PRAKTIKUM
MESIN-MESIN LISTRIK
JOB I
Pengenalan Terco dan Power Pack
Dosen : Dr. Hansi Effendi, S.T., [Link]
Oleh :
Irma Faryani (17063114)
PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2018/2019
A. TUJUAN
1. Mempelajari konstruksi torsi listrik TERCO dengan Power Pack
2. Mempelajari penggunaan torsi listrik TERCO dan Power Pack
3. Mengidentifikasi data-data TERCO dan Power Pack pada name plate
masing-masing peralatan
B. TEORI
Torsi motor listrik yaitu suatu alat yang berfungsi untuk mengoperasikan
suatu mesin listrik dengan fungsi menjalankan atau mengerem dan setiap
parameter-parameter dari mesin listrik yang dioperasikan dapat diukur.
Torsi meter terdiri dari satu mesin DC yang statornya terhubung dinamis dan
tergandeng dengan suatu indikator keseimbangan. Keseimbangan tersebut
dihubungkan dengan suatu counterweight, yang jangkauannya yaitu ± 25 Nm.
Pada panel depan dari torsi tersebut terdapat alat ukur, shunt rheostat, dan terminal
mesin.
Torsi meter dihubungkan atau bertindak sebagai motor (motor penggerak) jika
ingin diselidiki yaitu karakteristik pembangkitan (generator) dari suatu mesin tes
(mesin DB, sinkron dan asinkron). Torsi meter dihubungkan atau bertindak sebagai
generator jika yang ingin diselidiki yaitu karakteristik motor dari suatu mesin tes.
Power Pack TF 123 merupakan sumber tenaga yang digunakan untuk
percobaan di labor untuk mesin-mesin listrik dan sistem tenaga. Alat ini
mempunyai dua macam tegangan keluaran yaitu tegangan konstan dan variabel.
Konstruksinya yaitu terdiri dari trafo tiga fasa, penyearah dan tegangan variabel
yang dihubungkan dengan trafo sehingga tegangan konstan dan tegangan variabel
baik AC maupun DC dapat disuplai. Tegangan keluaran AC diproteksi dengan
menggunakan diazed fuses, sedangkan keluaran DC oleh super-fast silized fuses.
C. PERALATAN
1. Torsi motor listrik MV 100
2. Power Pack MV 1300
3. Voltmeter 240 V
D. PROSEDUR
1. Power Pack
a. Pelajari tegangan keluaran pada terminal di panel depan. Tegangan
berikut akan ada, yaitu dari kiri ke kanan :
1) Tegangan DC konstan, 220 V
2) Tegangan DC yang dapat divariasikan dengan sebuah tombol
besar di tengah dari 0 s/d 240 V
3) Tegangan AC 3 fasa yang juga dapat divariasikan dengan tombol
besar di tengah dari 3 x 0-220. Perlu dicatat bahwa tegangan
variabel DC dan tegangan 3 fasa secara serentak dengan tombol
tersebut. Jadi mereka tidak dapat di set menjadi nilai-nilai yang
berbeda secara serentak
4) Tegangan AC 3 fasa konstan, 220/127 V
b. Hubungkan power pack dengan sumber tegangan 3 fasa. Cek seluruh
switch pada power pack dalam keadaan off
c. Hubungkan voltmeter pada terminal sebelah kiri, 220 V DC
d. Hidupkan switch utama di bawah panel depan. Lampu penunjuk di
sebelah switch akan hidup
e. Hidupkan switch tegangan DC konstan 220 V. Baca dan buat catatan
mengenai tegangannya. Amati bahwa penyimpangan dari 220 V
mungkin terjadi tergantung dari variasi tegangan utama
f. Hubungkan voltmeter ke terminal tegangan DC variabel. Set tombol
pengatur ke 100 dan hidupkan switch tegangan variabel DC.
Voltmeter masih menunjukkan angka nol, karena power pack
memiliki switch pengunci internal sehingga tombol harus diturunkan
ke nol untuk kembali memperoleh tegangan DC variabel
g. Putar tombol ke nol lalu kembali ke 100. Baca dan buat catatan
mengenai besar tegangan. Matikan switch tegangan DC variabel dan
switch tegangan DC konstan. Catatan : untuk mendapatkan tegangan
DC variabel, switch tegangan DC konstan juga harus dihidupkan. Hal
ini untuk menghindari terhubungnya tegangan rotor sebelum
tegangan medan utuk mesin listrik. Hal ini berlaku untuk
keselamatan. Sebagai contoh, jika switch tegangan DC konstan
dimatikan sebelum DC variabel maka tegangan DC variabel akan
terputus.
h. Hubungkan voltmeter ke tegangan terminal AC. Hidupkan switch dan
buat catatan mengenai tegangan ketika tombol di set pada posisi 100.
Matikan switch tegangan variabel AC
i. Hubungkan voltmeter ke terminal R dan 0. Hidupkan switch dan catat
penunjukkan voltmeter. Matikan switch tegangan variabel AC
j. Hubungkan voltmeter ke terminal S dan 0. Hidupkan swicth dan catat
tegangan terukur, matikan switch tegangan AC konstan. Matikan
switch utama
k. Hubungkan voltmeter ke terminal dan 0. Hidupkan switch dan catat
tegangan. Matikan switch tegangan AC konstan. Matikan switch
utama.
2. Torsi Motor
a. Buat hubungan torsi meter sebagai motor (motor penggerak)
berdasarkan diagram rangkaian pada bagian E
b. Hubungan rangkaian harus di cek oleh dosen atau teknisi yang
bertugas
c. Hidupkan switch utama dan switch tegangan DC konstan. Hidupkan
shunt rheostat dan cek alat ukur dan amati arus penguatan motor
maksimum.
d. Set tegangan variabel DC ke nol dan hidupkan switch. Lalu secara
perlahan-lahan naikkan tegangan menjadi 220V. motor akan berputar
searah jarum jam
e. Atur shunt rheostat sehingga arus medan 0,2 S. vatat kecepatan
(pengontrolan kecepatan shunt). Kembalkan rheostat ke arus
maksimum
f. Putar tombol tegangan variabel pada power pack menjadi 100. Catat
kecepatan putaran (control kecepatan tegangan rotor)
g. Turunkan tegangan DC ke nol. Matikan switch tegangan DC konstan
(tegangan medan). Catatan : tegangan medan harus selalu dimatikan
terakhir.
3. Penutup
a. Setiap selesai melaksanakan praktikum, kembalikan semua peralatan
yang digunakan ke dalam toolbox, minta teknisi untuk memeriksa
kelengkapan perlatan.
b. Buatlah laporan harian berdasarkan data-data yang di dapatkan selama
praktikum
c. Bersihkan workshop dan rapikan kembali meja dan kursi
E. DIAGRAM RANGKAIAN
F. HASIL PENGAMATAN
1. Power Pack
Tabel 1.1 Hasil pengamatan power pack
Hasil
Pengukuran Penyimpangan
Pengukuran
Tegangan
DC konstan 230 V 10 V
220 V
Tegangan DC
Tegangan DC
variabel (posisi 250 V 30 V
100)
Tegangan AC Terminal R-0 140 V
(skala 3x220/133 Terminal S-0 140 V
VAC) Terminal T-0 130 V
2. Torsi Motor
Tabel 2.1 Hasil pengamatan torsi motor
Pengontrollan
Parameter Kecepatan Kecepatan
Shunt Tegangan Rotor
Arus Medan (If) 0,2 A 0,78 A
Tegangan 110 VDC 200 VDC
Pengatur VDC Variabel 42 % 82 %
Kecepatan Putaran Motor 1200 rpm 1200 rpm
G. ANALISA
Pada praktikum kali ini mengenai pengenala Power Pack dan Terco. Dalam
percobaan power pack, melakukan pengukuran terhadap setiap terminal
tegangan, diantaranya tegangan DC konstan dan variabel, dan juga terminal
tegangan AC konstan. Dari percobaan ini terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam melakukan pengukuran seperti yang telah dipaparkan pada
langkah kerja. Hasil yang pengukuran dilihat pada tabel 1.1. Dari hasil
pengamatan, terdapat beberapa penyimpangan tegangan yang didapatkan dari
hasil pengukuran voltmeter, dengan tegangan yang tertulis pada label
parameter. Seperti pada tegangan DC konstan 220 V, yang terukur sebesar 230
V. Terdapat penyimpangan sebesar 10 V. Walaupun demikian, hal ini masih
dibatas wajar.
Selanjutnya adalah percobaan dengan torsi meter. Pada langkah ke E
kecepatan putaran motor semakin naik ketika arus medan diturunkan menjadi
0.2 A. Sedangkan kecepatan putaran motor yang dibolehkan adalah tidak boleh
melebihi 1400 rpm (berdasarkan nameplat). Oleh sebab itu dilakukan
pengontrolan terhadap tegangan rotor (tegangan DC variabel) menjadi 110 V
dari 220 V. Sehingga motor berputar kurang dari 1400 rpm yaitu sebesar 1200
rpm. Kemudian hal serupa juga terjadi ketika tegangan rotor dinaikkan menjadi
200 V yang awalnya 110 V. Ini membuat kecepatan motor menjadi lebih besar/
cepat. Oleh karena itu dilakukan pengontrollan arus medan menjadi 0,78 A.
Maka dari itu, diperlukan pengontrollan terhadap baik itu arus medan, dan
tegangan rotor untuk mengatur kecepatan putaran motor agar tidak melebihi
1400 rpm.
H. TUGAS
1. Dalam percobaan, terangkan kenapa tegangan rotor harus dimatikan
terlebih dahulu sebelum tegangan medan?
Tegangan rotor harus dimatikan sebelum tegangan medan, alasannya
adalah jika tegangan medan terlebih dahulu dimatikan, maka rotor akan
tetap bertegangan sementara tidak ada lagi medan magnet yang
menyebabkan rotor berputar. Kemudian alasan yang lain adalah rotor akan
berhenti berputar disebabkan tidak adanya medan magnet yang dihasilkan
stator, sementara rotor masih mendapatkan tegangan rotor. Dengan begini,
terlebih dahulu harus dimatikan tegangan rotor sebelum tegangan medan
agar menghindari rotor bertegangan tanpa adanya gaya putar.
2. Gambarkan pengontrolan kecepatan shunt, sebagai contoh terangkan
kenapa kecepatan naik ketika arus penguat diturunkan (tunjukkan
rumus sederhana untuk putaran sebagai fungsi dari tegangan rotor
dan flux medan)
Kecepatan naik ketika arus penguat diturunkan, ini terjadi pada langkah ke
E percobaan torsi meter. Kecepatan putaran motor semakin naik ketika
arus medan diturunkan menjadi 0.2 A. Sedangkan kecepatan putaran
motor yang dibolehkan adalah tidak boleh melebihi 1400 rpm
(berdasarkan nameplat). Oleh sebab itu dilakukan pengontrolan terhadap
tegangan rotor (tegangan DC variabel) menjadi 110 V dari 220 V.
Sehingga motor berputar kurang dari 1400 rpm yaitu sebesar 1200 rpm.
Ini juga ditunjukkan dari persamaan
𝑉𝑡 − 𝐼𝑎. 𝑅𝑎
𝑛=
𝑘. ∅
Dimana
n : putaran
k : konstanta
Ø ; fluks magnet
Ra : tahanan jangkar
Ia : arus jangkar
Vt : tegangan jangkar/rotor
Maka putaran motor atau kecepatan motor dapat diatur dengan
mengubah tegangan rotor (Vt), Ra dan fluks magnet. Sehingga dengan
mengatur tegangan jangkar dan fluks magnet tetap, dapat menghasilkan
torsi yang diinginkan agar meghasilkan output motor yang diinginkan
pula.
3. Gambarkan pengontrolan kecepatan rotor, sebagai contoh:
terangkan mengapa kecepatan naik dengan naiknya tegangan rotor.
Kecepatan motor naik dengan naiknya tegangan rotor. Hal ini terjadi
sebab dengan ditambahnya suplai tegangan ke motor akan mengakibatkan
besar tegangan induksi yang menjadikan bertambah pula gaya putar motor.
Dengan bertambahnya gaya putar ini maka kecepatan motor juga akan
meningkat.
I. DAFTAR PUSTAKA
Tim Labor Mesin-Mesin Listrik. 2017. Jobsheet Praktikum Mesin-Mesin
Listrik. Padang: Universitas Negeri padang