BAB II
URAIAN PROSES
2.1 Bahan Baku dan Produk
2.1.1 Spesifikasi Bahan Baku dan Produk
Proses pembuatan asam akrilat memerlukan bahan baku propilena dengan
kemurnian 98,4% yang diperoleh dari PT. Pertamina Balongan dan oksigen yang
diperoleh dari udara serta katalis pada reaktor I adalah
Co4Fe1Bi1W2Mo10Si1.35K0.06 dan pada reaktor II adalah Mo12V4.6Cu2.2W2.4 untuk
mempercepat reaksi pada reaktor. Penjelasan mengenai spesifikasi dan sifat fisik
dari bahan-bahan yang digunakan dapat dilihat pada tabel 2.1.1, 2.1.2, 2.1.3, dan
2.1.4 berikut.
Tabel 2.1.1 Sifat fisik bahan baku
Nama Zat
Indikator
Propilena Propana
Rumus Molekul C3H6 C3H8
Fasa (27 ℃) Gas Gas
Berat Molekul (g/gmol) 42 44,11
Titik didih (℃) -47,7 -161,48
Densitas 25oC (g/cm3) 0,612 0,493
Mudah terbakar Mudah terbakar
Sifat Bahan
dan tidak beracun dan tidak beracun
Sumber : (Praxair, 2018) & (Science Lab, 2018)
7
Tabel 2.1.2 Sifat fisik bahan katalis reaktor I
Nama Zat
Indikator Ammonium Ammonium Bismuth Nitric
Cobalt nitrate Ferric nitrate
Molybdate paratungstate nitrate acid
Rumus (NH4)6Mo7O (NH4)10-W12- Bi(NO3)3.5
Co(NO3)2.6H2O Fe(NO3)3.9H2O HNO3
Molekul 24.4H2O O41.xH2O H2O
Fasa (27 ℃) Padat Padat Solid Solid Padat Liquid
Berat
Molekul 1235,86 3042,44 291,03 404 485,1 63
(g/gmol)
74 100
Titik didih
Tidak ada Tidak ada (decomposition (decomposition Tidak ada 121
(℃)
temperature) temperature)
Densitas
2,4989 2,3 1,889 1,68 2,839 1,522
o 3
25 C (g/cm )
korosif, korosif,
korosif, tidak korosif, tidak korosif, tidak korosif,
beracun beracun
beracun dan beracun dan beracun dam beracun dan
Sifat Bahan dan tidak dan tidak
tidak mudah tidak mudah tidak mudah tidak mudah
mudah mudah
terbakar terbakar terbakar terbakar
terbakar terbakar
Sumber : Science Lab, 2018
8
Tabel 2.1.3 Sifat fisik bahan katalis reaktor II
Nama Zat
Indikator Ammonium Ammonium Ammonium Ammonium
Copper nitrate
paratungstate metavanadate Molybdate bichromate
(NH4)10-
(NH4)6Mo7
Rumus Molekul W12- NH4VO3 (NH4)2Cr2O7 Cu(NO3)2.3H2O
O24.4H2O
O41.xH2O
Fasa (27 ℃) Padat Solid Padat Padat Padat
Berat Molekul
3042,44 116,98 1235,86 252,1 241,6
(g/gmol)
170
Titik didih (℃) Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada (decomposition
temperature)
Densitas 25oC (g/cm3) 2,3 2,32 2,4989 2,115 8,89
tidak
korosif,
tidak korosif, tidak korosif, korosif, korosfif,
beracun dan
beracun dan beracun dan beracun dan beracun dan
Sifat Bahan mudah
tidak mudah tidak mudah tidak mudah tidak mudah
terbakar
terbakar terbakar terbakar terbakar
pada suhu
tinggi
Sumber : Science Lab, 2018
9
Tabel 2.1.4 Sifat fisik bahan produk
Nama Zat
Indikator Karbon
Asam akrilat Akrolein Asam asetat
Dioksida
Rumus Molekul C3H4O2 C3H4O CO2 CH3COOH
Fasa (27 ℃) Liquid Liquid Gas Liquid
Berat Molekul
72,06 56,06 44,01 60,05
(g/gmol)
Titik didih (℃) 141 52,5 -78,5 118,1
Densitas 25oC
1,0519 0,8399 0,23879 1,049
3
(g/cm )
korosif, korosif, tidak korosif, korosif,
beracun dan beracun dan tidak beracun beracun dan
Sifat Bahan
mudah mudah dan tidak mudah mudah
terbakar terbakar terbakar terbakar
Sumber : (Science Lab, 2018) & (Airgas, 2018)
10
2.1.2 Standar Produk
Dalam pembuatan asam akrilat, target spesifikasi produk yang ingin
dihasilkan mengacu pada standar SNI 7861:2013.
Tabel 2.3 Spesifikasi produk asam akrilat
Parameter Satuan Kadar Metode Uji
Warna APHA Max 15 ASTM D1209-05E1
Kemurnian % (b/b) Min 99,0 ASTM E301-94
Kadar Air % (b/b) Max 0,30 ASTM E203-08
Konsentrasi MEHQ mg/kg 180-220 ASTM D3125-06
Sumber : SNI, 2013
2.2 Uraian Proses
2.2.1 Pengolahan Awal (Pretreatment)
Bahan baku yang digunakan pada proses ini yaitu propilena, steam dan
oksigen yang berasal dari udara. Propilena dengan konsentrasi 98,4% disimpan
dalam keadaan fasa cair pada tangki (T-01) pada temperatur 28oC dan tekanan 13
atm. Penyimpanan propilena dalam fasa cair dilakukan untuk memperkecil
volume penyimpanan. Kemudian propilena dipompakan (P-01) menuju expansion
valve (EV-01) untuk menurunkan tekanan menjadi 3 atm dimana penurunan
tekanan propilena sekaligus menyebabkan perubahan fasa propilena dari cair
menjadi gas. Selanjutnya umpan dialirkan menuju heater (H-01) yang berfungsi
untuk menaikan temperatur menjadi 325oC sehingga propilena siap diumpankan
menuju reaktor multi tubular fixed-bed (R-01). Bahan baku selanjutnya adalah
oksigen yang didapatkan dari udara. Udara kemudian terlebih dahulu dilewatkan
11
filter (F-01) untuk menyaring kotoran dan debu, selanjutnya udara dialirkan
menuju kompresor (K-01) untuk menaikkan tekanan menjadi 3 atm. Keluaran
compressor terbagi menjadi 2 aliran dimana aliran pertama kemudian akan
dipanaskan dengan menggunakan heat exchanger (HE-01) kemudian menuju
heater (H-01) untuk pemanasan lanjutan hingga suhu 325°C. Bahan baku terakhir
adalah steam yang diperoleh dari unit utilitas yang dialirkan bersama dengan gas
propilena dan oksigen menuju reaktor (R-01).
2.2.2 Proses Inti
Bahan baku berupa propilena, udara, dan steam pada kondisi 325oC dan
tekanan 3 atm dicampur dengan komposisi aliran masuk propilena sebesar 5,5%,
steam 10%, oksigen 12,5% dan sisanya adalah nitrogen. Campuran tersebut
kemudian diumpankan ke reaktor I (R-01) dengan tipe multi tubular fixed-bed
yang dioperasikan pada temperatur 325oC dan tekanan 3 atm. Reaktor fixed bed
digunakan karena reaksi yang terjadi di dalam reaktor berlangsung pada fasa gas
dan menggunakan katalis padat yang ditempatkan di dalam tube. Katalis yang
digunakan pada Reaktor I (R-01) adalah Co4Fe1Bi1W2Mo10Si1.35K0.06 yang
menghasilkan konversi propilena total sebesar 98% (Ullmann, 2005). Reaksi yang
terjadi di dalam reaktor I (R-01) adalah sebagai berikut :
Reaksi utama :
C3H6 + O2 → C3H4O + H2O. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .(2.1)
Propilena Oksigen Akrolein Air
12
Reaksi samping :
C3 H6 + ³⁄₂ O2 → C3 H4O2 + H2O . . . . . . . . . . . . . . .. . (2.2)
Propilena Oksigen Asam Akrilat Air
C3 H6 + ⁵⁄₂ O2 → C2H4O2 + CO2 + H2O … (2.3)
Propilena Oksigen Asam Asetat Karbon Dioksida Air
Dari reaksi tersebut diperoleh keluaran produk dengan reaksi utama dan
reaksi samping. Selektivitas dari akrolein sebesar 90% pada reaksi (2.1),
sedangkan selektivitas terhadap asam akrilat sebesar 6% pada reaksi (2.2)
(Ullmann, 2005). Reaktor I (R-01) dioperasikan pada keadaan isotermal sehingga
aliran keluar dari reaktor berada pada temperatur 325oC dan tekanan 3 atm.
Sebelum memasuki reaktor II (R-02) kondisi aliran perlu diturunkan suhunya
terlebih dahulu dengan menggunakan heat exchanger (HE-01) kemudian
didinginkan lebih lanjut di dalam cooler (C-01) agar memenuhi kondisi operasi
reaktor II (R-02) yaitu 220oC dan 3 atm. Pada reaktor II (R-02) berlangsung
reaksi, yakni :
C3H4O + ½ O2 → C3 H4O2 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.4)
Akrolein Oksigen Asam Akrilat
Pada reaktor II (R-02) katalis yang digunakan adalah Mo12V4.6Cu2.2W2.4
dengan konversi akrolein 100% (Ullmann, 2005). Pada reaktor II (R-02) perlu
ditambahkan oksigen dengan perbandingan mol oksigen terhadap propilena awal
adalah sebesar 2.2.
Reaksi yang terjadi pada kedua reaktor bersifat eksotermis (Ullmann,
2005) sehingga diperlukan pendingin berupa air pendingin pada masing-masing
13
reaktor untuk menjaga agar suhu pada reaktor konstan karena umur katalis akan
menurun dengan semakin naiknya temperatur.
2.2.3 Proses Pemurnian
Aliran produk dari reaktor II (R-02) berupa campuran asam akrilat, asam
asetat, air, nitrogen, karbon dioksida, serta sisa propilena dan propana yang
berasal dari pengotor bahan baku propilena. Produk tersebut diturunkan
tekanannya dengan mengunakan ekspander (EX-01) menjadi tekanan 1 atm
kemudian diturunkan suhunya hingga 30oC dengan menggunakan cooler (C-02).
Aliran keluaran cooler (C-02) diumpankan ke dalam separator (S-01), sehingga
komponen yang terkondensasi akan mengalir pada bagian bawah, sedangkan fasa
gas yang tidak terkondensasi akan mengalir ke bagian atas dan memasuki menara
absorpsi (AB-01) untuk memaksimalkan perolehan asam akrilat yang masih
terbawa aliran fasa gas dengan cara mengontakkan aliran fasa dengan air. Produk
bawah dari menara absorpsi (AB-01) dicampur dengan produk fasa cair dari
separator (S-01). Sedangkan produk atas menara absorpsi (AB-01) dialirkan ke
dalam insenerator untuk dibakar.
Aliran campuran produk bawah dari menara absorpsi (AB-01) dan produk
fasa cair dari separator (S-01) dialirkan menuju kolom ekstraksi (EKS-01) melalui
bagian atas, sedangkan pelarut yang berupa butil asetat dialirkan dari bagian
bawah kolom ekstraksi. Produk bawah kolom ekstraksi yang sebagian besar
berupa air kemudian dialirkan menuju unit utilitas untuk diolah kembali menjadi
air penjerap di unit absorber, sedangkan produk atas kolom ekstraksi diumpankan
kedalam kolom destilasi I (D-01) untuk proses pemurnian produk. Produk bawah
14
kolom destilasi I (D-01) yang berupa asam akrilat dengan kemurnian 99,09%
berat kemudian dialirkan dengan menggunakan pompa (P-08) menuju cooler (C-
03) untuk diturunkan suhunya menjadi 28°C kemudian disimpan didalam tangki
produk (T-03). Produk atas menara destilasi I (D-0) kemudian dimasukkan ke
menara destilasi II (D-02) untuk dilakukan pemurnian pelarut butil asetat, produk
bawah yang berupa pelarut butil asetat kemudian di recycle untuk dicampur
dengan fresh solvent yang digunakan pada kolom ektraksi.