0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan19 halaman

Proposal Permainan Ular Tangga Anak

Proposal terapi bermain anak usia 6-12 tahun dengan permainan ular tangga membahas konsep teori bermain, fungsi, tujuan, prinsip-prinsip, faktor yang mempengaruhi, dan jenis-jenis permainan. Terapi bermain diharapkan dapat membantu perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan kreativitas anak. Permainan ular tangga dipilih karena memungkinkan anak belajar sosialisasi dan mengembang

Diunggah oleh

Septy Oktaviany
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan19 halaman

Proposal Permainan Ular Tangga Anak

Proposal terapi bermain anak usia 6-12 tahun dengan permainan ular tangga membahas konsep teori bermain, fungsi, tujuan, prinsip-prinsip, faktor yang mempengaruhi, dan jenis-jenis permainan. Terapi bermain diharapkan dapat membantu perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan kreativitas anak. Permainan ular tangga dipilih karena memungkinkan anak belajar sosialisasi dan mengembang

Diunggah oleh

Septy Oktaviany
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL TERAPI BERMAIN ANAK USIA 6-12 TAHUN

DENGAN PERMAINAN ULAR TANGGA

I. KONSEP TEORI BERMAINv


A. Pengertian
Bermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual,
emosional dan sosial dan bermain merupakan media yang baik untuk
belajar karena dengan bermain, anak akan berkata-kata, belajar
menyesuaikan diri dengan lingkungan melakukan apa yang dapat
dilakukan, dan mengenal waktu, jarak, serta suara (Wong, 2000).

Bermain adalah kegiatan yang dilakukan sesaui dengan


keinginanya sendiri dan memperoleh kesenangan (Foster, 1989).
Bermain adalah cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkan
konflik dalam dirinya yang tidak disadarinya (Miller dan Keong, 1983).
Bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa, dan
merupakan aspek terpenting dalam kehidupan anak serta merupakan
satu cara yang paling efektif untuk menurunkan stress pada anak, dan
penting untuk kesejahteraan mental dan emosional anak (Champbell
dan Glaser, 2005).
B. Fungsi
1. Perkembangan Sensori
a. Memperbaiki keterampilan motorik kasar dan halus serta
koordinasi
b. Meningkatkan perkembangan semua indra
c. Mendorong eksplorasi pada sifat fisik dunia
d. Memberikan pelampiasan kelebihan energi
2. Perkembangan yang intelektual
a. Memberikan sumber – sumber yang beraneka ragam untuk
pembelajaran
b. Eksplorasi dan manipulasi bentuk, ukuran, tekstur, warna.
c. Pengalaman dengan angka, hubungan yang renggang, konsep
abstrak
d. Kesempatan untuk mempraktikan dan memperluas keterampilan
berbahasa
e. Memberikan kesempatan untuk melatih masa lalu dalam upaya
mengasimilasinya kedalam persepsi dan hubungan baru
f. Membantu anak memahami dunia dimana mereka hidup dan
membedakan antara fantasi dan realita.

3. Perkembangan sosialisasi dan moral


a. Mengajarkan peran orang dewasa, termasuk perilaku peran seks.
b. Memberikan kesempatan untuk menguji hubungan.
c. Mengembangkan keterampilan sosial
d. Mendorong interaksi dan perkembangan sikap positif terhadap
orang lain.
e. Menguatkan pola perilaku yang telah disetujui standar moral.
4. Kreativitas
a. Memberikan saluran ekspresif untuk ide dan minat kreatif
b. Memungkinkan fantasi dan imajinasi
c. Meningkatkan perkembangan bakat dan minat khusus
5. Kesadaran diri
a. Memudahkan perkembangan identitas diri
b. Mendorong pengaturan perilaku sendiri
c. Memungkinkan pengujian pada kemampuan sendiri (keahlian
sendiri)
d. Memberikan perbandingan antara kemampuasn sendiri dan
kemampuan orang lain.
e. Memungkinkan kesempatan untuk belajar bagaimana perilaku
sendiri dapat mempengaruhi orang lain
6. Nilai Teraupetik
a. Memberikan pelepasan stress dan ketegangan
b. Memungkinkan ekspresi emosi dan pelepasan impuls yang tidak
dapat diterima dalam bentuk yang secara sosial dapat diterima
c. Mendorong percobaan dan pengujian situasi yang menakutkan
dengan cara yang aman.
d. Memudahkan komunikasi verbal tidak langsung dan non verbal
tentang kebutuhan, rasa takut, dan keinginan.
C. Tujuan
1. Untuk melanjutkan tumbuh kembang yg normal pada saat sakit.
Pada saat sakit anak mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan
perkembangannya.
2. Mengekspresikan perasaan, keinginan, dan fantasi serta ide-
idenya.
Permainan adalah media yang sangat efektif untuk mengsekspresikan
berbagai perasaan yang tidak menyenangkan.
3. Mengembangkan kreativitas dan kemampuan memecahkan
masalah.
Permainan akan menstimulasi daya pikir, imajinasi, dan fantasinya
untuk mencipakan sesuatu seperti yang ada dalam pikirannya.
4. Dapat beradaptasi secara efektif thp stres karena sakit dan di
rawat di RS.
D. Prinsip – prinsip Bermain
Menurut Soetjiningsih (1995) bahwa ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan agar aktifitas bermain bisa menjadi stimulus yang efektif
:
1. Perlu ekstra energi
Bermain memerlukan energi yang cukup sehingga anak memerlukan
nutrisi yang memadai. Asupan atau intake yang kurang dapat
menurunkan gairah anak. Anak yang sehat memerlukan aktifitas
bermain yang bervariasi, baik bermain aktif maupun bermain
[Link] anak yang sakit keinginan untuk bermain umumnya
menurun karena energi yang ada dugunakan untuk mengatasi
penyakitnya.
2. Waktu yang cukup
Anak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain sehingga
stimulus yang diberikan dapat optimal. Selain itu, anak akan
mempunyai kesempatan yang cukup untuk mengenal alat-alat
permainannya.
3. Alat permainan
Alat permainan yang digunakan harus disesuaikan dengan usia dan
tahap perkembangan anak. Orang tua hendaknya memperhatikan hal
ini sehingga alat permainan yang diberikan dapat berfungsi dengan
benar dan mempunyai unsur edukatif bagi anak.
4. Ruang untuk bermain
Aktifitas bermain dapat dilakukan di mana saja, di ruang tamu, di
halaman, bahkan di ruang tidur. Diperlukan suatu ruangan atau
tempat khusus untuk bermain bila memungkinkan, di mana ruangan
tersebut sekaligus juga dapat menjadi tempat untuk menyimpan
permainannya.
5. Pengetahuan cara bermain
Anak belajar bermain dari mencoba-coba sendiri, meniru teman-
temannya, atau diberitahu oleh orang tuanya. Cara yang terahkir
adalah yang terbaik karena anak lebih terarah dan berkembang
pengetahuannya dalam menggunakan alat permainan tersebut. Orang
tua yang tidak pernah mengetahui cara bermain dari alat permainan
yang diberikan, umumnya membuat hubungannya dengan anak
cenderung menjadi kurang hangat.
6. Teman bermain
Dalam bermain, anak memerlukan teman, bisa teman sebaya, saudara,
atau orang tuanya. Ada saat-saat tertentu di mana anak bermain
sendiri agar dapat menemukan kebutuhannya sendiri. Bermain yang
dilakukan bersama orang tuanya akan mengakrabkan hubungan dan
sekaligus memberikan kesempatan kepada orang tua untuk
mengetahui setiap kelainan yang dialami oleh anaknya. Teman
diperlukan untuk mengembangkan sosislisasi anak dan membantu
anak dalam memahami perbedaan.

E. Faktor yang Mempengaruhi Bermain


1. Tahap perkembangan anak
Aktivitas bermain yang tepat harus sesuai dengan tahapan
pertumbuhan dan perkembangan anak. Orang tua dan Perawat harus
mengetahui dan memberikan jenis permainan yang tepat untuk setiap
tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak.
2. Status kesehatan anak
Aktivitas bermain memerlukan energi maka Perawat harus
mengetahui kondisi anak pada saat sakit dan jeli memilihkan
permainan yang dapat dilakukan anak sesuai dengan prinsip bermain
pada anak yang sedang dirawat di RS.
3. Jenis kelamin
Pada dasarnya dalam melakukan aktifitas bermain tidak
membedakan jenis kelamin laki-laki atau perempuan namun ada
pendapat yang diyakini bahwa permainan adalah salah satu alat
mengenal identitas dirinya. Hal ini dilatarbelakangi oleh alasan
adanya tuntutan perilaku yang berbeda antara laki – laki dan
perempuan dan hal ini dipelajari melalui media permainan.
4. Lingkungan yang mendukung
Lingkungan yang cukup luas untuk bermain memungkinkan anak
mempunyai cukup ruang untuk bermain.
5. Alat dan jenis permainan yg cocok
Pilih alat bermain sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak. Alat
permainan harus aman bagi anak.
F. Alat Permainan Edukatif
Alat permainan edukatif adalah alat permainan yang dapat
mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usia dan
tingkat perkembangannya.
Contoh alat permainan pada balita dan perkembangan yang
distimuli :
1. Pertumbuhan fisik dan motorik kasar
Contoh : Sepeda roda tiga/dua, bola, mainan yang ditarik dan didorong,
tali, dll.
2. Motorik halus
Contoh : Gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.
3. Kecerdasan/ kognitif
Contoh : Buku gambar, buku cerita, puzzle, boneka, pensil, warna, dll.
4. Bahasa
Contoh : Buku bergambar, Buku cerita, majalah, radio, tape, TV, dll.
5. Menolong diri sendiri
Contoh : Gelas/ piring plastic, sendok, baju, sepatu, kaos kaki, dll.
6. Tingkah laku sosial
Contoh : Alat permainan yang dapat dipakai bersama missal congklak,
kotak pasir, bola, tali, dll.
G. Klasifikasi Bermain
1. Menurut isi permainan
a. Sosial affective play
Inti permainan ini adalah hubungan interpersonal yang
menyenangkan antara anak dengan orang lain (contoh: ciluk-baa,
berbicara sambil tersenyum dan tertawa).
b. Sense of pleasure play
Permainan ini sifatnya memberikan kesenangan pada anak (contoh:
main air dan pasir).
c. Skiil play
Permainan yang sifatnya meningkatkan keterampilan pada anak,
khususnya motorik kasar dan halus (misal: naik sepeda,
memindahkan benda).
d. Dramatik Role play
Pada permainan ini, anak memainkan peran sebagai orang lain melalui
permainanny. (misal: dokter dan perawat).
e. Games
Permainan yang menggunakan alat tertentu yang menggunakan
perhitungan / skor (Contoh : ular tangga, congklak).

f. Un occupied behaviour
Anak tidak memainkan alat permainan tertentu, tapi situasi atau
objek yang ada disekelilingnya, yang digunakan sebagai alat
permainan (Contoh: jinjit-jinjit, bungkuk-bungkuk, memainkan kursi,
meja dsb).
2. Menurut karakter sosial
a. Onlooker play
Anak hanya mengamati temannya yang sedang bermain, tanpa ada
inisiatif untuk ikut berpartisifasi dalam permainan (Contoh:
Congklak/Dakon).
b. Solitary play
Anak tampak berada dalam kelompok permainan, tetapi anak bermain
sendiri dengan alat permainan yang dimilikinya dan alat permainan
tersebut berbeda dengan alat permainan temannya dan tidak ada
kerja sama.
c. Parallel play
Anak menggunakan alat permaianan yang sama, tetapi antara satu
anak dengan anak lain tidak terjadi kontak satu sama lain sehingga
antara anak satu dengan lainya tidak ada sosialisasi. Biasanya
dilakukan anak usia toddler.
d. Associative play
Permainan ini sudah terjadi komunikasi antara satu anak dengan
anak lain, tetapi tidak terorganisasi, tidak ada pemimpin dan tujuan
permaianan tidak jelas (Contoh: bermain boneka, masak-masak).
e. Cooperative play
Aturan permainan dalam kelompok tampak lebih jelas pada
permainan jenis ini, dan punya tujuan serta pemimpin (Contoh: main
sepak bola).

3. Menurut usia
a. Umur 1 bulan (sense of pleasure play).
 Visual : dapat melihat dgn jarak dekat
 Audio : berbicara dgn bayi
 Taktil : memeluk, menggendong
 Kinetik : naik kereta, jalan-jalan.
b. Umur 2-3 bln
 Visual : memberi objek terang, membawa bayi keruang
yang berbeda
 Audio : berbicara dengan bayi,memyanyi
 Taktil : membelai waktu mandi, menyisir rambut.
c. Umur 4-6 bln
 Visual : meletakkan bayi didepan kaca, memebawa bayi
nonton TV.
 Audio : mengajar bayi berbicara, memanggil namanya,
memeras kertas.
 Kinetik : bantu bayi tengkurap, mendirikan bayi pada paha
ortunya.
 Taktil : memberikan bayi bermain air.
d. Umur 7-9 bln
 Visual : memainkan kaca dan membiarkan main dengan kaca
serta berbicara sendiri.
 Audio : memanggil nama anak, mngulangi kata-kata yang
diucapkan seperti mama, papa.
 Taktil : membiarkan main pada air mengalir.
 Kinetik : latih berdiri, merangkap, latih meloncat.
e. Umur 10-12 bln
 Visual : memperlihatkan gambar terang dalam buku.
 Audio : membunyikan suara binatang tiruang, menunjukkan
tubuh dan menyebutnya.
 Taktil : membiarkan anak merasakan dingin dan hangat,
membiarkan anak merasakan angin.
 Kinetik : memberikan anak mainan besar yang dapat ditarik
atau didorong, seperti sepeda atau kereta.
f. Umur 2-3 tahun
 Paralel play dan sollatary play
 Anak bermain secara spontan, bebas, berhenti bila capek,
koordinasi kurang (sering merusak mainan)
 Jenis mainan: boneka,alat masak,buku cerita dan buku
bergambar.
g. Preschool 3-5 thn
 Associative play , dramatik play dan skill play.
 Sudah dapat bermain kelompok
 Jenis mainan: roda tiga, balok besar dengan macam-macam
ukuran.
h. Usia sekolah
 Cooperative play
 Kumpul prangko, orang lain.
 Bermain dengan kelompok dan sama dengan jenis kelamin
 Dapat belajar dengan aturan kelompok
 Laki-laki : Mechanical
 Perempuan : Mother Role

i. Mainan untuk Usia Sekolah :


 6-8 tahun : Kartu, boneka, robot, buku, alat olah raga, alat untuk
melukis, mencatat, sepeda.
 8-12 tahun : Buku, mengumpulkan perangko, uang logam,
pekerjaan tangan, kartu, olah raga bersama, sepeda, sepatu roda.
j. Masa remaja
 Anak lebih dekat dengan kelompok
 Orang lain, musik,komputer, dan bermain drama.

H. Bermain di Rumah Sakit


Perawatan di Rumah Sakit merupakan pengalaman yang penuh
dengan stress, baik bagi anak maupun orang tua. Untuk itu, anak
memerlukan media yang dapat mengeskpresikan perasaan tersebut
dan mampu bekerja sama degan petugas kesehatan selama dalam
masa perawatan.
Aktivitas bermain yang dilakukan perawat pada anak di RS akan
memberikan keuntungan sebagai berikut :
1. Meningkatkan hubungan klien dan perawat
2. Aktivitas beramain yang terpogram akan memulihkan perasaan
mandiri pada anak.
3. Permainan di RS membantu anak mengekspresikan perasaannya.
4. Permainan yang terapeutik akan membentuk tingkah laku yang
positif.
Prinsip – prinsip bermain di rumah sakit :
1. Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan
sederhana.
2. Relatif aman dan terhindar dari infeksi silang.
3. Sesuai dengan kelompok usia.
4. Peramainan tidak boleh bertentangan dengan terapi yang sedang
dijalankan.
5. Perlu partisipasi orang tua dan keluarga.
Tekhnik Bermain di Rumah Sakit :
1. Berikan alat permainan untuk merangsang anak bermain sesuai
dengan umur perkembangannya
2. Berikan cukup waktu dalam bermain dan menghindari interupsi
3. Berikan permainan yang bersifat mengurangi sifat emosi anak
4. Tentukan kapan anak boleh keluar atau turun dari tempat tidur
sesuai dengan kondisi anak

II. TERAPI BERMAIN ULAR TANGGA EDUKATIF UNTUK USIA 6 –


12 TAHUN
A. Deskripsi
Ular tangga adalah permainan papan untuk anak-anak yang
dimainkan oleh 2 orang atau lebih. Papan permainan dibagi dalam
kotak-kotak kecil dan di beberapa kotak digambar sejumlah "tangga"
atau "ular" yang menghubungkannya dengan kotak lain. Dalam
permainan ular tangga edukatif ini, kelompok memodifikasi papan
ular tangga menjadi kotak – kotak yang berisi gambar – gambar
edukatif untuk membantu pengembangan intelektual anak.
Setiap pemain mulai dengan bidaknya di kotak pertama
(biasanya kotak di sudut kiri bawah) dan secara bergiliran
melemparkan dadu. Bidak dijalankan sesuai dengan jumlah mata dadu
yang muncul. Bila pemain mendarat di ujung bawah sebuah tangga,
mereka dapat langsung pergi ke ujung tangga yang lain. Bila mendarat
di kotak dengan ular, mereka harus turun ke kotak di ujung bawah
ular. Pemenang adalah pemain pertama yang mencapai kotak terakhir.
Biasanya bila seorang pemain mendapatkan angka 6 dari dadu,
mereka mendapat giliran sekali lagi. Bila tidak, maka giliran jatuh ke
pemain selanjutnya.

B. Jenis Permainan
Jenis permainan ini adalah Games. Games adalah permainan yang
menggunakan alat tertentu yang menggunakan perhitungan / skor.

C. Tujuan
1. Umum :
Setelah dilakukan tindakan program bermain pada anak usia sekolah
(6 -12 tahun) selama kurang lebih 30 menit diharapkan anak dapat
bermain sambil belajar mengenal tanda umum anak bergizi baik.
2. Khusus :
Bagi anak:
 Dapat mengatur strategi dan kecermatan.
 Dapat mengenal tanda – tanda anak bergizi baik
 Dapat mengembangkan imajinasi dan mengingat peraturan
permainan
 Dapat berlatih bersosialisasi
 Dapat berlatih bersikap sportif
 Dapat mengurangi kecemasan dan ketegangan pada anak
 Dapat belajar pramatematika yaitu saat menghitung langkah pada
permainan ular tangga dan menghitung titik – titik yang terdapat
pada dadu.
Bagi perawat:
 Membangun trust antara pasien anak dan perawat
 Mampu mengaplikasikan teori terapi bermain pada anak usia 6-12
tahun
 Mampu mengenal karakter tiap anak usia 6-12 tahun

D. Sasaran
Kriteria Klien
1. Anak yang berumur usia sekolah ( 6-12tahun )
2. Anak kooperatif
3. Anak dengan komunikasi verbal baik
4. Anak yang tidak ada kontra indikasi untuk bermain.

E. Setting
Ruangan Kesalahan! Nama file tidak ditentukan.
Kesalahan! Nama file tidak ditentukan.

Kesalahan! Nama file tidak ditentukan. = Anak


I Kesalahan! Nama file tidak ditentukan. =
Fasilitator I
Kesalahan! Nama file tidak ditentukan. = Anak
II Kesalahan! Nama file tidak ditentukan. = Fasilitator
II

Kesalahan! Nama file tidak ditentukan. = Anak


III Kesalahan! Nama file tidak ditentukan.= Observer

= Leader

F. Uraian Tugas Kelompok


1. Leader : Muhammad Wahyu Putra
 Bertugas untuk menjelaskan aturan permainan
 Memulai dan memimpin permainan
 Mengatur jalannya permainan
2. Fasilitator: Meriza Efialis
 Bertugas mendampingi anak selama permainan
 Membantu anak apabila mengalami kesulitan saat bermain
 Membantu leader dalam penyediaan fasilitas permainan
3. Obsever: Ade Irawan
 Bertugas untuk mengamati jalannya dan respon anak selama
permainan berlangsung.
 Melakukan evaluasi proses dan hasil permainan

G. Perilaku Anak yang diharapkan


1. Anak dapat mengatur strategi dan kecermatan.
2. Anak dapat mengenal tanda – tanda anak bergizi baik
3. Anak dapat mengembangkan imajinasi dan mengingat
peraturan permainan
4. Anak dapat berlatih bersosialisasi dengan teman – temannya
5. Anak dapat berlatih bersikap sportif
6. Anak dapat mengurangi kecemasan dan ketegangan
7. Anak dapat belajar pramatematika yaitu saat menghitung
langkah pada permainan ular tangga dan menghitung titik – titik yang
terdapat pada dadu.

H. Analisa Kondisi Anak


1. Anak sehat
2. Anak sekolah berusia 6-12 tahun
3. Anak kooperatif
4. Anak antusias

I. Analisa Situasi
1. Tempat
Menyesuaikan dengan jadwal laboratorium.
2. Waktu
Program terapi ini dilakukan sesuai jadwal laboratorium.
3. Jumlah peserta
Jumlah peserta terapi bermain ini direncanakan sejumlah 3 anak.
4. Jumlah perawat
Jumlah perawat yang memberikan terapi ini adalah 4 orang.
5. Peralatan
a. Alas duduk
b. Alat permainan ular tangga

J. Rencana Pelaksanaan
1. Persiapan (5 menit)
- Eksplorasi perasaan perawat
- Mengingat kembali konsep permainan
- Persiapan anak, alat dan tempat oleh fasilitator
2. Pelaksanaan (20 menit)
- Perkenalan anggota terapis dan salam oleh Leader
- Kontrak waktu permainan oleh Leader
- Penjelasan permainan oleh Leader
- Fasilitator menyiapkan permainan
- Permainan dimulai oleh Leader
- Observer mengamati jalannya permainan
- Fasilitator mendampingi anak dalam bermain
3. Evaluasi (5 menit)
- Evaluasi proses dan jalannya permainan oleh observer
- Memberikan reinforcement
- Permainan diakhiri dan ditutup oleh Leader
4. Antisipasi Masalah
a. Bertengkar dengan anak yang lain
 Lerai anak dari perselisihan. Libatkan fasilitator dalam melerai
perselisihan
 Menanyakan alasan mengapa bertengkar dan memberikan
pengertian pada anak bahwa bertengkar itu tidak baik.
 Biarkan anak tenang dahulu, jangan memaksa anak untuk
melanjutkan permainan
 Jika anak sudah tenang, bujuk anak untuk saling memaafkan dan
melanjutkan permainan
b. Menangis
 Tanyakan pada anak alasan ia menangis
 Lakukan pendekatan yang baik untuk menenangkan anak
 Setelah anak tenang, motivasi untuk melanjutkan permainan
c. Ingin BAK/BAB
 Sebelum permainan dimulai, anak dipersilahkan untuk BAK/BAB
 Jika saat permainan berlangsung, anak ingin BAK/BAB maka
ditemani oleh fasilitator
d. Anak tiba – tiba tidak mau bermain
 Tanyakan pada anak mengapa ia tidak mau bermain
 Jika memungkinkan, bujuk anak untuk bermain lagi
 Jika anak mengatakan capai atau lelah, anjurkan anak untuk istirahat
dan bermain dapat dilakukan lain waktu
e. Bosan
 Berikan permainan selingan, seperti ice breaking dan relaksasi
ringan
 Terapis membuat situasi yang menyenangkan dan meningkatkan
motivasi

Proses Evaluasi
Ø Anak terlibat dan aktif dalam terapi bermain
Ø Anak mengikuti terapi bermain sampai selesai
Ø Anak mau berinteraksi dengan anak lain dan perawat
Ø Anak dapat mengekspresikan pikiran, perasaan melalui permainan
yang telah dilakukan

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bermain tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak, karena
bagi anak bermain sama saja bekerja bagi orang dewasa. Bermain pada
anak mempunyai fungsi yaitu untuk perkembangan sensorik, motorik,
intelektual, sosial, kreatifitas, kesadaran diri, moral sekaligus terapi
anak saat sakit.
Tujuan bermain adalah melanjutkan pertumbuhan dan
perkembangan yang normal, mengekspresikan dan mengalihkan
keinginan fantasi. Dan idenya mengembangkan kreatifitas dan
kemampuan memecahkan masalah dan membantu anak untuk
beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan di rawat di
Rumah Sakit.

B. Saran
Terapi bermain dapat menjadi obat bagi anak-anak yang sakit.
Jadi sebaiknya di RS juga disediakan fasilitas bermain bagi anak-anak
yang di rawat di rumah sakit. Mensosialisasikan terapi bermain pada
orang tua sehingga orang tua dapat menerapkan terapi di rumah dan
di rumah sakit.

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, K., et al.2010. Contoh Proposal Terapi Bermain Pada Anak


Prasekolah. Diakses Pada Tanggal 11 Desember 2012.
[Link]
Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik.
Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai