BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mesin Refrigerasi adalah salah satu jenis mesin konversi energi, dimana
sejumlah energi dibutuhkan untuk menghasilkan efek pendingin. Disisi lain, panas
dibuang oleh sistem ke lingkungan untuk memenuhi prinsip-prinsip termodinamika
agar mesin dapat berfungsi. Panas yang terlepas ke lingkungan biasanya terbuang
begitu saja tanpa dimanfaatkan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memanfaatkan
panas yang terbuang ke lingkungan tersebut. Salah satunya dengan memanfaatkan
panas yang terbuang untuk memanaskan air yang dapat dipergunakan untuk kebutuhan
sehari-hari. Salah satu contoh mesin tersebut adalah AC. AC digunakan untuk
mendinginkan ruangan dengan cara membuang panasnya kelingkungan. Untuk
mengefisiensikan pemakaian AC, maka dilakukan pengelolaan pada limbah AC
dengan memanfaatkan energi panas yang terbuang pada mesin AC tersebut.
1.2 Identifikasi Masalah
1. Apa itu mesin AC ?
2. Bagaimana prinsip dan cara kerja kerja mesin AC ?
3. Bagaimana konversi energy yang terjadi dalam mesin AC ?
4. Apa manfaat dari energy panas terbuang pada mesin AC ?
1.3 Tujuan Pecobaan
1. Memahami prinsip kerja AC.
2. Memahami cara kerja mesin AC.
3. Memahami konversi energy.
4. Menentukan temperatur air di dalam tangki pemanas.
1.4 Metode Percobaan
Gambar 1. Flowchart Metode Percobaan
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan awal praktikum fisika energi pada percobaan kali
ini disusun dalam tiga bab, yaitu :
Bab I : Pendahuluan
1.1. Latar Belakang,
1.2. Identifikasi Masalah,
1.3. Tujuan Percobaan,
1.4. Metoda Percobaan
1.5. Sistematika Penulisan,
1.6. Waktu dan Tempat Percobaan
Bab II : Teori Dasar
Menjelaskan tentang materi mengenai thermoelectric converter
Bab III : Metode Percobaan
Berisi alat-alat yang digunakan pada percobaan dan prosedur percobaan
Tugas Pendahuluan
Daftar Pustaka
1.6 Waktu dan Tanggal Percobaan
1. Hari, tanggal : Selasa, 14 Maret 2017
2. Pukul : 13.00 - 15.00 WIB
3. Tempat : Laboratorium Fisika Energi Jurusan Fisika Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Padjadjaran
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian AC (Air Conditioner)
Air conditioner atau AC merupakan salah satu peralatan pendingin
(refrigeration). Mesin pendingin merupakan sebuah mekanisme berupa siklus yang
mengambil energi (termal) dari daerah bertemperatur rendah dan dibuang ke daerah
bertemperatur tinggi (lingkungan). Oleh karena itu dibutuhkan energi untuk
menjalankan siklus refrigerasi. Bentuk terbaik pemanfaatan kembali panas terbuang
(heat recovery) tersebut adalah untuk memanaskan air. Bahan yang digunakan sebagai
bahan pendingin dalam mesin pendingin disebut refrigerant (Freon). Refrigerant adalah
suatu zat yang mudah menguap dan berfungsi sebagai penghantar panas dalam sirkulasi
pada saluran instalasi mesin pendingin. Bahan pendingin (refrigerant) adalah suatu zat
yang mudah berubah wujud dari gas menjadi cair atau sebaliknya. Dapat mengambil
panas dari evaporator dan membuangnya di kondensor.
Fungsi utama dari AC ada 4 yaitu:
1. Memperoleh suhu yang diinginkan dan konstan sepanjang hari.
2. Memperoleh kelembaban udara yang konstan sepanjang hari.
3. Memperoleh sirkuit/aliran udara yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
4. Membersihkan/menyaring debu dan asap dari udara.
Ditinjau dari konstruksi, AC bisa dibagi menjadi dua bagian, yakni sisi luar
dan sisi dalam. Sisi luar terdiri dari pipa kapiler dan kondensor, tangki penampung air,
daun kipas yang bisa bergerak, dan filter udara sebagai penyaring kotoran. Sedangkan
bagian dalam terdiri dari daun kipas pendorong (blower) udara segar, pipa penguapan
(evaporator), katup ekspansi, dan lain sebagainya.
2.2 Komponen Utama Sitem Pendingin
1. Kompresor
Kompresor atau pompa isap mempunyai fungsi yang vital. Dengan adanya
kompresor, refrigerant bisa mengalir ke seluruh sistem pendingin. Sistem kerjanya
adalah dengan mengubah tekanan, sehingga terjadi perbedaan tekanan yang
memungkinkan refrigeran mengalir (berpindah) dari sisi bertekanan rendah ke sisi
bertekanan tinggi. Ketika bekerja, refrigerant yang dihisap dari evaporator dengan suhu
dan tekanan rendah dimampatkan sehingga suhu dan tekanannya naik. Gas yang
dimampatkan ini ditekan keluar dari kompresor lalu dialirkan ke kondensor, tinggi
rendahnya suhu dikontrol dengan thermostat.
2. Kondensor
Kondensor merupakan suatu jaringan pipa yang berfungsi sebagai pengembun.
Udara yang dipompakan dari kompresor akan mengalami penekanan sehingga
mengalir ke pipa kondensor. Udara yang berada dalam pipa kondensor akan mengalami
pengembunan. Dari sini, udara yang sudah mengembun dan menjadi zat cair akan
mengalir menuju pipa evaporator.
3. Katup Ekspansi
Komponen utama yang lain untuk mesin refrigerasi adalah katup ekspansi.
Katup ekspansi ini dipergunakan untuk menurunkan tekanan dan untuk
mengekspansikan secara adiabatik cairan yang bertekanan dan bertemperatur tinggi
sampai mencapai tingkat tekanan dan temperatur rendah, atau mengekspansikan
refrigeran cair dari tekanan kondensasi ke tekanan evaporasi, refrigerant cair
diinjeksikan keluar melalui oriffice, refrigerant segera berubah menjadi kabut yang
tekanan dan temperaturnya rendah. Selain itu, katup ekspansi juga sebagai alat kontrol
refrigerasi yang berfungsi :
1. Mengatur jumlah refrigeran yang mengalir dari pipa cair menuju evaporator
sesuai dengan laju penguapan pada evaporator.
2. Mempertahankan perbedaan tekanan antara kondensor dan evaporator agar
penguapan pada evaporator berlangsung pada tekanan kerjanya.
4. Evaporator
Evaporator adalah komponen pada sistem pendingin yang berfungsi sebagai
penukar kalor, serta bertugas menguapkan refrigeran dalam sistem, sebelum dihisap
oleh kompresor. Panas udara sekeliling diserap evaporator yang menyebabkan suhu
udara disekeliling evaporator turun. Suhu udara yang rendah ini dipindahkan ketempat
lain dengan jalan dihembus oleh kipas, yang menyebabkan terjadinya aliran udara.
2.3 Sistem Refigrasi
Refrigerasi merupakan suatu proses penarikan kalor dari suatu benda/ruangan
ke lingkungan sehingga temperatur benda/ruangan tersebut lebih rendah dari
temperatur lingkungannya. Sesuai dengan konsep kekekalan energi, panas tidak dapat
dimusnahkan tetapi dapat dipindahkan. Sehingga refrigerasi selalu berhubungan
dengan proses-proses aliran panas dan perpindahan panas. Siklus refrigerasi
memperlihatkan apa yang terjadi atas panas setelah dikeluarkan dari udara oleh
refrigeran di dalam koil (evaporator).
Siklus ini didasari oleh dua prinsip, yaitu:
1. Saat refrigeran cair berubah menjadi uap, maka refrigeran cair itu mengambil
atau menyerap sejumlah panas.
2. Titik didih suatu cairan dapat diubah dengan jalan mengubah tekanan yang
bekerja padanya. Hal ini sama artinya bahwa temperatur suatu cairan dapat
ditingkatkan dengan jalan menaikan tekanannya, begitu juga sebaliknya.
Dari sekian banyak jenis-jenis sistem refigerasi, namun yang paling umum
digunakan adalah refrigerasi dengan sistem kompresi uap. Komponen utama dari
sebuah siklus kompresi uap adalah kompresor, evaporator, kondensor dan katup
expansi. Berikut adalah sistem konvensional siklus kompresi uap (gambar 2.1)
Gambar 2.1 Skema siklus kompresi uap
Proses 1-2 ; refrigeran meninggalkan evaporator dalam wujud uap jenuh dengan
temperatur dan tekanan rendah, kemudian oleh kompresor uap tersebut dinaikkan
tekanannya menjadi uap super panas dengan temperatur yang tinggi, lebih tinggi dari
temperature lengkungan sehingga pembuangan panas bisa berlangsung.
Proses 2-3 ; setelah mengalami proses kompresi, refrigeran berada dalam fase panas
lanjut dengan tekanan dan temperatur tinggi. Untuk merubah wujudnya menjadi cair
(kondensasi), kalor harus dilepaskan ke lingkungan melalui alat yang disebut dengan
kondensor. Refrigeran mengalir melalui kondensor pada sisi lain dialirkan fluida
pendingin (udara atau air) dengan temperatur lebih rendah dari pada temperatur
refrigeran. Oleh karena itu kalor akan berpindah dari refrigeran ke fluida pendingin dan
refrigeran akan mengalami penurunan temperatur dari kondisi uap panas lanjut menuju
kondisi uap jenuh, selanjutnya mengalami proses pengembunan menjadi refrigeran
cair. Refrigeran keluar kondensor sudah berupa refrigeran cair. Proses kondensasi
berlangsung pada temperature dan tekanan yang konstan.
Proses 3-4 ; refrigeran dalam keadaan wujud cair jenuh (tingkat keadaan 3) kemudian
mengalir melalui alat ekspansi. Refrigeran mengalami ekspansi pada entalpi konstan
dan berlangsung secara tak reversibel sehingga tekanan refrigeran menjadi rendah
(tekanan evaporator). Refrigeran keluar alat ekspansi berwujud campuran uap-cair
pada tekanan dan temperatur rendah.
Proses 4-1 ; Refrigeran dalam fase campuran uap-cair, mengalir melalui evaporator. Di
dalam evaporator refrigeran mengalami proses penguapan sebagai akibat dari panas
yang diserap dari sekeliling evaporator. Dengan adanya penyerapan panas ini, maka
disekeliling evaporator (ruangan yang dikondisikan) menjadi dingin atau
temperaturnya turun. Selanjutnya refrigeran yang meninggalkan evaporator dalam fase
uap jenuh. Proses penguapan tersebut berlangsung pada temperatur dan tekanan yang
konstan.
2.4 Prinsip Kerja Mesin Pendingin
Refrigerator atau mesin pendingin bekerja dengan menyerap kalor pada suhu
rendah (di dalam ruangan) kemudian dibuang ke suhu yang lebih tinggi (di luar
ruangan). Mesin refrigerasi ini bekerja menggunakan siklus atau daur kompresi uap,
dimana fluida kerjanya disebut dengan refrigeran. Dasar dari daur ini dikembangkan
dari daur refrigerasi carnot.
Gambar 2.2. Siklus Carnot
Proses kerjanya adalah sebagai berikut:
1-2 Proses penyerapan kalor QL isotermal oleh refrigeran dari suhu rendah TL.
2-3 Proses kompresi adiabatis dan temperatur menjadi TH.
3-4 Proses pengeluaran kalor QH isotermal oleh refrigeran pada suhu tinggi TH
refrigeran berubah fasa dari uap jenuh menjadi cairan jenuh.
4-1 Proses ekspansi adiabatis sehingga temperatur turun mejadi TL.
Daur refrigerasi carnot menghasilkan efisiensi sistem paling tinggi sehingga
daur ini sering menjadi acuan. Tetapi proses kerja yang menggunakan daur refrigerasi
carnot dalam aplikasinya tidak praktis dan sulit untuk diwujudkan. Untuk proses
penyerapan kalor dan pembuangan kalor secara isotermal tidak ada masalah [ proses
1-2 dan 3-4], kondisi ini dapat dibuat tanpa mengalami kesukaran. Penyerapan kalor
dengan evaporator dan pembuangan kalor dengan kondensor. Kesulitan muncul
apabila kita mengkompresi fluida dengan kondisi dua fasa antara cairan dan uap [proses
2-3]. Kemudian kesulitan terjadi juga apabila kita mengekspansi fluida dalam keadaan
cairan [proses 4-1]. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dibuat solusi sebagai
berikut; 2 Proses kompresi 2-3 harus berlangsung pada kondisi uap semua pada
kompresor dan 2 Proses ekpansi 4-1 fluida pada turbin diganti diekspansikan pada
katup ekspansi. Proses kerjanya adalah sebagai berikut :
1-2 Proses kompresi adiabatis pada kompresor
2-3 Proses pengeluaran kalor isobarik pada kondensor
3-4 Proses trotling pada katup ekspansi
4-1 Proses penyerapan kalor 9efriger pada evaporator
Fluida kerja yang dipakai pada sistem refrigerasi kompresi uap adalah fluida
kerja dengan karakteristik khusus yaitu mampu mengembun dengan baik, mampu
menguap dengan baik dan mempunyai daya serap kalor yang baik. Sifat-sifat ini sangat
dibutuhkan karena pas dengan jalannya proses sistem daur kompresi uap. Refrigen
yang mudah mengembun akan melepas panas yang baik kelingkungan di kondensor.
Pada akhir proses pengembunan refrigen sepenuhnya menjadi cair. Sifat penguapan
yang baik berpengaruh terhadap kemampuan yang sering dinamakan “efek
pendinginan” atau “dampak refrigerasi”, sifat inilah yang paling penting untuk
pemilihan refrigeran. Pada proses penguapan pada evaporator adalah proses
penyerapan kalor pada “daerah pendinginan”, pada akhir proses semua refrigeran harus
dalam kondisi uap semua (jenuh), jika masih terdapat cairan akan sangat merugikan
pada proses kompresi.
Secara umum gambaran mengenai prinsip kerja AC adalah:
a. Penyerapan panas oleh evaporator.
b. Pemompaan panas oleh kompresor.
c. Pelepasan panas oleh kondensor.
Prinsip kerja AC tidak berbeda jauh dengan prinsip pada Kulkas, hanya saja
pada AC pemindahan panas diperlukan energi tambahan yang ekstra besar karena yang
udara didinginkan skalanya lebih besar dan banyak. Di dalam mesin Air Conditioner
(AC) bentuk refrigeran berubah-ubah bentuk dari bentuk gas ke bentuk cairan. Pada
kompresor refrigeran masih berupa uap, tekanan dan panasnya dinaikkan dengan cara
dimampatkan oleh piston dalam silinder kompresor. Kemudian uap panas tersebut
didinginkan pada saluran pipa kondensor agar menjadi cairan. Pada saluran pipa
kondenser diberi kipas untuk mempercepat proses pendinginan. Proses pelapasan
panas ini disebut teknik pengembunan.
Selanjutnya cairan refrigeran dimasukkan ke dalam evaporator dan dikurangi
tekanannya sehingga menguap dan menyerap panas udara sekitar. Di dalam AC bagian
dalam ruangan, udara dingin disebarkan menggunakan kipas blower. Dalam bentuk
uap (gas) refrigeran dihisap lagi oleh kompresor. Demikian proses tersebut berulang
terus sampai gas habis terpakai dan harus diisi kembali.
2.5 Cara Kerja Mesin AC
Gambar 2.3. Cara Kerja Mesin AC
Compressor AC yang ada pada sistem pendingin dipergunakan sebagai alat
untuk memampatkan fluida kerja (refrigent), jadi refrigent yang masuk ke dalam
compressor AC dialirkan ke condenser yang kemudian dimampatkan di kondenser. Di
bagian kondenser ini refrigent yang dimampatkan akan berubah fase dari refrigent fase
uap menjadi refrigent fase cair, maka refrigent mengeluarkan kalor yaitu kalor
penguapan yang terkandung di dalam refrigent. Adapun besarnya kalor yang
dilepaskan oleh kondenser adalah jumlahan dari energi compressor yang diperlukan
dan energi kalor yang diambil evaparator dari substansi yang akan didinginkan. Pada
kondensor tekanan refrigent yang berada dalam pipa-pipa kondenser relatif jauh lebih
tinggi dibandingkan dengan tekanan refrigent yang berada pada pipi-pipa evaporator.
Setelah refrigent lewat kondenser dan melepaskan kalor penguapan dari fase
uap ke fase cair maka refrigent dilewatkan melalui katup ekspansi, pada katup ekspansi
ini refrigent tekanannya diturunkan sehingga refrigent berubah kondisi dari fase cair
ke fase uap yang kemudian dialirkan ke evaporator, di dalam evaporator ini refrigent
akan berubah keadaannya dari fase cair ke fase uap, perubahan fase ini disebabkan
karena tekanan refrigent dibuat sedemikian rupa sehingga refrigent setelah melewati
katup ekspansi dan melalui evaporator tekanannya menjadi sangat turun. Hal ini secara
praktis dapat dilakukan dengan jalan diameter pipa yang ada dievaporator relatif lebih
besar jika dibandingkan dengan diameter pipa yang ada pada kondenser.
Dengan adanya perubahan kondisi refrigent dari fase cair ke fase uap maka
untuk merubahnya dari fase cair ke refrigent fase uap maka proses ini membutuhkan
energi yaitu energi penguapan, dalam hal ini energi yang dipergunakan adalah energi
yang berada di dalam substansi yang akan didinginkan. Dengan diambilnya energi
yang diambil dalam substansi yang akan didinginkan maka enthalpi substansi yang
akan didinginkan akan menjadi turun, dengan turunnya enthalpi maka temperatur dari
substansi yang akan didinginkan akan menjadi turun. Proses ini akan berubah terus-
menerus sampai terjadi pendinginan yang sesuai dengan keinginan. Dengan adanya
mesin pendingin listrik ini maka untuk mendinginkan atau menurunkan temperatur
suatu substansi dapat dengan mudah dilakukan.
Secara alamiah semua proses alir terjadi karena ada beda tekan, yaitu dari
tekanan lebih tinggi ke tekanan lebih rendah. Jadi tidak mungkin selama refrigeran
mengalir tanpa ada penurunan tekanan (pressure drop), hal ini terjadi karena selama
mengalir refrigeran banyak kehilangan energi untuk mengatasi hambatan aliran.
2.6 Prinsip Kerja Sistem Pemanas Air Pada Mesin Pendingin Ruangan
Alat pemanas air yang dipasangkan secara seri terhadap kondesor pendingin
ruangan terlihat pada gambar dibawah, maka memungkinkan sistem tersebut dapat
bekerja secara bersamaan sebagai mesin pendingin ruangan dan memanfaatkan
panasnya untuk memanaskan air. Adapun prinsip kerja dari istem ini adalah sebagai
berikut :
Gambar 2.4 Prinsip Kerja Pemanas Air Pada Mesin AC
a. Pertama proses kompresi dimana uap refrigeran dikompresikan dari tekanan
ketekanan tinggi sehingga refrigeran mempunyai tepmperatur yang cukup tinggi.
b. Kedua proses kondensasi dimana uap refrigeran yang cukup panas dialirkan kedalam
alat pemanas air, sehingga terjadi proses pelepasan panas dari refrigeran ke air yang
ada didalam tangki.
c. Keriga, refrigeran yang sudah mengalami penurunan temperatur kemudian
dikondensasikan melalui kondensor. Disini peran kondensor pada awal pemanasan
tidak begitu besar karena panas dari refrigeran banyak diserap oleh air selama melewati
tangki air, kemudian setelah temperatur didalam tangki sudah mulai meningkat maka
kondensor sudah mulai berfungsi.
d. Keempat, proses ekspansi dimana refrigeran yang sudah terkondensasikan
diekspansikan melaui pipa kapiler sehinngga mengalami penurunan tekanan dan fasa
dari refrigeran mulai berubah menjadi campuran.
e. Terakhir, proses evaporasi dimana campuran refrigeran menerima panas dari
ruangan yang didinginkan sehingga berubah fasa menjadi uap dan udara yang melepas
panas mengalami penurunan temperatur menyebabkan temperatur udara di ruangan
menjadi sejuk.
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan Percobaan
1. Seperangkat peralatan mesin air conditioner (AC)
Mesin AC yang digunakan adalah tipe split dengan kapasitas 1 hp, adapun
data spesifikasi dari mesin ini adalah sebagai berikut :
Model DG-09Gz
Kapasitas 1 hp (9000 Btu/h) = 2636,98
Daya listrik 980 watt
Jenis refrigerant R-22
Tekanan kondensor = 2,7 MPa
Tekanan evaporator = 0,65 Mpa
Arus Listrik = 4,5 – 5,5 Ampere
Tegangan listrik = 220 – 240 V
2. Alat ukur Temperature ruang
3. Alat ukur kelembaman
4. Alat ukur tegangan dan alat ukur arus
5. Alat ukur waktu
6. Alat ukur penukar panas. Alat penukar panas yang digunakan dari bahan
tembaga dan mempunyai konfigurasi koil tipe heliks dengan diameter pipa ¼
inchi dan panjang 12 m
7. Tangki air
3.2 Prosedur Percobaan
Gambar 3.1 Susuanan Alat Percobaan
1. Menyusun alat – alat seperti gambar 3.1
2. Mengukur debit aliran di beberapa titik pengukuran
3. Mengamati kenaikan temperatur air dalam tangki terhadap waktu
4. Mengukur COP ( coefisien of performance ) sebelum dihubungkan dengan
pemanas. ( COP mesin AC menunjukkan perbandingan antara besarnya
kapasitas pendinginan dengan daya kompresor )
5. Mengukur COP ( coefisien of performance ) setelah dihubungkan dengan
pemanas.
BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN
3.1 Data
Tabel 1. Hasil Percobaan pada Mesin AC
t(s) T1(°C) T2(°C) T3(°C) T4(°C) P1 (psi) P2(psi) P3(psi)
0 33 63 21 29 54 210 225
180 52 67 23 30 56 205 220
360 54 67 24 31 55 200 215
540 55 67 24 31 54 200 215
720 55 68 24 31 54 200 215
900 55 69 25 33 51 205 215
1080 55 69 25 32 53 210 225
1260 55 69 25 36 50 240 250
1440 56 71 26 32 52 200 215
1620 56 71 26 33 52 205 220
Tabel 2. Hasil Percobaan pada Mesin AC dan Water Heater (Proses Pemanasan)
t(s) T1(°C) T2(°C) T3(°C) T4(°C) T5(°C) T6(°C) P1(psi) P2(psi) P3(psi)
0 37 50 25 26 35 37 45 200 225
180 37 66 24 31 39 37 54 200 225
360 37 67 24 32 44 37 54 200 225
540 37 67 24 32 43 37 54 205 230
720 38 68 24 32 41 37 54 200 225
900 38 70 25 32 45 38 54 200 225
1080 38 70 25 33 44 39 52 210 225
1260 38 70 24 31 41 39 55 205 205
1440 38 70 24 32 43 39 55 210 235
1620 38 70 24 32 44 40 55 205 205
3.2 Pengolahan Data
1. Menghitung Entalpi (h)
Nilai h1,h2,h3,h4 dapat dicari melalui tabel R-22 A-7 yang ada pada buku
Fundamental of Enineering Thermodynamics. Caranya dengan mencocokkan nilai
temperatur hasil percobaan dengan data entalpi yang berada pada tabel pada saat
fasanya berupa gas (ideal). Namun nilai temperatur hasil percobaan tidak semua
tersedia pada tabel sifat refrigeran jenuh. Sehingga dilakukan pendekatan secara
interpolasi untuk mendapatkan nilai h.
1. Interpolasi
(ℎ1 − ℎ0 )
ℎ = ℎ0 + (𝑇 − 𝑇0 )
(𝑇1 − 𝑇0 )
Contoh perhitungan :
Diketahui : T1 = 330C ;
Dari tabel R-134a A11 tidak terdapat entalpi pada suhu 330C, sehingga
perhitungannya digunakan pendekatan interpolasi denga menggunakan data entalpi
pada suhu 340C dan 320C pada tabel yaitu masing masing sebesar 168,14 kj/kg dan
170,09 kj/kg.
(168,14 𝑘𝑗/𝑘𝑔 − 170.09 𝑘𝑗/𝑘𝑔)
ℎ = 170,09 𝑘𝑗/𝑘𝑔 + (33ᵒC − 32ᵒC)
(34ᵒC − 32ᵒC)
ℎ = 265,45 𝑘𝑗/𝑘𝑔
Perhitungan di atas juga berlaku untuk mencari nilai h1,h2,h3,h4,h5 dan h6 pada
percobaan mesin AC dan Water Heater (Proses Pemanasan)
2. Menghitung COP (Coefficient Of Performance)
a. Untuk Mesin AC COP dihitung berdasarka perumusan:
ℎ4 − ℎ3
𝐶𝑂𝑃 =
ℎ2 − ℎ1
Contoh perhitungan :
Diketahui : Pada suhu T1= 330C ; h1= 265,45 kj/kg ; h2= 276,722 kj/kg; h3=
258,88 kj/kg; h4= 263 kj/kg
263 𝑘𝑗/𝑘𝑔 − 258.88𝑘𝑗/𝑘𝑔
𝐶𝑂𝑃 =
276.722 𝑘𝑗/𝑘𝑔 − 265,45𝑘𝑗/𝑘𝑔
𝐶𝑂𝑃 = 0.365286
b. Untuk Mesin AC dan Water Heater (Proses Pemaanasan) COP dihitung
berdasarka perumusan:
ℎ6 − ℎ5
𝐶𝑂𝑃 =
ℎ2 − ℎ1
Contoh perhitungan :
Diketahui : Pada suhu T1= 370C ; h1= 266,86 kj/kg ; h2= 272,46 kj/kg; h5=
265,92 kj/kg; h6= 266,86 kj/kg
266,86 𝑘𝑗/𝑘𝑔 − 265,92𝑘𝑗/𝑘𝑔
𝐶𝑂𝑃 =
272,46 𝑘𝑗/𝑘𝑔 − 266,86𝑘𝑗/𝑘𝑔
𝐶𝑂𝑃 = 0.16801
Dari hasil pengolahan data didapat tabel seperti di bawah ini:
Tabel 3. Hasil Pengolahan Data Pada Percobaan Mesin AC
t(s) T1(°C) T2(°C) T3(°C) T4(°C) P1 (psi) P2(psi) P3(psi) h1(kj/kg) h2(kj/kg) h3(kj/kg) h4(kj/kg) COP
0 33 63 21 29 54 210 225 265.45 276.722 258.8825 263 0.365286
180 52 67 23 30 56 205 220 273.24 277.698 259.9275 263.5 0.801368
360 54 67 24 31 55 200 215 273.96 277.698 260.45 263.99 0.94703
540 55 67 24 31 54 200 215 274.32 277.698 260.45 263.99 1.047957
720 55 68 24 31 54 200 215 274.32 277.942 260.45 263.99 0.977361
900 55 69 25 33 51 205 215 274.32 278.186 260.965 265.45 1.160114
1080 55 69 25 32 53 210 225 274.32 278.186 260.965 264.48 0.909208
1260 55 69 25 36 50 240 250 274.32 278.186 260.965 266.4 1.405846
1440 56 71 26 32 52 200 215 274.68 278.499 261.48 264.48 0.785546
1620 56 71 26 33 52 205 220 274.68 278.499 261.48 265.45 1.039539
Tabel 4. Hasil Pengolahan Data Pada Percobaan Mesin AC dan Water Heater (Proses
Pemansan)
t(s) T1(°C) T2(°C) T3(°C) T4(°C) T5(°C) T6(°C) P1(psi) P2(psi) P3(psi) h1(kj/kg) h2(kj/kg) h3(kj/kg) h4(kj/kg) h5(kj/kg) h6(kj/kg) COP
0 37 50 25 26 35 37 45 200 225 266.865 272.46 260.965 261.48 265.925 266.865 0.168007
180 37 66 24 31 39 37 54 200 225 266.865 277.454 260.45 263.99 276.785 266.865 -0.93682
360 37 67 24 32 44 37 54 200 225 266.865 277.698 260.45 264.48 270.01 266.865 -0.29032
540 37 67 24 32 43 37 54 205 230 266.865 277.698 260.45 264.48 269.575 266.865 -0.25016
720 38 68 24 32 41 37 54 200 225 267.33 277.942 260.45 264.48 268.69 266.865 -0.17198
900 38 70 25 32 45 38 54 200 225 267.33 278.43 260.965 264.48 270.4275 267.33 -0.27905
1080 38 70 25 33 44 39 52 210 225 267.33 278.43 260.965 265.45 270.01 276.785 0.61036
1260 38 70 24 31 41 39 55 205 205 267.33 278.43 260.45 263.99 268.69 276.785 0.729279
1440 38 70 24 32 43 39 55 210 235 267.33 278.43 260.45 264.48 269.575 276.785 0.64955
1620 38 70 24 32 44 40 55 205 205 267.33 278.43 260.45 264.48 270.01 268.24 -0.15946
Dari hasil diatas dapat dibuat grafik
Gambar 4.1. Grafik COP terhadap t pada Mesin AC
Gambar 4.2. Grafik COP terhadap t pada Mesin AC dan Water Hiter (Proses
Pemanasan)
4.3 Pembahasan
Pada mesin AC terdapat komponen-kompenen yaitu evaporator, kompresor,
kondensor dan katup ekspansi dimana komponen- kompenen tersebut membentuk
siklus kompresi uap pada mesin AC. Pada percobaan pertama yaitu percobaan untuk
mengetahui COP (efisiensi) mesin AC. Dihasilkan data berupa T1, T2, T3 dan T4
seerta nilai P1,P2 dan P3 terhadap setiap perubahan waktu 3 menit. Dari data yang
diperoleh didapatkan suhu T2 (suhu setelah melewati kompresor) bernilai lebih tinggi
dari T yang lain ini dan nilai P2 lebih tinggi dari P1 dikarenakan pada kompresor suhu
yang dihisap dari evaporator dengan suhu dan tekanan rendah dimampatkan sehingga
suhu dan tekanannya menjadi naik. Sedangkan suhu T4 (suhu setelah masuk
kondensor) lebih kecil dari suhu di T3 (suhu sebelum masuk kondesnor) ini
dikarenakan kondensor sebagai alat penukaran kalor ,menurunkan temperatur refrigran
dari bentuk gas menjadi cair. Setelah dilakukan perhitungan untuk nilai entalpi
diperoleh nilai COP, dimana nilai COP bersifat fluktuatif terhadap waktu namun
cenderung linier terhadap waktu, ini bisa dilihat dari grafik COP terhadap waktu. Nilai
COP pada saat awal percobaan bernilai 0.36 dan pada saat akhir percobaan (menit 27)
bernilai 1.03.
Pada percobaan kedua dimana mesin AC dihubungkan dengan pemanas air
(water heater). Pemanas air ini memanfaatkan panas terbuang dari mesin AC untuk
memansakan air didalamnya. Data yang dihasilkan dari percobaan yaitu nilai T1, T2,
T3, T4, T5 dan T6 serta P1,P2,P3,P4,P5 dan P6 setiap perbuahan waktu (3 menit). Dari
hasil data yang didapatkan diperoleh bahwa nilai T5 (suhu air yang masuk) lebih besar
dari T6 (suhu air yang keluar) ini dikarenakan adanya pemanasan dari panas terbuang
mesin AC ke dalam tangki water hiter. Setelah dilakukan perhitungan untuk nilai
entalpi dan COP didapatkan bahwa nilai COP bersifat fluktuatif seiring dengan
perubahan waktu namun cenderung linier. Nilai COP pada saat awal percobaan bernilai
0.16 dan pada saat akhir percobaan (menit 27) bernilai 0.15.
Jika dibandingkan nilai COP antara percobaan pertama (mesin AC ) dengan
percobaan kedua (setelah dihubungkan dengan water hiter) didapatkan bahwa nilai
COP sebelum dihubungkan dengan water hiter lebih besar dibandingkan sebelum
dihubungkan water hiter ini dikarenakan panas terbuang dari mesin AC dimanfaatkan
untuk memansakan air pada water hiter artinya pada mesin AC dikenakan kerja
tambahan (beban) sehingga nilai COP nya jadi lebih kecil ketika dihubungkan dengan
water hiter. Adapun nilai COP terbesar pada percobaan pertama yaitu sebesar 1,16
sedangkan pada percobaan kedua sebesar 0,72.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Sebuah AC berkerja berdasarkan prinsip penguapan, pengembunan, dan
pertukaran panas dalam sebuah siklus tertutup dengan menggunakan media
freon.
2. Air Conditioner terdiri atas kompresor, kondensor, evaporator, dan katup
[Link] mudah menguap dialirkan ke dalam sebuah evaporator akan
menyerap panas dari permukaan evaporator. Karena itu freon berubah wujud
menjadi uap dan bergerak menuju ke kompresor. Di kompresor gas akan
dimampatkan sehingga temperatur gas menjadi panas dan berubah wujud
kembali menjadi cairan. Cairan tersebut didinginkan dikondensor agar dapat
digunakan kembali untuk menyerap panas di evaporator.
3. Konversi energi adalah perubahan bentuk energi dari yang satu menjadi energi
yang lain.
4. Temperatur air didalam tangki pemanas adalah T5 yang memiliki rentang nilai
dari 35°C sampai 44°C
5.2 Saran
Penggunaan sistem pemanas air dari panas AC yang terbuang ini ini seharusnya
dikembangkan menjadi lebih efisien, efektif dan ekonomis agar dapat digunakan oleh
masyarat umum. Pemerintah juga sebaiknya cukup mendukung dan memberikan
perhatian lebih pada penggunaan energi alternatif seperti ini.
LAMPIRAN
TUGAS PENDAHULUAN
1. Jelaskan prinsip dan cara kerja mesin refrigerasi kompresi uap!
Jawab :
Mesin refrigerasi adalah mesin yang bekerja menyerap kalor dari lingkungan
bersuhu rendah kemudian dipindahkan ke lingkungan bersuhu tinggi . Pada gambar
dibawah ini merupakan cara kerja mesin tersebut :
a. Refrigerator atau mesin pendingin bekerja dengan menyerap kalor pada suhu
rendah ( di dalam ruangan) kemudian dibuang ke suhu yang lebih tinggi ( di luar
ruangan).
b. Untuk refrigerator, kalor harus dibuang ke lingkungan.
Siklus refrigerasi kompresi mengambil keuntungan dari kenyataan bahwa fluida
yang bertekanan tinggi pada suhu tertentu cenderung menjadi lebih dingin jika
dibiarkan mengembang. Jika perubahan tekanan cukup tinggi, maka gas yang ditekan
akan menjadi lebih panas daripada sumber dingin diluar (contoh udara luar) dan gas
yang mengembang akan menjadi lebih dingin daripada suhu dingin yang dikehendaki.
Dalam kasus ini, fluida digunakan untuk mendinginkan lingkungan bersuhu rendah dan
membuang panas ke lingkungan yang bersuhu tinggi.
Siklus refrigerasi kompresi uap memiliki dua keuntungan. Pertama, sejumlah
besar energi panas diperlukan untuk merubah cairan menjadi uap, dan oleh karena itu
banyak panas yang dapat dibuang dari ruang yang disejukkan. Kedua, sifat-sifat
isothermal penguapan membolehkan pengambilan panas tanpa menaikan suhu fluida
kerja ke suhu berapapun didinginkan. Hal ini berarti bahwa laju perpindahan panas
menjadi tinggi, sebab semakin dekat suhu fluida kerja mendekati suhu sekitarnya akan
semakin rendah laju perpindahan panasnya.
2. Jelaskan siklus mesin refrigasi kompresi uap!
Jawab:
Proses 1-2 ; refrigeran meninggalkan evaporator dalam wujud uap jenuh dengan
temperatur dan tekanan rendah, kemudian oleh kompresor uap tersebut dinaikkan
tekanannya menjadi uap super panas dengan temperatur yang tinggi, lebih tinggi dari
temperature lengkungan sehingga pembuangan panas bisa berlangsung.
Proses 2-3 ; setelah mengalami proses kompresi, refrigeran berada dalam fase panas
lanjut dengan tekanan dan temperatur tinggi. Untuk merubah wujudnya menjadi cair
(kondensasi), kalor harus dilepaskan ke lingkungan melalui alat yang disebut dengan
kondensor. Refrigeran mengalir melalui kondensor pada sisi lain dialirkan fluida
pendingin (udara atau air) dengan temperatur lebih rendah dari pada temperatur
refrigeran. Oleh karena itu kalor akan berpindah dari refrigeran ke fluida pendingin dan
refrigeran akan mengalami penurunan temperatur dari kondisi uap panas lanjut menuju
kondisi uap jenuh, selanjutnya mengalami proses pengembunan menjadi refrigeran
cair. Refrigeran keluar kondensor sudah berupa refrigeran cair. Proses kondensasi
berlangsung pada temperature dan tekanan yang konstan.
Proses 3-4 ; refrigeran dalam keadaan wujud cair jenuh (tingkat keadaan 3) kemudian
mengalir melalui alat ekspansi. Refrigeran mengalami ekspansi pada entalpi konstan
dan berlangsung secara tak reversibel sehingga tekanan refrigeran menjadi rendah
(tekanan evaporator). Refrigeran keluar alat ekspansi berwujud campuran uap-cair
pada tekanan dan temperatur rendah.
Proses 4-1 ; Refrigeran dalam fase campuran uap-cair, mengalir melalui evaporator. Di
dalam evaporator refrigeran mengalami proses penguapan sebagai akibat dari panas
yang diserap dari sekeliling evaporator. Dengan adanya penyerapan panas ini, maka
disekeliling evaporator (ruangan yang dikondisikan) menjadi dingin atau
temperaturnya turun. Selanjutnya refrigeran yang meninggalkan evaporator dalam fase
uap jenuh. Proses penguapan tersebut berlangsung pada temperatur dan tekanan yang
konstan.
3. Jelaskan energi termal pada siklus mesin refrigerasi kompresi uap!
Jawab :
Terdapat energi termal yang keluar dari kondensor sebesar Qc. Terdapat energi
termal yang masuk ke evaporator sebesar Qe, energi termal ini digunakan untuk
menguapkan refrigeran (mengubah fasanya dari fasa liquid ke fasa uap).
DAFTAR PUSTAKA
[1] Drs. Sumanto, MA. 1990. Dasar-dasar Mesin Pendingin. Yogyakarta: ANDI.
[Link]
(Diakses pada tanggal 9 Maret 2017 pukul 15.00 WIB)
[2] No Name. Bab II: Prinsip dan Cara Kerja Mesin Pendingin.
[Link] ( Diakses pada 9 Maret
2017 pukul 15.00 WIB)