0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
79 tayangan13 halaman

Penyebab dan Penanganan RDS pada Bayi Prematur

Laporan pendahuluan ini membahas tentang Respiratory Distress Syndrome (RDS) pada bayi baru lahir. RDS terjadi karena kekurangan surfaktan paru yang berperan menjaga elastisitas paru. Gejala klinisnya adalah kesulitan bernapas berat. Pemeriksaan radiologi menunjukkan infiltrat paru bilateral. Penanganannya meliputi pemberian oksigen, cairan, dan surfaktan eksogen untuk mengganti yang kekurangan. Komplikasinya

Diunggah oleh

lerim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
79 tayangan13 halaman

Penyebab dan Penanganan RDS pada Bayi Prematur

Laporan pendahuluan ini membahas tentang Respiratory Distress Syndrome (RDS) pada bayi baru lahir. RDS terjadi karena kekurangan surfaktan paru yang berperan menjaga elastisitas paru. Gejala klinisnya adalah kesulitan bernapas berat. Pemeriksaan radiologi menunjukkan infiltrat paru bilateral. Penanganannya meliputi pemberian oksigen, cairan, dan surfaktan eksogen untuk mengganti yang kekurangan. Komplikasinya

Diunggah oleh

lerim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

RESPIRATORY DISTRESS OF THE NEWBORN

A. Definisi
Respiratory Distress of the Newborn (RDN) atau biasa juga disebut Respiratory Distress
Syndrome (RDS) biasa juga disebut Hyaline Membrane Disease (HMD) Adalah gangguan
pernafasan yang sering terjadi pada bayi premature dengan tanda-tanda takipnue (>60

x/mnt), retraksi dada, sianosis pada udara kamar yang menetap atau memburuk pada 48-96
jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik, sekitar 60% bayi yang lahir sebelum gestasi

29 minggu mengalami RDS.

RDS menurut Bernard [Link] (1994) apabila onset akut, ada infiltrat bilateral pada foto

thorak, tekanan arteri pulmonal =18mmHg dan tidak ada bukti secara klinik adanya

hipertensi atrium kiri, adanya kerusakan paru akut dengan PaO2 : FiO2 kurang atau sama
dengan 300, adanya sindrom gawat napas akut yang ditandai PaO2 : FiO2 kurang atau sama

dengan 200,disebut sebagai RDS.

B. Etiologi
Penyebab utama terjadinya RDN atau RDS adalah defesiensi atau kerusakan surfaktan dalam

paru-paru. Unsur utama surfaktan adalah dipalmitilfosfatidilkolin (lesitin), fosfatidilgliserol,

apoprotein (protein surfaktan = ps A, B, C, D) dan kholesterol.

Faktor predisposisi:
1. Bayi dari ibu diabetes

2. Persalinan sebelum umur kehamilan 37 minggu

3. Kehamilan multijanin

4. Persalinan SC
5. Persalinan cepat

6. Asfiksia

7. Stress dingin
8. Riwayat bayi sebelumnya terkena RDS
C. Manifestasi Klinik
1. Kesulitan dalam memulai respirasi normal
2. Dengkingan (grunting) pada saat ekspirasi, diamati pada saat bayi tidak dalam keadaan

menangis (disebabkan oleh penutupan glotis) merupakan tanda/indikasi awal penyakit,


berkurangnya dengkingan mungkin merupakan tanda pertama perbaikan.

3. Refraksi sternum dan interkosta


4. Nafas cuping hidung

5. Sianosis pada udara kamar


6. Respiarasi cepat atau kadang lambat jika sakit parah

7. Auskultasi; udara yang masuk berkurang

8. Edema ekstremitas

9. Pada foto rontgen ditemukan retikulogranular, gambaran bulat-bulat kecil dengan

corakan bronkogram udara

D. Patofisiologi

Pada RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan kurangnya zat yang

disebut [Link] adalah zat aktif yang diproduksi sel epitel saluran nafas disebut
sel pnemosit tipe II. Zat ini mulai dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai max

pada minggu ke 35. Zat ini terdiri dari fosfolipid (75%) dan protein (10%).Peranan surfaktan

ialah merendahkan tegangan permukaan alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu

menahan sisa udara fungsional pada sisa akhir expirasi. Kolaps paru ini akan menyebabkan
terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis.

Hipoksia akan menyebabkan terjadinya, Oksigenasi jaringan menurun>metabolisme

anerobik dengan penimbunan asam laktat asam organic>asidosis metabolic. Kerusakan

endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris>transudasi kedalam alveoli>terbentuk


fibrin>fibrin dan jaringan epitel yang nekrotik>lapisan membrane hialin.

Asidosis dan atelektasis akan menyebabkan terganggunya jantung, penurunan aliran

darah ke paru mengakibatkan hambatan pembentukan surfaktan, yang menyebabkan


terjadinya atelektasis. Sel tipe II ini sangat sensitive dan berkurang pada bayi dengan asfiksia

pada periode perinatal, dan kematangannya dipacu dengan adanya stress intrauterine

seperti hipertensi, IUGR dan kehamilan kembar.


Secara singkat patofisiologinya dapat digambarkan, Atelektasis → hipoksemia →asidosis

→ transudasi → penurunan aliran darah paru → hambatan pembentukan zat surfaktan →


[Link] ini berlangsung terus sampai terjadi penyembuhan atau kematian.
RDS merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan pada bayi prematur, biasanya
setelah 3 – 5 hari. Prognosanya buruk jika support ventilasi lama diperlukan, kematian bisa
terjadi setelah 3 hari penanganan. Penilaian tingkat kegawatan napas dengan downe skor

Skor
Pemeriksaan
0 1 2

Frekuensi napas 60x/menit 60-80x/menit >80x/menit

Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat

Sianosis hilang Sianosis menetap


Sianosis Tidak ada sianosis
dengan O2 walaupun diberikan O2

Penurunan

Air entry Udara masuk ringan udara Tidak ada udara masuk

masuk

Dapat didengar
Dapat didengar tanpa
Merintih Tidak merintih dengan
bantuan
stetoskop

Evaluasi:

1-3 sesak napas ringan

4-5 sesak napas sedang

≥6 sesak napas berat

E. Patway
F. Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan AGD didapat adanya hipoksemia kemudian hiperkapni dengan asidosis

respiratorik.
2. Pemeriksaan radiologis, mula-mula tidak ada kelainan jelas pada foto dada, setelah 12-

24 jam akan tampak infiltrate alveolar tanpa batas yang tegas diseluruh paru.
3. Biopsi paru, terdapat adanya pengumpulan granulosit secara abnormal dalam parenkim

paru.

G. Komplikasi

Komplikasi yang timbul dapat berupa komplikasi jangka waktu pendek maupun komplikasi

panjang

1. Kebocoran alveoli : Apabila dicurigai terjadi kebocoran udara ( pneumothorak,


pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema intersisiel ), pada bayi dengan RDS

yang tiba-tiba memburuk dengan gejala klinikal hipotensi, apnea, atau bradikardi atau

adanya asidosis yang menetap.


2. Jangkitan penyakit kerana keadaan penderita yang memburuk dan adanya perubahan
jumlah leukosit dan thrombositopeni. Infeksi dapat timbul kerana tindakan invasiv
seperti pemasangan jarum vena, kateter, dan alat-alat respirasi.
3. Perdarahan intrakranial dan leukomalacia periventrikular : perdarahan intraventrikuler
terjadi pada 20-40% bayi prematur dengan frekuensi terbanyak pada bayi RDS dengan
ventilasi mekanik.

4. PDA dengan peningkatan shunting dari kiri ke kanan merupakan komplikasi bayi dengan
RDS terutama pada bayi yang dihentikan terapi surfaktannya.

Komplikasi jangka panjang dapat disebabkan oleh keracunan oksigen, tekanan yang tinggi
dalam paru, memberatkan penyakit dan kekurangan oksigen yang menuju ke otak dan organ

lain.
1. Bronchopulmonary Dysplasia (BPD): merupakan penyakit paru kronik yang disebabkan

pemakaian oksigen pada bayi dengan masa gestasi 36 minggu. BPD berhubungan

dengan tingginya volume dan tekanan yang digunakan pada waktu menggunakan

ventilasi mekanik, adanya infeksi, inflamasi, dan defisiensi vitamin A. Insiden BPD

meningkat dengan menurunnya masa gestasi.


2. Retinopathy prematur Kegagalan fungsi neurologi, terjadi sekitar 10-70% bayi yang

berhubungan dengan masa gestasi, adanya hipoxia, komplikasi intrakranial, dan adanya

infeksi.

H. Penatalaksanaan

1. Memberikan lingkungan yang optimal. Suhu tubuh bayi harus selalu diusahakan agar

tetap dalam batas normal (36,50C-370C) dengan cara meletakkan bayi dalam incubator.

Kelembapan ruangan juga harus adekuat.


2. Pemberian oksigen. Pemberian oksigen harus dilakukan dengan hati-hati karena

berpengaruh kompleks pada bayi premature. pemberian oksigen yang terlalu banyak

dapat menimbulkan komplikasi seperti fobrosis paru,dan kerusakan retina. Untuk

mencegah timbulnya komplikasi pemberian oksigen sebaiknya diikuti dengan


pemeriksaan analisa gas darah arteri. Bila fasilitas untuk pemeriksaan analisis gas darah

arteri tidak ada, maka oksigen diberikan dengan konsentrasi tidak lebih dari 40% sampai

gejala sianosis menghilang.


3. Pemberian cairan dan elektrolit sangat perlu untuk mempertahankan homeostasis dan

menghindarkan dehidrasi. Pada permulaan diberikan glukosa 5-10% dengan jumlah

yang disesuaikan dengan umur dan berat badan ialah 60-125 ml/kgBB/hari. Asidosis
metabolic yang selalu dijumpai harus segera dikoreksi dengan memberikan NaHCO3

secara intravena yang berguna untuk mempertahankan agar pH darah 7,35-7,45. Bila
tidak ada fasilitas untuk pemeriksaan analisis gas darah, NaHCO3 dapat diberi langsung
melalui tetesan dengan menggunakan campuran larutan glukosa 5-10% dan NaHCO3
1,5% dalam perbandinagn 4:1
4. Pemberian antibiotic. bayi dengan PMH perlu mendapat antibiotic untuk mencegah

infeksi sekunder. dapat diberikan penisilin dengan dosis 50.000-100.000 U/kgBB/hari


atau ampisilin 100 mg/kgBB/hari, dengan atau tanpa gentamisin 3-5 mg/kgBB/hari.

5. Kemajuan terakhir dalam pengobatan pasien PMH adalah pemberian surfaktan eksogen
(surfaktan dari luar). Obat ini sangat efektif tapi biayanya sangat mahal.

I. Kelainan-kelainan fisiologis

1. Daya kembang paru-paru berkurang hingga mencapai seperlima sampai sepersepuluh

nilai normal.

2. Daerah paru-paru yang tidak mengalami perfusi luas mencapai 50-60%

3. Aliran darah kapiler pulmonal kurang


4. Ventilasi alveolus berkurang dan usaha nafas meningkat

5. Volume paru-paru berkurang

Perubahan-perubahan ini menyebabkan hipoksemia, seringkali hiperkarbia dan jika

mengalami hipoksemia berat menimbulakan asidosis.

J. Pengkajian keperawatan

1. Airway

2. Breathing
3. Circulation

4. Disability

5. Exposure

K. Pengkajian

a. Identitas : lengkap, termasuk orang tua bayi

b. Riwayat kesehatan : Keluahan utama, terutama sistem pernafasan (cyanosis, grunting


, RR, cuping hidung)

c. Riwayat kesehatan keluarga: terutama umur kehamilan dan proses persalinan

d. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan takhipneu (> 60 kali/menit), pernafasan

mendengkur, retraksi subkostal/interkostal, pernafasan cuping hidung, sianosis dan


pucat, hipotonus, apneu, gerakan tubuh berirama, sulit bernafas dan sentakan dagu.

Pada awalnya suara nafas mungkin normal kemudian dengan menurunnya


pertukaran udara, nafas menjadi parau dan pernapasan dalam. Pengkajian fisik pada
bayi dan anak dengan kegawatan pernafasan dapat dilihat dari penilaian fungsi
respirasi dan penilaian fungsi kardiovaskuler. Penilaian fungsi respirasi meliputi:

1. Frekuensi nafas
Takhipneu adalah manifestasi awal distress pernafasan pada bayi. Takhipneu

tanpa tanda lain berupa distress pernafasan merupakan usaha kompensasi


terhadap terjadinya asidosis metabolik seperti pada syok, diare, dehidrasi,

ketoasidosis, diabetikum, keracunan salisilat, dan insufisiensi ginjal kronik.


Frekuensi nafas yang sangat lambat dan ireguler sering terjadi pada hipotermi,

kelelahan dan depresi SSP yang merupakan tanda memburuknya keadaan klinik.

2. Mekanika usaha pernafasan

Meningkatnya usaha nafas ditandai dengan respirasi cuping hidung, retraksi

dinding dada, yang sering dijumpai pada obtruksi jalan nafas dan penyakit
alveolar. Anggukan kepala ke atas, merintih, stridor dan ekspansi memanjang

menandakan terjadi gangguan mekanik usaha pernafasan.

3. Warna kulit/membran mukosa

Pada keadaan perfusi dan hipoksemia, warna kulit tubuh terlihat berbercak
(mottled), tangan dan kaki terlihat kelabu, pucat dan teraba dingin.

4. Kardiovaskuler

a. Frekuensi jantung dan tekanan darah

Adanya sinus tachikardi merupakan respon umum adanya stress, ansietas,


nyeri, demam, hiperkapnia, dan atau kelainan fungsi jantung.

b. Kualitas nadi

Pemeriksaan kualitas nadi sangat penting untuk mengetahui volume dan

aliran sirkulasi perifer nadi yang tidak adekwat dan tidak teraba pada satu sisi
menandakan berkurangnya aliran darah atau tersumbatnya aliran darah pada

daerah tersebut. Perfusi kulit kulit yang memburuk dapat dilihat dengan

adanya bercak, pucat dan sianosis.


5. Pemeriksaan pada pengisian kapiler dapat dilakukan dengan cara:

a. Nail Bed Pressure ( tekan pada kuku)

b. Blancing Skin Test, caranya yaitu dengan meninggikan sedikit ekstremitas


dibandingkan jantung kemudian tekan telapak tangan atau kaki tersebut

selama 5 detik, biasanya tampak kepucatan. Selanjutnya tekanan dilepaskan


pucat akan menghilang 2-3 detik.

c. Perfusi pada otak dan respirasi


Gangguan fungsi serebral awalnya adalah gaduh gelisah diselingi agitasi dan
letargi. Pada iskemia otak mendadak selain terjadi penurunan kesadaran
juga terjadi kelemahan otot, kejang dan dilatasi pupil.

e. ADL (Activity daily life)


 Nutrisi : Bayi dapat kekeurangan cairan sebagai akibat bayi belum minum

atau menghisap
 Istirahat tidur : Kebutuhan istirahat terganggu karena adanya sesak nafas

ataupun kebutulan nyaman tergangu akibat tindakan medis


 Eliminasi

L. Diagnosa keperawatan

a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas neurologis (defisiensi

surfaktan dan ketidakstabilan alveolar)


b. Hipotermia berhubungan dengan berada di lingkungan yang dingin

c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler-

alveolar

d. Ketidakseimabngan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake tidak adekuat

M. Rencana Keperawatan

Diagnosa Keperawatan NOC NIC

Gangguan pertukaran gas Status Respirasi : Ventilasi Monitor Respirasi (3350) :

b.d perubahan mem-bran (0403)  Monitor rata-rata irama, kedalaman dan


kapiler-alveoli Setelah dilakukan asuhan usaha untuk bernafas.

Domain 3 (eliminasi dan keperawatan selama x 24 jam,  Catat gerakan dada, lihat kesimetrisan,

pertukaran) pertukaran gas pasien penggunaan otot bantu dan retraksi

Kelas 4 (fungsi menjadi efektif, dengan dinding dada.


pernapasan kriteria :  Monitor suara nafas, saturasi oksigen,

 Dispnea saat istirahat sianosis


Definisi : Kelebihan atau
(1,2,3,4,5)  Monitor kelemahan otot diafragma
kekurangan dalam
 Dispnea saat aktivitas  Catat onset, karakteristik dan durasi
oksigenasi dan atau
ringan (1,2,3,4,5) batuk
pengeluaran
 Perasaan kurang istirahat  Catat hasil foto rontgen
karbondioksida di dalam
(1,2,3,4,5) Terapi Oksigen (3320) :
membran kapiler alveoli
 Sianosis (1,2,3,4,5)  Kelola humidifikasi oksigen sesuai
 Mengantuk (1,2,3,4,5) peralatan
Batasan karakteristik:  Gangguan kesadaran  Siapkan peralatan oksigenasi
(1,2,3,4,5)  Kelola O2 sesuai indikasi
 Takikardia
Skala :  Monitor terapi O2 dan observasi tanda
 Hiperkapnea
1. Sangat berat keracunan O2
 Iritabilitas
2. Berat Manajemen Jalan Nafas (3140) :
 Dispnea
3. Cukup  Bersihkan saluran nafas dan pastikan
 Sianosis
4. Ringan airway paten
 Hipoksemia
5. Tidak ada  Monitor perilaku dan status mental
 Hiperkarbia
pasien, kelemahan , agitasi dan konfusi
 Abnormal frek, irama,
 Posisikan klien dgn elevasi tempat tidur
kedalaman nafas
 Bila klien mengalami unilateral penyakit
 Nafas cuping hidung
paru, berikan posisi semi fowlers dengan
Faktor yang berhubungan
posisi lateral 10-15 derajat / sesuai tole-
 ketidakseimbangan
ransi
perfusi ventilasi
 Monitor efek sedasi dan analgetik pada
 perubahan membran pola nafas klien
kapiler-alveolar

Ketidakefektifan Pola Status Respirasi : Ventilasi Manajemen Jalan Nafas (3140) :

nafas b.d imaturitas (0403)  Bebaskan jalan nafas dengan posisi leher

(defisiensi surfaktan dan Setelah dilakukan tindakan ektensi jika memungkinkan.

ketidak-stabilan alveolar). keperawatan selama …..x 24  Posisikan klien untuk memaksimalkan


Domain 4 aktivitas / jam diharapkan pola nafas ventilasi dan mengurangi dispnea

istirahat efektif denga kriteria hasil :  Auskultasi suara nafas


Kelas 4 respon  Pernapasan pasien 30-  Monitor respirasi dan status oksigen

kardiovaskular/ pulmonal 60X/menit. Monitor Respirasi (3350) :

Definisi : inspirasi/  Pengembangan dada  Monitoring kecepatan, irama, kedalaman

ekspirasi yang tidak simetris. dan upaya nafas.


memberi ventilasi adekuat  Irama pernapasan teratur  Monitor pergerakan, kesimetrisan dada,
Batasan karakteristik :  Tidak ada retraksi dada retraksi dada dan alat bantu pernafasan

 Bernafas saat bernapas  Monitor adanya cuping hidung

mengguna-kan otot  Inspirasi dalam tidak  Monitor pola nafas : bradipnea, takipnea,

pernafasan ditemukan hiperventilasi, respirasi kusmaul, apnea


tambahan  Monitor adanya lelemahan otot
 Dispnea diafragma
 Nafas pendek  Saat bernapas tidak  Auskultasi suara nafas, catat area
 Pernafasan rata-rata memakai otot napas penurunan dan ketidak adanya ventilasi
< 25 atau > 60 kali tambahan dan bunyi nafas

permenit  Bernapas mudah


 Penggunaan oto  Tidak ada suara napas

bantu pernafasan tambahan


Faktor yang berhubungan

 Hiperventilasi
 Imaturasi neurologis

 Keletihan otot

pernafasan

Hipotermia b.d berada di Termoregulasi Neonatus Pengobatan Hipotermi (3800) :

lingkungan yang dingin (0801)  Pindahkan bayi dari lingkungan yang

Domain 11 keamanan/ Setelah dilakukan tindakan dingin ke dalam lingkungan / tempat

perlindungan keperawatan selama …..x 24 yang hangat (didalam inkubator atau

Kelas 6 termoregulasi jam hipotermia tidak terjadi lampu sorot)

Definisi : suhu tubuh dengan kriteria :  Segera ganti pakaian bayi yang dingin

dibawah kisaran normal  Suhu axila 36-37˚ C dan basah dengan pakaian yang hangat

karena kegagalan  RR : 30-60 X/menit dan kering, berikan selimut.


termoregulasi  Warna kulit merah muda  Monitor gejala dari hopotermia : fatigue,

Batasan karakteristik :  Tidak ada distress lemah, apatis, perubahan warna kulit
 Penurunan suhu tu- respirasi  Monitor status pernafasan

buh di bawah ren-  Tidak menggigil  Monitor intake dan output

tang normal  Bayi tidak gelisah

 Pucat  Bayi tidak letargi


 Menggigil

 Kulit dingin

 Dasar kuku sianosis

 Pengisian kapiler

lambat
Faktor yang berhubungan
Lingkungan bersuhu

rendah
Ketidakseimbangan nutrisi Status nutrisi (1004): Management Nutrisi (1100)

kurang dari kebutuhan


Klien dapat memperlihatkan Definisi : menyediakan dan meningkatkan
tubuh b.d intake tidak
peningkatan makan selama intake nutrisi yang seimbang
adekuat
...... jam, dengan kriteria hasil
Domain 2 (nutrisi)  Kaji adanya alergi makanan
:
Kelas 1 (makan)  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk

Definisi : Intake nutrisi  Asupan gizi (1,2,3,4,5) menentukan jumlah kalori dan nutrisi

tidak cukup untuk  Asupan makanan yang dibutuhkan pasien.

keperluan metabolisme (1,2,3,4,5)  Anjurkan pasien untuk meningkatkan

tubuh.  Asupan cairan (1,2,3,4,5) intake Fe

Batasan karakteristik :  Energi (1,2,3,4,5)  Anjurkan pasien untuk meningkatkan

 Berat badan 20 % atau protein dan vitamin C

lebih di bawah ideal


 Berikan substansi gula
Indikator Skala :
 Dilaporkan adanya
 Yakinkan diet yang dimakan
intake makanan yang 1. Sangat menyimpang dari
mengandung tinggi serat untuk
kurang dari RDA normal
mencegah konstipasi
(Recomended Daily 2. Banyak menyimpang dari
 Berikan makanan yang terpilih ( sudah
Allowance) normal
dikonsultasikan dengan ahli gizi)
 Membran mukosa dan 3. Cukup menyimpang dari
 Ajarkan pasien bagaimana membuat
konjungtiva pucat normal
catatan makanan harian.
 Kelemahan otot yang 4. Sedikit menyimpang dari
 Monitor jumlah nutrisi dan kandungan
digunakan untuk normal
kalori
menelan/mengunyah 5. Tidak menyimpang dari
 Berikan informasi tentang kebutuhan
 Luka, inflamasi pada normal
nutrisi
rongga mulut
Status nutrisi (asupan  Kaji kemampuan pasien untuk
 Mudah merasa kenyang,
makanan dan cairan (1008) mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
sesaat setelah
Asupan makanan dan cairan Monitoring Nutrisi (1160)
mengunyah makanan
 Dilaporkan atau fakta yang masuk ke dalam tubuh
Definisi : pengumpulan dan analisa data
adanya kekurangan cukup dalam waktu ........jam
pasien yang berkaitan dengan asupan nutrisi
makanan dengan kriteria hasil:
 BB pasien dalam batas normal
 Dilaporkan adanya  Asupan makan secara oral
 Monitor adanya penurunan berat badan
perubahan sensasi rasa (1,2,3,4,5)
 Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang

biasa dilakukan
 Perasaan  Asupan cairan secara  Monitor interaksi anak atau orangtua
ketidakmampuan untuk normal (1,2,3,4,5) selama makan
mengunyah makanan  Asupan cairan intravena  Monitor lingkungan selama makan

 Miskonsepsi (1,2,3,4,5)  Jadwalkan pengobatan dan tindakan


 Kehilangan BB dengan  Asupan nutrisi parenteral tidak selama jam makan

makanan cukup (1,2,3,4,5)  Monitor kulit kering dan perubahan


 Keengganan untuk pigmentasi
Skala :
makan  Monitor turgor kulit
1. Tidak adekuat
 Kram pada abdomen  Monitor kekeringan, rambut kusam, dan
2. Sedikit adekuat
 Tonus otot jelek mudah patah
3. Cukup adekuat
 Nyeri abdominal dengan  Monitor mual dan muntah
4. Sebagian besar adekuat
atau tanpa patologi  Monitor kadar albumin, total protein,
5. Sepenuhnya adekuat
 Kurang berminat Hb, dan kadar Ht

terhadap makanan  Monitor makanan kesukaan

 Pembuluh darah kapiler  Monitor pertumbuhan dan

mulai rapuh perkembangan


 Diare dan atau  Monitor pucat, kemerahan, dan

steatorrhea kekeringan jaringan konjungtiva

 Kehilangan rambut yang  Monitor kalori dan intake nuntrisi

cukup banyak (rontok)  Catat adanya edema, hiperemik,

 Suara usus hiperaktif hipertonik papila lidah dan cavitas oral.


 Kurangnya informasi,  Catat jika lidah berwarna magenta,

misinformasi scarlet

Faktor-faktor yang

berhubungan :
Ketidakmampuan

pemasukan atau

mencerna makanan atau


mengabsorpsi zat-zat gizi

berhubungan dengan

faktor biologis, psikologis


atau ekonomi.
DAFTAR PUSTAKA

Melson, A. Kathryn & Marie S. Jaffe, Maternal Infant Health Care Planning, Second Edition,

Springhouse Corporation, Pennsylvania, 1994


Betz, Cecily lyn, dan linda A. sowden 2009. Keperawatan pediatric, edisi 5. Jakarta: EGC

Doenges, Marilynn, dkk. 2010. Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 8 .Jakarta : EGC
Mansjoer Arif. 1999. Kapita Selekta [Link] [Link] : Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai