0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan16 halaman

Senam dalam Kebudayaan Yunani Kuno

Peradaban sejarah olahraga telah berkembang sejak zaman prasejarah hingga modern. Olahraga sudah ada sejak 30.000 tahun yang lalu berdasarkan lukisan gua. Perkembangan olahraga kuno terjadi di peradaban Cina, Mesir, Yunani, dan Eropa dengan berbagai cabang olahraga dan kompetisi seperti Olimpiade Yunani Kuno. Olahraga semakin berkembang di zaman modern dengan profesionalisme dan per

Diunggah oleh

Suken
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan16 halaman

Senam dalam Kebudayaan Yunani Kuno

Peradaban sejarah olahraga telah berkembang sejak zaman prasejarah hingga modern. Olahraga sudah ada sejak 30.000 tahun yang lalu berdasarkan lukisan gua. Perkembangan olahraga kuno terjadi di peradaban Cina, Mesir, Yunani, dan Eropa dengan berbagai cabang olahraga dan kompetisi seperti Olimpiade Yunani Kuno. Olahraga semakin berkembang di zaman modern dengan profesionalisme dan per

Diunggah oleh

Suken
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Peradaban Sejarah Olahraga Di Dunia

Peradaban sejarah olahraga di Dunia tak lepas dari zaman prasejarah, zaman kuno,
zaman purba, abad pertengahan, zaman ranaisance, dan modern.

a. Zaman Pra-Sejarah

Banyak penemuan modern di Perancis, Afrika dan Australia pada lukisan gua (dilihat
seperti Lascaux) dari jaman prasejarah yang memberikan bukti kebiasaan upacara ritual.
Beberapa dari bukti ini berasal dari 30.000 tahun yang lampau, berdasarkan perhitungan
penanggalan karbon. Lukisan/Gambar-gambar jaman batu ditemukan di padang pasir Libya
menampilkan beberapa aktivitas, renang dan memanah. Seni lukis itu sendiri adalah
merupakan bukti pada ketertarikan pada keahlian yang tidak ada hubungannya dengan
kemampuan untuk bertahan hidup, dan adalah bukti bahwa ada waktu luang untuk dinikmati.
Ini juga membuktikan aktivitas non-fungsi lain seperti ritual dan sebagainya. Jadi, meskipun
sedikit bukti yang secara langsung mengenai olahraga dari sumber-sumber ini, cukup
beralasan untuk menyimpulkan bahwa ada beberapa aktivitas pada waktu itu yang berkenaan
dengan olahraga. Kapten Cook, saat ia pertama kali datang ke Kepulauan Hawaii, pada tahun
1778, melaporkan bahwa penduduk asli berselancar. Masyarakat Indian Amerika asli
bergabung dalam permainan-permainan dan olahraga sebelum kedatangan orang-orang
Eropa, seperti lacrosse, beberapa jenis permainan bola, lari, dan aktivitas atletik [Link]
Maya dan Aztec yang berbudaya memainkan permainan bola dengan serius. Lapangan yang
digunakan dahulu masih digunakan sampai [Link] beralasan untuk menyimpulkan
dari sini dan sumber-sumber bersejarah lainnya bahwa olahraga memiliki akar yang
bersumber dari kemanusiaan itu sendiri.

b. Zaman Kuno

o Cina Kuno

Terdapat artefak dan bangunan-bangunan yang menunjukkan bahwa orang Cina


berhubungan dengan kegiatan yangkita definisikan sebagai olahraga di awal tahun 4000 SM.
Awal dan perkembangan dari kegiatan olahraga di Cinasepertinya berhubungan dekat dengan
produksi, kerja, perang, dan hiburan pada waktu [Link] sepertinya merupakan olahraga
yang populer di Cina zaman dulu. Tentunya sekarang juga, seperti keahlianorang Cina dalam
akrobat yang terkenal secara [Link] memiliki Museum Beijing yang
didedikasikan untuk subjek-subjek tentang olahraga di Cina dan sejarahnya.(Lihat Olahraga
Cina, Museum )

o Mesir Kuno

Monumen untuk Faraoh menunjukkan bahwa beberapa cabang olahraga


diperhatikan perkembangannya dandipertandingkan secara berkala beberapa ribu tahun yang
lampau, termasuk renang dan memancing. Ini tidaklahmengejutkan mengingat pentingnya
Sungai Nil bagi kehidupan orang Mesir. Olahraga yang lain termasuk lempar lembing, loncat
tinggi, dan gulat. Lagi, keberadaan olahraga yang populer menunjukkankedekatan dengan
kegiatan non-olahraga sehari-hari.
o Yunani Kuno

Banyaknya cabang olahraga sudah ada sejak jaman Kerajaan Yunani Kuno. Gulat,
Lari, Tinju, lempar lembing danlempar cakram, dan balap kereta kuda adalah olahraga yang
umum. Ini menunjukkan bahwa Kebudayaan militer Yunani berpengaruh pada perkembangan
olahraga [Link] Olimpiade diadakan setiap empat tahun sekali di Yunani.
Pertandingan tidaklah diadakan hanyasebagai even olahraga saja, tetapi juga sebagai
perayaan untuk kemegahan individu, kebudayaan, dan macam-macam kesenian dan juga
tempat untuk menunjukkan inovasi di bidang arsitektur dan patung. Pada dasarnya, evenini
adalah waktu untuk bersyukur dan menyembah para Dewa-Dewa kepercayaan Yunani. Nama
even ini diambildari Gunung Olympus, tempat suci yang dianggap tempat hidupnya para
dewa. Gencatan senjata dinyatakan selamapertandingan Olimpiade, seperti aksi militer dan
eksekusi untuk publik ditangguhkan. Ini dilakukan agar orang-orang dapat merayakan dengan
damai dan berkompetisi dalam suasana yang berbudaya dan saling menghargai.

o Eropa dan Perkembangan Global

Beberapa ahli sejarah- tercatat Bernard Lewis- Menyatakan bahwa olahraga beregu
adalah penemuan Kebudayaan Barat. Olahraga individu, seperti gulat dan panahan, sudah
dipraktekkan di seluruh dunia. Tetapi tradisi olahraga beregu, menurut para penulis ini,
berasal dari Eropa, khususnya Inggris. (Ada catatan yang berlawanan- termasuk Kabaddi di
India dan beberapa permainan bola Mesoamerica.) Olahraga mulai diatur dan diadakan secara
berkalasejak Olimpiade Kuno sampai pada abad ini. Aktivitas yang dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan hidup danmakanan menjadi aktivitas yang diatur dan dilakukan untuk
kesenangan atau kompetisi dalam skala yangmeningkat, seperti berburu, memancing,
hortikultur. Revolusi Industri dan Produksi massa menambahkan waktuluang, yang
membolehkan meningkatnya penonton olahraga, berkurangnya elitisme dalam olahraga, dan
akses yang lebih besar. Trend ini dilanjutkan dengan perjalanan media massa dan komunikasi
global. Profesionalisme menjadiumum, lebih jauh meningkatkan popularitas olahraga. Ini
mungkin kontras dengan ide murni orang Yunani, dimana kemenangan pada pertandingan
dihargai dengan sangat sederhana, dan dihargai dengan daun zaitun. (Mungkin tidak hanya
mahkota daun zaitun, beberapa penulis mencatat.)Mungkin karena reaksi dari keinginan
hidup kontemporer, terdapat perkembangan olahraga yang paling baik dielaskan dengan post-
modern: extreme ironing sebagai contohnya. Juga ada penemuan baru di bidang olahraga
petualangan dalam bentuk melepaskan diri dari rutinitas kehidupan sehari-hari, contohnya
white water rafting,canyoning, BASE jumping dan yang lebih sopan, orienteering.

o Olimpiade Kuno

Olimpiade dikhususkan hanya untuk kaum pria, setidaknya hanya mereka yang
diperbolehkan untuk cabang atletik dan yang dikategorikan olahraga tempur. Kaum
perempuan bahkan tidak diperbolehkan menonton. Namun demikian mereka boleh
bertanding untuk cabang berkuda, hanya kalau mereka menjadi pemilik kuda maupun kereta
yang dipergunakan untuk bertanding. Perempuan pertama yang tercatat memenangkan
sebuah lomba adalah seorang putri berasal dari Sparta.

Salah satu alasan mengapa perempuan tidak boleh terlibat dalam cabang atletik, tinju,
dan gulat adalah karena pesertanya bertanding dalam keadaan telanjang bulat.
Bahasa Yunani kuno ''gerak badan'' arti harfiahnya adalah ''menjadi telanjang bulat.''
Mengapa harus telanjang bulat? Ada kemungkinan ini terkait dengan alasan keagamaan
dalam konteks budaya Yunani saat itu. Bagaimanapun Olimpiade adalah sebuah festival
keagamaan untuk memuja Dewa Zeus dan menuntut pemujaan yang di luar kebiasaan.

Pengendara kuda maupun sais kereta memang mengenakan pakaian, tetapi mereka ini
hanya sewaan. Kalau mereka menang maka pemiliknyalah yang dinyatakan sebagai
pemenang bukan pengendara kuda maupun sais keretanya sendiri.

Cabang yang dipertandingkan Olahraga Olimpiade kuno yang masih bertahan dari
lomba lari hanya tinggal stade (200 meter), stade ganda (400 meter), dan jarak ''panjang'' (500
meter) yang bertahan. Gulat dan tinju masih bertahan tetapi dalam bentuk yang berbeda.
Lempar lembing, lempar cakram serta lompat jauh juga bertahan. Lomba berkuda, kereta dan
pacu keledai tidak ada padanannya di Olimpiade modern.

Olimpiade aslinya hanya mempertandingkan satu cabang saja yang disebut stadion
atau stade, yang berarti kira-kira lari cepat sekitar 200 meter. Lintasan lari dari abad 4 SM
masih terlihat jelas dan bisa dikunjungi di tempat Olimpiade kuno dilaksanakan, dengan
panjang sekitar 192 meter.

Berturut-turut stade kemudian ditambahi dengan: lari 400 meter, 5.000 meter, lompat
jauh, lempar cakram, lempar lembing, gulat, tinju, berkelahi dengan teknik campuran antara
gulat dan bantingan, dan adu lari cepat dengan mengenakan pelindung perang--tetap
telanjang tetapi mengenakan pelindung kepala dan pelindung tulang kering. Belakangan
ditambah dengan olahraga berkuda--kereta dengan empat kuda, balap kuda dan kereta dengan
ditarik keledai.

Tujuan Olimpiade merupakan sebuah festival keagamaan untuk memuja dewa paling
berkuasa dari semua dewa Yunani, Zeus dari Gunung Olimpia (gunung tertinggi di Yunani
dengan ketinggian hampir mencapai 10.000 kaki).

Dewa-dewa lain juga di puja di kawasan pemujaan Olimpia, tetapi adalah Zeus adalah
yang paling banyak menjadi pusat pemujaan. Ia mempunyai satu kuil pemujaan tersendiri
dengan patung emas dan gading yang dibuat oleh seniman paling hebat pada jamannya,
Pheidias dari Athena. Saat ini kuil dan isinya dinyatakan sebagai salah satu dari keajaiban
dunia.

c. Zaman Purba

Pengetahuan tentang bangsa primitif yang hidup di zaman jauh sebelum zaman kita
sekarang ini, belum lengkap dan usianya juga belum tua. Baru sejak ilmu antropologi budaya
membuka tabir rahasia kehidupan mereka melalui interpretasi hasil galian peninggalan –
peninggalan kuno, orang mulai mampu membayangkan peri kehidupan bangsa primitif di
masa lalu. Juga diadakan penelitian mengenai bangsa primitif yang saat ini masih ada.

Dari peninggalan – peninggalan itu jelaslah bahwa manusia telah mencapai kemajuan
melalui beberapa tahap perkembangan. Tahap pertama adalah zaman Eolitik di mana manusia
belum berpakaian dan kehidupan mirip binatang dalam mencari makan dan tidak di bawah
atap. Ia baru menggunakan tongkat dan batu untuk melindungi diri. Tahap kedua adalah
zaman Paleotilik dimana keadaan manusia sudah lebih maju, sudah berlindung dalam gua –
gua, memakai pakaian sesederhana terbuat dari kulit, sudah menemukan api dan membuat
senjata tajam. Mereka juga sudah bisa menggambar pada dinding – dinding gua. Tahap ketiga
adalah zaman Neolitik dimana manusia sudah mampu membuat gerabah, panah dan busur,
pakaian tenunan serta mampu menjinakkan binatang untuk dijadikan hambanya.

Tentu saja pendidikan ikut maju sesuai dengan kemajuan yamg dicapai oleh manusia,
karena pendidikan adalah usaha yang sadar dan bertujuan menyiapkan anak ke kehidupan
orang dewasa. Tujuannya tentu saja sesuai dengan keperluan – keperluan yang dianggap
penting dalam kehidupan manusia primitif itu sendiri. Oleh karena pada zaman primitif orang
masih berjuang melawan alam yang buas, dan kepercayaan/ agama menguasai segi
kehidupan, maka pendidikan sangat dipengaruhi oleh kedua kondisi tersebut.

Alam yang buas menuntut dari manusia primitif suatu kemampuan mempertahankan
kelangsungan hidup ( Survival ). Agar mampu berbuat demikian manusia primitif harus
bersatu dalam kelompok, sehingga pendidikan menentukan ciri kelompok. Disamping itu
juga keselamatan bersama menjadi tujuan utama pendidikan. Kesadaran berkelompok dan
solidaritas kelompok sangat ditekankan.

Banyak hal disuruh menirukan oleh anak karena mereka belum mengerti sebab-musabab
suatu kejadian atau peristiwa. Suatu hal yang dimasa lalu telah mampu mnyelamatkan
kelompok perlu diajarkan kepada anak. Apalagi mengenai gejala-gejala dalam alam,
misalnya : putaran bumi, angin ribut, halilintar, mati, paceklik, dan sebagainya belum mereka
pahami, maka tidak mengherankan bahwa kepercayaan terhadap roh-roh halus dan hal-hal
spiritual menguasai kehidupan mereka.

Kalau hal-hal tersebut di atas telah dipahami, maka dapat dimengerti pula bahwa
latihan fisik diarahkan ke tercapainya efisiensi dalam mempertahankan survival kelompok,
pencarian makanan sehari-hari, penaklukan alam sekitar. Badan perlu kuat, tahan uji, ulet,
lincah untuk mengatasi alam dan lawan, berburu dan dalam penggunaan senjata serta alat
penting lainnya. Kesetia-kawanan dalam kelompok serta kerjasama antara anggota kelompok
dikembangkan melalui latihan bersama, tari-tarian dan permainan.

Pemujaan nenek moyang juga merupakan sebagian usaha penyelamatan hidup. Nenek
moyang dihormati dan diberi sajian agar tidak marah. Dalam hal ini tari-tarian merupakan
bagian penting dari upacara-upacara dan secara tidak sadar gerak-gerak tarian itu merupakan
pula latihan fisik yang baik bagi pertumbuhan anak. Anak laki-laki ikut ayahnya berburu dan
menangkap ikan. Dan juga belajar membuat serta menggunakan senjata agar pada waktunya
sudah siap menggantikan ayahnya, atau ikut mempertahankan kelompok dari serangan musuh
atau binatang.

Meniru merupakan perbuatan yang mendasari pendidikan bangsa primitif ini.


Diusahakan dapat menyamai prestasi orang dewasa. Tahab akhir prndidikan ditandai dengan
upacara-upacara ( Rites de passage ), dan anak diakui termasuk kelompok orang dewasa.
Persiapan dari anak menjadi dewasa makan waktu lama. Suatu ujian misalnya : hanya boleh
makan daging binatang yang sulit diburu, kalau mampu berburu baru mungkin mengisi perut,
sungguh ujian yang berat. Pendidikan dan latihan fisik pada bangsa primitif tidak terpisah
dari pendidikan agama/ kepercayaan, pendidikan estetis, moral dan ketrampilan praktis.
d. Abad Pertengahan

Dalam masa itu pendidikan ditujukan kepada persiapan pemuda untuk peperangan,
latihan penggunaan senjata dan berburu. Itu semua baik untuk menilai sifat-sifat fisik dan
moral. Kalau dianggap telah memadai diadakan upacara pengalihan dari pemuda menjadi
orang dewasa. Pada kesempatan itu ia menerima lembing dan perisai, disertai nasehat-
nasehat.

Untuk menjadi prajurit yang tangguh diperlukan badan yang kokoh, kuat, cekatan,
pandai bergulat, renang, tolak peluru, naik kuda. Main bola diajarkan dengan alasan
kegunaan dan hiburan. Lebih-lebih karena pendidikan intelek dan kejiwaan belum
berkembang, maka latihan fisik menempati perhatian yang utama.

Menari disekitar api unggun merupakan kegemaran. Api unggun ini kemudian juga
diambil alih oleh mereka dalam berbagai upacara keagamaan.

Abad pertengahan ditandai oleh kelompok penyiar agama dan kelompok Ritter.
Penyiar agama menganggap hidup duniawi ini sebagai persiapan ke kehidupan akherat.
Semua hal yang bersifat duniawi diremehkan. Cita-cita alamiah harus dikalahkan terhadap
cita-cita alam baka. Jelas bahwa pembinaan badan melalaui kegiatan-kegiatan fisik ditentang
oleh penyiar-penyiar agama. “Schola Interior “ ( di dalam lingkingan gereja ) membentuk
ahli-ahli agama dan pegawai-pegawai gereja. “ Schola Exterior “( berada di luar tembok-
tembok biara dan gereja ) mempunyai asrama. Di Scolas Exterior diajarkan kepada murid-
murid laki-laki dan perempuan 7 artes liberales yang terdiri dari Trivium ( sastra falsafah )
dan Quadrivium ( kelompok ilmu pasti – alam ).

Permainan zaman itu yang menonjol adalah main bola yang diikuti baik oleh Ritter-
ritter maupun petani-petani. Juga semacam bolling dan tari-tarian. Panahan merupakan
keharusan dan mendapat perlindungan dari atasan. Mahasiswa semakin gemar main anggar
dan bentuk perkumpulan-perkumpulan. Permainan-permainan yang dulu hanya diperlukan
olrh kaum bangsawan sudah banyak ditiru oleh masyarakat.

Kaum Ritter merupakan kelompok feodal dan militer. Harga diri sangat ditonjolkan.
Mereka menentukan kewajiban dan tata cara menjadi Ritter, upacara pelantikan menjadi
Ritter dan pula hak-hak istimewa Ritter. Mereka berpakaian pelindung besi ( Harnas ) dan
naik kuda. Dengan mengandalkan kemampuan fisik serta pedangnya Ritter menjelajah dunia
yang penuh dengan bahaya dan perjuangan.

Inti dari pendidikan Ritter adalah kekuatan fisik, ketangkasan dalam naik kuda dan
mahir dalam menggunakan senjata. Semua itu mutlak diperlukan untuk kelangsungan
hidupnya, maka Ritter mengalami pendidikan yang sengaja dan secara sadar ditujukan
kepada keperluan hidupnya.

Anak Ritter sampai usia 7 tahun diasuh oleh ibunya. Setelah itu ia menjadi “ Page “ (
calon ) dan harus belajar naik kuda, main anggar dan berburu. Juga belajar lari, lompat,
memanjat, gulat, melempar, main bola, berenang dan menyelam, dan juga tari-tarian.
Pendidikan ritter menuntut 7 ketangkasan ( 7 Probitates ), yaitu naik kuda, berenang,
panahan, anggar, berburu main catur dan berbuat sajak-sajak. Pada usia 14 tahun anak Ritter
yang berstatus “ Page “ dinaikkan menjadi “ Schildknaap “ ( pembantu ) pada Ritter lain (
dan istri ). Ia ikut berburu dan membantu Ritter dalam hal tombak-tombak, memelihara kuda,
dan sebagainya kerap kali ia juga menjadi pembawa berita atau bertugas yang pelik dan
berbahaya. Pada usia 21 tahun ia dinobatkan menjadi Ritter dalam suatu upacara yang khas.
Sebelum upacara calon Ritter itu menyucikan diri ( lahir batin ), mandi air panas dan
mengakui dosa-dosanya. Malam hari dalam pakaian baru ia berdoa digereja.

Tournooi adalah olahraga bangsawan abad pertengahan yang merupakan tiruan suatu
peperangan. Pada abad ke 14 dan 15 kaum Ritter semakin lenyap. Lebih – lebih penemuan
bahan peledak telah menjadi penyebab utama kehancuran Ritter.

e. Zaman Renaissance

Renaissance merupakan perubahan besar dalam alam kejiwaan manusia. Manusia


mulai sadar bahwa selama itu mereka hidup di dalam dunia yang penuh dengan kekangan dan
pembatasan, antara lain tradisi, agama, gereja, negara dan masyarakat. Di masa Renaissance
manusia mulai menemukan dirinya sendiri dan menemukan dunia. Terjadilah pembaruan-
pembaruan dalam sastera, seni dan ilmu pengetahuan. Hasil-hasil kebudayaan Romawi dan
Yunani mengilhami gagasan-gagasan baru itu. Pangkal mulanya adalah Italia dan kemudian
menyebar ke seluruh Eropa. Hasil-hasil pemikiran dan kreativitas ( sastra, ilmu pengetahuan
dan pendidikan ) yang menunjukkan semangat yang individual dan kritis. Pembahasan-
pembahasan dilepaskan dari kekangan agama dan gereja, dan meyangkut hal-hal duniawi.

Dari bahan-bahan sejarah yang telah dipelajari dapat disimpulkan bahwa tulisan
humanis-humanis Italia telah mendorong orang memberi perhatian kepada latihan-latihan
fisik, dalam rangka kebulatan pendidikan. Pengaruh kaum humanis dapat meluas karena
penemuan alat pencetak buku ( + 1436 S.M. ), sehingga terbitan-terbitan dapat dibeli oleh
orang banyak. Walaupun begitu sebenarnya pendidikan itu hanya dinikmati oleh anak-anak
bangsawan yang diasuh “ Gouverneur “ dan selalu mengadakan perjalanan jauh ( ke negara
lain ) pada akhir masa pendidikan mereka.

Tokoh-tokoh Italia yang terkenal sebagai humanis antara lain : Vittorino da Feltre,
Vegio dan Silvio. Mereka itu semuanya malaksanakan latihan fisik di sekolah-sekolah
mereka. Mercurialis adalah dokter yang mengadakan penelitian olahraga kuno serta
hubungannya dengan kedokteran/ kesehatan dan menulisnya dalam buku “ De Arto
Gymnastica “. Penulis lainnya, yaitu Mosso, meneropong latihan fisik/ gymnastik dari sudut
ilmu faal dan meneliti sejarah perkembangannya dan Scaino menulis tentang bermacam-
macam permainan zaman itu, setebal 315 halaman.

Seperti terbaca di atas kaum humanis telah besar jasanya dalam menginsyafkan
pentingnya latihan fisik dan memelopori masuknya olahraga dalam kurikulum sekolah, dan
merupakan salah satu unsur pendidikan oleh para Gouvernuer anak-anak [Link] samping
itu zaman semakin melimpahnya materi dan semakin bebasnya jiwa, merupakan tanah subur
bagi berkembang permainan.

f. Abad Modern
Olahraga modern adalah olahraga yang telah mengalami perubahan dan peraturan
permainan mengikuti perkembangan zaman serta teknologi yang bekembang didunia. Fungsi
social olahraga sekarang sangat diperluas dan menangkut banyak aspek kehidupan
[Link]-aturan yang semakin ketat dan prestasi-prestasi semakin ditingkatkan, dan
olahraga menjadi sangat serius. Hal itu tampak antara lain dengan munculnya pemain-pemain
professional disamping amatir, dan keterkaitan dengan dimensi sacral yang tidak ada lagi.
Semuanya ini berlaku juga untuk permainan-permainan kartu, dimana unsur “kebetulan”
tidak pernah absen, dan permainan papan. Disini bridge dan catur adalah contoh-contoh yang
mencolok.
[Link]

 Perkembangan Olahraga Nasional

Dalam bidang olahraga sangat dibutuhkan suatu daya tahan tubuh yang kuat, sehingga kita bisa
melakukan sebuah aktivitas olahraga dengan semangat karena didukung oleh daya tahan tubuh yang kuat.
Dengan itu maka kita menjalani kegiatan tersebut dengan perasaan senang menjalani aktivitas tersebut.
Kita sering berolahraga, tetapi apakah kita tahu perkembangan olahraga di Negara kita ini yaitu Indonesia.
Mungkin kebanyakan orang di sekitar kita tidak tahu perkembangan olahraga di Indonesia saat ini, karena
mereka hanya menjalankan olahraga dan tidak ingin tahu bagaimana sejarah dari olahraga itu sendiri.
Sehubungan dengan itulah maka perlu adanya suatu pengetahuan mengenai sejarah olahraga supaya kita
semua bisa tahu bagaimana perkembangan olahraga tidak hanya bisa berolahraga saja.
Judul makalah ini sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat
dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia olahraga.

2. Perumusan Masalah
a. Bagaimana perkembangan olahraga sejak jaman pra sejarah sampai penyelenggaraan GANEFO.
b. Sejauhmana Indonesia berusaha dalam meningkatkan olahraga di tanah air.

3. Tujuan
a. Mengetahui perkembangan olahraga di tanah air.
b. Memahami perkembangan olahraga supaya semakin meningkat di masa depan.

Jaman prasejarah
Pada zaman nenek moyang Indonesia, kegiatan fisik berkembang pada waktu itu untuk mempertahankan diri
dari keganasan alam maupun [Link] dapat berupa sungai yang harus diseberangi, hujan,
badai, topan, menghadapi serangan binatang buas,atau beburu buinatang untuk konsumsi.
Olahraga pada masyarakat kuno adalah untul menciptakan kekuatan dan pengembangan kesadaran kelompok,
yang dilakukan oleh keluarga. Pada masyarakat ini Olahraga merupakan sport utility maksudnya gerakan yang
dilakukan adalah semacam olahraga namun fungsinya untukn mem-pertahankan diri untuk kelangsungan
hidup. Jenis olahraga ini seperti:
 Renang
 Dayung
 Lari
 Gulat
 Memainkan senjata
 Beladiri dan tarian-tarian perang.

Masa Sebelum Penjajahan.


Masa kebudayaan Hindu
Berawal pada abad 5 SM, setelah masa pra-sejarah berakhir. Dapat disebutkan beberapa kerajaan yang cukup
terkenal dan [Link] Tarumanegara ( Raja Purnawarman ) dan Muara Kaman (raja
Mulawarman).
Ada beberapa faktor penyebab datangnya pengaruh Hindu di wilayah Indonesia sebagai berikut: 
1. Perdagangan antara Cina dan India.
2. Indonesia sebagai tempat persinggahan.
3. Adanya pedangang India yang tingal di Indonesia.
4. Penyebaran Agama Hindu oleh orang-orang India.

Masa Kebudayaan Islam.


Perkembangan kebudayaan Islam mulai berkembang saat kerajaan demak mengalahkan majapahit. Banyak
sejarawan meyakini ajaran agama Islam dibawa oleh orang-orang Gujarat.
Faktor Agama Islam dapat berkembang di indonesia, dikarenakan hal-hal sbb:
 Syarat masuk Islam sangat mudah.
 Tidak ada pembagian kasta.
 Telah disesuaikan dengan jalan pemikiran orang indonesia.
 Islam pada masa itu mengusai perdagangan.
Kerajaan yang pertama mucul adalah kerajaan smudra pasai, Demak, Banten, Panjang, Mataram, dan Ternate.
Dalam agama islam tidak menuntut suatu sikap badan tertentu untuk mencapai kesempurnaan hidup
didunia,dan lebih jauh lagi untuk jasmani mencapai kesempurnaan akhirat. Berkembang latihan beladiri untuk
mempertahankan diri dan rekreasi seperti :
 Menuggang kuda.
 Memainkan senjata.
 Kekebalan tubuh.
 Perang.
Ada satu peniggalan yang amat berkembang hingga bisa hingga bisa meluas kemancanegra, yaitu Pencak Silat.
 Zaman Penjajahan Belanda.

Mulai abad ke XIX, mulai berkembang dan diajarkan bentuk-bentuk latihan, yaitu atletik,senam, bola bakar,
sepak bola, dan bola tangan. Sering dipertandingkan nomor-nomor lari, lompat, jalan, lompat, lempar,panca
lomba, dan dasa lomba.

Tahun-Tahun penting berdirinaya beberapa organisasi olahraga di masa penjajahan, yaitu:


 Tahun 1930: PSSI terbentuk di Yogyakarta, dengan ketua Ir. Suratin.
 Tahun 1936: PELTI bediri di Semarang, ketua Dr. Boentara.
 Tahun 1938: ISI (Ikatan Sport Indonesia) beridiri di Jakarta, ketua Soetarjo Hadikusumo.
 Tahun 1938 dan 1942 : dilaksanakan kongres dan pekan Olahraga di Solo dan Jakarta.

 Zaman penjajahan Jepang


Tujuan pendidikan jasmani yang dikembangkan pada masa penjajahan jepang adalah membentuk manusia
yang setia kepada jepang dan memiliki kemampuan berperang. Bentuk-bentuk latihan yang sering dilakukan
Warga Negara Indonesia pada masa pendudukan Jepang, antara lain:
• Kyoreng ( Latihan baris berbaris.)
• Kendo ( bela diri khas Jepang.)
• Taiso (senam)
• Keterampila menggunakan bayonet ( senapan yang pada bagian ujungnya dipasng pisau/bealti).
Latihan yang diberiakan oleh tentara Jepang ini sungguh bermamfaat bagi pergerakan [Link] terlihat
dari perlawanan PETA diberbagai wilayah di Indonesia terhadap Sekutu bahkan terhadap Jepang sendiri.
Masa Kemerdekaan
Pada tahun 1945-1950. Dibentuk Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaannya untuk mengisi
Kemerdekaan, dengan tugas pokok: menyelenggarakan latiahn-latihan fisik dikalangan pemuda serta
mengusahakan rehabilitasi fisik dan mental. Pendidikan Jasmani disusun dan dibentuk untuk pertama kalinya
tanpa modal, tanpa pedoman yang jelas, dan tokoh/pejabat yang berwenang belum ada.
Pembinaan gerakan Olahraga di Indonesia berkembang kearah dua bidang, yaitu:
• Di Sekolah, karena Profesinya.
• Di Masyarakat, atas dasar pengabdian dan bersifat amatir.

Inpeksi Olahraga berubah menjadi inpeksi Pendidikan Jasmani, dengan langkah-langkah yang dilakukan:
1. Dibentuk bagian Pendidikan Jasmani.
2. Kursus aplikasi Pendidikan Jasmani.
3. Diselenggarakan Sekolah Olahraga (SORA).
4. Training Center (TC) dilaksanakan sebagai persiapan mengikuti Olmpyade dilondon.

Pada tahun 1951-1956. Kemajuan pesat terlihat hampir dalam segala segi, baik teknis maupun organisator,
karena setelah tahun 1950 Indonesia mendapatkan kedaulatan dan Negara kesatuan RI. PON dapat berlansung
sesuai rencana. Pada tahun1952 diselenggarakan panca lomba I pelajar SLTP dan SLTA di Semarang, dan II
diSurabaya tahun 1953.
• Tahun 1950: berdiri Akademi Pendidikan Djasmani ( APD) di Yogykarta, sebagai bagian dari Fakultas
Paedagogik UGM. Berdiri Sekolah Guru Pendidikan Djasmani (SGPD) di Bnadung dan Yogyakarta.
• Tahun 1954: Jurusan Pendidikan Jasmani – FKIP bandung, Perguruan Tinggi Pendidikan Guru. Sekolah
Pendidikan Jasmani Tentara di Cimahi.

Pada Tahun 1957 – 1960, perubahan inpeksi pusat Pendidikan Jasmani menjadi Biro Pendidikan Jasmani,
terdari atas :
1. Urusan perencanaan dan penyelidikan
2. Urusan tata usaha, dan
3. Urusan Pendidikan Guru untuk Pendidikan Jasmani.

Tugas dan lapangan kerja yang menjadi bidang garapan Biro Pendidikan Jasmani adalah:
1. Menyelidiki dan merencanakan Pendidikan Jasmani di Sekolah dan di Masyarakat.
2. Merencankan dan mengwasi Pendidikan bidang Pendidikan Jasmani.
3. Hubungan dengan Organisai Bidang Olahraga.

Pada tahun 1957, president Soekarno menekankan bahwa Pendidikan Jasmni sebagai “ Nation Building” , yang
ditanggapi baik oleh Menteri PP dan K, Sarino Mangun – Pranoto.
Pada tahun 1961 – 1965. Dasar-baru pembianaan Olahraga di Indonesia, sesuai dengan amanat Presiden
Soekarno, pada tanggal 9 april 1961 saat menghadapi Asian Games IV dan Thomas Cup, ada tiga hal yang
dianggap sangant prinsip, yaitu:

1. Olahragawan berfungsi membangun manusia Indonesia.


2. Olahragawan harus dedicate, mempersembahkan hidup Indonesia,
3. Segala persiapan untuk national building Indonesia.
Departmen Olahraga ( Depora), dibentuk 7 maret 1962, merupakan aparat pemerintahan yang dipimpin oleh
seorang Menteri Olahraga dalam melakukan pembimbingan dan pengawasan atas semua kegiatan, Olahraga
di dalam Masyarakat yang diatur. Masa kerja sampai 1966, setelah itu pemerintah yang membinaOlahraga
menjadi Dirjen Olahraga dan Pemuda.
Pada tanggal 7 Februari 1963, berdasarkan berita Reuter tentang keputusan IOC untuk menskor keanggotaan
Indonesia untuk waktu yang tidak ditentukan, kareana penolakan indonesia terhadap Israel dan Taiwan saat
Asian Games IV. Tanggal 9 Februari 1963, harian AP Menyiarkan tentang keputusan Executive Board IOC.
Presiden akhirnya memmutuskan unutukkeluar dari IOC pada tanggal 14 Februari 1963, untuk menentang
tindakan pimppinan IOC yang sewenang-wenang.
Alasan keluar dari IOC, karena keputasan diambil tanpa mendengar Indonesia, meskipun indonesia sudah
berusaha untuk menyelesaikan dengan IOC, Ketua KOI Sri Paku Alam VII, mengundang ketua IOC lewat Surat
kawat,tanggal 18 Desember 1962, tetapi ditolak pada tanggal 15 Januari 1963.
Sedangkan IOC pada tanggal 26 juni 1963, telah memutuskn mencabut skorsing atas Indonesia, tanpa syarat
apapun (without further qualification) menurut pendapat umum, menganggap keputusan IOC sebagai
kemenangan Indonesia. Salah satu pertimbangannya adalah untuk menghindari pemboikotan Olympiade oleh
Negara-negara Asia serta Arab.
Pada tahun 1966-1967, merupakan akhir dari masa DEPORA dan DORI ( Dewan Olahraga Indonesia). Masa
sebelum tahun 1966 inisiatif dari DEPORA , sehingga mengakibatkan sector Top-top Organisasi Olahraga
timbul ketidak puasan dan ketegangan antara Pembina.
Top-top Organisasi berpendapat adanya DORI memotong hak-hak Organisasi Olahgara, sehingg kehilangan
kedaulatannya. Langakah yang diamabil oleh top-top Organisasi adalah membentuk sekretariat
bersama,dengan ketua eksekutif Menteri Olahraga.
Lahirlah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) “versi lama” merupakan perpaduan antara konsep
sekretaris bersama dengan konsep Maladi (saat itu sebagai Menteri Olahraga) yang dituangkan dalam
keputusan Presiden (keppres) 143 A dan 156 A tahun 1966. Yang berisi antara lain tentang struktur
Organisasidan personalia [Link] KONI yang terbentuk dari perpaduan konsep tersebut akhirnya praktis
tidak berjalan/macet. Hal ini dikarenakan tidak adanaya dukungan yang memadai dari Top-top Olahraga yang
tergabung dalam sekretariat bersama.
Lahirnya KONI “versi baru”. Dalam susunan Kabinet Ampera, Departemen Olahraga diciutkan dan dijadikan
Direktorat Jenderal Olahraga([Link].S) yang ada dalam Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P dan
K), berinisiatif mengadakan pertemuan antara top-top Organisasi Olahraga, sekretariat bersama dan Dirjen
Olahraga.
Keputusan antara lain, menytakan bahwa KONI sifatnya harus non govermental dan Independent, tidak
dikuasai oleh Pemerintah, tetapi diharapkan sebagai partner pihak Pemerintah, peng-orde baruan bidang
keOlahragaan agar tidak tergantung di satu tangan. Pada tanggal 31 Desember 1966 tepat pada pukul 12.00
Wib, terbentuklah KONI, ini tertuang dalam Keppres No.57.
• Lahir atas kehendak Masyarakat pembina Olahraga sendiri.
• Kekuasaan tertinggi pada Musorna.
• Tugas dan wewenang membantu pemerintah(dirjen Pemerintah).
• Keanggotaan KONI: top-top organisasi Olahraga dan badan-badan keolahragaan fungsional.
 Festival Olahraga Nasional Pertama di Vietnam

(VOVworld) - Kami dengan gembira bertemu kembali dengan saudara-saudara dalam acara: "Kotak Surat Anda"
untuk hari ini. Pada pekan ini, kanal siaran luar negeri(VOV5) menerima 191 surat dari 34 negara dan teritorial di dunia,
diantaranya program siaran bahasa Indonesia menerima 22 surat dan laporan hasil pemantauan siaran Radio dari saudara-
saudara Soebianto W di Jakarta Barat, Suriani di Banjarmasin, Mariadi Purnomo di Deli Serdang, M. Zainal di Jambi dan
banyak pendengar lain. Pada pekan lalu, kami juga telah menerima banyak surat pos dan 3 buletin dari Borneo’Listener
Club dan Anda Club. Terimakasih banyak karena Anda Sekalian telah memantau siaran, mengirim surat dan laporan hasil
pemantauan Radio kepada kami.

Festival Olahraga Nasional Vietnam


(Foto: [Link])

Dalam acara: "Kotak Surat Anda" untuk hari ini, kami akan memperkenalkan sepintas lintas tentang cabang
Olahraga Vietnam menurut permintaan dari saudara Suriani di Banjarmasin dan akan berbincang-bincang dengan saudara
Soebianto di Jakarta Barat.

Saudara Suriani yang budiman! Kami dengan gembira ingin berbincang-bincang dengan saudara pada acara kita
untuk hari ini. Dalam surat kepada VOV5, Anda menulis: “ Lewat acara Kotak Surat Anda, aku mau bertanya apakah di
Vietnam ini juga diadakan pekan raya olahraga nasional?”

Ilustrasi.
(Foto:internet).

Saudara Suriani dan saudara-saudara yang budiman! “ Menjaga demokrasi, membangun negara, membangun
kehidupan baru, semuanya memerlukan kesehatan barulah bisa mencapai kemenangan”. Demikianlah seruan yang
dikeluarkan Presiden Ho Chi Minh pada 27 Maret 1946 untuk merangsang seluruh rakyat supaya melakukan latihan jasmani
dan mengembangkan mata-mata olahraga tradisional, permainan- permainan rakyat… Ta Quang Chien, Mantan Kepala
Direktorat Olahraga Vietnam mengatakan: “ Saya dengan mata kepala sendiri menyaksikan Presiden Ho Chi Minh berseru
kepada seluruh rakyat bersenam dan setelah itu, Presiden Ho Chi Minh juga menghadiri upacra pencanangan seluruh
rakyat latihan bersenam di kota Hanoi. Saban hari, saya menyaksikan Presiden Ho Chi Minh bersenam . Beliau menjadi
teladan”.

Ilustrasi.
(Foto: internret)

Pada 1991, Pemerintah Vietnam telah memilih 27 Maret saban tahun sebagai “Hari Olahraga Vietnam” untuk
menyerap berbagai lapisan rakyat supaya berpartisipasi pada gerakan latihan zasmani dan aktivitas - aktivitas kebudayaan
dan olahraga yang sehat, bersamaan itu membuka Festival Olahraga Nasional yang pertama. Ini adalah pesta besar tentang
kebudayaan, olahraga Vietnam bertujuan membela dan mengembangkan tradisi kebudayaan dan olahraga bangsa Vietnam,
memberikan dorongan semangat rakyat, terutama kaum pemuda dan anak - anak, berpartisipasipasi pada aktivitas-aktivitas
olahraga, memuji prestasi- prestasi dan kemajuan dalam gerakan olahraga Vietnam.

Ilustrasi

(Foto: [Link] )

Festival ke 7 Olahraga Nasional yang direncanakan dibuka pada 16 April 2014 mendatang di propinsi Nam Dinh
(Vietnam Utara). Pada Festival Olahraga ini akan ada 13 mata olahraga resmi, diantaranta ada sepak bola, bola volley, tenis
meja, badminton, atletik, tarik- menarik, taekwondo, Vovinam dll….

Vovinam .
(Foto: [Link])

Saudara Suriani dan para pendengar yang budiman! Mudah - mudahan, Anda sekalian merasa puas dengan
penjelasan singkat di atas.

Pendengar selanjutnya yang mau kami ajak berbincang-bincang yalah saudara Soebianto di Jakarta Barat. Saudara
yang budiman! Kami dengan gembira menerima surat dan laporan hasil pemantauan siaran Radio yang terinci dari Anda
terhadap siaran bulan Oktober, November dan Desember 2012, serta Januari 2013. Dalam surat, Anda memberitahukan
bahwa kualitas gelombang VOV5 pada dua frekuensi 9840 Khz dan 12020 Khz kebanyakan terdengar dengan jelas, kualitas
gelombang baik. Pada waktu yang akan datang, kami akan mengirim suvenir lagi kepada Anda. Mudah-mudahan, dalam
surat mendatang, Anda akan menyampaikan penilaian tentang isi dan cara membaca dari para penyiar VOV. Semoga, Anda
dan keluarga sehat walaafiat.

Para pendengar, kami telah menerima 13 jawaban kuiz bulan Februari dari para pendengar, diantaranya saudara
[Link].D di Lombok Timur telah menyampaikan jawaban yang paling akurat.

Saudara M Jayadi D yang budiman, kami akan mengirim hadiah pertama kepada Anda secepat mungkin. Selamat
menunggu./.

Festival Olahraga Internasional


Olimpiade adalah ajang olahraga internasional empat tahunan yang mempertandingkan cabang-cabang olahraga
musim panas dan musim dingin serta diikuti oleh ribuan atlet yang berkompetisi dalam berbagai pertandingan
olahraga. Olimpiade merupakan kompetisi olahraga terbesar dan terkemuka di dunia, dengan lebih dari 200
negara berpartisipasi. Awalnya, Olimpiade hanya berlangsung di Yunani kuno sampai akhirnya pada tahun 393
M Olimpiade kuno ini dihentikan oleh Kaisar Romawi, Theodosius. Olimpiade kemudian dihidupkan kembali
oleh seorang bangsawan Perancis bernama Pierre Frèdy Baron de Coubertin pada tahun 1896.

Dalam kongres pada tahun 1894 yang diselenggarakan di Paris, didirikanlah Komite Olimpiade Internasional
(IOC) dan ibu kota Yunani, Athena dipilih sebagai tuan rumah Olimpiade modern pertama tahun 1896.
Selanjutnya, sejak tahun 1896 sampai sekarang, setiap empat tahun sekali Olimpiade Musim Panas senantiasa
diadakan kecuali tahun-tahun pada masa Perang Dunia II.

Olimpiade Musim Panas 2012, secara resmi bernama Games of the XXX Olympiad atau “Olimpiade London
2012″, dilaksanakan di London, Inggris, Britania Raya mulai tanggal 27 Juli sampai 12 Agustus 2012. London
menjadi kota pertama yang secara resmi mengadakan Olimpiade modern sebanyak tiga kali, setelah tahun 1908
dan 1948. Di Indonesia, Olimpiade yang sering dikenal dan secara rutin diikuti adalah Olimpiade Musim Panas.
Indonesia sendiri pertama kali berpartisipasi pada Olimpiade Helsinki 1952 di Finlandia, dan tak pernah absen
berpartisipasi pada tahun-tahun berikutnya, kecuali pada tahun 1964 dan 1980. Sejarah Olimpiade Sejak ribuan
tahun lalu bangsa Yunani sudah mengenal olahraga dalam arti yang paling sederhana. Mereka melakukannya
untuk kepentingan pasukan perang atau kemiliteran. Dengan berolahraga diharapkan para prajurit akan tangkas
dan sigap dalam bertempur. Olimpiade yang paling awal konon sudah diselenggarakan bangsa Yunani kuno
pada tahun 776 Sebelum Masehi. Kegiatan itu diikuti seluruh bangsa Yunani dan dilangsungkan untuk
menghormati dewa tertinggi mereka, Zeus.

Zeus bermukim di Gunung Olimpus yang kemudian dipakai sebagai nama Olimpiade hingga sekarang.
Olimpiade kuno juga diselenggarakan setiap empat tahun, para olahragawan terbaik dari seluruh Yunani
berdatangan ke arena di sekitar Gunung Olimpus. Mereka bertanding secara perorangan, bukan atas nama tim.
Para atlet yang akan bertanding terlebih dulu berlatih keras selama sepuluh bulan di daerah masing-masing.
Dulu, di Yunani sering terjadi perang saudara, namun ketika pesta olahraga berlangsung, pihak yang bertikai
melakukan gencatan senjata. Siapa yang melanggar konsensus akan dikenakan denda.

Bangsa Sparta pernah diharuskan membayar denda karena melanggar gencatan senjata selama Perang
Peloponnesus. Menjelang pertandingan, panitia pelaksana menyembelih babi kurban. Saat ini di wilayah
Olympia, Yunani terdapat sekelompok bangunan kecil dan gelanggang di alam terbuka. Sisa-sisa puing
gelanggang latihan itu merupakan peninggalan arkeologis yang dilestarikan pemerintah Yunani.

Pada pesta Olimpiade kerap terjadi perjanjian perdamaian atau persekutuan antar bangsa. Juga timbul berbagai
kegiatan transaksi. Barang-barang yang dijajakan antara lain anggur, makanan, jimat, dan benda-benda ibadah.
Olimpiade kuno mempertandingkan cabang-cabang atletik seperti lari, loncat, dan lempar. Ada juga pacuan
kuda dan pacuan kereta. Karena aturannya belum baku, para penonton sering terkena lemparan batu atau
ditabrak kereta kuda para peserta. Di Olympia juga masih dijumpai batu-batu yang merupakan pijakan olahraga
lari. Pijakan batu itu disusun sedemikian rupa agar para pelari bisa mendapat ruang gerak ke kiri dan ke kanan.
Pada saat start para pelari harus menempatkan telapak kaki pada batu-batu pijakan itu. Ada pula panel-panel
tentang lomba lari khusus membawa perisai. Lomba ini banyak disukai penonton karena dianggap lucu.

Pembukaan Olimpiade selalu diwarnai lomba kereta dengan empat kuda. Sekitar 40 kereta dijajarkan dalam
kandang di gerbang keluar. Jarak yang ditempuh hampir 14 km, yakni 12 kali pulang pergi antara dua tiang batu
yang ditancapkan di tanah. Berbeda dengan Olimpiade modern, dulu mahkota kemenangan tidak diberikan
kepada sais atau joki, melainkan kepada pemilik kereta dan kuda yang umumnya orang-orang kaya. Orang kaya
yang haus kehormatan biasanya mengirim paling sedikit tujuh kereta kuda untuk mengikuti perlombaan.
Berbagai pertandingan dalam Olimpiade kuno boleh dikatakan serba keras. Para pelari berpacu secepat-cepatnya
tanpa memakai alas kaki. Para penunggang kuda berlomba habis-habisan tanpa pelana atau sanggurdi.

Para peloncat membawa pemberat yang diayun-ayunkan untuk menambah dorongan maju. Olahraga yang
terkeras adalah pankration, yakni perpaduan antara gulat dan tinju gaya tradisional. Para atlet boleh menyepak
atau mencekik lawan, yang tidak diperbolehkan adalah memijit mata, menggigit, dan mematahkan jari. Fairplay
benar-benar diperhatikan para atlet. Beberaba artefak purba memperlihatkan adegan tinju antara dua atlet.

Pemenang adu tinju adalah pihak yang dapat memukul kepala lawan. Pihak yang kalah harus mengacungkan jari
tanda mengaku kalah. Olimpiade kuno hanya boleh ditonton dan diikuti oleh para pria. Sebab para atlet harus
bertanding dengan tubuh telanjang, kecuali untuk kesempatan khusus, seperti lomba kereta kuda. Mereka
berbusana beraneka ragam untuk menunjukkan status sosial si pemilik kereta dan kuda.

Bagi orang Yunani telanjang merupakan cara paling sesuai untuk berolahraga. Mereka bangga kalau memiliki
tubuh yang atletis. Pemenang pertandingan mendapatkan mahkota dedaunan, seperti daun zaitun liar sebagai
pengganti medali. Kadang-kadang sang juara diarak masuk kota melalui sebuah lubang yang dibuat khusus pada
tembok kota. Mereka dielu-elukan di jalan kota dan disambut pembacaan puisi. Penghargaan lain kepada
olahragawan berprestasi berupa pembebasan dari pajak dan mendapat makanan gratis. Beberapa kota juga
memberikan bonus uang dalam jumlah besar. Bahkan di kota kediaman pemenang didirikan patung mereka.
Banyak patung batu dan perunggu masih tersisa sampai kini dan itulah hadiah paling abadi milik sang juara.

Salah satu bagian cabang atletik yang masih tetap dikenal hingga kini adalah maraton, yakni perlombaan lari
sejauh kira-kira 42 km. Olimpiade mencapai puncaknya di abad ke-6 dan ke-5 SM, tetapi kemudian secara
bertahap mengalami penurunan seiring jatuhnya Yunani ke tangan Romawi. Tidak ada konsensus yang
menyatakan secara resmi mengenai berakhirnya Olimpiade, namun teori yang paling umum dipegang saat ini
adalah pada tahun 393 M, saat Kaisar Romawi, Theodosius menyatakan bahwa semua budaya praktek-praktek
kuno Yunani harus dihilangkan.

Kemudian, pada tahun 426 M, Theodosius II memerintahkan penghancuran semua kuil Yunani. Setelah itu,
Olimpiade tidak diadakan lagi sampai akhir abad ke-19. Ajang olahraga pertama yang pelaksanaannya serupa
dengan Olimpiade kuno adalah L’Olympiade de la République, sebuah festival olahraga nasional yang diadakan
pada tahun 1796 sampai 1798 selama masa Revolusi Perancis. Dalam pelaksanaannya, ajang ini mengadopsi
beberapa peraturan-peraturan yang berlaku dalam Olimpiade kuno. Ajang ini juga menandai diterapkannya
sistem metrik ke dalam cabang-cabang olahraga.

Pada tahun 1850 sebuah Kelas Olimpiade didirikan oleh Dr. William Penny Brookes di Much Wenlock,
Shropshire, Inggris. Selanjutnya, pada tahun 1859, Dr. Brookes mengganti nama Kelas Olimpiade menjadi
Olimpiade Wenlock. Ajang tersebut tetap diadakan hingga hari ini. Tanggal 15 November 1860, Dr. Brookes
membentuk Perkumpulan Olimpiade Wenlock. Antara tahun 1862 dan 1867, di Liverpool diadakan ajang Grand
Olympic Festival. Ajang ini dicetuskan oleh John Hulley dan Charles Melly dan merupakan ajang olahraga
pertama yang bersifat internasional, meskipun atlet-atlet yang berpartisipasi kebanyakan merupakan “atlet
amatir”.

Penyelenggaraan Olimpiade modern pertama di Athena pada tahun 1896 hampir identik dengan Olimpiade
Liverpool. Pada tahun 1865, Hulley, Dr. Brookes dan EG Ravenstein mendirikan Asosiasi Olimpiade Nasional
di Liverpool, yang merupakan cikal bakal terbentuknya Asosiasi Olimpiade Britania Raya. Selanjutnya, pada
tahun 1866, sebuah ajang bernama Olimpiade Nasional Britania Raya diselenggarakan di London untuk pertama
kalinya. Semangat bangsa Yunani untuk menghidupkan kembali Olimpiade dimulai seiring dengan
berlangsungnya Perang Kemerdekaan antara Yunani dengan Kekaisaran Ottoman pada tahun 1821.

Ide untuk membangkitkan Olimpiade pertama kali dicetuskan oleh seorang penyair dan editor majalah bernama
Panagiotis Soutsos lewat puisinya yang berjudul “Dialogue of the Dead” yang diterbitkan pada tahun 1833.
Evangelis Zappas, seorang bangsawan Yunani-Rumania adalah orang yang pertama kali menulis kepada Raja
Otto, menawarkan untuk mendanai kebangkitan Olimpiade. Zappas mensponsori penyelenggaraan Olimpiade
pada tahun 1859 yang diselenggarakan di pusat kota Athena. Atlet-atlet yang berpartisipasi dalam ajang tersebut
berasal dari Yunani dan Kekaisaran Ottoman. Zappas juga mendanai perenovasian Stadion Panathinaiko kuno
agar dapat dipakai sebagai tempat penyelenggaraan Olimpiade pada tahun-tahun berikutnya. Stadion
Panathinaiko digunakan sebagai tempat penyelenggaraan Olimpiade tahun 1870 dan 1875. Sekitar Tiga puluh
ribu penonton menghadiri Olimpiade pada tahun 1870 namun tidak ada catatan kehadiran resmi yang tersedia
untuk penyelenggaraan Olimpiade tahun 1875. Pada tahun 1890, setelah menghadiri Olimpiade Wenlock,
seorang sejarawan Perancis bernama Baron Pierre de Coubertin terinspirasi untuk mendirikan Komite
Olimpiade Internasional (International Olympic Committee/IOC). Coubertin punya ide untuk
menyelenggarakan suatu ajang Olimpiade internasional setiap empat tahun sekali berdasarkan ajang Olimpiade
Yunani yang dibangkitkan oleh Brookes dan Zappas. Dia mempresentasikan ide ini dalam kongres pertama IOC
yang berlangsung pada tanggal 16-23 Juni 1984 di Universitas Sorbonne, Paris.
Pada hari terakhir kongres, diputuskan bahwa penyelenggaraan Olimpiade internasional berada di bawah
naungan IOC dan penyelenggaraan pertamanya akan dilangsungkan di Athena, Yunani pada tahun 1896. Hasil
kongres juga memutuskan bahwa Demetrius Vikelas dari Yunani terpilih sebagai presiden IOC pertama.

Olimpiade pertama yang diadakan di bawah naungan IOC berlangsung di stadion Panathinaiko, Athena, pada
tahun 1896. Olimpiade pertama ini diikuti oleh 14 negara dengan total 241 atlet yang berlaga dalam 43
pertandingan. Seperti janjinya pada Pemerintah Yunani, Zappas dan sepupunya, Konstantinos Zappas turut
membantu membiayai penyelenggaraan Olimpiade 1896. George Averoff, seorang pengusaha Yunani bersedia
untuk mendanai perenovasian stadion dalam rangka persiapan Olimpiade. Pemerintah Yunani juga turut
menyediakan dana, berharap dana tersebut dapat diperoleh kembali melalui penjualan tiket dan dari
penjualan set perangko peringatan Olimpiade pertama. Sebagian besar atlet yang berpartisipasi dalam
Olimpiade Athena 1896 berasal dari Yunani, Jerman, Perancis, dan Britania Raya. Negara-negara tersebut juga
menguasai perolehan medali. Pada saat itu, wanita tidak boleh berpartisipasi. Penyelenggara menyebut
kesertaan mereka tidak praktis, tidak menarik, dan tidak tepat. Sekitar 80.000 penonton hadir, termasuk Raja
George I dari Yunani. Meskipun Yunani tidak berpengalaman dalam menyelenggarakan ajang olahraga
internasional dan awalnya juga mempunyai masalah keuangan, namun akhirnya berhasil mempersiapkan
segalanya tepat waktu. Jumlah atlet yang berpartisipasi juga terbilang kecil jika dibandingkan dengan ukuran
saat ini, namun Olimpiade 1896 merupakan keikut sertaan internasional terbesar untuk ajang olahraga pada
masanya. Olimpiade tersebut pun terbukti sukses bagi rakyat Yunani.
Daftar pustaka

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

ttp://[Link]/2012/11/[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

Anda mungkin juga menyukai