BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 1
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Konsep Pembelajaran
Pembelajaran merupakan setiap kegiatan yang dirancang oleh
guru/pendidik untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau
nilai yang baru dalam suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan,
pelaksanaan dan evaluasi dalam konteks kegiatan belajar mengajar. Dengan
demikian, pembelajaran merupakan perpaduan yang harmonis antara kegiatan
mengajar yang dilakukan guru dan kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa.
Pembelajaran merupakan suatu proses dan melibatkan berbagai aspek, karena itu,
untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif diperlukan keterampilan.
Mengajar adalah salah satu tugas pokok guru. Oleh karena itu kompetensi
profesional yang mendukung kemampuan guru dalam mengajar haruslah mendapat
perhatian sungguh-sungguh dan menjadi penekanan (stressing point) dalam
program penyiapan calon guru.
Mengajar merupakan aktivitas yang kompleks yang mengandung unsur
teknologi, ilmu seni, dan pilihan nilai. Dari aspek teknologi, mengajar dipandang
sebagai prosedur kerja dengan mekanisme dan penggunaan perangkat alat yang
dapat diuji dan dilatih secara empirik. Dalam konteks yang sebenarnya mengajar
mengandung banyak tindakan yang mencangkup keterampilan-keterampilan dasar
mengajar. Dalam pelaksanaannya di ruang kelas, mengajar menggunakan sejumlah
keterampilan secara terpadu, dilandasi oleh nilai-nilai dan memanfaatkan teknologi.
Aktivitas mengajar, dengan demikian memerlukan kompetensi profesional yang
cukup kompleks, sebagai integrasi kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh.
Latihan mengajar lengkap dan terintegrasi seperti pada Praktek Pengalaman
Lapangan (PPL), harus didahului dengan latihan keterampilan bagian-bagian
komponen dari proses mengajar secara terpisah melalui micro teaching sehingga
guru atau calon guru dapat menguasai satu per satu keterampilan dasar mengajar
tersebut. Melalui pembelajaran mikro, pembentukan keterampilan dapat dilakukan
secara sistematik mulai dari pemahaman, perencanaan, pelaksanaan dan observasi
untuk kemudian hasil observasi dan rekaman video dijadikan sebagai feed back
untuk perbaikan.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 2
Dalam micro teaching, tata pelaksanaan pembelajaran disederhanakan
sehingga dapat mengurangi kerumitan yang lazim yang terdapat dalam proses
pembelajaran. Guru juga secara langsung memperoleh umpan balik atas
penampilannya, sehingga bila terjadi kelemahan dan kekurangan dapat diperbaiki.
Begitu juga sebaliknya, ia akan mendapat penguatan bila keterampilan yang
ditampilkannya telah baik. Melalui proses latihan dalam microteaching inilah
pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperoleh selanjutnya dikembangkan
melalui PPL di sekolah-sekolah di bawah pengawasan kepala sekolah, guru pamong
dan supervisor atau pembimbing PPL. Dengan demikian, pengembangan
kompetensi guru dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan dalam suatu program
yang sistematik.
Dengan demikian, dasar pemikiran pelaksanaan micro teaching adalah:
1. Guru sebagai profesional seharusnya memiliki tiga modal dasar yaitu
pemahaman yang mendalam terhadap hal-hal yang bersifat filosofis,
konseptual, dan skill (keterampilan)
2. Pembelajaran merupakan suatu proses dan melibatkan berbagai aspek. Karena
itu, untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif diperlukan keterampilan.
3. Keterampilan mengajar merupakan kompetensi professional yang cukup
kompleks, sebagai integrasi kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh.
4. Sekumpulan teori yang diperoleh di perkuliahan tidak akan mampu secara
otomatis membuat calon guru menghadapi berbagai problema yang ada dalam
kelas. Persoalan terkait penguasaan materi, relevansi metode dan strategi,
manajemen kelas, tempat praktik dan mekanisme pengaturan waktu akan
muncul secara bersamaan melahirkan situasi baru yang belum pernah ditemui
oleh mahasiswa/calon guru sebelumnya.
B. Komponen Dasar Pembelajaran
1. Pengertian Microteaching
Secara etimologis, micro teaching berasal dari dua kata yaitu micro berarti
kecil, terbatas, sempit dan teaching berarti pembelajaran. Secara terminologis,
micro teaching didefinisikan dengan redaksi yang berbeda-beda, namun memiliki
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 3
subtansi makna yang sama. Berikut dikemukakan beberapa pengertian
pembelajaran mikro menurut beberapa orang ahli:
1. Menurut George Brown (1975), pembelajaran mikro adalah kegiatan mengajar
dalam skala kecil (mikro) yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan
baru dan memperbaiki keterampilan yang lama.
2. Menurut Roestiyah (1982), pembelajaran mikro merupakan suatu kegiatan
mengajar dimana segala sesuatunya dikecilkan atau disederhanakan.
3. Menurut Wallace (1995), pembelajaran mikro merupakan pembelajaran yang
disederhanakan. Situasi pembelajaran dikurangi lingkupnya, tugas guru
dipermudah, mata pelajaran dipendekkan dan jumlah peserta didik dikecilkan.
4. J. Cooper & D.W. Allen (1971) mengatakan bahwa pembelajaran mikro adalah
studi tentang suatu situasi pembelajaran yang dilaksanakan dalam waktu dan
jumlah tertentu, yakni selama empat atau sampai dua puluh menit dengan
jumlah siswa sebanyak tiga sampai sepuluh orang, bentuk pembelajaran di
sederhanakan, guru memfokuskan diri hanya pada beberapa aspek.
Pembelajaran berlangsung dalam bentuk sesungguhnya, hanya saja
diselenggarakan dalam bentuk mikro.
5. Hasibuan (1988) mengatakan bahwa pembelajaran mikro adalah metode
latihan yang dirancang sedemikian rupa dengan jalan mengisolasi bagian-
bagian komponen dari proses pembelajaran sehingga calon guru/pendidik
dapat menguasai keterampilan satu per satu dalam situasi mengajar yang
disederhanakan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa micro teaching berarti suatu
metode latihan yang dirancang sedemikian rupa untuk memperbaiki keterampilan
mengajar calon guru dan atau mengembangkan pengalaman profesional guru
khususnya keterampilan mengajar dengan cara menyederhanakan atau
memperkecil aspek pembelajaran seperti jumlah murid, waktu, fokus bahan ajar
dan membatasi penerapan keterampilan mengajar tertentu, sehingga dapat
diidentifikasi berbagai keunggulan dan kelemahan pada diri guru/calon guru secara
akurat. Dengan demikian, diharapkan aktivitas mengajar yang kompleks, yang
memerlukan berbagai keterampilan dasar dapat dikuasai satu per satu oleh
guru/calon guru.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 4
Sesuai dengan sebutannya “mikro”, maka situasi dan aspek yang
disederhanakan adalah dari segi:
1. Jumlah murid yang terdiri dari 5 sampai 10 orang.
2. Alokasi waktu mengajar, terdiri dari 10 sampai 15 menit.
3. Bahan pelajaran yang hanya mencakup 1 atau 2 aspek yang sederhana.
4. Keterampilan mengajar difokuskan pada 1 atau 2 keterampilan saja.
Penyederhanaan aspek-aspek di atas didasarkan atas asumsi bahwa aktivitas
mengajar yang kompleks itu akan lebih mudah dilaksanakan, dinilai dan diperbaiki,
bila guru atau calon guru dilatih menguasai komponen dari proses mengajar secara
satu persatu.
Dengan demikian, perbedaan antara pembelajaran mikro dan pembelajaran
makro adalah sebagai berikut:
Aspek yang Pembelajaran
No. Pembelajaran Mikro
dibandingkan Makro
1 Siswa 30 – 40 orang 5 – 10 orang
2 Waktu 35 – 45 menit 5 – 15 menit
3 Materi yang Luas Terbatas
diajarkan
4 Fokus Semua aspek 1 atau 2 keterampilan
5 Tempat Di dalam kelas Di laboratorium
6 Media Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan mengajar
mengajar dan dilengkapi dengan alat
perekam dan video
7 Tujuan Mencapai tujuan Melatih keterampilan dasar
pembelajaran mengajar guru/calon guru
Berdasarkan pada hasil riset yang dilakukan Brown & Amstrong,
menyimpulkan bahwa calon guru yang mengikuti micro teaching:
1. Penampilan mengajarnya lebih baik dalam praktek keguruan (PPL).
2. Lebih terampil dari calon guru yang tidak melakukan micro teaching.
3. Mempunyai nilai yang tinggi dalam Program Praktek Lapangan (PPL).
4. Interaksi calon guru dengan siswa menjadi lebih baik.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 5
Dalam latihan mengajar sendiri ada beberapa peristilahan yang perlu
diketahui yaitu micro teaching, peer teaching, mini teaching, dan re teaching.
1. Micro teaching adalah bentuk pembelajaran bersifat latihan yang terfokus pada
ketrampilan tertentu.
2. Peer teaching adalah bentuk pembelajaran bersifat latihan yang siswanya
adalah teman sejawat.
3. Mini teaching adalah bentuk pembelajaran bersifat latihan yang melibatkan
seluruh ketrampilan mengajar secara terintegrasi tetapi dalam bentuk lebih
kecil.
4. Re teaching adalah bentuk pembelajaran bersifat latihan yang dilakukan secara
berulang sampai praktikan menguasai ketrampilan mengajar.
Bila dihubungkan dengan pembelajaran yang sebenarnya, maka
microteaching adalah penyederhanaan dari pembelajaran yang sebenarnya (lihat
gambar berikut):
Keterangan :
P = Pembelajaran
PM = Microteaching
Ketika microteaching hanya difokuskan pada ketrampilan mengajar
tertertentu maka terlihat sebagaimana diagram berikut.
Keterangan :
P = Pembelajaran
PM = Microteaching
KT = Ketrampilan tertentu yang dilakukan dalam PM sebagai bagian dari P
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 6
Bila microteaching kemudian dikembangkan sebagai mini teaching maka
akan terlihat sebagaimana diagram di bawah ini:
Keterangan :
P = Pembelajaran
PM = Microteaching
KT = Ketrampilan tertentu yang dilakukan dalam PM sebagai bagian dari P
Unsur-unsur penting dalam microteaching meliputi:
1. tujuan dan sasaran ketrampilan,
2. struktur dan organisasinya,
3. perencanaan dan jadwal,
4. pembinaan,
5. feedback,
6. siswa untuk microteaching, dan
7. sarana pembelajaran.
2. Tujuan Microteaching
Microteaching merupakan salah satu penunjang pengalaman lapangan bagi
calon guru, yaitu merupakan salah satu latihan terbatas mengenai ketrampilan-
ketrampilan tertentu. Secara umum tujuan microteaching adalah mempersiapkan
mahasiswa calon guru untuk menghadapi pekerjaan mengajar di muka kelas dengan
memiliki pengetahuan, ketrampilan, kecakapan dan sikap sebagai guru yang
profesonal. Microteaching juga dapat digunakan sebagai peningkatan kualitas
pembelajaran bagi guru agar lebih mantap dalam penguasaan materi, penampilan
di kelas, dan ketrampilan khusus dalam pembelajaran.
Adapun tujuan microteaching secara operasional antara lain:
a. membantu calon guru atau guru menguasai ketrampilan-ketrampilan khusus,
agar dalam latihan pembelajaran sesungguhnya tidak mengalami kesulitan;
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 7
b. meningkatkan taraf kompetensi pembelajaran bagi calon guru secara bertahap,
dengan penguasaan ketrampilan-ketrampilan khusus yang akhirnya dapat
diintegrasikan dalam pembelajaran yang sesungguhnya;
c. dalam in service training bagi guru atau dosen, diharapkan yang bersangkutan
bisa menemukan sendiri kekurangannya dalam pembelajaran dan usaha
memperbaikinya;
d. memberi kemungkinan dalam latihan microteaching agar calon guru atau guru
menguasai ketrampilan (khusus) mengajar, agar dalam penampilan mengajar
(dalam proses pembelajaran) mantap, trampil, dan kompeten;
e. sebagai penunjang usaha peningkatan ketrampilan, kemampuan serta
efektifitas dan efisiensi penampilan calon guru atau guru dalam proses
pembelajaran.
f. menanamkan kesadaran akan ketrampilan mengajar.
g. menanamkan rasa percaya diri dan bersifat terbuka terhadap kritik orang lain.
3. Fungsi Microteaching
Microteaching memiliki beberapa fungsi yaitu:
1. meningkatkan kompetensi mengajar dalam proses pembelajaran bagi calon
guru atau guru. Hal ini bertalian dengan calon guru atau guru belum memenuhi
kompetensi dalam proses pembelajaran. Padahal dalam program pendekatan
berdasarkan kompetensi bagi calon guru atau guru dituntut kompetensi
tersebut. Microteaching ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi
mengajar, karena menyerupai mengajar yang sesungguhnya.
2. kesempatan menguasai ketrampilan-ketrampilan khusus dalam proses
pembelajaran. Hal ini sangat diperlukan agar mereka memiliki, menguasai, dan
melaksanakan kompetensi dengan baik dan benar.
3. dalam proses pembelajaran, ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan calon
guru atau guru erat hubungannya dengan metode-metode mengajar, maka
Microteaching dapat berfungsi untuk penelitian metode/strategi mengajar
tertentu.
4. microteaching dapat juga berfungsi sebagai pengembangan metode/strategi
mengajar tertentu. Program microteaching merupakan bagian program bagian
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 8
peningkatan kompetensi mengajar bagi calon guru atau guru dalam
mengembangkan dan membina penampilan tertentu dalam proses
pembelajaran. Hal ini bertalian erat dengan ketrampilan khusus dan
metode/strategi mengajarnya. Ketrampilan khusus dapat dipandang sebagai
penjabaran proses pembelajaran dengan metode tertentu, sehingga
pengembangan dan pembinaan program Microteaching perlu dikembangkan
juga.
4. Komponen Ketrampilan Mengajar
Ketrampilan mengajar yang berkaitan dengan praktik microteaching,
menurut Allen and Ryan (1969) dalam bukunya Micro Teaching ada empat belas
komponen, yaitu:
1. Stimulus Variation (variasi stimulus);
2. Set Induction (siasat mengawali pembelajaran);
3. Closure (siasat mengakhiri pembelajaran);
4. Silence and Non Verbal Cues (isyarat/sasmita);
5. Reinforcement of Student Participation (penguatan pada keterlibatan pelajar
dalam pembelajaran);
6. Fluency in Asking Question (kefasihan bertanya);
7. Probing Question (pertanyaan melacak);
8. Higher Order Question (pertanyaan tingkat tinggi);
9. Divergent Question (pertanyaan divergen/belum pasti);
10. Recognizing Attending Behavior (mengenal tingkah laku yang tampak);
11. Ilustrating and Use of Example (pengilustrasian dan penggunaan contoh);
12. Lecturing (berceramah);
13. Planned Repetition (pengulangan yang direncanakan);
14. Completeness of Comunication (kelengkapan berkomunikasi).
Menurut bahan Penataran Wawasan Kependidikan Guru SMTP/SMTA
tahun 1994 yang diterbitkan oleh Depdikbud RI, ada sembilan komponen
ketrampilan mengajar yang dapat diobservasi dalam microteaching antara lain:
1. bertanya dasar,
2. bertanya lanjutan,
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 9
3. memberi penguatan,
4. mengadakan variasi mengajar,
5. menjelaskan pelajaran (penyajian bahan),
6. membuka dan menutup pelajaran,
7. mengelola kelas,
8. membimbing diskusi kelompok kecil,
9. mengajar kelompok kecil dan perorangan.
Berdasarkan dua pendapat tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
microteaching mencakup ketrampilan sebagai berikut:
1. ketrampilan membuka pelajaran,
2. ketrampilan verbal dan non verbal,
3. ketrampilan menggunakan media pembelajaran,
4. ketrampilan memilih metode,
5. ketrampilan menerangkan,
6. ketrampilan bertanya,
7. ketrampilan mengadakan assessment (penjajagan)
8. ketrampilan mengadakan motivasi,
9. ketrampilan menutup pelajaran.
5. Karakteristik Microteaching
Microteaching merupakan pembelajaran dalam skala kecil. Karakteristik
yang khas dalam microteaching adalah : Komponen –Komponen dalam Pengajaran
yang di-MIKRO-kan atau di-sederhana-kan. Dalam pengajaran sesungguhnya
(Real Teaching) lingkup pembelajaran biasa tidak dibatasi, tetapi dalam
microteaching terbatas pada satu kompetensi dasar atau satu hasil belajar dan satu
materi pokok bahasan tertentu. Pembelajaran mikro berlangsung dalam bentuk
sesungguhnya, hanya saja diselenggarakan dalam bentuk mikro (kecil) dengan
karakteristik sebagai berikut:
1. Jumlah siswa berkisar antara 5 – 10 orang
2. Waktu mengajar terbatas sekitar 10-15 menit
3. Latihan terpusat pada keterampilan dasar mengajar.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 10
4. Menampilkan hanya 1 atau 2 keterampilan dasar mengajar, yang merupakan
bagian dari keterampilan mengajar yang kompleks.
5. Membatasi fokus atau ruang lingkup materi pelajaran sesuai dengan
ketersediaan waktu.
6. Ditinjau dari praktikan, calon guru/pendidik akan belajar bagaimana melakukan
pembelajaran, sedangkan teman yang jadi siswa akan dapat mengamati
bagaimana gaya mengajar temannya serta dapat menilai tepat dan tidaknya
keterampilan dasar pembelajaran yang dilakukan, seperti penggunaan metode
dan strategi pembelajaran, penggunaan media pembelajaran, penilaian, dst.
7. Pembelajaran mikro adalah pembelajaran yang sebenarnya. Praktikan harus
membuat rencana pembelajaran, melaksanakan pembelajaran sesuai dengan
rencana pembelajaran yang telah dibuat, mengelola kelas dan menyiapkan
perangkat pembelajaran lainnya yang dapat mendukung proses peembelajaran.
8. Pembelajaran mikro bukanlah simulasi. Karena itu, teman sejawat tidak
diperlakukan sebagaimana siswa didik akan tetapi mereka tetap menjadi teman
yang sebenarnya dengan kedudukan sebagai siswa. Hal ini untuk menghindari
perilaku teman sejawat yang dibuat-buat yang mengakibatkan tidak
terkondisinya proses pembelajaran antar teman sejawat.
9. Pembelajaran diharapkan dapat direkam sehingga hasil rekaman tersebut dapat
dijadikan bahan diskusi antar guru/calon guru atas kekurangan praktikan.
Dalam bahasa yang ringkas, dapat ditegaskan bahwa ciri khas micro
teaching, adalah “real teaching yang dimikrokan meliputi jumlah siswa, alokasi
waktu, fokus keterampilan, kompetensi dasar, hasil belajar dan materi pokok
pembelajaran yang terbatas”.
Penyederhanaan komponen pengajaran sebagai karakteristik microteaching
didasarkan pada asumsi – asumsi sebagai berikut :
1. seluruh komponen keterampilan dasar mengajar akan dapat dikuasai secara
mudah apabila terlebih dahulu menguasai komponen keterampilan dasar
mengajar tersebut secara terpisah (terisolasi) satu demi satu,
2. penyederhanaan situasi dan kondisi latihan, memungkinkan perhatian
praktikan terarah pada keterampilan yang dilatihkan,
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 11
3. penyederhanaan situasi dan kondisi dengan bantuan kamera memudahkan
melakukan observasi dan bermanfaat untuk umpan balik (Feed Back).
6. Langkah-langkah Microteaching
Pada dasarnya microteaching ditempuh melalui lima langkah berikut.
1. pengenalan/pemahaman tentang konsep microteaching,
2. penyajian model dan diskusi,
3. perencanaan/persiapan pembelajaran,
4. pelaksanaan/praktik pembelajaran,
5. diskusi/umpan balik,
6. praktik pembelajaran ulang bagi yang belum berhasil.
Pada waktu praktik mengajar perlu diadakan pengamatan (observasi) oleh
pengamat (observer) baik dari guru, teman atau pengamat lain. Bisa juga diadakan
pengamatan seusai praktik mengajar melalui rekaman, rekaman video, tape
recorder, dan semacamnya (di Laboratorium Microteaching FKIP UMS sudah
komputerisasi).
Dari hasil pengamatan selanjutnya diadakan diskusi terhadap ketrampilan
yang telah dipraktikkannya. Kemudian dari hasil kesimpulan diskusi dan
pengamatan ini diadakan praktik mengajar ulang oleh praktikan yang sama dengan
komponen ketrampilan mengajar yang sama, begitu seterusnya. Pengulangan ini
tentu tergantung pada tersedianya waktu.
Dari langkah pengamatan, diskusi dan pengulangan akan diperoleh manfaat,
khususnya bagi praktikan, antara lain:
1. Praktikan dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan praktik pembelajaran
yang telah dilaksanakan;
2. Praktikan dapat lebih meningkatkan dan mengembangkan ketrampilannya
pada saat pembelajaran yang sebenarnya;
3. Praktikan dapat memahami ketrampilan mengajar yang bersifat isolatif.
Skema langkah-langkah microteaching sebagai berikut:
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 12
7. Model Latihan dalam Microteaching
Dalam pengajaran mikro (micro teaching), dapat dipergunakan berbagai
model latihan, yakni latihan pre-service, latihan in-service, peace core training,
penyuluhan mikro, latihan bagi supervisor dan latihan bagi guru-guru tingkat
perguruan tinggi.
1. Latihan Pre-Service
Latihan ini dilakukan sebagai persiapan sebelum menempuh praktek keguruan.
Latihan Pre-Service dititikberatkan pada latihan keterampilan mengajar. Untuk
itu terlebih dahulu diadakan inventarisasi keterampilan-keterampilan yang
diharapkan, kemudian dilakukan latihan-latihan dengan menggunakan video
tape. Selanjutnya video tape diputar kembali sebagai umpan balik. Supervisor
dapat membantu menganalisis kelemahan-kelemahan yang terdapat pada calon
guru, dengan cara diadakan suatu diskusi, serta mengadakan observasi terhadap
latihan yang dilakukan oleh orang lain.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 13
2. Latihan In-Service
Dalam hal ini pengajaran mikro berfungsi sebagai kerangka kerja percobaan
bagi penyajian oleh para anggota tim, sebagai usaha untuk menentukan tingkat
materi pelajaran sesungguhnya. Sebagai metode, pengajaran mikro
memperkirakan penempatan sebagai alat bagi supervisor untuk melatih dan
menilai guru-guru yang baru. Pengajaran mikro sangat bermanfaat dalam
rangka perbaikan program sekolah, mencoba metode-metode mengajar,
perubahan tingkah laku kognitif baru, dan untuk menganalisis interaksi guru
dalam kelas. Pengajaran mikro dilaksanakan dalam bentuk pengajaran unit
mini, dengan menggunakan film video tape recorder guna mengetahui umpan
balik, selain itu, digunakan pula tes awal dan tes akhir.
3. Latihan bagi Kelompok Perdamaian
Para calon kelompok perdamaian yang akan dikirim ke luar negeri terlebih
dahulu mendapatkan latihan dalam klinik pengajaran mikro dengan maksud
mempelajari keterampilan yang berkenaan dengan pelajaran bahasa asing
(Inggris dan Mandarin) ataupun bahasa asing lainnya yang dijadikan sebagai
bahasa utama ketika kita berada di luar negeri.
4. Penyuluhan Mikro
Pengajaran Mikro (micro teaching) dapat pula digunakan untuk melatih
keterampilan-keterampilan penyuluhan, yang terdiri dari :
a. Latihan keterampilan dasar untuk melakukan penyuluhan, misalnya untuk
mengenal teknik pendekatan terhadap klien secara verbal atau non-verbal,
jadi dalam bentuk komunikasi.
b. Melatih keterampilan yang menyangkut refleksi perasaan.
c. Melatih keterampilan tentang cara merangkum perasaan dari para klien
berdasarkan komentar mereka yang kemudian dikaitkan dengan tema
emosi tertentu.
5. Latihan bagi Supervisor
Pengajaran mikro besar manfaatnya sebagai klinik latihan bagi supervisor,
karena dalam proses itu guru-guru dilatih juga tentang cara melakukan
supervisi. Dengan demikian akan terus menerus memperbaiki program latihan
guru. Selain itu, pengajaran ini akan bermanfaat dalam rangka
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 14
mengembangkan model-model konseptual menjadi pengajaran yang nyata,
untuk menafsirkan tingkah laku siswa, untuk memilih aspek-aspek pelajaran
yang relevan, membantu guru dan siswa dalam merumuskan persoalan-
persoalan yang mereka hadapi, menciptakan hubungan yang baik antara guru
dan siswa dalam memecahkan berbagai masalah serta membangun
kepercayaan di kalangan guru dan siswa.
6. Latihan bagi Dosen
Pengajaran mikro juga dipergunakan di perguruan tinggi yakni untuk
memperbaiki kualitas pengajaran pada perguruan tinggi. Beberapa bukti
tentang keefektifan pengajaran mikro adalah bahwa kelompok eksperimental
ternyata menunjukan tingkat yang lebih tinggi dalam segi penyajian
pengajaran, penampilan mereka ternyata lebih berorientasi pada kelas yang
sesungguhnya, pembinaan dan penilaian terhadap para calon guru dapat
dilakukan secara efektif dan teliti. (Oemar Hamalik, 2008: 145).
8. Fungsi Unit – unit Perlengkapan (Hard Ware) dalam Microteaching
Salah satu komponen penting dalam program latihan keterampilan dasar
mengajar dengan menggunakan pendekatan pengajaran mikro adalah umpan balik.
Umpan balik harus segera diberikan begitu latihan selesai dilaksanakan. Siapa yang
melaksanakan umpan balik? Mereka (maksimal 2 orang) yang dipilih antara teman
sejawat yang berperan sebagai pengamat.
Agar umpan balik tersebut bersifat objektif, maka diperlukan alat pencatat
(perekam) yang akurat, misalnya ATR (Audio Tape Recorder) atau VTR (Video
Tape Recorder). Penggunaan perangkat keras ini menuntut pengaturan tempat yang
khusus agar dalam penggunaan alat-alat tersebut tidak mengganggu siswa dan guru
yang sedang terlibat dalam interaksi belajar mengajar.
Adapun pengaturan tempat duduk bila menggunakan ATR, disarankan
antara lain sebagai bcrikut :
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 15
Gambar 1. Pengaturan Tempat Duduk Bila Menggunakan ATR
Pengaturan tempat duduk bila digunakan VTR dengan bantuan kamera,
disarankan sebagai berikut :
Gambar 2. Pengaturan Tempat Duduk Bila Menggunakan VTR (1
Kamera)
Gambar 3. Pengaturan Tempat Duduk Bila Menggunakan VTR (2
Kamera)
Gambar 4. Pengaturan Tempat Duduk Bila Menggunakan VTR (3
Kamera)
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 16
Mengingat kamera yang dipergunakan berkaki dan beroda, dalam kegiatan
operasionalnya sangat luwes sehingga suara maupun gerak-gerik guru dan murid
dapat mudah terekam, begitupun lingkungan sekitarnya.
Perlu ditekankan bahwa pelaksanaan pengajaran mikro dengan
menggunakan VTR memerlukan biaya yang perlu dipertimbangkan, baik ditinjau
dari segi harga tersebut, perawatannya, maupun teknisnya. Hal ini bukan berarti
pengajaran mikro tanpa alat perekam (ATR/VTR) akan berkurang manfaatnya,
sebab umpan balik dapat pula dilakukan melalui seorang supervisor atau observer
dengan menggunakan panduan observasi.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 17
BAB 2
KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR DALAM
MICROTEACHING
A. Keterampilan Membuka dan Menutup Pembelajaran (Set Induction and
Closure)
Dalam mengawali proses pembelajaran yang sering dilakukan guru antara
lain mengisi daftar hadir, menertibkan siswa dan menyuruh mereka untuk
menyiapkan alat tulis dan buku pegangan. Kegitan tersebut memang harus
dilakukan oleh guru, namun belum dapat dikategorikan sebagai membuka
pelajaran. Karena belum tentu dapat mengajak siswa untuk memusatkan
perhatiannya pada materi yang akan disajikan dan kegiatan pembelajaran yang akan
dilakukan.
Membuka pembelajaran adalah kegiatan guru dalam mengawali proses
pembelajaran untuk menciptakan suasana siap mental, fisik, psikis dan emosional
siswa sehingga memusatkan perhatian mereka pada materi dan kegiatan
pembelajaran yang akan dilalui.
Aktivitas awal yang dilakukan dan kalimat-kalimat awal yang diucapkan
guru merupakan penentu keberhasilan jalannya seluruh proses pembelajaran.
Ketercapaian tujuan pembelajaran tergantung pada strategi mengajar guru di awal
pelajaran. Seluruh rencana dan persiapan sebelum mengajar dapat menjadi tidak
berguna jika guru tidak berhasil memfokuskan perhatian dan minat siswa pada
pelajaran. Dalam tahap ini, yang perlu dilakukan guru terlebih dahulu adalah
menciptakan suasana agar siswa secara mental, fisik, psikis dan emosional terpusat
pada kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. Hal tersebut dapat dilakukan
guru dengan cara-cara sebagai berikut:
1. Memfokuskan perhatian dan membangkitkan minta siswa
Pada awal pembelajaran ada banyak hal di luar ruangan kelas yang masih
memikat perhatian siswa. Hal tersebut dapat membuat siswa tidak bisa fokus
pada materi dan kegiatan pembelajaran. Untuk mengatasi hal ini, guru dapat
menetapkan titik hubungan antara siswa dan pelajaran yang disampaikan. Guru
harus dapat membangkitkan minat belajar sampai siswa dapat memusatkan
perhatian mereka kepada pelajaran. Guru perlu menghubungkan antara materi
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 18
yang disampaikan dengan minat dan kebutuhan siswa. Berikut ini beberapa
cara yang dapat memfokuskan perhatian dan membangkitkan minat siswa saat
guru membuka pelajaran :
a. Mengaitkan materi dengan berita-berita terkini
Berita terkini yang sedang marak dibicarakan atau sedang menjadi
perhatian dalam masyarakat dapat dipakai untuk membangkitkan minat
siswa. Siswa-siswa kelas tinggi biasanya membaca surat kabar, majalah,
mendengarkan radio, dan menonton televisi. Mereka mempunyai
perhatian pada banyak hal. Untuk siswa- siswa kelas kecil, mereka biasa
menanggapi kejadian-kejadian yang berkaitan dengan sekolah atau
permainan mereka. Guru yang sangat mengetahui aktivitas siswasiswanya
sepanjang minggu itu pasti tidak akan menemukan kesulitan dalam hal ini.
Adapun informasi tersebut dapat berupa kegiatan siswa sepanjang minggu
yang bisa diperoleh dengan menanyakannya pada siswa. Guru dapat
membangkitkan minat siswa dengan mengaitkan berita-berita terkini
tersebut dengan materi yang akan disampaikan.
b. Menyampaikan cerita
Sebuah cerita yang relevan dengan materi yang diceritakan dengan metode
yang baik akan membangkitkan minat siswa terhadap pelajaran yang akan
disampaikan. Lukisan dari kehidupan sehari-hari merupakan pilihan yang
baik untuk menarik minat dan menanamkan sebuah kebenaran kepada
mereka.
c. Menggunakan alat bantu/media
Untuk menarik minat siswa terhadap pelajaran, guru dapat menggunakan
alat bantu/media seperti gambar, lukisan, model skema, benda dan alat
peraga yang relevan dengan materi pelajaran.
d. Memvariasikan gaya mengajar
Minat dan perhatian siswa dapat ditimbulkan dengan memvariasikan gaya
mengajar guru. Misalnya pada satu saat guru memilih posisi di depan kelas
dan memilih kegiatan yang berbeda dari biasanya yang dia lakukan ketika
membuka pelajaran. Pada kesempatan lain guru berdiri di tengah-tengah
kelas sambil membaca puisi dengan tenang dan dramatis. Pada
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 19
kesempatan berikutnya guru dapat memilih berdiri di belakang atau depan
kelas sambil bercerita dengan ekspresi wajah yang meyakinkan dan nada
suara yang menunjukkan rasa bangga, bahagia atau sedih.
e. Menyinggung tentang tugas-tugas yang dilakukan siswa
Umumnya, manusia lebih tertarik dengan aktivitasnya sendiri. Oleh karena
itu, usahakan untuk membahas pekerjaan rumah siswa terkait mata
pelajaran tersebut di awal pelajaran. Kegiatan tersebut bisa menambah
semangat siswa untuk memulai pelajaran. Selain itu, dengan membahas
tugas-tugas yang sudah siswa kerjakan di rumah, perhatian kelas dapat
diarahkan kepada makna dan pentingnya belajar sendiri. Jangan lupa untuk
menyatakan penghargaan atas usaha siswa-siswa yang telah belajar di
rumah.
f. Mengandaikan persoalan
Persoalan atau pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan dalam pelajaran
hendaknya merupakan hal-hal yang biasa terjadi dalam kehidupan siswa.
Misalnya, “Apa yang akan kau katakana seandainya ada orang yang
bertanya mengapa kamu sebagai Muslim diwajibkan shalat?” atau “Apa
yang kau lakukan seandainya kamu disalahkan atas perbuatan yang tidak
kamu lakukan?” Persoalan harus disesuaikan sedemikian rupa sehingga
mengarah pada pelajaran yang akan disampaikan.
2. Menimbulkan Motivasi
Menimbulkan motivasi dapat dilakukan dengan berbagai cara:
a. Memberikan kehangatan dan menunjukkan sikap antusias
Guru hendaknya bersikap ramah, antusias, bersahabat, hangat dan penuh
keakraban. Sikap semacam itu akan dapat menimbulkan rasa senang pada
diri siswa sehingga memunculkan motivasi untuk belajar.
b. Menimbulkan rasa ingin tahu
Rasa ingin tahu siswa dapat distimulus dengan cara memperlihatkan
gambar, mendemonstrasikan sesuatu, menceritakan suatu kejadian yang
relevan dengan materi. Selanjutnya guru mengajukan pertanyaan yang
berhubungan dengan gambar, peristiwa atau cerita tersebut. Yang
jawabannya terdapat dalam materi yang akan dipelajari.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 20
c. Mengemukakan ide yang bertentangan
Guru dapat mengemukakan ide-ide yang bertentangan dengan
mengemukakan masalah atau kondisi-kondisi yang berbeda dengan
kenyataan sehari-hari.
3. Memberi Acuan
Memberi acuan diartikan sebagai usaha mengemukakan secara spesifik dan
singkat serangkaian alternatif yang memungkinkan siswa memperoleh
gambaran yang jelas mengenai hal-hal yang akan dipelajari dan cara yang
hendak ditempuh dalam mempelajari materi pelajaran. Untuk itu usaha yang
dapat dilakukan guru adalah:
a. Menjelaskan tujuan pembelajaran
Pada awal pembelajaran guru perlu menjelaskan tujuan kepada siswa.
Penyampaian tujuan pembelajaran berfungsi agar siswa dapat mengetahui
arah kegiatan pembelajaran. Sehingga siswa terfokus pada satu tujuan
yang mereka akan capai. Di samping itu, penyampaian tujuan belajar dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat
R.W. Dahar bahwa penyampaian tujuan pembelajaran selain dapat
memusatkan perhatian siswa juga dapat memotivasi siswa. Makin jelas
tujuan maka makin besar pula motivasi belajar siswa. Siswa yang
termotivasi akan lebih siap untuk belajar, akan lebih mampu
mengembangkan kemampuannya, dan akan mencapai hasil belajar yang
lebih baik.
b. Menyampaikan garis besar pelajaran
Menyampaikan pokok pikiran atau garis besar pelajaran untuk menarik
perhatian sangatlah penting. Penyampaian ini seperti halnya penyampaian
tajuk rencana dalam sebuah surat kabar yang dapat menarik minat para
pembaca untuk melihat lebih lanjut tulisan-tulisan dalam surat kabar
tersebut. Garis besar pelajaran bisa disampaikan dengan lengkap atau
hanya ringkasannya saja.
c. Menjelaskan langkah-langkah kegiatan pembelajaran
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 21
Perhatian siswa akan terfokus dan terarah dalam melakukan kegiatan
pembelajaran jika guru telah menjelaskan di awal pembelajaran tentang
langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan.
4. Mengaitkan pelajaran yang telah dipelajari dengan topic baru
Setiap pelajaran baru yang diajarkan merupakan bagian dari kurikulum yang
sudah ditetapkan. Pelajaran itu harus dihubungkan dengan pelajaran-pelajaran
lain yang telah dikuasai oleh siswa agar menarik perhatian dan menajamkan
pengertian mereka terhadap rangkaian pelajaran tersebut. Pelajaran dalam
pertemuan sebelumnya harus diulang secara ringkas untuk dikaitkan dengan
pelajaran yang baru. Hal-hal yang telah diketahui, pengalaman-pengalaman,
minat dan kebutuhan-kebutuhan siswa disebut dengan pengait. Metode untuk
mengaitkan pelajaran yang sekarang dengan pelajaran sebelumnya harus
divariasikan. Contoh usaha guru untuk membuat kaitan adalah:
a. Meninjau kembali sampai seberapa jauh materi yang sudah dipelajari
sebelumnya dapat dipahami oleh siswa dengan cara mengajukan
pertanyaan-pertanyaan pada siswa. Selain itu dapat pula dengan meminta
siswa merangkum inti materi pelajaran terdahulu secara singkat.
b. Membandingkan pengetahuan lama dengan yang akan disajikan. Hal ini
dilakukan apabila materi baru itu erat kaitannya dengan materi yang telah
dikuasai. Misalnya guru terlebih dahulu mengajukan pertanyaan untuk
mengetahui sejauh mana pema haman siswa tentang pengurangan sebelum
mempelajari tentang pembagian.
Seorang guru tidak akan kehilangan waktu mengajarnya bila mengaitkan
materi baru dengan pelajaran sebelumnya. Jika seorang guru memunyai waktu
35 menit untuk mengajar, gunakan waktu lima menit pertama untuk
menetapkan titik hubungan.
Sementara keterampilan menutup pelajaran merupakan kegiatan mengakhiri
kegiatan inti pembelajaran. Dalam mengakhiri pelajaran ini, kegiatan yang
dilakukan adalah memberikan gambaran menyeluruh tentang semua materi
yang telah dipelajari, mengetahui tingkat penyerapan siswa terhadap materi
dan mengetahui tingkat keberhasilan guru dalam proses pembelaajaran.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 22
Kegiatan ini cukup berarti bagi siswa, namun banyak guru tidak sempat
melakukan atau mungkin sengaja tidak melakukan.
Menutup pelajaran tidak hanya dilakukan pada akhir pelajaran, tetapi juga pada
akhir penggalan pelajaran. Menutup pelajaran dilakukan untuk memperoleh
gambaran yang utuh tentang pokokpokok materi yang dipelajari. Cara-cara
yang dilakukan dalam menutup pelajaran.
1. Meninjau kembali (Reviewing)
Setiap akhir pelajaran atau pada akhir penggal kegiatan guru melakukan
reviewing. Apakah inti pelajaran yang dipelajari siswa sudah dikuasai atau
belum oleh siswa. Reviewing terdiri dari dua aspek.
a. Merangkum inti pokok pelajaran. Kegiatan merangkum pelajaran
dilakukan sepanjang proses pelajaran. Bila guru telah selesai
menjelaskan suatu bab, guru merangkum sebentar apa yang telah
dibicarakan sebelum berganti pada topik baru. Siswa disuruh
merangkum secara lisan, bila siswa belum sempurna guru
menyempurnakan. Rangkuman dibuat dengan maksud siswa yang
tidak punya sumber belajar dapat belajar kembali dengan
ringkasannya. Atau siswa yang lambat dalam belajar dapat mengulang
kembali dengan ringkasaanya.
b. Mengkonsolidasikan perhatian siswa pada masalah pokok pembahasan
agar informasi yang diterimanya dapat membangkitkan minat dan
kemampuannya terhadap pelajaran selanjutnya.
2. Mengevaluasi
Salah satu cara untuk mengetahui apakah siswa mendapatkan gambaran
yang utuh tentang suatu konsep yang diajarakan adalah dengan penilaian,
Yang dapat dilakukan guru dengan memberi pertanyaan-pertanyaan atau
tugas-tugas. Evaluasi dapat dilakukan dengan berbagai bentuk.
a. Mendemontrasikan keterampilan. Pada akhir suatu penggalan siswa
dapat diminta mendemontrasikan keterampilan. Misalnya setelah guru
mengajarkan tentang instalasi penerangan pada rumah tangga, siswa
diminta untuk mendemonstrasikannya.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 23
b. Mengaplikasikan ide baru. Apabila guru setelah menerangkan suatu
prinsip. Siswa pada situasi yang lain dapat menerapkan prinsip itu pada
situasi lain.
c. Mengekspresikan pendapat. Siswa dapat diminta mempresentasikan
hasil diskusi di depan kelas
d. Memberi soal-soal. Guru dapat memberi soal-soal untuk dikerjakan
siswa. Soal-soal itu dapat berbentuk uraian, tes objektif, atau mengisi
lembar kerja.
B. Keterampilan Menjelaskan Pelajaran (Explaining)
Betapapun pandainya seorang guru dalam menguasai suatu bahan pelajaran,
akan sia-sia saja apabila ia kurang atau tidak mampu menguasai keterampilan
menjelaskan bahan pelajaran yang dikuasainya. Demikian pula sebaliknya, kurang
lengkap bila guru hanya terampil menjelaskan pelajaran, tetapi tidak menguasai
bahan pelajaran yang diajarkan. Idealnya adalah seorang guru menguasai bahan
pelajaran yang diampunya dan mempunyai strategi dalam menjelaskan bahan
pelajaran itu secara efektif sehingga mudah dipahami siswa.
Keterampilan menjelaskan dapat diartikan sebagai penyajian informasi
secara lisan yang diorganisasi secara sistematis, mengenai suatu benda, keadaan,
fakta, dan data sesuai dengan waktu dan hukum-hukum yang berlaku27 Penekanan
memberikan penjelasan adalah proses penalaran siswa dan bukan indoktrinasi.
Berdasarkan pemikiran tersebut, dapat disimpulkan bahwa menjelaskan pelajaran
adalah keterampilan guru dalam menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa
secara lisan yang diorganisasikan secara terencana dan sistematis sehingga bahan
pelajaran yang disampaikan guru tersebut dengan mudah dipahami siswa.
Menjelaskan merupakan keterampilan inti yang harus dimiliki guru. Alasan
yang melatarbelakanginya adalah sebagai berikut:
1. Pada umumnya interaksi komunikasi lisan di dalam kelas didominasi guru.
2. Sebagian besar kegiatan guru adalah informasi. Oleh karena itu efektivitas
pembicaraan perlu ditingkatkan.
3. Penjelasan yang diberikan guru sering tidak jelas bagi siswa, dan hanya
jelas bagi guru sendiri.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 24
4. Tidak semua siswa dapat menggali sendiri informasi yang diperoleh dari
buku. Kenyataan ini menuntut guru untuk memberikan penjelasan kepada
siswa untuk hal-hal tertentu.
5. Sumber informasi yang tersedia yang dapat dimanfaatkan siswa sering
sangat terbatas.
6. Guru sering tidak dapat membedakan antara menceritakan dan
memberikan penjelasan.
Tujuan menjelaskan materi pelajaran adalah:
1. Membimbing murid untuk mendapat dan memahami hukum, fakta,
definisi, dan prinsip secara objektif dan bernalar.
2. Melibatkan murid untuk berpikir dengan memecahkan masalah - masalah
atau pertanyaan
3. Untuk mendapat balikan dari murid mengenai tingkat pemahamannya dan
untuk mengatasi kesalahpahaman mereka.
4. Membimbing murid untuk menghayati dan mendapat proses penalaran dan
menggunakan bukti-bukti dalam pemecahan masalah.
Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan guru dalam memberikan
suatu penjelasan, yaitu:
1. Penjelasan dapat diberikan selama proses pembelajaran (baik di awal, di
tengah, maupun di akhir pembelajaran).
2. Penjelasan harus menarik perhatian siswa.
3. Penjelasan dapat diberikan untuk menjawab pertanyaan siswa atau materi
yang sudah direncanakan;
4. Materi yang dijelaskan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran dan
bermakna bagi siswa;
5. Penjelasan harus sesuai dengan latar belakang dan tingkat kemampuan
siswa
Untuk dapat menjelaskan dengan baik bahan pelajaran yang diberikan, guru
sebaiknya memperhatikan petunjuk praktis keterampilan menjelaskan sebagai
berikut:
1. Menggunakan bahasa secara baik dan benar.
2. Menggunakan bahasa yang jelas, baik kata-kata maupun ungkapan.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 25
3. Suara terdengar sampai ke seluruh bagian kelas.
4. Volume suara bervariasi, kadang--kadang tinggi, kadangkadang rendah
sesuai dengan suasana kelas dan materi yang dijelaskan.
5. Menghindari kata-kata yang tidak perlu; dan tidak memiliki arti sama
sekali misalnya: e…, em…, apa ini…, apa itu….
6. Menghindari penggunaan kata “mungkin” yang salah pemakaian.
Misalnya harusnya pasti tetapi selalu dikatakan mungkin, sehingga karena
segala sesuatu selalu memakai kata “mungkin” maka yang diperoleh oleh
siswa adalah kemungkinan, bukan ke-pastian.
7. Menjelaskan pengertian istilah-istilah asing dan baru secara tuntas,
sehingga tidak mengakibatkan adanya verbalisme di kalangan siswa.
8. Meneliti pemahaman siswa terhadap penjelasan guru, apakah sudah
dipahami dengan baik atau belum. Jika belum, hal-hal yang belum
dipahami perlu diulang.
9. Memberi contoh nyata uraian materi sesuai dengan kehidupan sehari- hari
10. Memberikan penjelasan dapat dilakukan secara deduktif maupun induktif
dan mengaitkan dengan generalisasi.
11. Menggunakan multi media untuk pokok bahasan tertentu.
12. Menggunakan bagan untuk menjelaskan hubungan dan hirarki.
13. Menerima umpan balik dari siswa terhadap uraian yang disampaikan.
14. Memberikan kesempatan pada siswa untuk memberikan contoh sesuai
dengan pengalamannya masing-masing.
15. Memberikan penekanan pada bagian tertentu dari materi yang sedang
dijelaskan dengan isyarat lisan. Misalnya “Yang terpenting adalah”,
“Perhatikan baik-baik konsep ini”, atau “Perhatikan! yang ini agak sukar”.
Pada saat menjelaskan pelajaran, guru/calon guru tidak baik melakukan hal-
hal sebagai berikut:
1. Menghadap papan tulis atau membelakangi siswa terlalu lama.
2. Mondar-mandir di depan kelas ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke
belakang terlalu sering.
3. Menerangkan dengan terus menerus sambil duduk di kursi guru.
4. Mengosongkan papan tulis, tidak ada unsur visual yang dapat dilihat.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 26
5. Suara kurang keras, hanya terdengar oleh siswa yang berada di sekitar
guru, siswa yang duduk di belakang tidak dapat mendengar suara guru.
Efektivitas menjelaskan materi pelajaran juga dapat dicapai dengan
memperhatikan lima Hukum Komunikasi yang Efektif (The five Inevitable Laws of
Effective Communication). Kelima hokum tersebut dirangkum dalam satu kata yang
mencerminkan esensi dari komunikasi itu sendiri yaitu REACH (Respect, Empathy,
Audible, Clarity, Humble). Reach berarti merengkuh atau meraih. Karena kita
berkeyakinan bahwa komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita
meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun
respon positif dari siswa.
Hukum -hukum dalam berkomunikasi secara efektif di kelas adalah:
1. Respect
Respect adalah sikap hormat dan sikap menghargai terhadap siswa. Hal ini
merupakan hukum yang pertama dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Guru harus memiliki sikap (attitude) menghormati dan menghargai siswa.
Guru harus ingat bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap
penting. Jika guru bahkan harus mengkritik siswa, lakukan dengan penuh
respek pada harga diri dan kebanggaan siswa tersebut.
2. Empathy
Empathy adalah kemampuan guru untuk menempatkan diri pada situasi atau
kondisi yang dihadapi oleh siswa. Rasa empati akan membuat guru mampu
menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan
memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Oleh karena itu dalam
berbicara di kelas, guru harus terlebih dulu memahami latar belakang,
golongan, lapisan sosial, tingkatan umur, pendidikan, kebutuhan, minat,
harapan dan sebagainya, dari siswa (audiences). Jadi sebelum guru
membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, guru perlu mengerti dan
memahami dengan empati calon penerima pesan. Sehingga pesan akan dapat
tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari siswa. Empati
bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap
menerima masukan atau umpan balik apa pun dengan sikap yang positif.
Banyak sekali guru yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 27
kritik dari siswa. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah.
Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik
(feedback) yang merupakan arus balik dari penerima pesan. Oleh karena itu
dalam berbicara di kelas, guru perlu siap untuk menerima umpan balik dengan
sikap positif.
3. Audible
Audible berarti dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Dalam konteks
pembelajaran, audible berarti materi pelajaran yang disampaikan guru dapat
diterima dengan baik oleh siswa. Hukum ini mengatakan bahwa pesan harus
disampaikan melalui media atau delivery channel sedemikian rupa hingga
dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hukum ini mengacu pada
kemampuan guru untuk menggunakan berbagai media maupun perlengkapan
atau alat bantu audio visual yang akan membantu guru agar materi pelajaran
yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh siswa.
4. Clarity
Hukum keempat adalah kejelasan dari materi pelajaran yang disampaikan guru
(clarity). Selain pesan harus dapat diterima dengan baik, hukum keempat yang
terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak
menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan.
Clarity juga sangat tergantung pada kualitas suara guru dan bahasa yang
digunakan. Penggunaan bahasa yang tidak dimengerti oleh siswa, akan
membuat tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai. Seringkali orang
menganggap remeh pentingnya clarity dalam mengajar, sehingga tidak
menaruh perhatian pada suara (voice) dan kata-kata yang dipilih untuk
digunakan dalam menjelaskan materi pelajaran.
5. Humble
Humble berarti sikap rendah hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait
dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain,
biasanya didasari oleh sikap rendah hati. Kerendahan hati juga bisa berarti
tidak sombong dan menganggap diri penting ketika guru menjelaskan materi
pelajaran. Justru dengan kerendahan hatilah guru dapat menangkap perhatian
dan respon yang positif dari siswa.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 28
C. Keterampilan Bertanya (Questioning)
Mengajar yang baik berarti membuat pertanyaan yang baik pula. Peranan
‘pertanyaan’ sangat penting dalam menyusun sebuah pengalaman belajar bagi
murid. Socrates meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan akan diketahui atau tidak
diketahui oleh siswa, hanya jika guru dapat mendemonstrasikan keterampilan
bertanya yang baik dalam praktik pembelajaran di kelas.
Pembelajaran hakekatnya adalah proses interaksi peserta didik dengan
pendidik dan sumber belajar dalam suasana interaktif yang terarah pada tujuan
pembelajaran. Ada tidaknya interaksi adalah merupakan tanggung jawab guru,
sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus. Suatu cara untuk menumbuhkan
interaksi ini adalah dengan mengajukan pertanyaan atau permasalahan kepada
siswa.
Umumnya orang bertanya jika ia ingin mengetahui apa yang belum
diketahuinya. Di dalam kelas, guru bertanya kepada siswa untuk berbagai tujuan,
diantaranya untuk:
a. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap pokok bahasan.
b. Membangkitkan motivasi dan mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif
dalam pembelajaran.
c. Memusatkan perhatian siswa terhadap pokok bahasan
d. Mengaktifkan dan memproduktifkan siswa dalam pembelajaran.
e. Menjajaki hal-hal yang telah dan belum diketahui siswa terkait materi.
f. Mendiagnosis kesulitan-kesulitan khusus yang menghambat siswa belajar.
g. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasikan informasi
h. Mengevaluasi dan mengukur hasil belajar siswa
i. Memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengulang materi pelajaran.
j. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pertanyaan yang
diajukan guru mempunyai beberapa maksud. Satu pertanyaan yang diajukan dapat
mencapai beberapa tujuan sekaligus pada waktu yang sama. Kadang-kadang hal ini
tidak disadari, baik oleh siswa maupun oleh guru itu sendiri, sebab pertanyaan itu
berkembang.
1. Keterampilan Bertanya Dasar
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 29
Pertanyaan guru pada siswa seringkali tidak terjawab, sebab maksud
pertanyaan tersebut kurang dapat dipahami oleh siswa dengan baik. Dalam hal
ini, pemahaman guru terhadap komponen keterampilan bertanya merupakan
faktor penting yang harus dimiliki. Keterampilan bertanya meliputi
keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut. Keterampilan
bertanya dasar mempunyai beberapa kemampuan dasar yang perlu diterapkan
dalam mengajukan segala jenis pertanyaan. Keterampilan bertanya lanjut
adalah keterampilan yang dimiliki guru setelah guru memiliki keterampilan
bertanya dasar yang lebih berusaha untuk mengembangkan kemampuan
berpikir siswa, memperbesar tingkat partisipasi siswa, dan mendorong siswa
agar kritis.
Komponen-komponen keterampilan bertanya dasar adalah:
1. Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat
Agar siswa dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru, maka
pertanyaan yang diberikan harus jelas dan singkat, serta penyusunan kata-
kata dalam pertanyaan pun harus disesuaikan dengan usia dan tingkat
perkembangan siswa.
2. Pemberian Acuan
Pemberian acuan berupa pertanyaan yang berisi informasi yang relevan
dengan jawaban yang diharapkan dari siswa. Dengan guru memberikan
acuan memungkinkan siswa memakai serta mengolah informasi untuk
menemukan jawaban dari pertanyaan dan guru tetap mengarahkan siswa
untuk tetap fokus pada pokok bahasan yang sedang dibicarakan.
3. Pemusatan ke arah jawaban yang diminta
Berdasarkan batas lingkupnya, pertanyaan dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu: pertanyaan luas dan pertanyaan sempit. Penggunaannya pun
tergantung pada tujuan pertanyaan dan pokok dalam diskusi yang hendak
ditanyakan.
4. Pemindahan giliran jawaban
Pemindahan giliran menjawab dapat dilakukan dengan cara meminta
siswa yang berbeda untuk menjawab pertanyaan yang sama.
5. Penyebaran pertanyaan
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 30
Pemberian pertanyaan sebaiknya dilakukan secara acak oleh guru.
diharapkan agar setiap siswa mendapat giliran untuk menjawab
pertanyaan. Pada penyebaran, beberapa pertanyaan yang berbeda
disebarkan untuk dijawab oleh siswa yang berbeda pula.
6. Pemberian waktu berpikir
Setelah memberikan pertanyaan, guru perlu memberikan waktu beberapa
detik bagi siswa untuk berpikir. Teknik memberikan waktu berpikir ini
sangat perlu agar siswa mendapat kesempatan untuk menemukan dan
menyusun jawaban.
7. Pemberian tuntunan
Bila seorang siswa memberikan jawaban yang salah atau tidak dapat
menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru, hendaknya guru
memberikan tuntunan kepada siswa agar dapat menemukan jawaban yang
benar. Pemberian tuntunan dapat dilakukan dengan cara:
a. Mengungkapkan sekali lagi pertanyaan
b. Mengajukan pertanyaan lain yang lebih sederhana
c. Mengulangi penjelasan-penjelasan sebelumnya yang berhubungan
dengan pertanyaan.
Pertanyaan yang baik menurut Sardiman mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:
1. Dirumuskan dalam kalimat yang singkat dan jelas.
2. Memiliki tujuan yang jelas.
3. Memiliki hanya satu masalah untuk setiap pertanyaan
4. Mendorong anak untuk berpikir kritis.
5. Jawaban yang diharapkan bukan sekedar ya atau tidak.
6. Bahasa dalam pertanyaan dipahami dengan baik oleh siswa.
7. Tidak menimbulkan tafsiran ganda.
Selain hal-hal di atas, satu hal yang lebih penting untuk diperhatikan guru
adalah kemampuannya dalam menyediakan kondisi yang memungkinkan
terciptanya suasana yang kondusif, dengan cara sebagai berikut:
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 31
1. Menghargai siswa sebagai insan pribadi dan insan sosial yang memiliki hakikat
dan harga diri sebagai manusia. Karena itu, pertanyaan sebaiknya disampaikan
dengan nada yang enak didengar dan raut wajah yang manis.
2. Menciptakan iklim hubungan yang intim dan erat antara guru dengan siswa,
siswa dengan siswa.
3. Menumbuhkan gairah dan kegembiraan belajar di kalangan siswa
4. Kesediaan dalam membantu siswa.
5. Menghentikan aktivitas siswa yang bersifat negatif dalam arti mengganggu
berlangsungnya proses belajar mengajar. Siswa yang bermain sendiri atau
mengganggu teman yang lain atau berusaha menarik perhatian kelas, penting
untuk mendapatkan perhatian guru.
6. Memberikan giliran yang merata
7. Urutan siswa yang menjawab tidak bersifat tetap atau alpabetis
8. Dapat diajukan secara klasikal terlebih dahulu, kemudian secara individual.
2. Keterampilan Bertanya Lanjut
Pertanyaan lanjutan adalah pertanyaan yang lebih mengutamakan usaha
pengembangan kemampuan berpikir siswa, memperbesar kesempatan partisifasi
mereka dan mendorong agar siswa berpikir kritis.
Keterampilan bertanya lanjut dibentuk atas dasar penguasaan komponen-
komponen keterampilan bertanya dasar. Karena itu semua komponen bertanya
dasar masih digunakan dan akan selalu berkaitan dalam penerapan keterampilan
bertanya lanjut.
Pertanyaan lanjutan berfungsi untuk:
1. Mengembangkan kemampuan dalam menemukan, mengorganisasi dan menilai
informasi.
2. Membentuk perrtanyaan-pertanyaan yang didasarkan atas informasi yang
lengkap
3. Mengembangkan ide dan mengemukakannya kepada kelompok
4. Memberi kesempatan untuk meraih hasil melebihi yang biasa dicapai
Adapun komponen-komponen bertanya lanjut adalah:
1. Pengubahan tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 32
Pertanyaan yang diberikan guru dapat mengundang proses mental yang berbeda,
ada yang menuntut proses mental yang rendah dan ada pula yang menuntut
proses mental yang lebih tinggi. Pengubahan tuntutan tingkat kognitif
maksudnya adalah agar pertanyaan yang diberikan oleh guru hendaknya dapat
mengubah tingkat kognitif siswa dalam menjawab suatu pertanyaan dari tingkat
yang rendah ke tingkat kognitif yang lebih tinggi. Misalnya dari tingkat kognitif
yang rendah seperti pengetahuan ke tingkat yang lebih tinggi yaitu pemahaman,
penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.
2. Pengaturan urutan pertanyaan secara tepat
Pertanyaan diberikan bertujuan untuk mengembangkan tingkat kognitif dari
yang sifatnya lebih rendah ke yang lebih tinggi dan kompleks. Dalam
memberikan urutan pertanyaan seorang guru harus memberikannya secara logis
dan terurut, misalnya pertama seorang guru mengajukan pertanyaan
pemahaman, setelah itu pertanyaan penerapan, analisis, sintesis dan diakhiri
dengan pertanyaan tingkat evaluasi.
3. Menggunakan pertanyaan pelacak
Jika jawaban yang diberikan siswa dianggap benar oleh guru, tetapi masih
dapat ditingkatkan menjadi lebih sempurna, maka guru dapat mengajukan
pertanyaan pelacak. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana
kemampuan siswa yang berkaitan dengan jawaban yang dikemukakan. Ada tujuh
teknik pertanyaan pelacak yang dapat digunakan oleh seorang guru.
a. Klarifikasi
Jika ada salah satu siswa menjawab pertanyaan guru dengan kalimat yang
kurang tepat, maka guru memberikan pertanyaan pelacak yang meminta siswa
untuk menjelaskan atau mengungkapkannya dengan kata-kata atau redaksi lain
sehingga jawaban siswa menjadi lebih baik atau menyuruh siswa untuk
mengulang jawabannya dengan kata atau kalimat yang lebih lugas. Contoh
pertanyaan: “Dapatkah kamu menjelaskan sekali lagi apa yang kamu maksud?”
b. Meminta siswa memberikan alasan
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 33
Guru dapat meminta siswa untuk memberikan bukti yang penunjang kebenaran
suatu pandangan yang diberikan dalam menjawab pertanyaan. Contoh
pertanyaan: “Mengapa kamu mengatakan demikian?”
c. Meminta kesepakatan pandangan
Guru memberikan kesempatan kepada siswa-siswa lainnya untuk menyatakan
persetujuan atau penolakan serta memberikan alasan terhadap suatu pandangan
yang diungkapkan oleh temannya, dengan maksud agar diperoleh pandangan
yang benar dan dapat diterima oleh semua pihak. Contoh pertanyaan: “Siapa
yang setuju dengan jawaban itu? Mengapa?”
d. Meminta ketepatan jawaban
Jika jawaban siswa belum tepat, guru dapat meminta siswa untuk meninjau
kembali jawaban itu agar diperoleh jawaban yang tepat atau guru dapat
menggunakan metode pemberian pertanyaan dengan sistem bergilir.
e. Meminta jawaban yang lebih relevan
Mengajukan pertanyaan yang memungkinkan siswa menilai kembali
jawabannya atau mengemukakan kembali jawabannya menjadi lebih relevan.
f. Meminta contoh
Jika ada jawaban dari siswa yang kurang jelas maka guru dapat meminta siswa
untuk memberikan ilustrasi atau contoh yang konkret. Contoh: “Dapatkah
kamu memberi satu atau beberapa contoh dari jawabanmu?”
g. Meminta jawaban yang lebih kompleks
Guru memberikan penjelasan agar jawaban siswa menjadi lebih kompleks dan
mampu menemukan ide-ide penting lainnya. Contoh: dapatkah kamu
memberikan penjelasan yang lebih luas lagi dari ide yang dikatakan tadi?
h. Peningkatan terjadinya interaksi
Agar siswa lebih terlibat secara pribadi dan lebih bertanggung jawab atas
kemajuan hasil belajar, guru hendaknya mengurangi atau menghilangkan
perannya sebagai penanya sentral. Untuk itu ada dua cara yang dapat ditempuh.
Pertama, guru mencegah pertanyaan dijawab langsung oleh seorang siswa
tetapi siswa diberi kesempatan singkat untuk mendiskusikan jawabannya
bersama teman terdekatnya. Kedua, jika siswa mengajukan pertanyaan, guru
tidak segera menjawab pertanyaan dari siswa tersebut, tetapi melontarkan
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 34
kembali pertanyaan tersebut untuk didiskusikan dan dijawab oleh temannnya.
Komponen ini akan dapat membantu siswa memberikan komentar yang wajar
dan mampu mengembangkan cara berpikir.
D. Keterampilan Mengadakan Variasi (Variation Stimulus)
Siswa akan menjadi sangat bosan jika guru selalu mengajar dengan cara
yang sama. Kejenuhan dapat membuat siswa tidak berminat pada pembelajaran.
Akibatnya tujuan pembelajaran menjadi tidak tercapai. Variasi adalah keanekaan
yang membuat sesuatu tidak monoton. Variasai dapat berwujud perubahan-
perubahan atau perbedaan-perbedaan yang sengaja diciptakan untuk memberi
kesan yang unik dan menarik perhatian siswa pada pembelajaran. Dengan
demikian, keterampilan guru dalam mengadakan variasi sangat diperlukan dalam
kegiatan pembelajaran.
Mengadakan variasi berarti melakukan tindakan yang beraneka ragam yang
membuat sesuatu menjadi tidak monoton di dalam pembelajaran sehingga dapat
menghilangkan kebosanan, meningkatkan minat dan rasa ingin tahu siswa, serta
membuat tingkat aktivitas siswa menjadi bertambah. Pendapat yang sama
dikemukakan Uzer Usman bahwa engadakan variasi adalah suatu kegiatan guru
dalam konteks proses interaksi belajar mengajar yang ditujukan untuk mengatasi
kebosanan siswa, sehingga dalam situasi belajar siswa senantiasa menunjukkan
ketekunan, antusiasme, serta penuh partisipasi.
Di dalam proses belajar mengajar, variasi ditunjukkan dengan adanya
perubahan dalam gaya mengajar guru, keragaman media yang digunakan, dan
perubahan dalam pola interaksi dan kegiatan siswa. Variasi ini lebih bersifat proses
daripada produk. Bila tujuan pembelajaran mencakup domain (ranah) dengan
berbagai jenjang penguasaan maka disarankan untuk memakai berbagai jenis
metode pada setiap penyajian apalagi bila tingkat kemampuan siswanya sangat
bervariasi.
Komponen Keterampilan Mengadakan Variasi
1. Variasi dalam Gaya Mengajar Guru
Menurut Abu Ahmadi, gaya mengajar adalah tingkah laku, sikap, dan
perbuatan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Sementara menurut
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 35
Syahminan Zaini, gaya mengajar adalah gaya atau tindak-tanduk guru sebagai
pernyataan kepribadiannya dalam menyampaikan bahan pelajarannya kepada
siswa. Dari definisi pendapat para ahli tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa
variasi gaya mengajar adalah pengubahan tingkah laku, sikap dan perbuatan guru
dalam konteks belajar mengajar yang bertujuan untuk mengatasi kebosanan siswa
sehingga siswa memiliki minat belajar yang tinggi terhadap pelajarannya.
Kenyataan bahwa ada siswa yang kurang semangat belajar, atau tidak
menyukai materi tertentu, yang ditunjukkan dengan sikap acuh tak acuh siswa
ketika guru sedang menjelaskan materi, bisa jadi disebabkan gaya guru mengajar
yang kurang bervariasi, atau gaya mengajar guru tidak sejalan dengan gaya belajar
siswa. Konsekwensinya bidang studi yang diampu guru tersebut menjadi tidak
disenangi. Berikut cara yang dapat ditempuh guru dalam memvariasikan gaya
mengajar:
a. Variasi suara (teacher voice)
Variasi suara adalah perubahan suara dari keras menjadi lemah, dari tinggi
menjadi rendah, dan cepat menjadi lambat atau sebaliknya. Suara guru
hendaknya bervariasi pada saat menjelaskan materi pelajaran baik dalam
intonasi, volume, nada dan kecepatan. Jika suara guru senantiasa keras atau
terlalu keras, akan sulit diterima oleh siswa karena mereka menganggap
gurunya sedang marah atau seorang yang kejam. Pemusatan perhatian siswa
(focusing). Perhatian siswa mestilah terpusat pada hal-hal yang dianggap
penting. Hal ini dapat dilakukan guru misalnya dengan perkataan “ Perhatikan
ini baik-baik!” atau “Nah, ini penting sekali” atau “Perhatikan dengan baik, ini
agak sukar dimengerti”.
b. Kesenyapan atau kebisuan guru (teacher silence)
Adanya kesenyapan, kebisuan, atau “selingan diam” yang tiba-tiba dan
disengaja saat guru menjelaskan sesuatu merupakan cara yang tepat untuk
menarik perhatian siswa. Perubahan stimulus dari adannya suara kepada
keadaan tenang atau senyap, atau dari adanya kesibukan atau kegiatan lalu
dihentikan akan dapat menarik perhatian karena siswa ingin tahu apa yang
terjadi. Misalnya, dalam pembelajaran guru melakukan ceramah selama 5
menit kemudian melakukan jeda (senyap) dengan berhenti sebentar sambil
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 36
mengarahkan pandangannya ke seluruh kelas atau pada siswa agar siswa
terfokus ketika melihat tingkah guru yang tiba-tiba berubah diam. Setelah itu,
baru guru melanjutkan kembali uraiannya.
c. Mengadakan kontrak pandang dan gerak (eye contact and movement)
Bila guru sedang berbicara atau berinteraksi dengan siswanya, sebaiknya
pandangan menjelajahi seluruh kelas dan melihat ke mata siswa-siswa untuk
menunjukkan adanya hubungan yang intim dan kontak dengan mereka.
d. Gerakan badan dan mimic
Variasi dalam gerakan kepala, gerakan badan dan ekspresi wajah (mimik)
adalah aspek yang penting dalam berkomunikasi. Gunanya untuk menarik
perhatian dan memberikan kesan dan pendalaman makna dari pesan lisan yang
disampaikan.
e. Pergantian posisi guru di dalam kelas (teacher’s movement)
Pergantian posisi guru di dalam kelas dapat digunakan untuk mempertahankan
perhatian siswa. Guru perlu membiasakan bergerak bebas, tidak kikuk atau
kaku, serta menghindari tingkah laku negatif. Berikut ini ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan:
1) Membiasakan bergerak bebas di dalam kelas. Gunanya untuk menanamkan
rasa dekat kepada siswa sambil mengontrol tingkah laku siswa.
2) Jangan membiasakan menerangkan sambil menulis menghadap ke papan
tulis.
3) Jangan membiasakan menerangkan dengan arah pandangan ke langit-langit,
ke arah lantai, atau keluar, tetapi arahkan pandangan menjelajahi seluruh
kelas.
4) Bila ingin mengobservasi seluruh kelas, bergeraklah perlahan - lahan ke
arah belakang dan dari belakang ke arah depan untuk mengetahui tingkah
laku siswa.
2. Variasi dalam Penggunaan Media dan Alat Pembelajaran
Media dan alat pembelajaran dapat digolongkan ke dalam tiga bagian bila
ditinjau dari indera yang digunakan, yakni dapat didengar (audio), dilihat (visual),
dapat didengar sekaligus dilihat (audio-visual, dapat diraba, dimanipulasi atau
digerakkan (motoric).
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 37
Setiap anak mempunyai perbedaan kemampuan dalam menggunakan alat
inderanya. Ada anak yang termasuk tipe visual, auditif, dan motorik. Untuk dapat
mengakomodir kemampuan anak yang berbeda-beda, guru perlu memvariasikan
penggunaan media dan alat pembelajaran dengan memperhatikan kesesuaiannya
dengan tujuan pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran dapat meningkatkan
hasil belajar dan membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berkesan bagi
siswa.
Variasi dalam penggunaan media dan alat pembelajaran antara lain adalah
sebagai berikut:
a. Variasi alat atau media yang dapat dilihat (visual aids). Alat atau media yang
termasuk ke dalam jenis ini ialah yang dapat dilihat seperti grafik, bagan, poster,
diograma, specimen, gambar, film, dan slide.
b. Variasi alat atau media yang dapat didengar (auditif aids). Suara guru termasuk
ke dalam media komunikasi yang utama di dalam kelas. Rekaman suara, suara
radio, musik, deklamasi puisi, sosiodrama, dan telepon dapat dipakai sebagai
media indera dengar.
c. Variasi alat atau bahan yang dapat didengar dan dilihat (audiovisual aids):
Penggunaan alat jenis ini merupakan tingkat yang lebih tinggi dari dua yang di
atas karena melibatkan lebih banyak indera. Media yang termasuk jenis ini,
misalnya film, televise, slide projector yang diiringi penjelasan guru. Tentu saja
penggunaan media jenis ini mesti disesuaikan dengan tujuan pengajaran yang
hendak dicapai.
d. Variasi alat atau media yang dapat diraba, dimanipulasi, dan digerakkan
(motoric). Penggunaan alat yang termasuk ke dalam jenis ini akan dapat menarik
perhatian siswa dan dapat melibatkan siswa dalam membentuk dan
memperagakan kegiatan, baik secara individual maupun kelompok. Yang
termasuk ke dalam jenis ini adalah peragaan yang dilakukan oleh guru atau
siswa, model, spesimen, patung, topeng, dan boneka, yang dapat digunakan oleh
siswa dengan meraba, menggerakkan, memperagakan atau memanipulasinya.
3. Variasi Pola Interaksi dan Aktivitas Siswa
Salah satu aspek yang perlu diperhatikan guru dalam pembelajaran di kelas
ialah pola interaksi belajar-mengajar. Dalam pola interaksi ini, guru bukan satu-
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 38
satunya sumber informasi/pengetahuan di kelas, tetapi guru berperan sebagai
moderator, pembimbing dan motivator. Interkasi guru-siswa bisa terjadi dalam
bentuk: interaksi verbal dan non verbal. Pola interaksi dapat pula berbentuk
klasikal, kelompok, dan perorangan sesuai dengan keperluan.
Selain itu, dalam proses pembelajaran terdapat aktivitas guru dan siswa.
beberapa aktivitas siswa yaitu aktivitas fisik, aktivitas mental, aktivitas verbal,
aktivitas non verbal, dan sebagainya. Aktivitas siswa tersebut dapat berupa
mendengarkan informasi, menelaah materi, bertanya, menjawab pertanyaan,
membaca, berdiskusi, berlatih, atau memperagakan.
Kedua aspek di atas, yaitu pola interkasi dan aktivitas siswa perlu
divariasikan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Penggunaan variasi pola interaksi
dan aktivitas siswa dimaksudkan untuk menghindari kebosanan siswa serta untuk
menghidupkan suasana kelas demi tercapainya tujuan pembelajaran.
Tujuan dan Manfaat Mengadakan Variasi
Tujuan dan manfaat variasi gaya mengajar:
1. Memelihara dan meningkatkan perhatian siswa terhadap materi dan
aktivitas pembelajaran.
2. Terciptanya proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi
siswa
3. Menghilangkan kejenuhan dan kebosanan sebagai akibat dari kegiatan
yang bersifat rutinitas
4. Meningkatkan kemungkinan berfungsinya motivasi rasa ingin tahu
melalui kegiatan investigasi dan eksplorasi.
Dalam proses belajar mengajar di kelas, tidak setiap siswa di dalam dirinya
ada rasa ingin tahu dan motivasi intrinsik yakni kesadarannya sendiri
untuk memperhatikan penjelasan guru dan terlibat dalam aktivitas belajar.
Sebaliknya, ada siswa yang tidak atau kurang memiliki motivasi dalam
dirinya. Masalah inilah yang sering dihadapi guru. Karena itu, motivasi
ekstrinsik, yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan.
Disinilah peranan guru lebih dituntut untuk dapat memotivasi siswa
melakukan aktivitas belajar, antara lain dengan mengadakan variasi dalam
pembelajaran.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 39
5. Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah.
6. Kemungkinan dilayaninya siswa secara individual sehingga memberi
kemudahan belajar
7. Mendorong aktivitas belajar dengan cara melibatkan siswa pada berbagai
kegiatan atau pengalaman belajar yang menarik dan berguna dalam
berbagai tingkat kognitif.
Prinsip – prinsip Penggunaan Variasi
Dalam menerapkan variasi pembelajaran tidak hanya diperlukan keaneka-
ragaman jenis-jenis stimulus pembelajaran yang dikembangkan, melainkan
ditentukan pula oleh faktor kualitasnya. Oleh karena itu agar penerapan variasi bisa
mencapai sasaran pembelaran secara efektif, maka beberapa prinsip berikut ini
harus menjadi pertimbangan, yaitu:
1. Bertujuan
Variasi stimulus yang dikembangkan dalam pembelajaran harus memiliki
tujuan yang terarah dan jelas. Tujuan variasi harus sejalan dan diarahkan untuk
menunjang pencapaian tujuan pembelajaran. Oleh karena itu variasi stimulus
juga harus memperhatikan kesesuaianya dengan sifat materi, karakteristik
siswa berikut latar belakang sosial budayanya, dan faktor kemampuan guru
untuk melaksanakannya.
2. Fleksibel
Variasi stimulus yang dikembangkan harus bersifat luwes dan tidak kaku.
Sehingga setiap jenis variasi yang diterapkan memungkinkan dapat diubah
disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan tuntutan yang terjadi secara spontan
pada saat tejadinya pembelajaran tanpa harus mengganggu keutuhan prose
pembelajaran yang sedang dilaksanakan.
3. Lancar dan berkesinambungan
Setiap variasi yang dikembangkan dalam pembelajaran harus berjalan lancar.
Perpindahan dari suatu bentuk stimulus ke stimulus pembelajaran lainnya
dalam rangka menerapkan stimulus pembelajaran yang bervariasi, semuanya
harus merupakan suatu kesatuan yang utuh sehingga tidak merusak perhatian
siswa dan tidak menganggu proses belajar mengajar.
4. Wajar/tidak dibuat – buat
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 40
Variasi stimulus dalam pembelajaran tidak dibuat-buat sehingga tidak terkesan
seperti dipaksakan. Oleh karena itu setiap jenis atau bentuk stimulus yang
dikembangkan sebaiknya berjalan secara wajar, alamiah dan terkait langsung
dengan konteks pembelajaran yang sedang dibahas.
5. Pengelola yang matang
Adakalanya jenis atau bentuk stimulus yang akan diterapkan dalam
pembelajaran itu bersifat rumit dan kompleks, membutuhkan beberapa tenaga
atau personil. Penerapan variasi yang seperti itu tentu saja harus direncanakan
dan dikelola secara lebih matang agar semuanya dapat berjalan sehingga tidak
akan merusak perhatian siswa dan tidak menganggu proses belajar mengajar.
E. Keterampilan Memberikan Penguatan (Reinforcement)
Penguatan dapat berarti penghargaan. Pada umumnya penghargaan
memberi pengaruh positif terhadap kehidupan manusia, karena dapat mendorong
dan memperbaiki tingkah laku seseorang serta meningkatkan usahanya. Sudah
menjadi fitrah manusia, bahwa ia ingin dihormati, dihargai, dipuji, dan disanjung-
sanjung, tentu saja semuanya ini dalam batas-batas yang wajar.
Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons, apakah bersifat
verbal ataupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku
guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan memberikan informasi atau
umpan balik (feed back) bagi si penerima atas perbuatannya sebagai suatu dorongan
atau koreksi. Penguatan juga merupakan respon terhadap suatu tingkah laku yang
dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.
Penggunaan penguatan dalam kelas dapat mencapai atau mempunyai
pengaruh sikap positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan untuk
menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan motivasi, minat dan perhatian siswa
terhadap pembelajaran, membangkitkan dan memelihara perilaku, dan memelihara
iklim belajar yang kondusif sehingga siswa dapat belajar secara optimal.
Keterampilan memberikan penguatan terdiri dari beberapa komponen yang
perlu dipahami dan dikuasai, antara lain:
1. Penguatan Verbal
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 41
Penguatan verbal yaitu komentar yang berupa kata-kata pujian, dukungan,
pengakuan, dorongan yang dipergunakan untuk menguatkan tingkah laku dan
penampilan siswa. Penguatan jenis ini dapat berupa kata-kata dan kalimat.
Kata-kata, misalnya, benar, bagus, hebat, pintar, ya, tepat, dan lain-lain. Berupa
kalimat, misalnya “jawaban kamu benar!” “pendapatmu benar sekali”, “ya,
bapak/ibu sangat menghargai pandanganmu”, “pekerjaanmu baik sekali”,
“seratus untuk kamu” dan seterusnya.
2. Penguatan non – verbal
a. Penguatan berupa mimk dan gerakan badan
Penguatan ini berupa mimik dan gerakan-gerakan badan (gesture) seperti
ekspresi wajah yang manis dan bangga, senyuman, kerlingan mata, anggukan
kepala, acungan jempol, dan tepukan tangan.
b. Penguatan dengan cara mendekati
Yaitu berupa mendekatnya guru kepada siswa untuk menyatakan perhatian dan
kesenangannya terhadap pekerjaannya, tingkah laku atau penampilan siswa.
c. Penguatan dengan sentuhan
Penguatan yang demikian dapat berupa menepuk-nepuk bahu, atau pundak
siswa, menjabat tangan siswa, atau mengangkat tangan siswa yang menang
pertandingan.
d. Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan
Yaitu dengan memberikan tugas-tugas atau kegiatan-kegiatan yang disenangi
siswa.
e. Penguatan berupa symbol atau benda
Penguatan jenis ini dapat berupa komentar tertulis pada buku siswa, kartu
bergambar, bintang plastik, lencana, dan hadiah berupa benda. Yang terakhir
ini, sebaiknya tidak terlalu sering digunakan, agar tidak terebentuk kebiasaan
siswa yang selalu berharap imbalan.
Penggunaan kedua bentuk penguatan itu dimaksudkan untuk mendorong
siswa agar mau belajar lebih giat lagi dan lebih bermakna.
Dalam rangka pengelolaan kelas, dikenal penguatan positif dan penguatan
negatif. Penguatan positif bertujuan untuk mempertahankan dan memelihara
perilaku positif, berupa pemberian penghargaan untuk merespon perilaku siswa
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 42
yang sesuai dengan harapan guru sehingga ia tetap merasa senang mengikuti
pelajaran di kelas. Uraian di atas merupakan penguatan yang bersifat positif.
Sedangkan penguatan negatif merupakan penguatan perilaku dengan cara
menghentikan keadaan atau prilaku yang kurang menyenangkan atau menghapus
rangsangan yang tidak menyenangkan sehingga siswa merasa terbebas dari keadaan
seperti itu. Penguatan negatif juga dapat dilakukan secara verbal dan nonverbal.
Penguatan negatif non-verbal misalnya berupa gelengan kepala dan kerut kening
sebagai tanda tidak setuju.
Prinsip Keterampilan Memberi Penguatan
Dalam memberikan penguatan harus diperhatikan prinsip - prinsip berikut:
1. Hangat dan antusias.
Hal ini diperlihatkan dalam gerakan, ekspresi wajah, suara serta bahasa
tubuh.
2. Sungguh-sungguh dan bermakna.
Penguatan diberikan dengan serius dan tidak hanya bersifat basabasi.
3. Menghindari respon dan komentar negatif jika siswa tidak mampu
menjawab pertanyaan sesuai harapan
4. Penguatan harus bervariasi, baik yang verbal maupun non verbal.
Penguatan tidak selalu dengan kata-kata yang sama, tetapi menyesuaikan
dengan kondisi dan kualitas jawaban siswa. Penguatan non verbal dapat
berupa anggukan, senyum, sentuhan, bahasa tubuh, dan gerakan tangan.
5. Sasaran penguatan harus jelas
Penguatan harus jelas tujuannya kepada siswa tertentu dengan
menyebutkan namanya dan menuju pandangan ke siswa tersebut.
F. Keterampilan Mengelola Kelas
Kelas merupakan wahana paling dominan bagi terselenggaranya proses
pembelajaran bagi peserta didik. Kedudukan kelas yang begitu penting
mengisyaratkan bahwa guru harus professional dalam mengelola kelas agar
terselenggaranya proses pendidikan dan pembelajaran yang efektif dan efisien.
Kelas adalah “kekuasaan” terbesar guru. Maksudnya, entah ia seorang guru
kelas atau guru mata pelajaran, ia mempunyai kekuasaan amat besar untuk
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 43
mengelola kelasnya. Dalam proses penyelenggaraan pendidikan, peranan guru
sangat menentukan. Seorang guru yang telah merencanakan proses pembelajaran di
kelas, dituntut mampu mengenal, memahami, dan memberikan kesempatan untuk
mengembangkan minat dan potensi anak didiknya agar mereka tidak merasakan
pemaksaan selama pembelajaran berlangsung, oleh sebab itu guru di dalam kelas
adalah seorang manajer yang mempunyai tugas dan tanggung jawab menciptakan,
mengatur, dan mengelola kelas secara efektif dan menyenangkan.
Keterampilan manajemen kelas (classroom management skills) menduduki
posisi penting dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Dengan
demikian keterampilan manajemen kelas sangat krusial dan fundamental dalam
mendukung proses pembelajaran. Faktanya, tidak semua guru menyadari
ketidakmampuan dan kelemahannya dalam pengelolaan kelas. Itulah sebabnya
sering muncul ungkapan-ungkapan yang berkonotasi menyalahkan siswa seperti,
“Kalau diajar, dia selalu ramai”. “Siswa tidak mau memperhatikan pelajaran”, dst.
Guru yang masih menyatakan ungkapan-ungkapan seperti itu, seharusnya
menyadari bahwa dia belum memiliki keterampilan menguasai kelas secara
memadai. Masalahnya, mengakui kekurangan sering kali tidak mudah. Guru-guru
yang rendah keterampilannya dalam bidang manajemen kelas, sulit untuk dapat
menyelesaikan banyak hal yang menjadi tugas pokoknya.
Keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan guru dalam
menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal serta keterampilan
mengembalikan kondisi belajar ke kondisi yang optimal bila terdapat gangguan
dalam proses belajar baik yang bersifat gangguan kecil dan sementara maupun
gangguan yang berkelanjutan. Dalam bahasa lain keterampilan mengelola kelas
dapat diartikan sebagai seni atau keterampilan guru dalam mengoptimalkan sumber
daya kelas bagi penciptaan proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
Latihan keterampilan mengelola kelas bagi guru/calon guru dimaksudkan:
1. Agar guru dapat mengembangkan keterampilan dalam memelihara kelancaran
penyajian dan langkah-langkah proses pembelajaran secara efektif.
2. Memiliki kesadaran terhadap kebutuhan siswa.
3. Mengembangkan kompetensi guru dalam memberikan pengarahan yang jelas
kepada siswa.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 44
4. Memberi respon secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang menimbulkan
gangguan baik kecil atau ringan.
5. Memahami dan menguasai seperangkat kemungkinan strategi dan yang dapat
digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku siswa yang
berlebihan atau terus menerus mengganggu proses pembelajaran.
Keterampilan mengelola kelas bagi siswa mempunyai tujuan untuk:
1. Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah
lakunya, serta sadar untuk mengendalikan dirinya.
2. Membantu siswa agar mengerti akan arah tingkah laku yang sesuai dengan tata
tertib kelas, dan melihat atau merasakan teguran guru sebagai suatu peringatan
dan bukan kemarahan.
3. Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah
laku yang wajar sesuai dengan aktivitas kelas.
Secara garis besar keterampilan mengelola kelas terbagi dua bagian yaitu;
1. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi
belajar yang optimal, yang dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
a. Memusatkan perhatian siswa
Hal ini dilakukan dalam rangka mempersiapkan peserta didik dalam
pembelajaran dengan cara memperhatikan sikap dan mengatur tempat
duduk siswa, serta memulai pelajaran setelah nampak siswa siap belajar.
b. Menunjukan sikap tanggap
Guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul
pada siswa dan memberikan tanggapan-tanggapan atas perilaku tersebut
dengan maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan
memunculkan perilaku susulan yang kurang baik.
c. Membagi perhatian
Kelas diisi lebih dari satu orang akan tetapi sejumlah orang (siswa) yang
memiliki keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang
membutuhkan bantuan dan pertolongan dari guru. Perhatian guru tidak
hanya terfokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu yang dapat
menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merat
kepada setiap anak yang ada di dalam kelas.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 45
d. Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas
Untuk mengarahkan kelompok kedalam pusat perhatian seperti dijelaskan
di atas, juga memudahkan anak menjalankan tugas-tugas yang dibebankan
kepadanya maka tugas guru adalah mamaparkan setiap pelaksanan tugas-
tugas tersebut sebagai petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan anak
secara bertahap dan jelas.
e. Memberi teguran secara bijaksana
Permasalahan bisa terjadi dalam hubungannya antara siswa dengan siswa
dan siswa dengan guru. Permasalahan dalam hubungan tersebut bisa
terjadi dalam konteks pembelajaran, sehingga guru sebagai pemegang
kendali kelas harus mampu memberikan teguran yang bijak sesuai dengan
tugas dan perkembangan siswa. Sifat dari teguran tidak merupakan hal
yang memberikan efek penyerta yang menimbulkan ketakutan pada siswa
tapi bagaimana siswa bisa tahu dengan kesalahan yang dilakukannya.
f. Memberi penguatan ketika diperlukan
Penguatan adalah upaya yang diarahkan agar prestasi yang dicapai dan
perilaku-perilaku yang baik dapat dipertahankan oleh siswa atau bahkan
mungkin ditingkatkan dan dapat ditularkan kepada siswa lainnya.
Penguatan yang dimaksudkan dapat berupa reward yang bersipat moril
juga yang bersifat material tapi tidak berlebihan.
2. Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang
optimal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara – cara :
a. Memodifikasi tingkah laku
Modifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku
ke dalam tuntutan kegiatan pemebelajaran sehingga tidak muncul
prototype pada diri anak tentang peniruan perilaku yang kurang baik.
b. Pengelolaan kelompok
Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas adalah merupakan
bagaian dari pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi yang diterapkan
oleh guru. Kelompok juga bisa muncul secara informal seperti teman
bermain, teman seperjalanan, teman karena gender dan lain-lain. Untuk
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 46
kelancaran pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran maka
kelompok yang ada di kelas itu harus di kelola dengan baik oleh guru.
c. Menemukan & memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Permasalahan memiliki sifat perennial (akan selalu ada) dan nurturan
effect, oleh karena itu permasalahan akan muncul di dalam kelas kaitannya
dengan interaksi dan akan diikuti oleh dampak pengiring yang besar bila
tidak bisa diselesaikan. Guru harus dapat mendeteksi permasalahan yang
mungkin muncul dan dengan secepatnya mengambil langkah penyelesaian
sehingga ada solusi untuk masalah tersebut.
Hal yang Harus Dihindari
Berikut adalah beberapa kekeliruan yang perlu dihindari dalam menerapkan
keterampilan mengelola kelas:
1. Campur tangan yang berlebihan baik berupa komentar verbal atau
mengintervensi aktivitas siswa.
2. Kelenyapan perbuatan dan tingkah laku guru yang gagal melengkapi suatu
instruksi, sehingga penyajian terhenti beberapa saat yang sifatnya mengganggu
proses pembelajaran.
3. Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan. Contoh memulai kegiatan
berikutnya tanpa menuntaskan kegiatan sebelumnya dengan baik.
4. Penyimpangan. Misalnya terlalu asyik membicarakan suatu hal atau
melakukan aktivitas yang keluar dari tujuan pembelajaran.
5. Bertele-tele baik dalam uraian maupun dalam memberikan teguran yang
sederhana menjadi ocehan yang berkepanjangan.
G. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perseorangan
Secara fisik bentuk pengajaran ini berjumlah terbatas, yaitu berkisar antara
3 (tiga) dan 8 (delapan) orang untuk kelompok kecil, dan seorang untuk
perseorangan. Dalam pengajaran kelompok kecil dan perseorangan memungkinkan
guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa serta terjadinya hubungan yang
lebih akrab antara guru dan siswa dengan siswa.
Ada empat komponen keterampilan yang harus dimiliki oleh guru untuk
pengajaran kelompok kecil dan perorangan. Keempat keterampilan tersebut adalah
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 47
mengadakan pendekatan secara pribadi, mengorganisasikan, membimbing dan
memudahkan belajar, serta merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar-
mengajar.
Berikut uraian tentang cara bagaimana seharusnya guru melaksanakannya:
1. Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi
Agar potensi yang ada dalam diri siswa dapat dikembangkan secara optimal
untuk mencapai tujuan pembelajaran, siswa perlu merasa yakin bahwa guru
siap mendengarkan segala pendapatnya dan akan membantunya. Siswa perlu
merasa benar-benar diperhatikan oleh guru. Suasana ini dapat diciptakan
dengan cara:
a. Menunjukkan kehangatan dan kepekaan terhadap kebutuhan siswa baik
dalam kelompok kecil maupun perorangan.
b. Mendengarkan secara simpatik ide-ide yang dikemukakan siswa
c. Memberikan respon positif terhadap buah pikiran siswa.
d. Membangun hubungan saling mempercayai.
e. Menunjukkan kesiapan untuk membantu siswa tanpa kecenderungan
untuk mendominasi ataupun mengambil alih tugas siswa.
f. Menerima perasaan siswa dengan penuh pengertian dan keterbukaan.
g. Berusaha mengendalikan situasi.
2. Keterampilan mengorganisasi
Dalam hal ini guru memerlukan keterampilan untuk melakukan hal-hal berikut:
a. Memberikan orientasi umum, tentang tujuan tugas atau masalah yang akan
dipecahkan sebelum kelompok mengerjakan berbagai kegiatan yang telah
ditetapkan.
b. Memvariasikan kegiatan
c. Membentuk kelompok yang tepat
d. Mengkoordinasikan kegiatan
e. Membagi-bagikan perhatian
f. Mengakhiri kegiatan.
3. Keterampilan membimbing dan memudahkan pelajaran
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 48
Keterampilan ini memungkinkan guru membantu siswa untuk maju tanpa
mengalami frustasi. Hal ini dapat dicapai bila guru memiliki keterampilan
berikut:
a. Memberikan penguatan yang sesuai dalam bentuk kuantitas dan kualitas.
Karena pada dasarnya penguatan merupakan dorongan yang penting bagi
siswa.
b. Mengembangkan supervisi proses awal yaitu yang mencakup sikap
tanggap guru terhadap siswa secara perorangan maupun keseluruhan yang
memungkinkan guru melihat atau mengetahui apakah segalanya berjalan
dengan baik.
4. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar
mengajar
Keterampilan ini mencakup hal-hal yang berhubungan dengan kurikulum
terutama pengembangannya. Kegiatan belajar mengajar ini mencakup:
a. Membantu siswa menetapkan tujan pelajaran yang dapat dilakukan dengan
diskusi atau menyediakan bahan-bahan yang menarik yang mampu
menstimulasi siswa untuk mencapai tujuan tertentu.
b. Merencanakan kegiatan belajar bersama siswa yang mencakup kriteria
keberhasilan, langkah-langkah kerja, waktu serta kondsi belajar.
c. Bertindak/berperan sebagai penasehat bagi siswa bila diperlukan. Hal ini
dapat dilakukan dengan berinteraksi aktif.
d. Membantu siswa menilai pencapaian dan kemajuannya sendiri. Hal ini
berbeda dari cara penialaian tradisional yang pada umumnya dilakukan
guru sendiri. Membantu siswa menilai diri sendiri berarti memberi
kesempatan kepada siswa untuk memperbaikinya, sekaligus pencerminan
kerjasama guru dalam situasi pendidikan yang manusiawi.
H. Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompak Kecil (Guiding Small
Discussion)
Memimpin diskusi kelompok kecil adalah suatu proses yang teratur yang
melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan
berbagi pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 49
masalah. Diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan siswa
menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses yang
memberi kesempatan untuk berpikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap
positif. Dengan demikian diskusi kelompok dapat meningkatkan kreativitas siswa,
serta membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dalamnya ketrampilan
berbahasa.
Ada 6 (enam) keterampilan yang harus dimiliki guru terkait membimbing
diskusi kelompok kecil, yaitu:
1. Memusatkan perhatian
Selama diskusi berlangsung dari awal sampai akhir guru harus selalu berusaha
memusatkan perhatian siswa pada tujuan atau topik diskusi. Tidak tercapainya
tujuan dapat disebabkan oleh penyimpangan topik. Cara yang dapat dilakukan:
a. Merumuskan tujuan pada awal diskusi serta mengenalkan topik.
b. Menyatakan masalah-masalah khusus dan menyatakan kembali bila terjadi
penyimpangan.
c. Menandai dengan cermat perubahan-perubahan yang tidak relevan yang
menyimpang dari diskusi dan tujuannya atau masalah khusus yang sedang
dibicarakan. Bila hal itu terjadi, guru segera mengajukan pertanyaan-
pertanyaan yang didahului dengan komentar yang memaksa dan
mengembalikan siswa untuk mempertimbangkan pengarahan dari
pertanyaan hingga diskusi kembali ke arah semula.
d. Merangkum hasil pembicaraan pada tahap-tahap tertentu sebelum
melanjutkan dengan masalah berikutnya. Rangkuman ini dibuat dengan
memanfaatkan gagasan siswa, misalnya;
1) Mengakui gagasan siswa dengan jalan mengulang bagian penting
yang diucapkan
2) Memodifikasi gagasan tersebut dengan cara menguraikannya
3) Menggunakan gagasan siswa untuk mencapai kesimpulan
4) Membandingkan gagasan siswa dengan gagasan yang telah diucapkan
sebelumnya
5) Merangkum hal-hal yang telah diuraikan siswa baik secara
perorangan maupun kelompok.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 50
2. Memperjelas masalah urunan pendapat
Selama diskusi berlangsung, sering terjadi penyampaian ide yang kurang jelas,
hingga sukar ditangkap oleh anggota kelompok. Untuk menghindari hal itu,
guru haruslah memperjelas penyampaian ide tersebut. Memperjelas dapat
dilakukan dengan cara:
a. Menguraikan kembali atau merangkum urunan tersebut hingga menjadi
jelas
b. Meminta komentar siswa dengan mengajukan pertanyaanpertanyaan yang
membantu mereka memperjelas ataupun mengembangkan ide tersebut
c. Menguraikan gagasan siswa dengan memberikan informasi tambahan atau
contoh yang sesuai, hingga kelompok memperoleh pengertian yang lebih
jelas.
3. Menganalisis pandangan siswa
Dalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat di antara anggota kelompok.
Guru diharapkan mampu menganalisis alasan perbedaan tersebut.
a. Meneliti apakah alasan tersebut memang mempunyai dasar yang kuat
b. Memperjelas hal-hal yang disepakati dan tidak disepakati
4. Meningkatkan urunan siswa
Berbagai cara dapat dilakukan untuk meningkatkan urunan pikiran, yaitu:
a. Mengajukan pertanyaan kunci yang menantang siswa untuk berpikir
karena pertanyaan tersebut merupakan tantangan bagi ide atau
kepercayaan.
b. Memberikan contoh baik verbal maupun non-verbal yang sesuai pada saat
yang tepat.
c. Menghangatkan suasana dengan mengajukan pertanyaan yang
mengundang perbedaan pendapat.
d. Memberi dukungan terhadap urunan siswa dengan jalan mendengarkan
dengan penuh perhatian, memberi komentar yang positif/mimik yang
memberikan dorongan serta sikap yang bersahabat.
e. Memberi waktu yang cukup untuk berpikir tanpa diganggu dengan
komentar guru.
5. Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 51
Agar hasil diskusi dapat dikatakan sebagai hasil kelompok dan agar setiap
anggota kelompok merasa terlibat mendapatkan kepuasan dalam diskusi
tersebut, kesempatan berpartisipasi perlu sebarkan. Dengan demikian guru
perlu memiliki keterampilan untuk memberikan kesempatan yang sama bagi
para siswa dalam berpartisipasi. Penyebaran kesempatan berpartisipasi ini
dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:
a. Mencoba memancing urunan siswa yang enggan berpartisipasi dengan
mengarahkan pertanyaan secara bijak.
b. Mencegah terjadinya pembicaraan yang serentak, dengan memberi giliran
pada siswa yang pendiam terlebih dahulu
c. Mencegah secara bijaksana siswa yang suka memonopoli pembicaraan
d. Mendorong siswa untuk mengomentari urunan temannya hingga interaksi
antar siswa dapat ditingkatkan
e. Meminta persetujuan siswa untuk melanjutkan diskusi dengan mengambil
salah satu pendapat/jalan tengah yang dianggap sesuai oleh guru, apabila
diskusi menemui jalan buntu.
6. Menutup diskusi
Keterampilan terakhir yang harus dikuasai guru adalah menutup diskusi.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 52
BAB 3
PENGELOLA DAN PELAKSANAAN MICROTEACHING
A. Pengelola dan Pelaksana Program
Praktik Microteaching dikelola oleh Kepala Laboratorium Microteaching
UM. Pelaksana microteaching adalah dosen-dosen FT UM dan dosen Pembelajaran
Mikroteaching FT UM
B. Sistem Bimbingan
Bimbingan praktik microteaching dilakukan secara bertahap dan terpadu,
artinya dalam latihan ketrampilan mengajar, khususnya pada tahap latihan
ketrampilan terpadu, kelompok mahasiswa dibimbing oleh satu tim terdiri atas
dosen pembimbing dan petugas yang ditunjuk. ldealnya tim ini terdiri atas tiga
orang supervisor.
C. Deskripsi Tugas
1. Tugas Laboratorium Microteaching dan PPL.
a. Mendata dan mengatur mahasiswa yang memenuhi syarat untuk
melaksanakan microteaching, bekerja sama dengan program studi di FKIP-
UMS.
b. Mengatur penempatan kelompok-kelompok dalam ruang yang tersedia.
c. Menyediakan fasilitas microteaching dalam batas-batas kemampuan.
d. Menyediakan petugas-petugas supervisor baik dosen fakultas maupun
petugas yang ditunjuk oleh ketua program studi.
e. Memantau pelaksanaan microteaching.
f. Menyediakan petugas operator laboratorium (dalam batas-batas tertentu).
g. Mengadakan pemeliharaan dan perbaikan peralatan laboratorium.
2. Tugas Dosen
Tugas dosen Microteaching adalah:
a. Menjelaskan teori dan prosedur praktik microteaching;
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 53
b. Membimbing mahasiswa dalam pembuatan program Satuan Pelajaran (SP)
atau Rencana Pembelajaran (RP);
c. Membimbing diskusi hasil supervisi mahasiswa praktikan.
d. Membimbing latihan ketrampilan terbatas;
e. Memberikan contoh bersikap atau berkepribadian guru;
f. Membimbing Mahasiswa dalam ketrampilan terpadu;
g. Mengevaluasi hasil latihan microteaching;
h. Mengoperasikan peralatan laboratorium untuk kepentingan microteaching.
3. Tugas Mahasiswa
Mahasiswa bertugas:
a. Mengikuti perkuliahan secara tertib sesuai dengan jadwal yang sudah
ditentukan;
b. Mengikuti perkuliahan minimal 75% dari jadwal yang sudah ditentukan;
c. Membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) untuk latihan
ketrampilan terbatas maupun terpadu;
d. Membuat dan mempersiapkan peralatan atau media dalam melaksankan
praktik;
e. Melaksanakan latihan ketrampilan terbatas dan diskusi;
f. Melaksanakan latihan ketrampilan terpadu dan diskusi.
4. Kewajiban Mahasiswa
Mahasiswa memiliki kewajiban sebagai berikut:
a. Memakai pakaian seragam hitam putih seperti yang telah ditentukan oleh
FKIP. Baju wanita menutup seluruh pantat (bawah hitam atas putih).
b. Mahasiswa laki-laki berambut pendek (depan tidak menutup dahi, samping
tidak menutup telinga dan belakang tidak menutup leher).
c. Menyiapkan kelengkapan untuk latihan ketrampilan terbatas dan terpadu;
d. Hadir tepat pada waktu kegiatan;
e. Mengikuti seluruh kegiatan microteaching;
f. Bersikap sebagai calon guru;
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 54
g. Pada waktu microteaching mahasiswa diperlakukan sebagai siswa bagi
mahasiswa yang sedang mengajar/ praktik;
h. Memberi masukan dalam pelaksanaan microteaching;
i. Berkonsultasi secara aktif dengan dosen pembimbing microteaching;
5. Materi Kegiatan Microteaching :
Microteaching mencakup empat macam kegiatan pokok, yakni :
a. Orientasi :
Dalam kegiatan orientasi, dosen pembimbing/pengamat memberikan
penjelasan tentang seluk-beluk microteaching antara lain: pengertian dasar,
tujuan, materi, prosedur, dan evaluasi serta tata tertib perkuliahan
microteaching. Orientasi ini dapat dilaksanakan pada pertemuan awal
secara klasikal maupun kelompok kecil.
b. Observasi :
Kegiatan ini bertujuan untuk mengenal dan memperoleh gambaran secara
riil penampilan seorang guru dalam pembelajaran riil di kelas. Observasi
dapat pula dilakukan secara tidak langsung, yakni dengan melalui rekaman
Video Tape Recorder (VTR) atau Audio Tape Recorder (ATR) atau VCD
maupun DVD. Kegiatan observasi segera dikuti kegiatan diskusi hasil
pengamatan (observasi), khususnya yang berkaitan dengan ketrampilan-
ketrampilan mengajar praktikan.
c. Latihan Ketrampilan Terbatas :
Inti microteaching ialah memberikan latihan secara intensif, agar
mahasiswa menguasai berbagai ketrampilan mengajar. Beberapa
ketrampilan mengajar telah dikemukakan pada bab I.
d. Latihan Ketrampilan Terpadu
Latihan ketrampilan terpadu merupakan bentuk lanjut ketrampilan-
ketrampilan terbatas. Dalam hal ini pengertian "mikro" masih berlaku
untuk sejumlah mahasiswa; topik/sub topik, dan waktu, tetapi untuk jenis
ketrampilan yang dilatihkan sudah merupakan bentuk perpaduan dari
semua ketrampilan mengajar, sejak ketrampilan menyusun Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), menyajikan materi dengan segala
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 55
ketrampilan, sampai menutup pelajaran termasuk mengadakan evaluasi.
Butir-butir ketrampilan mengajar yang dilatihkan dapat dilihat pada acuan
format observasi microteaching (lihat lampiran).
Catatan :
Semua latihan mengarah pada pembelajaran aktif.
D. Evaluasi Microteaching
Untuk mengetahui sejauh mana kompetensi mahasiswa dalam
microteaching, maka harus ada evaluasi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam
melaksanakan evaluasi adalah:
a. Dalam mengevaluasi microteaching, diberlakukan sistem evaluasi
berlanjut, artinya nilai diambil dari rata-rata hasil latihan praktik
ketrampilan terbatas dan terpadu;
b. Nilai latihan ketrampilan terbatas (N1);
c. Nilai latihan ketrampilan terpadu (N2) diambil dari nilai rata-rata RP dan
nilai rata-rata penyajian sesuai dengan format penilaian terlampir yang
merupakan nilai rata-rata dari dua atau tiga orang dosen pembimbing;
d. Nilai akhir (NA) microteaching diambil dari rata-rata Nl dan N2 dengan
pembobotan;
e. Nilai akan diberikan kepada mahasiswa apabila memenuhi semua
persyaratan yang telah ditetapkan oleh pengelola laboratorium micro
teaching;
f. Pedoman untuk mengubah nilai dari angka ke huruf adalah sebagai berikut:
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 56
BAB 4
PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR
SKEMA : POS PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MICROTEACHING
A. Penggunaan Ruang Laboatorium Microteaching
Bagi dosen yang akan melaksanakan perkuliahan Microteaching langkah/
kegiatannnya sebagai berikut:
1. Mengambil kunci di bagian pengajaran ( kunci hanya boleh diambil/
dikembalikan dosen );
2. Mengunci/Membuka pintu laboratorium dan ruang observasi( pintu rangkap
dua );
3. Menghidupkan lampu( remang-remang ) dengan saklar di samping pintu.
4. Mengunci/membuka pintu ke tiga( ruang kelas/kuliah );
5. Mengunci/membuka pintu ruang operator;
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 57
6. Menghidupkan lampu sesuai dengan kebutuhan;
7. Menghidupan AC Ruang Kelas dan Ruang Operator;
8. Menghidupkan peralatan Lab. (Komputer, Ampifire, Kamera, Mikrophon,
LCD, sesuai kebutuhan ). Harap sesuai dengan petunjuk yang sudah diberikan;
9. Mengisi buku penggunaan laboratorium microteaching;
10. Melaksanakan pembelajaran microteaching/ kuliah lainnya;
11. Selesai pembelajaran kembalikan ruangan dalam keadaan rapi;
12. Mematikan semua peralatan Laboratorium;
13. Mematikan AC dengan remote dan lampu dengan saklar;
14. Mengunci pintu Operator;
15. Mengunci pintu ruang kuliah/kelas;
16. Mematikan lampu ruang observasi;
17. Mengunci pintu ruang laboratorium( rangkap dua );
18. Mengembalikan kunci ke bagian pengajaran (TU), bila sampai malam dan
kantor sudah tutup kunci titipkan ke SATPAM.
Catatan :
1. Mulai perkuliahan ke 4 semua mahasiswa harus sudah memakai seragam
sesuai dengan ketentuan.
2. Selama di ruang Lab. Microteaching tidak boleh makan atau minum serta
tidak boleh membuang sampah/kertas/plastik atau barang lainnya.
3. Tidak boleh menambah/mengurangi peralatan/mebel tanpa seijin pengelola
lab.
B. Peminjaman Ruang Laboratorium Microteaching
Ruang laboratorium microteaching dapat dipakai/ dipinjam untuk kuliah
atau seminar apabila tidak digunakan perkuliahan microteaching. Kapasitas ruang
maksimal 30 orang. Dengan demikian, perkuliahan dengan mahasiswa lebih dari
30 tidak boleh menggunakan ruang laboratorium microteaching.
Prosedur peminjaman ruang laboratorium sebagai berikut:
1. Dosen/program studi mengajukan peminjaman secara tertulis kepada
pengelola laboratorium.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 58
2. Pengelola akan menanggapi peminjaman tersebut dengan mengijinkan atau
menolak.
3. Peminjam yang diijinkan/diterima mengisi buku penggunaan laboratorium;
hari, tanggal, jam, keperluan. dll.
4. Peminjam/dosen selanjutnya menggunakan ruang laboratorium sesuai dengan
prosedur yang ada.
5. Peminjam wajib menjaga keamanan, kebersihan, dan ketertiban laboratorium.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 59
BAB 5
PENDAHULUAN
APA DAN MENGAPA LESSON STUDY
Bagi yang belum mengenal, lesson study bisa diartikan sebagai metoda atau
pendekatan pembelajaran. Padahal lesson study bukan metoda pembelajaran, juga
bukan pendekatan pembelajaran. Sebanarnya lesson study adalah model
pembinaan (pelatihan) profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara
kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsif-prinsif kolegalitas dan mutual
learning untuk membangun komunnitas belajar. Setelah membaca definisi lesson
study diatas, sebagian orang mempertanyakan, apa bedanya dengan PTK
(penelitian tindakan kelas) ? Jawabnya adalah dalam lesson study dapat dilakukan
PTK bahkan bukan hanya PTK saja. Dalam lesson study juga dapat dilakukan
penelitian pengembangan, RD (Research and Development).
Salah satu topic yang ramai diperbincangkan dalam dunia pendidikan saat
ini yaitu tentang Lesson Study. Lesson Study merupakan alternative baru yang
mengatasi masalah praktik pembelajaran. yang selama ini dipandang kurang efektif.
Sejak lama praktik pembelajaran di Indonesia pada umumnya cenderung dilakukan
secara konvensional yaitu melalui teknik komunikasi oral.
Praktik pembelajaran konvesional semacam ini lebih cenderung
menekankan pada bagaimana guru mengajar (teacher-centered) dari pada
bagaimana siswa belajar (student-centered), dan secara keseluruhan hasilnya dapat
kita maklumi yang ternyata tidak banyak memberikan kontribusi bagi peningkatan
mutu proses dan hasil pembelajaran siswa. Untuk merubah kebiasaan praktik
pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang berpusat
kepada siswa memang tidak mudah, terutama di kalangan guru yang tergolong pada
kelompok laggard (penolak perubahan/inovasi). Dalam hal ini, Lesson
Study tampaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif guna mendorong
terjadinya perubahan dalam praktik pembelajaran di Indonesia menuju ke arah yang
jauh lebih efektif.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 60
BAB 6
MENGENAL LESSON STUDY
A. SEJARAH LESSON STUDY
Sejarah Lesson study sudah berkembang di Jepang sejak awal tahun
1900an. Melalui kegiatan tersebut, guru-guru di Jepang mengkaji pembelajaran
melalui perencanaan dan observasi bersama yang bertujuan untuk memotivasi
siswa-siswanya aktif belajar mandiri.
Gambar 2.1 Suasana pembelajaran matematika dalam rangka
lesson study di SD Hamanogo, Jepang tahun 2005.
(Sumber : [Link]
[Link])
Lesson study dapat diselenggarakan oleh kelompok guru di suatu distrik
atau diselenggarakan oleh kelompok guru sebidang, seperti MGMP di Indonesia.
Kelompok guru dari beberapa sekolah berkumpul untuk melaksanakan lesson
study. Lesson study yang sangat popular di Jepang adalah lesson study yang
diselenggarakan oleh suatu sekolah atau yang dikenal dengan konaikenshu yang
berkembang sejak awal tahun 1960-an. Secara etimologis, konaikenshu berasal dari
dua kata, yaitu konai yang berarti sekolah dan kenshu yang berarti training. Jadi
istilah konaikenshu dapat berarti school based in service training atau inservice
education within the school atau in-house workshop.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 61
Pada tahun 1970-an pemerintah Jepang merasakan manfaat dari
konaikenshu dan sejak itu pemerintah Jepang mendorong sekolah-sekolah untuk
melaksanakan konaikenshu dengan menyediakan dukungan biaya dan intensif bagi
sekolah yang melaksanakan konaikenshu. Kebanyakan sekolah dasar dan sekolah
menengah pertama di Jepang melaksanakan konaikenshu. Walaupun pemerintah
Jepang telah menyediakan biaya bagi sekolah-sekolah yang melaksanakan
konaikenshu tetapi kebanyakan sekolah melaksanakan konaikenshu secara sukarela
karena sekolah merasakan manfaatnya.
Alasan mengapa lesson study di Jepang menjadi popular adalah
karena lesson study sangat membantu para guru. Walaupun lesson study menyita
waktu tetapi guru-guru memperoleh manfaat yang sangat besar berupa informasi
berharga untuk meningkatkan keterampilan mengajar mereka. Pernyataan beberapa
pendidik di Negara Jepang mengenai Lesson Study
“Saya pikir pengalaman terbaik dari lesson study adalah lesson study
memberi peluang kepada Anda untuk mereflkesi dan memikirkan kembali
cara mengajar Anda”
“Walaupun dalam waktu singkat guru-guru bertemu mendiskusikan
pembelajaran secara serius, hal ini merupakan pengalaman yang sangat
berharga”
“Saya pikir pengalaman (melaksanakan lesson study) memberi kita peluang
untuk membangun persahabatan yang baik diantara guru-guru. Saya kira
persahabatan yang kuat dapat dibangun ketika guru-guru bertemu dan secara
sangat serius memikirkan tentang apa yang kita kerjakan, mengaja. Dengan
kata lain lesson study dapat membantu guru-guru mempererat persahabatan,
saya kira hal itu sangat penting untuk semua guru”
“Proses on-the-job-problem-solving (lesson study) juga memerlukan
keseriusan, intensitas, dan tanggung jawab guru sebagai professional, sebab
sesuatu yang Anda coba lakukan di sekolah selalu mempengaruhi siswa-
siswa. Lingkungan kerja, perasaan serius ini merupakan manfaat dari
pengembangan keprofesionalan di sekolah”
Perkembangan Lesson Study di Amerika dan Eropa
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 62
The Third International Mathematics and Science Study (TIMSS)
merupakan studi membandingkan pencapaian hasil belajar Matematika dan IPA
kelas 8 (2 SMP). Penyebaran lesson study di dunia pada tahun 1995 di
latarbelakangi oleh TIMSS. Empat puluh satu negara terlibat dalam TIMSS, dua
puluh dari empat puluh satu Negara memperoleh skor rata-rata matematika yang
signifikan lebih tinggi dari Amerika Serikat. Negara-negara yang memperoleh skor
matematika yang lebih tinggi dari Amerika Serikat antara lain Singapura, Korea,
Jepang, Kanada, Francis, Australia, Hongaria, dan Irlandia. Sementara hanya 7
negara yang memperoleh skor matematika secara signifikan lebih rendah dari
Amerika Serikat, yaitu Lithuania, Cyprus, Portugal, Iran, Kuwait, Colombia, dan
Afrika Selatan.
Posisi pencapaian belajar matematika siswa-siswa SMP kelas 2 di Amerika
Serikat membuat negara itu melakukan studi banding pembelajaran matematika di
Jepang dan di Jerman. Tim dari Amerika Serikat melakukan perekaman video
pembelajaran matematika di Jepang, Jerman dan Amerika Serikat untuk dilakukan
analisis terhadap video pembelajaran tersebut. Pada waktu itu, Tim Amerika Serikat
menyadari bahwa Amerika Serikat tidak memiliki sistem untuk melakukan
peningkatan mutu pembelajaran, sementara Jepang dan Jerman melakukan
peningkatan mutu pembelajaran secara berkelanjutan. Amerika Serikat selalu
melakukan reformasi tetapi tidak melakukan peningkatan mutu. Selanjutnya ahli-
ahli pendidikan Amerika Serikat belajar dari Jepang tentang lesson study. Sekarang
lesson study telah berkembang di sekolah-sekolah di Amerika Serikat dan
diyakini lesson study sangat potensial untuk pengembangan keprofesionalan
pendidik yang akan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan. Selain
itu, lesson study juga telah berkembang di Australia.
Bagaimana lesson study berkembang di Indonesia
lesson study telah diperaktekan secara tekun dan terus menerus di Jepang
sejak seabad lalu sebagai usaha peningkatan mutu pendidikan. lesson study sudah
menjadi budaya sekolah-sekolah jepang terutama pada tingkat pendidikan dasar
sehingga mutu pendidikan merata di Jepang, baik di kota maupun di desa.
Peningkatan mutu pendidikan meningkatkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang
bermutu dan berakibat terhadap kemajuan bangsa jepang walaupun mereka tidak
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 63
memiliki SDA yang banyak. Pakar-pakar pendidikan di Amerika, Eropa, dan
Australia belajar lesson study dari Jepang dan mengembangkannya di negara
masing-masing.
Bagaiman lesson study berkembang di Indonesia ?. pengembangan lesson
study di Indonesia di awali dengan “Piloting”, melakukan inovasi pembelajaran
MIPA berbasis hand-on activity, daily lofe, dan local materials di beberapa sekolah
di Bandung oleh UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), di Yogyakarta oleh UNY
(Universitas Negeri Yogyakarta), dan di Malang oleh UM (Univeritas Negeri
Malang) sejak tahun 2001, pada pertengahan implementasi IMSTEP (Indonesia
Matematics and Science Teacher Education Project) yang didukung oleh JICA
(Japan International Cooperation Agency) dan direktorat jendral pendidikan tinggi.
Program piloting merupakan salah satu kegiatan dari IMSTEP. Kegiatan IMSTEP
terutama dipfokuskan pada pengembangan lembaga (capacity building) universitas
sasaran, anatara lain pengembangan kurikulum program pre- dan in-service dan
penulisan buku untuk mahasiswa. Empat puluh judul buku dalam bidang
matematika, kimia, fisika dan biologi telah diterbitkan oleh poenerbit UM Pres dan
didistribusikan keseluruh LPTK sebagai buku rujukan. Program piloting
memberikan hasil positif dalam artian dapat memotivasi siswa aktif belajar.
Sekolah sasaran program piloting adalah 2 SMP dan 2 SMA perkota sasaran.
Sayang, partisipasi guru dalam program piloting sanagt terbatas pada 4 guru
persekolah. Program IMSTEP kemudian dilanjutkan dengan program Follow-up
IMSTEP yang mengembangkan model diseminasi program piloting yang diberi
nama lesson study dengan melibatkan MGMP (musawarah guru mata pelajaran)
matematika dan IPA dikota sasaran sehingga partisipan mencapai 30 saampai 50
guru. Selanjutnya lesson study tersebut diformulasikan sesuai dengan budaya
indonesia yang didefinisikan sebagai ,odel pembinaan (pelatihan) profesi pendidik
melalui kajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan
prinsif-prinsif kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas
belajar.
Tujuan umum dari IMSTEP adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan
matematika dan IPA di Indonesia, sementara tujuan khususnya adalah untuk
meningkatkan mutu pendidikan matematika dan IPA ditiga IKIP yaitu IKIP
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 64
Bandung, IKIP Yogyakarta, dan IKIP Malang. Pada permulaan implementasi
IMSTEP, UPI, UNY, dan UM berturut-turut bernama IKIP Bandung, IKIP
Yogyakarta, dan IKIP Malang.
Indonesia pada saat ini mulai gencar disosialisasikan untuk dijadikan
sebagai sebuah model dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran siswa,
bahkan pada beberapa sekolah sudah mulai dipraktikkan. Meski pada
awalnya, Lesson Study dikembangkan pada pendidikan dasar, namun saat ini ada
kecenderungan untuk diterapkan pula pada pendidikan menengah dan bahkan
pendidikan tinggi.
Lesson Study bukanlah suatu strategi atau metode dalam pembelajaran,
tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses
pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan
berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan
melaporkan hasil pembelajaran. Lesson Study bukan sebuah proyek sesaat, tetapi
merupakan kegiatan terus menerus yang tiada henti dan merupakan sebuah upaya
untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam Total Quality Management, yakni
memperbaiki proses dan hasil pembelajaran siswa secara terus-menerus.
Berdasarkan data, Lesson Study merupakan kegiatan yang dapat mendorong
terbentuknya sebuah komunitas belajar (learning society) yang secara konsisten dan
sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada tataran individual maupun
manajerial.
Slamet Mulyana (2007) memberikan rumusan tentang Lesson Study sebagai
salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran
secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas
dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Sementara itu,
Catherine Lewis (2002) menyebutkan bahwa:
Lesson Study merupakan suatu pendekatan dalam peningkatan kualitas
pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru secara kolaboratif, dengan langkah-
langkah pokok merancang pembelajaran untuk mencapai tujuan melaksanakan
pembelajaran, mengamati pelaksanaan pembelajaran tersebut, serta melakukan
refleksi untuk mendiskusikan pembelajaran berikutnya. Aktivitas siswa dikelas,
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 65
dengan asumsi bahwa aktivitas siswa tersebut terkait dengan aktivitas guru selama
mengajar dikelas merupakan fokus utamanya.
Paparan diatas merupakan sejarah munculnya Lesson Study, Lesson Study
berasal dari Jepang pada awal tahun 1900-an, yang kemudian diikuti oleh Negara
Maju seperti Amerika Serikat. Seiring berjalannya waktu Lesson study berkembang
sangat pesat dan Indonesia pun ikut mengikuti pembelajaran ini. Negara Indonesia
sendiri menganut Lesson Study yang diawali oleh 3 Universitas yaitu IKIP
Bandung yang sekarang dikenal dnegan Universitas Pendidikan Indonesia, IKIP
Yogyakarta yang sekarang dikenal dengan Univeritas Negri Yogyakarta, dan IKIP
Malang yang sekarang dikenal dengan Universitas Negeri Malang. Tiga Universitas
ini mengawali lahirnya Lesson Study di Indonesia sejak awal tahun 2000an.
Sampai saat ini sudah banyak pendapat dari ahli pendidikan baik dari luar
negri maupun dari Indonesia sendiri, mereka saling mengutarakan pendapat yang
dimiliki tentang Lesson Study. Hal tersebut memiliki persamaan dalam
penjabarannya yaitu Lesson Study merupakan pembelajaran yang dirancang oleh
sekelompok guru dengan kolaboratif untuk menciptakan suasana belajar dengan
menjadikan guru sebagai fokus utamanya, namun menuntut siswa untuk bertindak
aktif didalam kelas.
Sekarang lesson study sudah menjadi program nasional. DIKTI sedang
mendiseminasikan lesson study ke seluruh LPTK dan program disemibasi sedang
dikembangkan oleh tim lesson study direktorat ketenagaan DIKTI. PMPTK juga
akan mendiseminasi lesson study ke seluruh kabupaten/ kota seluruh Indonesia
secara bertahap. Tentunya diharapkan implementasi lesson study di Indonesia tidak
dipandang sebagai proyek yang berakhir manakala proyek berakhir, akan tetapi
harus dipandang sebagai kebutuhan peningkatan mutu terus menerus agar
berdampak terhadap peningkatan mutu SDM Indonesia untuk kemajuan bangsa.
A. PENGERTIAN LESSON STUDY
Pengertian Lesson Study Lesson study adalah model pembinaan (pelatihan)
profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan
berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas dan mutual learning untuk
membangun komunitas belajar (Sumar Hendayana, dkk, 2009: 5).
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 66
Selain itu Styler dan Hiebert (Susilo, 2009: 3) mengatakan bahwa: Lesson
study adalah suatu proses kolaboratif pada sekelompok guru ketika
mengidentifikasikan masalah pembelajaran, merancang suatu skenario
pembelajaran (yang meliputi kegiatan mencari buku dan artikel mengenai topik
yang akan diajarkan) membelajarkan peserta didik sesuai dengan skenario (salah
seorang guru melaksanakan pembelajaran sedangkan yang lain mengamati),
mengevaluasi dan merevisi skenario pembelajaran, membelajarkan lagi skenario
pembelajaran yang telah direvisi, mengevaluasi lagi pembelajaran dan membagikan
hasilnya dengan guru-guru lain (mendiseminasikannya).
Shelley Friedkin ( 2005) mendefinisikan lesson study sebagai suatu proses
yang melibatkan guru yang bekerja sama untuk merencanakan, mengobservasi,
menganalisis, dan memperbaiki pembelajarannya. Pembelajaran dalam lesson
study sering disebut sebagai “research lesson” atau pembelajaran penelitian. Secara
lebih singkat, lesson study diartikan sebagai proses professional yang melibatkan
sekelompok guru yang merencanakan, mengobservasi, dan memperbaiki
pembelajarannya (Northwest Regional Educational Laboratory, 2004).
Sukirman (2006) memandang lesson study sebagai model pembinaan
profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan
berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk
membangun learning community. Dengan demikian lesson study bukan suatu
metode pembelajaran atau strategi pembelajaran. Namun demikian, dalam suatu
kegiatan lesson study dapat digunakan berbagai metode, strategi, atau pendekatan
pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi
pendidik.
Menurut Kopp (Sudarmnanto, 2008: 9) Lesson study adalah sebuah proses
pengembangan kompetensi professional para guru yang berasal dan dikembangkan
secara sistematis dalam system pendidikan di jepang dengan tujuan utama
menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih baik dan efektif.
Lesson study merupakan sebuah model pembinaan guru dalam
meningkatkan kinerja guru yang dilakukan secara bersama-sama oleh sekelompok
guru demi mewujudkan kinerja guru ke arah yang lebih baik lagi.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 67
Keunggulan Lesson Study Lesson study merupakan pembinaan kompetensi
profesional guru tentu mempunyai keunggulan atau keutamaan yang membedakan
lesson study dengan cara lain dalam mengembangkan kompetensi profesional guru.
Rusman (2010: 391) mengatakan bahwa “Keutamaan dari lesson study adalah dapat
meningkatkan keterampilan atau kecakapan dalam melakukan kegiatan
pembelajaran yang dilakukan guru melalui kegiatan lesson study, yakni belajar dari
suatu pembelajaran.” Lesson study merupakan suatu cara efektif yang dapat
meningkatkan kualitas belajar dan mengajar serta pelajaran di kelas. Hal itu benar,
karena:
a. Pengembangan lesson study dilakukan dan didasarkan pada hasil sharing
pengetahuan profesional yang berlandaskan pada praktik dan hasil pengajaran
yang dilaksanakan para guru.
b. Penekanan mendasar pada suatu lesson study adalah para siswa memiliki
kualitas belajar.
c. Tujuan pelajaran dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pembelajaran
di kelas.
d. Berdasarkan pengalaman nyata di kelas, lesson study mampu menjadi landasan
bagi pengembangan pembelajaran.
e. Lesson study akan menempatkan peran para guru sebagai peneliti
pembelajaran Berdasarkan pendapat di atas, lesson study menjadi suatu model
pembinaan profesi guru yang tepat untuk mengembangkan kompetensi
profesional guru sebagai pendidik. Lesson study mempunyai keunggulan
menciptakan kerja sama antar guru dalam mengembangkan pembelajaran,
memberi peluang guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran
secara bersama-sama, dan menjadikan guru semakin dekat dalam
berkomunikasi.
Lesson Study menurut Project (LSP) memiliki beberapa manfaat dalam
pendidikan diantaranya:
1. Guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya,
2. Guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya,
3. Guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson
Study. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, manfaat yang ketiga ini dapat
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 68
dijadikan sebagai salah satu Karya Tulis Ilmiah Guru, baik untuk kepentingan
kenaikan pangkat maupun sertifikasi guru. Terkait dengan penyelenggaraan
Lesson Study,
Slamet Mulyana (2007) mengetengahkan tentang dua tipe penyelenggaraan
Lesson Study, yaitu Lesson Study berbasis sekolah dan Lesson Study berbasis
MGMP. Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan oleh semua guru dari berbagai
bidang studi dengan kepala sekolah yang bersangkutan. dengan tujuan agar kualitas
proses dan hasil pembelajaran dari semua mata pelajaran di sekolah yang
bersangkutan dapat lebih ditingkatkan. Sedangkan Lesson Study berbasis MGMP
merupakan pengkajian tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh
kelompok guru mata pelajaran tertentu, dengan pendalaman kajian tentang proses
pembelajaran pada mata pelajaran tertentu, yang dapat dilaksanakan pada tingkat
wilayah, kabupaten atau mungkin bisa lebih diperluas lagi.
Selain itu, dapat pula mengundang pihak lain yang dianggap kompeten dan
memiliki kepedulian terhadap pembelajaran siswa, seperti pengawas sekolah atau
ahli dari perguruan tinggi. Sementara itu, Catherine Lewis (2002) menyebutkan
bahwa: “lesson study is a simple idea. If you want to improve instruction, what
could be more obvious than collaborating with fellow teachers to plan, observe,
and reflect on lessons? While it may be a simple idea, lesson study is a complex
process, supported by collaborative goal setting, careful data collection on student
learning, and protocols that enable productive discussion of difficult issues”.
Lesson Study bukan suatu metode mengajar atau bukan suatu strategi
pembelajaran tetapi lesson study adalah suatu model pembinaan profesi guru
melalui belajar mengajar (pengkajian pembelajaran) secara kolaboratif dengan
system siklus dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan
mutual learning untuk membangun learning community. Lesson study dalam
aktivitasnya guru dapat memilih dan menerapkan berbagai metode/strategi
pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi
guru.
Akhmad Sudrajat, (2008: 1) menjelaskan bahwa lesson study merupakan
salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang
dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 69
Bill Cerbin & Bryan Kopp dalam Akhmad Sudrajat (2010) mengemukakan
bahwa Lesson Study memiliki 4 (empat) tujuan utama, yaitu untuk: (1) memperoleh
pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar,
(2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh para guru
lainnya, di luar peserta Lesson Study, (3) meningkatkan pembelajaran secara
sistematis melalui inkuiri kolaboratif, (4) membangun sebuah pengetahuan
pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.
Catherine Lewis (2004) mengemukakan pula tentang ciri-ciri esensial dari
Lesson Study, yang diperolehnya berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa
sekolah di Jepang, yaitu:
1. Tujuan bersama untuk jangka panjang. Lesson study didahului adanya
kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan
dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas,
misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa,
pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar
siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembang- kan
kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya.
2. Materi pelajaran yang penting. Lesson study memfokuskan pada materi atau
bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam
pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa.
3. Studi tentang siswa secara cermat. Fokus yang paling utama dari Lesson Study
adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya,
apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana
siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas
yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas,
partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada
bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah
supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah.
4. Observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung boleh dikatakan
merupakan jantungnya Lesson Study. Untuk menilai kegiatan pengembangan
dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 70
dengan cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Lesson Plan)
atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses
pembelajaran secara langsung.
Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh tentang
proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai hal-hal yang
detail sekali pun dapat digali. Penggunaan videotape atau rekaman bisa saja
digunakan hanya sebatas pelengkap, dan bukan sebagai pengganti.
Berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru di Jepang, Caterine Lewis
mengemukakan bahwa Lesson Study sangat efektif bagi guru karena telah
memberikan keuntungan dan kesempatan kepada para guru untuk dapat:
1. Memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan
dibelajarkan kepada siswa
2. Memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk
kepentingan masa depan siswa, misalnya tentang arti penting sebuah
persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir siswa, serta
kegandrungan siswa terhadap ilmu pengetahuan
3. Mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran
melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan Lesson Study)
4. Belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat
menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa
5. Mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan
pembelajaran maupun selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran
6. Membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para guru
bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang
pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan siswa
7. Mengembangkan “The Eyes to See Students” (kodomo wo miru me), dalam
arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang
perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas.
Pernyataan diatas merupakan pengertian Lesson Study yang disampaikan
oleh beberapa ahli, hal tersebut dapat disimpulkan bahwa Lesson Study merupakan
Proses kolaboratif yang berisi tentang identifikasi masalah pembelajaran, alur
pembelajaran yang direncanakan oleh sekelompok pendidik dan membelajarkan
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 71
peserta didik dengan alur tersebut serta menjadikan guru sebagai fokus utamanya,
mengevaluasi dan merevisi alur pembelajaran lalu membagikannya sebagai
pembelajaran selanjutnya.
Lesson Study yang ada saat ini merupakan pendekatan pembelajaran yang
telah di teliti sejak awal tahun 1900an. Lesson Study telah melalui banyak evaluasi,
kemudia direvisi oleh pihak yang adad didalamnya supaya Lesson Study menjadi
lebih baik dan lebih baik lagi sehingga layak di kembangkan dan gunakan oleh
banyak orang sampai saat ini.
Secara ringkas, gambaran umum dan tujuan utama lesson study serta
hubungannya dengan dengan empat kompetensi guru yang diharapkan UU No 14
Tahun 2005 tentangg guru dan dosen, diperliihatkan dalam gambar 2.
Gambar 2.1 : gambaran umum dan tujuan utama lesson study serta
hubungannya dengan kompetensi guru
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 72
1. Mengapa Lesson Study Perlu Dilakukan Di Lptk ?
Lembaga penyelenggaraan tenaga kependidikan mempunyai tanggung
jawab dalam menyiapkan calon pendidik yang akan bertugas melaksanakan
pendidikan tingkat dasar dan menengah, bahkan juga untuk perguruan tinggi. Ini
artinya, selain ditentukan oleh sistemm pendidikan yang dikembangkan olehh
pemerintah pusat maupun derah, kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kuaitas
lulusan LPTK, yakni guru. Dengan memperhatikan filosopi dan konsep
pelaksanaan lesson study di Jepang, serta berdasarkan pada hasil-hasil pengalaman
implementasi dibeberapa dareah rintisan diriktorat ketenagaan DIKTI sedang
memperogramkan pengembanagan Lesson study diseluruh LPTK di Indonesia.
Mengapa lesson study menjadi salah satu program andalan dalam
membangun pendidikan melalui LPTK ? berikut diuraikan beberapa alasan yang
dikemukakan berdasrkan beberapa keunggulan lesson study.
1) Lesson study merupakan cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas
pemebelajaran.
Menurut Lewis (2002) dan Iverson (2002) lesson study memiliki peran
yang cukup besar dalam melakukan perubahan secara sistematik. Di Jepang lesson
study tidak hanya memberikan sumbangan terhadap pengetahuan keprofesionalan
guru, tetapi juga terhadap peningkkatan sistem pendidikan yang lebih luas. Lewis
mengguraikan bagaimana hal tersebut dapat terjadi dengan menguraikan
bagaimana hal tersebut dapat terjadi dengan membahas lima jalur yang dapat
ditempuh lesson study yaitu 1) membawa tujuan standar pendidikan kealam nyata
didalam kelas, 2) menggalakkan perbaikan dengan dasar data, 3) mentargetkan
pencapaian berbagai kualitas siswa yang mempengaruhi kegiatan belajar, 4)
menciptakan tuntutan mendasar perlunya peningkatan pembelajaran dan 5)
menjunjung tinggi nilai guru (Lewis, 2002).
Melalui lesson study guru secara kolaboratif berupaya menerjemahkan
tujuan dan standar pendidikan ke alam nyata di dalam kelas. Mereka berupaya
merancang pembelajaran sedemikian sehingga siswa dapat dibantu menemukan
tujuan pembelajaran yang dituliskan untuk suatu materi pokok (yang didalam
kurikulum kita sekarang berarti siswa dibantu untuk menguasai kompetensi dasar
yang diharapkan). Selain itu, guru di Jepang juga memperhatikan aspek lain standar
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 73
pendidikan nasional mereka yaitu belajar memiliki kebiasaan berpiikir ilmiah, saya
disebutkan disini sebagai memiliki kecakapan hidup. Mereka berupaya merancang
suatu sekenario pembelajaran yang memperhatikan kompetensi dasar dan
penegembangan kebiasaan berpkir ilmiah itu dengan membantu siswa agar
mengalami sendiri, misalnya pentingnya pengendallian variabel dan juga
memperoleh pengetahuan tertentu yang terkait meteri pokok yang dibelajarkan.
Setelah itu rancanagn pembelajaran itu dilakasanan, diamati, didiskusikan, dan
revisi serta kalau perlu dilaksanakan lagi.
Lesson study menggalakkan perbaikan dengan dasar data, dan data ini tidak
seperti yang selama ini terbatas pada hasil tes tulis (UAN) yang hanya mengukur
kinerja akademik yang sangat sempit. Sebaliknya dalam mengkaji pembelajaran
dalam lesson study, guru-guru secara cermat mengamati siswa dan mengumpulkan
data untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti berikut :
a. Bagaimana pengetahuan dan pemahaman siswa mengenai topik tersebut dapat
berubah sepanjang proses pembelajaran ?
b. Apakah siswa benar-benar tertarik pada topik ini, apakah mereka belajar
dengan terpaksa ?
c. Apakah siswa memiliki kuallitas individu mendasar yang diperlukan untuk
belajar ? misalnya apakah meraka tertib, bertanggung jawab dan mampu
mendengarkan dan memberi jawaban atau komentar terhadap gagasan teman
mereka satu sama lain ?
Guru di Jepang mengumpullkan dan menganalisis data-data ini dan
menggunakannya sebagai dasar untuk merancang perubahan dalam pembelajaran,
merancang prosedur dalam kelas dan merancang iklim kelas. Jadi dalam lesson
study tidak hanya diurus kegiatan belajar akdemis siswa saja, tetapi juga
diperhatikan motivasi siswa dan iklim sosial, yaiut faktor-faktor yang mungkin
turut berkontribusi terhadap kesuksesan akademis siswa dalam jangka waktu
panjang.
Lesson study mentargetkan berbagai kualitas siswa yang memppengaruhi
kegiatan belajar yanng disebut kecerdasan berpikir dan bersikap (the habits of mind
and heart that are fundamental to succes in scholl). Kecerdasan berpikir dan
bersikap yang dikembangkan selam bertahun-tahun di Jepang itu berupa ketekunan
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 74
(persistence), kerjasama (cooperation), tanggungjawab (responsibility), dan
kemauan untuk bekerja keras (willingnes to work hard). Agar dapat
mengembangkan hal tersebut, guru perlu bekerja sama sebagai suatu tim untuk
memberiikan lingkungan belajar (menurut istilah kita menumbuhkan budaya
sekolah) yang koheren dan konsisten. Tidak mungkin siswa belajar ”berpikir seperti
ilmuan” hanya di salah satu kelas, lalu pada tahun berikutnya hal ini tidak
dikembangkan lagi oleh gurunya. Lewis (2002) mencontohkan kecerdasan berpikir
dan bersikap yang dapat diamati pada siswa Jepang antara lain mendengarkan dan
merespon ide teman selama diskusi, dengan penuh tanggungjawab dan berhati-hati
mengenai bahan berbahaya dan alat yang mudah pecah, mencatat dengan tertib,
bekerjasama dengan mudah dalam kerja kelompok, dan membersihkan bahan dan
air yang tumpah setelah praktikum.
Lesson study juga menciptakan tuntutan mendasar perlunya peningkatan
pemeblajaran. Seorang guru yang mengamati pelaksanaan pembelajaran yang
diteliti (reseach lesson) akan mengadopsi pembelajaran sejenis setelah mengamati
respon siswa yang tertarik dan termotivasi untuk belajar dengan cara seperti yang
dilaksakan. Melalui pengamatan langsung terhadap pembelajaran yyang diteliti
(reseach lesson) maupun laporan tertulis, video, ataupun bberbagai pengalaman
dengan kolega, telah tersebar lluas berbagai rancangan pembelajaran yang telah
dikembangkan melalui lesson study yang meliputi berrbagai topik. Semua itu
dimulai ditingkat lokal, dikelola secara lokal, dan menyebar menjadi repormasi
tingkat sistem pendidikan keseluruh negeri. Misalnya dalam bidang Matematika,
berkat inspirasi dari sekelompook guruMatematika yang aktif menyelenggarakan
lesson study pada tahun 1970-an, seluruh guru di Jepang dalam dalam 30 tahun
terakhir ini mulai menekankan pemecahan masalah dalam matematika, dan
perlahan-lahan beralih kemengajar untuk memahamkan (teaching for
understanding) untuk tingkat matematika SD.
Selanjutnya, lesson study juga menjunjung tinggi nilai guru karena lesson
study mengenali pentingnya dan sulitnya mengajar, yaitu secara nyata
menerjemahkan standar pendidikan, kerangka dasar pendidikan dan ”Praktik
Pembelajaran” terbaik ke kelas. Lesson study menggunakan waktu dan sumber
daya guru untuk merancang, mengkaji dan memperbaiki apa yang secara nyata
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 75
terjadi dikelas. Lesson study merupakan suatu sistem penelitian dan pengembangan
dimana guru-guru mengembangkan teori dan praktik melalui kajian cermat
terhadap ”praktik terbaik” dalam kelas yang terus diuji dan dikembangkan.
2) Lesson study akan menghasilkan dosen/guru yang profesional dan
inovatif
Dengan melakukan lesson study maka pendidik (dosen dan guru) akan :
a. Lebih peduli akan hak mahasiswa untuk belajar dengan sebaik-baiknya.
b. Berpikir mengenai bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan sebaik-
baiknya.
c. Lebih serius membuat Satuan Acara Perkuliahan (SAP) atau Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Sehingga rencana pembelajaran juga akan
lebih baik kerena hasil pemikiran salah seorang dosen akan diberi masukan oleh
teman-teman dosen lainnya untuk memperbaiki/ meningkatkan kualitas rencana
pembelajaran.
d. Secara bersama-sama memilih dan menerapkan berbagai strategi / metode
pembelajaran atau materi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi atau
permasalahan pembelajaran yang dihadapi dosen.
e. Membantu mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran yang dituliskan untuk
suatu materii pokok (yang didalam kurikulum kita sekarang berarti mahasiswa
dibantu unntuk menguasai kompetensi dasar yang diharapkan.
f. Membantu mahasiswa belajar mengembangkan kebiasaan berpikir illmiah atau
belajar mengembangkan salah satu kecakapn hidup yaitu kecakapan hidup
akademik.
g. Melakukan perbaikan dengan dasar data yaitu dalam mengkaji pembelajaran
dalam lesson study, dosen secara cermat mengamati mahasiswa dan
mengumpulkan data untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti
berikut :
Bagaimana pengetahuan dan pemahaman mahasiswa mengenai topik
tersebut dapat berubah sepanjang proses pembelajaran ?
Apkah mahasiswa benar-benar tertarik pada topik ini, apakah meraka
belajar dengan terpaksa ?
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 76
Apakah mahasiswa memiliki kualitas individu mendasar yang diperlukan
untuk belajar ?, misalnya, apakah mereka tertib, bertanggungg jawab dan
mampu mendengarkan dan memveri jawaban atau komentar terhadap ide
teman mereka satu sama lain ?
h. Memperhatikan motivasi dan iklim sosial yaitu faktor-faktor yang mungkin
turut berkontribusi terhadap kesuksesan akademis mahasiswa dalam jangka
panjang.
i. Memperoleh masukan yang langsung dapat diterima, sesuai dengan kondisi
mahasiswa saat itu, dan berdasarkan observasi terhadap kenyataan nyata
pembelajaran. Masukan yang berasal mitra dosen itu sangat berharga karena
para dosen itu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai mahasiswa dan
kontek pembelajaran mereka, dan ppunya posisi yang terbaik untuk memahami
permasalahan yang dihadapi mahasiswa dan menyarankan pemecahan yang
mungkin ditempuh.
j. Memberikan lingkuungan belajar (menurut istilah kita menumbuhkan budaya
sekolah) yang koheren dan konsisten.
k. Mengadopsi pembelajaran sejenis dikelasnya sendiri setelah mengamati
respons mahasiswa yang tertarikdan termotivasi untuk belajar dengan cara
seperti yang dilaksnakan.
l. Mengembangkan keprofesionalannya, karena lesson study memungkinkan
dosen untuk 1) memmikirkan dengan cermat mengenai tujuan pembelajaran,
materi pokok, dan pembelajaran bidang study, 2)mengkaji dan
mengembangkan pembelajaran yang terabaik yang dapat dikembangkan, 3)
memperdalam pengetahuan mengenai materi pokok yang diajarkan, 4)
memikirkan secara mendalam tujuan jangka panjang yang akan dicapai yang
berkaitan dengan siswa, 5) merancang pembelajaran secara kolaboratif, 6)
mengkaji secara cermat cara dan proses belajar serta ringkah laku siswa, 7)
mengembangkan pengetahuan pedagogis yang sesuai untuk membelajarkan
siswa, dan 8) melihat hasil pembelajaran sendiri melalui mata siswa dan kolega.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 77
2. Dampak Dan Manfaat Lesson Study
Melalui lesson study mahasiswa akan mencapai berbagai kulaitas individu
yang mempengaruhi kegiatan belajar yang disebut kecerdasan berpikir dan
bersikap. Kecerdasan berpikir dan bersikap yang dapat dikembangkan selama
bertahun-tahun itu berupa ketekunan (persistence), kerjasama (cooperations),
bertanggungjawab (responsibiity), dan kemauan untuk bekerja keras ( willingnes to
work hard). Contoh kecerdasan berpkir dan bersikap yang dapat diamati pada
mahasiswa itu antara lain mendengarkan dan merespon ide teman selama diskusi,
dengan penuh bertanggung jawab dan berhati-hati menangani bahan berbahaya dan
mudah pecah, mencatat denga tertib, bekerja sama dengan teman dalam kerja
kelompok danmemberrsihkan bahan dan air yang tumpah setelah praktikum.
Melaui lesson study dosen dan mahasiswa memiliki semangat “mengkritik
diri sendiri” yang merupakan salah satu nilai yang dikembangkan melalui lesson
study (bahas jepangnya Hansei) yaitu melakukan refleksi secar jujur untuk
mengembangkan kekurangan diri sendiri. Pada akhir setiap pembelajaran atau akhir
sekolah, akhir minggu, akhir semester di Jepang dilakukan refleksi diri (hansei) ini.
Dosen dan mahasiswa melakukan hansei dengan mengajukan pertanyaan seperti
“apakah saya sudah mencoba dengan sekuat tenaga ?” “apakah saya ingat materi
apa yang harus saya bawa kekampus sepanjang minggu ini ?” “apaka saya sudah
melakukan perbuatan cinta kasih keteaman-teman saya ?” “apakah yang masih
perlu saya perbaiki ?”. pelaksanaan refleksi oleh mahasiswa dan dosen (siswa dan
guru) itu menular. Orang yang mendengarkan hasil refleksi orang lain akan mulai
menanyai diri sendiri juga, apakh dia telah melakukan yang terbaik yang harus
dilakukannya. Kebiasaan melakukan refleksi diri ini merupakan salah satu kunci
yang mendukung pelaksanaan lesson study (dan pembaharuan pendidikan di
Jepang).
Secara lebih rinci penerapan lesson study mempunyai beberapa manfaat,
antara lain :
1. Mengurangi keterasingan dosen dan komunitasnya dalam perencanaan dan
pelaksanaan pembelajaran dan perbaikannnya.
2. Membantu pendidik unntuk mengobservasi dan mengkritisi pembalajaran.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 78
3. Memperdalam pemahaman pendidik tentang materi pelajaran, cakupan dan
urutan kurikulum.
4. Membantu pendidik memfokuskan batuannya pada seluruh aktivitas belajar
mahasiswa.
5. Meningkatkan akuntabilitas kinerja dosen.
6. Menciptakan terjadinya pertukaran pemahaman tentang cara berpikir dan
belajar mahasiswa.
7. Meningkatkan kolaborasi pada sesama pendidik dalam pembelajaran.
8. Meningkatkan mutu pendidik dan mutu pembelajaran yang pada gilirannya
berakibat pada peningkatan mutu lulusan (mahasiswa).
9. Pendidik meiliki banayak kesempatan untuk membuat bermakna ide-ide
pendidikan dalam praktik pembelajaran dan belajar praktik pembelajaran dari
perspektif mahasiswa.
10. Perbaikan praktik pembelajaran di kelas.
11. Peningkatan keterampilan menulis karya tulis ilmiah atau buku ajar.
Selain manfaat di atas Tim ICLS (Sumar Hendayana,dkk, 2009: 34)
mengatakan bahwa ada 11 manfaat lesson study, yaitu :
a. Mengurangi keterasingan guru (dari komunitasnya) dalam perencanaan dan
pelaksanaan pembelajaran dan perbaikannya.
b. Membantu guru dalam mengobservasi dan mengkritisi pembelajarannya.
c. Memperdalam pemahaman guru tentang materi pelajaran, cakupan dan urutan
kurikulum.
d. Membantu guru memfokuskan bantuannya pada seluruh aktivitas belajar
peserta didik.
e. Meningkatkan akuntabilitas kinerja guru.
f. Menciptakan terjadinya pertukaran pemahaman tentang cara berfikir dan
belajar peserta didik.
g. Peningkatkan mutu guru dan mutu pembelajaran yang pada gilirannya
berakibat pada peningkatan mutu lulusan (peserta didik).
h. Pendidik memiliki banyak kesempatan untuk membuat bermakna ideide
pendidikan dalam praktik pembelajarannya sehingga dapat mengubah
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 79
perspektif tentang pembelajaran, dan belajar praktik pembelajaran dari
perspektif peserta didik.
i. Mempermudah guru berkonsultasi kepada pakar dalam hal pembelajaran atau
kesulitan materi pelajaran.
j. Memperbaiki praktik pembelajaran di kelas.
k. Meningkatkan keterampilan menulis karya tulis ilmiah atau buku ajar
Manfaat lesson study menurut Lesson Study Project (Akhmad Sudrajat,
diakses 17 Oktober 2012) adalah sebagai berikut :
a. Guru dapat mendokumentasikan kemampuan kerjanya.
b. Guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/kumunitas lainnya.
c. Guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari lesson
study.
Hal tersebut merupakan pendapat dan dapat disimpulkan bahwa manfaat
dari lesson study adalah:
a. Menciptakan suasana keakraban dan kekeluargaan antar sesama guru.
b. Memberi peluang bagi guru untuk memecahkan berbagai masalah dan
menciptakan solusinya secara bersama-sama serta saling bertukar pengalaman.
c. Memberikan kesempatan bagi guru untuk dapat membuat perencanaan
pembelajaran secara bersama-sama dan mempraktekan hasil kerjanya.
d. Membuat guru menjadi lebih profesional dalam mengajar sehingga
menciptakan suasana belajar yang kondusif bagi peserta didik sebagai tujuan
menelurkan para peserta didik yang terbaik demi masa depan Indonesia.
Menurut Widhiartama (2008: 17) bahwa Manfaat Lesson Study adalah
sebagai berikut.
1. Lesson Study Memicu Munculnya Motivasi Untuk Mengembangkan Diri
Lesson Study menciptakan sebuah kondisi dimana seorang pendidik harus
menghadapi perkembangan di luar lingkungannya. Guru dalam kegiatannya
senantiasa merasa kurang, sehingga akan berusaha bagaimana meningkatkan
kompetensi diri dan bisa meningkatkan kualitas pembelajaran.
2. Lesson Study Melatih Pendidik Melihat Peserta Didik
Dengan Lesson Study para pendidik memiliki kesempatan untuk mengamati
peserta didik walaupun dengan meminjam mata dari para observer. Melalui
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 80
para observer akan diketahui mana siswa yang aktif mana yang tidak aktif.
Melalui motivasi yang dilakukan oleh guru model siswa akan melakukan
perubahan karena akan diamati oleh observer.
3. Lesson Study Menjadikan Penelitian Sebagai Bagian Integral Pendidikan
Aktivitas Lesson Study dapat dianggap sebagai sebuah kegiatan
mengumpulkan data untuk menjawab permasalahan yang merupakan hakekat
dari sebuah penelitian.
4. Lesson Study Membantu Penyebaran Inovasi dan Pendekatan Baru
Setelah berhasil menyelesaikan serangkaian masalah sangat disarankan untuk
para pendidik menyebarkan segala hasil yang mereka dapatkan pada rekan-
rekan sesama pendidik maupun kalayak umum. Lesson Study merupakan
terobosan baru dalam dunia pendidikan dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran.
3. Landasan Yuridis Pelaksanaan Lesson Study
Landasan yuridis pelaksanaan lesson study ini adalah sebagai berikut.
Undang-undang No. 14 tahun 2005tentang guru dan dosen (UUGD). Pasal 2 ayat 1
menyatakan bahwa “Kedudukan guru adalah sebagai tenaga fungsional”. Seorang
yang menyebut dirinya profesional harus terus menerus meningkatkan layanan
profesinya untuk meningkatkan kemaslahatan anak didiknya. Karena tugasnya
yaitu membelajarkan siswa, seorang guru harus terus menerus belajar bagaimana
caranya memebelajarkan siswanya lebih baik karena tuntutan zaman yang makin
berubah. Kalau dulu dianggap sudahlah cukup apabila siswa hanya menguasai
aspek-aspek kognitif saja dalam pembelajaran (yang selama berpuluh-puluh tahun
dituntut meluli ebtanas, dilanjutkan dengan UAN dan semacamnya) sekarrang hal
itu sangatlah tidak memadai. Siswa harus juga menguasai berbagai kecakapan
hidup yang oleh UNESCO dirumuskan dalam bentuk empat pillar pendidikan yaitu
learning to be, learning to know, learning to do, dan learning to live together.
Seorang guru “produk lama” kalau tidak mau membaca lagi dan mengikuti
kemajuan dan tunrutan zaman akan tidak tahu mengenai perlunya menegakkan
keempat pilar pendidikan ini. Kalaupun dia tahu bahwa ada empat pilar pendidikan
yang perlu ditegakkannya,, tidak juga secara otomatis dia tahu bagaimana cara
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 81
menegakkannya. Oleh karenanya, guru harus terus menerus belajar sepanjang
hayatnya kalau mau menjadi dan disebut sebagai guru yang profesional.
Di dalam UUGD pasal 8 lebih lanjut dikatakan behwa “guru wajib memiliki
kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidikan, sehat jasmani dan rohani,
serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.
Didalam pasal-pasal selanjutnya dijelaskan bahwa “kualifikasi akademik
sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program
sarjana atau program diploma empat sementara kompetensi guru sebagaimana
dimaksud dalam pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan
profesi”. Bagi guru yang sudah memiliki latar belakang pendidikan S1 secara
teoritis sebenarnya sudah dipersiapkan untuk menguasai keempat profrsi tersebut,
tetapi secara nyata sebenarnya belum dapat dikatakan sudah mumpuni untuk
membelajarkan siswanya untuk memenuhi tuntutan zaman sekarng. Selain melalui
pendidikan profesi sebenarnya guru dapat dan perlu juga menempuhnya melalui
jalur-jalur lain terutama melalui lesson study.
Selain beberapa pasal dan ayat dalam UUDG juga menyatakan hal-hal
berikut.
Pasal 60 : (dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, dosen berkewajiban )
a. Merencannakan, melaksanakan proses pembelajaran serta menilai dan
mengevaluasi hasil pembeljaran.
b. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akdemik dan kompetensi
secara berkelanjutan sejalan dengan perkembengan ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni.
Pasal 69 :
a. Pembinaan dan pengembangan dosen meliputi pembinaan dan
pengembangan profesi dan karier.
b. Pembinaan dan pengembangan profesi dosen sebagaimana dimaksud ayat
1) meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi
sosial dan kompetensi profesional.
Pasal 71 :
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 82
a. Pemerintah wajib membina dan mengembangkan kualifikasi akdemik dan
kompetensi dosen pada satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh
pemeriintah dan/atau masyarakat.
b. Satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat wajib
membina dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi dosen.
Landasan yuridis yang lain untuk pelaksanaan lesson study adalah peraturan
pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Sttandar Nasional Pendidikan. Beberapa
pasal dan ayat yang sesuai antara lain pasal 19 :
1. Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberi ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas
dan kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis
peserta didik.
2. Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran,
pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran dan
pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran
yang efektif dan efisien.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 83
BAB 7
MEKANISME PELAKSANAAN KEGIATAN
A. TAHAPAN-TAHAPAN DALAM LESSON STUDY
Ada banyak cara untuk memulai pengembangan lesson study di suatu
lembaga pendidikan. Demikian juga langkah-langkah atau tahapan melaksanakan
lesson study juga ada variasi menurut pendapat satu ahli dengan yang lainnya.
Sebagai contoh Lewis (2002) menyarankan ada enam tahapan dalam awal
mengimplementasikan lesson study.
Tahap I : Membentuk kelompok lesson study, yang anatara lain berupa
kegiatan merekrut anggota kelompok, menyusun komitmen waktu
khusus, menyusun jadwal pertemuan dan menyetujui waktu
kelompok.
Tahap II : Memfokuskan lesson study, dengan tiga kegiatan antara lain a)
menyepakati tema penelitian (research theme) tujuan jangka
panjang bagi murid, b) memilih cakupan materi, c)vmemilih unit
pembelajaran dan tujuan yang disepakati.
Tahap III : Merencanakan rencana pembelajaran (reserch lesson), yang
meliputi kegiatan melakukan pengkajian pembelajaran yang telah
ada, mengembangkan petunjuk pembelajaran, meminta masukan
dari ahli dalam bidang study dari luar (dosen atau guru lain yang
berpengalaman).
Tahap IV : Melaksanakan pembelajaran dikelas dan mengamatinya
(observasi). Dalam hall ini pembelajaran dilakukan oleh salah
seorang guru anggota kellompok dan anggota yang lain menjadi
observer. Observer tidak diperkenenkan melakukan introduksi
terhadap jalannya pembelajaran baik kepada guru maupun kepada
siswa.
Tahap V : Mendiskusikan dan menganalisis pembelajaran, yang telah
dilaksanakan. Diskusi dan analisis sebaiknya mencakup butir-butir
: refleksi oleh instruktur, informasi latar belakang anggota
kelompok, presentasi dan diskusi data-data dari observer
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 84
pembelajaran, diskusi umum, komentar dari ahli luar, ucapan
terima kasih.
Tahap VI : Merefleksi pembelajarn dan merencanakan tahap-tahap
selanjutnya. Pada tahap ini anggota kelompok diharapkan berpikir
tentang apa yanhg harus dilakukan selanjutnya. Apakah
berkeinginan untuk membuat peningkatan agar pembelajaran ini
menjadi lebuh bauk ?, apakah akan mengujicobakan di kelas
masing-masing ?, dan anggota kelompok sudah puas dengan
tujuan-tujuan lesson study dan cara kerja kelompok ?
Sementara itu, Richarson (2006) menuliskan ada 78 tahap atau langkah yang
termasuk dalam lesson study, yakni :
Tahap 1 : membentuk sebuah tim lesson study.
Tahap 2 : memfokuskan lesson study.
Tahap 3 : merencanakan rencana pemebellajaran (lesson study).
Tahap 4 : persiapan untuk observasi.
Tahap 5 : melaksanakan pengajaran dan observasi.
Tahap 6 : melaksanakan Tanya jawab / diskusi pembelajaran.
Tahap 7 : melakukan refleksi dan merencanakan tahap selanjutnya.
Selain pendapat Lewis dan Rhicarson diatas sebenarnya masih ada beberapa
pendapat dari ahli lainnya, yang juga menunjukkan adanya variiasi langkah
tahapan. Dalam praktiknya di Indonesia melalui program IMSTEP dan SISTEMS
JICA kegiatan inti dari lesson study hanya ada tiga tahap, yakni perencanaan (plan),
pelaksanaan pembelajaran (do) dan refleksi (see), sebagaimana yang dikemukakan
oleh Saito (2005).
PERENCANAAN PELAKSANAAN (DO) REFLEKSI
(PLAN)
(SEE)
Pelaksanaan
Penggalian pembelajaran
akademik Pengamatan oleh Refleksi dengan
Perencanaan rekan sejawat teman sejawat
pembelajaran
Penyiapan alat-
alat
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 85
Gambar 3.1 : Daur lesson study yang terorientasi pada praktik (Saito, 2005).
Berikut akan diuraikan langkah-langkah pengembangan lesson study yang
disarankan berdasarkan pengalaman tiga universitas perintis lesson study.
1. Membentuk kelompok atau tim lesson study
Kegiatan lesson study adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok
dosen atau guru, dan bukan kegiatan individual. Ertinya dalam melaksanakan
kegiatan lesson study melibatkan banyak orang di suatu lembaga pendidikan. Oleh
karena itu perlu dilakukan koordinasi antara dosen atau guru dengan pimpinan
lembaga / fakultas atau sekolah. Untuk mendaptkan dukungan dari pimpinan perlu
ada kesepahaman antar tim dosen dengan pimpinan. Kooerdinasi ditingkat fakultas
(untuk pelaksanaan dikampus) dimaksudkan untuk membentuk dan
mengkoordinasikan adanya koordinator dan tim pelaksana. Berdasrkan pengalaman
mengembangkan lesson study di tiga fakkultas (pendidikan) MIPAUPI, UNY, dan
UM, untuk pelaksanaan yang lengkap lesson study diperlukan tiga tim atau satgas.
1) koordinator pelaksana lesson study di tingkat fakultas dan ketua tim lesson
study di tingkat jurusan / prodi, yang bertgas antara lain :
a. menyusun perencanaan pelaksanaan lesson study di tingkat fakultas dan
jurusan / prodi.
b. Mengkoordinasi pelaksanaan kegiatan lesson study, termasuk sosialisasi
kegiatan lesso study ke semua dosen fakultas serta pelaksanaan seminar
hasil-hasil lesson study.
c. Membantu pelaksnaan kegiatan lesson study secara keseluruhan.
d. Menyusun laporan akhir pelaksanaan lesson study secara keseluruhan.
2) tim monitoring dan evaluasi bertugas antara lain :
a. menyusun perencanaan, jadwal, penyusunan instrumen monev.
b. Melaksanakan monev.
c. Menyusun laporan hasil monev.
d. Mempresentasikan hasil monev.
3) Tim dokumentasi bertugas antara lain :
a. Menyusun perencanaan kegiatan dokumentasi yang disesuaikan dengan
jadwal pelaksanaan lesson study pada tiap kelompok dosen.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 86
b. Merekam kegiatan lesson study.
c. Mempresentasikan hasil rekaman pada kegiatan refleksi
d. Menyusun hasil rekaman dalam CD sebagai bahan pembelajaran.
e. Mengadministrasikan semua hasil kegiatan LS, seperti SAP, hasil observasi
perkuliahan dan refleksi, handout, jadwal kegiatan LS semua kelompok LS,
rencana pelaksanaan LS, dan sebagainya.
Setelah koordinasi di tingkat fakultas dan pembentukan koordinator dan
satgas dilaksanakan, maka tahap yang terpenting adalah pembentukan kelompok
atau tim lesson study. Pembentukan kelompok lesson study dapat dilakukan oleh
Ketua Jurusan / Prodi. Rambu-rambu dalam pembentukan kelompok lesson study
yang dapat dipertimbangkan anatara lain sebagai berikut :
a. Setiap jurusan/ program study membagi banyaknya mata kuliah pada semester
genap dan gasal menurut rumpun mata kuliah (ilmu). Dibeberapa perguruan
tinggi, seperti di FMIPA UM, rumpun tersebut dikenal dengan istilah
Kelompok Bidang Keahlian (KBK).
b. Setiap dosen sebaiknya hanya berada dalam satu rumpun matakuliah (ilmu)
untuk melaksanakan lesson study pada suatu semester. Contoh : kelompok
dosen rumpun Aljabar, kelompok dosen rumpun fisika dasar, kelompok dosen
kimia organik, dan sebagainya.
c. Setaiap dosen rumpun mata kuliah yang akan melakukan lesson study bisa
terdiri dari 3-6 dosen, bisa saja lebih tergantung kondisi masing-masingg
lembaga.
d. Jika suatu kelompok dosen yang hanya terdiri atas dosen-dosen yunior yang
belum banyak pengalaman dalam pembelajaran sebaiknya didampingi oleh
dosen senior yang juga menguasai materi perkuliahan dalam rumpun dosen
yunior.
e. Setiap kelompok dosen memilih satu atau dua mata kuliah (tergantung
pendanaan, jika diperlukan) dalam suatu rumpun, yang akan digunakan dalam
lesson study. Alasan pemilihan mata kuliah diserahkan pada kelompok dosen
rumpun tersebut. Kriteria pemilliihan mata kuliah, misalnya : mata kuliah yang
dipandang sulit bagi kebanyakan mahasiswa, mata kuliah dasar yang harus
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 87
dikuasai mahasiswa sebagai dasar untuk mempelajari mata kuliah lainnya, mata
kuliah pengembangan yang belum banyak referensinya, dan sebagainya.
f. Setiap kelompok lesson study memilih seorang ketua tim atau koordinator
pelaksana lesson study dan bertanggungjawab kepada ketua jurusan / prodi dan
koordinator lesson study tingkat fakultas. Penanggungjawab tersebut
mengadministrasi semua kegiatan lesson study sejak perencanaan
sampaidengan pelaporannya.
g. Setiap tahun, setiap dosen diusahakan berada sekurang-kurang dalam satu
kelompok dosen yang melaksanakan lesson study, sehingga setiap dosen akan
terus menerus dapat mengikuti kegiatan lesson study. Namun jika kegiatan
lesson study di fakultas tertentu masih bersifat rintisan, pembentukan
kkelomppok lesson study bisa dilakukan dalam satu atau dua kelompok saja.
2. Penyusunan Jadwal Pelaksanaan Lesson Study
Pada prinsipnya pelaksanaan lesson study tidak boleh mengganggu jalannya
perkuliahan yang rutin sesuai dengan jadwal yang disusun fakultas / jurusan. Oleh
karena iitu penyususnan jadwal kegiatan lesson study dan penyususnan jadwal
perkuliahan harus dilakukan secara bersamaan (integrated) melalui langkah-
langkah berikut ini :
a. Dalam melakukan jadwal perkuliahan, penyusun memberi kesempatan waktu
luang kepada kelompok-kelompok dosen untuk melaksanakan tatap muka
pembelajaran lesson study dan waktu untuk refleksi.
b. Setiap minggu, suatu kelompok dosen memerlukan waktu untuk perencanaan,
tatap muka perkuliahan dan observasi, dan kegiatan refleksi selama empat jam
berturutan. Untuk tatap muka perkuliahaan mata kuliah yang ditentukan dan
observasi selama dua jam dan selama dua jam berikutnya untuk kegiatan
perencanaan atau refleksi.
c. Mata kuliah yang digunakan untuk lesson study oleh suatu kelompok dosen
dijadwalkan sedemikian hingga semua dosen anggota kelompok tersebut bebas
mengajar kecuali seorang dosen pengampu mata kuliah yang dipilih tersebut,
selanjutnya dua jam berikutnya semua dosen pada kelompok tersebut bebas
mengajar pula. Namun demikian dalam pelaksanaan open klas dosen observer
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 88
dapat berasal dari kelompok atau mata kuliah apapun, dan jumlahnya tidak
terbatas.
d. Untuk menyusun jadwal perkuliahan sekaligus jadwal lesson study setiap
kelompok diperlukan informasi tambahan sebagai berikut :
1. Daftar dosen setiap kelompok lesson study untuk setiap jurusan / prodi
2. Daftar mata kuliah ya ng digunakan untuk lesson study dari setiap
kelompok.
3. Memfokuskan Lesson Study
Tiap kelompok dosen menentukan fokus lesson study yang merupakan
permasalahan dalam perkuliahan. Pemiliahan fokus lesson study didasrkan pada
hasil identifikasi/ observasi awal pada kelas yang akan digunakan untuk lesson
study, misalnya karakteristik mahasiswa, suasana kelas, media dan alat perkuliahan
yang tersedia, dan materi perkuliahan. Akan sangat menguntungkan bagi para
dosen, jika pelaksaan lesson study ini diangkat sebagai penelitian tindakan kelas
(classroom sction research). Berikut ini contoh tema permasalah/fokus yag kini
actual perlu memperoleh perhatian.
1. Kemandirian belajar mahasiswa.
2. Pencapaian aspek kognitif pada level tinggi, yaitu analisis, evaluasi dan
kreativitas.
3. Tumbuh kembangnya keberanian mengemukakan pendapat yang bertaggung
jawab dan rasa percaya diri.
4. Problem solving, problem based learning, atau reality based learning.
5. Melibatkan ddalam menjawab tantangan global denagn mengembangkan
potensi local.
6. ICT based learning.
7. Pengembngan proses pembelajaran yang inovatif.
8. Pengembangan materi ajar yang kontektual dengan realitas kehidupan.
9. Penerapan hasil-hasil ppenelitian yang berkaitan dengan pengembangan
pembelajaran atau materi ajar.
10. Pengembangan konpetensi mahasiswa pada aspek afektif.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 89
B. MERENCANAKAN PERKULIAHAN/PEMBELAJARAN (PLAN)
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan pembelajaran
antara seperti diuraikan dibawah ini :
1. Tiap kelompok lesson stuudy menyusun tabel rencana kegiatan lesson study
selama satu semester. Tabel rencana tersebut memuat sekuranng-kurangnya :
siklus ke, hari dan tanggal (sesuai jadwal), materi perkuliahan, kegiatan
(perencanaan, tatap muka perkuliahan dan observasi, refleksi), petugas
(penyusun perangkat perkuliahan, seperti : SAP/ rencana perkuliahhan (RP),
media, hand out, dosen yang melakukan perkuliahan, pimpinan diskusi dan
keterangan. Satu siklus terdiri dari kegiatan-kegiatan perencanaan, tatap muka
perkuliahan dan konservasi, refleksi.
2. Rencana lesson study yang telah disusun lengkap ini digandakan untuk peserta
dan diserahkan pada koordinator lesson study fakultas/jurusan untuk keprluan
monitoring dan evaluasi (monev).
3. Dari tabel rencana kegiatan lesson study tersebut tampak adanya pembagian
tugas dari setiap anggota kelompok, selanjutnya berdasrkan fokus lesson study
yang dipilih, disusun prangkat perkuliahan untuk siklus pertama.
4. Satuan acara perkuliahan (SAP) disusun secara lengkap yang merupakan suatu
model perkuliahan sesuai dengan fokus lesson study yang telah ditetapkan.
Dengan demikian, seorang pembaca SAP akan memahami dan dapat
melaksanakan perkuliahan dikelasnya seperti yang dilakukan oleh penyusun
SAP, baik dari segi materi ajarnya dan urutan penyajiannya.
5. Lembar observasi perkuliahan diguanakan oleh dosen pengamat untuk
melakukan observasi. Pengamat ditekankan pada kegiatan belajar mahasiswa
sebagai akibat dari fokus lesson study yang diberikan. Dengan demikian,
lembar observasi berisi hal-hal penting dari fokus lesson study yang harus
diamati. Salah satu kegagalan lesson study adalah kurang cermatnya dalam
observasi kegiatan belajar mahasiswa.
6. Perangkat perkuliahan yang telah disusun oleh seorang/beberapa dosen
didiskusikan bersama dalam kelompok untuk memperoleh kesepakatan dan
kelayakan penerapan pada prakteh perkuliahan.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 90
7. Jika diperlukan skenario pembelajaran / perkuliahan yyang akan ditampilkan
dipresentasikan disepanjang kelompok. Ada juga perguruan tinggi tertentu yang
malakukan ”peer teaching”.
C. MELAKSANAKAN PERKULIAHAN ATAU OBSERVASI (DO).
Tahap do merupakan tahap yang sangat pentinng, karena pada tahap inilah
rancangan pembelajran dipraktikkan dan diobservasi untuk dilihat efektivitasnya.
Berikut diuraikan beberapa kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini.
1. Dosen yang ditunjuk (sesuai rencana yang telah disusun) melaksanakan
perkuliahan dalam kelas sesuai dengan rencana perkuliahan yang telah
disepakati bersama, sedangkan dosesn lainnya dalam kelompok mengamati
jalannya perkuliahan. Jika ada penagamat ttambahan dapat berasal dari
kelompok mata kuliah lain, atau bahkan dari pimpinan atau masyarakat yang
berminat.
2. Pengamat denagn membawa lembar observasi dan SAP mengambil tempat disis
bagian sisi kiri, kanan, depan atau belakang tempat duduk mahasiswa, yang
penting dapa mlihat wajah dan gerak-gerik tubuh mahasiswa. Sekali lagi bahwa
pengamatan ditekankan pada kegiatan belajar mahasiswa, apakah denagn
penerapan SAP yang telah disusun bersama tersebut, mahasiswa tampak belajar
dengan motivasi dan semangat tinggi, kelas menjadi hidup, atau ada mahasiswa
yang memerllukan perhatian khusus, atau hal-hal lainnya yang penting terkait
dengan proses pembelajaran.
3. Pada dasrnya pengamat tidak boleh melakukan intervensi selama melakukan
pengamatan, baik terhadap dosen maupun mahasiswa. Secara lebih detil rambu-
rambu yang harus diperhatikan oleh pengamat akan diuraikan sebagai berikut :
a. Pengamat dan pengamat tambahan lainnya hendaknya datang paling lambat
5 menit sebelum pembelajaran dimulai, dan menyiapkan lembar observasi
atau buku catatan dan pena. Jika memungkinkan setiap peserta memperoleh
SAP dan LKM/ atau perangkat pembelajaran lainnyayang telah diperbanyak
untuk para pengamat.
b. Semua peserta segera memasuki kelas dengan tertib pada waktu yang
ditentukan. Begitu memasuki ruangan semua peserta dan undangan
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 91
hendaknya tidak lagi berkeinginan keluar masuk kelas, tetaplah berada
didalam kelas dan bersiap mengamati proses pembelajaran.
c. Pengamat segera menempati posisi sedemikian hingga dapat
memperhatikan perubahan wajah dan gerak-gerik siswa ketika belajar.
Posisi yang ideal adalah dihadapan siswa. Namun jika siswa berdiskusi
berhadapan, posisi yang ideal adalah disamping kelompok.
d. Pada awalnya, setiap pengamat berlatih mengamati satu kelompok. Kelak
jika lebih dari 5 kali pengamatan, pengamat dapat menagamati beberapa
kelompok lain sehingga dapat mengetahui atmoosfer kelas secara
keseluruhan.
e. Tidak membantu dosen dalam proses pembelajaran dalam bentuk apapun.
Misalnya ikut dalam pembagian LKS, menenangkan mahasiswa, dll.
Biarlah guru melakukan tugasnya secara mandiri dan terbebas dari
intervensi siapapun.
f. Tidak membantu mahasiswa dalam proses pembelajaaran, misalnya
mengarahkan pekerjaan mahasiswa. Jika mahasiswa bertanya kepada anda
(sebagai penagamat), katakan agar mahasiswa bertanya langsung kepada
dosen.
g. Tidak mengganggu pandangan dosen / mahsiswa selama pembelajaran. Jika
anda sedang mendekati kelompok atau berada ditengah-tengah kelas,
kemudian tiba-tiba dosen ingin memberikan arahan secara klasikal maka
segeralah menepi agar tidak mengganggu pandangan mahasiswa.
h. Tidak mengganggu konsentaris mahasiswa dalam belajar, misalnya
berbicara dengan pengamat lain, keluar masuk ruangan.
i. Jika mengguanakan kamera untuk mengambil gambar kegiatan belajar
(dosen/mahasiswa) lampu kilat hendaknya dimatikan. Kilatan lampu
kamera dapat mengganggu atau menghentikan konsentrasi belajar
mahasiswa.
j. Tidak makan, minum atau merokok didalam ruangan pembelajaran.
k. Ingat. Fokuskan pada pengamatan pada siswa belajar, bukan hanya pada
dosen mmenagajar. Gunakan lembar pengamatan yang tersedia. Jika
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 92
fenomena yang diamati tidak tercantum didalam lembar observasi,
pengamat ddapat menambahkannya.
l. Pengamat melakukan pengamatan secara penuh sejak awal sampai akhir
pembelajaran.
m. Selain mengamati mahasiswa belajar, pengamat juga perlu memperhatikan
:
Teknik pengelolaan kelas yang dibuat oleh dosen.
Bagaimmana dosen mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran ?
Bagaimana dosen memanfaatkan media pembelajaran sederhana dari
linggkungan ?
Bagaimana upaya dosen membuat mahasiswa kreatif ?
D. REFLEKSI (MENGANALISIS HASIL OBSERVASI DAN
MENDISKUSIKAN)
Setelah selesai melaksanakan implementasi rencana perkuliahan dan
observasi langsung dilakukan kegiatan refleksi, dengan cara sebagai berikut :
1. Diskusi refleksi dipimpin olleh seorang moderator dan kalau perlu ada notulis.
2. Lebih dulu dosen yang mengimplementasikan rencana perkuliahan (dosen
Model) oleh moderator diberikan kesempatan untuk menyampaikan kesan dan
hal lain yang dipandang penting dalam mengimplementasikan dalam
perkuliahan.
3. Para pengamat menyampaikan tanggapan atau hal-hal penting dalam
pelaksanaan perkuliahan yang perlu perbaikan atau perlu dilanjutkan pada
siklus berikutnya. Hal yang disampaikan oleh pengamat harus didasrkan pada
hasil analisi dari pengamatannya, bukan hanya berdasarkan pada teori atau
opini.
4. Agar pelaksanaan refleksi berjalan dengan baik, maka perlu diperhatikan
rambu-rambu dalam menyampaikan komentar dalam diskusi refleksi berikut ini
:
a. Komentar yang disampaikan sebaiknya terfokus pada masalah proses
belajar mahasiswa, bukan pada aktivitas dosen yang mengajar.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 93
b. Apabila terkait dengan kinerja dosen saran disampaikan sebaiknya dengan
memperbanyak pujian positif dan sedikit mungkin kritik negatif.
c. Komentar yang disampaikan harus berdasar data pengamatan saat
observasi, bukan bagaimana seharusnya berdasr keinginan pengamat.
Artinya jauhkan dari komentar yang menggurui dosen model.
d. Gunakan nada yang lembut dan pilihan kata yang halus.
e. Komentar yang disampaikan sebaiknya jauh dari sifat menggurui atau
menurut pandangannya sendiri.
f. Jika menyampaikan data tentang siswa belajar, kemukakan mengapa hal itu
terjadi (ini merupakan interpretasi) dan bagiamana jalan keluarnya (ini
merupakan saran untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya).
g. Kemukakan juga pelajaran apa yang dapat dipetik dari permasalahan
tersebut.
5. Jika ada pakar atau nara sumber yang hadir maka diberi kesempatan untuk
menyampaikan komentar akhir, untuk memberi masukan tentang pembelajaran
atau proses lesson study.
6. Pada akhir kegiatan diskusi refleksi moderator menyampaikan ringkasan hasil
diskusi atau kesimpulan yang dianggap penting. Hasil tersebut berupa hal-hal
yang baik untuk dilanjutkan dan saran-saran perbaikan sebagai pertimbangan
dalam menyusun perencanaan perkuliahan berikutnya.
E. MERENCANAKAN PERKULIAHAN TAHAP BERIKUTNYA
Penyususunan rencana perkuliahan (plan) tahap berikutnya tetap
menekankan pada fokus lesson study yang telah ditetapkan dan dipertimbangkan
hasil refleksi pada siklus sebelumnya. Selanjutnya melakukann llangkah do and see
begitu seterusnya sampai siklus terakhir yang direncanakan.
F. MENYUSUN LAPORAN PELAKSANAAN LESSOS STUDY
Sebenarnya tidak ada keharusan untuk menyususn laporan kegiatan lesson
study seperti halnya pada PTK, namun jika lesson study dilaksanakan pada konteks
sebuah progran yang dilaksankan oleh lembaga atau program yang mendapatkan
sponsor pendanaan maka akhir suatu kegiatan lesson study harus disusun sebuah
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 94
laporan. Tiap kelompok lesson study diharapkan menyusun laporan pelaksanaan
lesson study. Format laporan seperti format laporan penelitian pada umumnya.
Akan sangat menguntungkan bagi dosen, apabila hasil pelaksanaan lesson study ini
dituliskan pula artikelnya untuk dimasukkan kejurnal. Selain itu, setiap kelompok
dosen membuat ringkasan laporan untuk didiseminasikan dalam forum seminar
yang diselenggrakan fakultas.
G. SEMINAR HASIL LESSON STUDY (EXCHANGE OF EXPERIENCE)
ANTAR KELOMPOK
Untuk menyebarluaskan dan meningkatkan kualitas lesson study dan
kulaitas pembelajaran maka sebaiknya ada kegiatan pertukaran pengalaman dalam
bentuk seminar. Coordinator lesson study tingkat fakultas merencanakan seminar
hasil lesson study yang perwakilan dosen dari fakultas lain, perwakilan lagi
lembaga pengembangan pendidikan dan aktivitas instruksional (LP2AI) atau
lembaga pengembangan pendidikan dan pembelajaran (IP3). Dalam acara seminar
ini, selain penyampaian hasil pelaksanaan lesson study dari masing-masing
kelompok lesson study dan sanggahannya, penting untuk memberi kesempatan
kepada tim monitoring dan evaluasi tingkat fakultas untuk menyampaikan hasil
monev yang telah dilakukan.
H. KELEBIHAN dan KEKURANGAN LESSON STUDY
Berikut merupakan kelebihan dan kekurangan dari lesson study
Kelebihan Lesson Study
a. Peran guru yang dapat berubah-ubah: siapapun dapat berperan sebagai guru
pengajar dalam satu waktu dan menjadi guru pengamat di lain waktu.
Pergantian peran ini menciptakan rasa saling mengerti serta mendukung di
antara guru dan secara efektif meningkatkan mutu proses belajar-mengajar.
b. Metode ini dapat diterapkan di setiap bidang, mulai dari seni, bahasa, sampai
matematika dan olahraga pada setiap tingkat kelas.
c. Dapat dilaksanakan antar atau lintas kelas
Kelemahan Lesson Study
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 95
a. Belum seragamnya pemahaman tentang lesson study, terjadinya devasiasi
dalam memahami kegiatan lesson study tidak jarang menimbulkan perbedaan
pendapat, hal ini malahirkan tindakan yang berbeda yang satu membiarkan
guru merencanakan sendiri ketika akan implementasi baru melaporkan
tindakan kedua dimana dosen secara aktif membimbing calon guru penyaji
sampai dalam hal menyiapkan media maupun bahan-bahan pembelajarannya.
b. Perihal kesiapan bekerja sama, muncul saat membuat keputusan siapa yang
akan menjadi penyaji pembelajaran yang siap diobservasi. Jarang guru yang
mengajukan diri karena masih ada perasaan bahwa sebagai penyaji harus
menyiapkan sendiri pembelajaran yang biasa tidak dilakukannya.
c. Koordinasi, secara teoretis keinginan meningkatkan mutu pembelajaran
seharusnya ke luar dari niat para guru. Akan tetapi, menginat kesibukan
kegiatan sekolah, terkadang niat ini terlupakan. Dengan demikian, kadang saat
implementasi observer datang terlambat karena harus mengajar dulu dan
banyak alasan lainnya.
d. Ketersediaan sarana dan dukungan finansial, agar kegiatan ini berjalan lancar
perlu membuat kesepakatan bersama bahwa biaya kebutuhan guru harus
ditanggung sekolah dan kebutuhan pihak dosen ditanggung oleh pihak fakultas.
e. Fasilitas sekolah, apabila seorang guru ingin melakukan suatu pembelajaran
yang menuntut eksperimen kelompo, terkadang jumlah alat yang tersedia tidak
memadai jumlah siswa dan kondisi bangku diruangan kelas juga tidak
mendukung mobilitas dan interaksi siswa.
I. CONTOH KASUS PELAKSANAAN LESSON STUDY
Berikut adalah contoh kasus dari pelaksanaan lesson study
a. Menilai : aktualisasi pembelajaran dengan lesson study
b. Membina : guru persiapan pembelajaran LS
c. Memantau : proses pembelajaran dengan LS
d. Alokasi waktu : 1 jam eksplorasi LS, 30 menit diskusi, 40 menit
simulasi, 40 menit rafleksi, 10 menit menyimpulkan
e. Standar kompetensi : pengembangan profesi akademik
f. Kompetensi dasar : melaksanakan LS sebagai upaya perbaikan
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 96
pembelajaran
g. Tujuan : membina LS dengan konfirmatif beserta peserta
diklat
h. Indikator keberhasilan: menguasai konsep dan prinsip LS
i. Strategi Kerja : caramah, eksplorasi, tanya jawab, dan simulasi LS
j. SD yang diperlukan : instrumen : laptop, LCD, dan alat tulis
k. Skenario Kegiatan : pendahuluan dan kegiatan inti
l. Tindak Lanjut : hasil penelitian ini bisa di tindaklanjuti melalui
pemantauan atau supervisi ke sekolah.
m. Catatan Rekomendasi observer ketika LS
Cara mengatasi kendala implementasi lesson study
Berbagai kendala yang mungkin dihadapi ketika
mengimplementasikan lesson study di antaranya,
a. Adanya persepsi yang keliru tentang lesson study,
b. Penyusunan jadwal,
c. Pendanaan,
d. Setting kelas,
e. Dan pendokumentasian.
Untuk menghindari adanya kesalahan persepsi tentang lesson study, pada
tahap perencanaan perlu diadakan penyamaan persepsi antaranggota kelompok
bahwa lesson study lebih dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,
dan bukan untuk menilai guru.
Menyusun jadwal, baik untuk pertemuan koordinasi persiapan pelaksanaan,
pelaksanaan lesson study itu sendiri, maupun untuk melaksanakan refleksi dan
menyusun temuan, yang melibatkan 4 – 6 guru, tidaklah mudah. Itulah sebabnya
pelibatan kepala sekolah sejak awal perencanaan lesson study sangat penting, tidak
hanya untuk mendapatkan kemudahan dalam pengaturan jadwal, tetapi juga
diharapkan kepala sekolah memberikan dukungannya dalam bentuk pendanaan
untuk pelaksanaan setiap kegiatan dalam lesson study. Kesepakatan tentang jadwal,
pendanaan, dan “aturan main” dari awal akan menghindari masalah yang tidak
diinginkan.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 97
J. STRATEGI LESSON STUDY
Strategi melaksanakan lesson study berdasarkan hasil penelitian Parmin dan
Siti Aminah (2008) di Madrasah Ibtidaiyah Madarijul Huda, Kembang, Pati (2008)
.
1. Perencanaan (Plan)
Identifikasi Masalah Pembelajaran
1. Materi ajar
a. kedalaman materi
b. kesesuaian dengan tuntutan kurikulum
c. tingkat kesulitan
2. Strategi pembelajaran
a. Pendahuluan
Memotivasi siswa belajar
b. Kegiatan inti
aktivitas belajar yang diharapkan
rancangan interaksi siswa dengan bahan ajar
rancangan interaksi siswa dengan siswa
rancangan interaksi siswa dengan guru
c. Penutup
Aktivitas siswa yang diharapkan untuk menyimpulkan pelajaran
Mempersiapkan Perangkat Pembelajaran
1. Silabus
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
3. Lembar Kegiatan Siswa
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 98
4. Alat tes
Menentukan Observer
1. Kepala Sekolah
2. Guru (se bidang studi/tidak se bidang studi)
3. Pengawas Sekolah
Menentukan Guru Model (pelaksana pembelajaran di kelas)
2. Pelaksanaan (Do)
a. Pertemuan singkat (briefing) dipimpin fasilitator (kepala sekolah)
b. Guru model mengemukakan rencana singkat (rencana pembelajaran, tujuan,
kedudukan materi ajar dalam kurikulum, perkiraan kemungkinan respon siswa)
c. Kepala sekolah mengingatkan observer untuk tidak mengintervensi proses
belajar mengajar
d. Observer dipersilahkan memilih tempat strategis sesuai rencana pengamatan
e. Guru model melaksanakan proses belajar mengajar
Observasi
Observer membuat catatan tentang:
a. Komentar siswa dalam diskusi
b. Kerja sama siswa
c. Aktivitas belajar
d. Strategi penyelesaian masalah
Pedoman observer:
a. Kejelasan tujuan pembelajaran
b. Aktivitas mengarah ke pencapaian tujuan
c. Langkah-langkah pembelajaran berkaitan mendukung pemahaman siswa
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 99
d. Media pembelajaran mendukung pencapaian tujuan
e. Diskusi kelas membantu pemahaman konsep
f. Materi ajar sesuai tingkat kemampuan siswa
g. Penggunaan pengetahuan awal untuk mendukung pemahaman konsep
h. Pertanyaan guru mendorong dan memfasilitasi cara berpikir siswa
i. Pemberian penghargaan gagasan siswa
j. Kesimpulan didasarkan pendapat siswa
k. Kesimpulan sesuai tujuan
l. Pemberian penguatan
3. Refleksi (See)
a. Menentukan fasilitator
b. Fasilitator mengenalkan observer dengan spesifikasi bidang ilmu
c. Fasilitator menyampaikan agenda refleksi
d. Fasilitator menyampaikan aturan main
1. berbicara dengan tertib (jadi pendegar yang baik)
2. berbicara sopan tidak untuk mengadili guru model
3. setiap peserta diberi kesempatan berbicara
4. berbicara berdasarkan temuan pengamatan
5. masukan difokuskan pada “bagaimana siswa belajar”
e. Guru model menyampaikan
1. kejadian yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan harapan
2. sesuatu yang berubah dari rencana
f. Team pengembang memberi komentar
g. Fasilitator memberi kesempatan observer berkomentar
h. Fasilitator mempersilahkan tenaga ahli merangkum diskusi
Pengertian strategi dan tahapan memiliki kesamaan dimana terdapat
Pelaksanaan, Observasi dan Refleksi.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 100
BAB 8
PENUTUP
Pembelajaran microteaching merupakan salah satu mata kuliah yang sangat
krusial untuk membentuk peserta didik di LPTK menjadi guru-guru yang
profesional. Ada beberapa keterampilan dasar mengajar yang harus dipahami dan
dipraktekkan peserta didik dalam masa perkuliahan, yaitu dalam bentuk
pembelajaran teman sejawat sebelum mereka diterjunkan ke lapangan yaitu ke
sekolah-sekolah (SMA/SMK/MAK) dalam KPL real.
Tujuan dari pembelajaran microteaching dan lesson study ini adalah untuk
menyiapkan peserta didik baik fisik maupun mental dalam melaksanakan
pembelajaran dengan sikap pembelajaran yang terbatas.
Pada pembelajaran microteaching kita diperkenalkan dengan adanya
delapan keterampilan dasar, sedangkan pada lesson study kita akan mengenal
bagaimana strategi mengajar yang baik dan benar. Oleh karena itu pembelajaran
microteaching dan lesson study ini menekankan praktek dibandingkan teori, maka
kedelapan keterampilan dalam microteaching akan dipraktekkan.
Universitas Negeri Malang
BUKU PANDUAN MICROTEACHING DAN LESSON STUDY 101
DAFTAR PUSTAKA
Asril, Zinal. 2011. Microteaching Disertai dengan Pedoman Pnegalaman
Lapangan. Jakarta. PT Raja Grafindo
Drati. 2011. Objectif of Microteaching. (online)
([Link]
[Link]) diakses tanggal 7 April 2019
Helmiati. 2013. Microteaching (melatih Keteranpilan Dasar Mengajar.
Yogyakarta. Aswaja Pressindo
Suwarna, dkk. 2006. Pengajaran Mikro. Pendekatan Praktik dalam Menyiapkan
Pendidik Profesional. Yogyakarta: Tiara Wacana
Universitas Negeri Malang