PAKET PENYULUHAN
KEMOTERAPI
Di Ruang 9 ONKOLOGI RSUD dr. Saiful Anwar
Malang
Disusun Oleh:
TIM PKRS
PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT
RSUD Dr SAIFUL ANWAR MALANG
2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok bahasan : Kemoterapi
Tempat : Ruang 9 RSU Dr. Saiful Anwar
Hari/tanggal : Kamis, 25 April 2019
Waktu : Pkl.10.00-10.20 WIB (20 Menit)
A. Latar Belakang
Kemoterapi adalah penggunaan zat kimia untuk
perawatan penyakit. Dalam penggunaan modernnya, istilah
ini hampir merujuk secara eksklusif kepada obat
sitostatik yang digunakan untuk merawat kanker.
Pengobatan kanker dewasa ini hampir selalu melibatkan
operasi, penyinaran dan atau kemoterapi. Tujuan
kemoterapi pada penyembuhan kanker adalah menghambat atau
menghentikan pertumbuhan sel-sel onkogen (kanker) pada
tubuh pasien. Prinsip kerja obat-obatan kemoterapi adalah
menyerang fase tertentu atau seluruh fase pada pembelahan
mitosis pada sel-sel yang bereplikasi atau berkembang
dengan cepat, yang diharapkan adalah sel onkogen yang
bereplikasi. Obat kemoterapi hampir tidak menimbulkan
dampak pada sel yang sedang dalam masa beristirahat
(tidak melakukan pembelahan), namun terkadang sel-sel
rambut dan sel-sel yang sedang aktif membelah lainnya
dapat terkena dampak obat ini apabila siklus mitosisnya
berada dalam target obat-obatan kemoterapi yang sedang
digunakan.
B. Tujuan
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan sasaran
mampu mengerti dan memahami tentang pentingnya
kemoterapi bagi upaya penyembuhan penyakit.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan sasaran
mampu :
a. Menjelaskan tentang definisi kemoterapi
b. Menjelaskan tentang tujuan kemoterapi
c. Menyebutkan jenis kemoterapi
d. Menjelaskan persiapan kemoterapi
C. Sasaran
Semua pasien, keluarga dan pengujung yang ada
disekitar ruang 9 Rsu Dr. Saiful Anwar
D. Materi (Terlampir)
1. Menjelaskan tentang definisi kemoterapi
2. Menjelaskan tentang tujuan dan manfaat kemoterapi
3. Menjelaskan tentang jenis kemoterapi
4. Menjelaskan tentang persiapan sebelum kemoterapi
5. Menjelaskan efek samping kemoterapi
E. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
F. Media
1. Leaflet
2. Power Point
G. Alat Bantu
1. LCD
2. Laptop
H. Struktur Organisasi
1. Setting Tempat:
LCD Proyektor
Moderator
Pemateri
Audien
notulen
Fasilitator
2. Pengorganisasian
a. PENYAJI :Ni Kadek Sri Widiyanti
b. MODERATOR :Nunung Andrayani
c. OBSERVER :Citra Rahayu
d. FASILITATOR :Usman Hadi
I. Tahap Kegiatan Penyuluhan
Tahap Kegiatan penyuluh Kegiatan sasaran Metode &
media
Pembukaan Memperkenalkan diri Menjawab salam Ceramah
(5 menit) Menyampaikan maksud Memperhatikan dan dan tanya
dan tujuan menjawab jawab
dilaksanakannya pertanyaan
penyuluhan
Menggali pengetahuan
sasaran tentang
materi yang akan
disampaikan
Penyajian Menjelaskan tentang Menyimak Ceramah
(10 menit) definisi kemoterapi penjelasan dan tanya
Menjelaskan tentang Mengajukan jawab
tujuan dan manfaat pertanyaan
kemoterapi seputar materi
Menjelaskan tentang
jenis kemoterapi
Menjelaskan tentang
persiapan sebelum
kemoterapi
Menjelaskan efek
samping kemoterapi
Penutup Memberi kesimpulan Memper Ceramah
(5 menit) materi hatikan dan tanya
Menyampaikan hasil penjelasan jawab
evaluasi dan umpan Menjaw Leafleat
balik ab pertanyaan
Menutup acara dari penyuluh
penyuluhan
J. Metode Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Semua peserta mengikuti kegiatan penyuluhan
b. Penyelenggaraan kegiatan penyuluhan di ruang 9 rsu
dr. Saiful anwar
c. Pengorganisasian kegiatan sebelum hari pelaksanaan
2. Evaluasi proses
a. Semua peserta mengikuti kegiatan penyuluhan
b. Peserta penyuluhan tidak ada yang meninggalkan
tempat penyuluhan sebelum kegiatan selesai
c. Seluruh peserta terlibat aktif dalam kegiatan
penyuluhan
3. Evaluasi hasil
sesuai dengan tik, diharapkan peserta yang
mengikuti penyuluhan mampu :
a. Menjelaskan tentang definisi kemoterapi
b. Menjelaskan tentang tujuan dan manfaat kemoterapi
c. Menjelaskan tentang jenis kemoterapi
d. Menjelaskan tentang persiapan sebelum kemoterapi
e. Menjelaskan efek samping kemoterapi
MATERI PENYULUHAN
KEMOTERAPI DALAM GINEKOLOGI
A. Gambaran Umum
1. Definisi
Kemoterapi merupakan bentuk pengobatan kanker
dengan menggunakan obat sitostatika yaitu suatu zat-
zat yang dapat menghambat proliferasi sel-sel kanker.
kemoterapi merupakan cara pengobatan kanker dengan
jalan memberikan zat/obat yang mempunyai khasiat
membunuh sel kanker atau menghambat proliferasi sel-
sel kanker dan diberikan secara sistematik. obat
anti kanker yang artinya penghambat kerja sel (munir,
2005).
Untuk kemoterapi bisa digunakan satu jenis
sitostika. pada sejarah awal penggunaan kemoterapi
digunakan satu jenis sitostika, namun dalam
perkembangannya kini umumnya dipergunakan kombinasi
sitostika atau disebut regimen kemoterapi, dalam usaha
untuk mendapatkan hasiat lebih besar (admin, 2009).
2. Tujuan
a. Pengobatan.
b. Mengurangi massa tumor selain pembedahan atau
radiasi.
c. Meningkatkan kelangsungan hidup dan memperbaiki
kualitas hidup.
d. Mengurangi komplikasi akibat metastase.
3. Manfaat
a. Pengobatan
Beberapa jenis kanker dapat disembuhkan secara
tuntas dengan satu jenis kemoterapi atau beberapa
jenis kemoterapi
b. Kontrol
Kemoterapi ada yang bertujuan untuk menghambat
perkembangan kanker agar tidak bertambah besar atau
menyebar ke jaringan lain.
c. Mengurangi gejala
Bila kemoterapi tidak dapat menghilangkan
kanker, maka kemoterap yang diberikan bertujuan
untuk mengurangi gejala yang timbul pada penderita,
seperti meringankan rasa sakit dan memberi perasaan
lebih baik serta memperkecil ukurran kanker pada
daerah yang diserang.
B. Prinsip kerja obat kemoterapi (sitostatika) terhadap
kanker
Menurut munir (2005), sebagian besar obat kemoterapi
(sitostatika) yang digunakan saat ini bekerja terutama
terhadap sel-sel kanker yang sedang berproliferasi,
semakin aktif sel-sel kanker tersebut berproliferasi maka
semakin peka terhadap sitostatika hal ini disebut
kemoresponsif, sebaliknya semakin lambat proliferasinya
maka kepekaannya semakin rendah , hal ini disebut
kemoresisten. kemoterapi bekerja dengan cara:
1. Merusak dna dari sel-sel yang membelah dengan cepat,
yang dideteksi oleh jalur p53/rb, sehingga memicu
apoptosis
2. Merusak aparatus spindel sel, mencegah kejadian
pembelahan sel.
3. Menghambat sintesis DNA
C. Obat-Obat Kemoterapi
Menurut munir (2005), jenis obat yang digunakan pada
tindakan kemoterapi ada beberapa macam, diantaranya
adalah :
1. Obat golongan alkylating agent, platinum compouns, dan
antibiotik anthrasiklin obst golongsn ini bekerja
dengan antara lain mengikat dna di inti sel, sehingga
sel-sel tersebut tidak bisa melakukan replikasi.
2. Obat golongan antimetabolit, bekerja langsung pada
molekul basa inti sel, yang berakibat menghambat
sintesis dna.
3. Obat golongan topoisomerase-inhibitor, vinca alkaloid,
dan taxanes bekerja pada gangguan pembentukan tubulin,
sehingga terjadi hambatan mitosis sel.
4. Obat golongan enzim seperti, l-asparaginase bekerja
dengan menghambat sintesis protein, sehingga timbul
hambatan dalam sintesis dna dan rna dari sel-sel kanker
tersebut.
D. Pola Pemberian Kemoterapi (Munir, 2005)
1. Kemoterapi induksi
Ditujukan untuk secepat mungkin mengecilkan massa
tumor atau jumlah sel kanker, contoh pada tomur ganas
yang berukuran besar (bulky mass tumor) atau pada
keganasan darah seperti leukemia atau limfoma, disebut
juga dengan pengobatan penyelamatan.
2. Kemoterapi adjuvan
Biasanya diberikan sesudah pengobatan yang lain
seperti pembedahan atau radiasi, tujuannya adalah
untuk memusnahkan sel-sel kanker yang masih tersisa
atau metastase kecil yang ada (micro metastasis).
3. Kemoterapi primer
Dimaksudkan sebagai pengobatan utama pada tumor
ganas, diberikan pada kanker yang bersifat
kemosensitif, biasanya diberikan dahulu sebelum
pengobatan yang lain misalnya bedah atau radiasi.
4. Kemoterapi neo-adjuvan
Diberikan mendahului/sebelum pengobatan /tindakan
yang lain seperti pembedahan atau penyinaran kemudian
dilanjutkan dengan kemoterapi lagi. Tujuannya adalah
untuk mengecilkan massa tumor yang besar sehingga
operasi atau radiasi akan lebih berhasil guna.
E. Cara Pemberian Obat Kemoterapi (Munir, 2005)
1. Intra vena (iv)
Kebanyakan sitostatika diberikan dengan cara ini,
dapat berupa bolus iv pelan-pelan sekitar 2 menit,
dapat pula per drip iv sekitar 30 – 120 menit, atau
dengan continous drip sekitar 24 jam dengan infusion
pump upaya lebih akurat tetesannya.
2. Intra tekal (it)
Diberikan ke dalam canalis medulla spinalis untuk
memusnahkan tumor dalam cairan otak (liquor
cerebrospinalis) antara lain mtx, ara.c.
3. Radiosensitizer
Yaitu jenis kemoterapi yang diberikan sebelum
radiasi, tujuannya untuk memperkuat efek radiasi,
jenis obat untukl kemoterapi ini antara lain
fluoruoracil, cisplastin, taxol, taxotere, hydrea.
4. Oral
Pemberian per oral biasanya adalah obat leukeran,
alkeran, myleran, natulan, puri-netol, hydrea,
tegafur, xeloda, gleevec.
5. Subkutan dan intramuscular
Pemberian sub kutan sudah sangat jarang
dilakukan, biasanya adalah l-asparaginase, hal ini
sering dihindari karena resiko syok anafilaksis.
pemberian per im juga sudah jarang dilakukan, biasanya
pemberian bleomycin.
6. Topikal
7. Intra arterial
8. Intracavity
9. Intraperitoneal/intrapleural
Intraperitoneal diberikan bila produksi cairan
acites hemoragis yang banyak pada kanker ganas intra-
abdomen, antara lain cisplastin. pemberian
intrapleural yaitu diberikan kedalam cavum pleuralis
untuk memusnahkan sel-sel kanker dalam cairan pleura
atau untuk mengehntikan produksi efusi pleura
hemoragis yang amat banyak , contohnya bleocin.
F. Prosedur tindakan kemoterapi pada pasien (herdata, 2009)
1. Persiapan pasien
Sebelum pengotan dimulai maka terlebih dahulu
dilakukan pemeriksaan yang meliputi:
a. Darah tepi; hb, leuko, hitung jenis, trombosit.
b. Fungsi hepar; bilirubin, sgot, sgpt, alkali
phosphat.
c. Fungsi ginjal; ureum, creatinin dan creatinin
clearance test bila serum creatinin meningkat.
d. Audiogram (terutama pada pemberian cis-plastinum)
e. EKG (terutama pemberian adriamycin, epirubicin).
2. Syarat pasien yang layak mendapat tindakan kemoterapi:
Pasien dengan keganasan memiki kondisi dan
kelemahan kelemahan, yang apabila diberikan kemoterapi
dapat terjadi untolerable side effect. sebelum
memberikan kemoterapi perlu pertimbangan sebagai
berikut :
a. Menggunakan kriteria eastern cooperative oncology
group (ecog) yaitu status penampilan <= 2. status
penampilan penderita ca (performance status) ini
mengambil indikator kemampuan pasien, dimana
penyakit kanker semakin berat pasti akan
mempengaruhi penampilan pasien. hal ini juga
menjadi faktor prognostik dan faktor yang
menentukan pilihan terapi yang tepat pada pasien
dengan sesuai status penampilannya. skala status
penampilan menurut ecog ( eastern cooperative
oncology group) adalah sebagai berikut:
1) Grade 0: masih sepenuhnya aktif, tanpa hambatan
untuk mengerjakan tugas kerja dan pekerjaan
sehari-hari.
2) Grade 1: hambatan pada perkerjaan berat, namun
masih mampu bekerja kantor ataupun pekerjaan
rumah yang ringan.
3) Grade 2: hambatan melakukan banyak pekerjaan, 50
% waktunya untuk tiduran dan hanya bisa mengurus
perawatan dirinya sendiri, tidak dapat melakukan
pekerjaan lain.
4) Grade 3: hanya mampu melakukan perawatan diri
tertentu, lebih dari 50% waktunya untuk tiduran.
5) Grade 4: sepenuhnya tidak bisa melakukan
aktifitas apapun, betul-betul hanya di kursi atau
tiduran terus
b. Jumlah lekosit >=3000/ml
c. Jumlah trombosit>=120.0000/ul
d. Cadangan sumsum tulang masih adekuat misal hb > 10
gram %
e. Creatinin clearence diatas 60 ml/menit (dalam 24
jam) (tes faal ginjal)
f. Bilirubin <2 mg/dl. , sgot dan sgpt dalam batas
normal ( tes faal hepar ).
g. Elektrolit dalam batas normal.
h. Mengingat toksisitas obat-obat sitostatika
sebaiknya tidak diberikan pada usia diatas 70
tahun.
i. Keadaan umum cukup baik.
j. Penderita mengerti tujuan dan efek samping yang
akan terjadi, informed concent.
k. Faal ginjal dan hati baik.
l. Diagnosis patologik
Jenis kanker diketahui cukup sensitif terhadap
kemoterapi.
3. Prosedur pemberian kemoterapi
a. Periksa pasien, jenis obat, dosis obat, jenis
cairan, volume cairan, cara pemberian, waktu
pemberian dan akhir pemberian.
b. Pakai proteksi : gaun lengan panjang, topi, masker,
kaca mata, sarung tangan dan sepatu.
c. Lakukan tehnik aseptik dan antiseptic
d. Pasang pengalas plastik yang dilapisi kertas
absorbsi dibawah daerah tusukan infuse
e. Berikan anti mual ½ jam sebelum pemberian anti
neoplastik (primperan, zofran, kitril secara intra
vena)
f. Lakukan aspirasi dengan nacl 0,9 %
g. Beri obat kanker secara perlahn-lahan (kalau perlu
dengan syringe pump) sesuai program
h. Bila selesai bilas kembali dengan nacl 0,9%
i. Semua alat yang sudah dipakai dimasukkan kedalam
kantong plastik dan diikat serta diberi etiket.
j. Buka gaun, topi, asker, kaca mata kemudian rendam
dengan deterjen. Bila disposible masukkkan dalam
kantong plasrtik kemudian diikat dan diberi etiket,
kirim ke incinerator / bakaran.
k. Catat semua prosedur
l. Awasi keadaan umum pasien, monitor tensi, nadi, rr
tiap setengah jam dan awasi adanya tanda-tanda
ekstravasasi.
G. Efek samping kemoterapi (herdata, 2008)
Agen kemoterapi tidak hanya menyerang sel tumor
tapi juga sel normal yang membelah secara cepat seperti
sel rambut, sumsum tulang dan sel pada traktus gastro
intestinal. Akibat yang timbul bisa berupa perdarahan,
depresi sum-sum tulang yang memudahkan terjadinya
infeksi. Pada traktus gastro intestinal bisa terjadi
mual, muntah anoreksia dan ulserasi saluran cerna.
Sedangkan pada sel rambut mengakibatkan kerontokan
rambut.
Jaringan tubuh normal yang cepat proliferasi
misalnya sumsum tulang, folikel rambut, mukosa saluran
pencernaan mudah terkena efek obat sitostatika. Untungnya
sel kanker menjalani siklus lebih lama dari sel normal,
sehingga dapat lebih lama dipengaruhi oleh sitostatika
dan sel normal lebih cepat pulih dari pada sel kanker.
Efek samping yang muncul pada jangka panjang adalah
toksisitas terhadap jantung, yang dapat dievaluasi dengan
ekg dan toksisitas pada paru berupa kronik fibrosis pada
paru. toksisitas pada hepar dan ginjal lebih sering
terjadi dan sebaiknya dievalusi fungsi faal hepar dan
faal ginjalnya. kelainan neurologi juga merupakan salah
satu efek samping pemberian kemoterapi.
Untuk menghindari efek samping intolerable, dimana
penderita menjadi tambah sakit sebaiknya dosis obat
dihitung secara cermat berdasarkan luas permukaan tubuh
(m2) atau kadang-kadang menggunakan ukuran berat badan
(kg). selain itu faktor yang perlu diperhatikan adalah
keadaan biologik penderita. untuk menentukan keadaan
biologik yang perlu diperhatikan adalah keadaan umum
(kurus sekali, tampak kesakitan, lemah sadar baik, koma,
asites, sesak, dll), status penampilan (skala karnofsky,
skala ecog), status gizi, status hematologis, faal
ginjal, faal hati, kondisi jantung, paru dan lain
sebagainya.
Penderita yang tergolong good risk dapat diberikan
dosis yang relatif tinggi, pada poor risk (apabila
didapatkan gangguan berat pada faal organ penting) maka
dosis obat harus dikurangi, atau diberikan obat lain yang
efek samping terhadap organ tersebut lebih minimal.
intensitas efek samping tergantung dari karakteristik
obat, dosis pada setiap pemberian, maupun dosis
kumulatif, selain itu efek samping yang timbul pada
setiap penderita berbeda walaupun dengan dosis dan obat
yang sama, faktor nutrisi dan psikologis juga mempunyai
pengaruh bermakna. efek samping kemoterapi dipengaruhi
oleh :
1. Masing-masing agen memiliki toksisitas yang spesifik
terhadap organ tubuh tertentu.
2. Dosis.
3. Jadwal pemberian.
4. Cara pemberian (iv, im, peroral, per drip infus).
5. Faktor individual pasien yang memiliki kecenderungan
efek toksisitas pada organ tertentu.
Umumnya efek samping kemoterapi terbagi atas :
1. Efek amping segera terjadi (immediate side effects)
yang timbul dalam 24 jam pertama pemberian, misalnya
mual dan muntah.
2. Efek samping yang awal terjadi (early side effects)
yang timbul dalam beberapa hari sampai beberapa minggu
kemudian, misalnya netripenia dan stomatitis.
3. Efek samping yang terjadi belakangan (delayed side
effects) yang timbul dalam beberapa hari sampai
beberapa bulan, misalnya neuropati perifer, neuropati.
4. Efek samping yang terjadi kemudian (late side effects)
yang timbul dalam beberapa bulan sampai tahun, misalnya
keganasan sekunder.
Efek samping kemoterapi timbul karena obat-obat
kemoterapi sangat kuat, dan tidak hanya membunuh sel-sel
kanker, tetapi juga menyerang sel-sel sehat, terutama
sel-sel yang membelah dengan cepat. karena itu efek
samping kemoterapi muncul pada bagian-bagian tubuh yang
sel-selnya membelah dengan cepat. efek samping dapat
muncul ketika sedang dilakukan pengobatan atau beberapa
waktu setelah pengobatan.
Efek samping yang selalu hampir dijumpai adalah
gejala gastrointestinal, supresi sumsum tulang,
kerontokan rambut. gejala gastrointestinal yang paling
utama adalah mual, muntah, diare, konstipasi, faringitis,
esophagitis dan mukositis, mual dan muntah biasanya
timbul selang beberapa lama setelah pemberian sitostatika
dab berlangsung tidak melebihi 24 jam.
Gejala supresi sumsum tulang terutama terjadinya
penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia), sel
trombosit (trombositopenia), dan sel darah merah
(anemia), supresi sumsum tulang belakang akibat pemberian
sitostatika dapat terjadi segera atau kemudian, pada
supresi sumsum tulang yang terjadi segera, penurunan
kadar leukosit mencapai nilai terendah pada hari ke-8
sampai hari ke-14, setelah itu diperlukan waktu sekitar 2
hari untuk menaikan kadar laukositnya kembali. pada
supresi sumsum tulang yang terjadi kemudian penurunan
kadar leukosit terjadi dua kali yaitu pertama-tama pada
minggu kedua dan pada sekitar minggu ke empat dan kelima.
kadar leukosit kemudian naik lagi dan akan mencapai nilai
mendekati normal pada minggu keenam. leukopenia dapat
menurunkan daya tubuh, trombositopenia dapat
mengakibatkan perdarahan yang terus-menerus/ berlabihan
bila terjadi erosi pada traktus gastrointestinal.
Kerontokan rambut dapat bervariasi dari kerontokan
ringan dampai pada kebotakan. efek samping yang jarang
terjadi tetapi tidak kalah penting adalah kerusakan otot
jantung, sterilitas, fibrosis paru, kerusakan ginjal,
kerusakan hati, sklerosis kulit, reaksi anafilaksis,
gangguan syaraf, gangguan hormonal, dan perubahan genetik
yang dapat mengakibatkan terjadinya kanker baru.
Kardiomiopati akibat doksorubin dan daunorubisin
umumnya sulit diatasi, sebagian besar penderita meninggal
karena “pump failure”, fibrosis paru umumnya
iireversibel, kelainan hati terjadi biasanya menyulitkan
pemberian sitistatika selanjutnya karena banyak
diantaranya yang dimetabolisir dalam hati, efek samping
pada kulit, saraf, uterus dan saluran kencing relatif
kecil dan lebih mudah diatasi.
Kemoterapi dapat mempengaruhi sel normal di
lambung, sel lambung ini kemudian mengirim sinyal ke ”
pusat muntah” di otak, karena sinyal ini direspon
berbeda sehingga memicu mual dan muntah. ada kala
kemoterapi akan langsung bekerja di “pusat muntah” di
otak. mekanisme ini juga akan memicu mual dan muntah.
H. Langkah-Langkah Pemberian Obat Kemoterapi Oleh Perawat
semua obat dicampur oleh staf farmasi yang ahli
dibagian farmasi dengan memakai alat “biosafety laminary
airflow” kemudian dikirim ke bangsal perawatan dalam
tempat khusus tertutup. diterima oleh perawat dengan
catatan nama pasien, jenis obat, dosis obat dan jam
pencampuran.
Menurut admin (2009), bila tidak mempunyai biosafety
laminary airflow maka, pencampuran dilakukan diruangan
khusus yang tertutup dengan cara :
1. Meja dialasi dengan pengalas plastik diatasnya ada
kertas penyerap atau kain
2. Pakai gaun lengan panjang, topi, masker, kaca mata,
sepatu.
3. Ambil obat sitostatika sesuai program, larutkan dengan
nacl 0,9%, d5% atau intralit.
4. Sebelum membuka ampul pastikan bahwa cairan tersebut
tidak berada pada puncak ampul. Gunakan kasa waktu
membuka ampul agar tidak terjadi luka dan
terkontaminasi dengan kulit. Pastikan bahwa obat yang
diambil sudah cukup, dengan tidak mengambil 2 kali
5. Keluarkan udara yang masih berada dalam spuit dengan
menutupkan kapas atau kasa steril diujung jarum spuit.
6. Masukkan perlahan-lahan obat kedalam flabot nacl 0,9 %
atau d5% dengan volume cairan yang telah ditentukan
7. Jangan tumpah saat mencampur, menyiapkan dan saat
memasukkan obat kedalam flabot atau botol infus.
8. Buat label, nama pasien, jenis obat, tanggal, jam
pemberian serta akhir pemberian atau dengan syringe
pump.
9. Masukkan kedalam kontainer yang telah disediakan.
10. Masukkan sampah langsung ke kantong plastik, ikat dan
beri tanda atau jarum bekas dimasukkan ke dalam tempat
khusus untuk menghindari tusukan.
I. Penatalaksanaan Kemoterapi Berdasarkan Evidence Based
1. Kemoterapi pada PTG (unsri, 2008)
Tatalaksana ptg adalah berdasarkan staging dan
skoring. Kemoterapi adalah modalitas utama pada pasien
dengan ptg. Angka keberhasilan terapi pada ptg risiko
rendah adalah 100% dan lebih dari 80% pada ptg risiko
tinggi. Andrijono, melaporkan angka keberhasilan terapi
pada ptg nonmetastasis 95,1%, risiko rendah 83,3% ,
risiko tinggi hanya 50 % dengan angka kematian karena
ptg berkisar 8-9%. Kemoterapi pada ptg risiko rendah
adalah kemoterapi tunggal, dengan pilihan utama
methotrexate. Kemoterapi tunggal lain yang dapat
digunakan adalah [Link] pada ptg risiko
tinggi menggunakan kemoterapi kombinasi diberikan
kombinasi ema-co (etoposide, methotrexate, actinomycin,
cyclophosphamaide dan oncovin) sebagai terapi primer
atau menggunakan kombinasi me (metothrexate,
etoposide), ep (etoposide, cisplatinum).
Evakuasi molahidatidosa dilakukan sesaat setelah
diagnosis ditegakkan,hal didasarkan perhitungan bahwa
evakuasi dilakukan untuk menghindari abortus mola
sehingga perlu tingakan akut, menghindari komplikasi
hipertiroid atau perforasi serta untuk memperoleh
jaringan untuk diagnosis histopatologi. Dengan
perkembangan kemoterapi yang mempunyai angka
keberhasilan terapi yang tinggi, kuretase cukup
dilakukan satu kali.
Histerektomi dilaporkan dilakukan pada kasus
molahidatidosa usia tua dan terbukti mengurangi angka
kematian dari koriokarsinoma. histerektomi juga
dilakukan pada keadaan darurat pada kasus
perforasi,pada kasus metastasis liver, otak yang tidak
respon terhadap kemoterapi serta pada kasus
pstt.
Penyakit trofoblas gestasional adalah
radiosensitive, karena radiasi mempuyai efek
tumorosidal serta hemostatik, radioterapi dapat
dilakukan pada metastasis otak atau pada pasien yang
tidak bisa diberikan kemoterapi karena alasan medis.
2. Penatalaksanaan PTG
a. Stadium I
Pada pasien dengan stadium I, seleksi
penangananya adalah berdasarkan fertilitas
penderita, yaitu : histerektomi + kemoterapi. jika
sistem anak fertilitas, histerektomi dengan adjuvan
agen kemoterapi tunggal mungkin merupakan
pengobatan primer. kemoterapi adjuvant yang
digunakan harus memenuhi 3 alasan :
1) Mengecilkan penyebaran sel tumor pada saat
operasi
2) Mempertahankan level sitotoksik kemoterapi pada
peredaran darah dan jaringan yang merupakan
tempat penyebaran tumor pada saat opertasi.
3) Pengobatan metastatis yang tersembunyi yang
telah ada pada saat operasi.
Pada penatalaksanaan PTG stadium satu,
kemoterapi aman diberikan pada saat histerektomi
tanpa peningkatan risiko perdarahan atau sepsis.
pada 1 seri yang terdiri dari 29 pasien yang
diterapi pada satu institusi dengan histerektomi
primer dan adjuvant kemoterapi tunggal, semuanya
menunjukkan remisi komplit tanpa tambahan terapi.
histerektomi juga selalu dilakukan pada stadium i
pstt. sebab pstt resisten terhadap terapi ,
histerektomi hanya dilakukan pada penyakit yang
nonmetastatik dan merupakan pengobatan kuratif.
pada penderita PSTT metastatik yang pernah
dilaporkan mengalami remisi setelah kemoterapi.
1) Kemoterapi tunggal
Kemoterapi tunggal lebih baik pada
penderita dengan stadium i yang masih
membutuhkan fertilitas. pada suatu penerlitian
dengan kemoterapi tunggal yang diberikan pada
399 pasien dengan stadium i PTG, 373 (93,5%)
mengalami respon komplit. dua puluh enam pasien
yang resisten mengalami remisi pada kemoterapi
kombinasi atau operatif. pada pasien yang
resisten terhadap kemoterapi tunggal dan masih
membutuhkan sistem reproduksi , dapat diberikan
kemoterapi kombinasi. jika pasien resisten
terhadap kemoterapi tunggal dan kemoterapi
kombinasi dan masih ingin mempertahankan sistem
reproduksi dapat dilakukan reseksi uterus lokal.
jika direncanakan reseksi lokal USG preoperatif,
MRI atau arteriogram mungkin menolong
mendefinisikan bagian tumor yang resisten.
2) Kemoterapi kombinasi
Sejak ditemukannya kemoterapi yang
efektif, maka kesembuhan pada semua pasien
dengan PTG risiko rendah dapat diharapkan,
tetapi pada PTG risiko tinggi kesembuhan hanya
berkisar 52-89% bahkan dengan mtx-actinomisin-d
dan sikloposfamid/ klorambusil (MAC) sebagai
terapi primer PTG risiko tinggi yang metastatik.
Regimen mea dari suatu penelitian tanpa
siklofosfamid, vinkristin adalah kombinasi yang
dapat ditolerir dan efektif dalam mengobati
wanita dengan PTG risiko tinggi. efek samping
mea yang didapatkan adalah mielosupresi,
alopesia reversibel) grade 2-3) dan nausea
( grade 2). leuko dan trombositopenia grade 4
terjadi pada 5,3 dan 6,4% dari 94 siklus.
Pergantian kemoterapi EMA/CO juga
dilaporkan efektif dan dapat ditoleransi untuk
pasien PTG risiko tinggi. laporan terbaru dari
RS charing cross terhadap regimen ini
menunjukkan 78% remisi komplit, 86% tingkat
survival 5 tahun kumulatif dan toksisitas
minimal kecuali untuk keganasan. ke2. uji klinik
acak dengan faktor risiko tinggi yang sama dapat
mendefinisikan regimen optimal untuk wanita
dengan PTG risiko tinggi, walaupun agaknya tidak
mungkin karena pada penyakit jarang ini ada
tingkat respon yang tinggi terhadap banyak
regimen terapi.
Baru-baru ini keganasan kedua yang terjadi
setelah regimen kemoterapi yang mengandung
etoposide telah dilaporkan. risiko leukemia
mieloid, ca kolon dan ca mammae secara bermakna
meningkat. walaupun mekanisme keganasan kedua
setelah kemoterapi sekuensial/ kombinasi dengan
etoposide belum diketahui, pasien yang diberi
etoposide perlu di follow up lebih ketat.
b. Stadium II Dan Stadium III
Pasien dengan risiko rendah diterapi dengan
kemoterapi tunggal, dan pasien dengan risiko tinggi
dengan kemoterapi kombinasi primer yang intensif.
1) Metastasis ke pelvis dan vagina
Pada penelitian dengan 26 pasien stadium ii
yang diterapi dengan kemoterapi tunggal
memberikan remisi komplit sebanyak 16 dari
18 ( 88,9%) pada penderita dengan risiko rendah.
kontrasnya hanya 2 dari 8 orang yang mempunyai
risiko tinggi mengalami remisi dengan kemoterapi
tunggal dan lainnya dengan kemoterapi kombinasi.
metastasis vagina mungkin menyebabkan perdarahan
yang hebat sebab mempunayai vaskuler yang
banyak. ketika perdarahan ini substansial akan
dapat dikontrol dengan melokalisir vagina atau
dengan lokal eksisi yang luas. embolisasi
arteriografi arteri hipogastrika mungkin bisa
mengontrol perdarahan metastasis vagina.
2) Metastasis ke paru-paru.
Dari penelitian terhadap 130 pasien dengan
stadium iii yang diterapi 129 (99%) menunjukkan
remisi komplit. remisi gonadotropin diinduksi
dengan kemoterapi tunggal pada 71 dari 85
( 83,5%) pasien dengan risiko rendah. semua
pasien yang resisten terhadap kemoterapi tunggal
sebagian mengalami remisi dengan kemoterapi
kombinasi. torakotomi merupakan batas
pemanfaatan pada stadium iii. jika pasien
mengalami metastasis pulmo yang persisten dan
diberikan kemoterapi intensif, bagaimana pun
torakotomi mungkin bisa mengeksisi fokus yang
resisten. pada penderita resisten yang telah
dilakukan torakotomi, kemoterapi harus diberikan
pada postoperatif untuk mengobati mikrometasis
yang tersembunyi.
3) Histerektomi.
Histerektomi mungkin dilakukan pada pasien
dengan metastasis untuk mengontrol perdarahan
uterus atau sepsis. selanjutnya pada pasien-
pasien yang tumornya meluas, histerektomi
mungkin secara substansial menghambat tumor
trofoblas dan membatasi untuk pemberian
kemoterapi.
4) Follow-up
Semua pasien dengan stadium I sampai
stadium III harus difollow-up dengan :
a) pengukuran hcg tiap minggu sampai kadarnya
normal selama 3 minggu berturut-turut.
b) pengukuran hcg setiap bulan sampai nilainya
normal 12 bulan berturut-turut.
c) kontrasepsi yang efektif selama interval
follow-up hormonal.
c. Stadium IV
Pasien-pasien stadium iv mempunyai risiko
terbesar untuk tumbuh secara progresif cepat dan
tidak respon terhadap terapi multimodalitas. semua
pasien stadium iv harus diterapi secara primer
dengan kemoterapi intensif dan penggunaan
radioterapi yang selektif dan pembedahan.
1) Metastasis hepar
Penanganan metastasis hepar sebagian sulit.
pada pasien-pasien yang resisten dengan
kemoterapi sistemik, infus arteri hepatika
mungkin menghambat remisi komplit pada kasus-
kasus yang selektif. reseksi hepar mungkin bisa
juga untuk mengontrol perdarahan akut atau untuk
mengeksisi fokus tumor yang resisten. tehnik
terbaru tentang embolisasi arteri mungkin
diperlukan untuk intervensi pembedahan.
2) Metastasis cerebral.
Jika didiagnosis metastasis cerebral,
dilakukan irradiasi seluruh otak (3000 cgy
dengan 10 fraksi). risiko perdarahan spontan
cerebral mungkin bisa terjadi karena kombinasi
kemoterapi dan irradiasi otak sebab keduanya
mungkin bersifat hemostatik dan bakterisidal.
remisi terbaik yang dilaporkan pada pasien dengan
metastasis kranial yang diobati secara intravena
yang intensif dengan kombinasi kemoterapi dan
metotreksat intratekal.
3) Kraniotomi
Kraniotomi dilakukan untuk dekompresi akut
atau untuk mengontrol perdarahan. weed dkk
melaporkan bahwa kraniotomi untuk mengontrol
perdarahan pada 6 pasien, 3 diantaranya mengalami
remisi komplit. pasien dengan metastasis cerebral
yang mengalami remisi umumnya tidak mempunyai
sisa defisit neurologis.
4) Follow-up
a) Nilai HCG tiap minggu sampai normal selama 3
minggu berturut-turut.
b) nilai HCG setiap bulan sampai normal selama 24
bulan berturut.
3. Kemoterapi pada kanker serviks
Penetapan pengobatan kanker serviks berdasarkan
standar pelayanan medik perkumpulan obstetri dan
ginekologi indonesia (2006) :
a. Stadium 0
1) Bila fungsi uterus masih diperlukan:
cryosurgery, konisasi, terapi laser atau lletz
(large loop electrocauter transformation zone).
histerektomi diindikasikan pada patologi
ginekologi lain, sulit pengamatan lanjut, dan
sebagainya
2) pengamatan PAP smear lanjut pada tunggul serviks
dilakukan tiap tahun. dengan kekambuhan 0,4%
b. Stadium Ia
Skuamousa :
1) Ia1 – dilakukan konisasi pada pasien muda,
histerektomi vaginal/abdominal pada pasien usia
tua.
2) Ia2 – histerektomi abdomen dan limfadenektomi
pelvik, modifikasi histerektomi radikal dan
limfadenektomi pelvik
3) keadaan diatas plus tumor anaplastik atau invasi
vaskuler–limfatik, dilakukan histerektomi radikal
dan limfadenektomi pelvik. bila ada
kontraindikasi operasi, dapat diberikan radiasi.
c. stadium Ib/IIa
1) bila bentuk serviks berbentuk “barrel”, usia <50
tahun, lesi primer <4 sm, indeks obesitas (i.0)
<0,70 dan tidak ada kontraindikasi operasi, maka
pengobatan adalah operasi radikal. satu atau dua
ovarium pada usia muda dapat ditinggalkan dan
dilakukan ovareksis keluar lapangan radiasi
sampai diatas l iv. post operatif dapat diberikan
ajuvan terapi (kemoterapi, radiasi atau gabungan)
bila :
radikalitas operasi kurang
kelenjar getah bening pelvis/paraaorta positif
histologik : small cell carcinoma
diferensiasi sel buruk
invasi dan atau limfotik vaskuler
invasi mikroskopik ke parametria
adenokarsinoma/adenoskuamosa
2) Bila usia 50 tahun, lesi >4 SM, i.0 >0,70, atau
penderita menolak/ada kontraindikasi operasi maka
diberikan radiasi. bila kemudian ada resistensi,
maka pengobatan selanjutnya adalah histerektomi
radikal.
d. stadium IIB-IIIB
1) diberikan radiasi. pada risiko tinggi kemoterapi
dapat ditambah untuk meningkatkan respon
pengobatan, dapat diberikan secara induksi atau
simultan. secara induksi: bila radiasi diberikan
4-6 minggu sesudah kemoterapi. secara simultan:
bila radiasi diberikan bersamaan dengan
kemoterapi.
2) dilakukan ct-scan dahulu, bila kelenjar getah
bening membesar ≥1,5 sm dilakukan limfadenektomi
dan dilanjutkan dengan radiasi.
3) dapat diberikan kemoterapi intra arterial dan
bila respon baik dilanjutkan dengan histerektomi
radikal atau radiasi bila respon tidak ada.
e. Stadium Iva
Radiasi diberikan dengan dosis paliatif, dan
bila respon baik maka radiasi dapat diberikan
secara lengkap. bila respon radiasi tidak baik maka
dilanjutkan dengan kemoterapi. dapat juga diberikan
kemoterapi sebelum radiasi untuk meningkatkan
respon radiasi.
f. Stadium IVB
1) Bila ada simptom dapat diberikan radiasi paliatif
dan bila memungkinkan dilanjutkan dengan
kemoterapi.
2) bila tidak ada simptom tidak perlu diberikan
terapi, atau kalau memungkinkan dapat diberikan
kemoterapi.
3) catatan : bila terjadi perdarahan masif yang
tidak dapat terkontrol, maka dilakukan terapi
embolisasi (sel form) intra arterial (iliaka
interna/hipogastrika).
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi & Askandar, B. (2011). Karakteristik Penderita
Kanker Serviks 2006- 2010 di RSUD Dr. Soetomo.
Jurnal Obstetri & Ginekologi, 19 (3), 128- 133
Departemen Kesehatan RI. (2008). Buku Saku Gaya Hidup
Sehat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Kurniawan. (2014). Gambaran Efek Samping Obat
Kemoterapi Pada Pasien Kanker Payudara di RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta Periode Tahun 2012. Jurnal
Farmasi, 2 (7).
Made, S., & Sulastri. (2010). Gambaran Fisik dan
Psikologis Klien Dengan Kanker Serviks di RSUD Dr.
Moewardi Surakarta. Cervical Cancer Journal, 3 (3).
144-149.
McCormick, C., & Giuntoli, R. (2011). Panduan untuk
Penderita Kanker Serviks. Jakarta: PT Indeks.
Melia. (2011). Hubungan Antara Frekuensi Kemoterapi
Dengan Status Fungsional Pasien Kanker Yang
Menjalani Kemoterapi di RSUP Sanglah Denpasar.
Jurnal Kanker, 7 (4), 1-11.
Nimas, F. (2012). Kualitas Hidup Pada Penderita Kanker
Serviks yang Menjalani Pengobatan Radioterapi.
Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental, 1
(02), Juni 2012.
Primahuda, A. (2016). Gambaran Kepatuhan Mengikuti
Program Pengelolaan Penyakit Kronis pada Pasien
Kanker Serviks. Jurnal Keperawatan, 2 (3), 1-8.
Pusat Promosi Kesehatan
Rasjidi, I. (2008). Manual Prakanker Serviks. Jakarta:
Penerbit Buku CV Sagung Seto.
Rochmawati, D. (2015). Kualitas Hidup Pasien Kanker
Yang Menjalani Kemoterapi Di RSUD Dr. Moewardi.
Jurnal Kesehatan, 2 (4), 541-556.
Sri, D. (2015). Asuhan Ibu dengan Kanker Serviks.
Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
WHO. (2004). The World Health Organization Quality of
Life (WHOQOL) – BREF. Switzerland: WHO. Williams,
L., &
Wilkins. (2011). Nursing: Memahami Berbagai Macam
Penyakit. Jakarta: PT Indeks.
Wahyuni, T. (2015). Hubungan antara frekuensi
kemoterapi dengan kualitas hidup perempuan dengan
kanker payudara yang menjalani kemoterapi di Ruang
Kemoterapi RSUD A.M Parikesit Tenggarong. Jurnal
ilmu kesehatan, 3 (2).