0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan8 halaman

Lokasi dan Ketinggian Gunung Merapi

Gunung Merapi (ketinggian 2.930 mdpl) adalah gunung berapi aktif di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Letusannya terjadi setiap 2-5 tahun dan membahayakan permukiman padat di sekitarnya. Beberapa letusan besar terjadi pada tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan terakhir pada 2010 menewaskan 273 orang meski sudah dievakuasi.

Diunggah oleh

Noffri Setyatuhu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan8 halaman

Lokasi dan Ketinggian Gunung Merapi

Gunung Merapi (ketinggian 2.930 mdpl) adalah gunung berapi aktif di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Letusannya terjadi setiap 2-5 tahun dan membahayakan permukiman padat di sekitarnya. Beberapa letusan besar terjadi pada tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan terakhir pada 2010 menewaskan 273 orang meski sudah dievakuasi.

Diunggah oleh

Noffri Setyatuhu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Gunung Merapi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Untuk gunung di Jawa Timur dengan nama yang sama, lihat Gunung Merapi (Jawa Timur).
Untuk gunung di Sumatera Barat dengan nama yang mirip, lihat Gunung Marapi.

Gunung Merapi

Gunung Merapi, dilihat dari objek wisata Kaliadem


Titik tertinggi
Ketinggian 2.930 m (9.610 ft)
Puncak 1.356 m (4.449 ft)
Isolasi 85 km (53 mi)
Puncak induk Puncak Anyar
 Ribu
 Tipe A
Masuk dalam daftar
Penamaan
Nama terjemahan gunung berapi (Jawa Kuno)
Geografi

Merapi
Peta lokasi
 Klaten
 Boyolali
 Magelang

(Jawa Tengah)
Kabupaten Sleman (Daerah
Letak Istimewa Yogyakarta)
Geologi
Usia batuan 400.000 tahun
Jenis gunung Gunung berapi kerucut
Sabuk vulkanik Cincin Api Pasifik
Letusan terakhir 1 Juni 2018 (erupsi freatik)
Pendakian
Rute termudah New Selo
 New Selo
 Sapuangin
Rute normal

Gunung Merapi (ketinggian puncak 2.930 mdpl, per 2010) adalah gunung berapi di bagian
tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi
selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan
sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat,
Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan
hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun
2004.

Gunung ini sangat berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi setiap dua
sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh permukiman yang sangat padat. Sejak tahun
1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali.[butuh rujukan] Kota Magelang dan Kota
Yogyakarta adalah kota besar terdekat, berjarak kurang dari 30 km dari puncaknya. Di
lerengnya masih terdapat permukiman sampai ketinggian 1700 m dan hanya berjarak empat
kilometer dari puncak. Oleh karena tingkat kepentingannya ini, Merapi menjadi salah satu
dari enam belas gunung api dunia yang termasuk dalam proyek Gunung Api Dekade Ini
(Decade Volcanoes).[1]

Geologi

Litografi sisi selatan Gunung Merapi pada tahun 1836, dimuat pada buku tulisan Junghuhn.

Gunung Merapi adalah gunung termuda dalam rangkaian gunung berapi yang mengarah ke
selatan dari Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, dan Gunung Merapi. Gunung ini terbentuk
karena aktivitas di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng
Eurasia menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah Pulau Jawa.
Puncak yang sekarang ini tidak ditumbuhi vegetasi karena aktivitas vulkanik yang tinggi.
Puncak ini tumbuh di sisi barat daya puncak Gunung Batulawang yang lebih tua.[2]

Proses pembentukan Gunung Merapi telah dipelajari dan dipublikasi sejak 1989 dan
seterusnya.[3] Berthomier, seorang sarjana Prancis, membagi perkembangan Merapi dalam
empat tahap.[4] Tahap pertama adalah Pra-Merapi (sampai 400.000 tahun yang lalu), yaitu
Gunung Bibi yang bagiannya masih dapat dilihat di sisi timur puncak Merapi. Tahap Merapi
Tua terjadi ketika Merapi mulai terbentuk namun belum berbentuk kerucut (60.000 - 8000
tahun lalu). Sisa-sisa tahap ini adalah Bukit Turgo dan Bukit Plawangan di bagian selatan,
yang terbentuk dari lava basaltik. Selanjutnya adalah Merapi Pertengahan (8000 - 2000 tahun
lalu), ditandai dengan terbentuknya puncak-puncak tinggi, seperti Bukit Gajahmungkur dan
Batulawang, yang tersusun dari lava andesit. Proses pembentukan pada masa ini ditandai
dengan aliran lava, breksiasi lava, dan awan panas. Aktivitas Merapi telah bersifat letusan
efusif (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan runtuhan
material ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal kuda dengan panjang 7 km, lebar
1–2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Kawah Pasarbubar (atau Pasarbubrah)
diperkirakan terbentuk pada masa ini. Puncak Merapi yang sekarang, Puncak Anyar, baru
mulai terbentuk sekitar 2000 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, diketahui terjadi
beberapa kali letusan eksplosif dengan VEI 4 berdasarkan pengamatan lapisan tefra.

Karakteristik letusan sejak 1953 adalah desakan lava ke puncak kawah disertai dengan
keruntuhan kubah lava secara periodik dan pembentukan awan panas (nuée ardente) yang
dapat meluncur di lereng gunung atau vertikal ke atas. Letusan tipe Merapi ini secara umum
tidak mengeluarkan suara ledakan tetapi desisan. Kubah puncak yang ada sampai 2010 adalah
hasil proses yang berlangsung sejak letusan gas 1969.[2]

Pakar geologi pada tahun 2006 mendeteksi adanya ruang raksasa di bawah Merapi berisi
material seperti lumpur yang secara "signifikan menghambat gelombang getaran gempa
bumi". Para ilmuwan memperkirakan material itu adalah magma.[5] Kantung magma ini
merupakan bagian dari formasi yang terbentuk akibat menghunjamnya Lempeng Indo-
Australia ke bawah Lempeng Eurasia[6].

Puncak Merapi pada tahun 1930.

Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali.
Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar tercatat pada tahun 1006 (dugaan), 1786,
1822, 1872, dan 1930. Letusan pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa
diselubungi abu, berdasarkan pengamatan timbunan debu vulkanik.[7] Ahli geologi Belanda,
van Bemmelen, berteori bahwa letusan tersebut menyebabkan pusat Kerajaan Medang
(Mataram Kuno) harus berpindah ke Jawa Timur. Letusan pada tahun 1872 dianggap sebagai
letusan terkuat dalam catatan geologi modern dengan skala VEI mencapai 3 sampai 4.
Letusan terbaru, 2010, diperkirakan juga memiliki kekuatan yang mendekati atau sama.
Letusan tahun 1930, yang menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang,
merupakan letusan dengan catatan korban terbesar hingga sekarang.[butuh rujukan]

Letusan bulan November 1994 menyebabkan luncuran awan panas ke bawah hingga
menjangkau beberapa desa dan memakan korban 60 jiwa manusia. Letusan 19 Juli 1998
cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa. Catatan letusan
terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung
terus-menerus. Pada tahun 2006 Gunung Merapi kembali beraktivitas tinggi dan sempat
menelan dua nyawa sukarelawan di kawasan Kaliadem karena terkena terjangan awan panas.
Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010 dievaluasi sebagai yang terbesar
sejak letusan 1872[8] dan memakan korban nyawa 273 orang (per 17 November 2010)[9],
meskipun telah diberlakukan pengamatan yang intensif dan persiapan manajemen
pengungsian. Letusan 2010 juga teramati sebagai penyimpangan dari letusan "tipe Merapi"
karena bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan gemuruh yang terdengar hingga jarak 20–
30 km.

Gunung ini dimonitor non-stop oleh Pusat Pengamatan Gunung Merapi di Kota Yogyakarta,
dibantu dengan berbagai instrumen geofisika telemetri di sekitar puncak gunung serta
sejumlah pos pengamatan visual dan pencatat kegempaan di Ngepos (Srumbung), Babadan,
dan Kaliurang.

Erupsi 2006

Di bulan April dan Mei 2006, mulai muncul tanda-tanda bahwa Merapi akan meletus kembali,
ditandai dengan gempa-gempa dan deformasi. Pemerintah daerah Jawa Tengah dan DI
Yogyakarta sudah mempersiapkan upaya-upaya evakuasi. Instruksi juga sudah dikeluarkan
oleh kedua pemda tersebut agar penduduk yang tinggal di dekat Merapi segera mengungsi ke
tempat-tempat yang telah disediakan.

Pada tanggal 15 Mei 2006 akhirnya Merapi meletus. Lalu pada 4 Juni, dilaporkan bahwa
aktivitas Gunung Merapi telah melampaui status awas. Kepala BPPTK Daerah Istimewa
Yogyakarta, Ratdomo Purbo menjelaskan bahwa sekitar 2-4 Juni volume lava di kubah
Merapi sudah mencapai 4 juta meter kubik - artinya lava telah memenuhi seluruh kapasitas
kubah Merapi sehingga tambahan semburan lava terbaru akan langsung keluar dari kubah
Merapi.

Tanggal 1 Juni, Hujan abu vulkanik dari luncuran awan panas Gunung Merapi yang lebat, tiga
hari belakangan ini terjadi di Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Muntilan sekitar 14 kilometer dari Puncak Merapi, paling merasakan hujan abu ini.[10]

Tanggal 8 Juni, Gunung Merapi pada pukul 09.03 WIB meletus dengan semburan awan panas
yang membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan
diri ke tempat aman. Hari ini tercatat dua letusan Merapi, letusan kedua terjadi sekitar pukul
09.40 WIB. Semburan awan panas sejauh 5 km lebih mengarah ke hulu Kali Gendol (lereng
selatan) dan menghanguskan sebagian kawasan hutan di utara Kaliadem di wilayah
Kabupaten Sleman.[11]
Erupsi 2010

Seorang siswa SD tengah mengemudikan sepeda ketika erupsi Merapi 2010.


Peningkatan status dari "normal aktif" menjadi "waspada" pada tanggal 20 September 2010
direkomendasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian
(BPPTK) Yogyakarta. Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal 21 Oktober status berubah
menjadi "siaga" sejak pukul 18.00 WIB. Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus
dipersiapkan. Karena aktivitas yang semakin meningkat, ditunjukkan dengan tingginya
frekuensi gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal 25 Oktober
BPPTK Yogyakarta merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi "awas" dan
semua penghuni wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke
wilayah aman.

Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB tanggal 26 Oktober. Sedikitnya terjadi hingga
tiga kali letusan. Letusan menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km dan
disertai keluarnya awan panas yang menerjang Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan
Cangkringan, Sleman.[12] dan menelan korban 43 orang, ditambah seorang bayi dari Magelang
yang tewas karena gangguan pernapasan.

Sejak saat itu mulai terjadi muntahan awan panas secara tidak teratur. Mulai 28 Oktober,
Gunung Merapi memuntahkan lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya
awan panas pada pukul 19.54 WIB.[13] Selanjutnya mulai teramati titik api diam di puncak
pada tanggal 1 November, menandai fase baru bahwa magma telah mencapai lubang kawah.

Namun, berbeda dari karakter Merapi biasanya, bukannya terjadi pembentukan kubah lava
baru, malah yang terjadi adalah peningkatan aktivitas semburan lava dan awan panas sejak 3
November. Erupsi eksplosif berupa letusan besar diawali pada pagi hari Kamis, 4 November
2010, menghasilkan kolom awan setinggi 4 km dan semburan awan panas ke berbagai arah di
kaki Merapi. Selanjutnya, sejak sekitar pukul tiga siang hari terjadi letusan yang tidak henti-
hentinya hingga malam hari dan mencapai puncaknya pada dini hari Jumat 5 November 2010.
Menjelang tengah malam, radius bahaya untuk semua tempat diperbesar menjadi 20 km dari
puncak. Rangkaian letusan ini serta suara gemuruh terdengar hingga Kota Yogyakarta (jarak
sekitar 27 km dari puncak), Kota Magelang, dan pusat Kabupaten Wonosobo (jarak 50 km).
Hujan kerikil dan pasir mencapai Kota Yogyakarta bagian utara, sedangkan hujan abu
vulkanik pekat melanda hingga Purwokerto dan Cilacap. Pada siang harinya, debu vulkanik
diketahui telah mencapai Tasikmalaya, Bandung,[14] dan Bogor.[15]

Bahaya sekunder berupa aliran lahar dingin juga mengancam kawasan lebih rendah setelah
pada tanggal 4 November terjadi hujan deras di sekitar puncak Merapi. Pada tanggal 5
November Kali Code di kawasan Kota Yogyakarta dinyatakan berstatus "awas" (red
alert).[16][butuh rujukan]

Letusan kuat 5 November diikuti oleh aktivitas tinggi selama sekitar seminggu, sebelum
kemudian terjadi sedikit penurunan aktivitas, namun status keamanan tetap "Awas". Pada
tanggal 15 November 2010 batas radius bahaya untuk Kabupaten Magelang dikurangi
menjadi 15 km dan untuk dua kabupaten Jawa Tengah lainnya menjadi 10 km. Hanya bagi
Kab. Sleman yang masih tetap diberlakukan radius bahaya 20 km.[17]
Erupsi 2018

Aktivitas vulkanik kembali ditunjukan gunung ini pada Jumat, 11 Mei 2018, pukul 07.30
WIB. Meski berstatus normal, Gunung Merapi mengeluarkan suara gemuruh disertai asap
membumbung tinggi[18]. Letusan yang memunculkan asap setinggi hingga 5.500 meter ke
udara tersebut diketahui merupakan letusan freatik. Saat terjadi letusan, sebagian pendaki
masih berada di areal Pasar Bubrah. Tak ada laporan pendaki yang meninggal dunia maupun
luka-luka. Kawasan Pasar Bubrah adalah tempat para pendaki Merapi biasa menginap dan
memasang tenda. Hujan abu tipis jatuh di wilayah lereng barat.

Aktifitas Merapi terus meningkat hingga pada tanggal 21 Mei 2018, pukul 23.00 WIB status
Merapi dinaikkan dari normal aktif menjadi waspada[19]. Pada Kamis, 24 Mei 2018 Merapi
kembali erupsi dengan memuntahkan asap setinggi 6.000 meter. Hujan abu mengguyur
wilayah barat gunung yaitu Kabupaten Magelang bahkan sampi ke Kabupaten Kebumen yang
berjarak lebih dari 40 kilometer[20].

Gunung Merapi kembali meletus Jumat, 1 Juni 2018 pada pukul 08.20 WIB dengan durasi 2
menit. Menurut BPPTKG, kolom letusan gunung Merapi sekitar 6.000 meter dari puncak,
atau sekitar 8.968 meter di atas permukaan laut arah barat laut dan teramati dari Pos
Pengamatan Jrakah. Letusan tersebut menyebabkan hujan abu di Pos Pengamatan Gunung
Merapi Jrakah dan Selo. Bahkan laporan hujan abu hingga ke Salatiga dan Kabupaten
Semarang[21]. Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada atas hujan abu dan selalu
mengenakan alat pelindung diri (APD), seperti kacamata, jaket, dan masker saat berada di
luar rumah.[22]

Vegetasi
Gunung Merapi di bagian puncak tidak pernah ditumbuhi vegetasi karena aktivitas yang
tinggi. Jenis tumbuhan di bagian teratas bertipe alpina khas pegunungan Jawa, seperti
Rhododendron dan Edelweis jawa. Agak ke bawah terdapat hutan bambu dan tetumbuhan
pegunungan tropika. Hutan hujan tropis pegunungan di bagian selatan Merapi merupakan
tempat salah satu forma anggrek endemik Vanda tricolor 'Merapi' yang telah langka[23].

Lereng Merapi, khususnya di bawah 1.000 m, merupakan tempat asal dua kultivar salak
unggul nasional, yaitu salak 'Pondoh' dan 'Nglumut'.

Rute pendakian
Gunung Merapi merupakan objek pendakian yang populer. karena gunung ini merupakan
gunung yang sangat mempesona. Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui
sisi utara dari Sèlo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Plalangan, Selo,
Boyolali, Desa ini terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui
Selo memakan waktu sekitar 4-5 jam hingga ke puncak.

Jalur populer lain adalah melalui Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman,
Yogyakarta di sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu sekitar 6-7 jam hingga ke
puncak. Jalur alternatif yang lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari Sawangan,
Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles, Kecamatan
Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Foto-foto Gunung Merapi

Merapi dari arah Dari arah Jrakah, Dari arah Selo,


Ketep, Magelang. Boyolali. Boyolali. Tampak
puncak Batulawang
(puncak Merapi tua)
di sebelah kiri.

 

Dari arah depan Kawah Gunung
Gunung Merbabu dan
Merapi
Merapi


 
Puncak kawah
Gunung Merapi Kerucut puncak Litografi Merapi
sebelum meletus 2006 Gunung Merapi karya Junghuhn
Referensi
1. ^ Laman Decade Volcanoes
2. ^ a b DESCRIPTION:Indonesia Volcanoes and Volcanics. Laman USGeological
Survey.
3. ^ Sejarah Merapi menurut Badan Geologi
4. ^ Berthommier, P., 1990. Etude volcanologique du Merapi (Centre-Java):
Te´phrostratigraphic et Chronologie—produits eruptifs. PhD thesis, Universite´
Blaise Pascal, 216 pp.
5. ^ Axel Bojanowski. Riesige Magmamenge. Geologen warnen vor Mega-Eruption des
Merapi. Spiegel Online edisi 05 November 2010.
6. ^ Diagram pola pembentukan ruang magma hipotetik di bawah Merapi
7. ^ "A history of Merapi". Diakses tanggal 2007-02-20.
8. ^ Laporan aktivitas Gn Merapi tanggal 5 November 2010 pukul 00:00 sampai dengan
pukul 06:00 WIB. Jumat, 05 November 2010 08:05
9. ^ Laporan situasi dari BPNB per 17 November 2010

Anda mungkin juga menyukai