MAKALAH MANAJEMEN KEPERAWATAN
SISTEM PEMBERIAN PELAYANAN KEPERAWATAN PROFESIONAL
(SP2KP)
Disusun Oleh:
Kelompok 13
Ika Merdekawati (C12116011)
Harfia Lutfa Ilham (C12116030)
Trivosa Rombe (C12116503)
Dewi Liling (C12116316)
Amelia Hisage (C12116701)
Program Ilmu Studi Keperawatan
Fakultas Keperawatan
Universitas Hasanuddin
2019
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah atas rahmat dan karunia-Nya kami diberi kemampuan untuk
menyelesaikan makalah Manajemen Keperawatan mengenai “Sistem Pemberian Pelayanan
Keperawatan Profesional (SP2KP)”. Dalam penyusunan makalah ini kelompok memperoleh
bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih
kepada teman – teman yang telah memberikan konstribusinya dalam penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh
sebab itu, kelompok sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Selain itu,
diharapkan dengan terselesaikannya makalah “Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan
Profesional (SP2KP)” ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Penulis,
Kelompok 13
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................................. 2
BAB I .............................................................................................................................................. 3
PENDAHULUAN ......................................................................................................................... 3
1. Latar Belakang ..................................................................................................................... 3
2. Rumusan Masalah ................................................................................................................ 3
3. Tujuan Pembelajaran ........................................................................................................... 4
BAB II ............................................................................................................................................ 5
PEMBAHASAN ............................................................................................................................ 5
1. Definisi Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2KP) ......................... 5
2. Jenis Model Praktek Keperawatan Profesional.................................................................... 5
3. Komponen Pelayanan Keperawatan Profesional ................................................................. 6
4. Pemberian Asuhan Keperawatan Profesional Berdasarkan SP2KP .................................. 14
5. Penerapan Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2KP) ................... 16
6. Struktur Tingkatan Sistem Pemberian Pelayangan Keperawatan Profesional (SP2KP) ... 17
7. Perbedaan MP2KP dan SP2KP.......................................................................................... 17
BAB III......................................................................................................................................... 18
PENUTUP .................................................................................................................................... 18
1. Kesimpulan ........................................................................................................................ 18
2. Saran .................................................................................................................................. 18
Daftar Pustaka ............................................................................................................................ 19
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Sistem pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan mengalami
perubahan mendasar dalam memasuki abad 21 ini. Perubahan tersebut merupakan dampak
dari perubahan kependudukan dimana masyarakat semakin berkembang yaitu lebih
berpendidikan, lebih sadar akan hak dan hukum, serta menuntut dan semakin kritis
terhadap berbagai bentuk pelayanan keperawatan serta perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi saat ini.
Keperawatan sebagai pelayanan atau asuhan profesional bersifat humanistis
menggunakan pendekatan holistik, dilakukan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan,
berorientasi pada kebutuhan objektif klien, mengacu pada standar profesional keperawatan
dan menggunakan etika keperawatan sebagai tuntutan utama. Profesionalisasi keperawatan
merupakan proses dinamis dimana profesi yang telah terbentuk mengalami perubahan dan
perkembangan karakteristik sesuai dengan tuntutan profesi dan kebutuhan masyarakat
(Nursalam, 2011). Pelayanan asuhan keperawatan yang optimal akan terus sebagai suatu
tuntutan bagi organisasi pelayanan kesehatan.
Layanan keperawatan yang ada di Rumah Sakit masih bersifat okupasi. Artinya,
tindakan keperawatan yang dilakukan hanya pada pelaksanaan prosedur, pelaksanaan tugas
berdasarkan instruksi dokter. Pelaksanaan tugas tidak didasarkan pada tanggung jawab
moral serta tidak adanya analisis dan sintesis yang mandiri tentang asuhan keperawatan.
Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan restrakturing, reengineering, dan redesigning
system pemberian asuhan keperawatan melalui pengembangan Model Praktek
Keperawatan Profesional (MPKP) yang diperbaharui dengan sistem pemberian pelayanan
keperawatan professional (SP2KP).
2. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari SP2KP?
2. Apa saja jenis model praktek keperawatan profesional?
3. Apa saja komponen pelayanan keperawatan profesional?
4. Bagaimana pemberian asuhan keperawatan profesional berdasarkan SP2KP?
5. Bagaimana cara penerapan SP2KP?
6. Bagaimana struktur tingkatan SP2KP?
7. Apa perbedaan MPKP dan SP2KP?
3. Tujuan Pembelajaran
1. Mahasiswa mampu memahami definisi dari SP2KP
2. Mahasiswa mampu mengetahui jenis model praktek keperawatan profesional
3. Mahasiswa mampu memahami komponen pelayanan keperawatan profesional
4. Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan profesional berdasarkan SP2KP
5. Mahasiswa mampu mengetahui penerapan SP2KP
6. Mahasiswa mampu memahami struktur tingkatan SP2KP
7. Mahasiswa mampu mengetahui perbedaan MPKP dan SP2KP
BAB II
PEMBAHASAN
1. Definisi Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2KP)
Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2KP) adalah
pengembangan dari Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP) yang merupakan
kerjasama professional antara perawat dan tenaga kesehatan lainnya (Perry, Potter. 2009).
Sistem pemberian pelayanan keperawatan profesional (SP2KP) adalah kegiatan
pengelolaan asuhan keperawatan di setiap unit ruang rawat di rumah sakit yang
memungkinkan perawat untuk melaksanakan asuhan keperawatan yang profesional bagi
pasien.
SP2KP merupakan kegiatan pengelolaan asuhan keperawatan di setiap unit ruang
rawat di rumah sakit. Komponennya terdiri dari: perawat, profil pasien, sistem pemberian
asuhan keperawatan, kepemimpinan, nilai-nilai profesional, fasilitas, sarana prasarana
(logistik) serta dokumentasi asuhan keperawatan (Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan
DEPKES RI, 2009).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa SP2KP yaitu sistem
pemberian pelayanan keperawatan professional disetiap unit ruang rawat inap di rumah
sakit yang memungkinkan perawat untuk melakukan asuhan keperawatan professional
bagi pasien.
2. Jenis Model Praktek Keperawatan Profesional
Ada beberapa jenis model Praktek Keperawatan Profesional (PKP) yaitu:
a. Model Praktek Keperawatan Profesional III
Melalui pengembangan MPKP III dapat diberikan asuhan keperawatan
profesional tingkat III. Pada ketenagaan terdapat tenaga perawat dengan kemampuan
doktor dalam keperawatan klinik yang berfungsi untuk melakukan riset dan
membimbing para perawat melakukan riset sera memanfaatkan hasil-hasil riset dalam
memberikan asuhan keperawatan.
b. Model Praktek Keperawatan Profesional II
Pada model ini akan mampu memberikan asuhan keperawatan profesional
tingkat II. Pada ketenagaan terdapat tenaga perawat dengan kemampuan spesialis
keperawatan yang spesifik untuk cabang ilmu tertentu. Perawat spesialis berfungsi
untuk memberikan konsultasi tentang asuhan keperawatan kepada perawat primer
pada area spesialisnya. Disamping itu melakukan riset dan memanfaatkan hasil-hasil
riset dalam memberikan asuhan keperawatan. Jumlah perawat spesialis direncanakan
satu orang untuk 10 perawat primer pada area spesialisnya (1:10).
c. Model Praktek Keperawatan Profesional I.
Pada model ini perawat mampu memberikan asuhan keperawatan profesional
tingkat I dan terdiri dari beberapa komponen yaitu: ketenagaan keperawatan, metode
pemberian asuhan keperawatan yang digunakan pada model ini adalah kombinasi
metode keperawatan primer dan metode tim disebut tim primer.
d. Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula
Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula (MPKPP) merupakan tahap
awal untuk menuju model PKP. Model ini mampu memberikan asuhan keperawatan
profesional tingkat pemula. Pada model ini terdapat 3 komponen utama yaitu:
ketenagaan keperawatan, metode pemberian asuhan keperawatan dan dokumentasi
asuhan keperawatan.
3. Komponen Pelayanan Keperawatan Profesional
Menurut Kusnanto (2004) terdapat beberapa komponen pelayanan keperawatan
profesional yaitu:
a. Nilai-nilai profesional sebagai inti model
Pada model ini, Perawat Primer (PP) dan Perawat Associate (PA)
membangun kontrak dengan klien/keluarga sejak masuk ke suatu ruang rawat yang
merupakan awal dari penghargaan atas harkat dan martabat manusia. Hubungan
tersebut akan terus dibina selama klien dirawat di ruang rawat, sehingga klien/keluarga
menjadi partner dalam memberikan asuhan keperawatan. Pelaksanaan dan evaluasi
renpra, PP mempunyai otonomi dan akuntabilitas untuk mempertanggungjawabkan
asuhan yang diberikan termasuk tindakan yang dilakukan PA di bawah tanggung jawab
untuk membina performa PA agar melakukan tindakan berdasarkan nilai-nilai
profesional.
b. Pendekatan Manajemen
Pendekatan manajemen juga merupakan salah satu nilai profesional yang
diperlukan dalam mengimplementasikan praktek keperawatan profesional. Model ini
memberlakukan manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), artinya ada garis
komunikasi yang jelas antara PP dan PA. Performa PA dalam satu tim menjadi
tanggung jawab PP. PP adalah seorang manajer asuhan keperawatan yang harus
dibekali dengan kemampuan manajemen dan kepemimpinan sehingga PP dapat
menjadi manajer yang efektif dan pemimpin yang efektif.
Pendekatan manajemen yang digunakan dalam pengelolaan keperawatan
diruang rawat meliputi:
1. Fungsi Perencanaan
Perencanaan merupakan rincian kegiatan tentang apa, bagaimana masing-
masing dan dimana kegiatan akan dilaksanakan. Perencanaan diruang rawat
adalah kegiatan perencanaan yang melibatkan seluruh perawat ruangan tersebut
mulai dari kepala ruangan, ketua tim dan anggota tim/perawat pelaksana.
Perencanaan yang disusun oleh perawat disesuaikan dengan peran dan fungsi
masing-masing. Perencanaan yang diterapkan adalah rencana harian, mingguan
dan bulanan.
Rencana Harian
Rencana harian adalah rencana aktifitas pada tiap shift oleh perawat
asosiet/perawat pelaksana, perawat primer/ketua tim dan kepala ruangan.
1) Rencana Harian Perawat Pelaksana
Perawat pelaksana akan membuat rencana yang ditujukan pada
tindakan keperawatan untuk sejumlah pasien yang dirawat pada shift
dinasnya.
2) Rencana harian ketua tim
Isi rencana harian ketua tim adalah penyelenggaraan asuhan
keperawatan pada pasien di timnya, melakukan supervisi perawat
pelaksana untuk menilai kompetensi secara langsung dan tidak langsung,
serta on the job trainning yang dirancang, kolaborasi dengan dokter atau
tim kesehatan lainnya yang merawat pasien dalam timnya. Ketua tim
sebaiknya hanya dinas pagi, karena pada pagi hari banyak kegiatan atau
tindakan yang dilakukan dan merencanakan kegiatan sore dan malam.
3) Rencana harian kepala ruangan
Isi kegiatan harian kepala ruangan meliputi semua kegiatan yang
dilakukan oleh seluruh perawat yang ada di ruangan dalam rangka
menghasilkan pelayanan asuhan keperawatan yang berkualitas. Kepala
ruangan harus mengetahui kebutuhan ruangan dan mempunyai hubungan
keluar dengan unit yang terkait untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Demikian pula dengan asuhan keperawatan, kepala ruangan sebagai
narasumber utama atau konsultan untuk menjamin terlaksananya asuhan
keperawatan pada semua tim di ruangan.
Rencana Bulanan
Ketua tim dan kepala ruangan membuat rencana bulanan berhubungan
dengan peningkatan asuhan keperawatan dan pelayanan keperawatan.
1) Rencana Bulanan Kepala Ruangan
Setiap akhir bulan kepala ruangan melakukan evaluasi dan
berdasarkan hasil evaluasi tersebut, kepala ruangan akan membuat
rencana tindak lanjut dalam rangka peningkatan kualitas hasil. Dalam
fungsi perencanaan, kepala ruangan membuat laporan tentang evaluasi
rencana harian yang dibuat oleh ketua tim dan perawat pelaksana.
2) Rencana bulanan ketua tim
Setiap akhir bulan ketua tim melakukan evaluasi tentang
keberhasilan kegiatan yang dilakukan didalam tim nya yaitu askep dan
kinerja perawat pelaksana. Berdasarkan hasil tersebut, dibuat rencana
tindak lanjut untuk perbaikan pada bulan berikutnya. Ketua tim membuat
laporan evaluasi rencana kegiatan harian asuhan keperawatan yang
dilakukan oleh perawat pelaksana dan melaporkan hasil audit asuhan
keperawatan serta melakukan perbaikan asuhan keperawatan dengan
merencanakan diskusi langsung.
2. Pengorganisasian
a. Pengorganisasian tenaga
Pengorganisasian diruang rawat menggunakan pendekatan
sistem/metode penugasan tim dan SDM perawat diorganisasikan dengan
menggunakan metode penugasan perawat primer dan tim keperawatan yang
dimodifikasi. Perawat dibagi dalam tim sesuai dengan jumlah pasien
diruangan. Jumlah pasien untuk tiap tim 8-10 orang, dan jumlah perawat
antara 6-10 orang, untuk itu akan dibuat struktur organisasi daftar dinas dan
daftar pasien.
b. Klasifikasi Pasien
Pasien diklasifikasikan berdasarkan sistem klasifikasi yang dibagi
dalam tiga kelompok berdasarkan tingkat ketergantungan klien :
1) Perawatan Total: klien memerlukan 7 jam perawatan langsung per 24
jam,
2) Perawatan Parsial : klien memerlukan 4 jam perawatan langsung per 24
jam,
3) Perawatan Mandiri: klien memerlukan 2 jam perawatan langsung per 24
jam.
3. Pengarahan
Pengarahan dilakukan dalam beberapa kegiatan yaitu program motivasi,
manajemen konflik, dan supervisi. Program motivasi dimulai dengan
membudayakan cara berfikir positif bagi setiap perawat dengan
mengungkapkannya melalui pujian (reinforcement) pada setiap orang yang
bekerja bersama-sama. Kebersamaan dalam mencapai visi, dan misi merupakan
pendorong kuat untuk fokus pada potensi masing-masing anggota.
Pengawasan dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
Pengawasan langsung dilakukan saat tindakan atau kegiatan sedang berlangsung.
Pengawasan terkait pula dengan kinerja dan kompetisi perawat, yang akan
berguna dalam program jenjang karir perawat bersangkutan. Pengawasan tidak
langsung dilakukan melalui pelaporan atau dokumen yang menguraikan tindakan
dan kegiatan yang telah dilakukan.
Pengawasan biasanya dilakukan oleh perawat yang lebih
berpengalaman, ahli atau atasan kepada perawat dalam pelaksanaan kegiatan atau
tindakan. Di ruang rawat pengawasan dilakukan kepada kepala ruangan, ketua tim
dan perawat pelaksana.
4. Fungsi Pengendalian
Pengendalian adalah upaya mempertahankan mutu, kualitas atau standar.
Output (hasil) dari suatu pekerjaan dikendalikan agar memenuhi keinginan
(standar) yang telah ditetapkan. Pengendalian difokuskan pada proses yaitu
pelaksanaan asuhan keperawatan dan pada output (hasil) yaitu kepuasan
pelanggan, keluarga, perawat dan dokter. Kepala ruangan akan membuat laporan
hasil kerja bulanan tentang semua kegiatan yang dilakukan.
c. Metode pemberian asuhan keperawatan
Metode pemberian asuhan keperawatan yang digunakan adalah modifikasi
keperawatan primer sehingga keputusan tentang renpra ditetapkan oleh PP. PP akan
mengevaluasi perkembangan klien setiap hari dan membuat modifikasi pada renpra
sesuai kebutuhan klien.
Sistem pemberian asuhan keperawatan dibagi dua yaitu manajemen asuhan
keperawatan untuk pasien dan pendidikan kesehatan bagi keluarga.
Manajemen asuhan keperawatan
Manajemen asuhan keperawatan terkait erat dengan metode penugasan
perawat. Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan menggunakan
pendekatan proses keperawatan. Formulir pengkajian disediakan sama dengan
yang digunakan pada ruang rawat lain di RS. Perawat primer/ketua tim
bertanggung jawab melakukan pengkajian dan menetapkan masalah dan diagnosa
keperawatan.
Kemampuan pengkajian, penetapan masalah, dan tindakan yang tepat
merupakan kemampuan intelektual. Implementasi tindakan keperawatan akan
dilakukan oleh perawat pelaksana yang ditetapkan sesuai dengan daftar pasien.
Pendokumentasian juga dilakukan oleh yang melakukan tindakan. Kemampuan
melaksanakan tindakan keperawatan merupakan kemampuan yang harus dilatih
agar mencapai tujuan sesuai dengan masalah keperawatan yang dialami pasien.
Kemampuan ini harus disupervisi dan didokumentasikan oleh ketua tim dalam
rangka penilaian kinerjanya.
Pendidikan kesehatan bagi keluarga
Pendidikan kesehatan bagi keluarga pasien merupakan paket asuhan
keperawatan yang tidak dapat dipisahkan dari asuhan keperawatan pada pasien.
Sejak keluarga mengantarkan pasien untuk dirawat di rumah sakit dan keluarga
setuju dirawat di ruang rawat maka keluarga merupakan bagian dan sistem
pemberian asuhan keperawatan pasien.
Program pendidikan kesehatan disesuaikan dengan masalah yang dialami
oleh pasien. Perawat memberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit masalah
yang dialami, tanda dan gejalanya, tindakan yang dapat keluarga lakukan dan
follow up yang perlu dilakukan di rumah.
d. Hubungan professional
Hubungan professional dilakukan oleh PP dimana PP lebih mengetahui
tentang perkembangan klien sejak awal masuk ke suatu ruang rawat sehingga mampu
memberi informasi tentang kondisi klien kepada profesi lain khususnya dokter.
Pemberian informasi yang akurat tentang perkembangan klien akan membantu dalam
penetapan rencana tindakan medik.
Hubungan profesional antara anggota tim keperawatan dan profesi dokter
memberi suasana ilmiah dan profesional di ruang rawat. Untuk itu direncanakan
kegiatan yang akan memberi kesempatan bagi tenaga kesehatan berbagi pendapat dan
pengalaman, baik dalam pelayanan maupun asuhan pada pasien dan keluarga. Interaksi
antara profesi diselenggarakan berupa:
1) Hubungan profesional antar perawat
a) Operan, yaitu komunikasi dan serah terima antara shift pagi, sore dan malam.
Operan dari malam ke pagi dan dari pagi ke sore dipimpin oleh ketua tim,
sedangkan openan dan sore ke malam dipimpin oleh penanggungjawab shift
sore.
b) Konfenensi awal (pre conference) yaitu komunikasi ketua tim dan perawat
pelaksana setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut
yang dipimpin oleh ketua tim. Jika yang berdinas pada tim tersebut hanya satu
orang, maka pre conference ditiadakan. Isi pre conference adalah rencana tiap
perawat (rencana harian) dan tambahan rencana dari ketua tim atau
penaggungjawab tim. Pre conference dipimpin oleh ketua tim atau
penanggungjawab tim.
c) Konferensi akhir (post conference) yaitu komunikasi ketua tim dan perawat
pelaksana tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan
berikutnya. Isi post conference adalah hasil asuhan keperawatan tiap perawat
dan hal penting untuk operan (tindak lanjut). Post conference dipimpin oleh
ketua tim atau penanggungjawab tim.
d) Studi kasus dapat dilakukan pada tingkat tim atau ruangan pada kasus pasien
baru, pasien yang tidak berkembang, pasien yang meninggal, pasien dengan
masalah yang jarang ditemukan.
e) Rapat keperawatan dapat dilakukan satu bulan sekali untuk mengevaluasi
hasil kerja secara keseluruhan membagi informasi, peraturan/perkembangan
IPTEK yang dipimpin oleh ketua tim.
f) Pendelegasian tugas yang jelas diberikan kepada perawat yang mempunyai
kemampuan untuk melakukannya. Kepala ruangan dapat mendelegasikan
tugas kepada ketua tim, demikian pula ketua tim dapat mendelegasikan tugas
kepada perawat pelaksana.
2) Hubungan profesional antara perawat dan dokter
1) Kolaborasi antara ketua tim dan dokter
Ketua tim bertanggungjawab berkolaborasi dengan dokter yang
merawat pasien yang ada di timnya. Jika ketua tim tidak dinas/tidak di tempat,
maka ia harus mendelegasikan kolaborasi dengan dokter kepada perawat
yang merawat pasien yang bersangkutan. Sesuai dengan pengorganisasian
perawat, maka dokter, fisioterapis dan ahli gizi dapat berdialog dengan
perawat yang bertanggung jawab terhadap pasien tertentu. Hubungan
kemitraan dapat ditumbuhkan sehingga iklim kerja yang saling menghargai
dapat tencipta.
2) Instruksi dokter melalui telpon dibuatkan pedomannya. Misalnya perlu ada
saksi penerima telepon dan 1x24 jam kemudian dokter harus mengganti
instruksi lisan menjadi instruksi tertulis.
3) Studi kasus multidisiplin, yaitu membahas kasus bersama-sama tim terkait.
Misalnya setiap pasien baru dibahas bersama tindakan dan berbagai pihak
untuk kepentingan pasien. Hal ini perlu agar terlaksana asuhan terpadu dan
holistik.
4) Rapat ruang rawat, bersama seluruh petugas kesehatan yang bekerja di
ruangan tersebut untuk membahas hasil total pelayanan kesehatan ruang
rawat.
e. Sistem kompensasi dan penghargaan
Keperawatan merupakan SDM kesehatan yang mempunyai kesempatan paling
banyak untuk melakukan praktek profesionalnya pada pasien di berbagai tatanan
khususnya pada pasien yang dirawat di rumah sakit serta memberikan asuhan 24 jam
terus menerus. Untuk sejumlah pasien diperlukan sejumlah perawat karena perawat
senantiasa ada di antara pasien, berbeda dengan profesi kesehatan lain yang
memerlukan waktu sesaat dan tidak terus menerus sehingga jumlah mereka tidak
sebanyak perawat. Untuk itu, kemampuan perawat melakukan praktek keperawatan
professional perlu dipertahankan, dikembangkan dan ditingkatkan melalui manajemen
SDM/kinerja perawat yang konsisten dan disesuaikan dengan perkembangan iptek
keperawatan.
Perawat Primer dan timnya berhak atas kompensasi serta penghargaan
untuk asuhan keperawatan yang profesional. Kompensasi dan penghargaan yang
diberikan kepada perawat bukan bagian dari asuhan medis atau kompensasi dan
penghargaan berdasarkan prosedur. Kompensasi berupa jasa dapat diberikan kepada
PP dan PA dalam satu tim yang dapat ditentukan berdasarkan derajat ketergantungan
klien. PP dapat mempelajari secara detail asuhan keperawatan klien tertentu sesuai
dengan gangguan/masalah yang dialami sehingga mengarah pada pendidikan ners
spesialis.
1) Orientasi kerja
Semua perawat yang bekerja di ruang MPKP harus melalui masa
orientasi berupa pemberian informasi tentang budaya kerja MPKP dan orientasi
di ruang rawat MPKP. Selama masa orientasi dievaluasi kinerja dalam
melaksanakan budaya kerja MPKP.
2) Pendidikan Keperawatan Berkelanjutan (PKB)
Pendidikan keperawatan berkelanjutan dapat berupa pendidikan formal
yaitu peningkatan pendidikan dari SPK ke DIII keperawatan, DIII Keperawatan
ke S1 Ners Keperawatan, atau S1 Ners ke S2 Keperawatan dan seterusnya.
Selain itu dapat dilakukan pendidikan informal secara on the job
training yaitu pelatihan atau bimbingan secara terus menerus sambil bekerja,
misal perawat pelaksana dapat meningkatkan kompetensinya dengan
bimbingan katim, dapat meningkatkan kemampuan manajemen katim dengan
bimbingan kepala ruangan. Out the job training yaitu pelatihan yang
diselenggarakan dalam kurun waktu tertentu, misalnya pelatihan 4 hari atau
lebih. Perawat harus meninggalkan pekerjaannya sementara. Pelatihan yang
diikuti akan dirancang sesuai dengan pengembangan kemampuan yang terkait.
3) Pengembangan Jenjang Karir Perawat
Pengembangan jenjang karir adalah pengembangan peran dan tanggung
jawab. Seorang perawat yang telah sukses di ruang MPKP merupakan aset
keperawatan untuk pengembangan MPKP di ruang rawat lain, artinya menjadi
pembaharu. Ia dapat pula berperan sebagai narasumber bagi rumah sakit lain
yang ingin mengembangkan MPKP. Demikian juga perawat asosiet dapat
berkembang menjadi perawat primer dan perawat primer menjadi karu
4. Pemberian Asuhan Keperawatan Profesional Berdasarkan SP2KP
SP2KP sebagai sistem pemberian asuhan keperawatan di ruang rawat, dapat
memungkinkan perawat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang profesional bagi
pasien. SP2KP ini memiliki sistem pengorganisasian yang baik dimana semua komponen
yang terlibat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan diatur secara profesional (Sitorus &
Yulia, 2006).
Praktik keperawatan dalam hal ini asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien
mengacu pada proses keperawatan itu sendiri yaitu meliputi pengkajian, diagnosa
keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Dalam hal pelaksanaan tindakan
maupun pendokumentasiannya perawat dituntut untuk profesional. Asuhan keperawatan
merupakan aspek legal bagi seorang perawat. Aspek legal dikaitkan dengan dokumentasi
keperawatan (Dermawan, 2012). SP2KP merupakan bantuk pengembangan dari MPKP
yang lebih profesional dan lebih baik dalam memberikan tingkat pelayanan asuhan
keperawatan terhadap klien. Didalam SP2KP kita sering mengenal perawat primer (PP)
dan perawat associate (PA). Dalam pengembangan konsep SP2KP, perawat PP bertugas
dalam menjalankan komunikasi dengan tenaga kesehatan lain seperti dokter, ahli gizi,
farmasi, dll. Dalam hal ini, perawat PP bertugas untuk memberikan hasil pemeriksaannya
berdasarkan hasil pengkajian yang berhubungan dengan perawatan pasien yang
dilaksanakan oleh PA, sehingga dapat membantu dalam memutuskan tindakan medis
selanjutnya.
Dalam melakukan asuhan keperawatan yang professional, diperlukannya membuat
suatu rencana asuhan keperawatan (renpra) untuk membantu mengidentifikasi dan
menyusun strategi terhadap tindakan keperawatan yang akan dilakukan ke pasien. Selain
itu renpra juga memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Pedoman bagi PP dan PA dalam melakukan tindakan dan asuhan keperawatan
profesional
b. Landasan profesional bahwa asuhan keperawatan diberikan berdasarkan ilmu
pengetahuan
Kerjasama profesional PP dan PA, renpra selain berfungsi sebagai penunjuk
perencanaan asuhan yang diberikan juga berfungsi sebagai media komunikasi PP pada
PA. Berdasarkan renpra ini, PP mendelegasikan PA untuk melakukan sebagian
tindakan keperawatan yang telah direncanakan oleh PP. Oleh sebab itu, sangat sulit
untuk tim PP-PA dapat bekerjasama secara efektif jika PP tidak membuat perencanaan
asuhan keperawatan (renpra). Hal ini menunjukan bahwa renpra sesungguhnya dibuat
bukan sekedar memenuhi ketentuan-ketentuan tertentu (biasanya ketentuan dalam
menentukan akreditasi rumah sakit).
Cakupan SP2KP lebih luas tidak hanya fokus dengan asuhan keperawatan
(Sitorus, 2006) saja tetapi juga fokus pada nilai, metode, dokumentasi, sarana
prasarana, dan lain-lain. SP2KP bertujuan untuk lebih merepresentasikan praktik
asuhan keperawatan profesional yang lebih komprehensif.
5. Penerapan Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2KP)
Penerapan SP2KP tidak memerlukan syarat khusus yang harus dipenuhi ketika
rumah sakit ingin menerapkan sistem tersebut. Tetapi ketika suatu rumah sakit ingin
menerapkan SP2KP, sebelumnya rumah sakit harus memiliki kesiapan untuk berubah dan
berkomitmen untuk menerapkan sistem tersebut. Langkah-langkah yang dilakukan untuk
menerapkan SP2KP di rumah sakit yaitu:
1. Sosialisasi dari kementrian kesehatan kepada rumah sakit yang ingin menerapkan
SP2KP
2. Membentuk kelompok kerja dan merancang pelaksanaan pemberian pelayanan auhan
keperawatan yang komprehensif
3. Menganalisis visibilitas sistem yang akan diterapkan
4. Harus terdapat pedoman pelaksanaan dari sistem tersebut
5. Menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan
6. Sosialiasasi dengan penerapan SP2KP kepada suluruh yang berkepentingan
7. Dilakukan uji coba sistem pemberian pelayanan keperawatan profesional
8. Mengevaluasi uji coba
9. Melaksananakan sistem dengan penerapan SP2KP
6. Struktur Tingkatan Sistem Pemberian Pelayangan Keperawatan Profesional
(SP2KP)
7. Perbedaan MP2KP dan SP2KP
Menurut Sitorus (2006) MPKP memiliki keefektifan dalam meningkatkan
kepuasan pasien, kecepatan pulang pasien dan biaya yang relatif lebih murah. Sedangkan
keefektifan SP2KP belum ada penelitian yang pasti tetapi jika suatu sistem sudah di
kembangkan dan diterapkan pasti juga memiliki keefektifan penerapan tersendiri. Secara
umum SP2KP dapat diterapkan di puskesmas/klinis, namun pendekatannya harus lebih
spesifik dan lebih memperhatikan segala hal yang diterapkan oleh puskesmas tersebut
(misal: manajemen, struktur, sarana prasarana dan lain-lain). Tanpa disadari sebenarnya di
puskesmas ataupun klinik menerapkan sistem MPKP tetapi tidak mendalam dan tidak
memiliki panduan yang jelas serta hanya dilakukan secara alamiah sebagai seorang
perawat.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
SP2KP adalah sistem pemberian pelayanan keperawatan profesional yang merupakan
pengembangan dari MPKP (Model Praktek Keperawatan Profesional) dimana dalam SP2KP
ini terjadi kerjasama profesional antara perawat primer (PP) dan perawat asosiet (PA) serta
tenaga kesehatan lainnya.
Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2KP) maupun Model Pratik
Keperawatan Profesional (MPKP) merupakan salah satu upaya upaya dalam meningkatkan
indikator pelayanan rumah sakit maupun puskesmas. Diharapkan penerapan SP2KP maupun
MPKP dilaksanakan oleh semua rumah sakit sehingga mutu pelayanan di semua rumah sakit
meningkat dan berjalan dengan semestinya.
2. Saran
Sebagai mahasiswa keperawatan, diharapkan mampu memahami konsep MPKP dan
SP2KP sehingga dapat menerapkan konsep tersebut ke dalam pelaksanaan pelayanan
keperawatan saat bekerja nantinya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan kelompok juga
menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang
membangun sangat dibutuhkan untuk menyempurnakan makalah ini.
Daftar Pustaka
Dermawan D. 2012. Buku Ajar Keperawatan Komunitas. Yogyakarta : Gosyen Publishing
Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan DEPKES RI. 2009. Modul Sistem pemberian Pelayanan
Keperawatan Profesional. Jakarta: Departemen Kesehatan
Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan Praktek Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC
Nursalam. 2011. Manajemen keperawatan Aplikasi dalam Praktik keperawatan Profesional.
Jakarta: Salemba Medika.
Potter, Patricia A. & Perry, Anne G. 2009. Fundamental Keperawatan Buku 1 Ed. 7. Jakarta:
Salemba Medika
Sitorus, Ratna. 2006. Model Praktik Keperawatan Profesiona; dirumah [Link]: EGC.