0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
195 tayangan26 halaman

Penyuluhan Persalinan Normal di Desa Mawar

1. SAP ini membahas persalinan normal dan dilaksanakan di Desa Mawar 3 pada 29 November 2017. 2. Tujuannya adalah agar keluarga memahami proses persalinan normal dan tanda bahayanya. 3. Materi yang disampaikan meliputi definisi, jenis, tanda, dan cara persalinan normal serta persiapannya.

Diunggah oleh

anon_884691128
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
195 tayangan26 halaman

Penyuluhan Persalinan Normal di Desa Mawar

1. SAP ini membahas persalinan normal dan dilaksanakan di Desa Mawar 3 pada 29 November 2017. 2. Tujuannya adalah agar keluarga memahami proses persalinan normal dan tanda bahayanya. 3. Materi yang disampaikan meliputi definisi, jenis, tanda, dan cara persalinan normal serta persiapannya.

Diunggah oleh

anon_884691128
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

SATUAN ACARA PENYULUHAN


(SAP)

Pokok Bahasan : Persalinan


Subpokok Bahasan : Persalinan Normal
Hari/tanggal : Rabu, 29 November 2017
Waktu : 08.00 – selesai
Sasaran : Keluarga
Tempat : Desa Mawar 3
Penyuluh :
1. Maulana Azhim (SK116036)
2. Maulida Nurul Faizah (SK116037)
3. Mega Radliyatata (SK116038)

A. Latar Belakang
Persalinan merupakan proses yang penting bagi seorang ibu. Dalam proses
persalinan tersebut maka secara alamiah ibu bersalin akan mengeluarkan
banyak energi dan mengalami perubahan-perubahan baik secara fisiologis dan
psikologis sehingga dukungan pada ibu bersalin sangat diperlukan. Asuhan
persalinan normal merupakan asuhan yang bersih dan aman selama persalinan
dan setelah bayi lahir. Oleh karena itu peran petugas kesehatan adalah
memantau persalinan untuk mendeteksi adanya komplikasi dan memberikan
kenyamanan saat bersalin (Rohani, Saswita R, Marisah, 2011).
Sebagian besar persalinan di Indonesia terjadi di desa atau di fasilitas
pelayanan kesehatan dasar, dimana tingkat ketrampilan petugas dan sarana
kesehatan sangat terbatas. Oleh sebab itu hal tersebut menjadi salah satu
pemicu penyebab angka kematian ibu di Indonesia masih cukup tinggi
(Rohani, Reni S, Marisah, 2011).
Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2008
menyebutkan Angka Kematian Ibu di Indonesia 240/100.000 kelahiran hidup
(Profil Kesehatan Indonesia, 2010; h.181). Sedangkan Survey Demografi
2

Kesehatan (SDKI) menyebutkan pada tahun 2009 AKI di provinsi Jawa


Tengah sebesar 117,02/100.000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Jawa
Tengah, 2009). Selain di tingkat provinsi AKI juga tercermin di Kabupaten
Demak pada tahun 2010 adalah sebesar 98,98/100.000 kelahiran hidup.
Sebagian Penyebab dari kematian ibu pada saat persalinan (26,99%).
Dengan klasifikasi perdarahan sebesar (22,42%),eklamsi (28,76%), infeksi
(3,54%), dan lain-lain sebesar (45,28) (Profil Kesehatan Jawa Tengah, 2009).
Sedangkan berdasarkan laporan rutin PWS KIA tahun 2007 penyebab langsung
kematian ibu adalah karena perdarahan (39%), eklampsia (20%), infeksi (7%),
dan lain- lain (33%). Hal tersebut yang mendasari penyuluh untuk mengadakan
penyuluhan mengenai pentingnya pendidikan kesehatan harapan ibu dalam
persalinan normal.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan di Desa Mawar 3 selama 1 x 35 menit
diharapkan keluarga mampu mengerti, memahami dan menjelaskan kembali
tentang masalah persalinan normal dengan 90% benar.
2. Tujuan Khusus
Setelah mendapatkan penyuluhan, Keluarga Desa Mawar 3 diharapkan
mampu mengerti, memahami dan menjelaskan kembali :
a. Definisi persalinan normal dengan 90% benar
b. Jenis persalinan dengan 90% benar
c. Tanda-tanda persalinan dengan 90% benar
d. Faktor-faktor yang berperan dalam persalinan dengan 90% benar
e. Tanda bahaya persalinan dengan 90% benar
f. Cara mengejan saat persalinan dengan 90% benar
g. Hal yang tidak boleh dilakukan saat mengejan ketika persalinan normal
dengan 90% benar
h. Makanan dan minuman penambah energi menjelang persalinan dengan
90% benar
i. Type persalinan normal dengan 90% benar
3

j. Persiapan persalinan dengan 90% benar

C. Sasaran
Sasaran dalam penyuluhan adalah Keluarga desa Mawar 3.

D. Materi/isi (Terlampir)
Materi penyuluhan yang akan disampaikan meliputi :
1. Definisi persalinan normal
2. Jenis persalinan
3. Tanda-tanda persalinan
4. Faktor-faktor yang berperan dalam persalinan
5. Tanda bahaya persalinan
6. Cara mengejan saat persalinan
7. Hal yang tidak boleh dilakukan saat mengejan ketika persalinan normal
8. Makanan dan minuman penambah energi menjelang persalinan
9. Type persalinan normal
10. Persiapan persalinan

E. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab/Diskusi

F. Media
1. Microphone
2. Lembar balik
3. Leaflet
4

G. Setting Tempat Duduk

Keterangan :

: Moderator

: Penyuluh

: Peserta

: Fasilitator

: Observer

H. Pengorganisasi
1. Moderator :
2. Penyuluh :
3. Fasilitator :
4. Observer :
Pembagian Tugas
a. Moderator : Mengarahkan seluruh jalannya acara penyuluhan
dari awal sampai akhir
b. Penyuluh : Menyajikan materi penyuluhan
c. Fasilitator : Memotifasi peserta untuk bertanya
d. Observer : Mengamati jalannya acara penyuluhan dari awal
sampai Akhir
5

I. Proses Kegiatan
Kegiatan
No Tahap Waktu Metode
Penyuluh Audience
1 Pembukaan 5 menit a. Mengucapkan salam a. Menjawab Lisan
b. Memperkenalkan diri b. Memperhatikan
c. Menjelaskan tujuan c. Memperhatikan
d. Kontrak waktu d. Memperhatikan
e. Apersepsi e. Menjawab
2 Isi 20 Menjelaskan Ceramah
menit a. Definisi persalinan a. Memperhatikan
normal
b. Jenis persalinan b. Memperhatikan
c. Tanda-tanda c. Memperhatikan
persalinan
d. Faktor-faktor yang d. Memperhatikan
berperan dalam
persalinan
e. Tanda bahaya e. Memperhatikan
persalinan
f. Cara mengejan saat f. Memperhatikan
persalinan
g. Hal yang tidak boleh g. Memperhatikan
dilakukan saat
mengejan ketika
persalinan normal
h. Makanan dan h. Memperhatikan
minuman penambah
energi menjelang
persalinan
i. Type persalinan i. Memperhatikan
normal
j. Persiapan persalinan j. Memperhatikan
6

3 Penutup 10 a. Memberi kesempatan a. Bertanya Ceramah


menit bertanya dan
b. Menjawab pertanyaan b. Memperhatikan diskusi
c. Evaluasi c. Menjawab
d. Menyimpulkan d. Memperhatikan
e. Memberi reward e. Menjawab
f. Memberitahu kontrak f. Memperhatikan
waktu selanjutnya
g. Mengucapkan salam g. Menjawab

J. Rencana Evaluasi
1. Apa definisi persalinan normal ?
2. Sebutkan jenis persalinan ?
3. Apa saja tanda-tanda persalinan ?
4. Apa saja faktor-faktor yang berperan dalam persalinan ?
5. Apa saja tanda bahaya persalinan ?
6. Bagaimana cara mengejan saat persalinan ?
7. Apa saja hal yang tidak boleh dilakukan saat mengejan ketika persalinan
normal ?
8. Apa saja makanan dan minuman penambah energi menjelang persalinan ?
9. Apa saja type persalinan normal ?
10. Bagaimana cara persiapan persalinan ?

K. Evaluasi
1. Standart
a. Leaflet sudah dicetak minimal 1 hari sebelum penyuluhan.
b. Materi sudah diketik rapi minimal 2 hari sebelum penyuluhan.
c. Lembar balik sudah dicetak minimal 1 hari sebelum penyuluhan
d. SAP sudah dibuat minimal 2 hari sebelum penyuluhan.
e. Audiens duduk sesuai dengan setting tempat duduk yang sudah
ditentukan.
f. Microphone sudah disiapkan minimal 5 menit sebelum penyuluhan.
7

2. Proses
a. Keluarga Desa Mawar 3 memperhatikan dan mendengarkan penyuluh
saat menyampaikan definisi persalinan normal
b. Keluarga Desa Mawar 3 memperhatikan dan mendengarkan penyuluh
saat menyampaikan jenis persalinan
c. Keluarga Desa Mawar 3 memperhatikan dan mendengarkan penyuluh
saat menyampaikan tanda-tanda persalinan
d. Keluarga Desa Mawar 3 memperhatikan dan mendengarkan penyuluh
saat menyampaikan faktor-faktor yang berperan dalam persalinan
e. Keluarga Desa Mawar 3 memperhatikan dan mendengarkan penyuluh
saat menyampaikan tanda bahaya persalinan
f. Keluarga Desa Mawar 3 memperhatikan dan mendengarkan penyuluh
saat menyampaikan cara mengejan saat persalinan
g. Keluarga Desa Mawar 3 memperhatikan dan mendengarkan penyuluh
saat menyampaikan hal yang tidak boleh dilakukan saat mengejan ketika
persalinan normal
h. Keluarga Desa Mawar 3 memperhatikan dan mendengarkan penyuluh
saat menyampaikan makanan dan minuman penambah energi menjelang
persalinan
i. Keluarga Desa Mawar 3 memperhatikan dan mendengarkan penyuluh
saat menyampaikan type persalinan normal
j. Keluarga Desa Mawar 3 memperhatikan dan mendengarkan penyuluh
saat menyampaikan cara persiapan persalinan
3. Hasil
a. Keluarga Desa Mawar 3 mampu memahami dan menjelaskan kembali
definisi persalinan normal dengan 90 % benar
b. Keluarga Desa Mawar 3 mampu memahami dan menjelaskan kembali
jenis persalinan dengan 90 % benar
c. Keluarga Desa Mawar 3 mampu memahami dan menjelaskan kembali
tanda-tanda persalinan dengan 90 % benar
d. Keluarga Desa Mawar 3 mampu memahami dan menjelaskan kembali
faktor-faktor yang berperan dalam persalinan dengan 90 % benar
8

e. Keluarga Desa Mawar 3 memperhatikan dan mendengarkan penyuluh


saat menyampaikan tanda bahaya persalinan
f. Keluarga Desa Mawar 3 mampu memahami dan menjelaskan kembali
cara mengejan saat persalinan dengan 90 % benar
g. Keluarga Desa Mawar 3 mampu memahami dan menjelaskan kembali
hal yang tidak boleh dilakukan saat mengejan ketika persalinan normal
dengan 90 % benar
h. Keluarga Desa Mawar 3 mampu memahami dan menjelaskan kembali
makanan dan minuman penambah energi menjelang persalinan
i. Keluarga Desa Mawar 3 mampu memahami dan menjelaskan kembali
type persalinan normal
j. Keluarga Desa Mawar 3 mampu memahami dan menjelaskan kembali
cara persiapan persalinan

L. Materi
PERSALINAN NORMAL

A. Definisi Persalinan Normal


Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat
hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. Persalinan normal adalah
proses kelahiran janin pada umur aterm/37 minggu - 42 minggu, letak
memanjang, PBK, disusul plasenta dengan tenaga ibu sendiri dalam waktu
kurang dari 24 jam, tanpa tindakan atau pertolongan buatan, dan tanpa
komplikasi (Wiknjosastro H, 2002).
Persalinan normal menurut WHO adalah persalinan yang di mulai secara
spontan, beresiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian selama
proses persalinan, bayi dilahirkan secara spontan dalam presentasi belakang
kepala pada usia kehamilan antara 37- 42 minggu lengkap setelah persalinan
ibu maupun bayi dalam kondisi baik. Jadi kesimpulan persalinan normal adalah
pengeluaran hasil konsepsi yang dikandung selama 37 – 42 minggu, presentasi
belakang kepala / ubun-ubun kecil di bawah sympisis melalui jalan lahir biasa,
keluar dengan tenaga ibu sendiri, disusul dengan pengeluaran plasenta dan
9

berlangsung kurang dari 24 jam. Setelah persalinan ibu maupun bayi dalam
kondisi baik (Reeder, 2011).

B. Jenis Persalinan
Menurut Hamilton P. (2013), jenis-jenis persalinan antara lain :
1. Persalinan Normal
Persalinan normal adalah bayi lahir melalui vagina dengan letak
belakang kepala/ubun-ubun kecil, tanpa memakai alat bantu, serta tidak
melukai ibu maupun bayi (kecuali episiotomi). Proses persalinan normal
biasanya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam.
Terjadinya persalinan membutuhkan tiga faktor penting, yaitu kekuatan
ibu saat mengejan, keadaan jalan lahir, dan keadaan janin. Ketiganya harus
dalam keadaan baik, sehingga bayi dapat dilahirkan. Dengan adanya
kekuatan mengejan ibu, janin dapat didorong kebawah, dan masuk kerongga
panggul. Saat kepala janin memasuki ruang panggul,posisi kepala sedikit
menekuk sehingga dagu dekat dengan dada janin. Posisi ini akan
memudahkan kepala janin lolos melalui jalan lahir, yang diikuti dengan
beberapa gerakan selanjutnya. setelah kepala keluar, bagian tubuh janin
yang lain akan mengikuti, mulai dari bahu, badan, dan kedua kaki.
2. Persalinan Dibantu Alat
Jika pada fase kedua/ kala dua persalinan tidak maju dan janin tidak
juga lahir, sedangkan Anda sudah kehabisan tenaga untuk mengejan, maka
dokter akan melakukan persalinan berbantu, yaitu persalinan dengan
menggunakan alat bantu yang disebut forsep atau vakum. Jika tidak berhasil
maka akan dilakukan operasi caesar.
a. Persalinan dibantu Vakum (Ekstrasi Vakum)
Disebut juga ekstrasi vakum. Vakum adalah seatu alat yang
menggunakan cup ppenghisap yang dapat menarik bayi keluar dengan
lembut. Cara kerjanya sangat sederhana, yaitu vakum diletakan diatas
kepala bayi, kemudian ada selang yang menghubungkan mangkuk ke
mesin yang bekerja dengan listrik atau pompa. Alat ini berpungsi
membantu menarik kepala bayi ketika Anda mengejan. Jadi tarikan
10

dilakukan saat Anda mengejan, dan saat mulut rahim sudah terbuka
penuh (Fase Kedua) dan kepala bayi sudah berada dibagian bawah
panggul.
Persalinan dengan vakum dilakukan bila ada indikasi
membahayakan kesehatan serta nyawa ibu atau anak, maupun keduanya.
Jika proses persalinan cukup lama sehingga ibu sudah kehilangan banyak
tenaga, maka dokter akan melakukan tindakan segera untuk
mengeluarkan bayi, misalnya dengan vakum. Keadaan lain pada ibu,
yaitu adanya hipertensi (preeklamsia) juga merupakan alasan dipilihnya
vakum sebagai alat bantu persalinan. Daam keadaan demikian, Anda
tidak boleh mengejan terlalu kuat karena mengejan dapat mempertinggi
tekanan darah dan membahayakan jiiwa Anda. Vakum juga dikerjakan
apabila terjadi gawat janin yang ditandai dengan denyut jantung janin
lebih dari 160 kali permenit atau melambat mencapai 80 kali permenit
yang menandakan bahwa bayi telah mengalami kekurangan oksigen
(Hipoksia). Proses persalinannya sendiri menghabiskan waktu lebih dari
10 menit. Namun, dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk menjalani
seluruh prosedur.
b. Persalinan Dibantu forsep (ekstrasi forsep)
Forsep merupakan alat bantu persalinan yang terbuat dari logam
menyerupai sendok. Berbeda dengan vakum, persalinan yang dibantu
forsep bisa dilakukan meski Anda tidak mengejan, misalnya saat terjadi
keracunan kehamilan, asma, atau penyakit jantung. Persalinan dengan
forsef relatip lebih beresiko dan lebih sulit dilakukan dibandingkan
dengan vakum. Namun kadang terpaksa dilakukan juga apabila kondisi
ibu dan anak sangat tidak baik. Dokter akan meletakan forsep diantara
kepala bayi dan memastikan itu terkunci dengan benar, artinya kepala
bayi dicengkram dengan kuat dengan forsep. Kemudian forsep akan
ditarik keluar sedangkan ibu tidak perlu mengejan terlalu kuat. Persalinan
forsep biasanya membutuhkan episiotomi.
Forsep digunakan pada ibu pada keadaan sangat lemah, tidak ada
tenaga, atau ibu dengan penyakit hipertensi yang tidak boleh mengejan,
11

forsep dapat menjadi pilihan. Demikian pula jika terjadi gawat janin
ketika janin kekurangan oksigen dan harus segera dikeluarkan. Apabila
persalinan yang dibantu forsep telah dilakukan dan tetap tidak bisa
mengeluarkan bayi, maka operasi caesar harus segera dilakukan.
3. Secsio Caesar
a. Operasi Caesar Terencana (elektif)
Pada operasi caesar terencana (elektif), operasi caesar telah direncanakan
jauh hari sebelum jadwal melahirkan dengan mempertimbangkan
keselamatan ibu maupun janin. Beberapa keadaan yang menjadi
pertimbangan untuk melakukan operasi caesar secara elektif, antara lain :
1) Janin dengan presentasi bokong : Dilakukan operasi caesar pada janin
presentasi bokong pada kehamilan pertama, kecurigaan janin cukp
besar sehingga dapat terjadi kemacetan persalinan (cepalo pelvic
disproportion), janin dengan kepala menengadah (Defleksi), janin
dengan lilitan tali pusat, atau janin dengan presentasi kaki.
2) Kehamilan kembar : Pada kehamilan kembar dilihat presentasi
terbawah janin apakah kepala, bokong, atau melintang. Masih
mungkin dilakukan persalinan pervaginam jika persentasi kedua janin
adalah kepala-kepala. Namun, dipikirkan untuk melakukan caesar
pada kasus janin pertama/terbawah selain presentasi kepala. pada
USG juga dilihat apakah masing-masing janin memiliki kantong
ketuban sendiri-sendiri yang terpisah, atau keduanya hanya memiliki
satu kantong ketuban. Pada kasus kehamilan kembar dengan janin
hanya memiliki satu kantong ketuban, resiko untuk saling
mengait/menyangkut satu sama lain terjadi lebih tinggi, sehingga
perlu dilakukan caesar [Link] kehamilan ganda dengan
jumlah janin lebih dari dua (misal 3 atau lebih), disarankan untuk
melakukan operasi caesar terencana.
3) Plasenta previa : artinya plasenta terletak dibawah dan menutupi
mulut rahim. Karena sebelum lahir janin mendapat suplai makanan
dan oksigen, maka tidak mungkin plasenta sebagai media penyuplai
lahir/ lepas terlebih dulu dari janin karena dapat mengakibatkan
12

kematian janin. Plasenta terdiri dari banyak pembuluh darah, lokasi


plasenta yang menutupi jalan lahir, sangat rawan dengan terjadinya
pendarahan. Apabila terjadi kontraksi pada rahim, maka sebagian
plasenta yang kaya pembuluh darah ini akan terlepas dan
menimbulkan pendarahan hebat yang dapat mengancam nyawa janin
dan ibu.
4) Kondisi medis ibu : preeklamsia, kencing manis (diabetes militus),
herpes, penderita HIV/AIDS, penyakit jantung, penyakit paru kronik,
atau tumor rahim (mioma) yang ukurannya besaratau menutupi jalan
lahir, kista yang menghalangi turunnya janin, serta berbagai keadaan
lain merupakan hal-hal yang menyebabkan operasi caesar lebih
diutamakan.
5) Masalah pada janin : Misanya pada janin dengan oligohidramnion
(cairan ketuban sedikit) atau janin dengan gangguan perkembangan.
b. Operasi Caesar Darurat (Emergency)
Operasi caesar darurat adalah jika operasi dilakukan ketika proses
persalinan telah berlangsung. Hal ini terpaksa dilakukan karena ada
masalah pada ibu maupun janin. Beberapa keadaan yang memaksa
terjadinya operasi caesar darurat, antara lain :
1) Persalinan macet
Keadaan ini dapat terjadi pada fase pertama (fase lilatasi) atau
fase kedua (ketika Anda mengejan). Jika persalinan macet pada fase
pertama, dokter akan memberi obat yang disebut oksitosin untuk
menguatkan kontraksi otot-otot rahim. Dengan demikian mulut rahim
dapat membuka. Ada teknik lain, yaitu memecahkan selaput ketuban
atau memberikan cairaan infus intrafena jika Anda kekurangan cairan
/dehidrasi. Jika cara-cara itu tidak berhasil, maka operasi caesar akan
dilakukan.
Jika persalinan macet pada fase kedua, dokter harus segera
memutuskan apakah persalinan dibantu dengan vakum atau forsep
atau perlu segera dilakukan operasi caesar. Hal yang menjadi
pertimbangan untuk melanjutkan persalinan pervaginam dengan alat
13

(berbantu) atau operasi caesar, tergantung pada penurunan kepala


janin didasar tanggul, keadaan tanggul ibu, dan ada tidaknya
kegawatan pada janin. Persalinan macet merupakan penyebab
tersering operasi caesar. Beberapa alasan yang dijadikan pertimbangan
ialah kontraksi tidak lagi efektif, janin terlalu besar semantara jalan
lahir ibu sempit, dan posisi kepala janin yang tadak memungkinkan
dilakukan penarikan dengan vakum maupun forsep.
2) Stres pada janin
Ketika janin stres, dia akan kekurangan oksigen. Pada pemeriksaan
klinik tanpak bahwa denyut jantung janin menurun. Secara normal,
selama terjadi kontraksi denyut jantung janin menurun sedikit, namun
akan kembali ke prekwensi asalnya, jika :
a) Prolaps tali pusat: jika tali pusat keluar melalui mulut rahim, dia
bisa terjepit, sehingga suplai darah dan oksigen kejanin berkurang.
Keadaan ini berbahaya jika janin dilahirkan secara normal lewat
vagina, sehingga memerlukan tindakan operasi caesar segara.
b) Perdarahan : Jika Anda mengalami perdarahan yang banyak akibat
plasenta terlepas dari rahim, atau karena alasan lain, maka harus
dilakukan operasi caesar.
c) Stres janin berat : Jika denyut jantung janin menurun sampai 70x
per menit, maka harus segera dilakukan operasi caesar. Normalnya
denyut jantung janin adalah 120/160x per menit.

C. Tanda-tanda Persalinan
Menurut Barbara (2009), tanda-tanda dalam persalinan sebagai berikut :
1. Terjadinya His Persalinan
Kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi yang
semakin pendek. His persalinan mempunyai sifat pinggang terasa sakit yang
menjalar kedepan, sifatnya teratur, mempunyai pengaruh terhadap
pembukaan serviks, semakin beraktifitas makin bertambah.
14

2. Pengeluaran Lendir dan Darah


Dengan his persalinan terjadi perubahan serviks yang menimbulkan
pendataran tanpa pembukaan menyebabkan lendir yang terdapat pada
kanalis servikalis lepas, terjadi perdarahan karena kapiler pembulu darah
pecah.
3. Pengeluaran Cairan
Pada beberapa kasus terjadi ketuban pecah yang menimbulkan pengeluaran
cairan, sebagian besar ketuban baru pecah menjelang pembukaan. Dengan
pecahnya ketuban diharapkan persalinan berlangsug dalam waktu 24 jam.
4. Perubahan Serviks
Pada pemeriksaan dalam dijumpai perubahan serviks seperti pelunakan
serviks, pendataran serviks dan pembukaan serviks (Manuaba, 2005).

D. Faktor-Faktor yang Berperan dalam Persalinan


Menurut Prawirohardjo, Sarwono (2006), faktor yang berperan dalam
persalinan antara lain :
1. Power (Kekuatan)
Power adalah kekuatan atau tenaga untuk melahirkan yang terdiri dari
his atau kontraksi uterus dan tenaga meneran dari ibu. Power merupakan
tenaga primer atau kekuatan utama yang dihasilkan oleh adanya kontraksi
dan retraksi otot-otot rahim. His adalah kontraksi otot-otot rahim pada
persalinan. Kontraksi adalah gerakan memendek dan menebalnya otot-otot
rahim yang terjadi diluar kesadaran (involuter) dan dibawah pengendalian
syaraf simpatik. Retraksi adalah pemendekan otot-otot rahim yang bersifat
menetap setelah adanya kontraksi.
His yang normal adalah timbulnya mula-mula perlahan tetapi teratur,
makin lama bertambah kuat sampai kepada puncaknya yang paling kuat
kemudian berangsur-angsur menurun menjadi lemah. His tersebut makin
lama makin cepat dan teratur jaraknya sesuai dengan proses persalinan
sampai anak dilahirkan. His yang normal mempunyai sifat : kontarksi otot
rahim mulai dari salah satu tanduk rahim, kontraksi bersifat simetris, fundal
dominan yaitu menjalar ke seluruh otot rahim, kekuatannya seperti memeras
15

isi rahim, otot rahim yang berkontraksi tidak kembali ke panjang semula
sehingga terjadi retraksi dan pembentukan segmen bawah rahim, bersifat
involunter yaitu tidak dapat diatur oleh parturient.
Tenaga meneran merupakan kekuatan lain atau tenaga sekunder yang
berperan dalam persalinan, tenaga ini digunakan pada saat kala II dan untuk
membantu mendorong bayi keluar, tenaga ini berasal dari otot perut dan
diafragma. Meneran memberikan kekuatan yang sangat membantu dalam
mengatasi resistensi otot-otot dasar panggul. Persalinan akan berjalan
normal, jika his dan tenaga meneran ibu baik. Kelainan his dan tenaga
meneran dapat disebabkan karena hypotonic/atonia uteri dan
hypertonic/tetania uteri.
2. Passanger (Muatan)
Passenger terdiri dari janin dan plasenta. Janin merupakan passanger
utama, dan bagian janin yang paling penting adalah kepala, karena kepala
janin mempunyai ukuran yang paling besar, 90% bayi dilahirkan dengan
letak kepala. Kelainan-kelainan yang sering menghambat dari pihak
passanger adalah kelainan ukuran dan bentuk kepala anak seperti
hydrocephalus ataupun anencephalus, kelainan letak seperti letak muka atau
pun letak dahi, kelainan kedudukan anak seperti kedudukan lintang atau pun
letak sungsang.
3. Passage (Jalan Lahir)
Passage adalah jalan lahir yang harus dilewati oleh janin terdiri dari
rongga panggul, dasar panggul, serviks dan vagina. Agar janin dan plasenta
dapat melalui jalan lahir tanpa ada rintangan, maka jalan lahir tersebut harus
normal. Rongga-rongga panggul yang normal adalah : pintu atas panggil
hampir berbentuk bundar, sacrum lebar dan melengkung, promontorium
tidak menonjol ke depan, kedua spina ischiadica tidak menonjol kedalam,
sudut arcus pubis cukup luas (90-100), ukuran conjugata vera (ukuran muka
belakang pintu atas panggul yaitu dari bawah simpisis ke promontorium)
ialah 10-11 cm, ukuran diameter transversa (ukuran melintang pintu atas
panggul) 12-14 cm, diameter oblique (ukuran sserong pintu atas panggul)
12-14 cm, pintu bawah panggul ukuran muka melintang 10-10,5 cm.
16

Jalan lahir dianggap tidak normal dan kemungkinan dapat


menyebabkan hambatan persalinan apabila : panggul sempit seluruhnya,
panggul sempit sebagian, panggul miring, panggul seperti corong, ada
tumor dalam panggul. Dasar panggul terdiri dari otot-otot dan macam-
macam jaringan, untuk dapat dilalui bayi dengan mudah jaringan dan otot-
otot harus lemas dan mudah meregang, apabila terdapat kekakuan pada
jaringan, maka otot-otot ini akan mudah ruptur. Kelainan pada jalan lahir
lunak diantaranya disebabkan oleh serviks yang kaku (pada primi tua primer
atau sekunder dan serviks yang cacat atau skiatrik), serviks gantung (OUE
terbuka lebar, namun OUI tidak terbuka), serviks konglumer (OUI terbuka,
namun OUE tidak terbuka), edema serviks (terutama karena kesempitan
panggul, sehingga serviks terjepit diantara kepala dan jalan lahir dan timbul
edema), terdapat vaginal septum, dan tumor pada vagina.
4. Psyche (Psikologis)
Faktor psikologis ketakutan dan kecemasan sering menjadi penyebab
lamanya persalinan, his menjadi kurang baik, pembukaan menjadi kurang
lancar. Menurut Pritchard, dkk perasaan takut dan cemas merupakan faktor
utama yang menyebabkan rasa sakit dalam persalinan dan berpengaruh
terhadap kontraksi rahim dan dilatasi serviks sehingga persalinan menjadi
lama. keadaan psikologi ibu memengaruhi proses persalinan, dukungan
mental berdampak positif bagi keadaan psikis ibu, yang berpengaruh pada
kelancaran proses persalinan.
5. Penolong
Memilih Penolong persalian yang berkompeten, seperti: bidan, dokter,
perawat atau tenaga kesehatan yang terlatih. dengan pengetahuan dan
kompetensi yang baik yang dimiliki penolong, diharapkan kesalahan atau
malpraktik dalam memberikan asuhan tidak terjadi sehingga memperlancar
proses persalinan. (Asrinah,et al, 2010, hal.9)
6. Posisi Saat Bersalin
Posisi yang paling baik dalam bersalin adalah posisi semi fowler.
17

E. Tanda Bahaya Persalinan


Menurut Departemen Kesehatan RI. (2009), ada beberapa parameter yang
digunakan untuk menilai tanda bahaya dalam persalinan, yaitu :
1. Pendarahan lewat jalan lahir
2. Tali pusar atau tangan bayi keluar dari jalan lahir
3. Ibu mengalami kejang
4. Ibu tidak kuat mengejan
5. Air ketuban keruh dan berbau
6. Ibu gelisah atau mengalami kesakitan yang hebat
7. Tekanan darah>140/90 mmHg dengan sedikitnya satu tanda/gejala
preeklampsia
8. Temperatur>38oC
9. Nadi >100x/menit
10. DJJ <100x/menit atau >180x/menit
11. Kontraksi <3x/menit, berlangsung <40 detik dan waktu palpasi lemah
12. Pembukaan serviks melewati garis waspada pada partograf
13. Volume urin sedikit dan pekat

F. Cara Mengejan Saat Persalinan


Menurut Reeder (2011), cara mengejan saat melahirkan antara lain :
1. Lakukan setelah pembukaan lengkap
Mengejan baru boleh dilakukan setelah pembukaan lengkap, yakni
pembukaan 10. Saat itu, observasi yang dilakukan dokter akan menemukan,
kepala bayi sudah turun sampai ke dasar panggul dan anus mulai ikut
membuka. Kenapa mengejan harus menunggu pembukaan lengkap? Hal ini
untuk menghindari pembengkakan atau edema pada mulut rahim. Meski
tidak nyaman karena harus menanti kontraksi hingga pembukaan 10, namun
ibu harus tetap bersabar. Tak perlu khawatir karena penundaan mengejan
umumnya tak akan membahayakan, kecuali bila jantung janin mulai
melemah.
18

2. Pilih posisi yang tepat


Posisi yang umum dipilih saat mengejan adalah berbaring, kemudian
menekuk lutut, kedua kaki dibuka, peluk paha dengan melingkarkan tangan
ke bawah paha sampai siku dan menarik paha ke arah dada. Posisi ini
memberikan keleluasaan pada ibu untuk mengejan. Posisi lain pun bisa
digunakan, seperti berbaring miring ke sisi kiri atau kanan, atau jongkok,
yang kesemuanya berdasarkan kasus per kasus supaya janin lebih mudah
lahir.
3. Atur napas
Bernapas harus teratur, tidak boleh serabutan karena tidak bermanfaat
signifikan atau bahkan mengganggu proses mengejan. Biasanya
dokter/bidan akan memandu ibu mengatur napas supaya tenaga ibu
terkumpul, juga ibu memiliki tenaga maksimal untuk mengejan. Selain itu,
mengatur napas yang baik pun dapat mengurangi rasa sakit. Supaya
pengaturan napas berjalan mudah, sebaiknya ibu ikut kelas senam hamil
karena di kelas itu ibu akan diajarkan cara mengatur napas saat bersalin.
4. Ikuti komando
Biasanya dokter/bidan akan memberi komando kapan ibu harus
menarik napas, menahan, dan mengeluarkannya sambil mengejan. Ikuti
komando tersebut supaya proses persalinan berjalan teratur dan lebih
mudah.
5. Ikuti irama
Ibu harus mengikuti irama tubuh saat mengejan. Bila pembukaan sudah
lengkap, ibu harus segera mengejan, mengatur napas, dan tidak boleh
ditahan saat proses pengejanan berlangsung. Ada ibu yang takut fesesnya
keluar saat mengejan, sehingga ia menahan pengejanan dengan mengangkat
pantat atau panggul. Hal ini dapat membuat robekan perineum (bagian
antara vagina dan anus) lebih lebar sehingga memerlukan lebih banyak
jahitan.
6. Tenaga harus efektif
Jangan buang-buang tenaga yang tak perlu, entah dengan mengeluh
atau berteriak-teriak, karena akan menguras tenaga, mengingat ibu harus
19

mengejan berkali-kali. Teriak-teriak atau membuat keributan malah akan


menyebabkan tenggorokan kering, batuk, dan serak. Ibu pun semakin panik
dan tegang. Akibatnya, ibu tak jelas menangkap instruksi dokter.
7. Pandangan ke arah perut
Arahkan pandangan ke perut supaya ibu bisa lebih berkonsentrasi
terhadap persalinan. Selain itu, ibu harus mengejan di perut bukan di leher.
8. Berhenti mengejan saat kepala bayi terlihat
Ketika kepala bayi mulai terlihat (crowning) sebaiknya hentikan
mengejan. Biasanya ditandai dengan rasa panas di vagina yang meregang.
Tujuannya supaya vagina dan perineum meregang perlahan-lahan, juga
untuk mengurangi robekan dan kelahiran yang terlalu cepat. Dokter/bidan
akan memberi arahan ketika pengejanan harus dihentikan atau dilanjutkan.
Pada saat ini ibu sebaiknya mengatur napas dengan baik.

G. Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Mengejan Ketika Persalinan


Normal
Menurut Reeder (2011), ada hal-hal yang harus diperhatikan saat mengejan
agar proses persalinan normal ini dapat berjalan lancar. Diantaranya adalah
beberapa hal yang tidak boleh dilakukan saat mengejan berikut ini:
1. Belum Waktunya Mengejan
Mengejan memang merupakan dorongan alami, namun jika pembukaan
belum lengkap sebaiknya lakukan nafas pendek-pendek untuk mengalihkan
dorongan mengejan, karena mengejan sebelum pembukaan lengkap pada
proses persalinan normal dapat menimbulkan pembengkakan pada jalan
lahir. Selain itu tenaga juga terbuang percuma karena Anda harus
menyiapkan banyak tenaga saat proses persalinan normal ini.
2. Mengangkat Panggul
Jangan mengangkat panggul saat proses persalinan normal, karena
dapat membuat robekan jalan lahir lebih lebar dan membutuhkan jahitan
yang banyak usai persalinan.
20

3. Berteriak
Jangan berteriak-teriak meskipun proses persalinan normal ini Anda
rasa cukup menyakitkan. Sebaiknya Anda lebih rileks, mengatur pernafasan
dan fokus karena selain akan jauh mengurangi rasa sakit sekaligus untuk
menyimpan tenaga selama mengejan.
4. Memejamkan Mata
Jangan memejamkan mata untuk menghindari tekanan pada mata yang
dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah mata, sebaiknya tetap buka
mata dan arahkan pandangan ke area perut.
5. Menahan Mengejan
Jangan menahan diri untuk mengejan hanya karena takut feses keluar,
jika dorongan mengejan sudah muncul dan aba-aba dokter
menginstruksikan untuk mengejan maka lakukan saja secara alami.
6. Nafas Tidak Beraturan
Bernafas tidak beraturan hanya akan menambah rasa sakit dalam proses
persalinan normal serta menghabiskan energi. Mulailah berlatih pernafasan
saat kandungan mulai memasuki pertengahan trimester kedua dengan
mengikuti kelas senam hamil dan semacamnya.

H. Makanan dan Minuman Penambah Energi Menjelang Persalinan


Melahirkan adalah sebuah peristiwa besar bagi ibu hamil, dibutuhkan
berbagai daya dan upaya untuk bisa melalui dengan selamat. Salah satu hal
yang perlu di perhatikan adalah kondisi fisik ibu saat melahirkan, kondisi fisik
ibu hamil harus prima saat proses persalinan berjalan. Otot-otot di sekitar
pinggul, otot rahim, dan otot perut perut bekerja sangat keras selama proses
persalinanan berlangsung. Jika, kondisi ibu fisik ibu hamil tidak prima, maka
proses melahirkan akan menjadikan sebuah proses yang melelahkan dan
menyakitkan. Oleh karena guna membentuk kondisi ibu hamil yang prima saat
melahirkan, adalah diperlukannya asupan energi dan nutrisi sebelum proses
melahirkan berlangsung atau di saat awal-awal proses melahirkan. Asupan
energi salah satunya bisa di dapat dari beberapa makanan dan minuman.
21

Apakah dalam proses melahirkan ibu di perbolehkan makan dan minum?


jawabannya, Iya boleh. Sekali lagi selama proses melahirkan membutuhkan
energi yang besar, kadang selama proses melahirkan ibu akan merasakan haus
dan lapar, oleh karena itu ibu hamil saat melahirkan di perkenankan untuk
mengkonsumsi makanan seperti snack, buah-buahan atau minuman manis.
Sebelumnya banyak praktisi yang melarang ibu hamil selama proses
melahirkan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman karena di
khawatirkan dapat tersedak atau muntah. Namun penelitian terakhir
mengungkapkan bahwa tidak ada resiko apapun saat proses persalinan yang
berhubungan dengan makanan dan minuman, bahkan Maria Newburn dari
National Childbirth Trust menyarankan untuk tidak membatasi ibu hamil akan
makanan dan minuman selam proses persalinan berlangsung.
1. Makanan yang dimakan menjelang melahirkan
Makanan yang baik untuk di konsumsi menjelang melahirkan adalah
makanan yang mengandung karbohidrat. Jenis makanan ini akan mudah
untuk di cerna dan akan banyak memberikan energi. Makanlah sedikit demi
sedikit tapi sering atau di sarankan setiap satu jam sekali sebelum proses
melahirkan berlangsung atau di awal-awal kontraksi. Jenis makanan
berkarbohidrat yang bisa dipilih yaitu roti, sereal, kentang, pasta, biskuit,
sop, puding, susu. Untuk buah-buahan, usahakan pisang sebagai pilihan
pertama. Sebagai alternatif selain pisang, ibu bisa mengkonsumsi apel.
Menjelang proses melahirkan, hindari mengkonsumsi makanan yang banyak
mengandung lemak, hal ini akan mempengaruhi kinerja perut anda selama
melahirkan.
2. Minuman yang diminum menjelang melahirkan
Yogurt dengan kadar lemak rendah adalah pilihan yang baik ketika ibu
membutuhkan energi guna proses melahirkan. Yogurt cukup baik karena
mengandung gula dan karbohidrat, Minumlah yogurt sebelum proses
melahirkan berlangsung, guna mendapatkan asupan energi yang efektif.
Sebagai alternatif, ibu bisa mengkonsumsi madu yang di campur dengan teh
herbal. Mengkonsumsi minuman ini selain memulihkan energi yang hilang
selama proses melahirkan, juga dapat membuat ibu merasa tenang.
22

Alternaitif berikutnya adalah teh manis, tapi hindari dengan gula yang
berlebihan. Selain itu, selama proses melahirkan berlangsung, siapkan air
putih yang banyak. Ibu harus sering minum air putih selam proses
kehamilan berlangsung, guna menghindarkan dehidrasi. Sebelum atau
selama proses melahirkan, hindarkan ibu mengkonsumsi minuman yang
mengandung soda atau cola. Hindarkan pula minuman yang masam seperti
juice jeruk atau anggur. Catatan: Semua konsumsi makanan dan
minuman tersebut berlaku untuk proses melahirkan normal, jika ibu
melahirkan dengan operasi caesar, konsultasikan mengenai hal ini kepada
dokter.

I. Type Persalinan Normal


Menurut Manuaba (2010), type persalinan normal antara lain :
1. Posisi duduk / setengah duduk
Pada posisi ini, ibu duduk dengan punggu bersandar di bantal, kaki di
tekuk dan paha dibuka kearah samping, posisi ini cukup membuat ibu
nyaman dan memberikan kemudahan baginya untuk beristirahat diantara
kontraksi.
Cara mengedan pada posisi ini yakni sebelum ibu mengedan ia harus
menarik nafas yang dalam dulu, kemudian ibu dalam posisi ini merangkul
kedua pahanya sampai batas siku. Kepala sedikit diangkat sehingga dagunya
mendekati dadanya dan ia dapat menarik perutnya, dan mengejan kebawah
seperti waktu buang air besar. Selama ada kontraksi ibu harus mengejan dan
apabila kontraksi terhenti ibu harus istirahat. Posisi ini digunakan pada kala
II.
2. Posisi jongkok / berdiri
Biasanya ibu berjongkok diatas bantalan empuk yang berguna menahan
kepala dan tubuh bayi atau ibu berdiri juga akan membantu berdiri juga
akan membantu mempercepat kemajuan kala dua persalinan dan
mengurangi rasa nyeri.
Cara mengedan pada posisi ini yaitu ibu dalam posisi jongkok kedua
tangannya memegang pada tiang-tiang /pinggiran tempat tidur atau
23

memegang tangan orang yang mendampinginya kemudian mengedan


mengikuti dorongan alamiahnya selama kontraksi, dan ibu harus mengedan
dengan kekuatan otot perut. Begitu pula dengan posisi berdiri.
3. Posisi merangkak/berbaring miring/lateral
Ibu berbaring ke kiri atau ke kanan dengan salah satu kaki di angkat,
sedangkan kaki yang lainnya dalam posisi lurus. Posisi ini umumnya di
lakukan bila posisi kepala bayi belum tepat, normalnya ubun-ubun berada di
depan jalan lahir, jika ubun-ubun berada di kiri maka ibu di anjurkan
mengambil posisi miring ke kiri begitu sebaliknya dan memudahkan ibu
untuk beristirahat di antara kontraksi jika ibu mengalami kelelahan.
Cara mengedan pada posisi miring yaitu ibu dalam posisi miring
tergantung pada letak punggung janin. Hanya satu kaki di rangkul, yakni
kaki yang berada di atas. Kemudian ibu mengedan dengan kekuatan otot
diafragma dan otot perut, tangan ibu bisa menahan/menarik pada pnggiran
tempat tidur. Begitu juga dengan posisi merangkak, ibu mengedan dengan
kekuatan otot perut.
4. Posisi berbaring/ litotomi
Posisi ini, ibu terlentang di tempat tidur bersalin dengan mengantung
kedua pahanya pada penopang kursi khusus untuk bersalin, cara mengedan
pada posisi ini, di mana kedua tangan ibu merangkul kedua pahanya
kemudian saat mengedan kepala di angkat/ditarik ke arah dada atau ke dagu,
dan mengedan dengan kekuatan otot perut. Posisi melahirkan di atas biasa
di gunakan pada kala II, dimana pembukaan serviks sudah lengkap sampai
lahirnya bayi.

J. Persiapan Persalinan
Menurut Johariyah (2012), Agar persalinan Anda berjalan lancar dan tidak lagi
perlu khawatir terhadap apa dan bagaimana persiapan selama persalinan
berjalan, tidak ada salahnya jika jauh-jauh hari Anda mempersiapkan
kebutuhan persalinan tersebut. Berikut beberapa hal hal yang harus
dipersiapkan sebelum persalinan, antara lain :
1. Membuat rencana persalinan
24

a. Mengetahui perkiraan tanggal persalinan


b. Merencanakan tempat melahirkan dan siapa yang akan menolong
c. Menyiapkan kendaraan jika sewaktu-waktu diperlukan
d. Siapkan tabungan untuk biaya persalinan
e. Menyiapkan pendonor jika sewaktu-waktu dibutuhkan
f. Merencanakan alat kontasepsi KB yang akan digunakan kelak setelah
persalinan, berdiskusi dengan petugas kesehatan tentang alat kontrsepsi
yang sesuai
2. Membuat rencana pembuatan keputusan jika kegawat daruratan pada saat
pembuatkeputusan utama tidak ada
a. Siapa pembuat keputusan utama dalam keluarga
b. Siapa yang akan membuat keputusan jika si pembuat keputusan utama
tidak ada saat terjadi kegawat daruratan
3. Mempersiapkan transportasi jika terjadi kegawat daruratan
a. Dimana ibu akan melahirkan
b. Bagaimana cara menjangkaunya
c. Kemana ibu mau dirujuk
d. Bagaimana cara mendapatkan dana
e. Bagaimana cara mencari donor darah
4. Membuat rencana atau pola menabung
a. tabungan ibu bersalin
5. Mempersiapkan barang-barang yang diperlukan untuk persalinan
a. Kain panjang 4 buah
b. Pembalut wanita
c. Handuk, waslap, alat mandi, alat make up
d. Pakaian terbuka depan, gurita ibu, bh
e. Pakaian bayi, minyak telon, tas plastic
25

LEMBAR PENGESAHAN

Kendal, 29 November 2017


Mengetahui,

Mahasiswa Pengampu

Kelompok Ns. Istioningsih, [Link].,MAN


26

DAFTAR PUSTAKA

Reeder. (2011). Keperawatan maternitas Vol 1 dan 2. Jakarta : EGC


Barbara. (2009). Ilmu kebidanan. Jakarta : Salemba Medika
Hamilton P. (2013). Dasar-dasar keperawatan maternitas. Edisi 6. Jakarta : EGC.
Manuaba. (2010). Pengantar obstetri. Jakarta: EGC.
Prawirohardjo, Sarwono. (2006). Ilmu kandungan. Jakarta: yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
Departemen Kesehatan RI., (2009). Buku kesehatan ibu dan anak. Jakarta
:Depkes RI dan JICA
Johariyah., (2012). Asuhan kebidanan persalinan dan bayi baru lahir. Jakarta :
Trans Info Medika

Anda mungkin juga menyukai