlu menekan dengan dalam
ke dalam jaringan lunak di bawah dagu. Ibu jari tidak perlu digunakan untuk
mengangkat dagu.
b. Manuver mendorong rahang (orang dewasa dan anak-anak): pegang sudut
bagian bawah rahang korban dan angkat dengan kedua tangan, satu tangan
pada setiap sisi, menggerakkan mandibula ke depan sambil memiringkan ke
arah belakang.
8. Persiapkan pernapasan buatan:
a. Untuk resusitasi mulut ke mulut pada orang dewasa, jepit hidung dan mulut
korban. Pada bayi, tempatkan di hidung dan mulut bayi.
b. Untuk resusitasi kantung Ambu, gunakan masker wajah dengan ukuran tepat
dan pasang pada mulut dan hidung korban.
9. Berikan pernapasan buatan (breathing):
a. Untuk resusitasi mulut ke barier pada orang dewasa, tarik napas dalam dan
sekat bibir di sekeliling mulut korban, menghasilkan sekat kedap udara.
Berikan dua kali aliran napas secara perlahan, 1 ½ sampai 2 detik setiap kali
diikuti dengan 8 sampai 10 napas per menit.
b. Untuk resusitasi mulut ke barier pada anak atau bayi, berikan dua kali aliran
napas secara perlahan, 1-1 ½ detik per napas dengan istirahat di antaranya
sehingga penyelamat bisa mengambil napas, diikuti 20 kali napas per menit.

4
c. Untuk pernapasan buatan dengan kantung Ambu pada orang dewasa, tekan
kantung dengan maksimal setiap dua kali napas.
d. Untuk resusitasi dengan kantung Ambu pada seorang anak, gunakan dua
kompresi kantung yang berukuran kecil.
10. Observasi naik turunnya dinding dada setiap kali klien bernapas. Apabila paru-paru
tidak mengembang, atur kembali posisi kepala dan leher dan periksa adanya
obstruksi jalan napas yang terlihat, misalnya vomitus.
11. Isap setiap sekresi jalan napas. Apabila tidak tersedia alat isap, tolehkan kepala
klien ke salah satu sisi.

DUA PERAWAT
Satu orang mengambil posisi di sisi korban dan melakukan kompresi jantung eksternal,
sedangkan yang lain tetap berada di kepala korban, mempertahankan jalan napas tetap
terbuka dan memantau nadi karotis. Kecepatan kompresi setidaknya 100 kali/ menit dan
kompresi harus menjadi 50% siklus kompresi-lepas. Dengan perbandingan antara
kompresi-ventilasi badalah 5:1 yang disertai istirahat sejenak supaya penyelamat dapat
½
mengambil napas secara perlahan (selama 1 - 2 detik). Apabila pemberi kompresi
merasa letih, maka penyelamat harus bertukar posisi sesegera mungkin setiap dua menit.
8. Hal-hal penting yang harus diperhatikan bagi perawat dalam melakukan tindakan
a. Usia Klien.
b. Indikasi dan kontraindikasi dari tindakan.
c. Meminimalkan gangguan dalam kompresi.
d. Menghindari ventilasi berlebihan.
e. Meminta bantuan seseorang menghubungi rumah sakit segera setelah melihat klien
tidak sadarkan diri.
f. Melakukan penekanan dada dengan cepat dan kuat.
g. Mengetahui dan dapat melakukan teknik RJP yang tepat.
9. Hal-hal penting yang harus dicatat/diobservasi selama tindakan
a. Umur Klien
b. Naik turunnya dada.
c. Udara yang keluar selama ekhalasi
d. Denyut nadi karotis

Daftar Pustaka
Potter, P. A. & Perry, A. G. (2005). Fundamental keperawatan:konsep, proses, dan praktik.
(Terj. Yasmin Asih, et al). Jakarta: EGC.

5
Smeltzer, S. C. & Bare, B. G. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
Travers, A.H, et al. (2010). 2010 American Heart Association guidelines for
cardiopulmonary resuscitation and emergency cardiovascular care science: CPR
overview. [Link] diakses
tanggal 1 Mei 2013.

Anda mungkin juga menyukai